Anda di halaman 1dari 7

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Pengertian Efek Rumah Kaca

Istilah Efek Rumah Kaca (green house effect) berasal dari pengalaman

para petani di daerah beriklim dingin yang sedang menanam sayur-mayur dan

bunga-bunga di dalam ruangan/wadah kaca. Fenomena efek rumah kaca atau

green house effect ini pertama kali ditemukan oleh fisikawan Perancis Joseph

Fourier pada tahun 1824 dan dibuktikan secara kuantitatif/ penelitian oleh Svante

Arrhenius pada tahun 1896. Penyebutan nama efek rumah kaca sebenarnya

didasarkan atas peristiwa alam yang mirip dengan yang terjadi di rumah kaca

yang biasa digunakan untuk kegiatan pertanian dan perkebunan untuk

menghangatkan tanaman di dalamnya. Panas yang masuk ke dalam rumah kaca

akan sebagian terperangkap di dalamnya, tidak dapat menembus ke luar kaca,

sehingga menghangatkan seisi rumah kaca tersebut.

Efek rumah kaca terjadi karena panas matahari merambat dan masuk ke

permukaan bumi. Kemudian panas matahari tersebut akan dipantulkan kembali

oleh permukaan bumi ke angkasa melalui atmosfer. Sebagian panas matahari yang

dipantulkan tersebut akan diserap oleh gas rumah kaca yang berada di atmosfer.

Panas matahari tersebut kemudian terperangkap di permukaan bumi, tidak bisa

melalui atmosfer. Sehingga suhu bumi menjadi lebih panas.

BAB II
PEMBAHASAN
2.1. Penggunaan Rumah Kaca
Rumah kaca (atau rumah hijau) adalah sebuah bangunan di mana tanaman

dibudidayakan. Sebuah rumah kaca terbuat dari gelas atau plastik, Dia menjadi

panas karena radiasi elektromagnetik yang datang dari matahari memanaskan

tumbuhan, tanah, dan barang lainnya di dalam bangunan ini.

Kaca yang digunakan untuk rumah kerja bekerja sebagai medium

transmisi yang dapat memilih frekuensi spektral yang berbeda-beda, dan efeknya

adalah untuk menangkap energi panas di dalam rumah kaca, yang memanaskan

tumbuhan dan tanah di dalamnya yang juga memanaskan udara dekat tanah dan

udara ini dicegah naik ke atas dan mengalir keluar. Oleh karena itu rumah kaca

bekerja dengan menangkap radiasi elektromagnetik panas dan mencegah

keluarnya elektromagnetik tersebut.

Rumah kaca sering kali digunakan untuk mengembangkan bunga,

tembakau, sayur- sayuran. Bunga dan tanaman lainnya dikembangkan di rumah

kaca pada akhir musim dingin atau awal musim semi, yang kemudian dipindahkan

ke luar begitu cuaca menjadi hangat. Ruangan yang tertutup dari rumah kaca

mempunyai kebutuhan yang unik, dibandingkan dengan produksi luar ruangan.

Hama dan penyakit, dan panas tinggi dan kelembabannya harus dikontrol, dan

irigasi dibutuhkan untuk menyediakan air bagi tanaman yang ada dalam rungan

rumah kaca.

Rumah kaca menjadi penting peranannya dalam penyediaan makanan di

negara garis lintang tinggi yang memiliki iklim dingin. Kompleks rumah kaca
terbesar di dunia terletak di Leamington, Ontario (dekat tempat paling selatan

Kanada) di mana sekitar 200 "acre" (0.8 km²) mereka bahkan mengembangkan

tomat dalam gelas.

Rumah kaca berguna untuk melindungi tanaman dari panas dan dingin

yang berlebihan, melindungi tanaman dari badai debu, dan menolong mencegah

hama. Pengontrolan cahaya dan suhu dapat mengubah tanah tak subur menjadi

subur. Rumah kaca dapat memberikan negara kelaparan persediaan bahan

makanan, di mana tanaman tak dapat tumbuh karena keganasan lingkungan

(terlalu panas atau terlalu dingin).

2.2. Efek Rumah Kaca dalam Lingkungan

Efek rumah kaca atau dalam bahasa asingnya dikenal dengan istilah green

house effect adalah suatu fenomena dimana gelombang pendek radiasi matahari

menembus atmosfer dan berubah menjadi gelombang panjang ketika mencapai

permukaan bumi. Setelah mencapai permukaan bumi, sebagian gelombang

tersebut dipantulkan kembali ke atmosfer. Namun tidak seluruh gelombang yang

dipantulkan itu dilepaskan ke angkasa luar. Sebagian gelombang panjang

dipantulkan kembali oleh lapisan gas rumah kaca di atmosfer ke permukaan bumi.

Perubahan panjang gelombang ini terjadi karena radiasi sinar matahari

yang datang ke bumi adalah gelombang pendek yang akan memanaskan bumi.

Secara alami, agar tercapai keadaan yang stabil dimana keadaan stabil di

permukaan bumi adalah sekitar 300 K, panas yang masuk tadi didinginkan. Untuk

itu sinar matahari yang masuk tadi harus diradiasikan kembali. Dalam proses ini
yang diradiasikan adalah gelombang panjang infra merah.

Proses ini dapat berlangsung berulang kali, sementara gelombang yang

masuk juga terus menerus bertambah. Hal ini mengakibatkan terjadinya

akumulasi panas di atmosfer, sehingga suhu permukaan bumi meningkat. Hasil

penelitian menyebutkan bahwa energi yang masuk ke permukaan bumi: 25 %

dipantulkan oleh awan atau partikel lain di atmosfir, 25 % diserap awan, 46 %

diserap permukaan bumi, dan sisanya yang 4 % dipantulkan kembali oleh

permukaan bumi.

Selain dari hal diatas efek rumah kaca itu sendiri terjadi karena naiknya

konsentrasi gas CO2 (karbondioksida) dan gas-gas lainnya seperti sulfur dioksida

(SO2), nitrogen oksida (NO), nitrogen dioksida (NO2), gas metan (CH4),

kloroflourokarbon (CFC) di atmosfir. Kenaikan konsentrasi CO2 itu sendiri

disebabkan oleh kenaikan berbagai jenis pembakaran di permukaan bumi seperti

pembakaran bahan bakar minyak (BBM), batu bara, dan bahan-bahan organik

lainnya yang melampaui kemampuan permukaan bumi.

Energi panas yang diserap dipantulkan kembali dalam bentuk radiasi infra

merah oleh awan dan permukaan bumi. Hanya saja sebagian sinar infra merah

tersebut tertahan oleh awan, gas CO2, dan gas lainnya sehingga kembali ke

permukaan bumi. Dengan meningkatnya konsentrasi gas CO2 dan gas-gas lain di

atmosfer maka semakin banyak pula gelombang panas yang dipantulkan bumi

diserap atmosfer. Dengan perkataan lain semakin banyak jumlah gas rumah kaca

yang berada di atmosfer, maka semakin banyak pula panas matahari yang
terperangkap di permukaan bumi. Akibatnya suhu permukaan bumi akan naik.

Dengan meningkatnya suhu permukaan bumi akan mengakibatkan

perubahan iklim yang tidak biasa. Selain itu hutan dan ekosistem pun akan

terganggu. Bahkan dapat mengakibatkan hancurnya gunung-gunung es di kutub

yang pada akhirnya akan mengakibatkan naiknya permukaan air laut sekaligus

menaikkan suhu air laut.

Adanya peningkatan bertahap dari temperatur rata-rata permukaan bumi

atau pemanasan global, sebagai akibat dari bertambahnya kadar CO2 tiap

tahunnya. Sesungguhnya, tidak diperlukan peningkatan yang tinggi dari

temperatur rata-rata dapat mengakibatkan perubahaan pada cuaca bumi. sehingga

akan menyebabkan perubahan-perubahan yang lain seperti naiknya permukaan air

laut, meningkatnya intensitas fenomena cuaca yang ekstrim, serta perubahan

jumlah dan pola presipitasi. Akibat-akibat pemanasan global yang lain adalah

terpengaruhnya hasil pertanian, hilangnya gletser, dan punahnya berbagai jenis

hewan.

Peningkatan 4 derajat celcius aja cukup untuk menyebabkan sebagian

besar antartik mencair dan berakibat tenggelamnya beberapa negara-negara pantai

di seluruh dunia. Tetapi apakah sesungguhnya temperatur rata-rata terus

meningkat. Hasil pengukuran menunjukkan temperatur rata-rata bumi meningkat,

0.6 derajat celcius, dari tahun 1880 sampai 1940, lalu kembali menurun, kurang

lebih 0.3 derajat celcius, dari tahun 1940 sampai 1975, walaupun konsentrasi dari

CO2 pada atmosfer terus meningkat pada masa itu. Sejak tahun 1975 temperatur
bumi kembali meningkat secara perlahan-lahan. Pada dasarnya, sampai saat ini

kita tidak memastikan seberapa jauh efek rumah kaca berdampak pada perubahan

cuaca bumi.

Namun demikian sebenarnya. Tanpa efek rumah kaca, bumi kita ini akan

sangat dingin seberti bukit es. Efek rumah kacalah yang membuat bumi ini hangat

dan layak huni. Hanya saja sebisa mungkin harus ditekan naiknya gas rumah kaca

sehingga suhu bumi tidak semakin panas.

DAFTAR PERPUSTAKAAN

bennysyah.edublogs.org/2007/rumah-kaca.

pertamina.com

www.chem-is-try.org/.../apakah_yang_dimaksud_efek_rumah_kaca.