Anda di halaman 1dari 2

Menangani Respon Kosong

Menangani respon kosong


Oleh : Hendry
Sudah lazim dalam sebuah penyebaran angket / kuesioner, responden tidak menjawab secara
penuh item-item yang diberikan. Hal ini bisa karena responden tidak mengerti pertanyaan yang
diajukan, tidak ingin menjawab, dan lain sebagainya.
Berapa batas yang ditoleransi ?
Jika respon kosong (tidak dijawab) misalnya mencapai 25% item kuesioner, maka ide yang baik
untuk membuang kuesioner tersebut, dan tidak memasukkannya dalam kumpulan data untuk
dianalisis
Bagaimana jika respon kosong cuma 1 or 2 item ?
Jika jumlah item (katakanlah 30 atau lebih), maka respon kosong pada 1 or 2 item tersebut dapat
ditangani sebagai berikut :
Pertama. Untuk skala interval, memberikan nilai tengah pada skala pada respon kosong bisa
dilakukan. Misalnya pada skala 10, maka pemberian nilai 5 bisa dilakukan.
Kedua. Membiarkan komputer mengabaikan respon kosong saat analisis dilakukan.
Ketiga. Memberi item nilai keluar respons dari semua yang merespon item tersebut.
Keempat. Memberi item tersebut nilai rata-rata respons dari responden khusus pada semua
pertanyaan lain yang mengukur variabel tersebut.
Kelima. Memberikan respon kosong sebuah angka acak dalam kisaran skala tersebut.
Sekaran (2006) menyebutkan pendekatan umum untuk menangani respon kosong adalah dengan
memberikan nilai tengah dalam skala sebagai nilai, atau mengabaikan item tersebut selama
dianalisis.
Kesimpulan
Untuk menghindari adanya respon kosong, maka hendaknya dituliskan mengenai pengingat agar
responden memeriksa kelengkapan jawabannya, serta berbagai keterangan lain yang bisa
digunakan seperti tampilan di bawah ini :

Untuk ukuran sampel yang besar, mengabaikan respon kosong bisa dilakukan
Jika pada sebuah item pertanyaan banyak responden yang tidak menjawab, maka peneliti
hendaknya menyelidiki lebih lanjut mengapa hal ini bisa terjadi. Apakah pertanyaan yang
diajukan tidak jelas, atau penyebab lain yang membuat responden enggan untuk menjawab.
Disarikan dari :
Sekaran, U. 2006. Metodologi Penelitian untuk Bisnis. Jakarta : Salemba Empat, pp. 170 171