Anda di halaman 1dari 9

AKUNTANSI FORENSIK DAN AUDIT

INVESTIGATIF
Mencegah dan Mendeteksi Fraud

Disusun Oleh Kelompok 4:


Cahyo Radityo

(F1314132)

Christian Hutabarat

(F1314133)

JURUSAN AKUNTANSI NON-REGULER


FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
UNIVERSITAS SEBELAS MARET
SURAKARTA
2016

BAB 8 MENCEGAH FRAUD


Seperti mengangani penyakit, lebih baik mencegahnya daripada
mengobatinya.

Para

ahli

memperkirakan

bahwa

fraud

yang

terungkap merupakan bagian kecil dari seluruh fraud yang terjadi. Oleh
karena itu, upaya utama seharusnya adalah pada pencegahannya. Ada
ungkapan yang secara mudah ingin menjelaskan penyebab atau akar
permasalahan dari fraud. Ungkapan itu adalah: fraud by need, fraud by
greed, and fraud by opportunity. Kata fraud dalam ungkapan tersebut
bisa diganti dengan corruption, financial crime, dan lain-lain.
Menghilangkan atau menekan need dan greed yang mengawali
terjadinya fraud dilakukan sejak menerima seseorang (recruitment
process), meskipun kita tahu bahwa proses itu bukan jaminan penuh.
Ini terus ditanamkan melalui fraud awareness dan contoh-contoh yang
diberikan pemimpin perusahaan atau lembaga. Contoh yang diberikan
atasan telah terbukti merupakan unsur pencegah yang penting. Unsur
by opportunity dalam ungkapan di atas biasanya ditekan oleh
pengendalian intern.
Di samping pengendalian interal, dua konsep penting lainnya
dalam pencegahan fraud, yakni menanamkan kesadaran tentang
adanya fraud (fraud awareness) dan upaya menilai risiko terjadinya
fraud (fraud risk assessment).
Gejala Gunung Es
Meskipun belum

ada

penelitian mengenai

besarnya

fraud

(termasuk korupsi) di Indonesia, sulit untuk menyebutkan suatu angka


yang andal. Akan tetapi, penelitian yang dilakukan di luar negeri
(dengan sampling) mengindikasikan bahwa fraud yang terungkap,
sekalipun secara absolut besar, namun dibandingkan dengan seluruh
fraud yang sebenarnya terjadi, relatif kecil. Inilah gejala gunung es.
Davia et al. mengelompokkan fraud dalam tiga kelompok sebagai
berikut.

Fraud yang sudah ada tuntutan hukumnya (prosecution), tanpa

memperhatikan keputusan pengadilan.


Fraud yang ditemukan, tetapi belum ada tuntutan hukum.
Fraud yang belum ditemukan.
Davia et al. memperkirakan bahwa dari fraud universe, Kelompok

I hanyalah 20%, sedangkan kelompok II dan III, masing-masing 40%.


Kesimpulannya, Lebih banyak yang tidak kita ketahui daripada yang
kita ketahui tentang fraud. Hal yang lebih gawat lagi, fraud ditemukan
secara kebetulan.
Pengendalian Internal
Pengendalian

intern

atau

internal

control

mengalami

perkembangan dalam pemikiran dan praktiknya. Oleh karena itu, Davia


et al. Mengingatkan kita untuk meyakinkan apa yang dimaksud dengan
pengendalian intern, ketika orang menggunakannya dalam percakapan
sehari-hari. Mereka mencatat sedikitnya empat definisi pengendalian
intern sebagai berikut.

Definisi 1 (sebelum September 1992) yaitu Kondisi yang


diinginkan, atau merupakan hasil, dari berbagai proses yang
dilaksanakan suatu entitas untuk mencegah (prevent) dan

menimbulkan efek jera (deter) terhadap fraud.


Definisi 2 (sesudah September 1992), yaitu suatu proses yang
dirancang untuk dan direncanakan oleh dewan, manajemen,
dan pegawai untuk memberikan kepastian yang memadai
dalam mencapai kegiatan usaha yang efektif dan efisien,
keandalan

keuangan,

dan

kepatuhan

terhadap

undang-

undang dan peraturan lainnya yang relavan. (definisi COSO)


Definisi 3 (AICPA 1988), yaitu untuk tujuan audit saldo laporan
keuangan, struktur pengendalian intern suatu entitas terdiri
atas tiga unsur: lingkungan pengendalian, sistem akuntansi,
dan prosedur-prosedur pengendalian. (SAS No. 53)

Definisi 4 (khusus untuk mencegah fraud), yaitu suatu sistem


dengan proses dan prosedur yang bertujuan khusus dirancang
dan silaksanakan untuk tujuan utama, kalau bukan satusatunya tujuan, untuk mencegah dan menghalangi (dengan
membuat jera) terjadi fraud

Fraud-Specific Internal Control


Perusahaan besar berkebutuhan yang berbeda dari yang kecil.
Perusahaan go public berbeda dari yang tertutup. Terlepas dari
perbedaan

antar-perusahaan,

dasar-dasar

utama

dari

desain

pengendalian intern untuk mengangani fraud banyak kesamaannya.


Dasar-dasar utama inilah yang akan dibahas. Semua pengendalian
dapat digolongkan dalam pengendalian intern aktif dan pengendalian
intern pasif. Kata kunci untuk pengendalian intern aktif adalah to
prevent, mencegah. Kata kunci untuk pengendalian pasif adalah to
deter, mencegah karena konsekuensinya terlalu besar, membuat jera.
Pengendalian Intern Aktif
Pengendalian yang membatasi, menghalangi, atau menutup
akses si calon pelaku fraud. Sarana-sarana yang digunakan antara lain:
tanda tangan; tanda tangan kaunter (caountersigning); password atau
PIN; pemisahan tugas; pengendalian aset secara fisik; pengendalian
persediaan secara real time; pagar, gembok,tembok dan semua
bangunan pengahalang fisik; pencocokan dokumen; dan formulir yang
sudah dicetak nomornya.
Kelemahan Pengendalian Intern Aktif

Kelemahan manusia merupakan musuh utama pengendalian

internal aktif Sangat rawan invasi (ditembus) pelaku fraud


Biayanya mahal
Banyak unsur pengendalian intern aktif yang menghambat
pelayanan

Pengendalian Intern Pasif


Pengendalian yang tidak menampakkan adanya pengamanan,
namun ada peredaman yang membuat pelanggar atau pelaku fraud
akan jera. Sarana-sarana yang digunakan: pengendalian yang khas
untuk masalah yang dihadapi (customized control); jejak audit (audit
trails); audit yang fokus (focused audits); pengintaian atas kegiatan
utama (survillance of key activities); pemindahan tugas (rotation of key
personel).
Kesimpulan Pengendalian Intern Pasif

Tidak
Tidak
Tidak
Tidak

mahal.
tergantung pada manusia, tidak people dependent.
memengaruhi produktifitas, tidak menghambat pelayanan.
rawan untuk ditembus atau disusupi pelaku fraud.

Menciptakan Budaya Kejujuran, Keterbukaan, dan Memberi


Dukungan
Tiga faktor utama dalam pencegahan fraud terkait dengan
menciptakan budaya kejujuran, keterbukaan, dan memberi dukungan
antara lain:

Mempekerjakan orang yang jujur dan menyediakan pelatihan

kesadaran akan adanya kecurangan


Menciptakan lingkungan kerja yang positif, yang berarti memiiki
kode etik yang ditetapkan dan diterapkan dengan baik, memiliki
kebijakan yang bersifat terbuka, tidak beroperasional pada basis

krisis, dan memiliki atmosfer tingkat kecurangan yang rendah;


Memberikan program dukungan pegawai yang dapat membantu
pegawai menyelesaikan tekanan pribadi yang dirasakannya.

BAB 9 MENDETEKSI FRAUD


Sejak permulaan, profesi audit yang dijalankan akuntan publik
menolak mengambil tanggungjawab dalam menemukan fraud. Namun
dalam dasawarsa terakhir perubahan lebih banyak dalam retorika
daripada substansi.
Orang

awam

mengharapkan

suatu

audit

umum

dapat

mendeteksi segala macam fraud, baik yang melekat pada laporan


keuangan maupun yang berupa pencurian asset. Namun akuntan
publik berupaya memasang pagar-pagar yang membatasi tanggung
jawabnya, khususnya mengenai penemuan atau pengungkapan fraud.
Hal tersebut dikuatkan dalam SA seksi 110 tentang tanggungjawab
dan fungsi audiror indepenen sebagai berikut.
Auditor

bertanggung

jawab

untuk

merencanakan

dan

melaksanakan audit untuk memperoleh keyakinan memadai tentang


apakah laporan keuangan bebas dari salah saji material, baik yang
disebabkan oleh kekeliruan atau kecurangan. Oleh karena sifat bukti
audit

dan

karakterisitik

kecurangan,

auditor

dapat

memperoleh

keyakinan memadai, namun bukan mutlak, bahwa salah saji material


terdeteksi. Auditor tidak bertanggung jawab untuk merencanakan dan
melaksanakan audit guna memperoleh keyakinan bahwa salah saji
terdeteksi, baik yang disebabkan oleh kekeliruan atau kecurangan,
yang tidak material terhadap laporan keuangan.
Fraudulent Financial Reporting
Fraudulent

Financial

Reporting

adalah

kesengajaan

atau

kecerobohan dalam melakukan sesuatu atau tidak melakukan sesuatu


yang seharusnya dilakukan, yang menyebabkan laporan keuangan
menjadi menyesatkan secara material. Penyebab Fraudulent Financial

Reporting yaitu keserakahan dan adanya tekanan yang dirasakan


manajemen untuk menunjukkan prestasi.
Standar Audit Untuk Menemukan Fraud
Auditor dalam melaukan audit harus berdasarkan standar, apabila
tidak posisi auditor menjadi lemah. Davia et al. menganjurkan adanya
standar yang secara spesifik ditujukan untuk menemukan fraud yang
disebut dengan fraud-specific examination.
Pemahaman

minimal

yang

harus

diketahui/disadari

oleh

praktisi/auditor:

Mereka tidak bisa, karenanya tidak boleh, memberikan jaminan


bahwa mereka bias menemukan fraud. Fraud dapat atau tidak
dideteksi

tergantung

dari

keahlian

dan

jangka

waktu

pelaksanaan audit. Hal ini tentu saja berpengaruh kepada fee

yang dibayarkan pula.


Seluruh pekerjaan didasarkan pada standar audit. Di Indonesia
standar yang digunakan adalah SPAP atau SPKN untuk keuangan

Negara.
Jumlah fee bergantung pada luasnya upaya pemeriksaan yang

ditetapkan klien.
Praktisi bersedia memperluas jasanya dari tahap proactive
review ke tahap pendalaman/investigative apabila ada indikasi
terjadinya fraud.

Issue

Audit Umum
Recurring
Audit

Timing

dilakukan

teratur,

dan

kembali

(recurring).
General
Lingkup

secara

berkala,

berulang
Scope

Fraud Examination

audit

pemeriksaan

Non-recurring
Pemeriksaan fraud tidak berulang
kembali, dan dilakukan setelah
ada cukup indikasi.
Specific

adalah Pemeriksaan

diarahkan

pada

atas dugaan, tuduhan, atau sangkaan

laporan keuangan secara


umum.
Opinion
Yaitu
Objective

memberikan

pendapat atas kewajaran


penyajian

laporan

keuangan.

audit

tidak

bermusuhan

Methodology Audit terutama dengan


data-data keuangan
Profesional

Skepticism

Auditor

melakukan

tugasnya

Untuk memastikan fraud memang


terjadi,

mengapa

terjadi,

dan

siapa yang bertanggungjawab.

Karena pada akhirnya pemeriksa


harus

menentukan

siapa

bersalah.
Fraud Examination

Audit Techniques

Presumption

Affix Blame

Adversarial

Non-adversarial
Relationship Sifat

yang spesifik.

dengan

skeptisme professional

Pemeriksaan

yang

Techniques

dilakukan

dengan

memeriksa dokumen, telaah data


ekstern, dan wawancara.
Proof
Berupaya
bukti

untuk

untuk

mengumpulkan

mendukung

atau

membantah dugaan, tuduhan atau


sangkaan terjadinya fraud.

Teknik Pemeriksaan Fraud


Audit Umum Dan Pemeriksaan Fraud
Ada

bermacam-macam

teknik

audit

investigative

untuk

mengungkap fraud, antara lain:

Penggunaan teknik-teknik audit yang dilakukan oleh internal

maupun eksternal auditor dalam mengaudit laporan keuangan.


Pemanfaatan teknik audit investigative dalam kejahatan
terorganisir dan penyelundupan pajak penghasilan, yang juga

dapat diterapkan terhadap data kekayaan pejabat Negara


Penelusuran jejak-jejak uang

Penerapan analisis dalam bidang hukum


Penggunaan teknik audit investigative untuk mengungkap fraud

pengadaan barang
Penggunaan computer forensic
Penggunaan teknik interogasi
Penggunaan teknik penyamaran
Pemanfaatan whistleblower