Anda di halaman 1dari 19

MAKALAH RADIOFARMASI

OPTIMALISASI PENANDAAN 99mTc-DTPA-KETOKONAZOL SEBAGAI


RADIOFARMAKAUNTUK DETEKSI INFEKSI FUNGI

TEORI : 3
KELOMPOK 5
Rambu Konda Anggung Praing (191 338 73A)
Wilujeng Sulistyorini
Kharisma Alfiani
Annisa Nofita Ashriyani
Andrew Manuhara
Maria Kusumawati
Amrina Malahati

FAKULTAS FARMASI
Universitas Setia Budi
Surakarta
2015

KATA PENGANTAR

Dengan mengucapkan puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa telah memberikan
berkat sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah tentangoptimalisasi penandaan

99m

Tc-

DTPA-ketokonazol sebagai radiofarmaka untuk deteksi infeksi fungi.


Penulis berharap makalah ini dapat memperkaya ilmu pengetahuan dan menambah
wawasan. Penulis sangatlah terbuka terhadap kritikan maupun saran yang sifatnya membangun
pada makalah ini dan akan berupaya melakukan perbaikan sehingga makalah ini menuju suatu
kesempurnaan.

Surakarta, April 2015

Penulis

Daftar Isi
Halaman
KATAPENGANTAR..........................................................................................1
DAFTAR ISI ......................................................................................................2
BAB I PENDAHULUAN................................................................................3
A. Latar Belakang...............................................................................3
B. Permasalahan.................................................................................3
C. Tujuan penulisan.3
BAB II PEMBAHASAN...................................................................................4
BAB III PENUTUP ...
DAFTAR PUSTAKA

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Penyakit yang disebabkan oleh infeksi baik berupa bakteri, virus maupun fungi di dalam
tubuh cukup sulit dilacak dan memiliki gejala yang hampir mirip.Untuk dapat membedakan
antara infeksi yang disebabkan oleh bakteri atau fungi, ataupun inflamasi steril. Candida
albicans merupakan penyebab kasus infeksi fungi pathogen sebanyak 50-70%. Candida albicans
yang menyerang paru-paru, darah, jaringan otak, ginjal, dan saluran pencernaan.Infeksi
umumnya terjadi tanpa gejala tertentu, danpenyebarannya begitu cepat dengan indikasi yang
tidak jelas. Jika penyebab infeksi dapat ditentukan dengan pasti, maka pengobatan yang harus
dilakukan selanjutnya akan lebih efektif dan memberikan hasil kesembuhan yang lebih baik.
Diagnosis secara dini, cepat danspesifik merupakan suatu langkah penting dan kritis
terhadap keberhasilan pengobatan infeksi. Namun, hingga saat ini belum ada metode diagnosis
dini yang cepat danakurat untuk infeksi yang disebabkan oleh C. Albicans , terutama terhadap
infeksi di bagian organ dalam (deep seated infection). Hai inilah yang menjadi latar belakang
adanya

penelitian

tentang

optimalisasi

penandaan

99m

Tc-DTPA-ketokonazol

sebagai

radiofarmaka untuk deteksi infeksi fungi. Pada bab selanjutnya akan membahas mengenai
penelitian yang telah dilakukan sebagai upaya untuk mengatasi masalah tersebut.
B.

Rumusan Masalah
1. Definisi radiofarmaka?
2. Penggunaan radiofarmaka ?
3. Bagaimana optimalisasi penandaan

99m

Tc-DTPA-ketokonazol sebagai radiofarmaka

untuk deteksi infeksi fungi ?


C.

Tujuan Penulisan
1. Untuk mengetahui definisi dari radiofarmaka dan penggunaannya
2. Mengetahui dan memahami penggunaan radiofarmaka
3. Dapat menjelaskan mengenai optimalisasi penandaan
sebagai radiofarmaka untuk deteksi infeksi fungi.

99m

Tc-DTPA-ketokonazol

BAB II
PEMBAHASAN
Radiofarmaka adalah senyawa kimia yang mengandung atom radioaktif dalam
strukturnya dan digunakan untuk diagnosis atau terapi. Dengan kata lain, radiofarmaka
merupakan obat radioaktif. Sediaan radiofarmaka dibuat dalam berbagai bentuk kimia dan fisika
yang diberikan dengan berbagai rute pemberian untuk memberikan efek radioaktif pada target
bagian tubuh tertentu. Beberapa contoh rute pemberian: per oral (kapsul dan larutan), intravena,
intraperitoneal, intrapleural, intratekal, inhalasi, instilasi melalui tetes mata, kateter urin, kateter
intraperitoneal dan shunt.
Radiofarmaka terdiri dari dua komponen yaitu komponen pembawa materi dan
komponen radioaktif. Komponen pembawa materi akan membawa bahan radioaktif ke organ
tubuh tertentu yang dapat ditempati atau dapat menangkap pembawa materi tersebut, sehingga
bahan radioaktif akan berada di organ tersebut dan menjadi sumber radiasi. Ada berbagai cara
dalam menempatkan radiofarmaka ke dalam organ tubuh. Beberapa penempatan yang sudah
diketahui mekanismenya adalah:
1. Proses Fagositosis
Bila pembawa materi adalah mikro koloid yang dapat ditandai dengan Tc-99m, In-113m,
atau Au-198, maka radiofarmaka akan difagositosit oleh system Retikuloendotelia (RES)
tubuh setelah disuntikkan intravena. Radiofarmaka ini dimanfaatkan untuk membuat
skaninghati, limpa, sumsum tulang dan juga membuat skening kelenjar getah bening
regional bila diberikan secara subkutan.
2. Transportasi aktif
Secara aktif sel-sel organ tubuh memindahkan radiofarmaka ini dr plasma darah ke dlm
organ utk selanjutnya ikut metabolisme tubuh/dikeluarkan dr tubuh.
Contoh I-131 Hippuran diekskresi oleh sel tubulus sehingga dapat dipakai untuk
memeriksa fungsi ginjal pada Renogram, Tc-99m IDA dan I-131 Rose Bengal oleh sel
poligonal hati ditransfer dari darah untuk diekskresi ke usus halus lewat saluran empedu.

3. Penghalang kapiler
Apabila pembawa materi adalah makrokoloid yg disuntikkan IV akan menjadi
penghalang kapiler di Paru, misal Tc-99m-makrokoloid dimanfaatkan membuat scanning
perfusi paru untuk mendeteksi emboli paru.
4. Pertukaran Difusi
Pembawa materi yang telah ditandai radioaktif akan saling bertukar tempat dengan
senyawa yang sama dari organ tubuh. Contoh Polifosfat bertanda Tc-99m akan bertukar
tempat dengan senyawa polifosfat tulang.
5. Kompartemental
Bila radiofarmaka berada pada organ tubuh yang diperiksa dalam waktu lama. Misal pada
Scanning jantung dengan Tc-99m Sn eritrosit.
6. Pengasingan Sel
Sel darah merah yang ditandai oleh Cr-51 dan dipanaskan 50 derajad Celcius selama 1
menit bila dimasukkan kembali ke tubuh pasien secara IV akan segera diasingkan ke
limpa dan merupakan radiofarmaka untuk scanning limpa.
Bentuk fisika dan kimiawi sediaan radiofarmaka dapat berupa unsur (Xenon 133, krypton
81m), ion sederhana (iodida, pertechnetate), molekul kecil yang diberi label radioaktif,
makromolekul yang diberi label radioaktif, partikel yang diberi label radioaktif, sel yang diberi
label radioaktif.
Prosedur imaging memberikan informasi diagnosa atas dasar pola distribusi
keradioaktifan di dalam tubuh. Dua kajian utama dalam pemberian informasi imaging dalam
tubuh dari radiofarmaka adalah:
a)

Kajian dinamik memberikan informasi fungsional melalui pengukuran laju

akumulasi dan laju keluarnya radiofarmaka oleh organ.

b)

Kajian statik memberikan informasi morfologi berkenaan dengan ukuran, bentuk,

dan letak organ atau adanya lesi yang menempati ruang, dan dalam beberapa kasus
mengenai fungsi relatif. Pola distribusi radiofarmaka dalam suatu organ bervariasi dan
tergantung organ yang diamati dan ada atau tidak adanya penyakit.
Adapun tiga jenis pengamatan yang dilakukan melalui imaging atau pencitraan adalah:
Citra (image) dalam bentuk hot spots atau adanya keradioaktifan yang merata
(uniform) disebabkan radiofarmaka terkonsentrasi dengan mudah di dalam organ yang sehat atau
normal, sedangkan jaringan berpenyakit menolak atau mengeluarkan radiofarmaka tersebut dan
lesion

muncul

dalam

bentuk

citra

yang

cold

spots.

Misalnya, pada penatahan (scanning) liver dengan partikel koloid bertanda radioaktif ; setelah
partikel koloid tersebut diinjeksikan, partikel berakumulasi pada sel-sel phagocytosis yang
terdapat di liver. Bila tumor atau lesi lain berada di dalam liver, maka sel-sel yang melokalisasi
koloid radioaktif akan digantikannya.
Citra (image) dalam bentuk hot spots atau adanya keradioaktifan yang merata
(uniform) disebabkan radiofarmaka terkonsentrasi dengan mudah di dalam organ berpenyakit
atau lesion, sedangkan jaringan yang sehat atau normal menolak atau mengeluarkan
radiofarmaka

tersebut

sehingga

citra

muncul

sebagai

cold

spots.

Misalnya, penatahan otak dengan menggunakan radiofarmaka yang ditolak oleh `blood-brainbarrier`. Bila otak tersebut berpenyakit sehingga `blood-brain-barrier` menjadi rusak, maka
radiofarmaka dapat meninggalkan ruang vascular dan selanjutnya terlokalisasi didalam lesi.
Organ normal bisa mengakumulasikan radiofarmaka, tetapi jaringan berpenyakit mampu
mengakumulasikannya baik pada tingkat yang lebih tinggi lagi bila fungsi organ berlebihan atau
meningkat, maupun pada tingkat yang lebih rendah dari pada organ normal apabila fungsi organ
menurun. Misalnya, dalam pencitraan kelenjar thyroid (thyroid gland) dengan menggunakan
iodium radioaktif. Kelenjar thyroid dengan mudah mengakumulasikan radiofarmaka iodium-131
melalui fungsi normal, tetapi kelenjar yang sakit dengan jaringan thyroid yang hyperfunction
atau hypofunction akan menunjukkan konsentrasi radioiodium-131 yang meningkat atau
menurun.

Mengukur fungsi suatu organ atau system didasarkan atas absorpsi, pengenceran
(dilution), pemekatan, atau ekskresi keradioaktifan setelah pemberian radiofarmaka ini yang
disebut dengan telaah radiofarmasi secara in vivo. Radiofarmaka sendiri harus tidak
mempengaruhi, dalam cara apapun, fungsi sistim organ yang sedang diukur. Cara ini tidak
memerlukan pencitraan, tetapi analisis dan interpretasi didasarkan atas pencacahan
keradioaktifan yang muncul baik secara langsung dari organ-organ yang berada di dalam tubuh
atau dari cuplikan darah atau urin yang dicacah secara in vitro.
Beberapa contoh telaah secara in vivo yakni Telaah uptake iodium radioaktif untuk
mengkaji fungsi kelenjar thyroid sebagaimana ditentukan dengan pengukuran eksternal
prosentase dosis radioidium yang diambil oleh kelenjar vs. waktu. Dapat juga dengan penentuan
volum darah keseluruhan dengan mengukur pengenceran dari sejumlah tertentu sel darah merah
bertanda 51Cr yang diinjeksikan secara intravena dalam suatu volum sel merah. Ataupun
pengkajian tak langsung absorpsi vitamin B12 dari gastrointestinal tract dengan mengukur fraksi
vitamin B12 bertanda 57Co yang diberikan secara oral yang diekskresikan di dalam urin dalam
perioda waktu tertentu (Schilling test).
Dua faktor utama berkaitan dengan pengukuran radiasi:
1. Ionisasi materi oleh radiasi
2. Energi radiasi yang diserap (absorbsi) oleh materi
Kedua hal tersebut berhubungan langsung dengan konsekuensi biologis akibat interaksi
radiasi dengan tubuh manusia. Tetapi berat ringannya paparan radiasi tergantung dari berapa
banyak energi diserap, makin banyak energy yang terserap maka semakin berbahaya paparan
radiasi tersebut dan bagamana energi terdistribusi di dalam bahan penyerap. Jenis radiasi berbeda
bisa mendepositkan jumlah energi yang sama di dalam jaringan yang sama, tetapi pola
distribusinya bisa berbeda.
Kerusakan radiasi akan lebih besar terhadap sel-sel jaringan jika energi radiasi 100 erg
yang diserap terkosentrasi dibagian terkecil dari 1 gram jaringan dari pada jika 100 erg energi
didepositkan secara merata di seluruh 1 gram jaringan. RBE (Relative Biologic Effectiveness)
merupakan ukuran yang digunakan untuk menjelaskan derajat efek biologis yang dihasilkan oleh

jenis radiasi yang berbeda dengan dosis terserap yang sama. RBE adalah dosis radiasi sinar x dan
g dalam Rad yang diperlukan untuk menghasilkan efek biologis tertentu dibagi dengan dosis
radiasi dalam Rad setiap radiasi pengionisasi yang diperlukan untuk menghasilkan efek biologis
yang sama.
RBE tergantung dari besarnya LET (Linear Energy Transfer) radiasi tertentu. Lebih besar LET
makin tinggi efek biologis dari radiasi tertentu yang diserap. Energi yang diserap dalam jarak
yang pendek akan menyebakan lebih banyak injury yang diterima bila dibandingkan dengan
energi yang diserap dalam jarak yang jauh.
Beberapa radiasi bisa menghasilkan lebih banyak ionisasi per panjang lintasan yang
dilalui. Radiasi demikian dikatakan memiliki ionisasi spesifik yang tinggi dan karena itu akan
mendepositkan energi yang lebih banyak dalam panjang lintasan yang sama, artinya radiasi.
memiliki LET yang tinggi. Misalnya, 0.05 rad radiasi a di dalam jaringan menghasilkan efek
biologis yang sama seperti yang ditunjukkan oleh 1 rad radiasi sinar-x atau g, maka RBE radiasi
a adalah 20.
Bila 1 rad radiasi b menghasilkan efek biologis yang sama dengan 1 rad radiasi sinar-x
atau g, maka RBE radiasi b adalah 1.
Dalam proteksi radiasi akan memudahkan untuk menjumlahkan kontribusi dosis dari tipe
radiasi berbeda, kemudian digunakan suatu `modifier` sebagai faktor kualitas radiasi (Q) yang
berhubungan dengan tipe dan energi radiasi serta LET nya.
Dalam radiofarmasi dan kedokteran nuklir, paparan radiasi eksternal (external exposure)
yang menjadi perhatian utama adalah yang berkaitan dengan pemancaran sinar-g dan sinar-x,
karena kemampuannya untuk menembus jaringan dan menyebabkan ionisasi.
Lain halnya dengan radiasi partikel, paparan eksternalnya terhadap tubuh sedikit
memberikan efek berbahaya, karena partikel b dan a mudah diserap oleh udara atau oleh
beberapa mm lapisan kulit. Meskipun demikian, beberapa pemancar b energi tinggi, seperti 32P
(1.7 MeV), 90Y (2.28 MeV), dan 89Sr (1.46 MeV) dapat memiliki ancaman eksternal karena
jangkauannya (range) di udara maupun jaringan cukup tinggi.

Pada penelitian yang telah dilakukan tentang optimalisasi penandaan

99m

Tc-DTPA-

ketokonazol sebagai radiofarmaka untuk deteksi infeksi fungi menggunakan teknesium-99m


(99mTc), yang merupakan radionuklida pemancar gamma yang sering digunakan untuk tujuan
diagnosis karena memancarkan gamma murni dengan waktu paruh 6 jam dan energi 140 keV.
Teknesium dapat berikatan dengan senyawa yang memiliki gugus donor elektron di dalam
molekulnya, baik secara langsung ataupun tidak langsung.
Ketokonazol memiliki beberapa ato donor electron yang memungkinkan senyawa ini
untuk ditandai dengan radionuklida

99m

Tc, namun penandaan sulit utuk dilakukan sebab adanya

efek sterik yang dimiliki oleh masing-masing atom donor electron.Pada percobaan ini digunakan
ko-ligan dietilen triamin pentaasetat (DTPA) sehingga reaksi dapat terjadi. Ko- ligan inilah yang
menjadi bifunctional agent antara atom

99m

Tc dengan ketokonazol dan terbentuklah kompleks

khelat, atomTc akan terikat pada atom N dan beberapa atom O yang terdapat di dalam molekul
DTPA.
Mekanisme kerja Ketokonazol mirip dengan mikonazol dan meliputi banyak fungi
pathogen (ragi, dermatofit, termasuk Pityrosporon ovale). Zat ini digunakan pada infeksi jamur
sistemis yang parah dan kronis, secara local pada ketombe hebat. Namun, tidak efektif terhadap
infeksi oleh Aspergillus. Resorpsinya dari lambung-usus praktis lengkap pada pH di bawah 3.
Dalam hati zat ini dirombak menjadi metabolit tak aktif; eksresinya terutama melalui empedu
dan tinja.
Efek sampingnya adalah gangguan alat cerna (mual, muntah, diare), nyeri kepala, pusingpusing, dan gatal-gatal. Yang lebih serius adalah sifat hepatotoksisitasnya, karena mengakibatkan
hepatitis pada 1 per 2.000-10.000 pasien, terutama bila digunakan lebih dari 14 hari. Pada dosis
tinggi (lebih dari 600 mg seharinya), dapat menghambat sintesa hormone testosterone, yang
mengakibatkan terganggunya produksi sperma dan impotensi. Wanita hamil dan yang menyusui
tidak dianjurkan menggunakan obat ini, karena, data mengenai efek teratogennya masih
memuaskan.

Dalam penandaan

99m

Tc-DTPAketokonazol dan DTPA sebagai ko-ligan, dilakukan

penentuan kondisi optimal dengan membuat variasi pada beberapa parameter, meliputi pH
penandaan, jumlah ligan, koligan dan reduktor serta waktu inkubasi.Efisiensi penandaan

99m

Tc

DTPAketokonazol ditentukan berdasarkan kemurnian radiokimia dengan menggunakan 2 sistem


kromatografi kertas.Pertama, menggunakan fase diam Whatman 3MM dan fase gerak
asetonitril.Ke dua menggunakan fase diam Whatman 31ET dan fase gerak asetonitril 50%.
Sistem pertama dapat memisahkan pengotor radiokimia dalam bentuk (99mTcO4)-pada Rf 0,91,0 (15), sedangkan 99mTc-DTPAketokonazol berada pada Rf 0,0. Sistem ke dua memisahkan
pengotor radiokimia dalam bentuk 99mTc tereduksi (99mTcO2) pada Rf 0,0 (15) dan 99mTc
DTPA-ketokonazol pada Rf 0,9-1,0.

Salah satu faktor yang sangat berperan dalam proses

penandaan denganradionuklida 99mTc adalah pH. Faktor pH berperan penting dalam kestabilan
senyawa bertanda.

Pada penelitian ini, diperoleh kondisi optimal penandaan pada pH 3,5 (pH akhir 4,5)
dengan kemurnian radiokimia sebesar 97,770,33%. Pada pH > 4,5 kemurnian radiokimia
menjadi turun < 95% dan pada pH akhir di atas 5,25, larutan menjadi keruh. Hal ini menandakan
bahwa pada pH tinggi, terjadi pembentukan TcO2 yang lebih banyak dan senyawa ketokonazol
yang tidak larut. Keuntungan lain yang didapat pada pH yang rendah, Sn(II) yang terbentuk
bersifat reduktor, sedangkan pada kondisi basa Sn membentuk ion Sn(OH)3 - yang tidak bersifat
reduktor, sehingga proses reduksi Tc (VII) untuk mencapai bilangan oksidasi yang lebih rendah
menjadi lebih sukar terbentuk (Tc(IV)) .

Faktor lain yang perlu diperhatikan pada saat penandaan ketokonazol dengan
radionuklida

99m

Tc adalah jumlah reduktor Sn (II) yang ditambahkan ke dalam larutan

ketokonazol. Jumlah SnCl2 harus optimal karena dapat mereduksi

99m/99Tc

-perteknetat yang

terkandung di dalam eluat hasil darigenerator.Jumlah Sn(II) optimal yang diambil untuk
percobaan selanjutnya sebanyak 37,5 g, karena pada nilai yang lebih tinggi dari 50 g, jumlah
DTPA yang terkandung di dalam larutan stok Sn DTPA terlalu besar dan menghasilkan pengotor
99m

Tc-DTPA yang cukup besar sehingga dapat mengganggu

terbentuk. Nilai kemurnian radiokimia

99m

Tc-DTPA-ketokonazol yang

99m

Tc-DTPA ketokonazol yang terbentuk dengan variasi

jumlah SnCl2.

Jumlah ligan yang tidak optimal akan menyebabkan jumlah pengotor naik dan efisiensi
penandaan turun. Seperti terlihat pada Gambar 4, semakin besar jumlah ligan, kemurnian
radiokimia menjadi semakin kecil.Hal ini disebabkan ikatan ligan dengan ko-ligan berada pada
perbandingan mol yang optimal untuk menghasilkan kemurnian radiokimia yang tinggi. Pada
penandaan ketokonazol dengan radionuklida

99m

Tc dan ko-ligan DTPA, semakin tinggi jumlah

ketokonazol untuk jumlah DTPA yang tetap, akan menghasilkan penurunan kemurnian
radiokimia.

Dari hasil yang didapat pada Gambar 5, diketahui bahwa secara umum, untuk dapat
berikatan dengan 1 atom Tc, diperlukan 1 molekul DTPA sebagai jembatan penghubung antara
Tc dengan ketokonazol.

Pengaruh waktu inkubasi (5 s/d 30 menit) pada temperatur ruangan terhadap efisiensi
penandaan

99m

Tc DTPAketokonazol diperlihatkan pada Gambar 6. Dari hasil percobaan terlihat

bahwa pertambahan waktu inkubasi tidak mengakibatkan perbedaan hasil yang signifikan, yaitu
masih berada pada kemurnian radiokimia 97,370,79%.

Dari hasil percobaan yang diperlihatkan pada Gambar 7, didapatkan bahwa puncak yang
terdeteksi berbeda antara ketiga senyawa tersebut. Senyawa Na 99mTcO4 bergerak paling jauh
menuju anoda, hal inimenunjukkan bahwa muatan (99mTcO4) - hasil ionisasi lebih negatif
dibandingkan dengan kedua senyawa lain. Senyawa
tidak bergerak sejauh Na99mTcO4.

99m

Tc-DTPA juga bermuatan negatif, namun

Pada penelitian ini dilakukan juga uji coba uptake in-vivo pada hewan percobaan mencit
yang diinduksi C. albicans untuk mengetahui akumulasi senyawa 99mTc- DTPA-ketokonazol
pada organ yang terinfeksi C. albicans (T) dengan organ yang tidak terinfeksi (NT). Hasil
pengamatan menunjukkan perbedaan uptake yang cukup besar antara organ yang terinfeksi
dengan organ yang tidak terinfeksi dengan rasio (T/NT) sebesar 3,160,04 (n=5) setelah 2 jam
injeksi. Hasil pencitraan diharapkan dapat membedakan antara organ terinfeksi C.albicans
dengan organ yang normal seperti ditunjukkan pada Gambar 8.
Penggunaan Radiofarmaka
Radiofarmaka merupakan suatu senyawa antara bahan non-radioaktif (farmaka) dengan
bahan radioaktif (radionuklida). Farmaka yang biasanya dipilih adalah zat yang apabila
dimasukan ke dalam tubuh melalui suntikan atau mulut akan mengikuti proses metabolisme
normal tanpa mengganggu fungsi normal organ yang akan diteliti. Berbagai radiofarmaka
memberikan kesempatan untuk mempelajari struktur dan melokalisasi antigen menggunakan
antibody bertanda, reseptor, system enzim dan hormonal, lokalisasi infeksi, inflamasi dan deteksi
dini kanker. Pencitraan tidak hanya didasarkan pada kelainan tingkat organ atau seluler tapi juga
molecular. Pengembangan radiofarmaka untuk pengobatan juga dirasakan semakin berkembang.
Pemanfaatan radiofarmaka dalam bidang kedokteran dapat digunakan untuk diagnostik
in-vivo, in-vitro dan terapi. Dalam pelayanan diagnostik in-vivo, penderita akan mendapat
radiofarmaka, yaitu gabungan antara radionuklida dengan bahan farmaka lain yang diberikan
melalui suntikan atau melalui mulut (per-oral). Melalui teknik ini fisiologi dan patofisiologi
organ atau sistem dalam tubuh dapat dievaluasi. Sedangkan diagnostik in-vitro adalah metoda
diagnostik menggunakan radionuklida untuk menentukan berbagai kadar zat tertentu dalam
tubuh, misalnya kadar hormon, petanda tumor dan lain-lain dalam darah, urin atau air liur
penderita. Dengan demikian pada diagnostik in-vitro penderita tidak mendapat paparan radiasi
sama sekali. Terapi beberapa penyakit tertentu sudah dapat dilakukan dengan menggunakan
radionuklida atau lebih dikenal dengan terapi radiasi interna.

Radiofarmaka dimanfaatkan dalam berbagai jenis pemeriksaan dalam kedokteran nuklir.


Pemeriksaan tersebut terbagi menjadi 3 kategori:
Pemeriksaan untuk pencitraan
Pemeriksaan ini memberikan informasi untuk tujuan diagnostik dan dilakukan
dengan memeriksa pola distribusi radioaktif dalam tubuh.
Pemeriksaan fungsi tubuh secara in vivo
Pemeriksaan fungsi tubuh secara in vivo bertujuan untuk mengukur fungsi organ
tubuh atau sistem fisiologis tubuh berdasarkan absorpsi, pengenceran,
konsentrasi, bahan radioaktif dalam tubuh atau ekskresi bahan radioaktif dari
tubuh setelah pemberian radiofarmaka.
Pemeriksaan untuk tujuan terapeutik
Pemeriksaan ini bertujuan untuk keperluan penyembuhan, atau terapi paliatif.
Mekanisme kerja umumnya berupa absorpsi radiasi beta untuk menghancurkan
jaringan yang terkena penyakit.
Penggunaan kedokteran nuklir untuk tujuan diagnostik harus berprinsip bahwa
penggunaan bahan radioaktif yang diberikan harus dalam dosis yang serendah mungkin namun
sudah dapat diperoleh informasi yang diinginkan. Perlu dijaga bahwa dosis radiasi yang
diabsorbsi harus serendah mungkin. Selain itu, kondisi aseptik harus dijaga selama penyiapan
karena bahan diberikan melalui injeksi intravena.
Bentuk Fisika dan Kimiawi Radiofarmaka
Bentuk

Contoh
Xenon 133 (133Xe),
krypton 81m (81mKr)
131 I (odida),
99m
TcO4 (pertechnetate)

Unsur
Ion sederhana

131

I-MIBG (ikatan kovalen)

Molekul kecil berlabel


radioaktif
Makromolekul berlabel
radioaktif

99m

Tc-DTPA (senyawa kelat)

125

I-serum albumin manusia (protein)

111

In-capromab pendetide (antibodi)

Partikel berlabel
radioaktif
Sel berlabel radioaktif

99m

Tc-sulfur colloid

99m

Tc-macroaggregated albumin
51

Cr-or 99mTc-eritrosit

51

In-or 99mTc-leukosit

Bentuk Sediaan dan Rute Pemberian Radiofarmaka


Rute pemberian
Oral
Injeksi intravena
Injeksi intratekal
Inhalasi
Instilasi melalui
tetes mata, kateter
uretra, kateter
intraperitoneal,
dan shunt

Bentuk Sediaan
Kapsul dan Larutan
Larutan, dispersi koloid, suspensi
Larutan
Gas dan Aerosol

Larutan steril

Radiofarmaka yang Digunakan dalam Kedokteran Nuklir


Radionuklida

Bentuk Sediaan

Penggunaan

Dosis lazim
(Dewasaa)

Rute
pemberianb

Karbon C11

Karbon monoksida

Jantung: Pengukuran volume


darah

60-100 mCi

Inhalasi

Karbon C11

Injeksi Flumazenil

Otak: Pencitraan reseptor


benzodiazepin

20-30 mCi

Intravena

Karbon C 14

Urea

1 Ci

Oral

Kromium Cr 51

Injeksi natrium
kromat

10-80 Ci

Intravena

Diagnosis
infeksiHelicobacter pylori
Pelabelan sel darah merah
(Red Blood Cells, RBCs)
untuk pengukuran volume
dan waktu hidup sel darah
serta penyerapan limfa

Kobalt Co 57

Kapsul
sianokobalamin

Diagnosis anemia pernisius


dan penurunan absorpsi usus

0.5 Ci

Oral

Fluor F 18

Injeksi natrium
fluorida

Pencitraan tulang

10 mCi

Intravena

Galium Ga 67

Injeksi galium sitrat

Penyakit Hodgkin, limfoma

8-10 mCi

Intravena

Injeksi kapromab
pendetid

Pencitraan metastatik pada


pasien dengan kanker prostat
yang telah dibuktikan dengan
biopsi

5 mCi

Intravena

Dosis
individual;
tidak lebih
dari 75 cGy
seluruh tubuh

Intravena

Indium In 111

Iodin I 131

Tositumomab

Pengobatan Limfoma nonHodgkin refraktori derajat


rendah

Nitrogen N 13

Injeksi amonia

Pemeriksaan perfusi miokard

10-20 mCi

Intravena

Oksigen O 15

Injeksi air

Perfusi jantung

30-100 mCi

Intravena

Fosfor P 32

Injeksi natrium
fosfat

Polisitemia

1-8 mCi

Intravena

Rubidium Rb
82

Injeksi Rubidium
klorida

Pemeriksaan perfusi miokard

30-60 mCi

Intravena

1.0 mCi/kg

Intravena

4 mCi

Intravena

20 mCi

Intravena

20 mCi

Intravena

20-30 mCi

Intravena

Samarium Sm
153

Injeksi leksidronam

Stronsium Sr 89

Injeksi stronsium
klorida

Teknetium Tc
99m

Injeksi albumin

Teknetium Tc
99m

Injeksi bisisat

Teknetium Tc
99m

Injeksi oksidronat

Terapi paliatif nyeri tulang


pada lesi tulang osteoblastik
metastase
Terapi paliatif nyeri tulang
pada lesi tulang osteoblastik
metastase
Pencitraan aliran darah
jantung
Tambahan untuk CT
(computed
tomography)/MRI(Magnetic
Resonance Imaging)pada
pasien stroke
Pencitraan tulang

GFR (kuantitatif)
Teknetium Tc
99m

3 mCi
Injeksi pentetat

Teknetium Tc
99m

Injeksi tetrofosmin

Thallium Tl 201

Injeksi thallus
klorida

Xenon Xe 133

Xenon

Renogram (diuretik)

Intravena

Pencitraan perfusi ginjal

10 mCi

Fungsi dan perfusi miokard

8-40 mCi

Pencitraan perfusi miokard

3-4 mCi

Intravena

Intravena
Pencitraan paratiroid

2 mCi

Pencitraan ventilasi paru

10-20 mCi

BAB III
PENUTUP

Inhalasi

Radiofarmaka merupakan senyawa kimia yang mengandung atom radioaktif dalam


strukturnya dan digunakan untuk diagnosis atau terapi. Dengan kata lain, radiofarmaka
merupakan obat radioaktif. Sediaan radiofarmaka dibuat dalam berbagai bentuk kimia dan fisik
yang diberikan dengan berbagai rute pemberian untuk memberikan efek radioaktif pada target
bagian tubuh tertentu. Beberapa contoh rute pemberian seperti per oral (kapsul dan larutan),
intravena, intraperitoneal, intrapleural, intratekal, inhalasi, instilasi melalui tetes mata, kateter
urin, kateter intraperitoneal dan shunts. Pemanfaatan radiofarmaka dalam bidang kedokteran
dapat digunakan untuk diagnostik in-vivo, in-vitro dan terapi.
Dari penelitian tentang optimalisasi penandaan

99m

Tc-DTPA-ketokonazol sebagai

radiofarmaka untuk deteksi infeksi fungi diperoleh hasil yaitu penandaan

99m

Tc-DTPA-

ketokonazol telah berhasil dilakukan dengan kemurnian radiokimia sebesar 97,77 % 0,33 %
padajumlah ketokonazol sebanyak2 mg; DTPA 1,125 mg; reduktor SnCl2.2H2O 3,75 g; pH 4,5
dan waktu inkubasi 5 menit. Uji uptakein-vivo 99mTc-DTPA-ketokonazol pada mencit yang
diinfeksi dengan C. albicans, menunjukkan rasio uptake pada organ terinfeksi terhadap organ
yang tidak terinfeksi (T/NT) sebesar 3,160,04 (n=5) setelah 2 jam injeksi.

DAFTAR PUSTAKA
Arendrup MC. Epidemiology of invasive candidiasis. Curr Opin Crit Care 2010;16(5):
44552.
Gompelmann D, Heussel CP, Schuhmann M, Herth FJ. The role of diagnostic imaging in
the management of invasive fungal diseases: report from an interactive workshop. Mycoses
2011;54 Suppl 1: 2731.
Zolle I. Technetium-99m pharmaceuticals: preparation and quality control in nuclear
medicine. Berlin Heidelberg: Springer; 2007.