Anda di halaman 1dari 20

PENGARUH JENIS MESIN TETAS TERHADAP DAYA TETAS

TELUR DAN MORTALITAS PADA ITIK

Usulan Penelitian

Oleh :
Saeful Hamdi Al-Rasyid
200110100139

FAKULTAS PETERNAKAN
UNIVERSITAS PADJADJARAN
SUMEDANG
2013
I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Dalam masalah globalisasi ini, masyarakat semakin merasakan perubahan-

perubahan yang sangat besar baik dalam dunia teknologi dan dunia industri.

Manusia semakin dimanjakan dengan berbagai teknologi yang mempermudah

dalam menjalankan aktifitasnya sehari-hari.

Teknologi penetasan telah sanggup menciptakan alat penetas buatan yang

dikenal dengan mesin penetas telur (incubator), yang sepenuhnya dapat meniru

tingkah laku induk ayam selama periode mengeram. Mesin penetas dibuat sebagai

pengganti penetasan secara alami (natural incubator), untuk memperoleh sejumlah

anak yang berkualitas tinggi dalam waktu bersamaan. Jenis mesin tetas dibuat

secara beragam, mulai dari mesin yang paling canggih sampai pada mesin yang

paling sederhana (tradisional). Keberhasilan mesin tetas sangat ditentukan oleh

kestabilan temperature dalam mesin tetas.

Telur itik mempunyai reputasi sulit untuk ditetaskan dibanding dengan

telur ayam karena waktu untuk menetas 28 hari sedangkan pada ayam hanya 21

hari, sehingga lebih banyak waktu untuk berbuat salah (KORTLANG, 1985).

Banyak faktor yang mempengaruhi rendahnya daya tetas, antara lain cara/metoda

penetasan, pengaturan suhu inkubator, kebersihan telur, pengumpulan dan

penyimpanan telur, ukuran dan bentuk telur dan faktor faktor lain yang masih

belum diketahui.
Secara alami telur itik biasanya ditetaskan di permukaan air, sedangkan

telur ayam akan menetas di atas permukaan tanah. Sehingga jelas penetasan telur

itik membutuhkan kelembaban yang lebih tinggi dibanding penetasan telur ayam

(KORTLANG, 1985). Keadaan alam lainnya seperti adanya selaput renang di

antara jari-jari itik dapat mengotori telur pada saat mengeram . Pori-pori pada

kerabang telur itik yang lebih besar dibanding telur ayam akan mempengaruhi

evaporasi telur sewaktu ditetaskan.

1.2. Identifikasi Masalah

1) Berapa besar pengaruh dari jenis mesin tetas terhadap daya tetas pada telur

dan mortalitas pada itik.

2) Berapa persen daya tetas dan mortalitas telur yang dihasilkan itik setelah

dimasukkan pada mesin tetas dengan jenis mesin penetasan yang berbeda.

1.3. Maksud dan Tujuan

Adapun maksud dan tujuan dari penelitian ini, antara lain :

1) Untuk mengetahui seberapa besar pengaruh dari jenis mesin tetas terhadap

daya tetas pada telur dan mortalitas pada itik.

2) Untuk mengimplementasikan pengontrol suhu kelembaban untuk tempat

pengeraman telur agar dapat meningkatkan persentase penetasan telur.


1.4. Kegunaan Penelitian

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan tambahan informasi

ilmiah bagi para praktisi maupun peneliti khususnya di bidang peternakan

mengenai pengaruh dari jenis mesin tetas terhadap daya tetas pada telur dan

mortilitas pada itik.

1.5. Kerangka Pemikiran

Pemenuhan telur dan daging itik dapat dipenuhi dari diperlukan bibit itik

yang baik dan unggul. Bibit itik yang baik dan unggul hanya bisa diperoleh

melalui teknik pembibitan yang ditangani sesuai prosedur yang benar

(Jayasamudra dan Cahyono, 2005). Teknik pembibitan harus ditangani secara

benar dan tepat, sehingga menghasilkan ternak itik yang memiliki kualitas dalam

menghasilkan telur konsumsi.

Kebutuhan produksi telur dan daging itik tidak dapat terlepas dengan

proses penetasan. Saat ini, penetasan telur itik di Pedesaan masih banyak yang

menggunakan induk untuk menetaskan telur. Hal ini dirasa kurang efektif karena

jumlah telur yang dapat ditetaskan per induk relatif sedikit, yaitu hanya berkisar

antara 5 sampai 10 telur. Sementara kebutuhan konsumsi telur dan daging terus

meningkat seiring dengan semakin meningkatnya populasi penduduk di Indonesia,

sehingga dibutuhkan suatu teknologi untuk dapat menetaskan telur itik sesuai

dengan permintaan.
Salah satu teknologi yang sampai saat ini mulai digunakan adalah mesin

penetasan. Penetasan telur itik sudah mulai dilakukan diberbagai daerah. Usaha

penetasan telur itik dengan mesin tetas di Yogyakarta pada umumnya

menggunakan mesin tetas dengan kapasitas 250350 butir/unit baik dalam skala

usaha kecil, menengah hingga skala besar (Juarini dan Sumanto, 2000).

Usaha peternakan itik sebagai penghasil telur dan daging semakin

mengarah pada usaha komersial yang pengelolaannya harus dilaksanakan secara

efisien. Pengembangan usaha penetasan telur itik komersial seyogyanya harus

dapat memenuhi permintaan dengan tidak mengabaikan kualitasnya, sehingga

tercapai kepuasan antara produsen dan konsumen. Mesin tetas merupakan

sumberdaya yang vital dalam keberlangsungan usaha peternakan itik secara

komersial.

Mesin tetas / Alat penetas telur

Mesin tetas ini merupakan salah satu media yang berupa peti, lemari atau

box dengan konstruksi yang sedemikian rupa sehingga panas di dalamnya tidak

terbuang. Suhu di dalamnya dapat diatur sesuai ukuran derajat panas yang

dibutuhkan selama periode penetasan.

Mikrokontroler

Kontrol utama dari keseluruhan sistem, atau sebagai prosessor yang

memproses bagaimana sensor-sensor itu bergerak dan menyimpan data dalam

sebuah chip yang bisa diprogram berulang-ulang sesuai perintah.


Sensor

Sensor adalah peralatan yang digunakan untuk merubah suatu besaran fisis

menjadi besaran listrik sehingga dapat dianalisa dengan rangkaian listrik tertentu.

Sensor yang digunakan dalam sistem kontrol ini yaitu sensor SHT 11 yang

mampu mendeteksi nilai suhu dan kelembaban tertentu.

Panel Surya

Seperti kita ketahui penggunaan lstrik yang berlebihan akan membuat

sumber daya lain aka terkuras habis, oleh karena itu dengan adanya panel surya

ini, kita bisa menggunakan tenaga surya atau dari sinar matahari yang akan

tersimpan dalam panel ini dan bisa digunakan sebagai alternatif pengganti listrik

yang mana semakin langkannya listrik saat ini.

Pelaksanaan Penetasan Telur Itik

Didalam melaksanakan penetasan telur itik seharusnya dikumpulkan

sesegera mungkin untuk menghindari mikro organisme masuk melalui pori-pori

kulit telur dan bisa menyebabkan daya tetas rendah . Untuk menghindari

masuknya mikro organisme penyakit dapat dilakukan beberapa cara . Menurut

Siregar, dkk., (1975) menyatakan bahwa daya tetas telur yang mendapat perlakuan

fumigasi lebih tinggi dari pada yang tidak. Selain itu persentase embrio yang mati

pada kelompok telur yang tidak difumigasi lebih tinggi dari pada yang difumigasi

.
Tabel dibawah ini menunjukkan pada penelitian beberapa konsentrasi

fumigasi terhadap telur ayam ras Lenghorn putih berjengger tunggal (Siregar, dkk

., 1975).

Daya tetas relur juga dipengaruhi oleh kesegaran telur . Telur yang

disimpan 4 hari dalam suhu ruang didaerah tropis, waktu tetasnya akan bertambah

30 menit dan daya tetasnya akan berkurang 4% (Ngepkep Ginting, 1995). Oleh

karena itu seharusnya telur itik segera ditetaskan jangan disimpan terlalu lama.
Perlakuan Awal Untuk Pencucian Telur

Di Balai Penelitian Ternak Ciawi khususnya Program Penelitian Ternak

Itik, untuk menjaga kesegaran dan kebersihan telur yang akan ditetaskan juga

dilakukan pencucian telur. Bahan anti kuman yang dipakai untuk mencuci telur

itik yang akan ditetaskan ialah Savlon atau Hebicet (Hospital Cocentrate) . Bahan

tersebut mengandung Chlor Hexidine Gluconate 1,5% b/v dan Centrimide 15,0 %

b/v dengan konsentrasi 2 ml per liter air hangat pada suhu 35-36 C. Pencucian

dilakukan dengan membasahi telur dengan kain halus atau handuk yang telah

dicelupkan dengan larutan anti kuman tersebut satu demi satu . Setelah bersih

telur diletakan pada rak telur dan dibiarkan sampai kering .

Penyimpanan Telur

Telur tetas sebaiknya segera ditetaskan, bila kapasitas mesin tetas tidak

mencukupi atau jumlah telur terlalu sedikit sebelum penetasan, telur dapat

disimpan pada ruangan yang dilengkapi dengan alat pendingin. Suhu yang

dianjurkan 13-15C dengan kelembaban nisbi 83 - 85% atau termometer basah

(wet bulb) menunjukkan angka 11 .5-13 .5C. Perlu diperhatikan bahwa telur

sebaiknya disimpan dengan bagian yang tumpul atau rongga udara terletak

dibagian atas dan dengan cara ini waktu simpan nya bisa lebih lama sampai 7 hari

pengumpulan. Telur yang akan dimasukkan ke mesin tetas yang berasal dari

sistim penyimpanan dingin paling sedikit 18 jam harus dianginkan disuhu ruang.

Maksudnya ialah supaya suhu telur bisa beradaptasi terlebih dahulu.


Fumigasi Telur Tetas

Setelah proses pencucian telur selesai, dilakukan fumigasi telur tetas .

Dengan meletakan tempat telur (eggtry) yang diisi telur yang sudah bersih dan

kering kedalam lemari fumigasi . Fumigasi dilakukan dengan menggunakan gas

formaldehide yang terbentuk dari kalium permanganat dan formalin dengan

konsentrasi 4-6 gram kaliumpermanganat dan 6 - 12 ml formalin 40%Ymeter

kubik selama 10-15 menit . Caranya ialah dengan meletakkan kalium

permanganat kedalam cawan plastik atau kaca dibawah rak telur dan kemudian

dituangkan cairan formalin kedalamnya.

Pengaturan Mesin Tetas (INCUBATOR)

Pada penetasan komersial biasanya terdapat dua inkubator yang terpisah.

Inkubasi pertama dilaksanakan mulai telur dimasukkan sampai dengan hari ke 24.

Suhu yang diperlukan berkisar antara 99,5-100F dengan kelembaban nisbi 60-

65% atau wetbulb menunjukkan angka 87-89F. Selanjutnya pada hari ke 25 telur

tetas dipindahkan ke inkubator kedua. Pada periode ini telur tetas sudah tidak

perlu dibalik. Suhu yang diperlukan pada periode inkubator kedua ialah 98 - 99F

dengan kelembaban nisbi 70 -80% atau wet bulb menunjukkan angka 90-94F .

Maksud dari penurunan suhu inkubator kedua ialah pada periode ini embrio sudah

tidak mengalami proses pertumbuhan akan tetapi sudah memasuki proses

penetasan, yang mana embrio justru perlu sedikit mengeluarkan panas didalam

aktifitas untuk proses pemecahan kulit . Akan tetapi didalam periode ini untuk
membantu keremahan kulit telur perlu kelembaban yang cukup tinggi yaitu 70 -

80% .

Pembalikan atau Pemutaran Telur

Didalam suatu proses penetasan, telur itik perlu dibalik mulai awal

penetasan sampai dengan hari ke 24 minimal 5 kali sehari . Tujuan pembalikkan

ini ialah untuk meratakan panas dan mencegah embrio berpindah melalui putih

telur dan melekat padaselaput kerabang sehingga mati .

Pendinginan Telur

Pendinginan telur juga perlu dilakukan mulai hari ke 5 - 24 penetasan .

Caranya ialah rak telur tetas dikeluarkan dari mesin dan diletakan diatas meja .

Sambil didinginkan seluruh permukaan telur tersebut disemprot dengan sprayer

halus mempergunakan air hangat dengan suhu 40 - 45C . Suhu air yang akan

disemprotkan sengaja dibuat melebihi suhu mesin tetas karena pada waktu

disemprotkan keatas permukaan telur suhu air tersebut akan mendekati suhu telur

sehingga tidak terjadi perubahan yang mendadak. Maksud pendinginan ialah agar

embrio didalam telur bisa mengambil oksigen sebanyak - banyaknya dari udara

melalui pori-pori telur. Penyemprotan dengan air hangat dimaksudkan untuk

menambah kelembaban telur yang sempat berkurang pada proses pertumbuhan

embrio didalam mesin .


Seleksi DOD

1. Hand Sexing

Adalah menentukan bebek jantan betina dengan memegang dan melihat

bagian anus/dubur/kloaka itik. Pegang itik dengan tangan kiri, punggung ke arah

bawah serta tangan kanan membuka dubur. Jika ada tonjolan runcing berwarna

putih seperti akar kecambah maka itik tersebut jantan, sedangkan apabila tidak

ada maka betina

2. Voice Sexing

Adalah cara menentukan itik jantan betina dengan mendengar suaranya.

Pegang itik dan tekan bagian pangkal leher di dekat tembolok. Jika suara serak

maka jantan dan jika melengking nyaring maka betina

3. Bend Sexing

Adalah cara membedakan kelamin betina dan jantan dengan melihat gerak-

gerik itik. Itik jantan berkepala lebih besar, badan lebih besar, warna bulu gelap,

gerakan lebih tenang, bulu kepala kasar panjang, paruh runcing gelap

melengkung, sedang betina kebalikannya.

Kematian Embrio (mortalitas embrio)

Menurut Manyun dan Nugroho (1981), kematian embrio banyak terjadi

dalam keadaan kritis selama waktu penetasan. Ada dua fase kritis embrio dalam

penetasan, yaitu pada tiga hari pertama masa penetasan dan tiga hari sebelum
menetas. Mortalitas embrio dapat ditentukan pada hir penetasan denan pemecahan

telur yang tidak menetas. Hal ini dapat diketahui dari tidak menetasnya telur pada

ahir penetasan.

Hasil tetasan yang normal dari sebuah mesin tetas adalah 75% sampai

85%. Bila ahasilnya kurang dari hasil tersebut, kemungkinan disebabkan selama

priode penetasan terjadi perubahan temperature yang besar (Mayun dan Nugroho,

1981). Hal ini dapat terjadi ketika proses penatasan berlangsung sumber panas

yang dibutuhkan tidak mencukupi dikarenakan matinya listrik. Rospitasari dan

Listiowati (2003) menyatakan, jika sumber pemanas terlalu lama mati akan

menyebabkan perubahan suhu yang dapat mematikan benih dalam telur.

Berdasarkan uraian di atas, maka dapat ditarik hipotesa bahwa pengaruh

mesin full otomatis terhadap peningkatan hasil yang optimal pada daya tetas telur

dan mortalitas pada itik sangat berpengaruh.

1.6. Waktu dan Tempat Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan selama 10 bulan, yakni pada Maret sampai

Januari 2014. Tempat dilaksanakannya penelitian di Myrobo Robotic School,

Antapani. Jawa Barat.


II

BAHAN DAN METODE PENELITIAN

2.1. Bahan Penelitian

2.1.1. Telur Itik

Telur itik yang digunakan dalam penelitian ini sebanyak 135 butir. Telur

diperoleh dari Peternakan Kelompok Ternak Barokah. Ciamis, Jawa Barat.

2.1.2. Mesin Penetasan

Mesin penetasan yang digunakan dalam penelitian ini ada tiga macam,

mulai dari mesin yang manual, semi otomatis, dan full otomatis dan alat ini

diperoleh dari pesanan dan merakit sendiri.

2.1.3. Mikrokontroler

Mikrokontroler sistem penggerak dari mesin penetas, digunakan dalam

penelitian ini diperoleh dari Toko Elektronik di Antapani, Jawa Barat.

2.1.4. Sensor Suhu dan Kelembaban SHT11

Sensor suhu dan kelembapan SHT11 yang digunakan dalam penelitian ini

diperoleh dari Toko Elektronik di Antapani, Jawa Barat.


2.1.5. Panel Surya

Panel surya diperoleh dari pesanan secara online dari toko online penyedia

barang elektronik di Malang, Jawa Timur.

2.2. Alat Penelitian

2.2.1. Persiapan Tempat

Salah satu faktor yang mendukung keberhasilan usaha penetasan telur itik

mengunakan mesin penetas adalah faktor tempat. Tempat untuk penempatan

mesin tetas diusahakan tidak terkena matahari secara langsung dan tidak terkena

angin secara langsung. Hal ini untuk menghindari perubahan suhu yang cukup

ekstrim, yang berkakibat kurang baiknya daya tetas telur. Pastikan tempat dan

mesin tetas dalam kondisi yang higienis dan steril dari kuman dan bakteri. Kuman

dan bakteri akan mengganggu daya tetas telur. Biasanya sebelum telur-telur itik

dimasukkan ke dalam mesin penetas, lingkungan dan mesin tetas disemprot

terlebih dahulu menggunakan disinfectan. Penyemprotan mengunakan disinfectan

pada tempat dan mesin penetas membuat bakteri dan kuman-kuman mati,

sehingga aman bagi kelangsungan hidup embrio itik dalam telur.

2.2.2. Persiapan Mesin Tetas

Selain faktor tempat, kualitas mesin penetas memiliki peranan yang cukup

penting dalam kesuksesan usaha penetasan telur itik ini. Mesin penetas
diupayakan memiliki lingkungan dan kondisi yang mirip dengan induk

ayam/entok, suhu, kelembaban dan lain-lain. Pastikan mesin tetas yang dipilih

berkualitas bagus, rapat tetapi cukup memiliki ventilasi udara yang baik. Pastikan

juga mesin tetas beroperasi dengan baik, misalnya suhu ruangan bisa mencapai

sudu ideal 37-38 derajat C, dan memiliki termostat sebagai pengatur suhu. Meski

pada rentang suhu 36 s/d 42 derajat C telur bisa menetas tetapi suhu optimal

diupayakan pada 38-39 derajat C. Biasanya pada mesin penetas telur yang dibeli

sudah dilengkapi dengan termometer ruang, untuk memonitor suhu dalam ruangan

mesin penetas.

Kelembaban udara yang diukur dengan Hygrometer didalam ruang mesin penetas

(incubator) haruslah dijaga pada kisaran 55-60% untuk 18 hari pertama di

incubator dan lebih tinggi setelah itu. Mesin Penetas yang baik dan berharga

mahal biasanya dilengkapi dengan Hygrometer ini, namun jika tidak tersedia bisa

dibeli sendiri.

2.2.3. Pemilihan Telur Sebagai Bibit

Dalam manajemen Usaha Penetasan telur itik pemilihan telur sangat

menentukan daya tetas telur itik. Telur itik dipilih dari indukan yang tidak terkalu

muda dan tidak terlalu tua, dengan rasio Jantan:Betina 1:5 sampai dengan 1:8.

Cangkang telur dipilih yang tidak terlalu tebal karena akan sulit untuk pecah saat

akan menetas. Cangkang yang terlalu tipis juga tidak layak untuk dipilih. Pilih

telur yang oval tetapi jangan terlalu lonjong atau bulat.


2.3. Metode Penelitian

2.3.1. Prosedur Penelitian

Prosedur yang dilakukan pada penelitian ini, yaitu :

1) Persiapan tempat terlebih dahulu. Tempat untuk penempatan mesin tetas

diusahakan tidak terkena mataharidan tidak terkena angin secara langsung.

2) Persiapan mesin tetas, dari yang manual, semi otomatis dan full otomatis.

3) Memasukkan telur kedalam mesin tetas, untuk setiap mesin dimasukkan

15 telur.

4) Untuk mesin yang manual dan semi otomatis, kita harus membolak-

balikan telur sehari 2 sampai 6 kali, frekuensi pemutaran telur akan

berpengaruh pada daya tetas telur.

5) Untuk mesin full otomatis, sudah tidak perlu diputar dan di bolak-balikan

lagi. Hanya yang perlu diperhatikan dari listrik yang mungkin bisa padam

pada malam hari oleh karena itu dipasangkan panel surya sebagai

pengganti listrik apabila sewaktu-waktu listrik padam.

6) Melakukan pemutaran telur setiap hari.

7) Mengamati, mengukur serta mencatat yang terjadi pada setiap minggunya.


2.3.2. Peubah yang Diamati

1) Masa Menetas

Telur itik akan mulai pecah sedikit demi sedikit, pada hari ke 26 sudah

mulai terdengar suara dan cangkang yang terbuka pada bagian paruhnya.

Pada hari ke 28 telur dalam mesin penetas yang normal sudah akan

menetas semuanya. Perlu dicermati, jika ada telur yang susa pecah, perlu

dibantu mengelupas dengan tangan tetapi harus hati-hati. Biasanya karena

cangkang terlalu tebal. Anakan itik yang sudah menetas perlu segera

dipindahkan ke tempat lain yang suhunya hampir sama dengan suhu ruang

penetasan. Bersihkan ruang mesin penetas dari cangkang dan kotoran-

kotoran lainnya agar tidak menggangu telur yang belum menetas.

Pengukuran tinggi dan panjang tanaman dilakukan setiap minggunya.

Pengukuran dilakukan dengan mengukur tinggi dan panjang batang

tanaman rumput raja (Pennisetum purpuroides). Alat yang digunakan

untuk mengukur tinggi dan panjang tanaman yaitu meteran.

2) Seleksi DOD

Anakan itik yang berusia 1 sampai 4 hari lebih mudah dibedakan jenis

kelaminnya dibandingkan dengan anakan itik berusia satu minggu. Warna

itik betina lebih terang dan bersih, sedangkan itik jantan lebih gelap. Jika

diperhatikan suara anak itik betina lebih melengking. Cara lain adalah

dengan melihat melalui anus dengan cara menekannya, meski cara ini

cukup membuat itik tersiksa tapi cukup efektif. Itik jantan terlihat
memiliki alat kelamin yang menonjol. Untuk membedakan anakan itik

jantan dan betina bisa dilihat dari warna paruhnya.

2.3.3. Rancangan Percobaan dan Analisis Statistika

Penelitian yang dilakukan merupakan penelitian eksperimental dengan

menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) yang terdiri dari tiga perlakuan

dan tiga ulangan, sehingga penelitian ini menggunakan 135 butir telur. Dengan

masing-masing 15 telur untuk 3 perlakuan dan 3 kali ulangan.

Model matematik yang digunakan (Steel dan Torrie, 1989) dalam

penelitian ini adalah sebagai berikut :

Yij = + i + ij

Keterangan :

Yij = Nilai harapan dari perlakuan ke-i pada ulangan ke-j


= Nilai rataan umum
i = Pengaruh ke-i = 1,2,3
ij = Galat perlakuan ke-i pada ulangan ke-j = 1,2,3,4,5

Asumsi
1. Nilai ij menyebar normal bebas satu sama lain.
2. Nilai harapan ij = 0 atau (ij) = 0
3. Ragam dari ij = 2 atau (ij) = 2
ij ~ NID (0, 2)
Sidik Ragam

Tabel 5. Analisis Sidik Ragam

Sumber Keragaman Db JK KT Fhit Ftabel 0,05

Perlakuan (P-1) = 2 JKP KTP KTP/KTG


Galat P(U-1) = 6 JKG KTG

Total (PU-1) = 8 JKT


Sumber : (Gasperz, 1995)

Hipotesis

1. H0 : R0 = R1 = R2 Perlakuan tidak berpengaruh terhadap respon.

2. H1 : R0 R1 R2 Paling sedikit ada sepasang perlakuan yang tidak sama.

Kaidah Keputusan :

1. Bila Fhit < Ftabel 0,05 Perlakuan tidak berbeda nyata (terima H0/tolak H1).

2. Bila Fhit > Ftabel 0,05 Perlakuan berbeda nyata (tolak H0/terima H1).

Apabila terdapat perbedaan yang nyata (Fhit > Ftabel 0,05) dan perbedaan

sangat nyata (Fhit > Ftabel 0,01) antar perlakuan, maka dilanjutkan dengan Uji

Duncan dengan rumus :

KTgalat
Sx
r

LSRx = SSRxSx
Keterangan :
Sx = Simpangan Baku
R = Jumlah Ulangan
KTG = Kuadrat Tengah Galat
LSR = Least Significant Range
SSR = Studentized Significant Rang

Kaidah keputusan :

1. Bila d LSR Tidak berbeda nyata

2. Bila d > LSR Berbeda nyata

Keterangan :

d = Selisih antara dua rata-rata perlakuan.