Anda di halaman 1dari 9

LEMBAR KERJA MAHASISWA 1

KONSEP DAN RUMUSAN PANGAN FUNGSIONAL

Oleh:
Kelompok D
THP-C 2014
Ari Syahwati Puji L.

(141710101018)

Nurul Ummah Umaeroh

(141710101096)

Nirmala Audria

(141710101123)

JURUSAN TEKNOLOGI HASIL PERTANIAN


FAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN
UNIVERSITAS JEMBER
2016

A. Definisi Pangan Fungsional


Pangan atau makanan yang mempunyai kemampuan untuk mempengaruhi
proses fisiologis sehingga meningkatkan kesehatan atau mencegah timbulnya
penyakit. Menurut asosiasi ahli gizi amerika (The American Dietic Association)
pangan fungsional adalah serangkaian makanan baik produk segar dan utuh
maupun produk olahan yang diperkaya dan ditingkatkan mutunya sehingga
menguntungkan bagi kesehatan. Dewan Informasi Makanan Internasional dan
ILSI

(International Life Sciences Institute) menambahkan bahwa sifat

menguntungkan bagi tubuh tersebut diluar fungsinya sebagai sumber zat gizi
dasar (Silalahi, 2006).
Meskipun diharapkan memberikan efek meningkatkan kesehatan, makanan
fungsional

tidak dapat dikategorikan sebagai obat atau suplemen makanan,

karena menurut Hariyani (2013) makanan fungsional memiliki beberapa kriteria


yaitu:
1. Harus merupakan produk pangan (bukan berbentuk kapsul, tablet atau
bubuk) yang berasal dari bahan alami.
2. Dapat dan layak dikonsumsi sebagai bagian dari diet atau menu seharihari.
3. Mempunyai fungsi tertentu pada saat dicerna, serta dapat memberikan
peran dalam proses tubuh tertentu, seperti: memperkuat mekanisme
pertahanan tubuh, mencegah penyakit tertentu, membantu mengembalikan
kondisi tubuh setelah sakit tertentu, menjaga kondisi fisik dan mental,
serta memperlambat proses penuaan.
4. Jelas sifat fisik dan kimianya serta kualitas dan jumlahnya dan aman
dikonsumsi.
5. Kandungannya tidak boleh menurunkan nilai gizinya.
Fungsi menguntungkan bagi tubuh pada pangan fungsional dikarenakan
adanya kandungan bioaktif pada makanan fungsional. Komponen bioaktif terdiri
dari 2 jenis yaitu zat gizi dan non-gizi. Zat gizi misalnya protein, asam lemak,
vitamin dan mineral. Sedangkan zat non-gizi misalnya serat pangan,
oligosakarida, senyawa fenol dan sebagainya (Muchtadi, 2004).

B. Suplemen Pangan
Suplemen makanan adalah produk yang dimaksudkan untuk melengkapi
kebutuhan zat gizi makanan, mengandung satu atau lebih bahan berupa vitamin,
mineral, asam amino atau bahan lain (berasal dari tumbuhan atau bukan
tumbuhan) yang mempunyai nilai gizi dan atau efek fisiologis dalam jumlah
terkonsentrasi (BPOM, 2004). Menurut US Dietary Supplement Health and
Education Act (DSHEA) (1994), suplemen makanan yang di harapkan untuk
dapat melengkapi makanan yang mengandung satu atau lebih dari bahan-bahan
makanan; seperti vitamin, mineral, rempah, asam amino, mengandung unsur
makanan untuk meningkatkan kecukupan gizi, kosentrat, zat metabolit, ekstrak
atau kombinasi dari bahan-bahan tersebut.
Suplemen pangan merupakan makanan yang memiliki komponen nutrisi
yang berfungsi sebagai pendamping makanan bukan untuk pengganti makanan.
Nutrisi yang terkandung dalam suplemen makanan biasanya tidak dapat di sintesis
oleh tubuh melainkan didapatkan dari berbagai sumber makanan baik dari sumber
hewani dan sumber nabati. Suplemen pangan harus menggunakan bahan yang
memenuhi standar mutu dan pesyaratan keamanan serta standar dan persyaratan
lain yang di tetapkan. Bahan yang harus terkandung dalam suplemen pangan
beruba vitamin, mineral, asam amino, dan bahan lain seperti bioflavonoid,
citosan, kafein dan lain sebagainya serta bahan tambahan berupa pemanis buatan
yang diijinkan (aspartam, sorbitol, sukralosa dan lain-lain) dan bahan lain berpa
pengawet, pewarna,penyedap rasa, aroma dan pengental yang diijinkan.
Menurut Geoffrey P. Webb (2006) definisi suplemen makanan secara
umum, yaitu: a) Sesuatu yang di konsumsi secara langsung dalam dosis tertentu
dalam bentuk pil, kapsul, bubuk atau cairan. b) Sesuatu yang dapat ditambahkan
ke dalam pola makan yang normal. c) Sesuatu yang dinyatakan dapat
memengaruhi kesehatan pada label kemasa maupun pada media promosi seperti
kandungan zat gizi, zat metabolit alami dan beberapa tambahan yang berasal dari
ekstrak tumbuhan maupun hewan yang mengandung unsur-unsur zat gizi.
C. Obat Herbal

Obat herbal atau herbal medicine didefinisikan sebagai bahan baku atau
sediaan yang berasal dari tumbuhan yang memiliki efek terapi atau efek lain yang
bermanfaat bagi kesehatan manusia; komposisinya dapat berupa bahan mentah
atau bahan yang telah mengalami proses lebih lanjut yang berasal dari satu jenis
tumbuhan atau lebih. (WHO, 2005; 2000). Sediaan herbal diproduksi melalui
proses ekstraksi, fraksinasi, purifikasi, pemekatan atau proses fisika lainnya; atau
diproduksi melalui proses biologi. Sediaan herbal dapat dikonsumsi secara
langsung atau digunakan sebagai bahan baku produk herbal. Produk herbal dapat
berisi eksipien atau bahan inert sebagai tambahan bahan aktif (WHO, 2001;
2000). Menurut WHO (2005), obat herbal merupakan obat yang bahan bakunya
berasal dari satu tanaman tau lebih yang mentah atau yang mengalami proses
terlebih dahulu yang memiliki efek bermanfaat bagi kesehatan manusia.
Obat herbal terstandart adalah sediaan obat herbal berbahan baku alami,
bahan bakunya telah distandarisasi dan telah ada pembuktian keamanan dan
khasiatnya secara ilmiah dengan uji praklinik. Uji keamanan yang dilakukan
berupa uji toksisitas akut, uji toksisitak subkronis dan uji toksisitas kronis
(Remirez, 2006). Obat herbal adalah obat atau pengobatan yang mempergunakan
bahan yang berasal dari tanaman, bisa berupa daun, akar, tangkai, buah, biji-bijian
yang mengandung bahan kimia yang berkhasiat untuk pengobatan penyakit pada
manusia, tanaman dan hewan. Sedangkan definisi dari pengobatan herbal adalah
penggunaan

obat

untuk

mengurangi,

menghilangkan

penyakit

atau

menyembuhkan seseorang dari penyakit dengan menggunakan bagian-bagian dari


tanaman seperti biji, bunga, daun, batang dan akar yang kemudian diolah menjadi
tanaman obat herbal

D. Pengertian Medical Food


Medical food adalah makanan yang diformulasikan dengan penyediaan dukungan
gizi untuk individu yang tidak dapat mengkonsumsi makanan dalam jumlah yang
cukup dan dalam bentuk biasa, atau dengan penyediaan dukungan gizi
khusus bagi pasien yang perlu kebutuhan fisiologis dan gizi yang khusus
(Golberg, 1994).. Medical food merupakan formula enteral yang biasa di gunakan

untuk makanan pasien dan makanan untuk mereka yang memiliki penyakit yang
tidak biasa.

Medical food dirancang berfungsi dengan cara memberikan

dukungan nutrisi untuk individu yang tidak mampu untuk menelan jumlah
makanan yang cukup dalam bentuk konvensional, atau dengan memberikan
dukungan nutrisi tertentu untuk pasien yang memiliki kebutuhan fisiologis dan
gizi tertentu. tergantung pada status gizi pasien, makanan medis mungkin baik
melengkapi makanan atau menjadi satu-satunya sumber nutrisi untuk waktu yang
lama.
E. Nutraceutical
Nutraceutical pertama kali didefinisikan pada tahun 1989 oleh Stephen De
Felico sebagai makanan, ingredient makanan atau suplemen makanan yang
memberikan keuntungan pada kesehatan termasuk diantaranya mencegah dan
memanage penyakit diluar fungsi nutrisi dasar. Nutraceutical adalah senyawa
bioaktif alami. Nutraceutical terdapat pada produk-produk alami dari (a) industry
makanan; (b) suplemen makanan dan herbal; (3) industry farmasi. Senyawasenyawa bioaktif misalkan terpenoid, karotenoid, saponin, terpen, tokoferol,
senyawa phenol, turuan karbohidrat, lemak dan asam amino, mikrobia dan
mineral termasuk dalam nutraceutical (Sharma, 2009). Istilah nutraceutical
merupakan gabungan dari nutrisi dan farmasi, mengacu pada adanya suatu
keyakinan bahwa makanan atau bagian dari makanan memberikan manfaat bagi
kesehatan dan dapat digunakan sebagai obat, termasuk sebagai pencegahan
terhadap penyakit.

Health Canada telah memodifikasi definisi nutraceutical

menjadi: Produk yang dipisahkan atau dimurnikan dari makanan yang umumnya
dijual dalam bentuk obat yang tidak dimaksudkan sebagai makanan. Nutraceutical
dinyatakan memiliki manfaat fisiologis atau memberi perlindungan terhadap
penyakit kronis.

Berdasarkan literatur tersebut, kamu mendiskusi bahwa pangan fungsional


adalah makanan baik produk segar dan utuh maupun olahan yang mengandung
komponen bioaktif yang memberikan manfaat positif pada tubuh yang telah diuji

secara ilmiah dan dikonsumsi setiap hari. Suplemen pangan adalah produk yang
mengandung 1 jenis zat aktif yang terkonsentrasi yang berfungsi untuk
meningkatkan daya tahan tubuh pada saat kondisi tertentu. Obat herbal adalah
obat yang berasal dari tumbuhan yang mengandung satu atau lebih zat aktif tetapi
tidak terkonsentrasi yang digunakan untuk penyembuhan yang diuji secara klinis.
Medical food adalah produk yang didesain khusus untuk pasien yang mempunyai
penyakit dimana dia tidak dapat mengkonsumsi makanan secara normal.
Nutraceutical adalah produk sediaan dari bahan pangan yang dapat memberikan
manfaat fisiologis pada tubuh.

Persamaan dan Perbedaan Pangan Fungsional, Suplemen Pangan, Obat


Herbal, Nutraceuticals dan Medical Food
Pangan fungsional, suplemen pangan, obat herbal, nutraceutical memiliki
persamaan yaitu sama-sama mengandung senyawa bioaktif yang membuat tubuh
berada dalam kondisi sehat.
Karakteristik

Pangan
fungsional

Nutraceutica
l

Bahan

Berasal dari Berasal dari Berasal dari Berasal dari Berasal dari
bahan pangan bahan pangan bahan pangan bahan alami
bahan alami
alami
alami
alami
dan
sintetik

Cara
mengkonsums
i

Dikonsumsi
sehari-hari

Bentuk

Bahan segar Kapsul, pil, Kapsul, pil, Kapsul, pil, Kapsul, pil,
atau makanan tablet, ekstrak tablet, ekstrak tablet, ekstrak tablet,
olahan
ekstrak,
konsentrat

Pengujian

Teruji secara Teruji secara Teruji secara Efek

Dikonsumsi
bersama
dengan
pangan
fungsional
(sebagai
pendamping)

Medical
Food

Dikonsumsi
ketika tubuh
membutuhka
n
asupan
nutrisi khusus

Obat Herbal

Dikonsumsi
ketika tubuh
dalam kondisi
sakit
baik
secara
oral
maupun
topikal

Food
suplement

Dikonsumsi
saat kondisi
tertentu
(menjelang
sakit
dan
setelah sakit)

Khasiatnya

ilmiah

klinis
sifat klinis
efek fungsionalny
fungsionalny sehatnya
a perlu diuji
a sedangkan
efeknya tidak

tidak
perlu
diujikan
secara klinis

Komponen zat Bisa


Komponen
Komponen
aktif
mengandung zat aktifnya khusus yang
1 atau lebih telah diisolasi telah diisolasi
zat
aktif
tetapi tidak
terkonsentrasi

Bisa
mengandung
1 atau lebih
zat
aktif
tetapi tidak
terkonsentrasi

Fungsi

Memberi efek Mencegah


sembuh bagi penyakit, dan
tubuh
mempercepat
kembalinya
fungsi tubuh
secara normal

Menjaga dan
mendukung
fungsi
fisiologis
tubuh

Memberi efek
sehat
dan
mencegah
penyakit

Sebagai
pengobatan,
memenuhi
nutrisi khusus

Mengandung
zat
aktif
tetapi
terkonsentras
i

Daftar Pustaka
BPOM. 2004. Informatorium Obat Nasional Indonesia. Jakarta: Badan Pengawas
Obat dan Makanan Republik Indonesia.
Ditjen POM. 2005. Pedoman cara Pembuatan Obat Tradisional yang Baik.
Lampiran Peraturan Kepala Badan Pengawasan Obat dan Makanan RI.
Nomor :HK.00.05.4.1380.
Goldberg, I. 1994. Functional Foods (Designer Foods, Pharmafoods,
Nutraceuticals). Maryland: Aspen Publisher.
Hariyani, E. 2013. Pangan vs Pangan Fungsional. Balai Besar Pelatihan
Pertanian Lembang.
Muchtadi, D. 2004. Komponen Bioaktif Dalam Pangan Fungsional. Majalah
Gizmindo vol 3:7.
Nostro A, Germano MP, Angelo V, Marino A Cannatelli MA.2000. Extraction
methods and Bioautography for evaluation of medicinal plant antimicrobial
activity. Letters in Applied Microbiology. 30:379-34
Remirez D. 2006. Update in pre-clinical regulatory requirements for
phytomedicines in Latin America. J Compl Int Med. 3 (1): Article 3).
Sharma R., 2009. Nutraceuticals And Nutraceutical Supplementation Criteria In
Cancer: A Literature Survey. The Open Nutraceuticals journal, 2: 92-106.
Silalahi, J. 2006. Makanan Fungsional. Jogjakarta: Kanisius.
Webb P, Geoffrey. 2006. Dietary Supplement and Functional Foods. Blackwell
Publishing Ltd.