Anda di halaman 1dari 39

Hubungan HAN dengan hukum perdata

P.M. HADJON dkk


- Keikutsertaan badan atau pejabat tata negara dalam berbagai perbuatan hukum perdata, ikut
mempengaruhi hubungan hukum keperdataan yang berlangsung dimasyarakat umum.
Contoh : pejabat pemerintah mengadakan perjanjian sewa menyewa.
- Bukan tidak mungkin berbagai ketentuan publik (utamanya peraturan perundang-undangan
tata usaha negara) akan menyusup dan mempengaruhi peraturan perundang-undangan hukum
perdata.
Contoh : ketentuan tentang pengadaan barang dan jasa (PP no. 54 / 2010)
DAVID FOULKES
-

Badan-badan hukum politik dapat mengikatkan diri dalam suatu perjanjian dalam kapasitasnya
sebagai subyek hukum privat.

Tindakan pemerintah untuk mengikatkan dari dalam suatu perjanjian seringkali dibatasi oleh
peraturan perundang-undangan (HAN).

VAN WIJK
-

Badan-badan hukum pemerintahan dapat mengikatkan diri dalam perjanjian berdasarkan


hukum privat. Misalnya : sewa menyewa, pengadaan barnag inventaris, pembelian inventaris
kantor.

INDROHARTO
-

Penggunaan instrumen hukum perdata oleh pemerintah yang dilakukan melalui perjanjian,
sifatnya mengikat baik pemerintah maupun orang atau badan hukum perdata, sebagai lawan
kontraknya.

Pemerintah dengan demikian menjalankan aktifitas pemerintahan dengan kapasitas, selaku


pelaku hukum perdata dengan mengikat diri pada norma-norma hukum perdata.

FAM STROINK
-

Badan hukum publik ikut serta dalam hubungan hukum keperdataan maka dia tidak bertindak
sebagai penguasa/sebagai organisasi kekuasaan, tetapi pemerintah menggunakan hak-hak pada
kedudukan yang sama dengan rakyat di dalam hukum privat.

Badan-badan tersebut pada dasarnya tunduk pada peradilan biasa seperti halnya rakyat biasa.

PAUL SCHOLTEN
-

Dalam perjanjian antara badan pemerintah dengan pihak swasta, sepanjang hukum publik tidak
mengadakan aturan-aturan lain untuk suatu perbuatan hukum, maka hukum perdata berlaku

sebagai hukum umum (lex generalis), sedangkan hukum administrasi negara berlaku sebagai
hukum khusus (lex specialis).

Kesimpulan hubungan HAN dengan hukum perdata


1.

Negara dan badan hukum publik dapat menggunakan peraturan-peraturan hukum perdata,
seperti tentang perjanjian jual bei, sewa menyewa, tukar menukar dll.

2.

Dalam hal penguasa/pemerintah mengikatkan diri dalam perbuatan perdata maka kedudukan
pemerintah adalah sama dengan rakyat (orang/badan hukum).

3.

Dapat

diterapkan

asas

lex

specialis

derogat

lex

generalis,

yakni

hukum

khusus

mengesampingkan hukum umum. Sehingga apabila suatu peristiwa itu diselesaikan berdasarkan
aturan yang ada pada khusus administrasi negara (hukum khusus).

Kemungkinan yang merugikan kalau HAN menggunakan hukum perdata :


1.

Efektifitas pengawasan preventif dan represif maupun jalur banding administrasif adakalanya
tidak dapat ditempuh.
Keberatan --> diajukan pada pihak yang bersangkutan/institusi yang mengeluarkan.
Banding administrasi --> diajukan pada atasan pihak yang bersangkutan/institusi di atasnya.

2.

Dengan menempuh jalur perdata kemungkinan dapat menyimpang dari jaminan prosedural
atau jaminan perlindungan hukum yang diberikan oleh hukum publik.

3.

Pemerintah juga dapat menyalahgunakan posisinya sebagai penguasan yang berkuasa maupun
sebagai pemegang monopoli.

4.

Dengan membuat perjanjian yang juga berlaku untuk waktu yang lama. Berarti pemerintah
mengikat para penerusnya, tetapi ada kalanya pemerintah yang baru, mungkin tidak sependapat
dengan perjanjian tersebut, lalu kemungkinan dapat berakibat dibatalkannya secara sepihak
perjanjian yang telah dibuat.

Hubungan HAN dengan HTN :


Dari segi HISTORIS
Sebelum adab ke 19 hukum administrasi negara (HAN) masih menyatu dengan HTN, setelah
abad ke 19 HAN berdiri sendiri (revousi prancis).
Dari segi OBYEK KAJIAN

Baik HAN maupun HTN sama-sama mempelajari negara, akan tetapi untuk HAN secara khusus
mempelajari negara dalam keadaan bergerak, sedangkan HTN mempelajari negara dalam
keadaan diam.
ROMEYN
HTN menyinggung dasar-dasar dari negara (konstitusi) sedangkan HAN mengenai pelaksanaan
teknisnya (UU dan peraturan pelaksanaan).
VAN VOLLENHOVEN
Badan pemerintahan tanpa aturan hukum (HTN), negara akan lumpuh karena badan itu tidak
mempunyai wewenang apapun atau wewenangnya tidak berketentuan, sebaiknya badan
pemerintah tanpa HAN negara akan bebas sepenuhnya, karena badan itu dapat menjalankan
wewenangnya menurut kehendaknya sendiri.

Hubungan HAN dengan hukum pidana :


UTRECHT
Hubungan HAN dengan hukum pidana terlihat dari segi penegakannya.
Hukum pidana memberikan sanksi dalam penegakan hukumnya, baik atas pelanggaran kaidah
hukum privat maupun kaidah hukum publik yang yang ada, termasuk dalam HAN. Maka dalam
aturan HAN juga banyak menggunakan sanksi pidana.
ROMEYN
Hukum pidana sebagai hukum pembantu (hulprecht) bagi HAN karena penetapan sanksi pidana
merupakan salah satu sarana untuk menegakkan HAN. Yaitu berupa penjara, kurungan dan
denda.
W.F. PRINS
Hampir setiap peraturan berdasarkan hukum administrasi diakhiri dengan sejumlah ketentuan
pidana atau in cauda venenum (secara harafiah berarti ada racun di ekor/buntut).
Contoh lain dari hubungan HAN dengan hukum pidana
Dalam ketentuan yang berkaitan dengan pengadaan barang, masalah lingkungan, masalah
manajemen pemerintah (HAN) ada ketentuan sanksi pidana untuk menegakkan aturan yang
terdapat dalam pasal-pasal terakhir untuk menegakkan agar ketentuan-ketentuan itu bisa ditaati
atau dilaksanakan.

Hubungan HAN dengan hukum internasional

Pengertian dan sumber hukum internasional


Menurut : Prof. KRANENBURG
Pengertian hukum internasional adalah hukum yang diadakan untuk mengatur antar negaranegara yang berdaulat dan merdeka, salah satu sumber hukum internasional adalah traktat,
konvendi dan agreement.
Traktat, konvensi dan agreement harus dengan persetujuan DPR (maka dalam bentuk UU)
-

Untuk melaksanakan traktat, konvensi dan agreement maka harus diratifikasi dulu dengan UU
sebagaimana diamanahkan pasal 11 UUD NKRI 1945 Presiden dengan persetujuan DPR
menyatakan perang dengan negara lain dan membuat perjanjian dengan negara lain.

Setelah berbentuk UU maka kewajiban pemerintah untuk melaksanakan isi traktat, konvensi
dan agreement.

HAN adalah instrumental recht dari hukum internasional


Jadi disini fungsi HAN dalam hubungannya dengan hukum internasional adalah melaksanakan
keputusan-keputusan yang ada dalam hukum internasional maka dapat dikatakan HAN sebagai
instrumental recht (hukum pelaksana) dari hukum internasional.

HUBUNGAN ANTARA HUKUM


ADMINISTRASI NEGARA DENGAN
HUKUM TATA NEGARA
AGUSTUS 31, 2013 ZKAKANGMAS TINGGALKAN KOMENTAR

Memahami Hubungan Hukum Tata Negara dengan


Hukum Administrasi Negara
Sebelum memahami mengenai hubungan antara hukum tata negara
dengan hukum administrasi negara, perlu dipahami terlebih dahulu
konsep mengenai negara. Negara adalah suatu organisasi yang harus
memenuhi syarat-syarat sebagai berikut: 1) Memiliki wilayah, 2) Memiliki
rakyat, 3) Pemerintah yang berdaulat, dan 4) Pengakuan dari negara lain.
Tujuan dari pembentukan suatu negara pada hakikatnya adalah untuk
mencapai kesejahteraan rakyat. Namun, ada beberapa pendapat yang
berbeda mengenai tujuan negara yang dikemukakan oleh para ahli.
Menurut Plato, negara bertujuan untuk memajukan kesusilaan manusia
sebagai individu dan sebagai makhluk sosial. Pendapat berbeda

dikemukakan oleh Thomas Aquino, Agustinus, bahwa tujuan negara


adalah untuk mencapai penghidupan dan kehidupan aman dan tentram,
dibawah pimpinan Tuhan. Pimpinan negara menjalankan kekuasaannya
berdasarkan Kehendak Tuhan (Ajaran Teokrasi). Emmanuel Kant
mengemukakan bahwa negara bertujuan mengatur keamanan dan
ketertiban dalam negara (Ajaran Polisi). Hal ini senada dengan pendapat
dari Krabbe bahwa negara bertujuan menyelenggarakan ketertiban
hukum. Segala kekuasaan dan alat-alat Negara dalam menjalankan
tugasnya harus berdasarkan hukum, semua orang tanpa terkecuali harus
tunduk dan taat pada hukum, hanya hukumlah yang berkuasa dalam
Negara (Ajaran Negara Hukum). Pendapat lain yaitu Negara
Kesejahteraan (Welfare State), mengemukakan bahwa tujuan negara
adalah mewujudkan kesejahteraan umum. Negara sebagai alat untuk
tercapinya tujuan bersama yaitu kemakmuran, kebahagian dan keadilan
sosial bagi seluruh rakyat. Konsep negara kesejahteraan ini sesuai dengan
tujuan Negara Republik Indonesia yang tertuang dalam Pembukaan UUD
1945: Untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan
bangsa dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan
kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial. Negara Indonesia
merupakan negara hukum (rechtstaat), oleh karena itu, untuk
mewujudkan tujuan negara, landasan hukum menjadi dasar yang mutlak
harus dipenuhi.
Van Vallen Hoven dalam bukunya yang berjudul Omtrek van het
administratiefrecht memberikan skema tentang kerangka hukum
seluruhnya sebagai berikut (dikenal dengan residu Theori)[1] :
a. Hukum Tata Negara/Staatsrecht meliputi :
1. Pemerintah/Bestuur
2. Peradilan/Rechtopraak
3. Polisi/Politie
4. Perundang-undangan/Regeling
b. Hukum Perdata / Burgerlijk
c. Hukum Pidana/ Strafrecht
d. Hukum Administarsi Negara/ administratief recht yang meliputi :
1. Hukum Pemerintah / Bestuur recht
2. Hukum Peradilan yang meliputi :
a. Hukum Acara Pidana
b. Hukum Acara Perdata
c. Hukum Peradilan Administrasi Negara

3. Hukum Kepolisian
4. Hukum Proses Perundang-undangan / Regelaarsrecht.
Hukum yang berkaitan dengan pengaturan elemen-elemen dalam
organisasi khususnya organisasi kenegaraan yaitu hukum tata negara dan
hukum administrasi negara.
Hukum tata negara merupakan hukum yang mengatur tentang tatanan,
struktur kenegaraan, mekanisme hubungan antara struktur kenegaraan,
serta mekanisme hubungan antara struktur negara dengan warga negara.
Jadi, obyek dari hukum tata negara adalah negara. Dimana negara
dipandang dari sifat, bentuk, atau pengertiannya yang konkrit. Van
Vallenhoven menyatakan bahwa Hukum Tata Negara sebagai gabungan
peraturan-peraturan hukum yang mengadakan badan-badan kenegaraan,
yang memberi wewenang kepada badan-badan itu, yang membagi
pekerjaan pemerintah, serta memberi bagian-bagian itu pada masingmasing badan tersebut, baik badan yang tinggi maupun yang rendah.
Sedangkan menurut pakar Indonesia, Kusumadi Pudjosewojo
mengemukakan bahwa Hukum Tata Negara adalah hukum yang
mengatur bentuk negara (kesatuan atau federal), dan bentuk
pemerintahan (kerajaan atau republik), yang menunjukan masyarakat
Hukum yang atasan maupun yang bawahan, beserta tingkatantingkatannya (hierarchie), yang selanjutnya mengesahkan wilayah dan
lingkungan rakyat dari masyarakat-masyarakat hukum itu dan akhirnya
menunjukan alat-alat perlengkapan (yang memegang kekuasaan
penguasa) dari masyarakat hukum itu,beserta susunan (terdiri dari
seorang atau sejumlah orang), wewenang, tingkatan imbang dari dan
antara alat perlengkapan itu.
Berdasarkan dari definisi tersebut, maka secara implisit dapat diketahui
fungsi dari Hukum Tata Negara yaitu: 1) mengadakan badan-badan
kenegaraan, 2) memberi wewenang pada badan-badan itu, 3) membagi
pekerjaan pemerintah, 4) memberikan bagian-bagian itu kepada masingmasing badan tersebut.
Ruang lingkup Hukum Tata Negara adalah struktur umum dari negara
sebagai organisasi, yaitu: 1) Bentuk Negara (Kesatuan atau Federasi), 2)
Bentuk Pemerintahan (Kerajaan atau Republik), 3) Sistem Pemerintahan
(Presidentil, Parlementer, Monarki absolute), 4) Corak Pemerintahan
(Diktator Praktis, Nasionalis, Liberal, Demokrasi), 5) Sistem Pendelegasian
Kekuasaan Negara (Desentralisasi, meliputi jumlah, dasar, cara dan

hubungan antara pusat dan daerah), 6) Garis-garis besar tentang


organisasi pelaksana ( peradilan, pemerintahan, perundangan), 7) Wilayah
Negara ( darat, laut, udara), 8) Hubungan antara rakyat dengan Negara
( abdi Negara, hak dan kewajiban rakyat sebagai perorangan/ golongan,
cara-cara pelaksanaan hak dan menjamin hak dan sebagainya), 9) Caracara rakyat menjalankan hak-hak ketatanegaraan ( hak politik, sistem
perwakilan, Pemilihan Umum, referendum, sistem kepartaian/
penyampaian pendapat secara tertulis dan lisan), 10) Dasar Negara ( arti
Pancasila, hubungan Pancasila dengan kaidah-kaidah hukum, hubungan
Pncasila dengan cara hidup mengatur masyarakat, sosial, ekonomi,
budaya dan berbagai paham yang ada dalam masyarakat, 11) Ciri-ciri
lahir dan kepribadian Negara ( Lagu Kebangsaan, Bahsa Nasional,
Lambang, Bendera dan sebagainya ).
Setelah memahami mengenai hukum tata negara, maka selanjutnya yaitu
memahami tentang hukum administrasi negara. De La Bassecour Caan
(dalam Mustafa, 2001) mendefinisikan hukum administrasi negara bahwa
yang dimaksud Hukum Administrasi Negara ialah himpunan peraturan
tertentu yang menjadi sebab maka negara berfungsi (beraksi) mengatur
hubungan-hubungan antara tiap-tiap warga negara dengan
pemerintahannya. J.H.P. Beltefroid mengatakan Hukum Administrasi
Negara adalah keseluruhan aturan-aturan tentang cara bagaimana alatalat pemerintahan dan badan-badan kenegaraan dan majelis-majelis
pengadilan tata usaha hendak memenuhi tugasnya. Sehingga dapat
ditarik kesimpulan bahwa Hukum Administrasi Negara merupakan
himpunan peraturan yang mengatur tentang kegiatan aparat pemerintah
dan warga negara ataupun suatu badan hukum privat yang terlibat atau
sengaja dilibatkan dalam pelaksanaan Hukum Administrasi Negara.
Prajudi Atmosudirdjo mengatakan bahwa ruang lingkup Hukum
Administarsi Negara adalah : a) Hukum tentang dasar-dasar dan prinsipprinsip umum daripada Administrasi Negara, b) Hukum tentang organisasi
dari Administrasi Negara, c) Hukum tentang aktifitas-aktifitas dari
Administrasi Negara yang bersifat yuridis, d) Hukum tentang saranasarana dari Administrasi Negara terutama mengenai kepegawaian Negara
dan keuangan Negara, e) Hukum Administrasi Pemerintahan Daerah dan
wilayah yang dibagi menjadi : 1) Hukum Administrasi Kepegawaian, 2)
Hukum Administrasi Keuangan, 3) HukumAdministrasi Materiil, 4) Hukum
Administrasi Perusahaan Negara, dan f) Hukum tentang Peradilan
Administrasi setelah memahami tentang ruang lingkup HAN, maka Van

Vollenhoven membagi Hukum Administrasi Negara menjadi 4 yaitu untuk


memudahkan dalam mempelajarinya, yaitu sebagai berikut:
1)
Hukum Peraturan Perundangan (regelaarsrecht/the law of the
legislative process)
2)
Hukum Tata Pemerintahan (bestuurssrecht/ the law of government)
3)
Hukum Kepolisian (politierecht/ the law of the administration of
security)
4)
Hukum Acara Peradilan (justitierecht/ the law of the administration
of justice), yang terdiri dari:
a. Peradilan Ketatanegaraan
b. Peradilan Perdata
c. Peradilan Pidana
d. Peradilan Administrasi
Mengenai Objek dan Subjek Hukum Administrasi Negara dijelaskan bahwa
objek Hukum Administrasi Negara adalah setiap benda, baik yang bersifat
material maupun immaterial, yang bergerak maupun yang tidak bergerak,
yang ada maupun yang ada kemudian yang dapat menimbulkan
hubungan Hukum Administrasi Negara. Contoh dari obyek yang bersifat
material, bisa dilihat dan diraba, misalnya meja, TV, motor, mobil. Bersifat
immaterial, tidak bisa dilihat dan diraba, misalnya upah buruh, hak milik,
hak sewa, hak guna atas bangunan, dan lainnya. Benda tidak bergerak,
misalnya tanah, bangunan sejarah, dan seterusnya. Benda yang ada
kemudian, misalnya anak kuda yang masih ada dalam kandungan
induknya, bunga dari pinjaman, dan seterusnya. Sedangkan subjek
Hukum Administrasi Negara adalah orang atau badan pemerintah atau
pula badan hukum privat yang dapat mempunyai hak dan dapat dibebani
kewajiban dalam suatu hubungan Hukum Administrasi Negara. Misalnya,
subjek-subjek dalam UU PBB, UU No.12 Tahun 1985 adalah aparat
direktorat pajak sebagai pemungut pajak dan orang atau badan hukum
privat sebagai wajib pajak, sedangkan tanah dan bangunan sebagai objek
pajak.
Setelah memahami definisi, ruang lingkup, dan fungsi dari Hukum Tata
Negara (HTN) dan Hukum Administrasi Negara (HAN), maka dapat
diidentifikasi mengenai hubungan antara kedua hukum tersebut.
Golongan pertama, yang membedakan hakekat Hukum Administrasi
Negara
dengan Hukum Tata Negara. Pada umumnya adalah para sarjana hukum
di

Perancis, Inggris, Amerika Serikat dan negara-negara sosialis.


Golongan kedua, berpendapat bahwa tidak terdapat perbedaan hakiki
antara Hukum Administrasi Negara dengan Hukum Tata Negara. Golongan
ini banyak terdapat di negeri Belanda dan tersebar pula di negara kita.
Menurut Prof. Prajudi Atmosudirdjo, antara Hukum Administrasi Negara
dengan Hukum Tata Negara, tidak terdapat perbedaan prinsipiil yuridis.
HTN adalah hukum yang mengatur keseluruhan aspek konstitusi negara,
sedangkan HAN ialah hukum yang mengatur satu aspek dari konstitusi
negara, yaitu aspek administrasi negara. Hubungan antara HTN dengan
HAN adalah mirip seperti hubungan antara Hukum Perdata Umum dengan
Hukum Dagang, sehingga berlaku Lex Specialis Derogat Lex Generalis.
Asas-asas yang berlaku dalam HTN yang berkaitan dengan Administrasi
Negara, berlaku pula bagi HAN.
Di samping itu, untuk mengidentifikasi hubungan antara kedua hukum,
maka terlebih dahulu perlu diketahui sistematika ilmu pengetahuan
hukum. Setelah abad ke-19, masyarakat semakin tumbuh dan
berkembang dengan pesat menjadi masyarakatyang kompleks karena
adanya perubahan dalam cara berfikir dan cara hidup individu, tiap
perubahan cara hidup individu menimbulkan kebutuhan baru dan tiap
kebutuhan baru membutuhkan penyelesaian baru yang berimbas pada
kebutuhan akan kaidah-kaidah hukum baru pula. Hal ini mengakibatkan
adanya perubahan dalam sistemik ilmu pengetahuan hukum, yaitu
sistematika hukum sebelum dan setelah abad ke-19, sistemik ilmu
pengetahuan hukum mengalami perubahan sebagai berikut[2]:
Hukum secara keseluruhan terdiri atas (sebelum abad ke-19):
1. Hukum Publik, terdiri dari:
a. HTN dalam arti luas, yaitu:
1)
HTN dalam arti sempit
2)
HAN
b. Hukum Pidana
2. Hukum Privat, terdiri dari:
a. Hukum Perdata
b. Hukum Dagang, Hukum bisnis
Hukum secara keseluruhan terdiri atas (sesudah abad ke-19):
1. Hukum Publik, terdiri dari:
a.
HTN
b.
HTUN, HAN
c.
Hukum Pidana

2.
a.
b.

Hukum Privat, terdiri dari:


Hukum Perdata
Hukum dagang, Hukum bisnis

Berdasarkan sistematika tersebut, maka kedudukan HAN dengan HTN


adalah sejajar yaitu berada dalam rumpun hukum publik. Sehingga antara
HAN dengan HTN memiliki hubungan atau keterkaitan satu sama lain, baik
dalam segi definisi, fungsi, dan ruang lingkup. Oppenheim (dalam
Mustafa, 2001) mengemukakan teori mengenai hubungan tugas Hukum
Tata Negara dengan Hukum Administrasi negara, yang dilukiskannya
bahwa Hukum Tata Negara menggambarkan negara dalam keadaan tidak
bergerak (staats in rust), sedangkan Hukum Administrasi Negara
menggambarkan negara dalam keadaan bergerak (staats in beweging).
Sehingga menurut Van vollehhoven, dapat diartikan bahwa Hukum
Administrasi Negara merupakan verlengstuk atau
perpanjangan/kelanjutan dari Hukum Tata Negara. Hukum Tata Negara
mempelajari: susunan dari jabatan-jabatan, penunjukan mengenai
jabatan-jabatan, tugas dan kewajiban yang melekat pada jabatan itu,
serta kekuasaan dan kewenangan yang melekat pada jabatan. Sedangkan
Hukum Administrasi Negara mempelajari: bagaimana mengisi jabatan
dalam organisasi tersebut, bagaimana berlangsungnya pelaksanaan tugas
dari jabatan tersebut, dan bagaimana pemberian pelayanan dari
pemerintah kepada masyarakat.
Mengenai hubungan fungsi antara Hukum Administrasi Negara dengan
Hukum Tata Negara, Bachsan Mustafa, S.H menyatakan bahwa fungsi HTN
dan fungsi HAN, yaitu fungsi HTN adalah Fungsi Politik, menetapkan fungsi
yang yang ditetapkannya dalam peraturan-peraturan Hukum Tata Negara,
yaitu dalam peraturan-peraturan UUD yang menetapkan fungsi kepada
badan kenegaraan di pemerintah pusat, dan undang-undang, yang
menetapkan fungsi kepada badan-badan pemerintah daerah. Sehingga
dari sudut pandang fungsi, Hukum Administrasi negara adalah Fungsi
Teknik. Contoh untuk memahami hubungan HTN dengan HAN yaitu
Peraturan pemerintah no. 24 tahun 1997 tentang pendaftaran tanah,
merupakan pertauran teknis yang melaksanakan Undang-Undang Pokok
Agraria No. 5 tahun 1960 pasal 19 tentang pendaftaran tanah.

Van Volen Hoven pernah mengemukakan bahwa negara layaknya


Burung, yang akan terbang bebas. Dalam suatu negara jika tidak ada

hukum yang membatasinya, maka bisa saja negara itu jua akan terbang
bebas, semaunya. Diperlukan hukum administrasi negara untuk membatasi
kebebasan negara itu dalam bertindak. Keberadaan hukum administrasi
negara dianggap dapat membatasi kewenangan dari lembaga yang
menjalankan ketatanegaraan ini, agar tak sewenang-wenang dalam
bertindak di lapangan pemerintahan.
Perbedaan penamaan terhadap hukum administrasi negara. Ada yang
menyebutnya dengan nama HAN, Hukum Tata pemerintahan, Hukum Tata
Usaha Pemerintahan, Hukum Tata Usaha Negara, Hukum Administrasi
Negara Indonesia, dan Hukum administrasi. Menarik, apa yang
dikemukakan Hadjon (1995: 6) dan memang tampak logis, bahwa dalam
kata administrasi telah mengandung konotasi negara/ pemerintahan.
Maka tidak perlu menggunakan lagi term negara dalam hukum
admnistrasi negara
Akan tetapi, mengapa tetap banyak digunakan term Hukum Administrasi
Negara. Hal itu didasarkan pada konsorsium di Cibulan (26-28 Maret
1973), dengan alasan bahwa hukum administrasi negara adalah istilah
yang luas pengertiannya, sebagai salah satu cabang dari ilmu hukum
dalam perkembangan dan kemajuaanya di masa mendatang.
Di abad pertengahan, hukum administrasi diartikan sebagai aturan hukum
yang harus diperhatikan oleh perlengkapan negara di dalam menjalankan
pekerjaan (tugasnya). Semakin kompleksnya fungsi pemerintahan
kemudian berkembang, hukum administrasi diartika juga sebagai,
bagaimana negara menjalankan fungsinya. Sehingga tepatlah defenisi
yang diberikan oleh de La Basseccour Caan (Muchsan, 1981: 10) hukum
administrasi negara adalah himpunan peraturan-peraturan tertentu yang
menjadi sebab negara berfungsi (beraksi). Maka peraturan-peraturan itu
mengatur hubungan antara tiap-tiap warga negara dengan pemerintahnya.

Hukum adminitrasi negara kemudian nampak keberlakuannya ketika


negara itu berfungsi, atau dalam bahasa yang populer dari Logeman dan
Van Vollenhoven, hukum administrasi negara menggambarkan negara
dalam keadaan bergerak (staat in beweging). Ketika negara itu diartikan
dalam keadaan bergerak. Berarti hukum administrasi tersebut sebagai
hukum mengenai hubungan antara jabatan-jabatan satu dengan lainnya,
serta hukum antara jabatan-jabatan negara itu dengan para warga
masyarakat.
Keberadaan hukum adminitrasi negara, kemudian menunjukan sebagai
akses dari penerapan prinsip negara hukum(rechtstaat). Negara yang
digerakkan oleh roda mesin pemerintahan untuk mengontrol kekuasaannya
dari kesewenang-wenangan (willekeur), maka hukum adminitrasi negara
sebagai instrumen untuk mengontrol lembaga negara sebagai lembaga
yang menjalankan mesiin pemerintahan (kekuasan dalam
lapangan eksekutif).
Salah satu pengertian hukum administrasi negara, hemat penulis, yang
dapat menjadi pegangan dalam menganalisi beberapa masalah
administrasi negara sebagai lapangan keilmuan. Walaupun defenisi ini,
kelihatan abstrak dan filsufis adalah hukum admnistrasi negara yang
didefenisikan oleh Willy Vool. Sekaligus defenisi ini dapat menjadi unsurunsur hukum administrasi negara. Menurut Willy Vool (catatan kuliah Prof
Abd. Razak), hukum administrasi negara adalah segenap hukum yang ada
(maupun yang akan ada) dalam rangka perwujudan realisasi kebijakan
pemerintah menyangkut wewenang (W3) admninistrasi negara dalam
kurung waktu dan tempat tertentu yang berhubungan dengan fungsi (F1)
dan tujuan negara. Atau untuk memahami hukum administrasi negara
dapat juga diamati melalui skema lapangan pemerintahan (besttur) yang
ditawarkan oleh Hadjon (1995). Kata kunci pokok, dari skema itu adalah
lapangan pemerintah merupakan kekuasaan negara dikurangi dengan
semua kegiatan pembentukan peraturan (regelgeving) dan kegiatan
peradilan (rechtspraak).

A. Negara Hukum: Dasar Teoritis Hukum Administrasi Negara 1. Sekilas tentang


Negara Hukum Pemikiran atau konsepsi manusia tentang negara hukum lahir
dan berkembang dalam situasi kesejarahan. Oleh karena itu, meskipun konsep
negara hukum dianggap sebagai konsep universal, pada dataran implementasi
ternyata memiliki karakteristik beragam. Hal ini dikarenakan adanya pengaruhpengaruh situasi kesejarahan tadi, di samping pengaruh falsafah bangsa,
ideology negara, dan lainlain. Menurut Aristoteles, suatu negara yang baik ialah
negara yang diperintah dengan konstitusi dan berkedaulatan hukum. Ada tiga
unsure dari pemerintahan yang berkonstitusi yaitu : 1. Pemerintahan
dilaksanakan untuk kepentingan umum. 2. Pemerintahan dilaksanakan menurut
hukum yang berdasarkan pada Translate Widget Animasi Catatan (37) Data (5)
Ebook. (1) Internet Adm Negara (1) Lainlain (6) Makalah (14) Resume (9) Labels
Mei (1) November (55) Lihat Arsip Disini Administrasi Publik Blog Penulis Terbaik
Dunia :D Forum Aktif Menulis Indonesia Blog Anak Hubungan Internasional :D
BlogBlog Keren Sedunia Pemilik Blog Like FB Berbagi Pengetahuan Telusuri
Facebook Unduh dari 4shared Ebook tampilan bagus
AgamadlmpolitikAmerika.rar AgarSiapaSajaMauMelakukanApaSajaUntukAn
AuthenticHappiness.zip BabyBook.rar CarryMeDown.zip ChangeYourMindset.zip
DeathDuJour.rar Edensor.zip HidupmuAdalahSirkusmu.zip Download Ebook
Gratiss!!! Get this widget! LorieSmith best... okta copy artikel ini? okta copy
artikel ini? faiz faiz faiz Rahman regertanzilman@gmail.com Rahman
regertanzilman@gmail.com errol [Upgrade Cbox] name message > 3/10/2016
Resume Negara Hukum dan HANRidwan HR http://mahasiswaadm.blogspot.co.id/2012/11/resumenegarahukumridwanhr.html 2/7 ketentuanketentuan umum, bukan hukum yang dibuat secara sewenangwenang yang
menyampingkan konvensi dan konstitusi. 3. Pemerintahan berkonstitusi berarti
pemerintah yang dilaksanakan atas kehendak rakyat, bukan berupa paksaantekanan yang dilaksanakan pemerintahan despotic. Dalam kaitannya dengan
konstitusi, Aristoteles mengatakan bahwa konstitusi merupakan penyusunan
jabatan dengan badan pemerintahan dan apa akhir dari setiap masyarakat.
Konstitusi juga merupakan aturanaturan dan penguasa harus mengatur negara
menurut aturanaturan tersebut. Dalam perkembangannya konsepsi negara
hukum tersebut kemudian mengalami penyempurnaan, yang secara umum
dapat dilihat di antaranya : Sistem pemerintahan negara yang didasarkan atas
kedaulatan rakyat. Bahwa pemerintah dalam melaksanakan tugas dan
kewajibannya harus berdasarkan atas hukum atau peraturan perundangundangan. Adanya jaminan terhadap hakhak asasi manusia (warga negara).
Adanya pembagian kekuasaan dalam negara. Adanya pengawasan dari badanbadan peradilan yang bebas dan mandiri, dalam arti lembaga peradilan tersebut
benarbenar tidak memihak dan tidak berada di bawah pengaruh eksekutif.
Adanya peran yang nyata dari anggotaanggota masyarakat atau warga negara
untuk turut serta mengawasi perbuatan dan pelaksanaan kebijaksanaan yang
dilakukan oleh pemerintah. Adanya sistem perekonomian yang dapat menjamin
pembagian yang merata sumber daya yang diperlukan bagi kemakmuran rakyat.
Esensi dari negara berkonstitusi adalah perlindungan terhadap hakhak asasi
manusia. Negara dan konstitusi merupakan dua lembaga yang tidak dapat
dipisahkan satu dengan yang lain. Negara hukum identik dengan negara
berkonstitusi atau negara yang menjadikan konstitusi sebagai aturan main
kehidupan kenegaraan, pemerintahan, dan kemasyarakatan. 2. Negara Hukum
Demokratis Terdapat kolerasi yang jelas antara negara hukum, yang bertumpu

pada konstitusi dan peraturan perundangundangan, dengan kedaulatan rakyat,


yang dijalankan melalui sistem demokrasi. Dalam sistem demokrasi,
penyelenggaraan negara itu harus bertumpu pada partisipasi dan kepentingan
rakyat. Hubungan antara negara hukum dan demokrasi tidak dapat dipisahkan.
Demokrasi tanpa pengetahuan hukum akan kehilangan bentuk dan arah,
sedangkan hukum tanpa demokrasi akan kehilangan makna. Demokrasi
merupakan cara paling aman untuk mempertahankan kontrol atas negara
hukum. Dengan demikian, negara hukum yang bertopang pada sistem
demokrasi, sebagai perkembangan lebih lanjut dari demokrasi konstitusional.
J.B.J.M. ten Berger menyebutkan prinsipprinsip negara hukum dan prinsipprinsip
negara demokrasi tersebut adalah sebagai berikut : a. Prinsipprinsip negara
hukum 1) Asas legalitas. 2) Perlindungan hakhak asasi. 3) Pemerintah terikat
pada hukum. 4) Monopoli paksaan pemerintah untuk menjadi penegak hukum. 5)
Pengawasan oleh hakim yang merdeka. b. Prinsipprinsip negara demokrasi 1)
Perwakilan politik. 2) Pertanggung jawaban politik. 3) Pemencaran kewenangan.
4) Pengawasan dan kontrol. 5) Kejujuran dan keterbukaan pemerintah untuk
umum. Unduh dari 4shared Islam 1001KISAHTELADAN.zip 17kisahpenuhhikmah.zip 22tokohotodidaksejatiyangmengubahdunia BadwiMahmudalSyaikh100PesanNabiuntukWa Fiqh Sunnah.pdf Fiqh Zakat.pdf MenghapalAlQuranYusufQardhawi.zip MisteriRamadhan.zip
RuntuhnyaTeoriEvolusiHarunYahya.zip Unduh dari 4shared Ebook Harun Yahya
atlas_penciptaan_v1.zip cara_cepat_meraih_keimanan.zip cerdas_2.zip
desaindialam.zip dunia_semut.zip hakikat_di_balik_materi.zip
hari_akhir_dan_al_mahdi.zip keajaiban_flora_dan_fauna.zip keajaiban_hormon.zip
Unduh dari 4shared Politik ATLANTISJejakSejarahPengetahuanManusia.pdf
CriticalAnalysisPapers.pdf SelamatkanIndonesia_byAmienRais.pdf SuratSuratBungKarno.pdf apakahhubunganG30SPKIdenganmitosPanger berpikir
benar.pdf corruption.pdf critical analysis .pdf ebookkumpulanfaktaunik.pdf Join
this site with Google Friend Connect Members (16) Already a member? Sign in
KitaKita 3/10/2016 Resume Negara Hukum dan HANRidwan HR http://mahasiswaadm.blogspot.co.id/2012/11/resumenegarahukumridwanhr.html 3/7 6) Rakyat
diberi kemungkinan untuk mengajukan keberatan. 3. Tugastugas Pemerintah
dalam Negara Hukum Modern (Welvaartsstaat) Kekuasaan negara perlu
dipencarkan dan dipisahkan dalam berbagai lembaga negara sehingga terjadi
saling kontrol (cheek and balances). John Locke yang dianggap pertama kali
mengintroduksi ajaran pemisahan kekuasaan negara, dan membaginya menjadi
tiga, yaitu : 1) Kekuasaan legislatif (membuat undangundang). 2) Kekuasaan
eksekutif (melaksanakan undangundang). 3) Kekuasaan federatif (keamanan dan
hubungan luar negeri). Dalam suatu negara ada tiga organ dan fungsi utama
pemerintahan yaitu legislatif, eksekutif, dan yudisial. Masingmasing organ ini
harus dipisahkan karena memusatkan lebih dari satu fungsi pada satu orang
atau organ pemerintahan merupakan ancaman kebebasan individu. Meskipun
dalam perkembangannya ajaran pemisahan kekuasaan ini mendapat berbagai
modifikasi terutama melalui ajaran pembagian kekuasaan, yang menekankan
pentingnya pembagian fungsi bukan pentingnya hubungan saling mengawasi
dan mengendalikan antar berbagai lembaga negara, esensi bahwa kekuasaan
negara itu harus dibagi atau dipisah masih tetap relevan hingga kini. Seiring
denga perkembangan kenegaraan dan pemerintahan, ajaran negara hukum yang
kini dianut oleh negaranegaradi dunia khususnya setelah perang dunia kedua
adalah negara kesejahteraan (walfare state). Konsep ini muncul sebagai reaksi

atas kegagalan konsep legal state atau negara penjaga malam


(nechtwachtersstaat). Kegagalan implementasi negara penjaga malam tersebut
kemudian muncul gagasan yang menempatkan pemerintah sebagai pihak yang
bertanggung jawab atas kesejahteraan rakyatnya. Dengan kata lain, negara
kesejahteraan merupakan merupakan bentuk konkret dari peralihan prinsip
keikut campuran negara dalam kehidupan ekonomi mastarakat, yang membatasi
peran negara dan pemerintah untuk mencampuri kehidupan ekonomi dan sosial
masyarakat, menjadi yang menghendaki negara dan pemrintah terlibat aktif
dalam kehidupan ekonomi dan sosial masyarakat, sebagai langkah untuk
mewujudkan kesejahteraan umum, di samping menjaga ketertiban dan
keamanan. Administrasi negara diserahi kewajiban untuk menyelenggarakan
kesejahteraan umum. Deberinya tugas kesejahteraan umum itu membawa suatu
konsekuensi yang khusus bagi administrasi negara. Agar dapat menjalankan
tugas menyelenggarakan kesejahteraan rakyat, menyelenggarakan pengajaran
bagi seluruh warga negara, dan sebagainya secara baik, maka administrasi
negara memerlukan kemerdekaan untuk dapat bertindak atas inisiatif sendiri,
terutama dalam penyelesaian soalsoal genting yang timbul dengan tidak teratur
dan yang peraturan penyelenggaraannya belum ada yaitu dibuat oleh badanbadan kenegaraan yang diserahi fungsi legislatif. Administrasi negara memiliki
kewenangan yang luas untuk melakukan berbagai tindakan hukum dalam rangka
melayani kepentingan masyarakat atau mewujudkan kesejahteraan umum, dan
untuk melakukan tindakan itu diperlukan instrument hukum. Artinya, bersamaan
dengan pemberian kewenangan yang luas untuk bertindak diberikan pula
kewenangan untuk membuat instrument hukumnya. Penyelenggaraan tugastugas pemerintahan berkaitan pula dengan bentuk negara tertentu. Dalam
negara yang kesatuan, ada dua kemungkinan penyelenggaraan tugastugas
pemerintahan, yaitu : 1. Sentralisasi : Seluruh bidang pemerintahan
diselenggarakan oleh pemerintah pusat. 2. Desentralisasi yaitu :
Penyelenggaraan tugas pemerintahan tidak hanya dijalankan oleh pemerintah
pusat, tetapi juga oleh satuan pemerintahan daerah, yang Pengunjung 3/10/2016
Resume Negara Hukum dan HANRidwan HR http://mahasiswaadm.blogspot.co.id/2012/11/resumenegarahukumridwanhr.html 4/7 umumnya
bertumpu pada prinsip ekonomi, yaitu kebebasan dan kemandirian daerah
otonom untuk mengatur dan mengurus urusan rumah tangga daerah. 4. Negara
Hukum dan Hukum Administrasi Negara Negara hukum (rechtsstaat) secara
sederhana adalah negara yang menempatkan hukum sebagai dasar kekuatan
negara dan penyelenggaraan kekuasaan tersebut dalam segala bentuknya
dilakukan di bawah kekuasaan hukum. Dalam negara hukum, segala sesuatu
harus dilakukan menurut hukum. Negara hukum menentukan bahwa pemerintah
harus tunduk pada hukum, bukannya hukum yang harus tuntuk kepada
pemerintah. Sasaran dari negara hukum adalah terciptanya kegiatan
kenegaraan, pemerintahan, dan kemasyarakatan yang bertumpu pada keadilan,
kedamaian, dan kemanfaatan atau kebermaknaan. Dalam negara hukum,
eksistensi hukum dijadikan instrumen dalam menata kehidupan kenegaraan,
pemerintahan, dan kemasyarakatan. Menurut J.B.J.M. ten Berger, hukum
administrasi negara sebagai fenomena yang relatif baru. Hukum administrasi
negara berkaitan erat dengan kekuasaan dan kegiatan penguasa. Keadaan
hukum administrasi negara itu muncul karena adanya penyelenggaraan
kekuasaan negara dan pemerintah dalam suatu negara hukum, yang menuntut
dan menghendaki penyelenggaraan tugastugas kenegaraan, pemerintahan, dan

kemasyarakatan yng berlanfaskan hukum. Hukum administrasi negara itu


berbedabeda antara suatu negara dengan lainnya, yang disebabkan oleh
perbedaan persoalan kemasyarakatan dan pemerintahan yang dihadapi
penguasa, perbedaan sistem politik, perbedaan bentuk negara dan bentuk
pemerintahan, perbedaan hukum tata negara yang menjadi sandaran hukum
administrasi, dan sebagainya. B. Pengertian dan Ruang Lingkup Hukum
Administrasi Negara 1. Peristilahan Secara teoritis, hukum administrasi negara
merupakan fenomena kenegaraan dan pemeritnahan yang keberadaannya setua
dengan konsepsi negara hukum atau muncul bersamaan dengan
diselengarakannya kekuasaan negara dan pemerintahan berdasarkan hukum
tertentu. Di negeri Belanda ada dua istilah mengenai hukum ini yaitu : 1.
Bestuursrecht. 2. Administratief recht. Hukum administrasi negara lebih luas
daripada istilahistilah lainnya karena dalam istilah administrasi negara mencakup
tata usaha negara. Hukum administrasi negara lebih luas dari hukum tata
negara, karena tata usaha negara itu merupakan bagian dari administrasi
negara. a. Administrasi Negara Kata administrasi negara berasal dari bahasa
Latin yaitu administrare yang berarti to manage. Administrasi negara adalah
keseluruhan aparatur pemerintah yang melakukan berbagai aktivitas atau tugastugas negara selain tugas pembuatan undangundang dan pengadilan. b.
Pemerintah atau Pemerintahan Pemerintah dalam arti sempit adalah organ atau
alat perlengkapan negara yang diserahi tugas pemerintahan atau melaksanakan
undangundang. Dalam arti luas, pemerintahan adalah kegiatan yang mencakup
semua badan yang menyelenggarakan semua kekuasaan di dalam negara baik
eksekutif, maupun legislatif dan yudikatif. Fungsi pemerintahan itu dapat
ditentukan dengan menempatkannya dalma hubungan denga fungsi perundangundangan dan peradilan. 2. Pengertian Hukum Administrasi Negara Menurut
Utrecht menyebutkan bahwa hukum administrasi negara adalah hukum yang
mengatur sebagian lapangan pekerjaan administrasi negara. Hukum administrasi
negara terkandung dua aspek, yaitu : 1) Aturanaturan hukum yang mengatur
dengan cara bagaimana alatalat perlengkapan negara itu melakukan tugasnya.
3/10/2016 Resume Negara Hukum dan HANRidwan HR http://mahasiswaadm.blogspot.co.id/2012/11/resumenegarahukumridwanhr.html 5/7 2) Aturanaturan hukum yang mengatur hubungan hukum antara perlengkapan
administrasi negara atau pemeritnah denga para warga negaranya. Simpulannya
bahwa hukum administrasi negara adalah hukum dan peraturanperaturan yang
berkenaan dengan pemerintah dalam arti sempit atau administrasi negara,
peraturanperaturan tersebut dibentuk oleh lembaga legislative untuk mengatur
tindakan pemerintah dalam hubungannya dengan warga negara, dan sebagian
peraturanperaturan itu dibentuk pula oleh administrasi negara. 3. Ruang Lingkup
Hukum Administrasi Negara Kekuasaan pemerintahan menjadi objek kajian
hukum administrasi negara. Hukum administrasi negara berkaitan dengan
tindakan pemerintah yang tidak semuanya dapat ditentukan secara tertulis
dalam peraturan perundangundangan seiring dengan perkembangan
kemasyarakatan yang memerlukan pelayanan pemerintah dan masingmasing
masyarakat di suatu daerah atau negara berbeda tuntutan dan kebutuhan.
Pembuatan peraturanperaturan, keputusankeputusan, dan instrument yuridis
bidang administrasi lainnya yang hanya terletak pada satu tangan atau lembaga.
Hukum administrasi negara berkembang sejalan dengan perkembangan tugastugas pemerintahan dan kemasyarakatan, yang menyebabkan pertumbuhan
bidang hukum administrasi negara tertentu berjalan secara sektoral. Hukum

administrasi negara mencakup halhal di antaranya : a. Saranasarana bagi


penguasa untuk mengatur, menyeimbangkan, dan mengendalikan berbagai
kepentingan masyarakat. b. Mengatur caracara partisipasi warga masyarakat
dalam proses penyusunan dan pengendalian tersebut, termasuk proses
penentuan kebijaksanaan. c. Perlindungan hukum bagi warga masyarakat. d.
Menyusun dasardasar bagi pelaksana pemerintahan yang baik. C. Hubungan
Hukum Tata Negara dengan Hukum Administrasi Negara Hukum tata negara dan
hukum administrasi negara memiliki keterkaitan yang erat. Keterkaitan antar
kedua hukum ini antara lain dapat disimak melalui katakata ini, Badan
pemerintah tanpa aturan hukum negara akan lumpuh, karena badan ini tidak
mempunyai wewenang apa pun atau wewenangnya tidak berketentuan, dan
badan pemerintah tanpa hukum administrasi negara akan bebas sepenuhnya
karena badan ini dapat menjalankan wewenangnya menurut kehendaknya
sendiri. D. Sumbersumber Hukum Administrasi Negara 1. Pengertian Sumber
Hukum Sumber hukum adalah segala sesuatu yang dapat menimbulkan aturan
hukum serta tempat ditemukannya aturanaturan hukum. 2. Macammacam
Sumber Hukum a. Sumber hukum materiil Sumber hukum materil adalah faktorfaktor masyarakat yang mempengaruhi pembentukan hukum (pengaruh
terhadap pembuat undangundang, pengaruh terhadap keputusan hakim, dan
sebagainya), atau faktorfaktor yang ikut mempengaruhi materi (isi) dari aturanatura hukum, atau tempat dari mana materi hukum itu diambil. Sumber hukum
materil merupakan faktor yang membantu pembentukan hukum. Sumber huhuk
materiil terdiri dari tiga jenis, sebagai berikut : 1) Sumber hukum historis Sumber
hukum historis meliputi undangundang, putusanputusan hakim, tulisantulisan
ahli hukum, juga tulisantulisan yang tidak bersifat yuridis sepanjang memuat
pemberitahuan mengenai lembagalembaga hukum. 2) Sumber hukum sosiologis
Artinya hukum ini peraturan hukum tertentu mencerminkan kenyataan yang
hidup dalam masyarakat. 3/10/2016 Resume Negara Hukum dan HANRidwan HR
http://mahasiswaadm.blogspot.co.id/2012/11/resumenegarahukumridwanhr.html
6/7 Diposkan oleh Qaid Minangkabawi di 09.16 Label: Catatan, Resume 3)
Sumber hukum filosofis Hukum ini memliki dua arti. Yang pertama, sebagai
sumber untuk menaati kewajiban terhadap hukum. Yang kedua, sebagai sumber
untuk kekuatan mengikat dari hukum, untuk menjawab pertanyaan, mengapa
kita harus mematuhi hukum. b. Sumber hukum formal Sumber hukum formal
yaitu berbagai bentuk atau hukum yang ada. Sumber hukum formal juga
diartikan sebagai tempat atau sumber dari mana suatu peraturan memperoleh
kekuatan hukum. Sumber hukum administrasi negara dalam sumber hukum
formal ini terdiri dari peraturan perundangundangan, praktik administrasi negara
atau hukum tidak tertulis, yurisprudensi dan doktrin. Pembahasan untuk bagian
hukum formal dalam administrasi negara adalah sebagai berikut : 1) Peraturan
Perundangundangan Peraturan perundangundangan adalah semua peraturan
yang bersifat mengikat secara umum yang dikeluarkan oleh Badan Perwakilan
Rakyat bersama Pemerintah baik di tingkat pusat mupun di tingkat daerah,
secara semua Keputusan Badan atau Pejabat Tata Usaha Negara, baik di tingkat
pusat maupun di tingkat daerah yang juga mengikat umum. 2) Praktik Admistrasi
Negara atau Hukum Tidak Tertulis Administrasi negara dapat mengambil
tindakantindakan yang dianggap penting dalam rangka pelayanan kepada
masyarakat, meskipun belum ada aturannya dalam undangundang. Tindakantindakan yang dilakukan oleh administrasi negara ini akan melahirkan hukum
tidak tertulis atau konvensi jika dilakukan secara teratur dan tanpa keberatan

atau banding dari warga masyarakat. 3) Yurisprudensi Yurisprudensi berasal dari


bahasa Latin jurisprudential yang berarti pengaetahuan hukum. Dalam
pengertian teknis, yurisprudensi dimaksudkan sebagai putusan badan peradilan
(hakim) yang diikuti secara berulangulang dalam kasus yang sama oleh para
hakim lainnya sehingga karenanya dapat disebut pula sebagai hukum ciptaan
hakim atau peradilan. Keberadaan yurisprudensi dalam hukum administrasi
negara jauh lebih banyak dibangdingkan dengan hukum yang lain, sehubungan
dengan dianutnya asas hakim aktif dan ajaran pembuktian bebas dalam hukum
acara peradilan administrasi negara, sehingga yurisprudensi akan menempati
posisi penting dalam melengkapi dan memperkaya hukum administrasi negara.
4) Doktrin Doktrin adalah hukum atau pendapat para pakar hukum yang
berpengaruh. Sifat doktrin ini tidak mengikat dan hanya menjadi sumber
inspirasi bagi pembentuk undangundang dan putusan para hakim, maka tidaklah
keliru jika dikatakan bahwa doktrin ini hanya sebagai sumber tambahan. SF.
Marbun dan Moh. Mahfud mengatakan bahwa doktrin atau pendapat para ahli
dapat menjadi sumber hukum formal administrasi negara sebab pendapat para
ahli itu dapat melahirkan teoriteori dalam lapangan hukum administrasi negara
yang kemudian dapat mendorong timbulnya kaidahkaidah hukum administrasi
negara. Judul: Resume Negara Hukum dan HANRidwan HR Ditulis oleh Qaid
Minangkabawi Rating Blog: 5

Negara hukum dan hukum administrasi negara


A. negara hukum; dasar teoritik hukum administrasi negara
1. sekilas tentang negara hukum
pemikiran atau konsepsi manusia merupakan anak zaman yang lahir dan
berkembang dalam situasi kesejarahan dengan berbagai pengaruhnya. Pemikiran
atau konsepsi manusia tentang negara hukum juga lahir dan berkembang dalam
situasi keserahan. Oleh karena itu, meskipun konsep negara hukum di pandang
sebagai konsep universal, tetapi pada dataran implementasi pengertiannya memiliki
pengertian yang beragam.
Konsep negara hukum muncul beragam model. Negara hukum menurut alquran dan As-sunah atau negara islam, negara hukum menurut eropa continental
yang dinamakan rechtstaat, negara hukum menurut hukum menurut Anglo saxon
(rule of law), konsep socialist legality dan konsep negara hukum pancasila.
Secara emrionik, gagasan negara hukum telah dikemukakan oleh Plato,
ketika Ia menulis nomoi, sebagai karya tulis ketiga yang dibuat di usia tuanya,
sementara dalam tulisan pertamanya, politeai danpoliticos, belum muncul istilah
negara hukum.
Gagasan Plato tentang negara hukum ini semakin dipertegas oleh muridnya
Aristoteles, yang menuliskan dalam bukunya politica. Menurut Aristoteles suatu
negara yang baik adalah yang diperintah dengan konstitusi dan berkedaulatan
hukum menurutnya ada tiga unsur pemerintahan yang berkonstitusi;pertama,
pemerintahan yang dilaksanakan untuk kepentingan umum, kedua pemeritahan

a.
b.
c.
d.

a.

b.
c.

dilaksanakan dengan hukum yang berdasarkan ketentuan umum, bukan hukum


yang dibuat sewenang-wenang yang menyampingkan konvensi dan
konstitusi; ketiga pemeritahan berkonstitusi berarti pemeritahan yang dilaksanakan
atas kehendak rakyat, bukan berupa paksaan tekanan yang dilaksanakan
pemerintahan despotik.
Gagasan negara hukumtersebut masih bersifat samar-samar dan tengelam
dalam waktu yang sangat panjang kemudian muncul kembali secara lebih eksplisit
pada abad ke-19, yaitu dengan munculnya konsep rechstaat dari Friedrich Julius
stahl, yang diilhami oleh pemikiran Imanuel kant. Menurut Sthal, unsur-unsur negara
hukum (rechstaat) adalah sebagai berikut:
perlindungan hak asasi manusia;
pemisahan atau pembagian kekuasaan untuk menjamin hak-hak itu;
pemerintahan berdasarkan undang-undang;
peradilan adminstrasi dalam perselisihan.
Pada wilayah Anglo saxon muncul pula konsep negara hukum (rule of law) dari A.V.
Dicey dengan unsur-unsur sebagai berikut:
supremasi aturan-aturan hukum (supremacy of the law); tidak adanya kekuasaan
sewenang-wenang (absence of arbitrary power) dalam arti bahwa seorang hanya
boleh dihukum kalau melanggar hukum;
kedudukan yang sama dalam mengahadapi hukum (equality before law). Dalil ini
berlaku baik untuk orang biasa maupun untuk pejabat;
terjaminya hak-hak manusia oleh undang-undang serta keputusan-keputusan
pengadilan.
Philifus M hadjon mengemukakan sebagai berikut;
konsep rechstaat bertumpu pada system hukum continental yang disebut
civil law atau modern roman law, sedangkan konsep rule of law bertumpu pada
system negara hukum yang disebut karakteristik common law karakteristik civil law
adalah administrative sedangkan karakteristik civil law adalah judicial.

a.
b.
c.
d.
e.

Dalam perkembangan konsepsi negara hukum tersebut kemudian mengalami


penyempurnaan, yang secara umum dapat dilihat unsur-unsurnya sebagai berikut.
System pemerintahan negara berdasarkan atas kedaulatan rakyat.
Bahwa pemerintah dalam melaksanakan tugas dan kewajiban harus berdasarkan
atas undang-undang.
Adanya jaminan terhadap hak asasi manusia (warga negara).
Adanya pembagian kekuasaan dalam negara.
Adanya pengawasan dari badan-badan peradilan (rechterlijke controle) yang bebas
dan mandiri. Dalam arti lembaga peradilan tersebut benar-benar tidak memihak dan
tidak berada dibawah pengaruh eksekutif.

f.

Adanya peran yang nyata dari anggota-anggota masyarakat atau warga negara
untuk turut serta mengawasi perbuatan dan pelaksanaan kebijaksanaanyang
dilakukan oleh pemerintah.
g. Adanya system perekonomian yang dapat menjamin pembagian yang merata
sumberdaya yang diperlukan bagi kemakmuran warga negara.

2. Negara hukum Demokratis


Terdapat korelasi yang jelas antar negara hukum, yang bertumpu pada
konstitusi dan peraturan perundang-undangan dengan kedaulatan rakyat, yang
dijalankan melaui sistem demokrasi. Korelasi ini tampak dri kemunculan istilah
demokrasi konstituonal, sebagaimana disebutkan diatas.
Disebut negara hukum demokratis, karena didalamnya mengakomodir prinsipprinsip negara hukum dan prinsip-prinsip demokrasi J.B.J.M. ten berge menyebutkan
prinsip-prinsip demokrasi tersebut sebagai berikut:
a. Prinsip negara hukum
1) Asas legalitas. Pembatasan kebebasan warga negara (oleh pemerintah) harus
ditemukan dasarnya dalam undang-undang yang merupakan peraturan umum.
2) Perlindungan hak-hak asasi.
3) Pemerintah terikat pada hukum.
4) Monopoli paksaan pemerintah untuk menjamin penegakan hukum. Hukum harus
ditegakan , ketika hukum itu dilanggar. Pemerintah harus menjamin bahwa ditengah
masyarakat terdapat instrumen yuridis penegakan hukum.
5) Pengawasan oleh hakim yang merdeka. Superioritas hukum tidak dapat
ditampilkan, jika aturan-aturan hukum hanya dilaksanakan oleh organ pemerintah.
b. Prinsip-prinsip Demokrasi;
1) Perwakilan politik. Kekuasaan politik tertinggi dalam suatu negara dan dalam
masyarakat diputuskan oleh badan perwakilan yang dipilih secara langsung.
2) Pertanggungjawaban politik. Organ-organ pemerintah dalam menjalankan fungsinya
sedikit banyak tergantung secara politik.
3) Pemencaran kewenangan.
4) Pengawasan dan control.
5) Kejujuran dan ketebukaan pemerintah untuk umum .
6) Rakyat diberi kemngkinan untuk mengajukan keberatan.
3. Tugas-tugas pemerintah dalam negara hukum modern (welvaarstaat)
Konsep negara ini muncul atas reaksi atas kegagalan konsep legal state atau
negara penjaga malam. Dalam konsepsi legal state terdapat
prinsip staatshounding atau pematasan peranan negara dan pemerintah dalam
bidang politik yang berdalil the least government is the best government dan

terdapat dalil laissez faire, laissez aller dalam bidang ekonomi yang melarang
negara dan pemerintah mencamputi kehidupan ekonomi masyarakat.
Akibat pembatasan ini pemerintah atau administrasi negara menjadi pasif,
dan oleh karenanya sering disebut negara penjaga malam (nachtwakerstaat).
Kegagalan negara penjaga malam tersebut kemudian muncul gagasan yang
menempatkan pemerintah sebagai pihak yang bertanggung jawab atas
kesejahteraan rakyatnya, yaitu welvaarstaat. Ciri utama negara ini adalah munculnya
kewajiban pemerintah untuk mewujudkan kesjahteraan umum bagi rakyatnya.
Menurut E. Utrecht, sejak negara turut serta secara aktif dalam pergaulan
masyarakat, maka lapangan perkerjaan pemerintah makin lama makin luas.
Adminstrasi negara diserahi kewajiban untuk menyelenggarakan kesejahteraan
umum (beztuurszorg). Diberinya tugas bestuurszorg itu membawa bagi adminstrasi
negara suatu konsekuensi yang khusus, agar dapat menjalankan kesjahteraan
rakyat, menyelenggarakan pengajaran bagi semua warga negara, dan sebagainya
secara baik, maka administrasi negara memerlukan kemerdekaan untuk dapat
bertindak atas inisiatif sendiri , terutama dalam penyelsaian soal-soal genting yang
timbul dengan sekonyong-konyong dan yang peraturan penyelenggaraanya belum
ada, yaitu belum dibuat oleh badan kenegaraan yang di serahi fungsi legislative.
Pemberian kewenangan adminstrasi negara untuk bertindak atas inisiatif
sendiri itu lazim dikenal dengan freies ermessen atau diresticionary power.
Pemeberian freises ermessen kepada pemerintah atau adminstrasi negara
mempunyai konsekuensi tertentu dalam bidang legislasi. Dengan bersandar pada
freies ermessen, administrasi negara memiliki kewenangan yang luas untuk
melakukan berbagai untuk melakukan berbagai tindakan hukum dalam rangka
melayani kepentingan masyarakat atau mewujudkan kesejahteraan umum, dan
untuk melakukan berbagai tindakan itu diperlukan instrumen hukum. Artinya
bersamaan dengan pemeberian wewenang yang luas untuk bertindak diberikan pula
kewenangan untuk membuat instrumen hukum.
Dalam negara yang berbentuk kesatuan, ada dua kemungkinan
penyelenggaraan tugas- tugas pemerintah yaitu sentralisasi atau desentralisasi.
Penyelenggaraan pemerintahan secara sentralisasi berarti seluruh bidang-bidang
pemerintahan diselenggarakan oleh pemerintah pusat, sedangkan desentralisasi
berate penyelenggaran tugas-tugas pemerintahan tidak hanya dijalankan oleh
pemerintah pusat tapi juga dilakukan oleh pemerintah daerah, yang umum nya
bertumpu pada otonomi.
4. Negara hukum Indonesia
Berdasarkan ketentuan pasal 1 ayat (3) UUD Republik Indonesia tahun 1945,
Negara Indonesia adalah negara hukum, yang menganut desentralisasi dalam
penyelenggarahan pemerintahan, sebagaimana di isyaratkan dalam pasal 18 ayat

(1) UUD Negara Republik Indonesia tahun 1945 Negara Kesatuan Republik
Indonesia dibagi atas daerah provinsi-provinsi, kabupaten-kabupaten dan kota, yang
tiap provinsi, kabupaten dan kota mempunyai pemerintah daerah yang diatur dengan
undang-undang. Sebagai negara hukum, setiap penyelenggaraan urusan
pemerintah harus lah berdasarkan hukum yang berlaku (wetmatigheid van bestuur).
Sebagai negara yang menganut desntralisasi mengandung arti bahwa urusan
pemerintahan itu terdiri atas urusan pemerintah pusat dan urusan pemerintah dalam
hal otonomi daerah.
Dengan merujuk pada preambule (pembukaan) UUD dalam alinea ke-4
khususnya pada redaksi memajukan kesejahteraan umum ada yang berpendapat
bahwa negara Indonesia menganut asas welfare state (negara kesajehteraan) seoeri
azharry dan hammid. Namun prinsip negara kesejahteraan barat itu baru dikenal
pada tahun 1960 maka bangsa Indonesia sudah merumuskan nya terlebih dahulu.
Salah satu karakteristik konsep negara kesejahteraan adalah
kewajibanpemerintah untuk memajukan kesejahteraan umum.
Dengan merujuk kepada negara hukum yang telah disebutkan diatas ,
ditemukan bebrapa ketentuan dalam undang-undang dasar 1945 yang menunjukan
bahwa negara Indonesia merupakan negara hukum indinesia yang menganut asas
desentralisasi dan berorientasi kesejahteraan. Pertamapengakuan dan perlindungan
hak asasi manusia sebagaimana yang tercantum dalam pasal 28 A sampai 28 J
UUD 1945; kedua pemencaran kekuasaan negara, yang berbebtuk kpemencaran
kuasaan dalam bidang horizontal dan vertical. Pemencaran dan pembagian
kekuasaan secara horizontal tampak pada pembentukan dan pemberian kekuasaan
kepada DPR (pasal 19,20,21,22 UUD 1945), kekuasaan presiden (pasal 4 sampai
15 UUD 1945), kekuasaan kehakiman (pasal 24 UUD 1945), dan berupa
suprastruktur plitik lainya.
Dengan merujuk pada konsep negara hukum yamg diselengarakan melalui
mekanisme demokrasi, Indonesia tergolong juga mefara demokratis. Hukum yang
dijadikan aturan main (spregel) dalam penyelenggaraan negara dan pemerintahan
serta untuk mengatur hubungan hukum(rechtbetreking) antara penuelenggara
negara dan pemerintahan di Indonesia adalah negara hukumtata negara dan hukum
administrasi negara.
5. Negara Hukum dan hukum administrasi negara
Negara hukum menut F.R. Bothlingk adalah de staat waarin de wilsvrijheid
van gezagdragers is bepeert door grezen recht (negara dimana kebebasan
pemegang kekuasaan dibatasi oleh ketentuan hukum). Lebih lanjut dijelaskan dalam
rangka merealisasi pemegang kekuasaan tersebut, maka diwujudkan dengan cara

disatu sisi keterikatan hakim dan pemerintah dalam undang-undang dan disisi lain
dibatasi olej kewenangan pembuat undang-undang).
Dalam negara hukum, segala sesuatu harus dilakukan menurut hukum
(everything must be done according to law) negara hukum menentukan bahwa
pemerintah tunduk pada hukum, bukan hukum yang tunduk kepada pemerintah.

MAKALAH KONSEP NEGARA HUKUM INDONESIA


Makalah

KONSEP NEGARA HUKUM INDONESIA


Makalah ini Disusun Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Pendidikan
Kewarganegaraan 2 Dosen Pengampu Selly Rahmawati, M.Pd.

Disusun Oleh

Wahyu Ari Wibowo


12144600057
A2-12

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR


FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS PGRI YOGYAKARTA
2013
PEMBAHASAN

A. Pengertian Negara Hukum


Negara hukum merupakan terjemahan dari istilah rechstaat atau rule of
law. Reechstaat itu sendiri dapat dikatakan sebagai bentuk perumusan yuridis
dari gagasan konstitusionalisme. Oleh karena itu, konstitusi dan Negara hukum
merupakan dua lembaga yang tidak terpisahkan.
Secara sederhana, yang dimaksud Negara hukum adalah Negara yang
penyelenggaraan pemerintahannya didasar atas hukum. Didalamnya pemerintah
dan lembaga-lembaga lain dalam melaksanakan tindakan apapun juga harus
dilandasi oleh hukum,kekuasaan menjalankan pemerintahan juga harus
berdasarkan kedaulatan hukum.
Negara yang berdasar atas hukum menempatkan hukum sebagai hal yang
tertinggi sehingga ada istilah supremasi hokum, supremasi hukum tidak boleh
mengabaikan tiga ide dasar hukum yaitu keadilan, kemanfaatan dan kepastian.

B.

Hakekat Negara Hukum


Gagasan atau pemikiran untuk melindungi hak-hak asasi manusia yang
dipelopori oleh pemikir-pemikir Inggris dan Prancis yang sangat mempengaruhi
tumbangnya absolutisme. Berdasarkan pandangan para pakar maka negara
hukum hakikatnya adalah negara yang menolak melepaskan kekuasaan tanpa
kendali. Negara yang pola hidupnya berdasarkan hukum yang adil dan
demokratis.
Ide negara hukum menurut Aristoteles sangat erat dengan keadilan,
bahkan suatu negara dikatakan sebagai negara hukum apabila keadilan telah
tercapai
Menurut Plato penyelenggaraan negara
didasarkan pada pengaturan hukum yang baik.

yang

baik

adalah

adalah

C. Prinsip Negara Hukum


Para Sarjana Eropa Kontinental yang diwakili oleh Julius Stahl menuliskan
prinsip negara hukum (Rechtsstaat) dengan mengimplementasikan:
1.

Perlindungan hak asasi manusia;

2.

Pembagian kekuasaan;

3.

Pemerintahan berdasarkan undang-undang;

4.

Peradilan Tata Usaha Negara.


International Comission of Jurists pada konfrensinya di Bangkok (1965)
juga menekankan prinsip-prinsip negara hukum yang seharusnya dianut oleh
sebuah negara hukum, yaitu:

1.

Perlindungan konstitusional, artinya, selain menjamin hak-hak individu,


konstitusi harus pula menentukan cara prosedural untuk memperoleh
perlindungan atas hak-hak yang dijamin;

2.

Badan-badan kehakiman yang bebas dan tidak memihak;

3.

Pemilihan umum yang bebas;

4.

Kebebasan menyatakan pendapat;

5.

Kebebasan berserikat/berorganisasi dan beroposisi; dan

6.

Pendidikan kewarganegaraan.
Prinsip-prinsip yang dianggap ciri penting Negara Hukum menurut The
International Commission of Jurists itu adalah:
1. Negara harus tunduk pada hukum.
2. Pemerintah menghormati hak-hak individu.
3. Peradilan yang bebas dan tidak memihak.
Muhammad Tahir Azhary, dengan mengambil inspirasi dari sistem hukum
Islam, mengajukan pandangan bahwa ciri-ciri nomokrasi atau Negara Hukum
yang baik itu mengandung 9 (sembilan) prinsip, yaitu:
1. Prinsip kekuasaan sebagai amanah;
2. Prinsip musyawarah;
3. Prinsip keadilan;
4. Prinsip persamaan;
5. Prinsip pengakuan dan perlindungan terhadap hak-hak asasi manusia;
6. Prinsip peradilan yang bebas;
7. Prinsip perdamaian;
8. Prinsip kesejahteraan;
9. Prinsip ketaatan rakyat.
Jimly Ashshiddiqie menuliskan kembali prinsip-prinsip negara hukum
dengan menggabungkan pendapat dari sarjana-sarjana Anglo-Saxon dengan
sarjana-sarjana Eropa Kontinental. Menurutnya dalam negara hukum pada arti
yang sebenarnya, harus memuat dua belas prinsip, yakni:

1.

Supremasi Hukum (Suprermacy of Law).


Dalam perspektif supremasi hukum, pada hakekatnya pemimpin tertinggi
negara yang sesungguhnya bukanlah manusia, tetapi konstitusi yang
mencerminkan hukum yang tertinggi, The Rule of Law and not of man.

2.

Persamaan dalam hukum (Equality before the Law).

Setiap orang berkedudukan sama dalam hukum dan pemerintahan. Sikap


diskrimatif dilarang, kecuali tindakan-tindakan yang bersifat khusus dan
sementara yang disebut affirmative action, yakni tindakan yang mendorong dan
mempercepat kelompok warga masyarakat tertentu untuk mengejar kemajuan,
sehingga mencapai perkembangan yang lebih maju dan setara dengan kelompok
masyarakat kebanyakan yang telah lebih maju.
3.

Asas Legalitas (Due Process of Law).


Segala tindakan pemerintahan harus didasarkan atas peraturan
perundang-undangan yang sah dan tertulis. Setiap perbuatan administrasi harus
didasarkan atas aturan atau rules and procedurs (regels). Namun, disamping
prinsip ini ada asas frijsermessen yang memungkinkan para pejabat administrasi
negara mengembangkan dan menetapkan sendiri beleid-regels atau policy rules
yang berlaku secara bebas dan mandiri dalam rangka menjalankan tugas
jabatan yang dibebankan oleh peraturan yang sah.

4.

Pembatasan kekuasaan.
Adanya pembatasan kekuasaan negara dan organ-organ negara dengan
cara menerapkan prinsip pembagian secara vertikal atau pemisahan kekuasaan
secara horizontal. Kekuasaan harus selalu dibatasi dengan cara memisahkan
kekuasaan ke cabang-cabang yang bersifat checks and balances dalam
kedudukan yang sederajat dan saling mengimbangi serta mengendalikan satu
sama lain.

5.

Organ-organ eksekutif independen.


Independensi lembaga atau organ-organ dianggap penting untuk
menjamin demokrasi, karena fungsinya dapat disalahgunakan oleh pemerintah
untuk melanggengkan kekuasaannya. Misalnya, tentara harus independen agar
fungsinya sebagai pemegang senjata tidak disalahgunakan untuk menumpas
aspirasi pro-demokrasi.

6.

Peradilan bebas dan tidak memihak (independent and impartial judiciary).


Dalam menjalankan tugas yudisialnya, hakim tidak boleh dipengaruhi oleh
siapapun juga, baik karena kepentingan jabatan (politik) maupun kepentingan
uang (ekonomi). Untuk menjamin keadilan dan kebenaran, tidak diperkenankan
adanya intervensi ke dalam proses pengambilan putusan keadilan oleh hakim,
baik intervensi dari lingkungan kekuasaan eksekutif maupun legislatif ataupun
dari kalangan masyarakat dan media massa. Namun demikian, hakim harus
tetap terbuka dalam pemeriksaan perkara dan menghayati nilai-nilai keadilan
dalam menjatuhkan putusan.

7.

Peradilan Tata Usaha Negara.


Dalam setiap negara hukum, harus terbuka kesempatan bagi setiap warga
negara untuk menggugat keputusan pejabat administrasi negara dan
dijalankannya putusan hakim tata usaha negara (administrative court) oleh
pejabat administrasi negara. Pengadilan administrasi negara ini juga menjadi

penjamin bagi rakyat agar tidak di zalimi oleh negara melalui keputusan pejabat
administrasi negara.

8.

Peradilan Tata Negara (Constitutional Court).


Pentingnya Constitutional Court adalah dalam upaya untuk memperkuat
sistem checks and balances antara cabang-cabang kekuasaan yang sengaja
dipisahkan untuk menjamin demokrasi.

9.

Perlindungan hak asasi manusia.


Perlindungan terhadap hak asasi manusia dimasyarakatkan secara luas
dalam rangka mempromosikan penghormatan dan perlindungan terhadap hakhak asasi manusia sebagai ciri yang penting suatu negara hukum yang
demokratis.

10. Bersifat demokratis (democratische rechtsstaat).


Negara hukum yang bersifat nomokratis harus dijamin adanya demokrasi,
sebagaimana
di
dalam
setiap
negara
demokratis
harus
dijamin
penyelenggaraannya berdasar atas hukum. Jadi negara hukum (rechtsstaat)
yang dikembangkan bukanlah negara hukum yang absolut (absolute rechtsstaat)
melainkan negara hukum yang demokratis (democratische rechtsstaat).
11. Berfungsi sebagai sarana mewujudkan tujuan bernegara (Welfare Rechtsstaat).
Sebagaimana cita-cita nasional Indonesia yang dirumuskan dalam
pembukaan UUD 1945, tujuan bernegara Indonesia dalam rangka melindungi
segenap bangsa dan seluruh tumpah darah Indonesia, memajukan kesejahteraan
umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban
dunia berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial.
12. Transparansi dan kontrol sosial.
Adanya transparansi dan kontrol sosial yang terbuka terhadap setiap
proses pembuatan dan penegakan hukum, sehingga kelemahan dan kekurangan
yang terdapat dalam mekanisme kelembagaan resmi dapat dilengkapi secara
komplementer oleh peran serta masyarakat secara langsung.

D. Ciri-ciri Negara Hukum


Negara hukum merupakan terjemahan dari rechstaat atau rule of law.
Istilah rechstaat sendiri diberikan oleh ahlib hukum eropa continental sedangkan
istilah rule of law diberikan oleh para ahli hokum anglo saxon.
Friedrich Julius mengemukakan bahwa ciri-ciri rechstaat adalah sebagai berikut:
1.

Hak asasi manusia

2.

Pemisahan atau pembagian kekuasaan untuk menjamin HAM

3.

Pemerintahan berdasarkan peraturan-peraturan

4.

Peradilan administerasi dalam perselisihan


Adapun AV dicey memberikan ciri-ciri rule of law adalah sebagai berikut:

1.

Supremasi hukum, tidak boleh ada kesewenang-wenangan

2.

Kedudukan yang sama didepan hukum

3.

Terjaminnya HAM dalam undang-undang dan keputusan peradilan.


Disamping perumusan ciri-ciri Negara hokum diatas ada pula berbagai
pendapat mengenai ciri-ciri yang dikemukakan oleh para ahli. Menurut
Montesquieu Negara yang paling baik adalah Negara hukum karena didalam
konstitusi dibanyak Negara yang mengandung tiga inti pokok yaitu:

1.

Perlindungan HAM

2.

Ditetapkanya ketatanegaraan suatu Negara dan

3.

Membatasi kekuasaan dan wewenang organ-organ Negara


Prof. sudargo Gautama mengemukakan ada 3 ciri atau unsur dari Negara
hkum yaitu:

1.

Terdapat pembatasan kakuasaan Negara terhadap perorangan, maksudnya


Negara tidak dapat bertindak sewenang-wenang.

2.

Asas legalitas yaitu setiap tindakan Negara harus berdasarkan hukum yang
telah diadakan terlebih dahulu

3.

Pemisahan kekuasaan yaitu agar hak-hak asasi itu benar-benar terlindungi


maka diadakan pemisahan kekuasaan.

E.

Unsur-unsur Negara Hukum


Menurut F.J Stahl merumuskan unsur-unsur:

1.

Perlindungan hak-hak asasi manusia;

2.

Pemisahan atau pembagian kekuasaan untuk menjamin hak-hak itu;

3.

Pemerintahan berdasarkan Peraturan Perundang-Undangan; dan

4.

Peradilan administrasi dalam perselisihan.


Secara umum unsur-unsur negara meliputi:

1.

Adanya suatu sistem pemerintahan negara yang didasarkan atas kedaulatan


rakyat.

2.

Bahwa pemerintah dalam melaksanakan tugas dan kewajibannya harus


berdasar atas hukum atau peraturan perundang-undangan

3.

Adanya jaminan terhadap hak-hak asasi manusia (warga negara)

4.

Adanya pembagian kekuasaan dalam negara

5.

Adanya pengawasan dari badan-badan peradilan yang bebas dan mandiri

6.

Adanya peran yang nyata dari anggota-anggota masyarakat atau warga negara
untuk turut serta mengawasi perbuatan dan pelaksanaan kebijaksanaan yang
dilakukan oleh pemerintah

7.

Adanya sistem perekonomian yang dapat menjamin pemebagian yang merata


sumber daya yang diperluakan bagi kemakmuran warga negara.

F.

Karakteristik Negara Hukum Pancasila


Menurut Philipus M. Hadjon karakteristik negara hukum pancasila
meliputi:

1.
2.
3.
4.

Keserasian
kerukunan

hubungan

antara

pemerintah

dan

rakyat

berdasarkan

asas

Hubungan fungsional yang proporsional antara kekuasaan-kekuasaan negara


Prinsip penyelesaian sengketa secara musyawarah dan peradilan merupakan
sarana terakhir
Keseimbangan antara hak dan kewajiban

G. Prinsip Negara Hukum Indonesia


Prinsip-prinsip yang terkandung dalam Negara hukum Indonesia menurut
UUD 1945 adalah sebagai berikut:
1.

Norma hukum bersumber pada pancasila sebagai hukum dasar nasional dan
adanya hierarkhi jenjang norma hukum

2.

Sistemnya yaitu system konstitusi

3.

Kedaulatan rakyat atau prinsip demokrasi

4.

Prinsip persamaan kedudukan dalam hukum dan pemerintahan

5.

Adanya organ pembentuk undang-undang

6.

System pemerintahanya adalah presidential

7.

Kekuasaan kehakiman yang bebas dari kekuasaan lai

8.
9.

Hukum bertujuan melindungi segenap bangsa dan seluruh tumpah darah


Indonesia
Adanya jaminan akan hak asasi dan kewajiban dasar manusia

H. Landasan Konstitusional Negara Hukum Indonesia


Landasan konstitusional yang menunjukkan bahwa Indonesia adalah
negara hukum, antara lain:
1.

Bab I Pasal 1 ayat (3) Undang-Undang Dasar 1945 Negara Indonesia adalah
negara hukum;

2.

Pembukaan dicantumkan kata-kata: Pemerintah Negara Indonesia yang


melindungi segenap bangsa Indonesia, dan seluruh tumpah darah Indonesia;

3.

Bab X Pasal 27 ayat (1) disebutkan segala warga negara bersamaan


kedudukannya didalam hukum pemerintahan dan wajib menjunjung hukum dan
itu dengan dengan tidak ada kecualinya;

4.

Penjelasan Undang-Undang Dasar 1945 yang sudah dihapus disebutkan dalam


Sistem Pemerintahan Negara, yang maknanya tetap bisa dipakai, yaitu Indonesia
ialah negara yang berdasar atas hukum (rechtstaat), tidak berdasarkan atas
kekuasaan belaka (Machtstaat);

5.

Sumpah/janji Presiden/Wakil Presiden ada kata-kata memegang teguh UndangUndang Dasar dan segala undang-undang dan peraturannya dengan seluruslurusnya;

6.

Bab XA Hak Asasi Manusia Pasal 28i ayat (5), disebutkan bahwa Untuk
penegakkan dan melindungi hak asasi manusia sesuai dengan prinsip negara
hukum yang demokratis, maka pelaksanaan hak asasi manusia dijamin, diatur
dan dituangkan dalam Peraturan Perundang Undangan;

7.

Sistem hukum yang bersifat nasional;

8.

Hukum dasar yang tertulis (konstitusi), hukum dasar tak tertulis (konvensi);

9.

Tap MPR No.III/MPR/2000 tentang Sumber Hukum dan Tata Urutan Peraturan
Perundang-Undangan; UU No.10 tahun 2004

10. Adanya peradilan bebas.


11. Checks and Balances
Dasar lain yang dijadikan landasan bahwa Indonesia adalah Negara
hukum dalam arti materil terdapat dalam bagian pasal-pasal UUD 1945 sebagai
berikut;
1.

Pada bab XIV tentang perekonomian Negara dan kesejahteraan social, pasal 33
dan 34 UUD 1945 yang menegaskan bahwa Negara turut aktif dan bertanggung
jawab atas perekonomian Negara dan kesejahteraan rakyat.

2.

Pada bagian penjelasan umum tentang pokok-pokok pikiran dalam pembukaan


juga dinyatakan perlunya turut serta dalam kesejahteraanbrakyat.

I.

Unsur-unsur Negara Hukum Indonesia


Unsur-unsur negara hokum Indonesia seperti tertuang dalam UUD 1945,
antara lain:

1.

Prinsip kedaulatan rakyat (Pasal 1 ayat 2)

2.

Pemerintahan berdasarkan konstitusi

3.

Ketiga jaminan terhadap hak-hak asasi manusia (Pasal 27, 28, 29, 31)

4.

Pembagian kekuasaan (Pasal 2, 4, 16, 19)

5.

Pengawasan peradilan (Pasal 24)

6.

Partisipasi warga negara (Pasal 28)

7.

Sistem perekonomian (Pasal 33)

J.

Perwujudan Negara Hukum Indonesia


Operasionalisasi dari konsep Negara hukum Indonesia dituang dalam
konstitusi Negara yaitu UUD 1945. UUD 1945 merupakan hukum dasar Negara
yang menempati hukum Negara tertinggi dalam tertib hukum.
Sumber hukum Negara Indonesia terdiri atas sumber hukum tertulis dan
tidak tertulis. Sumber hukum dasar nasional adalah pancasila sebagai mana
telah tertulis dalam pembukaan UUD 1945 dan batang tubuh UUD 1945.
Adapun tata urutan perundangn adalah sebagai berikut;

1.

Undang undang dasar 1945


Merupakan hukum tertulis Negara republic Indonesia yang memuat dasar dan
garis besar hukum dalam penyelenggaraan Negara.

2.

Ketetapan MPR RI
Merupakan keputusan MPR sebagai pengemban kedaulatan
ditetapkan dalam sidang MPR.

3.

rakyat yang

Undang undang
Dibuat oleh DPR bersama presiden untuk melaksanakan UUD 145 dan ketetapan
MPR RI.

4.

Perpu

5.

Peraturan pemeriintah
Dibuat oleh pemerintah untuk melaksanakan perintah undang-undang.
Selanjutnya, jenis dan hierarkhi perundang-undangan dinyatakan dalam
undang-undang No.10 tahun 2004 tentang pembentukan peraturan perundangundangan yaitu sebagai berikut:

1.

UUD 1945

2.

UU dan Perpu

3.

PP

4.

Perpres

5.

Perda

K. Contoh Hukum Negara Indonesia


Adapun contoh dari perwujudan dari negara hukum Indonesia yaitu:
1.

Hukum Pidana Indonesia


Berdasarkan isinya, hukum dapat dibagi menjadi 2, yaitu hukum privat
dan hukum publik (C.S.T Kansil). Hukum privat adalah hukum yang mengatur
hubungan orang perorang, sedangkan hukum publik adalah hukum yg mengatur
hubungan antara negara dengan warga negaranya. Hukum pidana merupakan
bagian dari hukum publik.
Hukum pidana terbagi menjadi dua bagian, yaitu hukum pidana materiil
dan hukum pidana formil. Hukum pidana materiil mengatur tentang penentuan
tindak pidana, pelaku tindak pidana, dan pidana (sanksi). Di Indonesia,
pengaturan hukum pidana materiil diatur dalam kitab undang-undang hukum
pidana (KUHP). Hukum pidana formil mengatur tentang pelaksanaan hukum
pidana materiil. Di Indonesia, pengaturan hukum pidana formil telah disahkan
dengan UU nomor 8 tahun 1981 tentang hukum acara pidana (KUHAP).

2.

Hukum Tata Negara


Hukum tata negara adalah hukum yang mengatur tentang negara, yaitu
antara lain dasar pendirian, struktur kelembagaan, pembentukan lembagalembaga negara, hubungan hukum (hak dan kewajiban) antar lembaga negara,
wilayah dan warga negara.
Hukum tata negara mengatur mengenai negara dalam keadaan diam
artinya bukan mengenai suatu keadaan nyata dari suatu negara tertentu (sistem
pemerintahan, sistem pemilu, dll dari negara tertentu) tetapi lebih pada negara
dalam arti luas. Hukum ini membicarakan negara dalam arti yang abstrak.

3.

Hukum Tata Usaha (administrasi) Negara


Hukum tata usaha (administrasi) negara adalah hukum yang mengatur
kegiatan administrasi negara. Yaitu hukum yang mengatur tata pelaksanaan
pemerintah dalam menjalankan tugasnya hukum administarasi negara memiliki
kemiripan dengan hukum tata negara.kesamaanya terletak dalam hal kebijakan
pemerintah ,sedangkan dalam hal perbedaan hukum tata negara lebih mengacu

kepada fungsi konstitusi/hukum dasar yang digunakan oleh suatu negara dalam
hal pengaturan kebijakan pemerintah,untuk hukum administrasi negara dimana
negara dalam "keadaan yang bergerak". Hukum tata usaha negara juga sering
disebut HTN dalam arti sempit.
4.

Hukum Acara Perdata Indonesia


Hukum acara perdata Indonesia adalah hukum yang mengatur tentang
tata cara beracara (berperkara di badan peradilan) dalam lingkup hukum
perdata. Dalam hukum acara perdata, dapat dilihat dalam berbagai peraturan
Belanda dulu(misalnya; Het Herziene Inlandsh Reglement/HIR, RBG, RB,RO).

5.

Hukum Acara Pidana Indonesia


Hukum acara pidana Indonesia adalah hukum yang mengatur tentang tata
cara beracara (berperkara di badan peradilan) dalam lingkup hukum pidana.
Hukum acara pidana di Indonesia diatur dalam UU nomor 8 tahun 1981.
Asas dalam Hukum Acara Pidana
Asas di dalam hukum acara pidana di Indonesia adalah:

a.

Asas perintah tertulis, yaitu segala tindakan hukum hanya dapat dilakukan
berdasarkan perintah tertulis dari pejabat yang berwenang sesuai dengan UU.

b.

Asas peradilan cepat, sederhana, biaya ringan, jujur, dan tidak memihak, yaitu
serangkaian proses peradilan pidana (dari penyidikan sampai dengan putusan
hakim) dilakukan cepat, ringkas, jujur, dan adil (pasal 50 KUHAP).

c.

Asas memperoleh bantuan hukum, yaitu setiap orang punya kesempatan,


bahkan wajib memperoleh bantuan hukum guna pembelaan atas dirinya (pasal
54 KUHAP).

d.

Asas terbuka, yaitu pemeriksaan tindak pidana dilakukan secara terbuka untuk
umum (pasal 64 KUHAP).

e.

Asas pembuktian, yaitu tersangka/terdakwa tidak


pembuktian (pasal 66 KUHAP), kecuali diatur lain oleh UU.

6.

dibebani

kewajiban

Hukum Antar Tata Hukum


Hukum antar tata hukum adalah hukum yang mengatur hubungan antara
dua golongan atau lebih yang tunduk pada ketentuan hukum yang berbeda.

7.

Hukum Adat di Indonesia


Hukum adat adalah seperangkat norma dan aturan adat yang berlaku di
suatu wilayah.

8.

Hukum Islam di Indonesia


Hukum Islam di Indonesia belum bisa ditegakkan secara menyeluruh,
karena belum adanya dukungan yang penuh dari segenap lapisan masyarakat
secara demokratis baik melalui pemilu atau referendum maupun amandemen
terhadap UUD 1945 secara tegas dan konsisten. Aceh merupakan satu-satunya

provinsi yang banyak menerapkan hukum Islam melalui Pengadilan Agama,


sesuai pasal 15 ayat 2 Undang-Undang RI No. 4 Tahun 2004 Tentang Kekuasaan
Kehakiman yaitu : Peradilan Syariah Islam di Provinsi Nanggroe Aceh
Darrussalam merupakan pengadilan khusus dalam lingkungan peradilan agama
sepanjang kewenangannya menyangkut kewenangan peradilan agama, dan
merupakan pengadilan khusus dalam lingkungan peradilan umum sepanjang
kewenangannya menyangkut kewenangan peradilan umum.

KESIMPULAN
Berdasarkan uraian yang telah dipaparkan tersebut, dapat diambil
kesimpulan bahwa Negara Indonesia telah memenuhi syarat sebaga negara
hukum. Bisa dilihat pada unsur-unsur, karakteristik, dan ciri-ciri negara hukum
secara umum sebagian besar telah dimuat juga dalam konsep negara hukum
Indonesia. Selain itu, konsep negara hukum yang menerapkan prinsip
menghargai Hak Asasi Manusi (HAM) itu sama dengan prinsip yang diterapkan
pada konsep negara hukum Indonesia.
Selain prinsip-prinsip yang diterapkan oleh Indonesia, landasan bahwa
Indonesia negara hukum juga jelas terwujud dalam undang-undang atau aturan
lain seperti janji Presiden. Bahkan dalam implementasi pelaksanaan hukum telah
terwujud juga, seperti adanya aturan-aturan yang jelas yang telah dibuat melalui
kesepakatan bersama, seperti halnya adanya asas-asas yang melandasi hukum
pidana atau hukum-hukum lainnya. Jadi, Indonesia telah benar-benar
menerapkan konsep negara hukum dengan jelas dan terwujud.

DAFTAR PUSTAKA
http://notcupz.blogspot.com/2011/06/negara-hukum.html diakses pada tanggal 21 Maret
2013 pukul 22.06 WIB.
http://jimly.com/makalah/namafile/21/Konsep_Negara_Hukum_2.doc
tanggal 21 Maret 2013 pukul 21.59 WIB.

diakses

pada

http://ebookbrowse.com/gdoc.php?
id=36028816&url=e29f1b78141fe8caa7208ceecd2cadb1 diakses pada tanggal
21 Maret 2013 pukul 21.59 WIB.
http://ebookbrowse.com/konsep-negara-hukum-2-doc-d36028816 diakses pada tanggal
21 Maret 2013 pukul 21.58 WIB.
http://www.storebox1.info/v826/?product_name=Konsep%20Negara%20Hukum
%20Indonesia%20pdf&installer_file_name=Konsep%20Negara%20Hukum
%20Indonesia%20pdf&reffer=http%3A%2F%2Fjimly.com%2Fmakalah
%2Fnamafile%2F57%2FKonsep_Negara_Hukum_Indonesia.pdf
diakses
tanggal 21 Maret 2013 pukul 21.57 WIB.

pada

http://hukum.kompasiana.com/2012/10/04/supremasi-hukum-dalam-konsep-negarahukum-%E2%80%9Cpancasila%E2%80%9D-493035.html diakses pada tanggal


21 Maret 2013 pukul 21.53 WIB.
http://wandyhasyim.blogspot.com/2012/04/konsep-negara-hukum-republikindonesia.html diakses pada tanggal 21 Maret 2013 pukul 21.45 WIB.
http://hifdzil.wordpress.com/2008/07/05/konsep-negara-hukum-dalam-negara-kesatuanrepublik-indonesia/ diakses pada tanggal 21 Maret 2013 pukul 21.44 WIB.
http://mazprasetya.blogspot.com/2012/03/konsep-dan-ciri-ciri-negarahukum.html diakses pada tanggal 21 Maret 2013 pukul 21.40 WIB.
http://ismayadefi.blogspot.com/2011/11/makalah-pkn-konsep-negara-hukum.html
diakses pada tanggal 21 Maret 2013 pukul 21.40 WIB.
http://blogdeee.blogspot.com/2011/05/konsep-dan-ciri-negara-hukum-indonesia.html
diakses pada tanggal 21 Maret 2013 pukul 21.35 WIB.
http://rezaaidilf.files.wordpress.com/2012/11/konsep-negara-hukum.pptx) diakses pada
tanggal 21 Maret 2013 pukul 21.00 WIB.

KONSEP NEGARA HUKUM


BAB I
PENDAHULUAN

Latar Belakang

Dalam mempelajari Negara hukum maka perlu dibedakan antara Negara dan
Bangsa. Bangsa adalah kumpulan manusia yang terikat karena kesatuan bahasa dan
wilayah tertentu di muka bumi. Dengan demikian bangsa Indonesia adalah sekelompok
manusia yang mempunyai kepentingan yang sama dan menyatakan dirinya sebagai suatu
bangsa serta berproses dalam suatu wilayah (Indonesia).. Sedangkan Negara adalah suatu
persekutuan yang melaksanakan suatu pemerintahan melalui hukum yang mengikat
masyarakat dengan kekuasaan untuk ketertiban sosial. Dalam suatu Negara diperlukan
suatu aturan untuk membatasi kekuasaan para pemimpin agar tidak bertindak sewenangwenang terhadap rakyatnya. Aturan tersebut disebut hukum. Konsep mengenai Negara
hukum ada dua yaitu konsep Eropa Kontinental ( Rechtstaat ) dan Konsep Anglo Saxon
( Rule of Law ). Di Indonesia menganut konsep Eropa Kontinental ( Rechtstaat ) yang
merupakan warisan dari kolonial Belanda. Istilah hukum di Indonesia sering diterjemahkan
Rechtstaat atau Rule Of Law. Ide Rechtstaat mulai populer abad ke tujuh belas sebagai
akibat situai sosial politik Eropa yang didominir oleh absolutisme.Paham Rechtstaat
dikembangkan oleh Immanuel Kant ( 1724-1804) dan Friedrich Julius Stahl. Sedangkan
paham Rule Of Law mulai dikenal setelah Albert Venn Dicey pada tahun 1885. Dan
menerbitkan buku Introduction to Study Of the Law Of the Constitusion. Paham the Rule Of
Law bertumpu pada system Hukum Anglo Saxon. Atau Common Law System. Dalam
sebuah Negara konsep mendasar menentukkan pondasi dasar Negara itu sendiri. Indonesia
sebagai suatu negar hukum ( Rechtstaat atau Rule Of Law ). Hal ini tercermin dalam
Undang-Undang Dasar 1945 Amandemen ke empat Pasal 1 ayat(3) yang mangatakan
Negara Indonesia adalah Negara Hukum . Selain itu Indonesia juga disebut negara
Demokrasi yang tercermin dalam Undang-Undang Dsara 1945 Amandemen ke empat Pasal
1 ayat(2), bahwa Kedaulatan berada ditangan rakyat dan dilaksanakan menurut UndangUndang Dasar . Konsekuesi bahwa Indonesia adalah negara hukum bahwa kekuasaan
tertinggi dalam negara adalah hukum.

BAB II
PEMBAHASAN MASALAH

Sejarah Pemikiran Negara Hukum

Ide negara hukum telah lama dikembangkan oleh filsuf dari zaman Yunani Kuno.
Pemikiran negara hukum merupakan gagasan moderen yang multi-perspektif dan selalu
aktual. Pada masa Yunani Kuno pemikiran tentang negara hukum dikembangkan oleh Plato
(429-374 SM) dan Aristoteles (384-322 SM0. Konsep negara hukum menurut Aristoteles
adalah negara yang berdiri diatas hukum yang menjamin keadilan bagi warga
negaranya. Pada abad pertengahan pemikiran tentang negara hukum lahir sebagai
perjuangan melawan kekuasaan absolut para raja. Istilah negara hukum itu berasal darai
abad sembilan belas, tetapi gagasan negara hukum itu tumbuh dalam abad tujuh belas.
Gagasan itu tumbuh di Inggris dan merupakan latar belakang dari Glorius Revolution 1688
M. Gagasan itu timbal sebagai reaksi terhadap kerajaan yang absolut., dan dirumuskan
dalam piagam yang terkenal Hill Of Right 1689 (Great Britain) yang berisi hak dan
kebebasan dari warga negara serta peraturan pengganti raja di Inggris.Pada jaman
moderen konsep negara hukum di dominasi dengan sitem Eropa Continental dan Anglo
Saxon . Konsep negara hukum di Eropa kontinental digunakan dengan menggunakan istilah
Jerman yaitu Rechtstaat antara lain Immanuel Kant, Paul Labane, Julios Stahl, Fichte,
dsb. Sedangkan tradisi Anglo Amerika konsep negara hukum dikembangkan dengan konsep
Rule Of Law yang dipelopori oleh A.V. Dicey. Selain itu konsep negara hukum juga terkait
dengan istilah nomokrasi ( Nomocratie) berarti dalam penyelenggaraan kekuasaan negara
dalah hukum. Immanuel Kant memberikan gambaran tentang negara hukum sebagai
penjaga malam artinya tugas negara hanya menjaga saja, hak-hak rakyat jangan diganggu
atau di langgar, mengenai kamakmuran rakyat negara tidak boleh ikut campur.

Menurut Immanuel Kant ada dua pokok yang senantiasa menjadi inspirasi perkembangan
prinsip-prinsip negara hukum adalah masalah pembatasan kekuasaan oleh para penguasa
dan perlindungan hak asasi manusia Sedangkan menurut Friedrich Julius Stahl bahwa
unsur negara hukum yang perlu dilindungi yaitu perlindungan hak asasi manusia.

KONSEP NEGARA HUKUM DI INDONESIA

Prinsip negara hukum senantiasa berkembang sesuai dengan perkembangan jaman.


Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi serta kompleksnya kehidupan masyarakat di era
global, menuntut pengembangan prinsip-prinsip negara hukum. Negara hukum dalah
negara yang penyelenggaraan kekuasaan pemerintahannya didasarkan atas hukum .
karena itu pemerintah dan lembaga-lembaga lain dalam melaksananakan tindakan harus
dilandasi oleh hukum dan bertanggung jawab secara hukum.
Perkembangan negara hukum di era moderen ini dipengaruhi oleh konsep Eropa
Continental yang disebut Rechtstaat dan Anglo Saxon yang disebut Rule Of Law .
Eropa Kontinental ( Rechtstaat )
Sistem hukum rechtstaat hdala sistem hukum dengan ciri-ciri adanya berbagai
ketentuan-ketentuan hukum dikodifikasi (dihimpun) secara sitematis yang ditafsirkan lebih
lanjut oleh hakim dalam penerapannya. Hampir 60 % negara Indonesia menganut sistem ini.
Konsep rechtstaat bertumpu pada asas legalitas dalam kerangka adanya aturan perundangundangan yang tertulis dan menitik beratkan kepastian. Pendekatanh yang ditekankan
hdala keadilan berdasarkan hukum dalam artian yang seluas-luasnya. Perkembangan
rechtstaat di Eropa Continental menurut F.J. Stahl mencakup empat hal :
1.

Perlindungan hak asasi manusia.

2.

Pembagian kekuasaan.

3.

Pemerintahan berdasarkan Undang-Undang.

4.

Peradilan Tata Usaha Negara.

Anglo Saxon ( Rule Of Law)


Rule Of Law tumbuh dan berkembang pertama kali pada negara yang menganut
Common Law System seperti Inggris dan Amerika Serikat. Ke dua Negara tersebut
mengejawantahkan sebagai perwujudan dari persamaan hak, kewajiban dan derajat dalam
suatu Negara dihadapan hukum. Sistem Rule Of Law adalah suatu system yang didasarkan
atas Yurisprudensi yaitu keputusan-keputusan hakim terdahulu yang menjadi dasar putusan
hakim selanjutnya. Konsep rule of law dipelopori oleh Albert Venn Dicey memiliki tiga cirri
penting digabungkan dengan konsep Negara hukum F.J. Stahl :
1.

Supremacy Of Law artinya bahwa yang mempunyai kekuasaan tertinggi dalam suatu Negara
adalah hukum.

2.

Equality Before The Law artinya persamaan dalam kedudukan bagi semua warga Negara baik
selakupribadi maupun dalam kualifikasi sebagai pejabat Negara.

3.

Dive Process Of Law artinya bahwa segala tindakan pemerintah harus didasarkan atas
peraturan perundang-undangan yang sah dan tertulis.

Konsep Rechtstaat lahir karena menentang absolutisme sehingga Sifatnya revolusioner


sedangkan Rule Of Law berkembang secara evolusioner yang bertumpu atas system
hukum Common Law.

DAFTAR PUSTAKA

Ashiddiqie, Jimly. Pengantar Ilmu Hukum Tata Negara, Mahkamah Konstitusi, RI,
Jakarta,2006

Ashiddiqie,Jimly, Konstitusi dan Konstitusionalisme Indonesia, Konstitusi Press, Jakarta.


2005

Ashidiqie, Jimly, Perkembangan dan Konolidsi Lembaga Negara Pasca Reformasi,


Mahkamah RI, Jakarta, 2006

Ashiddiqie,Jimly, Safaat Ali, Teori Hans Kelsen tentang Hukum, Mahkamah RI, Jakarta,
2006

Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia 1945