Anda di halaman 1dari 8

(SAB)

SATUAN ACARA BERMAIN

Mata Ajar

: Praktik Klinik Keperawatan Anak

Pokok Bahasan : Terapi bermain melukis


Sasaran

: Semua pasien yang kooperatif

Hari/ Tanggal

: Sabtu, 12 November 2016

Waktu

: 30 menit

Penyuluhan

: Mahasiswa Universitas Ngudi Waluyo

Tempat

: Ruang Melati 2 RSUD dr. Moewardi

A. Latar Belakang
Aktivitas

bermain

merupakan

salah

satu

stimulasi

bagi

perkembangan anak secara optimal. Dalam kondisi sakit atau anak


dirawat di rumah sakit, aktivitas bermain ini tetap dilaksanakan, namun
harus disesuaikan dengan kondisi anak. Pada saat dirawat di rumah sakit,
anak

akan

mengalami

berbagai

perasaan

yang

sangat

tidak

menyenangkan, seperti marah, takut, cemas, sedih, dan nyeri. Perasaan


tersebut merupakan dampak dari hospitalisasi yang dialami anak karena
menghadapi beberapa stressor yang ada dilingkungan rumah sakit.
Untuk itu, dengan melakukan permainan anak akan terlepas dari
ketegangan dan stress yang dialaminya karena dengan melakukan
permainan

anak

permainannya

akan

(distraksi)

dapat
dan

mengalihkan
relaksasi

rasa

melalui

sakitnya

pada

kesenangannya

melakukan permainan. Tujuan bermain di rumah sakit pada prinsipnya


adalah agar dapat melanjutkan fase pertumbuhan dan perkembangan
secara optimal, mengembangkan kreatifitas anak, dan dapat beradaptasi
lebih efektif terhadap stress. Bermain sangat penting bagi mental,
emosional, dan kesejahteraan anak seperti kebutuhan perkembangan
dan kebutuhan bermain tidak juga terhenti pada saat anak sakit atau
anak di rumah sakit (Wong, 2009).
Berdasarkan sensus penduduk pada tahun 2003 didapatkan jumlah
anak usia toddler (1-3 tahun) di Indonesia adalah 13,50 juta anak. Anakanak pada usia toddler dapat memainkan sesuatu dengan tangannya

serta senang bermain dengan warna, oleh karena itu bermain dengan
mewarnai gambar menjadi alernatif untuk mengembangkan kreatifias
anak dan dapat menurunkan tingkat kecemasan pada anak selama
dirawat. Melukis dapat menjadi salah satu media bagi perawat untuk
mampu mengenali tingkat perkembangan anak.
Dinamika secara psikologis menggambarkan bahwa selama anak
bermain dengan sesuatu yang menggunakan alat melukis seperti cat air
dan

pelepah

pisang

akan

membantu

anak

untuk

menggunakan

tangannya secara aktif sehingga merangsang motorik halusnya. Oleh


karena sangat pentingnya kegiatan bermain terhadap tumbuh kembang
anak dan untuk mengurangi kecemasan akibat hospitalisai, maka akan
dilaksanakan terapi bermain pada anak usia toddler dengan cara
melukis.

B. Tujuan Umum
Setelah dilakukan pendidikan kesehatan selama 1 x 30 menit
diharapkan anak bisa merasa nyaman selama perawatan dirumah sakit dan

melanjutkan tumbuh kembangnya, mengembangkan aktifitas dan kreatifitas melalui


pengalaman bermain dan beradaptasi efektif terhadap stres karena penyakit selama
dirawat dirumah sakit.
C. Tujuan Khusus
Setelah mendapatkan terapi bermain satu (1) kali diharapkan anak mampu :
1. Anak merasa nyaman selama dirawat.
2. Menumbuhkan kepercayaan diri anak
3. Menumbuhkan suportifitas anak
4. Mengembangkan sosialisasi anak dengan teman dan orang lain
D. Sasaran
Semua pasien yang kooperatif
E. Metode
1. Ceramah
2. Bermain bersama
F. Media
1. Cat air
2. Pelepah pisang
3. Kertas HVS yang sudah dibingkai
G. Proses Bermain
1. Pelaksanaan permainan dilaksanakan di dalam ruang bermain.
2. Mahasiswa yang sebagai perawat anak, duduk disamping anak.

3.

Mahasiswa melakukan pendekatan terlebih dahulu sebelum ke tujuan utama

4.
5.

agar anak merasa nyaman.


Mahasiswa mengenalkan dan menjelaskan permainan yang akan dimainkan.
Mahasiswa memberi contoh terlebih dahulu bagaimana jalannya permainan

6.
7.

kemudian menuntun anak agar dapat melakukannya sendiri


Memberi dukungan pada anak agar semangat.
Beri apresiasi atau reinforcment positif atas usaha anak dalam melakukan
permainannya.

H. Hal-Hal Yang Perlu Diperhatikan


1. Permainan tidak boleh dilakukan pada saat pasien yang tidak kooperatif dan

I.

2.
3.
4.

resiko jatuh.
Fisik anak harus dalam keadaan normal (tidak cacat fisik).
Anak bisa berpindah-pindah/ambulasi (tidak ada gangguan mobilisasi).
Anak merasa bosan dengan permaianan sehingga tidak mau melanjutkan

5.

permainan sampai selesai.


Ulangi suatu cara bermain sehingga anak terampil, sebelum meningkat pada

6.

keterampilan yang lebih majemuk.


Jangan memaksa anak bermain, bila anak sedang tidak ingin bermain.

Antisipasi Untuk Meminimalkan Hambatan


1. Lakukan pendekatan terlebih dahulu kepada anak agar anak tidak merasa takut
2.
3.

ataupun malu sehingga mau melakukan permainan.


Tuntun anak agar dapat melakukan permainan secara baik dan benar.
Jika anak merasa bosan, selingi dengan pembicaraan ringan yang bertujuan agar
anak tetap tertarik pada permainan.

J.

Setting Tempat

Keterangan :
: Leader
: Fasilitator
: Observer
: Pasien
: CI
K. Pengorganisasian
1. Leader
: Putri Ahadiyah
Tugas
:
a. Memimpin jalannya acara

b.

Bertanggung jawab terhadap terlaksananya terapi bermain, yaitu membuka


dan

2.
3.

menutup

kegiatan

ini

dan

menjelaskan

pelaksanaan

mendemonstrasikan terapi.
Fasilitator
: Enggar Puspa Andari
Tugas
:
a. Menyiapkan ruangan, alat-alat, dan anak-anak serta mendampingi.
Observer
: Octavia Nur Aini Wahyudi
Tugas
:
a. Mengobservasi jalannya terapi bermain.
b. Memfasilitasi pelaksanaan terapi bermain.
c. Mengamati dan mencatat jalannya terapi bermain.

L. Proses Kegiatan
No.
Kegiatan Penyuluh
1. Pendahuluan :
1.

Menyampaikan salam

2.

Menjelaskan tujuan

3.

Apersepsi

Kegiatan Audiens
1. Menjawab salam
2. Mendengarkan dengan aktif
3. Mendengarkan dan memberi
respon

2. Penjelasan materi :
1.

20 menit

Menjelaskan kepada anak 1. Mendengarkan


2. Memperhatikan
dan
keluarga
tujuan,
3. Mempraktekkan
manfaat bermain dan cara 4. Menanyakan hal-hal yang
permainan.

2.

Waktu
2 menit

belum jelas

Membantu anak-anak dalam


menyiapkan alat.

3.

Kemudian melukis dengan

kreatifitas anak.
3. Evaluasi

Menjawab pertanyaan

Memberikan pertanyaan lisan


4. Penutup

5 menit
3 menit

1.

Menyimpulkan hasil terapi

1. Aktif bersama dalam

2.

Memberikan salam

menyimpulkan
2. Membalas salam
Total Waktu

30 menit

dan

M. Kriteria Evaluasi
1. Evaluasi Struktur
a. Kondisi lingkungan

2.

3.

tenang,

dilakukan

ditempat

tertutup

dan

memungkinkan klien untuk berkonsentrasi terhadap kegiatan


b. Posisi tempat di lantai menggunakan tikar
c. Adik-adik sepakat untuk mengikuti kegiatan
d. Alat yang digunakan dalam kondisi baik
e. Leader, Fasilitator, Observer berperan sebagaimana mestinya.
Evaluasi Proses
a. Leader dapat mengkoordinasi seluruh kegiatan dari awal hingga akhir.
b. Co-leader membantu mengkoordinasi seluruh kegiatan
c. Fasilitator mampu memotivasi adik-adik dalam kegiatan.
d. Observer sebagai pengamat melaporkan hasil pengamatan
e. Peserta mengikuti kegiatan yang dilakukan dari awal hingga akhir
Evaluasi Hasil
a. Anak menyatakan rasa senangnya
b. Diharapkan adanya peningkatan rasa nyaman di rumah sakit selama anak
masih dalam perawatan, selain itu juga meningkatkan perkembangan
motorik, intelektual, dan kreatifitas anak. Sebagai indikator keberhasilan
dimana anak mampu melukis baik dan tepat.

TINJAUAN TEORI

1.

Pengertian Melukis
Kegiatan mengolah medium dua dimensi atau permukaan dari objek tiga
dimensi untuk mendapat kesan tertentu. Medium lukisan bisa berbentuk apa
saja, seperti kanvas, kertas, papan, dan bahkan film di dalam fotografi bisa
dianggap sebagai media lukisan (Wikipedia, 2016).

2.

Manfaat Melukis
a.

Memberikan kesempatan pada anak untuk bebas berekspresi dan sangat


terapeutik.

b. Dengan bereksplorasi menggunakan gambar, anak dapat membentuk,


mengembangkan

imajinasi

dan

bereksplorasi

dengan

ketrampilan

motorik halus.
c.

Melukis juga aman untuk anak usia toddler, karena menggunakan media
kertas gambar dan cat air.

d. Anak dapat mengeskpresikan perasaannya atau memberikan pada anak


suatu cara untuk berkomunikasi, tanpa menggunakan kata.
e.

Sebagai terapi kognitif, pada anak menghadapi kecemasan karena proses


hospitalisasi, karena pada keadaan cemas dan stress, kognitifnya tidak
akurat dan negative.

f.

Bermain

mewarnai

gambar

dapat

memberikan

peluang

untuk

meningkatkan ekspresi emosinal anak, termasuk pelepasan yang aman


dari rasa marah dan benci.
g. Dapat digunakan sebagai terapi permainan kreatif yang merupakan
metode penyuluhan kesehatan untuk merubah perilaku anak selama
dirawat di rumah sakit.

3.

Keuntungan Bermain
Keuntungan-keuntungan yang didapat dari bermain, antara lain:
a.
b.
c.
d.
e.
f.
g.
h.
i.
j.

Mengoptimalkan pertumbuhan seluruh bagian tubuh, seperti tulang, otot dan organ.
Aktivitas yang dilakukan dapat merangsang nafsu makan anak.
Anak belajar mengontrol diri.
Berkembangnya berbagai ketrampilan yang akan berguna sepanjang hidupnya.
Meningkatnya daya kreativitas.
Mendapat kesempatan menemukan arti dari benda-benda yang ada disekitar anak.
Merupakan cara untuk mengatasi kemarahan, kekhawatiran, iri hati dan kedukaan.
Kesempatan untuk bersosialisasi dengan anak lainnya.
Kesempatan untuk mengikuti aturan-aturan.
Dapat mengembangkan kemampuan intelektualnya.

4.

Macam Bermain
a.

Bermain aktif
Pada permainan ini anak berperan secara aktif, kesenangan diperoleh dari apa
yang diperbuat oleh mereka sendiri. Bermain aktif meliputi :
1) Bermain mengamati/menyelidiki (Exploratory Play)
Perhatian pertama anak pada alat bermain adalah memeriksa alat permainan
tersebut, memperhatikan, mengocok-ocok apakah ada bunyi, mencium, meraba,
menekan dan kadang-kadang berusaha membongkar.
2) Bermain konstruksi (Construction Play)
Pada anak umur 3 tahun dapat menyusun balok-balok menjadi rumahrumahan.
3) Bermain drama (Dramatic Play)
Misal bermain sandiwara boneka, main rumah-rumahan dengan teman-

b.

temannya.
4) Bermain fisik
Misalnya bermain bola, bermain tali dan lain-lain.
Bermain pasif
Pada permainan ini anak bermain pasif antara lain dengan melihat dan
mendengar. Permainan ini cocok apabila anak sudah lelah bernmain aktif dan
membutuhkan sesuatu untuk mengatasi kebosanan dan keletihannya. Contoh ;
Melihat gambar di buku/majalah.,mendengar cerita atau musik,menonton televisi
dsb.Dalam kegiatan bermain kadang tidak dapat dicapai keseimbangan dalam
bermain, yaitu apabila terdapat hal-hal seperti dibawah ini :
1) Kesehatan anak menurun. Anak yang sakit tidak mempunyai energi untuk
aktifbermain.
2) Tidak ada variasi dari alat permainan.
3) Tidak ada kesempatan belajar dari alat permainannya.
4) Tidak mempunyai teman bermain.

5.

Alat Permainan Edukatif


Alat Permainan Edukatif (APE) adalah alat permainan yang dapat mengoptimalkan
perkembangan anak, disesuaikan dengan usianya dan tingkat perkembangannya, serta
berguna untuk :
a. Pengembangan aspek fisik, yaitu kegiatan-kegiatan yang dapat menunjang atau
merangsang pertumbuhan fisik anak, trediri dari motorik kasar dan halus.Contoh alat
bermain motorik kasar : sepeda, bola, mainan yang ditarik dan didorong, tali, dll.
b.

Motorik halus : gunting, pensil, bola, balok, lilin, dll.


Pengembangan bahasa, dengan melatih berbicara, menggunakan kalimat yang
benar.Contoh alat permainan : buku bergambar, buku cerita, majalah, radio, tape, TV,
dll.

c.

Pengembangan aspek kognitif, yaitu dengan pengenalan suara, ukuran, bentuk.


Warna, dll. Contoh alat permainan : buku bergambar, buku cerita, puzzle, boneka,

d.

pensil warna, radio, dll.


Pengembangan aspek sosial, khususnya dalam hubungannya dengan interaksi ibu
dan anak, keluarga dan masyarakat. Contoh alat permainan : alat permainan yang
dapat dipakai bersama, misal kotak pasir, bola, tali, dll.

6.

Hal Yang Harus Diperhatikan Dalam Bermain


1. Bermain/alat bermain harus sesuai dengan taraf perkembangan anak.
2. Permainan disesuaikan dengan kemampuan dan minat anak.
3. Ulangi suatu cara bermain sehingga anak terampil, sebelum meningkat pada
keterampilan yang lebih majemuk.
4. Jangan memaksa anak bermain, bila anak sedang tidak ingin bermain.
5. Jangan memberikan alat permainan terlalu banyak atau sedikit.

DAFTAR PUSTAKA

Erlita, dr. (2006). Pengaruh Permainan pada Perkembangan Anak, diakses


pada tanggal 11 November 2016 dari http://info. balitacerdas.com.
Foster and Humsberger, 1998, Family Centered Nursing Care of Children.
WB sauders Company, Philadelpia USA
L. Wong, Donna. 2003. Pedoman Klinik Keperawatan Pediatrik Edisi 4. EGC
: Jakarta.
Wikipedia. (2016). Seni Lukis, diakes pada tanggal 11 November 2016 dari
https://id.wikipedia.org/wiki/Seni_lukis