Anda di halaman 1dari 37

IMPLEMENTASI C4ISR/K4IPP

DALAM SISTEM INFORMASI PERTAHANAN NEGARA MATRA LAUT


oleh :
LAKSAMANA PERTAMA TNI IWAN KUSTIYAWAN
KEPALA DINAS INFORMASI DAN PENGOLAHAN DATA ANGKATAN LAUT

Disampaiakn pada acara :


Sarasehan Informatika TNI AL 2009
25 Juni 2009, Auditorium Denma Mabesal, Cilangkap, Jakarta Timur.
1. Pendahuluan :
Sejalan dengan perkembangan zaman seperti yang disampaikan oleh Alvin Toffler,
bahwa perkembangan jaman yang diawali dengan : Pertama Era Agraris, dimana yang
berbasis tanah, aktivitas meliputi pertanian, peternakan dll kegiatan yang sejenis,
difokuskan pada kebutuhan primair yang meliputi makanan dan minuman, fasilitas yang
digunakan adalah otot atau tenaga. Kedua Era Industri dengan basis kegiatan berupa
pabrik dan modal (manufacture and asset) aktivitasbya adalah produksi yang
difokuskan paga kebutuihan sekunder berupa barang (goods), fasilitas yang digunakan
bertumpu pada mesin. Ketiga Era Informasi dengan basis
computer, komunikasi dan
tekhnologi, aktivitasnya adalah pengembangan sistem dan fokus
pada perwujudan
pelayanan dan penyediaan fasilitas serta system dan methoda untuk meningkatkan
kinerja yang digunakan adalah kecerdasan pemikiran (mind) dengan cirri-ciri :
merubah bagaimana kekayaan diciptakan, mengubah pendistribusian kekuatan,
kompleksitas meningkat, mendekatkan jarak di seluruh dunia serta mempersingkat
waktu hingga dapat meningkatkan tempo atau kesempatan.
Berdasarkan perkembangan teknologi khususnya teknologi informasi (TI), maka
peran dan manfaat TI semakin luas dan meningkat hampir seluruh kegiatan dan
aktivitas dapat didukung dan memanfaatkan TI, demikian pula dalam kegiatan dan
pelaksanaan tugas militer dalam menyelenggarakan operasi pertahanan, baik dalam
operasi militer perang (OMP) maupun operasi militer selain perang (OMSP). Kalangan
militer pasti mengenal Sun Tzu yang hidup ribuan tahun yang lalu namun tulisannya
sampai saat ini tetap relevan, sebagai contoh satu kalimat dalam buku The Art of War
menyatakan "Subjugating the enemy's army without fighting is the true pinnacle of
excellence." dengan pengertian sederhana Menaklukkan angkatan perang musuh
tanpa berperang adalah puncak keunggulan yang hakiki.. Demikian pula pepatah jawa
kuno mengatakan Ngelurug tanpo bolo, menang tanpo ngasorake yang artinya
Menyerbu tanpa pasukan, menang tanpa merendahkan atau membuat malu. Hal
tersebut mengibaratkan dan mewakili kekuatan serta keunggulan informasi (superiority
information), dimana informasi sebagai kekuatan (information as power), informasi
sebagai senjata (information as weapon) dan informasi adalah strategi (information as
strategy).
Kepentingan Nasional dan upaya melemahkan TNI, menjaga kepentingan nasional
dalam rangka menjaga keutuhan NKRI, merupakan tugas yang paling mendasar bagi
TNI sebagai alat pertahanan negara. Seluruh kegiatan yang merongrong keutuhan
NKRI pasti akan dihadapkan pada TNI, sehingga mereka akan selalu berusaha untuk
1

melemahkan TNI dengan berbagai cara baik langsung maupun tidak langsung dari
dalam (intern) maupun dari luar (ekstern). Negara Kesatuan Republik Indonesia yang
sangat luas dan memerlukan perlindungan yang maksimal dari berbagai kegiatan yang
merongrong kedaulatan, dari sengketa wilayah, pencurian sumber daya laut sehingga
upaya separatisme dan berbagai kegiatan illegal. Oleh karena itu maka diperlukan
kekuatan TNI yang dapat melindungi kepentingan nasional tersebut, namun dilain pihak
sangat dapat dipastikan tentang adanya pihak-pihak tertentu yang berdasarkan
kepentingannya ingin memecah belah NKRI, dan hambatan yang utama adalah
kekuatan TNI. Oleh karena itu maka mereka selalu berusaha untuk melemahkan TNI,
sejak dipisah dengan Polri, dikurangi anggarannya, dirubah doktrinnya, dihilangkan hak
dan kewenangannya dibidang territorial dan kewilayahan, disudutkan dalam
pelanggaran berat HAM dan Demokratisasi, dan berbagai scenario untuk memojokan
serta melemahkan TNI, yang dilakukan dengan berbagai cara peperangan informasi
termasuk yang menggunakan fasilitas yang berbasis teknologi informasi. Sehingga
apabila kondisi tersebut dibiarkan dan tidak ditanggapi secara serius, maka sampai
kapan NKRI bisa bertahan.
Kondisi tersebut dapat dibuktikan bahwa dengan globalisasi dan peledakan
informasi, akan membuat dan merubah image serta opini yang tertanam dalam masingmasing individu dilingkungan lawan hingga akan melemahkan kondisi dan posisi lawan.
Perang informasi bersifat perang psychologi (psychological warfare) yang dapat
dilakukan kapan saja sebelum perang fisik terjadi, hingga dapat berperan sebagai
upaya untuk mencegah terjadinya perang yang dapat merugikan kedua belah pihak.
Revolution Military Affair (RMA) mendorong seluruh negara berupaya meningkatkan
pemanfaatan teknologi, terutama negara-negara adidaya yang telah menerapkan
teknologi khususnya TI untuk memperkuat militernya dengan memanfaatkan dukungan
kekuatan dan keunggulan informasi secara cepat, tepat, akurat dan aman. Mengingat
saat ini TI telah mampu pengaruhi teori seni perang dan ilmu pengetahuan tentang
perang serta perubahan prilaku,peradaban dan budaya bangsa-bangsa di dunia.
Sehingga tuntutan pembina sistem informasi saat ini bukan hanya sekedar membangun
system akan tetapi dituntut lebih besar lagi yaitu bagaimana mewujudkan keunggulan
informasi, karena barangsiapa menguasai informasi, maka ia akan menguasai dunia
(Who controls the information, control the world), dimana keunggulan Informasi adalah
posisi atau status dan kemampuan informasi yang dicapai pada saat mendapatkan atau
menciptakan dan memelihara competitive advantage bagi organisasi atau satuan dan
gugus tugas tertentu.
Perkembangan Tekhnologi selalu memberi akibat baik positif maupun negatif
dimana yang bersifat positif merupakan manfaat dan peluang yang harus dimanfaatkan
seoptimal mungkin, sedangkan dampak negatif merupakan permasalahan yang perlu
diatasi dan diantisipasi. Mengingat dampak negative tersebut akan berubah menjadi
ancaman yang sangat serius apabila dimanfaatkan oleh pihak lawan atau pihak lain
yang tidak bertanggung jawab, sehingga semuanya menjadi sangat komplek dan luas
(mengglobal), sebagai akibat pengurangan waktu dan tanpa batas. Dengan demikian
maka ancaman Non Traditional Warfare (NTW) atau Assymetric Warfare dengan
memanfaatkan TI akan menjadi lebih mengemuka, mengingat hal tersebut dapat
dilakukan dan berlangsung kapan saja dan dilakukan oleh siapa saja dimana saja yang
terpenting mereka memiliki fasilitas yang memadai. Berdasarkan ancaman tersebut
2

maka kita dituntut untuk memiliki kekuatan dunia maya (cyber power) yang memiliki
kemampuan pertahanan dan keamanan sistem yang memadai. Sistem informasi yang
diperlukan harus memiliki kemampuan operasional yang dapat menyelenggarakan
dukungan informasi dalam perang (Information In War /IIW), Peperangan Informasi
(Information Warfare/IW) dan kerjasama informasi (Information Cooperation/IC). Untuk
mewujudkan kepentingan tersebut dalam pembangunan dan pengembangannya
diperlukan berbagai theory dan konsep diantaranya C4ISR, Dekenitetiko, Network
Centric Warfare (NCW) dan Network Centric Operation (NCO) serta konsep lain yang
relevan.
2. Theori dan Konsep yang digunakan.
Dalam rangka menyusun, merencanakan, membangun, memelihara dan
mengembangakan Sistem Informasi Pertahanan Negara Matra Laut diperlukan
berbagai theory dan konsep yang mendukung dan relevan dengan kebutuhan sistem,
diantaranya adalah tentang :
a. Informasi.
1) Arti dan makna informasi, informasi berasal dari fenomena, sedangkan
fenomena adalah fakta yang nampak atau suatu peristiwa, yaitu segala sesuatu
yang terjadi di sekitar kita. Fenomena harus dapat dirasakan dan
diinterpretasikan menjadi informasi. Fenomena menjadi informasi melalui
pengamatan dan analisis, oleh karena itu informasi adalah suatu abstraksi dari
fenomena. Informasi adalah hasil persepsi dan interpretasi. Untuk menentukan
informasi, diperlukan hanya dua karakteristik yang terdiri dari data dan instruksi
(Information consists of data and instructions). Sehingga informasi merupakan
suatu hasil dari dua hal tsb yaitu fenomena (data) dan instruksi (process) yang
diperlukan untuk menginterpretasikan data hingga dapat memberikan arti.
2) Hubungan Informasi dengan teknologi, sejak bergulirnya Revolution
Military Affair (RMA), khususnya dalam bidang teknologi informasi telah
memaksa sistim informasi masuk dan berintegrasi dalam kehidupan manusia
sehari-hari yang dikenal dengan istilah zaman atau era Informasi. Informasi
sangat berhubungan erat dengan teknologi yang berkonsentrasi pada data,
terjadi peningkatan yang sangat cepat pada kegiatan proses dan pengiriman
data, sedangkan informasi sangat erat hubungannya dengan setiap aspek
kehidupan. Pada Era Informasi pula tercipta kemampuan informasi pada operasi
militer yang belum pernah terjadi sebelumnya, dimana seorang komandan dapat
mengamati situasi pertempuran (battle space), menganalisis kejadian dan proses
pendistribusian informasi secara menyeluruh. Kita harus membedakan antara
peperangan era informasi dan peperangan informasi, dimana informasi menjadi
sesuatu yang sangat penting.
3) Fungsi Informasi dalam kegiatan dan operasi Militer, secara umum dapat
diartikan bahwa Information Function are any activity involving the acquisition,
transmission, storage, or transformation of information. fungsi Informasi adalah
berbagai aktivitas yang meliputi cara mendapatkan, pengiriman atau
mentransmisikan, penyimpanan atau perubahan bentuk informasi. Sedangkan
3

Fungsi Informasi Militer adalah berbagai aktivitas atau kemampuan informasi


yang dapat mendukung fungsi dan meningkatkan kualitas dan kuantitas serta
kinerja dalam pelaksanaan tugas kemiliteran. Operasi militer menuntut
kebutuhan yang spesifik terhadap fungsi informasi dalam mencari dan
menyajikan informasi yang menguntungkan terhadap kepentingan operasi.
Sebagai contoh, informasi yang menguntungkan adalah informasi yang didapat
secara cepat, dalam waktu yang tepat dan memiliki kebenaran yang akurat serta
memiliki arti dan makna yang kuat dan sangat berpengaruh terhadap keadaan
musuh. Berdasarkan perkembangan teknologi informasi saat ini, maka sistem
informasi telah mampu memiliki fungsi untuk mengoptimalkan berbagai kegiatan
dalam bidang Administrasi, Manajemen, E-Bisnis, Globalisasi, Perubahan,
Koordinasi dan Kerjasama, Pengintaian dan Pengamatan, Evaluasi dan Analisis,
Pengambilan Keputusan, Komando dan Kendali serta kegiatan lain baik
dilingkungan sipil maupun militer. Kemampuan tersebut diwujudkan dengan
menyediakan berbagai kemampuan diantaranya berbagai proses otomatisasi
dan kemudahan, penyajian informasi secara cepat, tepat, akurat, luas dan
kompleks, meningkatkan produktifitas baik secara kuantitas maupun kualitas,
menyediakan fasilitas, sarana dan prasarana, menciptakan inovasi dan solusi
dengan cara-cara baru, mempengaruhi prilaku dan budaya serta memperbaiki
manajemen dan organisasi, menjamin tersedianya informasi dan kemutakhiran
data dalam mendukung kepentingan pelaksanaan tugas.
Kegiatan pendeteksian, pengawasan dan pengamatan merupakan
kemampuan dan kekuatan dasar yang sangat menentukan untuk mendapatkan
data atau phenomena yang muncul disekitar kita, sedangkan intelijen dan hasil
analisis kondisi cuaca, medan dan musuh merupakan pedoman dasar orientasi
observasi dalam operasi militer. Oleh karena itu kedua aspek tersebut perlu
disinergikan untuk mendapatkan kekuatan dan kemampuan secara optimal.
Militer diberbagai Negara maju telah banyak menggunakan dasar tersebut untuk
membentuk suatu satuan tugas, dimana komando dan kendali operasi dilakukan
untuk memantau, mengelola dan mengendalikan konflik. Apabila fungsi informasi
militer tersebut dilakukan secara bersama dan menyeluruh dalam suatu sistem
tertentu, maka hal tersebut akan dapat meningkatkan kuantitas dan kualitas
seluruh kegiatan operasi militer. Secara umum, militer diberbagai negara didunia
menggunakan istilah fungsi informasi militer untuk mendapatkan kemampuan
dalam meningkatkan fungsi informasi pada setiap aspek pelaksanaan tugas
militer.
Seperti yang disampaikan oleh Staf Akhli Panglima TNI bidang C4ISR, Yono
Reksoprodjo,DR,ST.DIC, menyatakan bahwa Dalam perkembangannya,
pemberdayaan teknologi informasi secara umum sangat berdampak terhadap
dunia kemiliteran modern dan telah menjadikan potensi isyu Military Driven
Information menjadi Information Driven Military. Dalam hal ini, isyu tentang
Perang Informasi, secara teknis semua menjadi bias, kapan dimulai, oleh siapa,
militer maupun non militer. Oleh karena itu maka arah visi dan misi yang tepat

dan presisi dalam memanfaatkan teknologi informasi pasti akan meningkatkan


kinerja secara significant.
4) Peran Informasi, dalam mendukung pelaksanaan tugas sangat beragam dan
sangat tergantung dari mana kita memandangnya dan bagaimana kita
memposisikannya serta bagaimana strategi pemanfaatannya, namun secara
umum terdapat 3(tiga) peran informasi yang sangat dominan, yaitu :
a) Informasi sebagai Kekuatan (Information as Power), dimana informasi
digunakan sebagai media yang memiliki kekuatan untuk mengkonter atau
mematahkan kekuatan musuh dalam mencapai tujuan dan keinginannya.
Informasi bisa digunakan sebagai bukti yang dapat memberikan kekuatan
terhadap suatu kondisi tertentu, sehingga dengan informasi yang tepat dan
akurat maka posisi kita akan semakin kuat. Selain itu kualitas informasi
merupakan counter terhadap kemelut dalam perang (fog of war). Kita yakini
bersama bahwa komandan yang lebih baik adalah yang memiliki informasi
yang kuat dan menguntungkan atas musuhnya, karena berdasarkan
informasi kita dapat membangun kekuatan dan kemampuan serta menyusun
cara yang diyakini dapat menghancurkan dan mengalahkan musuh. Michael
D. McDonnell dalam bukunya Non Traditional Warfare mengatakan
Information as a force for deterrence. Sebagai contoh, para teroris saat ini
memiliki pengetahuan dan kemampuan serta sumber daya IT yang sangat
canggih apalagi didasari dengan sikap yang fanatik, sehingga memerlukan
kemampuan yang tinggi untuk melawan mereka. Namun kita dituntut untuk
berbuat sesuatu guna mencoba menyulitkan perencanaan dan membatasi
persiapan mereka, yaitu dengan memperkecil lingkup kegiatan dan
mempersingkat waktu persiapan, sehingga tindakannya tidak optimal.
Tindakan teroris akan sangat tergantung pada mekanisme dan prosedur tata
cara memperoleh fasilitas, peralatan dan perangkat keras serta barangbarang lain yang diperlukan sesuai jumlah yang diinginkan. Oleh karena itu
maka informasi tentang penyewaan, pembelian dan penggunaan fasilitas dan
barang-barang yang sering digunakan oleh terrorist harus bersifat terbuka
dan dapat dimonitor, sehingga apabila terjadi transaksi dapat segera
diketahui dan terdeteksi. Prosedur pembelian atau pengalihan kepemilikan
dan proses pengambilan barang-barang tsb dipersulit, sehingga akan
menghabiskan waktu lama dan memperpanjang kesempatan pendeteksian
serta mempersingkat waktu persiapan. Dengan demikian maka beberapa
kemampuan data warehouse harus dibuat terbuka dan dapat diketahui oleh
para penegak hukum. Sedangkan dari sisi lain harus merahasiakan atau
membatasi informasi tentang berbagai hal yang mungkin diperlukan atau
dapat disalah gunakan oleh para terrorist atau orang yang tidak bertanggung
jawab. Tindakan tersebut diharapkan dapat mencegah pengembangan
strategi para teroris secara efektif.
b) Informasi sebagai Senjata (Information as Weapon), dimana informasi
digunakan sebagai senjata untuk menghancurkan atau mengalahkan musuh
secara psikhologis, seperti yang dikenal dalam Peperangan Informasi.
5

Peperangan Informasi merupakan jenis baru dari peperangan saat ini,


dimana informasi dan sistem informasi digunakan sebagai alat untuk
melakukan serangan dalam peperangan tersebut. Perang jenis ini tidak
memiliki garis batas atau pemisah atau garis depan yang jelas, namun
menggunakan sistem jaringan yang dapat diakses, dimana saja dan kapan
saja bisa melakukan penyerangan tidak perlu menunggu pernyataan perang
secara formal. Peperangan Informasi termasuk melakukan propaganda
terhadap musuh untuk mempengaruhi mereka agar musuh menyerah atau
membatalkan niatnya serta menolak atau mengkonter informasi yang yang
dapat mengakibatkan bangkitnya perlawanan. Peperangan Informasi juga
dapat melakukan umpan-balik propaganda atau bahkan disinformation atau
penyesatan informasi untuk membangun dukungan terhadap upaya perang
atau counter propaganda musuh. Contoh dalam menghadapi kasus Ambalat,
walaupun perang conventional saat ini belum atau tidak terjadi namun perang
informasi sudah terjadi sejak munculnya kasus Ambalat tersebut. Dalam
menghadapi hal seperti ini Indonesia tidak boleh diam, namun harus
melakukan sesuatu yaitu melakukan peperangan informasi dan melakukan
konter informasi yang efektif terhadap informasi-informasi yang mungkin
dapat membentuk dan membangun image dan opini public internasional
untuk menyudutkan bangsa Indonesia seperti kejadian dimasa lalu hingga
lepasnya Timor Timur.
c) Informasi sebagai Strategi (Information as Startegy), dimana informasi
yang dimiliki digunakan sebagai strategi untuk menyusun cara dan metoda
dalam menghadapi dan mengalahkan musuh. Peperangan Informasi juga
dapat diartikan sebagai strategi untuk menteror dan merongrong kekuatan
lawan serta menghancurkan data, informasi berikut fasilitasnya. Dengan
globalisasi dan peledakan informasi akan mengakibatkan pembentukan dan
perubahan image serta opini yang tertanam pada masing-masing individu
dilingkungan lawan, sehingga akan melemahkan semangat berperang, situasi
dan kondisi serta posisi lawan. Dalam strategi perang informasi teknik ini
dikenal sebagai information imperialism, contoh yang sangat jelas adalah
kekalahan Indonesia di Timor Timur. Dimana jauh sebelumnya dalam kurun
waktu yang cukup lama Indonesia di bombardir informasi yang menyudutkan
dan melemahkan posisi Indonesia didunia internasional, sehingga
membentuk image dan opini public internasional bahwa Indonesia berada
dipihak yang salah dan perlu diluruskan oleh badan internasional.
Sesungguhnya dalam hal ini kedua belah pihak memiliki kesempatan yang
sama dalam melakukan perang informasi dan memanfaatkan teknik-teknik
yang berlaku, seperti teknik counter-will untuk mengkonter informasi.
Walaupun kesempatannya sama namun kondisi dan kemampuannya
berbeda, sering terjadi counter-will tersebut tidak optimal atau mungkin tidak
pernah dilakukan sama sekali dengan berbagai macam alasan. Sedangkan
dipihak lain khususnya negara-negara maju didunia sudah sangat
memperhatikan dan serius dalam membangun kemampuan sumberdaya dan
penyelenggaraannya. Banyak sekali potensi yang mungkin terjadi lagi di
6

Indonesia seperti kasus Aceh, Papua, Ambon dan blok Ambalat, oleh karena
itu perlu waspada dan selalu melakukan purbajaga terhadap kemungkinan
tersebut.
b. Revolution Military Affair (RMA), menuntut adanya perubahan yang significant
dalam pemanfaatan teknologi, sehingga diharapkan dapat merubah metode atau
cara-cara atau doktrin peperangan. Dalam hal ini khusus dibatasi dalam
memanfaatkan teknologi informasi (Information Technology). Pemanfaatan teknologi
informasi harus mampu meningkatkan efektifitas dan efisiensi, kualitas dan kuantitas
kegiatan pelaksanaan tugas. Teknologi dapat mengurangi jumlah kekuatan personel
maupun materiel yang dihadirkan diwilayah peperangan, yang lebih penting dengan
teknologi diharapkan dapat meraih efektifitas pencapaian misi yang diemban dalam
tugas secara menyeluruh. Dengan demikian maka konsep RMA akan berpengaruh
terhadap perubahan doktrin peperangan untuk menekan resiko dan kerugian
personel maupun materiel yang mungkin terjadi. Walaupun penerapan RMA
dilingkungan Departemen Pertahanan dan TNI belum diselenggarakan dan
dirasakan masih belum optimal, karena dihadapkan pada keterbatasan kemampuan
sumber daya. Namun demikian kita harus segera menyadari situasi dan kondisi,
mengaudit, menganalisis dan mengevaluasi kekuatan dan kemampuan pertahanan
negara Indonesia secara obyektif, dihadapkan pada ancaman yang nyata dan
kemampuan sumber daya. Sehingga Indonesia memiliki target dan rencana yang
jelas dalam membina dan membangun kekuatan pertahanannya. Penerapan RMA
yang umumnya dilakukan diberbagai negara adidaya merupakan dampak dari
perkembangan, diantaranya sebagai akibat dari perkembangan teknologi. Demikian
pula dengan penerapan RMA dilain pihak akan menimbulkan dampak yang sangat
besar dan penuh resiko yang memerlukan pemikiran serta kegiatan dan pengerahan
sumber daya yang sangat besar. Dampak tersebut akan terjadi dinegara-negara
yang memiliki kondisi ekonomi yang kurang menguntungkan yang terkadang harus
berhadapan dengan negara adidaya yang memiliki kekuatan pertahanan yang tidak
seimbang, maka secara langsung atau tidak langsung kondisi ini akan menciptakan
konsep dan metode peperangan lain yang ditujukan untuk menghadapi atau
melawan ketidak seimbangan tersebut, sesuai dengan kemampuan masing-masing
negara yang bertikai, seperti yang kita ketahui saat ini telah dikenal konsep
peperangan Non Traditional Warfare dan Asymetric Warfare.

a. Non Traditional Warfare (NTW), bukan hanya menjelaskan tentang karakteristik


umum format peperangan baru, tetapi juga tentang pemanfaatan dan pendekatan
baru tentang Komando dan kendali serta pengolahan data dan informasi serta
manajemen baru. Perbedaan peperangan nontraditional dengan peperangan
konvensional, terdiri dari 2(dua) aspek utama, yaitu : Pertama, format konflik tidak
seperti biasa, meliputi tindakan gerilya dan terorisme, aktivitas dilakukan oleh
organisasi kriminal internasional yang mengancam keamanan satu atau lebih
negara-negara didunia dengan menggunakan berbagai jenis senjata pemusnah
massa, seperti nuklir, biologi dan kimia, termasuk penyerangan terhadap
7

infrastruktur telekomunikasi dan komputer. Ke dua, peperangan nontraditional tidak


hanya melibatkan jenis yang tidak biasa atau tindakan baru atau jenis teknologi baru
dalam pertahanan dan penyerangan. Pemanfaatan teknologi memiliki arti yang
sangat luas, tidak hanya tentang perangkat keras, perkakas, senjata dan peralatan,
tetapi termasuk pengembangan metoda serta mekanisme dan prosedur untuk
mengoperasikan peralatan secara efektif.
Klasifikasi atau jenis kegiatan Non Traditional Warfare (NTW) dalam kegiatan
OMSP (William R. Schilling), diantaranya adalah : Weapons Of Mass Destruction
(WMD), Electronic Warfare, Economic And Industrial Warfare, Demining And
Chemical/Biological (C/B) Mine Warfare, Urban Warfare, Guerrilla Warfare and
Terrorist Operations. Electronic Warfare, khususnya Cyber Warfare. Fokus
pembahasan pada kesempatan ini diarahkan pada Cyber Warfare atau Computer
Warfare, yaitu peperangan yang menggunakan fasilitas computer dan teknologi
informasi. Aplikasi teknologi informasi dalam menghadapi ancaman NTW menurut
Michael D. McDonnell, dapat dilakukan secara efektif dengan memperhatikan :
Kebutuhan Informasi (The Information Need), Rencana Managemen Informasi (The
Information Management Plan), Proses Evaluasi dan Analisis (The Analysis and
Evaluation Process), Informasi sebagai Kekuatan Pencegahan (Information as a
Force for Deterrence) dan Karakteristik Data/Bankdata/Database (Data Warehouse
Characteristics).
b. Asymmetric Warfare, dengan pengertian seperti yang dikutip dari Wikipedia,
bahwa Asymmetric Warfare is a term that describe a military situation in which two
belligerent of unequal power or capacity of action, interact and take advantage of
strengths and weaknesses of themselves and their enemies. This interaction often
involves strategies and tactics outside the bounds of conventional warfare. Dengan
demikian maka seperti yang dijelaskan sebelumnya bahwa Asymmetric Warfare
terjadi karena situasi dan kondisi serta kemampuan yang berbeda, sedangkan
tuntutan dan kepentingannya sama untuk melemahkan kekuatan atau mengalahkan
lawan. Sehingga munculah metoda atau cara-cara walau tidak selalu baru dengan
memanfaatkan segala daya dan upaya serta kemampuan yang dimiliki. Dalam
Seperti telah dijelaskan sebelumnya Asymetric Warfare merupakan peperangan
yang tidak memiliki garis batas yang jelas dan tidak dapat ditentukan siapa yang
menang dan siapa yang kalah, namun yang pasti akan menimbulkan kerugian dan
korban yang tidak tentu siapa yang menjadi korbannya. Sesungguhnya Asymetric
Warfare merupakan metode peperangan yang dikenal sejak lama, mungkin
munculnya bersamaan dengan terjadinya perang itu sendiri, namun cara-cara itu
saat ini dilengkapi dengan berbagai fasilitas dan peralatan canggih yang
berkembang sejalan dengan perkembangan teknologi termasuk teknologi informasi.
Sehingga karakteristik, bentuk dan dimensi Asymetric Warfare juga berkembang
menjadi lebih luas dan kompleks dan mencakup hampir seluruh aspek kehidupan
manusia, maka tidaklah berlebihan apabila Asymetric Warfare merupakan ancaman
dan tantangan diabad ini.

c. Network Centric Warfare (NCW), prinsip dasar yang digunakan dalam konsep
Network Centic Warefare, adalah sbb :
1) Robustly Networked Force improves Information Sharing and Collaboration,
dengan demikian maka kegiatan awal perlu merencanakan, membangun dan
mengembangkan jaringan sesuai dengan tuntutan kebutuhan operasional
system, sehingga memiliki kekuatan yang akan meningkatkan kemampuan
sharing informasi dan kerja sama informasi/kolaborasi.
2) Information Sharing and Collaboration enhances Quality of Information and
Shared Situational Awareness, setelah kemampuan jaringan dapat
meningkatkan kemampuan sharing Informasi dan kerjasama informasi/kolaborasi
maka kemampuan tersebut akan meningkatkan Kualitas Informasi yang dapat
membangkitkan Kesadaran Sharing Situasi.
3) Quality of Information enables New Processes, Shared Situational Awareness
enables Self Synchronization. Kualitas Informasi memungkinkan terjadinya
Proses dan cara-cara baru, sedangkan Kesadaran Sharing Situasi sangat
memungkinkan untuk mewujudkan Sinkronisasi Diri.
4) These, in turn, dramatically increased Mission Effectiveness, dan, pada
gilirannya akan meningkatkan efektivitas misi secara dramatis.
Berdasarkan pernyataan Getting the right information to only the right people, at the
right place and time, in a useable format, with clear and unambiguous meaning, in
joint and in coalition of forces. Dengan pengertian Memperoleh informasi yang
benar hanya untuk orang-orang yang benar, pada sasaran dan waktu yang tepat,
dalam suatu format yang dapat digunakan, secara jelas dengan arti yang tidak
meragukan, dalam satuan gabungan dan kekuatan koalisi, maka secara sederhana
dapat diartikan, sbb :
1) Bagaimana memperoleh informasi yang benar, agar dapat menghasilkan
kualitas informasi yang diharapkan, merupakan tugas dan tanggung jawab
information domain (Pembina Fungsi Sistem Informasi)?
Dapatkan data yang benar.
Bangun dan kembangkan system aplikasi dengan proses pengolahan
data yang sesuai dengan kegiatan dan manajemen fungsi ybs.
Penyajian informasi pada sasaran dan waktu yang tepat, dalam suatu
format yang dapat digunakan, secara jelas dengan arti yang tidak
meragukan.
Bangun infrastruktur dan wujudkan Kekuatan Jaringan yang diperlukan
sesuai kebutuan operasional sistem.
Laksanakan sharing informasi melalui fasilitas jaringan yang dimiliki
hingga dapat mewujudkan keunggulan informasi.
2) Bagaimana menyiapkan orang-orang yang benar, yaitu para personel yang
memenuhi persyaratan kemampuan tertentu serta memiliki Profesionalisme,
Motivasi, Dedikasi dan Loyalitas yang dipersyaratkan oleh Cognitive and Social
Domain (Pembina Fungsi Personel).
3) Bagaimana menyiapkan personel pengguna sistem dan informasi yang
memiliki kesadaran sharing situasi dapat memanfaatkan keunggulan dan kualitas
informasi dengan berbagai proses dan cara-cara baru, sehingga terwujudnya
9

Sinkronisasi yang merupakan implementasi pekerjaan dalam Physical Domain


dengan hasil yang Optimal, sehingga mampu menghasilkan Misi yang Effektif,
dalam satuan gabungan dan dalam kekuatan koalisi, merupakan tugas Physical
Domain (Pembina Korps/Kejuruan dan Profesi).
d. C4ISR/K4IPP dan DeKeNiTeTiKo, merupakan konsep kegiatan dan
kemampuan yang sangat penting dalam sistem pertahanan negara, merupakan
suatu proses pengambilan keputusan yang berdasarkan pada pengumpulan dan
pengolahan data serta pemanfaatan informasi lingkungan strategis. Kemampuan
tersebut sangat diperlukan dalam kegiatan komando dan pengendalian, mengingat
sangat luas dan kompleknya permasalahan yang dihadapkan pada keterbatasan
waktu yang diperlukan dalam menyelesaikan berbagai permasalahan, sehinga
kecepatan dan ketepatan menjadi faktor yang sangat menentukan.
1) C4ISR/K4IPP adalah singkatan dari Command (Komando), Control (Kendali),
Communication (Komunikasi), Computer (Komputer), Intelligent (Intelijen),
Surveillance (Pengamatan), Reconnaissance (Pengintaian). C4ISR merupakan
sistem dari sistem operasi pertahanan yang menyediakan kemampuan informasi
untuk mendukung kepentingan pemimpin dalam proses pengambil keputusan,
yang terdiri dari serangkaian proses dan kegiatan monitoring, pengamatan dan
pengintaian serta komunikasi dan kerjasama informasi tentang situasi dan
kondisi yang relevan, sebagai hasil dari kegiatan pengumpulan dan proses
pengolahan data melalui komputer berikut fasilitas dan peralatan pendukung
lainnya dalam rangka mendukung proses pengambilan keputusan untuk
menentukan tindakan yang tepat terhadap suatu obyek atau kejadian tertentu
serta penyelenggaraan Komando dan Kendali.
2) DeKeNiTeTiKo, adalah singkatan dari Deteksi, Kenali, Nilai, Teruskan,
Tindakan dan Komando, yang merupakan konsep dasar dalam sistem operasi
pertahanan laut dan diimplementasikan pada kegiatan Pusat Informasi Tempur
(PIT) dan Pusat Komando dan Pengendalian (Puskodal). Konsep Dekenitetiko
merupakan konsep lokal TNI Angkatan Laut yang dicetuskan dan dikembangkan
berdasarkan tuntutan kebutuhan nyata dalam operasi laut, sehingga rangkaian
kegiatannya menandakan seluruh aktivitas yang perlu dilakukan dalam kegiatan
komando dan pengendalian operasi matra laut. Dekenitetiko merupakan
rangkaian proses dan kegiatan Deteksi, Kenali, Nilai, Teruskan, Tindakan dan
Komando terhadap suatu obyek atau kejadian tertentu. Menyediakan informasi
untuk kepentingan pemimpin, sebagai hasil proses pengumpulan dan
pengolahan data berdasarkan hasil kegiatan deteksi melalui kegiatan monitoring,
pengamatan dan pengintaian yang dilakukan secara manual, optis dan
elektronis, mengenai situasi dan kondisi yang relevan, untuk dapat mengenali
dan menilai suatu obyek atau kejadian tertentu dalam rangka mendukung proses
pengambilan keputusan untuk menentukan tindakan yang tepat serta melakukan
komunikasi dan kerjasama informasi untuk meneruskan informasi dan berita
dalam menyelenggarakan Komando dan Kendali.

10

e. Perbandingan Konsep C4ISR/K4IPP dengan DeKeNiTeTiKo, secara global


dapat ditinjau dari berbagai aspek diantaranya, adalah sbb :
1) Kesamaan (Equality), apabila dilihat dari jenis kegiatannya keduanya memiliki
konsep yang senada dalam kegiatan operasi, komando dan pengendalian,
walaupun masing-masing kegiatannya tidak betul-betul sama namun ada
kesesuaian (identik).
2) Kebanggaan (Pride), karena C4ISR merupakan konsep dari luar negeri yang
sampai saat ini terus berkembang dari C3, C3I, C4I dan C4ISR dan saat ini akan
mengarah menjadi C5ISR, sedangkan Dekenitetiko merupakan konsep lokal TNI
Angkatan Laut yang telah lama digunakan dalam kegiatan operasi laut sejak
sebelum tahun 1980an, namun akhir-akhir ini dirasakan kurang populer malah
cenderung dilupakan,
3) Konsistensi (Consistency), pada konsep C4ISR tidak semua aspeknya terdiri
dari kata kerja, namun ada yang menggunakan kata benda yaitu Computer
selain itu juga urutannya tidak beraturan, sedangkan pada konsep Dekenitetiko
selain seluruh aspek kegiatannya merupakan kata kerja, tahapan kegiatannya
juga lebih tersusun yang memang merupakan tahapan dalam kegiatan operasi,
komando dan pengendalian, kecuali aspek Tindakan.
4) Keutuhan (Perfection), karena konsep Dekenitetiko direncanakan secara utuh
dan bersifat menyeluruh (totally planning of concept), sejak semula telah
mencanangkan kegiatan Deteksi sebagai kegiatan awal yang sangat
diutamakan dan sangat perlu untuk dilakukan, sedangkan pada konsep C4ISR
kegiatan deteksi yang identik dengan kegiatan Pengamatan (Surveillance) dan
Pengintaian (Reconnaissance) baru muncul kemudian, karena sebelumnya
konsep tersebut populer dengan istilah C3I atau K3I.
5) Lengkap (Complete), apabila ditelaah lebih dalam konsep Dekenitetiko
memiliki kegiatan yang lebih lengkap karena memiliki aspek Tindakan
sedangkan pada konsep C4ISR tidak memiliki aspek kegiatan yang identik
dengan tindakan.
6) Fleksibel (Flexible), karena konsep Dekenitetiko diwujudkan melalui proses
perencanaan yang utuh dan menyeluruh, sehingga memiliki daya penyesuaian
yang tinggi. Sebagai ilustrasi pada konsep C4ISR akan muncul C ke lima yang
fungsinya identik dengan aspek Tindakan dalam konsep Dekenitetiko yang
sampai saat ini tidak pernah mengalami perubahan atau perkembangan konsep
secara significant.
7) Pemanfatan (Exploiting), mayoritas negara-negara didunia banyak
menggunakan konsep C4ISR, karena mereka tidak memiliki konsep
Dekenitetiko. Aspek Intelijen yang merupakan bagian yang tidak terpisahkan
dalam konsep C4ISR, sehingga masuk dan terintegrasi dalam konsep dan
kemampuan sistem operasi, komando dan pengendalian. Sedangkan dalam
11

konsep Dekenitetiko tidak dijelaskan, karena bisa saja intelijen tersebut masuk
dalam sistem komando dan pengendalian atau kegiatan intelijen terpisah dan
langsung kepada Pimpinan. Untuk menentukannya perlu diskusi dan bahasan
lanjut tentang hubungan antara Intelijen, Puskodal dan unsur Pimpinan.
f. Tugas Puskodal dilingkungan TNI Angkatan Laut, yang memiliki tingkatan
Komando dan Kendali Strategis, Taktis dan Teknis Operasional, dalam hal ini
sebagai contoh adalah tugas pokok Puskodal TNI AL yang bersifat strategis,
diantaranya memiliki tugas sbb :
1) Tugas Komando dan Kendali (Kodal), menyelenggarakan komando dan
pengendalian terhadap operasi dilingkungan TNI AL, mengumpulkan, menilai
dan mengolah data serta menyajikan informasi yang meliputi tentang :
Kegiatan operasi dan latihan.
Kondisi kemantapan dan kesiapsiagaan operasional serta komposisi
kekuatan Sistem Senjata Armada Terpadu (SSAT).
Kekuatan Armada Laut TNI non TNI AL.
Potensi Kekuatan Armada Laut non TNI.
Potensi Kemampuan Industri Jasa Maritim.
Kegiatan TNI AL selain perang.
2) Melaksanakan koordinasi dengan Pusdalops TNI dan Puskodal Angkatan dan
Polri, tentang berbagai jenis data dan informasi operasi.
3) Melaksanakan pengawasan dan pengendalian terhadap penyelenggaraan
Puskodal Kotama Operasi TNI AL.
4) Menyiapkan keperluan operasi dan mengatur kesiagaan Puskodal Mabesal.
5) Menyusun berbagai buku petunjuk (Bujuk) dibidang informasi operasi dan
latihan TNI AL.
6) Dalam keadaan darurat dapat ditugaskan sebagai salah satu alternatif
cadangan pengganti Pusdalops TNI.
g. Konsep Dasar dan Kemampuan Sistem Informasi Puskodal TNI-AL ,
merupakan gabungan dari kedua konsep tersebut yang menjabarkan kegiatan dan
memanfaatkan kemampuan C4ISR dan konsep Dekenitetiko, khususnya
kemampuan fasilitas dan kegiatan, sbb :
1) Komando dan Kendali (Command and Control), merupakan kemampuan
sistem dalam mendukung aktivitas penyampaian instruksi/perintah berisi
kegiatan atau arahan yang harus dilaksanakan, dari pimpinan yang berwenang
kepada seluruh unsur/satuan operasi yang terkait dan berada dalam tugas dan
tanggung jawab serta kewenangannya, secara lisan (voice) atau tulisan, baik
langsung maupun tidak langsung, untuk melakukan tindakan, penugasan atau
kegiatan lain dalam mengatasi atau mengantisipasi suatu permasalahan atau
kejadian tertentu, dengan menggunakan fasilitas komunikasi yang tersedia
berupa radio, telepon, jaringan komputer atau fasilitas lain yang dimiliki.
2) Komunikasi (Communication), merupakan kemampuan sistem dalam
mendukung aktivitas penyampaian data atau informasi multi media dari suatu
12

tempat ketempat lain, secara langsung atau berjenjang sesuai dengan


kebutuhan dan kemampuan.
3) Komputer (Computer), merupakan kemampuan sistem dalam mendukung
kebutuhan data atau informasi melalui proses pengumpulan dan pengolahan
data serta penyajian informasi multi media, untuk berbagai kepentingan dalam
mendukung seluruh kegiatan komando dan pengendalian.
4) Intelijen (Inteligent), merupakan kemampuan sistem dalam mendukung
pengumpulan data, evaluasi dan analisis informasi sebagai hasil kegiatan
intelijen yang meliputi penyelidikan, pengamanan dan penggalangan.
5) Pengamatan dan Pengintaian (Surveilance and Recognation), merupakan
kemampuan sistem dalam mendukung dan melakukan kegiatan deteksi,
terhadap suatu unsur, target atau obyek serta kejadian tertentu dilaut, agar dapat
diketahui secara dini dan dimonitor sepanjang waktu yang diperlukan, dengan
menggunakan fasilitas dan peralatan yang dimiliki.
Kemampuan fasilitas dan peralatan serta keunggulan informasi yang dimiliki dan
dihasilkan oleh sistem yang menganut konsep C4ISR tersebut, khususnya
kemampuan komunikasi, komputer, intelijen, pengamatan dan pengintaian secara
terpadu dan optimal digunakan untuk melakukan kegiatan Pendeteksian,
Pengenalan, Penilaian terhadap obyek/target atau kejadian tertentu sebagai
masukan dalam rangka proses pengambilan keputusan untuk dapat menentukan
tindakan yang perlu dilakukan. Kegiatan lanjut adalah meneruskan atau melakukan
komunikasi dengan menggunakan fasilitas yang dimiliki sesuai dengan kepentingan
dan kebutuhan operasional, dalam hal ini adalah meneruskan data, informasi atau
perintah untuk melakukan tindakan yang berupa komando dan kendali untuk satuan
bawah. Kegiatan rinci tentang bagaimana dan siapa yang melakukan deteksi,
mengenali, menilai, meneruskan, melakukan tindakan dan memberikan komando
akan dijelaskan kemudian.
3. Ancaman dan Tantangan.
a. Ancaman, karakteristik ancaman potential diabad 21 menurut berbagai pakar
dan diantaranya adalah William R. Shilling menyimpulkan seperti apa yang ia
sampaikan dalam konsep Non Traditional Warfare dan Asymetric Warfare,
diantaranya adalah Senjata Penghancur Masa (Weapons of Mass Destructions),
Peperangan Elektronic (Electronic Warfare), Peperangan Komputer (Computer
Warefare), Peperangan Ranjau (Mine Warfare), Urbanisasi dan Perang Gerilya
(Urban and Guerilla Wrfare) dan Terorisme (Terrorism). Dalam tulisan ini yang kami
bahas adalah ancaman terjadinya Computer Warfare yang sering disebut juga
sebagai Cyber Warfare karena fasilitas yang digunakan menggunakan fasilitas
teknologi informasi computer dan jaringan. Kegiatan tersebut merupakan bagian dari
kegiatan Non traditional Warfare dan Asymmetric Warfare yang diimplemantasikan
dan diidentifikasikan sebagai peperangan generasi keempat (Fourt Generation
Warfare/4thGW), karena perang bisa terjadi dimana saja, kapan saja, dalam dimensi
13

dan media apa saja. Sehingga 4thGW memiliki ciri-ciri seperti : tidak jelasnya
perbedaan antara perang dengan konflik politik, tidak dapat dibedakan masa perang
dan damai, karena dapat dilakukan kapan saja serta tidak terbatasnya pelaku
maupun wilayah konflik, karena dapat dilakukan oleh sipil maupun militer dan tidak
menentukan wilayah perang. 4thGW merupakan peperangan psikologis yang sangat
canggih dengan memanfaatkan teknologi tinggi khususnya teknologi informasi
terutama pemanfaatan dan manipulasi media dengan melakukan serangan
langsung terhadap budaya. Sehingga dampak peperangan ini mayoritas bersifat
psikhologis yang diarahkan untuk melemahkan mental dan moral, walaupun tidak
jarang digunakan untuk menghancurkan atau melumpuhkan kemampuan fasilitas
dan peralatan, sarana dan prasarana yang digunakan dalam menyelenggarakan
cyber warfare.
Menurut Michael D. Mcdonnell dan Terry L. Sayers ancaman potensial yang
mungkin dihadapi pada abad 21 ini, diantaranya adalah :
1) Ancaman Perangkat Lunak (The Software Threat), yang terdiri dari :
Pencurian Informasi (Information Theft)
Perusakan Informasi/Sistem (Information/System Destruction)
Manipulasi Informasi (Information Corruption)
2) Ancaman Perangkat Keras (The Hardware Threat), yang merupakan
Gangguan terhadap Jaringan dan Perangkat Keras (Jamming and
Network Intrusion).
b. Tantangan, dalam menghadapi ancaman tersebut maka dibutuhkan
kemampuan untuk membangun operasi militer masa depan yang diselenggarakan
berdasarkan kondisi peperangan informasi (Future Military Operations under
Information Warfare Conditions) dan dalam waktu singkat dapat melakukan tindakan
balasan (Countermeasures). Kondisi tersebut diwujudkan dalam bentuk kemampuan
pertahanan dan keamanan sistem dalam menghadapi ancaman NTW dan Asymetric
Warfare serta, berupa kemampuan pertahanan Perangkat Lunak (Software
Defenses) dan kemampuan pertahanan Perangkat Keras (Hardware Defenses).
Oleh karena itu maka untuk mengantisipasi dan mengatasi terjadinya ancaman
tersebut, maka pembinaan sistem informasi dituntut untuk mampu mewujudkan
kekuatan dan kemampuan dunia maya (Cyber Power) serta dapat menciptakan
superiority informasi dalam rangka mendapatkan competeitive advantage dalam
pelaksanaan tugas, dengan cara meningkatkan kemampuan :
1) Sumber Daya Manusia, dalam rangka mewujudkan kemampuan pembinaan
sistem informasi, prilaku dan budaya informasi serta mengoptimalkan fungsi,
peran dan pemanfaatan Teknologi Informasi dalam pelaksanaan tugas.
2) Infrastruktur TI, dalam rangka menjamin kebutuhan operasional sistem
informasi pertahanan negara matra laut serta mewujudkan kemampuan
ketahanan dan keamanan sistem secara menyeluruh.
3) Sistem Aplikasi dan Database, dalam rangka menjamin ketersediaan data
dan informasi untuk memenuhi kebutuhan informasi dalam meningkatkan
kualitas pelaksanaan tugas.
4) Sistem dan Metoda, dalam rangka menjamin keyakinan, kepastian dan
kebenaran serta kelancaran terhadap arah dan misi serta fungsi, peran dan
14

manfaat sejak perencanaan, pelaksanaan, pembangunan, pengoperasian,


pemeliharaan, pengembangan serta kelangsungan pembinaan sistem informasi.
5) Sistem Pendukung, dalam rangka mendukung kelangsungan dan kelancaran
penyelenggaraan pembinaan sistem informasi.
4. Implementasi.
Untuk menyiapkan kemampuan dalam rangka menghadapi Non Traditional Warfare
atau Asymmetric Warfare khususnya ancaman dalam bentuk Cyber Warfare, harus
dimulai dari penyusunan konsep atau formulasi secara umum yang bersifat nasional.
Mengingat ancaman tersebut bukanlah permasalahan sektoral namun terkait erat
dengan berbagai kebijakan dan kebutuhan infrastruktur yang bersifat nasional yang
kemudian secara berjenjang dijabarkan sesuai dengan tugas dan tanggung jawab
masing-masing. Setiap ancaman yang mungkin terjadi diabad 21 ini perlu diantisipasi
dan dihadapi dengan caranya sendiri-sendiri, misalnya untuk menghadapi ancaman
senjata penghancur masal berbeda dengan menghadapi peperangan elektronik atau
peperangan dunia maya, namun propokasi dan permasalahan senjata penghancur
massal dapat dilakukan melalui peperangan informasi yang dilakukan dalam
peperangan dunia maya. Sebagai contoh untuk merespon peperangan elektronik perlu
kegiatan yang ditujukan untuk memproteksi dan mengamankan setiap unit peralatan
kritis yang mungkin terkena sasaran tsb, mengkonter ancaman terhadap seluruh
peralatan (Electronic Counter Measure/ECM), menyaring kekuatan energi langsung
yang diarahkan serta menggunakan berbagai metoda dan peralatan untuk mendukung
kegiatan C4ISR. Namun dalam kegiatan peperangan informasi dalam dunia maya bias
mencakup seluruh aspek yang dipermasalahkan dengan cara-cara tersendiri.
a. Tugas TNI Angkatan Laut, yang terdiri dari Operasi Militer untuk Perang (OMP)
dan Operasi Militer Selain Perang (OMSP), dikutip dari materi rapat koordinasi
operasi 2008, diantaranya adalah :
1) Operasi Militer untuk Perang (OMP), terdiri dari :
a) Operasi Penangkalan.
Operasi Intelijen Maritim.
Operasi Pengamanan Perbatasan Laut.
Operasi Pengamanan Pulau-pulau terluar.
Operasi Selat Malaka (Malaca Starit Ship Patrol/MSSP)
b) Operasi Penindakan.
Operasi Tempur Laut Barat dan Timur.
2) Operasi Militer Selain Perang (OMSP), terdiri dari :
a) Operasi Penangkalan.
Operasi Intelijen Maritim.
Operasi Patroli Koordinasi.
Operasi Pengamanan Obyek Vital Nasional.
Operasi Pengamanan Navigasi Pelayaran.
Operasi Angkutan Laut Militer (Anglamil).
b) Operasi Penindakan.
Operasi Intelijen Maritim.
15

Operasi Penanggulangan Terorisme.


Operasi Mengatasi Gerakan Sparatisme Bersenjata.
Operasi Mengatasi Konflik Komunal.
Operasi Perdamaian Dunia
Operasi Pengamanan VVIP.
Operasi Bantuan penanggulangan Bencana dan Bantuan SAR.
Operasi Pengamanan Pelayaran dan Penerbangan.
Operasi Bantuan kepada Pemerintah Pusat dan Daerah.
Operasi Mengantisipasi Pemilu.
Operasi POM TNI
Operasi lain atas keputusan Presiden.

c) Operasi Lain-lain.
Operasi Survei Hidro Oceanografi.
Operasi Surya Baskara Jaya (SBJ).
Operasi lain-lain.
b. Visi, Misi dan Motto pembinaan sistem informasi TNI Angkatan Laut,
berdasarkan fungsi, peran dan manfaat sistem informasi sebagai pendukung, mitra
dan media dalam rangka mengoptimalkan pelaksanaan tugas TNI Angkatan Laut,
maka Visi dan Misi serta Motto pembinaan sistem informasi TNI Angkatan Laut
adalah sbb :
1) Visi : Teknologi Informasi sebagai media dan alat strategis dalam
mendukung pencapaian tugas, tujuan dan sasaran TNI Angkatan Laut.
2) Misi :
a) Mewujudkan sistem informasi terpadu dalam rangka mempercepat proses
pengambilan keputusan serta mengoptimalkan kualitas pelaksanaan tugas
TNI Angkatan Laut.
b) Menyediakan fasilitas, sarana dan prasarana berbasis teknologi informasi
dalam rangka meningkatkan efektifitas dan efisiensi koordinasi dan
kerjasama, sehingga dapat memberikan nilai tambah bagi organisasi TNI
Angkatan Laut.
c) Membangun teknologi informasi TNI Angkatan Laut yang dapat
diandalkan serta melakukan sharing dan kerjasama informasi, dalam rangka
mewujudkan kualitas dan kemampuan informasi TNI Angkatan Laut yang
diharapkan.
d) Ikut serta membangun dan mengembangkan SDM TNI Angkatan Laut
agar memiliki wawasan, prilaku dan budaya teknologi informasi dalam rangka
mendukung pelaksanaan tugasnya.
16

3) Motto : Solusi dan Inovasi.


c. Pola Umum Pembinaan.
1) Fungsi, pembinaan sistem informasi TNI Angkatan Laut, dalam rangka
mewujudkan system informasi pertahanan negara matra laut, diantaranya
berfungsi sebagai :
a) Koordinator, mengkoordinir kegiatan yang terkait dengan teknologi
informasi dan pengolahan data menggunakan fasilitas computer.
b) Fasilitator, menyediakan informasi, fasilitas, sarana dan prasarana yang
berbasis teknologi informasi dalam rangka mendukung pelaksanaan tugas.
c) Operator, mengoperasikan, memelihara dan mengembangkan sistem
informasi untuk menjamin kelangsungan operasional sistem.
d) Dinamisator, melakukan pembinaan terhadap sistem informasi TNI AL
dalam rangka mewujudkan keunggulan informasi (information superiority).
2) Kegiatan, pembinaan sistem informasi TNI Angkatan Laut, meliputi :
a) Perencanaan, menyusun rencana pembinaan sistem informasi TNI AL,
yang meliputi Perencanaan Jangka Pendek, Jangka Sedang dan Jangka
Panjang serta Grand Design.
b) Pengorganisasian, mengelola organisasi keinfolahtaan diseluruh jajaran
TNI AL dalam rangka mendukung optimalisasi penyelenggaraan pembinaan
system informasi TNI AL.
c) Pelaksanaan, menyelenggarakan Pembangunan, Pengoperasian,
Pemeliharaan dan Pengembangan system informasi TNI AL mencakup
seluruh aspek pembinaan berdasarkan perencanaan, prioritas kepentingan
dan kemampuan sumber daya yang dimiliki.
d) Pengawasan dan Pengendalian, terhadap seluruh aspek pembinaan
sistem informasi agar penyelenggaraan pembinaan system informasi TNI AL
dapat berjalan dengan baik sesuai dengan rencana.
3) Aspek, pembinaan sistem informasi TNI Angkatan Laut, meliputi :
a) Infrastruktur, merupakan fasilitas, sarana dan prasarana serta peralatan
lainnya yang menjamin beroperasinya system informasi TNI AL sesuai
dengan yang diharapkan, meliputi perangkat keras (hardware), perangkat
lunak sistem (software system) dan jarring komunikasi data (data
communication network)
b) Sistem Aplikasi, perangkat lunak aplikasi yang dirancang sedemikian rupa
sesuai dengan tuntutan dan kebutuhan informasi yang diperlukan, mencakup
seluruh fungsi pembinaan TNI AL.
c) Brainware, merupakan kekuatan dan kemampuan sumber daya manusia
baik pembina maupun pengguna sistem informasi.
d) Sistem dan Metoda, merupakan aturan dan ketentuan yang mengatur
mekanisme dan prosedur pembinaan sistem informasi TNI AL, serta
kebijakan lain baik secara langsung maupun tidak langsung berpengaruh
terhadap pembinaan system informasi TNI AL.
e) Pendukung, merupakan fasilitas dan peralatan, sarana dan prasarana
yang mendukung operasional system informasi TNI AL.
17

4) Wujud, berupa Sistem Informasi Terpadu TNI Angkatan Laut terdiri dari
sistem informasi yang disiapkan untuk mendukung penggunaan kekuatan
(Gunkuat) atau kegiatan pelaksanaan tugas Operasi dan Latihan disebut Sistem
Informasi Lingkungan Operasi (Silingops) dan sistem informasi untuk
mendukung kepentingan pembinaan kekuatan (Binkuat) yang meliputi sistem
informasi Logistic (Silog), sistem informasi Personel (Sipers), sistem informasi
Perencanaan Anggaran dan Keuangan (Sirengarku), sistem informasi Khusus
(Sikhus). Sistem informasi yang dibangun dan dikembangkan untuk mendukung
informasi pada seluruh tingkat kegiatan baik Strategis, Taktis maupun Teknis.
5) Tujuan, menjamin ketersediaan Sistem dan Informasi, Fasilitas, Perangkat
dan Peralatan, Sarana dan Prasarana dengan mengutamakan Otomatisasi dan
Kemudahan serta berbagai kemampuan lain, diimplementasikan dalam sistem
informasi terpadu, yang diharapkan dapat mengoptimalkan pelaksanaan tugas
TNI Angkatan Laut dalam kegiatan OMP dan OMSP, baik dimasa damai, krisis
maupun konflik.
d. Sumber Daya Informasi (Information Resources), merupakan faktor yang
sangat menentukan terhadap keberhasilan pembinaan sistem informasi TNI
Angkatan Laut. Sehingga dalam penyelenggaraannya perlu kebijakan serta
pemahaman yang lebih mendalam tentang optimalisasi sumber daya dan dilakukan
dengan cara-cara baru yang dapat mensinergikan seluruh kemampuan sumber
daya informasi nasional secara optimal. Sumber daya informasi yang disajikan
adalah kondisi sumber daya saat ini dan yang memiliki potensi perkembangan
dimasa mendatang, diantaranya, bidang :
1) Infrastruktur, yang mencakup perangkat keras, perangkat lunak system dan
jarring komunikasi data berikut fasilitas komunikasinya merupakan aspek yang
menentukan dalam mewujudkan keberhasilan sistem dalam rangka mewujudkan
keunggulan informasi melalui proses dan pengiriman informasi secara cepat,
tepat, akurat dan aman. Sumber daya infrastruktur yang dimiliki saat ini masih
sangat terbatas, belum menjangkau Satker terendah dan belum terintegrasi
secara menyeluruh, Virtual Private Network-Internet Protocol (VPN-IP) TNI
Angkatan Laut baru terintegrasi sampai tingkat Komando Utama (Kotama) dan
Pangkalan Utama (Lantamal). Mengingat besar dan luasnya infrastruktur yang
diperlukan, maka dalam membangun dan mengembangkan infrastruktur sistem
informasi pertahanan negara diperlukan kerjasama antar Departemen dan
Instansi terkait secara proporsional berdasarkan kewenangan, tugas dan
tanggung jawab serta kemampuannya masing-masing. Seperti yang telah
direncanakan oleh Departemen Pertahanan (Dephan), pengembangan
infrastruktur sampai tingkat Lanal akan dilaksanakan pada tahun ini 2009. Selain
itu sangat penting untuk diupayakan agar sedapat mungkin jaringan memiliki
kemampuan pertahanan dan keamanan sistem yang handal, sehingga mampu
mencegah dan menangkal berbagai ancaman cyber.
2) Sistem Aplikasi, yang dimiliki saat ini masih sangat terbatas pada system
aplikasi yang diperuntukan untuk mendukung pelaksanaan tugas pembinaan
18

kekuatan dan kemampuan, sedangkan untuk mendukung kegiatan operasi dan


latihan masih dirasakan sangat kurang. Dalam rangka pembangunan dan
pengembangan system aplikasi menuntut inovasi yang tinggi khususnya tentang
pola dan metoda integrasi sistem aplikasi, mengingat saat ini tuntutan integrasi
menjadi sesuatu yang sangat diperlukan untuk mewujudkan kemampuan sistem
dan keunggulan informasi. Oleh karena itu diperlukan metoda perencanaan,
pembangunan dan pengembangan sistem yang dapat mengintegrasikan
berbagai modul sistem aplikasi dalam satu kesatuan system, seperti kemampuan
yang dimiliki dalam Service Oriented Architecture (SOA). Sehingga dapat
menjamin dan mewujudkan kualitas informasi sesuai dengan yang diharapkan
dalam mendukung pelaksanaan tugas.
3) Brainware, yang dimiliki saat ini masih sangat kurang baik secara kuantitas
maupun kualitas. Brainware merupakan faktor yang sangat menentukan dalam
mencapai keberhasilan pembangunan dan pengembangan sistem informasi,
karena manusia merupakan factor yang sangat menentukan keberhasilan pada
setiap aspek pembinaan sejak perencanaan, pelaksanaan, pengoperasian,
pemeliharaan dan pengembangan, baik bertindak sebagai Pembina maupun
Pengguna sistem informasi. Oleh karena itu maka tuntutan kemampuan profesi
dan kompetensi dalam bidang teknologi informasi menjadi sangat mengemuka.
4) Sistem dan Metoda, berupa aturan dan ketentuan serta kebijakan yang dapat
menjamin kelancaran dan kelangsungan pembangunan, pengoperasian dan
pengembangan sistem informasi secara optimal. Kondisi saat ini dirasakan
masih sangat kurang terutama kebijakan yang bersifat pedoman dalam rangka
pembangunan dan pengembangan system termasuk grand design pembinaan
system informasi pertahanan Negara belum dimiliki. Sehingga perencanaan
pembinaan system informasi masing-masing matra seolah-olah berjalan sendirisendiri dan tidak terarah. Kebijakan tentang pembinaan sistem informasi harus
sejalan dengan perkembangan teknologi informasi dan mencakup kebijakan
nasional dalam mengoptimalkan pemanfaatan produk dalam negeri.
e. Lingkungan Informasi (Information Environment), yang sangat berpengaruh
terhadap pembinaan sistem informasi dilingkungan TNI Angkatan Laut, secara
umum dapat dikelompokan secara :
1) Internal, yang terdiri dari :
Animo Pengguna Sistem Informasi, saat ini dirasakan sudah cukup baik,
walaupun belum didukung oleh prilaku dan budaya informasi yang kondusif,
serta tindakan yang konsisten dan konsekuen dalam memanfaatkan fasilitas
teknologi informasi.
Prioritas pembangunan dan pengembangan sistem informasi masih
dirasakan rendah, sehingga dukungan sumber daya khususnya sumber daya
manusia (SDM) dan anggaran pembinaan masih sangat rendah.
Pembangunan dan pengembangan sistem informasi dilingkungan TNI AL
relative masih belum mengarah pada kebutuhan dan kepentingan operasi
baik secara teknis, taktis maupun strategis. Pembangunan dan
19

pengembangannya masih mengarah pada pemenuhan informasi untuk


mendukung kegiatan manajemen pembinaan kekuatan pertahanan seperti
sistem informasi bidang logistik, personel, anggaran dan keuangan serta
sistem informasi lainnya.
Walaupun di TNI Angkatan Laut telah membangun sistem informasi
Puskodal dan Integrated Maritim Surveilance System (IMSS), namun saat ini
pengoperasiannya masih belum optimal, belum beroperasi sesuai dengan
yang diharapkan, terlebih IMSS sampai saat ini masih belum selesai dan
belum diserahkan dari pihak pengembang.
2) Eksternal, yang meliputi kegiatan pembangunan dan pengoperasian sistem
informasi diluar TNI Angkatan Laut, adalah sbb :
Nasional, pembangunan dan pengembangan sistem informasi
dilingkungan Dephan, Mabes TNI dan Angkatan lain serta Instansi dan
Departemen lain yang terkait dengan kegiatan pertahanan negara, baik
pemerintah maupun swasta sampai saat ini masih belum menggembirakan,
karena belum ada yang mengarah pada kepentingan operasi.
Regional, pembangunan dan pengembangan serta pengoperasian NCO
dilingkungan negara-negara tetangga relative masih rendah, namun saat ini
Malaysia telah berhasil membangun beberapa station radar yang
kemampuannya identik dengan IMSS dan Singapore sedang membangun
crisis centre yang diperkirakan akan selesai dan beroperasi tahun ini. Kini
telah banyak permintaan secara formal tentang kerjasama informasi dengan
negara-negara sahabat seperti India dan Pakistan, telah disepakati pula
Memorandum of Understanding (MoU) kerjasama informasi dengan
Singapore (Surpic-2) dalam rangka mendukung kegiatan kerjasama operasi
dilaut (Indosin).
International, pembangunan dan pengembangan NCO dinegara-negara
lain, terutama dinegara-negara adidaya yang memiliki kondisi ekonomi lebih
baik, NCO telah beroperasi dengan baik dan telah banyak memberikan
manfaat dalam mencapai keberhasilan pada operasi militer, contohnya
pemanfaatan teknologi informasi yang dilakukan oleh Amerika Serikat pada
saat menyerang dan menguasai Irak, diakui bahwa teknologi informasi
sangat berperan dalam mendukung keberhasilan operasi.
c. Penerapan NCW, merupakan implementasi atau penerapan konsep NCW
kedalam suatu sistem yang bersifat operasional, berdasarkan prinsip dasar konsep
yang telah dijelaskan sebelumnya. Untuk mewujudkan keunggulan dan kemampuan
tersebut, maka penerapan NCW merupakan suatu upaya dan kegiatan
dalam membangun sistem yang melibatkan 3(tiga) domain pokok yang
terdiri dari :
1) Domain Informasi (Information Domain), domain ini merupakan
wilayah tugas dan tanggung jawab Pembina Fungsi Sistem Informasi,
yang diharapkan dapat :
a) Mewujudkan Kekuatan Jaringan (Robustly Networked Force), yaitu
dengan cara membangun suatu jaringan tertentu dengan lingkup dan
20

kemampuan tertentu sesuai tuntutan kebutuhan koordinasi dan kerjasama


informasi yang diperlukan dalam pelaksanaan tugas. Kekuatan jaringan
tersebut akan sangat dipengaruhi oleh kualitas dan kemampuan aspek
jaringan, meliputi tentang :
Lingkup dan Jarak Jangkau, yang dapat mencapai seluruh titik unsur
operasi terkait baik yang bersifat statis maupun dinamis (mobile), sesuai
dengan kebutuhan pelaksanaan tugas.
Kualitas dan Kemampuan Komunikasi yang digunakan, diharapkan
mampu mengkomunikasikan data dan informasi secara multimedia
keseluruh titik yang terkait, secara cepat, tepat dan akurat.
Sistem Pengamanan Jaringan, yang dapat menjamin keamanan
seluruh kegiatan komunikasi data dan informasi serta memiliki
kemampuan pertahanan sistem yang dapat diandalkan.
b) Mewujudkan Kemampuan Sharing Informasi (Information Sharing)
Kemampuan Sharing Informasi sangat dipengaruhi oleh berbagai faktor
diantaranya, adalah :
Kemampuan dan Kekuatan Jaringan, seperti yang telah dijelaskan
sebelumnya.
Ketersediaan Informasi, yang sangat tergantung pada kualitas data
dan kemampuan sistem aplikasi yang dibangun dan dikembangkan dalam
rangka mendukung kepentingan tersebut.
c) Meningkatkan Kualitas Informasi (Quality of Information), perlu selalu
dilakukan dengan berbagai cara dan upaya khususnya, melalui :
Meningkatkan kualitas data, dengan cara menjamin ketersediaan dan
validitas serta selalu melakukan updating data, sehingga selalu up to date.
Meningkatkan kemampuan sistem aplikasi, sesuai dengan
perkembangan tuntutan kebutuhan informasi yang terjadi, melalui
berbagai cara pengembangan sistem, integrasi sistem serta pemanfaatan
metoda dan teknologi informasi yang berkembang.
Memberikan atau menjamin ketersediaan informasi yang
benar (the right information), yaitu informasi yang sesuai dan
relevan dengan kebutuhan dalam mendukung pelaksanaan
tugas.
d) Mewujudkan Keunggulan Informasi (Information Superiority), dimana
Keunggulan Informasi adalah suatu status yang dicapai ketika memperoleh
competitive advantage dari kemampuan memanfaatkan suatu posisi
informasi. Keunggulan informasi adalah suatu perbandingan komparatip atau
konsep relative, dimana posisi keunggulan informasi sangat berhubungan
erat dengan domain informasi lawan, secara jelas dan sangat memungkinkan
nilainya dapat diperoleh dari outcomes militer, dalam hal ini analog dengan
keunggulan udara (air superiority) atau pengendalian laut (sea control).
Sehingga sasaran yang perlu diupayakan adalah meningkatkan posisi
keunggulan informasi untuk menciptakan dan memelihara competitive
21

advantage. Agar dapat mencapai tingkat Keunggulan Informasi, maka upaya


yang perlu dilakukan diantaranya adalah meningkatkan :
Kualitas Informasi, seperti yang telah dijelaskan sebelumnya.
Kemampuan untuk mengumpulkan, memproses dan menyalurkan
informasi yang tidak terputus serta memanfaatkan dan mengkonter atau
menangkal kemampuan informasi lawan.
Menyajikan informasi dalam suatu format yang dapat digunakan,
dimengerti dan difahami secara jelas dengan arti yang tidak meragukan.
Kemampuan dan kualitas dan kecepatan, ketepatan, keakuratan dan
keamanan dalam komunikasi informasi, agar informasi dapat diterima
pada sasaran dan waktu yang tepat.
Dimanfaatkan dalam satuan gabungan atau dalam kekuatan koalisi
sesuai dengan tuntutan kebutuhan operasi dan pelaksanaan tugas.
2) Domain Teori dan Sosial (Cognitive and Social Domain), domain ini
merupakan wilayah tugas dan tanggung jawab Pembina Fungsi
Personel, yang diharapkan dapat membentuk dan menghasilkan
personel yang memiliki kemampuan untuk :
a) Mewujudkan Kolaborasi (Collaboration) antara unsur operasi termasuk
berbagai pihak yang terkait dalam kegiatan operasi. Berdasarkan pernyataan
Robustly Networked Force improves Information Sharing and Collaboration,
maka untuk meningkatkan kualitas kolaborasi, perlu dilakukan upaya
meningkatkan kekuatan jaringan seperti yang telah dijelaskan sebelumnya.
b) Mewujudkan Kesadaran Sharing Situasi (Shared Situational Awareness),
seperti yang telah dibicarakan dalam NCW, bahwa Information Sharing and
Collaboration enhances Quality of Information and Shared Situational
Awareness, oleh karena itu untuk mewujudkan Shared Situational
Awareness, maka perlu mewujudkan Kualitas Informasi, Kemampuan
Brainware, Sharing Informasi dan Kolaborasi seoptimal mungkin seperti yang
telah dibicarakan sebelumnya.
c) Menciptakan Proses Baru (New Processes), berupa Inovasi, Metoda dan
cara-cara baru sebagai solusi dalam mengantisipasi dan mengatasi
permasalahan yang dihadapi. Dalam rangka menciptakan proses baru perlu
meningkatkan kualitas Shared Situational Awareness seperti yang telah
dijelaskan sebelumnya, sedangkan Domain Informasi dapat mendukung
melalui upaya dan kegiatan, sbb :
Meningkatkan Kualitas Informasi seperti yang telah dijelaskan
sebelumnya.
Managing Emerging Technology, merupakan kegiatan dalam rangka
mengelola, memperhatikan, meneliti dan mengevaluasi fungsi dan
manfaat teknologi yang muncul, agar mendapatkan teknologi informasi
yang sesuai dengan kebutuhan organisasi dalam mendukung
pelaksanaan tugas.
22

Mengoptimalkan pemanfaatkan teknologi informasi yang diyakini dapat


mendukung dan meningkatkan fungsi dan peran manajement dan
organisasi secara optimal, melalui proses perubahan.
Merubah, menyesuaikan, memperbaiki dan menyempurnakan sistem
dan metoda yang dirasakan sudah tidak sesuai dan tidak menguntungkan
dalam mendukung optimalisasi pelaksanaan tugas.
d) Menciptakan Sinkronisasi Mandiri (Self Synchronization), sesuai prinsip
dasar NCW bahwa Shared Situational Awareness enables Self
Synchronization, dimana Kesadaran Situational Bersama memungkinkan
terciptanya Sinkronisasi Mandiri. Dengan demikian maka apabila Shared
Situational Awareness telah terwujud maka Self Synchronization akan tercipta
dengan baik.
3) Domain Phisik (Physical Domain), domain ini merupakan wilayah tugas
dan tanggung jawab Pembina Fungsi Korps dan Profesi, diharapkan
dapat membentuk dan menghasilkan personel yang terlatih memiliki
keterampilan dan kemampuan, untuk :
a) Bertugas dalam satuan operasi dan gabungan serta dalam satuan koalisi,
yang merupakan Job Implementation dalam Physical Domain dengan hasil
yang optimal.
b) Mencapai Misi secara Efektif (Mission Effectiveness), secara dramatis
dapat dicapai apabila sistem tersebut mampu mewujudkan kemampuankemampuan yang diharapkan secara optimal, baik yang dibangun dalam
domain informasi maupun domain theory dan social.
Pernyataan yang relevan dengan penerapan konsep NCW, seperti Getting the
right information to only the right people, at the right place and time, in a
useable format, with clear and unambiguous meaning, in joint and in
coalition of forces. Memperoleh informasi yang benar dan akurat, pada sasaran
dan waktu yang cepat dan tepat, dalam suatu format yang dapat digunakan, secara
jelas dengan arti yang tidak meragukan. Mengingat sebaik apapun konsep yang
diterapkan pada akhirnya akan sangat tergantung pada kualitas sumber daya
manusianya, demikian pula dengan penerapan konsep NCW menuntut konsistensi
dan konsekuensi serta kemampuan sumber daya manusia, yang diharapkan
memiliki profesionalisme yang tinggi, sehingga mampu :
1) Membangun sistem informasi yang memiliki kemampuan untuk menghasilkan
kualitas informasi melalui berbagai proses dan kegiatan sharing informasi
dengan menggunakan fasilitas dan memiliki kekuatan jaringan, hingga mampu
mencapai keunggulan informasi.
2) Mengoperasikan dan memanfaatkan system informasi sebagai mitra dan
media dalam mendukung pelaksanaan tugas. Oleh karena itu maka tuntutan
kualitas dan kemampuan personel bukan hanya kepada pembina sistem
informasi namun dituntut pula kepada pengguna sistem informasi, seperti yang
dijelaskan dalam pernyataan to only the right people, karena informasi
23

yang dihasilkan hanya diperuntukan bagi personel yang benar yaitu


personel yang berhak, memiliki tugas, tanggung jawab dan
kewenangan serta pengetahuan dan kemampuan yang sesuai atas
informasi yang diterima. Personel yang memenuhi persyaratan kemampuan
tertentu yang memiliki Profesionalisme, Motivasi, Dedikasi dan Loyalitas yang
dipersyaratkan dalam Cognitive and Social Domain.
3) Mewujudkan Kesadaran Kompetitif (Competitive Awareness), yaitu suatu
kemampuan ecosystem yang kompetitif untuk menghasilkan dan memanfaatkan
kondisi kompetitif yang merupakan suatu kesadaran kompetitif dari seseorang
dalam suatu kompetisi yang muncul sebagai kunci yang mendukung
pengambilan keputusan secara efektif dan merupakan suatu komponen yang
sangat mendasar dari competitive advantage dalam berbagai sektor kegiatan.
Diharapkan Competitive Awareness dapat mendorong untuk mewujudkan New
Processes, Collaboration, Self Synchronization, Shared Situational Awareness,
hingga dapat menciptakan Competitive Advantage dalam rangka pencapaian
misi secara efektif.
Dengan demikian maka penerapan konsep NCW menuntut kuantitas dan
kualitas sumber daya manusia yang professional memiliki pengetahuan
(knowledge), keterampilan (skill) dan pengalaman (experience) dalam bidangnya
masing-masing. Sehingga ketiga domain tersebut perlu memiliki pemahaman yang
sama tentang konsistensi dan konsekuensi khususnya mengenai tuntutan
kebutuhan sumber daya manusia, sehingga mereka berkewajiban untuk membina
sumber daya manusianya secara proporsional, terintegrasi dan terencana, agar
penerapan NCW dapat berjalan sesuai dengan yang diharapkan.
d. Penerapan C4ISR/K4IPP, dalam Dekenitetiko secara umum dapat dilihat dalam
aktivitas Puskodal baik pada tingkat teknis, taktis maupun strategis. Pada dasarnya
seperti yang telah dijelaskan sebelumnya kedua konsep tersebut adalah identik,
namun untuk memudahkan pemahaman dalam memberikan gambaran kegiatan
secara berurutan dalam penyelenggaraan Puskodal, maka kegiatannya disesuaikan
dengan aktivitas Dekenitetiko. Sehingga kegiatan dalam C4ISR akan disajikan
sebagai padanan atau kesamaan kegaiatan yang dilakukan, selain itu fasilitas dan
kegiatan dalam C4ISR akan diartikan sebagai elemen atau kegiatan dalam
mewujudkan kemampuan yang dilaksanakan dalam konsep Dekenitetiko, yang
terdiri dari kegiatan :
1) Deteksi, yang memiliki kesamaan arti dan fungsi dengan Pengamatan
(Surveillance) dan Pengintaian (Reconnaissance) pada C4ISR.
Kegiatan yang dilakukan meliputi pengamatan, pengintaian dan
monitoring agar dapat menditeksi Unsur, Target atau Obyek tertentu serta
berbagai kejadian dilaut, secara dini.
Pelaksana kegiatan, terdiri dari Puskodal, RCC (Region Command
Centre), CSS (Coastal Surveillance System), KRI, Pesud (Patroli Maritim),
Posal, Operasi Intelijen, Unsur Operasi lain, Instansi TNI, Instansi Non TNI
(Pemerintah/Swasta), Masyarakat, Berita/Informasi Dalam/Luar Negeri, dll.
24

Fasilitas yang digunakan, sesuai peralatan yang dimiliki masing-masing,


diantaranya Radar, Long Range Camera, Teropong, Internet, Radio dan
Satelit, Telepon serta Alat Deteksi/Fasilitas Informasi dan Komunikasi lainnya.
2) Kenali, yang memiliki kesamaan fungsi dengan Komputer (Computer),
peralatan deteksi dan Data Intelijen (Intelligent) pada C4ISR.
Kegiatan yang dilakukan meliputi penelaahan dan penelitian hingga
mampu mengenali Unsur, Target atau Obyek tertentu serta berbagai kejadian
dilaut, secara jelas.
Pelaksana kegiatan, terdiri dari Puskodal, RCC, CSS dan Posal selaku
pengamat.
Fasilitas yang digunakan, sesuai peralatan dan fasilitas yang dimiliki
masing-masing, diantaranya AIS (Automatic Information System), LRC (Long
Range Camera), Komputer pengolah data, untuk mendapatkan informasi
tentang obyek, target atau kejadian yang dilengkapi dengan sistem aplikasi
dan data base serta pendukung lainnya.
3) Nilai, yang memiliki kesamaan fungsi dengan Komputer (Computer)
pengolah data, peralatan deteksi dan Intelijen (Intelligent) pada C4ISR.
Kegiatan yang dilakukan terdiri dari pengolahan data, penyajian informasi,
evaluasi, analisis tentang situasi dan kondisi operasi SSAT (KRI, Pesud,
Marinir dan Pangkalan), sebagai bahan masukan kepada pimpinan dalam
proses pengambilan keputusan.
Pelaksana kegiatan, adalah Puskodal.
Fasilitas yang digunakan, sesuai peralatan dan fasilitas yang dimiliki
masing-masing Puskodal, diantaranya computer lengkap dengan Sistem
Aplikasi yang menangani seperti Sistem Informasi Lingkungan Operasi
(Silingops) termasuk Sistem Informasi Intelijen, Sistem Informasi Logistik
(Silog), Sistem Informasi Personel (Sipers), Sistem Informasi Perencanaan,
Anggaran dan keuangan (Sirengarku) dan Sistem Informasi Khusus
(Sikhusus) dengan jenis sistem aplikasi, berupa MIS (Management
Information System), EIS (Executive Information System), DSS (Decision
Support System) berikut DataBase masing-masing serta Data Base
mengenai SSAT.
4) Teruskan, yang memiliki kesamaan fungsi dan kegiatan dengan Komunikasi
(Communication), pada C4ISR.
Kegiatan yang dilakukan meliputi komunikasi, tentang berbagai Data dan
Informasi Operasi, berupa Voice, Image atau Video, Data atau Informasi,
Dokumen dan Laporan. Melaksanakan Koordinasi dan Laporan serta
Kerjasama dengan Pusdalops TNI, Puskodal Angkatan dan Polri serta
Instansi Terkait (Pemerintah/Swasta) dan Masyarakat didalam maupun diluar
negeri.
Pelaksana kegiatan, adalah Puskodal.

25

Fasilitas yang digunakan, sesuai peralatan dan fasilitas yang dimiliki


masing-masing Puskodal, diantaranya Radio dan Satelit, Telepon, Komputer
berikut system aplikasinya, Video Conference, E-Mail dan Internet serta
Intranet/VPN IP TNI AL, dll.
5) Tindakan, tidak ada fungsi atau kegiatan yang memiliki kesamaan dengan
konsep C4ISR.
Kegiatan yang dilakukan merupakan aktivitas atau tindakan yang
dilakukan, oleh Unsur Operasi/SSAT terhadap obyek atau target maupun
kejadian tertentu, sesuai perintah atau komando, dimana laporan
pelaksanaan dan hasil tindakan terekam dalam database.
Pelaksana kegiatan, terdiri dari Unsur Operasi (SSAT) yang meliputi KRI,
Pesawat Udara, Marinir dan Pangkalan.
Fasilitas yang digunakan, sesuai peralatan dan fasilitas serta kesenjataan
yang dimiliki berdasarkan fungsi azasi unsur masing-masing.
6) Komando, yang memiliki kesamaan fungsi atau kegiatan dengan Komando
dan Kendali (Command and Control), pada C4ISR.
Kegiatan atau aktivitas penyampaian instruksi/perintah berisi kegiatan
atau arahan yang harus dilaksanakan, dari pimpinan yang berwenang kepada
seluruh unsur/satuan operasi yang terkait dan berada dalam tugas dan
tanggung jawab serta kewenangannya, secara lisan (voice) atau tulisan, baik
langsung maupun tidak langsung, untuk melakukan tindakan, penugasan
atau kegiatan lain dalam mengatasi atau mengantisipasi suatu permasalahan
atau kejadian tertentu, dengan menggunakan fasilitas komunikasi yang
tersedia berupa radio, telepon, jaringan komputer atau fasilitas lain yang
dimiliki.
Pelaksana kegiatan, Pimpinan, selaku Pemegang Komando.
Fasilitas yang digunakan, sesuai peralatan dan fasilitas komunikasi yang
dimiliki sesuai situasi dan kondisi serta kebutuhan dan kemampuan yang ada,
seperti Radio, Telepon Langsung (Direct Phone), VPN IP, Internet, Intranet dll.
Dalam penerapan C4ISR terlihat bahwa aspek intelijen selalu terintegrasi
dengan system dalam berbagai kegiatan seperti deteksi, mengenali dan menilai,
sehingga tuntutan integrasi sangat mengemuka. Namun pada kenyataannya
yang dilakukan di lingkungan TNI Angkatan Laut dan TNI tidak demikian, karena
intelijen terpisah dari aspek lainnya dan langsung kepada pimpinan.
e. Operasi Informasi (Information Operation), merupakan rangkaian aktivitas yang
dilakukan berdasarkan tuntutan kebutuhan informasi dalam suatu kondisi tertentu,
secara global meliputi kegiatan :
1) Informasi Saat Perang (Information In War/IIW atau Battle Field Warfare)
adalah serangkaian kegiatan yang berkenaan dengan kepentingan mendapatkan
dan menyampaikan data atau informasi disaat terjadinya pertempuran (Yono
Reksoprodjo). Kebutuhan sistem informasi untuk menjamin ketersediaan
informasi dalam mendukung kebutuhan informasi dalam rangka optimalisasi
pelaksanaan tugas pada setiap tahapan kegiatan Operasi Militer saat Perang
26

(OMP), agar lebih lengkap dapat dicontohkan pada tahapan operasi amfibhi
yang mencakup seluruh kebutuhan informasi dalam pelaksanaan kegiatan :
persiapan (preparation), embarkasi (embarkation), latihan umum (rehearsal),
gerakan menuju sasaran/GMS (movement), serbuan (assault) dan pengakhiran
(termination). Dengan demikian maka perlu disiapkan sistem informasi yang
dibangun dan dikembangkan secara terintegrasi dalam rangka mendukung
kebutuhan sistem dan fasilitas serta menjamin ketersediaan informasi pada
setiap tahapan operasi, yang terdiri dari Sistem Informasi yang diperlukan untuk
mendukung kegiatan :
a) Tahap Persiapan (Preparation), merupakan sistem informasi yang
diharapkan mampu untuk mendukung kebutuhan sistem dan menjamin
ketersediaan informasi dalam kegiatan penyusunan dan pengembangan
Rencana Operasi (RO), diantaranya informasi tentang kekuatan tugas yang
meliputi Unsur Tugas (UT), Satuan Tugas (ST), Gugus Tugas (GT), Armada
Tugas (AT) dan Gabungan (GAB). Jenis Operasi yang terdiri dari Operasi
Amfibhi (Opsfib), Operasi Khusus (Opssus), Operasi Laut (Opsla), Operasi
Gabungan (Opsgab) dan Operasi Laut lain-lain (Opsla Lain), terdiri dari
kegiatan :
Analisa Tugas Pokok (ATP).
Perkiraan Staf (Kirstaf), terdiri dari :
Perkiraan Operasi (Kirops),
Perkiraan Intelijen (Kirintel) tentang Situasi Cuaca, Medan, Musuh,
Sendiri dan Kawan, Geografi, Demografi serta Kondisi Sosial
Masyarakat.
Perkiraan Logistik, terdiri dari : Rencana Logistik dan Pembekalan.
Perkiraan Personel, terdiri dari : Rencana Personel dan Cadangan
Penyusunan Pengembangan Cara Bertindak Sementara (CBS)
Olah Yudha CBS.
Penyusunan Konsep Umum Operasi (KUO).
Informasi yang diperlukan dalam rangka mendukung kegiatan tersebut,
diantaranya adalah :
Peta.
Keadaan (Umum, Khusus dan Lanjutan).
Ikhtisar Intelijen.
Doktrin dan Taktik Musuh.
Analisa Daerah Operasi (ADO).
Keterangan Umum Daerah (Iklim, Cuaca, Medan, Ciri).
Aspek Militer (Taktis, Bantuan Administrasi, Teritorial).
Pengaruh Daerah Operasi, terhadap CB Musuh, Sendiri.
Informasi Susunan Tempur Musuh.
Data dan Informasi tentang Kekuatan Sendiri.
Data dan Informasi Logistik.
Informasi lain yang relevan.
27

b) Tahap Embarkasi (Embarkation), merupakan sistem informasi yang


diharapkan mampu untuk mendukung kebutuhan sistem dan menjamin
ketersediaan informasi dalam kegiatan embarkasi yang merupakan tahap
pelaksanaan awal, seluruh kegiatan embarkasi dilaksanakan berdasarkan
Rencana Operasi, yang meliputi kegiatan :
Pembekalan Awal.
Embarkasi Materiel.
Embarkasi Personel.
Informasi yang diperlukan dalam rangka mendukung kegiatan tersebut,
diantaranya adalah :
Jumlah dan Nama Unsur.
Jumlah Keterangan Personel.
Dislokasi Unsur.
Basic Load dan Jenis Munisi.
Kebutuhan Jenis dan Jumlah Bekal.
Jadual dan Lokasi Pembekalan.
Jadual dan Lokasi Embarkasi.
Jadual dan Titik Tolak masing-masing Unsur.
Informasi lain yang relevan.
c) Tahap Latihan Umum (Rehearsal), merupakan sistem informasi yang
diharapkan mampu untuk mendukung kebutuhan sistem dan menjamin
ketersediaan informasi dalam kegiatan Latihan Umum yang merupakan tahap
pergerakan awal, dimana seluruh kegiatan dilaksanakan berdasarkan
Rencana Operasi, yang meliputi kegiatan Latihan Simulasi Peperangan
tentang :
Peperangan Anti Kapal Permukaan (Anti Surface Warfare/ASuW).
Peperangan Anti Kapal Bawah Air (Anti Submarine Warfare/ASW).
Peperangan Anti Pesawat Udara ( Anti Aircraft Warfare/AAW).
Peperangan Ranjau (Mine Warfare/MW).
Peperangan Elektronik (Electronic Warfare/EW).
Informasi yang diperlukan dalam rangka mendukung kegiatan tersebut,
diantaranya adalah :
Peta Laut dan Peta Trimatra.
Kekuatan dan Dislokasi Unsur Sendiri, Kawan dan Lawan.
Karakteristik dan Kemampuan Alat Deteksi (Radar, Loran, Sonar dll).
Karakteristik dan Kemampuan Senjata dan Amonisi.
Karakteristik dan Kemampuan Alat Navigasi.
Karakteristik dan Kondisi Cuaca (Angin dan Gelombang).
Informasi lain yang relevan.
28

d) Tahap Gerakan Menuju Sasaran/GMS (Movement), merupakan sistem


informasi yang diharapkan mampu untuk mendukung kebutuhan sistem dan
menjamin ketersediaan informasi dalam kegiatan GMS, yang merupakan
tahap pergerakan lanjutan menuju sasaran, dimana seluruh kegiatan
dilaksanakan berdasarkan Rencana Operasi dan masing-masing unsur
melakukan aktivitas :
Operasi Kapal Atas Air (Surface Operation), yang meliputi berbagai
jenis unsur yang melakukan aktivitas sesuai fungsi azasi masingmasing.
Operasi Kapal Bawah Air (Submarine Operation), melakukan
pengintaian atau tugas lain yang diembannya.
Operasi Udara Maritim (Maritime Aircraft Operation), termasuk patrol
maritime dan pengintaian.
Operasi Logistik (Logistic Operation), termasuk bekal ulang.
Informasi yang diperlukan dalam rangka mendukung kegiatan tersebut,
diantaranya adalah :
Informasi dan Rencana Operasi.
Peta Laut dan Peta Trimatra.
Kekuatan dan Dislokasi Unsur Sendiri, Kawan dan Lawan.
Karakteristik dan Kondisi Cuaca (Angin dan Gelombang).
Karakteristik dan Kemampuan Alat Navigasi.
Karakteristik dan Kemampuan Alat Deteksi (Radar, Loran, Sonar dll).
Karakteristik dan Kemampuan Senjata dan Amonisi.
Informasi Logistik dan Pangkalan.
Informasi lain yang relevan.
e) Tahap Serbuan (Assault), merupakan sistem informasi yang diharapkan
mampu untuk mendukung kebutuhan sistem dan menjamin ketersediaan
informasi dalam kegiatan penyerbuan, yang merupakan tahap kegiatan yang
paling kompleks dan menentukan dalam pencapaian tujuan operasi, dimana
seluruh kegiatan dilaksanakan berdasarkan Rencana Operasi dan masingmasing unsur melakukan aktivitas :
Bantuan Tembakan Kapal (BTK), diperlukan untuk melumpuhkan
kekuatan lawan dipantai pendaratan, dilakukan oleh unsur-unsur
tertentu yang telah direncanakan dan tertuang dalam RO.
Gerakan Kapal Kepantai (GKK), merupakan kegiatan yang bertujuan
untuk mendaratkan pasukan pendarat.
Operasi Darat, dilakukan oleh pasukan pendarat setelah mampu
beroperasi secara mandiri.
Informasi yang diperlukan dalam rangka mendukung kegiatan tersebut,
diantaranya adalah :
29

Informasi dan Rencana Operasi.


Peta Laut dan Peta Trimatra.
Kekuatan dan Dislokasi Unsur Sendiri, Kawan dan Lawan.
Karakteristik dan Kemampuan Alat Deteksi (Radar, Loran, Sonar dll).
Karakteristik dan Kemampuan Senjata dan kebutuhan Amonisi.
Informasi Logistik dan fasilitas serta kemampuan Pangkalan.
Informasi lain yang relevan.

f) Tahap Pengakhiran (Termination), merupakan sistem informasi yang


diharapkan mampu untuk mendukung kebutuhan sistem dan menjamin
ketersediaan informasi dalam kegiatan pengakhiran operasi, yang merupakan
tahap akhir dari kegiatan operasi secara keseluruhan, dimana seluruh
kegiatan dilaksanakan berdasarkan Rencana Operasi dan masing-masing
unsur melakukan aktivitas :
Konsolidasi.
Rehabilitasi.
Reembarkasi.
Bekal Ulang.
Pengunduran Amfibhi, kembali ke pangkalan.
Lain sesuai kebutuhan.
Informasi yang diperlukan dalam rangka mendukung kegiatan tersebut,
diantaranya adalah :
Informasi dan Rencana Operasi.
Peta Laut dan Peta Trimatra.
Jadual, Tempat dan Waktu Reembarkasi.
Jadual, Tempat dan Waktu Bekal Ulang.
Kekuatan dan Dislokasi Unsur Sendiri, Kawan dan Lawan.
Karakteristik dan Kemampuan Alat Deteksi (Radar, Loran, Sonar dll).
Karakteristik dan Kemampuan Senjata dan kebutuhan Amonisi.
Data dan Informasi tentang korban dan kerugian personel serta
kerusakan materiel unsur operasi.
Informasi Logistik dan Fasilitas serta kemampuan Pangkalan, yang
mencakup seluruh fasilitas dan kemampuan yang diperlukan,
termasuk Fasilitas Perawatan Personel dan Fasilitas Pemeliharaan
dan Perbaikan serta Fasilitas Bekal Ulang.
Informasi lain yang relevan.
2) Peperangan Informasi (Information Warfare), adalah tindakan untuk
menolak, memanfaatkan, merusak atau memusnahkan informasi musuh
termasuk fungsi dan peralatannya, melindungi diri terhadap tindakan tersebut
dan memanfaatkan fungsi informasi yang dimiliki. Merupakan serangkaian
kegiatan pemanfaatan dan pengaturan informasi yang digunakan untuk
30

mendapatkan keunggulan kompetitif atas lawan. Era Informasi telah menyajikan


cara-cara baru dan praktis dalam menolak, memanfaatkan, merusak atau
menghancurkan informasi, termasuk kerentanan yang memungkinkan untuk
melakukan serangan tersebut, dengan demikian maka peperangan informasi,
merupakan :
Operasi Psikologis, dengan menggunakan informasi untuk mempengaruhi
pihak lawan melalui berbagai propaganda atau reasoning yang dapat
mengakibatkan kerusakan fisik dengan cara mempengaruhi elemen sistem
informasi melalui konversi energi yang tersimpan dan dapat berubah menjadi
daya atau kekuatan penghancur, karena kekuatan psikologis dapat berubah
menjadi kekuatan fisik.
Berbagai tindakan untuk melindungi fungsi informasi atau apapun yang
berarti, serangan terhadap suatu fungsi informasi, dan apa saja yang
dianggap penting atau berarti, sehingga menghancurkan perangkat lunak
fasilitas informasi juga termasuk peperangan informasi.
Bagian dari Peperangan Elektronik dalam rangka menangkal atau
menolak informasi secara akurat terhadap pernyataan dari pihak lawan yang
merugikan. Peperangan informasi dapat digunakan sebagai alat strategis
untuk melakukan penyerangan dan pelarangan atau pencegahan.
Kamuflase Militer, berupa tindakan penyesatan informasi terhadap pihak
lawan tentang kemampuan, perencanaan atau tujuan. Militer selalu berusaha
untuk mendapatkan atau mempengaruhi informasi yang diperlukan oleh
musuh untuk mempengaruhi penggunaan kekuatan
Serangan Fisik dengan menggunakan senjata atau peralatan
electromagnetis sampai pada pengeboman secara konvensional.
Kemampuan dan batasan keamanan terhadap sistem informasi, berupa
kegiatan untuk mencari cara dalam menjaga serta menjamin ketahanan dan
keamanan sistem, agar pihak musuh tidak dapat dan tidak memiliki
kesempatan untuk mengetahui rencana, tujuan dan kemampuan yang
dimiliki. Mengamankan dan mempertahankan fasilitas fungsi informasi
terhadap serangan adalah peperangan informasi, sehingga dengan
menggunakan program anti-virus untuk melindungi perangkat lunak fasilitas
informasi juga termasuk peperangan informasi.
Namun modernisasi dalam era informasi juga memberikan tambahan
berbagai kerentanan informasi dalam melakukan fungsi dan operasi informasi,
khususnya dalam mengenai pengamanan akses langsung serta manipulasi data
dan informasi. Karena teknologi informasi saat ini memungkinkan bagi siapa saja
yang mampu untuk merubah atau menciptakan informasi sesuka hatinya, tanpa
berdasar pada pengamatan dan interpretasi penafsiran. Seperti dinegara-negara
maju yang memiliki sumber daya yang lebih baik sangat pandai menyusun
strategi dalam peperangan informasi. Biasanya yang dilakukan lebih bersifat
peperangan psykhologi (psychological warfare) dengan tujuan untuk
melemahkan semangat dan menghilangkan kemauan dengan cara menyudutkan
dan memposisikan pada kondisi yang tidak menguntungkan.
31

Seperti prinsip peperangan informasi yang telah dijelaskan sebelumnya,


bahwa menghancurkan lawan tidak perlu dengan cara kekerasan melalui perang
fisik, maka peperangan informasi tidak tergantung pada waktu dan tempat, bisa
berlangsung lama dan dan dimana saja, tidak ada target waktu dan tempat yang
ditentukan, namun tetap terencana dan terkendali sesuai tujuan yang mereka
tetapkan. Sebagai contoh nyata hanya dengan informasi melalui media mereka
mampu membangun opini publik internasional, sehingga Oshama bin Laden
tersudut dan menjadi orang yang paling bersalah tanpa diadili dan dibuktikan
terlebih dahulu.
Sangat banyak informasi yang beredar secara internasional berupa sajian
multimedia, salah satu contoh diantaranya adalah artikel yang berjudul The
Mass Killings in Indonesia After 40 Years yang disusun oleh John Roosa dan
Joseph Nevins, dipublikasikan dalam www.dissidentvoice.org pada tanggal 31
October 2005, informasi sesuai Lampiran-A : Contoh Informasi tentang Timor
Timur. Dalam artikel tersebut dijelaskan secara sepihak bagaimana kekejaman
dan kesadisan tentara Indonesia membantai anak-anak, wanita dan rakyat sipil
di Timor Timur yang tidak bersenjata. Artikel tersebut telah dikutip dan
diterjemahkan secara bebas sesuai kepentingannya kedalam bahasa Indonesia
dan disebar luaskan melalui jaringan internet diseluruh dunia termasuk Indonesia
dan diposting dalam forum www.tnial.mil.id oleh orang Malaysia pada tahun
2005, saat pertama kali kasus Ambalat mencuat. Pada contoh ini Malaysia
menyerang Indonesia dengan memanfaatkan informasi tersebut sebagai strategi,
senjata dan kekuatan mereka dalam kasus Ambalat untuk menyudutkan dan
menghancurkan nama baik bangsa Indonesia dimata masyarakat internasional.
Sehingga masyarakat internasional memiliki opini yang tidak baik terhadap
bangsa Indonesia, hal ini telah terbukti dan dapat dirasakan akibatnya.
Zona peperangan informasi sedemikian luas dan relative sangat bebas,
karena seolah-olah bagi mereka yang memiliki sumber daya yang kuat dapat
menyajikan informasi tentang apa saja tanpa diwajibkan untuk meyakinkan
kebenarannya, dengan jumlah informasi yang tidak terbatas disajikan melalui
diberbagai media mana saja yang ada didunia ini, maka dengan mudah akan
mengalahkan pihak yang menjadi lawannya. Bila dilihat kembali definisi,
peperangan informasi yang terdiri dari aktivitas penolakan (counter),
pemanfaatan, perusakan, penghancuran dan perlindungan terhadap informasi
dan fasilitasnya. Cara tradisional dalam melaksanakan peperangan informasi
meliputi operasi psikologis, peperangan elektronik, kamuflase militer, serangan
phisik dan berbagai langkah pengamanan. Namun pada era informasi seperti
saat ini pelaksanaan peperangan informasi mayoritas dilakukan dengan
memanfaatkan fasilitas dan teknologi informasi sejalan dengan perkembangan
teknologi informasi.
Sehingga kita kita harus selalu waspada dan antisipasi terhadap terjadinya
peperangan informasi setiap saat. Oleh karena itu maka perlu kesiapan dalam
menghadapinya, keberhasilan dalam melakukan peperangan informasi adalah
32

kemampuan sumber daya yang terdiri dari kualitas sumber daya manusia dan
kemampuan infrastruktur teknologi informasi yang dimiliki. Dengan demikian
maka kunci keberhasilan dalam peperangan informasi adalah :
Kualitas Sumber Daya Manusia, yang diharapkan memiliki kemampuan
mengelola peperangan informasi, dalam rangka perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan menyusun, memproduksi dan menyebar informasi serta
pengendalian operasi informasi dilingkungan masyarakat luas baik ditingkat
nasional, regional maupun internasional, melalui berbagai media yang dapat
diakses dan dipublikasi dengan mudah.
Kemampuan Infrastruktur, berupa fasilitas dan peralatan perangkat keras,
perangkat lunak 33egara serta jarring komunikasi data yang dimiliki, untuk
mendukung kebutuhan dan kepentingan akses serta media informasi dan
penyebarannya.
3) Kerjasama Informasi (Information Cooperation), merupakan serangkaian
kegiatan pemanfaatan fasilitas dan informasi yang digunakan secara bersama
melalui sharing informasi (Information sharing) dan kolaborasi (Collaboration),
berdasarkan aturan dan ketentuan atau kesepakatan bersama (Memorandum of
Understanding/MoU), sesuai tugas, tanggung jawab dan kewenangannya
masing-masing, guna menciptakan kesadaran terhadap sharing situasi (Shared
Situational Awareness) dan sinkronisasi diri (Self Synchronization), untuk
mewujudkan keuntungan yang kompetitif (Competitive Advantage) dalam rangka
pencapaian misi secara efektif (mission effectiveness) dalam melaksanakan
tugas dimasa damai, krisis maupun konflik.
Lingkup Kerjasama Informasi, yang dapat dilakukan oleh TNI Angkatan Laut
dengan instansi lain bisa bersifat :
Intern TNI Angkatan Laut, merupakan kerjasama antar para Pembina
Fungsi, Komando Utama (Kotama), Satuan Kerja (Satker), Armada, Gugus
dan Satuan Tugas sampai Unsur Operasi terkecil dalam rangka optimalisasi
pelaksanaan tugas TNI Angkatan Laut. Sharing informasi dan pemanfaatan
fasilitas secara bersama dilakukan berdasarkan wewenang, tugas dan
tanggung jawab yang sudah tertuang dalam organisasi tugas dan prosedur
(Orgaspros) dan petunjuk pelaksanaan (Juklak) masing-masing, kecuali ada
hal-hal khusus yang belum ditentukan secara formal.
Ekstern diluar TNI Angkatan Laut, merupakan kerjasama antara TNI
Angkatan Laut dengan Angkatan Lain, Mabes TNI, Departemen Pertahanan
atau Departemen dan Instansi Pemerintah lainnya serta Swasta baik didalam
maupun diluar negeri yang terkait dengan kegiatan pertahanan negara.
Sharing informasi dan pemanfaatan fasilitas secara bersama dilingkungan
Dephan dan TNI dapat dilakukan berdasarkan wewenang, tugas dan
tanggung jawab yang telah ditetapkan oleh keputusan Menteri Pertahanan
atau Panglima TNI, sedangkan dengan pihak lain dapat dilakukan dengan
membuat kesepakatan bersama yang saling menguntungkan sesuai peran
dan fungsi masing-masing.

33

Bentuk Kerjasama Informasi pihak lain yang mungkin dapat dilaksanakan


dengan TNI Angkatan Laut adalah, secara :
Langsung, yaitu dengan melakukan sharing informasi dan pemanfaatan
fasilitas bersama secara langsung berintegrasi dengan sistem (on-line),
sehingga yang bersangkutan akan merupakan sub-sistem dari sistem
informasi pertahanan negara matra laut yang memiliki otoritas dan kewajiban
tertentu sesuai fungsi dan perannya masing-masing.
Tidak Langsung, yaitu dengan melakukan sharing informasi dan
pemanfaatan fasilitas bersama secara tidak langsung tidak terintegrasi
dengan sistem (off-line), terpisah dari sistem informasi pertahanan negara
matra laut yang hanya diberikan hak akses secara terbatas, sesuai dengan
MoU yang disepakati bersama. Hak akses adalah otoritas untuk masuk
kedalam sistem secara terbatas dengan menggunakan password atau kode
tertentu sesuai dengan ketentuan operasional sistem.
f. Permasalahan yang dihadapi, adalah berbagai keterbatasan yang dapat
mempengaruhi penyelenggaraan pembinaan system informasi dilingkungan TNI
Angkatan Laut, diantaranya disebabkan oleh keterbatasan :
1) Implementasi C4ISR, pada sistem informasi Puskodal perlu dilakukan
penyesuaian secara bijak khususnya mengenai aspek intelijen, karena
berdasarkan teori dituntut untuk berintegrasi dengan aspek lainnya, sedangkan
pada pelaksanaannya intelijen terpisah dan langsung kepada pimpinan. Oleh
karena itu perlu dibahas secara tuntas dan lugas disesuaikan dengan tuntutan
kebutuhan pelaksanaan tugas TNI Angkatan Laut secara nyata.
2) Kualitas dan Kuantitas, prilaku dan budaya informasi sumber daya manusia
(SDM) pembina dan pengguna sistem informasi TNI Angkatan Laut, merupakan
permasalahan yang paling pokok dan mendasar, karena hasil dari seluruh
kegiatan akan sangat ditentukan oleh kualitas dan kemampuan SDM.
3) Infrastruktur, hingga belum dapat mewujudkan integrasi sistem sampai
ketingkat unsur operasi yang terendah. Kondisi tersebut disebabkan karena
belum tersedianya fasilitas komunikasi data yang mampu mendukung
kepentingan komunikasi unsure operasi yang bersifat mobile dari laut kedarat
dan sebaliknya.
4) Sistem Aplikasi, yang mendukung keberhasilan setiap kegiatan pelaksanaan
tugas, dirasakan masih sangat minim terutama untuk mendukung kepentingan
operasi yang merupakan bagian dari informasi dalam peperangan, peperangan
informasi dan kerjasama informasi.
5) Sistem dan Metoda, masih banyak aturan dan ketentuan serta kebijakan
yang belum ditentukan dan masih terdapat kebijakan yang over lap maupun over
lay dalam mengelola kegiatan-kegiatan tertentu, sehingga mengakibatkan
berbagai permasalahan dalam pembinaan sistem informasi pertahanan negara
matra laut.

34

5. Kesimpulan dan Saran, berdasarkan uraian penjelasan tentang teori, implementasi


dan permasalahan yang dihadapi dalam menerapkan konsep-konsep tersebut, maka
dapat disimpulkan dan disarankan hal-hal sbb :
a. Kesimpulan.
1) Implementasi Network Centric Warfare, memerlukan kerjasama yang
terencana antara Pembina Sistem Informasi dengan Pembina Personel serta
para Pembina Korps/Kejuruan dan Profesi, agar dapat dikaukan secara intensif,
sinergi dan komprehensif dalam rangka menyiapkan kuantitas dan kualitas
personel yang sesuai dengan tuntutan kebutuhan pelaksanaan tugas.
2) Penerapan konsep C4ISR, pada sistem informasi komando dan
pengendalian perlu penyesuaian dan kebijakan yang terkait dengan manajemen
fungsi pembinaan intelijen dengan tugas pokok Puskodal yang menyangkut
kegiatan, proses, serta mekanisme dan prosedur pelaporan.
3) Informasi saat Perang, sangat diperlukan sistem informasi yang dapat
menjamin dan mendukung informasi yang dibutuhkan saat berlangsung
peperangan atau kegiatan operasi dan latihan dimasa damai, diperlukan
optimalisasi dan prioritas dalam pembangunan dan pengembangannya.
4) Peperangan Informasi, untuk antisipasi dan mengatasi masalah tersebut
perlu mewujudkan kemampuan untuk meningkatkan kewaspadaan, pengamatan
dan penelaahan serta evaluasi dan analisis terhadap informasi yang disajikan
oleh pihak-pihak tertentu yang dapat menyudutkan posisi TNI AL, TNI dan
Negara Kesatuan Republik Indonesia pada kondisi yang tidak menguntungkan.
5) Kerjasama Informasi, diperlukan kesepakatan, konsep, metoda dan cara
yang tepat dalam penyelenggaraannya, kerjasama tersebut sangat diperlukan
baik dimasa damai, krisis maupun konflik untuk meningkatan kualitas
pelaksanaan kerjasama teknis, taktis maupun tingkat strategis diantara unsur,
satuan, gugus dan angkatan tugas atau dengan dengan instansi lain termasuk
negara-negara sahabat.
b. Saran. Berdasarkan permasalahan yang dihadapi, maka disarankan sebagai
solusi adalah sbb :
1) Waspada, terhadap seluruh phenomena dan informasi yang muncul terutama
yang berdampak negatif dan dapat merugikan TNI Angkatan Laut, TNI,
pertahanan serta kedaulatan dan keutuhan Negara Kesatuan Republik
Indonesia. Melibatkan seluruh fungsi sesuai kewenangan, tugas dan tanggung
jawab masing-masing dan berupaya merubah kemampuan agar tidak selalu
35

menjadi obyek atau sasaran dalam peperangan informasi, harus mampu


berubah menjadi subyek serta dapat melakukan antisipasi dan mengatasi serta
melakukan pembalasan secara efektif jangan sampai merugikan negara dan
bangsa Indonesia, seperti yang telah terjadi dan kita alami bersama dimasa lalu.
2) Tingkatkan kualitas SDM untuk membentuk prilaku dan budaya informasi,
bagi Pembina dan Pengguna sistem informasi dalam rangka mewujudkan
Kesadaran Kompetitif yang diharapkan. Peningkatan dilakukan sesuai tuntutan
kualitas masing-masing domain yang meliputi pembina sistem Informasi,
Pembina personel dan para pembina korps/kejuruan dan profesi. Sehingga
memiliki profesionalisme, disiplin, motivasi, loyalitas dan dedikasi yang tinggi
serta konsisten dan konsekuen dalam melaksanakan tugas.
3) Meningkatkan keterbatasan Infrastruktur, yang sangat penting adalah
membangun dan mengembangkan kualitas dan kemampuan komunikasi yang
mandiri dengan kemampuan pengamanan dan pertahanan sistem yang optimal,
khususnya fasilitas komunikasi data yang bersifat mobile dari laut kedarat dan
sebaliknya. Hilangkan dominasi dan monopoli serta minimize ketergantungan
terhadap pihak lain. Sehingga tidak berlebihan apabila untuk kepentingan
pertahanan memiliki fasilitas satelit sendiri.
4) Membangun dan mengembangkan Sistem Aplikasi, untuk memenuhi
kebutuhan informasi dalam perang (IIW), peperangan informasi (IW) dan
kerjasama Informasi. Wujudkan keunggulan informasi, kesadaran sharing situasi,
dalam mewujudkan keuntungan yang kompetitif untuk mencapai misi yang
efektif.
5) Melengkapi dan menyesuaikan Sistem dan Metoda, dari tingkat teknis, taktis
maupun strategis, aturan dan ketentuan serta kebijakan tsb sangat diperlukan
dalam implementasi teori dan konsep, karena pada kenyataannya sering terjadi
tidak hingga dapat menimbulkan permasalahan. Untuk mendapatkan solusi dan
kepastian dalam pelaksanaan perlu ditindak lanjuti dan penyesuaian agar tidak
terjadi kerancuan dalam penyelenggaraan pembinaan sistem informasi.
6) Memperluas lingkup kerjasama informasi dengan Angkatan Lain, Mabes TNI,
Dephan, Departemen dan Instansi terkait baik Pemerintah maupun Swasta serta
negara-negara sahabat. Pilih dan ciptakan bentuk kerjasama yang terbaik dan
menguntungkan bagi kedua belah pihak namun perlu batasan-batasan tentang
informasi yang dikerjasamakan.

36

terima kasih atas partisipasi dan perhatiannya


Jalesveva Jayamahe

Jakarta, 23 Juni 2009


Iwan Kustiyawan, S.IP, MM
Laksamana Pertama TNI

Information Operations: any action involving the acquisition, transmission, storage, or


transformation of information that enhances the employment of military forces. Informasi
Operasi: setiap tindakan melibatkan akuisisi, transmisi, penyimpanan, atau transformasi
informasi yang dapat meningkatkan tenaga kerja dari ketentaraan.

37