Anda di halaman 1dari 12

LAPORAN KASUS

A Identitas
Nama

: Tn Deden

Usia

: 56 tahun

Jenis Kelamin : Laki-laki


Pekerjaan

: Wiraswasta

B Anamnesis
RPS: Keluhan gatal di kaki dan lutut kanan dan kiri sejak 4 bulan yang lalu. Pasien sering
menggaruk bagian yang gatal tersebut sehingga kemudian timbul bercak kemerahan disertai
sisik halus berwarna putih. Awalnya bercak kecil lama kelamaan membesar. Gatal terutama
saat malam hari dan terutama dalam kondisi stress.
RPD : Riwayat alergi (-)
Riwayat alergi obat (-)
Riwayat DM (-)
Riwayat Hipertensi (-)
RPK: Riwayat alergi dalam keluarga (-)
C Pemeriksaan Fisik
Kesadaran

: compos mentis

Keadaan

: baik

Vital sign

: TD :120/70, nadi : 80x / menit, RR: 20x / menit Suhu :36,5 celcius

Status Generalis :
Kepala

: normocephal

Rambut

: berwarna hitam, distribusi merata, tidak mudah dicabut

Leher

: tidak ada pembesaran kelenjar tiroid

Mata

: konjungtiva anemis -/-, sklera ikterik -/-, pupil isokor

Hidung

: normotia, deviasi septum (-), secret -/-, rhinore -/-

Telinga: normotia, otore -/-, serumen -/Mulut

: caries (-), lidah kotor (-), tonsil T1-T1, faring tidak hiperemis

Kelenjar getah bening : Tidak ada pembesaran

Thoraks:
Paru
Inspeksi

: Pergerakan dinding dada simetris

Palpasi

: Vokal Fremitus kanan dan kirisimetris

Perkusi

: Sonor pada ke 2 lapang paru, batas paru dan hepar setinggi ICS 5

Auskultasi

: Vesikuler (+/+), rhonki (-/-), wheezing (-/-)

Jantung
Inspeksi

: Ictus cordis tidak terlihat

Palpasi

: Ictus cordis teraba pada ICS V linea midcalvicularis sinistra

Perkusi

: Batas atas

: ICS III linea parasternalis sinistra

Batas kanan : ICS IV linea sternalis dextra


Batas kiri
Auskultasi

: ICS V linea midclavicularis sinistra

: Bunyi Jantung I dan II reguler, murmur (-), gallop (-)

Abdomen:
Inspeksi

: perut datar

Palpasi

: hepar dan lien tidak teraba

Perkusi

: timpani pada keempat kuadran

Auskultasi

: Bising usus (+) normal

Status Dermatologis:
Regio genue dextra dan sinistra
Effloresensi : Plak eritem disertai likenifikasi dan skuamasi, serta terdapat ekskoriasi mulipel
berwarna merah disekitarnya. Plak bentuk bulat, ukuran diameter 3 cm dan 1 cm, susunan
soliter.
Regio dorsum pedis dextra dan sinistra :
Effloresensi: Plak eritem ditutupi likenifikasi dan skuamasi, serta terdapat ekskoriasi multipel
berwarna merah di sekitarnya. Plak bentuk irreguler, ukuran plakat, susunan soliter.

D Diagnosis kerja
Neurodermatitis (Liken simpleks kronis)
E Penatalaksanaan
Cetirizine tab 5 mg
Metilprednisolon tab 4 mg
Betamethasone cream 0,05%

PEMBAHASAN
A Definisi
Liken simplek kronik adalah peradangan kulit kronis, disertai rasa gatal, sirkumskrip,
yang khas ditandai dengan kulit yang tebal dan likenifikasi. Likenifikasi pada liken simpleks
kronik terjadi akibat garukan atau gosokan yang berulang-ulang, karena berbagai rangsangan
pruritogenik. Keluhan dan gejala dapat muncul dalam waktu hitungan minggu hingga
bertahun-tahun.
Liken simpleks kronis ditemukan pada kulit di daerah yang mudah terjangkau oleh
tangan. Keinginan untuk menggaruk kadang muncul dari hal-hal yang sepele seperti luka,
gigitan serangga, kulit kering, pakaian, luka bakar, bintil-bintil atau jerawat, atau dermatitis
atopik. Pada awalnya merupakan hal yang normal, karena adanya gatal sehingga terjadi
garukan yang berulang. Beberapa jenis kulit lebih rentan terhadap likenifikasi, seperti kulit
yang cenderung kearah eksematous (yaitu dermatitis atopik, diastesis atopik).
B Epidemiologi
Liken simpleks kronis biasanya terjadi pada orang dewasa. Puncak insidennya antara 30
sampai 50 tahun.Wanita lebih sering menderita dari pada pria dan penyakit ini jarang
dijumpai pada anak-anak. Penyakit ini sering muncul pada usia dewasa, terutama usia 30
hingga 50 tahun. 12% dari populasi orang dewasa dengan keluhan kulit gatal menderita liken
simplek kronik. Pasien dengan koeksistensi dermatitis atopi cenderung memiliki onset umur
yang lebih muda (rata-rata 19 tahun) dibandingkan dengan pasien tanpa atopi (rata-rata 48
tahun). Tidak ada perbedaan insiden yang dilaporkan dalam hubungan dengan ras, meskipun
liken simpleks kronis lebih sering di Asia, Afrika-Amerika.The result is a very itchy patch of
skin, often located on the nape of the neck, the scalp, the shoulder, the wrist, or the ankle.
Secara umum frekuensi penyakit ini tidak diketahui. Tidak ada kematian yang disebabkan
liken simpleks kronis, tapi dapat menyebabkan morbiditas langsung. Terdapat pasien yang
melaporkan mengalami kurang tidur atau gangguan tidur yang mempengaruhi fungsi motorik
dan mental akibat dari rasa gatal yang timbul pada saat istirahat. Liken simpleks kronis dapat
disertai dengan infeksi sekunder.
Liken simpleks kronis yang menyeluruh seringkali timbul selama musim dingin pada
pasien yang berusia lanjut dan mempunyai kulit yang kering dan pruritik. Pada pasien dengan
dermatitis atopik maka onset dini timbul 19 tahun, tetapi jika Prurigo nodularis tanpa
dermatitis atopik, maka onset lambat 48 tahun.
4

C Etiologi
Liken simpleks kronik diakibatkan oleh gesekan dan garukan yang awalnya berasal
dari gatal. Ada berbagai faktor yang mendorong terjadinya rasa gatal pada liken simplek
kronis, tetapi tidak semuanya dimengerti dengan benar. Faktor penyebab dari liken simplek
kronik dapat dibagi menjadi dua yaitu:
1. Faktor Eksterna
a. Faktor lingkungan
Faktor lingkungan seperti panas dan udara yang kering dapat berimplikasi dalam
menyebabkan iritasi yang dapat menginduksi gatal. Suhu yang tinggi memudahakn
pasien untuk berkeringat sehingga dapat mencetus terjadinya gatal. Hal ini biasanya
menyebabkan LSK anogenital. Menurut penelitian Ising H, et al, anak yang terekspos
terhadap hasil pembuangan kendaraan bermotor dalam jangka waktu yang lama, dapat
mengakibatkan berbagai penyakit kulit, yang salah satunya adalah LSK.
b. Gigitan serangga
Gigitan serangga dapat menyebabkan reaksi radang dalam tubuh yang mengakibatkan
rasa gatal.
2. Faktor interna
a. Dermatitis Atopik
Asosiasi antara liken simplek kronik dan gangguan atopik telah banyak dilaporkan.
Sekitar 26% hingga 75% pasien dengan dermatitis atopik terkena liken simplek kronik.
b. Faktor psikologis
Anxietas telah dilaporkan memiliki prevalensi yang tinggi mengakibatkan LKS.
Neurodermatitis adalah istilah lain dari LSK, yang menunjukan peran dari anxietas atau
obsesi sebagai bagian dari proses patologis dari lesi yang berkembang. Dalam sebuah
studi pasien didapatkan bahwa skor depresi pada pasien dengan LSK adalah tinggi.
Kemungkinan apakah faktor emosional ini merupakan akibat sekunder terhadap
penyakit dermatologis awalnya, atau apakah apakah penyakit psikologis ini merupakan
sebab utama dari terubahnya persepsi gatal, masih belum jelas. Telah dirumuskan
bahwa neurotransmiter yang mempengaruhi perasaan, seperti dopamin, serotonin, atau
peptida opioid, memodulasikan persepsi gatal melalui jalur spinal yang menurun.
Gangguan obsesif kompulsif telah dihubungkan dengan perilaku menarik pada
gangguan ini.
c. Litium
5

Litium telah dihubungkan dengan liken simplek kronik pada satu kasus yang
dilaporkan. LSK terjadi akibat administrasi dari litium dengan bukti dari observasi
dimana LSK membaik setelah penghentian pengobatan dan kambuh ketika pengobatan
dimulai lagi.
d. Dermatitis Kontak
Sebuah studi sederhana mengenai hubungan antara LSK dengan penggunaan gel rambut
yang mengandung PPD (paraphenylenediamine) memperlihatkan perbaikan dari gejala
LSK setelah penggunaan dari gel rambut. Hal ini membuktikan adanya peran dari
dermatitis kontak dan sensitisasi pada liken simpleks kronis.

D Patofisiologi
Liken simpleks kronik ditemukan pada kulit daerah yang mudah diakses untuk digaruk.
Pruritus memprovokasi garukan dan gosokan yang menghasilkan lesi klinis, tetapi
patofisiologi yang mendasari tidak diketahui. Beberapa jenis kulit lebih rentan terhadap
likenifikasi seperti kulit dengan dermatitis atopik dan diatesis atopik. Suatu hubungan antara
kemungkinan keterlibatan jaringan saraf pusat dan perifer dan keluarnya produk inflamasi
akibat adanya persepsi gatal. Ketegangan emosional pada penderita cenderung mungkin
memainkan peran kunci dalam mendorong sensasi pruritus sehingga mengarahkan untuk
menggaruk yang dapat menjadi refleks dan kebiasaan.
Interaksi di antara lesi primer, faktor psikis, dan intensitas pruritus mempengaruhi
tingkat dan keparahan dari liken simpleks kronis. Faktor psikologis memegang peranan
penting dalam pengembangan atau eksaserbasi liken simpleks kronis. Pada suatu penelitian
didapatkan pasien dengan liken simpleks kronis memiliki tingkat depresi yang tinggi.
Beberapa neurotransmitter mempengaruhi suasana hati, seperti dopamine, serotonin atau
peptide opioid yang mempengaruhi persepsi melalui spinal pathway. Kecemasan atau obsesi
juga berperan dalam proses patologis dari lesi.
E Manifestasi Klinis
Keluhan pada penderita adalah rasa gatal yang hebat. Rasa gatal dapat timbul berkala,
terus menerus, atau tak tentu. Parahnya gatal diperburuk dengan keringat, panas, iritasi
pakaian, dan dapat juga diperburuk oleh kondisi psikologis pasien.
6

Lesi yang muncul biasanya tunggal dan bermula sebagai plak eritema dengan sedikit edema
yang kemudian karena garukan yang berulang-ulang bagian tengah lesi akan menebal, kering,
dan berskuama serta pinggirnya hiperpigmentasi. Likenifikasi dan ekskoriasi dengan
sekeliling yang hiperpigmentasi muncul seiring dengan menebalnya kulit dan batas menjadi
tidak tegas.
Gambaran klinis juga dipengaruhi oleh lokasi dan lamanya lesi. Lesi dapat timbul
dimana saja, namun tempat yang sering adalah di tengkuk, leher, pubis, vulva, skrotum, perianal, paha bagian medial, lutut, tungkai bawah lateral, pergelangan kaki bagian depan, dan
punggung kaki. Skuama pada penyakit ini dapat menyerupai skuama pada psoriasis. Variasi
klinis dari liken simplek kronik dapat berupa prurigo nodularis, akibat garukan atau korekan
tangan penderita yang berulang-ulang pada suatu tempat. Lesi berupa nodus berbentuk
kubah, permukaan mengalami erosi tertutup krusta dan skuama, yang lambat laun akan
menjadi keras dan berwarna lebih gelak. Lesi biasanya multiple, dan tempat predileksi di
ekstrimitas, dengan ukuran lesi beberapa millimeter hingga 2 cm.
Dari uraian tersebut, kita dapat menyimpulkan bahwa dalam pemeriksaan fisik kita dapat
menemukan:
-

Plak eritematosa soliter atau multipel berbatas tegas dengan likenifikasi dan skuama
Perubahan pigmentasi, terutama hiperpigmentasi
Penggarukan yang menyebabkan ekskoriasi
Pertumbuhan tanduk keratin

Gambar 1: Plak dari liken simpleks kronis.

Gambar 2: Liken simpleks kronis.

Gambar 3: liken simpleks kronis

F Pemeriksaan Penunjang
a

Pemeriksaan Laboratorium
Pada pemeriksaan laboratorium tidak ada tehadap yang spesifik untuk liken simplek
kronis. Tetapi, studi mengemukakan bahwa 25% pasien dengan liken simpleks kronis positif
terhadap patch test. Pada dermatitis atopik dan mikosis fungiodes bisa terjadi likenifikasi
generalisata, oleh sebab itu merupakan indikasi dilakukannya patch test. Pada pasien dengan
pruritus generalisata yang kronik yang diduga disebabkan oleh gangguan metabolik dan
gangguan hematologi, maka pemeriksaan hitung darah harus dilakukan, juga dilakukan tes
fungsi ginjal dan hati, tiroid, tes kemampuan pengikatan zat besi, dan foto dada. Kadar
immunoglobulin E dapat meningkat pada neurodermatitis yang atopik, tetapi normal pada
neurodermatitis nonatopik. Bisa juga dilakukan pemeriksaan potassium hidroksida pada
pasien liken simpleks genital untuk mengeliminasi tinea cruris.

b Pemeriksaan histopatologi
Pemeriksaan histopatologi untuk menegakkan diagnosis liken simpleks kronis
menunjukkan proliferasi dari sel schwann dimana dapat membuat infiltrasi selular yang
cukup besar, serta dapat ditemukan hiperkeratosis dengan area yang parakeratosis, akantosis
dengan pemanjangan rete ridges yang irreguler, hipergranulosis, dan perluasan dari papilo
dermis. Spongiosis dapar ditemukan, tetapi vesikulasi tidak ditemukan. Eksoriasi, dimana
ditemukan garis ulserasi puctata karena adanya jaringan nekrotik bagian superfisial papillary
dermis.

Gambar 4: hiperkeratosis,hipergranulosis, parakeratosis


stratum korneum.
G

Penegakkan Diagnosis

Diagnosis liken simpleks kronis didasarkan dari gambaran klinis dan biasanya tidak sulit.
Namun perlu dipikirkan penyakit kulit lain yang memberikan gejala pruritus, misalnya liken
planus, liken amiloidosis, psoriasis, dan dermatitis atopik.
Diagnosis dapat ditegakkan melalui anamnesis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan
penunjang. Pasien dengan neurodermatitis sirkumskripta mengeluh merasa gatal pada satu
daerah atau lebih. Sehingga timbul plak yang tebal karena mengalami proses likenifikasi.
Biasanya rasa gatal tersebut muncul pada tengkuk, leher, ekstensor kaki, siku, lutut,
pergelangan kaki. Eritema biasanya muncul pada awal lesi. Rasa gatal muncul pada saat
pasien sedang beristirahat dan hilang saat melakukan aktivitas dan biasanya gatal timbul
intermiten.
Pemeriksaan fisik menunjukkan plak yang eritematous, berbatas tegas, dan terjadi
likenifikasi. Terjadi perubahan pigmentasi, yaitu hiperpigmentasi.
Gambaran histopatologis liken simpleks kronis berupa ortokeratosis, hipergranulasis,
akantosis dengan rete ridges memanjang teratur. Sebukan sel radang limfosit dan histiosit di
sekitar pembuluh darah dermis bagian atas, prurigo nodularis akantosis pada bagian tengah
lebih tebal, menonjol lebih tinggi dari permukaan, sel schwan berpoliferasi, dan terlihat
hiperplasi neural.Kadang terlihat krusta yang menutup sebagian epidermis.
H Penatalaksanaan
Pengobatan ditujukan untuk mengurangi dan meminimalkan gatal yang ada karena akibat
dari menggosok dan menggaruk menyebabkan liken simpleks kronis sehingga perlu
dijelaskan kepada pasien untuk sebisa mungkin menghindari menggaruk lesi karena garukan
akan memperburuk penyakitnya. Lingkaran setan dari gatal-garuk-likenifikasi harus
dihentikan.Untuk penatalaksanaan medikamentosa antara lain:
a

Steroid topikal
Steroid topikal merupakan pilihan saat ini karena dapat mengurangi peradangan dan
gatal-gatal, secara bersamaan dapat mengatasi hiperkeratosis. Pengobatan dilakukan seumur
hidup karena lesi kronis. Tidak direkomendasikan untuk kulit yang tipis (vulva, skrotum,
axilla, dan wajah). Salep kortikosteroid dapat pula dikombinasi dengan tar yang mempunyai
efek anti-inflamasi. Perlu dicari kemungkinan ada penyakit yang mendasarinya, bila memang
ada juga harus di obati. Tar dan ekstrak tar mempunyai efek antiinflamasi yang poten,
walaupun kerjanya lambat dibandingkan dengan glukokortikoid. Penggunaan tar harus
dikombinasikan dengan emolien, karena apabila digunakan sendiri dapat mengakibatkan kulit
kering. Efek samping dari penggunaan tar adalah folikulitis, fotosensitasi, dermatitis kontak.
9

Kombinasi terapi tar, steroid, dan dihidohydroksiquin dapat digunakan untuk pengobatan
penyakit ini. Contoh steroid topikal yang dapat digunakan adalah:
-

Clobetasol
Betamethasone dipropionate cream 0,05%
Triamcinolone 0,0225%, 0,1%, 0,5%, atau ointment
Fluocinolone cream 0,1%

Antihistamin oral
Dapat mengurangi gatal dengan memblokir efek pelepasan histamin secara endogen. dengan
efek sedatif, Antipruritus dapat berupa antihistamin yang mempunyai efek sedatif
(contohnya: hidroksizin 25-100 mg/hari, difenhidramin 25-50 mg 3-4x/hari, prometazin) atau
tranquilizer..

Antihistamin topikal.
Obat topikal dapat menstabilisasi membran neuron dan mencegah inisiasi dan transmisi
impuls saraf sehingga memberi aksi anastesi lokal. Contoh dari bentuk ini yang dapat
diberikan yaitu krim doxepin 5% dalam jangka pendek (maksimum 8 hari). Doxepine atau
amitriptilin dapat juga digunakan dalam dosis tunggal atau dalam dosis yang terbagi

Prognosis
Penyakit ini bersifat kronik dengan persistensi dan rekurensi lesi. Eksaserbasi dapat
terjadi sebagai respon stres emosional. Prognosis bergantung pada penyebab pruritus
(penyakit yang mendasari) dan status psikologik penderita.

KESIMPULAN
A Kesimpulan
1

Liken simplek kronik adalah peradangan kulit kronis, disertai rasa gatal, sirkumskrip, yang
khas ditandai dengan kulit yang tebal dan likenifikasi. Likenifikasi pada liken simpleks
10

kronik terjadi akibat garukan atau gosokan yang berulang-ulang, karena berbagai rangsangan
pruritogenik. Keluhan dan gejala dapat muncul dalam waktu hitungan minggu hingga
bertahun-tahun.
2

Penatalaksanaan utama liken simpleks kronis adalah menghindarkan pasien dari kebiasaan
menggaruk dan menggosok secara terus menerus dan terapi farmakologis berupa steroid oral,
sistemik, antihistamin, dan immunomodulator.

DAFTAR PUSTAKA
1

Sularsito SA, Suria D. Dermatitis.In: Djuanda A, Hamzah M, Aisah S, editor. Ilmu Penyakit
Kulit dan Kelamin. 5th ed. Jakarta: Badan Penerbit Fakultas Kedokteran Universitas
Indonesia; 2010. p. 129-53.
11

Hogan DJ, Elston DM. Lichen simplex chronicus. Medscape; 2012 [cited 11 May 2013 11:00
WIB]. Available from:http://emedicine.medscape.com/article/1123423-overview.

Burgin S. Nummular eczema and lichen simplexchronicus/prurigo nodularis.In:Wolff K,


Goldsmith LA, Katz SI, Gilchrest BA, Paller AS, Leffell DJ, editor. Fitspatrickss
Dermatology In General Medicine. 7th ed. New York: The McGraw-Hill Companies, Inc.;
2008. p. 158-62.

Mansjoer A. Kapita Selekta Kedokteran. 3th ed. Jakarta: Media Aesculapius; 2000. p.89.

NHS. PUVA treatment. Oxford University Hospitals; 2011 [cited 11 May 2013 12:00 WIB].
Available from:http://www.ouh.nhs.uk/patient-guide/leaflets/files%5C120719puva.pdf.

Halpern SM, et al. Guidelines for topical PUVA: a report of a workshop of the British
Photodermatology Group. British Journal of Dermatology 2000; 142: 22-31.

Meffert J, OConnor RE. Psoriasis. Medscape; 2013 [cited 15 May 2013 22:00 WIB].
Available from: http://emedicine.medscape.com/article/1943419-overview#showall

BAD. Psoriasis-an overview. London: British Association of Dermatologists; 2012 [cited 15


May 2013 22:20 WIB]. Available from: http://www.bad.org.uk/site/864/default.aspx

Ference JD, Last AR. Choosing topical corticosteroid. Am Fam Physician2009;79(2): 135140.

12