Anda di halaman 1dari 16

GASTROSCHISIS

GASTROSCHISIS Sjarif Hidajat Effendi Tommy Rubiyanto Oktober 2013 BAGIAN ILMU KESEHATAN ANAK FAKULTAS KEDOKTERAN

Sjarif Hidajat Effendi Tommy Rubiyanto

Oktober 2013

BAGIAN ILMU KESEHATAN ANAK FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS PADJADJARAN RUMAH SAKIT UMUM PUSAT HASAN SADIKIN BANDUNG

DAFTAR ISI

Halaman

PENDAHULUAN

1

EMBRIOLOGI

1

INSIDENS

2

KELAINAN PENYERTA

2

GAMBARAN KLINIS .

2

DIAGNOSIS PRENATAL DAN PENATALAKSANAANNYA

3

PENATALAKSANAAN AWAL .

5

PENATALAKSANAAN PEMBEDAHAN .

6

POST OPERATIVE

10

OUTCOME JANGKA PANJANG

11

DAFTAR PUSTAKA

12

GASTROSCHISIS

GASTROSCHISIS PENDAHULUAN Gastroschisis merupakan salah satu kelainan dinding abdomen yang sering ditemukan, walaupun

PENDAHULUAN Gastroschisis merupakan salah satu kelainan dinding abdomen yang sering ditemukan, walaupun secara anatomis, embriognesis, manifestasi klinis dan masalah yang ditimbulkan berbeda dengan omphalocele. Kedua kelainan tersebut dapat didiagnosa prenatal dengan menggunakan USG dan mudah dibedakan melalui lokasi dari defek dan ada tidaknya kantung yang membungkus usus yang eviserasi. 1,2 Gastroschisis (gaster- perut + schisis- fisura) merupakan defek kongenital dinding anterior abdomen yang berada di sebelah kanan umbilikus, dimana otot rektus intak dan normal. Ukuran defek bervariasi dari 2-4 cm, umumnya lebih kecil dari defek pada omphalocele. Gaster, usus halus dan kolon dapat ditemukan berada di luar rongga abdomen. Jarang ditemukan hepar, testis maupun ovarium yang herniasi. Tidak ditemukan kantong yang menutupi organ yang herniasi. Gastroschisis pertama kali dilaporkan oleh Calde pada tahun 1733 dan tindakan pembedahan pertama dilakukan oleh Fear pada tahun 1878. 2-5

EMBRIOLOGI

Pembentukan dinding abdomen terjadi pada minggu keempat masa gestasi dimana embrio berkembang dan membentuk lipatan ke arah kraniokaudal dan mediolateral. Lipatan abdomen bagian lateral akan bertemu di bagian midline anterior dan mengelilingi yolk sac, yang pada akhirnya menyebabkan yolk sac mengerut masuk ke yolk stalk yang kemudian berkembang menjadi umbilikal cord. Pada masa gestasi minggu keenam, pertumbuhan usus yang cepat menyebabkan herniasi usus kedalam umbilikal cord. Elongasi dan rotasi usus terjadi selama lebih dari empat minggu. Pada minggu kesepuluh, usus masuk kembali ke rongga abdomen dan duodenum pars satu, dua, dan tiga, kolon asendens dan desendens terfiksasi dalam retroperitoneal. 1,6,7 Etiologi gastroschisis masih belum dimengerti sepenuhnya. 2 Banyak teori yang bermunculan antara lain kegagalan mesoderm untuk membentuk dinding abdomen bagian anterior, kegagalan usus herniasi melalui umbilikal stalk dan tejadi ruptur dinding abdomen akibat meningkatnya volume, kegagalan lipatan bagian lateral untuk menyatu di bagian midline akan meninggalkan defek di sebelah kanan umbilikus. Teori lain mengatakan bahwa defek pada dinding abdomen terjadi akibat adanya trombosis vena omfalomesenterik kanan yang menyebabkan iskemik dinding abdomen. De Vries dan Hoyme berpendapat bahwa

trombosis vena umbilikalis menyebabkan nekrosis di sekitar dinding abdomen, sehingga defek terjadi di sebelah kanan. Teori ini mendukung adanya hubungan antara gastroschisis dengan atresia intestinal dengan dilakukannya observasi bahwa gastroschisis kadang-kadang berhubungan dengan atresia intestinal, yang etiologinya terjadi akibat iskemik. 1,3,8 Sebagian penelitian menyebutkan bahwa faktor genetik sebagai penyebab perkembangan gastroschisis dan beberapa pula menyatakan kemungkinan faktor teratogen dari lingkungan yang berkontribusi terhadap tejadinya defek. 2,9

INSIDENS Gastroschisis terjadi pada 1: 2.500-10.000 kelahiran. Insiden gastroschisis di dunia meningkat dalam 30 tahun terakhir. Gastroschisis umumnya terjadi pada ibu usia muda. Ibu yang merokok, menggunakan obat-obat terlarang, dan terekspos lingkungan yang toksin dikaitkan dengan resiko terjadi gastroschisis. Lebih sering terjadi pada laki-laki. 3,4,10-12

KELAINAN PENYERTA Kelainan penyerta pada gastroschisis jarang ditemukan, paling sering berhubungan dengan kelainan di midgut. Atresia intestinal/stenosis terjadi sekitar 10-15% kasus. Perforasi usus ditemukan pada 5% pasien. Kelainan lain yang jarang termasuk undesensus testis, hipoplastik gallbladder, hidronefrosis, Meckel s divertikulum dan duplikasi intestinal. Pada tahun pertama kehidupan bayi dengan gastroschisis sering ditemukan gastroesophageal reflux (16%) dan undesensus testis (15%) yang sembuh spontan. 4,10,11,13,14

GAMBARAN KLINIS Gastroschisis merupakan defek dinding abdomen di sebelah kanan umbilikus, dengan diameter < 4cm. Tidak ada kantong yang menutupi organ yang herniasi. Pada saat lahir, usus yang herniasi masih tampak normal, tapi 20 menit setelah lahir usus yang keluar akan tampak udem dan banyak eksudat fibrin sehingga loop usus sulit dilihat dengan jelas. 15 Bayi dengan gastroschisis biasanya lahir prematur dan mempunyai masalah respirasi. 13,14

(3)
(3)
DIAGNOSIS PRENATAL DAN PENATALAKSANAANNYA Defek dinding abdomen dapat dideteksi melalui USG sedini mungkin sejak usia
DIAGNOSIS PRENATAL DAN PENATALAKSANAANNYA Defek dinding abdomen dapat dideteksi melalui USG sedini mungkin sejak usia
DIAGNOSIS PRENATAL DAN PENATALAKSANAANNYA Defek dinding abdomen dapat dideteksi melalui USG sedini mungkin sejak usia

DIAGNOSIS PRENATAL DAN PENATALAKSANAANNYA Defek dinding abdomen dapat dideteksi melalui USG sedini mungkin sejak usia kehamilan 10-12 minggu. USG mempunyai spesifitas 95% dan sensifitas 60-75% dalam mendiagnosa defek dinding abdomen. USG dapat mendeteksi hepar yang berada di luar rongga abdomen tetapi tidak dapat melihat atresia intestinal pada gastroschisis. Serial USG pada trimester ketiga dapat mendeteksi diameter dan penebalan usus yang dicurigai akibat adanya obstruksi vaskular. Penebalan dinding usus dan dilatasi usus disertai dengan diameter defek yang mengecil merupakan indikasi untuk terminasi kehamilan untuk mencegah nekrosis usus. 3,4,7

Diambil dari : http://www.healthbase.com/resources/images/general/gastroschisis.jpg
Diambil dari : http://www.healthbase.com/resources/images/general/gastroschisis.jpg

Diambil dari :

http://www.healthbase.com/resources/images/general/gastroschisis.jpg

http://med.brown.edu/pedisurg/images/ImageBank/AbdWallDefects/Ultrasound.jpg

Diambil dari :

Peningkatan alpha-fetoprotein dan acetylcholinesterase dalam cairan amnion

berkorelasi dengan gastroschisis. Alpha-fetoprotein dapat meningkat hingga 9 kali pada

gastroschisis. Pada penelitian Saller dkk tahun 1994 terdapat peningkatan alpha-fetoprotein

9,42 kali pada gastroschsis. Tucker dkk tahun 1992 melaporkan peningkatan

acetylcholinesterase 80% pada gastroschisis. 3,4,7,8

Jika defek dinding abdomen teridentifikasi, maka kelainan penyerta lainnya harus

dicari. Pada gastroschisis cukup dengan mencari kelainan anatomis lainnya. Pada beberapa

penelitian sekitar dua pertiga kelainan penyerta lainnya dapat terdeteksi. 3,4

Saat ini, repair intrauterin tidak dianjurkan pada gastroschisis. Hal ini berdasarkan

prinsip bahwa usus yang terpapar cairan amniotik akan menyebabkan kerusakan usus.

Beberapa peneliti menganjurkan dilakukan amniotic fluid exchange atau amnioinfusion pada

fetus dengan gastroschisis. Pada binatang percobaan, kerusakan usus dapat diperbaiki

menggunakan teknik ini. 3,13,16

Bayi gastroschisis dilahirkan lebih awal untuk meminimalkan kerusakan usus akibat

terpapar cairan amnion. 3 Cara persalinan yang optimal untuk bayi-bayi dengan gastroschisis

telah menjadi perdebatan selama bertahun-tahun. Pendukung persalinan caesar berpendapat

bahwa proses persalinan pervaginam akan menyebabkan cedera pada usus yang terpapar.

Kepustakaan mengemukakan bahwa baik persalinan pervaginam maupun seksio keduanya

aman. Penelitian metaanalisis terbaru dari Segel dkk tidak berhasil menunjukan perbedaan

outcome dari persalinan pervaginam atau persalinan seksio. 1,6,13

Persalinan lebih awal janin dengan gastroschisis dianjurkan untuk membatasi paparan

usus terhadap cairan amnion dalam upaya untuk mengurangi peel yaitu radang pada

permukaan usus. Motilitas yang buruk dari usus diperkirakan berhubungan dengan paparan

dari cairan amnion dan perubahan komposisi matriks seluler dan ekstra seluler dinding usus. Interleukin-6, interleukin-8 dan ferritin meningkat pada cairan amnion bayi dengan gastroschisis saat dibandingkan dengan kontrol. Cytokine cairan amnion dan mediator proinflamasi lainnya telah menunjukan kerusakan dari plexus nervus myentericus dan sel-sel interstisial dari Cajal pada binatang percobaan gastroschisis. Kerusakan pada sel-sel pacemaker dan plexus plexus nerve mungkin turut berkontribusi dalam dismotilitas dan malabsorbsi yang didapatkan pada pasien-pasien dengan gastroschisis. Edema usus dan pembentukan peel meningkat yang bermakna jika defek gastroschisis menekan aliran venous dari usus yang herniasi. Persalinan dini mungkin menurunkan efek ini. Berat badan lahir rendah tampaknya mempengaruhi outcome, bayi-bayi kurang dari 2 kilogram akan meningkatkan waktu full enteral feeding, meningkatkan lama hari pemakaian ventilator dan peningkatan lamanya nutrisi parenteral dibandingkan dengan bayi-bayi yang lebih dari 2 kilogram. 1,6 Beberapa penulis menyarankan persalinan prematur yang selektif berdasarkan tampilan distensi dan penebalan usus pada temuan ultrasonografi prenatal. Adanya usus bayi yang dilatasi telah menunjukan luaran yang buruk, termasuk gawat janin dan kematian pada beberapa penelitian tapi tidak pada penelitian lainnya. Satu faktor yang digunakan yaitu dilatasi usus, untuk memprediksi luaran namun memiliki keterbatasan yaitu definisi umum tentang dilatasi dimana nilainya berkisar antara 7-25 mm yang dipertimbangkan abnormal. Waktu dari ultrasonografi serta pengukuran usus juga terbatas standarisasinya. Adanya atresia usus juga berhubungan dengan memburuknya luaran menurut beberapa penulis. Diantara mereka yang menyarankan persalinan lebih awal ada yang berpendapat bahwa persalinan dilakukan secara seksio secara rutin. Beberapa berupaya menginduksi persalinan pada usia gestasi 36-37 minggu. Para ahli menemukan bahwa persalinan dapat berhasil diinduksi pada kehamilan-kehamilan dengan gastroshisis pada sebagian besar kasus, kemungkinan karena tendensi yang mengikutinya untuk lahir prematur. Kebanyakan penulis menganjurkan persalinan pada pertengahan trimester ketiga dengan mempersiapkan akses secepat mungkin kepada ahli bedah anak dan neonatus. 1,17,18

PENATALAKSANAAN AWAL Penanganan pertama pada bayi baru lahir dengan gastroschisis meliputi resusitasi cairan, NGT dekompresi, mencegah hipotermia. Pada gastroschisis perlu diperhatikan keadaan usus untuk memastikan aliran darah tidak tertekan oleh puntiran mesenterium atau jepitan defek dinding abdomen. Jika ukuran defek dinding abdomen menyebabkan gangguan

vaskularisasi maka defek harus segera diperlebar. Pemberian antibiotik spektrum luas, biasanya digunakan kombinasi Ampisilin 100mg/kg/hari dan Gentamisin 7,5mg/kg/hari. Resusitasi cairan berdasarkan hemodinamik, urin output, perfusi jaringan dan koreksi asidosis metabolik (jika ada). Semua bayi dengan kelainan defek dinding abdomen harus diperiksa dengan teliti kelainan penyerta lainnya. 3,4 Neonatus dengan gastroschisis akan kehilangan air evaporasi secara nyata dari rongga abdomen yang terbuka dan usus yang terpapar. Akses intravena yang memadai harus diberikan dan resusitasi cairan harus dimulai sejak awal kelahiran. Pemberian cairan pada bayi dengan gastroschisis sekitar 175ml/kgbb/hari. Sedangkan pada bayi prematur pemberian cairan 90-125ml/kgbb/hari. Pemasangan NGT penting untuk mencegah distensi lambung dan intestinal. Usus yang herniasi harus dibungkus dalam kasa yang dibasahi saline hangat, dan ditempatkan di tengah dari abdomen. Usus harus dibungkus dalam kantung kedap air untuk mengurangi kehilangan evaporasi dan menjaga hemostasis suhu. Walaupun gastroschisis seringnya merupakan kelainan yang tersendiri tapi pemeriksaan bayi yang seksama harus dilakukan untuk menyingkirkan kelainan bawaan yang mungkin menyertai. Sebagai tambahan pemeriksaan intestinal yang cermat dilakukan untuk mencari bukti adanya atresia intestinal, nekrosis maupun perforasi. 1,6

PENATALAKSANAAN PEMBEDAHAN Primary Closure Tujuan utama pembedahan pada gastroschisis adalah mengembalikan visera ke rongga abdomen dan meminimalkan resiko kerusakan organ karena trauma langsung atau karena peningkatan tekanan intra abdomen. Pilihannya mencakup pemasangan silo, reduksi serial, dan penundaan penutupan dinding abdomen, reduksi primer dengan penutupan secara operatif dan reduksi primer atau reduksi tertunda dengan penutupan umbilical cord. 8 Sebagai tambahan waktu dan lokasi dari intervensi bedah masih kontroversial, bervariasi dari repair segera di ruang persalinan, reduksi dan penutupan di neonatus intensif care unit sampai penutupan bedah di ruang operasi. Pada semua kasus, inspeksi usus untuk mencari jeratan obstruksi, perforasi, atau atresia harus dilakukan. Jeratan yang melintang loop usus harus dilepaskan sebelum pemasangan silo atau penutupan abdomen primer untuk menghindari terjadinya obstruksi usus. Hipomotilitas usus hampir didapatkan pada semua pasien gastroschisis, oleh karena itu akses vena sentral harus dipasang sejak awal. 1,19 Menurut sejarah, penutupan primer gastroschisis dianjurkan disemua kasus. Metode ini dilakukan pada kondisi dimana seluruh visera yang herniasi memungkinkan untuk di

reduksi. Metode ini dilakukan di kamar operasi, namun akhir-akhir ini beberapa penulis menganjurkan penutupan primer di ruangan tanpa anestesi umum. Banyak metode yang digunakan pada keadaan dimana penutupan primer fasia tidak dapat dilakukan. Ada yang menggunakan umbilikus sebagai allograft, penggunaan prostetik mesh nonabsorben atau material bioprostetik. Pilihan prostetik termasuk mesh non-absorben atau material bioprostetik seperti dura atau submukosa usus halus babi (Surgisis, Cook, Inc., Bloomington, IN). Setelah penutupan fasia selesai, flap kulit dapat dimobilisasi untuk melapisi penutupan dinding abdomen. Selain itu dapat ditinggalkan defek kulit dan diharapkan penyembuhan secara sekunder. Kebanyakan ahli bedah akan membuang umbilikus saat dilakukan repair gastroschisis. Namun, pada beberapa kasus tetap dipertahankan untuk memberikan hasil kosmetik yang baik. Pilihan lainnya pada beberapa kasus adalah mengurangi usus dan menempatkan sebuah lapisan silastik di bawah dinding abdomen untuk mencegah eviserasi. Teknik ini berguna pada bayi-bayi di saat dokter bedah mempertimbangkan tentang perburukan dari fungsi paru dengan dilakukannya penutupan fasia dan kulit. Lembaran silastik ini di lepaskan pada 4- 5 hari, dan dinding abdomen dan kulit ditutup. 1,20,21 Peningkatan tekanan intraabdomen diukur melalui tekanan intravesika menggunakan kateter. Tekanan intravesika lebih dari 10-15 mmHg menunjukkan adanya peningkatan tekanan intraabdomen dan berkaitan dengan menurunnya perfusi ginjal dan usus. Tekanan intravesika diatas 20 mmHg mengakibatkan gagal ginjal dan iskemik usus. 1 Pada gastroschisis yang disertai dengan atresia intestinal, penatalaksanaan reseksi dan anastomosis dapat dilakukan pada saat penutupan defek dinding abdomen. Jika tindakan anastomosis tidak memungkinkan, tindakan repair pada atresia intestinal dapat dilakukan 4-6 minggu kemudian setelah penutupan defek. Beberapa ahli bedah memilih untuk membuat stoma pada kasus dengan atresia, khususnya pada kasus atresia distal. Jika perforasi terjadi, segmen yang perforasi dapat direseksi dengan anastomosis primer jika inflamasi usus minimal. Alternatifnya, jika stoma dibuat dan penutupan primer dilakukan dengan penutupan dari stoma dapat dilakukan nantinya. Pada kasus dimana perforasi telah terjadi dan penutupan primer tidak mungkin dilakukan, silo dapat dipasang dan area perforasi dieksteriorisasi melalui sebuah lubang dari silo. Setelah usus telah tereduksi, stoma sebenarnya dapat dibuat pada saat penutupan dinding abdomen. Tidak terdapat konsensus dari literatur tentang manajemen optimal dari masalah komplikasi ini. 1,22,23

Pada defek yang besar, banyak metode yang dapat digunakan. Tahun 1950an oleh Kearns dan Clarke

Pada defek yang besar, banyak metode yang dapat digunakan. Tahun 1950an oleh Kearns dan Clarke membuat cutis graft terdiri dari dermis dan fasia rektus anterior. Bilateral flap dari otot, fasia dan kulit ke arah midline untuk penutupan fasia. Teknik yang paling terkini adalah menggunakan tissue exspander yang diletakkan di cavitas abdomen untuk mereduksi disproporsi abdominal viseral. Tissue expander dibiarkan sampai dengan penutupan fasia dapat dilakukan. Beberapa ahli bedah memilih untuk menggunakan patch untuk menutup kulit, tetapi berbagai pengalaman mengemukakan bahwa bahan non reabsorben seperti marlex, polypropylene mesh dan gor tex menunjukan angka tinggi terjadinya infeksi termasuk saat mesh dilepaskan. 1

Staged Closure Konsep reduksi bertahap pertama kali dikemukakan pada tahun 1967 dimana Teflon menggunakan selembar silastic yang digunakan seperti sekarang yang dikenal dengan silo. Penggunaan silo pertama kali oleh Shermeta tahun 1970-an tapi gagal menarik perhatian hingga tahun 1995. Silo telah digunakan untuk reduksi bertahap sejak awal tahun 1990. 24 Metode ini untuk menghindari anestesi umum dan pembedahan pada awal-awal kelahiran dan dapat mengontrol reduksi dari visera. Reduksi bertahap meminimalkan resiko peningkatan tekanan intraabdomen. 25,26 Kidd dkk tahun 2003 dalam penelitiannya membandingkan staged closure dengan primary closure pada gastroschisis melaporkan terjadinya komplikasi (NEC, sepsis dan

persiapan operasi) yang rendah pada pasien yang menggunakan staged closure. Namun, mortalitas dan waktu dimulainya pemberian makan tidak menunjukkan perbedaan. Masalah yang timbul dengan staged closure yaitu defek abdomen akan bertambah besar karena peregangan, hal ini akan menyulitkan pada saat penutupan defek sehingga memerlukan prostetik tambahan. Penelitian Lansdale dkk mengamati bahwa penggunaan silo yang lebih dari 4 hari, akan menyulitkan penutupan defek dan ada resiko untuk menyisakan defek pada

fasia. 12,25,27

Lebih dari 2 dekade terakhir, penggunaan rutin dari pemasangan silo dengan penutupan bertahap dari dinding abdomen telah meningkat, dengan teori untuk menghindari tekanan tinggi intraabdomen akan menghindari kerusakan iskemik dari organ visera dan menyebabkan ekstubasi menjadi lebih cepat. Mula-mula, penutupan bertahap berupa penempatan usus ke dalam silo yang terbuat dari lembar silastic yang dijahitkan bersama ke dinding abdomen. Belakangan dikenalkan silo yang dibuat dengan pegas sirkular yang dapat ditempatkan pada bagian fasia yang terbuka, tanpa perlu dijahit dengan anestesi umum, memungkinkan untuk pemasangan silo di ruang persalinan atau di ruangan pada unit neonatal. Pada kasus yang sama, usus direduksi sekali atau dua kali sehari ke dalam rongga abdomen dimana silo akan memendek dengan ligasi yang berkelanjutan. Saat isi eviserasi telah seluruhnya tereduksi, penutupan definitif dapat dilakukan. Proses ini biasanya berlangsung antara 1 hingga 14 hari, tergantung dari kondisi usus dan bayinya. 1,25,28

Proses ini biasanya berlangsung antara 1 hingga 14 hari, tergantung dari kondisi usus dan bayinya. 1

POST OPERATIVE Pada pasien yang telah diakukan penutupan primer masalah utama adalah apabila pasien butuh ventilator mekanik untuk beberapa hari post operatif. Selama waktu itu, edema usus dan dinding abdomen akan mereda dan tekanan intra abdomen akan turun. Sebuah studi melaporkan, penggunaan ventilator mekanis lebih singkat pada pasien yang menjalani reduksi silo bertahap jika dibandingkan dengan penutupan primer. NGT dipasang untuk membantu dekompresi. Pemberian makanan dapat dimulai saat produksi NGT sudah tidak lagi hijau, produksinya minimal dan usus mulai bergerak. Sebaiknya feeding diberikan dalam jumlah yang bertahap. Parenteral nutrisi sebaiknya diberikan mengingat lamanya waktu sampai tercapai full enteral feeding. Sekitar 10% pasien dengan gastroschisis mengalami hipomotilitas usus sehingga memerlukan parenteral nutrisi yang lebih lama. Penulis menganjurkan untuk diberi stimulasi oral lebih dini karena refleks menghisap dan menelan dapat hilang selama menunggu fungsi usus. Antibiotik diberikan selama 48 jam post operatif kecuali terdapat tanda-tanda luka infeksi maka antibiotik dilanjutkan. Jika terjadi hernia, operasi dilakukan setelah usia 1 tahun. Mesh dapat dipasang bila terdapat defek fasia yang besar. 1,3 Penanganan dismotilitas gastrointestinal dengan prokinetik sering digunakan untuk mempercepat waktu untuk pemberian minum. Namun, sedikit literatur yang mendukung penggunaannya. Prokinetik yang sering digunakan termasuk eritromisin, metoklopramide, domperidone, dan cisapride. Pada model percobaan kelinci dari gastroschisis, hanya cisapride yang memperbaiki kontraktilitas dari usus bayi, dimana eritromisin memperbaiki motilitas hanya pada jaringan dewasa kontrol. Percobaan terkontrol acak dari eritromisin versus plasebo menunjukkan bahwa pemberian eritromisin enteral tidak memperbaiki waktu untuk mencapai pemberian minum enteral yang penuh dibandingkan plasebo. Bagaimanapun juga, percobaan acak yang serupa untuk memeriksa kegunaan dari cisapride pada post operatif neonatus, pada kebanyakan gastroschisis, memang menunjukkan efek yang menguntungkan. 1 Gastroschisis yang disertai dengan atresia intestinal atau perforasi dapat berakhir dengan short bowel syndrome. Komplikasi post operasi lainnya antara lain infeksi luka operasi, sepsis, hernia ventralis, perforasi usus, gagal ginjal, pneumonia aspirasi, NEC, dan komplikasi lainnya akibat peningkatan tekanan intraabdomen (respiratory distress, gastroesofageal refluks dan hernia inguinal). 3,29,30

OUTCOME JANGKA PANJANG Pada gastroschisis, outcome jangka panjang umumnya baik. Adanya atresia intestinal merupakan faktor prognostik yang buruk. Pasien dengan atresia usus secara signifikan membutuhkan nutrisi parenteral lebih lama dengan risiko akibat yang berhubungan dengan nutrisi parenteral total menyebabkan penyakit hepar cholestasis dan akses sentral berhubungan dengan sepsis. 31 Komplikasi ini mengarah pada 20 kali peningkatan risiko kematian dibandingkan dengan pasien tanpa atresia. 32 Kebanyakan pasien dengan gastroschisis akan tumbuh secara normal. Pada pasien yang umbilikusnya dibuang pada saat repair gastroschisis, dilaporkan lebih dari 60% pasien mengalami stres psikososial akibat tidak adanya umbilikus. Kriptorkismus dihubungkan dengan gastroschisis dengan insidensi dari 15% hingga 30%. Tidak terlalu jelas dari literatur bahwa hal ini disebabkan karena testis berada diluar abdomen melalui defek dinding abdomen, mengarah pada maldesensus testikular, atau akibat prematuritas yang berhubungan dengan gastroschisis. 14,16,33

DAFTAR PUSTAKA

1. Cassandra Kelleher, Jacob C. Langer. Congenital Abdominal Wall Defects. J. Patrick Murphy George W. Holcomb. Ashcraft's Pedatric Surgery 5th edition. Philadelphia : Saunders Elselvier, 2010: 625-36.

2. Polina Frolov, Jasem Alali, Michael D. Klein. Clinical risk factors for gastroschisis and omphalocele in humans:a review of the literature. 26, s.l. : Pediatric Surgery International, 2010.

3. Schwartz, Duane S. Duke and Marshall Z. Omphalocele and Gastroschisis. Michael Hollwarts Prem Puri. Pediatric Surgery: Diagnosis and Management. Berlin Heidelberg : Springer-Verlag, 2009: 161-70.

4. Steven W. Bruch, Jacob C. Langer. Omphalocele and Gastroschisis. Prem Puri. Newborn Surgery, 2nd edition. London : Arnold, 2003.

5. Correspondence. Postnatal Intestinal Ischemia in a Patient with Gastroschisis a Sinister of Home Delivery and Improper Transportation. Journal of Pediatr Surg.

45;2010:2289-90.

6. Holland AJA, Walker K, Badawi N. Gastroschisis : an Update. Pediatr Surg Int. 26; 2010: 871-6.

7. Mortellaro VE, Peter SD, Fike FB, Islam S. Review of the Evidence on the Closure of abdominal Wall Defects. Pediatr Surg Int. 2010.

8. Vincent E. Mortellaro, Shawn D. St. Peter, Frankie B. Fike, Saleem Islam. s.l. Review of the evidence on the closure of abdominal wall defects. : Pediatric Surgery International, 2010.

9. Frolov P, Alali J, Klein MD. Clinical Risk Factors for Gastroschisis and Omphalocele in Humans : a review of the Literature. Pediatr Surg Int. 26;2010:1136-

46.

10. Ghionzoli M, James CP, David AL, et al. Gastroschisis with Intestinal Atresia- Predictive Value of Antenatal Diagnosis and Outcome of Postnatal Treatment. Journal of Pediatr Surg. 47; 2012: 322-7.

11. Bird TM, Robbins JM, Druschel C, et al. Demographic and Environmental Risk Factors for Gastroschisis and Omphalocele in the National Birth Defects Prevention Study. Journal of Pediatr Surg. 44; 2009: 1546-51.

12. Leadheater K, Kumar R, Feltrin R. Ward Reduction of Gastroschisis : Ris Stratification Helps Optimise the Outcome. Pediatr Surg Int. 26; 2010:1001-5.

13.

Klein, MD. Congenital Defects of the Abdominal Wall. [pengar. buku] James A. O'Neil Jr, Eric W. Fonkalsrud, Arnold G. Coran Jay L. Grosfeld. Pediatric Surgery, 6th edition. Philadelphia : Mosby Elsevier, 2006, Vol. 1: 1157-67.

14. Davis RP, Treadwell MC, Drongowski RA, et al. Risk Stratification in

Gastroschisis : ca Prenatal Evaluation or Early Postnatal Factors Predict Outcome? Pediatr Surg Int. 25; 2009: 319-25.

15. Vargun R, Aktug T, Heper A. Effects of Intrauterine Treatment on Interstitial Cells of Cajal in Gastroschisis. Journal of Pediatr Surg. 42; 2007:783-7.

16. Caglar M, Hakguder G, Ates O, et al. Amniotic Fluid Ferritin as a Marker of Intestinal Damage in Gastroschisis : a Time Course Experimental Study. Journal of Pediatr Surg. 42;2007: 1711-5.

17. Sekabira J, Hadley GP. Gastroschisis : a Third World Prospective. Pediatr Surg Int. 25; 2009: 327-9.

18. Synder CW, Biggio JR, Brinson P, et al. Effects of Multidisciplinary Prenatal Care and Delivery Mode on Gastroschisis Outcomes. Journal f Pediatr Surg. 46; 2011: 86-

9.

19. Bonnard A, Zamakhshary M, Silva ND, Gerstle JT. Non-operative Management of Gastroschisis : a Case Matched Study. Pediatr Surg Int. 24; 2008:767-71.

20. Floortje C. van Eijck, Yvonne L. Hoogeveen, Chris van Weel, Paul N.M.A. Rieu, Rene M.H. Wijnen. Minor and giant omphalocele: long-term outcomes and quality of life. 44. Journal of Pediatric Surgery, 2009.

21. Riboh J, Abrajano CT, Garber K, et al. Outcomes of Sutureless Gastroschisis Closure. Journal of Pediatr Surg. 44. 2009: 1947-50.

22. Klein MD. Congenital Defects of the Abdominal Wall. Pediatric Surgery.7 th edition. Coran AG, Adzick NS,et al. Philadelphia. Elseiver Saunders,2012:973-84.

23. Machida M, Takamizawa S, Yoshizawa K. Umbilical Cord Inverting Technique : a Simple Method to Utilize the Umbilical Cord as a Biologic Dressing for Sutureless Gastroschisis Closure. Pediatr Surg Int.27; 2011:95-7.

24. Kim S, Betts J, Yedlin S, et al. Use of Pulse Oximeter Placed on a Gastroschisis Silo to Monitor Intestinal Oxygen Saturation. Pediatric Surg Int. 22; 2006:763-5.

25. Nick lansdale, Rrichard hill, Sobbia gull-zamir et al. s.l. Staged reduction of gastroschisis using preformed silos: practicalities and problems. Journal of Pediatric Surgery, 2009.

26. Landsdale N, Hill R, Zamir SG, et al. Staged Reduction of Gastroschisis Using Preformed Silos : Practicalities and Problems. Journal of Pediatr Surg. 44; 2009:

2126-9.

27. Weinsheimer RL, Yanchar NL, Bouchard SB, et al. Gastroschisis Closure Does Method Really Matter?. Journal of Pediatr Surg. 43; 2008: 874-8.

28. Houben CH, Patel S. Gastroschisis Closure : a Technique for Improved Cosmetic Repair. Pediatr Surg Int. 24; 2008: 1057-60.

29. Khalil BA, Baath ME, Baillie CT, et al. Infections in Gastroschisis : organisms and Factors. Pediatric Surg Int. 24; 2008: 1031-4.

30. Jager LC, Heij H. Factors Determining in Gastroschisis : Clinical Experience Over 18 Years. Pediatr Surg Int. 23; 2007: 731-6.

31. Owen A, Marven S, Johnson P, et al. Gastroschisis : a National Cohort Study to Describe Contemporary Surgical Strategies and Outcomes. Journal of Pediatr Surg. 45; 2010: 1808-13.

32. Houben C, Davenport M, Ajayi NA, et al. Closing Gastroschisis : Diagnosis, Management, and Outcomes. Journal of Pediatr Surg. 44; 2009: 343-7.

33. Kassa AM, Lilja HE. Predictors of Postnatal Outcome in Neontes with Gastroschisis. Journal of Pediatr Surg. 46; 2011: 2108-14.