Anda di halaman 1dari 18

ETIL ASETAT DARI ALKOHOL DAN ASAM CUKA

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Prinsip Percobaan :
Estrifikasi
Reaksi esterifikasi merupakan reaksi pembentukan ester dengan reaksi langsung
antara suatu asam karboksilat dengan suatu alkohol. Suatu reaksi pemadatan untuk
membentuk suatu ester disebut esterifikasi. Esterifikasi dapat dikatalis oleh kehadiran ion
H+. Asam belerang sering digunakan sebagai sebagai suatu katalisator untuk reaksi ini.
Pada skala industri, etil asetat di produksi dari reaksi esterifikasi antara asam asetat
(CH3COOH) dan etanol (C2H5OH) dengan bantuan katalis berupa asam sulfat (H2SO4).
Alkil lkanoat/ Ester adalah sebuah asam karboksilat mengandung gugus -COOH, dan
pada sebuah ester hidrogen pada gugus ini digantikan dengan sebuahgugus hidrokarbon
dari berbagai jenis. Gugus ini bisa berupa gugus alkil sepertimetil atau etil, atau gugus
yang mengandung sebuah cincin benzen seperti fenil.
Ester dapat terhidrolisis dengan pengaruh asam membentuk alkohol danasam
karboksilat. Reaksi hidrolisis tersebut merupakan kebalikan daripengesteran. Disini
senyawa karbon mengikat gugus fungsi COOR adalah alkilalkanoat . Ester diturunkan
dari alkohol dan asam karboksilat. Untuk ester turunan dari asam karboksilat paling
sederhana, nama-nama tradisional digunakan, sepertiformate, asetat,dan propionate.
(Harold, 1983)
1.2 Reaksi Percobaan :
CH3CH2OH + CH3COOH
Etanol
As. Asetat

CH3COOC2H5 + H2O
Etil Asetat
Air

1.3 Maksud dan Tujuan :


1. Untuk mengetahui pembuatan Etil Asetat dari Alkohol dan Asam Cuka
2. Untuk memurnikan Etil Asetat dengan cara distilasi
3. Untuk mengetahui sifat Fisika dan Kimia dari Etil Asetat
4. Untuk mengetahui reflaksi dari Etil Asetat praktis
BAB II
LANDASAN TEORI
Alkil lkanoat/ Ester adalah sebuah asam karboksilat mengandung gugus -COOH, dan
pada sebuah ester hidrogen pada gugus ini digantikan dengan sebuahgugus hidrokarbon dari
berbagai jenis. Gugus ini bisa berupa gugus alkil sepertimetil atau etil, atau gugus yang
mengandung sebuah cincin benzen seperti fenil.
1

Ester dapat terhidrolisis dengan pengaruh asam membentuk alkohol danasam


karboksilat. Reaksi hidrolisis tersebut merupakan kebalikan daripengesteran. Disini senyawa
karbon mengikat gugus fungsi COOR adalah alkilalkanoat . Ester diturunkan dari alkohol
dan asam karboksilat. Untuk ester turunan dari asam karboksilat paling sederhana, namanama tradisional digunakan, sepertiformate, asetat,dan propionate.
Ester yang paling lazim adalah etil asetat, CH3CO2CH2CH3, suatu pelarut cat dan cat
kuku maupun pelarut untuk perekat. Etil asetat dan ester lain dengan sepuluh karbon atau
kurang merupakan suatu cairan yang mudah menguap dengan bau enak yang mirip dengan
buah-buahan dan sering dijumpai dalam buah-buahan dan bunga-bungaan. Banyak ester, baik
yang dari alam maupun dibuat oleh manusia, yang digunakan sebagai bahan penyedap (flavoring
agent). Bau dan citarasa dari buah-buahan tertentu dapat disebabkan oleh beberapa ester.
Misalnya etil asetat, n-butil asetat, dan n-pentil asetat semuanya merupakan citarasa dari
pisang-pisang.Ester yang terdapat dari alam yang terbuat dari asam karbiksilat berantaipanjang dan alkohol berantai-panjang disebut lilin (janganlah dikacaukan lilin dengan
bermacam hidrokarbon,seperti lilin parafin). Kebanyakan bahan yangdisebut lilin biasanya
adalah campuran dua ester atau lebih dan zat-zat lain. Campuran semacam itu merupakan zat padat
yang mudah meleleh, dan jangka leleh yang lebar (40-90 C). bila dicampur dengan pelarut
organik tertentu,dapatlah mudah dioleskan sebagai larutan pelindung. Misalnya, carnauba
wax digunakan secara meluas sebagai pemoles mobil dan lantai.

2.1 Bahan Baku


Alkohol
Alkohol merupakan senyawa karbon yang mengandung atom oksigen
berikatan tunggal, kedudukan atom oksigen didalam alkohol serupa dengan
kedudukan atom oksigen yang terikat pada atom hidrogen dalam molekul air.
Oleh karena itu dapat dikatakan bahwa struktur alkohol sama dengan air, satu
atom H pada air merupakan gugus alkil pada alkohol sedangkan struktur eter
dikatakan sama dengan struktur atom air. Struktur kedua atom H pada air sama
dengan struktur gugus alkil pada eter.
Gugus alkil pada alkohol dapat berbentuk alifatik atau siklik, akan tetapi yang
umumnya disebut alkohol adalah yang memiliki gugus alkil alifatik. Oleh karena itu
jika dihubungkan dengan suatu alkohol penamaan diganti dengan HCl, dan nama
2

umumnya menjadi Alkanol. Beberapa senyawa alkanol yang umumnya dikenal adalah
sebagai berikut :
CH3OH

Metanol

CH3-CH2-OH
Etanol
CH3-CH2-CH2-OH
Propanol
CH3(CH2)n-C
Alkohol
Sifat pembuatan dan kegunaan alkohol
Sifat Alkohol
Sifat fisis alkohol dengan massa molekul rendah berbeda dari
hidrokarbonnya yang bersesuaian. Alkohol merupakan zat yang
relative bertitik didih tinggi. Alkohol yang memiliki atom karbon
kurang dari 5 buah sekali larut dalam air karena gugus hidroksil pada
alkohol bersifat polar.
Titik didih etanol (MR 46) cukup tinggi dari pada propane (MR
44). Hal ini terjadi akibat kecendrungan molekul alkohol untuk
berantara satu sama lain karena kepolarannya.
Sebagaimana halnya air pada etanol terdapat atom hidrogen dan
oksigen pada gugus hidroksil yang bersifat polar. Oleh karena itu atom
oksigen pada gugud hidroksil yang cenderung bermuatan negatif
menarik atom hidrogen pada gugus hidroksil lain yang cenderung

bermuatan positif.
Sifat Fisika Alkohol
Merupakan cairan yang tidak berwarna
Mudah terbakar oleh udara
Titik didih dan titik cairnya semakin tinggi jika bobot molekulnya
semakin besar
Makin banyak atom karbonnya makin tinggi bobot jenisnya
Pada suhu kamar alkohol suhu rendah berbentuk cairan yang
bersifat mobile suhu sedang berupa cairan kental sedangkan suhu
tinggi berbentuk padatan
Kelarutan dalam air berkurang seiring dengan bertambahnya
panjang rantai karbon. Kelarutan alkohol berkaitan dengan gugus

OH yang bersifat polar sementara gugus alkil (R) non polar.


Sifat Kimia Alkohol
Dapat dioksidasi
Reaksi esterifikasi dengan asam terjadi ester
Mengalami reaksi subtitusi dan eliminasi
Oksidasi Alkohol
3

Jika alkohol primer dioksidasi maka terbentuknya alkana (aldehid)


dan jika dioksidasi dilanjutkan maka akan terbentuk karboksilat.
Jika alkohol sering (tidak mengandung air) direaksikan dengan Na
dan K terjadi persenyawaan baru disebut alkanoat.
Bila alkanoat terkena air.
Gugus OH dan alkohol mudah diganti dengan halogen, jika alkohol
direaksikan dengan fosforhalogenida.
Estrifikasi alkohol dapat berlangsung dengan berbagai macam
asam membentuk ester.
Contoh : jika alkohol direaksikan dengan asam terjadi ester
Metanol

dalam

industri

digunakan

sebagai

bahan

baku

formaldegid, sebagai radiator anti beku dan pelarut seperti vernish.


Pada kendaraan bermotor metanol sering digunakan untuk kendaraan
mobil balap (Rencing), dan saat ini sedang diujuk untuk digunakan
sebagai bahan bakar untuk kendaraan umum.

Kegunaan Alkohol
1. Untuk membuat minuman beralkohol (minuman keras)
2. Bahan dasar untuk pembuatan polimer
3. Untuk bahan baku industri sarat sintesis
4. Bahan dasar pembuatan zat pewarna dan kosmetik
5. Pelarut berbagai obat-obatan
6. Untuk sterilisasi
7. Untuk obat gosok (isopropil alkohol)
Asam asetat (CH3COOH)
Asam asetat atau asam etanat atau asam cuka adalah salah satu suku dari
golongan asam karboksilat. Asam cuka merupakan turunan dari asam alkanoat (asam
karboksilat jenuh). Asam alkanoat ini adalah asam-asam karboksilat yang rantai
alkalinya jenuh.
1. Pembuatan
Dengan mengoksidasi etanol atau etanal
2. Sifat fisika asam cuka
a. Asam cuka berbentuk cairan, berbau menyengat, larut dalam air
b. Jika padatan akan mengkilat
c. Titik didihnya 118.5oC dan titik bekunya 16.7oC
3. Sifat kimia asam asetat
a. Bereaksi dengan basa akan membentuk garam
b. Garam-garam asetat larut dalam air kecuali Ag asetat
4

c. Ada 3 macam asam asetat yaitu asam aseton enceran, anhidrat dan
glacial
d. Sedikit terionisasi dengan air
Asam cuka termasuk produk antara alipatik yang penting, juga
pada permentasi anggur menjadi cuka berlangsung suatu oksidasi ini
adalah metode tertua dalam pembuatan asam cuka dan hingga sekarang
juga masihdigunakan untuk mendapatkan cuka makanan. Etilen
alkohol dioksidasi secara enzimatis. Enzim yang juga disebut
biokatalisator didapatkan dari bakteri-bakteri khusus.
4. Kegunaan asam cuka
a. Sebagai pelarut organik
b. Sebagai pengasam bahan makanan
c. Untuk membuat berbagai macam ester
d. Untuk membuat zat-zat warna dan propanol
2.2 Bahan Tambahan
Asam Sulfat (H2SO4)
Sifat fisis H2SO4
a. cairan tidak berwarna dan berbau asam
b. merusak kulit dan jaringan tubuh luka bakar yang serius
c. higrokopis membentuk senyawa H2SO4, H2O, H2OSO4.2H2O
d. memperangsang zat-zat organik (kayu, kertas, gula)
Sifat kimia H2SO4
a. H2SO4 encer
H2SO4 + Fe
FeSO4 + H2
H2SO4 encer tidak bereaksi dengan Bi, Hg, Cu dan logam mulia
b. H2SO4 pekat
2H2SO4 + Cu
CuSO4 + SO4 +2H2O
H2SO4 pekat dalam keadaan panas akan mengoksidasikan logamlogam, sedangkan asam itu sendiri direduksikan menjadi SO4
Kegunaan
H2SO4
a. Pembuatan bahan peledak
b. Pembuatan pupuk
c. Industri zat organik seperti insektisida, selofan, dan zat warna
2.3 Produk
Etil Asetat
Etil asetat adalah suatu ester cair yang tidak berwarna dan mudah terbakar.
Pembuatan etil asetat dari alkohol. Jika dengan asam terjadi ester
CH3CH2OH + CH3COOH
Etanol
As. Asetat

CH3COOC2H5 + H2O
Etil Asetat
Air

Menggunakan prinsip esterifikasi. Reaksi esterifikasi adalah suatu ester yang


di bentuk dengan reaksi berlangsung antara asam karboksilat dan alkohol.
- Sifat fisis Etil Asetat
5

a. Merupakan cairan yang tidak berwarna dan mudah terbakar


b. Pada suhu tinggi berubah bentuk minyak dan lemak
c. Berbau khas (bau buah-buahan)
d. Titik didihnya 77oC dan titik beku -84oC
Sifat kimia Etil Asetat
Dapat dihidrolisa dengan air menjadi asam dan alkohol
a.
Tidak bereaksi dengan logam dan PCl3
b.
Bereaksi dengan basa membentuk glisentida
c.
Kegunaan Etil Asetat
Etil asetat digunakan sebagai pelarut dalam bahan cita rasa dan parfume.
Pada reaksi esterifikasi pembentukan H2O adalah hasil penggabungan OH
dari gugus COOH. Suatu asam dengan atom H dari gugus OH dari suatu
alkohol karena reaksi ini terjadi antara molekul-molekul dan berlangsung
lambat sampai akhirnya terjadi kesetimbangan. Karena itu dalam reaksi harus
diberi katalis berupa asam sulfat pekat untuk mempercepat reaksi. Berbeda
dalam pembentukan garam dan basa, larutan basa organik dalam air
mengandung ion-ion hidroksi dan ion ini berlangsung cepat.
Reaksi esterifikasi bersifat reversibel untuk memperoleh keadaan yang
lebih tinggi dalam ester, maka kesetimbangan harus digeser ke arah sisi ester.
Suatu teknik untuk mencapai keadaan ini adalah menggunakan salah satu zat
pereaksi yang berlebihan, sedangkan teknik yang lainnya adalah menggunakan
salah satu produk dari campuran dalam reaksi. Secara umum reaksi esterifikasi
dapat dituliskan sebagai berikut :
CH3CH2OH + CH3COOH
Etanol
As. Asetat

CH3COOC2H5 + H2O
Etil Asetat

Air

2.4 Metode Proses


Operasi pemisahan
Pemisahan zat yang dilakukan pada praktikum ini adalah dengan distilasi.
Distilasi adalah suatu cara atau metode pemisahan atas pemurnian dua atau lebih
senyawa dari campurannya berdasarkan perbedaan titik didihnya.
Distilasi Sederhana. Distilasi ini digunakan bila sampel hanya mengandung
satu komponen yang mudah menguap dengan menguapkan zat tersebut lalu
didinginkan melalui pendingin, sehingga didapat cairan yang murni sampel
dimasukkan kedalam labu dan teratur.
Dalam praktek ini metode yang di pakai adalah metode pemisahan sederhana
atau disebut distilasi sederhana yang pada prinsipnya memisahkan dua atau lebih
6

komponen cairan berdasarkan perbedaan titik didih yang jauh berbeda. Metode ini
adalah bentuk larutan atau cair, tahan terhadap pemanasan, dan perbedaan titik
didihnya tidak terlaludekat. Proses pemisahan yang dilakukan adalah bahan campuran
dipanaskan pada suhu diantara titik didih bahan yang diinginkan. Pelarut bahan yang
diinginkan akan menguap, uap dilewatkan pada tabung pengembun (kondensor). Uap
yang mencair ditampung dalam wadah. Bahan hasil pada proses ini disebut destilat,
sedangkan sisanya disebut residu.
Kelebihan Distilasi
Dapat

memisahkan

Kekurangan Distilasi
zat

dengan Hanya dapat memisahkan zat yang

perbedaan titik didih yang tinggi.

memiliki perbedaan titik didih yang

besar.
Produk yang dihasilkan benar-benar Biaya penggunaan alat ini relatif
murni.

mahal

2.5 Diagram Alir Proses

Menyiapkan bahan baku dan rangkaian alat

17ml alkohol dicampur 17ml H2SO4 pekat kedalam labu


7
Erlenmeyer dan dipanaskan sampai temperatur 140C
Lapisan paling atas yang mengandung ester cuka dicampurkan
dengan
CaCl2
exacirus ukuran
seujung
pengaduk
Distilasi
memurnikan
etil asetat
dan spatula/sendok
fraksi
antara
77-78C
,
Hasil
sulingan
dikocok
dicampur
dengan
NaOH
10% 100ml
sampai
Seimbangkan
kecepatan
tetesan
dengan
perbandingan
3:1.
3
kemudian
dilakukan
proses
pemanasan
untuk
memisahkan
aklohol
sebelum
suhu
mencapai
77-78C
cairan
yang
terdestilasi
dibuang
Didapat
100
ml
hasil
sulingan
mengandung
ester
cuka
alkohol,
atascorong
membirukan
lakmus
tetesan dari lapisan
campuran
pemisah
dan 1 merah
tetesan masuk ke
yang
masi
ada

Setelah 140C dititrasi dengan campuran 67ml asam asetat garsial


dan 80ml etanol PA yang ada pada corong pemisah

BAB III
DESKRIPSI PROSES
3.1 Bahan dan Alat
- Destilasi awal
Alat :
1. Statif
2. Termometer
3. Klem
4. Corong Pemisah
5. Tutup gabus
6. Labu distilasi
7. Oil bath
8. Bunsen
9. Kaki tiga
10. Kassa

12. Labu Erlenmeyer


13. Alat Gabus
14. Lab Jack
15. Cooler

1.
2.
3.
4.
5.
1.
2.
3.
4.
5.
6.

Distilasi akhir
Alat :
Statif
Klem
Termometer
Tutup gabus
Labu distilasi

6. Heater
7. Cooler
8. Erlenmeyer
9. Alat Gabus
10. Lab Jack

Bahan-bahan :
Etanol pure absolute 80 cc
Etanol 17 cc
H2SO4 17 cc
Asam Asetat garsial 67 cc
Naoh 10 gr dan air 100 ml
CaCl2 seujung sendok

3.2 Prosedur
Proses percobaan
1. Labu alas bulat yang bervolume 0.5 liter memiliki lubang yang di alaskan dengan
gabus sebanyak dua lubang
2. Dalam lubang pertama dimasukkan corong pemisah, dan lubang kedua
dimasukkan pipa yang berhubungan dengan alat pendingin (cooler)
3. 17 cc alkohol dimasukan kedalam labu distilasi dan kemudian dicampurkan
dengan 17 cc H2SO4 pekat
4. 67 cc asam asetat garsial dan 80 cc etanol pure absolute ke dalam corong pemisah
5. Rangkaian alat seperti cooling, labu distilasi yang telah diisi dan corong pemisah
yang sudah dicampurkan dengan oil bath sampai suhu 140oC
6. Jika suhu sudah tercapai 140oC, maka ditetesi campuran asam asetat dan etanol
yang ada dicorong pemisah
7. Kecepatan tetesan 3:1. Dimana 3 tetes dari campuran corong pemisah dan 1 tetes
masuk ke erlenmeyer (1 tetes destilat)
8. Hasil sulingan sebanyak 100 ml mengandung ester cuka alkohol, asam cuka dan
air
9. Hasil sulingan dikocok dicampur NaOH 25 ml selama 4 kali
10. Pembuatan NaOH dalam bentuk padatan, NaOH 10 gr dicampur dengan 100 ml
air 10 %
11. Campur NaOH (tetapi jangan terlalu banyak karena nanti akan tipis
pemisahannya)
12. Pengkocokan NaOH bertujuan untuk menghilangkan asam cuka dan membirukan
lakmus merah
13. Menghasilkan dua lapisan. Lapisan paling atas (ester cuka) masukkan ke dalam
labu distilasi
14. Ester cuka dicampur CaCl2 ukuran seujung spatula/ pengaduk
9

15. Proses pemanasan untuk menghilangkan alkohol yang masih ada menggunakan
heater
16. Sebelum suhu mencapai 77-78oC cairan yang terdisilasi dibuang
17. Distilasi memurnikan etil asetat dengan fraksi antara 77-78oC
3.3 Gambar Rangkaian Alat dan Keterangan

Keterangan :
1. Statif
2. Termometer
3. Klem
4. Corong pemisah
5. Tutup gabus
6. Labu distilasi
7. Oil Bath

1.
2.
3.
4.
5.

Statif
Klem
Termometer
Tutup gabus
Labu distilasi

8. Bunsen
9. Kaki tiga
10. Kassa
11. Cooler
12. Labu Erlenmeyer
13. Alas gabus
14. Lab jack

6. Water bath
7. Cooler
8. Erlenmeyer
9. Alas gabus
10. Lab jack
BAB IV
DATA PRAKTIKUM
10

4.1 Data Pengamatan dan Data Perhitungan


Data Pengamatan :
1. Erlenmeyer kosong
= 116.11 gram
2. Erlenmeyer isi
= 155.983 gram
3. Pengocokan antara campuran NaOH dengan hasil sulingan yang
mengandung ester cuka alkohol, asam cuka dan air menghasilkan dua
lapisan. Lapisan atas berwarna bening, dan lapisan bawah berwarna agak
keruh.
4. Campuran 17 ml alkohol dengan 17 ml H 2SO4 di dalam labu destilasi di
destilasi dengan campuran 67 ml asam asetat dengan 80 ml etanol pure
absolute di dalam corong pemisah menghasilkan 100 ml cairan yang
mengandung ester cuka alkohol, asam cuka dan air.
5. Terjadi perubahan warna pada hasil destilasi dari berwarna bening menjadi
warna kekuning-kuningan, akibat labu destilasi kotor.
6. Terkadang suhu tidak stabil, akibat api bunsen sering nyala mati.
Data perhitungan :
Erlenmeyer isi = 103.19 gr
Erlenmeyer kosong
= 114.84 gr
Massa = 14.65 (hasil praktis)
Volume Etil Asetat = 16 ml
Bj =

= 0.9156

Rendemen CH3COOC2H5 = 3.59 %


Perhitungan :
1. Volume Etanol = 17 ml + 80 ml = 97 ml

2. etanol

= 0.79

3. Massa etanol = x V
= 0.79

4. Mol Etanol

x 97 ml = 76.63 gr

=
= 1.665 mol
5. Volume Asam Asetat = 67 ml

6. Asam Asetat = 1.05


11

7. Massa Asam Asetat

=xV
= 1.05

x 67 ml

= 70.35 gr

8. Mol Asam Asetat

= 1.1725 mol

9. Massa etil asetat

= 14.65 gram

10. Konstanta

Reaksi :

C2H5OH + CH3COOH

CH3COOC2H5 + H2O

1.665

1.1725

1.665 x

1.1725 x

Kp =

0.75 x2 + 0.709x 0.488 = 0

X1 2 =

12

X1 2 =

X1 = 0.462
Reaksi :

, X2 = -1.407

C2H5OH + CH3COOH

CH3COOC2H5 + H2O

1.665

1.1725

0.462

0.462

0.462

0.462

1.203

0.7105

0.462

0.462

Massa Etil Asetat (M)

= 0.426 mol x 88

= 40.656 gram

Bj Etil Asetat =

% Rendemen CH3COOC2H5

x 100%

x 100%

x 100%

= 98.07 %

13

BAB V
PENUTUP
5.1 Pembahasan
Pada percobaan ini campuran alkohol , asam asetat berlebih dan sejumlah
kecil asam sulfat pekat sebagai katalis, reaksi yakni dengan mendidihkan campuran,
lalu mengkondensasi uap dengan pendingin air dan kembali menguap ke labu reaksi
dengan penambahan katalis asam sulfat untuk mempercepat reaksi, reaksi dilakukan
pada suhu tinggi 140oC yang disesuaikan dengan titik didih reaksi campuran.
Campuran 17 ml alkohol dengan 17 ml H2SO4 di dalam labu destilasi di destilasi
dengan campuran 67 ml asam asetat dengan 80 ml etanol pure absolute di dalam
corong pemisah menghasilkan 100 ml cairan yang mengandung ester cuka alkohol,
asam cuka dan air. Katalis asam sulfat dapat menghambat hidrolisis. Terjadi
perubahan warna pada hasil destilasi dari berwarna bening menjadi warna bening
seharusnya tapi pada kenyataannya kekuning-kuningan, akibat labu destilasi kotor.
Volume etil asetat yang diperoleh berkuran disebabkan, dimana volume yang
diperoleh lebih kecil dibandingkan volume awal. Hal ini disebabkan oleh beberapa
faktor yaitu :
-

Kemungkinan pada saat proses , ester masih tersisa pada labu didih yang

tercampur pada asam asam.


Reaksi esterifikasi merupakan reaksi reversibel dan berjalan lambat.
Sehingga rendemen yang diperoleh dari percobaan ini adalah 98,07%.
Sebenarnya hal ini sudah bagus, hanya saja bila ingin mendapatkan hasil yang
lebih maksimum hal tersebut dapat dicapai yaitu suhu operasi harus pada suhu
optimum dan dijaga konstan

5.2 Kesimpulan

14

a. Etil asetat disintesis melalui reaksi esterifikasi dari asam asetat dan ethanol,
biasanya disertai katalis asam seperti asam sulfat
b. Penambahan katalis asam sulfat untuk mempercepat reaksi
c. Rendemen yang didapatkan 98,07%
TUGAS
1. Analisa kesalahan minimal 5!
Jawab :
- Peralatan yang kotor atau tidak bersih menyebabkan hasil perubahan warna pada
labu erlenmeyer yang seharusnya Etil Asetat memiliki sifat fisis yang tidak
-

berwarna yang kita dapatkan adalah etil asetat berwarna kuning seulas
Fraksi yang diambil antara suhu 77oC sampai 78oC. Tetapi praktek hanya sampai

suhu 74oC tidak sesuai prosedur


Pengukuran termometer yang sering kontak langsung dengan dinding sehingga

untuk mendapatkan suhu yang maksimal menjadi sulit


Bunsen yang digunakan tersendat karena apinya sulit untuk dinyalakan sehingga

mempengaruhi suhu
Hasil praktis yang didapat +/- 43 gram. Sedang dalam praktek massa praktis

155.983-116.11 = 39.873 jauh dari hasil yang diinginkan/belum tercapai


2. Jelaskan jenis-jenis katalis dan berikan minimal satu contoh!
Jawab :
Berdasarkan wujudnya, katalis dapat dibedakan menjadi katalis homogen dan katalis
heterogen (James E. Brady, 1990).
1. Katalis Homogen
Katalis homogen adalah katalis yang dapat bercampur secara homogen dengan zat
pereaksinya karena mempunyai wujud yang sama.
Contoh Katalis Homogen :
a. Katalis dan pereaksi berwujud gas

2SO2(g) + O2(g)

NO(g)

2SO3(g)

b. Katalis dan pereaksi berwujud cair

C12H22O11(aq) + H2O(l)

H+(aq)

C6H12O6(aq)
glukosa

C6H12O6(aq)
fruktosa

15

2. Katalis Heterogen
Katalis heterogen adalah katalis yang tidak dapat bercampur secara homogen
dengan pereaksinya karena wujudnya berbeda.
Contoh Katalis Heterogen :
Katalis berwujud padat, sedang pereaksi berwujud gas.
C2H4(g) + H2(g)

Ni(s)

C2H6(g)

3. Autokatalis
Autokatalis adalah zat hasil reaksi yang bertindak sebagai katalis.
Contoh Autokatalis :
CH3COOH yang dihasilkan dari reaksi metil asetat dengan air merupakan
autokatalis reaksi tersebut.
CH3COOCH3(aq) + H2O(l) CH3COOH(aq) + CH3OH(aq)
Dengan terbentuknya CH3COOH, reaksi menjadi bertambah cepat.
4. Biokatalis
Biokatalis adalah katalis yang bekerja pada proses metabolisme, yaitu enzim.
Contoh Biokatalis :
Enzim hidrolase mempercepat pemecahan bahan makanan melalui reaksi
hidrolisis.
5. Inhibitor
Inhibitor adalah zat atau senyawa yang kerjanya memperlambat reaksi atau
menghentikan reaksi.
Contoh Inhibitor :
I2 atau CO bersifat inhibitor bagi reaksi:
2H2(g) + O2(g) 2H2O(l)
6. Racun Katalis
Racun katalis adalah inhibitor yang dalam jumlah sangat sedikit dapat mengurangi
atau menghambat kerja katalis.
Contoh Racun Katalis :
CO2, CS2, atau H2S merupakan racun katalis pada reaksi:
Pt
2H2(g) + O2(g)

2H2O(l)
3. Sebutkan rumus archenius dan jelaskan notasinya!
16

Jawab :

T = suhu/temperatur
R=Konstanta Gas
EA = Energi Aktivasi
k = Konstanta
A= Faktor Frekwensi
4. Sebutkan dan jelaskan macam-macam distilasi!
Jawab :
Macam-macam distilasi
a. Distilasi Sederhana
Distilasi ini digunakan bila sampel hanya mengandung satu komponen yang
mudah menguap dengan menguapkan zat tersebut lalu didinginkan melalui
pendingin, sehingga didapat cairan yang murni sampel dimasukkan kedalam labu
dan teratur.
b. Distilasi Bertingkat
Distilasi bertingkat digunakan untuk

memisahkan senyawa cair, dimana zat

pencampurannya berupa senyawa cair yang titik didihnya rendah dan tidak jauh
dengan titik didih senyawa yang dimurnikan.
c. Distilasi Uap (Steam)
Distilasi uap digunakan untuk memurnikan senyawa yang tidak larut dalam air
dan mempunyai titik didih yang tinggi tetapi bersifat labil dalam uap sehingga
dapat dimurnikan dengan mengalirkan uap yang berbentuk pada steam distilasi.
d. Distilasi Vacum
Distilasi vacum disebut juga dengan pemurnian tekanan, digunakan untuk
memurnikan zat dari campurannya yang mudah terurai sebelum mencapai titik
didihnya. Untuk menurunkan titik didihnya maka dilakukan penurunan tekanan.

5. Sebutkan jenis-jenis pelarut yang baik!


Jawab :
Klasifikasi Pelarut dapat dilakukan sebagai berikut:
1. Pelarut aprotik
Pelarut ini tidak menerima maupun memberi proton dan dalam keadaan ini
bersifat netral, tidak bereaksi, tetapan dielektriknya rendah, tidak terurai menjadi
ion-ion dalam sistem pelarut, hingga ia tidak bereaksi baik dengan asam maupun
basa. Contohnya : kloroform, toluen, CCl4, hidrokarbon. Pelarut aprotik berguna
unutuk mempelajari reaksi asam dan basa yang bebas dari pengaruh pelarut.
2. Pelarut protofilik
17

Pelarut yang bersifat dapat menerima proton dari zat terlarut, disebut juga pelarut
basa , dengan reaksi sebagai berikut:
HB + pelarut > pelarut H+ + BContohnya : NH4OH, amine, ketone, aseton, dan eter.
Asam lemah bila dilarutkan dalam pelarut protofilik maka keasamannya akan
meningkat yang disebut efek levelling
3. Pelarut protogenik
Pelarut yang bersifat memberi proton (donor proton). Jika basa lemah dilarutkan
dalam pelarut protogenik maka kebasaannya akan meningkat.
Contohnya : HF, Asam Sulfat, asam acetat, asam format, dan HCl.
4. Pelarut amfiprotik
Pelarut ini bekerja sebagai penerima proton, dan pemberi proton. Contoh untuk
pelarut ini adalah golongan alkohol, air, asam acetat glasial.
Asam acetat bisa bersifat asam dengan reaksi :
CH3COOH > CH3COO- + H+
Tetapi bila asam asetat dilarutkan dalam asam yang lebih kuat misalnya HCLO4,
asam asetat bersifat basa dengan reaksi :
CH3COOH + HClO4 > CH3COOH2+ + ClO4Ion CH3COOH2+ dapat bereaksi dengan basa dengan cara memberikan proton.
Maka zat yang bersifat basa lemah akan berubah sifatnya menjadi basa yang lebih
kuat, sehingga titrasi antara basa lemah oleh HClO4 dapat dilangsungkan bila zat
tersebut dilarutkan dalam asam asetat glasial.
DAFTAR PUSTAKA

Achyar Sunjaya. 1983. Ilmu Kimia. Jilid 1. M25 Bandung


Fessenden. 1995. Kimia Organik. Jilid 2. Erlangga Jakarta
Modul Praktikum III Kimia Organik UMJ
Alipart, 2011, Pembuatan

etil

asetat.http://alipart.blogspot.com/2011/03/pembuatan-etil-

asetat.html

18

Anda mungkin juga menyukai