Anda di halaman 1dari 15

PEMERIKSAAN ACTIVATED PARTIAL TROMBOPLASTIN TIME(APTT),

PROTROMBIN TIME(PT), FIBRINOGEN, DAN D-DIMER DENGAN ALAT


OTOMATIS

I.

TUJUAN
1. Mahasiswa dapat mengetahui dan memahami pemeriksaan faal hemostasis.
2. Mahasiswa dapat melakukan pemeriksaan activated partial tromboplastin
time(APTT), protrombin time(PT), fibrinogen, dan d-dimer

II.

METODE
Metode yang digunakan dalam praktikum kali ini yaitu metode mekanik

III.

PRINSIP
APTT : Menginkubasikan plasma sitrat yang mengandung semua factor koagulasi
instrinsik kecuali kalsium dan trombosit dengan tromboplastin parsial (fosfolipid)
dengan bahan pengaktif (misal : kaolin ellagic acis, micronized silica atau celite
koloidal).
PT : Dengan menilai terbentuknya bekuan bila ke dalam plasma yang telah
diinkubasi ditambahkan campuran tromboplastin jaringan dan ion kalsium.
Fibrinogen : Fibrinogen dalam plasma citrat bereaksi dengan reagen trombin akan
membentuk benang fibrin. Waktu terbentuknya benang fibrin dibaca dalam satuan detik,
berbanding terbalik dengan kadar fibrinogen. Pembacaan dilakukan secara foto optical/
mekanik electrical/ manual.
D-Dimer : : Fibrinosticon adalah suatu tes aglutinasi latex immunologik yang
menggunakan partikel latex yang dilapisi antibodi monoklonal yang spesifik untuk
cross-linked D-dimer pada fibrin.

IV.

DASAR TEORI
A. HEMOSTASIS
Hemostasis merupakan suatu mekanisme local tubuh yang terjadi secara spontan
berfungsi untuk mencegah kehilangan darah yang berlebihan ketika terjadi trauma atau
luka. Sistem hemostasis pada dasarnya terbentuk dari tiga kompartemen hemostasis

yang sangat penting dan sangat berkaitan yaitu trombosit, protein darah dan jaringjaring fibrin pembuluh darah. (Rahajuningsih, 2007)
Secara umum, menurut Hoffbrand (2005), hemostasis terdiri dari 3 macam yaitu:
1.
Hemostasis primer
Hemostasis primer akan terjadi jika terdapat deskuaminasi dan luka kecil pada
pembuluh darah. Hemostasis primer ini melibatkan tunika intima pembuluh darah dan
trombosit.
Luka akan menginduksi terjadinya vasokonstriksi dan sumbat trombosit. Hemostasis
primer ini bersifat cepat dan tahan lama.
2.
Hemostasis sekunder
Hemostasis sekunder terjadi bila terdapat luka yang besar pada pembuluh darah atau
jaringan lain, vasokonstriksi dan sumbat trombosit belum cukup untuk mengkompensasi
luka ini. Hemostasis sekunder melibatkan trombosit dan factor koagulasi. Hemostasis
sekunder mencakup pembentukan jarring-jaring fibrin. Hemostasis sekunder ini bersifat
delayed and long-term response.
3.
Hemostasis tersier
Hemostasis tersier bertujuan untuk mengontrol agar aktivitas koagulasi tidak berlebihan.
Hemostasis tersier melibatkan system fibrinolysis.
Tubuh manusia mempunyai kemampuan untuk mempertahankan sistem hemostasis
yaitu mempertahankan komponen darah tetap dalam keadaan cair (fluid state) sehingga
tubuh dalam keadaan fisiologik mampu mempertahankan aliran darah dari/dalam
pembuluh darah. Bilamana terjadi kerusakan pembuluh darah maka sistem hemostasis
tubuh akan mengontrol perdarahan melalui mekanisme (1) interaksi pembuluh darah
dan jaringan penunjang, (2) interaksi trombosit dan pembuluh darah yang mengalami
kerusakan, (3) pembentukan fibrin oleh sistem koagulasi, (4) regulasi dari bekuan darah
oleh faktor inhibitor koagulasi dan sistem fibrinolitik, (5) remodeling dan reparasi dari
pembuluh darah yang mengalami kerusakan. Bilamana terdapat gangguan dalam
regulasi hemostasis baik oleh karena kapasitas inhibitor tidak sempurna atau oleh
karena adanya stimulus yang menekan fungsi natural anticoagulant maka akan terjadi
trombosis yaitu suatu proses terjadinya bekuan darah dalam pembuluh darah. Secara
klinis proses terjadinya trombosis melibatkan (1) aliran darah dan pembuluh darah, (2)
interaksi trombositpembuluh darah oleh karena kerusakan endotelium dan (3) sistim
koagulasi baik natural antikoagulan dan sistem fibrinolitik. (Mantik, 2004)
B.

KOAGULASI

1)
Sistem prokoagulasi
Suatu sistem prokoagulasi terdiri dari proses interaksi antara enzim serin protease dan
beberapa kofaktor dengan permukaaan fosfolipid yang terdapat pada membran
trombosit dan endotel yang mengalami kerusakan untuk membentuk fibrin yang stabil.
Terdapat 2 lintasan utama yang menginduksi terjadinya proses koagulasi yaitu jalur
ekstrinsik (tissue factor-faktor VII) dan jalur intrinsik (surface-contact factors). Jalur
ekstrinsik merupakan proses permulaan dalam pembentuk fibrin sedangkan jalur
intrinsik berperan dalam melanjutkan proses pembentukan fibrin yang stabil.
2)
Jalur ekstrinsik
Proses koagulasi dalam darah in vivo dimulai oleh jalur ekstrinsik yang
melibatkan komponen dalam darah dan pembuluh darah. Komponen utama adalah
tissue factor, suatu protein membran intrinsik yang berupa rangkaian polipeptide
tunggal yang diperlukan sebagai kofaktor faktor VIII dalam jalur intrinsik dan faktor V
dalam common pathway. Tissue factor ini akan disintesis oleh makrofag dan sel endotel
bilamana mengalami induksi oleh endotoksin dan sitokin seperti interleukin-1 dan
tumor necrosis factor.
Komponen plasma utama dari jalur ekstrinsik adalah faktor VII yang merupakan
vitamin K dependen protein (seperti halnya faktor IX, X, protrombin, dan protein C).
Jalur ekstrinsik akan diaktifasi apabila tissue factor yang berasal dari sel-sel yang
mengalami kerusakan atau stimulasi kontak dengan faktor VII dalam peredaran darah
dan akan membentuk suatu kompleks dengan bantuan ion Ca. kompleks factor VIIa
tissue factor ini akan menyebabkan aktifasi faktor X menjadi Xa disamping juga
menyebabkan aktifasi faktor IX menjadi IXa (jalur intrinsik)
3)

Jalur intrinsik
Jalur intrinsik merupakan suatu proses koagulasi paralel dengan jalur ekstrinsik,

dimulai oleh komponen darah yang sepenuhnya ada berada dalam sistem pembuluh
darah. Proses koagulasi terjadi sebagai akibat dari aktifasi dari faktor IX menjadi faktor
IXa oleh faktor XIa. Protein contact system (faktor XII, prekalikrein, high moleculer
weight kininogen dan C1 inhibitor) disebutkan sebagai pencentus awal terjadinya
aktifasi ataupun inhibisi faktor XI. Protein contact system ini akan berperan sebagai
respon dari reaksi inflamasi, aktifasi komplemen, fibrinolisis dan angiogenesis. Faktor
XI dikonversikan menjadi XIa melalui 2 mekanisme yang berbeda yaitu diaktifkan oleh

kompleks faktor XIIa dan high molekuler weight kininogen(HMWK) atau sebagai
regulasi negative feedback dari thrombin.
Faktor IXa akan membentuk suatu kompleks dengan faktor VIIIa dengan bantuan
adanya fospolipid dan kalsium yang kemudian akan mengaktifkan faktor X menjadi
faktor Xa. Faktor Xa akan mengikat faktor V bersama dengan kalsium dan fosfolipid
membentuk suatu kompleks yang disebut protrombinase, suatu kompleks yang bekerja
mengkonversi protrombin menjadi trombin. Faktor IX dapat juga diaktifkan oleh faktor
XIa.
4)

Common pathway
Bilamana telah terbentuk faktor Xa baik melalui faktor ekstrinsik atau intrinsik

maka akan terjadi konversi protrombin menjadi trombin. Bersama dengan vit K
dependen, yang lain (faktor Xa, faktor V, fosfolipid, dan kalsium) akan suatu kompleks
protrombinase. Kompleks protrombinase ini mengaktifasi protrombin.
5)

Pembentukan fibrin dan fibrinolysis


Trombin bekerja pada berbagai bahan, termasuk fibrinogen, faktor XIII, V dan

VII; membran trombosit; protein S dan protein C. Dapat dikatakan bahwa trombin
memegang peran sentral dalam mengontrol proses pembentukan hemostatic plug
melalui mekanisme positive dan negative feed back. Pembentukan fibrin merupakan
suatu proses fase kedua (setelah fase pertama agregasi trombosit). Fibrinogen
merupakan bahan dasar dari fibrin, suatu glikoprotein dengan BM 340.000 dalton yang
terdapat dalam konsentrasi yang tinggi dalam plasma dan granul trombosit. Trombin
akan terikat pada fibrinogen dan akan membebaskan fibrinopeptida dan membentuk
fibrin monomer dan selanjutnya membentuk fibrin polimer. Pengikatan fibrin dengan
faktor XIIIa ini akan menjadikan fibrin resisten terhadap degragasi plasmin dan keadaan
ini juga diperkuat oleh pengaruh 2 - plasmin inhibitor yang melindungi fibrin terhadap
efek fibrinolisis dari plasmin. Mekanisme terakhir untuk membatasi pembentukan
bekuan darah adalah fibrinolisis. Mekanisme ini diperlukan untuk reparasi pembuluh
darah dan struktur jaringan lainnya bersamaan dengan pertumbuhan kembali sel endotel
dan rekanalisasi pembuluh darah. Fibrinolisis merupakan suatu rangkaian proses aktifasi
faktor-faktor pembekuan yang meliputi konversi zimogen-enzim, mekanisme feedback
potensiasi dan inhibisi, dan reparasi struktur pembuluh darah. Pada proses permulaan

pembentuk hemostatic plug, trombosit dan sel endotel akan melepaskan plasminogen
activator inhibitor untuk menfasilitasi pembentukan fibrin. Proses selanjutnya, sel
endotel akan melepaskan plasminogen aktivator dan prourokinase yang akan
mengkonversi plasminogen (terutama yang terikat pada fibrin) menjadi bentuk aktif
yaitu plasmin, yang nantinya akan mencetuskan terjadinya fibrinolisis.
(Mantik, 2004)
C.
FAKTOR PEMBEKUAN DARAH
Pembagian faktor-faktor pembekuan adalah sebagai berikut:
Faktor I : disebut fibrinogen, adalah suatu glikoprotein dengan berat
molekul 330.000 dalton, tersusun atas 3 pasang rantai polipeptida. Kadar
fibrinogen meningkat pada keadaan yang memerlukan hemostasis dan pada
keadaan

nonspesifik,

misalnya

inflamasi,

kehamilan,

dan

penyakit

autoimun.
Faktor II : Disebut dengan protrombin, dibentuk di hati dan memerlukan vitamin
K. Faktor ini merupakan prekusor enzim proteolitik tromion dan mungkin

asselerator konversi protrombin lain.


Faktor III: Merupakan tromboplastin

Jaringan

yang

berupa

lipoprotein

jaringan activator protombin. Sifat produk jaringan ini dalam kaitannya dengan
aktivitas

pembekuan

belum

banyak

diketahui,

sehingga

sulit

diperlukan

untuk

dinyatakan sebagai faktor spesifik.


Faktor IV : Merupakan Ion

mengaktifkan protrombin dan pembentukan fibrin.


Faktor V : Dikenal sebagai proasselerin atau faktor labil, protein ini dibentuk oleh

kalsium

yang

hati dan kadarnya menurun pada penyakit hati. Faktor ini merupakan faktor

plasma yang mempercepat perubahan protrombin menjadi trombin.


Faktor VI : Istilah ini tidak dipakai
Faktor VII : Merupakan asselerator koversi protrombin serum, dibuat di
hati dan memerlukan vitamin K dalam pembentukannya. Faktor ini merupakan

faktor serum yang mempercepat perubahan protrombin.


Faktor VIII : Dikenal sebagai faktor antihemofili, tidak dibentuk di
hati. Merupakan faktor plasma yang berkaitan dengan faktor III trombosit
dan faktor chrismas (IX), mengaktifkan protrombin.

Faktor IX : Disebut dengan faktor chrismas, dibuat di hati memerlukan vitamin K.


Merupakan faktor serum yang berkaitan dengan faktor III trombosit dan VII

AHG mengaktifkan protrombin.


Faktor X : Disebut dengan faktor

stuart-power, dibuat

di hati

dan

memerlukan vitamin K. Merupakan kunci dari semua jalur aktivasi faktor

faktor pembekuan.
Faktor XI : Sebagai antisenden tromboplastin plasma, dibentuk di hati tetapi tidak

memerlukan vitamin K.
Faktor XII : Disebut

mengaktifkan PTA (faktor XII)


Faktor XIII : Merupakan faktor untuk menstabilkan fibrin, diproduksi di

faktor

Hageman.

Merupakan

faktor

plasma

hati maupun megakariosit. Faktor ini menumbulkan bekuan fibrin yang


lebih kuat yang tidak larut dalam urea.
Faktor-faktor pembekuan dengan pengecualian faktor III (tromboplastin) dan
faktor IV (ion Ca), merupakan protein plasma. Mereka bersirkulasi dalam darah
sebagai

molekul-molekul

nonaktif.

Prekalikrein

dan

koninogen

berat molekul

besar, bersama-sama dengan faktor XI dan faktor XII dinamakan faktor kontak.
Pengaktifan faktor pembekuan diduga terjadi karena enzim memecahkan fragmen.
Bentuk prekusor yang tidak aktif karena alasan ini dinamakan prokoagulan.
Tiap faktor yang sudah diaktifkan, kecuali V, VIII, dan XIII serta fibrinogen (faktor I),
dalah enzim pemecah protein (protease serin), yang dengan demikian mengaktifkan
prokoagulan berikutnya.
Hati adalah tempat sintesis semua faktor pembekuan kecuali faktor VIII
atau mungkin XI dan XIII. Vitamin K mempertahankan kadar normal atau sintesis faktorfaktor protrombin (faktor II, VII, IX, dan X) (Sylvia A.Price,dkk ,2005).
D. PEMERIKSAAN PENYARING KELAINAN KOAGULASI
Bilamana pada suatu pemeriksaan anamnesis dan fisik ditemukan
kecenderungan

perdarahan

maka

seharusnya

dilakukan

pemeriksaan

adanya
skrining

hemostasis seperti halnya hitung trombosit, waktu perdarahan, dan pemeriksaan yang
khususnya menggambarkan kelainan koagulasi dan rangkaian hemostasis selanjutnya
seperti pembentukan fibrin dan fibrinolisis yaitu activated partial tromboplastin
time(APTT), protrombin time(PT), trombin cloting time (TCT), fibrinogen, euglobin
lysis time (ELT), fibrinogen-fibrin degradation product (FDP) (Mantik, 2004)

1)
Activated Partial Thromboplastin Time (APTT)
Pemeriksaan APTT sudah sejak 1950 dikenal sebagai pemeriksaan skrining untuk
mengetahui kelainan koagulasi. Masa tromboplastin parsial teraktivasi (activated partial
thromboplastin time, APTT) adalah uji laboratorium untuk menilai aktifitas faktor
koagulasi jalur intrinsik dan jalur bersama, yaitu faktor XII (faktor Hagemen), prekalikrein, kininogen, faktor XI (plasma tromboplastin antecendent, PTA), faktor IX
(factor Christmas), faktor VIII (antihemophilic factor, AHF), faktor X (faktor Stuart),
faktor V (proakselerin), faktor II (protrombin) dan faktor I (fibrinogen). Pemeriksaan ini
sensitif terhadap kelainan dalam jalur intrinsik (XII,XI,IX dan VIII) dan kurang sensitif
terhadap pemeriksaan defisiensi protrombin dan fibrinogen.
Pemeriksaan APPT ini ditujukan untuk mengetahui adanya defisiensi faktor pembekuan
atau adanya inhibitor dalam jalur intrinsik. Bilamana APTT memanjang menunjukkan
adanya defisiensi dari satu atau beberapa faktor pembekuan (prekalikrein, high
molekuler weight kininogen, faktor XII,XI,VIII,X,V,II atau fibrinogen) atau adanya
inhibisi pada proses koagulasi (heparin, lupus anti coagulant, fibrinogen degradation
product) atau oleh karena adanya faktor inhibitor spesifik.
Pemeriksaan APTT umumnya digunakan untuk menjaring kasus dengan kelainan pada
lintasan intrinsik seperti defisiensi faktor kontak, hemofila A (defisiensi faktor VIII),
hemofilia B (defisiensi faktor IX) dan hemofilia C (defisiensi faktor XI ). Kadar APTT
akan memberikan gambaran abnormal (memanjang) bilamana defisiensi faktor berada
pada level <0,3-0,4 U/mL. Kemampuan untuk mempertahankan fungsi hemostasis
minimal dari factor VIII, IX, XI adalah pada nilai 30% dengan demikian APTT
merupakan tes skrining hemostatic yang sensitive terhadap defisiensi factor.
Pemeriksaan APTT dapat dilakukan dengan cara manual (visual) atau dengan alat
otomatis (koagulometer), yang menggunakan metode foto-optik dan elektro-mekanik.
Teknik manual memiliki bias individu yang sangat besar sehingga tidak dianjurkan lagi.
Tetapi pada keadaan dimana kadar fibrinogen sangat rendah dan tidak dapat dideteksi
dengan alat otomatis, metode ini masih dapat digunakan. Metode otomatis dapat
memeriksa sampel dalam jumlah besar dengan cepat dan teliti.
Prinsip dari pemeriksaan APTT adalah menginkubasikan plasma sitrat yang
mengandung semua faktor koagulasi intrinsik kecuali kalsium dan trombosit dengan
tromboplastin parsial (fosfolipid) dengan bahan pengaktif (mis. kaolin, ellagic acid,
mikronized silica atau celite koloidal). Penambahan kalsium akan memulai proses

pembekuan (bekuan fibrin) dan waktu yang diperlukan untuk membentuk bekuan fibrin
dicatat sebagai APTT.
Tes APTT adalah tes yang dilakukan dengan menambahkan reagen APTT yang
mengandung aktivator plasma dan fosfolipid pada sampel tes. Fosfolipid berfungsi
sebagai pengganti platelet. Campuran diinkubasi selama 3 - 5 menit untuk aktivasi
optimum, kemudian direkalsifikasi dengan kalsium klorida dan beberapa saat terbentuk
bekuan.
Bahan pemeriksaan yang digunakan adalah darah vena dengan antikoagulan trisodium
sitrat 3.2% (0.109 M) dengan perbandingan 9:1. Gunakan tabung plastik atau gelas yang
dilapisi silikon. Sampel disentrifus selama 15 menit dengan kecepatan 2.500 g. Plasma
dipisahkan dalam tabung plastik tahan 4 jam pada suhu 20 5 oC. Jika dalam terapi
heparin, plasma masih stabil dalam 2 jam pada suhu 20 5 oC kalau sampling dengan
antikoagulan citrate.
Nilai normal uji APTT adalah 20 35 detik, bervariasi untuk tiap laboratorium
tergantung pada peralatan dan reagen yang digunakan.
Faktor yang dapat mempengaruhi hasil APTT adalah :
Bekuan pada sampel darah
Sampel darah hemolisis atau berbusa akibat dikocok-kocok
Pengambilan sampel darah pada jalur intravena misal pada infus Heparin.
APTT memanjang dijumpai pada :
1. Defisiensi bawaan
Jika PT normal, kemungkinan kekurangan Faktor VIII, Faktor IX, Faktor XI ,

Faktor XII
Jika faktor koagulasi tersebut normal, kemungkinan kekurangan HMW

kininogen
Defisiensi vitamin K, defisiensi protrombin, hipofibrinogenemia.
2. Defisiensi didapat dan kondisi abnormal seperti :
Penyakit hati (sirosis hati)
Leukemia (mielositik, monositik)
Penyakit von Willebrand (hemophilia vaskular)
Malaria
Koagulopati konsumtif, seperti pada DIC
Circulating anticoagulant
Selama terapi antikoagulan oral atau Heparin
Pasien dengan APTT panjang dan PT normal memiliki kelainan dalam jalur koagulasi
intrinsik karena semua komponen uji aPTT kecuali koalin bersifat intrinsik terhadap

plasma, sedangkan pada PT panjang dan aPTT normal terjadi kelainan dalam jalur
koagulasi ekstrinsik terhadap plasma.

2) Plasma Prothrombin Time (PPT)


Protrombin disintesis oleh hati dan merupakan prekursor tidak aktif dalam proses
pembekuan. Protrombin (F II) dikonversi menjadi thrombin oleh tromboplastin untuk
membentuk bekuan darah. Pemeriksaan PT digunakan untuk menilai kemampuan faktor
koagulasi jalur ekstrinsik dan jalur bersama, yaitu : faktor I (fibrinogen), faktor II
(prothrombin), faktor V (proakselerin), faktor VII (prokonvertin), dan faktor X (faktor
Stuart). Perubahan faktor V dan VII akan memperpanjang PT selama 2 detik atau 10%
dari nilai normal.PT diukur dalam detik. Dilakukan dengan cara menambahkan campuran
kalsium dan tromboplastin pada plasma. Tromboplastin dapat dibuat dengan berbagai
metoda sehingga menimbulkan variasi kepekaan terhadap penurunan faktor pembekuan
yang bergantung pada vitamin K dan menyebabkan pengukuran waktu protrombin yang
sama sering mencerminkan ambang efek antikoagulan yang berbeda. Usaha untuk
mengatasi variasi kepekaan ini dilakukan dengan menggunakan sistem INR (International
Normalized Ratio). International Committee for Standardization in Hematology (ICSH)
menganjurkan tromboplastin jaringan yang digunakan harus distandardisasi dengan
tromboplastin rujukan dari WHO dimana tromboplastin yang digunakan dikalibrasi
terhadap sediaan baku atas dasar hubungan linier antara log rasio waktu protrombin dari
sediaan baku dengan dari tromboplastin lokal.
Bahan pemeriksaan PT adalah plasma sitrat yang diperoleh dari sampel darah vena
dengan antikoagulan trisodium sitrat 3.2% (0.109 M) dengan perbandingan 9:1. Sitrat
memiliki pH netral sedangkan EDTA yang memiliki pH basa yang akan
megakibatkan pemanjangan PPT negatif. Plasma yang diabsorbsi dengan barium
sulfa mengandung fibrinogen, faktor V, VIII, XI, XII, XIII. Plasma ini tidak dapat
membeku karena tidak mengandung protrombin, faktor X dan faktor VII yang
diperlukan untuk aktivasi intrinsik. Faktor XI dan XII stabil dalam plasma

simpan, tidak diabsorsi oleh barium dan tidak habis oleh proses pembekuan
(Frances K. Widman, 1999).

3) Fibrinogen
Fibrinogen (F I) adalah glikoprotein plasma terlarut yang disintesis oleh hepatosit dan
megakariosit. Fibrinogen sebagai prekursor fibrin, diubah menjadi fibrin oleh thrombin dengan
bantuan serine protease thrombin selama proses pembekuan. Fibrinogen dapat membentuk
jembatan diantara trombosit dengan cara berikatan dengan protein membran GpIIb/ IIIa di
permukaan trombosit. Indikasi pemeriksaan fibrinogen adalah bila dijumpai abnormalitas PT dan
APTT, kasus perdarahan yang belum diketahui penyebabnya, monitoring progresifitas suatu
penyakit (misalnya penyakit hepar) dan monitoring terapi DIC.
Fibrinogen tersusun atas 6 rantai, yaitu : 2 rantai A, 2 rantai B dan 2 rantai . Trombin
(FIIa) memecah molekul fibrinogen menjadi 2 fibrinopeptide A (FPA) dari rantai A dan 2
fibrinopeptide B (FPB) dari rantai B. Fibrin monomer yang dihasilkan dari reaksi ini kemudian
berlekatan membentuk fibrin, yang selanjutnya distabilkan oleh factor XIIIa. Tahap pertama
stabilisasi terdiri atas ikatan dua rantai dari dua fibrin monomer. Ikatan ini adalah asal dari DDimer, produk degradasi fibrin spesifik. Fibrinogen dapat didegradasi oleh plasmin.
Pemeriksaan fibrinogen berguna untuk mengetahui adanya kelainan pembekuan darah,
mengetahui adanya resiko terjadinya pembekuan darah (peningkatan resiko terjadinya Penyaikt
Jantung Koroner (PJK) dan Stoke) dan mengetahui adanya gangguan fungsi hati.Fibrinogen
adalah glikoprotein dengan berat molekul mencapai 340.000 dalton. Fibrinogen disintesis di hati
(1,7-5 g/hari) dan oleh megakariosit. Di dalam plasma kadarnya sekitar 200-400 mg/dl. Waktu
paruh fibrinogen sekitar 3-5 hari.
Fibrinogen dapat diukur dalam darah vena menggunakan sampel darah sitrate atau whole blood
yang dapat dilakukan secara manual (visual), foto optik atau elektro mekanik. Pemeriksaan ini
menilai terbentuknya bekuan bila ke dalam plasma yang diencerkan ditambahkan thrombin.
Waktu pembekuan dari plasma terdilusi berbanding terbalik dengan kadar fibrinogen. Bila

menggunakan metode viscoelastic methods seperti thrombelastometry (fungsi trombosit


dihambat dengan cytochalasin D).
Peningkatan fibrinogen dijumpai pada infeksi akut atau kerusakan jaringan (perannya sebagai
protein fase akut), keganasan, infark miokard, stroke, inflamasi (arthritis rheumatoid,
glomerulonephritis), kehamilan, merokok sigaret, kontrasepsi oral, penggunaan preparat
estrogen. Hipertensi disertai peningkatan fibrinogen meningkatkan resiko stroke. Beberapa
klinisi melakukan pemeriksaan Fibrinogen disertai dengan C-reactive protein (CRP) untuk
menentukan resiko penyakit kardiovaskuler dan sebagai pertimbangan dalam menangani faktor
resiko lainnya seperti kolesterol dan HDL. Peningkatan fibrinogen yang berkaitan dengan infark
miokard, stroke dan penyakit arteri perifer disebabkan oleh peningkatan viskositas, peningkatan
koagulasi, peningkatan availabilitas untuk adhesi dan agregasi trombosit.
Penurunan fibrinogen menyebabkan penurunan kemampuan tubuh membentuk bekuan darah
yang stabil. Penurunan fibrinogen kronis berkaitan dengan penurunan produksi akibat kelainan
kongenital (afibrinogenemia, hipofibrinogenemia) atau kelainan didapat (stadium akhir penyakit
hepar, malnutrisi). Penurunan fibrinogen akut disebabkan oleh peningkatan konsumsi fibrinogen
seperti pada DIC, fibrinolisis abnormal, tranfusi darah masif dalam waktu singkat (hemodilusi),
trauma. Dikatakan DIC bila dijumpai penurunan fibrinogen disertai pemanjangan PT atau APTT
pada sepsis atau trauma. Obat-obatan tertentu dapat menurunkan kadar fibrinogen, antara lain
steroid anabolik, androgen, phenobarbital, streptokinase, urokinase, asam valproat.
Gangguan polimerisasi fibrin dapat diinduksi oleh infus plasma expanders yang berakibat
perdarahan hebat. Pada kasus dysfibrinogenemia, terdapat abnormalitas fungsi fibrinogen dengan
jumlah normal, hal ini disebabkan oleh mutasi gen yang mengontrol produksi fibrinogen oleh
hepar sehingga hepar memproduksi fibrinogen abnormal yang resisten terhadap degradasi saat
dikonversi menjadi fibrin. Dysfibrinogenemia dapat meningkatkan resiko trombosis vena. Pasien
dengan defisiensi fibrinogen atau gangguan polimerisasi fibrinogen dysfibrinogenemia dapat
mengalami perdarahan sehingga diperlukan koreksi dengan pemberian fresh frozen plasma
(FFP), cryoprecipitate (plasma kaya fibrinogen) atau konsentrat fibrinogen.

4) D- Dimer
D-Dimer adalah suatu fragmen degradasi fibrin yang dihasilkan setelah berlangsung fibrinolisis.
Dinamakan demikian karena mengandung dua fragmen silang D protein fibrin. Kadar D-dimer
digunakan untuk membantu mendiagnosis trombosis. Sejak diperkenalkan pada tahun 1990-an, ia
telah menjadi tes penting yang dilakukan pada pasien yang diduga terdapat gangguan trombotik. D-

Dimer adalah produk degradasi cross linked yang merupakan hasil akhir dari pemecahan bekuan
fibrin oleh plasmin dalam sistem fibrinolitik. Pada proses pembentukan bekuan normal, bekuan
fibrin terbentuk sebagai langkah akhir dari proses koagulasi yaitu dari hasil katalisis oleh
trombin yang memecah fibrinogen menjadi fibrin monomer dengan melepaskan fibrinopeptida A
dan fibrinopeptida B ( FPA dan FPB ). Fibrin monomer akan mengalami polimerisasi
membentuk fibrin polimer yang selanjutnya oleh pengaruh faktor XIII akan terjadi ikatan silang,
sehingga terbentuk cross-linked fibrin. Kemudian plasmin akan memecah cross-linked fibrin
yang akan menghasilkan D-Dimer.
D-dimer digunakan untuk membantu melakukan diagnosis penyakit dan kondisi yang
menyebabkan hiperkoagulabilitas, suatu kecenderungan darah untuk membeku melebihi ukuran
normal. Paling sering ditemukan pada trombosis vena dalam (DVT) yang berhubungan dengan
pembekuan darah di vena terutama di kaki yang menyebabkan penyumbatan alirah darah di kaki
sehingga menimbulkan nyeri dan kerusakan jaringan. Keadaan ini dapat menimbulkan gumpalan
kecil yang terpecah dan berjalan mengikuti aliran darah menuju bagian lain di tubuh sehingga
dapat menimbulkan emboli paru (PE). sebagai positif. Pada sebagian besar kasus, bekuan darah
terjadi di pembuluh vena, tetapi dapat juga terjadi pada arteri. Kombinasi dari dua jenis
trombosis ini diistilahkan dengan tromboembolisme vena (VTE, venous thromboembolism).
Bekuan darah pada arteri koronaria dapat berasal dari aritmia jantung fibrilasi atrium atau
kerusakan katup jantung yang dapat berakibat heart attack. Bekuan dapat juga berasal dari
kerusakan aterosklerosis, pecahan bekuan menyebabkan emboli dan menyumbat arteri organ lain
seperti otak (stroke) dan ginjal.
Indikasi pemeriksaan D-dimer adalah pasien dengan gejala DVT , PE yang biasanya diikuti
pemeriksaan PT, APTT dan jumlah trombosit untuk mendukung diagnosis. D-dimer juga dipakai
untuk membantu melakukan diagnosis DIC , yang dapat timbul dari berbagai situasi seperti

pembedahan, gigitan ular berbisa, penyakit hati dan setelah melahirkan. Pada DIC, faktor-faktor
pembekuan darah diaktifkan secara bersamaan di seluruh tubuh sehingga menyebabkan
pembekuan darah di bagian tubuh yang dapat beresiko pendarahan berlebihan.
Pemeriksaan D-Dimer menggunakan metode latex agglutination yang dimodifikasi atau
menggunakan automated coagulation analyzer (Coagulometer Sysmex CA-500) untuk mengukur
D-Dimer secara kuantitatif. Sampel darah vena dimasukan kedalam vacutainer yang
mengandung sodium citras 9:1 dan dikirim ke laboratorium tanpa perlakuan khusus. Kemudian
sampel ini disentrifugasi untuk mendapatkan supernatan untuk dilakukan pemeriksaan kadar DDimer, atau supernatan dapat disimpan pada suhu -200C stabil sampai 1 bulan. Prinsip
pemeriksaan D-dimer adalah terbentuknya ikatan kovalen partikel polystyrene pada suatu
antibodi monoklonal terhadap cross linkage region dari D-Dimer. Cross-linkage region tersebut
memiliki struktur stereosimetrik yaitu epitop untuk antibodi monoklonal terjadi dua kali,
konsekwensinya satu antibodi cukup untuk memacu reaksi aglutinasi yang kemudian di deteksi
secara turbidimetrik dengan adanya peningkatan keseluruhan. Hasil metode automatik ini
sebanding metode ELISA konvensional. Satuan untuk kadar D-dimer adalah g/L . Kadar Ddimer yang dihitung secaram otomatis dengan analyser mempunyai Cut off point 500 ?g/L.
Kadar D-Dimer dalam batas nilai rujukan menunjukkan tidak terdapat penyakit atau keadaan
akut yang menyebabkan pembentukan dan pemecahan bekuan, karena tes ini mengukur aktivitas
fibrinolitik dalam darah. Peningkatan kadar D-Dimer menunjukan peningkatan produksi fibrin
degradation products (FDP), terdapat pembentukan dan pemecahan trombus yang signifikan
dalam tubuh tetapi tidak menunjukkan lokasinya. D-dimer meningkat pada post-operasi, trauma,
infeksi, post-partum, eklampsia, penyakit jantung, keganasan. Faktor-faktor yang dapat
mempengaruhi hasil pemeriksaan D-dimer antara lain :

Hasil negatif palsu pada terapi antikoagulan

Hasil positif palsu pada usia tua, Rheumatoid factor, trigliserid tinggi, lipemia, bilirubin,
hemolisis sampel dara

5) INR

INR didapatkan dengan membagi nilai PT yang didapat dengan nilai PT normal kemudian
dipangkatkan dengan ISI di mana ISI adalah International Sensitivity Index.
INR = (prothrombintest / prothrombincontrol)ISI
Jadi INR adalah rasio PT yang mencerminkan hasil yang akan diperoleh bila tromboplastin baku
WHO yang digunakan, sedangkan ISI merupakan ukuran kepekaan sediaan tromboplastin
terhadap penurunan faktor koagulasi yang bergantung pada vitamin K. Sediaan baku yang
pertama mempunyai ISI = 1,0 ( tromboplastin yang kurang peka mempunyai ISI > 1,0). Dengan
demikian cara paling efektif untuk standardisasi pelaporan PT adalah kombinasi sistim INR
dengan pemakaian konsisten tromboplastin yang peka yang mempunyai nilai ISI sama.
INR digunakan untuk monitoring terapi warfarin (Coumadin) pada pasien jantung, stroke,
deep vein thrombosis (DVT), katup jantung buatan, terapi jangka pendek setelah operasi misal
knee replacements. INR hanya boleh digunakan setelah respons pasien stabil terhadap warfarin,
yaitu minimal satu minggu terapi. Standar INR tidak boleh digunakan jika pasien baru memulai
terapi warfarin untuk menghindari hasil yang salah pada uji. Pasien dalam terapi antikoagulan
diharapkan nilai INR nya 2-3 , bila terdapat resiko tinggi terbentuk bekuan, iperluakn INR
sekitar 2,5 3,5.

V.

ALAT DAN BAHAN


Phlebotomi Koagulasi
1. Alat :
a. Jarum vacutainer
b. Holder
c. Tourniquet
d. Tabung vakum :
Tutup merah
: untuk dibuang karena masih mengandung cairan jaringan.
Tutup biru
: untuk pemeriksaan APTT
2. Bahan
a. Alcohol swab 70%
b. Kapas kering
c. Plaster
d. Reagen Liquid Fib
e. Reagen Neoplastin (PT)
f. Reagen C.K.Prest (APTT)
g. Reagen CaCl2

h. Reagen Lia Test (D-Dimer)


i. Buffer

Frances

K,

Widmann. 1999. Tinjauan

Klinis

atas

Hasil

PemeriksaanLaboratorium.

Jakarta.
Price, Sylvia A. Dan Lorraine M. Wilson. 2005. Patofisiologi : Konsep Klinis ProsesProses Penyakit, Volume 2. Jakarta : EGC.
https://www.scribd.com/doc/164955224/Dasar-Pemeriksaan-Koagulasi-Darah-Dan-Interpretasi