LAPORAN TETAP TEKNIK PENGOLHAN LIMBAH
PENGOLAHAN LIMBAH CAIR DENGAN ION EXCHANGER
DISUSUN OLEH:
KELAS
: 2 KIMIA B
DOSEN PENGAJAR
: HILWATULISAN, S.T.,M.T
POLITEKNIK NEGERI SRIWIJAYA PALEMBANG
(SUMATERA SELATAN)
TAHUN AJARAN 2015/2016
PENGOLAHAN LIMBAH CAIR
DENGAN MENGGUNAKAN ION EXCHANGER
A. Tujuan Percobaan
1. Menghasilkan produk berupa air yang bebas ion-ion pengotor.
2. Membandingkan kualitas air sebelum dan setelah dikontakkan ke dalam kolom ion
exchanger.
B. Alat-alat yang Digunakan
Unit ion Exchanger
Spectrofotometer serapan atom
Tempat sampel
C. Bahan-bahan yang Digunakan
Sampel yang mengandung ion-ion pengotor
Aquadest
D. Dasar Teori
Penukar Ion (Ion Exchanger)
Ion adalah atom yang masing-masing terdiri dari spesies yang dibebankan positif
dan negative yang melibatkan pertukaran satu atau lebih komponen ionic. Dalam kolom
resin penukar kation terjadi reaksi pertukaran kation pengotor air dengan H +dari resin
penukar kation,dan dalam kolom resin penukar anion terjadi pertukaran anion pengotor
air dengan ion OH- dari resin penukar anion. Semua penukar ion-ion bernilai dalam
analisis, memiliki beberapa kesamaan sifat, yakni tidak dapat larut dalam air serta ionion lawan atom tertukar secara reversible dengan ion-ion lain.
Resin Penukar Ion
Resin penukar ion adalah senyawa hidrokarbon terpolimerisasi sampai tingkat yang
tinggi yang mengandung ikatan-ikatan hubung silang (crosslinking) serta gangguan
gugusan yang mengandung ion-ion yang dapat dipertukarkan. Berdasarkan gugusan
fungsionalnya, resin penukar ion terbagi menjadi dua, yaitu resin penukar kation dan
resin penukar anion. Resin penukar kation, mengandung kation yang dapat
dipertukarkan sedangkan resin penukar anion, mengandung anion yang dapat
dipertukarkan.
Sifat-sifat penting resin penukar ion adalah sebagai berikut (Hartono : 1995) :
a. Kapasitas Penukar ion
b. Selektivitas
c. Derajat ikat Silang
d. Porositas
e. Kestabilan resin
Syarat-syarat dasar bagi suatu resin yang berguna :
1. Resin itu harus cukup terangkai silang, sehingga kelarutannya dapat diabaikan.
2. Resin itu harus cukup hidrofilik untuk memungkinkan difusi ion-ion melalui
strukturnya dengan laju yang terukur (finite) dan berguna.
3. Resin harus menggunakan cukup banyak gugus penukar ion yang dapat dipakai dan
harus stabil kimiawi.
4. Resin yang sedang mengembang harus lebih besar dari rapatannya pada air.
Aplikasi Penukar ion
Dengan memahami prinsip dasar reaksi pertukaran ion dan sifat-sifat resin, maka
dapat dengan mudah dipahami berbagai resin penukar ion dalam industri. Diantaranya
adalah (Imam Khasani :2004) :
1. Pelunak air (Water Softening)
Banyak air tanah yang dipakai dalam industri, mengandung unsur-unsur
Kalsium (Ca) dan Magnesium (Mg), terutama air tanah yang diambil didaerahdaerah yang bergunung kapur. Unsure-unsur tersebut berada dalam senyawa
hidrokarbon yang larut dalam air, sehingga air terlihat tetap jernih. Air tersebut
yang disebut air sadah yang mempunyai banyak kerugian , diantaranya :
a. Sebagai air minum, mungkin akan menyebabkan kecenderungan terbentuknya
batu kandung kencing.
b. Sebagai pencuci, air tersebut akan mengurangi daya cuci sabun.
c. Sebagai air umpan boiler akan menyebabkan timbulnya kerak CaCO 3 atau
MgCO3 yang menghambat hantaran panas.
Oleh karena itu Ca2+ dan Mg2+ harus diambil dan salah satu caranya adalah
dengan resin penukar ion dalam bentuk R-Na :
2R-Na + Ca2+
R2Ca + 2Na+
2R-Na + Mg2+
R2Mg + 2Na+
Air Lunak
Resin
Kation
R-Na
Gambar 3. Pelunakan Air
Air Masuk
2. Demineralisasi air (Water Demineralizerer)
Air didalam banyak mengandung ion-ion baik kation maupun anion.dalam
industry atau laboratorium dan kesehatan banyak diperlukan air bebas dari ion-ion
tersebut atau ion bebas mineral. Air tersebut dapat diperoleh dari ion-ion tersebut
dapat diperoleh dengan menggunakan resin penukar ion, kation. Kation seperti
Na+, K+, Ca2+, Mg2+, Fe3+ dan sebagainya, dapat diambil oleh resin dalam bentuk RH dengan reaksi :
R-H + K+
R-K + H+ (2)
+
Dimana K adalah kation sedangkan anion-anion seperti Cl-, NO3-, SO43- dan
sebagainya dapat diserap oleh resin penukar ion dalam bentuk R- OH dengan
reaksi :
R-OH + AR-A + OH- (3)
Dimana A adalah anion. Produk H+ dari reaksi (2) dan OH- dari reaksi
(3)bergabung membentuk air (H2O) :
H+ + OHH2O ..(4)
Dengan demikian air yang keluar bebas ion-ion atau disebut bebas mineral.
Oleh karena itu prosesnya disebut demineralisasi atau Water Demineralizing atau
lebih popular dengan nama aqua DM. apabila resin telah jenuh, maka proses
regenerasi dapat dilakukan dengan mengalirkan asam 4N untuk resin kation atau
basa 4N untuk resin anion dengan reaksi :
R-K + H+(4N)
R-H + K+
R-A + OH (4N)
R-OH + ADalam pembuatan alat demineralisasi air, dapat dipakai tiga model, yaitu :
a. Sistem dua kolom (double bed)
Aqua OH
Resin
Resin
Kation
Anion
Air Masuk
Gambar 4. Sistem Dua Kolom
b. Sistem satu kolom (Mixed bed)
Aqua OH
Resin Kation
+
Resin Anion
Gambar 5. Sistem Satu Kolom
Air Masuk
c. Sistem Kombinasi
Resin
Resin
Resin Kation
Kation
Anion
+
Resin Anion
Aqua OH
Gambar 6. Sistem Kombinasi
3. Detoksikasi Air Limbah dan Daur Ulang
Dengan kemampuan penukaran ion seperti diatas sudah dapat diduga bahwa
resin dapat berpotensi dalam pengolahan limbah. Kontaminan atau polutan racun
seperti logam-logam berat, seperti Pb2+, Cd2+, Ni2+ dan Cu2+ dengan mudah dapat
diserap oleh resin penukar kation R-H. Sedangkan polutan beracun seperti CrO 4dan CN- dapat diserap oleh resin penukar anion R-OH. Alat demineralisasi ini
biasanya digunakan untuk memproses air limbah berkadar polutan rendah. Dengan
demikian proses yang terjadi adalah pengambilan senyawa-senyawa berbahaya
yang dapat didaur ulang dan dihasilkan air yang bebas mineral yang dapat
digunakan kembali (reused water).
4. Regenerasi Anion
Regenerasi resin penukar anion sama dengan regenerasi kation, jika sudah
jenuh maka dapat dikembalikan kekeadaan semula dengan menggunakan alkali.
Jika suatu anion tidak mampu lagi menukar, anion tersebut harus dikembalikan
pada keadaan awal melalui regenerasi.
5. Back Wash
Backwash adalah membalik arah masuknya air ke dalam tabung filter air. Pada
kondisi kerja normal dimana air masuk dari atas filter kemudian menembus filter
media, kemudian keluar menuju proses berikutnya. Dengan berjalannya waktu dan
karena pemakaian dari filtrasi itu sendiri, media filter akan menjadi kotor oleh
polutan-polutan dalam air yang terperangkap didalamnya.
6
Untuk mengembalikan posisi filter media seperti semula maka diperlukan
pembersihan atau pencucian media filter secara berkala, proses ini dinamakan
Back Washing yaitu mencuci media filter tanpa harus mengeluarkan media filter
itu sendiri dari dalam tabung filter (vesell).
E. Prosedur Kerja
1. Menyiapkan alat ion Excahanger.
2. Menyiapkan larutan yang akan dihilangkan kandungan-kandungan ion-nya atau
limbah cair buatan yang mengandung Ca2+ dan ion Cl-.
3. Mengatur bukaan valve sesuai dengan arah aliran.
4. Menghidupkan pompa yang digunakan.
5. Mengambil sampel hasil dari pengontakan dengan resin dengan cara membuka
valve produk kolom ion exchanger, untuk kemudian dilakukan analisa.
Analisa Ion (Kation dan Anion)
1. Kation Exchanger
Kation Ca2+
Membuat Limbah artificial yang mengandung CaCO3 500 ppm dengan
volume 3 L
Mengambil 3 x 25 mL umpan untuk analisis umpan.
Memasukkan umpan ke Kation exchanger.
Mengambil 3 x 25 mL hasil dari keluaran proses ion exchanger untuk
analisis hasil.
Analisis Ca2+
a. Pembuatan larutan EDTA
1. Menimbang 2 gram Dinatrium Dihidrogen EDTA dihidrat dan 0,05 gram
MgCl2.6H2O.
2. Memasukkan ke dalam gelas kimia 400 mL, melarutkan dalam air.
3. Kemudian memindahkan ke dalam labu ukur 500 mL, menambahkan air
sampai 500 mL.
b. Pembuatan larutan Buffer
1. Melarutkan6,75 gram Amonium Klorida ke dalam 57 mL ammonia pekat
dan mengencerkan sampai 100 mL dalam gelas ukur 100 mL. pH larutan
sedikit lebih besar dari 10.
c. Pembuatan indicator Eriokrom Black-T
1. Melarutkan 0,5 gram Eriokrom Black-T dalam 100 mL alcohol.
d. Pembuatan larutan baku CaCO3
1. Menimbang dengan teliti 0,2 gram CaCO 3 murni yang telah dikeringkan
pada 100 oC.
2. Melarutkan dalam botol ukur 250 mL dengan 50 mL aquadest.
3. Menambahkan setetes demi setetes HCl 1:1 sampai berhenti bergelegak
dan larutan menjadi jernih.
4. Mengencerkan sampai garis tanda, mengocok sampai homogeny.
e. Standarisasi larutan Natrium EDTA
7
1.
2.
3.
4.
MEmipet 25 mL Kalsium Klorida ke dalam Erlenmeyer 250 mL
Menambahkan 2,5 mL larutan buffer.
Menambahkan 2,5 tetes indicator Eriokrom Black-T
Menitrasi dengan larutan EDTA, hingga warna merah anggur berubah
menjadi biru. Warna merah harus lenyap sama sekali.
f. Penentuan Kesadahan
1. Memipet 50 mL air sampel ke dalam Erlenmeyer 250 mL.
2. Menambahkan 1 mL buffer.
3. Menambahkan 5 tetes indicator EBT.
4. Menitrasi dengan larutan baku EDTA sampai terjadi perubahan warna
dari merah anggur menjadi biru.
2. Anion Exchanger
Anion Cl Membuat Limbah artificial yang mengandung NaCl 500 ppm dengan volume
3L
Mengambil 3 x 25 mL umpan untuk analisis umpan.
Memasukkan umpan ke Anion exchanger.
Mengambil 3 x 25 mL hasil dari keluaran proses ion exchanger untuk
analisis hasil.
Analisis Cla. Standarisasi Larutan Baku AgNO3
1. Menimbang 4,25 gram perak nitrat dan menambahkan air aquadest
sampai 250 mL ke dalam labu takar. Menjaga jangan sampai terkena
sinar matahari.
2. Menimbang dengan teliti tiga cuplikan Natrium Klorida yang murni dan
kering seberat 0,20 gram dalam tiga Erlenmeyer 250 mL.
3. Melarutkan tiap contoh dalam 50 mL air aquadest dan menambahkan 2
mL 0,1 M kalium kromat.
4. Menitrasi cuplikan dengan larutan perak nitrat sampai terjadi perubahan
warna menjadi kemerah-merahan yang stabil.
b. Penentuan Klorida
1. Menimbang dengan teliti cuplikan seberat 1 gram, melarutkan ke dalam
air sampai 100 mL.
2. Mengambil 25 mL alikuot dan memasukkannya ke dalam Erlenmeyer
berukuran 250 mL.
3. Menambahkan tiga tetes indicator kalium kromat.
4. Menitrasikan dengan larutan baku perak nitrat sampai terjadi perubahan
warna menjadi kemerah-merahan yang stabil.
F. Data Pengamatan (untuk Kation dan Anion)
1. Penukar Kation (Ca2+)
Tabel 1. Sebelum dilakukan Penukaran ion
No.
1.
Volume Sampel
Volume Larutan EDTA
Perubahan Warna Pada saat
(ml)
(ml)
dititrasi
Larutan CaCO3 mula-mula
25
4,3
memiliki warna bening,
kemudian ditambahkan
buffer + HCl + Eriocrome
2.
25
4,5
Black-T maka CaCO3
(larutan) berubah menjadi
warna ungu, setelah titrasi
dilakukan warna larutan
Volume Rata-rata
4,4
berubah dari ungu menjadi
biru
Tabel 2. Setelah dilakukan Penukaran ion
No.
1.
Volume Sampel
Volume Larutan EDTA
Perubahan Warna Pada saat
(ml)
(ml)
dititrasi
Larutan CaCO3 mula-mula
25
1,5
memiliki warna bening,
kemudian ditambahkan
buffer + HCl + Eriocrome
2.
25
1,5
Black-T maka CaCO3
(larutan) berubah menjadi
warna ungu, setelah titrasi
dilakukan warna larutan
Volume Rata-rata
1,5
berubah dari ungu menjadi
biru
2. Penukaran Anion (Cl-)
Tabel 1. Sebelum dilakukan Penukaran ion
No.
Volume Sampel
Volume Larutan
Perubahan Warna Pada saat
(ml)
AgNO3 (ml)
Titrasi
Larutan NaCl mula-mula
1.
25
22,8
memiliki warna bening,
kemudian ditetesi dengan
2.
25
20
kalium kromat sebanyak 3
tetes lalu warna akan berubah
3.
25
Volume Rata-rata
18,5
20,4
menjadi kuning dan dititrasi
dengan larutan AgNO3 warna
akn berubah menjadi merah
bata
Tabel 2. Sebelum dilakukan Penukaran ion
No.
1.
Volume Sampel
Volume Larutan
Perubahan Warna Pada saat
(ml)
AgNO3 (ml)
Titrasi
Larutan NaCl mula-mula
25
1,3
memiliki warna bening,
kemudian ditetesi dengan
2.
25
1,8
kalium kromat sebanyak 3
tetes lalu warna akan berubah
3.
25
1,8
Volume Rata-rata
1,6
menjadi kuning dan dititrasi
dengan larutan AgNO3 warna
akn berubah menjadi merah
bata
Data Pengamatan Arah Aliran dan Laju Aliran Limbah (Artifisial)
Resin Kation
Input
10
Motor
Penggerak
Gambar 1.1 Arah Aliran Kation
Fluida
Output
Input
Resin Anion
Motor Penggerak Fluida
Output
Gambar 1.2 Arah Aliran Anion
Diketahui
Volume air = 100 ml
Waktu Kation = 6 detik
Waktu Anion = 3,25 detik
Ditanya
Penyelesaian
Vf (Kecepatan Alir Fluida) ?
Vf Kation = Vol.air/Waktu Kation
= 100 ml/6 detik
= 16,67 ml/s
11
Vf Anion = Vol.air/Waktu Anion
= 100 ml/3,25 detik
= 30,76 ml/s
Langkah Kerja dan Gambar Titrasi Larutan CaCO3
Menyiapkan
larutan
EDTA,
Eriocrome
Black-T, HCl 1:1, buffer dan sampel,
menggunakan statif untuk menyangga buret.
Memastikan bahwa semua bahan tersedia dan
menggunakan alat keamanan pada saat
membuat larutan.
12
Larutan EDTA sebagai titran
Memasukkan larutan EDTA ke dalam buret
sampai tanda batas.
Menyiapkan larutan yang akan
dititrasi,
yaitu 25 ml sampel + 3 tetes larutan HCl 1:1,
3 tetes EBT dan 5 ml buffer dicampur
bersamaan
13
Setelah proses titrasi, warna larutan akan
berubah dari ungu menjadi warna biru.
Langkah Kerja dan Gambar Titrasi Larutan NaCl
Menyiapkan sampel NaCl setelah dilewatkan
pada alat ion exchanger maupun yang belum
dilewatkan dengan alat ion exchanger, di
pipet 25 ml dan dituangkan pada Erlenmeyer.
14
Menyiapkan indicator kalium kromat dan
meneteskan kalium kromat tersebut sebanyak
3 tetes ke dalam larutan NaCl 25 ml.
Menyiapkan larutan AgNO3 0,01N sebanyak
volume buret yang digunakan . Larutan
AgNO3
digunakan
sebagai
titran,
memasukkan kedalam buret sampai tanda
batas.
Memipet larutan NaCl untuk kemudian
dimasukkan ke dalam Erlenmeyer.
Melakukan titrasi larutan NaCl dengan
larutan AgNO3. Dengan cara membuka jalan
katup pada buret, lihat perubahan warna.
15
Warna yang dihasilkan setelah larutan NaCl
dititrasi dengan larutan AgNO3 berubah
menjadi warna merah bata.
G. Perhitungan
Pertukaran Kation (Ca2+)
Standarisasi Larutan EDTA
Mg CaCO3/ BE CaCO3 = Volume EDTA x N.EDTA
25/200 x 0,15 x 1000 = 21,13 ml x N.EDTA
100,09/1
N.EDTA = 0,009 N
Menghitung jumlah CaCO3 yang dilarutkan dalam air jika ppm yang diinginkan 500
ppm.
Ppm
= 1000 ml/l x mg CaCO3 /Volume Sampel
500 ppm
= 1000 ml/l x mg CaCO3 /3000 ml
mg CaCO3
= 3000 ml x 500 ppm / 1000 ml/l
mg CaCO3
= 1500 mg
mg CacO3
=1,5 gram
**ppm sebelum menggunakan ion exchanger adalah 500 ppm (inlet)
16
Menghitung ppm larutan CaCO3 setelah menggunakan ion exchanger (outlet)
mg CaCO3
= V.EDTA x N.EDTA x BE.CaCO3
= 1,5 ml x 0,009 N x 100,09
= 1,3512 mg
ppm CaCO3 = 1000 ml/l x mg CaCO3 / Vol. Contoh
= 1000 ml/l x 1,3512 mg /25 ml
= 54,0486 ppm
% Efisiensi = (ppm inlet ppm outlet)/ppm inlet x100 %
= (500 ppm 54,0486 ppm)/500 ppm x 100 %
=89,1902 %
Pertukaran Anion (Cl-)
N. AgNO3 = 0,01 N
Menghitung jumlah NaCl yang dilarutkan dalam air jika ppm yang diinginkan 500
ppm.
Ppm
= 1000 ml/l x mg CaCO3 /Volume Sampel
500 ppm
= 1000 ml/l x mg CaCO3 /3000 ml
mg CaCO3
= 3000 ml x 500 ppm / 1000 ml/l
mg CaCO3
= 1500 mg
mg CacO3
=1,5 gram
**ppm sebelum menggunakan ion exchanger adalah 500 ppm (inlet)
Menghitung ppm larutan NaCl setelah menggunakan ion exchanger (outlet)
mg NaCl
= V.AgNO3 x N.AgNO3 x BE.NaCl
= 1,6 ml x 0,01 N x 58,5
= 0,936 mg
17
ppm NaCl
= 1000 ml/l x mg NaCl / Vol. Contoh
= 1000 ml/l x 0,936 mg /25 ml
= 37,44 ppm
% Efisiensi = (ppm inlet ppm outlet)/ppm inlet x100 %
= (500 ppm 37,44 ppm)/500 ppm x 100 %
= 92,512 %
H. Tugas 1
Liquid
Resin
Tank
Kation
Liquid Bebas Kation
1. Gambarkan dan uraikan sistem buka katup valve unit ion exchanger ?
Liquid
Resin
Tank
Anion
18
1
3
Uraian sistem buka katup valve unit ion exchanger :
Globe valve adalah jenis valve yang digunakan untuk mengatur laju aliran fluida
dalam pipa. Prinsip dasar dari globe valve adalah gerakan tegak lurus disk dari
dudukannya , hal ini memastikan bahwa ruang berbentuk cincin antara disk dan cincin
kursi bertahap sedekat valve ditutup.
a. Menghasilkan liquid bebas kation
Liquid yang mengandung ion positif dan negative masuk dan disimpankan ke
solution tank (1) dan solution tank liquid (larutan) ditempatkan menuju ke resin
kation dan untuk menghasilkan liquid bebas dari ion positif (kation) maka katup
dibuka (katup 2 tetap dibuka) untuk hasil maksimal ulangi sebanyak tiga kali.
b. Menghasilkan liquid bebas kation dan anion
Liquid dipompakan dari solution tank untuk dipompakan menuju resin kation
untuk mengalirkan ke resin anion maka katup 1 ditutup sedangkan katup 2 dibuka,
berikutnya juga katup 3 dalam keadaan tertutup, setelah melewati resin kation dan
resin anion, didapatkan air bebas kation dan anion yaitu aqua DM.
c. Menghasilkan unit ion exchanger (liquid Anion)
Liquid yang mengandung ion kation dan anion dimasukkan ke tank 2 lalu
dipompakan menuju ke resin anion dengan membuka katup 2dan menuju ke katup 3
dengan begitu akan dihasilkan liquid bebas anion.
2. Gambarkan unit ion exchanger
Resin
Resin
Anion
Kation
NaOH
AirMentah
19
Air bebas Mineral
HCl
Air buangan Regenerasi
Gambar Unit Ion Exchanger
3. Bagaimana menentukan kejenuhan unit ion exchanger ?
Cara untuk menentukan kejenuhan unit ion exchanger adalah dengan
melakukan kontak sampel dengan resin kation, hasilnya dititrasi dengan larutan
EDTA. Hal ini dilakukan untuk menentukan nilai kesalahan pada larutan yang
dialirkan, apabila kesadahan tinggi berarti resin pada unit ion exchanger telah
mengalami kejenuhan karena karena unit ion exchanger tidak dapat untuk mengikat
ion secara sempurna akibat kejenuhan tersebut.
4. Menghitung efisiensi penyisihan dari senyawa yang terkandung dalam limbah,
misalnya penyisihan senyawa besi :
Diketahui
:
ppm Fe2+ inlet = 100 mg/liter
ppm Fe2+ outlet = 20 mg/liter
Ditanya
:
%efisiensi ?
Penyelesaian :
% Efisiensi = (ppm inlet-ppm outlet)/ppm inlet x 100%
= (100 mg/liter 20 mg/liter)/100 mg/liter x 100%
= 80%
I. Tugas 2
1. Syarat-syarat dasar suatu resin ?
Adapun syarat-syarat dasar suatu resin adalah sebagai berikut :
a. Resin itu harsu cukup terangkai silang, sehingga kelarutannya dapat diabaikan.
b. Resin itu harus hidrofilik untuk memungkinkan difusi ion-ion melalui
strukturnya dengan laju yang terukur.
c. Harus menggunakan cukup banyak gugus penukar ion yang dapat dicapai dan
harus stabil.
d. Resin yang sedang mengembang, harus lebih besar rapatannya dari pada air.
nR-H + Mn+ = (R-)nMn+ + nH+
R = Matriks resin
2. Macam-macam resin penukar ion ?
Berdasarkan pada keberadaan gugusan labilnya, resin penukar ion dapat
diklasifikasi dalam berbagai macam, yaitu :
a. Resin penukar kation bersifat asam kuat (mengandung gugus HSO 3) contoh
paling baik dari resin penukar kation asam kuat adalah Principal Sulfonated
styrenedivinylbenzene copolymer produc seperti ambertole IRP-69 (Rhom dan
Haas) dan DOWEX MSC-1 (Dow Chemical).
20
Resin ini dapat digunakan untuk menutup rasa dan aroma zat aktif kationik.
(mengandung amin) sebelum diformulasi dalam tablet kunyah. Resin ini
merupakan produk sferik yang dibuat dengan mensulfonasi pilihan berupa asam
sulfonat, asam klorosulfonat, atau sulfur trioksida. Penggunaan zat pengembang
yang non aktif umumnya diperlukan untuk pengembangan yang cepat dan
seragam dengan kerusakkan minimum. Resin penukar kation asam kuat
berfungsi diseluruh kisaran pH.
b. Resin penukar kation asam lemah (COOH), resin penukar kation asam lemah
yang paling umum adalah yang dibuat dengan tautan silang atau asam
karboksilat tak jenuh seperti asam metaklikat dengan suatu zat tautan silang
seperti divinil benzene. Contohnya : mencakup Dowex CCR-2 (Dow Chemical)
dan Amberlit IRP-65(Rhom dan Haas). Resin pertukaran kation asam lemah
berfungsi pada pH diatas 6.
c. Resin penukar anion bersifat basa kuat (mengandung gugusan amina tersier atau
kuartener). Resin penukar anion basa kuat adalah resin amin kuartener sebagai
hasil dari reaksi trietilamin yang kopolimer dari stiren dan divinil benzene yang
diklorometilasi. Misalnya amberlite IRP-276 (Rhom dan Haas) dan Dowex
MSA-A (Dow Chemical). Resin penukar anion basa kuat ini berfungsi diseluruh
kisaran pH.
d. Resin penukar anion bersifat basa lemah (mengandung OH sebagai gugusan
labil). Resin penukar ion basa lemah dibentuk dengan mereaksikan amin
sekunder
dan
ammonia
kopolimer
stirendan
divinil
benzene
yang
diklorometilasi , biasanya digunakan dimetil amin.resin penukar anion basa
lemah ini berfungsi dengan baik di bawah pH.
3. Sifat-sifat resin pada ion exchanger?
Sifat-sifat resin yang baik adalah sebagai berikut :
a. Mempunyai kapasitas ikatsn silang yang kuat yang dapat menghilangkan
sejumlah ion tertentu.
b. Resin dengan ukuran partikel kecil akan semakin baik, sebab dibutuhkan kontak
luas yang besar.
c. Resin mempunyai stabilitas yang dapat digunakan dalam waktu yang lama ,
tidak mudah aus/rusak dalam regenerasi.
4. Mekanisme yang terjadi dalam kolom resin penukar kation dan anion ?
a. Pada resin penukar kation, mekanisme reaksinya adalah sebagai berikut :
Lewatit-2H+ + Ca(HCO3)2
Lewatit-Ca + 2H2CO3
+
Lewatit-2H + MgSO4
Lewatit-Mg + H2SO4
Lewatit-2H+ + CaCl2
Lewatit-Ca + 2HCl
b. Pada resin penukar anion, mekanisme reaksinya adalah sebagai berikut :
Lewatit-2OH- + H2SO4
Lewatit-SO4 + 2H2O
21
Lewatit-OH- + HCl
Lewatit-Cl + H2O
5. Aplikasi ion Exchanger pada pengolahan air ?
Aplikasinya dalam dunia industry:
a. Water softener (menghilangkan hardness) dengan menggunakan resin kation.
b. Penghilang organic atau nitrat dengan menggunakan resin anion.
c. Deionisasi atau demineralisasi (menghilangkan unsure positif dan unsure
negative) dengan menggunakan gabungan resin kation dan anion.
6. Keunggulan ion Exchanger ?
Keunggulan dari ion exchanger adalah sebagai berikut :
a. Mengurangi atau menghilangkan unsure inorganic dengan baik.
b. Bisa diregenerasi kembali.
c. Dapat digunakan untuk flowrate/debit yang berfluktuasi.
d. Jenis resin yang bervarisasi, setiap jenis dapat digunakan untuk menghilangkan
unsure atau kontaminan tertentu.
e. Untuk kualitas air baku dengan TDS<500 ppm merupakan pilihan dan operasi
yang murah.
7. Kekurangan ion Exchange ?
Kekurangan dari ion exchange adalah sebagai berikut :
a. Semakin tinggi TDS , maka semakin banyak biaya operasional.
b. Tidak dapat menghilangkan partikel bakteri atau phatogen.
c. Diperlukan pretreatment untuk hampir setiap bahan baku.
d. Sensitive terhadap keberadaan unsure lain denagn polaritas yang hamper sama.
e. Media resin berpotensi menjadi tempat berkembang biak bakteri.
J. Analisa Percobaan
Dari percobaan yang telah dilakukan dapat dianalisa bahwa pengolahan limbah
cair dapat dilakukan dengan ion exchanger yaitu suatu metode penukaran ion-ion yang
terkandung dalam air yang pada umumnya tidak diperlukan karena dapat menyebabkan
kerugian bagi pengguna air tersebut, dengan cara melewatkan air yang mengandungion
positif (kation) pada resin positif dan melewatkan air yang mengandung ion negative
(anion) pada resin negative, didalam kolom resin keduanya akan mengelami kontak
sehingga terjadilah pertukaran ion.
Pada percobaan kali ini , sampel artificial yang digunakan adalah CaCO 3 untuk
kation, dengan jumlah ppm inlet sebesar 500 ppm dan setelah dialirkan pada alat ion
exchanger (ion exchanger) didapat jumlah ppm sebesar 54,0486 ppm, besar efisiensi
alat (resin kation) pada percobaan kali ini adalah sebesar 89,1902 %. Ca 2+ yang
terkandung didalam larutan CaCO3 akan tertahan didalam kolom resin, sehingga larutan
yang akan keluar nantinya adalah L-CO3 , dimana L adalah gugusan ion positif dari
22
matriks resin. Larutan yang dimasukkan ke dalam unit ion exchanger akan bebas
mineral (mengurangi) karena pada dasarnya air yang mengandung mineral 2+
merupakan tergollong kedalam air sadah, air sadah tersebutlah yang dapat merugikan
.oleh sebab itu dilakukanlah prroses pengolahan air untuk menghilangkan ion 2+ dalam
air, sehingga kerugian yang disebabkannya dapat diminimalisir. Proses titrasi dilakukan
dengan
larutan
EDTA dengan
menggunakan
indicator
Eriocrome
Black-T,
didapatvolume awalpada saat air memiliki kesadahan 500 ppm yaitu sebesar 4,4 ml.
sedangkan setelah dilakukan penukaran ion, ppm dalam air beruabah menjadi 54,0486
ppm. Dari hasil analisa dapat ditarik kesimpulan bahwa kolom resin kation pada unit
ion exchanger bekerja dengan sangat baik karena mineral Ca2+ yang tidak diinginkan
dapat ditukar dengan logam pengganti.
Sedangakan untuk pertukaran ion (-) atau yang biasa disebut dengan anion,
sampel yang digunakan adalah NaCl dengan jumlah ppm inlet sebesar 500 ppmdan
setelah dialirkan ada alat ion exchanger didapat jumlah ppm sebesar 37,44 ppm, besar
efisiensi alat (resin anion) pada percobaan kali ini adalah sebesar 92,512 %. Cl - yang
terkandung didalam larutan NaCl akan tertahan didalam kolom resin, sehingga larutan
yang akan keluar nantinya adalah Na-R, dimana R adalah gugus ion negative dari
matriks resin. Larutan yang dimasukkan akan terbebas dari ion negative. Pada saat
titrasi larutan, AgNO3 bertindak sebagai titran sedangkan kalium kromat bertindak
sebagai indicator. Sampel yang dilewatkan ke dalam alat ion exchanger akan dititrasi,
sehingga didapat ppm sebesar yang tersebut diatas. ppm awal adalah 500 ppm.
Dari percobaan yang telah dilakukan dapat ditarik kesimpulan bahwa kolom resin
anion pada unit ion exchanger bekerja dengan sangat baik.
K. Kesimpulan
Dari percobaan pengolahan limbah cair dengan menggunakan ion exchanger (penukar
ion) dapat disimpulkan bahwa :
1. Ion exchanger merupakan alat penukar ion yang digunakan untuk menghasilkan air
yang bebas dari ion-ion pengganggu dengan cara kontak antara larutan dan resin
didalam kolom.
2. Ada 2 jenis resin yaitu resin kation dan resin anion.
3. Pada percobaan kali ini, ion exchanger digunakan untuk menghilangkan kation
(Ca2+) dan anion (Cl-) sehingga didapat air yang bebas mineral dan ion negative.
4. Laju alir air dalam ion exchanger didapat sebesar 30,76 ml/s, 16,67 ml/s , didapat
dari setiap 100 ml air yang mengalirdi catat waktu yang dibutuhkan sebesar 3,25
detik dan 6 detik.
5. Dari percobaan didapat nilai ppm (kation) :
23
Ppm sebelum
: 500 ppm
Ppm sesudah
: 54,0486 ppm
Esisiensi alat
: 89,1902 %
Dari percobaan didapat nilai ppm (anion) :
Ppm sebelum
: 500 ppm
Ppm sesudah
: 37,44 ppm
Efisiensi alat
: 92,512 %
6. Aplikasi pada industry :
a. Banyak digunakan pada industry air bersih.
b. Industry yang membutuhkan air bebas mineral.
c. Pencegah terjadinya penyumbatan pada laju alir pipa.
d. Menghilangkan ion penggangu pad laju alir pipa.
DAFTAR PUSTAKA
http://Scribd,com/
Jobsheet.Penuntun
Sriwijaya.2016:Palembang
http://blogspot.com
Modul Teknik Pengolahan Limbah.2016.Politeknik Negeri Sriwijaya :Palembang
http://Penentuan_kejenuhan_ion_exchanger.com
www.resin_penukar_ion.com
Teknik
Pengolahan
24
Limbah.
Politeknik
Negeri
GAMBAR ALAT UNIT ION EXCHANGER
25
GAMBAR ALAT
Erlenmeyer
Kaca Arloji
Batang Pengaduk
Spatula
Bola Karet
Gelas Kimia
Buret, Statif, Labu ukur, pipet ukur dan corong
26