Anda di halaman 1dari 34

BAB I

PENDAHULUAN
Yang disebut penyakit trofoblas adalah penyakit yang mengenai sel sel trofoblas. Di
dalam tubuh wanita sel trofoblas hanya ditemukan bila wanita itu hamil. Di luar kehamilan, sel
trofoblas dapat ditemukan pada teratoma dari ovarium, karena itu penyakit trofoblas dalam
kehamilan disebut Gestational Trophoblastic Disease dan yang berasal dari teratoma disebut Non
Gestational Trophoblastic Disease. 1
Pada umumnya setiap kehamilan berakhir dengan lahirnya bayi yang sempurna. Tapi
dalam kenyataannya tidak selalu demikian, seringkali perkembangan kehamilan dapat mendapat
gangguan. Tergantung dari tahap di mana gangguan itu terjadi, maka hasil kehamilan dapat
berupa keguguran, kehamilan ektopik, prematuritas, kematian janin dalam rahim atau kelainan
kongenital. Kesemuanya merupakan kegagalan fungsi reproduksi. 1
Demikian pula dengan penyakit trofoblas, pada hakekatnya merupakan kegagalan
reproduksi. Pada penyakit yang dikenal dengan nama kehamilan anggur atau mola hidatidosa ini,
kehamilan tidak berkembang menjadi janin yang sempurna, melainkan berkembang menjadi
keadaan patologik yang terjadi pada minggu minggu pertama kehamilan. Sel telur yang harusnya
berkembang menjadi janin justru terhenti perkembanganya, yang terus berkembang justru sel sel
trofoblas yaitu berupa degenerasi hidropik dari jonjot korion sehingga menyerupai gelembung
gelembung berisi cairan, mirip anggur. Ukuran gelembung ini pun bervariasi. Ada yang
berdiameter 1 milimeter sampai 1-2 sentimeter. Jika dilihat melalui mikroskop, ditemukan edema
stroma villi, tidak ada pembuluh darah pada villi, dan proliferasi sel-sel trofoblas (jumlah selnya
bertambah). 1,2
Pada umumnya penderita mola hidatidosa akan menjadi baik kembali, tetapi ada kalanya
yang kemudian mengalami degenerasi keganasan berupa koriokarsinoma. Jadi yang termasuk
penyakit trofoblas adalah mola hidatidosa yang jinak dan koriokarsinoma yang ganas. 1

BAB II
1

TINJAUAN PUSTAKA
II.1 DEFINISI
Adalah suatu neoplasma jinak dari sel trofoblas, yang disertai kegagalan pembentukan
plasenta atau fetus, dengan terjadinya vili yang menggelembung sehingga menyerupai bentukan
seperti buah anggur. Janin biasanya meninggal meninggal tapi villus villus yang membesar dan
edematous itu hidup dan tumbuh terus. 3 Merupakan salah satu dari penyakit karena kelainan
plasenta yang meliputi mola hidatidosa komplet dan parsial, tumor placenta situs trofoblas,
koriokarsinoma dan mola invasif. 4
Kehamilan mola secara histologis ditandai oleh kelainan vili korionik yang terdiri dari
proliferasi trofoblas dengan derajat bervariasi dan edema stroma vilus dan mengeluarkan
hormon, yakni Human chorionic gonadrotropin (HCG) dalam jumlah yang lebih besar daripada
kehamilan biasa.1 Mola biasanya terletak di rongga uterus; namun kadang-kadang terletak di tuba
fallopii dan bahkan ovarium. Ada tidaknya janin atau unsur embrionik pernah digunakan untuk
mengklasifikasikan mola menjadi mola sempurna ( complete ) dan parsial.5

Gambar 1. Gambaran mola hidatidosa sempurna


Dikutip dari artikel berjudul Hamil Anggur karya dr. Yuri Kamila Kurdi, SpOG

Walaupun penyakit ini sudah dikenal sejak abad keenam tapi sampai sekarang belum
diketahui dengan pasti penyebabnya. Berbagai teori telah dianjurkan misalnya teori infeksi,
defisiensi makanan terutama protein tinggi dan teori kebangsaan. Ada pula teori consanguinity.
Teori yang paling cocok dengan keadaan adalah teori dari Acosta Sison, yaitu defisiensi protein,
2

karena kenyataan membuktikan bahwa penyakit ini lebih banyak ditemukan pada wanita dari
golongan sosial ekonomi rendah. Akhir akhir ini dianggap bahwa kelainan tersebut terjadi karena
pembuahan sebuah sel telur di mana intinya telah hilang atau tidak aktif lagi oleh sebuah sel
sperma yang mengandung 23 X (Haploid) kromosom, kemudian membelah menjadi 46 XX
sehingga mola hidatidosa bersifat homozygote, wanita dan androgenesis. Kadang kadang terjadi
pembuahan dari 2 sperma sehingga terjadi 46 XX atau 47 XY. 1 Sekarang mulai dikembangkan
teori mola akibat kekurangan lemak hewani dan karoten sebagai faktor resiko. 4
II.2 PATOFISIOLOGI
Penyebab mola sampai sekarang belum dapat dipahami dengan lengkap. Faktor resiko
mungkin meliputi defek pada ovum, abnormalitas uterus, atau kekurangan nutirisi. Wanita di
bawah 20 tahun dan di atas 40 tahun memiliki resiko lebih tinggi. Faktor resiko lain karena diet
nya rendah protein, asam folat dan karoten. 6
Ada beberapa teori yang diajukan untuk menerangkan pathogenesis dari penyakit
trofoblas. Pertama teori missed abortion. Janin mati pada kehamilan 3-5 minggu (missed
abortion). Karena itu terjadilah gangguan peredaran darah sehingga terjadilah penimbunan cairan
dalam jaringan mesenkim dan villi dan akhirnya terbentuklah gelembung gelembung. Menurut
Reynolds, kematian mudigah itu disebabkan karena kekurangan gizi berupa asam folat dan
histidine pada kehamilan hari ke 13 dan 21. Hal ini menyebabkan gangguan angiogenesis. 1
Kedua, teori neoplasma dari Park yang mengatakan bahwa yang abnormal adalah sel sel
trofoblas yang mempunyai fungsi abnormal pula, di mana terjadi resorpsi cairan yang berlebihan
ke dalam villi sehingga timbul gelembung. Hal ini menyebabkan gangguan peredaran darah dan
kematian janin. 1
II.3 EPIDEMOLOGI DAN FAKTOR RESIKO
Penyakit ini baik dalam bentuk jinak atau ganas, banyak ditemukan di negara Asia dan
Mexico, sedangakan di negara Barat lebih jarang.

Di Amerika, dari study yang dilakukan

terhadap terminasi kehamilan, mola hidatidosa ditemukan pada 1 dari 1200 kehamilan. 4 Angka
di Indonesia pada umumnya berupa angka rumah sakit, untuk mola hidatidosa berkisar antara 1 :
50 sampai 1 : 141 kehamilan, sedangkan untuk koriokarsinoma 1 : 297 sampai 1 : 1035
3

kehamilan. Laksmi Sintari dan kawan kawan melakukan penelitian berdasar populasi di Malang
dan menemukan angka untuk mola hidatidosa 1 : 405. 1 Angka ini jauh lebih tinggi pada negara
negara Barat dipengaruhi oleh faktor sosial ekonomi dan nutrisi. Didapatkan laporan bahwa
rendahnya konsumsi karoten (prekusor vitamin A) berpengaruh terhadap tingginya insiden mola
(Level of Evidence C). 7 Pada beberapa negara tampaknya ada kecenderungan untuk meningkat
seperti di Indonesia, Boston dan Seoul. 1
Wanita yang memiliki faktor resiko tinggi adalah :
1.

2.

Wanita keturunan Asia atau Hispanic, defisiensi folat dan vitamin A dapat meningkatkan
resiko. 7
Wanita dengan riwayat Gestational Trophoblastic Disease (GTD) sebelumnya memiliki
tingkat resiko berulang 2%.

Dalam suatu kajian terhadap penelitian yang total

mencangkup hampir 5000 pelahiran, frekuensi mola rekuren adalah 1,3 persen. Kim dkk
( 1998) mendapatkan angka kekambuhan 4,3 persen pada 115 wanita yang ditindaklanjuti
di seoul, korea. Dalam suatu ulasan tentang mola hidatidosa berulang tapi dari pasangan
berbeda, tuncer dkk ( 1999) menyimpulkan bahwa mungkin terdapat masalah oosit
3.

primer. 5
Resiko meningkat pada usia maternal yang ekstrim ( > 45 tahun atau < 20 tahun). Pada
wanita usia > 40 tahun resikonya meningkat empat kali lipat dibanding wanita muda.

4.

Ovum dari wanita yang lebih tua lebih rentan terhadap fertilisasi yang abnormal. 7
Wanita dengan riwayat abortus atau infertil. 7

II.4 KLASIFIKASI
Dalam kepustakaan dunia, ada berbagai macam klasifikasi, antara lain :
1.

2.

Menurut IUAC (International Union Against Cancer) 8


Ada hubungan dengan kehamilan (GTD)
Tidak ada hubungan dengan kehamilan (NGTD)
Menurut WHO 6

Kelompok premaligna
Mola hidatidosa sempurna
Mola hidatidosa parsial

Kelompok maligna
4

3.

Mola invasive
Koriokarsinoma gestational
Placental Site Trophoblastic Tumor (PSTT)
Dalam kepustakaan dunia (1983), klasifikasi yang dianjurkan adalah 1

Histophathological Entities
Mola hidatidosa sempurna
Mola hidatidosa parsial
Mola invasive
Koriokarsinoma gestational
Placental Site Trophoblastic Tumor (PSTT)

Clinical Terms adanya keganasan hanya dibuktikan secara klinis, yaitu


peninggian kadar HCG dan metastasis, tanpa gambaran PA
Penyakit Trofoblas Gestasional
Tumor Trofoblas Gestasional

Dalam makalah ini yang akan dibahas adalah mola hidatidosa sempurna dan parsial.
1. Mola hidatidosa sempurna
Vili korionik berubah menjadi suatu massa vesikel-vesikel jernih . ukuran vesikel
bervariasi dari sulit dilihat sampai yang berdiameter beberapa sentimeter dan sering
berkelompok-kelompok menggantung pada tangkai kecil.5 Pada mola hidatidosa
sempurna tidak ditemukan gambaran janin. 1 Degenerasi hidropik atau degenersi mola,
yang mungkin sulit dibedakan dari mola sejati, tidak digolongkan sebagai penyakit
trofoblastik. Pada pemeriksaan sitogenetik terhadap kehamilan mola sempurna
menemukan komposisi kromosam yang umumnya ( 85% atau lebih) adalah 46 XX,
dengan kromosom seluruhnya berasaldari ayah. Fenomena ini disebut sebagai
androgenesis. Biasanya ovum dibuahi oleh sperma haploid, yang kemudian
memperbanyak kromosomnya sendiri setelah meiosis sehingga kromosomnya bersifat
homozigot. Kromosom ovum tidak ada atau tidak aktif. Kadang-kadang pola kromosom
suatu mola sempurna mungkin 46 XY yaitu heterozigot karena pembuahan dua sperma.5
Gambaran histopatologis yang khas dari mola hidatidosa sempurna adalah edema
stroma villi, tidak ada pembuluh darah pada villi dan proliferasi sel sel trofoblas. 1

Gambar 2. Histopatologis Mola Hidatidosa


Dikutip dari artikel berjudul Mola Hidatidosa karya Bottefilia
2. Mola hidatidosa parsial
Apabila perubahan hidatidosa bersifat fokal dan kurang yang berkembang dan
mungkin tampak sebagian jaringan janin, biasanya paling tidak kantung amnion, keadaan
ini diklasifikasikan sebagai mola hidatidosa parsialterjadi pembengkakan hidatidosa yang
berlangsung lambat pada sebagian vili yang biasanya avaskular, sementara vili-vili
berpembuluh darah lainnya dengan sirkulasi janin-plasenta yang masih berfungsi tidak
terkena. Hiperplasia trofoblastik lebih bersifat fokal daripada generalisata.5 Bila ada mola
yang disertai dengan janin, kejadiannya ada dua kemungkinan. Pertama, kehamilan
kembar, di mana satu janin tumbuh normal dan hasil konsepsi yang satu lagi menjadi
mola hidatidosa. Kedua, hamil tunggal berupa mola parsialis. 1
Karyotipenya biasanya triploid 69 XXX, 69 XXY, atau 69, XYY dengan satu komplemen
ibu dan biasanya dua komplemen haploid ayah. Janin pada mola parsial biasanya
memiliki tanda-tanda triploid yang mencangkup malformasi kongenital multiple dan
hambatan pertumbuhan serta tidak viabel. Dalam suatu kajian diterangkan bahwa janin
dengan triploid memperlihatkan hambatan pertumbuhan yang simetris.5
Pada pemeriksaan histopatologis akan ditemukan villi yang edema, dengan sel trofoblas
yang tidak begitu bervariasi, sedangkan di tempat lain masih tampak villi yang normal. 1
Mola hidatidosa mungkin diikuti oleh tumor trofoblastik non metastatik pada 4 sampai 8
persen kasus. Resiko koriokarsinoma yang berasal dari mola parsial sangat rendah.5

Gambar 3. Kehamilan kembar dengan mola


Dikutip dari William Obstetric; 23th edition; halaman 259

Tabel perbedaan antara mola hidatidosa sempurna dan parsial 5


Kariotype
Embrio fetus
Amnion
Edema villi
Proliferasi trofoblas
Diagnosis
Ukuran uterus
Kista lutein
Komplikasi
Resiko keganasan

Mola hidatidosa sempurna


46 XX atau 46 XY
Tidak ada
Tidak ada
Difus
Bisa sampai tinggi
Kehamilan mola
> usia kehamilan
25-30%
Bervariasi
15-20%

Mola hidatidosa parsial


69 XXX atau 69 XXY
Kadang kadang
Kadang kadang
Lokal
Lokal sampai sedang
Missed abortion
< dari usia kehamilan
Jarang
Jarang
1-5%

Kadang ditemukan juga kehamilan kembar, antara janin dengan mola sempurna. Nieman (2006)
melaporkan bahwa 5% terjadi kehamilan kembar janin dengan mola sempurna. Kemampuan
janin untuk bertahan hidup tergantung dari pembuatan diagnosis dan penyulit dari mola,
mosalnya pre eklampsia atau pendarahan. Dari pengamatan Vejerslev (1991) terhadap 113 kasus
kehamilan gemeli mola, 45% berkembang mencapai usia 28 minggu dan 70% di antaranya
7

bertahan hidup. Dibandingkan dengan mola parsial, wanita dengan kehamilan gemeli mola
memiliki resiko yang lebih besar menjadi keganasan, tapi tidak sebesar pada kehamilan mola
sempurna. 5
II.5 GEJALA
Pada permulaannya, gejala mola tidak seberapa berbeda dengan kehamilan biasa, yaitu
enek, muntah, pusing dan lain lain, hanya saja derajat keluhannya sering lebih hebat.
Selanjutnya, perkembangannya lebih cepat, sehingga pada umumnya besar uterus lebih besar
daripada umur kehamilan. Ada pula kasus kasus yang uterusnya lebih kecil atau sama besar
walau jaringannya belum dikeluarkan. Dalam hal ini perkembangan jaringan trofoblas tidak
begitu aktif sehingga perlu dipikirkan kemungkinan adanya jenis dying mole. 1 Gambaran klinis
sebagian besar kehamilan mola telah banyak berubah dalam 20 tahun terakhir karena
penggunaan ultrasonografi vagina dan HCG serum kuantitatif menyebabkan diagnosis
ditegakkan lebih dini. Gejala gejala lebih mencolok pada mola hidatidosa sempurna. 5
Beberapa gejala klinis yang sering dijumpai :
1. Pendarahan
Pendarahan adalah gejala utama mola. Biasanya keluhan pendarahan inilah yang
membawa pasien datang ke rumah sakit. Pendarahan dapat terjadi antara bulan pertama
sampai ketujuh dengan rata rata 12-14 minggu. Sifat pendarahannya bisa intermitten,
sedikit sedikit atau langsung banyak. Efek dilusi akibat hipervolemia yang cukup berat
dibuktikan terjadi pada sebagian wanita yang molanya lebih besar. Kadang-kadang terjadi
perdarahan berat yang tertutup didalam uterus sehingga menyebabkan uterus mengalami
distensi karena terisi banyak darah dan kadang tampak cairan berwarna gelap yang keluar
dari vagina, gejala ini dapat muncul pada 50% kasus. Kadang juga ditemukan adanya
gelembung yang keluar bersama cairan. Ini adalah diagnosis yang paling tepat, namun
biasanya sudah terlambat ditangani jika menunggu gejala ini keluar karena umumnya
pengeluaran gelembung disertai pendarahan yang hebat dan kondisi umum pasien sudah
menurun.1,4,5
Anemia defisiensi besi sering dijumpai dan kadang-kadang terdapat eritropoiesis
megaloblastik, mungkin akibat kurangnya asupan gizi karena mual dan muntah disertai
8

meningkatnya kebutuhan folat trofoblas yang cepat berproloferasi. Akibat pendarahan ini,
selain anemia juga dapat terjadi syok atau kematian. 1,5
2. Pembesaran ukuran uterus
Pembesaran uterus yang tidak sesuai dengan usia kehamilan adalah gejala klasik
dari mola hidatidosa sempurna. Pembesaran ini disebabkan karena perkembangan sel
trofoblas yang berlangsung dengan sangat cepat. Pemeriksaan dapat dilakukan dengan
palpasi Leopold pada uterus dan didapatkan tinggi fundus uteri (untuk menentukan usia
kehamilan) melebihi usia perkiraan janin pada sekitar separuh kasus. 3,4,5
Biasanya digunakan perbandingan dari cara menghitung umur kehamilan
berdasarkan tanggal hari pertama haid terakhir dan tinggi fundus uteri
A. Perkiraan umur kehamilan dari HPHT
Pertama tama ditentukan dari anamnesa kapan hari pertama dari haid terakhir
pasien, kemudian digunakan rumus Naegele untuk menentukan HPL (Hari
Perkiraan Lahir) yaitu :
HPL = bulan HPHT + 9 dan tanggal HPHT + 7
Dari sana ditentukan umur kehamilan sekarang berapa minggu.
B. Perkiraan umur kehamilan dari TFU
TFU (cm)
12 cm
16 cm
20 cm
24 cm
28 cm
32 cm
36 cm
40 cm

Umur kehamilan (bulan)


3
4
5
6
7
8
9
10

Uterus mungkin sulit diidentifikasi secara pasti dengan palpasi, terutama pada
wanita nulipara karena konsistensinya yang lunak dibawah dinding abdomen yang
kencang. Kadang-kadang ovarium sangat membesar akibat kista-kista lutein sehingga
sulit dibedakan dengan uterus yang membesar. Perlu dipertimbangkan adanya
kemungkinan kesalahan data haid atau adanya uterus hamil yang diperbesar oleh mioma,
hidramnion, atau khususnya kehamilan multipel. Meskipun demikian, pernah dilaporkan
adanya ukuran uterus yang sama atau bahkan lebih kecil daripada perkiraan umur janin,
tapi hanya pada sebagian kecil frekuensi. 3,5
3. Hiperemesis

Emesis gravidarum adalah gejala yang wajar dan sering terjadi pada trimester
pertama kehamilan. Mual biasanya terjadi pagi hari, tapi dapat juga malam hari. Gejala
gejala ini kurang lebih terjadi 6 minggu setelah hari pertama haid terakhir dan
berlangsung selama kurang dari 10 minggu. Apabila gejala gejala tersebut membuat
keadaan umum seseorang memburuk dan mengganggu pekerjaan sehari hari, maka
disebut hiperemesis gravidarum. 1
Etiologinya sampai sekarang belum diketahui secara pasti. Beberapa faktor
predisposisi telah ditemukan, antara lain primigravida, mola hidatidosa dan kehamilan
ganda. Frekuensi yang tinggi pada mola hidatidosa dan kehamilan ganda ini
menimbulkan dugaan bahwa faktor hormon memegang peranan penting, karena pada
kedua keadaan itu kadar hormone HCG dibentuk secara berlebihan. Pada kehamilan mola
ini HCG dihasilkan oleh sel sinsitiotrofoblas yang terutama. 1,7
Hiperemesis gravidarum dapat menimbulkan keadaan yang gawat karena akan
terjadi dehidrasi dan ketidakseimbangan elektrolit apabila tidak tertangani dengan baik.
Dapat terjadi ketosis yang berbahaya karena cadangan karbohidrat dan lemak terpakai
semua sehingga proses pemecahan badan keton meningkat. 1
4. Hipertensi
Yang sangat penting adalah kemungkinan terjadinya preeklamsia pada kehamilan
mola, yang menetap sampai trimester kedua. Karena hipertensi akibat kehamilan jarang
dijumpai sebelum usia gestasi 24 minggu, pre eklamsia yang terjadi sebelum waktu ini
sedikitnya harus mengisyaratkan mola hidatidosa atau adanya mola yang luas . Tentang
komplikasi pre eklampsia dan eklampsia dalam kehamilan mola ini akan dibahas pada
bagian komplikasi. 5
5. Kista lutein
Pada Mola Hidatidosa sering disertai dengan kista lutein, baik unilateral maupun
bilateral. Kista lutein ini terbentuk karena respon terhadap kadar hormone HCG yang
meningkat dan biasanya disertai dengan hydrops fetalis dan hipertrofi placenta (Niemann,
2006). Pasien biasanya mengeluh adanya nyeri pada daerah pelvis karena pembesaran
dari ovarium. Karena ada pembesaran ovarium, otomatis ada resiko terjadinya torsi kista
lutein, infark dan pendarahan yang dapat mengakibatkan gejala akut abdomen. Dengan
pemeriksaan klinis insidensi kista lutein lebih kurang 10,2 % (biasanya tidak teraba
dengan palpasi bimanual), tetapi bila menggunakan USG angka-nya meningkat sampai
50%. 4,5
10

Gambar 4. Gambaran USG Kista Lutein


Dikutip dari jurnal emedicine karya Lisa E Moore, MD, FACOG dengan judul Hydatidiform
Mole

Umumnya kista ini menghilang setelah jaringan mola dikeluarkan, kista akan
mengalami regresi karena penurunan kadar hormone HCG. Membutuhkan waktu sekitar
12 minggu untuk mengalami regresi secara sempurna. Oleh karena itu oophorectomy
tidak perlu dilakukan kecuali kista mengalami infark yang luas. Kasus mola dengan kista
lutein mempunyai risiko 4 kali lebih besar untuk mendapat degenerasi keganasan di
kemudian hari daripada kasus-kasus tanpa kista. 4,5
6. Tanda tanda janin
Karena pada mola hidatidosa sempurna tidak ditemukan adanya janin, maka tidak akan
ditemukan tanda tanda keberadaan janin. Meskipun ukuran uterus membesar tapi tidak
ditemukan denyut jantung janin, tidak ada tanda ballottement dan tidak ada pergerakan
janin. Sedangkan pada kasus mola hidatidosa parsial, walaupun sangat jarang tapi kadang
dapat disertai dengan janin yang berkembang normal. 3,5
Menurut beberapa literature, gejala pada mola hidatidosa parsialis agak berbeda dengan mola
hidatidosa sempurna, antara lain : 4
1) Pasien dengan mola parsial tidak memiliki gejala klinis seperti mola sempurna. Pasien
tersebut biasanya datang dengan gejala dan tanda seperti abortus inkomplet atau missed

11

abortus, yaitu pendarahan per vaginam dengan tidak ditemukan nya aktivitas jantung
janin.
2) Pembesaran uterus dan pre eklampsia hanya terjadi pada 5% pasien
3) Kista lutein, hiperemesis dan kompliaksi hipertiroid sangat amat jarang ditemukan
II.6 DIAGNOSIS
1.

Secara klinis
a. Anamnesa mencari faktor resiko. Ditanya berapa usia kehamilan, berapa umur
penderita, apakah penderita merasa ada janin yang hidup, dicari gejala gejala yang
mungkin ada seperti pendarahan dan hiperemesis.
b. Pemeriksaan fisik
Inspeksi : ditemukan adanya mola face (muka dan badan tampak
kekuningan), ditemukan adanya darah yang keluar dari vagina yang
mungkin disertai dengan gelembung mola
Palpasi : ukuran uterus tidak sesuai dengan umur kehamilan, uterus terasa
lembek, tidak teraba bagian bagian janin, tidak ada ballottement dan
gerakan janin
Auskultasi : tidak ditemukan denyut jantung janin
Pengukuran tekanan darah untuk mengetahui apakah ada hipertensi yang
mengarah ke pre eklampsia mola hidatidosa
Penggunaan Wayne Index jika ada gejala tirotoksikosis
Pemeriksaan dalam : adanya pendarahan dari cervix, memastikan

2.

konsistensi dan besar uterus


Laboratorium
Dasar pemeriksaan ini karena adanya kelainan pada sel sel trofoblas yang
mengakibatkan kadar dari hormone HCG yang disekresikan oleh sel sinsitiotrofoblas dan
intermediate trofoblas. 7 Pengukuran kadar HCG ini dapat dilakukan dengan :
1.
Tes Gali Mainini : Pemeriksaan urine secara titrasi sampai pengenceran 1/400
didapatkan hasil GM test yang positif. 3
2.
Kadar HCG serum. Dikatakan abnormal bila hasilnya di atas 100.000mIU/mL 5
Pemeriksaan laboratorium yang lain misalnya : 4
Pemeriksaan DL (termasuk trombosit) : pada mola hidatidosa ditemukan gejala
pendarahan yang dapat profus dan menyebabkan anemia serta gangguan
koagulasi.
Tes pembekuan darah atau faal hemostasis : mencari koagulophaty
Pemeriksaan fungsi liver
Pemeriksaan BUN dan Serum Kreatinin
12

Pemeriksaan kadar thyroxine : meskipun wanita dengan kehamilan mola secara


klinis biasanya eutiroid, tapi kadar thyroxine plasma biasanya di atas normal.
3.

Kadang dapat ditemukan gejala hipertiroidisme.


Radiologis 8
USG : ditemukan gambaran badai salju (snow storm appearance atau snow flake

pattern)
Foto polos abdomen pelvis : tidak ditemukan gambaran tulang janin

Gambar 5. Snow Storm Pattern pada gambaran USG


Dikutip dari jurnal emedicine karya Lisa E Moore, MD, FACOG dengan judul Hydatidiform
Mole
4.

Pemeriksaan Sonde (Acosta-sison) 3


Tidak selalu rutin dikerjakan, biasanya dilakukan sebagai tindakan awal pada kuret. Bila
pada sonde rahim tidak ditemukan tahanan atau tidak teraba bagian bagian janin, maka

5.

akan membantu diagnosis mola hidatidosa


Histopatologi
Gelembung gelembung yang keluar atau dari hasil evakuasi bahan dikirim ke
Laboratorium Patologi Anatomi. 3
a. Mola sempurna
Ditemukan villi yang edema, hyperplasia sel trofoblas, dan penurunan atau
bahkan tidak adanya aliran darah janin. Kromosom menunjukan 46 XX pada
sebagian besar kasus dan 46 XY pada 10-15% kasus. Selain itu, mola sempurna
juga menunjukan adanya peningkatan dari growth factor seperti c-myc, epidermal
growth factor, dan c-erb B-2 dibanding plasenta yang normal. 4
13

b. Mola parsial
Kadang kadang ditemukan adanya janin, dan juga plasenta serta pembuluh darah
janin dengan eritrosit janin di dalamnya. Dapat ditemukan juga edema villi dan
profilerasi trofoblas seperti pada mola sempurna. 4
II.7 KOMPLIKASI
Beberapa komplikasi yang mungkin terjadi adalah :
1. Pendarahan
Pendarahan pada mola bisa sedikit tapi berulang ulang sehingga dapat menyebabkan
anemia, atau kadang bersifat profus yang dapat menyebabkan syok hipovolemik yang
dapat berujung kematian jika tidak ditangani dengan baik. Oleh karena itu persiapan
rehidrasi dan transfusi darah harus selalu siap. Untuk menghentikan pendarahan dapat
diberikan obat obatan uterotonika seperti Oxytosin dan Methergin. 4
2. Perforasi
Perforasi dapat terjadi secara spontan atau karena tindakan. Spontan terjadi karena uterus
terisi darah dalam jumlah yang besar lalu mengalami distensi berlebihan, sedangkan jika
karena tindakan biasanya terjadi saat dikuret. Jika terjadi perforasi, maka penanganan
harus dilakukan dengan tuntunan laparaskopi. 3,4
3. Emboli sel trofoblas
Sebenarnya dalam setiap kehamilan selalu ada migrasi sel trofoblas ke peredaran darah
kemudian ke paru paru tanpa memberikan gejala apapun. Tetapi pada mola, kadang
kadang jumlah sel trofoblas ini terlalu banyak sehingga dapat menimbulkan emboli paru
akut yang bisa menyebabkan kematian. 1 Semakin besar ukuran uterus, resiko terjadinya
komplikasi ini semakin besar terutama saat usia kehamilan 16 minggu. 4
4. Pre eklampsia / Eklampsia Mola
Seperti pada kehamilan normal, pada mola juga dapat terjadi pre eklampsia. Bedanya pre
eklampsia mola terjadi pada usia kehamilan yang lebih muda, jika pada kehamilan
normal pre eklampsia dan eklampsia terjadi pada usia kehamilan 20 minggu. Jadi jika
ditemukan pre eklampsia pada usia gestational yang lebih muda harus dicurigai adanya
mola hidatidosa. 1,5
5. Keganasan
14

Terjadi pada sekitar 20% kehamilan mola, dengan resiko pada mola sempurna lebih besar
dibanding daripada mola parsial. 5 Berdasar dari jenis histopatologinya, keganasan akibat
mola hidatidosa dibedakan menjadi :
1) Koriokarsinoma villosum (Invasive Molla)
Penyakit ini termasuk ganas tapi derajat keganasannya masih lebih rendah.
Sifatnya mirip dengan mola, tapi daya penetrasinya lebih besar. Sel sel trofoblas
dengan villi korealis akan menembus ke dalam miometrium kemudian tidak
jarang mengadakan perforasi pada dinding uterus dan menyebabkan pendarahan
intra abdominal. Dapat juga masuk ke dalam vena seperti vena uterine dan terus
ke vena iliaka interna. Walaupun secara local mempunyai daya invasi yang
berlebihan tapi penyakit ini jarang disertai metastase. Nama lainnya adalah mola
destruens. 1

Gambar 6. Koriokarsinoma
Dikutip dari jurnal emedicine karya Lisa E Moore, MD, FACOG dengan judul Hydatidiform
Mole

15

Diagnosis

harus

ditegakan

dengan

pemeriksaan

histopatologis.

Pengobatan dengan sitostatika seperti methotrexate dapat menyebabkan


kesembuhan yang total, tapi bila disertai tanda pendarahan abdomen maka uterus
harus diangkat dengan kedua adneksa ditinggalkan. Kalau mungkin hanya
dilakukan reseksi parsial saja dan selanjutnya diberikan sitostatika. 1
2) Koriokarsinoma non villosum
Penyakit ini adalah jenis terganas dari penyakit trofoblas. Sebagian besar
didahului dengan mola hidatidosa (83,3%), tapi dapat pula didahului abortus atau
persalinan biasa, masing masing 7,6%. Tumbuhnya sangat cepat dan sering
menyebabkan metastase ke organ organ lain seperti paru, vulva, vagina, hepar dan
otak. Metastase terbanyak adalah pada paru paru (31,1%) dan tempat metastase
yang tidak lazim adalah pada musculus gluteus maksimus. 1
Bila dibanding dengan keganasan ginekologik lainnya, koriokarsinoma ini
memiliki sifat yang berbeda yaitu, mempunyai periode laten yang dapat diukur,
yaitu waktu antara akhir kehamilan dan terjadinya keganasan, menyerang wanita
muda, dapat sembuh secara tuntas tanpa kehilangan fungsi organ reproduksi
dengan sitostatika dan dapat sembuh tanpa obat obatan melalui proses regresi
spontan. 1
Jika setelah akhir suatu kehamilan terjadi pendarahan pendarahan yang
tidak teratur disertai tanda subinvolusi uterus, kita harus curiga adanya
koriokarsinoma. Acosta Sison mengajukan istilah HBEs sebagai tanda
kemungkinan adanya keganasan yaitu H : Having expelled a product of
conception, B : Bleeding, Es : Enlargment and softness of the uterus. Diagnosis
ditegakan dengan pemeriksaan patologi anatomi, bisa diambil jaringan dari hasil
kuret, tapi kerugiannya adalah kadang kadang untuk mendapat jaringan tersebut
kita harus melakukan operasi seperti histerektomi, yang bukan saja bersifat
invasive tapi juga menghilangkan fungsi reproduksi. 1

6. Tirotoksikosis
16

Komplikasi yang akhir akhir ini sering dipermasalahkan adalah tirotkosikosis,


ternyata insidennya lebih tinggi dari dugaan semula. Menurut Curry, insidennya adalah
1%, tapi menurut Martaadisoebrata ditemukan angka yang lebih tinggi yaitu 7,6%.
Terjadinya tirotosikosis ini berhubungan dengan besar uterus, makin besar uterus makin
besar kemungkinan terjadinya. 1 Tirotoksikosis ini terjadi karena struktur molekul HCG
mirip dengan tiroid terutama T3. Pada pemeriksaan laboratorium, akan didapatkan hasil
peningkatan T3 dan T4 serta penurunan kadar TSH karena mekanisme umpan balik
negatif. Tapi pada kasus yang cenderung ringan TSH biasanya tidak menurun.
Pemeriksaan faal tiroid tidak selalu rutin dilakukan, pemeriksaan hanya dilakukan
jika ditemukan tanda tanda hipertiroid menurut kriteria Wayne Index.

Gejala

Dyspneu on effort

+1

Palpitasi

+2

Kelelahan

+2

Lebih suka panas

-5

Lebih suka dingin

+5

Sering berkeringat

+3

Nafsu makan meningkat

+3

Nafsu makan menurun

-3

Berat badan meningkat

-3

Berat badan menurun

+3

Mudah cemas

+3
Ada
+3

Tidak ada
-3

Bising pada tiroid

+2

-2

Exoftalmus

+2

Lid retraksi

Lid lag

+1

Pergerakan hiperkinetik

+4

-2

Fine finger tremor

+1

Tangan hangat

+2

-2

Tanda
Struma teraba

17

Tangan berkeringat

+1

-1

Atrial Fibrilasi

+4

Nadi regular < 80 x / menit

-3

Nadi regular 81- 90 x / menit

Nadi regular > 90 x / menit

+3

Interpretasi Index Wayne :

Hipertiroid : > 20

Kemungkinan hipertiroid : 10 20

Bukan hipertiroid : < 10

Penatalaksanaan tirotoksikosis : 11
1. PTU (Propylthiouracyl) dengan dosis 200 - 600 mg/hari, dosis ditingkatkan sampai
keluhan berkurang atau menghilang dengan kadar T4 batas atas nilai normal. Efek
pemberian PTU terlihat dalam 3-4 minggu setelah pengobatan. Dapat dikombinasi
dengan Methimazole dengan dosis 1/10 dari dosis PTU. Namun penggunaannya
dalam kehamilan dihindari karena dapat menyebabkan aplasia kutis pada janin.
2. Propanolol dengan dosis 3 x 10 mg untuk mengurangi gejala hipertiroid. Efeknya
lebih cepat dibanding PTU. Target pemberian propanolol adalah menjadikan heart
rate kurang dari 100x/menit.
II.8 DIAGNOSIS BANDING
1. Kehamilan kembar
Karena ditemukan adanya peningkatan HCG dan ukuran uterus lebih besar dibandingkan
perkiraan usia kehamilan, kedua gejala ini dapat ditemukan pada kehamilan gemeli. 3,4
2. Abortus
Terutama pada mola hidatidosa parsial yang sering didiagnosis banding dengan abortus
incomplete dan missed abortion. Yang membedakan adalah pada abortus ditemukan
adanya nyeri yang khas (cramping pain) yaitu nyeri yang ritmis pada supra simfisis dan
punggung seperti orang haid. Dan jika ditemukan adanya gelembung pada darah yang
keluar maka dipastikan itu adalah mola hidatidosa. 1,3,5
18

3. Koriokarsinoma
20% kehamilan mola bisa berujung menjadi keganasan, terutama jenis mola sempurna.
Untuk menegakan diagnosis dilakukan pemeriksaan patologi anatomi. 1
4. Hiperemesis gravidarum
Pada kasus mola hidatidosa juga didapatkan keluhan subyektif berupa hiperemesis,
namun pada mola disertai dengan gejala gejala lain antara lain adanya pendarahan
pervaginam, pembesaran uterus melebihi ukuran sebenarnya dan lain lain. 1,3

5. Kehamilan dengan hipertiroid


Pada setiap kehamilan normal selalu terjadi peningkatan kerja tiroid, tapi tidak
memberikan gambaran pembesaran yang nyata, jika terdapat pembesaran yang nyata
dengan gejala gejala hipertiroid maka dianggap patologis.

11

Pada kehamilan mola dapat

terjadi hipertiroid karena antara HCG dengan T3&T4 memiliki struktur yang mirip
dengan reseptor yang sama, sehingga peningkatan kadar HCG dapat merangsang
peningkatan kadar tiroid dan disertai dengan gejala gejala mola hidatidosa lainnya. 1
II.9 TERAPI
Pada dasarnya prinsip terapi mola hidatidosa terdiri dari 4 tahap yaitu : 1
1. Perbaikan keadaan umum
2. Pengeluaran jaringan mola
3. Terapi profilaksis dengan sitostatika
4. Pemeriksaan tindak lanjut
Perbaikan keadaan umum
Prinsipnya adalah menangani komplikasi yang disebabkan karena mola hidatidosa. Pada
pasien dengan syok atau anemia dapat diberikan rehidrasi cairan dan transfusi darah, penanganan
pre eklampsia dan eklampsia sama dengan kehamilan biasa, sedangkan untuk tirotoksikosis
diobati sesuai dengan protocol dari penyakit dalam. 1
Pengeluaran jaringan mola
Pengeluaran jaringan mola dapat dilakukan dengan 2 cara yaitu :
19

A. Kuretase
Kuretase dilakukan setelah perbaikan keadaan umum, paling tidak sampai anemia teratasi
dengan Hb lebih dari 10g/dL. Bila canalis servicalis belum terbuka, dapat dipasang
laminaria dan 24 jam kemudian baru dilakukan kuretase (dilatasi dan kuretase). Dapat
ditambahkan uterotonika untuk meningkatkan kontraksi uterus yang dapat membantu
menghentikan pendarahan. Ada pendapat yang mengatakan kuretase dilakukan dua kali
dengan interval 1 minggu, kuret kedua dilakukan untuk melihat apakah ada tanda tanda
infeksi dan lain lain. Lalu hasil kerokan dikirim ke laboratorium patologi anatomi. Tapi
ada yang mengatakan bahwa kuret cukup dilakukan satu kali saja asal bersih dan kuret
kedua dilakukan hanya jika ada indikasi. Yang harus diwaspadai pada tindakan kuret
adalah adanya :

Adanya pendarahan yang profus. Oleh karena harus selalu disediakan darah
pengganti. Jika dibiarkan dapat berujung menjadi anemia gagal jantung.

Adanya depresi pernafasan yang disebabkan karena emboli sel trofoblas ke


pembuluh darah, keadaan ini dapat diatasi dengan mesin ventilator. 1,3,4

Setelah dilakukan kuretase harus diperiksa ulang dengan pemeriksaan USG untuk
mengetahui apakah masih ada sisa sisa jaringan. 5
B. Histerektomi
Histerektomi ini sangat jarang dilakukan pada kasus mola. Tindakan ini dilakukan pada
wanita yang telah cukup umur dan cukup mempunyai anak. Alasan untuk melakukan
histerektomi ialah karena umur tua dan paritas tinggi merupakan faktor predisposisi
untuk terjadinya keganasan. Batasan yang dipakai adalah umur 35 tahun dengan anak
hidup tiga. Tidak jarang bahwa pada sediaan histerektomi bila dilakukan pemeriksaan
histopatologis sudah tampak ada tanda tanda keganasan berupa mola invasif. Ada
beberapa ahli yang menganjurkan agar pengeluaran jaringan dilakukan secara
histerektomi, tapi cara ini tidak begitu popular dan sudah ditinggalkan.

1,3

Menurut

Doumplis (2007) dan Lurain (2008), histerektomi adalah terapi penting pada jenis
keganasan yang tidak sensitif dengan kemoterapi. 5
Terapi profilaksis dengan sitotstatika
20

Jenis terapi ini masih menjadi perdebatan. Terapi ini dapat diberikan pada kasus mola dengan
resiko tinggi akan terjadinya keganasan misalnya umur tuda dan paritas tinggi yang menolak
untuk dilakukan histerektomi atau kasus mola dengan hasil pemeriksaan histopatologi yang
mencurigakan. Bisa diberikan dari golongan metrothrexate atau actinomycin D.

Tapi beberapa

ahli mengatakan bahwa terapi profilaksis ini tidak dianjurkan secara rutin pada kasus mola
karena hanya 20% wanita dengan mola hidatidosa yang mengalami sequel menjadi keganasan.

Menurut Goldsetin dan Berkowitz (1995) pemberian terapi MTX profilaksis tidak meningkatkan
prognosis kesembuhan pada pasien dengan mola hidatidosa. 5

Pemeriksaan tindak lanjut


Sesudah evakuasi, dilakukan pengawasan baik secara klinis, laboratorium dan radiologi. Hal ini
perlu dilakukan mengingat adanya kemungkinan keganasan setelah mola hidatidosa. Lama
pengawasan berkisar antara satu atau dua tahun. Tujuannya adalah memastikan pada mola
hidatidosa telah sembuh sempurna dan pemberian kemoterapi jika diperlukan. 1,3,5
1. Klinis
Dicari mengenai keluhan utama dan juga H,B,E,S yaitu :

H : history, penderita pernah mengalami mola hidatidosa

B : bleeding, ada riwayat pendarahan

E : enlargment, pembesaran rahim

S : soft, rahim tetap lunak 3

2. Laboratorium
Dilakukan pemeriksaan kadar lanjutan dari HCG serum maupun pemeriksaan Gali
Mainini. Pemeriksaan serum HCG dilakukan segera setelah dilakukan evakuasi mola,
biasanya sekitar 48 jam pasca evakuasi. Kadar HCG serum seharusnya mengalami
penurunan membentuk gambaran sebuah kurva dan tidak akan meningkat lagi. Beberapa
sumber mengatakan kadar HCG serum akan mencapai normal 7 minggu pasca evakuasi
untuk mola parsial dan 9 minggu pasca evakuasi untuk mola sempurna (seperti pada
gambar kurva). Beberapa sumber mengatakan kadar normal HCG serum akan tercapai
setelah 8-12 minggu pasca evakuasi.

3,4,5

Pemeriksaan ini untuk membedakan dengan


21

penyakit trofoblas yang persisten. Apabila kadar HCG serum mengalami peningkatan
atau membentuk kurva naik ke atas setelah mengalami penurunan (plateu curve), pasien
dicurigai mengalami degenerasi keganasan, dengan catatan metastase karena keganasan
organ lain harus dapat disingkirkan dahulu.

4,5

Sedangkan pemeriksaan lanjutan dari Gali

Mainini titrasi setiap inggu sampai tiga minggu berturut turut hasilnya negative. 3

Gambar 7. Kurva penurunan HCG pasca evakuasi mola hidatidosa


Dikutip dari artikel Differential Expression of a Tumor Necrosis Factor Receptor Related Transcript in
Gestational Trophoblastic Diseases in Women karya Chaterine I. Dumur etc

Karena kadar HCG serum juga meningkat pada kehamilan, agar tidak mengacaukan
pemeriksaan selama periode ini, pasien dianjurkan untuk tidak hamil dulu dengan
menggunakan kondom, diafragma atau pil anti hamil. Mengenai pemberian pil anti hamil
ini ada dua pendapat yang saling bertentangan. Satu pihak mengatakan bahwa pil
kombinasi di samping mencegah kehamilan juga dapat menahan LH dari hipofisis
sehingga tidak terjadi reaksi silang dengan HCG. Pihak lain menentangnya, justru karena
estrogen dapat mengaktifkan sel sel trofoblas. Bagshawe beranggapan bila pil anti hamil
diberikan sebelum kadar HCG jadi normal dan kemudian wanita itu mendapat
koriokarsinoma, maka biasanya resisten terhadap sitostatika.

Beberapa sumber juga


22

memperbolehkan pemakaian IUD (Intra Uterine Device), tapi untuk mencegah supaya
tidak terjadi perforasi dan pendarahan, pemasangan dilakukan saat sudah terjadi involusi
uterus dan normalisasi kadar HCG serum. 4
Pemberian kemoterapi tidak di indikasi selama terjadi penurunan kadar HCG serum
secara bertahap. Apabila ada peningkatan HCG serum membentuk pleateau curve atau
terjadi kelainan trofoblas yang persisten, kemoterapi dapat diberikan. Peningkatan
signifikan proliferasi trofoblas yang ditandai dengan peningkatan kadar HCG biasanya
karena keganasan, kecuali apabila wanita tersebut hamil. Jika kadar HCG serum telah
mencapai normal selama 3-4 minggu, pemeriksaan ulangan dilakukan 6 bulan kemudian
dan wanita tersebut diijinkan hamil kembali jika hasilnya tetap normal.

4,5

Sayangnya di

negara berkembang pemeriksaan tindak lanjut ini sukar dilakukan karena jarang yang
mau datang untuk kontrol. Di samping itu pemeriksaan HCG dengan RIA (Radio Imunno
Assay) mahal. Dengan demikian diagnosis dini keganasan sukar ditentukan. 1
3. Radiologi
Kontrol X foto thoraks 6 bulan sekali sampai gambaran radiologis normal kembali, tidak
ditemukan gambaran snow storm pattern. Menurut prosedur di RSUD Dr. Soetomo,
kontrol ke Poliklinik Onkologi dilakukan :

3 bulan pertama setiap 2 minggu

6 bulan kemudian setiap 1 bulan

Sampai 2 tahun setiap 3 bulan 3

Sampai sekarang belum ada kesepakatan sampai kapan penderita mola dianggap sehat kembali.
Curry mengatakan sehat bila HCG dua kali berturut turut normal. Ada pula yang mengatakan
bila sudah melahirkan anak yang normal. 1
Selain hal hal di atas, perlu juga dilakukan KIE kepada pasien mola, mengenai :

Meskipun jarang, tapi penyakit ini mempunyai resiko menjadi keganasan, oleh karena itu
yang terpenting adalah kontrol rutin sampai pasien benar benar dinyatakan sembuh.

23

Tujuan pasien disarankan menunda kehamilan adalah supaya tidak mengacaukan


diagnosis keganasan akibat peningkatan HCG serum karena peningkatan HCG serum
karena kehamilan dengan penyakit lain tidak bisa dibedakan.

Pasien diperbolehkan hamil setelah hasil HCG serum normal selama minimal 6 bulan

Untuk kehamilan berikutnya harus terus dimonitoring dengan USG karena adanya resiko
berulang sebesar 1-2% dan setelah 2 atau lebih terjadi kehamilan mola, resiko
terulangnya meningkat menjadi 1 dari 6,5 17,5 kehamilan. 4

II.10 PROGNOSIS
Di negara maju, karena kemajuan diagnosis dini dan terapi yang tepat, tingkat kematian
akibat mola hidatidosa hampir mencapai angka 0, tapi pada negara berkembang tingkat kematian
masih tinggi, yaitu berkisar antara 2,2-5,7 %. Kematian pada mola hidatidosa disebabkan karena
pendarahan, infeksi, eklampsia, payah jantung atau tirotoksikosis. Sebagian besar dari pasien
mola akan segera sehat kembali setelah jaringannya dikeluarkan, tetapi ada sekelompok wanita
yang kemudian menderita degenerasi keganasan menjadi koriokarsinoma. Resiko menjadi
keganasan menurut literature adalah 20% dari kasus mola hidatidosa, sedangkan menurut laporan
berbagai klinik sangat berbeda beda, berkisar antara 5,56%. 1,4
Terjadinya proses keganasan bisa berlangsung antara 7 hari sampai 3 tahun pasca mola,
tetapi yang paling banyak dalam 6 bulan pertama. Tapi yang jelas semua keganasan mola ini
bersifat dapat sembuh sempurna (curable). Ada wanita yang pernah menderita mola hidatidosa,
kemudian pada kehamilan berikutnya mendapat mola lagi. Kejadian berulangnya mola ini sangat
jarang, sekitar 1-2%. Ada yang mengatakan bahwa mola yang berulang memiliki resiko yang
lebih besar untuk menjadi koriokarsinoma, tetapi penelitian di Bandung tidak menunjukkan hal
demikian. 1,4
Untuk menentukan kapan kembalinya fungsi reproduksi setelah mola hidatidosa, sebetulnya
agak sukar karena umunya mereka diharuskan memakai kontrasepsi. Walaupun demikian banyak
yang tidak mematuhi, karena pengamatan di RS Hasan Sadikin 41,5% telah hamil lagi dalam
jangka waktu satu tahun. Bila tidak diharuskan memakai kontrasepsi tentu akan lebih banyak
lagi. Dengan demikian dapat diambil kesimpulan bahwa kemampuan reproduksi pasca mola
24

tidak banyak berbeda dengan kehamilan lainnya. Anak anak yang dilahirkan setelah mola
hidatidosa ternyata umunya normal. 1

25

BAB III
LAPORAN KASUS
III.1 IDENTITAS PASIEN
Nama

: Ny. IG

Jenis Kelamin

: Perempuan

Umur

: 32 Tahun

Agama

: Kristen

Pekerjaan

: Petani

Alamat

: Desa Panggeh RT 2 / RT 3

Pendidikan terakhir

: SD

III.2 AUTOANAMNESA
Keluhan Utama : Perdarahan pervaginam
Pasien datang ke IGD RSUD AWS pada tanggal 30 september 2014 dengan Keluhan
perdarahan pervaginam sejak 20 hari yang lalu, sifat darah yang keluar berupa darah
berwarna merah kecoklatan, pasien mengatakan tidak ada gumpalan darah yang keluar saat
terjadi perdarahan pervaginam tersebut. Pasien juga mengalami nyeri perut bagian bawah
dan mual mual. Pasien juga mengeluh perutnya terasa bertambah besar.

Riwayat menstruasi :
a. Menarche

: umur 12 tahun

b. Siklus

: teratur 28 hari sekali

c. Banyaknya

: normal (2-3 pembalut/ hari)


26

d. Lamanya

: 7 hari

e. HPHT

: 15 08 2014

f. TP

: 22 05 2014

Riwayat persalinan:
I.
2001 / Abortus
II.
2002/ Aterm / Spt / 3000 gram /Laki Laki / Hidup
III.
2003/ Aterm / Spt / 3100 gram /Perempuan / Hidup
IV.
2009/ Aterm / Spt / 2300 gram /Laki Laki / Hidup
V.
Hamil ini

Riwayat penggunaan KB :
Pasien menggunakan pil KB selama 5 tahun
Riwayat pernikahan :
Suami ke I, menikah 1x selama 16 tahun.
Riwayat penyakit dahulu :
Tidak pernah menderita penyakit jantung, paru, hati, ginjal, DM dan hipertensi.
Riwayat penyakit keluarga :
Tidak ada anggota keluarga yang menderita penyakit menular, mioma, keturunan dan

kejiwaan.
Riwayat penyakit yang pernah diderita :
Sakit biasa seperti demam, flu dan batuk.
Riwayat penyakit keganasan pada keluarga :
Tidak ada anggota keluarga yang menderita penyakit keganasan.
Riwayat alergi :
Tidak mempunyai alergi terhadap obat-obatan, makanan dan cuaca.

III.3. PEMERIKSAAN FISIK


Pada tanggal 30-09-2014

Status umum
Keadaan umum

: Baik

Kesadaran

: Compos mentis

Tensi

: 120/80 mmHg

Nadi

: 80 x/menit
27

Nafas

: 16 x/menit

Suhu

: 36,5oC

Tinggi badan

: 165cm

Berat badan

: 55 kg

Kepala

: Normocephali

Mata

: Anemis (-/-), ikterik (-/-)

Thorak

: Cor S1, S2 tunggal, reguler, murmur (-)


Pulmo vesikuler-/-, rhonki-/-, wheezing-/-

Abdomen

: Bising usus (+) normal, nyeri tekan (-), massa (-)

Ekstremitas

: Edema -/-

Status ginekologi
Inspeksi

: datar, Linea Nigra (-), Striae (-)

Palpasi

: Nyeri tekan (+), TFU 2 jari di bawah pusat

III.4. PEMERIKSAAN PENUNJANG

Pemeriksaan Laboratorium (30-09-2014)


Darah lengkap
WBC
: 10.000 /mm3
HGB

: 10,9 g%

HCT

: 32,1 %

PLT

: 160.000 /mm3

Hematologi
BT

: 2
28

CT

: 10

Kimia Klinik
GDS

: 124 mg/dl

Ureum

: 21,2 mg/dl

Kreatinin

: 0,6 g/dl

HbSAg

: Non Reaktif

112

: Non Reaktif

Beta HCG

: 960.000

III.5. DIAGNOSIS KERJA


Mola Hidatidosa
III.6 PENATALAKSANAAN
Tanggal 30-09-2014

Cek Lab lengkap, Faal Hemostasis, HbsAg


Cek beta HCG kuantitatif
Pro evakuasi mola
Monitoring vital sign, keluhan, fluxus

Tanggal 01-10-2014
Monitoring vital sign, keluhan, fluxus
Menerima hasil Lab, Kimia darah, HbS Ag
Menerima hasil beta HCG
Pro kuretase besok
Tanggal 02-10-2014
Monitoring vital sign, keluhan, fluxus
Melakukan kuretase
Mengirim jaringan ke Laboratorium Patologi Anatomi
Cek DL post op
Terapi post kuretase:
o Asam tranexamat 1 gr/8jam
o Ergometrin 1 tab/8jam
o SF 1 tab/8jam
29

Tanggal 03-10-2014
Monitoring vital sign, keluhan, fluxus
Menerima hasil lab post op; Hb: 8,6 gr/dl
Transfusi PRC 2 kolf
Tanggal 04-10-2014
Monitoring vital sign, keluhan, fluxus
Cek Hb post transfusi
Tanggal 05-10-2014
Monitoring vital sign, keluhan, fluxus

30

BAB IV
PEMBAHASAN
Pada kasus ini didapatkan, seorang wanita dengan inisial IG, umur 32 tahun, datang ke
IGD pada tanggal 30 September 2014 dengan keluhan utama pendarahan pervaginam sejak 20
hari yang lalu. Dari anamnesa didapat bahwa darah berwarna merah, tidak menggumpal. Tidak
ada mual dan muntah yang berlebihan, tidak merasakan adanya gerakan janin dan tidak ada
riwayat pendarahan seperti ini sebelumnya. Pada kasus mola hidatidosa, faktor resiko yang tinggi
adalah pada wanita keturunan Asia, usia di atas 40 tahun atau di bawah 20 tahun, ada riwayat
GTD dan adanya riwayat abortus atau infertilitas. Pada ibu ini, ia adalah orang Indonesia (Asia)
yang merupakan salah satu faktor resiko, sedangkan usianya masih 30 tahun, tidak ada riwayat
pendarahan seperti ini sebelumnya dan pada anamnesa berikutnya diketahui anaknya ada 3 dan
ada riwayat abortus 1 kali.
Pada pemeriksaan fisik status umum pasien, ditemukan tekanan darah pasien 120/80
mmHg, artinya tidak ditemukan komplikasi berupa pre eklampsia mola. Nadi juga stabil pada
kisaran 80 mmHg dengan tanpa ditemukan adanya mata anemis, sehingga pendarahan ini tidak
menyebabkan komplikasi anemia maupun syok hipovolemik. Pada pemeriksaan fisik ginekologis
ditemukan nyeri pada abdomen, rasa nyeri ini kurang jelas karena nyeri bersifat subyektif dan
penyebabnya bermacam macam, bisa juga karena adanya kista lutein yang kemudian mengalami
torsi. Tapi dari anamnesa keluhan nyeri tidak terlalu hebat sehingga dapat disingkirkan dahulu.
Tidak adanya massa pada palpasi membantu menyingkirkan pendarahan karena adanya
keganasan seperti myoma uteri.
Pemeriksaan penunjang yang seharusnya dikerjakan adalah pemeriksaan laboratorium
dan radiologis. Dalam hal ini pemeriksaan laboratorium menyangkut darah lengkap, fungsi
organ, hormon tiroid dan kadar HCG serum. Sedangkan untuk radiologis umumnya dipakai
USG. Pemeriksaan darah lengkap dan fungsi organ dapat dikatakan normal, hal ini menunjukan
tidak ada komplikasi anemia karena Hb nya masih di atas 10 g/dL. Untuk pemeriksaan kadar
HCG hasilnya 960.000, yang sesuai dengan teori dimana terdapat peningkatan HCG serum di
atas kisaran 100.000.
Untuk terapi mola, dilakukan sesuai dengan protokol yaitu perbaikan keadaan umum
dahulu, evakuasi mola, terapi profilaksis dan pemeriksaan tindak lanjut. Karena tidak adanya
anemia dan syok hipovolemik (dalam arti keadaan umum pasien masih baik), maka hanya perlu
31

dilakukan monitoring, tetap diberikan cairan infuse untuk mengganti cairan yang hilang dan
apabila Hb di bawah 8 g/dL maka direncanakan transfusi sampai Hb lebih dari 10 g/dL, karena
kuretase boleh dilakukan jika Hb di atas 10 g/dL. Selain itu dilakukan konsultasi ke bagian
anastesi untuk meminta persetujuan dilakukan kuretase. Untuk evakuasi dipilih cara kuretase
karena mengingat usia pasien masih cenderung muda sehingga tidak perlu dilakukan
histerektomi.

32

BAB V
KESIMPULAN
Mola hidatidosa adalah suatu neoplasma jinak dari sel trofoblas, yang disertai kegagalan
pembentukan plasenta atau fetus, dengan terjadinya vili yang menggelembung sehingga
menyerupai bentukan seperti buah anggur. Janin biasanya meninggal meninggal tapi villus villus
yang membesar dan edematous itu hidup dan tumbuh terus. Merupakan salah satu dari penyakit
karena kelainan plasenta yang meliputi mola hidatidosa komplet dan parsial, tumor placenta situs
trofoblas, koriokarsinoma dan mola invasif.
Patofisologinya sampai sekarang belum jelas, banyak teori yang menjelaskan
patofisiologi nya namun sampai sekarang hanya teori missed abortion dan teori neoplasma dari
Park yang masih banyak dianut. Banyak ditemukan pada wanita keturunan Asia dengan umur
maternal yang ekstrem (> 45 atau < 20 tahun), dan pada keadaan malnutrisi. Dibagi menjadi 2
yaitu mola sempurna yang tidak ditandai dengan adanya janin dan mola parsial yang ditandai
dengan adanya janin.
Gejala gejala ditemukan adanya tanda tanda kehamilan muda seperti amenorrhea,
pendarahan yang biasanya disertai dengan anemia, hiperemesis, tinggi fundus uteri lebih besar
dari perkiraan usia kehamilan, tidak dirasakan tanda tanda janin seperti gerakan janin maupun
ballottement, tanda pasti ditemukan adanya gelembung pada darah yang keluar pervaginam.
Pemeriksaan tambahan adalah pengukuran kadar HCG serum dan urine yang meningkat,
ditemukan gambaran badai salju pada pemeriksaan radiologi, tidak ada bagian bagian janin pada
pemeriksaan sonde dan gambaran histopatologis mola. Mola hidatidosa harus dibedakan dengan
kehamilan kembar, abortus, hiperemesis gravidarum, koriokarsinoma dan kehamilan dengan
hipertiroid.
Penanganan mola dilakukan secara bertahap, yaitu memperbaiki keadaan umum,
evakuasi mola dengan kuretase maupun histerektomi, pemberian terapi profilaksis dan
pemeriksaan tindakan lanjut. Saat dilakukan pemeriksaan lanjutan, penderita dilarang hamil
dahulu karena dapat mengacaukan pemeriksaan. Komplikasi mola dapat menyebabkan
pendarahan profus, perforasi, emboli sel trofoblas, keganasan, tirotoksikosis dan pre eklampsia /
eklampsia mola. Prognosis mola masih bagus asal tidak menjadi keganasan, tidak mempengaruhi
tingkat reproduksi dan dapat melahirkan anak yang normal.
33

DAFTAR PUSTAKA
1. Hadijanto, B. Perdarahan pada kehamilan muda. Di dalam Winknjosastro, SP.OG, Prof.
Dr. Hanifa. 2008. Ilmu Kebidanan. Jakarta: YAYASAN BINA PUSTAKA SARWONO
PRAWIROHARDJO; Hal: 459-491.
2. Swolverine, 2010. Hamil Anggur. Available from:
http://archive.kaskus.us/thread/5647180. Accested Oktober 08, 2014.
3. Tim Revisi PDT. 2008. Pedoman Diagnosis Dan Terapi Bag/SMF Ilmu Kebidanan Dan
Penyakit Kandungan. Surabaya : Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga; Hal : 49-53
4. Lisa E Moore, MD, FACOG, 2010. Hydatidiform Mole. Available from:
http://emedicine.medscape.com. Accested Oktober 08, 2014
5. Cunningham, F. Gary., et al. 2006. Obstetri William. Jakarta: Penerbit buku kedokteran
EGC; Hal 930-938, 931-933.
6. Chaterine, I. Dumur, 2011. Differential Expression of a Tumor Necrosis Factor Receptor
Related Transcript in Gestational Trophoblastic Diseases in Women. Available from:
http://www.biolreprod.org/content/59/3/621.full. Accested Oktober 08, 2014.
7. Rasjidi, SpOG (K) Onk, dr. Imam. Panduan Penatalaksanaan Kanker Ginekologi
Berdasarkan Evidence Base. Jakarta : Penerbit buku kedokteran EGC; Hal 65-82.
8. Karsono, B. Ultrasonografi dalam Obstetri. Di dalam Winknjosastro, SP.OG, Prof. Dr.
Hanifa. 2008. Ilmu Kandungan. Jakarta: YAYASAN BINA PUSTAKA SARWONO
PRAWIROHARDJO; Hal: 262-266.

34