Anda di halaman 1dari 24

Laporan Pendahuluan Gout Artritis

GOUT ARTRITIS

A.

PENGERTIAN

Gout Artritis adalah :


1.
Suatu sindrom yang mempunyai gambaran khusus, yaitu artritis akut yang banyak pada
pria daripada wanita (Helmi, 2011).
2.
Gout merupakan terjadinya penumpukan asam urat dalam tubuh dan terjadi kelainan
metabolisme purin. Gout merupakan kelompok keadaan heterogenous yang berhubungan
dengan defek genetik pada metabolisme purin (hiperurisemia) (Brunner dan Suddarth, 2012).
3.
Suatu penyakit metabolik yang merupakan salah satu jenis penyakit reumatik dimana
pembentukan asam urat tubuh yang berlebihan / penurunan ekskresi asam urat (Arif, 2010).

B.

ETIOLOGI

Gejala artritis akut disebabkan karena inflamasi jaringan terhadap pembentukan kristal
monosodium urat monohidrat. Dilihat dari penyebabnya penyakit ini termasuk dalam golongan
kelainan metabolik. Kelainan ini berhubungan dengan gangguan kinetik asam urat yaitu
Hiperurisemia. Hiperurisemia pada penyakit ini terjadi karena:
1.

Pembentukan asam urat yang berlebihan

a.

Gout primer metabolik disebabkan sintesis langsung yang bertambah.

b.
Gout sekunder metabolik disebabkan pembentukan asam urat berlebihan karena penyakit
lain seperti leukemia terutama bila diobati dengan sitostatika; psoriasis; polisitemia vera,
mielofibrosis.
2.

Kurangnya pengeluaran asam urat melalui ginjal

a.
Gout primer renal terjadi karena gangguanekskresi asam urat ditubuli disital ginjal yang
sehat, penyebabnya tidak diketahui.
b.
Gout sekunder renal disebabkan oleh kerusakan ginjal misalnya pada glomerulonefritis
kronik /gagal ginjal kronik.
3.

Perombakan dalam usus yang berkurang.

C.

PATOFISIOLOGI

Goat akut biasanya monoatikular dan timbulnya tiba-tiba. Tanda-tanda awitan serangan gout
adalah rasa sakit yang hebat dan peradangan lokal. Pasien juga menderita demam dan jumlah
sel darah putih meningkat. Serangan akut biasanya didahului oleh tindakan pembedahan, obat,
alkohol dan stress emosional. Meskipun yang paling sering terserang pertama adalah ibu jari
kaki (Sendi metatarsofa longeal) tetapi sendi lainnya dapat juga terserang, semakin lama
penyakit makan sendi jari, lutut, pergelangan tangan, pergelangan kaki dan siku dapat terserang
gout. Serangan akut akan berkurang setelah 10-14 hari walapun tanpa pengobatan. Produk
buangan termasuk asam urat dan garam-garam anorganik dibuang melalui saluran ginjal,
kandung kemih, dan saluran kemih dalam bentuk urin. Kegagalan ginjal dalam proses
pembuangan asam urat dalam jumlah yang cukup banyak dapat meningkatkan kadar asam urat
dalam darah. Hal tersebut juga dapat, menimbulkan komplikasi yaitu pengendapan asam urat
dalam ginjal yang akhirnya terjadi pembentukan batu ginjal dari kristal asam urat.

D.

MANIFESTASI KLINIS

1.

Artritis Akut

Artritis Akut ini bersifat sangat berat. Pasien tidak dapat berjalan (kalau yang terkena adalah
kaki) tidak dapat memakai sepatu dan tidak dapat terganggu, perasaan sakit sangat hebat
(excruciating). Rasa sakit ini mencapai puncaknya dalam 24 jam setelah mulai timbul gejala
pertama.
2.

Lokasi Sendi

Serangan akut biasnaya bersifat monoartikular disertai gejala lengkap proses inflamasi yaitu :
merah, bengkak, teraba panas dan sakit. Lokasi yang paling sering pada serangan pertama
adalah sendi metaatarso falongeal pertama (MTPI). Hampir semua kasus lokasi artritis
terutama ada sendi perifer dan jarang pada sendi sentral.
3.

Remisi sempurna antara serangan akut (Inter Critical Gout)

Serangan akut dapat membaik pada serangan pertama dan selanjutnya diikuti oleh remisi
sempurna sampai serangan berikutnya. Apabila hiperurisemia (kalau ada) tidak dikoreksi, akan
timbul artritis gout menahun.
4.

Hiperurisemia

Keadaan hiperurisemia tidak selalu identik dengan artritis gout akut artinya tidak selalu artritis
gout akut disertai dengan peninggalan kadar asam urat darah. Banyak orang dengan peninggian
asam urat, namun tidak pernah menderita serangan artritis gout ataupun terdapat tofi.
5.

Thopy

Thopy adalah penimbunan kristal urat pada jaringan. Mempunyai sifat yang karakteristik sebagai
benjolan dibawah kulit yang bening dan tofi paling sering timbul pada seseorang yang menderita
artritis gout lebih dari 10 tahun.

E.

PENATALAKSANAAN

1.

Penatalaksanaan Serangan Akut


Obat yang diberikan :

a.
Kolkisin merupakan pilihan utama dalam pengobatan serangan artritis gout maupun
pencegahan dengan dosis rendah.
b.

Obat anti inflamasi non steroid (DAINS) yang paling sering digunakan adalah indometasin.

c.

Kortikosteroid.

d.

Analgesik diberikan bila rasa nyeri sangat berat.

e.

Tirah baring.

2.

Penatalaksanaan periode antara

Bertujuan mengurangi endapan urat dalam jaringan dan menurunkan frekuensi serta
keparahan serangan
a.

Diet

1)
Hindari alkohol dan makanan tinggi purin (hati, ginjal, ikan sarden, daging kambing dan
sebagainya).
2)

Perbanyak minum.

b.
Hindari obat-obatan yang mengakibatkan hiperurisemia seperti tiozid, diaretik, aspirin,
dan asam nikotinat yang menghambat ekskresi asam urat dan ginjal.
c.

Kolkisin secara teratur

1)

Mencegah serangan gout yang akan datang.

2)

Menekan serangan akut.

d.

Penurunan kadar asam urat serum

Diindikasikan pada artrtitis akut yang sering dan tidak terkontrol dengan kolkisin terdapat tofi /
kerusakan ginjal.
1)
Obat Urikosurik menghambat reabsorbsi tubulus terhadap asam urat yang telah difiltrasi
dan mengurangi penyimpanannya, mencegah pembentukan tofi baru dan mengurangi ukuran
yang telah terbetnuk.
2)

Inhibitar Xantin Oksidase / Alopurinal

a)

Menurunkan produksi asam urat

b)
Meningkatkan pembentukan xantin dan hipoxantin dengan menghambat enzim xantin
oksidase.
3)

Tujuan Utama Pengobatan Artritis Goat adalah :

a)

Mengobati serangan akut secara baik dan benar.

b)

Mencegah serangan ulangan artritis goat akut.

c)

Mencegah kelainan sendi yang berat akibat penimbunan kristal urat.

d)
Mencegah komplikasi yang dapat terjadi akibat peninggian asam urat pada jantung, ginjal
dan pembuluh darah.
e)

Mencegah pembentukan batu pada saluran kemih.

F.

PEMERIKSAAN PENUNJANG

Untuk memastikan seseorang terkena gout adalah dengan dilakukan pemeriksaan sebagai
berikut :
1.

Pemeriksaan kadar asam urat dalam darah.

Apabila kadar asam urat dalam darah pada laki-laki lebih dari 7 mg/dl dan pada wanita lebih dari
6 mg/dl. Maka dikatakan menderita asam urat tinggi yang memicu terjadinya gout.
2.

Pemeriksaan kadar asam urat dalam urin per 24 jam.

Kadar asam urat dalam urin berlebihan bila kadarnya lebih dari 800 mg/24 jam pada diet biasa
atau lebih dari 600 mg / 24 jam.

G.

PENGKAJIAN

1.

Identitas

Nama, umur, jenis kelamin, agama, suku bangsa, pekerjaan, pendidikan, status perkawinan,
alamat, Tgl MRS, No. Reg., dx medis.
2.

Riwayat Penyakit

a.

Keluahan Utama

Nyeri disertai pembengkakan dan kemerahan dari sendi yang sakit (terutama pada sendi
metatarsofalongeal) pertama dari ibu jari.
b.

Riwayat Penyakit Sekarang

P : Provokatif / Pallatif / Penyebab


Kaji penyebab
Q : Quantitas / Quantitas Nyeri
Kaji seberapa sering px menyerangiai, tindakan apa yang dapat menyebabkan nyeri.
R : Regional / area yang sakit
Sering mengenai sendi dipangkal ibu jari kaki, pergelangan kaki, lutut, pergelangan tangan dan
sikut.
S : Severtity / Tingkat Keparahan
Kaji derajat nyeri px
- demam

- menggigil

T : Time
Kapan keluhan dirasakan ?
3.

Riwayat Penyakit Dahulu

Kaji dan tanyakan pada klien apakah sebelumnya klien pernah mengalami penyakit yang sama
seperti saat ini ?
4.

Riwayat Penyakit / Kesehatan Keluarga

a.

Apakah ada anggota keluarga yang pernah menderita penyakit yang sama dengan klien ?

b.
Apakah ada anggota keluarga yang menderita penyakit serius yang lain seperti (HT, DM,
TB, Pneumonia, dll.)
5.

Riwayat Psikologis Spiritual

a.

Psikologi

: Tanyakan kepada klien apakah bisa menerima penyakit yang dideritanya ?

b.
Sosial
: Bagaimana interaksi klien terhadap lingkungan di Rumah Sakit dan apakah
klien bisa beradaptasi dengan klien yang lain ?
c.
Spiritual
agamanya ?

: Apakah klien tetap beribadah dan melaksanakan ibadahnya menurut

6.

Pemenuhan Kebutuhan

a.

Pola Nutrisi

Makan
: Pada umumnya pasien gout artritis diberikan diit rendah putin pantangan
makanan kaya protan.
Minum
b.

Pola Eliminasi

: Kaji jenis dan frekuensi minum sesuai dengan indikasi

c.

BAK

: Kaji frekwensi, jumlah, warna dan bau.

BAB

: Kaji frekwensi, konsistensi dan warna

Pola Aktivitas

Biasanya pasien gout artritis pada saat melakukan aktivitas mengalami keterbatasan
tentang gerak, kontrktur / kelainan pada sendi.
d.

Istirahat tidur

Kaji pola kebiasaan pasien pada saat istirahta tidur dirumah maupun di rumah sakit.
e.

Personal Hygiene

Kaji kebiasaan pasien dalam kebiasaan diri. (Mandi, gosok gigi, cuci tangan, kebersihan rambut,
dll.)
7.

Pemeriksaan Fisik

a.

Keadaan umum

b.

TTV

c.

Kesadaran

d.

GCS

8.

Pemeriksaan Persistem

a.

Otot, Tulang, integumen


Otot, tulang

1)

Mengalami atrofi pada otot.

2)

Kontraktur / kelainan pada sendi.

Integumen
3)

Kaji tumor kulit.

4)
Kulit tampak merah, keunguan, kencang, licin, teraba hangat pada waktu sendi
membengkak.
b.

Pulmonaile

1)

Kaji bentuk dada, frekwensi pernafasan. Apakah ada nyeri tekan.

2)

Dan apakah ada kelainan pada bunyi nafas.

c.

Cardiofaskuler

1)

Inspeksi

: terjadi distensi vena

2)

Palpasi

: Takhikardi

3)

Auskultasi

: Apakah ada suara jantung normal S1 dan S2 tunggal

d.

Abdomen

Pada penderita Gout Artritis biasanya terjadi anoreksia dan konstipasi.


e.

Urologi

Hampir pada 20 % penderita Gout Artritis memiliki batu ginjal.


f.

Muskuluskeletal

1)

Ukuran sendi normal dengan mobilitas penuh bila pada remisi.

2)
Tofi dengan gout kronik, ini temuan paling bermakna. Tofi adalah pembesaran jaringan
permanen diakibatkan dari deposit kristal urat natrium, dapat terjadi dimana saja pada tubuh
tetapi umum ditemukan pada sendi sinovial, bursa alecranon dan vertebrate.
3)

Laporan episode serangan gout adalah nyeri berdenyut, berat dan tak dapat ditoleransi.

g.

Reproduksi
Biasanya mengalami gangguan pada saat melakukan aktivitas sexual akibat kekauan

sendi.

H.

DIAGNOSA KEPERAWATAN

1.

Kerusakan mobilitas fisik yang berhubungan dengan nyeri dan keterbatasan gerak sendi

2.

Gangguan pola tidur yang berhubungan dengan nyeri / sekunder terhadap fibrositas.

3.
Risiko tinggi terhadap isolasi sosial yang berhubungan dengan kesulitan ambulasi dan
keletihan
4.
Kurangnya defisit perawatan diri yang berhubungan dengan keterbatasan sekunder
terhadap penyakit.
5.
Kurangnya defisit perawatan diri yang berhubungan dengan keterbatasan sekunder
terhadap penyakit.

I.INTERVENSI
3.

Kerusakan mobilitas fisik yang berhubungan dengan nyeri dan keterbatasan gerak sendi

Tujuan :
Kriteria Hasil :
a.

Adanya dan tingkat nyeri.

b.

Fungsi dan mobilitas sendi :

1)

Keterbatasan pada rentang gerak.

2)

Adanya deformitas.

c.

Kekuatan Otot

Intervensi :
a.

Berikan penghilang nyeri sesuai kebutuhan.

Rasional : Nyeri dapat berperan dalam menurunkan mobilitas.


b.
Berikan dorongan kepatuhan pada program latihan yang ditentukan, yang dapat meliputi
latihan berikut :
1)

Rentang gerak

2)

Penguatan otot

3)

Ketahanan

Rasional : Program latihan teratur meliputi aktivitas rentang gerak, isometrik dan aerobik
tertentu dapat membantu mempertahankan integritas fungsi sendi.
c.

Berikan dorongan untuk melakukan latihan yang sesuai denga tingkat aktivitas penyakit.

Rasional : Selama periode inflamasi akut, individu dapat mengimbolisasi sendi pada posisi yang
paling nyaman.
4.

Gangguan pola tidur yang berhubungan dengan nyeri / sekunder terhadap fibrositas.

Kriteria Hasil :
a.

Kebutuhan Tidur yang lazim, pola, terbangun pada malam hari.

b.

Adanya nyeri pada malam hari.

c.

Adanya fibrositis sekunder, ditandai oleh :

1)

Kesulitan mempertahankan tidur atau tidur non restoratif.

2)

Karakteristik titik tubuh nyeri tekan setempat.

Intervensi :
a.
Dorong klien untuk mandi dengan air hangat / pancur sebelum tidur, juga mungkin
bermanfaat mandi pancur pada pagi-pagi untuk mengurangi kekakuan pagi.
Rasional : Air hangat meningkatkan sirkulasi sendi yang emngalami inflamasi dan merilekskan
otot
b.
Dorong pelaksanaan ritual menjelang tidur. Misal : aktivitas hygiene, membaca atau
minum hangat.
Rasional : Ritual menjelang tidur membantu meningkatkan relaksasi dan menyiapkan tidur.
c.

Lakukan tindakan penghilang nyeri sebelum tidur distraksi dan relaxsasi.

Rasional : Klien dengan penyakit inflamasi sendi sering mengalami gejala yang memburuk pada
malam hari.
d.

Anjurkan posisi sendi yang tepat :

1)

Bantal untuk posisi ekstremitas.

2)

Bantal servikal

Rasional : Posisi tepat dapat membantu mencegah nyeri selama tidur dan terjaga.
5.
Risiko tinggi terhadap isolasi sosial yang berhubungan dengan kesulitan ambulasi dan
keletihan
Kriteria Hasil :
a.

Pola sosial ini dan sebelumnya.

a.

Perubahan yang diantisipasi, keinginan terhadap suatu

peningkatan.

Intervensi :
a.

Dorong px untuk mengungkapkan perasaan dan mengevaluasi pola sosialisasinya.

Rasional : klien yang dapat menentukan apakah ola sosialisasinya memuaskan atau tidak.
b.
Diskusikan keuntungan menggunakan waktu luang untuk mempercayai diri (Membaca /
membuat kerajinan tangan).
Rasional : Aktivitas hiburan dapat membuat seseorang lebih tertarik pada orang lain.
c.

Hindari menonton televisi berlebihan.

Rasional : Selain pendidikan dokumenter, TV mendorong partisipasi pasif dan biasnaya tidak
menantang intelektual.
d.

Identifikasi hambatan utnuk kontak sosial.

1)

Kurang transportasi

2)

Nyeri

3)

Penurunan mobilitas.

Rasional : Masalah mobilitas umumnya menghambat mobilisasi, tetapi banyak kesulitan yang
berkaitan dapat diatasi dengan perencanaan.
6.
Kurangnya defisit perawatan diri yang berhubungan dengan keterbatasan sekunder
terhadap penyakit.
Kriteria Hasil :
a.

Kebutuhan akan dan kemampuan untuk menggunakan alat bantu.

b.

Besarnya ketidakmampuan pada aktivitas perawatan diri bisa teratasi.

Intervensi :
a.
Rujuk ke terapi akupasi untuk instruksi teknik penghematan energi dan penggunaan alat
bantu.
Rasional : Terapi akupasi dapat memberikan instruksi khusus dan bantuan lebih lanjut.
b.

Berikan privasi dan lingkungan kondusif untuk melakukan setiap aktivitas.

Rasional : Lingkungan yang nyaman, aman, dapat menurunkan ansietas dan meningkatkan
kemampuan perawatan diri.
c.

Jadwalkan aktivitas untuk memberikan periode istirahat adekuat.

Rasional : Kelelahan menurunkan motivasi untuk aktivitas perawatan diri.


d.

Jelaskan keterbatasan bahan rujukan swa.bantu sepertii dari Yayasan Rematik.

Rasional : Meningkatkan swa.bantu untuk meningkatkan harga diri.


7.
Kurangnya defisit perawatan diri yang berhubungan dengan keterbatasan sekunder
terhadap penyakit.
Kriteria Hasil :
a.
Untuk meningkatkan pengetahuan px tentang atau pengalaman kondisi artritis baik
pribadi atau saudara, teman : perasaan beban dan pertanyaan.
b.
Membantu kesiapan dan kemampuan px dan keluarga px untuk belajar dan menyerap
informasi.
Intervensi :
a.
Jelaskan tentang artritis inflamasi menggunakan alat bantu. Pengajaran yang sesuai
dengan tingkat pengertian px dan keluarga px tentang :
1)

Proses inflamasi

2)

Fungsi dan Struktur sendi

3)

Penyakit kronis alamiah

Rasional : Untuk menekankan pengertian yang baik terhadap proses penyakit dan tindakan yang
dilakukan klien utnuk mengatasi gejala dan meminimalkan dampak.
b.
Ajarkan klien untuk menggunakan obat yang diresepkan dengan tepat dan untuk segera
melaporkan gejala efek samping.
Rasional : Mentaati jadwal dapat membantu mencegah fluktuasi kadar obat dalam darah yang
dapat menurunkan efek samping.

c.

Jelaskan penggunaan modalitas tindakan lain seperti :

1)

Penggunaan pemanas atau pendingin lokal.

2)

Alat bantu

3)

Latihan

Rasional : Cedera dapat menurunkan mobilitas lebih jauh dan motivasi untuk melanjutkan terapi
d.
Jelaskan hubungan stress pada penyakit inflamasi. Diskusikan tentang teknik
penatalaksanaan stress :
1)

Relaksasi pronfesik

2)

Bimbingan imajinasi

3)

Latihan teratur.

Rasional : Penggunaan efektif teknik penatalaksanaan stress dapat membantu meminimalkan


efek stress pada proses penyakit.
e.

Pertegas pentingnya perawatan tindak lanjut rutin.

Rasional; : Perawatan tindak lanjut dapat mengidentifikasi dini komplikasi dan membantu
mengurangi ketidakmampuan karena disuse.

DAFTAR PUSTAKA

Brunner & suddath.2012. Buku Ajar Bedah Medikal Bedah. Vol 3. Penerbit Buku Kedokteran. EGC:
Jakarta

Carpenito, Lynda Juall, 2007. Buku Saku Diagnosa Keperawatan. EGC : Jakarta
Mansjoer, Arif. 2000. Kapita Selekta Kedokteran edisi 3 jilid 2. Media Aesculapius FKUI : Jakarta
Helmi, Zairin Helmi. 2011. Buku Ajar GangguanMuskuloskeletal. Cetakan
Salemba Medika.

kedua.

Jakarta :

Rasjad, Chairuddin. 2007. Pengantar Ilmu Bedah Ortopedi. Edisi 3. Cetakan kelima.Jakarta : Yarsif
Watampone.

A.

Konsep Medis

1.

Anatomi dan Fisiologi

a.

Anatomi Fisiologi Rangka

Muskuloskeletal berasal dari kata muscle (otot) dan skeletal (tulang). Rangka (skeletal)
merupakan bagian tubuh yang terdiri dari tulang, sendi dan tulang rawan (kartilago), sebagai
tempat menempelnya otot dan memungkinkan tubuh untuk mempertahankan sikap dan posisi.
Rangka manusia dewasa tersusun dari tulang tulang (sekitar 206 tulang ) yang membentuk
suatu kerangka tubuh yang kokoh. Walaupun rangka terutama tersusun dari tulang, rangka di
sebagian tempat dilengkapi dengan kartilago. Rangka digolongkan menjadi rangka aksial,
rangka apendikular, dan persendian.

1)

Rangka aksial, melindungi organ-organ pada kepala, leher, dan torso.

a)

Kolumna vertebra

b)

Tengkorak

Tulang cranial : menutupi dan melindungi otak dan organ-organ panca indera.

Tulang wajah : memberikan bentuk pada muka dan berisi gigi.

Tulang auditori : terlihat dalam transmisi suara.

Tulang hyoid : yang menjaga lidah dan laring.

2)
Rangka apendikular, tulang yang membentuk lengan tungkai dan tulang pectoral serta
tonjolan pelvis yang menjadi tempat melekatnya lengan dan tungkai pada rangkai aksial.
3)

Persendian, adalah artikulasi dari dua tulang atau lebih.

Fungsi Sistem Rangka :

1)
Tulang sebagai penyangga (penopang); berdirinya tubuh, tempat melekatnya ligamenligamen, otot, jaringan lunak dan organ, juga memberi bentuk pada tubuh.
2)
Pergerakan ; dapat mengubah arah dan kekuatan otot rangka saat bergerak, adanya
persendian.
3)

Melindungi organ-organ halus dan lunak yang ada dalam tubuh.

4)

Pembentukan sel darah (hematopoesis / red marrow).

5)

Tempat penyimpanan mineral (kalium dan fosfat) dan lipid (yellow marrow).

Menurut bentuknya tulang dibagi menjadi 4, yaitu :


F Tulang panjang, terdapat dalam tulang paha, tulang lengan atas
F Tulang pendek (carpals) bentuknya tidak tetap dan didalamnya terdiri dari tulang karang,
bagian luas terdiri dari tulang padat.
F Tulang ceper yang terdapat pada tulang tengkorak yang terdiri dari 2 tulang karang di sebelah
dalam dan tulang padat disebelah luar.
F Bentuk yang tidak beraturan (vertebra) sama seperti tulang pendek.

Struktur Tulang
Dilihat dari bentuknya tulang dapat dibagi menjadi tulang pendek, panjang, tulang berbentuk
rata (flat) dan tulang dengan bentuk tidak beraturan. Terdapat juga tulang yang berkembang
didalam tendon misalnya tulang patella (tulang sessamoid). Semua tulang memiliki sponge
tetapi akan bervariasi dari kuantitasnya. Bagian tulang tumbuh secara longitudinal,bagian
tengah disebut epiphyse yang berbatasan dengan metaphysic yang berbentuk silinder.
Vaskularisasi. Tulang merupakan bagian yang kaya akan vaskuler dengan total aliran sekitar
200-400 cc/menit.Setiap tulang memiliki arteri menyuplai darah yang membawa nutrient masuk
di dekat pertengahan tulang kemudian bercabang ke atas dan ke bawah menjadi pembuluh
darah mikroskopis, pembuluh ini menyuplai korteks, morrow, dan sistem harvest.
Persarafan. Serabut syaraf simpatik dan afferent (sensorik) mempersarafi tulang dilatasi kapiler
dan di control oleh saraf simpatis sementara serabut syaraf efferent menstramisikan rangsangan
nyeri.

Pertumbuhan dan Metabolisme Tulang


Setelah pubertas tulang mencapai kematangan dan pertumbuhan maksimal. Tulang merupakan
jaringan yang dinamis walaupun demikian pertumbuhan yang seimbang pembentukan dan
penghancuran hanya berlangsung hanya sampai usia 35 tahun. Tahun tahun berikutnya
rebsorbsi tulang mengalami percepatan sehigga tulang mengalami penurunan massanya dan
menjadi rentan terhadap injury.Pertumbuhan dan metabolisme tulang di pengaruhi oleh mineral
dan hormone sebagai berikut :

Kalsium dan Fosfor. Tulang mengandung 99% kalsium dan 90% fosfor. Konsentrasi ini selalu
di pelihara dalam hubungan terbalik. Apabila kadar kalsium meningkat maka kadar fosfor akan
berkurang, ketika kadar kalsium dan kadar fosfor berubah, calsitonin dan PTH bekerja untuk
memelihara keseimbangan.

Calsitonin di produksi oleh kelenjar tiroid memiliki aksi dalam menurunkan kadar kalsium
jika sekresi meningkat di atas normal. Menghambat reabsorbsi tulang dan meningkatkan sekresi
fosfor oleh ginjal bila di perlukan.


Vit. D. diproduksi oleh tubuh dan di trasportasikan ke dalam darah untuk meningkatkan
reabsorbsi kalsium dan fosfor dari usus halus, juga memberi kesempatan untuk aktifasi PHT
dalam melepas kalsium dari tulang.

Proses Pembentukan Tulang


Pada bentuk alamiahnya, vitamin D di proleh dari radiasi sinar ultraviolet matahari dan beberapa
jenis makanan. Dalam kombinasi denagan kalsium dan fosfor, vitamin ini penting untuk
pembentukan tulang.
Vitamin D sebenarnya merupakan kumpulan vitamin-vitamin, termasuk vitamin D2 dan D3.
Substansi yang terjadi secara alamiah ialah D3 (kolekalsiferol), yang dihasilkan olehakifitas foto
kimia pada kulit ketika dikenai sinar ultraviolet matahari. D3 pada kulit atau makanan diwa ke
(liver bound) untuk sebuah alfa globulin sebagai transcalsiferin,sebagaian substansi diubah
menjadi 25 dihidroksi kolekalsiferon atau kalsitriol. Calcidiol kemudian dialirkan ke ginjal untuk
transformasi ke dalam metabolisme vitamin D aktif mayor, 1,25 dihydroxycho lekalciferol atau
calcitriol. Banyaknya kalsitriol yang di produksi diatur oleh hormone parathyroid (PTH) dan kadar
fosfat di dalam darah, bentuk inorganic dari fosfor penambahan produksi kalsitriol terjadi bila
kalsitriol meningkat dalam PTH atau pengurangan kadar fosfat dalam cairan darah.
Kalsitriol dibutuhkan untuk penyerapan kalsium oleh usus secara optimal dan bekerja dalam
kombinasi dengan PTH untuk membantu pengaturan kalsium darah. Akibatnya, kalsitriol atau
pengurangan vitamin D dihasilkan karena pengurangan penyerapan kalsium dari usus, dimana
pada gilirannya mengakibatka stimulasi PHT dan pengurangan,baik itu kadar fosfat maupun
kalsium dalam darah.

Hormon parathyroid. Saat kadar kalsium dalam serum menurun sekresi hormone
parathyroid akan meningkat aktifasi osteoclct dalam menyalurkan kalsium ke dalam darah lebih
lanjutnya hormone ini menurunkan hasil ekskresi kalsium melalui ginjal dan memfasilitasi
absorbsi kalsium dari usus kecil dan sebaliknya.

Growth hormone bertanggung jawab dalam peningkatan panjang tulang dan penentuan
matriks tulang yang dibentuk pada masa sebelum pubertas.

Glukokortikoid mengatur metabolism protein. Ketika diperlukan hormone ini dapat


meningkat atau menurunkan katabolisme untuk mengurangi atau meningkatkan matriks
organic. Tulang ini juga membantu dalam regulasi absorbsi kalsium dan fosfor dari usus kecil.

Seks hormone estrogen menstimulasi aktifitas osteobalstik dan menghambat hormone


paratiroid. Ketika kadar estrogen menurun seperti pada masa menopause, wanita sangat rentan
terjadinya massa tulang (osteoporosis).

Persendian
Persendian dapat diklasifikasikan menurut struktur (berdasarkan ada tidaknya rongga
persendian diantara tulang-tulang yang beratikulasi dan jenis jaringan ikat yang berhubungan
dengan paersendian tersebut) dan menurut fungsi persendian (berdasarkan jumlah gerakan
yang mungkin dilakukan pada persendian).
Klasifikasi struktural persendian :
Persendian fibrosa
Persendian kartilago
Persendian synovial.
Klasifikasi fungsional persendian :
Sendi Sinartrosis atau Sendi Mati
Secara structural, persendian ii dibungkus dengan jaringan ikat fibrosa atau kartilago.

Amfiartrosis
Sendi dengan pergerakan terbatas yang memungkinkan terjadinya sedikit gerakan sebagai
respon terhadap torsi dan kompresi .
Diartrosis
Sendi ini dapat bergerak bebas,disebut juga sendi sinovial.Sendi ini memiliki rongga sendi yang
berisi cairan sinovial,suatu kapsul sendi yang menyambung kedua tulang, dan ujung tilang pada
sendi sinovial dilapisi kartilago artikular.
Klasifikasi persendian sinovial :
Sendi sfenoidal : memungkinkan rentang gerak yang lebih besar,menuju ke tiga arah. Contoh :
sendi panggul dan sendi bahu.
Sendi engsel : memungkinkan gerakan ke satu arah saja. Contoh : persendian pada lutut dan
siku.
Sendi kisar : memungkinkan terjadinya rotasi di sekitar aksis sentral.Contoh : persendian
antara bagian kepala proximal tulang radius dan ulna.
Persendian kondiloid : memungkinkan gerakan ke dua arah di sudut kanan setiap tulang.
Contoh : sendi antara tulang radius dan tulang karpal.
Sendi pelana : Contoh : ibu jari.
Sendi peluru : memungkinkan gerakan meluncur antara satu tulang dengan tulang lainnya.
Contoh : persendian intervertebra.
a.

Anatomi Fisiologi Otot.

Otot (muscle) adalah jaringan tubuh yang berfungsi mengubah energi kimia menjadi kerja
mekanik sebagai respon tubuh terhadap perubahan lingkungannya. Jaringan otot, yang
mencapai 40% -50% berat tubuh,pada umumnya tersusun dari sel-sel kontraktil yang serabut
otot. Melalui kontraksi, sel-sel otot menghasilkan pergerakan dan melakukan pekerjaan.
Fungsi sistem Muskular
Pergerakan
Penopang tubuh dan mempertahankan postur
Produksi panas.
Ciri-ciri otot
Kontraktilitas
Eksitabilitas
Ekstensibilitas
Elastisitas
Klasifikasi Jaringan Otot
Otot diklasifikasikan secara structural berdasarkan ada tidaknya striasi silang (lurik), dan secara
fungsional berdasarkan kendali konstruksinya,volunteer (sadar) atau involunter (tidak sadar),
dan juga berdasarkan lokasi,seperti otot jantung, yang hanya ditemukan di jantung.
Jenis-jenis Otot
Otot rangka adalah otot lurik,volunter, dan melekat pada rangka.
Otot polos adalah otot tidak berlurik dan involunter. Jenis otot ini dapat ditemukan pada
dinding organ berongga seperti kandung kemih dan uterus, serta pada dinding tuba, seperti
pada sistem respiratorik, pencernaan,reproduksi, urinarius, dan sistem sirkulasi darah.

Otot jantung adalah otot lurik,involunter, dan hanya ditemukan pada jantung.
1.

Pengertian

Gout adalah penyakit metebolik yang ditandai dengan penumpukan asam urat yang nyeri pada
tulang sendi, sangat sering ditemukan pada kaki bagian atas, pergelangan dan kaki bagian
tengah. (Merkie, Carrie. 2005).
Gout merupakan penyakit metabolic yang ditandai oleh penumpukan asam urat yang
menyebabkan nyeri pada sendi. (Moreau, David. 2005).
Gout merupakan kelompok keadaan heterogenous yang berhubungan dengan defek genetic
pada metabolism purin atau hiperuricemia. (Brunner & Suddarth. 2001).
Artritis pirai (gout) merupakan suatu sindrom klinik sebagai deposit kristal asam urat di daerah
persendian yang menyebabkan terjadinya serangan inflamasi akut.
Jadi, Gout atau sering disebut asam urat adalah suatu penyakit metabolik dimana tubuh tidak
dapat mengontrol asam urat sehingga terjadi penumpukan asam urat yang menyebabkan rasa
nyeri pada tulang dan sendi.

2.

Etiologi

Penyebab utama terjadinya gout adalah karena adanya deposit / penimbunan kristal asam urat
dalam sendi. Penimbunan asam urat sering terjadi pada penyakit dengan metabolisme asam
urat abnormal dan Kelainan metabolik dalam pembentukan purin dan ekskresi asam urat yang
kurang dari ginjal.
Beberapa factor lain yang mendukung, seperti :
a.
Faktor genetik seperti gangguan metabolisme purin yang menyebabkan asam urat
berlebihan (hiperuricemia), retensi asam urat, atau keduanya.
b.
Penyebab sekunder yaitu akibat obesitas, diabetes mellitus, hipertensi, gangguan ginjal
yang akan menyebabkan :
-

Pemecahan asam yang dapat menyebabkan hiperuricemia.

Karena penggunaan obat-obatan yang menurunkan ekskresi asam urat seperti : aspirin,
diuretic, levodopa, diazoksid, asam nikotinat, aseta zolamid dan etambutol..

3.

Pathofisiologi

Adanya gangguan metabolisme purin dalam tubuh, intake bahan yang mengandung asam urat
tinggi, dan sistem ekskresi asam urat yang tidak adequat akan menghasilkan akumulasi asam
urat yang berlebihan di dalam plasma darah (Hiperurecemia), sehingga mengakibatkan kristal
asam urat menumpuk dalam tubuh. Penimbunan ini menimbulkan iritasi lokal dan menimbulkan
respon inflamasi.
Hiperurecemia merupakan hasil :
a.

Meningkatnya produksi asam urat akibat metabolisme purine abnormal.

b.

Menurunnya ekskresi asam urat.

c.

Kombinasi keduanya.

Saat asam urat menjadi bertumpuk dalam darah dan cairan tubuh lain, maka asam urat tersebut
akan mengkristal dan akan membentuk garam-garam urat yang akan berakumulasi atau
menumpuk di jaringan konectiv diseluruh tubuh, penumpukan ini disebut tofi. Adanya kristal
akan memicu respon inflamasi akut dan netrofil melepaskan lisosomnya. Lisosom tidak hanya
merusak jaringan, tapi juga menyebabkan inflamasi.

Pada penyakit gout akut tidak ada gejala-gejala yang timbul. Serum urat maningkat tapi tidak
akan menimbulkan gejala. Lama kelamaan penyakit ini akan menyebabkan hipertensi karena
adanya penumpukan asam urat pada ginjal.
Serangan akut pertama biasanya sangat sakit dan cepat memuncak. Serangan ini meliputi
hanya satu tulang sendi. Serangan pertama ini sangat nyeri yang menyebabkan tulang sendi
menjadi lunak dan terasa panas, merah. Tulang sendi metatarsophalangeal biasanya yang paling
pertama terinflamasi, kemudian mata kaki, tumit, lutut, dan tulang sendi pinggang. Kadangkadang gejalanya disertai dengan demam ringan. Biasanya berlangsung cepat tetapi cenderung
berulang dan dengan interval yang tidak teratur.
Periode intercritical adalah periode dimana tidak ada gejala selama serangan gout. Kebanyakan
pasien mengalami serangan kedua pada bulan ke-6 sampai 2 tahun setelah serangan pertama.
Serangan berikutnya disebut dengan polyarticular yang tanpa kecuali menyerang tulang sendi
kaki maupun lengan yang biasanya disertai dengan demam. Tahap akhir serangan gout atau
gout kronik ditandai dengan polyarthritis yang berlangsung sakit dengan tofi yang besar pada
kartilago, membrane synovial, tendon dan jaringan halus. Tofi terbentuk di jari, tangan, lutut,
kaki, ulnar, helices pada telinga, tendon achiles dan organ internal seperti ginjal. Kulit luar
mengalami ulcerasi dan mengeluarkan pengapuran, eksudat yang terdiri dari Kristal asam urat.

4.

Manifestasi Klinis

a.

Nyeri tulang sendi

b.

Kemerahan dan bengkak pada tulang sendi

c.

Tofi pada ibu jari, mata kaki dan pinna telinga

d.

Peningkatan suhu tubuh.

Gangguan akut :
o Nyeri hebat
o Bengkak dan berlangsung cepat pada sendi yang terserang
o Sakit kepala
o Demam.

Gangguan kronis :
o Serangan akut
o Hiperurisemia yang tidak diobati
o Terdapat nyeri dan pegal
o Pembengkakan sendi membentuk noduler yang disebut tofi (penumpukan monosodium urat
dalam jaringan)

5.

Penatalaksanaan Medik

Tujuan untuk mengakhiri serangan akut secepat mungkin, mencegah serangan berulang, dan
pencegahan komplikasi.

a.
Pengobatan serangan akut dengan Colchicine 0,6 mg (pemberian oral), Colchicine 1,0-3,0
mg (dalam NaCl intravena), phenilbutazone, Indomethacin.
b.

Sendi diistirahatkan (imobilisasi pasien)

c.

Kompres dingin

d.

Diet rendah purin

e.

Terapi farmakologi (Analgesic dan antipiretik)

f.
Colchicines (oral/IV) tiap 8 jam sekali untuk mencegah fagositosis dari Kristal asam urat
oleh netrofil sampai nyeri berkurang.
g.

Nonsteroid, obat-obatan anti inflamasi (NSAID) untuk nyeri dan inflamasi.

h.
Allopurinol untuk menekan atau mengontrol tingkat asam urat dan untuk mencegah
serangan.
i.
Uricosuric (Probenecid dan Sulfinpyrazone) untuk meningkatkan ekskresi asam urat dan
menghambat akumulasi asam urat (jumlahnya dibatasi pada pasien dengan gagal ginjal).
j.
Terapi pencegahan dengan meningkatkan ekskresi asam urat menggunakan probenezid
0,5 g/hari atau sulfinpyrazone (Anturane) pada pasien yang tidak tahan terhadap benemid atau
menurunkan pembentukan asam urat dengan Allopurinol 100 mg 2 kali/hari.

6.

Komplikasi

a.
Erosi, deformitas dan ketidakmampuan aktivitas karena inflamasi kronis dan tofi yang
menyebabkan degenerasi sendi.
b.

Hipertensi dan albuminuria.

c.

Kerusakan tubuler ginjal yang menyebabkan gagal ginjal kronik.

7.

Pemeriksaan Penunjang

a.

Laju sedimentasi eritrosit (LSE) meningkat, yang menunjukkan inflamasi

b.

SDP meningkat (leukositosis)

c.

Ditemukan kadar asam urat yang tinggi di dalam darah

d.
Pada pemeriksaan terhadap contoh cairan sendi di bawah mikroskop khusus akan tampak
kristal urat yang berbentuk seperti jamur
e.
Pemeriksaan sinar X dari daerah yang terkena untuk menunjukkan masa tefoseus dan
destruksi tulang dan perubahan sendi

8.

Pencegahan

a.
Pembatasan purin : Hindari makanan yang mengandung purin yaitu : Jeroan (jantung, hati,
lidah ginjal, usus), Sarden, Kerang, Ikan herring, Kacang-kacangan, Bayam, Udang, Daun melinjo.
b.
Kalori sesuai kebutuhan : Jumlah asupan kalori harus benar disesuaikan dengan kebutuhan
tubuh berdasarkan pada tinggi dan berat badan. Penderita gangguan asam urat yang kelebihan
berat badan, berat badannya harus diturunkan dengan tetap memperhatikan jumlah konsumsi
kalori. Asupan kalori yang terlalu sedikit juga bisa meningkatkan kadar asam urat karena adanya
badan keton yang akan mengurangi pengeluaran asam urat melalui urine.

c.
Tinggi karbohidrat : Karbohidrat kompleks seperti nasi, singkong, roti dan ubi sangat baik
dikonsumsi oleh penderita gangguan asam urat karena akan meningkatkan pengeluaran asam
urat melalui urine.
d.
Rendah protein : Protein terutama yang berasal dari hewan dapat meningkatkan kadar
asam urat dalam darah. Sumber makanan yang mengandung protein hewani dalam jumlah yang
tinggi, misalnya hati, ginjal, otak, paru dan limpa.
e.
Rendah lemak : Lemak dapat menghambat ekskresi asam urat melalui urin. Makanan yang
digoreng, bersantan, serta margarine dan mentega sebaiknya dihindari. Konsumsi lemak
sebaiknya sebanyak 15 persen dari total kalori.
f.
Tinggi cairan : Selain dari minuman, cairan bisa diperoleh melalui buah-buahan segar yang
mengandung banyak air. Buah-buahan yang disarankan adalah semangka, melon, blewah,
nanas, belimbing manis, dan jambu air. Selain buah-buahan tersebut, buah-buahan yang lain
juga boleh dikonsumsi karena buah-buahan sangat sedikit mengandung purin. Buah-buahan
yang sebaiknya dihindari adalah alpukat dan durian, karena keduanya mempunyai kandungan
lemak yang tinggi.
g.
Tanpa alkohol : Berdasarkan penelitian diketahui bahwa kadar asam urat mereka yang
mengonsumsi alkohol lebih tinggi dibandingkan mereka yang tidak mengonsumsi alkohol. Hal ini
adalah karena alkohol akan meningkatkan asam laktat plasma. Asam laktat ini akan
menghambat pengeluaran asam urat dari tubuh

A.

Konsep Keperawatan

1.

Pengkajian

a.

Identitas

Nama, umur (sekitar 50 tahunan), alamat, agama, jenis kelamin (biasanya 95% penderita gout
adalah pria), dll
b.

Keluhan Utama

Pada umumnya klien merasakan nyeri yang luar biasa pada sendi ibu jari kaki (sendi lain)
c.

Riwayat Penyakit Sekarang

P (Provokatif)

Kaji penyebab nyeri

Q (Quality / qualitas)

Kaji seberapa sering nyeri yang dirasakan klien

R (Region)
jari)

Kaji bagian persendian yang terasa nyeri (biasanya pada pangkal ibu

S (Saverity)

:` Apakah mengganggu aktivitas motorik ?

T (Time)
hari)

d.

Kaji kapan keluhan nyeri dirasakan ? (Biasanya terjadi pada malam

Riwayat Penyakit Dahulu

Tanyakan pada klien apakah menderita penyakit ginjal ?


e.

Riwayat Penyakit Keluarga

Tanyakan apakah pernah ada anggota keluarga klien yang menderita penyakit yang sama
seperti yang diderita klien sekarang ini.
f.

Pengkajian Psikososial dan Spiritual

Psikologi

Biasanya klien mengalami peningkatan stress

Sosial

Cenderung menarik diri dari lingkungan

Spiritual
menurut agamanya

Kaji apa agama pasien, bagaimana pasien menjalankan ibadah

g.

Pemenuhan Kebutuhan Sehari-hari

1)

Kebutuhan nutrisi

a) Makan

Kaji frekuensi, jenis, komposisi (pantangan makanan kaya protein)

b) Minum

Kaji frekuensi, jenis (pantangan alkohol)

2)

3)

Kebutuhan eliminasi
a)

BAK

b)

BAB

: kaji frekuensi, jumlah, warna, bau


: kaji frekuensi, jumlah, warna, bau

Kebutuhan aktivitas

Biasanya klien kurang / tidak dapat melaksanakan aktivitas sehari-hari secara mandiri akibat
nyeri dan pembengkakan

2.

Pemeriksaan Fisik

a.

Keadaan umum :

1)

Tingkat kesadaran

2)

GCS

3)

TTV

b.

Peningkatan penginderaan

1)

Sistem integument

Kulit tampak merah atau keunguan, kencang, licin, serta teraba hangat
2)

Sistem penginderaan

Mata

Kaji penglihatan, bentuk, visus, warna sklera, gerakan bola mata

Hidung

Kaji bentuk hidung, terdapat gangguan penciuman atau tidak

Telinga
: Kaji pendengaran, terdapat gangguan pendengaran atau tidak, biasanya terdapat
tofi pada telinga
3)

Sistem kardiovaskuler

Inspeksi

Apakah ada pembesaran vena jugularis

Palpasi

Kaji frekuensi nadi (takhikardi)

Auskultasi :
4)

Apakah suara jantung normal S1 + S2 tunggal / ada suara tambahan

Sistem penceranaan

Inspeksi

Kaji bentuk abdomen, ada tidaknya pembesaran pada abdomen

Palpasi

Apakah ada nyeri tekan pada abdomen

Perkusi

Apakah kembung / tidak

Auskultasi :
5)

Apakah ada peningkatan bising usus

Sistem muskuluskeletal

Biasanya terjadi pembengkakan yang mendadak (pada ibu jari) dan nyeri yang luar biasa serta
juga dapat terbentuk kristal di sendi-sendi perifer, deformitas (pembesaran sendi)
6)

Sistem perkemihan

Hampir 20% penderita gout memiliki batu ginjal


c.

Pemeriksaan diasnostik.

Gambaran radiologis pada stadium dini terlihat perubahan yang berarti dan mungkin terlihat
osteoporosis yang ringan. Pada kasus lebih lanju, terlhat erosi tulang seperti lubang-lubang kecil
(punch out).

3.

Diagnosa Keperawatan

a.
Nyeri sendi b. d peradangan sendi, penimbunan kristal pada membrane sinovia, tulang
rawan artikular, erosi tulang rawan, prolifera sinovia dan pembentukan panus.
b.
Hambatan mobilisasi fisik b. d penurunaan rentang gerak, kelemahan otot, pada gerakan,
dan kekakuan pada sendi kaki sekunder akibat erosi tulang rawan, proloferasi sinovia, dan
pembentukan panus.
c.

Gangguan citra diri b. d perubahan bentuk kaki dan terbenuknya tofus.

d.

Perubahan pola tidur b.d nyeri

4.

Intervensi Keperawatan

a.
Dk. I : Nyeri sendi b. d peradangan sendi, penimbunan Kristal pada membrane sinovia,
tulang rawan arikular, erosi tulang rawan, prolifera sinovia dan pembentukan panus.
Tujuan keperawatan
Kriteria hasil

: Nyeri berkurang, hilang, teratasi.


:

o Klien melaporkan penelusuran nyeri.


o menunjukan perilaku yang lebiih rileks.
o memperagakan keterampilan reduksi nyeri.
o Skala nyeri 0 1 atau teratasi.

INTERVENSI
RASIONAL
MANDIRI

Kaji lokasi, intensitas,an tipe nyeri. Observasi kemajuan nyeri ke daerah yang baru. Kaji
nyeri dengan skala0 4.

Bantu klien dalam mengidentifikasi factor pencetus.

Jelaskan dan bantu klien terkait dengan tindakan pereda nyeri nonfamakologi dan non
invasif.


Ajarkan relaksasi: teknik terkait ketegangan otot rangka yang dapat mengurangi intensitas
nyeri.

Ajarkan metode distraksi selama nyeri akut.

Tingkatkan pengetahuaan tentang penyebab nyeri dan hubungan dengan berapa lama
nyeri akan berlangsung.

Hindarkan klien meminum alcohol, kafein, dan obat diuretik.

KOLABORASI
Kolaborasi dengan tim medis untuk pemberian alopurinol

Nyeri merupakan respon subjektif yangbdapat dikaji dengan menggunakan skala nyeri.
Klien melaporkan nyeri biasanya di atas tingkat cedera.

Nyeri dipengaruhi oleh kecemasan dan peradangan pada sendi.

Pendekatan dengan menggunakan relaksasi dan farmakologilain menunjukan keefektifan


dalam mengurangi nyeri.

Akan melancarkan peredaran darah sehingga kebutuhan oksigen pada jaringan terpenuhi
dan mengurangi nyeri.

Mengalikan perhatian klien terhadap nyeri ke hal yang menyenangkan.

pegetahuan tersebut membatu mengurangi nyeri dan dapat menbatumeningkatkan


kepatuhan klien terhadap rencana terapeutik

pemakaian alkohol, kafein, dan obat-obatan diuretik akan menambah peningkatan kadar
asam urat dalam serum.

Alopurinol menghambat biosentesis asam urat sehingga menurunkan kadar asam urat
serum.

b.
Dk. II : Hambatan mobilisasi fisik b. d penurunaan rentang gerak, kelemahan otot, pada
gerakan, dan kekakuan pada sendi kaki sekunder akibat erosi tulang rawan, proloferasi sinovia,
dan pembentukan panus.
Tujuan keperawatan : klien mampu melaksanakan aktifitas fisik sesuai dengan kemampuannya.
Kreteria hasil

o Klien ikut dalam program latihan

o Tidak mengalami kontraktur sendi


o Kekuatan otot bertambah
o Klien menunjukkan tindakan untuk meningkatkan mobilitas dan mempertahankan koordinasi
optimal.
INTERVENSI
RASIONAL
MANDIRI

Kaji mobilitas yang ada dan observasi adanya peningkatan kerusakan.

Ajarkan klien melakukan latihan gerak aktif pada ekstermitas yang tidak sakit.

Bantu klien melakukan latihan ROM dan perawatan diri sesuai toleransi.

Pantau kemajuan dan perkembangan kemamapuan klien dalam melakukan aktifitas

KOLABORASI

Kolaborasi dengan ahli fisioterapi untuk latihan fisik klien.

Mengetahui tingkat kemampuan klien dalam melakukan aktifitas.

Gerakan aktif memberi masa tonus, dan kekuatan otot, serta memperbaiki fungsi jantung
dan pernafasan.

Untuk mempertahankan fleksibilitas sendi sesuai kemampauan.

Untuk mendeteksi perkembangan klien.

Kemampuan mobilisasi ekstermitas dapat ditingkatkan dengan latihan fisik dari tim
fisioterapi.

c.

Dk. III : Gangguan citra diri b. d perubahan bentuk kaki dan terbenuknya tofus.

Tujuan perawatan
Kriteria hasil

: Citra diri klien meningkat


:

o Klien mampu mengatakan atau mengkomunikasikan dengan orang terdekat tentang situasi
dan perubahan yang terjadi
o Mampu menyatakan penerimaan diri terhadap situasi

o Mengakui dan menggabungkan perubhan dalam konsep diri dengan cara yang akurat tanpa
merasakan harga dirinya negatif.

INTERVENSI
RASIONAL
MANDIRI
Kaji perubhan perspsi dan hubungannya dengan derajat kletidak mampuan.

Ingantkan kembali realitas bahwa masih dapat menggunakan sisi yang sakit dan belajar
mengontrol sisi yang sehat.
Bantu dan ajurkan perawatan yang baik dan memperbaiki kebiasaan.

Anjurkan orang terdekat untuk mengizinkan klien melakukan sebanyak mungkin hal untuk
dirinya.

Bersama klien mencari alternatif koping yang positif.

Dukung prilaku atau usaha peningkata minat atau partisipasi dalam aktifitas rehabilitasi.
KOLABORASI
Kolaborasi denagn ahli neuropsikologi dan konseling bila da indikasi .

Menetukan bantuan individual dalm menyusun rencana perawatan atau pemilihan intervensi
Membantu klien melihat bahwa peraat menerima kedua bagian dari seluruh tubuh dan mulai
menerima situasi baru.
Membantu meningkatkan perasaan harga diri dan mengontrol lebih dari satu area kehidupan.
Menghidupkan kembali perasaan mandiri dn membatu perkemabangan harga diri serta
memengaruhi proses rehabilitasi.
Dukungan perawat kepada klien dapat meningkat kan rasa percaya diri klien.
Klien dapat beradaptasi terhadap perubahan dan memahami peran individu dimasa
mendatang.

Dapat memfasilitasi perubahan peran yang penting untuk perkembangan perasaan.

d.

DK IV : Perubahan Pola Tidur b/d Nyeri.

Kriteria Hasil : Klien dapat memenuhi kebutuhan istirahat dan tidur.

INTERVENSI
RASIONAL

Tentukan kebiasaan tidurnya dan perubahan saat tidur.

Buat rutinitas tidur baru yang dimasukkan dalam pola lama dan lingkungan baru.

Tingkatkan regimen kenyamanan waktu tidur, misalnya mandi hangat dan massage.

Gunakan pagar tempat tidur sesuai indikasi ; rendahkan tempat tidur jika memungkinkan.

Kolaborasi dalam pemberian obat sedative, hipnotik sesuai dengan indikasi.

Mengkaji pola tidurnya dan mengidentifikasi intervensi yang tepat.

Bila rutinitas baru mengandung aspek sebanyak kebiasaan lama, stress dan ansietas yang
berhubungan dapat berkurang
Membantu menginduksi tidur

Dapat merasakan takut jatuh karena perubahan ukuran dan tinggi tempat tidur,
memberikan kenyamanan pagar tempat untuk membantu mengubah posisi.

Tidur tanpa gangguan lebih menim- bulkan rasa segar, dan pasien mungkin tidak mampu
untuk kembali ke tempat tidur bila terbangun.

Di berikan untuk membantu pasien tidur atau istirahat.

DAFTAR PUSTAKA

http://www.daviddarling.info/images/muscles_human_body_back.jpg

http://www.daviddarling.info/images/muscles_human_body_front.jpg

Lukman, Ningsih, Nurna. 2009. Asuhan Keperawatan Pada Klien Dengan Gangguan Sistem
Muskuloskeletal. Jilid 1. Jakarta : Salemba Medika.

Muttaqin, Arif. 2008. Buku Aajar Asuhan Keperawatan Klien Gangguan Muskuloskeletal. Cet.1.
Jakarta : EGC.

Price, Sylvia.A. 2006. Patofisiologi : Konsep Klinis Proses-proses Penyakit. Ed.6 ; Cet.1 ; Jil.II.
Jakarta : EGC.

Setiadi. 2007. Anatomi dan Fisiologi Manusia. Cet. 1. Yogyakarta : Graha Ilmu.

Suratun. 2008. Asuhan Keperawatan Klein Gangguan Sistem Muskuloskeletal. Cet. 1. Jakarta :
EGC.

Syaifiddin. 2006. Anatomi Fisiologi Untuk Mahasiswa Keperawatan. Ed.3 ; Cet. 1. Jakarta : EGC.