Anda di halaman 1dari 21

WRAP UP

BLOK MPT SKENARIO 2

KELOMPOK B - 3
KETUA

: RIZKY GUMELAR P.

SEKRETARIS: MULKI ALIFAH HASNA


ANGGOTA

(1102012254)
(1102012183)

:
MOHAMAD NAUFAL Y DK

(1102011165)

METTY TUSIANA

(1102012162)

MUHAMMAD ZULFIKAR

(1102012182)

MUTIARA ALDERISA

(1102012185)

SILA INGGIT F.

(1102012276)

SITI ANDRIATI F.

(1102012278)

TRIAMERLY PUTRI UTAMI

(1102012300)

YUDHA KUSUMA CAHYADI

(1102012313)

FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS YARSI
Jalan. Letjen Suprapto, Cempaka Putih, Jakarta 10510
Telp. 62.21.4244574 Fax. 62.21. 4244574

SKENARIO 2
REAKSI ALERGI
Seorang perempuan berusia 25 tahun, datang ke dokter dengan keluhan demam dan
sakit menelan sejak 2 minggu yang lalu. Dokter memberikan antibiotika golongan penisilin.
Setelah minum antibiotika tersebut timbul gatal dan bentol-bentol merah yang hampir merata di
seluruh tubuh, timbul bengkak pada kelopak mata dan bibir. Ia memutuskan untuk kembali
berobat ke dokter, Pada pemeriksaan fisik didapatkan angioedema di mata dan bibir, dan
urtikaria di seluruh tubuh. Dokter menjelaskan keadaan ini diakibatkan oleh reaksi alergi
(hipersensitivitas tipe cepat), sehingga ia mendapatkan obat anti histamin dan kortikosteroid.
Dokter memberikan saran agar selalu berhati - hati dalam meminum obat.

SASARAN BELAJAR

LI. 1.

LI. 2.

LI. 3.

LI. 4.

LI. 5.

LI. 6.

Memahami dan menjelaskan hipersensitivitas


LO.1.1

Definisi

LO.1.2

Klasifikasi

Memahami dan menjelaskan hipersensitivitas I


LO.2.1

Definisi

LO.2.2

Etiologi

LO.2.3

Mekanisme

LO.2.4

Manifestasi klinik

Memahami dan menjelaskan hipersensitivitas II


LO.3.1

Definisi

LO.3.2

Klasifikasi

LO.3.3

Mekanisme

LO.3.4

Manifestasi klinik

Memahami dan menjelaskan hipersensitivitas III


LO.4.1

Definisi

LO.4.2

Klasifikasi

LO.4.3

Mekanisme

LO.4.4

Manifestasi klinik

Memahami dan menjelaskan hipersensitivitas IV


LO.5.1

Definisi

LO.5.2

Klasifikasi

LO.5.3

Mekanisme

LO.5.4

Manifestasi klinik

Memahami dan menjelaskan anti histamine dan kortikosteroid


LO.6.1

Definisi

LO.6.2
LI.7.

Farmakokinetik dan farmakodinamik

Memahami dan menjelaskan perspektif Islam terhadap menentukan alternatif terbaik

LI. 1.

Memahami dan menjelaskan hipersensitifitas


LO.1.1

Definisi

Hipersensitivitas adalah peningkatan reaktivitas atau sensitivitas terhadap antigen yang


pernah dipajankan atau dikenal sebelumnya. (Imunologi Dasar)
Atau respon imun yang berlebihan dan yang tidak diinginkan karena dapat
menimbulkan kerusakan jaringan tubuh. (IPD)
LO.1.2

Klasifikasi

Reaksi hipersensitivitas berdasarkan waktu timbulnya reaksi :


Reaksi cepat
- Terjadi dalam hitungan detik, dan menghilang dalam 2 jam.
- Ikatan silang antara alergen dan IgE pada permukaan sel mast menginduksi
pelepasan mediator vasoaktif.
- Manifestasi berupa reaksi anafilaksis sistemik atau anafilaksis lokal.

Reaksi intermediet
- Terjadi setelah beberapa jam dan menghilang dalam 24 jam.
- Melibatkan pembentukan kompleks imun IgG dan kerusakan jaringan melalui
aktivasi komplemen atau sel NK/ADCC.
- Menifestasi berupa :
i.
Reaksi tranfusi darah, eritroblastosis fetalis dan anemia hemolitik autoimun.
ii.
Reaksi Arthus lokal dan reaksi sistemik seperti serum sickness, vaskulitis
nekrotis, glomerulonefritis, artritis reumatoid dan LES.
- Reaksi ini diawali oleh IgG dan kerusakan jaringan pejamu yang disebabkan oleh
sel neutrofil atau sel NK.

Reaksi lambat
- Terlihat sampai 48 jam setelah terjadi pajanan dengan antigen yang terjadi oleh
aktivasi sel Th.
- Pada DTH, sitokin yang dilepas sel T mengaktifkan sel efektor makrofag yang
menimbulkan kerusakan jaringan.
- Contoh reaksi : dermatitis kontak, reaksi M.tuberkulosis dan reaksi penolakan
tandur.

Pembagian reaksi hipersensitivitas berdasarkan Gell dan Coombs


Reaksi hipersensitivitas tipe I atau reaksi cepat atau reaksi alergi.
Reaksi hipersensitivitas tipe II atau reaksi sitotoksik atau reaksi sitolitik.
Reaksi hipersensitivitas tipe III atau reaksi kompleks imun.
Reaksi hipersensitivitas tipe IV atau reaksi lambat.

Sumber : http://childrenallergyclinic.wordpress.com/2009/05/16/reaksi-hipersensitivitas/
LI. 2.

Memahami dan menjelaskan hipersensitifitas I


LO.2.1

Definisi

Reaksi hipersensitifitas tipe I adalah suatu reaksi yang terjadi secara cepat atau reaksi
anafilaksis atau reaksi alergi mengikuti kombinasi suatu antigen dengan antibodi yang terlebih
dahulu diikat pada permukaan sel basofilia (sel mast) dan basofil.
LO.2.2

Etiologi

Yang sering menjadi penyebab reaksi tipe I adalah serbuk sari, bisa serangga, alergen
hewan, jamur, obat, dan makanan (Price, 2007).
LO.2.3

Mekanisme

Pada hipersensitivitas tipe I terdapat beberapa fase, yaitu :


Fase sensitasi yaitu waktu yang dibutuhkan untuk membentuk IgE sampai diikat silang
oleh reseptor spesifik pada permukaan sek mast/basofil.
Fase aktivasi yaitu waktu yang diperlukan antara pajanan ulang dengan antigen yang
spesifik dan sel mast/basofil melepas isinya yang berisikan granul yang menimbulkan
reaksi. Hal ini terjadi oleh ikatan silang antara antigen dan IgE.

Fase efektor yaitu waktu yang terjadi respon yang kompleks (anafilaksis) sebagai efek
mediator-mediator yang dilepas sel mast/basofil dengan aktivasi farmakologik.

Sumber : http://medicarea.blogspot.com/2010/06/reaksi-hipersensitivitas_21.html
Prosesnya adalah sebagai berikut:
Ketika suatu alergen masuk ke dalam tubuh, pertama kali ia akan terpajan oleh makrofag.
Makrofag akan mempresentasikan epitop alergen tersebut ke permukaannya, sehingga
makrofag bertindak sebagai antigen presenting cells (APC). APC akan
mempresentasikan molekul MHC-II pada Sel limfosit Th2, dan sel Th2 mengeluarkan
mediator IL-4 (interleukin-4) untuk menstimulasi sel B untuk berproliferasi dan
berdiferensiasi menjadi sel Plasma. Sel Plasma akan menghasilkan antibodi IgE dan IgE
ini akan berikatan di reseptor FC-R di sel Mast/basofil di jaringan. Ikatan ini mampu
bertahan dalam beberapa minggu karena sifat khas IgE yang memiliki afinitas yang
tinggi terhadap sel mast dan basofil. Ini merupakan mekanisme respon imun yang masih
normal.
Namun, ketika alergen yang sama kembali muncul, ia akan berikatan dengan IgE yang
melekat di reseptor FC-R sel Mast/basofil tadi. Perlekatan ini tersusun sedimikian rupa
sehingga membuat semacam jembatan silang (crosslinking) antar dua IgE di permukaan
(yaitu antar dua IgE yang bivalen atau multivalen, tidak bekerja jika igE ini univalen).
Hal inilah yang akan menginduksi serangkaian mekanisme biokimiawi intraseluler
secara kaskade, sehingga terjadi granulasi sel Mast/basofil. Degranulasi ini
mengakibatkan pelepasan mediator-mediator alergik yang terkandung di dalam
granulnya seperti histamin, heparnin, faktor kemotaktik eosinofil, danplatelet activating
factor (PAF). Selain itu, peristiwa crosslinking tersebut ternyata juga merangsang sel
Mast untuk membentuk substansi baru lainnya, seperti LTB4, LTC4, LTD4,
prostaglandin dan tromboksan. Mediator utama yang dilepaskan oleh sel Mast ini
diperkirakan adalah histamin, yang menyebabkan kontraksi otot polos,

bronkokonstriksi, vasodilatasi pembuluh darah, peningkatan permeabilitas vaskular,


edema pada mukosa dan hipersekresi.
Mediator primer utama pada hipersensitivitas tipe I
Efek
Permeabilitas vascular meningkat, vasodilatasi, kontraksi otot
Histamin
polos, sekresi mukosa gaster
ECF-A
Kemotaksis eosinofil
NCF-A
Kemotaksis neutrofil
Eosinophil chemotactic
Kemotaktik untuk eosinofil
Neutrophil chemotactic
Kemotaktik untuk neutrofil
Sekresi mukus bronkial, degradasi membran basal pembuluh
Protease
darah, pembentukan produk pemecah komplemen
PAF
Agregasi dan degranulasi trombosit, kontraksi otot polos paru
Hidrolase asam
Degradasi matriks ekstraseluler
NCA
Kemotaksis neutrofil
BK-A
Kalikrein : kininogenase
Heparin, kondrotin sulfat, sulfat dermatan; mencegah komplemen
Proteoglikan
yang menimbulkan koagulasi (?)
Enzim
Kimase, triptase, proteolisis
Mediator

Mediator sekunder utama pada Hipersensitivitas Tipe 1


Mediator
Efek
Sitokin
Aktivasi berbagai sel radang
Peningkatan permebilitas kapiler,
Bradikinin
vasodilatasi, kontraksi otot polos,
stimulasi ujung saraf nyeri
Kontraksi otot polos paru, vasodilatasi,
Prostaglandin D2
agregasi trombosit
Kontraksi otot polos, peningkatan
Leukotrien
permeabilitas, kemotaksis
LO.2.4

Manifestasi klinik

Reaksi lokal
Reaksi hipersensitifitas tipe 1 lokal terbatas pada jaringan atau organ spesifik yang
biasanya melibatkan permukaan epitel tempat alergan masuk. Kecenderungan untuk
menunjukkan reaksi Tipe 1 adalah diturunkan dan disebut atopi. Sedikitnya 20% populasi
menunjukkan penyakit yang terjadi melalui IgE seperti rinitis alergi, asma dan dermatitis
atopi. IgE yang biasanya dibentuk dalam jumlah sedikit, segera diikat oleh sel
mast/basofil. IgE yang sudah ada pada permukaan sel mast akan menetap untuk beberapa
minggu. Sensitasi dapat pula terjadi secara pasif bila serum (darah) orang yang alergi
dimasukkan ke dalam kulit/sirkulasi orang normal. Reaksi alergi yang mengenai kulit,
mata, hidung dan saluran nafas.

Reaksi sistemik anafilaksis


Anafilaksisi adalah reaksi Tipe 1 yang dapat fatal dan terjadi dalam beberapa menit saja.
Anafilaksis adalah reeaksi hipersensitifitas Gell dan Coombs Tipe 1 atau reaksi alergi
yang cepat, ditimbulkan IgE yang dapat mengancam nyawa. Sel mast dan basofil
merupakan sel efektor yang melepas berbagai mediator. Reaksi dapat dipacu berbagai
alergan seperti makanan (asal laut, kacang-kacangan), obat atau sengatan serangga dan
juga lateks, latihan jasmani dan bahan anafilaksis, pemicu spesifiknya tidak dapat
diidentifikasi.

Reaksi pseudoalergi atau anafilaktoid


Reaksi pseudoalergi atau anafilaktoid adalah reaksi sistemik umum yang melibatkan
pengelepasan mediator oleh sel mast yang terjadi tidak melalui IgE. Mekanisme
pseudoalergi merupakan mekanisme jalur efektor nonimun. Secara klinis reaksi ini
menyerupai reaksi Tipe I seperti syok, urtikaria, bronkospasme, anafilaksis, pruritis,
tetapi tidak berdasarkan atas reaksi imun. Manifestasi klinisnya sering serupa, sehingga
kulit dibedakan satu dari lainnya. Reaksi ini tidak memerlukan pajanan terdahulu untuk
menimbulkan sensitasi. Reaksi anafilaktoid dapat ditimbulkan antimikroba, protein,
kontras dengan yodium, AINS, etilenoksid, taksol, penisilin, dan pelemas otot.

Reaksi Alergi :
Jenis Alergi
Anafilaksis

Alergen Umum
Obat, serum, kacangkacangan

Urtikaris
Sengatan serangga
akut
Rinitis alergi Polen, tungau debu rumah
Asma

Polen, tungau debu rumah

Makanan
Ekzem atopi

LI. 3.

Kerang, susu, telur, ikan,


bahan asal gandum
Polen, tungau debu runah,
beberapa makanan

Gambaran
Edema dengan peningkatan permeabilitas
kapiler, okulasi trakea , koleps sirkulasi
yang dapat menyebabkan kematian
Bentol, merah
Edema dan iritasi mukosa nasal
Konstriksi bronkial, peningkatan produksi
mukus, inflamasi saluran nafas
Urtikaria yang gatal dan potensial menjadi
anafilaksis
Inflamasi pada kulit yang terasa gatal,
biasanya merah dan ada kalanya vesikular

Memahami dan menjelaskan hipersensitifitas II


LO.3.1

Definisi

Reaksi hipersensitifitas tipe II disebut juga dengan reaksi sitotoksik, atau sitolisis.
Reaksi ini melibatkan antibodi IgG dan IgM yang bekerja pada antigen yang terdapat di
permukaan sel atau jaringan tertentu. Antigen yang berikatan di sel tertentu bisa berupa mikroba

atau molekul2 kecil lain (hapten). Ketika pertama kali datang, antigen tersebut akan
mensensitisasi sel B untuk menghasilkan antibodi IgG dan IgM. Ketika terjadi pemaparan
berikutnya oleh antigen yang sama di permukaan sel sasaran, IgG dan IgM ini akan berikatan
dengan antigen tersebut. Ketika sel efektor (seperti makrofag, netrofil, monosit, sel T cytotoxic
ataupun sel NK) mendekat, kompleks antigen-antibodi di permukaan sel sasaran tersebut akan
dihancurkan olehnya. Hal ini mungkin dapat menyebabkan kerusakan pada sel sasaran itu
sendiri, sehingga itulah kenapa reaksi ini disebut reaksi sitotoksik/sitolisis (sito = sel, toksik =
merusak, lisis = menghancurkan).
LO. 3.2.

Etiologi

Hipersensitivitas tipe II diakibatkan oleh antibodi berupa imunoglobulin G (IgG) dan


imunoglobulin E (IgE) untuk melawan antigen pada permukaan sel dan matriks ekstraseluler.
Kerusakan akan terbatas atau spesifik pada sel atau jaringan yang langsung berhubungan dengan
antigen tersebut. Pada umumnya, antibodi yang langsung berinteraksi dengan antigen permukaan
sel akan bersifat patogenik dan menimbulkan kerusakan pada target sel.
LO.3.3

Mekanisme

Sumber : http://www.medicinesia.com/kedokteran-dasar/imunologi/hipersensitivitas-tipe-2sitotoksik/
Prosesnya ada 3 jenis mekanisme yang mungkin, yaitu:

Proses sitolisis oleh sel efektor. Antibodi IgG/IgM yang melekat dengan antigen sasaran,
jika dihinggapi sel efektor, ia (antibodi) akan berinteraksi dengan reseptor Fc yang

terdapat di permukaan sel efektor itu. Akibatnya, sel efektor melepaskan semacam zat
toksik yang akan menginduksi kematian sel sasaran. Mekanisme ini disebut ADCC
(Antibody Dependent Cellular Cytotoxicity).

Proses sitolisis oleh komplemen. Kompleks antigen-antibodi di permukaan sel sasaran


didatangi oleh komplemen C1qrs, berikatan dan merangsang terjadinya aktivasi
komplemen jalur klasik yang akan berujung kepada kehancuran sel.

Proses sitolisis oleh sel efektor dengan bantuan komplemen. Komplemen C3b yang
berikatan dengan antibodi akan berikatan di reseptor C3 pada pemukaan sel efektor. Hal
ini akan meningkatkan proses sitolisis oleh sel efektor.

Keseluruhan reaksi di atas terjadi dalam waktu 5-8 jam setelah terpajan antigen yang sama untuk
kedua kalinya.
LO.3.4

Manifestasi klinik

Manifestasi khas : reaksi transfusi, eritroblastosis fetalis, anemia hemolitik autoimun .


Reaksi transfusi
- Sejumlah besar protein dan glikoprotein pada membran SDM disandi oleh berbagai
gen.
- Individu golongan darah A mendapat transfusi golongan B terjadi reaksi transfusi,
karena anti B isohemaglutinin berikatan dengan sel darah B yang menimbulkan
kerusakan darah direk oleh hemolisis masif intravascular. Reaksi dapat cepat atau
lambat.
Reaksi cepat :
Disebabkan oleh inkompatibilitas golongan darah ABO yang dipacu oleh IgM. Dalam
beberapa jam hemoglobin bebas dapat ditemukan dalam plasma dan disaring melalui
ginjal dan menimbulkan hemaglobinuria. Beberapa hemaglobin diubah menjadi
bilirubin yang pada kadar tinggi bersifat toksik.
Gejala khas : Demam, menggigil, nausea, bekuan dalam pembuluh darah, nyeri
pinggang bawah, dan hemoglobinuria.
Reaksi lambat:
Terjadi pada orang yang mendapat transfusi berulang dengan darah yang kompatibel
ABO namun inkompatibel dengan golongan darah yang lain. Terjadi 2-6 hari setelah
transfusi. Darah yang ditransfusikan memacu pembentukan IgG terhadap berbagai
antigen membran golongan darah, tersering adalah golongan resus, Kidd, Kell, dan
Duffy

Penyakit hemolitik pada bayi baru lahir

Ditimbulkan oleh inkompatibilitas Rh dalam kehamilan, yaitu pada ibu dengan golongan
darah rhesus dan janin dengan rhesus (+).

LI. 4.

Anemia hemolitik
- Antibiotika tertentu seperti penisilin, sefalosporin, dan streptomisin dapat
diabsorbsi non spesifik pada protein membran SDM yang membentuk kompleks
serupa kompleks molekul hapten pembawa.
- Pada beberapa penderita, kompleks membentuk ab yang selanjutnya mengikat
obat pada SDM dan dengan bantuan komplemen menimbulkan lisis dengan dan
anemia progresif.
Memahami dan menjelaskan hipersensitifitas III
LO.4.1

Definisi

Reaksi hipersensitivitas tipe III atau yang disebut juga reaksi kompleks imun adalah
reaksi imun tubuh yang melibatkan kompleks imun yang kemudian mengaktifkan komplemen
sehingga terbentuklah respons inflamasi melalui infiltrasi masif neutrofil.
LO.4.2

Etiologi

Penyebab reaksi hipersensitivitas tipe III yang sering terjadi, terdiri dari :
Infeksi persisten
Pada infeksi ini terdapat antigen mikroba, dimana tempat kompleks mengendap adalah
organ yang diinfektif dan ginjal.

Autoimunitas
Pada reaksi ini terdapat antigen sendiri, dimana tempat kompleks mengendap adalah
ginjal, sendi, dan pembuluh darah.

Ekstrinsik
Pada reaksi ini, antigen yang berpengaruh adalah antigen lingkungan. Dimana tempat
kompleks yang mengendap adalah paru.
LO.4.3

Mekanisme

Prosesnya adalah sebagai berikut:


Seperti tipe yang lainnya, ketika antigen pertama kali masuk, ia akan mensensitisasi
pembentukan antibodi IgG dan IgM yang spesifik. Ketika pemaparan berikutnya oleh antigen
yang sama, IgG dan IgM spesifik ini akan berikatan dengan antigen tersebut di dalam serum
membentuk ikatan antigen-antibodi kompleks. Kompleks ini akan mengendap di salah satu
tempat dalam jaringan tubuh (misalnya di endotel pembuluh darah dan ekstraseluler) sehingga
menimbulkan reaksi inflamasi. Aktifitas komplemen pun akan aktif sehingga dihasilkanlah
mediator-mediator inflamasi seperti anafilatoksin, opsonin, kemotaksin, adherens imun dan kinin
yang memungkinkan makrofag/sel efektor datang dan melisisnya. Akan tetapi, karena kompleks
antigen antibodi ini mengendap di jaringan, aktifitas sel efektor terhadapnya juga akan merusak
jaringan di sekitarnya tersebut. Inilah yang akan membuat kerusakan dan menimbulkan gejala
klinis, dimana keseluruhannya terjadi dalam jangka waktu 2-8 jam setelah pemaparan antigen
yang sama untuk kedua kalinya.
Jika komplemen diikat, anafilaktoksin akan dilepaskan sebagai hasil pemecahan C3 dan
C5 dan menyebabkan pelepasan histamin serta perubahan permeabilitas pembuluh darah. Faktorfaktor kemotaktik juga dihasilkan, ini menyebabkan pemasukan leukosit-leukosit PMN yang
mulai menfagositosis kompleks-kompleks imun. Deretan reaksi diatas juga mengakibatkan
pelepasan zat-zat ekstraselular yang berasal dari granula-granula polimorf yakni;

enzim-enzim proteolitik (termasuk kolagenase dan protein-protein netral),

enzim-enzim pembentukan kinin protein-protein polikationik yang meningkatkan


permeabilitas pembuluh darah melalui mekanisme mastolitik atau histamin bebas.

Hal ini akan merusak jaringan setempat dan memperkuat reaksi peradangan yang
ditimbulkan. Kerusakan lebih lanjut dapat disebabkan oleh reaksi lisis dimana C5-6-7 yang telah
diaktifkan menyerang sel-sel disekitarnya dan mengikat C8-9. Dalam keadaan tertentu, trombosit
akan menggumpal dengan dua konsekuensi, yaitu menjadi sumber yang menyediakan zat-zat
amina vasoaktif dan juga membentuk mikrotrombi yang dapat mengakibatkan iskemia setempat.
Kompleks antigen- antibodi dapat mengaktifkan beberapa sistem imun sebagai berikut :

Aktivasi komplemen
- Melepaskan anafilaktoksin (C3a, C5a) yang merangsang mastosit untuk melepas
histamine.
- Melepas faktor kemotaktik (C3a, C5a, C5-6-7) mengerahkan polimorf yang
melepas enzim proteolitik dan enzim polikationik.
Menimbulkan agregasi trombosit
- Menimbulkan mikrotrombi.
- Melepas amin vasoaktif.
Mengaktifkan makrofag Melepas IL-1 dan produk lainnya
LO.4.4

Manifestasi klinik

Manifestasi khas : reaksi lokal seperti Arthus dan sistemik seperti serum sickness,
vaskulitis dengan nekrosis, glomerulonefritis, AR dan LES .

Reaksi Lokal atau Fenomena Arthus


Pada mulanya, Arthus menyuntikkan serum kuda ke kelinci secara berulang di tempat
yang sama. Dalam waktu 2-4 jam, terdapat eritema ringan dan edem pada kelinci. Lalu setelah
sekitar 5-6 suntikan, terdapat perdarahan dan nekrosis di tempat suntikan. Hal tersebut adalah
fenomena Arthus yang merupakan bentuk reaksi kompleks imun. Antibodi yang ditemukan
adalah presipitin. Reaksi Arthus dalam kilinis dapat berupa vaskulitis dengan nekrosis.
Mekanisme pada reaksi arthus adalah sebagai berikut :
- Neutrofil menempel pada endotel vaskular kemudian bermigrasi ke jaringan
tempat kompleks imun diendapkan. Reaksi yang timbul yaitu berupa
pengumpulan cairan di jaringan (edema) dan sel darah merah (eritema) sampai
nekrosis.

C3a dan C5a yag terbentuk saat aktivasi komplemen meningkatkan permeabilitas
pembuluh darah sehingga memperparah edema. C3a dan C5a juga bekerja sebagai
faktor kemotaktik sehingga menarik neutrofil dan trombosit ke tempat reaksi.
Neutrofil dan trombosit ini kemudian menimbulkan statis dan obstruksi total
aliran darah.
Neutrofil akan memakan kompleks imun kemudian akan melepas bahan-bahan
seperti protease, kolagenase dan bahan-bahan vasoaktif bersama trombosit
sehingga akan menyebabkan perdarahan yang disertai nekrosis jaringan setempat.

Reaksi Sistemik atau Serum Sickness


Antibodi yang berperan dalam reaksi ini adalah IgG atau IgM dengan mekanisme
sebagai berikut :
- Komplemen yang telah teraktivasi melepaskan anafilatoksin (C3a dan C5a) yang
memacu sel mast dan basofil melepas histamin.
- Kompleks imun lebih mudah diendapkan di daerah dengan tekanan darah yang
tinggi dengan putaran arus (contoh: kapiler glomerulus, bifurkasi pembuluh
darah, plexus koroid, dan korpus silier mata).
- Komplemen juga menimbulkan agregasi trombosit yang membentuk mkrotrombi
kemudian melepas amin vasoaktif. Bahan-bahan vasoaktiv tersebut
mengakibatkan vasodilatasi, peningkatan permeabilitas pembuluh darah dan
inflamasi.
- Neutrofil deikerahkan untuk menghancurkan kompleks imun. Neutrofil yang
terperangkap di jaringan akan sulit untuk memakan kompleks tetapi akan tetap
melepaskan granulnya (angry cell) sehingga menyebabkan lebih banyak
kerusakan jaringan.
- Makrofag yang dikerahkan ke tempat tersebut juga meleaskan mediator-mediator
antara lain enzim-enzim yang dapat merusak jaringan
Dari mekanisme diatas, beberapa hari minggu setelah pemberian serum asing akan
mulai terlihat manifestasi panas, gatal, bengkak-bengkak, kemerahan dan rasa sakit di beberapa
bagian tubuh sendi dan kelenjar getah bening yang dapat berupa vaskulitis sistemik (arteritis),
glomerulonefritis, dan artiritis. Reaksi tersebut dinamakan reaksi Pirquet dan Schick.
LI. 5.

Memahami dan menjelaskan hipersensitifitas IV


LO.5.1

Definisi

Delayed Type Hypersensitivity Tipe IV :


Fase sensitasi
Membutuhkan waktu 1-2 minggu setelah kontak primer dengan antigen. Th diaktifkan
oleh APC melalui MHC-II. Berbagai APC (sel Langerhans/SD pada kulit dan makrofag)

menangkap antigen dan membawanya ke kelenjar limfoid regional untuk dipresentasikan ke sel
T sehingga terjadi proliferasi sel Th1 (umumnya).

Fase efektor
Pajanan ulang dapat menginduksi sel efektor sehingga mengaktifkan sel Th1 dan melepas
sitokin yang menyebabkan :
- Aktifnya sistem kemotaksis dengan adanya zat kemokin (makrofag dan sel
inflamasi). Gejala biasanya muncul nampak 24 jam setelah kontak kedua.
- Menginduksi monosit menempel pada endotel vaskular, bermigrasi ke jaringan
sekitar.
- Mengaktifkan makrofag yang berperan sebagai APC, sel efektor, dan menginduksi
sel Th1 untuk reaksi inflamasi dan menekan sel Th2.
Mekanisme kedua reaksi adalah sama, perbedaannya terletak pada sel T yang
teraktivasi. Pada Delayed Type Hypersensitivity Tipe IV, sel Th1 yang teraktivasi dan pada T
Cell Mediated Cytolysis, sel Tc/CTL/ CD8+ yang teraktivasi.
Granuloma terbentuk pada : TB, Lepra, Skistosomiasis, Lesmaniasis dan Sarkoidasis.
LO.5.4

Manifestasi klinik

Manifestasi khas : Dermatitis kontak, Lesi tuberculosis dan penolakan tandur .


Dematitis kontak
Merupakan penyakit CD8+ yang terjadi akibat kontak dengan bahan yang tidak
berbahaya seperti formaldehid, nikel, bahan aktif pada cat rambut (contoh reaksi DTH).
Hipersensitivitas tuberkulin
Bentuk alergi spesifik terhadap produk filtrat (ekstrak/PPD) biakan Mycobacterium
tuberculosis yang apabila disuntikan ke kulit (intrakutan), akan menimbulkan reaksi ini
berupa kemerahan dan indurasi pada tempat suntikan dalam 12-24 jam. Pada individu yang
pernah kontak dengan M. tuberkulosis, kulit akan membengkak pada hari ke 7-10 pasca
induksi. Reaksi ini diperantarai oleh sel CD4+.
Reaksi Jones Mote
Reaksi terhadap antigen protein yang berhubungan dengan infiltrasi basofil yang
mencolok pada kulit di bawah dermis, reaksi ini juga disebut sebagai hipersensitivitas
basofil kutan. Reaksi ini lemah dan nampak beberapa hari setelah pajanan dengan protein
dalam jumlah kecil, tidak terjadi nekrosis jaringan. Reaksi ini disebabkan oleh suntikan
antigen larut (ovalbumin) dengan ajuvan Freund.
Penyakit CD8+
Kerusakan jaringan terjadi melalui sel CD8+/CTL/Tc yang langsung membunuh sel
sasaran. Penyakit ini terbatas pada beberapa organ saja dan biasanya tidak sistemik, contoh
pada infeksi virus hepatitis.

LI. 6.

Memahami dan menjelaskan antihistamin dan kortikosteroid


LO.6.1

Definisi

LO.6.2

Farmakokinetik dan farmakodinamik

A. Antihistamin
Antihistamin atau antagonis histamin adalah zat yang mampu mencegah pelepasan atau
kerja histamin. Ada banyak golongan obat yang termasuk dalam antihistamin, yaitu antergan,
neontergan, difenhidramin, dan tripelenamin yang efektif untuk mengobati edema, eritem, dan
pruritus, dan yang baru ini ditemukan adalah burinamid, metiamid, dan simetidin untuk
menghambat sekresi asam lambung akibat histamin. Ada 2 jenis antihistamin, yaitu Antagonis
reseptor H1 (AH1) dan Antagonis reseptor H2 (AH2).
1). Antagonis reseptor H1 (AH1)
a. Farmakodinamik :
AH1 menghambat efek histamin pada pembuluh darah, bronkus, bermacam otot
polos, selain itu AH1 bermanfaat untuk mengobati reaksi hipersensitivitas atau
keadaan lain yang disertai penglepasan histamin endogen berlebihan.
b. Farmakokinetik :
Efek yang ditimbulkan dari antihistamin 15-30 menit setelah pemberian oral dan
maksimal setelah 1-2 jam. Lama kerja AH1 umumnya 4-6 jam. Kadar tertinggi
terdapat pada paru-paru sedangkan pada limpa, ginjal, otak, otot, dan kulit kadarnya
lebih rendah. Tempat utama biotransformasi AH1 ialah hati. AH1 disekresi melalui
urin setelah 24 jam, terutama dalam bentuk metabolitnya
c. Indikasi :
AH1 berguna untuk pengobatan simtomatik berbagai penyakit alergi dan mencegah
atau mengobati mabuk perjalanan.
d. Efek samping :
Efek samping yang paling sering adalah sedasi. Efek samping yang berhubungan
dengan AH1 adalah vertigo, tinitus, lelah, penat, inkoordinasi, penglihatan kabur,
diplopia, euforia, gelisah, insomnia, tremor, nafsu makan berkurang, mual, muntah,
keluhan pada epigastrium, konstipasi atau diare,mulut kering, disuria, palpitasi,
hipotensi, sakit kepala, rasa berat, dan lemah pada tangan.
2). Antagonis reseptor H2 (AH2)
Antagonis reseptor H2 bekerja menghambat sekresi asam lambung. Antagonis reseptor H2 yang
ada dewasa ini adalah simetidin, ranitidin, famotidine, dan nizatidin.
1. Simetidin dan Ranitidin
a. Farmakodinamik :

b.

c.

d.

Simetadin dan ranitidin menghambat reseptor H2 secara selektif dan reversible.


Kerjanya menghambat sekresi asam lambung. Simetadin dan ranitidin juga
mengganggu volume dan kadar pepsin cairan lambung.
Farmakokinetik :
Absorpsi simetidin diperlambat oleh makan, sehingga simetidin diberikan bersama
atau segera setelah makan dengan maksud untuk memperanjang efek pada periode
pasca makan. Ranitidin mengalami metabolisme lintas pertama di hati dalam
jumlah cukup besar setelah pemberian oral. Ranitidin dan metabolitnya diekskresi
terutama melalui ginjal, sisanya melalui tinja.
Indikasi :
Efektif untuk mengtasi gejala akut tukak duodenum dan mempercepat
penyembuhannya. Selain itu, juga efektif untuk mengatasi gejala dan mempercepat
penyembuhan tukak lambung. Dapat pula untuk gangguan refluks lambungesofagus.
Efek samping :
Efek sampingnya rendah, yaitu penghambatan terhadap resptor H2, seperti nyeri
kepala, pusing, malaise, mialgia, mual, diare, konstipasi, ruam, kulit, pruritus,
kehilangan libido dan impoten.

2. Famotidin
a. Farmakodinamik :
Famotidin merupakan AH2sehingga dapat menghambat sekresi asam lambung pada
keadaan basal, malam, dan akibat distimulasi oleh pentagastrin. Famotidin 3 kali
lebih poten daripada ramitidin dan 20 kali lebih poten daripada simetidin.
b. Farmakokinetik :
Famotidin mencapai kadarpuncak di plasma kira kira dalam 2 jam setelah
penggunaan secara oral, masa paruh eliminasi 3-8 jam. Metabolit utama adalah
famotidin-S-oksida. Pada pasien gagal ginjal berat masa paruh eliminasi dapat
melibihi20 jam.
c. Indikasi :
Efektifitas pbat ini untuk tukak duodenum dan tukak lambung, refluks esofagitis,
dan untuk pasiendengan sindrom Zollinger-Ellison.
d. Efek samping :
Efek samping ringan dan jarang terjadi, seperti sakit kepala, pusing, konstipasi dan
diare, dan tidak menimbulkan efek antiandrogenik.
3. Nizatidin
a. Farmakodinamik :
Potensi nizatin daam menghambat sekresi asam lambung.
b. Farmakokinetik :

c.

d.

Kadar puncak dalam serum setelah pemberian oral dicapai dalam 1 jam, masa paruh
plasma sekitar 1,5 jam dan lama kerja sampai dengn 10 jam, disekresi melalui
ginjal.
Indikasi :
Efektifitas untuk tukak duodenum diberikan satu atau dua kali sehari selama 8
minggu, tukak lambung, refluks esofagitis, sindrom Zollinger-Ellion.
Efek samping :
Efek samping ringan saluran cerna dapat terjadi, dan tidak memiliki efek
antiandrogenik

B. Kortikosteroid
Kortikosteroid adalah suatu kelompok hormon steroid yang dihasilkan di kulit kelenjar
adrenal. Hormon ini berperan pada banyak sistem fisiologis pada tubuh, misalnya tanggapan
terhadap stres, tanggapan sistem kekebalan tubuh, dan pengaturan inflamasi, metabolisme
karbohidrat, pemecahan protein, kadar elektrolit darah, serta tingkah laku. Kortikosteroid bekerja
dengan mempengaruhi kecepatan sintesis protein. Molekul hormon memasuki sel melewati
membran plasma secara difusi pasif.
a. Farmakodinamik :
- Kortikosteroid mempengaruhi metabolisme karbohidrat, protein, dan lemak.selain itu juga
mempengaruhi fungsi sistem kardiovaskular, ginjal, otot lurik, sistem saraf dan organ lain.
- Dalam klinik umumnya kortikosteroid dibedakan menjadi dua golongan besar yaitu
glukokortikoid dan mineralokortikoid.
1. Efek utama glukokortikoid ialah pada penyimpanan glikogen hepar dan efek antiinflamasi, sedangkan pengaruhnya pada keseimbangan air dan elektrolit kecil.
2. Efek pada mineralokortikoid ialah terhadap keseimbangan air dan elektrolit,
sedangkan pengaruhnya pada penyimpanan glikogen hepar sangat kecil.
- Sediaan kortikosteroid dapat dibedakan menjadi 3 golongan berdasarkan massa kerjanya.
1. Sediaan kerja singkat mempunyai masa paruh biologis kurang dari 12 jam.
2. Sediaan kerja sedang mempunyai masa paruh biologis antara 12-36 jam.
3. Sediaan kerja lama mempunyai masa paruh biologis lebih dari 36 jam.
b. Farmakokinetik
Perubahan struktur kimia sangat mempengaruhi kecepatan absorpsi, mulai kerja dan
lama kerja karena juga mempengaruhi afinitas terhadap reseptor dan ikatan protein.
Glukokortikoid dapat di absorpsi melalui kulit, sakus konjungtiva dan ruang sinovial.
Penggunaan jangka panjang atau pada daerah kulit yang luas dapat menyebabkan efek
sistematik, antara lain supresi korteks adrenal.
c. Indikasi
Dari pengalaman klinis diajukan 6 prinsip yang harus diperhatikan sebelum obat ini digunakan :

Untuk tiap penyakit pada tiap pasien, dosis efektif harus ditetapkan dengan trial dan
error dan harus di evaluasi dari waktu ke waktu sesuai dengan perubahan penyakit.
Suatu dosis tunggal besar kortikosteroid umumnya tidak berbahaya.
Penggunaan kortikosteroid untuk beberapa hari tanpa adanya kontraindikasi
spesifik, tidak membahayakan kecuali dengan dosis sangat besar.
Bila pengobatan diperpanjang sampai 2 minggu atau lebih dari hingga dosis
melebihi dosis substisusi, insidens efek samping dan efek letal potensial akan
bertambah.
Kecuali untuk insufisiensi adrenal, penggunaan kortikosteroid bukan merupakan
terapi kausal ataupun kuratif tetapi hanya bersifat paliatif karena efek antiinflamasinya.
Penghentian pengobatan tiba-tiba pada terapi jangka panjang dengan dosis besar,
mempunyai risiko insufisiensi adrenal yang hebat dan dapat mengancam jiwa
pasien.

d. Kontraindikasi :
Sebenarnya sampai sekarang tidak ada kontraindikasi absolut kortikosteroid. Pemberian
dosis tunggal besar bila diperlukan selalu dapat dibenarkan, keadaan yang mungkin dapat
merupakan kontraindikasi relatif dapat dilupakan, terutama pada keadaan yang mengancam jiwa
pasien.
Bila obat akan diberikan untuk beberapa hari atu beberapa minggu, kontraindikasi
relatif yaitu diabetes melitustukak peptik/duodenum, infeksi berat, hipertensi atau gangguan
sistem kardiovaskular lainnya.
e. Efek samping :
- Efek samping dapat timbul karena peenghentian pemberian secara tiba-tiba atau
pemberian terus-menerus terutama dengan dosis besar.
- Pemberian kortikosteroid jangka lama yang dihentikan tiba-tiba dapat menimbulkan
insifisiensi adrenalm akut dengan gejala demam, malgia, artralgia dan malaise.
- Komplikasi yang timbul akibat pengobatan lama ialah gangguan cairan dan
elektrolit, hiperglikemia dan glikosuria, mudah mendapat infeksi terutama
tuberkulosis, pasien tukak peptik mungkin dapat mengalami pendarahan atau
perforasi, osteoporosis dll.
- Alkalosis hipokalemik jarang terjadi pada pasien dengan pengobatan derivat
kortikosteroid sintetik.
- Tukak peptik ialah komplikasi yang kadang-kadang terjadi pada pengobatan dengan
kortikosteroid. Sebab itu bila bila ada kecurigaan dianjurkan untuk melaakukan
pemeriksaan radiologik terhadap saluran cerna bagian atas sebelum obat
diberikan.

LI.7. Memahami dan menjelaskan perspektif Islam terhadap menentukan alternatif


terbaik

DAFTAR PUSTAKA

Baratawidjaja, K. G. and Rengganis, I. (2012). Imunologi Dasar. Jakarta: Badan Penerbit


Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Hal. 371-398
Dorland W.A.N. 2010.Kamus Kedokteran Dorland. Jakarta : EGC
Gunawan SG, Setiabudy R, Nafrialdi, Elysabeth. (2011). Farmakologi dan Terapi. Edisi V,
Jakarta : Departemen Farmakologi dan Terapeutik FKUI
Sudoyo, A. W., et al. (2009). Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Jakarta: InternaPublishing. Hal.
367-376
Schwaz, M. W. (2005). Pedoman Klinis Pediatri. EGC, Jakarta.
Underwood. J. C. E. Buku Ajar Patologi Umum dan Sistematik Ed. 2, Vol. 1. Jakarta : EGC