Anda di halaman 1dari 115

Cara Pembenihan Ikan Lele Sampai Proses

Pendederan
10 Desember 2015
0
3706

Cara Pembenihan Ikan Lele Sampai Proses Pendederan


Berikut ini adalah Cara Pembenihan Ikan Lele Sampai Proses Pendederan Dalam
mendukung keberhasilan pada proses pemebenihan, induk ikan lele yang digunakan dalam
pembenihan haruslah dalam keeadan sehat, siap pijah, serta siap umur dan siap ukurannya.
Apapun jenisnya, bersertifikat atau tidak, yang penting memenuhi kriteria induk yang layak
untuk dipijahkan.

Pengelolaan Induk Induk Lele


Membeli Dan Memilih Induk Ikan Lele Berkualitas
Induk lele bisa dibeli pada peternak yang menyediakan induk atau lembaga tertentu seperti
Balai Besar Pengembangan Budidaya Air Tawar (BBPBAT) Sukabumi, di tempat pelatihan,
atau hasil pembesaran sendiri. Berikut ciri-ciri dan syarat induk.

1. Tidak sedarah seibu sebapak (inbreeding).


2. Sehat, lincah, gesit, dan berwarna cerah.
3. Siap pijah dan matang gonad.
4. Ukuran jantan dan betina seimbang agar tidak saling menyerang bila dikawinkan.
5. Organ tubuh lengkap dan tidak cacat.
6. Tubuh bongsor dan simetris.
7. Umur antara 10-15 bulan.
8. Bobot badan antara 700-1.500 g.
9. Kelamin jantan menonjol, runcing, besar kemerahan. Kelamin betina bulat, membengkak,
dan agak menonjol.
10. Perut induk betina terasa lembut dan halus bila diraba.
11. Frekuensi pemijahan bisa 1,5-2,5 bulan sekali.
12. Produktivitas telur 50.000-70.000 butir/kg induk.
13. Sepanjang hidupnya lele bisa memijah lebih dari 15 kali.

Calon Induk Lele Berkualitas

Jenis Kelamin dan Induk Siap Pijah


Menentukan jenis kelamin dan induk lele yang siap memijah tidaklah sulit karena secara fisik
dan bentuk kelamin berbeda antara jantan dan betina. Jenis kelamin lele lebih mudah

dibedakan saat memasuki masa matang kelamin karena akan terlihat membengkak/lebih
besar dari biasanya.

Perbedaan Induk Ikan Lele Jantan Dan Betina

Jumlah Induk Yang Dibutuhkan Untuk Pembenihan


Untuk menjamin kontinuitas, induk yang digunakan harus disesuaikan dengan target
produksi. Peternak juga harus memiliki cadangan induk untuk mengantisipasi induk yang
tidak mau memijah, luka, sakit, atau mati. Untuk skala produksi 100.000 ekor benih per
bulan, dibutuhkan induk sekitar 12 jantan dan 18 betina. Asumsinya, satu induk betina
menghasilkan 50.000 telur dengan tingkat kematian 20% akibat kanibalisme, sakit, dan mati.
Periode pemijahan dilakukan setiap 2 minggu sekali.

Masa Produktif Pembenihan Induk


Induk lele memiliki masa produktif dalam menghasilkan sperma dan telur. Hingga saat ini,
belum ada informasi akurat yang bisa menjelaskan dengan pasti mengenai masa produktivitas
induk lele. Beberapa literatur menyebutkan bahwa lele dapat dipijahkan sebanyak 15 kali.
Dalam praktiknya, masih banyak induk yang dipijahkan lebih dari 15 kali dan kualitasnya
tetap baik. Hanya saja, proses pengisian telur lebih lambat. Selain itu, benih yang dihasilkan
cenderung bervariasi dengan benih berukuran kecil lebih banyak.
Pengalaman di lapangan menunjukkan bahwa induk lele yang terlalu besar atau telah
melewati masa produktif hanya menghasilkan benih yang lambat tumbuh dengan ukuran
terlalu beragam. Untuk itu, induk yang tua sebaiknya dijual dan diganti induk muda.

Perlakuan Induk Baru Datang


Induk yang baru datang biasanya stres akibat proses pengiriman selama perjalanan dan ketika
dimasukkan ke kolam pemeliharaan yang baru. Akibatnya, induk tidak mau makan dan
terkadang berkelahi hingga babak belur, bahkan mati. Berikut ini cara mengatasinya.

1. Pada saat baru datang, induk disegarkan dahulu dengan cara mengalirkan air ke dalam
wadah angkut sekitar 10 menit.
2. Induk dimasukkan ke dalam kolam yang telah dipersiapkan secara hati-hati.
3. Indukan baru biasanya mengalami stres antara 3-4 hari. Selama itu, induk tidak perlu diberi
pakan. Pakan dapat mulai diberikan pada hari ke-4 atau ke-5.
4. Pemberian pakan selama 4-5 hari pertama sebaiknya dilakukan setelah hari gelap agar
induk tidak kaget dan stres. Berikan pakan secukupnya agar tidak merusak air.
Induk yang baru datang biasanya belum bisa langsung dipijahkan karena masih stres, kecuali
jarak dekat atau memang masih dalam bentuk calon induk. Jarak waktu induk datang dengan
rencana pemijahan minimal dua minggu.

Peremajaan Lele Diperlukan Untuk Mendapatkan Hasil Bibit Yang Berkualitas

Pengelolaan Kolam Untuk Induk Ikan Lele


Berikut adalah cara pengelolaan kolam untuk induk ikan lele yang baik dan benar:
Pemilihan Dan Ukuran Kolam Untuk Memelihara Induk
Induk lele bisa dipelihara di kolam terpal, beton, atau tanah. Ukuran kolam pemeliharaan
cukup 2 m x 3 mx 0,6 m dengan tinggi air 40-50 cm. Bila memungkinkan, induk sebaiknya
dipelihara di kolam berdinding semen dan dasarnya tanah. Di kolam tanah, air tidak mudah
rusak dan ikan tetap sehat karena tanah merupakan antibiotik alami.
Dalam pemeliharaan, sebaiknya induk jantan dan betina ditempatkan di kolam terpisah.
Untuk mencegah agar tidak memijah liar dan berkelahi, air dikeruhkan dengan tanah merah
atau lumpur sawah hingga pekat. Demi keamanan, tutup kolam dengan waring atau penutup
lainnya.Induk betina dan jantan juga bisa dipelihara dalam 1 kolam. Syaratnya, air dibuat
keruh pekat dan ketinggiannya sekitar 50-70 cm.
Kepadatan Kolam Untuk Populasi Induk
Kepadatan induk dalam kolam pemeliharaan sangat mempengaruhi kesehatan dan
perkembangannya. Padat tebar yang terlalu tinggi dapat menimbulkan berbagai masalah
seperti indukan stres, nafsu makan menurun, berkelahi, memijah liar, atau sakit.Tingkat
kepadatan induk yang sesuai dapat membuat proses pematangan gonad lebih cepat. Idealnya,
tingkat kepadatan induk yaitu sekitar 5 ekor/m2. Jadi, untuk kolam berukuran 2 m x 3 m x 0,6
m bisa dipelihara induk lele sebanyak 30 ekor. Untuk kolam tanah, kepadatannya bisa lebih
tinggi hingga 5-8 ekor/m2.
Manajemen Air
Agar induk tetap sehat dan terhindar dari serangan penyakit, kualitas airnya harus dijaga.
Pergantian air kolam induk jangan terlalu sering, terutama bila diisi air bening sehingga dapat
menyebabkan ikan memijah liar/induk betina buang telur. Bila kondisi air masih cukup baik,
cukup membuang 10-15% air kolam, lalu ditambahkan air baru, bila dalam kondisi keruh,
bisa diganti separuhnya. Namun, bila kondisi air sudah sangat jelek, harus dilakukan
pengurasan total sebanyak 100%. Hal ini agar induk tetap sehat, nafsu makan tinggi, dan
cepat matang gonad. Perlu diingat bahwa setiap pergantian air kolam induk, kekeruhan airnya
harus tetap dijaga.

Peremajaan Lele Diperlukan Untuk Mendapatkan Hasil Bibit Yang Berkualitas

Pemberian Pakan Induk


Untuk memaksimalkan pematangan gonad, selain pelet, pakan yang cocok antara lain ayam,
keong emas, bekicot, ikan rucah, maggot, usus ayam, kerang-kerangan, kepala udang, atau
kepala tongkol. Frekuensi pemberian pakannya cukup 1-2 kali sehari, yang penting teratur.
Dosis pakan pelet per hari yang dianjurkan adalah 3-5% dari jumlah berat total induk yang
dipelihara. Bila jumlah induk yang dipelihara beratnya 50 kg, jumlah pakan yang diberikan
adalah 3% x 50 kg = 1,5 kg per hari. Pemberian pelet dibagi menjadi 2 kali sehari, sedangkan
untuk pakan ikan atau daging cukup 1 kali sehari.

Proses Pematangan Gonad


Diperlukan perlakuan khusus agar pematangan gonad sempurna sehingga hasil pemijahan
berjalan baik dan tingkat penetasan telur tinggi. Untuk itu, sebelum dipijahkan, pemberian

pakan berprotein tinggi dihentikan 7-10 hari sebelumnya, terutama betina. Tujuannya untuk
mengurangi kadar lemak di dalam telur serta menghentikan pertumbuhan telur baru/ muda
yang menyebabkan pematangan gonad tertunda.

Induk Lele Siap Pijah


Induk betina yang akan dipijahkan, sebaiknya dikarantina di kolam khusus sehingga
perawatan dan pakannya terjaga. Selama seminggu, induk diberi pelet 1 kali pada sore hari
dengan kandungan protein 30-40%. Tambahkan multivitamin berupa asam amino bubuk
(kemasan) dengan cara diseduh, lalu merendamnya bersama pelet. Tujuan pemberiannya
yakni untuk memperkuat kulit telur dan mempercepat kematangan telur. Sementara itu, induk
jantan tetap diberi pakan dengan kadar protein tinggi, seperti keong mas, bekicot, atau kodok
yang direbus agar jumlah dan kualitas spermanya baik.

Proses Dalam Pemijahan Induk Ikan Lele


Banyak pendapat yang simpang siur mengenai lama proses pemijahan. Ada yang mengatakan
1 bulan; 1,5 bulan; 2 bulan; atau 2,5 bulan. Semua pendapat itu bisa benar, tetapi juga bisa
tidak. Hal itu berkaitan dengan perawatan dan kualitas pakannya.

Induk betina yang dipelihara dengan baik, pakan cukup dengan protein tinggi, kualitas airnya
baik; pada dasarnya bisa dipijahkan paling cepat 1,5 bulan dari pemijahan sebelumnya. Untuk
lebih aman, sebaiknya pemijahan berikutnya dilakukan sampai induk mencapai tingkat
kematangan gonad sempurna; yaitu 1,5-2,5 bulan untuk betina dan 3-5 minggu untuk jantan.
3 Jenis Proses Pemijahan Induk Lele

Perlakuan Benih Ikan Lele Setelah Proses Pemijahan


Pembenihan Ikan Lele
Setelah proses pemijahan selesai, selanjutnya adalah telur ditetaskan, Pemeliharaan Larva
Perkembangan Embrio Lele dan lain lain.
Proses Penetasan Benih, Perkembangan Embrio, Dan Pemeliharaan Larva Lele

Pendederan Benih Ikan Lele


Pendederan atau penjarangan merupakan kegiatan pembesaran benih berukuran 1-3 cm untuk
dijadikan benih siap tebar berukuran 4-5 cm, 5-6 cm, 7-8 cm, 9-10 cm, dan seterusnya.
Tujuan lain dari pendederan adalah memisahkan benih berukuran yang tidak seragam untuk
menekan kanibalisme.
Proses Pendederan Benih Ikan Lele

Perlakuan Induk Ikan Lele Setelah Proses Pemijahan


Pemulihan Induk Pasca-Pemijahan
Setelah pemijahan, biasanya induk akan mengalami kelelahan, bahkan terkadang luka. Hal itu
diakibatkan oleh kolam yang terlalu sempit atau benturan selama pemijahan. Pada pemijahan
buatan, induk akan mengalami stres yang luar biasa akibat proses stripping. Oleh karena itu,
untuk memulihkan kondisi fisiknya, perlu perawatan khusus agar pulih kembali.
Induk yang selesai dipijahkan tidak boleh langsung dimasukan ke kolam pemeliharaan, tetapi
harus dikarantina selama 5-7 hari di kolam terpisah. Bila langsung disatukan, biasanya akan
kalah dari induk lainnya yang tidak dipijahkan. Kondisinya yang masih lemah dan ada
rangsangan aroma amis telur dari induk yang habis memijah. Akibatnya, induk tersebut bisa
mati atau minimal sakit.
Selama pemulihan, induk lele diberi pakan yang berprotein tinggi seperti bekicot, ayam tiren,
kodok mati, isi perut ikan, atau pelet dengan kadar protein sekitar 30-40%. Untuk pakan
alternatif, sebaiknya diberikan pada saat nafsu makan induk telah pulih kembali dengan
frekuensi 1-2 kali/hari.

Pengontrolan Dan Perawatan Kolam Induk Lele


Agar tidak mudah rusak, kolam induk perlu dikontrol dan dirawat. Biasanya, kolam terpal
yang berkerangka kayu atau bambu sering dimakan rayap sehingga menjadi rapuh, bahkan
roboh. Berikut adalah aktivitas yang bisa dilakukan.
1. Lakukan perbaikan jika ada bagian kolam yang bocor.

2. Jaga ketinggian air agar tidak susut terlalu jauh sehingga air tidak terlalu panas yang dapat
membuat ikan stres.
3. Pelihara kebersihan kolam. Bila ada sampah atau daun-daun, segera dibuang.
4. Amati kondisi induk. Jika ada yang sakit atau terluka, segera dikarantina dan dirawat di
kolam khusus (kecil).
5. Untuk menghindari penyebaran penyakit, rendam induk yang terluka atau sakit dengan
antibiotik. Kemudian, pelihara di air bersih yang telah diberi obat/antibiotik. Air kolam
karantina, harus tetap bersih, jika perlu dilakukan pergantian air sesering mungkin dan tidak
lupa diberi obat/antibiotik.
6. Induk yang sedang stres/sakit, porsi pakan yang diberikan cukup 30% dan pemberiannya
cukup satu kali sehari.
7. Bila ikan yang sakit sudah pulih kembali, selanjutnya bisa digabungkan bersama induk
lainnya di kolam pemeliharaan indukan.

Pengendalian Hama Dan Penyakit Induk Ikan Lele


Biasanya, hama sering menyerang induk lele yang dipelihara di kolam terbuka dan yang
sering memangsa adalah musang, berang-berang, biawak, ular, gabus, atau ikan lele yang
berukuran lebih besar. Untuk mengatasinya, diusahakan sekeliling kolam induk dipagar dan
selalu dipelihara kebersihannya sehingga hama tidak bersarang di sekitar kolam.
Bila predator bersangkutan ditemukan, sebaiknya dibunuh. Sementara itu, untuk mengatasi
kanibalisme, sebaiknya ukuran induk yang dipelihara dalam satu kolam hampir seimbang
sehingga tidak terjadi saling menyerang.
Penyakit sebenanya relatif jarang menyerang induk lele karena secara fisik telah memiliki
kemampuan bertahan hidup yang tinggi. Namun, terkadang jenis jamur tertentu yang
menyerang induk, seperti Saprolegnia. Jamur ini menyerang induk yang terluka setelah
pemijahan. Untuk mengatasinya, induk direndam dengan antibiotik atau antijamur, lalu
dipisahkan di kolam tersendiri. Bila kualitas air kolam induk mulai memburuk, sebaiknya
dibuang sebagian dan ditambah dengan air baru sebanyak air yang dikurangi.

Aktivitas Yang Dilakukan Untuk


Pembenihan Lele
9 Desember 2015
0
1229

Aktivitas Yang Dilakukan Untuk Pembenihan Lele


Aktivitas Yang Dilakukan Untuk Pembenihan Lele pada dasarnya usaha pembenihan lele
bisa dilakukan pada lahan luas ataupun terbatas, mengunakan kolam terpal, semen ataupun
tanah. Namun untuk keberhasilan usaha Ini perlu perencanaan yang baik mengenai tata letak
kolam ataupun rencana kerja pembenihan lele itu sendiri, sehingga semua kendala yang ada
dapat diatasi dan hasil panen yang didapat sesuai harapan.

Tata Letak Kolam


Agar proses pembenihan berjalan lancar, sebaiknya tata letak kolam pembenihan dan saung
jaga ditata sedemikian rupa agar terkesan apik dan asri sehingga menimbulkan semangat bagi
pengelolanya. Sarana yang ada pada lahan 500 m3 sebagai berikut.
1. Bangunan tepat tinggal pekerja merangkap gudang peralatan dan pakan, Kolam induk 3
buah.
2. Kolam pemijahan 4 buah.
3. Penetasan dan pemehharaan benih sebanyak 20.
4. Kolam tandon air sebanyak 2 buah Kolam karantina 4 buah.
5. Kolam cacing 1 buah.
6. Adapun jumlah kolam yang diperlukan sebanyak 34 buah. Berikut adalah contoh tata letak
kolam pembenihan di lahan 500 m2 dengan dimensi 20 m x 25 m.

Layout Lokasi Pembenihan Ikan Lele


Keterangan:
Luas lahan 500 m2 (20 m x 25 m)
KI = Kolam induk 3 unit
(3 m x 2 m x 1 m)
KP = Kolam pemijahan 4 unit
(2 m x 2 m x 0,6 m)
KPP = Kolam penetasan dan pemeliharaan 20 unit
(4 m x 2 m x 0,6 m)
TA =Tandon air 2 unit
(4 m x 2 m x 1 m)
KK = Kolam karantina 4 unit
(2 m x 1 m x 0,6 m)
KC = Kolam cacing 1 unit (2 m x 1 m x 0,3 m)
Pondok jaga (6 m x 4 m)

Persiapan Kolam Hari Per Hari


Hal pertama yang harus dilakukan adalah mempersiapkan kolam. Kolam tersebut ditata
sedemikian rupa di atas lahan sehingga terlihat rapi dan enak dilihat. Berikut penjelasannya.

Hari 1-5
Kegiatan
Tentukan lokasi pembenihan, lalu bersihkan dan ratakan tanah.

Hari 6-14
Kegiatan
Buat kolam terpal rangka bambu 2 m x 4 m x 0,6 m sebanyak 30 unit untuk induk, tandon air,
pemijahan, penetasan, dan pemeliharaan. Buat saluran pemasukan dan pembuangan air.

Hari 14-20
Pembelian perlengkapan pembenihan seperti seser, jaring, bak sortasi, drum/keranjang
penampungan benih, ember, obat-obatan, dan pakan. Pembuatan saung jaga berukuran 3 mx4
m

Hari 21-23
Pengadaan induk siap pijah, Pemeliharaan dan perawatan induk oleh pekerja tetap,
Pembuatan kakaban oleh pekerja tetap.

Hari 21-23
Pemberokan / memuasakan induk dan pengecekan kematangan gonad

Hari 25-26
Membersihkan kolam pemijahan, pengisian air, dan meletakkan kakaban, Persiapan selesai.

60 Hari Panen Benih


Setelah perencanaan kolam pembenihan disusun dengan baik, pekerjaan berikutnya adalah
menyususun rencana kerja pembenihan. Mulai dari pemilihan induk siap pijah, penyuntikan,
pemijahan, penetasan, pemeliharaan larva, hingga panen benih, semuanya harus direncanakan
dengan matang. Kegiatan pemijahan hingga panen benih diperkirakan memerlukan waktu
sekitar 60 hari, dengan asumsi sebagai berikut.
a. Usaha pembenihan dilakukan pada lokasi bersuhu sedang hingga panas, misalnya Bekasi
dan sekitarnya.
b. Menggunakan kolam terpal berukuran 2 m x 4 m x 0,6 m.
c. Menggunakan induk yang siap pijah.
d. Benih yang dipanen pada umur 60 hari berukuran 6-7 cm dan 7-8 cm.
e. Sistem pemijahan menggunakan teknik semi alami/buatan.

Panen Benih Lele

Pemijahan Dan Penetasan ( Hari Ke 1-6 )


1. Pada hari ke-1, lakukan seleksi induk slap pijah, penyuntikan dengan ovaprim pukul 12
slang dengan dosis 0,2-0,5 ml/kg bobot induk. Penyuntikan di bagian punggung induk pada
bagian berdaging tebal dengan kemiringan 45.

Penyuntikan Ikan Lele Pada Proses Pemijahan


2. Induk yang dipijahkan sebanyak 4 pasang. Setelah disuntik, induk dipindahkan ke kolam
pemijahan pada pukul 14.00-15.00.Tutup kolam pemijahan untuk mencegah induk melompat
atau antisipasi hujan. Diperkirakan 10-12 jam setelah disuntik ovaprim, sekitar pukul 22.0024.00 induk memijah.
3. Pada hari ke-2, periksa keberadaan telur esok paginya, lalu pindahkan kakaban yang
ditempeli telur ke kolam penetasan sekitar pukul 07.00-09.00. Pada suhu normal didaerah
sedang/panas umumnya telur akan menetas 24 jam setelah dibuahi, didaerah dingin atau
musim hujan bisa mundur 3-8 jam.
4. Pindahkan induk yang sudah memijah ke kolam karantina/perawatan selama 5 hari untuk
memulihkan kondisi fisiknya yang kelelahan akibat pemijahan. Setelah itu, pindahkan ke
kolam pemeliharaan semula.
5. Obati dan rawat induk yang luka di kolam terpisah. Untuk mempercepat kematangan
gonad, induk bisa diberi pakan tambahan berupa keong emas, ayam tiren, bekicot, ikan
runcah, limbah ikan atau kodok. Pemberian pakan 2 kali/hari.

6. Pada hari ke-3, ambil dan bersihkan kakaban dari cangkang telur sekitar pukul 9.00-11.00.
Simpan dan rawat kakaban agar dapat digunakan pada pemijahan berikutnya.
7. Dari hari ke-4-6, larva tidak diberi pakan karena masih ada persediaan makanan dari
kuning telurnya. Bila banyak terdapat telur yang tidak menetas, buang telur ynag tidak
menetas tersebut.

Pemeliharaan Larva ( Hari Ke 7-20 )


1. Agar tumbuh maksimal dari umur 4-15 hari larva diberi pakan cacing sutera. Pemberian
cacing bertahap, secukupnya dan tidak berlebih. Frekuensi pemberian cukup 2 kali sehari,
siang dan sore hari Pemberian pakan yang baik sampai kenyang.

Cacing Sutra Untuk Makanan Larva Lele


2. Untuk menjaga kualitas air dan mencegah bibit penyakit, kolam larva bisa diberi probiotik
bila perlu. Probiotik diberikan pada saat larva mulai makan, yaitu pada hari ke-5 dan bisa
diulang setiap 5 hari sekali.
3. Pengecekan hama dan larva secara rutin. Bila ada hama dan larva yang sakit/mati segera
buang.

4. Pada hari ke-16 pakan larva mulai diganti dari cacing ke pakan serbuk/tepung (Gunakan
Fengli 0). Atau pelet PF 1000/PF 800 yang digerus lalu diayak dengan ayakan tepung. Beri
sedikit demi sedikit jangan ada pakan tersisa. Frekuensi pemberian cukup 2 kali/hari.
5. Pengendalian air, bertujuan untuk menjaga kualitas air tetap baik. Bila berbusa atau bau,
beri probiotik anti busa atau lendir. Lakukan penyiponan secara rutin per 2 hari sekali
menggunakan selang yang diberi saringan diujungnya.
6. Untuk menjaga kualitas air agar tetap baik, lakukan menambahan air secara overflow
selama 1/4 jam setiap 2 hari sekali. Dengan cara membiarkan air meluap melalui
pembuangan otomatis yang diberi saringan halus.
7. Lakukan pencegahan/pengobatan dengan cara pemberian antibiotik/probiotik. Dapat
mengunakan Tetracylcine, Blue Cooper, Enro, atau Oxytetracycline.

Sortasi Benih 1 ( Hari Ke 21 )


1. Sortasi benih dilakukan pada umur 15 hari makan Benih yang dihasilkan berukuran 2-3
cm, namun umumnya pada umur 21 hari makan. Sortasi umur 21 hari penyusutannya lebih
banyak dibanding dilakukan pada usai 15 hari, akibat kanibal.
Video Proses Sortasi Bibit Lele

Pendederan Benih 1 ( Hari Ke 22-32)


1. Benih hasil sortasi pertama berukuran 2-3 cm dipelihara lebih lanjut untuk menghasilkan
benih berukuran 3-4 cm dan 45 cm. Selama 5 hari berikut, benih ukuran 2-3 cm diberi pakan
pelet Fengli 1 / PF 500 yang dilembapkan. Frekuensi pemberian pakan 2-3/hari secukupnya
dan tidak berlebihan.
2. Pada hari ke 27, ukuran pakan diganti dari Fengli 1/PF 500 ke FF-999. Ukuran dan bukaan
mulut benih sudah mulai mampu memakan pelet yang lebih besar. Pakan di lembapkan
terlebih dahulu sebelum diberi ke benih. Frekuensi pemberian makan 2-3/hari secukupnya
dan tidak berlebihan.
3. Pengendalian air, Jaga kualitas air dengan cara tambah kurang, overflow atau penyiponan
atau mengunakan probiotik seperti sel multi, EM-4 perikanan, atau hash racikan sendiri.
4. Pengendalian hama dan penyakit. Basmi dan buang hama bila ditemukan. Cegah penyakit
dengan pemberian antibiotik seperti Tetracylcine, Blue Cooper, Enro, atau Oxytetracycline
sesuai dosis yang dianjurkan.
5. Untuk meningkatkan napsu makan benih, bisa menggunakan multivitamin seperti,
menambahkan susu khusus untuk benih ke dalam pelet. Atau multivitamin buatan pabrik.
Dengan cara diseduh mengunakan air dingin, atau mengunakan lem penempel vitamin, lalu
dicampurkan dengan pelet.

Sortasi Benih 2 ( Hari Ke 33 )

1. Sortasi benih kedua dilakukan 10 hari dari sortasi pertama. Benih yang dihasilkan
berukuran 4-5 cm dan 5-6 cm.Benih bisa lansung dipanen, dipelihara lebih lanjut atau dijual.

Pendederan 2 ( Hari Ke 34-44 )


1. Benih hasil sortasi II berukuran 4-5 cm dan 5-6 cm. Dipelihara lebih lanjut untuk
menghasilkan benih 7-8 cm. Lama pemeliharaan 2 minggu.
2. Pemberian pakan, Benih berukuran 4-5 cm, diberi pakan pelet diameter 0,6-0,8 mm. Benih
berukuran 5-6 cm diberi pelet berdiameter 0,8-1 mm. Frekuensi pemberian pakan 2-3 kali
sehari. pakan dilembapkan lebih dulu. Pemberian makan yang baik 80% dari kenyang.
3. Pengendalian air, Dengan cara penyiponan, tambah kurang, overflow atau pemberian
probiotik Penyiponan menggunakan selang yang diberi saring di ujungnya.
4. Pengendalian hama dan penyakit, Basmi dan buang hama bila ditemukan. Dapat dilakukan
dengan pemberian antibiotik seperti Tetracylcine, Blue Cooper, Enro, atau Oxytetrocycline.
Bila ada benih yang sakit atau mati, pisahkan atau buang.

Sortasi Benih 3 ( Hari Ke 45 )


1. Sortasi benih ke 3 dilakukan 10 hari setelah sortasi sebelumnya Sortasi untuk mendapatkan
benih ukuran 6-7 cm dan 7-8 cm siap jual. Biasanya para peternak benih melakukan
pendederan hingga pendederan 2 saja, lalu benih dijual.

Pendederan 3 Dan Panen


1. Pemeliharaan lebih lanjut benih ukuran 6-7, 7-8 cm untuk menghasilkan benih ukuran 9-12
cm. Lama pendederan 2-3 minggu.
2. Pemberian pakan, Benih diberi pakan pelet berdiameter 0,8-1 mm. Frekuensi pemberian
pakan 2-3 kali sehari. Pakan dilembapkan lebih dulu.
3. Pengendalian air, Penyiponan permukaan kolam Buang sebagian, tambah sebagian
Overflow (biarkan air meluap) Pemberian probiotik.
4. Pengendalian hama dan penyakit, Basmi atau bunuh hama bila ditemukan, pagar lokasi
budi daya, tutup/pagar kolam. Obati mengunakan antibiotik sesuai anjuran.
5. Sortasi, Sortasi dilakukan pada hari ke-60 ukuran benih 9-10 cm, 10-12 cm.
6. Panen, Benih dipanen pada ukuran 9-12 cm., bisa dibesarkan lebih lanjut atau dijual pada
peternak pembesaran.
7. Pengemasan dan pengiriman, Pengemasan bisa mengunakan sistem terbuka seperti jerigen
atau drum plastik, atau sistem bak. Bisa juga mengunakan sistem tertutup mengunakan pastik
dan Oksigen. Pengiriman bisa mengunakan mengunakan sepeda, motor, mobil, atau pesawat,
tergantung jumlah pesanan benih dan jarak kirim

Catatan:
Sebagian besar peternak biasanya melakukan pendederan hingga pendederan 2 saja, yaitu
untuk mendapatkan benih ukuran 7-8 cm, lalu dijual. Hanya sebagian kecil peternak yang
melanjutkan ke pendederan 3 untuk mendapatkan benih ukuran 8-10 cm dan 11-12 cm.

Proses Pemijahan Ikan Lele Lengkap


10 Desember 2015
0
1924

Proses Pemijahan Ikan Lele


Dalam pembenihan lele, ada 3 teknik pemijahan yang bisa digunakan, yaitu alami (natural
spawning), semi-alami (induced spawning), dan buatan (induced/artificial breeding). Masingmasing teknik mempunyai kelebihan dan kekurangan tersendiri. Jadi, silahkan pilih teknik
yang sesuai dengan keinginan Anda.Tahap kerja pada pemijahan secara umum meliputi
persiapan kolam, seleksi induk, dan pemijahan itu sendiri.

Kolam Pemijahan Induk Lele


Kolam terpal atau beton bisa digunakan sebagai wadah pemijahan. Ukurannya disesuaikan
dengan ruang gerak induk ketika memijah. Idealnya, ukuran kolam pemijahan adalah 2 m x 2
mx 0,7 matau 2 mx3 mx 0,7 muntuk 2-3 pasang induk.
Kolam pemijahan diisi air dengan ketinggian 30 cm. Setelah itu, masukkan kakaban sebanyak
3 buah menyebar di dasar kolam dengan panjang 80 cm dan lebar 30 cm. Sebelum itu
digunakan, kakaban dibersihkan dengan air, lalu tiriskan airnya.Tindih kakaban dengan batu.
Untuk pemijahan buatan, kakaban tidak diperlukan, cukup diberi hapa yang ukurannya sama
dengan ukuran kolam penetasan.

Kolam Pemijahan Induk Lele

Seleksi Induk Lele


Tidak semua induk siap dipijahkan, walaupun secara kasat mata terlihat memenuhi kriteria
induk siap pijah. Jadi, perlu dilakukan seleksi dahulu sehingga peternak tidak terkecoh
dengan penampilan fisik indukan lele yang hanya sekadar buncit. Yang penting, induk telah
berumur di atas 1 tahun dan bobotnya minimal 1 kg. Pada proses penyeleksian induk, ada
beberapa tahapan kerja yang harus dilakukan.
1. Untuk mengurangi lemak dan membuat telur matang, induk hanya diberi pelet (protein 3040%) 1 kali sehari selama 7 hari sebelum pemijahan.
2. Puasakan induk selama 24 jam.

3. Seleksi dilakukan pada saat siang menjelang sore dan dekat dengan waktu pemijahan
sehingga induk tidak terlalu stres.
4. Kolam induk disurutkan hingga 3-5 cm. Pilih induk siap pijah yang berukuran relatif sama
dengan perbandingan jantan dan betina 1 : 1/1 : 2/1 : 3.
5. Agar tidak luka, serok indukan dengan serokan halus, lalu pindahkan ke wadah lain. Jaga
induk agar tidak lompat dan luka karena bisa menyebabkan induk tidak mau memijah. Ambil
induk betina yang perutnya buncit, bila diusap terasa lembut, dan kelaminnya menonjol
kemerahan.
6. Ambil induk jantan yang bentuk tubuhnya paling bagus dan proposional. Kelaminnya
terlihat besar, bengkak, dan memerah.
7. Untuk memastikan induk matang gonad, lakukan tes jari. Usap sirip punggungnya dari atas
ke bawah. Bila sirip punggungnya berdiri dan responnya cepat, induk siap dipijahkan.
8. Pilih dan pisahkan beberapa induk yang siap pijah, selanjutnya induk bisa dipijahkan, balk
secara alami, semi-alami, atau buatan.

Calon Induk Lele Berkualitas

Pemijahan Alami
Pemijahan alami adalah teknik pemijahan mengadopsi proses alami lele di alam tanpa ada
proses pemaksaan. Perbandingan induk jantan dan betina yang dipijahkan bisa 1 . 1, 1 : 2, 1 :
3, 2 : 3, atau 2 :4, tergantung ukuran kolam pemijahan dan daya tampung kolam penetasan.
Jika jumlah kolam dan kakaban cukup, perbandingan pemijahan lebih dan 1 pasang bisa saja
dilakukan. Perbandingan ideal pemijahan alami adalah 1 : 1. Berikut alasannya.
1. Lebih nyaman untuk induk yang memijah.
2. Tingkat keberhasilannya lebih tinggi.
3. Tidak terjadi penumpukan telur/telur busuk karena perbedaan waktu memijah dan proses
penanganan telur lebih mudah.
4. Benih yang dihasilkan cenderung merata karena jumlah telur yang menetas seimbang.
5. Kelemahan pemijahan alami dengan perbandingan induk yang tidak seimbang, misalnya
1 : 2,1 : 3, atau 2 : 3 sebagai berikut.
6. Kurang nyaman untuk induk yang dipijahkan.
7. Kemungkinan jumlah sperma jantan kurang memadai untuk membuahi >2 induk betina
serta menyebabkan sebagian telur tidak terbuahi sempurna. Akibatnya, telur tidak menetas
dan busuk, lalu meracuni telur yang lain.

8. Terjadi penumpukan telur yang pertama keluar dengan telur yang keluar bet ikutnya. Hal
itu menyebabkan telur yang berada di lapisan bawah gagal menetas karena kekurangan
oksigen.
9. Cukup sulit untuk menangani telur yang menumpuk dan gagal menetas. Selain itu, telurtelur tersebut menyebabkan kualitas air rusak dan bau busuk.
10. Tenik ini sangat mudah dan bisa dilakukan siapa saja.Tidak ada biaya tambahan untuk
pembelian ikan donor, oyaprim, jarum sunk atau aquades seperti pada pemijahan semi-alami
dan buatan. Namun, sebaiknya induk yang digunakan harus berumur di atas 1 tahun dengan
bobot minimal 1 kg. Jika tidak, dikhawatirkan hasilnya tidak maksimal. Bahkan, jika induk
tidak siap bisa terkadang gagal memijah atau telur tidak terbuahi karena induk belum siap
atau stres.

Pemijahan Alami

Proses Pemijahan Alami

1. Bersihkan kolam pemijahan, isi air setinggi 20-30 cm.

Bersihkan Kolam Air


2. Masukkan kakaban sebanyak 3 buah, lalu tindih dengan pemberat (batu), agar tidak
bergerak.

3. Masukkan induk ke kolam pemijahan dengan hati-hati antara pukul 16.00-18.00.

Masukan Induk Ke
Kolam
4. Tutup kolam dengan, jaring atau penutup lainnya agar induk tidak lompat keluar. Jangan
ganggu induk yang sedang memijah karena dapat menyebabkan kegagalan memijah.

Kolam Ikan
Tertutup Dengan Jaring
5. Pemijahan akan terjadi pada pukul 24.00 sampai subuh. Induk betina akan mengeluarkan
telurnya dan jantan mengeluarkan spermanya di dalam air. Setelah itu akan terjadi proses
pembuahan atau fertilisasi alami.Telur akan menempel pada kakaban dan tersebar di dasar
kolam.Telur terbuahi berwarna bening, yang gagal berwarna putih beras.

6. Pada pagi hari pukul 06.00-07.00, kakaban dipindahkan ke kolam penetasan atau bisa juga
dibiarkan di kolam pemijahan untuk penetasan.

7. Kakaban dibalik agar penetasan sempurna, lalu ditindih dengan pemberat. Bila tidak ada
masalah, telur akan menetas 24 jam kemudian. Pada suhu panas, penetasan bisa lebih cepat 12 jam. Pada udara dingin seperti musim hujan, penetasan bisa mundur 3-8 jam.

Kakaban dibalik agar


penetasan sempurna
8. Setelah telur menetas selama 1-2 hari, kakaban diangkat pada pagi atau siang hari,
dibersihkan, lalu disimpan untuk digunakan pada pemijahan berikutnya.

9. Larva yang baru menetas biasanya menumpuk atau bergerombol di dasar kolam yang
teduh atau ada perlindungan. Pada hari ketiga, larva biasanya sudah berwarna hitam dan
mulai berpencar mencari makan.

Pemijahan Semi Alami dan Buatan


Pada pemijahan semi-alami dan buatan, induk yang akan dipijahkan tidak harus sedang birahi
atau dalam kondisi matang gonad penuh karena bisa dipicu dengan hormon perangsang.
Walaupun samasama menyuntikkan hormon, pada pemijahan semi-alami, induk lele
dibiarkan memijah sendiri, sedangkan pada pemijahan buatan telur dan sperma dikeluarkan
secara manual 8-12 jam setelah penyuntikan.
Hormon yang digunakan pada pemijahan semi-alami dan buatan bisa berupa hipofisa atau
ovaprim jika tidak ingin repot. Ovaprim bisa dibeli di toko pakan dan obat ternak. Hipofisa
adalah hormon yang diambil dan kepala ikan donor (induk lele atau mas) dengan cara
membelah kepala ikan donor, lalu diambil kelenjar hipofisanya. Selanjutnya, hipofisa dibuat
larutan, lalu disuntikkan ke induk yang akan dipijahkan. Penyuntikan hormon di bagian
punggung induk yang berdaging tebal.

Perhitungan Dosis Ovaprim


Agar proses pemijahan semi-alami dan buatan berhasil, dosis ovaprim yang digunakan harus
sesuai. Ovaprim yang digunakan perlu diencerkan dengan garam fisiologis (NaCI 0,9%) atau
aquades. Dengan demikian, jumlah larutan yang dibutuhkan untuk menyuntik cukup.
Umumnya, perbandingan ovaprim dengan larutan NaCI 0,9% atau aquades per kg induk yaitu
0,2 : 0,3. Artinya, setiap 0,2 ml ovaprim dicampurkan dengan 0,3 ml larutan NaCI 0,9%.
Misalnya induk yang akan dipijahkan sebanyak 10 ekor dengan bobot per ekor 1 kg. Dosis
penggunaan hipofisa/ ovaprim yang dianjurkan adalah 0,2 ml/kg induk, sedangkan larutan
NaCI 0,9% yang dianjurkan adalah 0,3 ml/kg induk. Jadi, total campurannya adalah 0,5
ml/ekor atau 5 ml untuk 10 ekor induk.

Perhitungan Dosis Ovaprim

Penyuntikan Hormon
Bila persiapan hormon, balk hipofisa atau ovaprim sudah selesai, selanjutnya adalah
menyuntikannya ke induk yang akan dipijahkan sesuai dosis. Ada yang melakukan 2 kali
penyuntikan, tetapi 1 kali pun cukup. Nah, kapan waktu penyuntikan yang tepat untuk
pemijahan semi-alami dan buatan?
Untuk pemijahan semi-alami, waktu penyuntikan bisa bervariasi, mulai dari pukul 10.00 pagi
hingga 17.00. Bila penyuntikan dilakukan pada pukul 10.00, perkiraan lele akan mulai
memijah 10 jam setelah disuntik, yaitu sekitar pukul 20.00. Bila penyuntikan dilakukan pada
pukul 12.00, diperkirakan induk mulai memijah pukul 10 malam. Bila penyuntikan dilakukan
pukul 17.00, pemijahan bisa terjadi mulai pukul 02.00-03.00 pagi. Namun, secara alami, lele
mulai memijah sekitar pukul 12 malam dengan suasana malam yang tenang dan sejuk. Secara
teori, pemijahan lele seharusnya baru mulai pada pukul 02.00-03.00 pagi.
Sementara itu, untuk pemijahan buatan, waktu penyuntikan disesuaikan dengan keinginan.
Intinya, induk dapat diambil sperma dan telurnya 10 jam pascapenyuntikan. Sebelum
pemijahan buatan dilakukan, induk jantan dan betina disuntik dengan hormon, balk ovaprim
atau hipofisa. Berikut urutan kerja penyuntikan induk dengan hormon. Induk diseleksi

terlebih dahulu, lalu diletakkan pada kain/handuk agar tidak berontak. Setelah itu, induk
disuntikkan ovaprim pada bagian punggungnya dengan bantuan syringe. Tekan-tekan dan
gosok-gosok bagian bekas suntikan agar larutan hormon merata dan tidak keluar. Letakkan
indukan ke wadah yang terpisah, lalu tutup agar tidak lompat keluar.
Video Proses Penyuntikan Induk Lele

Penyuntikan Hormon

Proses Pemijahan Semi Alami


Pada prinsipnya, persiapan dan tahapan kerja pemijahan semi-alami sama dengan pemijahan
alami. Hanya saja, untuk mempercepat pematangan gonad, induk disuntik hormon
perangsang sebelum dipijahkan. Berikut urutan kerja pada pemijahan semi-alami.
1. Siapkan kolam pemijahan, kemudian isi air setinggi 20-30 cm. Kemudian, lengkapi dengan
kakaban, lalu tindih dengan batu (pemberat) agar tidak bergeser pada saat pemijahan.

Persiapan Kolam
2. Siapkan suntikan yang berisi campuran larutan hipofisa/ovaprim sesuai dosis. Setelah itu,
suntikkan pada bagian otot punggung induk jantan dan betina sekitar pukul 10.00 pagi.

Penyuntikan Induk
3. Tekan-tekan dan gosok-gosok bagian bekas suntikan agar larutan perangsang tidak keluar
dan cepat menyebar.

Tekan Dan Gosok


Punggung Ikan
4. Lepaskan induk ke kolam pemijahan yang telah dilengkapi kakaban, lalu tutup kolam
dengan jaring atau penutup lainnya agar induk tidak loncat.

Lepaskan Induk Ikan


Lele
5. Pemijahan akan terjadi 8-12 jam setelah penyuntikan (sekitar pukul 22.00-24.00 malam),
pemijahan akan terjadi.Telur yang sehat berwarna bening dan yang gagal berwana putih
beras. Untuk kelancaran proses penetasan dan induk tidak memakan telurnya sendiri, paling
lambat pukul 09.00-10.00 pagi, induk sudah dipindahkan ke kolam perawatan.

6. Kakaban dipindahkan ke kolam penetasan telur. Peletakan kakaban sebaiknya dibalik agar
penetasan telur lebih sempurna. Bila tidak ada masalah, telur akan menetas 24 jam kemudian.
Pada suhu panas, penetasan bisa lebih cepat 1-2 jam. Pada udara dingin seperti musim hujan,
penetasan bisa mundur 3-8 jam. Dari hasil praktik, telur yang dihasilkan dari kawin suntik
lebih besar dan lebih cepat menetas.

Kakaban dipindahkan ke
kolam penetasan telur

Proses Pemijahan Buatan


Pemijahan buatan diawali dengan penyuntikan hormon. Proses awalnya sama seperti pada
proses pemijahan semi-alami. Bedanya, setelah disuntik induk jantan dan betina dibiarkan
terpisah selama 10 jam. Setelah 10 jam, induk jantan dibedah untuk diambil kantong
spermanya. Sementara itu, induk betina diurut perutnya (stripping) untuk dikeluarkan
telurnya. Empat langkah kerja yang harus dilakukan pada metode ini adalah penyuntikan,
pengambilan sperma, pengeluaran telur, dan pencampuran telur dengan sperma.
Video Proses Pemijahan Buatan Ikan Lele

Menyiapkan Sperma Lele


Pada pemijahan buatan, pembuahan dilakukan di darat dengan cara mencampurkan telur hasil
pengurutan (stripping) dengan sperma indukjantan dalam wadah tertentu (biasanya berupa
cawan atau baskom kecil). Namun, sebelum proses pembuahan dilakukan, sperma dari induk
jantan donor harus diambil terlebih dahulu. Berikut urutan pengambilan sperma indukjantan
donor.
1. Setelah 10-12 jam dari penyuntikan, induk jantan diangkat, lalu perutnya dibelah dengan
gunting.
2. Singkap ususnya dengan gunting hingga kantong spermanya (gonad) terlihat. Bentuknya
bergerigi seperti pita berwarna putih.

Gonad Jantan
Bewarna Putih Keruh
3. Ambil kantong sperma dengan pinset.
4. Potong gonad tersebut, lalu urut atau tekan-tekan agar cairan sperma lele keluar.Tampung
di dalam wadah yang telah disiapkan.

Pengeluaran Gonad Jantan


5. Tambahkan sedikit larutan NaCI, lalu digerus hingga rata.
6. Proses persiapan sperma selesai.

Pengeluaran Telur (Stripping)


Induk betina di-stripping setelah sperma siap. Untuk memastikan telur telah matang, lakukan
pengecekan 9 jam setelah penyuntikan. Bila sudah ada telur yang keluar dari kelaminnya,
proses stripping bisa dilakukan. Bila belum siap, tunggu 1-3 jam lagi.

Induk Lele Siap Pijah


Stripping dilakukan dengan cara mengurut perut induk ke arah lubang kelaminnya. Telur
yang keluar ditampung ke dalam wadah baskom plastik yang kering. Proses pegurutan ini
harus dilakukan secara tuntas hingga tidak ada telur yang tersisa. Setelah telur dikeluarkan
semua, selanjutnya dilakukan pembuahan.
Stripping sebaiknya dilakukan dengan memperhatikan suhu air. Bila suhu air cukup hangar
(25 C), stripping bisa dilakukan 10-12 jam setelah penyuntikan. Namun, jika suhu dingin
(20 C), stripping dilakukan pada kisaran 21 jam setelah penyuntikan. Bila suhu air terlalu
rendah, misalnya di bawah 20 C, atau terlalu tinggi, misalnya 28 C, proses penyuntikan
hormon kemungkinan bisa gagal.

Proses Stripping
1. Siapkan induk betina yang sudah siap. Pegang kepala induk dengan bantuan kain atau
handuk agar tidak licin dan lepas saat berontak ketika di stripping.

Persiapan Induk
Betina
2. Tangan kiri memegang kepala ikan dan tangan kanan mengurut perut induk lele dari bagian
perut atas hingga ke bagian lubang kelaminnya. Tampung telur ke dalam mangkok/baskom
plastik 2 liter. Ulangi pengurutan hingga semua telur di perut induk betina keluar semua.

Mengurut Perut Induk


Betina
3. Setelah semua telur keluar dan ditampung di dalam wadah baskom, telur siap dibuahi.

Telur Ditampung Ke
Baskom

Pembuahan Eksternal
Dalam pemijahan buatan, proses pembuahan dilakukan di luar tubuh induk sehingga disebut
pembuahan eksternal. Caranya dengan mencampurkan sperma dengan telur hasil stripping
dalam satu wadah, diaduk, lalu ditebar ke dalam wadah atau kolam petetasan. Wadah
penetasan bisa diberi kakaban atau tidak. Hapa atau jaring yang sangat halus juga bisa

digunakan sebagai media penetasan. Fungsinya ganda, yaitu sebagai wadah dan substrat
penempelan telur.

Selisih Waktu Penyuntikan Dengan Stripping Dan Jarak Pembuahan Telur Dengan Waktu
Penetasan

Pencampuran Telur Dengan Sperma


Setelah proses stripping selesai, campurkan cairan sperma dengan telur dalam satu wadah
penampungan atau mangkok.
Agar tidak terlalu kental dan lengket, encerkan campuran tersebut dengan menambahkan
larutan garam fisiologis (NaCl/larutan infus) atau akuades secukupnya.

Penetasan Benih, Perkembangan Embrio,


Dan Pemeliharaan Larva Ikan Lele
10 Desember 2015
0
2285

Penetasan Benih, Perkembangan Embrio, Dan Pemeliharaan Larva Ikan Lele


Setelah proses pemijahan selesai, selanjutnya telur akan ditetaskan Setelah proses penetasan,
selanjutnya larva dipelihara agar tumbuh dengan baik, Berikut adalah Cara Proses Penetasan
Benih, Perkembangan Embrio, Dan Pemeliharaan Larva pada ikan Lele .

Penetasan Benih Ikan Lele


Penetasan telur pada pemijahan alami dan semi-alami menggunakan kakaban. Sementara itu,
penetasan pada pemijahan buatan dapat memakai kakaban atau tidak memakai kakaban.
Untuk proses penetasan pada pemijahan alami dan semi-alami, berikut urutannya.
a. Siapkan kolam penetasan, bersihkan dan isi air setinggi 20-30 cm.
b. Pindahkan kakaban dari kolam pemijahan ke kolam penetasan dengan posisi dibalik dan
diganjal menggunakan batu atau bata dengan ketinggian kakaban dari permukaan air sekitar 5
cm.
c. lnapkan selama 1 malam. Bila tidak ada masalah, biasanya telur akan menetas menjadi
larva 24 jam dari pembuahan.

Kakaban Untuk Proses Penetasan Pada Pemijahan Alami Dan Semi-Alami


Untuk proses penetasan pada pemijahan buatan, berikut urutannya.
a. Siapkan wadah penetasan, baik berupa kolam atau akuarium. Setelah itu, bersihkan dan isi
air setinggi 15-25 cm. Untuk penetasan di kolam, pasang hapa untuk mempermudah
penanganan benih.
b. Tebarkan telur yang sudah dibuahi ke dalam kolam penetasan secara merata.
c. Biarkan selama 1 malam. Telur yang terbuahi akan menetas 20-24 jam dari pembuahan.

Proses Menebarkan Telur Lele Yang Sudah Dibuahi Ke Dalam Kolam Aquarium
Telur bisa menetas jika terbuahi dengan sempurna dan berwarna kuning muda transparan.
Telur yang berwarna putih beras tidak akan menetas. Agar proses penetasan sempurna,
sebaiknya kolam penetasan dialiri air kecil dan dibiarkan terbuang atau meluap melalui
pembuangan otomatis (lubang dengan saringan kecil). Cara lainnya, kakaban dibilas, lalu
ditetaskan di kolam penetasan. Namun, bila ukuran kolam penetasan cukup besar dan jumlah
indukan yang ditetaskan tidak banyak, cukup menggunakan air yang ada tanpa perlakuan
khusus.
Lamanya telur menetas dipengaruhi oleh suhu air yang akan semakin cepat menetas bila
suhunya semakin tinggi. Bila suhu air kolam antara 20-23 C, telur akan menetas antara 3357 jam. Pada suhu 23-26C, telur lele akan menetas dalam 30-33 jam, sedangkan pada suhu
27-30 C, telur menetas dalam 20-23 jam. Normalnya, telur akan menetas 24 jam setelah
pembuahan. Pada suhu lebih panas, penetasan bisa lebih cepat 1-3 jam. Pada udara dingin
seperti musim hujan, penetasan bisa mundur 3-10 jam.

Perkembangan Embrio Benih Lele

Setelah proses penetasan, selanjutnya larva dipelihara di kolam penetasan yang belum
mendapat pakan dari luar selama 3 hari. Bila cadangan makanannya (yolksack) berupa
kuning telur telah habis diserap, akan ditandai warnanya yang berubah menjadi hitam.
Setelah itu, larva akan menyebar mencari makan sehingga harus ada pasokan pakan dari luar.
Makanannya bisa berupa kutu air, artemia, atau cacing sutera.

Telur Lele
1. Lamanya pengeraman telur tergantung suhu air. Semakin tinggi suhu, penetasan akan lebih
cepat. Normalnya, penetasan berlangsung antara 20-24 jam sejak telur dibuahi.

2. Pertama menetas, organ tubuh larva belum sempurna. Hanya ada kepala, badan, perut, dan
ekor. Kepala, mulut, dan sirip belum terbentuk dengan baik. Warna tubuhnya kuning
transparan. Kuning telur (yolksack) masih banyak.

3. 6-12 jam setelah menetas, warnanya berubah menjadi cokelat bening. Kepala, mata, dan
sirip mulai terbentuk, tetapi kumis belum ada. Persediaan yolksack mulai berkurang.

4. Sekitar 18 jam setelah menetas, warnanya mulai cokelat tua transparan. Kepala, mulut,
mata sirip mulai kelihatan, tetapi kumis belum tumbuh.

5. Setelah 24 jam; kepala, mulut, mata, dan sirip mulai terbentuk lebih balk. Warna abu-abu
muda.

6. Ketika berumur 48 jam, bentuk larva mulai lengkap, tetapi belum sempurna. Mulut, mata,
dan sirip belum tumbuh lengkap, tetapi warnanya sudah mulai menghitam.

7. Setelah umur 3-4 hari perkembangan larva sudah sempurna. Kumis, mulut, kepala, mata,
badan, dan siripnya sudah lengkap. Warnanya menjadi hitam tua. Pada umur ini, persediaan
makanan hampir habis, larva bisa diberi pakan tambahan dari luar.

8. Pada umur 6-9 hari, pertumbuhan benih lele sempurna. Ukurannya sekitar 1 cm. Pakan
yang diberikan bisa berupa cacing sutera, kutu air, atau artemia. Labirinnya baru akan
terbentuk pada umur ke-13-25.Ini adalah fase yang sangat rentan.

Pemeliharaan Larva Ikan Lele


Kegagalan pembenihan biasanya berawal dari pemeliharaan larva yang tidak tepat sehingga
menyebabkan banyak kematian. Hal ini bisa disebabkan oleh faktor pemberian pakan yang
salah, mulai dari jenis atau ukurannya. Bisa juga karena kelalaian dalam kontrol air. Air hujan
juga bisa mengakibatkan kematian karena membuat suhu dingin dan air menjadi asam. Jadi,
diperlukan ketekunan, kesabaran, dan ketelitian tinggi.

Lama Pemeliharaan
Umumnya, larva dipelihara di kolam penetasan selama 13-15 hari sejak menetas dengan
padat tebar 50.000-60.000 ekor/m2. Benih yang dihasilkan bervariasi, yaitu antara 1-4 cm.
Ketika berusia 13-15 hari, sebaiknya sudah dilakukan sortir pertama.

Pemberian Pakan
Larva yang baru menetas tidak perlu diberi pakan selama 3-4 hari karena masih memiliki
cadangan makanan berupa kuning telur yang melekat di tubuhnya. Pada hari ke-3 atau 4,
warna larva akan menghitam dan mulai aktif keliling mencari makan. Hal itu pertanda kuning
telurnya mulai habis. Nah, pada saat itulah larva diberi pakan.
Pakan utama larva adalah kutu air dan cacing sutera yang diberikan sampai kenyang. Bila
tidak ada, bisa diberi pakan pengganti berupa kuning telur, susu bubuk, atau pelet tepung.
Pemberian pakan ini harus disesuaikan dengan kepadatan larva. Jika tidak habis, ketiga pakan
tersebut dapat menyebabkan air cepat kotor. Bahkan, pakan tersebut kurang baik untuk
pertumbuhan larva. Frekuensi pemberiannya 2-3 kali sehari yang diberikan sedikit demi
sedikit.

Cacing Sutra Untuk Makanan Larva Lele

Pengendalian Air
Kualitas air memegang peranan penting dalam kelangsungan hidup benih. Untuk menjaga
kualitas air, setidaknya dilakukan pergantian air setiap 2-4 hari sekali dengan air yang sudah
diendapkan. Pergantian air pertama bisa dilakukan setelah larva berumur 13 hari. Pergantian
air tergantung pada tingkat kotoran yang ada di kolam. Bila padat tebar tinggi, pergantian air
harus lebih cepat, yaitu kurang dari 10 hari.
Suhu air juga harus dipertahankan agar tetap stabil pada 25-27 C. Usahakan jangan sampai
terjadi perubahan suhu yang drastic karena dapat menyebabkan kematian larva. Untuk
menyiasati sinar matahari yang berlebihan, bisa dengan menutup sebagian permukaan kolam
dengan paranet atau meninggikan air kolam mencapai 30-40 cm. Untuk mengatasi air hujan
bisa dengan diberi atap atau penutup lainnya, tetapi sinar matahari tetap masuk.
Untuk menjaga larva tidak stres atau mati akibat pergantian air, pergantian airnya dilakukan
dengan cara diluapkan atau overflow. Berikut Langkah-langkah pergantian air kolam larva.
1. Tutup lubang pembuangan dengan kain strimin atau potongan hapa.

2. Sedot air dari kolam pengendapan air mengunakan pompa kecil, lalu alirkan ke kolam
larva.
3. Biarkan air meluap otomatis pada lubang pembuangan.
4. Agar aliran air dari selang tidak terlalu keras, tutup lubang selang dengan busa yang diikat
karet gelang.
5. Biarkan air mengalir selama 30 menit.
6. Lakukan pemeliharaan air ini setiap 2-3 hari sekali secara teratur agar kualitas air terjaga.

Sortasi Pertama Benih


Sortasi pertama sebaiknya dilakukan pada saat larva berusia 13-15 hari. Hal ini juga
bertujuan untuk menekan kanibalisme. Ada beberapa variasi ukuran benih, antara 1-3 cm.
Selanjutnya, benih hasil sortasi dipelihara di kolam pendederan atau dijual ke peternak
pendeder. Sortasi yang dilakukan ketika larva berusia di atas 20 hari akan menyebabkan
penyusutan benih yang tinggi akibat kanibalisme.

Benih Ikan Lele Ukuran 1-3 cm

Proses Pendederan Benih Ikan Lele


10 Desember 2015
0
1982

Benih Ikan Lele Ukuran 1-3 cm


Ini Adalah Proses Pendederan Benih Ikan Lele Pendederan umumnya dibagi menjadi 3
tahap, yaitu pendederan I, II, dan lll. Setiap tahap memerlukan selang waktu tertentu.
Pendederan I memerlukan waktu sekitar 2-3 minggu untuk memelihara benih dari ukuran 1-3
cm menjadi ukuran 4-5 cm dan 5-6 cm. Pendederan II berlangsung sekitar 2-3 minggu untuk
menghasilkan benih berukuran 7-8 cm. Sementara, pendederan Ill memerlukan waktu sekitar
2 minggu untuk mencapai ukuran 9-12 cm. Pada tahap pendederan, ada beberapa kegiatan
yang harus dilakukan, antara lain persiapan kolam, penebaran benih, pengaturan air,
pemberian pakan, pengendalian hama, dan sortasi benih.

Persiapan Kolam Untuk Pendederan Ikan Lele


Wadah pendederan jenisnya beragam. Bisa berupa kolam terpal, kolam beton, kolam tanah,
atau lainnya. Kolam harus disiapkan dahulu sebelum digunakan. Kotoran dan baunya harus
dihilangkan, diisi air setinggi 40-60 cm, lalu diendapkan semalam. Untuk meningkatkan
kesuburan air, bisa menggunakan probiotik sesuai dosisnya agar pakan alami tersedia di
dalamnya. Biarkan selama 5-7 hari.

Kolam Untuk Pendederan Benih Ikan Lele

Pendederan Lele Tahap 1


Pendederan 1 bertujuan untuk menghasilkan benih berukuran 4-5 cm dan 5-6 cm selama 2-3
minggu. Setiap minggu dilakukan sortasi untuk menghindari penyusutan akibat kanibalisme.
Benih berukuran 4-5 cm atau 5-6 cm bisa dipelihara pada pendederan II atau langsung dijual.
Benih ditebar secara hati-hati pada pagi (pukul 07.00-08.00) atau sore hari (15.0018.00)
agar tidak stres. Padat tebar yang disarankan maksimal adalah 10.000 ekor/m3.
Pada minggu ke-1, benih diberi pakan pelet tepung. Benih masih bisa diberi pakan alami
berupa cacing sutera. Pakan diberikan secara merata, sedikit demi sedikit dengan frekuensi 23 kali sehari. Agar tidak kaget, berikan perubahan pakan secara bertahap, yaitu dimulai 75%
cacing sutera dan 25% pelet. Pada hari keempat, ikan sudah memakan pelet 100%. Pada
minggu ke-3, Pelet sudah bisa diganti ukurannya, yaitu diameter 0,8 mm. Cara pemberiannya
sama seperti sebelumnya.
Pengaturan kualitas air pada pendederan sama seperti pemeliharaan larva. Intinya, jika air
sudah kotor karena pakan, air harus diencerkan dengan air yang baru setiap 2-3 hari sekali.

Setelah dipelihara selama 2-3 minggu, benih disortir dengan ayakan sortir 3-5. Benih ini bisa
dipanen untuk dipelihara lebih lanjut pada pendederan II atau dijual pada pendeder. Benih
hasil seleksi pertama disebut grade A yang kualitasnya terbaik karena pertumbuhannya cepat.
Setelah 10 hari dari sortasi pertama, benih yang masih tersisa dari sortasi pertama disortir
lagi. Hasil sortasi kedua ini disebut benih grade B dengan kualitas cukup baik. Sementara,
benih yang tidak lobos pada sortasi ke-2 dipelihara lebih lanjut hingga berukuran 4-5 cm dan
5-6 cm. Ini disebut grade C dan kualitasnya kurang baik karena pertumbuhannya lambat.

Benih Lele Ukuran 4-5 cm

Pendederan Lele Tahap 2


Pendederan II merupakan lanjutan dari pendederan I untuk memelihara benih berukuran 4-5
cm menjadi ukuran 5-8 cm. Lamanya pemeliharaan sekitar 2-3 minggu. Panen atau sortir bisa
dilakukan sebanyak 3 kali setiap 7 hari sekali, yaitu akhir minggu ke-1, akhir minggu ke-2,
dan akhir minggu ke-3. Penebaran benih dilakukan pada pagi atau sore hari.Tujuannya agar
benih tidak stres. Padat tebarnya sekitar 5.000 ekor/m2.

Pada minggu pertama, benih diberi pelet berukuran 0,8 mm sesuai bukaan mulutnya. Pada
minggu ke-2, benih sudah bisa diberi pelet yang lebih besar, yaitu berdiameter 1 mm. Agar
tidak stres, sebaiknya setiap pergantian pakan, pelet direndam dahulu selama 10 menit, lalu
diberikan pada benih. Frekuensi pemberian pakan 2-3 kali/hari, yaitu pagi hari (07.00-09.00),
siang hari (14.00-15.00), dan malam hari (20.00-22.00). Jumlah pakan yang diberikan 3-5
%/hari dari total bobot benih yang dipelihara di kolam.
Kualitas air dijaga dengan melakukan overflow atau peluapan air setiap 2-3 hari sekali.
Pengurasan total bisa dilakukan jika kualitas air sudah sangat buruk. Hal itu juga mencegah
timbulnya penyakit. Pemberian probiotik juga bisa dilakukan untuk mengendalikan kualitas
air.
Bila benih terlanjur terserang penyakit, sebaiknya dikarantina ke kolam tersendiri dan diberi
antibiotik, misalnya super tetra. Ketinggian airnya diturunkan sampai 5-10 cm saja.
Tujuannya agar benih bisa mengambil oksigen lebih dekat ke permukaan air karena benih
yang sakit gairah makannya turun drastis. Pakan diberikan cukup 2 kali sehari dengan ukuran
lebih kecil dan jumlah lebih sedikit.
Pada pendederan 2, sortasi dilakukan sebanyak 3 kali, yaitu pada setiap akhir minggu. Hasil
sortasi bisa dipelihara lebih lanjut pada pendederan Ill atau dijual ke konsumen. Benih yang
dihasilkan berukuran antara 6-7 cm dan 7-8 cm.

Benih Lele Ukuran 5-8 cm

Pendederan Lele Tahap 3


Pendederan 3 merupakan kelanjutan pendederan 2 untuk membesarkan benih dari ukuran 6-8
cm menjadi 912 cm. Pada dasarnya, tahap kerjanya sama dengan pendederan 1 dan 2.

Namun, jarang sekali pembenih lele sampai pada tahap pendederan 3. Biasanya, pada
pendederan 1 dan 2, benih sudah habis terjual ke konsumen. Jadi, pendederan 3 hanya sebuah
opsi bagi para pendeder yang ingin menghasilkan benih ukuran besar.

Benih lele Berukuran 9 cm Lebih

Teknik Kilat Dalam Cara Pembesaran Ikan


Lele
9 Desember 2015
0
3280

Teknik Kilat Dalam Cara Pembesaran Ikan Lele


Teknik Kilat Dalam Cara Pembesaran Ikan Lele Pembesaran merupakan segmen lanjutan
dari pembenihan untuk menghasilkan lele konsumsi berukuran 100-150 g/ekor atau 7-8
ekor/kg. Biasanya, para peternak cenderung memilih segmen ini karena lebih mudah, praktis,
dan aman bila dibanding pembenihan.
Namun, pembesaran memerlukan biaya yang cukup besar, terutama biaya pakan. Bila
peternak hanya mengandalkan pakan pelet, biayanya bisa mencapai 60-70% dari seluruh
komponen biaya operasional sehingga keuntungan yang didapat relatif tipis.
Jadi, biaya pakan harus ditekan sekecil mungkin sehingga keuntungannya optimal. Ada
beberapa cara yang bisa dilakukan untuk menekan biaya pakan, di antaranya perendaman
pelet, pakan alternatif, atau membuat pelet sendiri dengan biaya murah.
Pemberian suplemen/multivitamin dan probiotik juga bisa menjadi langkah untuk
memaksimalkan fungsi pakan. Pakan alternatif yang digunakan antara lain bekicot, keong
emas, maggot, atau ulat sawit. Untuk daerah yang sulit mendapatkan pakan alternatif, bisa
membuat pelet sendiri yang kandungan gizinya diatur sesuai keinginan. Selain pakan,
kualitas air juga berpengaruh untuk memacu pertumbuhan lele agar tetap sehat dan nafsu
makannya tinggi.

Persiapan Wadah Pembesaran Ikan Lele


Pembesaran lele bisa dilakukan di berbagai wadah seperti halnya pemeliharaan ikan air tawar
lainnya. Wadah yang umumnya digunakan adalah kolam tanah, beton, atau terpal yang
intinya harus mudah dikelola. Tidak ada aturan baku untuk ukurannya, tetapi sebaiknya tidak
terlalu besar untuk memudahkan pengelolaan dan besar kecilnya target panen yang ingin
dicapai.

Membuat Kolam Untuk Ikan Lele


Sebelum digunakan, ada beberapa tindakan yang harus dilakukan terhadap kolam. Untuk
kolam yang sudah lama, keringkan airnya, angkat kotoran dan lumpurnya (kolam tanah), lalu
semprotkan fungisida atau desinfektan untuk membunuh jamur dan patogen. Pada kolam
tanah, bisa menggunakan kapur pertanian sebanyak 20-50 g/m3 untuk meningkatkan pH air
dan membunuh bibit penyakit. Untuk menetralkannya, jemur kolam selama 2 minggu, lalu isi
air hingga hampir penuh, lalu biarkan selama 5-7 hari agar suhu, pH, dan oksigen air menjadi
netral.
Pakan alami juga merupakan salah satu komponen utama yang harus ada dalam pembesaran
lele. Cara yang biasa digunakan untuk membuatnya adalah dengan memupuk kolam dengan
kotoran ternak (ayam, sapi, atau kerbau) kering sebanyak 200-500 g/m2 yang dimasukkan ke
dalam karung, lalu dimasukkan ke dalam kolam. Biarkan selama 5-7 hari agar pakan alami

berkembang biak. Cara lainnya adalah dengan probiotik. Jadi, cukup menebar probiotik
sesuai dosis. Pemupukan ini bisa bersamaan dengan pengapuran.

Mendapatkan Benih Ikan Lele


Benih bisa didapatkan dari hasil pendederan sendiri atau membeli dari peternak lain, baik
perorangan atau lembaga pemerintah seperti Balai Besar Pengembangan Budidaya Air Tawar.
Benih hasil pembenihan/pendederan sendiri kualitasnya lebih terjamin dibandingkan dengan
membeli dari peternak lain. Peternak tahu persis asal-usul induknya dan teknik
pemeliharaannya.

Benih Ikan Lele


Namun, tidak sedikit peternak yang cenderung membeli benih dari peternak pembenih lain.
Membeli benih dari peternak lain harus hati-hati karena terkadang ada benih yang merupakan
oplosan. Benih oplosan ini dari ukurannya terlihat sama, tetapi umurnya bisa berbeda. Jadi,
ketika dipelihara atau dibesarkan, frekuensi panennya cenderung lebih sering karena

pertumbuhannya terlalu bervariasi. Peternak juga harus jeli agar tidak membeli benih yang
sakit karena dapat menular dan menyerang semua benih yang dipelihara di satu kolam. Untuk
itu, belilah benih pada peternak yang sudah dikenal dan memiliki benih-benih berkualitas.

Ciri Benih Ikan Lele Berkualitas


Ada beberapa hal yang harus diperhatikan terkait kualitas dan kesehatan benih, terutama jika
diperoleh dari pembenih lain. Benih yang berkualitas menjadi syarat mutlak suksesnya
pembesaran. Perhatikan bentuk fisik dan pergerakan benih. Berikut ciri-ciri benih yang baik.
Sehat dan lincah.
Pertumbuhan normal.
Respon cepat.
Warna kulit cerah.
Tidak luka atau cacat.
Tidak menggantung.
Nafsu makan tinggi.
Tidak berbusa atau berlendir.

Penebaran Benih Ikan Lele


Benih yang akan ditebar sebaiknya dipuasakan dahulu selama 6-8 jam. Tujuannya agar tidak
stres atau muntah selama perjalanan atau di kolam baru yang dapat membahayakan
kelangsungan hidup benih ketika dipelihara. Waktu penebaran yang tepat adalah saat cuaca
teduh. Baiknya, penebaran dilakukan pada pagi hari (pukul 06.00-09.00) atau sore hari (pukul
16.00-18.00). Hal itu terkait dengan lele yang sangat sensistif terhadap perubahan suhu atau
pH air.

Padat Tebar
Padat tebar benih lele harus sesuai dengan luasan kolam agar ruang geraknya leluasa. Padat
tebar yang tepat tidak membuat air cepat kotor, ikan lebih sehat, dan pertumbuhannya cepat.
ldealnya, padat tebar untuk pembesaran antara 250-350 ekor/m3. Dengan tambahan probiotik
atau antibiotik organik seperti SS-Formula, padat tebar bisa ditingkatkan hingga 500-650
ekor/m3.

Cara Penebaran Benih Ikan Lele


Benih yang baru datang tidak boleh ditebar langsung ke kolam karena dapat menyebabkan
benih stres, lalu mati. Harus ada aklimatisasi atau penyesuaian/adaptasi terhadap lingkungan
kolam baru, baik suhu atau pH airnya. Jadi, wadah packing (plastik) dimasukkan ke dalam
kolam pemeliharaan yang baru sekitar 10 menit. Setelah itu, buka plastik, lalu masukkan air
kolam ke dalamnya sekitar 25-30%. Biarkan selama 10 menit, lalu tenggelamkan plastik
sehingga benih akan keluar sendiri dari plastik. Untuk kemasan berupa jerigen, prosesnya
hampir sama seperti pada wadah plastik.

Pemeliharaan Ikan Lele

Pemeliharaan benih yang utama adalah memberi pakan sesuai kebutuhan sampai panen.
Untuk benih yang baru ditebar, sebaiknya tidak diberi pakan sekitar 3 jam karena mash stres.
Bila dipaksakan pun tidak akan banyak yang dimakan, bahkan menyebabkan air rusak.
Selama 5 han pertama, sebaiknya benih hanya diberi pelet apung supaya mullah dikontrol.
Pemberian pelet tidak boleh langsung banyak. Tunggu hingga kondisi fisik dan selera makan
benih benar-benar pulih kembali.
Pada hari ke-1 dan 2, benih cukup diberi pakan sebanyak 25% clan normalnya sebanyak 2
kali sehari, yaitu pagi han pukul 09.00 dan sore han pukul 17.00. Pada hari ke-3 dan 4, benih
diberi pakan sebanyak 40-50%. Pada han ke-5, biasanya kondisi fisik benih sudah pulih dan
selera makannya sudah normal kembali. Artinya, benih sudah bisa diberi pakan sesuai
porsinya.
Frekuensinya bisa 3-4 kali/hari sebanyak 3-5% dan biomassa benih yang dipelihara. Waktu
pemberian pakan pada pagi hari pukul 09.00, siang hari pukul 14.00-15.00, dan malam hari
pukul 20.00-22.00 atau disesuaikan dengan jadwal. Untuk memaksimalkan penyerapan
pakan, sebaiknya pelet diseduh dahulu sebelum diberikan.
Selain pelet, pakan lain yang bisa diberikan pada benih bisa berupa bekicot, keong emas,
maggot, cacing tanah, ikan rucah, usus ikan, usus ayam, limbah pembuatan pindang, atau
sawi putih. Sebelum diberikan, ada perlakuan agar hasilnya baik. Bekicot, keong emas, dan
usus ayam direbus dahulu. Frekuensi pemberian pakan alternatif bisa 1-2 kali sehari, yaitu
pada pagi hari pukul 09.00 dan malam hari pukul 19.00-21.00.

Teknik Mempercepat Pertumbuhan


Pada usaha pembesaran lele, untuk memacu pertumbuhannya tidak bisa hanya mengandalkan
pakan. Oleh karena itu, perlu siasat dengan meningkatkan fungsi pakan melalui berbagai
usaha seperti perendaman pelet, pemberian probiotik, pemberian suplemen, atau dengan
bantuan teknologi pengolahan air agar kualitasnya terjamin. Dengan demikian, ikan menjadi
sehat, nafsu makannya tinggi, dan ikan cepat besar.

Suplemen/Vitamin Pemicu Pertumbuhan


Salah satu cara untuk meningkatkan fungsi pakan adalah dengan pemberian suplemen, yaitu
makanan tambahan yang mengandung zat-zat bernutrisi dalam bentuk kapsul, tablet, bubuk,
atau cairan yang berfungsi sebagai pelengkap kekurangan zat gizi. Fungsi utamanya adalah
menjaga stamina ikan tetap prima, meningkatkan metabolisme dan daya tahan tubuh, serta
membantu mengatasi stres pada lele. Suplemen yang bisa diberikan pada ikan dapat berupa
multivitamin dalam bentuk bubuk atau cair, seperti premix aquavita, tiger-bac, susu bubuk,
gula, atau curcuma.

Probiotik Maksimalkan Fungsi Pakan


Penggunaan probiotik dengan dosis yang tepat dapat meningkatkan fungsi dan efisiensi
pakan secara optimal. Pertumbuhan lele lebih optimal dan biaya pakan bisa ditekan sekecil
mungkin. Probiotik bisa diberikan melalui pakan atau air. Aplikasi probiotik pada pakan sama
halnya dengan aplikasi suplemen pada pakan.

Probiotik Untuk Lele

Pakan Lele Yang Telah Dicampur Probiotik Sangat Efektif Untuk Membesarkan lele

Pakan Berprotein Hewani Tinggi


Selain memberi suplemen, probiotik, memanfaatkan teknologi, pemberian pakan dengan
kadar protein tinggi juga bisa mempercepat pertumbuhan lele. Makanan yang mengandung
lemak dan protein tinggi bisa diperoleh dari ayam mati, telur yang gagal menetas dari
peternakan ayam, usus ayam, kulit ayam, ikan-ikanan, keong mas, bekicor, kerang-kerangan.
Bagi peternak yang tinggal di daerah yang berlimpah sumber makanan seperti didekat pantai,
bisa membeli ikan runcah dengan harga murah atau gratis, sehingga bisa menekan biaya
pakan.

Keong Mas
Untuk meningkatkan pertumbuhan, darah ternak bisa digunakan sebagai campuran dalam
pakan lele. Hal itu karena kandungan proteinnya yang tinggi, yaitu di atas 50%. Pakan pelet
yang sudah ada dilumatkan dahulu, lalu ditambahkan adonan marus (darah yang sudah
digumpalkan). Adonan marus yang ditambahkan cukup 15-20% dari jumlah pakan yang akan
digunakan.

Teknologi Sederhana
Cara lain yang bisa digunakan untuk meningkatkan pertumbuhan ikan adalah dengan
menjaga kualitas air.Teknologi sederhana yang bisa dimanfaatkan untuk mempertahankan
kualitas air adalah aerator, blower, atau pompa sirkulasi yang akan meningkatkan kadar
oksigen dalam air. Untuk menjaga suhu air tetap stabil bisa menggunakan water heater
(pemanas air elektrik). Sebaiknya, penggunaan water heater mengikuti perubahan suhu
sehingga menghemat penggunaan listrik. Misalnya pada malam hari suhu akan berubah
setelah tengah malam menjelang subuh. Jadi, water heater bisa mulai digunakan setelah pukul
22.00 malam dan dimatikan pada pukul 05.00 pagi. Air akan hangat kembali karena sinar
matahari.

Pompa Sirkulasi Yang Akan Meningkatkan Kadar Oksigen Dalam Air

Manajemen Air
Air yang kualitasnya terjaga dengan baik akan membuat ikan sehat, ikan yang sehat memiliki
selera makan yang tinggi sehingga lebih cepat besar. Ada beberapa cara yang bisa dilakukan

untuk menjaga kualitas air, yaitu dengan pengurasan, pengenceran air, penyaringan,
peningkatan kadar oksigen, dan sirkulasi air. Pengurasan dilakukan secara berkala, sesuai
dengan penurunan kualitas air. Pengenceran air bisa dilakukan dengan pemberian probiotik
atau dibuang sebagian dan ditambah air baru sebanyak air yang dibuang. Meningkatkan kadar
oksigen air bisa dilakukan dengan cara menguras air, menggunakan aerator atau mendaur
ulang air dengan cara penyaringan.
Video Pembesaran Ikan Lele Menggunakan Sistem Probiotik

Proses Pembesaran Lele


9 Desember 2015
0
1034

Kegiatan Yang Dilakukan Dalam Proses Pembesaran Lele


Berikut Adalah Kegiatan Yang Dilakukan Dalam Proses Pembesaran Lele Sebagai
pembudidaya, balk pemula ataupun yang sudah berpengalaman, sebaiknya sudah bisa
memprediksi saat yang tepat untuk memelihara lele. Saat ini, kebutuhan lele konsumsi sudah
sangat tinggi, tetapi tidak diiringi dengan pasokan yang memadai. Tengok saja di Parung
yang biasanya bisa menyuplai lele untuk Jabodetabek harus disokong pasokan lele dari luar.
Para calon pelaku pembesaran harus membuat perencanaan sehingga hasil panen yang
diharapkan tidak meleset. Mulai dari persiapan kolam, waktu penebaran benih, waktu panen,
dan lokasi pemasaran harus direncanakan. Oleh karena itu, setiap pelaku wajib memiliki
kalender atau rencana han per hari agar dapat membantu kegiatan pemeliharaan nantinya.

Tata Letak Kolam


Tata letak kolam pembesaran juga harus ditata sedemikian rupa sehingga terkesan apik dan
asri. Antara kolam dengan kolam lain diberi jarak yang memadai antara 80-100 cm, sehingga
memudahkan proses budi daya dan panen. Tata letak kolam pembesaran dan pondok jaga
tersebut meliputi:
Bangunan tempat tinggal pekerja merangkap gudang peralatan dan pakan.
Kolam pemeliharaan sebanyak 32 unit.
Kolam karantina sebanyak 4 unit.
Kolam tandon air sebanyak 2 unit.
Adapun jumlah kolam yang diperlukan sebanyak 38 unit, termasuk kolam karantina dan
tandon air.
Berikut adalah contoh tata letak kolam pembesaran di lahan 1.000 m2 yang berdimensi 40 m
x 25 m.

Layout Lokasi Pembesaran Ikan Lele

Persiapan Kolam Hari Per Hari

Hal pertama yang harus dilakukan dalam usaha pembesaran adalah mempersiapkan kolam.
Kolam yang dibuat harus diatur tata letaknya sehingga tampak rapi dan memudahkan
pemeliharaan. Berikut penjelasannya.

Hari 1-5
Kegiatan:
Menentukan lokasi budi daya serta membersihkan dan meratakan tanah. Pekerjaan dilakukan
oleh 5 orang dengan sistem borongan. Upah Rp 50.000/hari/orang.

Hari 6-20
Kegiatan :
Pembuatan kolam terpal rangka bambu untuk pemeliharaan, karantina, dan tandon air.
Pembuatan saluran dan pembuangan air.
Pekerjaan dilakukan oleh 4 orang dengan sistem borongan. Upah Rp 200.000/kolam.

Hari 21-22
Kegiatan :
Membersihkan kolam dan membeli perlengkapan pembesaran lele seperti jaring, seser,
jerigen, bak sortir, dan timbangan.

Hari 23-25
Kegiatan :
Pengisian air kolam dengan ketinggian 25-30 cm.

Hari 26
Kegiatan :
Pemupukan kolam. Caranya, masukkan probiotik ke dalam kolam dengan dosis tertentu.
Untuk
cara lain bisa dengan pupuk kandang yang dimasukkan ke dalam karung.

Hari 27-30
Kegiatan :
Kolam yang sudah diberi pupuk dibiarkan selama 2-3 hari hingga pakan alami tumbuh.

Pembesaran Lele Hari Per Hari


Hari 1
Kegiatan :
Penebaran benih ukuran 7-8 cm
Benih harus diadaptasi/aklimatisasi agar tidak stres.
Benih tidak diberi pakan selama 1 hari.

Hari 2-15
Kegiatan :
Pemberian pakan pelet berukuran 1 mm hingga kenyang. Frekuensi pemberiannya 2-3 kali
sehari pada pagi (09.00), siang (13.00), dan sore hari (17.00-21.00).
Pakan bisa dilembapkan dengan air dan dibiarkan selama 15 menit, lalu diberikan pada ikan.
Pada hari ke-5, air di kolam yang awalnya hanya 30 cm ditambahkan sampai penuh, yaitu
pada ketinggian 60-80 cm. Setelah itu, tambahkan pula probiotik atau suplemen agar ikan
tumbuh sehat dan tidak mudah stres.
Penambahan probiotik/suplemen bisa diberi setiap 3-5 hari sekali agar kolam tetap subur.
Sekitar 5-7 hari, air pemeliharaan akan berubah menjadi kehijauan yang menandakan bahwa
air tersebut sudah sesuai untuk pembesaran lele.

Hari 16
Kegiatan :
Pergantian ukuran pakan pelet butiran dari 1 mm menjadi ukuran 2 mm.
Pakan bisa dilembapkan dengan air dan dibiarkan selama 15 menit, lalu diberikan pada ikan.
Benih sudah berukuran 11-12 cm.

Hari 17-40
Kegiatan :
Pemberian pakan pelet butiran ukuran 2 mm. Frekuensi 3 kali sehari dengan pola yang sama
seperti sebelumnya. Pemberian pakan dihentikan ketika ikan sudah mulai malas makan.
Untuk menghemat pakan, lele bisa diberikan pakan alternatif antara lain usus ayam, kepala
tongkol, kepala udang, bekicot, keong mas, dan sosis bekas. Pemberian pakan alternatif ini
bisa diberikan hingga ikan dipanen, tetapi cukup 2-3 hari sekali.

Hari 41
Kegiatan :
Pergantian air kolam dengan cara membuang air setengahnya, lalu diganti sebanyak air yang
dibuang.
Lakukan overflow atau biarkan air meluap dan mengalir melalui pembuangan otomatis
selama 15 menit melalui pipa pembuangan yang sudah diberi lubang pada bagian atasnya.

Hari 42-45

Kegiatan :
Pemberian pakan pelet butiran ukuran 2 mm. Frekuensi 3 kali sehari dengan pola yang sama
seperti sebelumnya. Pemberian pakan dihentikan ketika ikan sudah mulai malas makan.

Hari 46
Kegiatan :
Pergantian pakan dengan ukuran yang lebih besar lagi, yaitu ukuran 3 mm.

47-59
Kegiatan :
Jadwal pemberian pakan bisa sama 3 kali sehari atau dikurangi menjadi 2 kali sehari, yaitu
pada pagi hari (09.00) dan sore/malam hari (15.00-20.00).
Bila kondisi air mulai buruk (warna cokelat/ hijau pekat), dapat dilakukan pergantian air
kolam dengan cara yang sama seperti sebelumnya.
Jika ikan akan dipanen keesokan harinya, mulai sore hari tidak usah diberi pakan.

Hari 60
Kegiatan :
Panen lele konsumsi, ukuran 7-10 ekor/kg.

Panen Lele 60 Hari


Setelah menyusun perencanaan pembuatan kolam dan pengisian air, selanjutnya adalah
memulai usaha pembesaran. Mulai dari pemilihan benih unggul, penebaran, pemberian
pakan, sampai panen, semuanya harus direncanakan dengan matang. Kegiatan pembesaran
lele hingga ukuran konsumsi diperkirakan memakan waktu waktu sekitar 60 hari. Berikut
asumsinya.
a. Usaha pembesaran dilakukan pada lokasi bersuhu sedang hingga panas, misalnya sekitar
Depok atau Bekasi.
b. Menggunakan kolam terpal berukuran 2 m x 5 m x 0,7 m.
c. Menggunakan benih unggul (sangkuriang/piton) berukuran 7-8 cm.
d. Panen lele konsumsi ukuran 7-10 ekor/kg dalam waktu 60 hari.

Panen Ikan Lele Konsumsi

Mengatasi Penyakit Dan Pilihan Obat Pada


Ikan Lele
9 Desember 2015
0
11886

Mengatasi Penyakit Dan Pilihan Obat Pada Ikan Lele


Mengatasi Berbagai Penyakit Dan Pilihan Obat Pada Ikan Lele Kematian pada lele
disebabkan oleh beberapa faktor, yaitu hama, penyakit, dan non penyakit. Tidak semua
kematian pada lele disebabkan oleh serangan hama atau penyakit.Terkadang faktor alam
seperti cuaca ekstrim, hujan asam, atau kesalahan penanganan juga bisa menyebabkan
kematian.

Hama dan Solusi


Hama adalah binatang pemangsa dan perusak. Di kolam terbuka, hama yang sering
menyerang lele di antaranya ular, belut, kelelawar, katak, burung, udang, musang air, ikan
gabus, dan belut. Di perkarangan, khususnya di daerah perkotaan, hama yang sering
mengganggu adalah katak, kucing, dan ayam. Namun, pemeliharaan lele di kolam terpal tidak
banyak mengalami gangguan dari hama tersebut.

Hama Ikan Lele Dan Solusi

Penyakit Ikan Lele dan Cara Mengatasinya


Penyakit adalah kendala yang sangat ditakuti pembudidaya karena menjadi faktor utama
penyebab kematian lele dan kegagalan panen. Munculnya penyakit pada lele disebabkan oleh
beberapa faktor, di antaranya air yang kotor atau jarang diganti, pemberian pakan berlebihan,
benih yang sakit sejak dibeli, fasilitas budi daya yang telah tercemar penyakit, dan kesalahan
penanganan.
Air yang kotor atau jarang diganti dan pakan berlebihan akan meningkatkan keasaman dan
menurunkan kandungan oksigen dalam air. Kondisi seperti ini menyebabkan berbagai bakteri,
jamur, atau parasit tumbuh subur, lalu menyerang dan mematikan benih lele. Celakanya,
hampir semua jenis penyakit ikan sifatnya menular. Artinya, jika salah satu ikan di kolam
sudah terkena penyakit, kemungkinan besar penyakit tersebut akan menyebar ke kolam
lainnya. Jika sudah demikian, kerugianlah yang akan dituai pembudidaya.
Penyakit ikan disebabkan oleh bakteri, parasit, serta jamur yang melekat di kulit dan insang,
seperti Protozoa, Copepod, Pseudomonas, dan Aeromonas. Dampaknya bisa berupa infeksi
yang menyebabkan fisik ikan terus melemah. Bila tidak diatasi, dapat mengakibatkan ikan
mati. Untuk mengatasinya, harus dilakukan pencegahan ataupun pengobatan yang sesuai
dengan jenis penyakit. Dengan demikian, penularan penyakit tidak lebih parah dan meluas.

Benih Ikan Lele Yang Telah Mati, Harus Segera Dibuang Dari Kolam
Penyakit infeksi pada lele umumnya dipicu oleh penurunan kualitas air akibat penumpukan
kotoran dan sisa pakan berlebih. Dengan demikian, organisme yang merugikan (patogen)
berkembang pesat, lalu menyerang ikan.
Selain kualitas air yang buruk, pencetus munculnya penyakit bisa berasal dari faktor lainnya.
Pertama adalah kesalahan penanganan karena penyerokan yang kasar, berulang-ulang, dan
bertumpuk. Bisa juga disebabkan oleh penyortiran, perhitungan, pengiriman yang jauh, dan
jumlah dalam kemasan terlalu padat. Wadah pengiriman yang tidak layak juga bisa menjadi
pemicunya. Kemudian, tidak adanya adaptasi saat tebar benih, air baru tanpa diendapkan
terlebih dahulu juga bisa menjadi pemicu timbulnya bibit penyakit.
Jika terjadi kesalahan pada saat penanganan lele, misalnya tidak hati-hati saat sortir,
sebenarnya itulah awal mula pencetus semua penyakit dan kematian pada lele. Awalnya lele
akan stres, lalu sakit dan mati. Kematian yang diduga peternak adalah akibat penyakit
tertentu atau karena suhu yang ekstrim, tetapi tidak mem-flashback penanganan benih yang
dilakukan. Agar usaha budi daya lele berjalan lancar, sebaiknya peternak memperhatikan
dengan serius segala penyebab kematian lele dan menghindari kesalahan yang berulang.

Jenis Penyakit Lele Yang Disebabkan Oleh Infeksi Bakteri

Berikut adalah jenis bakteri, indikasi, cara pencegahan, cara pengobatan, dan jenis obat yang
diberikan.

Pseudomonas
Indikasi :
1. Menyerang lele semua ukuran,
2. Borok pada kulit,
3. Pendarahan kulit, hati, ginjal, limfa,
4. Lemah, kurus, nafsu makan hilang
Pencegahan :
1. Jaga mutu air Karantina ikan yang diserang penyakit,
2. Beri antibiotik sesuai dosis,
Pengobatan :
1. Rendam dalam larutan Oxytetracyclin dosis 25-30 mg/kg lele/hari selama 7-10 hari
berturut-turut.
Jenis Obat :
Oxytetracyclin

Aeromonas hydrophila
Indikasi :
1. Menyerang benih ukuran 1-12 cm
2. Kulit gelap, kasar, dan pendarahan
3. Lemah dan susah bernapas
4. Pendarahan pada hati, ginjal, dan limfa.
Pencegahan :
1. Jaga mutu air,
2. Beri antibiotik sesuai dosis.
Pengobatan :
1. Suntik Terramycine 25-30 mg/kg ikan per 3 hari sekali, diulang 3 kali.
2. Mencampurkan Terromycine 50 mg/kg pada pakan setiap hari selama 10 hari
3. Sulphonabid 100 mg/kg per hari selama 3-4 hari
Jenis Obat :
1. Tetrarnycine,
2. Sulphonabid

Aeromonas punctata
Indikasi :
1. Menyerang benih ukuran 1-12 cm,
2. Infeksi kulit kepala, badan belakang, insang, dan sirip
3. Nafsu makan hilang

Pencegahan :
1. Jaga mutu air,
2. Beri antibiotik atau probiotik sesuai dosis.
Pengobatan :
1. Rendam dalam larutan Oxytetracycline dosis 25-30 mg/kg lele/hari selama 7-10 hari,
2. Beri Sulfamerazine 100-200 mg/kg pakan selama 1-3 hari.
Jenis Obat :
1. Oxytetracyclin,
2. Sulfamerazine.

Columnaris (suhu dingin <20 C)


Indikasi :
1. Menyerang lele semua ukuran,
2. Pendarahan dan orok kulit/daging,
3. Pendarahan hati, limfa, dan ginjal.
Pencegahan :
1. Jaga mutu air,
2. Beri antibiotik atau probiotik sesuai dosis.
Pengobatan :
1. Rendam dalam larutan Oxytetracyclin 10 ppm, selama 30 menit atau,
2. Beri Sulfisoxzole 100 mg/ kg per hari selama 10-20 hari.
Jenis Obat :
1. Oxytetracyclin,
2. Sulfisoxzole.

Penduncle (suhu dingin 16C)


Indikasi :
1. Menyerang lele semua ukuran,
2. Pendarahan dan borok kulit/daging,
3. Pendarahan hati,limfa, dan ginjal .
Pencegahan :
1. Jaga mutu air,
2. Beri antibiotik atau probiotik sesuai dosis.
Pengobatan :
1. Rendam dalam larutan Oxytetracyclin 10 ppm 30 menit
2. Ben Sulfisoxzole 100 mg/ kg per hari selama 10-20 hari
Jenis Obat :
1. Oxytetracyclin,
2. Sulfisoxzole.

Edwardsieila
Indikasi :
1. Mata dan tubuh samping menonjol,
2. Warna kulit gelap,
3. Borok dan pendarahan kulit,
4. Luka kecil di kulit, lalu meluas ke daging
5. Pendarahan di hati, ginjal, dan limfa
Pencegahan :
1. Jaga mutu air,
2. Taburkan Sulphonamide 100-200 mg/ kg/hari selama 4 hari berturut-turut pada awal
pemakaian kolam.
Pengobatan :
1. Musnahkan ikan yang terserang penyakit dengan cara dibakar atau dikubur.
Jenis Obat :
1. Sulphonamide.

Tubercolosis
Indikasi :
1. Menyerang lele semua umur,
2. Warna kulit gelap,
3. Perut membengkak,
4. Hati bercak-bercak.
Pencegahan :
1. Jaga mutu air,
2. Pemberian antibiotik.
Pengobatan :
1. Karantina lele sakit
2. Obati dengan larutan Oxitetracyclin yang dicampur ke dalam pakan 0,5 mg/kg pakan
Jenis Obat :
1. Oxytetracyclin.

Jenis Penyakit Lele Yang Disebabkan Oleh Serangan


Jamur
Berikut adalah serangan jamur, indikasi, cara pencegahan, cara pengobatan, dan jenis obat
yang diberikan.

Saprolegnia (jamur putih seperti kapas)


Indikasi :
1. Menyerang ikan yang luka dan lemah

2. Menyerang telur
3. Kepala, tutup insang, dan sirip ditumbuhi benang halus seperti kapas
Pencegahan :
1. Jaga mutu air,
2. Penanganan hati-hati agar lele tidak luka,
3. Pemberian antibiotik secara berkala.
Pengobatan :
1. Iken direndam dalam larutan Malachyte green oxalate 2,5-3 g/m3 air selama 30 menit.
2. Telur direndam Malachyte green oxalate 0,1-0,2 ppm selama 1 jam atau 5-10 ppm selama
15 menit.
Jenis Obat :
1. Malachyte green oxalate.

Jenis Penyakit Lele Yang Disebabkan Oleh Serangan


Parasit
Berikut adalah serangan parasit, indikasi, cara pencegahan, cara pengobatan, dan jenis obat
yang diberikan.

lchtyophtirlus multifilis (White spot/bercak putih dan gatal)


Indikasi :
1. Menyerang lele semua ukuran,
2. Lele lemah dan timbul ke permukaan,
3. Timbul bintik putih pada sirip dan insang,
4. Ikan menggosokkan badan pada dasar dan dinding kolam.
Pencegahan :
1. Jaga mutu air.
Pengobatan :
1. Pisahkan lele yang sakit, lalu puasakan selama 2-3 hari,
2. Rendam pada campuran larutan formalin 25 cc/m3 + larutan Malachyte green oxalate 0,1
gr/m3 selama 12-24 jam, lalu diberi air segar,
3. Diulang setiap 3 hari sekali sebanyak 5 kali.
Jenis Obat :
1. Campuran larutan formalin dengan Malachyte green oxalate.

Trichodina sp.
Indikasi :
1. Lele lemah dan kurus,
2. Lele menggesek-gesekkan badannya pada benda keras.

Pencegahan :
1. Jaga mutu air.
Pengobatan :
1. Rendam dalam larutan formalin 150-200 ml/m3 selama 15 menit.
2. Rendam dalam larutan Malachyte green oxalate 0,1 g/m3 selama 12-24 jam.
Jenis Obat :
1. Larutan formalin.
2. Malachyte green oxalate.

Gyrodactilus sp. & Dactilogyrus sp.


Indikasi :
1. Kulit ikan kusam,
2. Badan kurus Sirip rontok
3. Mengesekkan badan pada benda keras.
Pencegahan :
1. Ganti air,
2. Turunkan ketinggian air,
3. Kurangi kepadatan ikan.
Pengobatan :
1. Rendam dalam larutan formalin 250 cc/m3 air selama 15 menit,
2. Rendam dalam larutan Methyline blue 3 g/m3 air selama 24 jam.
Jenis Obat :
1. Larutan formalin,
2. Methylene blue.

Lernae sp.
Indikasi :
1. Menempel dan menusukkan diri pada tutup insang, sirip atau mata selama 25 menit
2. Bagian yang ditempel akan menjadi luka.
Pencegahan :
1. Jaga mutu air,
2. Beri antibiotik,
3. Saring air yang masuk ke kolam.
Pengobatan :
1. Rendam lele yang sakit dalam larutan garam/ NaCI 20 g/I selama 5 menit.
Jenis Obat :
1. Garam NaCI

Tips Pencegahan Penyakit

1. Pada tahap awal budi daya, sterilkan kolam dengan sabun cuci cair/kaporit, lalu bilas
dengan air hingga bersih.
2. Rendaman secara langsung benih yang baru ditebar ke dalam kolam pembesaran dengan
larutan garam. Misalnya, untuk kolam seluas 6 m2 dengan ketinggian air 10-15 cm, cukup
diberi 2-3 genggam garam ikan.
3. Jaga agar air kolam tetap bersih dengan menggantinya secara rutin.
4. Hindari pemberian pakan berlebihan.
5. Hindari membeli benih yang sakit.
6. Hindari penggunaan fasilitas budi daya yang tercemar penyakit. Sebaiknya, peralatan
tersebut direndam dalam larutan kaporit selama semalam sebelum digunakan. Cuci dan bilas
peralatan hingga bersih sebelum digunakan kembali.
7. Kuras dan cuci kolam setiap akhir panen menggunakan sabun cair, lalu rendam dengan
larutan kaporit selama semalam. Bilas dengan air hingga bersih sebelum digunakan kembali.

Perlakuan Terhadap Ikan Sakit


Bila ikan terlanjur diserang penyakit, yang pertama muncul dibenak peternak adalah upaya
mengobatinya agar cepat sembuh. Sebagian pembudidaya lele memberikan obat secara
langsung ke ikan yang sakit, baik ditaburkan atau dituangkan langsung ke dalam kolam.
Padahal, itu bukanlah tindakan yang benar karena justru bisa menyebabkan ikan bertambah
stres, bahkan terkadang bisa menimbulkan kematian mendadak.
Perlu diketahui, ikan yang sakit mengalami stres luar biasa. Tenaga dan nafsu makannya pun
menurun sehingga perlu perlakuan khusus agar penyakitnya tidak bertambah parah. Beberapa
tindakan yang bisa dilakukan peternak di antaranya mengganti dan menurunkan ketinggian
airnya, memberi obat, serta menurunkan ukuran pakan dan frekuensi makannya. Tindakan
tersebut merupakan salah satu upaya yang dilakukan untuk mengurangi tingkat stres ikan
karena serangan penyakit. Berikut adalah cara yang efektif menangani ikan sakit.
1. Kuras total air kolam, lalu bersihkan.
2. Bilas ikan dengan menyemprotkan air bersih menggunakan selang sehingga lendir dan
lumut terbuang,
3. Ketinggian air kolam diturunkan antara 5-7 cm atau setinggi panjang ikan. Tujuannya agar
ikan tidak terlalu banyak bergerak.
4. Gunakan air yang telah diberi obat dan telah diendapkan selama semalam untuk
membunuh/melemahkan bakteri di dalam air.
5. Turunkan ukuran pakan menjadi lebih kecil dari ukuran normal yang biasa diberikan.
Selama sakit, nafsu makan ikan menurun dan bila dipaksakan kemungkinan pakan tidak
dimakan sehingga kondisi air menjadi rusak akibatnya ikan bertambah sakit atau mati.

6. Kurangi frekuensi pemberian pakan, cukup 1 kali sehari.


7. Bila selera makan ikan mulai pulih, frekuensi pemberian pakan bisa ditingkatkan, misalnya
menjadi 2 kali sehari, yaitu pada pagi dan sore hari. Ketinggian air bisa dinaikkan bertahap
sesuai kondisi kesehatan ikan.
8. Lakukan prosedur perlakuan terhadap ikan sakit selama 5 hari berturut-turut.
Seperti halnya manusia sakit, dokter pun akan menyarankan agar jumlah makannya
dikurangi. Makanannya pun harus lembut agar mudah terserap, seperti bubur. Banyak gerak
pun pasti dilarang agar cepat sembuh. Demikian juga dengan ikan yang sakit, agar cepat
sembuh tenaganya tidak boleh banyak terkuras. Hal ini bisa disiasati dengan menurunkan
ketinggian air kolam. Ukuran pakanya juga harus dikecilkan agar pencernaannya bisa
menyerap, begitu juga frekuensinya. Berikut cara pemberian pakan yang dianjurkan selama
ikan sakit.

Perlakuan Terhadap Ikan yang Keracunan


Kematian ikan dapat juga disebabkan oleh keracunan, baik karena salah pemberian obat atau
dosis obat terlalu tinggi. Keracunan juga bisa disebabkan oleh pakan yang busuk atau
membusuk di dasar kolam, misalnya cacing sutera yang mati di dasar. Air yang sudah terlalu
lama tidak diganti juga dapat membuat ikan keracunan Ikan yang keracunan akan lemas,
menggantung di permukaan air, pucat, kemudian mati.
Penanganan yang tepat masalah keracunan adalah memindahkan ikan yang sakit sesegera
mungkin ke kolam lain. Kolam lainnya harus berisi air steril yang telah diendapkan. Cara
lainnya adalah menghindari pembuangan/penyusutan air kolam ikan keracunan dan
menunggunya sampai habis, lalu ikan baru dipindahkan atau diisi air baru. Hal itu karena
prosesnya terlalu lama sehingga ikanya,annya keburu mati lemas.

Faktor Non-Penyakit
Perubahan suhu ekstrim adalah perubahan mendadak dari panas ke dingin atau dingin ke
panas. Hal itu merupakan masalah besar dalam budi daya ikan lele dan dapat mengakibatkan
lele mati serentak dalam kolam. Pada musim hujan, air hujan yang masuk ke kolam tanpa
tutup bisa menggantikan setengah air kolam yang ada. Air pun mendadak dingin dan akan
berakibat fatal bagi benih kecil berumur di bawah satu bulan, yaitu kematian mendadak.
Daerah yang perbedaan suhunya ekstrim antara siang dan malam han juga bisa menyebabkan
benih mati, kecuali jika budi daya dilakukan secara indoor.

Mengatasi Suhu Dingin Ekstrim


1. Bila terjadi hujan mendadak yang awalnya panas, suhu air akan mendadak dingin.
Caranya, buang setengah air dan gantikan dengan air baru langsung dari sumur.
2. Tambahkan garam ikan 2-3 genggam untuk menetralisir pH air.

3. Hasil akan lebih efektif bila ditebar bubuk batu zeolit berbentuk serbuk sebanyak 1-2
sendok makan yang diseduh dengan air dingin, lalu ditebar ke kolam (penetral pH dan suhu
air).
4. Jika wadah tidak terlalu besar, bisa menggunakan water heater (pemanas air).
5. Lakukan hal ini jika terjadi perubahan suhu mendadak, baik hujan atau akibat fluktuasi
suhu ekstrim antara siang dan malam.

Mengatasi Suhu Ekstrim Panas


1. Untuk kolam terpal, hindari kontak langsung antara terpal dengan tanah, yaitu dengan cara
diberi sekam atau serbuk gergaji sebagai alas. Tambahkan pula air yang telah diendapkan 2-3
hari hingga 50% untuk menurunkan suhu.
2. Kolam terpal dibuat di tempat teduh atau diberi atap dari terpal atau asbes agar sinar
matahari tidak langsung mengenai kolam.
3. Untuk kolam indoor, usahakan agar fentilasi udara cukup sehingga uap panas tidak
menumpuk di dalam ruangan. Gunakan kipas (exhaust fan) untuk sirkulasi udara.
4. Batu es juga bisa dimasukkan ke dalam kolam untuk menurunkan suhu air.

Studi Kasus : Lele Sakit Diobati dan Terus Dibesarkan


Oleh karena penanganan yang kurang baik, sebulan menjelang panen tiba-tiba lele Mr. A
telah terserang berbagai penyakit. Dan Kira Kira 50% lele terserang oleh penyakit dan mati.
Lalu, untuk menyelamatkan sisanya, apa tindakan yang akan Mr. A lakukan?
Mungkin sebagian besar dari peternak akan berpendapat lebih baik untuk diteruskan saja
ternak lele nya. Boleh saja, tetapi apabila tujuan dari awalnya adalah untuk komersial, sikap
seperti itu tampaknya kurang baik. Mengapa demikian? Memelihara dan membesarkan ikan
lele yang telah jatuh sakit seperti perumpamaan mengharapkan salju turun di wilayah
Indonesia. Tidak ada kepastian akan hal itu.
Biasanya, lele akan diobati dengan bahan obat kimia yang berguna mencegah dari penularan.
Namun, selama dalam proses pengobatan tersebut, sebagian atau sekitar 20-30% lele akan
mati lagi dikarenakan daya tahan tubuh lele tersebut semakin lemah. Karena penasaran,
peternak akan terus berusaha dalam meneruskan pengobatan dan proses pemeliharaan.
Namun, Anda tidak akan pernah tahu persis berapa jumlah ikan yang akan tersisa dan bisa
dipanen.
Pertanyaannya, apakah dari hasil panen tersebut bisa menutupi dari biaya pengobatan, pakan,
dan tenaga yang telah dihabiskan? Selain dari itu, waktu untuk pemeliharaan pasti akan
membutuhkan waktu lama dikarenakan perlu waktu dalam penyembuhannya agar nafsu
makan ikan lele kembali normal. Yang jelas, kerugian yang akan diterima dari peternak
seperti hal berikut.
1. Harus membeli obat-obatan untuk mengobati lele yang telah sakit.

2. Harus membuang lele yang sakit dan telah mati.


3. Harus mengontol kebersihan air kolam atau mengurasnya sesering mungkin.
4. Harus ada waktu yang terbuang karena menunggu penyembuhan lele.
5. Waktu panen lebih lama karena pertumbuhan lele sudah tidak maksimal.
6. Tidak bisa diprediksi persentase lele yang tersisa dan bisa dipanen.
7. Lele sakit akan tidak laku untuk dijual.
Normalnya, pada proses segmen pembesaran, lele dapat dipanen dalam waktu sekitar 60 hari
apabila benih lele yang ditebar sudah berukuran 7-8 cm. Namun, Apabila memelihara lele
yang telah sakit, belum tentu bisa panen dalam waktu sekitar 3-4 bulan.

Solusi Dalam Penyakit Lele


Jika lele telah terserang seperti penyakit menular, Anda harus berani dalam mengambil sikap
dan keputusan yang jelas. Agar tidak merasa penasaran, anda harus dipertimbangkannya
dengan baik, yakni memelihara ikan yang telah jatuh sakit atau membuang semua lele yang
telah sakit dan memulai lagi dari pembibitan.

Tetap Memelihara Ikan Sakit


Bagi Anda yang penasaran dan sebagai proses dalam pembelajaran, tidak ada salahnya
apabila bila mencoba untuk memelihara ikan lele yang telah sakit sehingga dapat mengetahui
hasilnya. Berikut langkah yang harus dilakukan.
1. Ganti atau kuras air sesering mungkin.
2. Ambil kotoran yang ada dengan selang, baik berupa feses atau sisa pakan.
3. Beri antibiotik alami yang berupa daun pepaya yang telah di tumbuk dan dihaluskan atau
beri garam ke dalam kolam. Dosisnya disesuaikan dengan jumlah populasi ikan dan ukuran
kolam ikan lele. Misalnya, kolam ikan lele yang berukuran 3 m x 4 m x 0,7 m dengan
populasi ikan lele 1.250 ekor lele cukup diberikan dengan 2 genggam garam atau satu lembar
dari daun pepaya yang telah dilembutkan.
4. Kurangi pemberian pakan.
5. Amati perkembangan ikan lele yang telah diobati sampai panen lele tiba. Apakah Anda
akan mendapatkan Panen air atau panen ikan? Temukan sendiri jawabannya setelah
melakukannya.

Lele Mati Akibat Salah Penanganan

Selain penyakit ikan lele dan faktor alam, kematian ikan lele juga dapat disebabkan oleh
salah penanganan dari peternak. Misalnya pemberian cacing sutra yang sudah mati pada
benih ikan lele, ukuran pakan terlalu besar/terlalu banyak ketika memberikan sehingga
kondisi air cepat rusak. Bisa juga diakibatkan oleh penyerokan yang kasar ketika melakukan
sortasi ikan, perhitungan ikan, pengiriman ikan, tidak diaklimatisasi, air tidak diendapkan,
atau kepadatan popolasi ikan lele yang tinggi di wadah penampungan. Semua kejadian
tersebut dapat untuk dihindari apabila peternak mengerti dan memahami caranya budidaya
lele yang baik.
Berikut ini ada beberapa tips yang bisa dilakukan untuk mencegah terjadinya salah
penanganan pada lele.
1. Lakukan management proses pengelolaan air yang baik, endapkan air sebelum digunakan,
khususnya untuk benih.
2. Berikan pakan sesuai dengan umur/ukuran ikan dan jumlahnya tidak berlebihan.
3. Lakukan aklimatisasi/adaptasi pada saat penebaran benih di kolam baru.
4. Puasakan ikan selama 12-24 jam sebelum melakukan proses sortasi/panen, terutama
apabila merencanakan mengganti ukuran pakan lele yang lebih besar.
5. Puasakan benih yang baru disebar di kolam yang baru, sekitar 3-4 jam sebelum ikan diberi
pakan.
6. Bila pelet untuk benih akan diganti ukurannya, sebelumnya pelet lebih baik dilembabkan
dengan air terlebih dahulu agar pelet mengembang sehingga benih mudah mencernanya.
7. Jangan memberi pakan seperti cacing sutera yang telah mati pada benih dikarenakan
cacing sutra uang telah mati dapat menyebabkan keracunan pada ikan lele yang berdampak
kematian.
8. Lakukan pengeringan air, penyerokan, perhitungan ikan, pengemasan ikan, dan pengiriman
ikan lele dengan cara yang sesuai dan benar agar ikan lele tidak stres/mati. Isi wadah
pengiriman dengan kepadatan yang sesuai.
9. Lakukan pemanenan lele /sortasi lele pada saat pagi/sore hari agar ikan tidak stres akibat
kepanasan.

Membuang Lele Sakit dan Memulai Lagi


Membuang lele sakit dan memulai usaha dari awal adalah solusi terbaik yang bisa dilakukan.
Jadi, lebih balk rugi sedikit daripada meneruskan memelihara lele yang sakit. Sudah lelah
memeliharanya, tetapi tetap saja merugi. Pilihan ada di tangan Anda.
Buang semua ikan yang sakit, lalu sterilkan kolam dan peralatan yang digunakan. Mulailah
beternak atau membesarkan lele lagi dari awal dengan metode pemeliharaan yang benar dan
prinsip mencegah jauh lebih baik daripada mengobati. Belajarlah dari kegagalan sebelumnya
sehingga tidak terulang.

Proses Panen Dan Pengemasan Ikan Lele


8 Desember 2015
0
3608

Proses Panen Dan Pengemasan Ikan Lele


Seperti inilah Proses Panen Dan Pengemasan Ikan Lele Panen merupakan fase akhir dari
kegiatan budi daya lele dan sangat dinanti oleh peternak. Masa penungguan yang begitu
panjang dan melelahkan akan terobati bila hasil panen yang diperoleh sesuai rencana atau
justru melebihi target. Intl dari pemanenan adalah untuk menghasilkan benih atau lele
konsumsi yang slap dijual. Sementara itu, pengemasan bertujuan agar ikan tetap hidup dan
selamat sampai ke tempat tujuan. Untuk panen, ada beberapa tahap pekerjaan yang harus
dilakukan meliputi persiapan, proses panen, pengemasan, dan pengiriman.

Merencanakan Waktu Panen


Waktu pemanenan lele seharusnya telah direncanakan sejak awal penebaran bibit karena kita
harus mempertimbangkan tenaga, waktu, dan biaya yang dikeluarkan, terutama menyangkut

pakan. Waktu panen harus ditentukan dengan tepat karena bila terjadi penundaan dapat
menimbulkan kerugian sebagai berikut.
1. Waktu pemeliharaan lebih lama.
2. Biaya pakan membengkak.
3. Penebaran benih berikutnya tertunda.
4. Ikan yang berukuran melebihi permintaan harganya lebih murah.
Waktu panen sangat mempengaruhi kesegaran dan kesehatan lele yang dipanen. Berdasarkan
pengalaman, waktu panen yang tepat sebaiknya dilakukan pada pagi hari dan harus sudah
selesai sebelum pukul 09.00, atau sore hari sekitar pukul 15.00 hingga selesai. Hal ini untuk
mengurangi stres dan kematian pada benih lele yang dipanen. Pelaksanaan panen harus
disesuaikan dengan jarak pengiriman atau lokasi pemasaran. Dengan demikian, ikan tidak
mengalami stres atau mati akibat perjalanan jauh atau karena suhu tinggi.

Persiapan Sebelum Panen Ikan Lele


Agar panen berjalan lancar, segala keperluan yang terkait dengan panen harus dipersiapkan
dengan baik. Baik itu dengan pembelinya, transportasi pengirimannya, peralatan atau
perlengkapan panen yang diperlukan, serta perlakuan terhadap ikan sebelum dipanen harus
diperhatikan. Berikut adalah beberapa hal yang harus dipersiapkan sebelum panen.
1. Hubungi pembeli sebelum panen dilaksanakan.
2. Siapkan alat tranportasi yang akan digunakan untuk pengiriman.
3. Siapkan peralatan panen seperti serokan, baskom penampungan, timbangan, wadah
transportasi ikan berupa jerigen atau drum plastik yang besar.
4. Puasakan bibit/Iele konsumsi 24 jam sebelum dipanen, agar tidak muntah dan mabok
dalam perjalanan.

Panen Benih Ikan Lele


Jika pemeliharaannya benar, benih lele sudah bisa dipanen pada umur 3 minggu hingga 2
bulan sejak telur. Ukurannya sekitar 2-3 cm, 3-4 cm, 4-5 cm, 5-6 cm, 6-7 cm, 7-8 cm, 8-10
cm, dan 10-12 cm. Pemanenan benih harus dilakukan dengan hati-hati. Seperti yang sudah
diketahui, lele tidak memiliki sisik sehingga sangat mudah terluka. Luka yang terbentuk bisa
menjadi jalan masuk infeksi penyakit yang dapat menyebabkan kematian. Agar benih yang
dipanen tidak stres dan terluka, sebaiknya pemanenan menggunakan serokan yang terbuat
dari kain halus dan penyerokannya dilakukan secara bertahap atau sedikit demi sedikit.
Selama proses pemanenan, airnya dikurangi melalui selang atau dengan membuka lubang
pembuangan sedikit demi sedikit agar lele tidak kaget. Cara ini efektif mengurangi
benturanbenturan sesama bibit. Sebelum dikemas, benih hasil panen disimpan di dalam

baskom penampungan sementara. Selanjutnya, benih disortir berdasarkan ukuran dengan bak
sortir.
Untuk benih lele yang akan dibesarkan sendiri, dapat langsung dipindahkan ke kolam
pembesaran yang telah disiapkan. Sementara itu, untuk benih yang akan dijual, dikemas
menggunakan kantong plastik atau jerigen. Selanjutnya, lele diangkut ke tempat tujuan.
Berikut urutan panen, sortasi, dan pengemasan benih lele.
1. Siapkan peralatan sortir, serokan, baskom penampungan, baskom sortir.

Baskom Sortir Lele


2. Surutkan air kolam hingga 3-5 cm.

Kolam Ikan Lele Yang Telah Di Surutkan


3. Serok bibit menggunakan serokan halus, agar ikan mudah ditangkap.

Bibit Lele Yang Telah Terjaring Serokan


4. Pindahkan bibit ke baskom penampungan sementara. Beri sekitar 1 sendok teh minyak
sayur yang bersih atau minyak cumi agar tidak luka dan stres selama proses sortasi.

Ikan Lele Yang Akan Dimasukan Ke Baskom Dan Menunggu Proses Sortasi
5. Pindahkan bibit ke baskom sortir. Lakukan sortasi.

Proses Sortasi Bibit Lele


6. Bibit hasil sortir dipindahkan ke baskom penampungan sementara (hapa/baskom).

Bibit Hasil Sortasi Dimasukan Ke Baskom


7. Hitung bibit sebelum dikemas, lalu masukkan ke wadah kemasan, bisa berupa jerigen atau
plastik yang diberi oksigen. Bibit yang telah dikemas siap dikirim.

Bibit Ikan Lele Yang Telah Dikemas Dan Siap Dikirim

Pengemasan dan Pengiriman Benih Ikan Lele


Inti dari pengemasan adalah agar benih yang dikirim tetap sehat dan selamat sampai tujuan.
Jadi, hindari pemanenan benih yang kasar yang dapat menyebabkan stres dan luka sehingga
menimbulkan masalah dalam pengiriman. Oleh karena itu, kesehatan benih hasil sortasi harus
dijaga sebelum dikirim.

Transportasi Sistem Terbuka


Metoda ini menggunakan wadah yang di dalamnya ikan bisa bernapas dan berhubungan
langsung dengan udara sehingga tidak perlu oksigen tambahan. Wadah kemasan yang bisa
digunakan berupa jerigen, styrofoam, fiberglass, drum plastik, dan bak terpal yang dibentuk
menyerupai kolam. Metode ini praktis dan hemat, tetapi tidak bisa diterapkan untuk
pengiriman jarak jauh. Berikut urutannya.
1. Puasakan benih selama 24 jam sebelum dikirim.
2. Siapkan wadah pengiriman.
3. Isi dengan air yang telah diendapkan setinggi 15-22 cm.
4. Agar tidak luka akibat gesekan selama perjalanan dan mengurangi stres, air kemasan diberi
supertetra sebanyak 1 kapsul atau minyak sayur/minyak ikan/minyak cumi/ SS- Formula

secukupnya (1 sendok teh). Masukkan benih ke dalam wadah kemasan. Untuk menjaga suhu
air stabil dan mengurangi stres selama perjalanan pengiriman, beri es batu berukuran sedang
yang terbungkus plastik.
5. Tutup wadah.
6. Bibit siap dikirim ke tempat tujuan.

Transportasi Sistem Terbuka

Transportasi Sistem Tertutup


Metoda ini menggunakan wadah yang tertutup sehingga ikan perlu oksigen tambahan. Wadah
kemasan yang digunakan biasanya berupa kantong plastik PE. Metode ini kurang praktis
karena terkadang di suatu wilayah tidak tidak bisa diaplikasikan, karena balk oksigen atau
wadah kemasan tidak tersedia atau susah didapat. Berikut urutannya.

1. Puasakan benih selama 24 jam.


2. Siapkan plastik PE berdimensi 40 cm x 80 cm atau bervolume air 20-100 liter.
3. Isi kantong plastik dengan air 1/3 bagian.
4. Masukkan benih ke dalam kantong plastik.
5. Atur kepadatannya (lihat tabel kepadatan).
6. Isi plastik dengan oksigen, bisa dengan udara di sekitar untuk jarak dekat atau tabung
oksigen untuk jarak jauh (antarpropinsi/pulau).
7. Ikat mulut plastik dengan karet gelang. Pastikan tidak ada udara yang keluar atau plastik
bocor.
8. Bila ikan akan dikirim melalui udara atau jarak jauh, plastik berisi ikan di-packing dengan
boks styrofoam khusus untuk pengiriman ikan yang ditutup rapat dan dilakban. Benih slap
dikirim.
Kepadatan Benih/Liter Dalam Plastik
100-150 ekor/liter, Ikan dapat bertahan selama 4-8 jam
75-100 ekor/liter, Ikan dapat bertahan selama 8-12 jam
<75 ekor/liter, Ikan dapat bertahan selama >12 jam
Kemampuan oksigen untuk menyokong kehidupan benih sampai tujuan dengan pengemasan
tertutup sangat dipengaruhi oleh jarak tempuh, waktu tempuh, dan kepadatan di dalamnya.
Semakin jauh jarak tempuh, tingkat kepadatan harus lebih rendah. Namun, jika jarak tempuh
dekat, kepadatan benih dalam kantong bisa ditingkatkan sampai ke batas optimal.

Transportasi Sistem Tertutup

Panen Ikan Lele Konsumsi


Biasanya panen dilakukan setelah lele dipelihara 2-3 bulan dan telah mencapai ukuran
konsumsi (7-10 ekor/kg). Namun, masing-masing daerah memiliki permintaan ukuran lele
konsumsi yang berbeda-beda. Misalnya di Makasar dan Kalimantan yang lebih menyukai lele
yang berukuran di bawah 5 ekor/kg. Ada dua cara pemanenan yang umumnya dilakukan
peternak, yaitu panen selektif dan panen total.

Panen Ikan Lele Konsumsi


Pemanenan selektif bisa dikatakan hanya memanen sebagian ikan sesuai dengan ukuran yang
diminta konsumen. Sementara itu, ikan yang masih belum masuk ukuran konsumen
dibesarkan lebih lanjut. Sementara itu, pemanenan total bisa dikatakan memanen habis
seluruh ikan. Cukup menguras air kolam hingga habis, lalu ikan ditimbang dan dijual.
Cara pemanenan pada masing-masing wadah pembesaran berbeda-beda sesuai dengan
fasilitas yang ada di dalamnya. Wadah pembesaran yang memiliki kemalir (legokan) dan
pembuangan otomatis tentunya akan lebih mudah. Sementara itu, bagi yang tidak memiliki
saluran pembuangan tentunya harus disedot dengan pompa. Berikut urutannya.
1. Susutkan air kolam sampai ketinggian 5-7 cm.Tambahkan beberapa tetes minyak
goreng/minyak cumi untuk mengurangi risiko lele terluka akibat gesekan.
2. Serok/jaring lele secara hati-hati yang dilakukan searah, lalu masukkan ke wadah
penampungan sementara.

3. Seleksi/sortasi ikan dengan baskom sortir sesuai ukuran.


4. Bila wadah penampungan sudah agak padat, segera pindahkan ikan ke wadah
penampungan lain atau bagi yang tidak masuk ukuran bisa dibesarkan lebih lanjut.
5. lkan yang telah diseleksi segera ditimbang, dikemas, lalu dikirim ke tempat tujuan.
6. Proses seleksi atau panen berikutnya dilakukan per 10 hari sekali sehingga lele habis
terjual.

Pengemasan dan Pengiriman Lele Konsumsi


Panen, pengemasan, dan pengiriman lele konsumsi jauh lebih mudah dibandingkan benih
karena daya tahan tubuhnya lebih kuat. Hal ini memudahkan ikan beradaptasi dengan
berbagai kondisi yang kurang menguntungkan, balk dengan wadah pengiriman, alat angkut,
ataupun lama pengiriman. Wadah pengiriman yang digunakan adalah drum plastik yang
ditidurkan dan bagian atasnya dibuat tutup fleksibel untuk mencegah lele lompat. Selain
drum plastik, bisa juga menggunakan bak terpal yang dibuat pada mobil pick-up. Berikut ini
urutan kerjanya.
1. Siapkan wadah, lalu isi air 1/4 bagiannya.
2. Masukkan lele secara bertahap ke dalam wadah.
3. Atur padat tebarnya. Untuk jarak dekat, 1 mobil pick-up mampu membawa lele konsumsi
sebanyak 0,8-1 ton. Sementara itu, untuk jarak jauh sebaiknya hanya membawa 5-6 kwintal.
4. Tutup rapat drum dan ikat kencang. Pastikan ikatannya tidak lepas, agar lele tidak loncat
dalam perjalanan.
5. Lele konsumsi siap dikirim sampai tujuan.
Video Pengemasan Ikan Lele

Pengiriman Ikan Lele

Tips Dan Cara Dalam Pemasaran Ikan Lele


8 Desember 2015
0
2350

Tips Dan Cara Dalam Pemasaran Ikan Lele


Inilah Tips Dan Cara Dalam Pemasaran Ikan Lele Pada awalnya komoditas ikan lele hanya
sebatas memenuhi kebutuhan pasar nasional, seperti pasar tradisional, rumah tangga, rumah
makan, restoran, hotel dan supermarket. Dengan terus meningkatnya permintaan, kini lele
telah mampu menembus pasar dunia. Di antara negara peminat yaitu Amerika, Jerman, Swis,
Jepang, Korea, bahkan Timur Tengah juga telah siap menerima produk yang berbahan ikan
lele.
Produk yang diminati tersebut beragam, mulai dari lele mentah hingga produk olahan. Lele
mentah berupa filet, buang isi perut, buang kepala. Lele olahan berupa abon, keripik,
kerupuk, sosis, dan bakso yang berbahan baku daging ikan lele. Permintaan ini terus
meningkat, bahkan belum bisa dipenuhi, karena produksi lele dalam negeri tidak stabil dan
masih sangat tergantung dari iklim. Kondisi seperti ini, belum mampu menjamin kebutuhan
ekspor.
Pada prinsipnya ada dua pasar potensial untuk komoditas lele, yaitu pasar lokal dan pasar
ekspor. Untuk pasar lokal biasanya berupa lele konsumsi, bibit lele dan indukan. Indukan dan
bibit lele untuk kebutuhan para pengepul dan peternak. Lele hidup untuk kebutuhan pasar
tradisional dan pemancingan. Lele untuk konsumsi umumnya dalam bentuk hidup dengan
ukuran 7-8 ekor per kg. Sementara itu, permintaan untuk pemancingan berukuran 3-4 ekor
hingga di atas 1 kg per ekor.

Di suatu daerah, saat ini terkadang permintaan untuk pemancingan jauh melebihi kebutuhan
pasar tradisional. Akibatnya terkadang kebutuhan pasar tradisional tidak bisa dipenuhi karena
harga pemancingan lebih tinggi maka peternak atau pengepul lebih senang menjualnya ke
pemancingan.
Untuk pasar ekspor biasanya berupa lele mentah dan olahan. Lele mentah berupa filet
(daging), buang kepala atau buang isi perut. Lele olahan berupa abon, keripik, kerupuk dan
lele asap. Lele asap Indonesia kini telah diekspor ke beberapa negara seperti Malaysia,
Thailand, Filipina, dan Amerika Latin.
Peningkatan industri pangan juga menyebabkan ikan lele menjadi incaran. Selain rasanya
yang gurih, tulangnya pun bisa diolah. Produk olahan lele yang beragam, mulai dari lele
goreng, lele bumbu rendang, lele kremes, lele bakar, sop lele, baso lele, sosis, pempek lele,
rolade lele, katsu lele, hingga pizza lele. Dengan demikian, kebutuhan ikan berkumis ini
tentunya akan terus meningkat.

Masalan Pecelele Yang Sangat Digemari Masyarakat


Hal ini tentu saja menjadi peluang usaha yang cukup menggiurkan karena lele bisa dijadikan
sebuah lahan usaha yang menguntungkan. Mulai dari pembenihan, pembesaran, industri

olahan, bahkan tengkulak, pedagang, dan pemilik rumah makan juga bisa ikut merasakan
prospek bisnisnya dengan harga menguntungkan tanpa harus ragu dengan pasar.

Pemasaran Ikan Lele Berdasarkan Jenis Dan Ukuran


Pada dasarnya, lele yang dijual di pasaran terbagi ke dalam tiga kategori, yaitu benih,
konsumsi, dan apkir. Masing-masing kategori memiliki pasarnya sendiri. Benih lele yang
umum dijual berukuran 2-3 cm, 4-5 cm, 5-6 cm, 6-8 cm, 8-10 cm, dan 10-12 cm. Lele
konsumsi yang diminati konsumen biasanya antara 6-10 ekor per kg. Sementara itu, lele yang
berukuran 1-5 ekor per kg dikategorikan lele apkir karena sudah melewati ukuran konsumsi.

Pemasaran Benih Ikan Lele


Para pembenih tidak perlu khawatir harga benih anjlok atau lele akan booming.
Kemungkinan hal itu terjadi sangat tipis karena sebagian besar peternak pembesaran tidak
melakukan pembenihan sendiri. Jadi, benih bisa langsung dipasarkan ke konsumen
pembesaran. Penjualannya pun bisa secara langsung atau melalui pemesanan. Penjualan
benih lele biasanya dilakukan dengan sistem cash and carry atau ada uang ada barang dengan
alasan ingin memutar modal untuk produksi kembali.

Pemasar
an Benih Ikan Lele

Pemasaran Benih Ikan Lele

Pemasaran Ikan Lele Konsumsi


Lele konsumsi umumnya berukura 6-10 ekor per kg. Lele ini diproduksi untuk memenuhi
kebutuhan pasar lokal dan ekspor, baik dalam bentuk mentah ataupun produk olahan seperti
abon, keripik, kerupuk, dan lele asap. Ada tiga jalur pemasaran lele konsumsi yang bisa
dilakukan hingga sampai ke pihak
konsumen, caranya sebagai berikut.
1. Produsen lele menjual langsung ke konsumen.
2. Produsen menjual ke tengkulak, selanjutnya diteruskan ke pasar, lalu ke konsumen.
3. Produsen menjual ke tengkulak, lalu tengkulak menjual ke bandar, dari bandar ke pasar,
dan terkahir ke konsumen.

Pemasaran Lele Konsumsi

Lele Konsumsi

Pemasaran Ikan Lele Afkir


Lele afkiran adalah lele berukuran besar yang ukuranya melebihi standar. Dahulu, lele
apkiran cukup sulit dijual, tetapi tidak untuk sekarang. Ukuran ini banyak dicari orang untuk
dijadikan ikan pemancingan atau indukan dengan harga yang tidak kalah dengan harga ikan
konsumsi. Ikan ini juga banyak dijadikan olahan karena dagingnya cukup tebal sehingga
memiliki nilai ekonomi yang lebih tinggi.

Lele Afkir

Kolam Pemancingan

Pemasaran Ikan Lele Olahan


Berbagai produk olahan berbahan daging lele kini bermunculan meramaikan pasar. Beberapa
di antaranya abon, keripik, kerupuk, pempek, bakso, sosis, katsu, otak-otak, dan lele asap.
Selain di dalam negeri, produk olahan lele juga diekspor ke beberapa negara seperti Belanda,
Timur Tengah, Malaysia, Thailand, Filipina, dan Amerika Latin.

Abon Ikan Lele

Kiat Dalam Pemasaran Lele


Bagaimana Pemasaran lele yang sudah saya produksi nantinya? Hal ini pertanyaan umum
yang sering dilontarkan para calon pebisnis lele. Namun, cobalah berpikir bahwa lele adalah
ikan konsumsi yang peminatnya sendiri belum dapat diukur secara pasti. Intinya, berapa pun
jumlah lele yang diproduksi bisa habis terjual. Selain harganya yang cukup kompetitif,
ketersediaannya pun mulai menipis. Dari hasil survei terhadap beberapa pedagang pecel lele,
kebutuhan mereka mulai dijatah hanya 3-5 kg per harinya karena langkanya lele konsumsi,
terutama pada musim-musim sulit ikan. Berikut adalah media dan tempat untuk memasarkan
lele.

1.Pemasaran tradisional
Cara tradisional dilakukan dengan menawarkan langsung ke pasar, pemancingan, warung
tenda, perumahan, pemasangan plang, dan penyebaran brosur atau menempelnya di
tiang/dinding/pohon.

Warung Pecel Lele

2. Pemasaran Dengan Teknologi.


Pemasaran melalui media yaitu seperti memasang iklan di majalah agribisnis, tabloid, atau
koran. Selain itu, media eletronik pun bisa dimanfaatkan seperti ponsel, radio, dan internet
yang bisa dipasangi iklan, balk gratis ataupun bayar. Bisa pula menawarkan lewat komunitas
via email, twitter, SMS, BBM, atau facebook. Pililah yang paling sesuai dengan Anda.

Analisa Perhitungan Usaha Bisnis Ikan


Lele
8 Desember 2015

0
2526

Analisa Perhitungan Usaha Bisnis Ikan Lele


Analisa Perhitungan Usaha Bisnis Ikan Lele Analisa adalah usaha perlu dilakukan sebelum
usaha budi daya lele dimulai. Hal ini untuk melihat sejauh mana keuntungan, pengembalian
investasi, ataupun titik impas yang bisa dicapai dari usaha yang dilakukan. Berikut ini adalah
contoh analisa usaha pada pembenihan dan pembesaran lele.

Pembenihan Ikan Lele


Usaha pembenihan lele dapat memberikan keuntungan yang besar bila dikelola dengan tepat.
Salah satunya adalah karena waktu panennya yang singkat. Namun, diperlukan pengelolaan
yang profesional dan menghindari kesalahan sekecil apapun karena bisa berdampak fatal
yang sangat merugikan. Berikut adalah perhitungan analisa usaha pembenihan lele dengan
asumsi sebagai berikut.
1. Usaha pembenihan lele di lahan milik sendiri seluas 500 m2 menggunakan kolam terpal.
Sebagian besar kolam dibuat berukuran seragam agar multifungsi. Perinciannya Jumlah
Kolam Untuk Pembenihan Ikan Lele.

3 kolam induk (4 mx2mx1 m)


4 kolam pemijahan (2 m x 2 m x 0,5 m)
2 kolam tandon air (4 m x 2 m x 1 m)
20 kolam penetasan/ pemeliharaan (4 m x 2 m x 1 m)
4 kolam karantina (2 m x 1 m x 0,6 m)
1 kolam cacing (2 m x 1 m x 0,3 m).

2. Satu siklus pembenihan memerlukan waktu 2 bulan yang sudah termasuk pemijahan dan
masa istirahat induk. Jadi, dalam satu tahun ada 6 siklus pemijahan.
3. Pemanenan dilakukan ketika benih sudah masuk 5-6 cm yang dijual dengan harga
Rp170/ekor.
4. Semua pakan dibeli, mulai dari cacing sampai pelet.
5. Induk lele yang digunakan sangkuriang berbobot 1,5 kg sebanyak 20 jantan dan 60 betina.
6. Setiap kali pemijahan menggunakan 2 jantan dan 4 betina (1 : 2).
7. Satu ekor induk betina mampu menghasilkan telur optimal 75.000 butir/ induk dengan
tingkat kematian benih 30%. Jadi, 4 ekor induk betina bisa menghasilkan benih sebanyak = (4
x 75.000 ekor) x 70% = 210.000 ekor/siklus.
8. Sumber air berasal dari sumur bor/irigasi/ sungai.
9. Kakaban yang diperlukan sebanyak 15 buah @Rp25.000.
10. Perlengkapan budi daya meliputi seser, ember, baskom sortir, baskom penampungan,
jaring, selang, pompa, timbangan, plastik, jerigen, dan tabung oksigen.
11. Saung untuk gudang dan tempat tinggal pekerja ukuran 6 m x 4 m.
12. Tenaga kerja yang digunakan sebanyak 2 orang dengan upah Rp1,5 juta/orang/ siklus.

Biaya Pembenihan Ikan Lele

Biaya Investasi Pembenihan Ikan Lele

Biaya Operasional Pembenihan Ikan Lele

Pendapatan Dan Keuntungan


Pendapatan = Harga benih x total produksi
= Rp170 x 210.000 ekor
= Rp35.700.000
Keuntungan = Pendapatan biaya produksi
= Rp35.700.000 Rp16.212.500
= Rp19.487.500

Keuntungan per tahun


= Rp19.487.500 x 6 siklus
= Rp116.925.000

Analisis Kelayakan
R/C Rasio
Penerimaan : Biaya produksi = Rp35.700.000 : Rp16.212.500 = 2,2
BEP
Biaya produksi : Total penjualan benih = Rp16.212.500 : 210.000 ekor = Rp77
BEP Jumlah = Biaya produksi : Harga jual = Rp16.212.500 : Rp170 = 95368 ekor

Kesimpulan:
1) Usaha pembenihan merupakan usaha yang menguntungkan karena R/C lebih dari 1.
2) Titik impas usaha pembenihan lele: harga jual Rp77 jika total jumlah produksi 210.000
ekor atau jika harga jual benih Rp170 minimal jumlah produksi adalah 95.368 ekor.

Pembesaran Ikan Lele


Keuntungan yang didapat dari usaha pembesaran lele bisa cukup besar bila pengelolaannya
dilakukan sesuai standar operasional (SOP). Memang, panen lele baru bisa dilakukan setelah
2 bulan pemeliharaan. Namun, jika benih yang ditebar lebih besar ukurannya, panen bisa
lebih cepat lagi. Selain itu, diperlukan pengelolaan yang profesional dari pembudidaya karena
kesalahan kecil pun bisa berdampak merugikan. Perhitungan analisa usaha pembesaran lele
dengan asumsi sebagai berikut.
1. Usaha pembesaran lele dilakukan di lahan 1.000 m2 milik sendiri.
2. Jumlah kolam yang dibuat 32 buah berukuran 2 m x 5 m x 0,7 m.
3. Ukuran benih yang ditebar 7-8 cm dengan harga bell Rp250/ekor
4. Jumlah benih yang ditebar 3.500 ekor/kolam dengan padat tebar 350 ekor/m2.
5. Jadi, untuk 32 kolam diperlukan benih sebanyak 3.500 ekor x 32 kolam = 112.000 ekor.
6. Lama waktu pemeliharaan 2 bulan. Dalam setahun 5 siklus proses produksi.
7. Lele yang dipanen sebanyak 90% dengan ukuran rata-rata 100 g/ekor.
8. Harga jual lele Rp17.000/kg.
9 Pakan yang digunakan adalah pelet pabrik, pelet buatan sendiri, dan sebagian pakan
alternatif.

Biaya Pembesaran Ikan Lele

Biaya Investasi Pembesaran Ikan Lele

BIaya Operasional Pembesaran Ikan Lele

Pendapatan Dan Keuntungan


Pendapatan = Harga jual x total produksi
= Rp17.000 x (101.250 ekor/10) kg
= Rp172.125.000
Keuntungan = Pendapatan biaya produksi
= Rp172.125.000 Rp98.800.000
= Rp73.325.000
Keuntungan per bulan
= Rp73.325.000 /12
= Rp6.110.417

Analisis Kelayakan

1) R/C Ratio
Penerimaan : Biaya produksi = Rp172.125.000 : Rp98.800.000= 1,74
2) BEP
BEP Harga
Biaya produksi : Total penjualan benih = Rp98.800.000 : 10.125 kg = Rp9.758
BEP Jumlah
Biaya produksi : Harga jual = Rp98.800.000 : Rp17.000 = 5.812 kg

Kesimpulan:
1) Usaha pembenihan merupakan usaha yang menguntungkan karena R/C lebih dari 1.
2) Titik impas usaha pembenihan lele: harga jual Rpl 0.978 jika jumlah produksi 9.000 kg
atau jika harga jual lele konsumsi Rp17.000 minimal jumlah produksi adalah 5.812 kg.

BUDIDAYA IKAN LELE PEMBENIHAN SECARA


TRADISIONAL
Budidaya ikan lele pembenihan merupakan kegiatan awal dalam usaha ternak
lele. Tanpa kegiatan pembenihan, maka kegiatan lain seperti, pendederan dan
pembesaran tidak mungkin terlaksana. Kegiatan pembenihan ikan lele yang akan
diuraikan disini merupakan kegiatan yang biasa dilakukan oleh para pelaku
usaha pembenihan baik secara semi-intensif maupun intensif. Secara garis
besar, kegiatan pembenihan meliputi pemeliharaan induk, pemilihan induk ikan
lele siap pijah, pemijahan, dan perawatan larva ikan lele atau benih.

Budidaya Ikan Lele Pembenihan Secara Tradisional


Kegiatan pembenihan ikan lele saat ini telah berkembang pesat, terutama di
pulau Jawa. Kebanyakan kegiatan pembenihan ikan lele oleh petani masih
dilakukan dengan peralatan dan cara yang sederhana. Biasanya hanya
memanfaatkan bahan-bahan yang mudah didapat dengan harga yang

terjangkau. Disamping itu, tenaga kerja yang digunakan cukup dengan


memanfaatkan tenaga anggota keluarga petani yang bersangkutan.

Budidaya ikan lele seperti kebiasaan petani ini berkembang terutama di daerah
dataran rendah sepanjang pantai utara Jawa (pantura), dari Bekasi, Indramayu,
hingga sekitar Cirebon.

Cara atau kebiasaan yang dilakukan petani ini tentu memiliki kelebihan dan
kekurangan. Kelebihannya adalah dapat dilakukan secara sederhana di belakang
rumah dengan biaya yang terjangkau. Sementara itu, kelemahannya adalah
produk yang dihasilkan belum sesuai dengan yang diharapkan, karena teknologi
yang mereka terapkan belum intensif. Kadang-kadang keuntungan yang
diperoleh sangat kecil, bahkan tidak jarang mereka mengalami kerugian.

Karakteristik budidaya ikan lele pembenihan secara tradisional yang dilakukan


petani tersebut sebagai berikut.

a. Kolam Pemeliharaan Induk - Budidaya Ikan Lele Pembenihan Tradisional


Kolam yang digunakan untuk pemeliharaan induk ikan lele tidak disediakan
secara khusus, tetapi hanya memanfaatkan kolam-kolam yang ada di belakang
rumah atau kolam comberan tempat penampungan air limbah rumah tangga.
Luas kolam yang digunakan disesuaikan dengan luas lahan. Biasanya, tidak lebih
dari 6 m. Jumlah kolam induk sebanyak dua buah yang digunakan untuk
memisahkan induk ikan lele betina dan induk ikan lele jantan.

Sistem pengairan pada kolam induk hanya terdiri dari saluran pemasukan dan
saluran pembuangan. Air yang masuk ke kolam induk berasal dari air
pembuangan rumah tangga, seperti dari kamar mandi, bekas cucian alatalat
dapur, atau sewaktu-waktu memanfaatkan air hujan. Induk yang dipelihara tidak
terlalu banyak, hanya 1-2 kg/m luas kolam. Pakan yang diberikan untuk induk
umumnya hanya sisa-sisa dapur, atau limbah peternakan (kotoran ayam) yang
dibakar terlebih dahulu. Ada pula petani yang memanfaatkan keong mas yang
menjadi hama tanaman padi dan daging bekicot yang diberikan setelah direbus
atau dicincang terlebih dahulu.

Induk yang akan dipijahkan telah memenuhi persyaratan untuk dipijahkan.


Kriterianya adalah sudah berumur minimal 1 tahun. Baik induk ikan lele betina

maupun induk ikan lele jantan yang digunakan tersebut, kondisinya telah
matang kelamin.

b. Pemijahan - Budidaya Ikan Lele Pembenihan Tradisional


Pembuatan Kolam Pemijahan - Budidaya Ikan Lele Pembenihan Tradisional
Pemijahan ikan lele bisa dilakukan di kolam tembok yang disediakan secara
khusus untuk pemijahan. Meskipun demikian, cara yang lebih murah adalah
memanfaatkan plastik terpal yang biasa digunakan untuk tenda. Plastik terpal
tersebut dibentuk menyerupai bak sehingga dapat menampung air. Caranva
dengan menyusun sejumlah bata atau batako di sekeliling pinggiran plastik
menyerupai tanggul. Ukuran kolam pemijahan, baik yang dari tembok maupun
plastik terpal tidak terlalu luas. Untuk 1 pasang induk ikan lele yang akan
dipijahkan, luasnya 2 m.

Sebelum digunakan, kolam pemijahan harus dibersihkan dan dikeringkan terlebih


dahulu beberapa hari. Maksudnya untuk mempercepat terjadinva proses
pemijahan. Selanjutnya, bak diisi air jernih dan bersih setinggi 50-60 cm. Jika air
yang digunakan tersebut kotor atau keruh, telur-telur ikan lele akan tertutup oleh
lapisan lumpur sehingga tidak bisa menetas.

Untuk tempat penempelan telur, di dalam kolam pemijahan harus disediakan


kakaban yang terbuat dari ijuk. Ukuran kakaban disesuaikan dengan ukuran
kolam pemijahan. Namun, ukuran yang biasa digunakan panjangnva 75-100 cm
dan lebarnya 30-40 cm. Sebagai patokan, untuk 1 pasang induk ikan lele dengan
berat induk betina 500 gram, dibutuhkan kakaban sebanyak 4 buah. Jika kurang,
dikhawatirkan telur yang dikeluarkan ketika pemijahan tidak tertampung
seluruhnya atau menumpuk di kakaban, sehingga mudah membusuk dan tidak
menetas.

Selanjutnya, kakaban yang telah disiapkan dipasang rata menutupi seluruh


permukaan dasar kolam pemijahan. Cara pemasangannya adalah dengan
menindihkan batu pada kakaban sebagai pemberat. Hal ini dimaksudkan agar
telur-telur ikan lele hasil pemijahan dapat tertampung di kakaban dan seluruh
bagiannva tetap dalam kondisi terendam air.

Pelepasan Induk - Budidaya Ikan Lele Pembenihan Tradisional


Setelah tempat pemijahan dipersiapkan, induk ikan lele jantan dan betina
ditangkap dari kolam induk dengan menggunakan waring (jaring yang bermata

kecil). Kemudian induk dilepaskan ke kolam pemijahan. Untuk satu kolam


pemijahan, jumlah induk yang dipijahkan cukup 1 pasang. Jika induk yang
dipijahkan lebih dari 1 pasang, dikhawatirkan selama proses pemijahan
berlangsung akan terjadi perkelahian antara induk-induk tersebut, sehingga
proses pemijahan tidak dapat berlangsung dengan sempurna. Di samping itu,
kerugian lainnya adalah induk yang terlibat perkelahian akan mengalami lukaluka dan kondisinya lemah.

Satu hal yang tidak boleh dilupakan adalah kondisi tubuh induk-induk ikan lele
yang akan dipijahkan harus telah memenuhi persyaratan standar. Persyaratan
tersebut di antaranva adalah harus matang kelamin dan berumur tidak kurang
dari 1 tahun.
Ciri-ciri induk ikan lele betina yang telah siap untuk dipijahkan sebagai berikut.

Bagian perut tampak membesar ke arah anus dan jika diraba terasa lembek.
Lubang kelamin berwarna kemerahan dan tampak agak membesar.
Jika bagian perut secara perlahan diurut ke arah anus, akan keluar beberapa
butir telur berwarna kekuning-kuningan dan ukurannya relatif besar.
Pergerakannya lamban dan jinak.

Ciri-ciri induk ikan lele jantan yang telah siap untuk dipijahkan sebagai berikut.

Alat kelamin tampak jelas dan lebih runcing.


Warna tubuh agak kemerah-merahan.
Tubuh ramping dan gerakannya lincah.

Induk ikan lele jantan dan betina yang telah matang kelamin dilepaskan ke
dalam kolam pemijahan sekitar pukul 10.00 pagi. Agar induk ikan lele yang
sedang dipijahkan tidak meloncat keluar, bagian atas kolam pemijahan ditutup
menggunakan papan, triplek, atau bilah bambu. Induk akan berpijah pada
malam hari menjelang pagi hari, biasanya antara pukul 24.00-04.00.

Selama proses pemijahan berlangsung, secara bersamaan induk ikan lele betina
akan mengeluarkan telur dan induk ikan lele jantan mengeluarkan spermanya.
Pembuahan akan terjadi di luar tubuh induk atau di dalam air. Salah satu

kelemahan dari cara yang dilakukan petani ini antara lain ketidakpastian induk
untuk memijah. Kadang-kadang dalam satu malam, induk langsung memijah,
kadang-kadang pada malam kedua, bahkan sering kali ditemui induk tidak mau
memijah sama sekali walaupun telah dibiarkan di tempat pemijahan selama
beberapa malam. Ketidakpastian pemijahan tersebut disebabkan tingkat
kematangan induk dan persiapan tempat pemijahan atau manipulasi lingkungan
yang kurang sesuai dengan yang diharapkan oleh induk ikan lele.

c. Penetasan Telur Ikan Lele


Pembuatan Kolam Penetasan Telur - Budidaya Ikan Lele Pembenihan Tradisional
Pada hari yang bersamaan dengan persiapan pemijahan, kolam atau tempat
penetasan telur ikan lele harus dipersiapkan pula. Karena setelah proses
pemijahan selesai, telur-telur ikan lele yang menempel di kakaban harus segera
dipindahkan. Jika terlambat dipindahkan, dikhawatirkan telur-telur tersebut akan
dimakan kembali oleh induk-induknya.

Kolam penetasan yang biasa digunakan para petani adalah kolam yang terbuat
dari plastik terpal seperti halnya kolam pemijahan. Ukuran kolam penetasan
harus lebih besar daripada ukuran bak pemijahan, karena bak penetasan
tersebut sekaligus digunakan sebagai tempat perawatan atau pemeliharaan
benih ikan lele yang baru menetas (larva). Untuk seekor induk ikan lele betina
yang beratnya 500 gram, luas kolam penetasan yang diperlukan sekitar 2 x 3 x
0,25 m.

Kolam penetasan dapat ditempatkan di samping atau di belakang rumah tempat


tinggal, asalkan tidak langsung terkena sinar matahari dan hujan. Kolam yang
berada di tempat yang langsung terkena sinar matahari atau air hujan, dapat
mengakibatkan benih ikan lele mengalami kematian karena berpotensi terjadi
perubahan suhu yang cukup drastis. Lahan yang akan digunakan untuk
membuat kolam penetasan berupa tanah atau tembok bekas dengan permukaan
rata.

Pembuatan kolam penetasan telur pada budidaya ikan lele pembenihan ini tidak
terlalu sulit dilakukan dan biaya yang dibutuhkan pun tidak terlalu besar.
Langkah-langkah pembuatan kolam penetasan sebagai berikut.

Membuat denah menyerupai kolam berbentuk empat persegi panjang dengan


panjang dan lebar yang telah ditentukan.

Di setiap sudut denah ditancapkan tiang berupa kayu atau bambu dengan
ketinggian 20-25 cm. Ketinggian ini disebabkan benih lele yang baru menetas
belum memerlukan ketinggian air yang dalam.
Agar kerangka tempat penetasan kuat, kerangka harus dipaku ke setiap tiang.
Langkah selanjutnya adalah memasang plastik terpal sebagai tempat
penetasan telur. Plastik yang akan digunakan harus disesuaikan dengan lebar
kerangka. Plastik dipasang di bagian dalam kerangka dengan cara mengikat tepi
plastik ke kerangka bilah bambu. Setiap ikatan berjarak 25 cm. Hal ini
dimaksudkan agar plastik dapat menahan kekuatan masa air atau tekanan air
yang akan mendesak ke luar kolam.
Ketinggian air dalam kolam penetasan antara 15-20 cm.

Perawatan Telur - Budidaya Ikan Lele Pembenihan Tradisional


Setelah induk ikan lele selesai memijah, keesokan harinya telur-telur yang telah
menempel di kakaban diangkat secara hati-hati dan dipindahkan ke kolam
penetasan. Kakaban diletakkan dengan posisi rata dan semua permukaan
kakaban harus terendam di dalam air. Hal ini dimaksudkan agar seluruh telur
ikan lele juga ikut terendam. Jika ada telur yang tidak terendam air, dapat
dipastikan telur tersebut tidak akan menetas.

Selama proses penetasan, harus dilakukan pengontrolan guna mencegah


binatang liar, seperti kodok atau ular, masuk ke dalam kolam penetasan, yang
dapat memangsa telur atau benih ikan lele yang sedang ditetaskan tersebut.

Telur-telur ikan lele akan menetas setelah 22-124 jam dari saat pemijahan.
Selama proses penetasan berlangsung, diusahakan ada sedikit air yang
mengalir. Dalam hal ini bisa digunakan selang kecil yang biasa digunakan untuk
aerator akuarium. Pengaliran air ini bertujuan untuk menjaga kualitas air selama
penetasan. Jika kualitas airnya jelek atau timbul bau yang tidak sedap, benih
ikan lele yang baru menetas akan mati.

Ikan lele yang telah menetas dapat dilihat di permukaan dasar kolam penetasan.
Benih-benih ikan lele akan berkumpul di dasar bak dengan warna hijau, hitam,
atau kecokelat-cokelatan. Setelah telur-telur ikan lele menetas, kakaban harus
diangkat secara hati-hati. Jika pengangkatan kakaban terlambat dilakukan, telurtelur yang tidak menetas akan membusuk dan menyebabkan kualitas air
menurun, yang pada akhirnya membahayakan keselamatan benih yang baru
menetas.

d. Pemeliharaan Larva - Budidaya Ikan Lele Pembenihan Tradisional


Kolam atau tempat penetasan telur sekaligus dijadikan sebagai tempat
pemeliharaan larva. Agar kegiatan pembenihan dapat berhasil sesuai dengan
yang diharapkan, benih-benih ikan lele yang baru menetas harus dirawat atau
dipelihara dengan baik. Ada beberapa faktor yang perlu diperhatikan selama
pemeliharaan larva, yakni kualitas air tetap terjaga dengan baik dan pakan harus
tersedia dalam jumlah dan kualitas yang mencukupi. Karenanya penggantian
atau penambahan air harus dilakukan setiap 2 hari sekali atau tergantung dari
kebutuhan dengan melihat kualitas air yang ada di dalam kolam penetasan.

Benih ikan lele yang baru menetas sampai berumur 3 hari tidak perlu diberi
pakan tambahan. Hal ini disebabkan cadangan makanan di dalam tubuhnya
yang berupa kuning telur, masih tersedia. Pada hari keempat setelah menetas,
benih harus diberi pakan tambahan yang ukurannya disesuaikan dengan bukaan
mulutnya. Pakan tambahan yang paling cocok adalah pakan alami atau makanan
hidup berupa plankton. Salah satunya adalah kutu air atau yang lebih dikenal
dengan sebutan Daphnia sp. Di samping kutu air, pakan alami lain yang cocok
untuk benih ikan lele adalah cacing sutera.

Pemberian pakan dilakukan sesuai dengan kebutuhan, yakni dua kali sehari pada
pagi atau sore hari. Pakan tambahan berupa pakan alami lebih dianjurkan karena
memiliki kelebihan jika dibandingkan dengan pakan buatan. Selain itu, pakan
alami memiliki kandungan protein yang cukup tinggi dan mudah dicerna.
Sebaiknya dihindari pemberian pakan yang berlebihan. Tujuannya agar air tidak
tercemar.

Kutu air bisa diperoleh dari comberan atau tempat-tempat becek lainnya. Di
samping itu, kutu air bisa diperoleh dengan cara dikultur atau dibudidayakan
pada media tertentu. Kutu air yang ditangkap dari alam bebas menggunakan
scop net (serok/tangguk) halus, sebelum diberikan, harus dibersihkan dari
kotoran dengan cara mencucinya terlebih dahulu. Cacing sutera hanya bisa
diperoleh dari saluran pembuangan air atau comberan. Saluran air tersebut
biasanya banyak mengandung bahan-bahan organik berupa sisa-sisa buangan
dari permukiman, sehingga cacing sutera bisa hidup dengan baik.

Benih lele dipelihara selama 2-3 minggu, dan selanjutnya didederkan di kolam
tembok atau jaring apung (japung). Pemanenan benih dilakukan pada pagi atau
sore hari saat suhu masih rendah. Hal ini dimaksudkan untuk menghindari
terjadinya stres pada benih. Benih yang ditetaskan menggunakan kolam plastik,

cara pemanenannya cukup praktis, yakni hanya dengan mengangkat beberapa


sudut dari plastik tersebut. Dengan cara ini, secara perlahan-lahan air di dalam
kolam pemeliharaan benih akan terbuang atau berkurang dan benih akan
berkumpul di salah satu sudut. Di sudut pembuangan dipasang scop net yang
berfungsi untuk menampung benih ikan lele yang terbawa aliran air. Selanjutnya
scop net diangkat dengan hati-hati dan benih ikan lele dipindahkan ke tempat
pendederan. Untuk setiap ekor induk yang beratnya sekitar 500 gram akan
diperoleh benih ikan lele sebanyak 10.000-15.000 ekor.

Baca Artikel Terkait :

Budidaya Ikan Lele Pembenihan Semiintensif


Salah satu kegiatan pokok atau kegiatan inti yang dilakukan pada budidaya
ikan lele pembenihan semiintensif ini adalah induk yang akan dipijahkan
(dikawinkan), baik jantan maupun betina, dirangsang terlebih dahulu
menggunakan kelenjar hipofisa melalui penyuntikan. Jadi, pemijahan secara
semiintensif tidak dilakukan secara alami. Keuntungan yang diperoleh dari
budidaya ikan lele pembenihan semiintensif antara lain dapat diperkirakan
jumlah ...
Budidaya Ikan Lele Pembesaran
Budidaya ikan lele merupakan salah satu budidaya agribisnis yang perlu
mendapat perhatian serius. Selain karena permintaan pasar untuk ikan lele
sangat tinggi, baik konsumsi nasional maupun ekspor, budidaya lele juga bisa
dilakukan di lahan sempit. Budidaya ikan lele tahap ini merupakan teknik
budidaya lele untuk membesarkan bibit ikan lele berukuran 1-3 cm menjadi bibit
ikan lele berukuran 3-5 cm dengan waktu budidaya selama 2-3 minggu.