Anda di halaman 1dari 2

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Farmasi adalah ilmu yang mempelajari cara membuat, mencampur,meracik,
memformulasi, mengidentifikasi, mengombinasi, menganalisis,serta menstandarkan obat
dan pengobatan juga sifat-sifat obat beserta pendistribusian dan penggunaannya secara
aman (Syamsuni, 2006).
Farmasi fisika adalah ilmu di bidang farmasi yang menerapkan ilmu fisika dalam
sediaan farmasi. Dalam farmasi fisika dipelajari sifatfisika dan berbagai zat yang
digunakan untuk membuat sediaan obat.
Dalam praktek kefarmasian modern sangat penting memahami teori dan teknologi
sistem disperse. Meskipun aspek kuantitatif dari subyek ini perkembangannya tidak
seperti aspek kuantitatif dari kimia mikromolekular, namun teori-teori yang dapat
dikemukakan dalam bidang kimia koloidal sangat membantu dalam mendekati problema-
problema yang masih menjadi teka-teki yang timbul dalam penyediaan dan pembuatan
emulsi, suspensi, salep, serbuk, dan tablet. Pengetahuan mengenai fenomena interfasial
dan sifat-sifat karakteristik koloid dan partikel-partikel kecil merupakan dasar untuk dapat
memahami kelakuan sistem disperse farmasi (Moechtar:1989).
Disisntegrasi adalah proses sediaan larutan untuk hancur dalam larutan. Obat-obat
dengan enteric-coated, EC (selaput enterik) tidak dapat didisintegrasi oleh asam lambung,
sehingga didisintegrasinya baru terjadi jika berada dalam suasana basa di dalam usus
halus. Tablet enteric-coated dapat bertahan didalam lambung untuk jangka waktu lama
sehingga oleh karnanya obat-obat yang demikian kurang efektif atau efek mulanya
menjadi lambat.
Disolusi adalah sebagai proses dimana suatu zat padat masuk kedalam pelarut
menghasilkan suatu larutan. Secara sederhana, disolusi adalah proses dimana zat padat
melarut. Secara prinsip dikendalikan oleh afinitas antara zat padat dengan pelarut. Dalam
penentuan kecepatan disolusi dari berbagai bentuk sediaan padat terlibat berbagai proses
disolusi yang melibatkan zat murni. Karakteristik fisika sediaan, proses pembahasan
sediaan, kemampuan penetrasi media disolusi ke dalam sediaan, proses pengembangan,
proses disintegrasi dan degradasi sediaan merupakan sebagian dari faktor yang
mempengaruhi karakteristik disolusi obat dari sediaan.
Agar suatu obat diabsorbsi, mula-mula obat tersebut hrus larutan dalam cairan pada
tempat absorbsi. Sebagai contoh : suatu obat yang diberikan secara oral dalam bentuk
tablet atau kapsul tidak dapat di absorbsi sampai partikel-partikel obat larut dalam cairan
pada suatu tempat dalam saluran lambung-usus. Dalam hal dimana kelarutan suatu obat
tergantung dari apakah medium asam atau medium basa, oabt tersebut akan dilarutkan
berturut-turut dalam lambung dan dalam usus halus. Proses melarutnya suatu obat disebut
disolusi.
Mekanisme disolusi tidak dipengaruhi oleh kekuatan kimia atau reaktivitas partikel-
partikel padat terlarut ke dalam zat cair dengan mengalami dua langkah berturut:turut
yaitu :
 Larutan dari zat padat pada permukaan membentuk lapisan tebal yang tetap
atau film disekitar partikel
 Difusi dari lapisan tersebut pada massa dari zat cair

Faktor-faktor yang mempengaruhi disolusi :


 Suhu
Semakin tinggi suhu maka akan memperbesar kelarutan suatu zat yang bersifat
endotermik serta akan memperbesar harga koefisien zat tersebut
 Viskositas
Turunnya viskositas suatu pelarut juga akan memperbesar kelarutan suatu zat