Anda di halaman 1dari 3

https://ihsanulkhairi86saja.wordpress.

com/2012/01/23/media-dan-teknikpendinginan-ikan-2/
2.

Air laut di dinginkan dengan es

Air laut yang di dinginkan dengan es atau chilled sea water (CSW) merupakan media
pendingin yang banyak digunakan untuk pendinginan ikan di atas kapal. Namun, tidak semua
kapal pengkap ikan menangani ikan dengan media CSW, tetapi hanya terbatas pada kapalkapal besar yang mempunyai perlengkapan memadai.
Suhu pendinginan dari CSW lebih rendah dan penurunan suhu nya lebih cepat dari pada suhu
pendinginan dengan media pendingin es saja. Hal ini di sebabkan media pendingin CSW
lebih banyak bersinggungan lagsung dengan permukaan ikan. Selain itu, air laut yang
mengandung garam dapat menurunkan titik lebur es sehingga es lebih lambat melebur.
Dengan demikian, panas yang dapat di serap menjadi lebih besar. Namun, dalam praktiknya
kecepatan penurunan suhu tergantung pada sirkulasi air dalam wadah penyimpanan.
Pada penanganan ikan dengan sistem CSW, perbandingan antara ikan dan air laut berkisar 3 :
1 sampai 4 : 1. Es yang di tambahkan harus dapat menurunkan suhu air laut dari suhu awal
sampai -1C dan juga dapat mempertahankan suhu tersebut selama penyimpanan.
Jumlah es yang digunakan untuk menurunkan suhu awal air laut sampai -1C dapat di hitung.
Seandainya hasil tangkapan ikan yang akan di tangani sebanyak 4.000 kg (4 ton) ikan dan
suhu awal air laut yang digunakan sebagai media pendingin adalah 24C secara perbandingan
ikan dengan air yang di gunakan adalah 4 : 1 maka es yang harus di tambahkan agar suhu air
laut menjadi -1C adalah sebagi berikut:

,k

4.000 kg + 1.000 kg = 5.000 kg

Jumlah panas yang harus di serap = total berat campuran besarnya perbedaan suhu
panas spesifik ikan

= 5.000 (24 (-1)) 1


= 5.000 25 1
= 125.000 kkal

Panas yang keluar dari es saat melebur = 80 kka/kg es.

Es yang di perlukan sebanyak =


= 1.562,5 kg es

Jadi untuk menurunkan suhu awal air laut dari 24C menjadi -1C di perlukan sebanyak
1.562,5 kg atau sekitar 1,5 ton es.

Dari perhitungan diatas dapat di simpulkan bahwa perbandingan ikan, air laut, dan es adalah
4 : 1 : 1,5. Jumlah es dalam perbandingan tersebut hanya untuk menurunkan suhu air laut
saja. Sementara untuk mempertahankan suhu air laut perlu ditambahkan es lagi. Banyaknya
es yang harus ditambahkan tergantung pada lamanya penyimpanan, isolasi pada wadah atau
tangki penyimpanan, dan suhu lingkungan luar tangki.
Ikan yang ditangani dengan menggunakan medium CSW akan terasa sedikit asin karena
adanya garam yang masuk kedalam tubuh ikan selama perendaman. Berikut ini beberapa
faktor yang mempengaruhi masuknya garam dalam tubuh ikan.
1. Ukuran dan spesies ikan, ikan yang berukuran kecil dan spesies ikan dengan
kandungan lemak rendah akan lebih terasa asin dibandingkan dengan ikan yang besar
dan berlemak.
2. Penyiangan. Ikan yang disiangi sebelum pendinginan akan terasa lebih asin
dibandingkan dengan ikan yang tidak disiangi.
3. Perbandingan ikan dengan air laut yang digunakan. Semangkin banyak air laut yang
digunakan maka ikan akan lebih asin.
4. Lamanya penyimpanan. Semangkin lama penyimpanan ikan maka akan menyebabkan
rasa ikan akan semangkin asin.

Tangki penyimpanan atau wadah tempat penanganan ikan dengan menggunakan media CSW
harus kedap air, mudah di bersihkan, tahan terhadap korosi, dan di usahakan berisolasi untuk
menahan panas yang masuk dari luar dari dinding wadah.
Untuk mempertahankan tingkat kesegaran ikan yang maksimal pada penanganan ikan dengan
media CSW maka selama penanganan harus dilakukan pengadukan atau aerasi. Pengadukan
ini dimaksudkan untuk memperoleh suhu yang homogen atau merata dari seluruh tangki.
Pada umumnya, suhu air permukaan tangki lebi h rendah dari suhu bagian bawah.
1. 3.

Air laut didinginkan dengan alat mekanis

Media pendingin air yang digunakan dengan alat mekanis disebut juga dengan refrigerated
sea water (RSW). Alat mekanik yang digunakan untuk mendinginkan air laut tersebut adalah
refrigerator. Evaporator yang merupakan bagian dari refrigerator disimpan pada salah satu
dinding tangki. Evaporator ini berfungsi untuk mendinginkan air laut dengan menyerap panas
yang dikeluarkan oleh ikan maupun air laut.
Air dingin disirkulasi ke dalam tangki penyimpanan dan selanjutnya dialirkan kembali
melewati refrigerator dengan pompa. Air yang telah melewati refrigerator akan menjadi
dingin dan selanjutnya disirkulasi kembali ke tangki penyimpanan.
Penggunaan ikan dengan menggunakan sistem RSW banyak di gunakan oleh kapal
penangkapan ikan yang berukuran besar. Pada umumnya, kapal-kapal besar tersebut dalam
melakukan penangkapan ikan sampai berbulan-bulan lamanya sehingga media pendingin

yang digunakan harus mampu mempertahankan hasil tangkapannya sampai kapal tersebut
berlabuh.
Berikut ini beberapa keuntungan menggunakan media RSW dalam penanganan ikan.
1. Dapat memperpanjang tingkat kesegaran ikan karena suhu pendinginan dapat
mencapai -1C.
2. Kerusakan fisik dapat dihindari karena karena ikan tidak mendapatkan tekanan dari
ikan yang di atasnya atau dari es sebagaimana halnya jika menggunakan media es.
3. Penurunan suhu ikan akan berlangsung lebih cepat karena suhu permukaan ikan dapat
kontak dengan media pendingin.
4. Proses penanganan ikan lebih mudah dan cepat, baik dalam pengisian maupun
pembongkaran sehingga akan menghemat waktu dan tenaga kerja.
Selain keutungan di atas, berikut ini beberapa kelemahan penggunaan metode RSW.
1. Ikan akan terasa asin karena adanya garam yang masuk kedalam tubuh ikan.
2. Sebagian protein ikan ada yang larut kedalam air garam (air laut).
3. Sulit dilakukan proses sanitasi dan higienitas.
4. Air harus selalu di sirkulasi agar diperoleh suhu yang merata.
5. Perlu dilakukan pengantian air secara bertahap karena air yang terlalu lama digunakan
akan menyebabkan kebusukan pada ikan. Proses pembusukan tersebut akibat
dekomposisi senyawa-senyawa kompleks dari kotoran yang larut dalam air menjadi
senyawa-senyawa sederhana oleh aktivitas bakter