Anda di halaman 1dari 4

ANALYTICAL HIREARCHY PROCESS DALAM

ANALISIS PERENCANAAN WILAYAH


Risky Ayun Amaliyah1
Program Studi Pengembangan Wilayah dan Kota Fakultas Teknik
Universitas Hasanuddin, Gowa
Jl. Poros Malino Km.6 Kabupaten Gowa 92111
1

ayun.geng@gmail.com

I. PENDAHULUAN
Perencanaan wilayah adalah suatu proses perencanaan pembangunan yang
dimaksudkan untuk melakukan perubahan menuju arah perkembangan yang lebih
baik bagi suatu komunitas masyarakat, pemerintah, dan lingkungannya dalam
wilayah tertentu, dengan memanfaatkan atau mendayagunakan berbagai sumber
daya yang ada, dan harus memiliki orientasi yang bersifat menyeluruh, lengkap,
tetap berpegang pada azas prioritas (Riyadi dan Bratakusumah, 2003).
Dalam upaya pembangunan wilayah, masalah yang terpenting yang menjadi
perhatian para ahli ekonomi dan perencanaan wilayah adalah menyangkut proses
pertumbuhan ekonomi dan pemerataan pembangunan. Perencanaan pembangunan
daerah adalah Suatu usaha yang sistematik dari pelbagai pelaku (aktor), baik
umum (publik) atau pemerintah, swasta, maupun kelompok masyarakat lainnya
pada tingkatan yang berbeda untuk menghadapi saling ketergantungan dan
keterkaitan aspek fisik, sosial, ekonomi dan aspek lingkungan lainnya dengan cara
menyusun konsep strategi bagi pemecahan masalah (solusi).
Dalam mencapai usaha tersebut, dapat dilakukan melalui beberapa metode,
salah satunya yaitu metode analisis hirearki proses atau analytical hierarchy
process (AHP). Analisis hirearki proses merupakan metode yang tepat dalam
menyusun konsep strategi pemecahan masalah dalam perencanaan wilayah sebab
metode ini diterapkan dengan menetapkan prioritas, menghasilkan alternatif,
memperkirakan hasil dan resiko, serta memecahkan masalah yang tersusun dalam
hirearki strategis.
II. PEMBAHASAN
AHP adalah model analisis yang digunakan untuk mengetahui pendapat
stakeholders terhadap faktor yang mempengaruhi indikator perencanaan wilayah.
Metode Analytical Hierarchy Process, pertama kali diperkenalkan oleh Thomas L.
Saaty pada tahun 1993. Metode ini merupakan model pengambilan keputusan
yang komprehensif, karena memperhitungkan hal-hal yang bersifat kualitatif dan
kuantitatif. Model ini memiliki beberapa kelebihan dan kelemahan (Prajanti,
2013:84-85):

Kelebihan:
a. Struktur yang berhierarki sebagai konsekuensi dari kriteria yang dipilih sampai
pada sub-sub kriteria yang paling dalam.
b. Memperhitungkan validitas sampai batas toleransi inkonsistensi sebagai kriteria
dan alternatif yang dipilih oleh para pengembil keputusan.
c. Memperhitungkan daya tahan atau ketahanan output analisis sensitivitas
pengambilan keputusan.
d. Metode pairwise comparison AHP mempunyai kemampuan untuk
memecahkan masalah yang diteliti multi obyek dan multi kriteria yang
berdasar pada perbandingan preferensi dari tiap elemen dalam hierarki
Kelemahan:
a.

b.

Ketergantungan model AHP pada input utamanya, input utama ini berupa persepsi
seorang ahli sehingga dalam hal ini melibatkan subyektivitas sang ahli selain
itu juga model menjadi tidak berarti jika ahli tersebut memberikan penilaian
yang keliru.
Metode AHP ini hanya metode matematis tanpa ada pangujian secara statistik
sehingga tidak ada batas kepercayaan dari kebenaran model yang dibentuk.
Prinsip dasar dan tahapan metode AHP (Saaty, 1993:30-39, 102-103) dan
adalah sebagai berikut:
1. Menyusun Hirarki (Dekomposisi)
Penyusunan hirarki adalah penyusunan berbagai elemen dari suatu sistem
yang kompleks secara hirarki agar dapat dipahami dalam pemecahan masalah.
Hirarki merupakan alat dasar dari pikiran manusia dalam rangka menata suatu
elemen ke dalam beberapa tingkatan. Beberapa persyaratan penting dalam
perumusan kerangka hirarki kriteria:
a. Kriteria harus lengkap
Kelengkapan suatu kriteria berdasarkan atas kemampuannya dalam
mendukung tercapainya tujuan atau focus studi.
b. Kriteria harus operasional
Kriteria yang digunakan dalam penyusunan skala prioritas harus dapat
dipahami dengan mudah oleh pengambil keputusan agar mereka dapat
menghayati segala implikasinya yang akan terjadi. Kriteria yang memiliki
sifat lebih terukur mencerminkan bahwa kriteria dimaksud lebih operatif.
c. Kriteria harus tidak berlebihan
Set kriteria yang ditetapkan harus merupakan kriteria spesifik
d. Jumlah kriteria harus minimum
Jumlah kriteria diusahakan sesedikit mungkin untuk memudahkan dalam
melakukan komperhensif yang baik.
2. Pengisian Responden
Berhubung elemen-elemen dalam suatu tingkat akan dibandingkan satu
elemen dengan yang lain terhadap satu kriteria, maka pengisiannya dilakukan
dengan menggunakan skala 1-9. Pengisian matriks banding berpasangan

merupakan penilaian responden dengan menggunakan metode kuesioner atau


simulasi dalam suatu kelompok.
3. Pengukuran Prioritas Global (Prioritas Akhir)
Nilai prioritas global diperoleh dari nilai prioritas lokasi dengan perhitungan
antara kriteria dengan nilai prioritas pada matriks yang terletak paling bawah dari
suatu hirearki.
Peralatan utama AHP adalah sebuah hierarki fungsional dengan input utama
berupa persepsi stakeholders, kemudian diberi bobot menggunakan skala
perbandingan (Saaty, 2008). Menurut Saaty (1993) pada dasarnya metode AHP
dapat menggunakan satu responden ahli. Namun dalam aplikasinya banyak
dilakukan oleh para ahli multidipliner. Konsekuensinya karena dilakukan
multidipliner maka pendapat para ahli perlu dicek konsistensinya satu per satu.
Setelah diperoleh pendapat yang konsisten lalu digabung dengan menggunakan
rata-rata geometrik.
Analisis yang menunjukkan prioritas ditentukan oleh besar-kecilnya skor
atau nilai yang diberikan penilai kriteria (stakeholders). Nilai yang diberikan
merupakan pernyataan dari pihak-pihak penilai, demikian hasil yang diperoleh
tentunya merupakan hasil kesepakatan bersama keempat pihak tersebut. Nilainilai tersebut memberikan informasi mengenai tingkat kepentingan kriteria dalam
mencapai tujuan yang diharapkan.
Dalam perencanaan wilayah, untuk melakukan analisis dengan AHP maka
yang menjadi hirarki pertama yaitu merupakan tujuan dari perencanaan tersebut,
dan yang menjadi hirarki kedua yakni subjek-subjek penilai dari kriteria-kriteria,
yang menjadi hirarki ketiga merupakan sub-kriteria sesuai disiplin ilmu masingmasing penilai dan yang menjadi hirearki terakhir sebagai alternatif.
Nilai-nilai yang telah diberikan kedalam hirarki tiga dan hirarki empat
menunjukkan skala prioritas masing-masing kriteria, dimana semakin tinggi
skornya maka semakin tinggi pula kedudukan prioritas kriteria tersebut.
Hasil analisis yang menunjukkan skala prioritas melalui AHP ini
memudahkan dalam melakukan perencanaan wilayah secara sistematis dengan
mengutamakan sektor-sektor yang menjadi prioritas.
III. KESIMPULAN
Metode Analytical Hierarchy Process sebagai metode matematis dan
sistematis yang tepat untuk digunakan dalam melakukan perencanaan wilayah
dimana metode ini dapat memberikan penilaian terhadap indikator yang menjadi
prioritas dan juga memberikan alternatif-alternatif solusi dalam pemecahan
masalah perencanaan wilayah. Analisis AHP ini merupakan analisis kualitatif
yang bersumber dari penilaian ahli multidisipliner yang dapat
dipertanggungjawabkan secara kuantitatif dengan skor-skor yang telah diberikan.

REFERENSI
Atmanti, Dwi. 2008. Jurnal Ilmiah: Analytical Hirearchy Process Sebagai Model
yang Luwes. Teknik Industri UNDIP, Semarang.
Jamin, A. 2015. Jurnal Ilmiah: Penentuan Kriteria Pengembangan Sektor
Perdagangan dan Jasa Sebagai Penunjang Kegiatan Indusri Kreatif di
Kecamatan Majalaya Kabupaten Bandung. Prosiding Penelitian SPeSIA
2015.
Syarief, A. dkk. 2014. Jurnal Ilmiah: Analisis Subsektor Perikanan dalam
Pengembangan Wilayah Kabupaten Indramayu. Tata Loka Vol. 16 No.2 8493, Universitas Diponegoro.
Farhanah, L. 2015. Pengembangan Kawasan Agropolitan di Wilayah Rojonoto
Kabupaten Wonosobo. Skripsi untuk memperoleh gelar sarjana ekonomi
Universitas Negeri Semarang.