Anda di halaman 1dari 22

BAB 1

PENDAHULUAN

Kita tahu bahwa setiap manusia dibekali akal pikir dan logika oleh Tuhan
Yang Maha Esa. Sebagai manusia kita harus memanfaatkannya dengan baik dan
benar. Karena jika pemanfaatan kita salah, bisa menimbulkan masalah yang akan
merugikan diri sendiri maupun orang lain. Dan sebaliknya, jika kita menggunakan
akal pikir dan logika di jalan yang benar maka kita akan menghasilkan buah pikir
yang sangat bernilai. Semakin banyak buah pikir yang kita tuangkan dalam karya
tulis ilmiah maka semakin banyak pula wawasan yang berkembang. Hal ini adalah
asal mula keragaman ilmu yang terbentuk di dunia. Buah pikir yang telah diakui
dan dipahami oleh seluruh manusia di dunia disebut sebagai ilmu. Untuk bisa
disebut ilmu, buah pikir harus melewati proses yang panjang. Salah satu caranya
dengan melalui penelitian. Proses penelitian memakan waktu yang tidak sedikit.
Konsep dasar filsafat ilmu adalah kedudukan, fokus, cakupan, tujuan dan
fungsi serta kaitannya dengan implementasi kehidupan sehari-hari. Pembahasan
filsafat ilmu juga mencakup sistematika, permasalahan, keragaman pendekatan
dan paradigma (pola pikir) dalam pengkajian dan pengembangan ilmu.
Filsafat dan ilmu pada dasarnya adalah dua kata yang saling terkait, baik
secara substansial maupun historis, karena kelahiran ilmu tidak lepas dari peranan
filsafat. Filsafat telah merubah pola pemikiran bangsa Yunani dan umat manusia
dari pandangan mitosentris menjadi logosentris. Perubahan pola pikir tersebut
membawa perubahan yang cukup besar dengan ditemukannya hukum-hukum
alam dan teori-teori ilmiah yang menjelaskan bagaimana perubahan-perubahan itu
terjadi, baik yang berkaitan dengan makro kosmos maupun mikrokosmos. Dari
sinilah lahir ilmu-ilmu pengetahuan yang selanjutnya berkembang menjadi lebih
terspesialisasi dalam bentuk yang lebih kecil dan sekaligus semakin aplikatif dan
terasa manfaatnya.

BAB II
PEMBAHASAN
Dalam melakukan aktivitas sehari-hari, dapat dipastikan bahwa kita tidak
lepas dari yang namanya berpikir. Hanya saja tingkat berpikir masing-masing
individu berbeda satu dengan yang lain. Ada individu yang bisa berpikir secara
kritis namun ada juga individu yang proses berpikirnya lama. Berpikir merupakan
suatu kegiatan yang sangat penting yang tidak boleh lepas dari kegiatan yang
dilakukan manusia selama hidupnya. Karena tanpa berpikir manusia akan berada
dalam suasana yang gelap dan hampa dengan banyak ketidaktahuan dalam
dirinya. Tanpa proses berpikir manusia tidak akan dapat mengenali dirinya dan
hakekat keberadaannya di dunia.
1. Model dan Kriteria Berpikir Ilmiah
Pada dasarnya, ditinjau dari sejarah berpikir manusia, terdapat dua pola
berpikir ilmiah. Yang pertama adalah berpikir secara rasional, dimana ide
tentang kebenaran sebenarnya sudah ada. Pikiran manusia dapat mengetahui
ide tersebut namun tidak menciptakannya. Dengan kata lain, ide tentang
kebenaran yang menjadi dasar bagi pengetahuan diperoleh melalui cara
berpikir yang rasional, terlepas dari pengalaman manusia.1
Cara berpikir ilmiah yang kedua adalah empirisme. Berbeda dengan
rasional, menurut orang-orang yang berpaham empirisme, pengetahuan tidak
secara alami ada di benak kita melainkan harus diperoleh melalui pengalaman.
Adapun kriteria metode berpikir ilmiah yaitu: berdasarkan fakta, bebas dari
prasangka, menggunakan prinsip-prinsi analisis, menggunakan hipotesis,
menggunakan ukuran objektif dan menggunakan teknik kuantitatif.

2. Hubungan Pemikiran Ilmiah dengan Ilmu


Taat, Suhartono. Filsafat Ilmu: Ontologi, Epistomologi, Aksiologi, dan Logika
Ilmu Pengetahuan. 2010. Pustaka Pelajar. Yogyakarta. 137&138.
1

Berfikir merupakan suatu proses, karena itu berfikir merupakan satu seri
atau beberapa seri, langkah atau beberapa tindakan yang diharapkan
memperoleh hasil yang berguna bagi kehidupan bersama. Manusia berfikir
karena manusia mempunyai gagasan/ ide/ cita-cita atau karena ada masalah
yang perlu dipecahkan. Kalau sudah berfikir keras dan tidak menghasilkan
sesuatu yang tidak diharapkan, beberapa kemungkinan dapat terjadi.
Kemungkinan pertama ada langkah berfikir yang salah, kurang tepat, kurang
fokus pada tujuan yang ada atau karena materi yang dibahas kurang relevan,
sehingga tidak menggambarkan satu kebulatan yang utuh dalam meneliti
ilmu. Sebab lain dapat terjadi karena kurang menguasai proses berfikir itu
sendiri.
Berfikir ilmiah adalah pemikiran yang sungguh-sungguh. Artinya, suatu
cara yang berdisiplin dimana seseorang tak kan membiarkan ide dan konsep
yang sedang dipikirkannya berkelana tanpa arah, namun kesemuanya itu
diarahkan pada satu tujuan tertentu. 2
Pengetahuan mengantar manusia untuk mengetahui berbagai masalah yang
dihadapi, yang terkait dengan kebenaran, kesalahan, kekurangan, kebaikan,
keburukan, kejujuran, dan sebagainya. Menghadapi pilihan-pilihan tersebut,
manusia dituntut untuk berfikir dan bekerja cerdas, sehingga mampu
memecahkan masalah yang dihadapinya secara jernih. Jika dapat ditemukan
ilmu baru dapat diartikan proses atau seri berfikir yang benar telah dilalui.
Dengan demikian ciri utama ilmu selain bersifat komprehensif, yang disebut
logika, dapat dipastikan alur pemikiran yang benar telah dilalui, atau proses
yang logis sudah berlangsung. Disamping itu, metode berpikir sudah sesuai
dengan tuntutan ilmu pengetahuan yang ada dan telah bekerja dengan baik
pula.
Dengan demikian ilmu pengetahuan sangat bermanfaat bagi kesejahteraan
dan kebahagiaan umat manusia, oleh karena itu, diharapkan manusia yang
memiliki pemikiran jernih memihak pada keadilan, kejujuran dan kebenaran.
3. Hubungan Proses Berpikir Ilmiah dengan Keragaman Ilmu
Taat, Suhartono. Filsafat Ilmu: Ontologi, Epistomologi, Aksiologi, dan Logika
Ilmu Pengetahuan. 2010. Pustaka Pelajar. Yogyakarta. 143.
2

Ilmu merupakan pengetahuan yang diperoleh dari suatu


proses tertentu. Untuk bisa melewati proses ini dibutuhkan
penguasaan sarana berpikir yang memadai. Sering sekali
upaya dalam meningkatkan mutu keilmuan tidak bisa terjadi
karena kurang dikuasainya suatu ilmu dengan baik. Atau bisa
saja terjadi, pendidikan sarana itu sudah memadai, tetapi
integrasi keseluruhan dari sarana tersebut sebagai kesatuan
belum

terjadi.

Sarana

yang

diperlukan

yaitu

berupa

pengetahuan yang mendukung prosedur keilmuan. Dengan


demikian sarana berpikir ini harus dikaitkan dengan prosedur
keilmuan.
Sejak

pertama

kehidupannya

kali

maka

manusia

mulailah

mulai

manusia

mempelajari

mengembangkan

kebudayaannya. Kebudayaan adalah struktur yang dibangun


manusia sebagai hasil dari kegiatan belajar. Salah satu produk
utama dari upaya manusia dalam mempelajari kehidupannya
adalah pengetahuan. Pengetahuan disini diartikan sangat
luas, mencakup berbagai hal yang kita tahu, sebagai hasil dari
kegiatan belajar. Ada kiranya masuk akal pada saat pertama
kali pengetahuan berkembang tidak seperti sekarang yang
tebagi dalam beberapa cabang pengetahuan. Pengetahuan
dalam jaman dulu menyatu, artinya, belum terdapat kriteriakriteria yang membedakan satu dengan yang lainnya. Intuisi
memegang peranan penting terutama sebagai cara berpikir
yang menyatukan tubuh pengetahuan secara utuh. Tidak
berisifat analitis, melainkan langsung kepada pemahaman
suatu persoalan tanpa melalui jalur proses yang panjang.
Makin pandai seorang manusia maka pengetahuan yang
dikumpulkannya pun makin bertambah pula.

Dahulu kala

pandangan

menyatukan

pengetahuan

nenek
tentang

moyang
apa

kita,
adanya

yang
dengan

apa

yang

seharusnya adalah sangat bijaksana. Pengetahuan tentang


apa adanya yang kemudian berkembang dan mendewasa
menjadi ilmu memang tidak bisa dilepaskan dari cara
bagaimana sebaiknya kita mempergunakan ilmu tersebut.
Ilmu tidak dapat dipisahkan dengan moral dalam tahap
penggunaannya. Sebab ilmu selain dapat membawa berkat,
juga dapat membawa kutukan pada manusia

jika tidak

dimanfaatkan dengan baik dan benar.


4. Filsafat tentang Berbagai Disiplin Ilmu
Filsafat merupakan induk dari ilmu pengetahuan. Karena semua hal yang
membutuhkan jawaban akan terjawab jika dikaitkan dengan ilmu filsafat ini.
Semakin berkembangnya dunia ilmu pengetahuan, maka semakin beragamnya
ilmu saat ini.
Setiap disiplin ilmu pengetahuan membutuhkan filsafat sehingga pada
hakikatnya jumlah filsafat tentang berbagai disiplin ilmu itu sebanyak jumlah
disiplin ilmu yang ada. Pada masa kini, ada begitu banyak ilmu pengetahuan
yang berkembang. Ilmu-ilmu itu dapat dibagi ke dalam tiga kelompok sebagai
berikut:
1. ilmu-ilmu deduktif (ilmu-ilmu formal)
2. ilmu-ilmu induktif (ilmu-ilmu empiris)
3. ilmu-ilmu reduktif (sejarah, dsb.).3
Ilmu yang memiliki pengaruh terbesar adalah ilmu astronomi, ilmu
fisika, dan ilmu matematika. Hubungan ketiga ilmu tersebut bukanlah hanya
erat melainkan berkesinambungan. Jika salah satu ilmu tidak difungsikan
maka ilmu yang ada tidak akan bermakna benar dan baik.

3 Rapar, Jan Hendrik. Pengantar Filsafat. 1996. KANISIUS.

Yogyakarta. 74.

Bahwa pemikiran dalam ketiga bidang ilmu pengetahuan tersebut


merupakan poros dapat ditunjukkan oleh pengaruhnya, yang mendasari
pemikiran social-politik, juga merupakan teladan yang diikuti oleh
pengembangan pemikiran ilmu pengetahuan lainnya.4

5. Prinsip Metodologis dalam Penalaran


Berfikir adalah kegiatan mental yang menghasilkan pengetahuan. Rene
Descater dengan karyanya Discourse on Method, risalah tentang metode
dengan tahapan tertentu dan sistematik. Pembenaran disini bertolak pada
prinsip keraguan metodis (skeptis metodis) Alfred Jules Ayer, tentang
verifikasi, pembenaran terhadap teori yang sudah ada.5
Karl Raimund Popper, tentang falsifikasi. Teori ilmiah selalu bersifat
hipotetik (dugaan sementara), tak ada kebenaran terakhir. Setiap teori selalu
terbuka untuk digantikan oleh teori yang lebih tetap. Di dalam buku filsafat
ilmu diterangkan juga macam-macam berfikir.
Berpikir Inovatif
Berpikir inovatif adalah merupakan hasil akhir dari suatu proses berpikir
kreatif. Ada empat kemampuan dasar dalam diri manusia yang harus selalu
diasah dan dikembangkan.
Kemampuan pertama adalah kemampuan analisis, yaitu kebiasaan berpikir
analisis, artinya kemampuan manusia untuk bisa mengurai dari suatu makna
menjadi makna yang lebih kecil dan mencoba memahami esensi atau hakikat,
materi serta sifat yang menyusun makna tersebut. Kemampuan kedua ialah
judgment yaitu kemampuan
Kemampuan ketiga adalah manusia untuk memutuskan yang mana dari
hasil analisi tersebut perlu disimpan dalam memori, dan yang mana harus
4 Santoso, Slamet Iman. Sejarah Perkembangan Ilmu

Pengetahuan. 1977. SINAR HUDAYA. Jakarta. 6.


5 Supriyanto, Stefanus. 2013. Filsafat Ilmu. Jakarta: Prestasi

Pustaka

dilupakan.kemampuan kita untuk melakukan pengorganisasian hasil-hasil


keputusan (judgment) saat ini dan keputusan sebelumnya menjadi satu
pengelompokan.
Kemampuan keempat adalah kemampuan membuat sintesa baru, berupa
ide/kerangka pikir kreatif (pengetahuan baru) dan inovatif (pengetahuan baru
yang memiliki nilai tambah dari pengetahuan sebelumnya).

Berpikir Reflektif
Penulis didalam buku filsafat ilmu mencoba menjelaskan dengan alur berpikir
Filsuf Descartes, berpikir filsafat dan berpikir pragmatis dalam pemecahan
masalah.
1) Alur Berpikir Reflektif (Descartes)
a. Pemahaman Masalah
Sadar masalah. Sadar adanya masalah yang perlu dilakukan penyelesaian,
penjelasan.
Pembatasan masalah. Masalah harus dipersempit, karena pengetahuan itu
berasal dari kumpulan pengetahuan yang tidak sempurna.
Pernyataan masalah (Problem statement) yang perlu diselidiki.
Kita menjadi sadar akan suatu masalah, membatasi sebaik mungkin masalah
tersebut dan menunjukkan apa yang perlu diselidiki. Masalah tentang
alamyang dapat ditangkap oleh indera kita.
Masalah adalah kesenjangan (Gap) dari apa yang seharusnya (What should be)
dan apa yang ada (what it is). Untuk membatasi dan mempersempit masalah,
maka diambil kesenjangan yang menjadi perhatian (concern) dan tanggung
jawabnya (responsibility)
b. Meragukan dan Menguji Secara Rasional
Upaya mengembangkan ide kreatif dilakukan melalui:
1) Olah pikir, menggunakan akal budi.
2) Cipta talen berdasarkan pengalaman.
3) Olah rasa dan batin menggunakan intuisi/instink menjadi ide kreatif
4) Meragukan apa yang disebut masalah dan mencoba memberikan jawaban
yang benar melalui tanggapan rasional maupun akal sehat (common sense)
c. Memeriksa Penyelesaian Terdahulu
Menguji barang dan mempertimbangkan penyelesaian yang telah diajukan
sebelumnya melalui:
1) Deduksi atau koherensi, dengan penelusuran teori yang sudah ada.
2) Analisis, judgment, pengorganisasian dan sintesa.

d. Menyarankan Hipotesis
Hipotesis adalah hubungan variabel (bahan) yang dapat berupa konsep,
prinsip, kaidah, dalil, proposisi yang masih perlu diuji:
1) Hubungan asimetris (cause effect relationship: hubungan sebab akibat).
2) Hubungan simetris (hubungan timbal balik atau fungsional).
e. Pengujian Konsekuensi (Verifikasi Hipotesis)
Verifikasi terhadap penjabaran hasil (hipotesis) yang telah dilakukan.
Verifikasi adalah upaya melakukan pengamatan lebih banyak untuk
membenarkan hipotesis atau mengingkarinya. Verifikasi secara langsung
melalui pengamatan empirik dan verifikasi secara tidak langsung melalui
pemahaman sejumlah metode. Hasil pengujian yang membenarkan dan
memperkuat pengetahuan yang sudah ada disebut verifikasi, sedangkan
hasil pengujian yang menolak teori yang ada disebut klasifikasi.
f. Menarik Kesimpulan
Penarikan kesimpula mengenai masalah dan pengujian dapat
menghasilkan beberapa kesimpulan:
1) Masalah yang tak ada maknanya

untuk

pengembangan

pengetahuan.
2) Ada makna tetapi sulit dijawab (pengetahuan saat ini tidak
memadai atau tidak tersedia)
3) Dijawab dengan mengiyakan (verifikasi) atau mengingkari,
menolak (falsifikasi)
4) Dijawab secara deskriptif.
5) Dijawab dengan konsep baru.

2. Berpikir Reflektif (Supriyanto)


Berpikir reflektif merupakan perpaduan dari berpikir filsafat, pragmatis
danproses berpikir kreatif. Ketiga pola berpikir tersebut merupakan dasar
berpikir kita dalam mempelajari Filsafat Ilmu.
Ada beberapa prosedur untuk berpikir reflektif saat ini, yaitu:
A. Esensi perenungan filsafat ilmu
Filsafat membawa kepada pemahaman sesuatu dan tindakan melalui pilar
filsafat ontologi, epistemologi dan aksiologi.
8

Masalah (what) juga perlu dipersempit dan dipertajam, sehingga jelas apa
yang menjadi masalah yang mau diselesaikan.
Analisis pertama dengan inderawi (empiris) kita mencari penyebab masalah
dengan riset atau pengumpulan data di lapangan. Analisi kedua dengan
menelusuri pustaka untuk mencari penyebab masalah dan cara penyelesaian
dari khasanah ilmiah maupun dari penelitian yang mendahului. Dari hasil
analisis pertama dan kedua dapat disimpulkan jawaban sementara tentang akar
penyebab

masalah.

Langkah

berikutnya

menyusun

upaya

penyelesaiannyayang paling mungkin untuk dilaksanakan.

3. Berpikir Pragmatis dalam Pemecahan Masalah


Dalam pemecahan masalah, kita harus paham benar masalah yang ingin
kita selesaikan (What); kedua tentang penyebab masalah (Why) dan ketiga
solusi pemecahan berdasarkan hasil analisi kedua dan/atau panduan dengan
teori yang telah ada sebelumnya serta kecerdasan kita (How).

6. Perkembangan Metode Ilmu


Tahap Perkembangan Ilmu
Ilmu dapat ditinjau dari sekumpulan pengetahuan ilmiah, dan/atau
sekumpulan aktivitas ilmiah, dan/atau metode ilmiah yang dipergunakan untuk
mendapatkan pengetahuan ilmiah. Berikut ini merupakan perkembangan untuk
mendapatkan pengetahuan, dimulai dari yang tidak ilmiah menjadi metode ilmiah.
1. Common sense (akal sehat)
Berakar pada tradisi menjadi kebiasaan dan pengulangan (landasan

2. Seni

kurang kuat).
Cenderung kabur dan samar-samar
Pengetahuan tidak teruji, karena kesimpulan biasanya ditarik
dengan asumsi yang tidak diuji dulu.
Didukung metode trial dan error serta pengalaman.

Applied art yang mempunyai kegunaan langsung pada kehidupan badaniah


dan Fine art yang dapat memperkaya kegunaan spiritual. Sifat seni adalah
deskriptif dan fenomologis serta ruang lingkupnya terbatas. Seni bersifat
subyektif, individual dan personal. Oleh karena itu seni mencoba memberi
makna sepenuhnya terhadap suatu objekRasionalisme
Kelemahan logika deduktif ini, sering pengetahuan yang diperoleh tidak
sesuai dengan fakta, sehingga sering diragukan bagi kelompok
induktivisme.
3. Empirisme
Jumlah observasi harus besar.
Observasi harus diulang-ulang pada variasi kondisi yang luas.
Keterangan observasi yang sudah diterima, tidak boleh
bertentangan

dengan

hukum

universal

yang

menjadi

kesimpulannya.
4. Falsifikasionisme
Namun suatu fakta/fenomena baru dapat menolak teori yang sudah ada
atau menggagalkan teori yang sudah ada. Kondisi ini dikenal dengan
sebutan falsifikasi. Karl Popper pada tahun 1919-20an menjelaskan
metode yang dapat digunakan untuk membantah dan menguji sebuah teori,
dengan mendefinisikan kejadian atau genomena apa yang tidak mungkin
terjadi, jiks pernyataan ilmiah tersebut memang benar.
5. Relativisme
Pada relativisme, teori dikatakan baik harus dinilai relatif dari segi standar
yang diterima oleh masyarakat, sedangkan standar itu secara tipikal akan
berlainan sesuai dengan kultur dan hitoris masyarakat masing-masing.
6. Pragmatis
7. Filsafat Ilmu
Filsafat meletakkan dasar-dasar pengetahuan. Landasan berpikir filsafat
menggunakan metode analisi dan sintesis. Analisi pengetahuan yang
dihasilkan dari berpikir rasionalisme dan empirisme, kemudian dilakukan
suatu sintesis baru merupakan kajian Filsafat Ilmu.

Filsafat, sesuai ciri dasarnya sebagai, prinsip dan landasan berpikir bagi
setiap usaha manusia di dalam mengenal dan mengembangkan eksistensinya,
melakukan tugasnya dengan bertitik tolah pada beberapa ciri pemikiran, yaitu:

10

1.

Berpikir Radikal (radix = akar). Artinya, ciri berpikir filsafat yang ingin
menggali dan menyelami kenyataan atau ide sampai keakar-akarnya, untuk
menemukan dan mengangkat dasar-dasar pemikirannya secara utuh ke
permukaan. Melalui cara pemikiran yang demikian itu, diperoleh suatu
hasil

berpikir

yang

mendasar

dan

mendalam,

serta

sebuah

pertanggunganjawaban yang memadai di dalam membangun pemikiran


filsafat dan pikiran keilmuan itu sendiri. Ciri pemikiran dimaksud,
mengisyaratkan bahwa orang tidak perlu terburu-buru mengambil
kesimpulan pemikiran sebelum menemukan hakikat kebenarannya secara
fundamental, dan dengan demikian, ia tidak muda terjebak ke dalam
pemikiran yang sesat dan keliru atau kejahatan. Berpikir radikal
menunjukkan bahwa filsafat sebagai sebuah proses dan hasil pemikiran,
selalu berusaha melatakkan dasar dan strategi bagi pemikiran itu sendiri
sehingga bertahan menghadapi ujian kritis atau tantangan (ujian) zaman
dengan

2.

berbagai

arus

pemikiran

baru

apa

pun.

kreatif-inovatif. Artinya, pemikiran filsafat bukanlah pemikiran yang


melanggengkan

atau

memandegkan

dirinya

di

dalam

berbagai

keterkungkungan dogma atau ideologi yang beku dan statis. Justru, ia


selalu berusaha membangun kejataman budi untuk mampu mengeluarkan
diri

kebekuan

inspirasi,

mampu

mengkritisi,

memperbaiki,

menyempurnakan, dan mengembangkan dirinya sedemikian rupa sehingga


dapat melahirkan penemuan-penemuan (invention) dan gagasan-gagasan
baru yang lebih brilian, terbuka, dan kompetitif dalam merespons tuntutan
zaman serta kemajuan-kemajuan yang penuh kejutan dan pergolakan, baik
pada tataran ide maupun moral. Ciri pikiran filsafat tersebut mengandaikan
sebuah kekuatan transformasi dan seni mengolah budi (kecerdasan)
guna mampu melakukan imajinasi teori, mengubah fakta menjadi
permasalahan dan terobosan penyelesaiannya dalam berbagai lakon
aktual.

11

3.

Berpikir Sistematis dan analitis. Artinya, ciri berpikir filsafat selalu


berpikir logis (terstruktur dan teratur berdasarkan hukum berpikir yang
benar). Pemikiran filsafat tidak hanya melepaskan atau menjejerkan ideide, penalaran, dan kreatifitas budi secara serampangan (sporadis). Justru,
pemikiran filsafat selalu berusaha mengklasifikasi atau menggolonggolongkan, mensintesa (mengkompilasi) atau mengakumulasikan, serta
menunjukkan makna terdalam dari pikiran, merangkai dan menyusunnya
dengan kata (pengertian), kalimat (keputusan), dan pembuktian (konklusi)
melalui sistim-sistim penalaran yang tepat dan benar. Pemikiran filsafat
selalu bergerak selangkah demi selangkah, dengan penuh kesadaran
(pengujian diri), berusaha untuk mendudukan kejelasan isi dan makna
secara terstruktur dengan penuh kematangan dalam urutan prosedur atau
langkah berpikir yang tertib, tertanggung jawab, dan saling berhubungan
secara

4.

teratur.

Berpikir Universal. Artinya, pemikiran filsafat selalu mencari gagasangagasan pemikiran yang bersifat universal, yang dapat berlaku di semua
tempat. Pemikiran filsafat tidak pernah akan berhenti dalam sebuah
kenyataan yang terbatas, ia akan menerobos mencari dan menemukan
gagasan-gagasan yang bersifat global dan menjadi rujukan pemikiran
umum. Pikiran-pikiran yang bersifat partikular dan kontekstual (bagianbagian yang terpisah menurut konteks ruang dan waktu) diangkat dan
ditempatkan (disintesakan) dalam sebuah bagian yang utuh dan universal,
sebagai

5.

sebuah

kenyataan

eksistensisal

yang

khas

manusiawi.

Komprehensif dan holistik. Artinya, pemikiran filsafat selalu bersifat


menyeluruh dan utuh. Baginya, keseluruhan adalah lebih jelas dan lebih
bermakna daripada bagian-perbagian. Holistik artinya, berpikir secara
utuh, tidak terlepas-lepas dalam kapsul egoisme (kebenaran) sekoral yang
sempit. Cara berpikir filsafat yang demikian perlu dikembangkan
mengingat hakikat pemikiran itu sendiri adalah dalam rangka manusia dan
kemanusiaan yang luas dan kaya (beraneka ragam) dengan tuntutan atau

12

klaim kebenarannya masing-masing, yang menggambarkan sebuah


eksistensi yang utuh. Baginya, pikiran adalah bagian dari fenomena
manusia sebab hanya manusia lah yang dapat berpikir, dan dengan
demikian ia dapat diminta pertanggungjawaban terhadap pikiran maupun
perbuatan-perbuatan yang diakibatkan oleh pikiran itu sendiri. Pikiran
merupakan kesatuan yang utuh dengan aneka kenyataan kemanusiaan
(alam fisik dan roh) yang kompleks serta beranekaragam. Pikiran,
sesungguhnya tidak dapat berpikir dari dalam pikiran itu sendiri, sebab
bukan pikiran itulah yang berpikir, tetapi justru manusia lah yang berpikir
dengan pikirannya. Jadi, tanpa manusia maka pikiran tidak memiliki arti
apa pun. Manusia, karenanya, bukan hanya berpikir dengan akal atau rasio
yang sempit, tetapi juga dengan ketajaman batin, moral, dan keyakinan
sebagai

6.

kesatuan

yang

utuh.

Berpikir Abstrak. Berpikir abstrak adalah berpikir pada tataran ide,


konsep atau gagasan. Maksudnya, pemikiran filsafat selalu berusaha
meningkatkan taraf berpikir dari sekedar pernyataan-pernyataan faktual
tentang fakta-fakta fisik yang terbatas pada keterbatasan jangkuan indera
manusia untuk menempatkannya pada sebuah pangkalan pemahaman yang
utuh, integral (terfokus), dan saling melengkapi pada tataran yang abstrak
melalui bentukbentuk ide, konsep, atau gagasan-gagasan pemikiran.
Baginya, sebuah fakta fisik selalu terbatas pada apa adanya karena sifatnya
terbatas menurut sebuah penampakan inderawi yang sejauh dapat dilihat,
didengar, atau diraba. Justru, pikiran tersebut harus lebih ditingkatkan
pada taraf-taraf berpikir abstraktif dalam bentuk konsep atau gagasangagasan, dengan menggunakan ide, kata, kalimat, dan kreatifitas budi
sehingga

orang

mampu

memberi

arti,

memahami,

menangkap,

membedakan, dan menjelaskannya aneka pencerapan inderawi tersebut


dalam sebuah pemikiran yang tersusun secara sistematis. Pemikiran
abstraktif, berusaha membebaskan orang dari cara berpikir terbatas dengan
hanya menunjukkan untuk makin mendewasakan pemikiran itu pada
kemampuan memahami dan menjelaskan. Pemikiran absatrak beruaha

13

mengangkat pikiran pada tataran kemampuan berimajinasi, membangun


kohenrensi, dan korelasi secara utuh dan terstruktur guna menunjukkan
peta keutuhannya, dengan segala fenomenanya secara detail sehingga
dapat

7.

dijelaskan

secara

lengkap

dan

sempurna.

Berpikir Spekulatif. Ciri pemikiran ini merupakan kelanjutan dari ciri


berpikir

abstrak yang selalu berupaya

mengangkat pengalaman-

pengalaman faktawi ketaraf pemahaman dan panalaran. Melalui itu, orang


tidak hanya berhenti pada informasi sekedar menunjukkan apa adanya (in
itself), tetapi lebih meningkat pada taraf membangun pemikiran dan
pemahaman tentang mengapa dan bagaimananya hal itu dalam berbagai
dimensi bentuk pendekatan. Pemikiran filsafat yang berciri spekulatif
memungkinkan adanya transendensi untuk menunjukkan sebuah perspektif
yang luas tentang aneka kenyataan. Tegasnya, melalui ciri pemikiran
filsafat yang spekulatif dimaksud, orang tidak sekedar hanya menerima
sebuah kenyataan (kebenaran) secara informatif, sempit, dan dangkal,
tetapi dengan sikap kritis, dan penuh imajinasi untuk memahami
(verstending) dan mengembangkannya secara luas dalam berbagai khasana
pemikiran yang beraneka. Berfilsafat adalah berfikir dengan sadar, yang
mengandung pengertian secara teliti dan teratur, sesuai dengan aturan dan
hukum yang ada. Berpikir secar filsafat harus dapat menyerap secara
keseluruhan apa yang ada pada alam semesta secara utuh sehingga orang
dimungkinkan untuk mengembangkannyadalam berbagai aspek pemikiran
dan

8.

bidang

keilmuan

yang

khas.

Berpikir secara reflektif. Maksudnya, filsafat selalu berpikir dengan


penuh pertimbangan dan penafsiran guna penemuan makna kebenaran
secara utuh dan mendalam. Ciri pemikiran filsafat yang reflektif ini,
hendak

ditunjukkan

bahwa

pemikiran

filsafat

tidak

cenderung

membenarkan diri, tetapi selalu terbuka membiarkan diri dikritik dan


direnungkan secara berulang-ulang dan makin mendalam, untuk sambil
mencari inti terdalam dari pemikiran dimaksud, juga menemukan titik-titik

14

pertautannya secara utuh dengan inti kehidupan manusia yang luas dan
problematis. Berpikir reflektif memungkinkan proses internalisasi
(pembathinan) setiap pemikiran filosofis, sehingga pikiran itu sendiri
bukan hanya mampu mencerminkan isi otak, tetapi isi kehidupan secara
utuh

9.

menjadi

sebuah

gaya

kehidupan

yang

khas.

Berpikir humanistik. Ciri pemikiran filsafat ini hendak letakkan hakikat


pemikiran itu pada nilai dan kepentingan-kepentingan kemanusiaan
sebagai titik orientasi, pengembangan, dan pengendalian pemikiran itu
sendiri. Maksudnya, pemikiran dan segala anak pinaknya, baik dalam
bentuk pengetahuan, ilmu, atau teknologi harus dapat menunjukkan
sebuah pertanggungjawaban pada sebuah tugas kemanusiaan yang nyata.
Bagi filsafat, pikiran atau pengetahuan itu adalah pikiran yang khas
manusia, bahkan pikiran seorang anak manusia untuk sebuah tugas
kemanusiaan. Ciri pemikiran filsafat, karenanya memiliki dasar, sumber
dan tanggung jawab kemanusiaan yang diemban. Berpikir humanistik
bukan saja berpusat pada manusia, tetapi sesungguhnya menyentuh sebuah
tanggungjawab manusiawi. Inti kemanusiaan itulah yang menjadi dasar
dan sumber aktual bagi proses berpikir maupun penerapan hasil pikiran itu
sendiri.

10.

Berpikir kontekstual. Ciri pemikiran ini hendak menunjukkan bahwa


pikiran bukan sekedar sebuah ide, tetapi sebuah realitas eksistensi dengan
konteksnya yang nyata dan jelas. Maksudnya, setiap pemikiran filsafat,
selalu bertumbuh dan berkembang dalam konteks hidup manusia secara
nyata. Pikiran filsafat karenanya, merupakan bagian dari cara berpikir dan
cara bertindak manusia atau masyarakat dalam menyiasati dan
memecahkan masalah-masalah kehidupannya secara nyata. Pemikiran
kontekstual mengandaikan kejeniusan lokal (local genius) dalam
membangun sebuah struktur keberadaan. Pemikiran filsafat juga
mencirikan sebuah pemikiran yang fungsional dalam menyiasati serta

15

membangun tanggungjawab budaya maupun sosial kemasyarakatannya.

11.

Berpikir

eksistensial.

Ciri

pemikiran

filsafat

ini

bermaksud

menunjukkan bahwa pikiran itu adalah pikiran manusia, karenanya, setiap


pemikiran

selalu

mengandaikan

harapan,

kecemasan,

kerinduan,

keprihatinan dan aneka kepentingan manusia sebagai sebuah manifestasi


eksistensial. Pikiran itu sendiri adalah sebuah tanda keberadaan atau
fenomena eksistensi, dengan pikirannya, manusia membudayakan diri dan
memenuhi kodrat eksistensialnya sebagai eksistensi yang bermartabat.
Berpikir eksistensial, mengandaikan sebuah ciri pemikiran yang khas,
yang bukan saja berpikir dalam kerangka keilmuan, tetapi justru pemikiran
dalam rangka pengembangan eksistensi jati diri dan kehidupan secara
utuh.

12.

Berpikir kontemplatif. Ciri pemikiran filsafat ini diarahkan untuk


menajamkan kepekaan diri, ketajaman bathin, serta kemampuan mengenal
kekuatan dan kelemahan, dan kesadaran otodidik dalam diri. Melalui
pemikiran kontemplatif dimaksud, setiap pemikir, filsuf, atau ilmuwan
mampu menasihati dan membimbing diri (menangani diri) dengan penuh
kerendahan hati, kesabaran, dan kesetiaan. Ciri berpikir kontemplatif
mampu membimbing para subyek (pemikir) sedemikian rupa, sehingga
mampu melalukan koreksi, perbaikan, dan penyempurnaan atas segala
cara berpikir maupun hasil pemikiran itu sendiri sehingga tidak terjebak
dalam keangkuhan, sikap ideologis, dan pembenaran diri menjadi
kekuatan serba oke, yang secara buta mentukangi aneka kebohongan
dan kejahatan. Berpikir kontemplatif membimbing orang untuk makin
memiliki sebuah jangkar keberadaan dan fondasi eksistensi yang kokoh
sebagai pribadi (personal), maupun sebagai bangsa dan masyarakat yang
beradab dan bermartabat.6

6 Suriasumantri, J.S.. Ilmu dalam Perspektif. 1995.Yayasan Obor Indonesia.Jakarta.

16

7.

Filsafat adalah Berpikir Ilmiah


Dalam menghadapi berbagai masalah hidup di dunia ini, manusia akan
menampilkan berbagai alat untuk mengatasinya. Alat itu adalah pikiran atau
akal yang berfungsi di dalam pembahasannya secara filosofis tentang masalah
yang dihadapi. Pikiran yang dapat masuk dalam bidang filsafat adalah pikiran
yang senantiasa bersifat ilmiah. Jadi pikiran itu adalah yang mempunyai
kerangka berpikir ilmiah-filsafat, karena itu tidak semua berpikir itu diartikan
sebagai berpikir filsafat. Seperti disebut Prof. Mulder, berpikir ilmiah itu
mengandung khasiat-khasiat tertentu, yaitu mengabstrahir pokok persoalan,
bertanya terus sampai batas terakhir yang beralasan dan berelasi.7 Maka dari itu
setiap manusia sudah mempunyai pikiran filsafat.

8. Dimensi ilmu
Dimensi ilmu sepatutnya dianggap termasuk dalam ilmu,
peranan atau pentingnya ilmu dalam suatu kerangka tertentu,
dan

sifat

berdasarkan

atau

ciri

perluasan

pertimbangan.

yang

Untuk

dapat

keperluan

ditambahkan
penelaahan

terhadap ilmu, sudut tinjauan dari arah luar merupakan suatu


hampiran studi tertentu atau suatu perspektif dalam analisis.
Hampiran atau perspektif ini dapat berasal dari berbagai cabang
ilmu khusus yang dapat mengambil konsep ilmu sebagai sasaran
ilmu penelaahannya. Tampak sejumlah dimensi ilmu yang sejalan
dengan ilmu-ilmu yang bersangkutan, yaitu:
1. Ilmu ekonomi: dimensi ekonomik dari ilmu
Membahas ilmu sebagai suatu kekuatan produktif yang
langsung sebagaimana dianut oleh negara-negara sosialis atau
sebagai a major factor in the maintenance and development of

7 Supriyanto, Stefanus. 2013. Filsafat Ilmu. Jakarta: Prestasi

Pustaka

17

production (suatu faktor utama dalam mempertahankan dan


mengembangkan produksi) dikemukakan oleh Bernal.8
2. Linguistik: dimensi linguistik dari ilmu
Charles Morris menyatakan ilmu adalah suatu bahasa, yakni
sebagai a body of signs with certain specific relations to one
another, to object, and to practice.9 (seperangkat tanda-tanda
dengan hubungan-hubungan spesifik tertentu satu dengan lain,
obyek-obyek, dan praktek), sedang Richard Schlegel berkata
science

merupakan

construction

of

language. 10

(suatu

konstruksi bahasa).
3. Matematik: dimensi matematis dari ilmu
Menekankan segi kuantitatif dan proses kuantifikasi dalam ilmu.
Definisi dalam McGraw-Hill Dictionary of Scientific and Technical
Terms tampaknya menonjolkan dimensi matematis dari science:
A branch of study in which facts are observed and classified and
usually quantitatives laws are formulated and verified , involves
the application of mathematical reasiong and data analysis to
natural phenomena.11 (Suatu cabang studi yang didalamnya
fakta-fakta diamati dan digolong-golongkan dan biasanya kaidahkaidah

kuantitatif

dirumuskan

dan

dibuktikan,

mencakup

8 J.D Bernal, Science in History, Volume 1: The Emergence of

Science, 1979, p. 31
9 Charles W. Morris, Science Empirism, dalam Otto Neurath, et

al., Enclyclopedia and Unified Science, 7th impression, 1970, p. 70


10 Richard Schlegel, Inquiry into Science: Its Domain and Limits,

1972, p.7
11 Daniel N. Lapedes, ed., McGraw-Hill Dictionary of Scientific

and Thechnical Terms, 1974. P. 1305

18

penerapan

penalaran

matematis

dan

analisis

data

atas

fenomena alamiah).
4. Ilmu politik: dimensi politik dari ilmu
Dapat membahas ilmu dari sudut tinjauan pemerintahan atau
sebagai faktor kekuasaan dalam negara. Perincian Haberer
tentang

ilmu

sebagai

ideologi

da

uraiannya

mengenai

politicalization dalam science jelas menitikberatkan dimensi


politik.12
5. Psikologi: dimensi psikologis dari ilmu
C. H. Waddington mengarang buku The Scientific Attitude (1941)
berpendapat bahwa ilmu bukanlah suatu kumpulan muslihat,
melainkan suatu sikap terhadap dunia ini (an attitude to the
world). Sedangkan Arthur Koestler dalam bukunya The Act of
Creation (1964) yang membahas kreativitas ilmiah dengan
konsep-konsep psikologi dan berkesimpulan bahwa penemuan
ilmiah

(scientific

dicovery)

dapat

dibandingkan

dengan

penciptaan seni(artistic creation).13

6. Sosiologi: dimensi sosiologis dari ilmu


Dianggap sebagai social institution, social activity, atau
menurut Haberer sebagai suatu jaringan kebiasaan dan peranan
(a network of habits and roles) yang menghimpun, menguji, dan
menyebarkan pengetahuan.14 Dari perspektif sosiologis pula
12 Joseph H. Haberer,Politization in Science, Science, Volume

178, 1972, p. 713-724


13 Pendapat Wadington dan Koestler ini diungkapkan dalam

Bernard Dixon, What is Science for?, 1973, p. 25&33


14 Seperti catatan nomor 5

19

orang

berbicara

tentang

scientific

research

community. 15

(masyarakat penelitian ilmiah)

BAB III
PENUTUP
Pemikiran ilmiah atau alur pikir ilmiah adalah pemikiran yang sungguh-sungguh.
Artinya, suatu cara yang berdisiplin, dimana seseorang tidak akan membiarkan ide
dan konsep yang dipikirkannya berjalan tanpa arah yang jelas, namun semuanya
akan diarahkan pada suatu tujuan tertentu yaitu pengetahuan. Model pemikiran
ilmiah pada dasarnya ditinjau dari segi sejarah berpikir manusia, ada dua model
pemikiran ilmiah yaitu berpikir secara rasional dan empirisme.Paling asasi adalah
produk kegiatan berpikir lewat suatu cara berpikir tertentu.
Dengan metode ilimiah sebagai paradigma maka ilmu dibandingkan
dengan berbagai pengetahuan lainnya dapat dikatakan berkembang dengan sangat
cepat. Salah satu faktor yang mendorong perkembangan ini adalah faktor sosial
dari komunikasi ilimiah dimana penemuan individual segera didapat dan dikaji
oleh anggota masyarakat ilmuwan lainnya.
Ilmu memandang kebenarannya sebagai tujuan yang mungkin dapat
dicapai namun tak pernah sepenuhnya tangkapan kita sampai. Meskipun kita
berusaha brsikap seobjektif mungkin, namun tidak dapat dipungkiri bahwa
15 Michael Mulkay, Sociology of the Scientific Research

Community, dalam Ina Spiegel-Rosing & Derek de Solla Price,


eds., Science, Technology and Society: A Cross-Disciplinary
Perspective, 1972, chapter 4

20

persepsi kita tidak pernah lepas dari faktor subjektifitas. Dalam perspektif inilah
maka penelitian terhadap ilmu tidaklah ditentukan oleh keaslian teorinya
sepanjang zaman melainkan terletak dalam kemampuan memberikan jawaban
terhadap masalah dalam tahap peradaban tertentu.

DAFTAR PUSTAKA

Adib, Mohammad. 2010. Filsafat Ilmu: Ontologi, Epistemologi, Aksiologi, dan


Logika ilmu Pengetahuan.Yogyakarta: Pustaka Belajar.
Gie, The Liang. 2000. Pengantar Filsafat Ilmu. Yogyakarta: Liberty
Keraf, Sonny. 2001. Ilmu Pengetahuan Sebuah tinjauan Filosofis. Yogyakarta:
Kanisius.
Santoso, Slamet Iman. 1977. Sejarah Perkembangan Ilmu Pengetahuan. Jakarta:
Sinar Hudaya.
Suhartono, Suparlan. 2004. Dasar-Dasar Filsafat. Jogjakarta: Ar-Ruzz Media
21

Supriyanto, Stefanus. 2013. Filsafat Ilmu. Jakarta: Prestasi Pustaka.


Suriasumantri, Jujun. 1986. Ilmu dalam Perspektif Moral, Sosial dan Politik.
Jakarta: PT Gramedia.

22