Anda di halaman 1dari 17

BAB I

PENDAHULUAN
Latar Belakang
Akuntansi memang sangat dibutuhkan oleh setiap perusahaan karena
dengan akuntansi bisa memantau kinerja perusahaan dan kondisi perusahaan
yang kita jalani dalam bentuk finansial, apakah memperoleh laba atau menderita
kerugian. Dengan akuntansi kita juga dapat memperoleh informasi yang
nantinya berguna untuk pemakainya, baik itu pihak ekstern maupun intern.
Dengan adanya informasi ini kita juga bisa membayar pajak kepada pemerintah
demi kesejahteraan sosial. Semua informasi diatas terkait halnya dengan berapa
banyak pendapatan yang kita peroleh dari kegiatan perusahaan kita, karena
pendapatan adalah sesuatu yang sangat penting bagi setiap perusahaan. Tanpa
ada

pendapatan,

mustahil

perusahaan

akan

mendapat

profit/earnings.

Pendapatan adalah penghasilan yang timbul dari aktivitas perusahaan yang biasa
juga dikenal sebagai penjualan, penghasilan jasa (fees), bunga, dividen, royalti
dan sewa.
Di dalam akuntansi, konsep pendapatan merepresentasikan upaya.
Konsep upaya dan hasil mempunyai implikasi bahwa pendapatan dihasilkan
oleh biaya. Sepertimana dalam konsep aktiva dan hutang, pendapatan juga
membahas tentang pengukuran, cara pengakuannya, dan penilaiannya. Karena
sifatnya sebagai elemen nominal atau penyebab perubahan ekuitas pengertian
dan pengakuan menjadi masalah kritis dalam pembahasan pendapatan. Masalah
penilaiannya tidak begitu kritis karena saldo pendapatan merupakan sisa potensi
jasa seperti aktiva dan hutang.
Pendapatan menurut ilmu ekonomi merupakan nilai maksimum yang
dapat dikonsumsi oleh seseorang dalam suatu periode dengan mengharapkan
keadaan yang sama pada akhir periode seperti keadaan semula. Pengertian
tersebut menitikberatkan pada total kuantitatif pengeluaran terhadap konsumsi
selama satu periode. Dengan kata lain, pendapatan adalah jumlah harta kekayaan
awal periode ditambah keseluruhan hasil yang diperoleh selama satu periode,
bukan hanya yang dikonsumsi. Banyak konsep pendapatan didefinisikan dari
berbagai literatur akuntansi dan teori akuntansi. Namun pada dasarnya konsep
1

pendapatan dapat ditelusuri dari dua sudut pandang, yaitu Pandangan yang
menekankan pada pertumbuhan atau peningkat.
Urutan yang logis setelah pembahasan aset dan kewajiban adalah ekuitas
karena ketiganya merupakan elemen neraca. Pendapatan dan biaya dibahas
terlebih dahulu sebelum ekuitas karena merupakan penyebab penting perubahan
ekuitas yang berasal dari kegiatan operasi perusahaan dan pembentuk statemen
laba rugi yang menentukan laba perusahaan. Konsep dasar upaya dan hasil
menyatakan bahwa hasil dan capaian harus diperoleh dengan upaya atau bukan
sebaliknya capaian dulu baru capaian menanggung biaya.jadi, tidak adda capaian
tanpa upaya. Konsep dan hasil mempunyai implikasi bahwa pendapatan
dihasilkan oleh biaya. Artinya, hanya dengan biaya pendapatan dapat tercipta
dan bukan sebaliknya pendapatan menanggung biaya.
Dalam Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) yang disahkan
23 Desember 2009 30 Juni 2011 berlaku untuk tahun 2011, PSAK 23
menyatakan tentang Pendapatan dalam paragraf 6: Pendapatan adalah arus
masuk bruto dari manfaat ekonomi yang timbul dari aktivitas normal perusahaan
selama satu periode bila arus masuk tersebut mengakibatkan kenaikan ekuitas,
yang tidak berasal dari kontribusi penanam modal.

BAB II

PEMBAHASAN
A. Definisi Pendapatan
Pendapatan merupakan nilai dari seluruh barang dan jasa yang dihasilkan
oleh suatu badan usaha dalam suatu periode tertentu. Dalam akuntansi
pendapatan dan beban dijelaskan bahwa pendapatan adalah arus masuk bruto
dari manfaat ekonomi yg timbul dari aktivitas normal perusahaan selama suatu
periode, bila arus masuk itu mengakibatkan kenaikan ekuitas, yang tidak berasal
dari kontribusi penanaman modal.
Pendapatan merupakan pernyataan moneter mengenai barang dan jasa
yang ditransfer perusahaan kepada langganan-langganannya dalam jangka waktu
tertentu. Pendapatan dapat disebut sebagai inflow of asset ke dalam perusahaan
sebagai akibat penjualan barang dan jasa.
i.
Pengertian Pendapatan Ditinjau Dari 2 Aspek
Aspek Fisik
Pendapatan dapat dikatakan sebagai hasil akhir suatu aliran fisik

ii.

dalam proses menghasilkan laba.


Aspek Moneter
Pendapatan dihubungkan dengan aliran masuk aktiva yang berasal

dari kegiatan operasi perusahaan dalam arti luas.


Konsep Pendapatan Ditinjau Dari 2 Segi
Menurut ilmu Ekonomi
Pendapatan merupakan nilai maksimum yang dapat dikonsumsi
oleh seseorang dalam suatu periode dengan mengharapkan keadaan
yang sama pada akhir periode seperti keadaan semula. Pengertian
tersebut menitikberatkan pada total kuantitatif pengeluaran terhadap

konsumsi selama satu periode.


Menurut ilmu Akuntansi
Konsep pendapatan dapat ditelusuri dari 2 sudut pandang, yaitu:
1. Pandangan yang menekankan pada pertumbuhan atau
peningkatan jumlah aktiva yang timbul sebagai hasil dari
kegiatan

operasional

perusahaan.

Pendekatan

yang

memusatkan perhatian kepada arus masuk atau inflow.


2. Pandangan yang menekankan kepada penciptaan barang dan
jasa oleh perusahaan serta penyerahan barang dan jasa atau
outflow.

Menurut SFAC No.6: Pendapatan adalah arus masuk atau


penambahan lainnya pada aktiva suatu satuan usaha atau penyelesaian
kewajiban-kewajibanya (atau kombinasi keduanya) dari pengiriman atau
produksi barang, pemberian jasa, atau kegiatan lain yang merupakan kegiatan
utama atau pusat dari satuan usaha yang berkesinambungan.
Menurut FASB yang dikutip oleh harahap (1999:58) definisi pendapatan
adalah: Arus masuk atau peningkatan nilai asset dari suatu entity atau
penyelesaian kewajiban dari entity atau gabungan dari penyerahan/ produksi
barang, pemberian jasa atas pelaksana kegiatan lainnya yang merupakan
kegiatan utama perusahaan yang sedang berjalan.
Melihat definisi-definisi tersebut, maka pendapatan akan diakui dalam
laporan laba rugi kalau kenaikan manfaat ekonomi pada masa depan yang
berkaitan dengan peningkatan aktiva atau penurunan kewajiban telah terjadi dan
dapat diukur dengan andal. Ini berarti bahwa pengakuan pendapatan terjadi
bersamaan dengan pengakuan kenaikan aktiva atau penurunan kewajiban
(misalnya kenaikan bersih aktiva yang timbul dari penjualan barang atau jasa
atau penurunan kewajiban yang timbul dari pembebasan pinjaman).
B. Sumber-Sumber Pendapatan
Pendapatan (revenue) suatu perusahaan selain memperoleh pendapatan
yang berasal dari kegiatan utama juga memperoleh pendapatan yang berasal dari
kegiatan transaksi lainnya. Maka pendapatan dapat dibedakan dalam dua
kelompok yaitu:
1. Operating Revenue
Pendapatan yang berasal dari kegiatan utama yang dijalankan perusahaan,
penyajiannya dalam laba rugi (income statement) sebesar bruto yang diterima
atas seluruh perolehannya. Jenis-jenis pendapatan operasional antaranya :
Penjualan dibedakan menjadi dua yaitu :
a) Penjualan bruto yaitu semua hasil penjualan sebelum
dikurangi dengan berbagai potongan atau pengurangan
lainnya.
b) Penjualan bersih yaitu semua penjualan yang sudah
diperhitungkan dan dikurangi dengan berbagai potongan dan

pengurangan lainnya.
Potongan pembelian tunai purchasing discount yang diterima oleh
perusahaan karena pembelian secara tunai.

Penerimaan tambahan dari Pembelian allowance adalah tambahan


barang(ekstra) yang diterima oleh pihak penjual karena perusahaan

membeli barang dalam jumlah besar.


2. Non Operating Revenue
Pendapatan yang berasal dari transaksi diluar kegiatan utama perusahaan,
penyajian di laba rugi adalah sebesar netto yang diperoleh. Jenis-jenisnya antara
lain adalah :

Normal Revenue Activities


a) Pendapatan bunga
b) Pendapatan sewa
c) Pendapatan deviden kas
Non Revenue Activities pendapatan penjualan atau pertukaran
yang bukan barang dagangan yang dikenal sebagai istilah

untung (gain), dan adalah sebagai arus masuk dalam aktiva.


3. Extraordinary Operating Revenue
Pendapatan biasa atau normal dan sering terjadi yang mempunyai sifat luar biasa
(transaksi yang bersangkutan tidak diharapkan akan terulang kembali di masa
yang akan datang). Pendapatan ini selalu disajikan secara netto dalam laporan
laba rugi dan sebelum dikurangi pajak penghasilan.
C. Karakteristik Pendapatan
Dari beberapa definisi di atas dapat didaftar karakteristik-karakteristik
atau kata kata kunci yang membentuk pengertian pendapatan dan untung. Yang
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.

membentuk pengertian pendapatan dan untung adalah :


Aliran masuk atau kenaikan aset
Kegiatan yang mempresentasi operasi utama atau sentral yang menerus.
Pelunasan, penurunan, atau pengurangan kewajiban.
Suatu entitas
Produk perusahaan
Pertukaran produk
Menyandang beberapa nama atau mengambil beberapa bentuk.
Mengakibatkan kenaikan ekuitas.
Beberapa karakteristik di atas dikatakan merupakan turunan/konsekuensi
dsari atau dikandung secara implisit oleh kata kunci yang lain. Karakteristik (3)
sampai (8) sebenarnya merupakan penjabaran atau konsekuensi dari ketiga
karakteristik sebelumnya. Oleh karena itu, dapat dikatakan bahwa karakteristik
(1) dan (2) merupakan karakteristik konsekuensi, pendukung, atau penjelas.
I.
Kenaikan Aset
Paton dan Litleton (1970:47) menyebutkan bahwa aset dapat bertambah
karena berbagai transaksi, kejadian, atau keadaan sebagai berikut:
a. Transsaksi pendanaan yang berasal dari kreditor dan investor.
5

b. Laba yang berasal dari kegiatan investasi, misalnya penjualan


aset tetap, surat berharga, segmen bisnis, dan anak perusahaan.
c. Hadiah, donasi atau temuan
d. Revaluasi aset yang telah ada.
e. Penyediaan dan/atau penyerahan produk (barang dan jasa)
Untuk disebut sebagai pendapatan, aliran aset masuk adalah jumlah
rupiah kotor. FASB mengisyaratkan jumlah kotor dengan menyatakan bahwa
pendapatan adalah jumlah rupiah yang datang dari penyerahan produk atau
pelaksanaan jasa. (IASC) menunjuk jumlah kotor dengan menyebutkan bahwa
jumlah rupiah pendapatan dapat berupa penjualan, imbalan jasa, bunga, dividen,
royalitas, dan sewa. Pendefinisian pendapatan sebagai kenaikan aset merupakan
pendefinisian dengan konsep aliran masuk. Konsep ini mempunyai kelemahan
karena pendapatan dianggap baru ada setelah transaksi penjualan terjadi. Dengan
kata lain pendapatan timbul karena peristiwa atau transaksi pada saat tertentu
dan bukan karena proses selama suatu periode. Kelemahan lain adalah definisi
ini mengacaukan pengukuran dan penentuan saat pengakuan dengan proses
penciptaan pendapatan. IAI harus membatasi bahwa kenaikan aset tersebut
adalah yang menaikkan ekuitas kecuali yang berasal dari transaksi dengan
pemilik. Konsep kenaikan aset mengalami masalah dalam hal aliran masuk yang
berupa pembayaran di muka yang berasal dari pelanggan. Walaupun
pembayaran semacam ini merupakan bagian dari operasi utama perusahaan,
pada kenyataannya aliran masuk tersebut tidak atau belum dianggap pendapatan.
Demikian juga, walaupun penjualan kredit menimbulkan piutang usaha, piutang
sering dianggap buakan suatu aliran masuk aset.
II.
Operasi Utama Berlanjut
Tidak semua kenaikan aset di atas membentuk pendapatan. Kegiatan
utama atau sentral yang menerus atau berlanjut merupakan karakteristik yang
membatasi kenaikan yang dapat disebut pendapatan. Kenaikan aset harus berasal
dari kegiatan operasi dan bukan kegiatan investasi dan pendanaan. Kegiatan
operasi ini diwujudkan dalam bentuk memproduksi dan mengirimkan berbagai
barang kepada pelanggan atau menyerahkan atau melaksanakan berbagai jasa.
Pengertian operasi utama menunjukkan kegiatan sebagaimana pengertian
operasi dalam klasifikasi kegiatan yang membentuk statemen aliran kas yaitu,
operasi, investasi, dan pendanaan. Akan tetapi, pendapatan atau untung yang

tidak berasal dari operasi utama dengan sendirinya lalu dapat disebut sebagai
pos nonoperasi.
a. Operasi dan Non-operasi
Produk yang dihasilkan secara tidak rutin atau insidential sering
dianggap sebagai pos pendapatan non-operasi dan dipisahkan penyajiannya.
Pembedaan memang perlu tetapi mengklasifikasinya sebagai non-operasi dapat
menyesatkan dalam pengukuran kinerja atau daya melaba perusahaan.
Paton dan Litleton (1970) berpendapat bahwa pemisahan laba atau rugi sebagai
pos operasi dan non-operasi hanya dapat dibenarkan kalau laba atau rugi sebagai
pos operasi tesebut benar benar luar biasa dan berkaitan dengan tujuan
perusahaan utama hanya secara sangat kebetulan saja. Jadi, istilah non-operasi
kurang deskriptif untuk mengklasifikasikan beberapa pendapatan atau untung
yang sebenarnya masuk dalam pengertian operasi dalam arti luas. Bila tidak
bersifat luar biasa, pos-pos tersebut lebih tepat dilaporkan sebagai pendapatan
lain-lain dan untung (other revenue and gains).
III.
Penurunan Kewajiban
Hal ini terjadi bila suatu entitas telah mengalami kenaikan aset
sebelumnya misalnya menerima pembayarn di muka dari pelanggan penerimaan
ini bukan merupakan pendapatan karena perusahaan belum melakukan prestasi
yang menimbulkan hak penuh atas aset yang diterima. Oleh karena itu, jumlah
rupiah yang diterima biasanya diperlukan sebagai pendapatan tekterhak atau
pendapatan tangguhan yang statusnya adalah kewajiban sampaiada prestasi dari
perusahaan berupa pengirimkan barang atau pelaksanaan jasa. Pengiriman
barang atau pelaksanaan jasa akan mengurangi kewajiban yang menimbulkan
pendapatan. Kejadian itu mengubah kewajiban menjadi pendapatan.
IV. Suatu Entitas
Dimasukkan kata entitas atau perusahaan dalam definisi mengisyaratkan
bahwa konsep kesatuan usaha dianut dalam pendefinisian. Pendapatan
didefinisikan sebagai kenaikan aset bukannya kenaikan ekuitas bersih. Jadi, aset
yang masuk itulah yang disebut pendapatan. Aset tersebut dikuasai oleh
perusahaan. Akan tetapi, karena hubungan perusahaan dengan pemilik
merupakan hubungan utang-piutang, pada saat aset naik sebagai pendapatan
utang perusahaan kepada pemilik juga naik dengan jumlah yang sama. Hal ini

mengisyaratkan bahwa konsep kesatuan usaha dianut dalam pendefinisian.


Karena pendapatan didefinisikan sebagai kenaikan aset bukan kenaikan ekuitas.
V. Produk Perusahaan
Paton dan Littleton menyatakan bahwa pendapatan adalah produk
perusahaan. Di sini pendapatan didefinisikan secara fisis bukan moneter.
Definisi ini juga netral terhadap saat pengakuan. Aliran aset dari pelanggan
berfungsi hanya sebagai pengukur tetapi bukan pendapatan itu sendiri; produk
fisis yang dihasilkan oleh kegiatan usaha itulah pendapatan. Pengertian semacam
ini sesuai dengan konsep upaya dan capaian (effort and accomplishment) yaitu
pendapatan merupakan capaian upaya produktif perusahaan. Produk merupakan
capaian dari tiap kegiatan produktif. Dengan pengertian ini, pendapatan
terbentuk atau terhimpun bersamaan dengan atau selama kegiatan produktif
tanpa harus menunggu kejadian atau saat penyerahan produk kepada pelanggan.
Ada dua aliran yang berkaitan dengan pendapatan yaitu aliran fisis dan
moneter. Pendapatan merupakan aliran masuk aset (unit moneter dan hal
tersebut berkaitan dengan aliran fisis berupa penyerahan produk (output)
perusahaan. Dalam hal ini, Kam (1990, hlm. 237) mempertanyakan apakah
pendapatan itu objek atau kejadian. Untuk menjawab hal tersebut, Kam merinci
lebih lanjut kedua aliran tersebut yaitu:
a. Aliran fisis berupa :
Kejadian memproduksi dan menjual produk
Objek, yaitu produk fisis itu sendiri.
b. Aliran moneter berupa :
Kejadian menaiknya nilai aset perusahaan karena produksi atau penjualan
produk ke konsumer.
Objek, yaitu jumlah rupiah aset atau produk yang dihasilkan atau dijual.
VI.
Pertukaran
Ini dikarenakan pendapatan akhirnya harus dinyatakan dalam satuan
moneter untuk dicatat dalam sistem pembukuan. Satuan moneter yang paling
objektif adalah kalau jumlah rupiah tersebut merupakan hasil transaksi atau
pertukaran antara pihak independen.
VII.
Berbagai bentuk dan Nama
Pendapatan adalah konsep yang bersifat generik dan mencakupi semua
pos dengan berbagai bentuk dan nama apapun. Pendapatan untuk perusahaan
VIII.

perdagangan misalnya disebut dengan penjualan.


Untung
IAI dan APB tidak membedakan untung dan pendapatan dan keduanya

digabung dalam konsep penghasilan. Kata kunci yang melekat pada untung
adalah :
1. Kenaikan ekuitas (aset bersih) dan;
2. Transaksi periferal atau insidental.
3. Selain yang berupa pendapatan atau investasi oleh pemilik.
Kesatuan Usaha

Beban
Biaya
Pendapatan
Biaya Baru

Gambar 1.1. Realisasi Pendapatan

Pendapatan
baru
termasuk
setelah
terjadi
kesepakatan
atau kontrak
dengan pihak

D. Pembentukan dan Realisasi Pendapatan


Pengakuan adalah pencatatan jumlah rupiah secara resmi ke dalam
sistem akuntansi sehingga jumlah tersebut terefleksi dalam statemen keuangan.

Pengertian atau definisi pendapatan harus dipisahkan dengan pengakuan


pendapatan bahkan pengertian pendapatan sebenarnya juga harus dipisahkan
dengan pengukuran pendapatan. Dengan demikian, suatu jumlah yang
memenuhi definisi pendapatan tidak dengan sendirinya jumlah tersebut diakui
(dicatat secara resmi) sebagai pendapatan.
Pengakuan pendapatan tidak boleh menyimpang

dari landasan

konseptual. Oleh karena itu, secara konseptual pendapatan hanya dapat diakui
kalau memenuhi kualitas keterukuran (measurability), dan keterandalan
(reliability). Kualitas tersebut harus diopersionalkan dalam bentuk kriteria
pengakuan pendapatan. Sebagai produk perusahaan, kriteria keterukuran
berkaitan dengan masalah berapa jumlah rupiah produk tersebut dan kriteria
keterandalan berkaitan dengan masalah apakah jumlah tersebut objektif serta
dapat diuji kebenarannya. Kedua kriteria harus dipenuhi untuk pengakuan
pendapatan. Pendapatan yang diukur dengan jumlah penghargaan sepakatan
produk yang terjual baru akan menjadi pendapatan yang sepenuhnya setelah
produk selesai diproduksi dan penjualan benar-benar terjadi. Dengan kata lain,
pendapatan belum terealisasi sebelum terjadinya penjualan yang nyata ke pihak

lain. Sebaliknya, terjadinya kontrak penjualan belum cukup untuk menandai


eksistensi pendapatan sebelum barang/jasa sudah cukup selesai dikerjakan atau
diserahkan kepada pelangan. Dengan kata lain, pendapatan belum terbentuk
sebelum perusahaan melakukan upaya produktif. Untuk menjabarkan kriteria
kualitas informasi menjadi kriteria pengakuan pendapatan, perlu dipahami dua
konsep penting yaitu pembentukan pendapatan dan realisasi pendapatan.
a. Pembentukan Pendapatan (Earning Process)
Pembentukan pendapatan adalah suatu konsep yang berkaitan dengan
masalah kapan dan bagaimana sesungguhnya pendapatan itu timbul dan menjadi
ada. Dengan kata lain, apakah pendapatan itu timbul dari keadaan produktif atau
karena kejadian tertentu. Konsep ini menyatakan bahwa pendapatan terbentuk,
terhimpun atau terhal bersamaan dan dengan melekat pada seluruh atau totalitas
proses berlangsungnya operasi perusahaan dan bukan sebagai hasil transaksi
tertentu. Konsep dasar ini sering disebut pendekatan proses pembentukan
pendapatan atau pendekatan kegiatan.
Pendekatan ini dilandasi oleh konsep dasar upaya dan hasil capaian serta
kontiuitas

usaha.

Biaya

merepresentasikan

upaya

dan

pendapatan

merepresentasikan capaian. Karena tujuan perusahaan adalah menciptakan laba,


manajemen atau pengusaha mengharapkan diharapkan bahwa pendapatan selalu
lebih besar dari biaya. Tanpa harapan adanya kelebihan tersebut orang tidak
bersedia melakukan usaha secara sengaja dan senang hati. Laba merupakan
imbalan untuk tenaga, pikiran, serta risiko yang ditanggung pengusaha atau
perusahaan.
Pendekatan ini juga dilandasi oleh konsep homogenesitas kos yaitu
bahwa semua tahap kegiatan atau unsur di dalamnya (direpresentasikan)
mempunyai kedudukan atau arti penting yang sama dalam menghasilkan
pendapatan (Paton dan Littleton 1970 : 67 dalam Suwardjono, 2005 : 364).
Implikasi dari konsep ini adalah semua tahap kegiatan memberi sumbangan
dalam penciptaan pendapatan yang secara proporsional sama dengan besarnta
kos. Jadi, begitu kos suatu objek biaya terjadi, pendapatan dapat dianggap
terbentuk sehingga laba juga terbentuk.
b. Realisasi Pendapatan

10

Konsep realisasi pendapatan lebih berkaitan dengan masalah pengukuran


pendapatan secara objektif dan lebih bersifat kriteria pengakuran daripada
bersifat makna pendaptaan. Konsep realisasi atau pendekatan transaksi lebih
menekankan kejadian yang dapat menandai pengakuan pendapatan yaitu :
1. Kepastian perubahan produk menjadi potensi jasa lain melalui proses
penjualan yang sah atau semacamnya (misalnya kontrak penjualan)
2. Penguatan atau validasi transaksi penjualan tersebut dengan diperolehnya
aktiva lancar (kas, setara kas atau piutang).
E. Pengakuan Pendapatan
Pengakuan pendapatan adalah suatu konsep yang berkaitan dengan kapan
dan bagaimana sesungguhnya pendapatan itu timbul atau menjadi ada. Apakah
pendapatan itu timbul karena kegiatan produktif atau karena kejadian tertentu.
Konsep ini menyatakan bahwa pendapatan terbentuk, terhimpun bersamaan
dengan dan melekat pada seluruh atau totalitas proses berlangsungnya operasi
perusahaan dan bukan sebagai hasil transaksi tertentu.
Kriteria Pengakuan Pendapatan
Empat kriteria dasar yang harus dipenuhi sebelum suatu item dapat
diakui yaitu :
a) Definisi item dalam pertanyaan harus memenuhi definisi salah satu dari
tujuh unsur laporan keuangan yaitu aktiva, kewajiban, ekuitas,
pendapatan, beban keuntungan dan kerugian.
b) Item harus memiliki atribut relevan yang dapat diukur secara andal, yaitu
karakteristik, sifat dan aspek yang dapat dikuatifikasi dan diukur.
c) Relevansi informasi mengenai item tersebut mampu membuat suatu
perbedaan dalam pengambilan keputusan.
d) Reliabilitas informasi mengenai item tersebut dapat digambarkan secara
wajar dapat diuji dan netral.
Sebagai tambahan empat kriteria pengakuan secara umum yang telah
dijelaskan sebelumnya, pendapatan dan keuntungan umumnya diakui apabila:
a) Pendapatan dan keuntungan tersebut telah direalisasikan
b) Pendapatan dan keuntungan tersebut telah dihasilkan karena sebagian
besar dari proses untuk menghasilkan laba telah selesai.
1. Terealisasi atau Cukup Pasti Terealisasi
Pendapatan dan untung baru dapat diakui setelah pendapatan tersebut
terealisasi atau cukup pasti terealisasi. Pendapatan dapat dikatakan telah
terealisasi bila mana produk (barang atau jasa), barang dagangan, atau
aktiva lain telah terjual atau ditukarkan dengan kas atau klaim atas kas.
11

2. Terbentuk
Pendapatan baru dapat diakui setelah terbentuk. Pendapatan dapat
dikatakan terbentuk bilamana perusahaan telah melakukan secara
substansial, kegiatan yang harus dilakukan untuk dapat memiliki manfaat
atau nilai yang melekat pada pendapatan.
Syarat-syarat pengakuan pendapatan adalah :
1) Keterurukan nilai aktiva
2) Adanya suatu transaksi
3) Proses penghimpunan secara substansial telah selesai.
Gambar 1.2. Konsep Pembentuk Pendapatan

Terealisa
si
Kesatuan Usaha

Cukup Pasti
Terealisasi
Beba
Biay

Beban
Kesatuan Usaha
Biaya

Pendapatan
Pendapatan
Biaya Baru

Mudah
Dikonvers
i

Biaya Baru

Mudah ditukarkan atau


digunakan

Kas/aktiv Baru

Keterukuran Nilai Aktiva


Apabila tidak ada aliran masuk aktiva yang dapat ditentukan secara
objektif ke dalam perusahaan, secara otomatis tidak ada pendapatan yang diakui.
Masalah yang timbul adalah apakah aktiva penukar yang diterima harus likuid?
Apabila aktiva penukar yang diterima adalah aktiva tetap apakah aktiva penukar
tersebut dapat dijadikan dasar untuk mengakui pendapatan?
Pandangan yang selama ini mendominasi pengakuan pendapatan adalah
bunga aktiva yang diterima harus aktiva likuid (kas atau piutang). Paton dan
Littleton mengatakan bahwa: Ditinjau dari pandangan yang dominan,
pendapatan dapat direalisasi bila terbukti ada penerimaan kas atau piutang atau
aktiva lainnya yang likuid.
Apabila tujuan perusahaan adalah benar-benar menjual barang dan jasa,
maka pendapatan dapat diakui. Disamping itu, harga pasar barang yang diterima

12

harus memenuhi kriteria untuk mudah dikonversi dan jenisnya berbeda dengan
jenis barang yang dijual.
Cara lain untuk keterurukan nilai aktiva adalah adanya kepastian
pengumpulan kas. Masalah pengumpulan kas berkaitan erat dengan adanya
pertimbangan (judgment) yang umumnya didasarkan pada pengalaman
perusahaan sebelumnya. Makin lama periode pengumpulan, makin besar tingkat
ketidakpastian pengumpulan kas. Dengan demikian, pendapatan tidak dapat
segera diakui.
Adanya Suatu Transaksi
Pendapatan dapat diakui apabila terjadi pertukaran antara barang yang
dihasilkan perusahaan dengan aktiva baru yang diterima perusahaan.
Keterlibatan pihak luar dalam transaksi yang wajar menunjukkan adanya bukti
objektif naiknya nilai perusahaan. Transaksi pertukaran merupakan dasar yang
dapat dipertanggungjawabkan dalam menentukan waktu pengakuan pendapatan
dan jumlah pendapatan yang harus dicatat.
Proses Pembentukan Pendapatan Secara Substansial Telah Selesai
Untuk memperoleh pendapatan, perusahaan harus melakukan kegiatan
memproduksi/pengadaan barang dan jasa. Barang dan jasa ini merupakan
sumber utama pendapatan perusahaan. Pendapatan dapat dikatakan terbentuk
apabila kegiatan menghasilkan pendapatan telah berjalan dan secara substansial
telah selesai. Kegiatan menghasilkan pendapatan secara konseptual terdiri dari
tahap produksi, penjualan dan pengumpulan kas. Oleh karena itu, setiap biaya
dikeluarkan pada tahap-tahap tersebut, berarti sejumlah pendapatan telah
terbentuk.
IAI dalam PSAK no. 23 menentukan kriteria pengakuan pendapatan
yang lebih bersifat teknis. Pendapatan diakui apabila besar kemungkinan
manfaat ekonomi masa depan akan mengalir ke perusahaan dan manfaat tersebut
diukur dengan andal. Lebih lanjut, untuk memberikan pedoman praktis dalam
penerapan kriteria tersebut, IAI menjelaskan kondisi yang harus dipenuhi untuk
mengakui pendapatan.
Saat Pengakuan Pendapatan
Dengan mengacu pada gambar 1.2. pendapatan dapat terealisasi pada
saat manapun antara titik A dan titik P. Demikian juga, pendapatan dapat
terbentuk mulai dari titik A sampai titik B. Kalau demikian, dititik mana antara A

13

dan P; pendapata dapat diakui. Berikut ini dibahas berbagai kaidah pengakuan
(recognition rule) dan masalah teoritisnya.
Pada Saat Kontrak Penjualan
Dapat terjadi perusahaan telah menandatangani kontrak penjualan dan
bahkan sudah menerima kas untuk seluruh nilai kontrak tetapi perusahaan belum
mulai memproduksi barang. Pada titik ini pendapatan sudah terealisasi tetapi
belum terbentuk. Karena hanya satu kriteria yang dipenuhi, jelas pendapatan
tidak dapat diakui pada saat tersebut. Pengakuan harus menunggu sampai proses
penghimpunan cukup selesai yaitu di tahap penjualan. Sementara itu,
pembayaran dimuka harus diakui sebagai kewajiban sampai barang atau jasa
diserahkan kepada pembeli. Pada umumnya, perlakuan semacam ini berlaku
untuk perusahaan yang memproduksi barang konsumsi (consumers goods) dan
jarak antara penandatanganan kontrak dan penyerahan barang cukup pendek.
Penghematan Biaya
Dua pos yang bersangkutan dengan proses pembelian yang sering
dianggap sebagai pendapatan, yaitu potongan pembelian dan pembelian dengan
harga murah atau pembelian beruntung. Potongan pembelian tidak memenuhi
definisi pendapatan karena berkaitan dengan proses pembelian yaitu proses
pemerolehan aktiva pada tingkat awal (pengukuran). Oleh karena itu mengakui
pendapatan pada tingkat ini sama saja dengan mengantisipasi pendapatan. Kalau
potongan pembelian dianggap sebagai pendapatan maka dapat terjadi suatu
perusahaan akan memperoleh pendapatan melalui proses pembangunan dan
pembelian fasilitas fisis lantaran perusahaan memilih untuk membayar harga
tunainya pada saat pembelian daripada membayar harga brutonya beberapa
waktu kemudian.
Prinsip yang masuk akal adalah semua jenis potongan pembelian
diperlakukan sebagai pengurang (offsets) terhadap biaya nominal pembelian.
Manajemen yang bijaksana akan menentukan kebijakan untuk tidak melewatkan
potongan. Setiap tambahan pembayaran karena ketidakmampuan membayar
dalam periode potongan (discount period) merupakan rugi. Sementara itu,
potongan yang diperoleh karena membayar dalam periode potongan adalah
pengurangan atau penyesuaian biaya (adjustment cos) bukan untung.
Penjualan Jasa
Menurut AICPA, ada beberapa pedoman yang dapat digunakan untuk
mengakui pendapatan jasa :
14

1. Apabila pelaksanaan (performance) terdiri dari pengerjaan satu macam


tindakan, pendapatan di akui pada saat pekerjaan tersebut terlaksana.
Misalnya brio jual beli rumah akan mengakui pendapatan komisi pada
saat transaksi jual beli rumah telah terjadi.
2. Apabila pelaksanaan jasa terdiri dari pengerjaan lebih dari satu macam
tindakan, pendapatan di akui selama periode pelaksanaan pekerjaan
secara proporsional.
3. Apabila jasa dilaksanakan lebih dari satu macam tindakan, pendapatan
harus diakui pada saat pelaksanaan pekerjaan selesai seluruhnya,
berdasarkan kondisi berikut ini :
a) Proporsi jasa yang dilaksanakan sebagai pekerjaan akhir
merupakan tindakan yang sangat penting dari keseluruhan jasa
yang dikerjakan. Jadi pekerjaan tindakan dianggap selesai apabila
pekerjaan akhir tersebut belum dilaksanakan. Misalnya, pada
perusahaan transportasi yang mengerjakan pengepakan, pemuatan
dan pengungkapan barang, maka penyerahan barang kepada
pihak yang ditinju merupakan pekerjaan akhir. Apabila kegiatan
penyerahan barang belum selesai, perusahaan tidak dapat
mengakui pendapatan.
b) Apabila jasa yang diberikan terdiri dari pekerjaan yang tidak
dapat ditentuka

15

BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Dari pemaparan-pemaparan diatas, dapat ditarik kesimpulan bahwa pendapatan
adalah keseluruhan penerimaan dari suatu unit usaha selama satu periode tertentu
setelah dikurangi dengan penjualan retur dan potongan-potongan. Maksud penjualan
retur adalah pengembalian barang oleh pelanggan karena barang tertentu yang dikirim
rusak atau tidak sesuai pesanan. Sedangkan potongan penjualan adalah potongan yang
diberikan kepada pelanggan karena pelanggan membayar lebih cepat sesuai dengan
waktu yang telah ditentukan untuk mendapat potongan.
Maka dengan demikian pendapatan dapat diakui ketika pada saat penjualan
merupakan titik yang menentukan untuk dapat menimbulkan pendapatan yang
memenuhi pengertian atau persyaratan dari pendapatan itu sendiri. Saat penjualan dapat
dijadikan

saat

pengakuan

karena

proses

realisasi

pendapatan

telah

terjadi.

Penjualan baru dapat dikatakan terjadi bilamana telah terjadi peralihan hak milik atas
suatu barang, akan tetapi peralihan hak milik merupakan masalah yang sangat teknis
dan untuk dasar penentuan saat pengakuan dalam prosedur pembukuan pendapatan

16

disarankan untuk tidak terlalu menekankan pada aspek yuridis formal karena kegiatan
penjualan itu sendiri terdiri atas rangkaian kegiatan yaitu berupa penjualan yang
sifatnya kontinyu.

17