Anda di halaman 1dari 32

TUGAS MAKALAH AMAN NYAMAN

KONSEP KEMATIAN ATAU MENJELANG AJAL (DYING)

DOSEN PENGAMPU :
Chandra Bagus R, S.Kp., M.Kep., Sp. KMB

DISUSUN OLEH :
KELOMPOK 3
AGUS SUPRIYONO
CATUR KRISTIANTO
JAKA PRASETYA
WIDYA PRATIWI

UNIVERSITAS DIPONEGORO
TAHUN AKADEMIK 2016 / 2017
KONSEP KEMATIAN ATAU MENJELANG AJAL (DYING)

A. Definisi Kematian dan Menjelang Ajal


Definisi kematian adalah kematian otak yang terjadi jika pusat otak tertinggi yaitu
korteks serebral mengalami kerusakan permanen. Dalam kasus ini, ada aktivitas jantung,
kehilangan fungsi otak permanen, dimanifestasikan secara klinis dengan tidak ada respon
terarah terhadap stimulus eksternal, tidak ada refleks sefalik, apnea, dan elektrogram
isoelektrik minimal selama 30 menit tanpa hipotermia dan keracunan oleh depresan sistem
saraf pusat (Stedman, 2000).
Secara etimologi death berasal dari kata death atau deth yang berarti keadaan mati atau
kematian. Sedangkan secara definitive, kematian adalah terhentinya fungsi jantung dan paru-
paru secara menetap, atau terhentinya kerja otak secara permanen. Ini dapat dilihat dari tiga
sudut pandang tentang definisi kematian, yakni:
Kematian
Kematian otak,yakni kerusakan otak yang tidak dapat pulih
Kematian klinik, yakni kematian orang tersebut ( Roper,2002 ).
Kematian adalah penghentian permanen semua fungsi tubuh yang vital, akhir dari
kehidupan manusia. Lahir, menjelang ajal, dan kematian bersifat universal. Meskipun unik
bagi setiap individu, kejadian-kejadian tersebut bersifat normal dan merupakan proses hidup
yang diperlukan (Kozier, 2010).
Menjelang ajal adalah bagian dari kehidupan yang merupakan proses menuju akhir.
Konsep menjelang ajal dibentuk seiring dengan waktu, saat seseorang tumbuh, mengalami
berbagai kehilangan, dan berpikir mengenai konsep yang konkret dan abstrak (Kozier, 2010).

B. End of Life Care (EOL Care)


1. Perawatan Hospice
Perawatan hospice berfokus pada pemberian dukungan dan perawatan bagi orang
yang menjelang ajal dan keluarganya, dengan tujuan memfasilitasi kematian yang tenang
dan terhormat. Perawatan hospice berdasarkan pada konsep holistik, menekankan
perawatan untuk lebih meningkatkan kualitas hidup daripada pengobatan, mendukung
klien dan keluarga melalui proses menjelang ajal, dan mendukung keluarga melalui proses
berkabung. Mengkaji kebutuhan keluarga klien sama pentingnya dengan merawat klien
yang mendapatkan perawatan hospice. Kondisi klien biasanya memburuk dan perhatian
harus difokuskan pada pemberi perawatan untuk memastikan bahwa mereka mendapatkan
dukungan dan sumber-sumber jika hal ini terjadi. Apabila tim hospice bertemu secara
teratur, kebutuhan ini dapat didiskusikan dan intervensi dimulai. Kebutuhan fisik biasanya
tampak jelas, tetapi tanda emosional dan perilaku sering kali tidak terlihat jelas. Pengkajian
yang baik dan evaluasi berkelanjutan dapat membantu menunjukkan kapan waktu
dibutuhkannya modifikasi atau perubahan.
Prinsip perawatan hospice dapat dilaksanakan di berbagai lingkungan, yang
tersering adalah di rumah dan di unit berbasis rumah sakit (atau panti werda). Layanan
berfokus pada pengontrolan gejala dan penatalaksanaan nyeri. Umumnya klien memenuhi
syarat untuk perawatan hospice atau mendapat manfaat asuransi hospice jika disertifikasi
oleh seorang dokter untuk meninggal dalam 6 bulan. Perawatan hospice selalu diberikan
oleh sebuah tim yang terdiri atas professional kesehatan untuk memastikan layanan
perawatan yang lengkap.
Perawatan hospice berfokus pada hal-hal berikut ini:
- Klien dan keluarga sebagai unit perawatan.
- Perawatan rumah yang terkoordinasi dengan tetap tersedianya tempat tidur rumah sakit.
- Mengontrol gejala (fisik, sosiologis, psikologis, dan spiritual).
- Pelayanan langsung oleh dokter.
- Fasilitas medis dan keperawatan tersedia setiap saat.
- Tindak lanjut proses kehilangan setelah kematian.
Dalam hospice, perawatan yang diberikan juga lebih berfokus pada perawatan orang yang
sedang menghadapi kematian daripada berfokus pada upaya memenuhi kebutuhan
fisiologis mereka. Beberapa peranan perawat, antara lain:
Perawat Menyelenggarakan Pelayanan Psikososial
Klien pada akhir kehidupan mengalami suatu variasi gejala psikologis, misalnya:
kecemasan, depresi, perubahan bentuk tubuh, penyangkalan, ketidakberdayaan,
ketidakberdayaan, ketidakyakinan, dan isolasi ( Caroll-Johnson, Gorman, dan Bush,
2006)
Klien mengalami kesedihan yang mendalam karena tidak mengetahui atau tidak
menyadari aspek dari status kesehatan atau pengobatan mereka. Sediakan Informasi
yang dapat membantu klien memahami kondisi mereka, perjalanan penyakit mereka,
keuntungan dan kerugian dari pilihan pengobatan, serta nilai-nilai dan tujuan mereka
untuk menjaga otonomi klien yang diganggu oleh ketidaktahuan akan penanganan
masa depan atau ketidakyakinan tentang tujuan pengobatan (Weiner dan Roth, 2006)
Meningkatkan Martabat dan Harga Diri Klien
Perihal martabat melibatkan penghormatan diri positif seseorang, kemampuan untuk
menanamkan dan mendapatkan kekuatan dari arti hidup individu itu sendiri, dan
bagaimana individu diobati oleh pemberi layanan.
Perawat meningkatkan harga diri dan martabat klien dengan menghormatinya sebagai
individu seutuhnya dengan perasaan, prestasi, dan keinginan untuk bebas dari
penyakit (Chochinov, 2002). Sangat penting bagi perawat untuk memberikan sesuatu
yang klien hormati kewenangannya, pada saat yang sama memperkuat komunikasi
antar-klien, anggota keluarga, dan perawat. Berikan keleluasan selama prosuder
keperawatan, dan sensitif ketika klien dan keluarga membutuhkan waktu sendiri
bersama.
Menjaga Lingkungan yang Tenang dan Nyaman
Lingkungan yang nyaman, bersih, menyenangkan membantu klien untuk beristirahat,
mempromosikan pola tidur yang baik dan mengurangi keparahan gejala.
Mempromosikan Kenyaman Spiritual dan Harapan
Bantu klien membuat hubungan dengan praktik spiritual atau komunikasi budaya
mereka. Klien merasa nyaman ketika mereka memiliki asuransi bahwa beberapa aspek
kehidupan mereka akan melampaui kematian. Dengarkan secara teratur harapan-
harapan klien dan temukan cara untuk membantu mereka mencapai tujuan yang
mereka inginkan.
Melindungi Terhadap Keterbelakangan dan Isolasi
Banyak klien dengan penyakit terminal takut untuk mati seorang diri. Kesendirian
membuat mereka jadi ketakutan dan merasa putus asa. Perawat dalam suatu institusi
harus menjawab panggilan klien dengan cepat dan memeriksa klien sesering mungkin
untuk meyakinkan mereka bahwa seseorang berada didekatnya (Stanley,2002).
Mendukung Keluarga
Anggota keluarga dari klien yang menerima pelayanan paliatif dipengaruhi oleh
tantangan pemberian layanan dan berduka. Kurangnya informasi merupakan masalah
yang banyak dilaporkan anggota keluarga klien yang sekarat (Kristjanson dan Aoun,
2004). Mereka membutuhkan dukungan perawat, petunjuk, dan edukasi selama
mereka merawat orang yang mereka cintai.
Membantu Membuat Keputusan Akhir Kehidupan
Klien dan anggota keluarga sering menghadapi keputusan pengobatan yang
kompleks dengan pengetahuan yang terbatas, perasaan takut atau bersalah yang tidak
terselesaikan. Anjurkan klien untuk mengkomunikasikan dengan jelas keinginannya
terhadap perawatan akhir kehidupan sehingga anggota keluarga dapat bertindak
sebagai pengganti yang tepat ketika klien tidak dapat lagi berbicara untuk dirinya
sendiri.

2. Perawatan Paliatif
Perawatan paliatif berfokus pada perawatan gejala klien, yang penyakitnya tidak
lagi berespons terhadap penanganan yang berfokus pada pengobatan. Perawatan ini dapat
berbeda dari perawatan hospice, dalam hal klien tidak yakin tengah menjelang ajal.
Perawatan hospice dan paliatif dapat mencakup perawatan menjelang kematian yaitu
perawatan yang diberikan dalam beberapa minggu terakhir sebelum kematian.
Perawatan paliatif terkait dengan seluruh bidang perawatan mulai dari medis,
perawatan, psikologis, sosial, budaya, dan spiritual, sehingga secara praktis, prinsip dasar
perawatan paliatif dapat dipersamakan dengan prinsip pada praktek medis yang baik.
Prinsip dasar perawatan paliatif (Rasjidi, 2010):
1. Sikap Peduli Terhadap Klien
Termasuk sensitivitas dan empati. Perlu dipertimbangkan segala aspek dari penderitaan
klien, bukan hanya masalah kesehatan.
Pendekatan yang dilakukan tidak boleh bersifat menghakimi. Faktor karakteristik,
kepandaian, suku, agama, atau faktor individual lainnya tidak boleh mempengaruhi
perawatan.
2. Menganggap Klien Sebagai Seorang Individu
Setiap kliien adalah unik. Meskipun memiliki penyakit ataupun gejala-gejala yang
sama, namun tidak ada satu klien pun yang sama persis dengan klien lainnya. Keunikan
inilah yang harus dipertimbangkan dalam merencanakan perawatan paliatif untuk tiap
individu.
3. Pertimbangan Kebudayaan
Faktor etnis, ras, agama, dan faktor budaya lainnya bisa jadi mempengaruhi
penderitaan klien. Perbedaan-perbedaan ini harus diperhatikan dalam perencanaan
perawatan.
4. Persetujuan
Persetujuan dari klien adalah mutlak diperlukan sebelum perawatan dimulai atau
diakhiri. Mayoritas klien ingin dilibatkan dalam pengambilan keputusan, namun dokter
cenderung untuk meremehkan hal ini. Klien yang telah diberi informasi memadai dan
setuju dengan perawatan yang akan diberikan akan lebih patuh mengikuti segala usaha
perawatan.
5. Memilih Tempat Dilakukannya Perawatan
Untuk menentukan tempat perawatan, baik klien dan keluarganya harus ikut serta
dalam diskusi ini. Klien dengan penyakit terminal sebisa mungkin diberi perawatan di
rumah.
6. Komunikasi
Komunikasi yang baik antara dokter dan klien maupun dengan keluarga adalah hal
yang sangat penting dan mendasar dalam pelaksanaan perawatan paliatif.
7. Aspek Klinis: Perawatan yang Sesuai
Semua perawatan paliatif harus sesuai dengan stadium dan prognosis dari penyakit
yang diderita klien. Hal ini penting karena pemberian perawatan yang tidak sesuai, baik
itu lebih maupun kurang, hanya akan menambah penderitaan klien. Pemberian
perawatan yang berlebihan berisiko untuk memberikan harapan palsu kepada klien.
Demikian jugs perawatan yang dibawah standar akan mengakibatkan kondisi klien
memburuk.
Hal ini berhubungan dengan masalah etika yang akan dibahas kemudian. Perawatan
yang diberikan hanya karena dokter merasa harus melakukan sesuatu meskipun itu sia-
sia adalah tidak etis.
8. Perawatan Komprehensif dan Terkoordinasi Dari Berbagai Bidang Profesi
Perawatan paliatif memberikan perawatan yang bersifat holistik dan integratif,
sehingga dibutuhkan sebuah tim yang mencakup keseluruhan aspek hidup klien serta
koordinasi yang baik dari masing-masing anggota tim tersebut untuk memberikan hasil
yang maksimal kepada klien dan keluarga.
9. Kualitas Perawatan yang Sebaik Mungkin
Perawatan medis secara konsisten, terkoordinasi, dan berkelanjutan. Perawatan medis
yang konsisten akan mengurangi kemungkinan terjadinya perubahan kondisi yang
tidak terduga, dimana hal ini akan sangat mengganggu baik klien maupun keluarga.
10. Perawatan yang Berkelanjutan
Pemberian perawatan simtomatis dan suportif dari awal hingga akhir merupakan dasar
tujuan dari perawatan paliatif. Masalah yang sering terjadi adalah klien dipindahkan
dari satu tempat ke tempat lain sehingga sulit untuk mempertahankan kontinuitas
perawatan.
11. Mencegah Terjadinya Kegawatan
Perawatan paliatif yang baik mencakup perencanaan teliti untuk mencegah terjadinya
kegawatan fisik dan emosional yang mungkin terjadi dalam perjalanan penyakit. Klien
dan keluarga harus diberitahukan sebelumnya mengenai masalah-masalah yang sering
terjadi, dan membentuk rencana untuk meminimalisasi stres fisik dan emosional.
12. Bantuan Kepada Sang Perawat
Keluarga klien dengan penyakit lanjut seringkali rentan terhadap stres fisik dan
emosional, terutama apabila pasien dirawat di rumah, sehingga perlu diberikan
perhatian khusus kepada mereka mengingat keberhasilan dari perawatan paliatif juga
tergantung dari sang pemberi perawatan itu sendiri.
13. Pemeriksaan ulang
Perlu terus dilakukan pemeriksaan mengenai kondisi pasien, mengingat pasien dengan
penyakit lanjut kondisinya akan cenderung menurun dari waktu ke waktu.
Aspek Medikolegal Dalam Perawatan Paliatif (Kep. Menkes No:
812/Menkes/SK/VII/2007)
1. Persetujuan Tindakan Medis/Informed Consent Untuk Klien Paliatif
Klien harus memahami pengertian, tujuan dan pelaksanaan perawatan paliatif.
Pelaksanaan informed consent atau persetujuan tindakan kedokteran pada dasarnya
dilakukan sebagaimana telah diatur dalam peraturan perundang-undangan. Meskipun
pada umumnya hanya tindakan kedokteran (medis) yang membutuhkan informed
consent, tetapi pada perawatan paliatif sebaiknya setiap tindakan yang berisiko
dilakukan informed consent. Baik penerima informasi maupun pemberi persetujuan
diutamakan klien sendiri apabila ia masih kompeten, dengan saksi anggota keluarga
terdekatnya. Waktu yang cukup agar diberikan kepada klien untuk berkomunikasi
dengan keluarga terdekatnya. Dalam hal klien telah tidak kompeten, maka keluarga
terdekatnya melakukannya atas nama pasien.
2. Tim Perawatan Paliatif
Sebaiknya mengusahakan untuk memperoleh pesan atau pernyataan klien pada saat ia
sedang kompeten tentang apa yang harus atau bolehvatau tidak boleh dilakukan
terhadapnya apabila kompetensinya kemudian menurun (advanced directive). Pesan
dapat memuat secara eksplisit tindakan apa yang bolehatau tidak boleh dilakukan, atau
dapat pula hanya menunjuk seseorang yang nantinya akan mewakilinya dalam membuat
keputusan pada saat ia tidak kompeten. Pernyataan tersebut dibuat tertulis dan akan
dijadikan panduan utama bagi tim perawatan paliatif. Pada keadaan darurat, untuk
kepentingan terbaik klien, tim perawatan paliatif dapat melakukan tindakan kedokteran
yang diperlukan, dan informasi dapat diberikan pada kesempatan pertama.
3. Resusitasi/Tidak Resusitasi Pada Klien Paliatif
Keputusan dilakukan atau tidak dilakukannya tindakan resusitasi dapat dibuat oleh klien
yang kompeten atau oleh tim perawatan paliatif. Informasi tentang hal ini sebaiknya
telah diinformasikan pada saat klien memasuki atau memulai perawatan paliatif. Klien
yang kompeten memiliki hak untuk tidak menghendaki resusitasi, sepanjang informasi
adekuat yang dibutuhkannya untuk membuat keputusan telah dipahaminya. Keputusan
tersebut dapat diberikan dalam bentuk pesan (advanced directive) atau dalam bentuk
informed consent menjelang ia kehilangan kompetensinya. Keluarga terdekatnya pada
dasarnya tidak boleh membuat keputusan tidak resusitasi, kecuali telah dipesankan
dalam advanced directive tertulis. Namun demikian, dalamkeadaan tertentu dan atas
pertimbangan tertentu yang layak dan patut, permintaan tertulis oleh seluruh anggota
keluarga terdekat dapat dimintakan penetapan pengadilan untuk pengesahannya.
Tim perawatan paliatif dapat membuat keputusan untuk tidak melakukan resusitasi
sesuai dengan pedoman klinis di bidang ini, yaitu apabila klien berada dalam tahap
terminal dan tindakan resusitasi diketahui tidak akan menyembuhkan atau memperbaiki
kualitas hidupnya berdasarkan bukti ilmiah pada saat tersebut.
4. Perawatan Klien Paliatif Di ICU
Pada dasarnya perawatan paliatif klien di ICU mengikuti ketentuan-ketentuan umum
yang berlaku sebagaimana diuraikan di atas. Dalam menghadapi tahap terminal, tim
perawatan paliatif harus mengikuti pedoman penentuan kematian batang otak dan
penghentian peralatan life-supporting.
5. Masalah Medikolegal Lainnya Pada Perawatan Klien Paliatif
Tim perawatan paliatif bekerja berdasarkan kewenangan yang diberikan oleh pimpinan
rumah sakit, termasuk pada saat melakukan perawatan di rumah klien. Pada dasarnya
tindakan yang bersifat kedokteran harus dikerjakan oleh tenaga medis, tetapi dengan
pertimbangan yang memperhatikan keselamatan klien tindakan-tindakan tertentu dapat
didelegasikan kepada tenaga kesehatan non medis yang terlatih. Komunikasi antara
pelaksana dengan pembuat kebijakan harus dipelihara.

C. Proses Pada Klien Menjelang Ajal Dan Setelah Kematian


1. Perawatan Klien Menjelang Ajal
Tujuan utama untuk klien yang menjelang ajal adalah mempertahankan
kenyamanan fisiologis dan psikologis, dan mencapai kematian yang damai dan
bermartabat, yang mencakup mempertahankan kontrol personal dan menerima penurunan
status kesehatan. Beberapa tindakan perawatan terhadap klien menjelang ajal, yang dapat
dilakukan diantaranya adalah sebagai berikut:
a. Perencanaan Untuk Perawatan Di Rumah
Individu yang menghadapi kematian mungkin memerlukan bantuan untuk
menerima bahwa mereka harus bergantung pada orang lain. Beberapa klien yang
menjelang ajal hanya memerlukan sedikit perawatan; sementara yang lain memerlukan
perhatian dan layanan berkelanjutan. Individu memerlukan bantuan, agar menghadapi
kematian dengan baik, dalam merencanakan periode ketergantungan. Mereka perlu
memikirkan apa yang akan terjadi dan bagaimana serta di mana mereka ingin
meninggal.
Sebuah faktor utama dalam menentukan apakah seseorang ingin meninggal di
fasilitas perawatan kesehatan atau di rumah adalah ketersediaan pemberi perawatan
yang mau dan mampu merawat. Apabila orang yang menjelang ajal ingin meninggal di
rumah dan keluarga atau orang lain dapat memberikan perawatan untuk
mempertahankan pengendalian gejala, perawat harus memfasilitasi rujukan ke layanan
hospice. Staf hospice dan perawat kemudian akan melaksanakan pengkajian
menyeluruh pada rumah dan keterampilan pemberi perawatan.

b. Memenuhi Kebutuhan Fisiologi Klien Yang Menjelang Ajal


Kebutuhan fisiologis orang yang menjelang ajal berkaitan dengan perlambatan
proses tubuh dan ketidakseimbangan homeostatik. Intervensi terdiri atas tindakan
kebersihan diri; pengendalian nyeri; meredakan kesulitan pernapasan; membantu
pergerakan, nutrisi, hidrasi, dan eliminasi; dan memberikan tindakan yang terkait
dengan perubahan sensori.
Pengendalian nyeri sangat penting guna memungkinkan klien mempertahankan
sebagian kualitas hidup dan aktivitas mereka sehari-hari, seperti makan, bergerak, dan
tidur. Banyak obat telah digunakan untuk mengontrol nyeri pada penyakit terminal:
morfin, heroin, metadon, dan alkohol. Biasanya dokter menentukan dosis, tetapi opini
klien harus dipertimbangkan; klien adalah satu-satunya orang yang paling menyadari
toleransi nyeri personalnya dan fluktuasi keadaan internal. Karena biasanya dokter
meresepkan kisaran dosis untuk obat nyeri, perawat menggunakan penilaian mereka
untuk menentukan jumlah dan frekuensi pemberian obat nyeriguna meredakan nyeri
klien. Karena penurunan sirkulasi darah, analgesik diberikan melalui infus intravena,
sublingual, rektal, atau transdermal dan bukan subkutan atau intramuskular. Klien yang
mendapat obat nyeri narkotik juga memerlukan implementasi suatu protocol untuk
mengatasi konstipasi yang diinduksi opioid.
c. Menyediakan Dukungan Spiritual
Dukungan spiritual memiliki makna penting dalam menghadapi kematian.
Walaupun tidak semua klien menganut keyakinan atau kepercayaan agama tertentu,
sebagian besar memiliki kebutuhan untuk memaknai kehidupan mereka, terutama saat
mereka mengalami penyakit terminal.
Perawat memiliki tanggung jawab untuk memastikan bahwa kebutuhan
spiritual klien diberikan, baik melalui intervensi langsung ataupun dengan mengatur
akses ke individu yang dapat memberikan perawatan spiritual. Perawat perlu
menyadari kenyamanan diri mereka sendiri dengan isu-isu spiritual dan meyakinkan
kemampuan mereka untuk berinteraksi secara suportif dengan klien. Perawat memiliki
tanggung jawab untuk tidak memaksakan agama atau keyakinan spiritual mereka pada
klien, tetapi berespon terhadap klien sesuai dengan latar belakang klien dan
kebutuhannya. Keterampilan komunikasi adalah keterampilan yang paling penting
dalam membantu klien menyampaikan kebutuhan dan dalam membentuk rasa peduli
dan percaya.
Intervensi spesifik dapat mencakup memfasilitasi ekspresi perasaan, berdoa,
meditasi, membaca, dan berdiskusi dengan rohaniawan yang tepat atau
penasihatspiritual. Sangat penting bagi perawat untuk membina hubungan interdisiplin
yang efektif dengan spesialis pendukung spiritual.

d. Mendukung Keluarga
Aspek terpenting dalam menyediakan dukungan untuk anggota keluarga dari
klien yang menjelang ajal melibatkan penggunaan komunikasi terapeutik untuk
memfasilitasi ekspresi perasaan mereka. Saat tidak ada apapun yang dapat membalikan
proses menjelang ajal yang tidak dapat dihindari, perawat dapat memberi perawatan
yang empati dan penuh perhatian. Perawat juga berperan sebagai seorang guru, dengan
menjelaskan apa yang sedang terjadi dan apa yang dapat diharapkan oleh keluarga.
Karena efek stres saat melalui proses berduka, anggota keluarga mungkin tidak
menyerap apa yang dikatakan dan perlu mendapatkan informasi secara berulang.
Perawat perlu memiliki perilaku yang tenang dan sabar.
Anggota keluarga harus didorong untuk berpartisipasi dalam perawatan fisik
orang yang menjelang ajal sebanyak yang mereka inginkan dan yang mereka mampu
lakukan. Perawat dapat menyarankan mereka membantu saat memandikan, berbicara
atau membacakan cerita bagi klien, dan memegang tangan klien. Namun perawat tidak
boleh memiliki harapan spesifik untuk partisipasi anggota keluarga. Mereka yang
merasa tidak mampu berada bersama dengan orang menjelang ajal juga memerlukan
dukungan dari perawat dan dari anggota keluarga lain. Mereka harus ditunjukkan
tempat menunggu yang tepat jika mereka berharap untuk tetap dekat dengan klien.
Setelah klien meninggal, keluarga harus didorong untuk melihat jenazah,
karena itu telah terbukti memfasilitasi proses berduka. Mereka dapat mengambil
sejumput rambut sebagai kenang-kenangan. Anak-anak harus dilibatkan dalam
peristiwa seputar kematian jika mereka ingin melakukannya.

e. Membantu Klien Meninggal Dengan Terhormat


Perawat perlu memastikan bahwa klien diperlakukan dengan terhormat, yaitu
dengan rasa hormat dan penghargaan. Klien menjelang ajal sering kali merasa bahwa
mereka telah kehilangan kontrol atas kehidupan mereka sendiri dan atas kehidupan itu
sendiri. Membantu klien meninggal dengan terhormat mencakup mempertahankan rasa
kemanusiaan mereka, sesuai dengan nilai, keyakinan dan budaya mereka. Dengan
memberi tahu pilihan yang tersedia untuk klien dan orang terdekatnya, perawat dapat
mengembalikan dan mendukung perasaan kontrol. Beberapa pilihan yang dapat di buat
klien adalah lokasi perawatan (mis., rumah sakit, rumah, atau hospice), waktu
perjanjian dengan professional kesehatan, jadwal aktivitas, penggunaan sumber-
sumber kesehatan, dan waktu kunjungan dari kerabat dan teman.
Klien ingin dapat mengatur kejadian-kejadian sebelum meninggal sehingga
mereka dapat meninggal dengan damai. Perawat dapat membantu klien menentukan
prioritas fisik, psikologis, dan prioritas sosial mereka. Individu yang menjelang ajal
sering kali berjuang lebih untuk mendapat pencapaian diri dibandingkan perlindungan
diri, dan mungkin perlu menemukan makna sembari melanjutkan kehidupan saat
menderita. Sebagian dari tantangan perawat kemudian adalah mendukung harapan dan
keinginan klien.
2. Pengkajian Tanda Kematian
Pengkajian tanda kematian dibagi menjadi tiga tahapan yaitu sebagai berikut :
Tanda-Tanda Klinis Menjelang Kematian
- Kehilangan Tonus Otot
Relaksasi otot wajah (mis., rahang dapat turun).
Sulit berbicara.
Sulit menelan dan secara bertahap kehilangan refleks muntah.
Aktivitas saluran gastrointestinal menurun, yang pada akhirnya disertai dengan
mual, akumulasi flatus, distensi abdomen, dan retensi feses, terutama jika narkotik
atau penenang diberikan.
Kemungkinan inkontinensia kemih dan rektal akibat penurunan kontrol spinkter.
Penurunan pergerakan tubuh.

- Perlambatan Sirkulasi
Sensasi berkurang.
Bercak dan sianosis pada ekstremitas.
Kulit dingin, pertama di kaki dan kemudian di tangan, telinga, dan hidung (namun
klien dapat merasa hangat jika terdapat peningkatan suhu tubuh).
Perlambatan dan perlemahan denyut nadi.
Penurunan tekanan darah.

- Perubahan Respirasi
Pernapasan cepat, dangkal, tidak teratur, atau lambat tidak normal; napas berisik,
disebut sebagai lonceng kematian, karena berkumpulnya lender di kerongkongan;
pernapasan melalui mulut; membran mukosa oral kering.

- Kerusakan Sensori
Pandangan kabur.
Kerusakan sensasi atau indera perasa dan pencium.
Tanda-Tanda Klinis Saat Meninggal
Pupil mata melebar.
Tidak mampu untuk bergerak.
Kehilangan reflek.
Nadi cepat dan kecil.
Pernapasan chyene-stoke dan ngorok.
Tekanan darah sangat rendah.
Mata dapat tertutup atau agak terbuka.

Tanda-Tanda Klinis Meninggal


Tidak ada respon terhadap rangsangan dari luar secara total.
Tidak adanya gerak dari otot, khususnya pernafasan.
Tidak ada reflek.
Gambaran mendatar pada EKG.

3. Perawatan Setelah Kematian


Perawatan Klien Yang Meninggal
Rigor mortis adalah kekakuan tubuh yang terjadi sekitar 2 sampai 4 jam setelah
kematian. Rigor mortis terjadi akibat kurangnya adenosin trifosfat (ATP), yang
menyebabkan otot berkontraksi, yang pada akhirnya dapat mengakukan sendi. Rigor
mortis mulai di otot involunter ( jantung, kandung kemih, dan sterusnya), kemudian
berkembang ke kepala, leher, dan batang tubuh, dan akhirnya mencapai ekstremitas.
Algor mortis adalah penurunan suhu tubuh secara bertahap setelah kematian.
Saat sirkulasi darah berakhir dan hipotalamus berhenti berfungsi, suhu tubuh turun
sekitar 10C per jam sampai suhu tubuh mencapai suhu kamar. Secara bersamaan, kulit
kehilangan elastisitasnya dan dapat dengan mudah terkelupas saat melepaskan balutan
dan plester perekat.
Setelah sirkulasi darah berhenti, sel darah merah hancur, melepaskan
hemoglobin yang mengubah warna jaringan sekitar. Pengubahan warna ini, yang
disebut sebagai livor mortis, tampak di area tubuh terbawah atau area tubuh yang
tergantung.
Personel keperawatan mungkin bertanggung jawab untuk perawatan tubuh
setelah kematian. Perawatan pascamortem harus dilakukan sesuai dengan kebijakan
rumah sakit atau lembaga. Karena perawatan tubuh dapat dipengaruhi oleh hokum
agama, perawat harus mengkaji agama klien dan berupaya keras untuk mengikuti
hukum agamanya dalam perawatan tubuh. Apabila keluarga atau teman pasien yang
telah meninggal berharap untuk melihat jenazah, sangat penting untuk membuat
lingkungan terlihat bersih dan menyenangkan serta membuat jenazah tampak alami dan
nyaman. Semua perlengkapan, sprei kotor, dan peralatan harus disingkirkan dari sisi
tempat tidur. Beberapa lembaga mengharuskan semua slang di dalam tubuh tetap
terpasang; di lembaga lain slang mungkin dipotong antara 2,5 cm dari kulit dan
diplester di tempat; di lembaga lain semua slang harus dilepaskan.
Ada 3 tahapan proses tindakan dalam perawatan klien yang meninggal yaitu:
1. Tindakan di Luar Kamar Jenazah
Mencuci tangan sebelum memakai sarung tangan.
Memakai pelindung wajah dan jubah.
Luruskan tubuh jenazah dan letakkan tubuh jenazah dalam posisi terlentang
dengan tangan di sisi atau terlipat dada.
Tutup kelopak mata dan/atau ditutup dengan kapas atau kassa; begitu pula mulut,
hidung dan telinga.
Beri alas kepala dengan kain handuk untuk menampung bila ada rembesan darah
atau cairan tubuh lainnya.
Tutup anus dengan kassa dan plester kedap air.
Lepaskan semua alat kesehatan dan letakkan alat bekas tersebut dalam wadah
yang aman sesuai dengan kaidah kewaspadaan universal.
Tutup setiap luka yang ada dengan plester kedap air.
Bersihkan tubuh jenazah dan tutup dengan kain bersih untuk disaksikan oleh
keluarga.
Pasang label identitas pada kaki.
Cuci tangan setelah melepas sarung tangan.
2. Tindakan di Kamar Jenazah
a. Lakukan prosedur baku kewaspadaan universal yaitu cuci tangan sebelum
mamakai sarung tangan.
b. Petugas memakai alat pelindung:
Sarung tangan karet yang panjang (sampai kesiku).
Sebaiknya memakai sepatu boot sampai lutut.
Pelindung wajah (masker dan kaca mata).
Jubah atau celemek sebaiknya yang kedap air.
c. Jenazah di mandikan oleh petugas kamar jenazah yang telah memahami cara
membersihkan /memandikan jenazah.
Alat dan Bahan:
Tempat mandi
Ember besar berisi air
Gayung
Air sabun
Sampo
Sisir
Cotton bud
Washlap
Handuk
Kain panjang 2 potong

Prosedur Memandikan:
Angkat jenazah ke tempat mandi.
Lepaskan pakaian yang melekat pada badan.
Siramlah badan bagian kanan, basuhlah anggota badan ketika berwudhu.
Siramlah badan yang kiri.
Siramlah seluruh badan.
Gosok-gosok dengan sabun, siram 3-5 kali.
Miringkan mayat gosok-gosok dengan sabun dan siram 3-5 kali.
.Jangan memaksakan mengeluarkan kotoran dari perut mayat.
Siram dengan kapur barus yang dicairkan.
Keringkan dengan handuk.
Tutup denan kain (ingat pada waktu memandikan aurat jangan terlihat).

d. Bungkus jenazah dengan kain kafan atau kain pembungkus lain sesuai dengan
agama dan kepercayaan yang dianut.

3. Tahap Mengkafani
Alat dan Bahan:
Kain kafan pria 15 m, wanita 12 m
Kapas
Parfum
Kapur barus
Tikar
Pinggir kain kafan 2 cm di sobek sepanjang kain (12 m untuk wanita dan 15
m untuk pria) a, sisa kain kita sebut b
Ukur panjang jenazah dengan kain a lebihkan 2 jengkal, dengan ukuran tadi
potong-potong kain b menjadi 6 potong
Potongan kain a dipotong-potong menjadi 10 bagian (8 bagian selebar bahu
sampai ujung lengan terbentang, 2 potong selebar ujung lengan ke ujung lengan
yang dibentangkan
Ambil sepasang potongan kain b, jelujur dengan salah satu ujung bertumpuk
seperti trapezium
Selanjutnya tali di bawah tikar dan tali di bawah kafan tikar
Kain kafan 3 lapis (diatasnya ditaburi kapur barus dan parfum)
Kemudian lipat yang rapih

Prosedur Mengkafani
Kain kafan yang sudah disiapkan di gelar.
Angkat jenazah, letakkan diatas kain kafan.
Sisir rambutnya.
Untai 3 untaian untuk perempuan.
Siapkan rok gamis kerudung untuk perempuan.
Aurat ditutup dengan kapas.
Angkat kain penutup.
Oleskan bubuk kapur barus dan parfum.
Lipat kain kafan lapis atas, seterusnya sampai yang ketiga.
Ikat dengan simpul ikatan yang kiri.
Gulung dengan tikar dan lipat.
Masukkan dalam keranda, jenazah siap di sholatkan. Setelah selesai di kafani
jenazah diantarkan kepada keluarganya.

Beberapa pandangan tentang kematian dari agama-agama yang terkemuka di


dunia, yaitu di antaranya :
1. Konsep Bimbingan Spiritual Pada Pasien dan Keluarga Menjelang Ajal
a) Agama Kristen
Dalam agama Kristen terdapat berbagai aliran-aliran. Dua aliran yang paling
utama adalah agama Katolik dan agama Protestan. Dalam ajaran agama Katolik
Roma mati itu hanya suatu perpisahan untuk waktu sementara. Setelah kematian
akan muncul kehidupan yang abadi dan Tuhan.Tuhan itu baik hati dan mengampuni
semua dosa dan kesalahan. Seorang katolik yang baik tidak usah takut menghadapi
kematian, karena setelah kematian akan ada kehidupan yang lebih baik. Yang
penting dalam untuk seorang pasien Katolik adalah bahwa ia memperoleh
kesempatan untuk Sakramen orang sakit, yang juga dinamakan Pembalseman orang
sakit.
Dalam agama Protestan, terdapat berbagai perbedaan pandangan terhadap
penyakit dan kematian. Contoh:
Penyakit dan kematian adalah sebagai akibat dari dosa Adam. Seseorang
dengan sadar harus memilih Tuhan, dan dapat mengetahui dan merasa bahwa
ia dapat masuk dalam kerajaan Allah setelah ia meninggal.
Penyakit adalah suatu penguasaan iblis atas diri kita dan melalui doa diusahakan
agar iblis itu keluar.
Penyakit adalah suatu hukuman yang dijalani manusia karena kesalahannya.

b) Agama Islam
Penyakit dalam agama Islam adalah suatu gangguan keseimbangan
sebagaimana yang dimaksud oleh Allah.Sebab-sebab dari gangguan ini dapat dicari
baik dalam kekuatan yang meguasai alam semesta maupun yang berasal dari kuasa-
kuasa manusia. Kematian bagi orang-orang islam berarti suatu pemindahan dari
kehidupan karena suatu situasi menuggu sampai akhir zaman. Dan pada saat itu akan
tiba masa pengadilan bagi semua orang. Orang islam pada saat pengadilan itu boleh
percaya akan kebaikan-kebaikan Allah. Orang islam percaya bahwa di dalam
kuburan akan datang dua malaikat yang akan menanyakan masalah kepercayaannya.

c) Tradisi Yahudi
Menurut tradisi Yahudi orang-orang mati akan bangkit pada akhir jaman.
Disamping itu tradisi Yahudi mengenal banyak peraturan-peraturan yang
berhubungan dengan fase akhir kehidupan manusia.

d) Agama Hindu
Bagi orang-orang yang beragama Hindu dikatakan bahwa penyakit adalah
akibat dari dewa-dewa yang marah atau kuasa-kuasa yang lain. Penyakit harus
dihindari dan dilawan dengan cara membawa persembahan-persembahan bahan
melalui pembacaan mantera. Setelah kematian maka manusia akan kembali muncul di
bumi baik dalam bentuk manusia atau binatang (reinkarnasi), sampai rohnya menjadi
sempurna.

2. Prosedur Bimbingan Spiritual pada Pasien dan Keluarga Menjelang Ajal


Jika kondisi pasien kritis, dokter akan secara resmi menuliskan namanya di
daftar kritis. Kemudian keluarga dan pemuka agama akan diberitahu.
Jika pasien Katolik tampak sedang menyongsong ajal, seorang pendeta harus
dipanggil untuk melakukan sakramen orang sakit. Akan lebih baik jika keluarga hadir
dan meninggalkan ruangan pada saat dilakukan pengakuan dosa. Penganut agama
Katolik dan keluarga menganggapnya sebagai suatu keistimewaan karena memiliki
kesempatan untuk mengaku dosa ketika masih memiliki kemampuan. Banyak pasien
yang sembuh dengan sempurna, tetapi harapan ini tidak boleh mencegah penerimaan
sakramen. Pendeta akan memutuskannya setelah berdiskusi dengan keluarga.
Sementara hampir semua agama lainnya tidak memiliki ritual khusus seperti
sakramen ini, oleh sebab itu pemberian privasi pada pasien dan keluarga adalah hal
yang penting. Privasi tidak berarti membiarkan pasien dan keluarganya sendirian
tetapi juga tetap melanjutkan perawatan yang ditugaskan pada anda yang dengan
perilaku yang tenang dan menghargai.
Pembacaan kitab suci, jika diminta, dapat menjadi bantuan spiritual untuk melalui
saat kritis. Bersikap sopan dan beri privasi jika pemuka agama pasien berkunjung.

3. Keyakinan dan Budaya dalam Perawatan Jenazah


Setiap agama memiliki beragam budaya dan keyakinan dalam merawat jenazah:
a) Muslim
Jika pasien muslim meninggal:
Setelah kematian, tubuh dianggap sebagai milik Allah SWT.
Pakailah sarung tangan untuk menghindari kontak langsung dengan tubuh. Tubuh
harus menghadap Mekkah (Timur) dan kepala harus berbalik ke arah bahu kanan
sebelum rigor mortis.
Anda mungkin sisir rambut, meluruskan tungkai, menghapus peralatan dan menutupi
tubuhnya dengan kain putih, tapi keluarga akan ingin melakukan cuci dari tubuh.
Pos pemeriksaan mayat hanya dibolehkan jika hukum memerlukan itu.
Masalah donasi organ, keluarga mungkin setuju atau tidak.
Umat Islam selalu dikubur dalam waktu 24 jam dari kematian.

b) Hindu
Jika pasien hindu meninggal:
Jenazah mungkin harus dibaringkan di lantai.
Pendeta akan mengikatkan benang sekitar leher atau pergelangan tangan (jangan
dilepaskan).
Keluarga akan memandikan jenazah sebelum dikramasi.

c) Yahudi
Jika pasien yahudi meninggal:
Jenazah dimandikan oleh anggota penguburan.
Dan seseorang harus berada di dekat jenazah untuk yahudi ortodoks dan konservatif.

d) Kristen
Jika pasien kristen meninggal:
Ritual sangat beragam diantara kelompok mungkin memberikan komuno terakhir.
Memilih penguburan daripada kremasi.

Perawatan Pada Keluarga


Bagan kepemimpinan pada perawatan paliatif tidak berbentuk kerucut, melainkan
lebih berbentuk lingkaran dengan pasien sebagai titik sentral. Kunci keberhasilan kerja
interdisiplin bergantung pada tanggung jawab setiap anggota tim, sesuai dengan kemahiran
dan spesialisasinya, sehingga setiap kali pimpinan berganti, tugas profesi masing masing
tidak akan terganggu. Keberhasilan keperawatan paliatif pada pasien lanjut usia akan
menjadi pengalaman dan akan meningkatkan kekuatan tim untuk upaya penanggulangan
gejala yang sama pada pasien yang lain.
Tugas tim perawatan paliatif sebagai penyeimbang di antara keduanya. Keluarga
pasien adalah subjek suasana tegang dan stres, baik fisik maupun secara psikologis, serta
ketakutan dan kekhawatiran kehilangan orang yang dicintainya. Dari pengamatan yang
dilakukan, di peroleh hasil bahwa sikap/kebutuhan keluarga adalah:
1. Ingin membantu klien sepenuhnya.
2. Ingin mendapat informasi tentang kematian.
3. Ingin selalu bersama klien.
4. Ingin mendapatkan kepastian bahwa klien tetap nyaman.
5. Ingin mendapat informasi tentang perkembangan lanjutan usia.
6. Ingin melepaskan/ mencurahkan isi hati.
7. Ingin mendapatkan dukungan dan pendampingan anggota keluarga atau kerabat lain.
8. Ingin diterima mendapat bimbingan, dan dukungan dari para petugas medis atau
perawat.
Pengamatan tersebut di dukung dengan beberapa pernyataan, meyakinkan bahwa
keluarga menempatkan diri dalam posisi segalanya bagi klien. Yang juga perlu
diselenggarakan adalah manajemen dalam keluarga, untuk mengatur giliran jaga, mengatur
pendanaan, memenuhi kebutuhan fasilitas klien, dan lain lain. Pada kenyataannya, klien
dapat di ajak diskusi untuk dimintai pertimbangannya. Dampak positifnya adalah klien
merasa dianggap dan dihargai walaupun fisiknya tidak berdaya. Kelelahan fisik dan psikis
pada anggota keluarga sering mengakibatkan penurunan kualitas pelayanan perawatan di
rumah. Bila hal ini terjadi, sebaiknya untuk sementara waktu klien dititipkan di rumah
sakit memberi kesempatan kepada keluarga untuk beristirahat. Dukungan pada keluarga
saat masa sulit sangat penting, yaitu:
1. Pada saat perawatan.
2. Pada saat mendekati kematian.
3. Pada saat kematian.
4. Pada saat masa duka.
Beban sulit di rasa berat bila klien di rawat. Namun, hal tersebut akan menimbulkan
keseimbangan bila lanjut klien meninggalkan dan adanya rasa puas karena keluarga telah
memberikan sesuatu yang paling berharga bagi klien, termasuk kehangatan keluarga.
Kedekatan dengan klien akan tetap berkesan bagi keluarga yang di tinggalkanya.
Hal yang terakhir ini terungkap pada saat kunjungan masa duka oleh anggota tim
perawatan paliatif. Silaturahmi dapat berlanjut dalam bentuk kesediaan keluarga lanjut usia
sebagai relawan. Dapat di simpulkan bahwa perawatan tim paliatif merupakan suatu proses
perawatan yang cukup kompleks. Pendekatan holistik (menyeluruh) terhadap klien dengan
mengikutsertakan keluarga klien akan menyentuh faktor fisik, psikis, sosial, spiritual, dan
budaya klien. Keberhasilan program tidak dapat di jamin tanpa kemantapan dokter dan tim
paliatif dalam kualitas ilmu, kualitas karya, dan kualitas perilaku, serta pertimbangan etika
dalam pelaksanaannya.
Self Nurse Care
1. Keperawatan mandiri (self nurse care) menurut Orems adalah:
Suatu pelaksanaan kegiatan yang diprakarsai dan dilakukan oleh individu itu sendiri untuk
memenuhi kebutuhan guna mempertahankan kehidupan, kesehatan dan kesejahteraannya
sesuai keadaan, baik sehat maupun sakit (Orems 1980). Pada dasarnya diyakini bahwa
semua manusia itu mempunyai kebutuhan-kebutuhan self care dan mereka mempunyai hak
untuk mendapatkan kebutuhan itu sendiri, kecuali bila tidak mampu.

2. Keyakinan dan Nilai-Nilai


a. Keyakinan Orems tentang empat konsep utama keperawatan adalah:
Klien: Individu atau kelompok yang tidak mampu secara terus menerus
mempertahankan self care untuk hidup dan sehat, pemulihan dari sakit/trauma atau
coping dan efeknya.
Sehat: Kemampuan individu atau kelompok memenuhi tuntutan self care yang
berperan untuk mempertahankan dan meningkatkan integritas struktural fungsi dan
perkembangan.
Lingkungan: Tatanan dimana klien tidak dapat memenuhi kebutuhan keperluan self
care dan perawat termasuk di dalamnya tetapi tidak spesifik.
Keperawatan: Pelayanan yang dengan sengaja dipilih atau kegiatan yang dilakukan
untuk membantu individu, keluarga dan kelompok masyarakat dalam
mempertahankan seft care yang mencakup integrias struktural, fungsi dan
perkembangan.

Berdasarkan keyakinan empat konsep utama diatas, Orems mengembangkan konsep


modelnya hingga dapat diaplikasikan dalam pelaksanaan asuhan keperawatan.

b. Tiga Kategori Self Care


Model Orems, menyebutkan ada beberapa kebutuhan self care atau yang disebutkan
sebagai keperluan self care (sefl care requisite), yaitu :
Universal self care requisite: Keperluan self care universal ada pada setiap manusia
dan berkaitan dengan fungsi kemanusian dan proses kehidupan, biasanya mengacu
pada kebutuhan dasar manusia. Universal self care requisite yang dimaksudkan
adalah:
Pemeliharaan kecukupan intake udara.
Pemeliharaan kecukupan intake cairan.
Pemeliharaan kecukupan intake makanan.
Pemeliharaan keseimbangan antara aktivitas dan istirahat.
Pemeliharaan keseimbangan antara solitut dan interaksi social.
Mencegah ancaman kehidupan manusia, fungsi kemanusiaan dan kesejahteraan
manusia.
Persediaan asuhan yang berkaitan dengan proses-proses eleminasi dan
exrement.
Meningkatkan fungsi human fungtioning dan perkembangan ke dalam
kelompok sosial sesuai dengan potensi seseorang, keterbatasan seseorang dan
keinginan seseorang untuk menjadi normal.

Developmental self care requisite: terjadi berhubungan dengan tingkat


perkembangan individu dan lingkungan dimana tempat mereka tinggal, yang
berkaitan dengan perubahan hidup seseorang atau tingkat siklus kehidupan.

Health Deviation self care requisite : timbul karena kesehatan yang tidak sehat dan
merupakan kebutuhan-kebutuhan yang menjadi nyata karena sakit atau
ketidakmampuan yang menginginkan perubahan dalam perilaku self care.

Orems mendiskripsikan dua kategori dibawah ini sebagai keperluan self care (self
care requisites), dan ini timbul dari pengaruh peristiwa-peristiwa pada keperluan
universal self care antara lain : Sewaktu ada keinginan untuk mengasuh dirinya
sendiri dan seseorang itu mampu untuk menemukan keinginannya, maka self care
itu dimungkinkan. Tetapi bila keinginan itu lebih besar dari kapasitas individual
atau kemampuan untuk menemukannya, terjadilah ketidak seimbangan dan ini
dikatakan sebagai self care deficit.
D. Asuhan Keperawatan Pada Klien Menjelang Ajal Dan Setelah Kematian
1. Pengkajian
a. Riwayat Kesehatan Sekarang
Berisi tentang penyakit yang diderita klien pada saat sekarang.
b. Riwayat Kesehatan Dahulu
Berisi tentang keadaan klien apakah klien pernah masuk rumah sakit dengan penyakit yang
sama.
c. Riwayat Kesehatan Keluarga
Apakah anggota keluarga pernah menderita penyakit yang sama dengan klien.

2. Head To Toe
Perubahan fisik saat kematian mendekat:
a. Pasien kurang rensponsif.
b. Fungsi tubuh melambat.
c. Pasien berkemih dan defekasi secara tidak sengaja.
d. Rahang cendrung jatuh.
e. Pernafasan tidak teratur dan dangkal.
f. Sirkulasi melambat dan ektremitas dingin, nadi cepat dan melemah.
g. Kulit pucat.
h. Mata memelalak dan tidak ada respon terhadap cahaya.
Perawat harus memahami apa yang dialami klien dengan kondisi terminal, tujuannya
untuk dapat menyiapkan dukungan dan bantuan bagi klien sehingga pada saat-saat terakhir
dalam hidup bisa bermakna dan akhirnya dapat meninggal dengan tenang dan damai. Doka
(1993) menggambarkan respon terhadap penyakit yang mengancam hidup kedalam empat fase,
yaitu:
Fase Prediagnostik: terjadi ketika diketahui ada gejala atau faktor resiko penyakit.
Fase Akut: berpusat pada kondisi krisis. Klien dihadapkan pada serangkaian keputusasaan,
termasuk kondisi medis, interpersonal, maupun psikologis.
Fase Kronis, klien bertempur dengan penyakit dan pengobatannya. pasti terjadi.
Klien dalam kondisi terminal akan mengalami berbagai masalah baik fisik, psikologis,
maupun social-spiritual.
Gambaran problem yang dihadapi pada kondisi terminal antara lain:
Problem Oksigenisasi: Respirasi irregular, cepat atau lambat, pernafasan cheyne stokes,
sirkulasi perifer menurun, perubahan mental: Agitasi-gelisah, tekanan darah menurun,
hypoksia, akumulasi secret, dan nadi ireguler.
Problem Eliminasi: Konstipasi, medikasi atau imobilitas memperlambat peristaltic, kurang
diet serat dan asupan makanan jugas mempengaruhi konstipasi, inkontinensia fekal bisa
terjadi oleh karena pengobatan atau kondisi penyakit (mis Ca Colon), retensi urin,
inkopntinensia urin terjadi akibat penurunan kesadaran atau kondisi penyakit misalnya:
Trauma medulla spinalis, oliguri terjadi seiring penurunan intake cairan atau kondisi
penyakit mis gagal ginjal.
Problem Nutrisi dan Cairan: Asupan makanan dan cairan menurun, peristaltic menurun,
distensi abdomen, kehilangan BB, bibir kering dan pecah-pecah, lidah kering dan
membengkak, mual, muntah, cegukan, dehidrasi terjadi karena asupan cairan menurun.
Problem Suhu: Ekstremitas dingin, kedinginan sehingga harus memakai selimut.
Problem Sensori: Penglihatan menjadi kabur, refleks berkedip hilang saat mendekati
kematian, menyebabkan kekeringan pada kornea, pendengaran menurun, kemampuan
berkonsentrasi menjadi menurun, pendengaran berkurang, sensasi menurun.
Problem Nyeri: Ambang nyeri menurun, pengobatan nyeri dilakukan secara intra vena,
klien harus selalu didampingi untuk menurunkan kecemasan dan meningkatkan
kenyamanan.
Problem Kulit dan Mobilitas: Seringkali tirah baring lama menimbulkan masalah pada kulit
sehingga pasien terminal memerlukan perubahan posisi yang sering.
Problem Psikologis: Klien terminal dan orang terdekat biasanya mengalami banyak respon
emosi, perasaaan marah dan putus asa seringkali ditunjukan. Problem psikologis lain yang
muncul pada pasien terminal antara lain ketergantungan, hilang control diri, tidak mampu
lagi produktif dalam hidup, kehilangan harga diri dan harapan, kesenjangan komunikasi
atau barrier komunikasi.
Perubahan Sosial-Spiritual: Klien mulai merasa hidup sendiri, terisolasi akibat kondisi
terminal dan menderita penyakit kronis yang lama dapat memaknai kematian sebagai
kondisi peredaan terhadap penderitaan. Sebagian beranggapan bahwa kematian sebagai
jalan menuju kehidupan kekal yang akan mempersatukannya dengan orang-orang yang
dicintai. Sedangkan yang lain beranggapan takut akan perpisahan, dikuncilkan,
ditelantarkan, kesepian, atau mengalami penderitaan sepanjang hidup.

3. Diagnosis Keperawatan
1. Ansietas kematian berhubungan dengan mengalami proses menjelang ajal. (Nanda,
Domain 9, 00147, hal. 355)
2. Duka cita berhubungan dengan antisipasi kehilangan hal yang bermakna (mis.,
kepemilikan, pekerjaan, status). (Nanda, Domain 9, 00136, hal. 360)
3. Ketidakberdayaan berhubungan dengan regimen pengobatan yang rumit (Nanda,
Domain 9, 00125, hal. 365)
4. Keputusasaan berhubungan dengan penurunan kondisi fisiologis (Nanda, Domain 6,
00124, hal. 284)

4. Intervensi Keperawatan
Diagnosis I
Ansietas kematian berhubungan dengan mengalami proses menjelang ajal. (Nanda,
Domain 9, 00147, hal. 355)
Tujuan dan Kriteria Hasil
Tujuan Umum: Kematian Yang Nyaman (NOC, hal. 598)
Tujuan Khusus: Tingkat Kecemasan (NOC, hal. 598)

Setelah dilakukan asuhan keperawatan 1x24 jam, diharapkan ansietas klien berkurang,
dengan kriteria hasil (NOC, hal. 126)
Afek tenang menjadi skala 4 (sedikit terganggu).
Lingkungan fisik menjadi skala 5 (tidak terganggu).
Posisi yang nyaman menjadi skala 4 (sedikit terganggu).
Relaksasi otot menjadi skala 4 (sedikit terganggu).
Dukungan dari keluarga menjadi skala 5 (tidak terganggu).
Kehidupan spiritual menjadi skala 4 (sedikit terganggu).
Intervensi
Pengurangan Kecemasan (NIC, hal. 319):
1. Gunakan pendekatan yang tenang dan meyakinkan.
2. Nyatakan dengan jelas harapan terhadap perilaku klien.
3. Pahami situasi krisis yang terjadi dari perspektif klien.
4. Berikan informasi faktual terkait diagnosis, perawatan, dan prognosis.
5. Berada di sisi klien untuk meningkatkan rasa aman dan mengurangi ketakutan.
6. Dorong keluarga klien untuk mendampingi klien dengan cara yang tepat.
7. Berikan objek yang menunjukkan perasaan aman.
8. Dengarkan klien.
9. Puji atau kuatkan perilaku yang baik secara tepat.
10. Dorong verbalisasi perasaan, persepsi, dan ketakutan.

Diagnosis II
Duka cita berhubungan dengan antisipasi kehilangan hal yang bermakna (mis.,
kepemilikan, pekerjaan, status). (Nanda, Domain 9, 00136, hal. 360)
Tujuan dan Kriteria Hasil:
Tujuan Umum: Respon Berduka Komunitas (NOC, hal. 607)
Tujuan Khusus: Menahan Diri dari Kemarahan (NOC, hal. 607)

Setelah dilakukan asuhan keperawatan 1x24 jam, diharapkan duka cita klien berkurang,
dengan kriteria hasil (NOC, hal. 316)
Mengidentifikasi kapan merasa marah menjadi skala 4 (sering dilakukan).
Mengidentifikasi kapan merasa frustasi menjadi skala 4 (sering dilakukan).
Mengidentifikasi tanda-tanda awal marah menjadi skala 5 (dilakukan secara konsisten).
Mengidentifikasi situasi yang dapat memicu marah menjadi skala 4 (sering dilakukan).
Mengidentifikasi alasan perasaan marah menjadi skala 4 (sering dilakukan).
Mengekspresikan kebutuhan dengan cara yang konstruktif menjadi skala 4 (sering
dilakukan).
Mencurahkan perasaan negatif dengan cara yang tidak mengancam menjadi skala 5
(dilakukan secara konsisten).
Intervensi
Fasilitasi Proses Berduka (NIC, hal. 108):
1. Identifikasi kehilangan.
2. Bantu klien untuk mengidentifikasi reaksi awal terhadap kehilangan.
3. Dukung klien untuk mengekspresikan perasaan mengenai kehilangan.
4. Dengarkan ekspresi berduka.
5. Dukung klien untuk mendiskusikan pengalaman kehilangan sebelumnya.
6. Buat pernyataan empatik mengenai duka cita.
7. Berikan instruksi dalam proses fase berduka, dengan tepat.
8. Dukung kemajuan untuk melalui tahap berduka pribadi.
9. Bantu mengidentifikasi strategi-strategi koping pribadi.
10. Libatkan orang yang penting bagi klien untuk mendiskusikan dan membuat keputusan
dengan tepat.

Diagnosis III
Ketidakberdayaan berhubungan dengan regimen pengobatan yang rumit (Nanda, Domain
9, 00125, hal. 365)
Tujuan dan Kriteria Hasil:
Tujuan Umum: Kepercayaan Mengenai Kesehatan: Kontrol yang Diterima (NOC, hal.
625)
Tujuan Khusus: Penerimaan: Status Kesehatan (NOC, hal. 625)

Setelah dilakukan asuhan keperawatan 1x24 jam, diharapkan ketidakberdayaan klien dapat
teratasi, dengan kriteria hasil (NOC, hal. 349):
Menghilangkan konsep kesehatan personal sebelumnya menjadi skala 4 (sering
dilakukan).
Mengenali realita situasi kesehatan menjadi skala 5 (dilakukan secara konsisten).
Melaporkan harga diri yang positif menjadi skala 4 (sering dilakukan).
Mempertahankan hubungan menjadi skala 5 (dilakukan secara konsisten).
Menyesuaikan perubahan dalam status kesehatan menjadi skala 4 (sering dilakukan).
Mengekspresikan kedamaian dari dalam diri menjadi skala 5 (dilakukan secara
konsisten).
Menunjukkan kegembiraan menjadi skala 5 (dilakukan secara konsisten).

Intervensi
Dukungan Pengambilan Keputusan (NIC, hal. 93)
1. Tentukan apakah terdapat perbedaan antara pandangan klien dan pandangan penyedia
perawatan kesehatan mengenai kondisi klien.
2. Informasikan pada klien mengenai pandangan-pandangan atau solusi alternatif dengan
cara yang jelas dan mendukung.
3. Bantu klien mengidentifikasi keuntungan dan kerugian dari setiap alternative pilihan.
4. Bangun komunikasi dengan klien sedini mungkin sejak klien masuk ke unit perawatan.
5. Fasilitasi percakapan klien mengenai tujuan perawatan.
6. Fasilitasi pengambilan keputusan kolaboratif.
7. Hormati hak-hak klien untuk menerima atau tidak menerima informasi.
8. Berikan informasi sesuai permintaan klien.

Diagnosis IV
Keputusasaan berhubungan dengan penurunan kondisi fisiologis (Nanda, Domain 6,
00124, hal. 284)
Tujuan dan Kriteria Hasil:
Tujuan Umum: Harapan (NOC, hal. 623)
Tujuan Khusus: Partisipasi Dalam Keputusan Perawatan Kesehatan (NOC, hal. 623)

Setelah dilakukan asuhan keperawatan 1x24 jam, diharapkan keputusasaan klien dapat
teratasi, dengan kriteria hasil (NOC, hal. 327):
Mencari informasi yang terpercaya menjadi skala 5 (secara konsisten menunjukkan).
Mendefinisikan pilihan yang tersedia menjadi skala 4 (sering menunjukkan).
Menentukan pilihan yang diharapkan terkait dengan outcome kesehatan menjadi skala
4 (sering menunjukkan).
Identifikasi prioritas outcome kesehatan menjadi skala 5 (secara konsisten
menunjukkan).
Negosiasi perawatan yang diinginkan menjadi skala 5 (secara konsisten menunjukkan).
Monitor hambatan untuk mencapai outcome menjadi skala 4 (sering menunjukkan).

Intervensi
Inspirasi Harapan (NIC, hal. 119)
1. Bantu klien dan keluarga untuk mengidentifikasi area dari harapan dalam hidup.
2. Informasikan pada klien mengenai apakah situasi yang terjadi sekarang bersifat
sementara.
3. Kembangkan daftar mekanisme koping klien.
4. Ajarkan pengenalan realitas dengan mensurvei situasi dan membuat rencana ke depan.
5. Bantu klien mengembangkan spiritualitas diri.
6. Jangan memalsukan hak yang sebenarnya.
7. Fasilitasi kaitan antara kehilangan personel klien dengan gambaran dirinya.
8. Libatkan klien secara aktif pada perawatannya sendiri.
DAFTAR PUSTAKA

Kozier,B.(2004). Fundamentals of Nursing: Concepts, process, and practice (ed.7). Prentice Hall,
New Jersey.
Kubler-Ross.E.(1998).On Death and Dying: Kematian Sebagai Bagian Kehidupan.(W.
Anugrahani, Penerj.Jakarta:Gramedia Pustaka Utama. ( Karya asli diterbitkan tahun 1969)
Roper,N.(2002). Prinsip-prinsip keperawatan. Yayasan Essentia Madica, Yogyakarta
Johnson, M., et all. 2013. Nursing Outcomes Classification (NOC). New Jersey: Upper Saddle
River
Mc Closkey, C.J., et all. 2013. Nursing Interventions Classification (NIC). New Jersey: Upper
Saddle River
Herdman, T. Heather. et all. 2015. Panduan Diagnosis Keperawatan NANDA 2015-20017.
Jakarta: EGC.