Anda di halaman 1dari 9

REFLEKSI KASUS

“SERVISITIS NON SPESIFIK”

Dosen Pembimbing:

dr. Fajar Waskita, M.Kes, Sp.KK (K)

Disusun Oleh:

Rosalia Septaviana Risdiarta

42170200

KEPANITERAAN KLINIK ILMU KESEHATAN KULIT KELAMIN

RUMAH SAKIT BETHESDA YOGYAKARTA

PERIODE 21 Mei 2018 – 16 Juni 2018

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS KRISTEN DUTA WACANA

YOGYAKARTA

2018
STATUS PASIEN

I. IDENTITAS PASIEN
Nama : Nn. LS
Usia : 24 tahun
Jenis kelamin : Perempuan
Pekerjaan :-
Kunjungan ke klinik : 22 Mei 2018

II. ANAMNESA
A. Keluhan Utama
Keputihan banyak di kelamin.

B. Riwayat Penyakit Sekarang


Keluhan muncul sejak seminggu yang lalu, sebelumnya belum pernah
mengalami keputihan sebanyak ini. Keputihan berwarna kekuningan, encer dan
sedikit berbau. Pasien mengatakan keputihan semakin bertambah banyak
setelah berhubungan seksual 4 hari yang lalu. Pasien juga mengeluhkan gatal di
alat kelamin dan rasa nyeri ketika berkemih. Demam disangkal.

C. Riwayat penyakit Dahulu


Hipertensi : (-) TBC : (-)
Asma : (-) DM : (-)

D. Riwayat Operasi : Tidak ada


E. Riwayat Alergi : Tidak ada
F. Riwayat Penyakit Keluarga : Tidak ada
G. Riwayat Pengobatan : Tidak ada
H. Life Style : Pasien memiliki riwayat hubungan seksual (+)
tanpa menggunakan alat pengaman.

III. PEMERIKSAAN FISIK:


Status Generalis :
Keadaan Umum : Baik
Kesadaran : Compos mentis, E4V5M6
Status Gizi : Baik
Kepala : Tidak dilakukan pemeriksaan
Leher : Tidak dilakukan pemeriksaan
Thorax : Tidak dilakukan pemeriksaan
Abdomen : Tidak dilakukan pemeriksaan
Ekstremitas : Tidak dilakukan pemeriksaan

Status Lokalis :
Pada inspeksi vagina bagian luar ditemukan discharge mukopurulen pada vulva
dan dinding vagina. Pemeriksaan inspekulo ditemukan discharge mukopurulen
disertai eritema pada cervix, bau (+), benjolan (-)

IV. DIAGNOSA BANDING:


o Servisitis Non Gonorrhea
o Servisitis Gonorrhea
o Bakterial Vaginosis

V. PEMERIKSAAN PENUNJANG
Tidak dilakukan

VI. DIAGNOSA:
Servisitis Non spesifik

VII. TATALAKSANA
- R/ Cefixime tab 400 mg no I
S 1 d d tab 1 pc (hari ke-1)

- R/ Azithromycin tab 500 mg no I


S 1 d d tab 1 pc (hari ke-2)
- R/ Mefenamic acid tab 500 mg no X
S 2 d d tab 1 pc (nyeri)

VIII. EDUKASI
1. Menjelaskan kepada pasien mengenai penyakit yang diderita, penyebab, faktor
resiko, komplikasi dan terapi yang akan diberikan
2. Menjelaskan kepada pasien tentang perilaku seksual yang sehat:
 A: Abstinence (tidak melakukan hubungan seksual sementara waktu)
 B: Be faithful (setia kepada pasangan)
 C: Condom (gunakan kondom bila syarat A dan B tidak dapat dipenuhi,
jelaskan cara penggunaannya)
 D: Do No Drugs (hindari penggunaan obat psikotropika)
3. Membantu pasien menentukan perilaku seksual tidak sehat mana yang ingin
diubah
4. Menjelaskan kepada pasien tentang pentingnya mengobati pasangan seksual
5. Menjaga kebersihan daerah kelamin dengan selalu menggunakan celana yang
bersih
6. Meminta pasien untuk tidak melakukan douching atau menggunakan sabun
pembersih kewanitaan

IX. PROGNOSIS
Baik jika menghindari faktor predisposisi dan dengan komplikasi yang minimal

X. RESUME
Pasien mengeluhkan keputihan yang sangat banyak sejak seminggu yang lalu dan
bertambah banyak setelah berhubungan seksual 4 hari yang lalu. Keputihan
berwarna kekuningan, encer dan sedikit berbau disertai rasa gatal di vagina dan
nyeri saat berkemih. Terdapat riwayat coitus tanpa menggunakan alat pengaman.
Pemeriksaan pada bagian luar didapatkan discharge mukopurulen pada vulva dan
vagina. Pemeriksaan inspekulo memperlihatkan adanya eritema pada cervix dan
discharge mukopurulen di sepanjang dinding vagina dan cervix.
TINJAUAN PUSTAKA

I. DEFINISI
Servisitis merupakan peradangan pada serviks uteri. Infeksi serviks sering terjadi
karena luka kecil bekas operasi yang tidak dirawat atau dikarenakan infeksi
penyakit menular seksual.1
Servisitis adalah peradangan pada selaput lendir dari kanalis servikalis. Kanalis
servikalis terdiri dari satu lapisan sel silindris sehingga lebih mudah terinfeksi
daripada selaput lendir vagina.2

II. EPIDEMIOLOGI
Di beberapa negara, insidensi terjadinya infeksi genital non spesifik merupakan
IMS (Infeksi Menular Seksual) yang paling tinggi, dengan angka perbandingan 2:1
dibandingkan uretritis karena gonore. Kejadian infeksi genital non spesifik banyak
ditemukan pada orang dengan keadaan usia produktid dan aktif secara seksual. Pada
pria lebih banyak dibandingkan pada wanita dan golongan heteroseksual lebih
banyak dibandingkan golongan homoseksual.3

III. ETIOLOGI
Servisitis dapat disebabkan oleh infeksi khusus seperti gonokokus, chlamydia,
trichomonas vaginalis, candida dan mycoplasma atau disebabkan mikroorganisme
endogen vagina yang bersifat aerob dan anaerob termasuk streptokokus,
enterokokus, escherichia coli serta stapilokokus (servisitis non spesifik). Servisitis
dapat juga disebabkan oleh robekan serviks terutama yang menyebabkan ectropion,
alat-alat atau alat kontrasepsi, tindakan intrauterine seperti dilatasi dan lain-lain.2,4
Lebih dari 50% kasus servisitis non spesifik disebabkan oleh Chlamydia
trachomatis yang merupakan parasit intraobligat, menyerupai bakteri Gram negatif.
Dalam fase perkembangannya, Chlamydia trachomatis memiliki 2 fase:
a. Fase I
Disebut fase infeksiosa, terjadi keadaaan laten yang dapat ditemukan pada
genitalis maupun konjungtiva. Pada saat ini kuman bersifat intrasel dan
berada dalam vakuola yang melekat pada inti sel.
b. Fase II
Fase penularan, bila vakuol pecah maka kuman akan keluar dan
menimbulkan infeksi pada hospes baru.

IV. MANIFESTASI KLINIS


 Flour atau keputihan hebat, biasanya kental atau purulent dan biasanya berbau.
 Sering menimbulkan erusi (erythroplaki ) pada portio yang tampak seperti
daerah merah menyala.
 Pada pemeriksaan inspekulo kadang-kadang dapat dilihat flour yang purulent
keluar dari kanalis servikalis.
 Sekunder dapat terjadi kolpitis dan vulvitis.
 Pada servisitis kroniks kadang dapat dilihat bintik putih dalam daerah selaput
lendir yang merah karena infeksi. Bintik-bintik ini disebabkan oleh
ovulonobothi dan akibat retensi kelenjar-kelenjar serviks karena saluran
keluarnya tertutup oleh pengisutan dari luka serviks atau karena peradangan.
 Gejala-gejala non spesifik seperti dispareuni, nyeri punggung, dan gangguan
kemih.
 Perdarahan saat melakukan hubungan seks.2

V. DIAGNOSIS
VI. DIAGNOSIS BANDING

VII. TERAPI
VIII. DAFTAR PUSTAKA
1. Manuaba, I Bagus Gede, dkk. 2009. Ilmu Kebidanan, Penyakit Kandungan
dan KB. Jakarta: EGC
2. Fauziyah, Yulia. 2012. Obstetric Patologi. Yogyakarta: Nuha Medika
3. Daili, Sjaiful Fahmi. 2011. Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin: Infeksi Genital
Non Spesifik. Jakarta: Balai Penerbit FKUI
4. Abbas, A.K., Aster, J.C., dan Kumar, V. 2015. Buku Ajar Patologi Robbins.
Edisi 9. Singapura: Elsevier Saunders.
5. Kemenkes. 2011. Pedoman Nasional Penanganan Infeksi Menular Seksual.
Jakarta