Anda di halaman 1dari 44

PROGRAM STUDI MAGISTER ILMU KEFARMASIAN

UNIVERSITAS PANCASILA

PROPOSAL TESIS
UJI AKTIVITAS ANTIBAKTERI FORMULASI MASKER GEL Peel-off
EKSTRAK ETANOL, ETIL ASETAT DAN N-HEKSANA BIJI ASAM JAWA
(TAMARINDUS INDICA L) TERHADAP BAKTERI PENYEBAB JERAWAT
(Propionibacterium acnes DAN Staphylococcus epidermidis)

Oleh

Weri Veranita
NPM : 5416220066

Disusun sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar


Magister Farmasi pada Universitas Pancasila

DAFTAR ISI
43

Halaman
DAFTAR ISI ........................................................................

ii

BAB I

PENDAHULUAN...................................................

A. Latar Belakang .................................................

B. Perumusan Masalah .........................................

C. Tujuan Penelitian ..............................................

D. Manfaat Penelitian ...........................................

TINJAUAN PUSTAKA...........................................

BAB II

A. Taksonomi Asam Jawa Tamarindus Indica

B. Xyloglucan

C. Metode Ekstraksi................................................

10

D. Tinjauan Umum Bakteri................................

12

E. Uji Aktifitas Antibakteri .................................

14

F. Sterilisasi .......................................................

16

G. Antibiotik.......................................................

17

H. Kulit Dan Kosmetik........................................

18

I. Gel..................................................................
22

J. Masker Gel Peel-Off ...........................................

25

K. Metode Pembuatan Masker Gel..............................

25

M. Evaluasi...........................................................

26

N. Monografi Bahan...............................................

31

BAB III METODOLOGI PENELITIAN................................

35

A. metode Penelitian ............................................

35

B. Kerangka konsep...............................................

35

C.

Definisi operasional variabel......................................

35

D. jenis Penelitian..................................................

36

E. tempat dan waktu penelitian ...........................

36

F. populasi dan sampel responden........................

36

G. teknik penelitian ..............................................

37

H. Tahap pengumpulan data.................................

37

BAB IV bahan, alat dan prosedur penelitian..............

39

A. Bahan................................................................

39

B. alat ...................................................................

39

C. prosedur penelitian ..........................................

41

DAFTAR PUSTAKa

BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Kosmetik merupakan salah satu bagian terpenting dari penampilan dengan
beragam jenis dan merknya diantaranya bedak, krim muka dan masker (1).
Masalah kulit wajah seringkali menjadi sorotan. Salah satu masalah kulit wajah
yang sering dijumpai, yaitu timbulnya jerawat. Jerawat adalah suatu keadaan poripori kulit yang tersumbat sehingga menimbulkan kantung nanah. Peradangan
yang terjadi pada jerawat dapat dipicu oleh bakteri Propionibacterium acne,
Staphylococcus epidermidis dan Staphylococcus aureus (2)
Munculnya jerawat sangat mengganggu penampilan seseorang sehingga akan
segera mencari solusi untuk menghilangkan jerawat. Salah satunya penggunaan
antibiotik sebagai solusi untuk jerawat yang beberapa dekade ini masih banyak
diresepkan Akan tetapi penggunaan antibiotik sebagai pilihan pertama
penyembuhan jerawat harus ditinjau kembali untuk membatasi perkembangan
resistensi antibiotik (1) Saat ini mulai banyak yang memilih back to nature dalam
pengobatan jerawat karena efek samping lebih ringan dari pengobatan secara
medis. Salah satu tanaman yang berpotensi untuk mneghilangkan jerawat adalah
asam jawa.
Asam Jawa tumbuhan dengan batang pohon pendek dan besar, serta bunga
yang kuning dan buah yang bewarna kecoklatan dengan buah yang berwarna
kecoklatan. Tumbuhan ini banyak dijumpai di beberapa negara sekitar Afrika dan
di Asia Tenggara (seperti Thailand, Malaysia dan Indonesia). Tumbuhan ini
khususnya di Indonesia, didapat di daerah Madura, Mojokerto, Nusa Tenggara
Barat dan Nusa Tenggara Timur. Secara umum, daging buah asam jawa digunakan
sebagai bahan bumbu masakan, sedangkan bijinya merupakan limbah. Biji asam
jawa mempunyai bagian 30% dari buah asam jawa keseluruhan (1) Biji asam
mengandung dengan kandungan tinggi polisakarida yang digunakan untuk
menyimpan energi.

Biji asam jawa mengandung antioksidan alami yang sangat efektif.


Efektivitasnya sebanding dengan aktivitas antioksidan dari -tokoferol.(6)
Antioksidan berfungsi melawan atau meredam efek oksidan yang terjadi dalam
tubuh dikarenakan oleh

radikal bebas. Salah satu fungsi antioksidan adalah

menjaga kekencangan dan keremajaan kulit (7) Lamb dan Cushnie (2005)
menyatakan bahwa flavonoid mempunyai aktivitas sebagai antifungi, antiviral dan
antibakteri.
Tamarindus indica juga terbukti memiliki aktivitas antibakteri pada penelitian
yang dilakukan oleh Doughari (2006). Pada penelitian tersebut, ekstrak air, aseton
dan etanol dari buah asam jawa diujikan pada beberapa bakteri Gram negatif
meliputi Escherichia coli, Proteus mirabilis, Pseudomonas aerugenosa, Salmonella
typhi, Salmonella paratyphi, Shigella flexnerri, serta kebeberapa bakteri Gram
positif yang meliputi Staphylococcus aureus, Bacillus subtilis dan Streptococcus
pyogenes. Hasil penelitian tersebut memperlihatkan ekstrak aseton buah asam
jawa memiliki daya hambat pertumbuhan yang besar pada Staphylococcus aureus
dengan zona diameter inhibisi sebesar 11 cm. Berdasarkan data penelitian tersebut
disimpulkan bahwa Tamarindus indica memiliki aktivitas antibakteri spektrum
luas .
Berdasarkan latar belakang di atas, maka dilakukan penelitian mengenai uji
antibakteri formulasi masker gel ekstrak etanol, etil asetat dan n-heksana biji asam
jawa (Tamarindus indica L) terhadap bakteri Propionibacterium acnes dan
Staphylococcus epidermidis.

B. RUMUSAN MASALAH
1. Apakah ekstrak biji asam jawa (Tamarindus indica L.) dapat
diformulasikan menjadi sediaan masker dalam bentuk gel peel-off?
2. Apakah sediaan masker gel peel-off ekstrak biji asam jawa memiliki
aktivitas antiacne?
3. Apakah sediaan masker gel peel-off antioksidan ekstrak biji asam jawa
(Tamarindus indica L.) stabil dalam penyimpanan?
4. Dari ketiga ekstrak etanol, etil asetat, dan n-heksana biji asam jawa
(Tamarindus indica L.) formulasi menakah yang meberikan efek antiacne
paling besar terhadap bakteri penyebab jerawat Propionibacterium acnes
dan Staphylococcus epidermidis.
C. TUJUAN PENELITIAN
1. Mengetahui apakah ekstrak biji asam jawa dapat dibentuk menjadi masker
gel peel-off.
2. Mengetahui aktivitas antioksidan masker gel peel-off dengan uji DPPH.
3. Mengetahui kestabilan dari sediaan masker gel peel-off antioksidan ekstrak
biji asam jawa (Tamarindus indica L.).
4. Mengetahui antiacne paling besar terhadap bakteri penyebab jerawat
Propionibacterium acnes dan Staphylococcus epidermidis.
D. MANFAAT PENELITIAN
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi tentang penggunaan
biji asam jawa (Tamarindus indica L.) sebagai masker wajah. Masyarakat dapat
menggunakan masker yang nilainya ekonomis karena terbuat dari bahan alam.
Penelitian ini juga bisa menjadi referensi untuk produsen kosmetik yang ingin
memproduksi masker gel peel-off dari bahan alam
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. TAKSONOMI ASAM JAWA (Tamarindus indica L.)

Tanaman asam bukan tanaman asli Indonesia. Berdasarkan beberapa literatur


disebutkan bahwa tanaman asam berasal dan daerah sabana yang gersang di
Afrika, tumbuh subur di Sudan. Kemudian, tanaman ini ditanam di Mesir. Sumber
genetik (plasma nutfah) tanaman asam yang berkembang di dunia dibedakan atas
dua jenis, yaitu asam jawa dan asam manis. Asam jawa banyak tumbuh di Pulau
Jawa dan daerah-daerah lainnya di Indonesia, sedangkan asam manis
dikembangkan di Thailand. Asam manis atau asam thailand ternyata mulai
ditanam pula di Indonesia pada awal tahun 1980-an.(9)
1. Klasifikasi
Kingdom : Plantae
Divisi

: Spermatophyta

Subdivisi : Angiospermae
Kelas

: Dicotyledonae

Ordo

: Leguminosales

Famili

: Leguminoceae (Fabaceae)

Subfamili : Caesalpinioideae
Genus

: Tamarindus

Spesies

: Tamarindus indica L (7)

.
Gambar II.1 Asam Jawa (Tamarindus indica L.)
2. Morfologi (9)
Tinggi pohon antara 25-30 m dengan lingkar batang lebih dan 7 m. Pohon kuat
dan kekar, kulit batang berwarna cokelat keabu-abuan dan tidak rata
permukaannya. Cabang-cabang tanaman tidak mudah patah oleh angin dan badai.
7

Tanaman ini selalu menghijau dengan bentuk habitus (kanopi) yang indah dan
tajuk seperti kubah besar, berdaun lebat, halus, dan ringan. Tanaman asam
memenuhi syarat untuk dikerdilkan sebagai bonsai. Banyak para hobils tanaman
mengoleksi bonsai asam.
Daun asam disebut sinom. Bentuk daun mirip dengan daun petai, yakni bulat
memanjang, kecil, dan tipis. Warna daun hijau muda sampal hijau tua. Helaian
daun tersusun dalam tangkai daun. Duduk daun berhadap-hadapan seperti
berpasang-pasangan. Bunga tanaman asam termasuk bunga majemuk (cluster),
berwarna kuning pucat dan kemerah-merahan. Bunga akan membentuk buah
setelah melalui proses penyerbukan sendin atau penyerbukan silang dengan
bantuan angin dan serangga. Tanaman asam dapat berbuah pada umur 13 tahun,
meskipun ada juga yang dapat berbuah pada umur 6-8 tahun. Tanaman asam yang
sudah tua dapat menghasilkan buah sebanyak 180-225 kg per pohon.
Buah asam berbentuk polong tipis, berukuran panjang 12-15 cm, dengan bobot
(berat) antara 15-20 g. Polong (buah) asam pada umumnya bengkok. Kulit polong
berwama seperti karat besi, tipis, dan mudah pecah retak. Di dalam polong
terdapat biji (pulp) yang membungkus biji. Biji berwarna cokelat sampai cokelat
tua atau merah. Buah berukuran panjang mencapai 15 cm dan dapat berisi banyak
biji, yaitu sampai 15 butir. Buah asam yang telah masak disebut asam kawak. Biji
asam disebut klungsu, berbentuk bulat telur dan gepeng, serta bertekstur keras.
Biji berukuran panjang 15 mm dan berwarna hitam mengilap.
3. Kandungan Kimia
Buah asam jawa mengandung asam apel, asam sitrat, asam anggur. asam
tartrat, asam suksinat, pektin, dan gula invert. Buah asam jawa yang masak di
pohon per 100 gramnya mengandung nilai kalori sebanyak 239 kalori; protein 2,8
gram; lemalc 0,6 gram; karbohidrat 62,5 gram; kalsium 74 mg fosfor 113 mg Zat
besi 0,6 mg vitamin A 30 SI; vitamin B 1 0,34 mg serta vitamin C 2 mg. Kulit
bijinya mengandung phlobatanin serta bijinya mengandung albumin dan pati

(9)

Pada biji asam jawa terdapat kandungan polisakarida yang cukup besar, yaitu
sekitar 50%-60%. Polisakarida merupakan polimer alami yang berasal dari
tumbuhan (10). Dari polimer alami biji tamarind tersebut mengandung DGalactose, Xyloglucan dan D-Glucose (11)

4. Kegunaan
Zat kimia yang terkandung dalam buah asam jawa bersitat antiradang, penurun
panas. antibiotik, dan untuk menghilangkan bengkak. Berkhasiat mengobati asma,
batuk, demam, panas, rematik, sakit perut, morbili, dan biduren .Selain itu, juga
bisa mengatasi sariawan, eksim dan bisul (9) Limbah biji asam dapat
dimanfaatkan dengan mengambil polisakarida yang terkandung di dalamnya.
Polisakarida sangatlah penting bagi kebutuhan obat-obatan. Disamping itu
polisakarida dari biji tamarind dapat digunakan sebagai stabilizer, pengental, dan
gelling agent. Selain itu, polisakarida dari biji tamarind juga dapat dipakai untuk
formulasi obat yang bersifat sustained release, karena polisakarida dari biji
tamarind bersifat non carcinogenic.(3,4) Polisakarida dapat pula digunakan pada
industri tekstil yang berguna sebagai perekat atau penguat serat kain. Ekstrak biji
asam jawa signifikan meningkatkan elastisitas kulit.(1)
B. XYLOGLUCAN (2)
Xyloglucan adalah anggota kelompok polisakarida yang biasanya disebut
sebagai hemiselulosa. Xyloglucan merupakan bagian yang paling banyak terdapat
pada tumbuhan dan tergolong bahan yang fleksible. Polisakarida yang berasal dari
biji tamarin dapat diekstraksi dengan air panas pada suhu sekitar 70C.
Xyloglucan terdapat sekitar 20-30% dari daging biji sampel.
Kesamaan struktur antara hemiselulosa dan selulosa hasil yang paling
mungkin dalam homologi konformasi yang dapat menyebabkan sebuah asosiasi
non-kovalen yang kuat dari hemiselulosa dengan mikrofibril selulosa. Xyloglucan
adalah polisakarida hemicellulosic kuantitatif dominan di dinding utama dikotil
dan monokotil non-graminaceous. Xyloglucan mungkin memiliki nilai hingga
20% dari berat kering dinding primer. Gambar struktur xyloglucan dapat dilihat
dibawah ini:

Gambar II.2 Struktur Primer Xyloglucan

C. METODE EKSTRAKSI (HARBORNE, 1987)


Ekstraksi merupakan pemisahan bagian aktif dari tumbuhan atau jaringan hewan
menggunakan pelarut yang sesuai dengan prosedur tertentu. Dalam melakukan penyarian
terhadap suatu simplisia terlebih dahulu harus diketahui sifat-sifat dari simplisia yang
digunakan, sehingga dapat dipilih suatu metoda penyarian yang tepat. Ada beberapa
metode yang umum digunakan untuk penyarian, yaitu maserasi, perkolasi, sokletasi,
digestasi, infusa, dan dekokta.
1. Maserasi adalah proses perendaman bahan-bahan tumbuhan (sampel) pada
temperatur ruang dengan pelarut organik yang sesuai. Tujuan maserasi agar
senyawa kimia yang diinginkan larut bersama pelarut yang digunakan. Dengan
perendaman, dinding dan membran sel tumbuhan akan pecah karena adanya
perbedaan tekanan didalam dan diluar sel sehingga metabolit sekunder yang ada
dalam sitoplasma akan terlarut dalam pelarut. Pemilihan pelarut untuk proses
maserasi akan memberikan efektivitas yang tinggi dengan memperhatikan
kelarutan senyawa bahan alam dalam pelarut tersebut. Cara ini dipakai untuk
senyawa-senyawa yang tidak tahan panas.
2. Perkolasi umumnya digunakan pada bahan-bahan tumbuhan yang keras seperti
akar, batang, dan biji serta untuk bahan yang memiliki kandungan senyawa

10

sedikit. Metode perkolasi merupakan proses melewatkan pelarut organik pada


sampel sehingga pelarut akan membawa senyawa organik bersama-sama pelarut.
Tetapi efektivitas dari proses ini hanya akan lebih besar untuk senyawa organik
yang mudah larut dalam pelarut yang digunakan. Cara ini dipakai untuk senyawasenyawa yang tidak tahan panas dan menggunakan pelarut yang tidak mudah
menguap.
3. Sokletasi digunakan untuk senyawa yang memiliki senyawa kimia yang tahan
panas dan tidak mengalami perubahan komposisi senyawa kimia akibat
pemanasan. Metode ini menggunakan pelarut yang tahan terhadap pemanasan
pada suhu titik didih pelarutnya. Dengan sokletasi penggunaan pelarut dapat
dihemat karena terjadinya sirkulasi pelarut yang selalu membasahi sampel.
Sampel dimasukkan ke dalam tempat khusus (sampel tidak dilarutkan langsung
dengan pelarutnya). Hal tersebut dilakukan secara berulang-ulang untuk
mendapatkan senyawa kimia yang larut didalam pelarut yang digunakan.
4. Digestasi adalah proses penyarian yang sama dengan maserasi dengan
menggunakan pemanasan pada suhu 30-400C. Cara ini dilakukan untuk simplisia
pada suhu biasa tidak tersari dengan baik. Jika pelarut yang dipakai mudah
menguap pada suhu kamar dapat digunakan alat pendingin tegak, sehingga
penguapan bisa dicegah.
5. Infusa adalah sediaan cair yang dibuat dengan menyari simplisia nabati dengan
air pada suhu 900C selama 15 menit.
6. Dekokta adalah suatu proses penyarian yang hampir sama dengan infusa,
bedanya untuk dekokta dipanaskan selama 30 menit terhitung suhu mencapai
900C.
Sedangkan untuk pemisahan komponen senyawa kimia dapat dilakukan dengan
cara fraksinasi. Fraksinasi pada prinsipnya adalah proses penarikan senyawa dari suatu
ekstrak dengan menggunakan dua macam pelarut yang tidak saling bercampur. Fraksinasi
11

dilakukan dengan meningkatkan kepolaran pelarut. Pelarut yang biasa digunakan adalah
pelarut nonpolar seperti n-heksan, petroleum eter, pelarut semi polar seperti etil asetat,
kloroforom, dan terakhir pelarut polar seperti butanol dan etanol, sehingga diperoleh
fraksi yang mengandung senyawa nonpolar, semipolar, dan polar.

D. TINJAUAN UMUM BAKTERI


1. Bakteri Propionibacterium acnes

Propionibacterium

acnes

termasuk

dalam

kelompok

bakteri

Corynebacteria. Bakteri ini termasuk flora normal kulit. Propionibacterium acnes


berperan pada patogenesis jerawat dengan menghasilkan lipase yang memecah
asam lemak bebas dari lipid kulit. Asam lemak ini dapat mengakibatkan inflamasi
jaringan ketika berhubungan dengan sistem imun dan mendukung terjadinya akne.
Propionibacterium acnes termasuk bakteri yang tumbuh relatif lambat. Bakteri ini
tipikal bakteri anaerob gram positif yang toleran terhadap udara. Genome dari
bakteri ini telah dirangkai dan sebuah penelitian menunjukkan beberapa gen yang
dapat menghasilkan enzim untuk meluruhkan kulit dan protein, yang mungkin
immunogenic (mengaktifkan sistem kekebalan tubuh). Ciri-ciri penting dari
bakteri Propionibacterium acnes adalah berbentuk batang tak teratur yang terlihat
pada pewarnaan gram positif. Bakteri ini dapat tumbuh di udara dan tidak
menghasilkan endospora. Bakteri ini dapat berbentuk filamen bercabang atau
campuran antara bentuk batang/filamen dengan bentuk kokoid. Propionibacterium
acnes memerlukan oksigen mulai dari aerob atau anaerob fakultatif sampai ke
mikroerofilik atau anaerob. Beberapa bersifat patogen untuk hewan dan tanaman.
Klasifikasi Propionibacterium acnes

12

Kingdom

:Bacteria

Phylum

:Actinobacteria

Class

:Actinobacteridae

Order

:Actinomycetales

Family

:Propionibacteriaceae

Genus

:Propionibacterium

Spesies

:Propionibacterium acnes

Propionibacterium acnes Akne terjadi ketika lubang kecil pada permukaan


kulit yang disebut pori-pori tersumbat. Pori-pori merupakan lubang bagi saluran
yang disebut folikel, yang mengandung rambut dan kelenjar minyak. Biasanya,
kelenjar minyak membantu menjaga kelembaban kulit dan mengangkat sel kulit
mati. Ketika kelenjar minyak memproduksi terlalu banyak minyak, pori-pori akan
banyak menimbun kotoran dan juga mengandung bakteri. Mekanisme terjadinya
jerawat adalah bakteri Propionibacterium acnes merusak stratum corneum dan
stratum germinat dengan cara menyekresikan bahan kimia yang menghancurkan
dinding pori. Kondisi ini dapat menyebabkan inflamasi. Asam lemak dan minyak
kulit tersumbat dan mengeras. Jika jerawat disentuh maka inflamasi akan meluas
sehingga padatan asam lemak dan minyak kulit yang mengeras akan membesar
Bakteri Stahpylococcus epidermidis Sistematika bakteri Sthapylococcus
epidermidis (Breed, et al, 1957)
Divis (Dvisio)

: Eukariota

Kelas (Classis)

: Schizomycetes

Bangsa (ordo)

: Eubacteriales

Suku (Familia)

: Micrococcaceae

13

Marga (Genus)

: Staphylococcus

Jenis (Spesies)

: Staphylococcus epidermidis

Staphylococcus epidermidis merupakan bakteri gram positif, aerob atau


anaerob fakultatif berbentuk bola atau kokus berkelompok tidak teratur, diameter
0,8 - 1,0 m tidak membentuk spora dan tidak bergerak, koloni berwarna putih
bakteri ini tumbuh cepat pada suhu 37o C. Koloni pada pembenihan padat
berbentuk bulat halus, menonjol, berkilau, tidak menghasilkan pigmen, berwarna
putih porselen sehingga Staphylococcus epidermidis disebut Staphylococcus
albus, koagulasi-negatif dan tidak meragi manitol. Staphylococcus epidermidis
terdapat pada kulit, selaput lendir, bisul dan luka. Dapat menimbulkan penyakit
melalui kemampuannya berkembang biak dan menyebar luas dalam jaringan .
E. UJI AKTIVITAS ANTIBAKTERI
1.

Metode Difusi
Metode difusi adalah suatu metode menentukan mikroorganisme dalam medium

agar dengan cara mencampurkan media agar yang cair dengan kultur bakteri. Cara
kerjanya dengan cara mengamati posisi yang berwarna bening disekeliling pencadang dan
mengukur luas area hambatan pertumbuhan mikroba uji yang disebabkan oleh zat baku
standar dan zat yang diuji (Jawetz et al, 1996). Dalam range konsentrasi tertentu, terdapat
hubungan yang linier antara peningkatan konsentrasi dengan luas daerah hambatan
pertumbuhan mikroba uji (Pelezar, 1988).
Adapun metode difusi ini dibagi atas beberapa cara (Pratiwi, 2008):
1. Cara silinder plat
Cara ini memakai alat pencadang berupa silinder tahan karat. Pada permukaan media
pembenihan dibiakkan media indikator secara merata lalu diletakkan pencadang
silinder yang berisi sejumlah sampel uji tertentu. Pencadang silinder harus benarbenar melekat pada media, kemudian diinkubasi pada suhu dan waktu tertentu.

14

Setelah selesai diinkubasi, pencadang silinder diangkat dan diukur daerah hambat
pertumbuhan mikroba.
2. Cara cup plat.
Cara ini sama dengan silinder plat, hanya saja pada cara ini zat ditempatkan pada
lubang didalam media yang dilubangi dengan pelubang khusus yang mempunyai
diameter 7 mm.
3. Cara cakram
Cara ini sama juga dengan silinder plat, hanya saja plat silinder diganti dengan cara
cakram kertas. Cakram ditetesi dengan larutan sampel dan letakkan pada permukaan
media yang mengandung mikroba indikator.
2. Metode dilusi
Metode dilusi sangat penting dalam analisis mikrobiologi karena hampir semua
metode perhitungan jumlah sel mikroba mempergunakan teknik ini, seperti TPC (Total
Plat Count). Prinsip kerjanya yaitu sejumlah antimikroba diencerkan sehingga diperoleh
beberapa konsentrasi, kemudian masing-masing konsentrasi diberikan pada suspensi
kuman dalam media. Setelah diinkubasi, diamati ada atau tidak pertumbuhan bakteri yang
ditandai dengan terjadinya kekeruhan. Konsentrasi terendah yang menghambat
pertumbuhan bakteri yang ditunjukkan dengan tidak adanya kekeruhan disebut
Konsentrasi Hambat Minimum (KHM) (Pratiwi, 2008).
3. Metoda Autobiografi
Suatu metoda yang digunakan untuk melokalisasi aktivitas antimikroba pada
kromatogram. Daerah hambatnya ditandai dengan bercak pada kromatogramnya.
Konsentrasi bercak pada kromatogram ini tidak teratur dan mudah terkontaminasi oleh
mikroba udara dan membuat metoda ini rumit dalam pengerjaan. Cara lain yang bisa
digunakan untuk teknik ini adalah mengidentifikasi senyawa simulator dengan mutan

15

defisiensi sebagai uji coba organisme. Pada uji ini ditemukan zona hambatan, dimana
pertumbuhan ini akan dihasilkan secara sempurna. (Pratiwi, 2008)
Diameter zona hambatan merupakan pengukuran jumlah konsentrasi minimum
hambatan secara langsung dari antibiotik terhadap mikroba.
Tabel 1. Klasifikasi respon hambatan pertumbuhan bakteri
Diameter zona terang
>17mm
12-16 mm
7-11 mm
0
Sumber: (Ortongo and Dayap, 1996)

Respon hambatan pertumbuhan


Kuat
Sedang
Lemah
Tidak ada

F. STERILISASI
Sterilisasi dalam mikrobiologi merupakan proses penghilangan semua jenis
organisme hidup, dalam hal ini adalah mikroorganisme (protozoa, fungi, bakteri,
mycoplasma, virus) yang terdapat pada suatu benda. Metode sterilisasi dibagi menjadi
dua, yaitu metode fisik dan metode kimia. Metode sterilisasi kimia dilakukan dengan
bahanbahan kimia, sedangkan metode strelisasi fisik dapat dilakukan dengan cara panas
kering maupun panas basah, radiasi, dan filter. (Hadioetomo dan Siri, 1993)
1. Sterilisasi Dengan Panas
Merupakan metode yang paling dapat dipercaya dan banyak digunakan. Metode
sterilisasi ini digunakan untuk bahan yang tahan panas.
-

Sterilisasi panas kering berfungsi untuk mematikan organisme dengan cara


mengoksidasi komponen sel ataupun mendenaturasi enzim. Metode ini tidak
dapat digunakan untuk bahan yang terbuat dari karet atau plastik, waktu
sterilisasinya lama (sekitar 2-3 jam), dan berdaya penetrasi rendah. Ada dua
metode sterilisasi panas kering yaitu pembakaran dengan menggunakan api
dari bunsen dengan temperatur sekitar 350 , dan dengan panas oven

16

yang lebih sederhana dan murah dengan temperature sekitar 160-170


.
- Sterilisasi panas basah menggunakan temperatur diatas 100

dilakukan

dengan uap yaitu menggunakan autoklaf (Pratiwi, 2008)


2. STERILISASI TANPA PANAS
1. Filtrasi
Metode sterilisasi dengan penyaringan digunakan untuk bahan yang sensitif
terhadap panas dan akan rusak pada temperatur tinggi. Contoh: antibiotik, vitamin
dan lain-lain.
2. Radiasi
Metode

sterilisasi

dengan

menggunakan

radiasi

dilakukan

dengan

menggunakan sinar UV. Sinar UV dengan panjang gelombang 260 nm memiliki daya
penetrasi yang rendah sehingga tidak mematikan mikroorganisme namun dapat
mempenetrasi gelas, air, dan substansi lainnya.
3. Bahan Kimia
Metode sterilisasi bahan kimia dilakukan dengan menggunakan bahan kimia
yang mampu membunuh mikroba. Cara ini dilakukan untuk mensterilkan objek padat
yang yang sensitif terhadap panas (misalnya bahan-bahan dari

plastik).

Contoh: fenol, klorin, iodin, dan lain-lain (Hadioetomo dan Siri, 1993).
G. Antibiotika
Antibiotika adalah zat yang dihasilkan oleh mikroba terutama fungi (jamur) yang
dapat membasmi dan menghambat pertumbuhan mikroba jenis lain (Ganiswara, 2001).
Penisilin merupakan antibiotik pertama yang ditemukan secara kebetulan oleh

dr.

Alexander fleming (Inggris, 1938), tetapi penemuan ini baru dikembangkan dan
digunakan pada permulaan perang dunia II ditahun 1941, ketika itu obat-obat antibakteri

17

sangat diperlukan untuk menanggulangi infeksi dan luka pada saat pertempuran (Tjay,
2002).

1. Kloramfenikol
Kloramfenikol berkerja dengan cara menghambat sintesa protein kuman.
Kloramfenikol umumnya bersifat bakteriostatik terhadap kuman tertentu seperti bakteri
Gram positif dan negatif, antibiotik ini dihasilkan oleh Stremptomyces venezule dan
merupakan antibiotik terpilih untuk mengobati penyakit tifus. Efek samping yang dapat
ditimbulkan berupa kelainan darah seperti anemia dan dapat berkelanjutan menjadi
leukemia, mual, muntah dan diare, kontra indikasi terjadi pada ibu hamil dan menyusui
(Ganiswara, 2001).

H. KULIT DAN KOSMETIK


1. Gambaran umum Kulit (17)
Kulit manusia mempunyai ketebalan yang bervariasi, mulai dan 0,5 mm
sampai 5 mm, dengan luas permukaan sekitar 2 m2 dan berat sekitar 4 kg. Kulit
dalam bahasa Latin dinamakan cutis dan di bagian bawahnya terdapat lapisan
bernama subcutis. Jika kulit dicubit dan diangkat, kulit itu terasa longgar terhadap
lapisan subcutis dibawahnya. Lapisan subcutis ini sering menjadi tempat untuk
suntikan obat tertentu.
Lapisan kulit sendiri terdiri dan dermis di sebelah dalam dan lapisan
epidermis di sebelah luar. Itu sebabnya dokter ahli penyakit kulit disebut
dermatolog. Lapisan paling luar dibentuk oleh zat tanduk (keratin) pada lapisan
cornium yang dibentuk oleh sel kulit yang sudah tua.
Pada orang tertentu bagian kulit ini memberi gambaran seperti sisik tipis.
Lapisan ini akan terlepas pada saat digosok waktu mandi dan lapisan di bawahnya
akan mengisi lapisan yang lepas. Lapisan paling dalam dan epidermis dinamakan
lapisan basal atau stratum germinativum. Di sini ditemukan sel-sel yang
membelah diri dan membentuk sel kulit baru yang selanjutnya bergeser ke lapisan
lebih atas sehingga suatu saat menjadi lapisan cornium.

18

Pigmen melanin yang memberi warna pada kulit terdapat di lapisan ini.
Untuk mencapai lapisan paling atas, sel-sel ini mem butuhkan waktu sekitar 5-6
minggu. Dengan demikian, setiap 4-5 minggu manusia sebenarnya mengalami
pergantian kulit. Itu berarti juga bahwa obat jamur yang dimakan, yang akan
melekai pada lapisan basal baru akan membunuh semua jamur setelah sekitar 5
minggu, sesudah lapisan itu menjadi lapisan corneum.
Pada lapisan dermis di bawah lapisan basal terdapat ujung saraf peraba, dan
pembiluh darah kapiler. Di sini juga dapat ditemukan kelenjar keringat dan
kelenjar minyak kulit. Pada lapisan subcutis dapat ditemukan banyak pembuluh
darah, saraf, dan folikel atau akar rambut beserta otot arektor pili. Pada orang
yang gemuk, di lapisan ini juga dapat ditemukan banyak jaringan lemak.
Pengukuran kegemukan seseorang dapat dilakukan dengan memanfaatkan
pengukuran tebal lapisan ini di sekitar tulang belikat dan bagian belakang lengan
atas. Pada wanita hamil, bagian ini juga sering menampung cairan.
Kulit yang mengalami kerusakan mudah mengalami regenerasi atau
perbaikan, tetapi jika kerusakan lebih dalam dan lapisan dermis, biasanya tempat
yang rusak akan diisi oleh jaringan ikat. Untuk mempercepat penyembuhan luka
yang terbuka, biasanya kedua pinggiran luka didekatkan melalui penjahitan atau
dijepit.
Adakalanya kerusakan kulit sedemikian lebar sehingga diperlukan operasi
plastik. Pada operasi ini lapisan epidermis kulit yang baik diiris dengan
dermatome dan dilekatkan pada bagian yang akan ditutup. Pembuluh darah di
tempat luka akan mempertahankan kulit yang ditempel (skin-graft) sehingga
tumbuh menutup luka di pihak lain lapisan basal yang masih tersisa di bagian
yang diris akan tumbuh kembali sehingga di bagian ini pun kulit akan menutup
menjadi seperti semula. Keseluruhan proses dapat berlangsung selama sekitar 6
minggu.
2. Permeabilitas dan Penetrasi Kulit (18)
Reaksi positif kulit terhadap pemakaian kosmetik merupakah hal yang sangat
diinginkan oleh pembuat dan pemakai kosmetik. Untuk dapat memberikan reaksi,
kulit harus sedikit banyak dipenetrasi oleh kosmetik. Untuk itu permeabilitas dan
cara penetrasi kulit perlu dipelajari.

19

Berbagai cara penetrasi yang mungkin ke dalam kulit, yaitu


1. Lewat antara sel-sel stratum comeum
2. Melalui dinding saluran folikel rambut
3. Melalui kelenjar keringat
4. Melalui kelenjar sebasea
5. Menembus sel-sel lapisan tanduk
Cara 1 dan 5 disebut transepidermal. Cara 3 dan 4 oleh Lietz disebut
penetrasi. Di samping itu, sudah sejak lama telah dipastikan adanya penetrasi
transfolikular melalui cara 2.
Keseragaman Intemasional atas istilah-istilah berikut:
1. Adsorpsi: deposit bahan dengan atau tanpa pengikatan kimiawi
di permukaan kulit dan adneksanya.
2. Absorpsi: penetrasi bahan-bahan ke dalam lapisan-lapisan yang
berbeda dari kulit.
3. Resorpsi:

pengambilan bahan oleh jaringan, pembuluh darah

dan pembuluh limfe setelah difusi melalui kulit.


Beberapa faktor di kulit yang mempengaruhi penetrasi adalah kelembaban
kulit, keadaan kulit: apakah normal atau mengalami modifikasi, apakah kulit
gundul atau banyak rambutnya, usia, jenis kelamin, dan kecepatan metabolisme
bahan itu di dalam kulit.
Faktor-faktor yang berpengaruh pada bahan yang dikenakan pada kulit, antara lain
a. Besar kecilnya molekul bahan itu
b. Daya larut bahan itu dalam lemak maupun air
c. Apakah berbasis lemak atau berbasis garam
d. Tingkat keasaman (pH) dari bahan
e. Kecepatan pemberian bahan pada kulit
Bahan yang berbasis lemak lebih mudah mempenetrasi kulit daripada yang
berbasis garam atau yang lainnya. Lietz menemukan bahwa emulsi M/A lebih
tinggi daya penetrasinya dari pada emulsi A/M. Angka keasaman yang tinggi
(alkalis), terutama jika pH 11 ke atas, akan memperbesar daya penetrasi karena
kulit akan diperlunak. Kulit yang mengalami luka, keratolisis, hiperaemia,
kehilangan lemak, akan semakin mudah dipenetrasi oleh bahan kosmetik.

20

3. Reaksi Kulit terhadap Kosmetik (19)


Tidak semua kulit wajah sama jenis dan sifatnya. Kosmetik untuk kulit kering
berbeda dengan yang untuk kulit berminyak. Keliru memilih kosmetik, bisa
bermasalah. Demikian pula halnya dalam memilih jenis kosmetik obat atau
cosmedic. Kosmetik untuk kulit bermasalah, mernpunyai kandungan bahan
obatnya. Tidak semua aman dipakai. Terlebih apabila mengandung bahan obat
berbahaya, dan belum terdaftar di Balai Pengawasan Obat dan Makanan.
Kosmetik apa pun bisa mencetuskan kejadian alergi pada kulit yang
berbakat alergi. Maka, mereka yang mempunyai bakat alergi perlu waspada setiap
memakai kosmetik merek yang baru pernah dipakai. Jangan gunakan pada seluruh
kulit wajah dulu saat pertama kali memakainya, tapi coba satu dua kali di kulit
bagian leher.
4. Faktor yang mempengaruhi Hasil Pemakaian Kometik (18)
Ada 4 faktor yang mempengaruhi hasil pemakaian kosmetik terhadap kulit,
baik yang memberikan hasil positif, atau hasil negatif. Keempat faktor itu adalah:
a. Faktor manusia

Perbedaan ras warna kulit, misalnya antara Asia yang cokiat dan Eropa
(Kaukasia) yang putih serta pandangan mengenai kecantikan (aesthetic
behavior) yang berbeda menyebabkan efek kosmetik yang berbeda.

Kurangnya pengetahuan akan seluk-beluk kulit dan seluk-beluk


kosmetik dapat menimbulkan kesalahan dalam pemakaian kosmetik.

Orang-orang tertentu berkulit sensitif sehingga kosmetik yang bagi


orang lain tidak berpengaruh apa-apa, baginya dapat menimbulkan
iritasi dll.

b. Faktor kosmetika.

Bahan baku tidak berkualitas tinggi, iritan, alergenik, acnegenic, toksik,


dan photosensitizer.

Formulasi tidak sesuai dengan jenis kulit dan keadaan Iingkungan.


Sejumlah bahan, misalnya dalam kosmetik tabir surya (sunscreen), zat
pewarna, dan zat pewangi bersifat photosensitizer jika terkena sinar
matahari di iklim tropis.

21

Prosedur pembuatan tidak canggih dan higienis.

c. Faktor lingkungan
Di negara-negara tropis seperti Indonesia, matahari yang bersinar
terik praktis sepanjang hari sepanjang tahun menyebabkan kulit lebili
berkeringat dan berminyak. Karena itu, jika kosmetik pelembab
(moisturizer) yang lengket berminyak untuk kulit orang Eropa yang
kering di iklim dingin digunakan oleh orang Asia, kosmetik ini dapat
merangsang terjadinya jerawat (acnegenic). Begitu pula tabir surya
yang mengandung PABA (Para Amino Benzoic Acid) yang populer
untuk mencoklatkan kulit di Eropa, di Indonesia tidak disukai dan
berbahaya karena PABA bersifat photosensitizer jika terkena sinar
matahari terik.
d. Interaksi ketiga faktor tersebut
I. GEL (12, 14, 16)
Sediaan Gel atau Jeli merupakan sistem semipadat yang terdiri dari suspensi
yang terbuat dari partikel anorganik kecil atau molekul organik besar, terpenetrasi
oleh suatu cairan. Makromolekul pada sediaan gel disebarkan keseluruh cairan
sampai tidak terlihat ada batas diantaranya, disebut dengan gel satu fase. Jika
masa gel terdiri dari kelompok-kelompok partikel kecil yang berbeda, maka gel
ini dikelompokkan dalam sistem dua fase. Polimer-polimer yang biasa digunakan
untuk membuat gel-gel farmasetik meliputi gom alam tragakan, pektin, karagen,
agar, asam alginat, serta bahan-bahan sintetis dan semisintetis seperti metil
selulosa,

hidroksietilselulosa,

karboksimetilselulosa,

dan

karbopol

yang

merupakan polimer vinil sintetis dengan gugus karboksil yang terionisasi. Gel
dibuat dengan proses peleburan, atau diperlukan suatu prosedur khusus berkenaan
dengan sifat mengembang dari gel.
1. Keuntungan Gel (20 21)
Keuntungan dari sediaan gel diantaranya adalah memberi efek pendinginan
pada kulit saat digunakan, penampilan sediaan yang jernih dan elegan, pada
pemakaian di kulit setelah kering meninggalkan film tembus pandang, elastis,

22

mudah dicuci dengan air, pelepasan obatnya baik, kemampuan penyebarannya


pada kulit baik. Sediaan gel juga meningkatkan stabilitas obat yang mudah
terhidrolisa dalam air, pembuatan sediaan yang depoterapi : penetrasi dan absorpsi
dapat dikontrol, daya lekat gel tinggi yang menyumbat pori sehingga pernafasan
pori tidak terganggu.
2. Kerugian Gel (20)
Kerugian dari sediaan gel adalah harus menggunakan zat aktif yang larut
dalam air sehingga diperlukan penggunaan peningkat kelarutan, kandungan
surfaktan yang tinggi dapat menyebabkan iritasi dan harga lebih mahal.
3. Sifat Gel (20)
- Zat pembentuk gel yang ideal untuk sediaan farmasi dan kosmetik
-

ialah inert, aman dan tidak bereaksi dengan komponen lain.


Pemilihan bahan pembentuk gel harus dapat memberikan bentuk
padatan yang baik selama penyimpanan tapi dapat rusak segera ketika
sediaan diberikan kekuatan atau daya yang disebabkan oleh
pengocokan dalam botol, pemerasan tube, atau selama penggunaan

topical.
Penggunaan bahan pembentuk gel yang konsentrasinya sangat tinggi
atau BM besar dapat menghasilkan gel yang sulit untuk dikeluarkan

atau digunakan.
Gel dapat terbentuk melalui penurunan temperatur, tapi dapat juga
pembentukan gel terjadi setelah pemanasan hingga suhu tertentu.
Contoh polimer seperti HPMC dapat terlarut hanya pada air yang
dingin yang akan membentuk larutan yang kental dan pada

peningkatan suhu larutan tersebut akan membentuk gel.


Fenomena pembentukan gel atau pemisahan fase yang disebabkan oleh
pemanasan disebut thermogelation.

4. Komponen Gel (22)


Dalam formulasi gel ada beberapa komponen gel yaitu:

Zat Aktif

Gelling Agent

23

Gelling agent adalah hidrokoloid yang memberi konsistensi tiksotropi


pada gel, dikenal juga sebagai solidifiers atau stabilizer dan thickening
agent. Lebih larut dalam air dingin daripada air panas. Gelling agent perlu
neutralizer setelah dibasahi dalam medium pendispersi. Digunakan dengan
konsentrasi 0,5-10%. Kebanyakan perlu waktu 24-48 jam untuk terhidrasi
sempurna serta mencapai viskositas dan kejernihan maksimum. Obat dapat
ditambahkan sebelum gel terbentuk jika adanya obat tidak mempengaruhi
pembentukan gel. Viskositas berkisar 1000-100.000 cPs

Carbopol (Carbomer)
Membentuk

larutan asam pH 3,0 Penetralisir ditambahkan untuk

menaikan pH dan menyebabkan disperse mengental membentuk gel (KOH,


NaOH, TEA)

Alginat
Terdiri rantai linier asam uronik yang larut dalam air. Dipasarkan dalam
bentuk

sodium,

potasium,

ammonium

alginat,

digunakan

dengan

konsentrasi 5-10%

Polivinil Alkohol (PVA)


Tersedia dalam 3 macam viskositas rendah, sedang dan tinggi,
diperlukan konsentrasi 2,5% untuk membuat gel.

Povidone Kollidon (PVP)


BM tinggi dan membentuk gel pada konsentrasi> 10% . Higroskopis
dan mudah ditumbuhi jamur dalam bentuk larutan

Humektan
Substansi yang mengasorbsi atau membantu substansi lain agar dapat
mempertahankan kelembaban. Sifatnya higroskopis . Contohnya gliserin,
propilenglikol, litiumklorida, xylitol, sorbitol, dll.

Stabilizer
Basis dan obat yang sensitif terhadap logam berat perlu diproteksi
dengan chelating agent seperti EDTA.
5. Syarat Gel yang Baik (12, 20)

24

Untuk penggunaan dermatologis harus memenuhi syarat yaitu:


-

Memiliki sifat non newton plastis tiksotropik

mempunyai daya sebar yang mudah melembutkan

dapat bercampur dengan beberapa zat tambahan

stabil, homogen, tidak tengik, mudah dipakai dan menembus kulit

mengandung pengawet, mengandung antioksidan


J. MASKER GEL PEEL-OFF (23, 24)
Masker gel juga termasuk salah satu masker yang praktis, karena setelah
kering masker tersebut dapat langsung diangkat tanpa perlu dibilas. Masker gel
biasa dikenal dengan sebutan masker peel-off. Manfaat masker gel antara lain
dapat mengangkat kotoran dan sel kulit mati sehingga kulit menjadi bersih dan
terasa segar. Masker gel juga dapat mengembalikan kesegaran dan kelembutan
kulit, bahkan dengan pemakaian yang teratur, masker gel dapat mengurangi
kerutan halus yang ada pada kulit wajah. Masker peel-off terbuat dari bahan
seperti polivinil alkohol atau damar vinil asetat. Masker gel peel-off adalah
masker yang dipasang pada wajah, kemudian diangkat, apa pun bentuk bahannya.
Masker ini diaplikasikan menutup seluruh wajah, termasuk mata dan bibir. Setelah
alkohol yang terkandung dalam masker menguap, terbentuklah lapisan film yang
tipis dan transparan. Zat aktif pada masker dapat berinteraksi dengan kulit wajah
pada

saat

masker

didiamkan

selama

10-20

menit

sebelum

diangkat.

Bagi yang memiliki kulit sensitif sebaiknya memakai yang berbahan gel, sedang
untuk yang berkulit normal bisa memakai dua-duanya.
K. METODE PEMBUATAN MASKER GEL
Metode
pencampuran.

umum yang
Pencampuran

digunakan
dilakukan

adalah
pada

metode
suhu

penembangan

kamar

dan

menggunakan

homogenizer atau stamper dan mortir. Jika dalam formula terdapat serbuk, maka
serbuk harus dilarutkan dengan pelarut yang sesuai lalu campur dengan gelling
agent yang telah dikembangkan. Pengembangan gelling agent dalam pelarut yang
sesuai lalu aduk menggunakan stirrer. (12,14)

25

L. EVALUASI SEDIAAN GEL (20, 21, 23, 26)


1. Pengujian Organoleptik
Pengamatan terhadap bentuk sediaaan, perubahan warna dan bau khas
sediaan.
2. Pengujian Homogenitas
Sediaan dioleskan di atas kaca objek, kemudian ambil kaca objek yang
lain lalu tutup kaca objek yang telah diolesi sediaan. Dilihat apakah basis
sediaan homogen dan permukaan halus merata.
3. Pengujian Viskositas
Pengukuran viskositas dilakukan dengan viskometer Brookfield DV-E
menempatkan sejumlah sampel dalam wadah lalu

viskometer. Ukuran

spindel dan kecepatan putaran yang akan digunakan diatur, dan selanjutnya
alat dinyalakan, dan viskositas dari masker wajah gel akan terbaca. Satuan
viskositas adalah poise, dinyatakan sebagai shearing force yang dibutuhkan
untuk menghasilkan kecepatan 1 cm/detik antara dua bidang cairan yang
pararel dimana luas masing-masing adalah 1cm2 dan dipisahkan oleh jarak
1cm. Satuan cgs untuk poise adalah dyne detik cm -2 (yakni, dyne detik/cm2 )
atau g cm-1 detik-1 (yakni, g/cm detik). Satuan yang digunakan adalah
centipoises (cPs) 1 cp sama dengan 0.01 poise istilah fluiditas.
Ketergantungan suhu dan teori viskositas, bila viskositas gas meningkat
dengan meningkatnya suhu, maka viskositas cairan justru menurun jika
temperatur dinaikkan. Fluiditas dari suatu cairan yang merupakan kebalikan
dari viskostas akan meningkat dengan makin tingginya temperature.
Penggolongan tipe aliran adalah sebagai berikut:
a. Sistem Newton
Hukum aliran dari Newton. Bagaikan sebuah cairan di dalam balok yang
terdiri dari lapisan-lapisan molekul pararel, yang dianalogikan bagaikan
setumpuk kartu, lapisan dasar di anggap menempel pada tempatnya. Jika
bidang cairan paling atas bergerak dengan sutu kecepatan konstan, setiap
lapisan dibawahnya akan bergerak dengan kecepatan yang berbanding lurus
dengan jarak dengan lapisan dasar yang diam. Perbedaan kecepatan (dv)

26

antara dua bidang cairan dipisahkan oleh suatu jarak yang kecil sekali (dx)
adalah perbedaan kecepatan atau rate of shear (dv/dx).
b. Sistem Non-Newton
Cairan non-Newton terbagi menjadi dua kelompok, yaitu :
o Cairan yang sifat aliran nya tidak dipengaruhi waktu (kurva naik
berhimpik dengan kurva turun). Kelompok ini terbagi atas tiga jenis,
yakni:
-

Aliran plastis
Adanya partikel-partikel yang terflokulasi dalam suspense pekat.
Akibatnya terbentuk struktur kontinu di seluruh siitem. Adanya yield
value disebabkan oleh adanya kontak antara partikel-partikel yang
berdekatan disebabkan gaya van der waals yang harus dipecah
sebelum aliran dapat terjadi, akibatnya yield value merupakan
indikasi dari kekuatan flokulasi. Makin banyak suspense yang
terflokulasi makin tinggi yield value. Kekuatan friksi antara partikelpartikel yang bergerak dapat juga memberi andil pada yield value
tersebut.

Aliran pseudoplastik
Sejumlah besar produk farmasi termasuk gom alam dan sintesis,
misalnya dispersi cair dari tragacanth, natrium alginat, metilselulosa,
dan

natrium

pseudoplastik.

karboksimetil
Sebagai

aturan

selulosa,
umum

menunjukkan
aliran

aliran

pseudoplastik

diperlihatkan oleh polimer-polimer dalam larutan yang merupakan


kebalikan dari system plastis, yang tersusun atas partikel-partikel
yang terflokulasi dalam suspensi.
-

Aliran dilatan.
Pada Aliran dilatan suspensi-suspensi tertentu dengan presentasi
zat padat terdispersi yang tinggi menujukkan peningkatan dalam
daya hambat untuk mengalir dengan meningkatnya rate of shear,
pada sistem ini sebenarnya volumenya meningkat jika terjadi shear
oleh karena itu diberi istilah dilatan. Tipe aliran ini kebalikan dari

27

tipe aliran pseudoplastik, sementara bahan pseudoplastik dikenal


dengan sebagai shear-thinning sistem, maka bahan dilatan sering
kali disebut sebagai shear-thickening system. Jika stress dihilangkan
suatu sistem dilatan kembali ke keadaan fluiditas aslinya.
o Cairan yang sifat alirannya dipengaruhi waktu (kurva naik tidak
berhimpit dengan kurva turun), kelompok ini terbagi menjadi tiga jenis,
yakni :
-

Aliran Tiksotropik
Aliranini didefinisikan sebagai suatu pemulihan yang isotherm
dan lambat pada pendiaman suatu bahan yang kehilangan
konsistensinya karna shearing. Seperti yang di definisikan tersebut,
tiksotropik hanya bisa diterapkan untuk shear-thinning system.
Sistem tiksotropik biasanya mengandung partikel-partikel asimetris
yang melalui berbagai titik hubungan menyusun kerangka tiga
dimensi di seluruh sampel tersebut. Pada keadaan diam struktur ini
mengakibatkan suatu derajat kekakuan pada system dan akan
menyerupai gel.

Aliran rheopeksi.
Aliran terbentuknya gel menjadi sol, pada saat stress ditiadakan,
struktur tersebut mulai terbentuk kembali, proses ini tidak akan
timbul dengan cepat, tetapi secara bertahap dan terjadi restorasi dari
konsistensi pada saat partikel-partikel asimetris berhubungan satu
dengan lainya disebabkan terjadi gerak Brown. Karena itu rheogram
yang didapat dari tiksotropik sangat bergantung pada laju yang
meningkatkan dan yang mengurangi shear serta lamanya waktu
sampel tersebut mengalami rate of shear. Dengan kata lain riwayat
sampel tersebut mempunyai efek terhadap sifat rheologi dari suatu
sitem tiksotropik. Ketika digunakan shear dan aliran dimulai,
struktur ini mulai memecah apabila titik hubungan tersebut memisah
dan partikel-parikel menjadi lurus, maka bahan tersebut akan

28

mengalami transformasi dari gel ke sol dan menujukan shearthinning.


-

Aliran Antitiksotropik.
Gejala kenaikan dalam hal kekentalan atau hambatan (resistensi)
mengalir dengan bertambahnya waktu shear ini telah diselidiki oleh
dalam analisis rheologi dari magma magnesia. Dari penyelidikan
bahwa magma magnesia di shear berganti-ganti pada rate of shear
yang meningkat, kemudian menurun, magma tersebut akan terus
mengental (suatu peningkatan dalam shearing stress per unit shear
rate). Tetapi pada laju yang menuun dan akhirnya mencapai suatu
keadaan seimbang, di mana putaran selanjutnya dari laju shear yang
menaik-menurun tidak lagi meningkatkan konsitensi dari bahan
tersebut. Karakteristik antitiksotropik sistem keseimbangan yang
didapat seperti gel dan mempunyai kemampuan tersusupensi dengan
baik, namun mudah di tuang. Tetapi jika didiamkan, bahan tersebut
kembali ke sifat sol nya.

4. Pengujian Daya Sebar


Sebanyak 1 gram sediaan gel diletakkan dengan hati-hati di atas kaca
berukuran 20 x 20 cm. Selanjutnya ditutupi dengan kaca yang lain dan
digunakan pemberat dengan bobot mencapai 200 gram dan diukur
diameternya setelah 1 menit.
5. Pengujian Waktu Sediaan Mengering
Masker wajah yang dipergunakan adalah masker yang diformulasikan 48
jam sebelumnya. Jumlah masker wajah yang dioleskan sebanyak 0,5 gram
dan ke atas punggung tangan membentuk lapisan tipis seragam dengan tebal
kira-kira 1 mm, ini meniru pengaplikasian masker pada wajah.
6. Pengukuran pH
Pengukuran pH dari formula yang dilakukan menggunakan pH meter
7. Pengukuran Perpanjangan dan Kekuatan terhadap Tarikan
Lapisan tipis sediaan gel dengan ukuran tertentu ditarik dengan tarikan
longitudinal secara terus-menerus. Kekuatan pada saat lapisan tipis sediaan
gel putus merupakan petunjuk tentang sifat lapisan tipis sediaan gel diukur

29

dengan alat tensile strength tester (alat uji kekuatan tarikan). Hasil percobaan
dinyatakan dalam presentase terhadap panjang permulaan untuk mengetahui
perpanjangan dan tegangan saat putus dihitung dalam dekanewton.
b. Stabilitas (24, 26, 27)
Stabilitas produk farmasi didefinisikan sebagai kemampuan dari formulasi
tertentu dalam wadah tertentu untuk mempertahankan sifat-sifat fisika,
kimiawi, mikrobiologi, terapis dan toksikologi. Definisi sediaan kosmetik
yang stabil adalah suatu sdiaan yang masih berada dalam batas yang dapat
diterima selama periode waktu penyimpanan dan penggunaan, dimana sifat
dan karakteristik sama dengan yang dimilikinya pada saat dibuat.
Pengukuran stabilitas produk farmasi adalah untuk memastikan bahwa
produk mempunyai karakteristik yang seragam sehingga menjamin keamanan
klinik dan efikasi dari formula. Dan dapat pula untuk menetapkan waktu
kadaluarsa suatu produk farmasi. Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi
stabilitas dari produk farmasi meliputi stabilitas dari bahan aktif, interaksi
antar bahan aktif dan bahan inaktif pada formula, proses pembuatan , bentuk
sediaan, wadah, kondisi lingkungan selama pengangkutan, penyimpanan,
penanganan dan waktu antara pembuatan dengan penggunaan.
Stabilitas fisik dari sediaan semisolid seperti gel, penting untuk dievaluasi.
Formuasi gel yang tidak stabil dalam kondisi atau keadaan normal dapat
mengalami perubahan yang irreversible pada sifat rheologinya. Beberapa
contoh gel yang tidak stabil yaitu gel yang mengalami perubahan selama
penyimpanan dan tidak dapat lagi dikeluarkan dari wadah, gel yang
mengalami pemisahan fase baik fase cair seperti pada sineresis ataupun fase
padat pada sedimentasi dan gel yang mengalami perubahan viskositas dan
konsistensi sehingga bentuknya berubah dari semisolid menjadi cairan.
Evaluasi stabilitas produk farmasi dapat dibagi menjadi evaluasi fisik dan
evaluasi kimiawi dari formulasi, pada kenyataannya tidak dapat dipisahkan
antara keduanya karena pada faktor fisika seperti panas , cahaya, kelembaban;
dapat mempengaruhi reaksi kimiawi atau sebaliknya adanya perubahan
senyawa kimiawi menyebabkan perubahan fisik. Untuk memperoleh nilai
kestabilan suatu sediaan farmasetika atau kosmetik dalam waktu yang
singkat, maka dapat dilakukan uji stabilitas dipercepat. Pengujian
30

membutuhkan tiga titik waktu. Jika potensi suatu formula tetap diatas 90%
dari kadarnya semula setelah penyimpanan pada berbagai temperatur selama
jangka waktu tertentu, ada kepastian yang cukup bahwa formula tersebut
memenuhi persyaratan waktu kadaluwarsa dua tahun. Waktu maksimum dan
minimum potensi sediaan sekurang-kurangnya harus 90 % dari persyaratan
label ketika disimpan pada temperatur yang disebut pada Tabel II.1 agar dapat
diperkirakan waktu kadaluwarsa selama dua tahun pada temperatur ruangan.
Tabel II.1 Waktu dan Temperatur Uji Stabilitas
Temperatur (oC)
Minimum
37
6,4 bulan
45
2,9 bulan
60
3 minggu
85
2,5 hari

Lama Pengujian
Maksimum
12 bulan
8,3 bulan
4,1 bulan
6 minggu

M. MONOGRAFI BAHAN
1. Polivinil Alkohol (PVA) (26)
Nama lain

: Airvol, Elvanol, Polyviol, Poval, PVA, Vinyl alcohol, polymer

Rumus Molekul

: (C2H4O)n

Kelarutan

: Larut dalam air panas atau air dingin. Sangat sedikit larut
dalam komponen polihidroksi yang mengandung amda
dan amina. Praktis tidak larut dalam hidrokarbon alifatik,
aromatik, klorinasi, ester, keton, propilenglikol dan
minyak.

Bobot molekul

: 30.000-200.000

Pemerian

: Serbuk granul, warna putih sampai krem dan tidak


berbau

Penggunaan

: Pembentuk gel dan lapisan film, bahan penyalut,


surfaktan, nonionik, bahan peningkat viskositas.

Konsentrasi

: 5-10% sebagai pembentuk gel

Inkompatibilitas

: Garam Sulfat dan fosfat

2. Metil Paraben (11)


Nama resmi

: Methylis parabenum

31

Nama lain

: Metil paraben, Nipagin M

Pemerian

: Serbuk hablur halus, putih, hampir tidak berbau, tidak


mempunyai rasa, kemudian agak membakar diikuti rasa
tebal

Kelarutan

: Larut Metil paraben, Nipagin M dalam 500 bagian air,


dalam 20 bagian air mendidih, dalam 3,5 bagian etanol
(95%) P dan dalam 3 bagian aseton P, mudah larut dalam
eter P dan dalam larutan alkali hidroksida, larut dalam 60
bagian gliserol P panas dan dalam 40 bagian minyak lemak

nabati panas, jika didinginkan larutan tetap jernih.


Jarak lebur : 1250 sampai 1280
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik
Kegunaan
: Zat tambahan; zat pengawet

3. Propilenglikol (11)
Nama resmi
Nama lain
Pemerian

: Propylenglycolum
: Propilenglikol
: Cairan kental, jernih, tidak berwarna, tidak berbau, rasa

Kelarutan

agak manis, higroskopik


: Dapat campur dengan air, dengan etanol (95%) P dan
dengan kloroforn P, larut dalam 6 bagian eter P, tidak dapat
campur dengan eter minyak tanah P dan dengan minyak

lemak.
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik
Penggunaan

: Zat tambahan, pelarut


4. Propil Paraben (11)

Nama resmi

: Propylis Parabenum

Nama lain

: Propil paraben, Nipasol

Pemerian

: Serbuk hablur putih, tidak berbau, tidak berasa

Kelarutan

: Sangat sukar larut dalam air, larut dalam 3,5 bagian etanol
(95%) P, dalam 3 bagian aseton P, dalam 140 bagian gliserol
P dan dalam 40 bagian minyak lemak, mudah larut dalam
larutan alkali hidroksida.

32

Suhu lebur

: 950 sampai 980

Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik


Penggunaan

: Zat pengawet

5. Etanol
Nama lain

: Etil alcohol, etil hidroksida, metil karbinol, butiran


alkohol.

Rumus molekul

: C2H3OH

Bobot molekul

: 40,07

Pemerian

: Cairan jernih, tidak berwarna dan termasuk minyak


menguap

Kelarutan

: Dapat bercampur dengan kloroform, eter, gliserin dan air

Penggunaan

: Pengawet, desinfektan, penembus kulit dan pelarut.

Konsentrasi

: Sampai dengan 30%

Inkompatibilitas

: Bahan pengoksidasi

6. Dinatrium EDTA
Nama lain

: Edhatamil, Versene acid, Sequestrene AA, NA2 EDTA.

Rumus molekul

: C10H14N2Na2O82H20

Bobot molekul

: 372,24

Pemerian

: Serbuk hablur, putih

Kegunaan

: Zat

pengomplek,

membentuk

antioksidan

komplek

dengan

sinergis
logam

dengan

berat

yang

merupakan katalis dalam reaksi oto oksidasi. Asam


edetat

dan

garamnya

juga

memberikan

antimikroba terhadap bakteri Gram negatif.


Konsentrasi

: 0,005-0,1%

Inkompatibitas

: Tembaga dan Nikel

7. Natrium Metabisulfit
Sinonim

: Disodium bisulfit, Disodium pirosulfit, E223

33

aktivitas

Nama Kimia

: Natrium pirisulfit

Rumus molokul

: Na2S2O5

Bobot molekul

: 190,1

Pemerian

: Tidak berwarna, kristal prismatik atau sebagai kristal


putih dengan bau seperti sulfur dioksida dan asam.
: Dalam air 1:19 dan 1:1,2 pada 100 oC dan mudah larut

Kelarutan

dalam gliserin.
Kegunaan

: Sebagai antioksidan dengan konsentrasi 0,01-1,0%

Inkompatibitas

: Orto/para-hidroksi benzyl alcohol, kloramfenikol dan


fenil merkuri asetat.

8. Air Suling
Nama lain

: Aqua, hydrogen oksida

Rumus molekul

: H2O

Bobot molekul

: 18,02

Pemerian

: Cairan jernih, tidak berbau, tidak berwarna, tidak berasa

Kelarutan

: Tidak bercampur dengan pelarut polar

Kegunaan

: Pelarut sampai dengan 10%

Inkompatibitas

: Kalsium oksida dan magnesium oksida

BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
A.METODE PENELITIAN

34

Metode penelitian ini menggunakan metode eksperimen, yang merupakan


jenis penelitan dengan metode memberikan jawaban yamg bersifat hubungan
sebab-akibat.
B.KERANGKA KONSEP
Ekstrak kental etanol, etil setat dan n-heksana biji asam jawa (Tamarindus
indica L.) dilakukan uji fitokimia terlebih dahulu sebelum dilakukan uji aktivitas
antibakteri mengunakan metode difusi dan agar untuk menentukan diameter
daerah hambat (DDH) untuk menentukan dosis yang akan digunakan pada fomula
masker gel pell-off
Sediaan masker gel peel-off dilakukan pengamatan dengan uji organoleptis,
homogenitas, viskositas dan sifat alir, uji pH, kecepatan mengering, pemeriksaan
kekuatan tarikan, uji keamanan dan efektifitas sediaan terhadap bakteri penyebab
jerawat (Propionibacterium acnes dan Staphylococcus epidermidis). uji stabilitas
selama 3 minggu.
C.DEFINISI OPERASIONAL VARIABEL
1. variabel bebas (independent)
Variabel bebas dalam penelitian ini adalah konsentrasi ekstrak etano, etil setat, dan
n-heksana biji buah asam jawa (Tamarindus indica L.) untuk pembuatan masker
gel pell-off
2. variabel terikat
Variabel terikat dalam penelitian ini adalah penumbuhan bakteri penyebab jerawat
(Propionibacterium acnes dan Staphylococcus epidermidis) yang dapat terlihat
dengan adanya Diameter Daerah Hambat (DDH) pada sekeliling cakram

3. variable control
a. control positif adalah variabel kendali positif yang mengendalikan atau sebagai
pembanding yang berkaitan dengan variabel bebas. kontrol positif sebagai
pembanding menggunakan produk masker gel pell-off.

35

b. control negative adalah variabel kendali negative digunakan sebagai variabel


netral atau variabel dengan perlakuan netral dalam penelitian. Kontrol negatif
pembanding polivinil akohol (PVA), propilenglikol, metil paraben, propil paraben,
dinatrium EDTA sebagai basis masker pell-off
D. JENIS PENELITIAN
Jenis penelitian menggunakan metode eksperimen yang merupakan jenis peneitian
dengan memberikan jawaban pada permasalahan yang bersifat hubungan sebab
akibat.
E. TEMPAT DAN WAKTU PENELITIAN
Determinasi tanaman di Pusat Penelitian Biologi LIPI, Kawasan Cibinong,
Bogor, Jawa Barat. Penapisan Fitokimia di Laboratorium Balai Penelitian
Tanaman Rempah dan Obat (BALITRO). Lab skripsi farmasi unuveristas
pancasila, Srengseng sawah, Jakarta selatan. Penetin ini dimulai dari bulan januari
juni 2017.
F. POPULASI DAN SAMPEL/RESPONDEN
Populasi dalam pnelitian ini adalah fomula sediaan msker Pell-off dan bakteri
penyebab jerawat Propionibacterium acnes dan Staphylococcus epidermidis.
Sampel pada penelitian ini adalah konsentrasi ekstrak terbaik yang
mempunyai daya hambat minimum sebagai antibakteri penyebab jerawat.
Criteria inklusi dalam penelitian ini adalah konsetrasi ekstrak (Tamarindus
indica L.) yang menghambat pertumbuhan bakteri penyebab jerawat.

G. Teknik pengumpulan data

36

Data

dikumpulkan

dengan

cara

pengamatan/pemeriksaan

dengan

menggunakan antara lain viscometer Brookfield LV, pH meter, piknometer,


tabung sedimentasi 25ml, tensinometer Du Nouy.
H. Rancangan analisa data
I. Uji statistic yang dilakukan dalam penelitian ini adalah analisis data
menggunakan SIPSS dengan membandingkan evaluasi

hasil tinggi dan

kestabilan sediaan, homogenitas, viskositas dan sifat alir, uji pH, kecepatan
mengering, pemeriksaan kekuatan tarikan, uji keamanan dan efektifitas
sediaan terhadap bakteri penyebab jerawat (Propionibacterium acnes dan
Staphylococcus epidermidis). Yang diperlihatkan melalui Diameter Daerah
Hambat (DDH) terhadap waktu penyimpanan selama 3 minggu. Untuk
melihat apakah ada perbedaan bermakna dari hasil evaluasi tersebut.
J. Tahap penelitian
1.Tinjauan pustaka (meliputi penelaahan pustaka)
2. pengumpulan dan penyiapan bahan penelitian
3. Determinasi Tanaman Asal
4. Ekstrak Biji Asam Jawa (Tamarindus indica L.)
5. pembuatan profil/identitas ekstak etanol, etil asetat dan n-heksana Biji Asam
Jawa (Tamarindus indica L.) yaitu meliputi pemeriksaan organoleptis,
ketercampuran ekstrak dan profil (bobot jenis, ph, kadar air, kadar abu, kadar abu
tak larut asam, kadar sari larut dalam alkohol dan kadungan fitokimia.
6. pemeriksaan diameter daerah hambat (DDH) ekstrak etanol, etil asetat dan n
heksana Biji Asam Jawa (Tamarindus indica L.)
7. pemeriksan bahan tambahan
8. formulasi sediaan masker gel pell-off Biji Asam Jawa (Tamarindus indica
9. Optimasi Homogenitas Sediaan Masker Gel Peel-Off
10. Evaluasi Sediaan Masker Gel peel-off

37

Evaluasi sediaan masker gel peel-off meliputi beberapa evaluasi yaitu:


a. Pengamatan Organoleptik
b. Homogenitas
c. Uji pH
d. Kecepatan Mengering
e. Kemampuan Menyebar
f. Viskositas dan sifat alir (
g. Pengukuran Perpanjangan dan Kekuatan terhadap Tarikan
10. Uji stabiltas formula masker gel Biji Asam Jawa (Tamarindus indica L.)
Uji stabilitas fisik terhadap formula masker gel Biji Asam Jawa
(Tamarindus indica L.) dilakukan selama 3 minggu kemudian dilakukan
uji stabitas gel yang meliputi
b. Pengamatan Organoleptik
c. Homogenitas
d. Uji pH
e. Kecepatan Mengering
f. Kemampuan Menyebar
g. Viskositas dan sifat alir
h. Pengukuran Perpanjangan dan Kekuatan terhadap Tarikan
i. Uji daya hambat terhadap bakteri
j. Uji keaman (iritasi)pada hewan
11. Analisis data dengan menggunkan SPSS
12. Kemasan
Kemasan yang digunkan ada

BAB IV
Bahan, Alat dan prosedur penelitian

38

A. Bahan Penelitian
1. Biji asam jawa
2. Etanol 96%
3. Etil asetat
4. N-heksana
5. Media perbenihan agar Mueller-Hinton (Oxoid)
6. DMSO 1%
7. bakteri Escherichia coli dan Staphylococcus aureus
8. NaOH 1%
9. Bakteri Propionibacterium acnes dan Staphylococcus epidermidis
10. Polivinil alkohol
11. Propilenglikol
12. Dinatrium EDTA
13. Etanol
14. Propil paraben
15. Metil paraben
16. Akuades
B. Alat Peneltian
1. Alat gelas laboratorium (Gelas ukur, gelas piala, erlenmeyer, dll)
2. Timbangan digital
3. botol berwarna gelap (Maserasi)
4. rotary evaporator
5. alumunium foil
6. timbangan analitik
7. autoclave
8. oven
9. cawan petri
10. kasa steril

11. pipet mikro

26

12. tabung reaksi

39

13. laminar Air Flow (LAF)


14. tabung erlemeyer
15. kapas
16. batang pengaduk
17. pinset
18. lampu spiritus
19. jarum Ose
20. kertas cakram
21. Penggaris
22. Aluminium foil

23. Centrifuge Kubota 6500


24. Penangas air
25. Cawan Petri
26. Penjepit
27. Spatel
28. Homogenizer
29. pH meter
30. Alat uji kemampuan sebar (cincin teflon)
31. Viskometer Brookfield tipe RV
32. Alat ukur kekuatan tarikan lapisan peel-off (Tensile Strength Tester)
33. Oven vakum

C. Prosedur penelitian

40

Ekstrak kental etanol, etil setat dan n-heksana biji asam jawa (Tamarindus
indica L.) dilakukan uji fitokimia terlebih dahulu sebelum dilakukan uji
aktivitas antibakteri mengunakan metode difusi dan agar untuk menentukan
diameter daerah hambat (DDH) untuk menentukan dosis yang akan digunakan
pada fomula masker gel pell-off. Sediaan masker gel peel-off dilakukan
pengamatan dengan uji organoleptis, homogenitas, viskositas dan sifat alir, uji
pH, kecepatan mengering, pemeriksaan kekuatan tarikan, uji keamanan dan
efektifitas sediaan terhadap bakteri penyebab jerawat (Propionibacterium
acnes dan Staphylococcus epidermidis). uji stabilitas selama 3 minggu.

41

DAFTAR PUSTAKA
1. Soebagio, B. S., et. Al. 2014. Ekstraksi Polisakarida Pada Biji Tamarind
(Tamarindus Indica L). Jurusan Teknik Kimia, Fakultas Teknik, Surabaya :
Universitas Katolik Widya Mandala hal. 1
2. Gidley, M. J. 1991. Structure and solution properties of tamarind-seed
polysaccharide. Carbohydr. Res. 214 (2), 299-314
3. V.Gupta, R.Puri, S.Gupta, S.Jain, G.K.Rao. 2009. Tamarind Kernel Gum
An Upcoming Natural Polysaccharide. India: Al-ameen College of
Pharmacy Bangalore.
4. Joseph, Joshny., SN Kanchalochama, dkk. 2012. Tamarrind seed
polysaccharide: A Promising natural excipient for pharmaceuticals.
India : Department of Pharmacy SASTRA University Nadu.
http://greenpharmacy.info/index.php/ijgp/article/view/273. Diakses 27
Maret 2015
5. Kotadiya, Rajendra. Tamarind seed polysaccharides : A novel carrier for
drug delivery systems.Vol.6, http://www.pharmainfo.net/reviews/tamarndseed-polysaccharides-novel-carrier-drug-. Diakses 28 Maret 2015
6. Tsuda, T. et. al. 1994. Antioxidative Components Isolated from the Seed of
Tamarind (Tamarindus indica, L.), J. Agric. Food Chem. 42, 2671-4.
7. Winarsi, H. 2007. Antioksidan Alam dan Radikal Bebas. Yogyakarta :
Kanisius. Hal: 7, 212
8. Rukmana, Rahmat. 2005. ASAM, Budi Daya dan Pascapanen.
Yogyakarta : Kanisisus
9. Redaksi Agromedia. 2008. Buku pintar tanaman obat: 431 jenis tanaman
penggempur aneka penyakit. Jakarta : Agromedia Pustaka. Hal: 14
10. Sumathi.S. dan Ray, Alok.R., Release behavior of drugs from Tamarind
Seed Polysaccharide tablets.Centre for Biomedical Engineering, Indian
Institute of Technology, Delhi and All India Indtitute of Medical Sciences,
New Delhi,india. 7 Maret 2002.
11. Kotadiya, Rajendra. Tamarind seed polysaccharides : A novel carrier for
drug delivery systems.Vol.6, http://www.pharmainfo.net/reviews/tamarndseed-polysaccharides-novel-carrier-drug-... Diakses 29 Mei 2015.

42

12. Ansel, H. C. 1989. Pengantar Bentuk Sediaan Farmasi IV. Terj. Dari
Introduction to Pharmacetical Dosage Form oleh Farida Ibrahim. Jakarta:
University Indonesia Press.
13. Anonim. 1979. Farmakope Indonesia Edisi III. Direktorat Jendral
Pengawasan Obat dan Makanan, Departemen Kesehatan Republik
Indonesia, Jakarta.
14. Anonim. 1995. Farmakope Indonesia Edisi IV. Direktorat Jendral
Pengawasan Obat dan Makanan, Departemen Kesehatan Republik
Indonesia, Jakarta.
15. Youngson, Robert. 1988. Antioxidant: Vitamins C and E for Health.
Terjemahan Susi Purwoko. Jakarta :Arcan
16. Titik S. et. al. 2007. Flavonoid Antioksidan Penangkap Radikal Bebas
dari Dan Kepel (Stlechocarpus burahol (B. I) Majalah Farmasi Indonesia.
18 (3). 111-6.
17. Wibowo, Daniel S. 2005 . Anatomi Tubuh Manusia. Jakarta : Grasindo
18. Trenggono, Retno., Latifah, Fatma. 2007. Buku Pegangan Ilmu
Pengetahuan Kosmetik. Jakarta : Gramedia Pustaka Utama.
19. Nadesul, Hendrawan. 2010. Cantik Cerdas Feminin: Kesehatan
Perempuan sepanjang Usia. Jakarta : Penerbit Buku Kompas.
20. Lachman, L. 1994. Teori dan Praktek Farmasi Industri. Edisi ke-3.
Penerjemah Siti Suyatmi. Jakarta : Universitas Indonesia Press, 1528-1529
21. Martin, A., Swarick, J., Cammarata, A. 1993. Farmasi Fisik. Edisi III Jilid
2. Terjemahan Yoshita. Jakarta : Universitas Indonesia Press.
22. Winarti, Lina. 2013. Diktat Kuliah Formulasi Sediaan Semisolid
(Formulasi Salep, Krim, Gel, Pasta, Dan Suppositoria). Jember : Fakultas
Farmasi Universitas Jember
23. Jin-yao, ZHAO., et al. 2014. Human Plasma Protein Binding of Water
Soluble Flavonoids Extracted From Citrus Peels. J. Cent. South Univ.
24. Harry, Ralph G. 1973. Harrys Cosmeticology. Edisi Keenam. New York.
Chemical Publishing Co., Inc. Hal: 103-109.
25. Sinko PJ. Martins physical pharmacy and pharmaceutical sciences.
Physical chemical and biopharmaceutical principles in the
pharmaceutical science. Fifth edition. Philedelphia: Lippincott Williams &
Wilkins; 2003, p. 5019-30, 561-9
26. Voight, R. 1994. Buku Pelajaran Teknologi Farmasi. Penerjemah
Noerono, S. Edisi V. Yogyakarta : Gajah Mada University Press.

43

27. Alfonso, R. Gennaro. 1995. Remington : The Science And Pratice Of


Pharmacy. Nineteenth Edition, vol. 1. USA : Mack Publishing
28. Djajadisastra, J., Munim, A., Dessy, N. P. 2009. Formulasi Gel Topikal
dari Ekstrak Nerii Folium dalam Sediaan Anti Jerawat. Jurnal Farmasi
Indonesia Hal. 16-18
29. Rowe, R. C. et. al. 2003. Handbook of Pharmaceutical Excipient, 4th ed.
Washingon, DC : Pharmaceutical Press. Hal: 219-221

44