Anda di halaman 1dari 48

BAB II

ISI
Konsep Kematian atau Menjelang ajal
A. Definisi
Menjelang ajal adalah bagian dari kehidupan, yang merupakan proses menuju
akhir. Kematian adalah penghentian permanen semua fungsi tubuh yang vital, akhir dari
kehidupan manusia.
Kematian adalah apabila seseorang tidak lagi teraba denyut nadinya, tidak
bernapas selama beberapa menit, dan tidak menunjukkan segala refleks serta tidak ada
kegiatan otak.
(Wahjidi, H. 2012 dalam http://www.slideshare.net/MerryFransiska2/askep-menjelangajal)
Definisi tentang kematian pun berkembang dengan kemajuan teknologi yang
semakin canggih. Para ahli medis mengatakan bahwa organ utama dalam tubuh adalah
jantung, paru-paru, dan otak merupakan organ yang saling terkait dalam proses
kehidupan makhluk hidup salah satunya manusia. Apabila ketiga organ tersebut sudah
berhenti berfungsi maka barulah dikatakan bahwa orang tersebut telah mati.
Kematian adalah suatu proses yang dapat dikenal secara klinis pada seseorang
melalui

pengamatan

terhadap

perubahan

yang

terjadi

pada

tubuh

mayat.

Perubahan itu akan terjadi dari mulai terhentinya suplai oksigen. Manifestasinya
akan dapat dilihat setelah beberapa menit, jam, dan seterusnya. Setelah beberapa waktu,
timbul perubahan pascamati yang jelas memungkinkan diagnosis kematian lebih
pasti (Simpson, 1985).
Pengertian mati itu ada berbagi macam seperti; mati biologis (kematian semua
organ) selalu mengikuti mati klinis bila tidak dilakukan resusitasi jantung paru (RJP)
atau bila upaya resusitasi dihentikan. Mati biologis merupakan proses nekrotisasi semua
jaringan, dimulai dengan neuron otak yang menjadi nekrotik setelah kira-kira 1 jam
tanpa sirkulasi, diikuti oleh jantung, ginjal, paru dan hati yang menjadi nekrotik selama
beberapa jam atau hari.

Kematian dapat terjadi, seperti yang biasa terjadi pada penyakit akut atau kronik
yang berat, denyut jantung dan nadi berhenti pertama kali pada suatu saat, ketika tidak
hanya jantung, tetapi organisme secara keseluruhan begitu terpengaruh oleh penyakit
tersebut sehingga tidak mungkin untuk tetap hidup lebih lama lagi. Henti jantung
(cardiac arrest) berarti penghentian tiba-tiba kerja pompa jantung pada organisme yang
utuh atau hampir utuh. Henti jantung yang terus berlangsung sesudah jantung pertama
kali berhenti mengakibatkan kematian dalam beberapa menit. Dengan perkataan lain,
hasil akhir henti jantung yang berlangsung lebih lama adalah mati mendadak (sudden
death). Diagnosis mati jantung (henti jantung ireversibel) ditegakkan bila telah ada
asistol listrik membandel (intractable, garis datar pada EKG) selama paling sedikit 30
menit, walaupun telah dilakukan RJP dan terapi obat yang optimal. Mati serebral
(kematian korteks) adalah kerusakan ireversibel (nekrosis) serebrum, terutama
neokorteks. Mati otak (MO, kematian otak total) adalah mati serebral ditambah dengan
nekrosis sisa otak lainnya, termasuk serebelum, otak tengah dan batang otak.
B. Macam-macam istilah dalam kematian
a. Mati somatis
Terjadi akibat terhentinya fungsi ketiga sistem penunjang kehidupan, yaitu
susunan saraf pusat, sistem kardiovaskuler dan sistem pernapasan secara menetap
(ireversibel).Secara klinis tidak ditemukan refleks-refleks, EEG mendatar, nadi
tidak teraba, denyut jantung tidak terdengar, tidak ada gerakan pernapasan dan
suara pernapasan tidak terdengar pada auskultasi.
b. Mati suri
Mati suri (near-death experience (NDE), suspend animation, apparent death)
adalah terhentinya ketiga sistem penunjang kehidupan yang ditentukan oleh alat
kedokteran sederhana.Dengan alat kedokteran yang canggih masih dapat
dibuktikan bahwa ketiga sistem tersebut masih berfungsi.Mati suri sering
ditemukan pada kasus keracunan obat tidur, tersengat aliran listrik dan tenggelam.
c. Mati serebral

Adalah kerusakan kedua hemisfer otak yang ireversibel, kecuali batang otak dan
serebelum, sedangkan kedua sistem lainnya yaitu sistem pernapasan dan
kardiovaskuler masih berfungsi dengan bantuan alat.
d. Mati otak (batang otak)
Adalah bila terjadi kerusakan seluruh isi neuronal intrakranial yang ireversibel,
termasuk batang otak dan serebelum.Dengan diketahuinya mati otak (mati batang
otak), maka dapat dikatakan seseorang secara keseluruhan tidak dapat dinyatakan
hidup lagi, sehingga alat bantu dapat dihentikan.
e. Mati seluler (mati molekuler)
Adalah kematian organ atau jaringan tubuh yang timbul beberapa saat setelah
kematian somatis.Daya tahan hidup masing-masing organ atau jaringan berbedabeda, sehingga terjadinya kematian seluler pada tiap organ atau jaringan tidak
bersamaan.Pengertian ini penting dalam transplantasi organ.Sebagai gambaran
dapat dikemukakan bahwa susunan saraf pusat mengalami mati seluler dalam
empat menit, otot masih dapat dirangsang (listrik) sampai kira-kira dua jam
pascamati dan mengalami mati seluler setelah empat jam, dilatasi pupil masih
terjadi pada pemberian adrenalin 0,1 persen atau penyuntikan sulfas atropin 1
persen kedalam kamera okuli anterior, pemberian pilokarpin 1 persen atau
fisostigmin 0,5 persen akan mengakibatkan miosis hingga 20 jam pascamati.Kulit
masih dapat berkeringat sampai lebih dari 8 jam pascamati dengan cara
menyuntikkan subkutan pilokarpin 2 persen atau asetil kolin 20 persen,
spermatozoa masih dapat bertahan hidup beberapa hari dalam epididimis, kornea
masih dapat ditransplantasikan dan darah masih dapat dipakai untuk transfusi
sampai enam jam pasca-mati.
C. Tipe-tipe Perjalanan Menjelang Kematian.
Ada 4 type dari perjalanan proses kematian, yaitu :
a. Kematian yang pasti dengan waktu yang diketahui, yaitu adanya perubahan
yang cepat dari fase akut ke kronik.
b. Kematian yang pasti dengan waktu tidak bisa diketahui, baisanya terjadi pada
kondisi penyakit yang kronik.

c. Kematian yang belum pasti, kemungkinan sembuh belum pasti, biasanya


terjadi pada pasien dengan operasi radikal karena adanya kanker
d. Kemungkinan mati dan sembuh yang tidak tentu, terjadi pada pasien dengan
sakit kronik dan telah berjalan lama.
D. Perubahan setelah kematian
Perubahan dapat terjadi dini pada saat meninggal atau beberapa menit kemudian,
misalnya:
a. Kerja jantung dan peredaran darah terhenti,
b. Pernapasan berhenti,
c. Refleks cahaya dan kornea mata hilang,
d. Kulit pucat,
e. Terjadi relaksasi otot
E. Tahapan menjelang ajal
1. Penyangkalan dan isolasi
Karakteristiknya antara lain :
Menunjukkan reaksi penyangkalan secara verbal, Tidak, bukan saya.itu tidak
mungkin.
Secara tidak langsung pasien ingin mengatakan bahwa maut menimpa semua orang
kecuali dia. Mengisolasi diri dari kenyataan, biasanya begitu terpengaruh dengan
sikap penolakannya, tidak begitu memperhatikan fakta-fakta yang dijelaskan
padanya, meminta penguatan dari orang lain untuk penolakannya, gelisah dan cemas.
Tugas perawat :
a. Membina hubungan saling percaya
b. Memberi kesempatan klien untuk mengekspresikan diri dan menguasai
dirinya
c. Melakukan dialog disaat klien siap,dan menghentikannya ketika klien tidak
mampu menghadapi kenyataan.
d. Mendengarkan klien dengan penuh perhatian dan memberinya kesempatan
untuk bermimpi tentang hal-hal yang menyenangkan.
2. Marah
Karakteristiknya antara lain :

Mengekspresikan kemarahan dan permusuhan; menunjukan kemarahan,kebencian,


perasaan gusar dan cemburu; emosi tidak terkendali; mengungkapkan kemarahan
secara verbal mengapa harus aku ?; apapun yang dilihat atau dirasa akan
menimbulkan keluhan pada diri individu; menyalahkan takdir; kemungkinan akan
mencela setiap orang dan segala hal yang berlaku.
Tugas perawat :
a. Menerima kondisi klien
b. Berhati-hati dalam memberikan penilaian, mengenali kemarahan, dan emosi
yang tidak terkendali
c. Membiarkan klien mengungkapkan perasaannya
d. Menjaga agar tidak terjadi kemarahan destruktif dan melibatkan keluarga
Berusaha menghormati dan memahami klien,memberikan kesempatan
memperlunak suara dan mengurangi permintaan yang penuh kemarahan.
3. Tawar menawar
Karakteristiknya antara lain:
a. Kemarahan mulai mereda
b. Respon verbal ya benar aku, tapi..
c. Melakukan tawar menawar atau barter, misalnya untuk menunda kematian
d. Mempunyai harapan dan keinginan
e. Terkesan sudah menerima kenyataan
f. Berjanji pada Tuhan untuk menjadi manusia yang lebih baik
g. Cenderung membereskan segala urusan.
Tugas perawat :
Sedapat mungkin berupaya agar keinginan klien terpenuhi.
4. Depresi
Karakteristiknya antara lain:
a. Mengalami proses berkabung karena dulu ditinggalkan dan sekarang akan
kehilangn nyawa sendiri
b. Cenderung tidak banyak bicara,sering menangis
c. Klien berada pada proses kehilangan segala hal yang ia cintai
Tugas perawat :
a. Duduk tenang disamping klien
b. Memberi klien kesempatan untuk mengungkapkan perasaannya
c. Tidak terus-menerus memaksa klien untuk melihat sisi terang suatu keadaan

d. Memberi klien kesempatan untuk mengungkapkan perasaannya


e. Memberi dukungan dan perhatian pada klien (misalnya sentuhan tangan,usapan
pada rambut dll)
5. Penerimaan
Karakteristiknya antara lain :
a.
Mampu menerima kenyataan
b.
Merasakan kedamaian dan ketenangan
c.
Respon verbal biarlah maut cepat mengambilku,karena aku sudah siap
d.
Merenungkan saat-saat akhir dengan pengharapan tertentu
e.
Sering merasa lelah dan memerlukan tidur lebih banyak
f. Tahap ini bukan merupakan tahap bahagia, namun lebih mirip perasaan yang hampa
Tugas perawat :
a. Mendampingi klien
b. Menenangkan klien dan meyakinkannya bahwa anda akan mendampinginya
sampai akhir
c. Membiarkan klien mengetahui perihal yang terjadi pada dirinya.
d. Dampak sakit
a) Klien
Menderita sampai saat kematian tiba, memerlukan bantuan dan
dukungan dalam melewati masa-masa tersebut
Memutuskan perawatan yang akan dijalani
Mendapat dukungan untuk setiap keputusan yang diambilnya. Dengan
kata lain ada kecenderungan keluarga untuk memenuhi semua
keinginannya
b) keluarga
Berpartisipasi aktif dalam perawatan untuk penyembuhan klien
Memperoleh dukungan dan perhatian selama proses berduka
F. Budaya pada kematian
Ada berbagaimacam suku, adat, dan budaya Indonesia yang berarti Indonesia memiliki
berbagai jenisupacara ritual kematian, baik itu dikubur, dihanyutkan ke laut, atau dibakar.
Indonesia memang kaya tradisi dan budayanya. Banyak tradisi unik yang dimiliki oleh
negeri ini. Beda suku, beda pula tradisi yang dimilikinya. Termasuk tradisi kematian yang
berbeda-beda antara tiap sukunya.
Berikut ini beberapa tradisi kematian yang hanya ada di Indonesia:
a. Upacara kematian adat jawa
kematian mendak
Tradisi Mendhak adalah salah satu ritual dalam adat istiadat kematian budaya Jawa.
Upacara tradisional Mendhak dilaksanakan secara individu atau berkelompok untuk
memperingati kematian seseorang. Peralatan dan perlengkapan yang diperlukan untuk

upacara tradisional Mendhak adalah sebagai berikut: tumpeng, sega uduk, side dishes,
kolak, ketan, dan apem. Kadang-kadang, sebelum atau sesudah upacara Mendhak
dilaksanakan, sanak keluarga dapat mengunjungi makam saudara mereka.Upacara
tradisional ini dilaksanakan tiga kali dalam seribu hari setelah hari kematian: pertama
disebut Mendhak Pisan, upacara untuk memperingati satu tahun kematian (365 hari);
kedua disebut Mendhak Pindho sebagai upacara peringatan dua tahun kematian; ketiga
disebut sebagai Mendhak Telu atau Pungkasan atau Nyewu Dina, yang dilaksanakan
pada hari ke seribu setelah kematian.
b. Upacara Kematian Suku Sunda
Pada garis besarnya rangkaian upacara adat kematian dapat digambarkan sebagai
berikut: memandikan mayat, mengkafani mayat, menyolatkan mayat, menguburkan
mayat, menyusur tanah dan tahlilan, yaitu pembacaan doa dan zikir kepada Allah swt.
agar arwah orang yang baru meninggal dunia itu diampuni segala dosanya dan
diterima amal ibadahnya, juga mendokan agar keluarga yang ditinggalkannya tetap
tabah dan beriman dalam menghadapi cobaan. Tahlilan dilaksanakan di rumahnya,
biasanya sore/malam hari pada hari pertama wafatnya (poena), tiluna (tiga harinya),
tujuhna (tujuh harinya), matangpuluh (empat puluh harinya), natus (seratus hari),
mendak taun (satu tahunnya), dan newu (seribu harinya).
c. Upacara Kematian Tana Toraja
masyarakat Toraja umumnya tempat menyimpan jenazah adalah gua/tebing gunung
atau dibuatkan sebuahrumah (Pa'tane). Budaya ini telah diwarisi secara turun temurun
oleh leluhur mereka.
d. Upacara Ngaben di Bali
Ngaben secara umum

didefinisikan

sebagai

upacara

pembakaran

mayat,

kendatipundari asal-usul etimologi, itu kurang tepat.Sebab ada tradisi ngaben yang
tidak melalui pembakaran mayat.Ngaben sesungguhnya berasal dari kata beya artinya
biaya atau bekal,kata beya ini dalam kalimat aktif (melakukan pekerjaan) menjadi
meyanin. Kata meyaninsudah menjadi bahasa baku untuk menyebutkan upacara sawa
wadhana. Boleh juga disebut Ngabeyain. Kata ini kemudian diucapkan dengan
pendek, menjadi ngaben.
e. Saur Matua, Sumatera Utara
Upacara kematian yang dilakukan oleh masyarakat Batak. Upacara ini dilakukan jika
mendiang telah menikahkan semua anaknya sebelum meninggal. Upacara ini
merupakan bentuk penghormatan karena mendiang telah berhasil mendidik putra

putrinya sampai menikah. Jika biasanya tangan jenazah pada umumnya diletakan di
tengah dada sebelum dimakamkan maka tidak untuk Saur Mertua. Pada upacara ini
tangan mendiang akan diletakan di samping badan.
f. Tidak menguburkan jenazah, Bangli, Bali
Tidak hanya Ngaben tapi Bali juga mempunyai tradisi kematian unik lainnya. Tradisi
unik ini dilakukan oleh warga di Kabupaten Bangli, Bali. Jika ada warga yang
meninggal, masyarakat di Bangli tidak menguburkan jenazah seperti pada umumnya,
namun hanya meletakan jenazah di Kuburan Trunyan yang terletak di sisi Danau
Batur. Jenazah disandarkan pada pohon, namun uniknya meskipun jenazah di letakan
begitu saja tapi tidak ada bau bangkai yang tercium. Ini dikarenakan pohon Taru
Menyan mempunyai akar yang menjalar yang menjalar ke berbagai sudut kuburan
sehingga menghilangkan bau pada mayat.
G. End of Life Care ( EOL Care )
1. Peaceful End of life theory
Patricia A Higgins and Dana M.Hansen
Standards of care offer a promising approach for the development of
middle_range prescriptive theoris because of their empirical base in clinical practice
and their focus in linkage between interventions and outcomes.( Ruland & Moors
i998.P.169 )
Seorang perawat perlu untuk mengetahui secara kompleks perawatan pasien
yang mengalami penyakit terminal dan bagaimana perawat dapat berkontribusi
dalam memberikan ketenangan akhir dari hidup pasien. Kondisi ini dapat dilakukan
dengan mengidentifikasi kebutuhan pasien dan memberikan bimbingan klinis dalam
perawatan

dan

memberikan

mereka

pelayanan

yang

berkualitas. Dengan

demikian dapat diketahui bahwa penerapan yang dilakukan oleh perawat


tersebut merupakan hasil pengembangan dari teori Peaceful End Of life (Ruland dan
Moore 1998).
Peaceful End of life dikembangkan dari beberapa kerangka teori, secara primer
berdasarkan model klasik Donabedian baik struktur, proses dan outcomes
(Ruland dan Moore, 1998) yang sebagiannya berkembang dari teori 11 system

umum grand teori. Pengaruh teori sistem umum dapat menembus semua teori
keperawatan, dari model konsep hingga teori middle dan microrange, sebagai
indikator kegunaanya dalam menjelaskan kompleksitas interaksi antara kesehatan
dan organisasi (Higgins dalam buku Tomey dan Alligood, 2002). Dalam teori
EOL, setting struktur adalah sistem keluarga (pasien penyakit terminal dan
orang-orang terdekat) yang menerima asuhan dari tenaga professional di unit
akut rumah sakit, dan prosesnya dijelaskan sebagai tindakan-tindakan (intervensi
keperawatan) yang didesain untuk meningkatkan hasil positif terkait dengan:
1) Bebas dari rasa nyeri
2) Mengalami rasa nyaman
3) Mengalami perhargaan dan bermartabat
4) Menjadi lebih tenang
5) Mengalami kedekatan dengan orang-orang terdekat dan pemberi
asuhan.
Landasan teoritis kedua dari teori ini adalah teori preferensi atau pilihan
( Brandt, 1979), digunakan oleh para ahli filosofi untuk menjelaskan dan
mendefinisikan kualitas kehidupan (Sandoe, 1999). Ini merupakan suatu konsep
yang sangat penting dalam riset dan praktik EOL. Di dalam teori preferensi,
definisi

kehidupan

pendekatan

ini

yang

terlihat

baik

adalah

sangat

tepat

mendapatkan
pada

asuhan

apa
EOL.

yang diinginkan,
Hal

ini dapat

diaplikasikan untuk orang sadar maupun orang yang tak berdaya yang sudah ada
dokumentasinya untuk pengabilan keputusan EOL.

2. Konsep Utama dan Kegunaannya


a) Tidak mengalami nyeri
Bebas dari penderitaaan ataupun distress adalah bagian utama dari
banyaknya

pengalaman

EOL pasien. Nyeri dianggap sebagai

pegalaman

sensoris atau emosi yang tidak menyenangkan dikaitkan dengan kerusakan jaringan
aktual maupun potensial (Lenz, Suppe, Gift, Pugh & Milligan, 1995; Pain term,
1979)
b) Mengalami rasa nyaman
Rasa nyaman didefinisikan secara inklusif, menggunakan Kolcaba dan
Kolcabas work (1991) sebagai bebas dari rasa tidak nyaman, kondisi sentosa
dan damai/puas dan apapun yang membuat hidup lebih mudah dan menyenangkan
(Ruland & Moore, 1998, p.172)
c) Merasa bermartabat dan dihargai
Setiap pasien penyakit terminal dihargai dan dinilai sebagai seorang
manusia (Ruland & Moore, 1998. P.172). Konsep

ini menyatukan pendapat

tentang nilai pribadi, yang diekspresikan oleh prinsip etik (otonomi) atau
menghargai

orang

diperlakukan

sebagai

lain
agen

yang menyatakan
otonomi

dan

bahwa

indivisu seharusnya

orang-orang

yang otonominya

berkurang mempunyai hak atas perlindungan (United State, 1978). Munn, et al


2008 mengatakan dalam penelitiannya bahwa merasa dihargai (contoh: perhatian
perawat terhadap inkontinen) merupakan hal yang penting dalam EOL.
d) Menjadi damai
Damai adalah perasaan tenang, harmonis dan puas, bebas dari kecemasan,
kegelisahan,

kekhawatiran

dan

ketakutan

(Ruland

&

Moore,

1998,

p.172).keadaan penuh damai meliputi dimensi fisik, psikologis dan spiritual.


e) Kedekatan dengan orang-orang terdekat
Kedekatan adaah perasaan terhubung dengan manusia-manusia yang
peduli (Ruland & Moore, 1998, p.172). hal ini meliputi kedekatan fisik atau
emosi yang diekspresikan melalui kehangatan dan hubungan yang dekat/intim.
Munn etal, 2008 dalam penelitiannya mengatakan bahwa ada peran yang signifikan
dalam hubungan kedekatan perawat-pasien saat memberikan asuhan EOL.

Teori
perawatan

ini

berfokus

secara

holistic

kepada
untuk

fenomena keperawatan

yang

komplek,

mendukung individu dalam menghadapi

kematian secara damai.

Ada dua asumsi Roland and Moore (1998) identifikasi teori sebagai berikut:
a. Pengalaman kejadian dan perasaan pada masa akhir hidup merupakan
bersifat pribadi dan individual.
b. Asuhan Keperawatan mempunyai peranan yang sangat penting dalam
menciptakan pengalaman untuk menghadapi kematian dengan damai
(peaceful

end

of

life).

Perawat

melakukan

pengkajian

dan

menginterpretasikan isyarat yang mereflesikan pengalaman seseorang dalam


menghadapi kematian dan mengintervensi dengan tepat untuk memperoleh
atau mempertahankan pengalaman yang damai. Bahkan sekalipun pasien
yang akan menghadapi kematian dengan keadaan

tidak dapat komunikasi

verbal. Ada dua tambahan asumsi yang tersirat, yaitu:


a) Keluarga, sebuah istilah yang mencangkup orang lain yang berate bagi
pasien merupakan bagian penting dalam perawatan klien dengan keadaan
menjelang kematian.
b) Tujuan pelayanan end of life adalah bukan mengoptimalkan pelayanan
dengan

cara

teknologi

terbaik

melainkan

untuk

memaksimalkan

pelayanan demi mencapai kualitas hidup dan kematian yang penuh


kedamaian. Ruland and Moore (1998) mengidentifikasi enam pernyataan
hubungan eksplisit dalam teori mereka yaitu :
1. Memantau dan memberikan obat

penghilang

nyeri

dan

intervensi farmakoterapi nonfarmakoterapi untuk memberikan


pengalaman hidup tanpa nyeri 15.
2. Mencegah, memantau dan memberi

kenyamanan

fisik,

membantu istirahat, relaksasi dan mencegah komplikasi yang


berkontribusi pada pengalaman merasa nyaman.

3. Mengikutsertakan pasien dan orang terdekat dalam proses


pengambilan keputusan terkait pelayanan keperawatan yang
diberikan kepada pasien, memberlakukan pasien dengan martabat,
empati dan hormat, dan bersikap atentif terhadap kebutuhan pasien,
harapan untuk membuat pasien merasa bermartabat dan dihormati.
4. Mendukung emosi, memantau dan memenuhi kebutuhan pasien akan
obat-obatan

anti

cemas,memenuhi

keinginan

percaya

untuk

membuat pasien merasa damai.


5. Memfasilitasi partisipasi orang-orang terdekat dalam pelayanan
keperawatan

pasien, menerima

rasa

berduka

keluarga,

kekhawatiran, pertanyaan-pertanyaan dan memberi kesempatan pada


keluarga untuk mengalami kedekatan pada orang yang dirawat.
6. Kesemua lima point diatas dapat berkontribusi terhadap akhir
kehidupan yang penuh kedamaian.
(Ibrahim, Kusuma, April 2014, Persepsi Perawat Neurosurgical Critical Care Unit
(NCCU) terhadap Perawat Pasien Menjelang Ajal. Volume 2, NO 1, 23 April 2016.)
Hospice & Palliative care
Hospice Care
a. Pengertian

hospice

care

adalah

bentuk

lain

pelayanan

yang

kadang-kadang

diklarisifikasikan sebagai long term. Hospice care menyediakan panti asuhan paliatif
(peringanan penderitaan) dan penunjang bagi penderita penyakit terminal dan
keluarganya. Disini penekanan ditujukan pada pengontrolan gejala dan persiapam untuk
penunjang sebelum dan setelah kematian. Hospice care sebenarnya bukanlah suatu
fasilitas akan tetapi suatu konsep penyediaan pelayanan kesehatan pada saat diperlukan.
Hospice care memfokuskan pada pemeliharaaan kualitas kehidupan pasien dan bukan
berfokus pada penanganan secara agresif terhadap penyakit yang dimiliki pasien. Dalam
penanganan ini, dukungan psikologis, emosional, dan spiritual diberikan untuk
memabantu pasien dan keluarga mereka dalam menghadpai proses menjelang kematian
pasien.

b. Tujuan Hospice care


a) Membantu klien dan keluarga memelihara kondisi dan kesejahteraan klien
b) Meringankan rasa sakit dan memfasilitasi rasa nyaman klien
c) Mempersiapkan klien dan keluarga untuk menghadapi kondisi klien

c. Pelayanan Hospice Care


Pelayanan Hospice Care merupakan fase akhir perawatan paliatif yang dibuat bagi klien
yang sudah tdak mendapat keuntungan dari poengobatan medis, sudah tidak dapat
bertahan hidup lebih lama dari 6 bulan atau sudah sangat sekarat.
Menurut World Health Organization (2003) mendefinisikan perawatan paliatif :
a) Mendukung kehiduoan, dan menganggap sekarat merupakan suatu proses normal
b) Tidak mempercepat atau menunda kematian
c) Memberikan penghilang rasa nyeri dan gejala tekanan lainnya
d) Mengintegrasikan aspek psikologis dan spiritual dari perawatan klien
e) Menawarkan sistem dukungan untuk membantu klien hidup seaktif mungkin
sampai meninggal
f) Menawarkan sistem dukungan untuk memabantu kelaurga beradaptasi selama
klien menderita penyakit dan kehilangan mereka sendiri
g) Meningkatkan kualitas hidup
Bersama dengan klien dan anggota keluarga tim pelayanan kesehatan inter disiplin dan
kolaborasi menentukan tujuan perawatan dan memilih intervensi yang sesuai. Perawatan
hospice berfokus pada hal-hal berikut ini :
a.

Klien dan keluarga sebagai unit perawatan

b. Perawatan rumah yang terkoordinasi dengan tetap tersedianya temapt tidur Rumah
Sakit
c.

Mengontrol gejala (fisik,sosiologis, psikologis dan spiritual)

d.

Pelayanan langsung oleh dokter

e.

Fasilitas medis dan keperawatan tersedia setiap saat


f. Tindak lanjut proses kehilangan setelah kematian

d. Peran Perawat
Dalam hospice, perawatan yang diberikan juga lebih berfokus pada perawatan orang yang
sedang menghadapi kematian daripada berfokus pada upaya mmemenuhi kebutuhan
fisiologis mereka. Beberapa peranan perawat, antara lain :
a. Perawat menyelenggarakan pelayanan psikososial Klien pada akhir kehidupan
mengalami suatu variasi gejala psikologis, misalnya : kecemasan, depresi,
perubahan bentuk tubuh, penyangkalan, ketidakberdayaan, ketidakkeyakinan, dan
isolasi ( Caroll-johnson, orman, dan Bush, 2006) Klien mengalami kesedihan
mendalam karena tidak mengetahui atau tidak menyadari aspek dari status
kesehatan atau pengobatan mereka. Sediakan informasi yang dapat membantu klien
memahami kondisi mereka, keuntungan dan kerugian dari pilihan pengobatan, serta
nilai-nilai dan tujuan mereka untuk menjaga otonomi klien yang diganggu oleh
ketidaktahuan akan penanganan masa depan atau ketidakkeyakinan tentang tujuan
pengobatan (Weiner dan Roth, 2006)
b. Meningkatkan martabat dan harga diri klien
Perihal martabat melibatkan penghormatan diri positif seseorang, kemampuan
untuku menanamkan dan mendapatkan kekuatan dari arti hidup individu itu sendiri,

dan bagaimana individu diobati oleh pemberi layanan. Perawat meningkatkan harga
diri dan martabat klien dengan m menghormatinya sebagai individu seutuhnya
dengan perasaan, prestasi, dan keinginan untuk bebas dari penyakit ( Chocinov,
2002). Sangat penting abgi perawat untuk memberikan sesuatu yang klien hormati
kewenangannya, pada saat yagn sama memperkuat komunikasi antar-klien, anggota
keluarga, dan perawat. Berikan keleluasaan selama prosedur keperawatan, dan
sensitif ketika klien dan keluarga membutuhkan waktu sendiri.
c. Menjaga lingkungan yang tenang dan nyaman
Lingkungan yang nyaman,bersih, menyenangkan membantu klien untuk
beristirahat, mempromosikan pola tidur yang baik dan mengurangi keparahan
gejala.
d. Mempromosikan kenyamanan spiritual dan harapan
Bantu klien membuat hubungan dengan praktik spiritual atau komunikasi budaya
mereka. Kien merasa nyaman ketika mereka memiliki asuransi bahwa beberapa
aspek kehidupan mereka akan melampaui kematian. Dengan secara teratur harpanharapan klien dan temukan cara untuk membantu mereka mencapai tujuan yang
mereka inginkan.
e. Melindungi terhadap keterbelakangan dan isolasi
Banyak klien dengan penyakit terminal takut untuk mati seorang diri. Kesendirian
membuat mereka jadi ketakutan dan mer dan merasa putus asa. Perawat dalam
suatu institusi harus menjawab panggilan klien dengan cepat dan memeriksa klien
sesering mungkin untuk meyakinkan mereka bahwa sesorang berada didekatnya
(Stanley, 2002)
f. Mendukung keluarga
Anggota keluarga dari klien yang menerima pelayanan paliatif dipopengaruhi oleh
tantangan pemberian pelayanan dan berduja. Kurangnya informasi merupakan
masalah yang banyak dilaporkan anggotta keluarga klien yang sekarat (Kristjanson

dan Aoun, 2004). Mereka membutuhkan dikungan perawat, petunjuk, dan edukasi
selama mereka merawat orang yang mereka cintai.
g. Membantu membuat keputusan akhir kehidupan
Klien dan anggota keluarga sering menghadapi keputusan pengobatan yang
kompleks dengan pengetahuan yang terbatas. Perasaan takut atau bersalah yang
tidak terselesaikan. Anjurkan klien untuk mengkomunikasikan dengan jelas
keinginannya terhadpa perawatan akhir kehidupan sehingga anggota keluarga dapat
bertindak sebagai pengganti yang tepat ketika klien tidak dapat lagi berbicara untuk
dirinya sendiri.

Palliative care
Menurut WHO pada 1990 perawatan palliative adalah perawatan total dan aktif
dari untuk penderita yang penyakitnya tidaklagi responsive terhadap pengobatan kuratif.
Berdasarkan definisi ini maka jelas Perawatan Paliatif hanya diberikan kepada penderita
yang penyakitnya sudah tidak respossif terhadap pengobatankuratif. Artinya sudah tidak
dapat disembuhkan dengan upaya kuratif apapun. Tetapi definisiPerawatan Paliatif
menurut WHO 15 tahun kemudian sudah sangat berbeda.Perawatan

paliatif

adalah

pendekatan yang bertujuan memperbaiki kualitas hidup pasien dan keluarga yang
menghadapi masalah yang berhubungan dengan penyakit yang dapat mengancam jiwa,
melalui pencegahan dan peniadaan melalui identifikasi dini dan penilaian yang tertib
serta penanganan nyeri dan masalah-masalah lain, fisik, psikososial dan spiritual
(KEPMENKES RI NOMOR: 812, 2007).
Menurut KEPMENKES RI NOMOR: 812, 2007 kualitas hidup pasien adalah
keadaan pasien yang dipersepsikan terhadap keadaan pasien sesuai konteks budaya
dan sistem nilai yang dianutnya, termasuk tujuan hidup, harapan, dan niatnya.
Dimensi

dari

kualitas

hidup. Dimensi

dari

kualitas

hidup yaitu Gejala

fisik,

Kemampuan fungsional (aktivitas), Kesejahteraan keluarga, Spiritual, Fungsi sosial,


Kepuasan terhadap pengobatan (termasuk masalah keuangan), Orientasi masa depan,
Kehidupan seksual, termasuk gambaran terhadap diri sendiri, Fungsi dalam bekerja.
Menurut KEPMENKES RI NOMOR: 812, 2007 Palliative home care adalah

pelayanan perawatan paliatif yang dilakukan di rumah pasien, oleh tenaga paliatif dan atau
keluarga atas bimbingan/ pengawasan tenaga paliatif.
Di sini dengan jelas dikatakan bahwa Perawatan Paliatif diberikan sejak diagnosa
ditegakkan sampai akhir hayat. Artinya tidak memperdulikan pada stadium dini atau lanjut,
masih bisa disembuhkan atau tidak, mutlak Perawatan Paliatif harus diberikan kepada
penderita itu. Perawatan Paliatif tidak berhenti setelah penderita meninggal, tetapi masih
diteruskan dengan memberikan dukungan kepada anggota keluarga yang berduka. Maka
timbullah pelayanan palliative care atau perawatan paliatif yang mencakup pelayanan
terintegrasi antara dokter, perawat, terapis, petugas social-medis, psikolog, rohaniwan,
relawan, dan profesilain yang diperlukan.
Lebih lanjut, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menekankan lagi bahwa
pelayanan paliatif berpijak pada pola dasar berikut ini :
a. Meningkatkan kualitas hidup dan menganggap kematian sebagai proses yang
normal
b. Tidak mempercepat atau menunda kematian.
c. Menghilangkan nyeri dan keluhan lain yang menganggu.
d. Menjaga keseimbangan psikologis dan spiritual.
e. Berusaha agar penderita tetap aktif sampai akhir hayatnya
f. Berusaha membantu mengatasi suasana dukacita pada keluarga.
Dari data diatas dapat disimpulkan bahwa tujuan dari perawatan palliative adalah
untuk mengurangi penderitaan pasien, memperpanjang umurnya, meningkatkan kualitas
hidupnya, juga memberikan support kepada keluarganya. Meski pada akhirnya pasien
meninggal, yang terpenting sebelum meninggal dia sudah siap secara psikologis dan
spiritual, tidak stres menghadapi penyakit yang dideritanya.
a) Tujuan Dan Sasaran Kebijakan
Tujuan umum kebijakan palliative

sebagai payung hukum dan arahan

bagi perawatan paliatif di Indonesia. Sedangkan tujuan khususnya adalah


terlaksananya perawatan paliatif yang bermutu sesuai standar yang berlaku di
seluruh Indonesia, tersusunnya pedoman-pedoman pelaksanaan/juklak perawatan
paliatif, tersedianya tenaga medis dan non medis yang terlatih, tersedianya

sarana dan prasarana yang diperlukan.Sasaran kebijakan pelayanan paliatif


adalah seluruh pasien (dewasa dan anak) dan anggota keluarga, lingkungan
yang memerlukan perawatan paliatif di mana pun pasien berada di seluruh
Indonesia. Untuk

pelaksana perawatan paliatif : dokter, perawat, tenaga

kesehatan lainnya dan tenaga terkait lainnya. Sedangkan Institusi-institusi


terkait,

misalnya:sDinas

kesehatan

propinsi

dan

dinas kesehatan

kabupaten/kota, Rumah Sakit pemerintah dan swasta, Puskesmas, Rumah


perawatan/hospis, Fasilitas kesehatan pemerintah dan swasta lain. (KEPMENKES
RI NOMOR: 812, 2007).
b)Lingkup Kegiatan Perawatan Paliatif
Jenis

kegiatan

perawatan

paliatif

meliputi

penatalaksanaan

nyeri,

penatalaksanaan keluhan fisik lain, asuhan keperawatan, dukungan psikologis,


dukungan social, dukungan kultural dan spiritual, dukungan persiapan dan
selama masa dukacita (bereavement). Perawatan paliatif dilakukan melalui rawat
inap, rawat jalan, dan kunjungan /rawat rumah. (KEPMENKES RI NOMOR: 812,
2007).

c) Klasifikasi Palliative Care


Palliative care terbagi menjadi beberapa macam diantaranya adalah sebagai
berikut:
1. Terapi Musik
Alunan musik dapat mempercepat pemulihan penderita stroke, demikian
hasil riset yang dilakukan di Finlandia. Penderita stroke yang rajin
mendengarkan music setiap hari, menurut hasil riset itu ternyata
mengalami Peningkatan pada ingatan verbalnya dan memiliki mood yang
lebih baik dari pada penderita yang tidak menikmati musik. Musik
memang telah lama digunakan sebagai salah satu terapi kesehatan,
penelitian di Finlandia yang dimuat dalam Jurnal Brain itu adalah riset
pertama yang membuktikan efeknya pada manusia. Temuan ini adalah

bukti pertama bahwa mendengarkan music pada tahap awal pasca stroke
dapat meningkatkan pemulihan daya kognitif dan mencegah munculnya
perasaan negative.
2. Psikoterapi
Gangguan citra diri yang berkaitan dengan dampak perubahan citra fisik,
harga diri dengan citra fungsi sosial, fungsi fisiologis, dan sebagainya
dapat dicegah / dikurangi dengan melakukan penanganan antisipatorik
yang memadai. Tetapi hal ini belum dapat dilaksanakan secara optimal
karena kondisi kerja yang belum memungkinkan.
3. Hipnoterapi
Hipnoterapi merupakan salah satu cabang ilmu psikologi yang
mempelajari manfaat sugesti untuk mengatasi masalah pikiran, perasaan,
dan perilaku. Hipnoterapi bisa bermanfaat dalam menerapi banyak
gangguan psikologis-organis seperti hysteria, stress, fobia (ketakutan
terhadap

benda-benda

tertentu

atau

keadaan

tertentu),

gangguan

kecemasan, depresi, perilaku merokok, dan lain-lain.


4. Palliative Care Religius
Agama merupakan hubungan antara manusia dengan tuhan. Terapi
religious sangat penting dalam memberikan palliative care. Kurangnya
pemenuhan kehidupan beragama, menimbulkan masalah pada saat terapi.
Pengetahuan dasar dari masing-masing agama sangat membantu dalam
mengembangkan palliative care.
5. Terapi Paliatif Radiasi
Terapi paliatif radiasi merupakan salah satu metode pengobatan dengan
menggunakan radiasi / sinar untuk mematikan sel kanker yang akan
membantu pencegahan terhadap terjadinya kekambuhan. Terapi radiasi
dapat diberikan melalui dua cara. Pertama dengan menggunakan cara
radiasi eksterna, dan kedua dengan brakiterapi. Radiasi eksterna adalah
suatu teknik radiasi dimana sumber radiasi berada di luar tubuh pasien.
Radiasi ini menggunakan suatu mesin yang mengeluarkan radiasi yang
ditujukan kea rah sel kanker. Brakiterapi adalah suatu teknik radiasi

dimana sumber radiasi diletakkan di dalam tubuh pasien dekat dengan sel
kanker tersebut. Peran radioterapi pada palliative care terutama adalah
untuk mengatasi nyeri, yaitu nyeri yang disebabkan oleh infiltrasi tumor
local.
6. Terapi Paliatif Kemoterapi
Pemakaian kemoterapi pada stadium paliatif adalah untuk memperkecil
masa tumor dan kanker dan untuk mengurangi nyeri, terutama pada tumor
yang kemosensitif. Beberapa jenis kanker yang sensitive terhadap
kemoterapi dan mampu menghilangkan nyeri pada lymphoma. Myeloma,
leukemia, dan kanker tentis.Pertimbangan pemakaian kemoterapi paliatif
harus benar-benar dipertimbangkan dengan menilai dan mengkaji efek
positif yang diperoleh dari berbagai aspek untuk kepentingan pasien.
7. Pembedahan
Tindakan pembedahan pada perawatan paliatif bermanfaat untuk
mengurangi nyeri dan menghilangkan gangguan fungsi organ tubuh akibat
desakan massa tumor / metastasis. Pada umumnya pembedahan yang
dilakukan adalah bedah ortopedi / bedah untuk mengatasi obstruksi
visceral. Salah satu contoh tindakan pembedahan pada stadium paliatif
adalah fiksasi interna pada fraktur patologis / fraktur limpeding / tulang
panjang.
d) Tim Interdisipliner Palliative Care
Palliative care ini membutuhkan tim kerja yang terdiri dari berbagai multidisiplin
ilmu karena ilmu kedokteran pada zaman sekarang ini telah berkembang menjadi
adanya interaksi dari fisik, fungsional, emosional, psikologis, sosial, dan aspek
spiritual yang akan menjadi multidisiplin ilmu.
Tim palliative care dapat terdiri dari perawat, dokter, psikiater, petugas sosial
medis, rohaniawan, terapis, dan anggota lain sesuai kebutuhan. Setiap anggota tim
sebaiknya memahami dan menguasai prinsip-prinsip dan praktek palliative care.
Tim harus berani menjamin bahwa pasien akan mendapat pelayanan seutuhnya,

baik fisik maupun mental, sosial, serta spiritual dengan cara yang benar dan dalam
porsi yang seimbang.
Tim paliatif ini akan dipimpin oleh seorang dokter yang memiliki pengalaman
yang luas tentang menangani penyakit tingkat lanjut dan gejala yang kompleks.
Dokter dapat memberikan konsultasi untuk membantu dokter lain. Perawat yang
diberi pelatihan khusus dalam merawat pasien dengan penyakit stadium lanjut dan
terminal akan merawat pasien di dalam pallitaitive care. Perawat bertanggung
jawab untuk memberikan kasih saying dan pendidikan kepada pasien dan
keluarganya.
Konseling spiritual juga merupakan salah satu dari tim interdisiplin. Konseling
spiritual dapat diberikan kepada penderita yang tidak memiliki agama sekalipun.
Konseling spiritual dapat membantu meningkatakan iman yan berfungsi sebagai
mekanisme koping bahkan terapi pada penderita yang sedang sekarat. Pendeta,
ustadz, atau pemuka agama lainnya dapat membantu membentuk ikatan di dalam
tim palliative care.
Tim paliatif memiliki ciri khas yakni profesi setiap anggota tim telah dikenal
cakupan dan lingkup kerjanya. Para professional ini bergabung dalam satu
kelompok kerja secara bersama mereka menyusun dan merancang tujuan akhir
perawatan melalui beberapa langkah tujuan jangka pendek. Tim adalah motor
penggerak dari semua kegiatan pasien. Proses interaksi komunikasi merupakan
kunci keberhasilan pengobatan palliative care.
e) Perawatan Paliatif pada Pasien Kanker
Pada Pasien Kanker belum tersedianya fasilitas diagnostic dan pengobatan kanker
secara merata seharusnya menyebabkan perawatan paliatif menjadi sangat penting.
Selain program pencegahan kanker sangat dianjurkan bagi negara yang sedang
berkembang untuk lebih mengarahkan sumber daya yang ada untuk program
perawatan paliatif karena akan mencakup lebih banyak sasaran.
1. Peran Perawatan Paliatif pada Penatakasanaan Penyakit Kanker
Tahapan Program Pencegahan Timbulnya Kanker
a

Pendidikan masyarakat

Pencegahan penyakit stadium lanjut melalui program deteksi dini,

Penurunan angka kematian dengan terapi kanker dan

Pencegahan penderita dengan perawatan paliatif

2. Penderitaan Pasien Kanker


a

Penderitaan Pasien Kanker (Psikologis)


Gangguan psikologis dapat juga muncul akibat gejala fisik, progresifitas
penyakit, kecacatan yang timbul, perubahan bentuk tubuh, ketergantungan
fisik, kelelahan fisik, kegagalan pengobatan, biaya yang harus dikeluarkan,
komunikasi yang buruk dengan petugas kesehatan, dll

Penderitaan Pasien Kanker (Fisik)


Gejala fisik juga dapat muncul karena pengobatan yang sedang dilakukan.
Kemoterapi atau radiasi di bagian tertentu dapat memberikan efek samping
mual, muntah, tidak nafsu makan, cepat lelah dan sebagainya. Nyeri atau
gangguan fungsi bagian tubuh yang dioperasi dapat terjadi akibat operasi.
Kondisi tirah baring dalam waktu lama dapat menimbulkan pasien merasa
semakin lemah, gangguan buang air besar, luka di bagian tubuh yang
tertindih dan sebagainya. Kondisi lain yang menyertai yang telah ada
sebelumnya juga dapat menambah gejala yang muncul.

Penderitaan Pasien Kanker (Sosial)


Kesulitan social pada pasien kanker dapat menimbulkan penderitaan,
misalnya masalah hubungan interpersonal yang muncul akibat reaksi
pasien, reaksi keluarga atau orang lain terhadap penyakitnya, masalah
perkawinan, tidak adanya persamaan pendapat tentang pengobatan yang
dijalani, perubahan peran dalam keluarga, kesulitan keuangan, penyakit
yang dirahasiakan

Penderitaan Pasien Kanker (Spiritual dan Agama)


Masalah spiritual dan agama seperti menganggap penyakit akibat
hukuman, menyalahkan diri sendiri, hidup tidak berguna dsb dapat
menjadi sumber penderitaan.

3. Penderitaan Keluarga

Penderitaan keluarga mungkin mengalami kelelahan akibat perubahan peran


dalam keluarga, nutrisi yang tidak terpenuhi, kurangnya waktu tidur dan waktu
olahraga dan mengerjakan hobinya dan melakukan kegiatan sehari-harinya.
Keluarga berpotensi untu mengalami stress psikologi
4. Tujuan Perawatan Paliatif pada Pasien Kanker Stadium Terminal
a

Tujuan Perawatan Paliatif Pada Pasien Kanker Stadium Terminal (Fisik)


Tujuan yang akan dicapai dalam perawatan paliatif dibuat dengan
memperhatikan hal realistic yang ingin dicapai oleh pasien. Hal ini biasanya
disampaikan dalam bentuk fungsi tubuh misalnya aku ingin bisa melakukan
sesuatu atau kejadian penting misalnya aku ingin melihat anakku menikah.

Tujuan Perawatan Paliatif Pada Pasien Kanker Stadium Terminal (Klinik)


Sedang tujuan klinik adalah mengatasi gejala yang ada. Jadi penyusunan
tujuan perawatan paliatif dilakukan oleh tim paliatif yang dialaminya
termasuk pasien dan keluarga
5. Jenis Layanan Paliatif yang Dapat Diberikan pada Pasien Kanker
a

Konsultasi layanan paliatif

Penanggulangan nyeri

Penanggulangan keluhan lain penyerta penyakit primer

Bimbingan psikologis, social dan spiritual

Persiapan kemampuan keluarga untuk perawatan pasien di rumah

Kunjungan rumah berkala, sesuai kebutuhan pasien dan keluarga

Bimbingan perawatan untuk pasien dan keluarga

Bimbingan perawatan untuk pasien dan keluarga

Asuhan keperawatan terhadap pasien dengan luka, gastrostomi, colostomy,


selang makanan (NGT), kateter dll

Membantu penyediaan tenaga perawat home care

Mpenyediaan pelaku rawat (caregiver)

Membantu kesiapan menghadapi akhir hayat dengan tenang dan dalam iman

m Memberi dukungan masa dukacita


n

Konsultasi melalui telepon

6. Tempat Perawatan Paliatif Pasien Kanker

Tempat Perawatan Paliatif Pasien Kanker (Poliklinik)


Pasien kanker dapat dilayani di poliklinik paliatif untuk penanggulangan nyeri yang
memerlukan obat atauntindakan rehabilitasi medic, atau keluhan lain yang tidak
memerlukan perawatan di rumah sakit sekaligus untuk mendapatkan bimbingan
psikologis, social spiritual yang diberikan.

Tempat Perawatan Paliatif Pasien Kanker (Rawat Inap)


Pasien dengan keluhan fisik yang tidak dapat ditanggulangi di poliklinik, dirawat
singkat atau di rumah mendapat perawatan di rumah sakit.

Tempat Perawatan Paliatif Pasien Kanker (Rawat Singkat)


Adalah tempat perawatan pasien yang memerlukan perawatan di rumah sakit
namun namun tidak perlu menginap, misalnya untuk transfuse, pemberian obatobat tertentu atau perbaikan kekurangan cairan tingkat ringan dan sedang.

Tempat Perawatan Paliatif Pasien Kanker (Rumah)


Adalah tempat yang ideal bagi pasien paliatif terutama terutama pada saat
menjelang kematian, karena berada dekat di tengah keluarga dapat memberikan
kenyamanan, privacy dan rasa aman. Keluarga juga dapat terlibat lebih banyak
dalam perawatan tanpa harus meninggalkan rumah.

Tempat Perawatan Paliatif Pasien Kanker (Hospis)


Bila berada di rumah tidak memungkinkan karena kondisi keluarga, misalnya tidak
ada yang dapat merawat, sedang perawatan di rumah sakit tidak diperlukan atau
pasien menolak, hospis adalah tempat yang diperlukan agar gejala yang ada dapat
tertangani namun di lingkungan dengan suasa rumah bukan suasana rumah sakit.

7. Peran Keluarga
a

Masalah keluhan fisik dalam perawatan paliatif banyak cara yang dapat dilakukan,
oleh keluarga untuk membantu mengurangi keluahan yang ada, misalnya dengan
relaksasi, pengaturan posisi, penyesuaian lingkungan dll. Hal tersebut dapat
dilakukan keluarga dengan bimbingan dan tenaga kesehatan Tim paliatif.

Masalah perawatan pasien memandikan, melakukan perawatan mulut,kulit,


membantu buang air kecil/besar pada mereka yang mengalami kelumpuhan,
melakukan pembalutan pada bagian tubuh yang membengkak karena adanya
sumbatan aliran getah bening adalah hal hal lain yang perlu dilakukan oleh

keluarga. Pemakaian alat kedokteran misalnya oksigen nebulizer (penguap) tertentu


dan perawatan stoma ( lubang pada bagian tubuh tertentu untuk tujuan sesuai
lokasinya), kateter , selang yang dimasukkan melalui hidung dengan berbagai
tujuan juga menjadi tugas keluarga jika pasien berada di rumah.
c

Masalah gangguan psikologis komunikasi yang baik antara pasien, keluarga dan tim
paliatif lain akan sangat membantu mengurangi stress psikologis pasien. Selain
komunikasi, menciptakan suasanan keterbukaan anggota keluarga, dan melibatkan
pasien dalam mengambil keputusan terhadap tindakan yang akan dilakukan juga
sangat bermanfaat.

Masalah kesulitan sosial bagaimana keluarga bereaksi terhadap kondisi pasien akan
mempengaruhi

bagaimana

pasien

menerima

keadaannya

dan

bagaimana

berinteraksi dengan lingkungan sosialnya. Jadi keluarga mempunyai peran besar


dalam membantu pasien.
e

Masalah spiritual pasien kanker mungkin menyalahkan diri sendiri karena kondisi
saat ini dianggap akibat atau hukuman dosa yang pernah dilakukan di masa lampau
dan muncul ketakutan akan kematian. Anggapan bahwa dirinya tidak memiliki lagi
arti dalam keluarga dan menjadi beban keluarga serta penyesalan belum dapat
memenuhi keinginan keluarga sering dialami pasien kanker stadium lanjut.
Keluarga sangat berperan dalam mengatasi hal ini dibantu oleh rohaniawan.

8. Peran Masyarakat
Peran masyarakat membuat support group yang melakukan kegiatan seperti
penggalangan dana, kegiatan- kegiatan amal dan lain-lain untuk membantu penderita
kanker.
H. MERAWAT KLIEN MENJELANG AJAL
Klien mungkin mengalami banyak gejala selama berbulan-bulan sebelum terjadi
kematian. Perawat dapat berbagi penderitaan klien menjelang ajal dan mengintervensi
dalam cara yang meningkatkn kualitas hidup. Klien menjelang ajal harus dirawat dengan
respek dan perhatian. Menurut Potter & Perry (2006) kita dapat melakukan perawatan
1

terhadap klien yang menjelang ajal sebagai berikut :


Peningkatan Kenyamanan

Kenyamanan bagi kien menjelang ajal termasuk pengenalan dan peredaan distress
psikobiologis

(Oncology

Nursing

Society

and

The

American

Nurses

Association,1979). Perawat memberi berbagai tindakan penenangan bagi klien sakit


2

terminal.
Pemeliharaa Kemandirian
Pada klien menjelang

ajal

menginginkan

sebanyak

mungkin

mapan-diri.

Mengizinkan klien untuk melakukan tugas sederhna seperti mandi, memasang


kacamata, dan makan akan mempertahankan martabat dan rasa mapan-diri. Ketika
klien tidak mampu secara fisik untuk melakukan perawatan diri, perawat dapan
memberikan dorongaan dengan berpartisipasi dalam perawatan. Perawat tidak boleh
memaksakan partisipasi, terutama sekali jika ketidakmampuan secara fisik membuat
partisipasi tersebut menjadi sulit. Keluarga yang kuatiran, sering cenderung
mengambil alih untuk klien. Perawat dapat memberikan dorongan kepada keluarga
untuk membiarkan klien membuat keputusan. Jika perawatan dilakukan dirumah,
3

rutinitas normal mungkin ditetapkan untuk membantu menciptakan rasa control diri.
Pencegahan Kesepian dan Isolasi
Perawat tidak terikat atau menghindari pembahasan tentang situasi yang dialami
klien, maka klien menjelang ajal dapat mengalami kesepian yang mendalam. Perawat
membutuhkan kesabaran dan pengalaman untuk merespon secara efektif terhadap
klien menjelang ajal. Sering kali perawat yang belum pernah merawat klien
menjelang ajal menjadi kesulitan untuk memberikan dukungan yang diperlukan bagi
mereka yang meninggal. Kematian menimbulkan kegagalan bagi banyak pemberi
perawatan kesehtn. Terlebih lagi, proses menjelang ajal dapat menyebabkan pasien
menjadi tidak menyenangkan. Jika kondisi menyebabkan bau yang sangat
menyengat, inkontinensia, kebingungan, atau menyerng, maka perawat mungkin
akan menghindari klien. Di rumah sakit, pasien menjelang ajal sering ditempatkan
pada ruangan khusus yang tersendiri untuk menghindari pemajanan terhadap orang
lain tentang penderitaan. Ruangan klien mungkin diterangi dengan penerangan
redup, tirai mungkin dipasang, dan suara dikurangi. Tnpa stimulasi sensori yang
bermakna, orang menjelang ajal mungkin merasa diabaikan dan diisolasi.
Untuk mencegah kesepian perawat memberikan stimulasi lingkungan yang bermakna
dengan menenangkan klien. Ruangan klien di rumah sakit atau di rumah harus diberi
penerangn yang cukup dan baik serta diatur agar menarik dan harus memberikan

pandangan yang menstimulasi seperti gambar, benda yang menyenangkan, kartu atau
surat dari anggot keluarga dan tumbuhan hidup yng dapat menghibur klien. Hal
terpenting dalam mencegah keepian adalah keterlibatan klien dengan anggota
keluargga dan teman. Keluarga dan teman klien dapat lebih mudah berinteraksi
dengan klien. Di rumah sakit, penjenguk harus diperbolehkan bersama klien
menjelang ajal sepankang waktu. Jika kien dirawat bersama klien lain pastikan
bahwa penjenguk tidak mengganggu pasien yang lain. Klien menjelang ajal akan
sangat merasa kesepian terutama pada malam hari dan merasa lebih aman apabila ada
yang menemani di samping tempat tidur, untuk itu perawat harus siap siaga untuk
menghubungi keluarga apabila kunjungan diperlukan atau apabila kondisinya
memburuk.
Klien harus ditemani seseorang ketika terjadi kematian. Perawat harus mencoba
untuk

berada

bersama

klien

menjelang

kematian

keika

diperlukan

dan

memperihatkan perhatian. Untuk memberikan perawatanyang diperlukan oleh


klienmenjelang ajal, ada baiknya pula apabila perawat memberikan dorongan dan
4

dukungan kepada keluarga klien atau orang terdekat klien untuk tetap bersama klien.
Peningkatan Ketenangan Spiritual
Ketenangan spiritual memiliki arti yang lebih besar dari sekedar meminta kunjungan
rohaniawan.

Perawat

dapat

memberikan

dukungan

kepada

klie

dalam

mengekspresikan filosofi kehidupan. Ketika kematian mendekat klien sering mencari


ketenangan dengan menganalisis nilai dan keyakinan yang berhubungan dengan
hidup dan mati. Klien menjelang ajal mungkin mencari mencari untuk menemukan
tujuan dan makna hidup sebelum menyerahkan diri kepada kematian. Klien
menjelang ajal merasa bersalah apabila hidup mereka dianggap sebagai tidak
bermakna. Klien mungkin meminta pengampunan atas segala perilakunya baik
kepada Yang Maha Kuasa maupun anggota keluarga. Slain kebutuhan spiritual ada
juga harapan dan cinta. Cinta dapt dengan baik diekspresikan melalui perawatan
yang tulus dan penuh simpati.
Perawat keluarga dapat memberikan ketenangan spiritual dengan menggunakan
keterampilan komunikasi, mengekspresikan empati, berdoa dengan klien, membaca
literature yang memberikan inspirasi, dan memainkan musik.

I. Macam tingkat Kesadaran atau Pengertian dari Pasien dan Keluarganya terhadap
Kematian.
Strause et all (1970), membagi kesadaran ini dalam 3 type :
a

Closed Awareness atau Tidak Mengerti.


Pada situasi seperti ini, dokter biasanya memilih untuk tidak memberitahukan
tentang diagnosa dan prognosa kepada pasien dan keluarganya. Tetapi bagi perawat
hal ini sangat menyulitkan karena kontak perawat lebih dekat dan sering kepada
pasien dan keluarganya. Perawat sering kal dihadapkan dengan pertanyaanpertanyaan langsung, kapan sembuh, kapan pulang dan sebagainya.

b Matual Pretense/Kesadaran/Pengertian yang Ditutupi.


Pada fase ini memberikan kesempatan kepada pasien untuk menentukan segala
sesuatu yang bersifat pribadi walaupun merupakan beban yang berat baginya.
c

Open Awareness atau Sadar akan keadaan dan Terbuka.


Pada situasi ini, klien dan orang-orang disekitarnya mengetahui akan adanya ajal
yang menjelang dan menerima untuk mendiskusikannya, walaupun dirasakan getir.
Keadaan ini memberikan kesempatan kepada pasien untuk berpartisipasi dalam
merencanakan saat-saat akhirnya, tetapi tidak semua orang dapat melaksanaan hal
tersebut.
Bantuan Memenuhi Kebutuhan Fisiologis :
a

Kebersihan Diri.
Kebersihan dilibatkan untuk mampu melakukan kerbersihan diri sebatas
kemampuannya dalam hal kebersihan kulit, rambut, mulut, badan dan
sebagainya.

b Mengontrol Rasa Sakit.


Beberapa obat untuk mengurangi rasa sakit digunakan pada klien dengan sakit
terminal, seperti morphin, heroin, dsbg. Pemberian obat ini diberikan sesuai
dengan tingkat toleransi nyeri yang dirasakan klien. Obat-obatan lebih baik
diberikan Intra Vena dibandingkan melalui Intra Muskular atau Subcutan, karena
kondisi system sirkulasi sudah menurun.

Membebaskan Jalan Nafas.


Klien dengan kesadaran penuh, posisi fowler akan lebih baik dan pengeluaran
sekresi lendir perlu dilakukan untuk membebaskan jalan nafas, sedangkan bagi
klien yang tida sadar, posisi yang baik adalah posisi sim dengan dipasang
drainase dari mulut dan pemberian oksigen.

d Bergerak.
Pada pasien kondisinya memungkinkan, klien dapat dibantu untuk bergerak,
seperti: turun dari tempat tidur, ganti posisi tidur untuk mencegah decubitus dan
dilakukan secara periodik, jika diperlukan dapat digunakan alat untuk
menyokong tubuh klien, karena tonus otot sudah menurun.
e

Nutrisi.
Klien seringkali anorexia, nausea karena adanya penurunan peristaltik. Dapat
diberikan annti ametik untuk mengurangi nausea dan merangsang nafsu makan
serta pemberian makanan tinggi kalori dan protein serta vitamin. Karena terjadi
tonus otot yang berkurang, terjadi dysphagia, perawat perlu menguji reflek
menelan klien sebelum diberikan makanan, kalau perlu diberikan makanan cair
atau Intra Vena atau Invus.

Eliminasi.
Adanya penurunan atau kehilangan tonus otot dapat terjadi konstipasi,
inkontinen urin dan feses. Obat laxant perlu diberikan untuk mencegah
konstipasi. Klien dengan inkontinensia dapat diberikan urinal, pispot secara
teratur atau dipasang duk yang diganjti setiap saat atau dilakukan kateterisasi.
Harus dijaga kebersihan pada daerah sekitar perineum, apabila terjadi lecet,
harus diberikan salep.

Perubahan Sensori.
Pada klien dengan dying, penglihatan menjadi kabur, klien biasanya menolak
atau menghadapkan kepala kearah lampu atau tempat terang. Klien masih dapat
mendengar, tetapi tidak dapat atau mampu merespon, perawat dan keluarga
harus bicara dengan jelas dan tidak berbisik-bisik.

Bantuan Memenuhi Kebutuhan Sosial.


Klien dengan dying akan ditempatkan diruang isolasi, dan untuk memenuhi kebutuhan
kontak sosialnya, perawat dapat melakukan:
a

Menanyakan siapa-siapa saja yang ingin didatangkan untuk bertemu dengan klien dan
didiskusikan dengan keluarganya, misalnya: teman-teman dekat, atau anggota keluarga
lain.

Menggali perasaan-perasaan klien sehubungan dengan sakitnya dan perlu diisolasi.

Menjaga penampilan klien pada saat-saat menerima kunjungan kunjungan temanteman terdekatnya, yaitu dengan memberikan klien untuk membersihkan diri dan
merapikan diri.

Meminta saudara atau teman-temannya untuk sering mengunjungi dan mengajak orang
lain dan membawa buku-buku bacaan bagi klien apabila klien mampu membacanya.

Bantuan Memenuhi Kebutuhan Spiritual.


a

Menanyakan kepada klien tentang harapan-harapan hidupnya dan rencana-rencana


klien selanjutnya menjelang kematian.

Menanyakan kepada klien untuk mendatangkan pemuka agama dalam hal untuk
memenuhi kebutuhan spiritual.

Membantu dan mendorong klien untuk melaksanakan kebutuhan spiritual sebatas


kemampuannya.

J. Perawatan pada Klien Setelah Kematian


Perawatan jenazah adalah suatu tindakan medis melakukan pemberian bahan kimia
tertentu pada jenazah untuk menghambat pembusukan serta menjaga penampilan luar
jenazah supaya tetap mirip dengan kondisi sewaktu hidup.
Perawatan jenazah dapat dilakukan langsung pada kematian wajar, akan tetapi kematian
pada tidak wajar pengawetan jenasah baru boleh dilakukan setelah pemeriksaan jenasah
atau otopsi dilakukan.
Perawatan jenasah dilakukan karena ditundanya penguburan/kremasi, misalnya untuk
menunggu

kerabat

yang

tinggal

jauh

diluar

kota/diluar

negri.

Pada kematian yang terjadi jauh dari tempat asalnya terkadang perlu dilakukan
pengangkutan atau perpindahan jenasah dari suatu tempat ketempat lainnya. Pada

keadaan ini, diperlukan pengawetan jenasah untuk mencegah pembusukan dan


penyebaran kuman dari jenasah kelingkungannya.
Jenasah yang meninggal akibat penyakit menular akan cepat membusuk dan potensial
menular petugas kamar jenasah. Keluarga serta orang-orang disekitarnya. Pada kasusu
semacam ini, kalau pun penguburan atau kremasinya akan segera dilakukan tetap
dilakukan perawatan jenasah untuk mencegah penularan kuman atau bibit penyakit
disekitarnya.

SOP PERAWATAN JENAZAH


Perawatan Jenazah di Ruang Perawatan dan Pemindahan Jenazah ke Kamar Jenazah
Persiapan:
1. Sarung tangan latex
2. Gaun pelindung
3. Kain bersih penutup jenazah
4. Klem dan gunting
5. Plester kedap air
6. Kapas, kasa absorben dan pembalut
7. Kantong jenazah kedap air
8. Wadah bahan infeksius
9. Wadah barang berharga
10. Brankart jenazah
Prosedur :
Petugas atau orang yang menangani jenazah harus :

1.

Cuci tangan.

2.

Memakai sarung tangan, gaun, masker.

3.

Lepas selang infus dll, buang pada wadah infeksius.

4.

Bekas luka diplester kedap air.

5.

Lepaskan pakaian dan tampung pada wadah khusus lekatkan kasa pembalut pada
perineum (bagian

antara lubang dubur dan alat kelamin) dengan plester kedap

air Letakkan jenazah pada posisi terlentang.


6.

Letakkan handuk kecil di belakang kepala.

7.

Tutup kelopak mata dengan kapas lembab, tutup telingadan mulut

dengan

kapas/kasa.
8.

Bersihkan jenazah.

9.

Tutup jenazah dengan kain bersih disaksikan keluarga.

10.

Pasang label sesuai kategori di pergelangan kaki/ibu jarikaki.

11.

Beritahu petugas

kamar

mayat, bahwa pasienmeninggal adalah penderita

penyakit menular.
12.

Masukkan jenazah ke dalam kantong jenazah.

13.

Tempatkan jenazah ke dalam brankart tertutup dan dibawa ke kamar mayat.

14.

Cuci tangan dan lepas gaun untuk direndam pada tempatnya, buang bahan yang
sekali pakai pada tempat khusus.

Persiapan Pemulasaraan/ Perawatan Jenazah di Kamar Jenazah :


1.

Alat pelindung petugas: sarung tangan karet sampaisiku, sepatu boot dari karet, gaun,
celemek plastik dan masker.

2.

Tempat memandikan jenazah.

3.

Washlap, handuk, waskom berisi air, desinfektan (larutan klorin 0,5%) dan sabun.

4.

Plester kedap air, kapas pembalut, sisir, pewangi.

5.

Kantong jenazah/plastik.

6.

Brankart jenazah.

7.

Kacamata pelindung.

Prosedur Pemulasaraan/Perawatan di Kamar Jenazah:


1. Siapkan larutan Klorin 0,5%.
2. Kenakan pakaian yang memenuhi standar kewaspadaan universal.
3. Pindahkan jenazah ke meja tempat memandikan jenazah, tidak diperbolehkan
memandikan jenazah dengan dipangku.
4. Lepaskan semua baju yang dikenakan jenazah.
5. Siram seluruh tubuh jenazah dengan larutan klorin 0,5% secara merata keseluruh
tubuh mulai dari sela-sela rambut, lubang telinga, lubang hidung, mulut, tubuh dan
kaki; kemudian tunggu hingga 10 menit.
6. Mandikan jenazah dengan sabun dan air mengalir.
7. Bilas jenazah dengan air mengalir.
8. Keringkan jenazah dengan handuk.
9. Sumbat semua lubang tubuh jenazah yang mengeluarkan cairan dengan kapas.
10. Bungkus jenazah dengan kain kafan atau pembungkuslain sesuai dengan
agama/kepercayaannya.

11. Selesai ritual keagamaan, jenazah dimasukkan ke dalam kantong plastik dengan
ketebalan tertentu.
12. Pindahkan jenazah langsung ke peti jenazah disaksikan pihak keluarga, kemudian
peti ditutup kembali (peti jenazah disesuaikan dengan kemampuan dan adat istiadat
masyarakat atau agama yang dianut).
13. Jenazah diangkut ke dalam mobil jenazah untukdiantarkan ke rumah duka.
14. Siram meja tempat memandikan jenazah dengan larutan klorin 0,5% dan bilas
dengan air mengalir.
15. Lepaskan perlengkapan

kewaspadaan

universal (sesuai protap pemakaian

kewaspadaan universal).
Prosedur Kewaspadaan Universal Pemulasaraan Jenazah :
1.

Periksa ada atau tidaknya luka terbuka pada tangan atau kaki petugas yang akan
memandikan jenazah. Jika didapatkan luka terbuka atau borok pada tangan atau kaki,
petugas tidak boleh memandikan jenazah.

2.

Kenakan gaun pelindung.

3.

Kenakan sepatu boot dari karet.

4.

Kenakan celemek plastik.

5.

Kenakan masker pelindung mulut dan hidung.

6.

Kenakan kacamata pelindung.

7.

Kenakan sarung tangan karet.

8.

Setelah jenazah selesai dimandikan, siram meja tempat memandikan jenazah dengan
larutan klorin 0,5%, lalu bilas dengan air mengalir.

9.

Rendam tangan yang masih mengenakan sarung tangan karet dalam larutan klorin
0,5%, lalu bilas dengan sabun dan air mengalir.

10. Lepaskan kacamata pelindung, lalu rendam dalam larutan klorin 0,5%.

11. Lepaskan masker pelindung, buang ke tempat sampah medis.


12. Lepaskan celemek plastik, buang ke tempat sampah medis.
13. Lepaskan gaun pelindung, rendam pada larutan klorin 0,5%.
14. Celupkan bagian luar sepatu pada lautan klorin 0,5%, bilas dengan air bersih lalu
lepaskan sepatu dan letakkan di tempat semula.
15. Terakhir lepaskan sarung tangan plastik, buang ke tempat sampah medis.

K. ASUHAN KEPERAWATAN
Pengkajian
Pengkajian pada klien dengan penyakit terminal, menggunakan pendekatan holistik yaitu
suatu pendekatan yang menyeluruh terhadap klien bukan hanya pada penyakit dan aspek
pengobatan dan penyembuhan saja akan tetapi juga aspek psikososial lainnya.Salah satu
metode untuk membantu perawat dalam mengkaji data psikososial pada klien terminal
yaitu dengan menggunakan metode PERSON.
a. MetodePerson.
P: Personal Strenghat
Yaitu: kekuatan seseorang ditunjukkan melalui gaya hidup, kegiatannya atau
pekerjaan.
Contoh yang positif:
Bekerja ditempat yang menyenangkan bertanggung jawab penuh dan nyaman,
Bekerja dengan siapa saja dalam kegiatan sehari-hari.
Contoh yang negatif:
Kecewa dalam pengalaman hidup.
E: Emotional Reaction
Yaitu reaksi emosional yang ditunjukkan dengan klien.

Contoh yang positif:


Binggung tetapi mampu memfokuskan keadaan.
Contoh yang negatif:
Tidak berespon (menarik diri)
R: Respon to Stres
Yaitu respon klien terhadap situasi saat ini atau dimasa lalu.
Contoh yang positif:

Memahami masalah secara langsung dan mencari informasi.

Menggunakan perasaannya dengan sehat misalnya: latihan dan olah raga.

Contoh yang negatif:

Menyangkal masalah.

Pemakaian alkohol.

S: Support System
Yaitu: keluarga atau orang lain yang berarti.
Contoh yang positif:

Keluarga

Lembaga di masyarakat

Contoh yang negatif:


Tidak mempunyai keluarga
O: Optimum Health Goal
Yaitu: alasan untuk menjadi lebih baik (motivasi)
Contoh yang positif:

Menjadi orang tua

Melihat hidup sebagai pengalaman positif

Contoh yang negatif:

Pandangan hidup sebagai masalah yang terkuat

Tidak mungkin mendapatkan yang terbaik

N: Nexsus
Yaitu: bagian dari bahasa tubuh mengontrol seseorang mempunyai penyakit atau
mempunyai gejala yang serius.
Contoh yang positif:

Melibatkan diri dalam perawatan dan pengobatan.

Contoh yang negatif:

Tidak berusaha melibatkan diri dalam perawatan.

Menunda keputusan.

b. Tanda vital
Perubahan

fungsi

tubuh

sering

kali

tercermin

pada

suhu

badan,denyut

nadi,pernapasan,dan tekanan darah. Mekanisme fisiologi yang mengaturnya berkaitan


satu sama lain. Setiap perubahan fungsi yang berlainan dengan keadaan yang norml
dianggap sebagai indikasi yang penting untuk mengenali keadaan kesehatan
seseorang.

c. Tingkat kesadaran
1. Komposmentis

: sadar sempurna

2. Apatis

: tidak ada perasaan/ kesadaran menurun (masa


bodoh)

3. Somnolen

: kelelahan ( mengantuk berat)

4. Soporus

: tidur lelap patologis(tidur pulas)

5. Subkoma

: keadaan tidak sadar/hampir koma

6. Koma

: keadaan pingsan lama disertai dengan penurunan


daya reaksi ( keadaan tidak sadar walaupun di
rangsang dengan apa pun/ tidak dapat disadarkan).

1. DIAGNOSA KEPERAWATAN
1) Ansietas/ ketakutan individu , keluarga

yang berhubungan diperkirakan dengan

situasi yang tidak dikenal, sifat dan kondisi yang tidak dapat diperkirakan takut akan
kematian dan efek negatif pada pada gaya hidup.
2) Berduka yang behubungan dengan penyakit terminal dan kematian yang dihadapi,
penurunan fungsi perubahan konsep diri dan menarik diri dari orang lain.
3) Perubahan proses keluarga yang berhubungan dengan gangguan kehidupan
keluarga,takut akan hasil ( kematian ) dengan lingkungnnya penuh dengan stres
( tempat perawatan ).
4) Resiko terhadap distres spiritual yang berhubungan dengan perpisahan dari system
pendukung keagamaan, kurang pripasi atau ketidak mampuan diri dalam menghadapi
ancaman kematian

2. INTERVENSI (RENCANA KEPERAWATAN)


Dx. Keperwatan
Ansietas/ketakutan

Tujuan
Intervensi
Rasional
Setelah dilakukan 1. Bantu klien untuk 1. Ansietas

cendrung

individu , keluarga tindakan

mengurangi

untuk memperburuk

yang berhubungan keperwatan

ansietasnya.

masalah.

diperkirakan
dengan

diharapkan
situasi ansietas

Menjebak

klien pada lingkaran


klien

peningkatan ansietas

yang tidak dikenal, dapat

teratasi

tegang,

emosional

sifat dan kondisi dengan

kriteria

dan nyeri fisik

yang tidak dapat hasil:

2. Kaji

tingkat 2. Beberapa rasa takut

diperkirakan takut

Klien

akan kematian dan

cemas lagi.

rencanakan

efek negatif pada


pada gaya hidup.

Klien

pernyuluhan

memiliki

tingkatnya

suatu harapan

atau sedang.

tidak

ansietas

klien

didasari

oleh

informasi yang tidak


bila
rendah

akurat

dan

dapat

dihilangkan

denga

memberikan

serta

informasi

akurat.

semangat

Klien dengan ansietas


berat atauparah tidak

hidup.

3. Dorong

keluarga

dan teman untuk


mengungkapkan

menyerap pelajaran.
3. Pengungkapan
memungkinkan untuk

ketakutan-

saling

ketakutan mereka.

berbagi

memberiakn
kesempatan

4. Berika klien dan

untuk

memperbaiki konsep
yang tidak benar.

keluarga
kesempatan
penguatan

dan

dan
koping

4. Menghargai

untuk koping efektif


dapat

positif

klien

menguatkan

renson koping positif


yang akan datang
1. Diskusi terbuka dan

Setelah dilakukan 1. Berikan


Berduka

yang

berhubungan
penyakit terminal
dan kematian yang
akan

dihadapi

tindakan

kesempatan

keperawatan

klien da keluarga

klien

untuk

keluarga

berduka

klien

jujur dapat membantu


dan

anggota
menerima

dapat

teratasi

mengungkapkan

dan mengatasi situasi

dengan

kriteria

perasaan,

dan respon mereka

didiskusikan

terhdap

penurunan fungsi,

hasil:
perubahan konsep Klien
diri dan menarik terminal
diri dari orang lain

pada

tenang

penyakit
merasa

kehilangan

secara

terbuka , dan gali

tersebut.

situasi

menghadapi

makna pribadi dari

sakaratul maut.

kehilangan.jelaskan
bahwa

berduka

adalah reaksi yang


umum dan sehat.
2. Berikan

dorongan

penggunaan strategi
koping positif yang
terbukti

2. Stategi koping fositif


membantu
penerimaan

dan

pemecahan masalah.

yang

memberikan
keberhasilan

pada

masa lalu.
3. Berikan

3. Memfokuskan
dorongan

pada

atribut yang positif

pada klien untuk

meningkatkan

mengekpresikan

penerimaan diri dan

atribut

penerimaan kematian

diri

yang

positif

yang terjadi.

4. Bantu

klien

mengatakan

dan

4. Proses

berduka,

proses

berkabung

adaptif tidak dapat

menerima kematian

dimulai

yang akan terjadi,

kematian yang akan

jawab

terjadi di terima.

semua

sampai

pertanyaan dengan
jujur.

5. klien sakit terminal

5. Tingkatkan harapan

paling

menghargai

dengan

perawatan

tindakan keperawatan

penuh

perhatian,

missal:

Membantu

menghilangkan

berdandan,

ketidak

Mendukung

nyamanan

dan dukungan

kemandirian

fungsi

Setelah dilakukan 1. Luangkan


Perubahan proses
keluarga

yang

berhubunga
dengan gangguan
kehidupan

takut

akan

hasil

waktu 1. Kontak yang sering

tindakan

bersama

keperawatan

atau orang terdekat

mengkomuikasikan

perubahan proses

klien dan tunjukkan

sikap perhatian dan

keluarga

pengertian

peduli

tertasi

dapat
dengan

keluarga

yang

empati.

penuh
)

mengurangi
kecemasan

terhadap

berkurang.

dan

meningkatkan

stres gangguan

( tempat perawatan kehidupan

dapat

membantu

kriteria hasil:
keluarga
( kematian ) dan Stress
lingkungannya

dan

2. Izinkan
klien

klien

keluarga
atau

terdekat

pembelajaran.

orang 2. Saling
untuk

berbagi

memungkinkan

mengekspresikan

perawat

untuk

perasaan, ketakutan

mengintifikasi

dan kekawatiran.

ketakutan

dan

kekhawatiran
kemudian
merencanakan
3. Anjurkan
sering
dan

untuk

berkunjung

intervensi

untuk

mengatasinya.

berpartisipasi 3. Kunjungan

dalam

tindakan

perawan.

dan

partisipasi

yang

sering

dapat

meningakatkan
4. Konsul dengan atau
berikan

rujukan

kesumber
komunitas
sumber lainnya

interaksi

keluarga

berkelanjutan.
4. Keluarga

dan

denagan

masalah-masalh
seperti

kebutuhan

financial

koping

yang tidak berhasil

atau

konflik

tidak

yang
selesai

memerlukan sumbersumber

tambahan

untuk

membantu

mempertahankankan
fungsi keluarga
Setelah dilakukan 1. Gali apakah klien 1. Bagi
klien
yang
Resiko

terhadap

distres

spiritual

yang berhubungan
dengan perpisahan
dari

system

pendukung

tindakan

menginginkan

mendapatkan

keperawatan

untuk

tinggi pada do,a atau

resiko

melaksanakan ritual

praktek

keagamaan

atau

lainnya , praktek ini

spiritual

yang

dapat

spiritual
teratasi

distress
dapat
dengan

kriteria hasil:
Tidak
terjadi

keagamaan,

kurang prifasi atau distres spiritual.


ketidak mampuan
diri

dalam

menghadapi
ancaman kematian

diinginkan
yang

nilai
spiritual

memberikan

bila

arti dan tujuan dan

memberi

dapat menjadi sumber

kesemptan

pada

klien

untuk

melakukannya.

kenyamanan

dan

kekuatan.
2. Menunjukkan

2. Ekspesikan

tak

pengertrian

dan

penerimaan

anda

sikap

menilai

dapat

membantu
mengurangi kesulitan

tentang pentingnya

klien

keyakinan

mengekspresikan

dan

praktik religius atau

keyakinan

spiritual klien.

prakteknya.

dalam

3. Berikan prifasi dan 3. Privasi


ketenangan
ritual
sesuai

untuk
spiritual

kebutuhan

klien
dilaksanakan.

dapat

dan
dan

ketenangan
memberikan
lingkungan

yang

memudahkan refresi
dan perenungan.

4. Bila

anda 4. Perawat

menginginkan
tawarkan
berdoa

meskipun

yang tidak menganut


untuk

agama

atau

bersama

keyakinan yang sama

klien lainnya atau

dengan klien dapat

membaca buku ke

membantu

agamaan

memenuhi kebutuhan

klien

spritualnya

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Pentingnya bimbingan spiritual dalam kesehatan telah menjadi ketetapan WHO
yang menyatakan bahwa aspek agama (spiritual) merupakan salah satu unsur dari
pengertian kesehataan seutuhnya (WHO, 1984). Oleh karena itu dibutuhkan dokter dan

terutama perawat untuk memenuhi kebutuhan spritual pasien.Karena peran perawat yang
konfrehensif tersebut pasien senantiasa mendudukan perawat dalam tugas mulia
mengantarkan pasien diakhir hayatnya dan perawat juga dapat bertindak sebagai
fasilisator (memfasilitasi) agar pasien tetap melakukan yang terbaik seoptimal mungkin
sesuai dengan kondisinya. Namun peran spiritual ini sering kali diabaikan oleh perawat.
Padahal aspek spiritual ini sangat penting terutama untuk pasien terminal yang
didiagnose harapan sembuhnya sangat tipis dan mendekati sakaratul maut.
Menurut Dadang Hawari (1977,53) orang yang mengalami penyakit terminal dan
menjelang sakaratul maut lebih banyak mengalami penyakit kejiwaan, krisis spiritual,
dan krisis kerohanian sehingga pembinaan kerohanian saat klien menjelang ajal perlu
mendapatkan perhatian khusus. Usia lanjut adalah suatu kejadian yang pasti akan
dialami oleh semua orang yang dikaruniai usia panjang, terjadinya tidak bisa dihindari
oleh siapapun. Pada usia lanjut akan terjadi berbagai kemunduran pada organ tubuh.
Namun tidak perlu berkecil hati, harus selalu optimis, ceria dan berusaha agar selalu tetap
sehat di usia lanjut. Jadi walaupun usia sudah lanjut, harus tetap menjaga kesehatan.
A. Rumusan Masalah
1. Apa yang dimaksud dengan kematian / menjelang ajal?
2. Bagaimana End of Life Care (EOL Care) dalam keperawatan?
3. Bagaimana Hospice and Palliative Care dalam keperawatan?
4. Bagaimana cara memberikan asuhan keperawatan pada Klien menjelang ajal dan setelah
kematian ?
5. Bagaimana perawatan klien yang menjelang ajal ?
6. Bagaimana pengkajian tanda kematian ?
7. Bagaimana perawatan setelah kematian meliputi perawatan klien yang meninggal,
perawatan pada keluarga dan Self Nurse care?
B. Tujuan Masalah
1. Mengetahui pengertian kematian/menjelang ajal
2. Mengetahui End of Life Care (EOL Care) dalam keperawatan
3. Mengetahui Hospice and Palliative Care dalam keperawatan
4. Mengetahui cara memberikan asuhan keperawatan pada Klien menjelang ajal dan
setelah kematian
5. Mengetahui cara perawatan klien yang menjelang ajal
6. Mengetahui pengkajian tanda kematian
7. Mengetahui cara perawatan setelah kematian meliputi perawatan klien yang
meninggal, perawatan pada keluarga dan Self Nurse care .

BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Asuhan terhadap orang yang menjelang ajal telah memasuki dimensi baru, apa yang
sebelumnya dianggap tabu telah muncul sampai tingkat sensitivitas yang meningkat dan
kesadaran akan persamaan publik dan profesional. Ada juga perubahan sosial dalam
mengenali kebutuhan unit lansia. Tidak hanya itu, dua perubahan vital ini telah memengaruhi
peran dan tanggung jawab perawat dalam memberikan asuhan yang kompeten kepada lansia
yang menjelang ajal.

B. Saran

Sebaiknya klien banyak berdoa kepada Allah SWT karena hidup dan mati kita
telah ditentukan oleh Allah. Dan dengan berdoa dapat memberikan ketenangan dan
kedamaian, tidak ada lagi ketakutan untuk menjelang ajal.

DAFTAR PUSTAKA
http://www.slideshare.net/MerryFransiska2/askep-menjelang-ajal
https://www.google.co.id/url?
sa=t&rct=j&q=&esrc=s&source=web&cd=6&cad=rja&uact=8&ved=0ahUKEwiuj9Oz6aPMAh
UJcI4KHUrEBMcQFgg7MAU&url=http%3A%2F%2Fpustaka.unpad.ac.id%2Fwpcontent
%2Fuploads%2F2016%2F02%2FB.19-PersepsiPerawatNCCU.pdf&usg=AFQjCNGxSs8cz5y7agM6GZpL7iCyfzng&sig2=hUbb7gb6RexAWo
RVDZQtEQ, 23 April 2016.
http://www.academia.edu/8508856/Konsep_Dying_and_Hospice_care
https://www.scribd.com/doc/105978251/Askep-Pada-Klien-Terminal-Dan-Menjelang-Ajal
https://www.scribd.com/doc/36595236/Perawatan-Klien-Menjelang-Ajal

https://www.academia.edu/8991970/Perawatan_menjelang_ajal_jadi_
Potter&Perry.2006.BukuAjar Fundamental Keperawatan: Konsep, Proses dan Praktik (Edisi
Keempat).Editor:Monica Ester,S.Kp.et al.Jakarta:EGC.
Setyo Adi Nugroho Peaceful And Of Life Theory. 2014. Universitas Muhammadiyah Jakarta
diakses
pada
tanggal
16
April
18:59
dari:https://www.academia.edu/11613328/teori_peaceful_and_of_life

KONSEP MENJELANG AJAL ATAU KEMATIAN


Disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah kebutuhan rasa aman dan nyaman
Dosen Pembimbing: Chandra Bagus Ropyanto S.Kp.M

Disusun Oleh:
Indun Candra Kirana

22020115120027

Misratul

22020115120020

Anastariva Ambar V

22020115120056

Ragil Titi Hapsari

22020115120013

Ika Rahmawati

22020115120002

Yuni Purnama Sari

22020115130072

M. Fikky Hafidz K

22020115130089

Intan Susmita R

22020115140099

Aulia Nur P

22020115120034
A.15.1

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN


JURUSAN KEPERAWATAN
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS DIPONEGORO
2016