Anda di halaman 1dari 30

BAB 1

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Diphteri merupakan salah satu penyakit yang sangat menular ( contangious disease ).
Penyakit ini disebabkan oleh infeksi bakteri Corynebacterium diphteriae, yaitu kuman yang
menginfeksi saluran pernafasan, terutama bagaian tonsil, nasofaring ( bagian antara hidung
dan faring / tenggorok ) dan laring. Penularan dapat melalui kontak hubungan dekat, melalui
udara yang tercemar oleh karier atau penderita yang akan sembuh, juga melalui batuk dan
bersin penderita.
Penderita difteri umumnya anak-anak, usia di bawah 15 tahun. Dilaporkan 10 % kasus difteri
dapat berakibat fatal, yaitu sampai menimbulkan kematian. Selama permulaan pertama dari
abad ke 20, difteri merupkan penyebab umum dari kematian bayi dan anak-anak muda.
Penyakit ini juga dijumpai pada daerah padatpenduduk dengan tingkat sanitasi rendah. Oleh
karena itu, menjaga menjaga kebersihan sangatlah penting, karena berperan

dalam

menunjang kesehatan kita. Lingkungan buruk merupakan sumber dan penularan penyakit.
Sejak diperkenalkan vaksin DPT (Dyphtheria, Pertusis dan Tetanus), penyakit difteri mulai
jarang dijumpai. Vaksin imunisasi difteri diberikan pada anak-anak untuk meningkatkan
sistem kekebalan tubuh agar tidak terserang penyakit tersebut. Anak-anak yang tidak
mendapatkan vaksin difteri akan lebih rentan terhadap penyakit yang menyerang saluran
pernafasan ini.
1.2 Rumusan Masalah
Bagaimanakah asuhan keperawatan pada klien dengan Diphteria.
1.3 Tujuan
1.3.1 Tujuan Umum : Menjelaskan asuhan keperawatan pada klien dengan Diphteria
1.3.2 Tujuan Khusus

Mengidentifikasi gangguan atau kelainan pada kasus diphteria

Menjelaskan / menguraikan patofisiologi pada diphteria

Menguraikan tentang penatalaksanaan pada diphteria

Menguraikan tentang WOC ( Web Of Caution ) diphteria

Menguraikan proses keperawatan pada klien dengan diphtheria.

1.4 Manfaat
1.4.1 Manfaat Teoritis :
Mendukung teori keperawatan system pernafasan khususnya tentang asuhan
keperawatan pada klien dengan diphteria
1.4.2

Manfaat Praktis
Meningkatkan mahasiswa dalam mengaplikasikan asuhan keperawatan pada klien
dengan diphtheria.

BAB 2
TINJAUAN TEORI
2.1 Definisi

Difteria adalah suatu infeksi akut yang mudah menular dan yang diserang terutama
saluran pernapasan bagian atas dengan tanda khas timbulnya pseudomembran
(Ngastiyah, 2005).
Difteri adalah infeksi akut yang disebabkan oleh corynebacterium diphteriae
(Rampengan, 1993).
Difteri adalah infeksi saluran pernapasan yang disebabkan oleh corynebacterium
diphteriae dengan bentuk basil gram positif (WHO).
Difteri adalah suatu infeksi akut yang disebabkan oleh bakteri penghasil racun (Detik
Health).
Difteri adalah suatu infeksi yang akut yang disebabkan oleh bakteri penghasil toksik
corynebacterium diphteriae (Medicas).
2.2 Etiologi
Penyebab penyakit difteri adalah bakteri corynebacterium diphteriae, bakteri ini bersifat

gram positif yang berbentuk polimorf, tidak bergerak dan tidak membentuk spora.
Pewarna sediaan langsung dengan biru metilen atau biru toluidin. Basil ini dapat
ditemukan dengan sediaan langsung dari lesi.
Sifat basil polimorf, gram positif, tidak bergerak dan tidak membentuk spora, mati
pada pemanasan 60C selama 10 menit, tahan sampai beberapa minggu dalam es, air
susu, dan lendir yang telah menngering.
Terdapat 3 jenis basil yaitu bentuk gravis mitis dan intermedius atas dasar perbedaan
bentuk koleni dalam biakan agar darah yang mengandung kalium terlarut.
Basil dapat membentuk :
1) Pseudomembran yang sukar diangkat, mudah berdarah dan berwarna putih keabuabuan yang terkena terdiri dari fibrin, leukosit, jaringan nekrotik dan basil.
2) Eksotoksin yang sangat ganas dan dapat meracuni jaringan setelah bebrapa jam
diabsorbsi dan memberikan gambaran perubahan jaringan yang khas terutama
3

pada otot jantung, ginjal dan jaringan saraf. Satu perlima puluh ml toksin dapat
membunuh marmut dan kurang lebih 1/50 dosis ini dipakai untuk uji Schick.
Bakteri ini ditularkan melalui percikan ludah yang berasal dari batuk penderita atau benda
maupun makanan yang terkontaminasi oleh bakteri. Biasanya bakteri berkembang biak pada
atau disekitar permukaan selaput lendir mulut atau tenggorokan dan menyebabkan
peradangan. Beberapa jenis bakteri ini menghasilkan toksin yang sangat kuat, yang dapat
menyebabkan kerusakan pada jantung dan otak.
2.3 Patogenesis

Corynebacterium diphteriae masuk kehidung atau mulut dimana basil akan menempel
di mukosa saluran nafas bagian atas, kadang-kadang kulit, mata atau mukosa genital.
Setelah 2-4 hari masa inkubasi kuman dengan corynephage menghasilkan toksik
yang mula-mula diabsorbsi oleh membran sel, kemudian penetrasi dan interferensi
dengan sintesa protein bersama-sama dengan sel kuman mengeluarkan suatu enzim
penghancur terhadap Nicotinamide Adenine Dinucleotide (NAD). Sehingga sintesa
protein terputus karena enzim dibutuhkan untuk memindahkan asam amino dan RNA
dengan memperpanjang rantai polipeptida akibatnya terjadi nekrose sel yang menyatu
dengan nekrosis jaringan dan membentuk eksudat yang mula-mula dapat diangkat,
produksi toksin kian meningkat dan daerah infeksi makin meluas akhirnya terjadi
eksudat fibrin, perlengketan dan membentuk membran yang berwarna dari abu-abu
sampai hitam tergantung jumlah darah yang tercampur dari pembentukan membran
tersebut apabila diangkat maka akan terjadi perdarahan dan akhirnya menimbulkan
difteri. Hal tersebut dapat menimbulkan beberapa dampak antara lain sesak nafas
sehingga menyebabkan pola nafas tidak efektif, anoreksia sehingga penderita tampak
lemah sehingga terjadi intoleransi aktifitas.
2.4 Klasifikasi

Menurut tingkat keparahannya, penyakit ini dibagi menjadi 3 tingkat yaitu :


1) Infeksi ringan bila pseudomembran hanya terdapat pada mukosa hidung dengan
gejala hanya nyeri menelan.

2) Infeksi sedang bila pseudomembran telah menyerang sampai faring (dinding


belakang rongga mulut) sampai menimbulkan pembengkakan pada laring.
3) Infeksi berat bila terjadi sumbatan nafas yang berat disertai dengan gejala
komplikasi seperti miokarditis (radang otot jantung), paralisis (kelemahan
anggota gerak) dan nefritis (radang ginjal).
Menurut lokasi gejala yang dirasakan pasien
1) Difteri hidung bila penderita menderita pilek dengan ingus yang bercampur darah.
Difteri hidung biasanya ringan dan kronis dengan salah satu rongga hidung
tersumbat dan terjadi ekskorisasi (ledes). Infeksi subklinis (atau kolonisasi)
merupakan kasus terbanyak. Toksin dapat menyebabkan myocarditis dengan heart
block dan kegagalan jantung kongestif yang progresif, timbul satu minggu setelah
gejala klinis difteri. Gejala lain yang muncul belakangan antara lain neuropati
yang mirip dengan Guillain Barre Syndrome. Tingkat kematian kasus mencapai 510% untuk difteri noncutaneus, angka ini tidak banyak berubah selama 50 tahun.
Bentuk lesi pada difteria kulit bermacam-macam dan tidak dapat dibedakan dari
lesi penyakit kulit yang lain, bisa seperti atau merupakan bagian dari impetigo.
2) Difteri faring dan tonsil dengan gejala radang akut tenggorokan, demam sampai
dengan 38,5 derajat celsius, nadi yang cepat, tampak lemah, nafas berbau, timbul
pembengkakan kelenjar leher. Pada difteri jenis ini juga akan tampak membran
berwarna putih keabu abuan kotor di daerah rongga mulut sampai dengan dinding
belakang

mulut

(faring).

3) Difteri laring dengan gejala tidak bisa bersuara, sesak, nafas berbunyi, demam
sangat tinggi sampai 40 derajat celsius, sangat lemah, kulit tampak kebiruan,
pembengkakan kelenjar leher. Difteri jenis ini merupakan difteri paling berat
karena

bisa

mengancam

nyawa

penderita

akibat

gagal

nafas.

4) Difteri kutaneus dan vaginal dengan gejala berupa luka mirip sariawan pada kulit
dan vagina dengan pembentukan membran diatasnya. Namun tidak seperti
sariawan yang sangat nyeri, pada difteri, luka yang terjadi cenderung tidak terasa
apa apa.

2.5 Manifestasi Klinis

Gejala umum yang timbul berupa:


1) Demam tidak terlalu tinggi
2) Lesu dan lemah
3) Pucat
4) Anoreksia
Gejala khas yang menyertai:
1) Nyeri menelan
2) Sesak nafas
3) Serak
Gejala local

: nyeri menelan, bengkak pada leher karena pembengakakan pada

kelenjar regional, sesak napas, serak sampai stridor jika penyakit sudah pada stadium
lanjut.Gejala akibat eksitoksin tergantung bagian yang terkena, misalnya mengenai
otot jantung terjadi miokarditis dan bila mengenai saraf terjadi kelumpuhan. Bila
difteria mengenai hidung (hanya 2% dari jumlah pasien difteria) gejala yang timbul
berupa pilek, sekret yang keluar bercampur darah yang berasal dari pseudomembran
dalam hidung. Biasanya penyakit ini akan meluas ke bagian tenggorak pada tonsil,
faring dan laring.
2.6 Komplikasi
Racun difteri bisa menyebabkan kerusakan pada jantung, system saraf, ginjal ataupun organ
lainnya :

1) Infeksi tumpangan oleh kuman lain

Infeksi ini dapat disebabkan oleh kuman streptokokus dan staphilokokus. Panas
tinggi terutama didapatkan pada penderita difteri dengan infeksi tumpangan
dengan kuman streptokokus.
2) Obstruksi jalan napas akibat membran atau oedem jalan nafas
Obstruksi ini dapat terjadi akibat membaran atau oedem jalan nafas. Obstruksi
jalan nafas dengan sengaja akibatnya, bronkopneumoni dan atelektasis.
3) Sistemik
a. Miokarditis
Sering timbul akibat komplikasi difteri berat tetapi juga dapat terjadi pada
bentuk ringan. Komplikasi terhadap jantung pada anak diperkirakan 10-20%.
Faktor yang mempengaruhi terhadap niokarditis adalah virulensi kuman.
Virulensi makin tinggi komplikasi jantung. Miokarditis dapat terjadi cepat
pada minggu pertama atau lambat pada minggu keenam.
b. Neuritis
Terjadi 5-10% pada penderita difteri yang biasanya merupakan komplikasi
dari difteri berat. Manifestasi klinik timbul setelah masa laten, lesi biasanya
bilateral dimana motorik kena lebih dominan dari pada sensorik Biasanya
sembuh sempurna.
c. Nefritis
d. Susunan saraf
Kira-kira 10% penderita difteri akan mengalami komplikasi yang mengenai
sistem susunan saraf terutama sistem motorik. Paralysis ini dapat berupa:
a) Paralysis palatum molle

Manifestasi saraf yang paling sering

Timbul pada minggu ketiga dan khas dengan adanya suara dan
regurgitasi hidung, tetapi ada yang mengatakan suara ini timbul pada
minggu 1-2

Kelainan ini biasanya hilang sama sekali dalam 1-2 minggu.

b) Ocular palsy
Biasanya timbul pada minggu kelima atau khas ditandai oleh paralysis dari
otot akomodasi yang menyebabkan penglihatan menjadi kabur. Otot yang
kena ialah m. rectus externus.
c) Paralysis diafragma
Dapat terjadi pada minus 5-7.Paralisis ini disebabkan neuritis n. phrenicus
dan bila tidak segera diatasi penderita akan meninggal.
d) Paralysis anggota gerak

Dapat terjadi pada minggu 6-10

Pada pemeriksaan didapati lesi bilateral, refleks tendon menghilang,


cairan cerebrospinal menunjukan peningkatan protein yang mirip
dengan sindrom guillian barre.

2.7 Pemeriksaan Diagnostik

1) Schick test
Tes kulit ini digunakan untuk menentukan status imunitas penderita. Tes ini tidak
berguna untuk diagnosis dini karena baru dapat dibaca beberapa hari kemudian.
Untuk pemeriksaan ini digunakan dosis 1/50 MED. Yang diberikan intrakutan
dalam bentuk larutan yang telah diencerkan sebanyak 0,1 ml bila orang tersebut
tidak mengandung antitoksin akan timbul vesikel pada bekas suntikan akan hilang
setelah beberapa minggu. Pada orang yang mengandung titer antitoksin yang
rendah uji schick dapat positif, pada bekas suntikan akan timbul warna merah
kecoklatan dalam 24 jam. Uji schick dikatakan negatif bila tidak didapatkan
reaksi apapun pada tempat suntikan dan ini terdapat pada orang dengan imunitas
atau mengandung antitoksin yang tinggi. Positif palsu dapat terjadi akibat reaksi
alergi terhadap protwin antitoksin yang akan menghilang dalam 72
2) Pemeriksaan laboratorium
Pada pemeriksaan darah terdapat penurunan kadar hemoglobin dan leukositosis
polimorfonukleus, penurunan jumlah eritrosit, dan kadar albumin. Pada urin
terdapat albumin ringan.
2.8 Penatalaksanaan
2.8.1 Penatalaksanaan Medis
8

Tujuan mengobati penderita diphtheria adalah menginaktivasui toksin yang belum


terikat secepatnya, mencegah dan mengusahakan agar penyulit yang terjadi minimal,
mengeliminasi

Corynebacterium

diphteriae

untuk

mencegahbpenularan

serta

mengobati infeksi penyerta dan penyulit diphtheria.


Umum
Istirahat mutlak selama kurang lebih 2 minggu, pemberian cairan serta diit yang adekuat.
Khusus pada diphtheria laring dijaga agar nafas tetap bebas serta dijaga kelembaban
udara dengan menggunakan nebulizer.
Bila tampak kegelisahan, iritabilitas serta gangguan pernafasan yang progresif hal hal
tersebut merupakan indikasi tindakan trakeostomi.
Khusus
1) Antitoksin : serum anti diphtheria ( ADS )
a). Difteri ringan ( hidung, kulit, konjungtiva ).
ADS 20.000 UI im
b). Difteri sedang ( Pseudomembran terbatas pada tonsil, difteri laring )
ADS 40.000 UI IV Drip
c). Diphteri berat ( Pseudomembran meluas keluar tonsil, bullneck, penyulit akibat
efek toxin .
Pemberian ADS 40.000 UI :
ADS diberikan secara drip IV dalam 200 cc larutan dextrose 5 % dalam 4 8

jam.
Jika skin test ( + ) diberikan secara BEDRESKA ( titrasi tiap 15 menit )
0.05 cc ADS + 1 cc PZ sc
0,1 cc ADS + 1cc PZ sc
0,1 cc ADS sc/im
0,2 cc ADS sc/im
0,5 cc ADS sc/im
2 cc ADS sc/im
4 cc ADS sc/im
Sisanya diberikan semua atau bertahap ( 4 cc / 15 menit )

2) Antimikrobial
Penisilin prokain 50.000 100.000k kl/BB/hari selama 7 10 hr, bila alergi
diberikan eritromisin 40 mg/kg BB / hari.
3) Kortikosteroid.
Kortikosteroid diberikan kepada penderita dengan gejala obstruksi saluran nafas
bagian atas dan bila terdapat penyulit miokardiopati toksik.
4) Pengobatan penyulit
Pengobatan terutama ditujukan agar hemodinamik penderita tetap baik oleh karena
penyulit yang disebabkan oleh toksin pada umumnya reversible.
5) Pengobatan Carrier.
9

Carrier adalah mereka yang tidak menunjukkan keluhan, mempunyai reaksi schick
tetapi mengandung basil diphtheria dalam nasofaringnya.
Pengobatan yang dapat diberikan adalah penisilin oral atau suntikan, atau
eritromisin

selama

satu

minggu.

Mungkin

diperlukan

tindakan

tonsilektomi/adenoikdektomi

2.8.2 Penatalaksanaan keperawatan


1) Pasien difteri harus dirawat di kamar isolasi yang tertutup ( strik isolasi ).
2) Petugas harus memakai gaun khusus (celemek) dan masker yang harus diganti
tiap pergantian tugas atau sewaktu-waktu bila kotor (jangan dari pagi sampai
malam hari).
3) Sebaiknya penunggu pasien juga harus memakai celemek tersebut untuk
mencegah penularan ke luar ruangan.
4) Harus disediakan perlengkapan cuci tangan: desinfektan, sabun, lap, atau
handuk yang selallu kering (bila ada tisu) air bersih jika ada kran juuga tempat
untuk merendam alat makan yang diisi dengan desinfektan.

2.9 Pencegahan.

1. Isolasi penderita ( strik isolasi )


Penderita harus diisolasi ketat dan baru dapat dipulangkan setelah pemeriksaan
kuman difteri dua kali berturut-turut negatif.
2. Pencegahan terhadap kontak
Terhadap anak yang kontak dengan difteri harus diisolasi selama 7 hari. Bila
dalam pengamatan terdapat gejala-gejala maka penderita tersebut harus diobati.
Bila tidak ada gejala klinis, maka diberi imunisasi terhadap difteri.
3. Imunisasi

10

Penurunan drastis morbiditas diftery sejak dilakukan pemberian imunisasi.


Imunisasi DPT diberikan pada usia 2, 4 dan 6 bulan. Sedangkan boster dilakukan
pada usia 1 tahun dan 4 sampai 6 tahun. Di indonesia imunisasi sesuai PPI
dilakukan pada usaia 2, 3 dan 4 bulan dan boster dilakukan pada usia 1 2 tahun
dan menjelang 5 tahun. Setelah vaksinasi I pada usia 2 bulan harus dilakukan
vaksinasi ulang pada bulan berikutnya karena imunisasi yang didapat dengan satu
kali vaksinasi tidak mempunyai kekebalan yang cukup proyektif. Dosis yang
diberikan adalah 0,5 ml tiap kali pemberian.
2.10

Pemulangan :

1. Bila kelainan klinis dan fisik telah hilang


2. Biakan 2 kali berturut-turut negatif
3. EKG 3 kali normal
4. Tidak ada kesulitan makan
5. Sebelum pulang adanya pemberian vaksinasi DPT ( boster )

11

2.11 Web Of Caution

12

BAB 3
ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN ANAK
DENGAN DIPHTERIA
3.1 Pengkajian
1) Biodata
Umur : biasanya terjadi pada anak 2 10 th dan jarang ditemukan pada bayi berumur
dibawah 6 bulan dan pada dewasa diatas 15 tahun.
Suku bangsa : dapat terjadi diseluruh dunia terutama dinegara miskin.
Tempat tinggal : terjadi

pada penduduk ditempat-tempat pemukiman yang rapat,

hygiene dan sanitasi jelek dan fasilitas kesehatan yang kurang.


2) Keluhan utama

Klien merasakan batuk, demam dan nyeri telan.


3) Riwayat penyakit sekarang

Demam, sakit kepala, batuk, lesu/ lemah, sianosis, sesak nafas, dan pilek.
Difteria nasal: serosa inguinosa, epistaksis, ada membrane putih pada septum nasi
Difteria tonsil dan faring: panas tidak tinggi, nyeri telan ringan, mual, muntah,
nafas berbau, Bullneck.
Difteria laring : sesak nafas hebat, stridor inspirator, terdapat retraksi otot supra
sternal dan epigastrium, laring tampak kemerahan, sembab, banyak secret,
permukaan tertutup oleh pseudomembran.
4) Riwayat kesehatan dahulu
Klien mengalami peradangan kronis pada tonsil, sinus, faring, laring dan saluran nafas
atas dan mengalami pilek dengan sekret bercampur darah. Riwayat ISPA
Riwayat Imunisasi : Imunisasi DPT 1, 2, 3 pada usia 2 bulan, 4 bulan, 6 bulan yang

kurang memadai

13

5) Riwayat penyakit keluarga

Dimungkinkan ada keluarga/ lingkungan yang menderita penyakit Difteria


6) Pemeriksaan fisik

B1 ( Breathing )
Sesak nafas, RR meningkat, Rh (+) ditemukan pseudomembran diovula, palatum
molle orofaring posterior, hipofaring dan daerah glottis. Edema jaringan dibawahnya
dan pembesaran kelenjer limfonodi dapat menyebabkan gambaran bull neck,

B2 ( Blood )
TV = Nadi meningkat, TD turun, Suhu kurang dari 38C

B3 ( Brain )
Kesadaran baik, jika terjadi komplikasi bisa mengenai saraf bisa mengakibatkan
paralise

B4 ( Bladder)
Tidak ditemukan keluhan

B5 ( Bowel )
Keluhan nyeri telan , anorexia pada inspeksi didapatkan lidah kotor.

B6 ( Bone )
Adanya kelemahan.

b. Pemeriksaan penunjang
a. Pemeriksaan terhadap hapusan tenggorok dan dibuat biakan di laboratorium
b. Untuk melihat kelainan jantung, bisa dilakukan pemeriksaan EKG.
c. Ikuti gejala klinis setiap hari sampai masa tunas terlewati

c. Penatalaksanaan
Antitoksin : serum anti diphtheria ( ADS )
a). Difteri ringan ( hidung, kulit, konjungtiva ).
ADS 20.000 UI im
14

b). Difteri sedang ( Pseudomembran terbatas pada tonsil, difteri laring )


ADS 40.000 UI IV Drip
c). Diphteri berat ( Pseudomembran meluas keluar tonsil, bullneck, penyulit akibat efek
toxin .
Pemberian ADS 40.000 UI :
ADS diberikan secara drip IV dalam 200 cc larutan dextrose 5 % dalam 4 8 jam.
Jika skin test ( + ) diberikan secara BEDRESKA ( titrasi tiap 15 menit )
0.05 cc ADS + 1 cc PZ sc
0,1 cc ADS + 1cc PZ sc
0,1 cc ADS sc/im
0,2 cc ADS sc/im
0,5 cc ADS sc/im
2 cc ADS sc/im
4 cc ADS sc/im
Sisanya diberikan semua atau bertahap ( 4 cc / 15 menit )
Antimikrobial
Penisilin prokain 50.000 100.000k kl/BB/hari selama 7 10 hr, bila alergi diberikan
eritromisin 40 mg/kg BB / hari.
3.2Diagnosa keperawatan yang mungkin muncul :
1. Bersihan jalan nafast idak efektif berhubungan dengan peningkatan secret, adanya
bullnek, sekunder infeksi.
2. Hypertemi berhubungan dengan inflamasi corynebacterium diphteria
3. Potensial komplikasi miokarditis.
4. Resiko penyebaran infeksi berhubungan dengan sifat toxin menyebar
5. Kurang pengetahuan berhubungan dengan proses penyakitnya.
6. Resiko Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan

gangguan menelan dan anoreksia


7. Resiko perubahan nutrisi berhubungan dengan intake inadekuat.
8. Nyeri seluruh tubuh
myocardium.

berhubungan inflamasi myocardium / ischemia jaringan

9. Cemas berhubungan dengan perpisahan dengan orang tua,prosedur yang menakutkan.


3.3 Rencana Keperawatan :
15

Diagnosa keperawatan
Bersihan jalan nafas berhubungan dengan peningkatan secret, adanya bullnek,
sekunder infeksi.
Tujuan:
Setelah dilakukan tindakan keperawatan, dalam jangka waktu 1-2 jam

pengurangan

penyumbatan jalan nafas dengan hasil yang diharapkan / kriteria hasil:


1.

Tidak terjadi dispnea

2.

Frekuensi nafas normal ( 20-30 kali/mnt)

3.

Sekret berkurang / tidak ada

Intervensi dan rasional


1. Auskultasi dada untuk karakter bunyi nafas dan sekret
R/: pernafasan bising, ronkhi dan mengi menunjukkan tertahannya sekret atau obstruksi
jalan nafas.
2. Bantu pasien untuk nafas dalam
R/: memungkinkan ekspansi paru maksimal dan penekanan menguatkan upaya batuk
untuk memobilisasi dan membuang sekret.
3. Observasi perdarahan efek dari pseudomembran
R/: Mengetahui adanya proses perjalanan penyakit.
4. Baringkan setengah duduk
R/: memungkinkan ekspansi paru dan memudahkan pernapasan.
5. Kolaborasi dalam pemberian oksigen kanul
R/: memaksimalkan bernafas dan menurunkan kerja nafas.
6. Kolaborasi untuk pemberian nebulizer.
R/: untuk melembabkan dan melonggarkan jalan nafas.
7. Informasikan kepada keluarga bila sewaktu-waktu anak sesak untuk memposisikan
setengah duduk
R/ :Keluarga mengetahui posisi setengah duduk akan mengurangi sesak, karena
memungkinkan adanya expansi paru
16

Diagnosa keperawatan

Peningkatan

suhu

tubuh

berhubungan

dengan

adanya

inflamasi

corynebacterium diphtheria.
Tujuan :
Suhu tubuh dan tanda vital klien dalam batas normal dengan kriteria suhu tubuh
normal 365

375 0 C (bayi), 36

37 0 C (anak), nadi normal 120 140 x / mnt

(bayi), 100 120 x/mnt (anak) dan respirasi normal 30 60 x/mnt (bayi), 20-30
x/mnt (anak)
Intervensi:
1. Monitor suhu tubuh tiap 2 4 jam
R: Perubahan suhu tubuh dapat mengetahui adanya infeksi
2. Berikan kompres hangat
R:

Kompres hangat menurunkan panas dengan cara konduksi yaitu kontak


langsung dengan objek.

3. Berikan antipiretik analgetik sesuai program dokter.


R: Menurunkan panas di pusat hipotalamus.

Diagnosa keperawatan
Potensial komplikasi myokarditis berhubungan dengan proses penyakitnya
Tujuan : tanda tanda miokaraditis tidak terjadi dengan kriteria : Tidak ada nyeri dada,
gambaran ECG normal, suhu tubuh normal 365 0 375 0 C (bayi), 36 0 37 0 C (anak),

nadi normal 120 140 x / mnt (bayi), 100 120 x/mnt (anak) dan respirasi normal 30
60 x/mnt (bayi), 10 30 x/mnt (anak )
1). Pantau tanda vital, nyeri dada, sesak nafas berat yang ketat
R: Peningkatan beratnya gejala diketahui sejak dini.
2). Kolaborasikan pemberian antimikroba : PPC, Eritromicin
R : Obat ini digunakan untuk membunuh microbial diphtheria

Diagnosa keperawatan
17

Resiko penyebaran infeksi, yang berhubungan dengan tidak adekuatnya mekanisme


pertahanan diri atau terjadi infeksi lanjutan, malnutrisi, paparan lingkungan,
kurangnya pengetahuan untuk mencegah paparan dari corynebacterium diphteria.

Tujuan:
Penyebaran infeksi tidak terjadi selama perawatan dengan criteria:
a. Pasien

dapat

memperlihatkan

perilaku

sehat

(menutup

mulut

ketika

batuk/bersin).
b. Tidak muncul tanda-tanda infeksi lanjutan.
c. Tidak ada anggota keluarga/orang terdekat yang tertular penyakit seperti
penderita.
Intervensi:
1.

Mengkaji patologi penyakit

dan potensial penyebaran

infeksi melalui air bone droplet selama batuk, bersin, meludah, berbicara,
tertawa, dll.
R/ untuk mengetahui kondisi nyata dari masalah pasien .
2.

Mengidentifikasi resiko penularan kepada orang lain seperti


anggota keluarga dan teman dekat. Menginstruksikan kepada pasien jika
batuk/bersin, maka ludahkan ke tissue.
R/ Mengurangi resiko anggota keluarga untuk tertular dengan penyakit yang sama
dengan pasien.

3.

Menganjurkan menggunakan tissue untuk membuang


sekret. Mereview pentingnya mengontrol infeksi, misalnya dengan menggunakan
18

masker.
R/ Penyimpanan sekret pada wadah yang terinfeksi dan penggunaan masker
dapat meminimalkan penyebaran infeksi melalui droplet.
4.

Memonitor suhu sesuai indikasi.


R/ peningkatan suhu menandakan terjadinya infeksi sekunder.

Diagnosa keperawatan
Kurangnya pengetahuan keluarga berhubungan dengan kurangnya informasi
mengenai proses penyakit.
Tujuan:
Secara verbal keluarga dapat menjelaskan proses penyakit, penyebab dan pencegahan
penyakit.
Intervensi:
1. Berikan penjelasan pada keluarga tentang proses penyakitnya.
R: Pengetahuan yang adekuat menimbulkan partisipasi pencegahan penyakit dan
proses lanjut penyakitnya.
2. Tekankan pentingnya pemberian imunisasi DPT secara lengkap.
R:Imunisasi lerngkap menekan timbulnya diphtheria.
3. Berikan penjelasan pada keluarga tentang komplikasi.
R: Mengetahui secara adanya komplikasi sehingga dapat dilakukan segera
tindakan pencegahan.
4. Libatkan keluarga dalam setiap tindakan keperawatan yang akan dilakukan
R: Menghindari kesalahpahaman dalam tindakan dan membantu peran aktif
keluarga.
5. Ajarkan nama antibiotik dan anti piretik, dosis waktu pemberian dan tujuan serta
efek sampingnya pada keluarga
R: Keluarga dapat memberikan obat yang tepat sesuai kondisi klien
6. Kaji pengetahuan keluarga diphteri ditularkan.
R: Pengetahuan dapat menurunkan resiko penularan.

19

Diagnosa Keperawatan
Resiko Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan

gangguan menelan dan anoreksia.


Tujuan:
Setelah dilakukan tindakan keperawatan, dalam jangka waktu 6-8 jam, klien
terpenuhi nutrisinya dengan hasil yang diharapkan/ kriteria hasil:
1. Menunjukkan ada nafsu makan.
2. BB tetap atau meningkat
Intervensi dan rasional
1. Timbang berat badan tiap hari
R/: Memberikan informasi tentang kebutuhan diet / keefektifan terapi
2. Berikan susu.
R/: Susu mengandung zat bergizi dan tidak memerlukan proses pengunyahan.
3. Berikan makan lunak sedikit tapi sering
R/: Meningkatkan masukan makanan dan minuman.
4. Kolaborasi dengan ahli gizi dan petugas laboratorium (cek Hb dan albumin)
R/ : Untuk mengetahui penyusunan komposisi diet dan mengetahui nilai normal
hasil laboratorium
5. Kolaborasi medis bila tidak mampu makan/ minum untuk pemasangan NGT
R/ : Digunakan untuk memberikan nutrisi / obat-obatan bagi klien yang tidak
mampu mengkomsumsi makanan/ obat-obatan.
6. Health education kepada orang tua (oral higiene, higiene alat-alat makan,
menganjurkan pada orang tua untuk memberi makan anak sedikit-sedikit tapi
sering, mencuci tangan sebelum menyuapi anak)
R/ : Dengan pengetahuan orang tua tentang health education untuk meminimalkan
kurang nutrisi pada anak
20

Diagnosa Keperawatan
Cemas berhubungan dengan perpisahan dengan orang tua,prosedur yang
menakutkan.
Tujuan :
Klien akan memperlihatkan penurunan tingkat kecemasan
Intervensi :
1.

Kaji tingkat kecemasan klien.


R: Untuk memberikan intervensi yang tepat

2.

Kaji faktor pencetus cemas.


R: Untuk memberikan intervensi yang tepat

3.

Buat jadwal kontak dengan klien.


R : Untuk meminimalkan perasaan cemas dan takut

4.

Kaji hal yang disukai klien.


R : Agar anak merasa aman berada di ruang tersebut

5.

Berikan mainan sesuai kesukaan klien.


R : Memberikan perasaan senang

6.

Libatkan keluarga dalam setiap tindakan.


R : Untuk meminimalkan perasaan cemas dan takut

7.

Anjurkan pada keluarga unrtuk selalu mendampingi klien.


R : Untuk mengurangi ketakutan
BAB 4
ASUHAN KEPERAWATAN PADA An. S
DENGAN DIPHTERIA

4.1 Pengkajian
21

Nama

An. S

Umur

5 tahun

Jenis kelamin

Laki-laki

Agama

Islam

Alamat

Karangmenjangan gg.I No. 1 Surabaya

Suku

Jawa

Tanggal masuk

10 Nopember 2009

Tgl,pengkajian

11 Nopember 2009

Register

12345

Diagnosa

Diphteri

1. Keluhan utama:
Ibu klien mengatakan anaknya nyeri telan
2. Riwayat Penyakit sekarang
Ibu mengatakan anaknya awalnya batuk, pilek kemudian panas badan kadang pusing
serta nafsu makan menurun sejak 7 hari yang lalu
3. Riwayat Penyakit Dahulu:
Ibu mengatakan anaknya jarang sakit. Pernah sakit panas , batuk dan pilek tetapi 3-4
hari sembuh.
Riwayat imunisasi: Tidak lengkap yaitu DPT 2 kali
Riwayat tumbang :
Anak kelas TK dan mampu bersosialisasi dengan temannya, dalam kebutuhan harian
masih dibantu oleh orangtuanya.
4. Riwayat penyakit keluarga:
Tidak ada anggota keluarga dan lingkungan sekitar yang menderita penyakit serupa
22

5. Pemeriksaan fisik
B1 (Sistem Pernafasan)
Adanya secret berbau busuk, ada membrane putih pada septum nasal.,
RR 30 x/mnt, tidak ada pernafasan cuping hidung atau retraksi otot intercosta.
B2 (Sistem Cardiovaskuler)
TD : 100/ 70 mmHg, Nadi 120 x/mnt, Suhu 37 C/ axilla
B3 (Sistem Neurosensori)
Kesadaran composmentis, pusing
B4 (Sistem Genitourinaria)
Tidak terukur
B5 (Sistem Digestive)
Bibir kering, mulut terbuka, ada membran putih pada tonsil dan faring Adanya
bullnex, odem pada leher
Nafsu makan habis 1/4 porsi dan minum habis 250 cc
BB sebelum sakit 15 kg
BB saat ini 12 kg
B6 (Sistem Muskuloskeletal)
Keadaan umum lemah, tonus otot normal
6. Pemeriksaan diagnostic
a. Laboratorium
Hb
: 13.2 g/dL
HCT : 38.2 %
RBC : 4,36 106/mL
WBC : 14,7 103 /L
PLT : 240 103 /L
LED : 25/40
b. Thorax foto
Normal
7. Terapi :
IFVD : Dextrose NS 1000 cc/24 jam
Penicillin procain 2 x 300.000 ui ( IM )
Metyl Prednisolon 3 x 25 mg

23

4.2 Analisa Data


DATA

ETIOLOGI

DS :

Corynebacterium diphteriae

MASALAH
Bersihan jalan nafas

Ibu mengatakan anaknya


batuk , pilek

Masuk lewat saluran pernafasan

DO:

RR 30x/ memit

Adanya secret berbau

Mengeluarkan toksin

busuk,

Ada membrane putih


pada septum nasal.,

mukosa hidung keluarkan sekret,


serosa

Tidak ada pernafasan


cuping hidung atau
retraksi

otot

intercosta.
DS :

Corynebacterium diphteriae

Perubahan nutrisi

Ibu menggatakan anaknya


nyeri

telan

dan

nafsu

makan menurun

Masuk lewat saluran pencernaan

DO:

Adanya bullnex pada


palatum

mole

dan

Bentuk pseudomembran

odem pada leher

Makan habis porsi

Bibir kering, mulut

Adanya bullneck

terbuka, ada membran


putih pada tonsil dan
24

faring

Nyeri telan

BB sebelum sakit 15
kg

BB saat ini 12 kg

Diagnosa Keperawatan
Diagnosa keperawatan yang muncul pada kasus diatas adalah :
1. Bersihan jalan nafast idak efektif berhubungan dengan peningkatan secret, bullneck
2. Resiko perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan
gangguan menelan.
3. Resiko penyebaran infeksi berhubungan dengan sifat toxin menyebar
4. Kurang pengetahuan berhubungan dengan proses penyakitnya.

1.3 Rencana Keperawatan


Bersihan jalan nafas berhubungan dengan peningkatan secret, adanya bullnek.
Tujuan:
Setelah dilakukan tindakan keperawatan, dalam jangka waktu 1-2 jam pengurangan
penyumbatan jalan nafas dengan hasil yang diharapkan / kriteria hasil:
1. Tidak terjadi dispnea
2. Frekuensi nafas normal ( 20-30 kali/mnt)
3. Sekret berkurang / tidak ada
Intervensi dan rasional
1. Auskultasi dada untuk karakter bunyi nafas dan sekret
R/: pernafasan bising, ronkhi dan mengi menunjukkan tertahannya sekret atau
obstruksi jalan nafas.
25

2. Bantu pasien untuk nafas dalam


R/: memungkinkan ekspansi paru maksimal dan penekanan menguatkan upaya
batuk untuk memobilisasi dan membuang sekret.
3. Observasi perdarahan pada hidung
R/: Mengetahui adanya proses perjalanan penyakit dan efek dari pseudomembran
4. Baringkan setengah duduk
R/: memungkinkan ekspansi paru dan memudahkan pernapasan.
5. Kolaborasi dalam pemberian oksigen kanul ( bila perlu )
R/: memaksimalkan bernafas dan menurunkan kerja nafas.
6. Kolaborasi untuk pemberian nebulizer.
R/: untuk melembabkan dan melonggarkan jalan nafas.
7. Informasikan

kepada

keluarga

bila

sewaktu-waktu

anak

sesak

untuk

memposisikan setengah duduk


R/ :Keluarga mengetahui posisi setengah duduk akan mengurangi sesak, karena
memungkinkan adanya expansi paru

Resiko Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan


gangguan menelan
Tujuan:
Setelah dilakukan tindakan keperawatan, dalam jangka waktu 6-8 jam, klien
terpenuhi nutrisinya dengan hasil yang diharapkan/ kriteria hasil:
1. Menunjukkan adanya nafsu makan.
2. BB tetap atau meningkat
Intervensi dan rasional
1. Timbang berat badan tiap hari
26

R/: Memberikan informasi tentang kebutuhan diet / keefektifan terapi


2. Berikan susu.
R/: Susu mengandung zat bergizi dan tidak memerlukan proses pengunyahan.
3. Berikan makan lunak sedikit tapi sering
R/: Meningkatkan masukan makanan dan minuman.
4. Kolaborasi dengan ahli gizi dan petugas laboratorium (cek Hb dan albumin)
R/ : Untuk mengetahui penyusunan komposisi diet dan mengetahui nilai normal
hasil laboratorium
7. Kolaborasi medis bila tidak mampu makan/ minum untuk pemasangan NGT
R/ : Digunakan untuk memberikan nutrisi / obat-obatan bagi klien yang tidak
mampu mengkomsumsi makanan/ obat-obatan.
8. Health education kepada orang tua (oral higiene, higiene alat-alat makan,
menganjurkan pada orang tua untuk memberi makan anak sedikit-sedikit tapi
sering, mencuci tangan sebelum menyuapi anak)
R/ : Dengan pengetahuan orang tua tentang health education untuk meminimalkan
kurang nutrisi pada anak

Resiko penyebaran infeksi, yang berhubungan dengan tidak adekuatnya mekanisme


pertahanan diri atau terjadi infeksi lanjutan.

Tujuan:
Penyebaran infeksi tidak terjadi selama perawatan dengan criteria:
1. Pasien dapat memperlihatkan perilaku sehat (menutup mulut ketika batuk/bersin).
2. Tidak muncul tanda-tanda infeksi lanjutan.
3. Tidak ada anggota keluarga/orang terdekat yang tertular penyakit seperti
penderita.
27

Intervensi:
1. Mengkaji patologi penyakit dan potensial penyebaran infeksi melalui air bone
droplet selama batuk, bersin, meludah, berbicara, tertawa, dll.
R/ untuk mengetahui kondisi nyata dari masalah pasien .
2.

Mengidentifikasi resiko penularan kepada orang lain seperti


anggota keluarga dan teman dekat. Menginstruksikan kepada pasien jika
batuk/bersin, maka ludahkan ke tissue.
R/ Mengurangi resiko anggota keluarga untuk tertular dengan penyakit yang
sama dengan pasien.

3.

Menganjurkan menggunakan tissue untuk membuang


sekret.

Mereview

pentingnya

mengontrol

infeksi,

misalnya

dengan

menggunakan masker.
R/ Penyimpanan sekret pada wadah yang terinfeksi dan penggunaan masker
dapat meminimalkan penyebaran infeksi melalui droplet.
4.

Memonitor suhu sesuai indikasi.


R/ peningkatan suhu menandakan terjadinya infeksi sekunder.

Kurangnya pengetahuan keluarga berhubungan dengan kurangnya informasi


mengenai proses penyakit.
Tujuan:
Secara verbal keluarga dapat menjelaskan proses penyakit, penyebab dan pencegahan
penyakit.
Intervensi:
1. Berikan penjelasan pada keluarga tentang proses penyakitnya.
28

R: Pengetahuan yang adekuat menimbulkan partisipasi pencegahan penyakit dan


proses lanjut penyakitnya.
2. Tekankan pentingnya pemberian imunisasi DPT secara lengkap.
R:Imunisasi lerngkap menekan timbulnya diphtheria.
3. Berikan penjelasan pada keluarga tentang komplikasi.
R: Mengetahui secara adanya komplikasi sehingga dapat dilakukan segera
tindakan pencegahan.
4. Libatkan keluarga dalam setiap tindakan keperawatan yang akan dilakukan
R: Menghindari kesalahpahaman dalam tindakan dan membantu peran aktif
keluarga.
5. Ajarkan nama antibiotik dan anti piretik, dosis waktu pemberian dan tujuan serta
efek sampingnya pada keluarga
R: Keluarga dapat memberikan obat yang tepat sesuai kondisi klien
6. Kaji pengetahuan keluarga diphteri ditularkan.
R: Pengetahuan dapat menurunkan resiko penularan.
DAFTAR PUSTAKA

Carpenito, Lynda Juall (2001). Buku Saku : Diagnosa Keperawatan edisi : 8


penterjemah Monica Ester. EGC. Jakarta
Doengoes E Marlynn, dkk (1999) Rencana Asuhan Keperawatan edisi 3
penterjemah Monica Ester. EGC. Jakarta
Ngastiyah. 1997. Perawatan Anak Sakit. Jakarta : EGC.
A.Azis Alimul H,Pengantar Ilmu Keperawatan Anak ( 2008 ).Salemba. Jakarta
Arvin, K. Behrman. 1999. Ilmu Kesehatan Anak, Edisi 15, Volume
2.Jakarta:EGC.
Santosa,Budi . 2005 - 2006.
Prima Medika.

Diagnosa

Keperawatan

NANDA .

Jakarta :

Staf pengajar ilmu keperawatan anak. 1985. Buku Kuliah Ilmu Kesehatan Anak.
Jakarta : FKUI.

29

http://www.pediatrik.com/isi03.php?
page=html&hkategori=ePDT&direktori=pdt&filepdf=0&pdf=&html=07110vwmu278.htm
http://www.medicastore.com/med/detail_pyk.php?
id=&iddtl=930&idktg=19&idobat=&UID=2007051414570061.5.100.19

30