Anda di halaman 1dari 16

I.

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Dewasa

ini,

semakin

ramai

masyarakat

yang

tertarik

untuk

mengembangkan usaha pembibitan puyuh. Usaha pembibitan di bidang


peternakan unggas khususnya burung puyuh yang banyak digemari kini
telah lebih modern. Pembibitan yang biasanya menggunakan indukan
langsung, kini menggunakan mesin tetas. Mesin penetas dibuat sebagai
pengganti penetasan secara alami (natural incubator), untuk memperoleh
sejumlah anak yang berkualitas tinggi dalam waktu bersamaan. Jenis
mesin tetas dibuat secara beragam, mulai dari mesin yang paling canggih
sampai pada mesin yang paling sederhana (tradisional). Salah satu hal
yang akan dibahas dalam laporan ini yaitu mengenai mesin tetas sederhana
(tradisional). Mesin tetas sederhana untuk menetaskan telur puyuh sama
halnya dengan mesin tetas lainnya yang digunakan untuk menetaskan telur
ayam dan itik. Dalam hal urusan suhu dan kelembaban, umumnya untuk
penetasan telur pada unggas sama yaitu 38-41 C dengan kelembaban
60-70 %.

Dilihat dari namanya, mesin tetas sederhana (tradisional) umumnya


tidak memiliki ruangan-ruangan yang terpisah antara ruang hatcher
dan setternya. Hanya saja, jika telur yang ditetaskan telah memasuki
hari-hari terakhir dan sudah akan mulai menetas, suhu mesin tetas
diturunkan secara manual. Pada tahapan penetasan pada penetasan
tradisional pun berbeda dengan tahapan penetasan pada penetasanpenetasan besar. Dengan demikian, untuk mengetahui seperti apa

tahapan yang dilakukan pada saat akan melakukan proses penetasan


pada telur puyuh secara sederhana (tradisional) dilakukanlah
kunjungan di penetasan telur puyuh sederhana (tradisional)ini.

B. Tujuan Praktikum
Adapun tujuan dilakukannya kunjungan ke penetasan telur puyuh
sederhana (tradisional) ini adalah sebagai berikut:
1. Mengetahui proses atau tahapan penetasan telur puyuh secara
sederhana (tradisional).
2. Mengetahui perbedaan antara penetasan dengan menggunakan mesin
tetas sederhana (tradisional) dengan mesin tetas modern.

II. TINJAUAN PUSTAKA

Rasyraf (1995) menyatakan bahwa suhu yang ideal penetasan adalah antara
38,30C - 40,50C. Sedangkan kelembaban di dalam mesin tetas antara 60%-70%.

Imanah dan Maryam (1992) menyatakan, jika kelembaban terlalu tinggi akan
mencegah penguapan air dari dalam telur sehingga sulit dalam memecahkan kulit
telur.

Rasyraf (1987) menyatakan bahwa tujuan penetasan dengan mesin tetas adalah
untuk menetaskan telur tetas dalam jumlah banyak pada waktu yang sama sesuai
dengan waktu dan rencana yang dikehendaki Pada dasarnya penetasan dapat
dilakukan secara alami ( dengan induk unggas sendiri) dan secara buatan (dengan
alat penetas pengganti induk).

Farry (2001) menyatakan bahwa Penetasan secara alami untuk memperbanyak


populasi telah dilakukan sejak adanya pemeliharaan unggas. Alat penetasan
buatan dikenal dengan mesin tetas.

Imanah dan Maryam (1992) menyatakan, jika kelembaban terlalu tinggi akan
mencegah penguapan air dari dalam telur sehingga sulit dalam memecahkan kulit
telur.

Anonymous (2009) menyatakan, kelembaban yang terlalu tinggi dapat


menyebabkan anak ayam didalam telur sulit untuk memecahkan kulit telur dan
kalaupun dapat dipecahkan, anak ayam tetap berada di dalam telur dan dapat mati
tenggelam dalam cairan telur itu sendiri.

Listiyowati dan Roospitasari (2003) menyatakan, pemutaran telur puyuh


dilakukan sebanyak dua kali sejak hari ke tiga hingga hari ke-13.

Sudaryani dan santoso (1994) menyatakan bahwa pemutaran telur yang tidak
sempurna juga menyebabkan telur tidak menetas sebab keterlambatan memutar
mengakibatkan benih/embrio menempel atau lengket pada satu sisi kulit akibat
daya tarik bumi dan mati.

Rasyaf (1994) menyatakan bahwa fertilitas yang tinggi akan dicapai jika dalam
satu kandang terdapat jantan dan betina dengan perbandingan 1:3 Listiyowati dan
Roospitasari (1995) menambahkan bila terlalu banyak pejantan dalam satu
kandang, maka pejantan tersebut dikhawatirkan bisa merusak betina karena terlalu
sering dikawini.

Mayun dan Nugroho (1981) menyatakan bahwa hasil tetasan yang normal dari
sebuah mesin tetas adalah 75% sampai 85%. Bila hasilnya kurang dari hasil
tersebut, kemungkinan disebabkan selama priode penetasan terjadi perubahan
temperature yang besar.

III. GAMBARAN UMUM

A. Sejarah Usaha
Pada tahun 1995-1998 Bapak Suryanto, S.Pd. untuk pertama kalinya
melakukan usaha beternak puyuh. Pada periode ini, ternak puyuh yang
dibudidayakan mencapai ribuan ekor. Akan tetapi, karena adanya krisis
moneter pada tahun 1998 membuat Bapak Suryanto,S.Pd menutup usahanya.
Setelah menikah Bapak Suryanto,S.Pd. mencoba usaha beternak ayam ras
sekitar 1000 ekor. Namun usaha ini juga harus berhenti. Kedua usaha ini
dilakukan saat beliau masih menjadi seorang mahasiswa FKIP Bahasa
Indonesia Universitas Muhammadiyah Metro.
Setelah menikah Beliau membuka usaha kembali yaitu pada 2009 melakukan
usaha ternak broiler secara organik. Akan tetapi usaha ini hanya bertahan dua
tahun karena menurut beliau usaha ini mendapatkan keuntungan dalam waktu
yang lama. Saat usaha broiler, beliau memiliki pengalaman yang kurang baik
yaitu tiga hari sebelum panen ternaknya mati karena Avian Influenza (AI).
Setelah itu, beliau memutuskan untuk kembali beternak puyuh dengan
populasi awal hanya 100 ekor saja. Menurut beliau, beternak puyuh dapat
memperoleh hasil keuntungan yang lebih cepat. Keuntungan dapat diperoleh
setiap hari baik dari telur ataupun kotorannya.
Saat kunjungan dilakukan, populasi puyuh yang ada yaitu sekitar 4000 ekor.
Puyuh yang diafkir dijual dengan harga Rp3500,00 per ekor. Puyuh afkir ini
dipasarkan ke Pekalongan, Batang Hari, dan Punggur. Selain beternak puyuh

sebagai petelur, beliau juga melakukan penetasan secara mandiri. Pemasaran


telur tetas dipasarkan ke wilayah Ganjar Agung dan Metro.

B. Lokasi
Peternakan puyuh pak suryanto berada di Jl. Wolter Monginsidi, RT 38 RW
12, Kelurahan Yosomulyo, Kecamatan Metro Pusat, Provinsi Lampung.
C. Kegiatan Usaha dan Pemasaran
Kegiatan usaha yang dikembangkan oleh Bapak Suryanto adalah peternakan
puyuh. Tujuan produksi dari beternak puyuh ini adalah untuk produksi telur.
Alasan Bapak Suryanto memilih berternak puyuh sebagai usaha utamanya
adalah karena modal yang dibutuhkan relatif lebih murah dibandingkan
dengan beternak unggas lainnya. Selain itu, pemeliharaanya pun mudah dan
tidak menghabiskan banyak waktu. Lagipula usaha berternak puyuh cocok
untuk peternakan kecil karena dapat memperoleh penghasilan setiap harinya.
Puyuh yang diternakan oleh Bapak Suryanto sekitar 4000 ekor dengan
produksi telur setiap hari yaitu kisaran 17 kg/ hari atau 500 butir/hari. Hasil
produksi telur tersebut dijual dengan harga Rp 23.000/ kg. Pemasaran telur
tetas dipasarkan ke wilayah Ganjar Agung dan Metro. Sedangkan puyuh
afkir (tidak dapat berproduksi lagi) dipasarkan di daerah Pekalongan, Batang
Hari, dan Punggur Seputih Banyak melalui penyalur yang datang langsung ke
peternak- peternak puyuh yang ada di daerah ini. Harga tiap 1 ekor puyuh
afkir adalah Rp 3.500/ekor.

IV. HASIL PENGAMATAN DAN PEMBAHASAN

A.Hasil Pengamatan

Jenis Puyuh

: Cortunix Cortunix Japonica

Asal Bibit
sekitar

: Batang Hari, Natar, Tanjung Karang, dan daerah

Jumlah Puyuh

: 4000 ekor

Jumlah Produksi Telur

: 500 Butir/Hari

Harga Telur

: Rp23.000/kg

Harga Puyuh Afkir

: Rp3.500/ekor

Sex Ratio

:1:4

Suhu mesin tetas

: 38-39 C

Jumlah mesin tetas

: 8 buah

Bentuk Kandang

: Fase Starter Kandang litter


Fase Grower dan Layer kandang Baterai

Jenis Ransum

: Fase Starter berbentuk Mash


Fase Grower dan layer berbentuk crumble

Jumlah Pemberian Ransum

: Fase Starter 10 gr/ekor/hari


Fase Grower dan layer 20-22 gr/ekor/hari

Pencegahan Penyakit

: Vaksinasi, sanitasi, dan obat-obatan.

B.Pembahasan

Peternakan puyuh Bapak Suryanto memiliki ternak puyuh sebanyak 4000 ekor
dengan produksi telur per hari sebanyak 500 butir. Untuk menghasilkan telur
sebanyak itu, maka di peternakan Bapak Suryanto memiliki manajemen penetasan
yang baik. Manajemen penetasan mulai dari persiapan tempat, sanitasi , dan
persiapan mesin tetas.
Kandang puyuh milik bapak Suryanto ditempatkan di sebuah ruangan yang
berdinding geribik dan memiliki atap genting dan tertutup sehingga tidak terkena
sinar matahari secara langsung. Hal ini sesuai dengan pendapat dari anonim
(2012), yang menyatakan bahwa dalam usaha penatasan telur puyuh hal
perkandangan yang harus diperhatikan meliputi beberapa hal antara lain,
persiapan tempat, tempat untuk penetasan diupayakan berada dalam ruangan yang
tidak terkena panas matahari secara langsung dan tidak terkena angin yang dapat
menyebabkan perubahan suhu secara mencolok. Selain itu diupayakan lingkungan
tempat penetasan memiliki sanitasi yang bagus dan tidak mengandung bibit-bibit
penyakit. Sanitasi yang buruk akan mempengaruhi prosentase penetasan.
Persiapan Mesin Penetas, Pilihlah mesin penetas telur yang baik dan sesuai
dengan kebutuhan. Mesin tetas yang baik adalah yang memiliki prosentase
penetasan yang tinggi, walaupun prosentase penetasan yang tinggi tidak hanya
dipengaruhi oleh mesin penetas saja, tetapi juga oleh bibit yang baik,
pemeliharaan dan lain-lain. Mesin penetas telur juga harus disesuaikan dengan
kebutuhan, jika kebutuhan penetasan telur hanya 100 butir per periode, tidak
efektif kalau kita gunakan mesin penetas berkapasitas 500 butir. Memeriksa
dengan seksama kelengkapan mesin tetas dan pastikan dapat beroperasi dengan
baik dengan suhu dan kelembaban yang tepat sebelum telur dimasukkan. Suhu
ideal ruang mesin tetas pada kisaran 38-40 derajat Celcius. Selain itu untuk
persiapan Telur sebaiknya pilih telur dari kondisi yang memenuhi syarat dari sex

ratio, berat telur dan kondisi telur. Sex ratio di peternakan bapak Suryanto yaitu
memakai 1:4. Hal ini sesuai dengan pendapat dari Rasyaf (1994) yang
menyatakan bahwa fertilitas yang tinggi akan dicapai jika dalam satu kandang
terdapat jantan dan betina dengan perbandingan 1:3 atau 1:4. Listiyowati dan
Roospitasari (1995) menambahkan bila terlalu banyak pejantan dalam satu
kandang, maka pejantan tersebut dikhawatirkan bisa merusak betina karena terlalu
sering dikawini.

Pemilihan telur tetas yang akan ditetaskan penting dilakukan karena tidak semua
telur-telur yang dihasilkan oleh puyuh pembibit dapat menetas dengan sempurna.
Ada beberapa syarat yang diperhatikan pada waktu memilih telur tetas : seperti
berat telur, bentuk telur, ruang udara dalam telur, keadaan tempat penyiMpanan
telur tetas dan sifat dari induknya. Selain itu

beberapa hal yang harus

diperhatikan dalam pemilihan telur tetas yaitu : bentuk telur, keadaan kulit telur,
kebersihan telur, ruang udara dalam telur dan umur telur. Faktor-faktor fisik yanng
menpengaruhi daya telur tetas adalah berat telur, bentuk telur, kualitas kulit telur,
warna kulit telur, kelembaban, temperatur dan ventelasi mesin tetas (Djanah,
1985)

Adapun proses penetasan di peternakan ini mulai dari hetching egg (HE) sampai
dengan pull chick di peternakan bapak Suryanto yaitu sebagai berikut:

Mengumpulkan telur setiap hari yang ada di kandang. Pada peternakan ini

mengumpulkan telur selama 6 hari lalu dimasukkan ke mesin tetas.


Memasukkan telur yang telah dikumpulkan ke dalam mesin penetasan.
Turning (perputaran telur) dilakukan 4 jam sekali setiap hari.
Suhu mesin tetas dijaga dengan suhu 38-39 C selama 14 hari
Setelah umur 14 hari suhu mesin diturunkan menjadi 36-37 C sampai

dengan hari ke 19 yaitu hari dimana telur menetas semua.


Setelah menetas, tunggu 1 hari 1 malam baru boleh dijual dengan harga

Rp400,00 per butir.


Pada DOQ berumur 1 minggu divaksin dengan vaksin ND dan IB dengen
cara tetes.

Di peternakan bapak Suryanto, telur diambil sekali dalam sehari. Setelah telur
terkumpul, maka telur disimpan tidak lebih dari 3 hari di rumahnya karena para
pembeli selalu banyak berdatangan untuk membeli telur puyuhnya. Untuk telur
puyuh yang akan ditetaskan, telur-telur puyuh dikumpulkan selama 6 hari hingga
jumlahnya mencapai target. Selanjutnya, setelah telur terkumpul sesuai jumlah
yang diinginkan, lalu secara bersama-sama telur-telur tersebut dimasukkan ke
dalam mesin tetas. Hal ini sesuai dengan pendapat dari Whendrato dan Madyana
(1992) yang menyatakan bahwa untuk mendapatkan daya tatas yang tinggi
diperlukan telur-telur yang baru. Penyimpanan telur tetas kurang dari tujuh hari,
memiliki daya tetas yang tinggi, lebih dari hari tersebut daya tetasnya menurun.
Hal ini disebabkan telur terlalu porius sehingga akan menpengaruhi penyerapan
panas selama penetasan. Selain itu temperatur dan kelembaban selama penetasan
juga dapat menpegaruhi daya tetas. Suhu dan kelembaban mesin tetas yang
digunakan oleh bapak Suryanto yaitu antara 37-400C dengan kelembaban 60-70%.
Hal ini sesuai dengan pendapat dari Rasyraf (1995) yang menyatakan bahwa suhu
yang ideal penetasan adalah antara 38,30C - 40,50C. Sedangkan kelembaban di
dalam mesin tetas antara 60%-70%.
Dengan proses pengaturan yang sedemikian rupa telah diterapkan, presentase telur
puyuh yang dapat menetas dari total yang ditetaskan di peternakan bapak
Suryanto yaitu berkisar antara 75-85%. Hal ini sesuai dengan pendapat Mayun
dan Nugroho (1981) yang menyatakan bahwa hasil tetasan yang normal dari
sebuah mesin tetas adalah 75% sampai 85%. Bila hasilnya kurang dari hasil
tersebut, kemungkinan disebabkan selama priode penetasan terjadi perubahan
temperature yang besar.

V. KESIMPULAN

Adapun kesimpulan yang diperoleh adalah sebagai berikut:


1. Adapun proses penetasan di peternakan ini mulai dari hetching egg (HE)

sampai dengan pull chick yaitu sebagai berikut:


Mengumpulkan telur setiap hari yang ada di kandang. Pada peternakan ini

mengumpulkan telur selama 6 hari lalu dimasukkan ke mesin tetas.


Memasukkan telur yang telah dikumpulkan ke dalam mesin penetasan.
Turning (perputaran telur) dilakukan 4 jam sekali setiap hari.
Suhu mesin tetas dijaga dengan suhu 38-39 C selama 14 hari
Setelah umur 14 hari suhu mesin diturunkan menjadi 36-37 C sampai

dengan hari ke 19 yaitu hari dimana telur menetas semua.


Setelah menetas, tunggu 1 hari 1 malam baru boleh dijual dengan harga

Rp400,00 per butir.


Pada DOQ berumur 1 minggu divaksin dengan vaksin ND dan IB dengen
cara tetes.

2. Perbedaan penggunaan mesin tetas sederhana dengan mesin tetas modern


adalah pada ruang-ruang pada mesin tetas tersebut. Jika pada mesin tetas
sederhana, hanya ada satu ruangan dan antara ruang hatcher dan setter
menjadi satu. Sedangkan mesin tetas modern, terdapat banyak sekali
ruangan-ruangan yang terpisah.

DAFTAR PUSTAKA

Anonimous . 2009. Induk Menentukan Daya tetas. http://Aspangabe.com/persiapan


Anonimous. 2005. Tips Penetasan Dan Setelah Penetasan. http://www.gloryfarm.com/ptetas_mesin/tips_tetas.htm.
Brata, B. 1989. Pengaruh frekwensi selama penyimpanan telur tetas puyuh
(Coturnix-coturnix Japonica) terhadap daya tetas. Laporan penelitian.
Universita Bengkulu.
Farry. 2001. Membuat dan Mengelola Mesin Tetas. Penebar Swadaya. Jakarta.
Imanah dan maryam. 1992. Mesin Tetas dan System Pemeliharaan Ayam. C.V.
Bahagia Pekalongan.
Kaharudin, D. 1989. Pengaruh bobot telur tetas terhadap boot tetas, daya tetas,
pertambahan berat badan dan angka kematian sampai umur 4 minggu
pada puyuh telur (Coturnik-coturnik japonica). Laporan penelitian.
Universitas Bengkulu.
Listiowati, E. dan Roospitasari, K. 2003. Tata laksana budidaya puyuh secara
komersil. Penebar swadaya. Jakarta.
Rasyraf, M. 1984. Pengelolaan Penetasan. Kanisius. Yogyakarta.
Rasyraf, M. 1987. Memelihara Burung Puyuh. Kanisius. Yogyakarta.
Djanah, 1985. Beternak Ayam dan Itik. Yasaguna. Jakarta.
Setyowatio, R. N. Dan Budiarti, A. 1994. Ayam Pelung. Penebar Swadaya,
Jakarta.
Whendrato, I. Dan I. M. Madyana. 1992. Budidaya Ayam Buras. Eka Offset,
Semarang.
http://teknologitepatguna.com/analisis-usaha-penetasan-ayam-peluang-usahapenetas-telur.html diakses pada 30 Maret 2015 pukul 21:00

LAMPIRAN

Wawancara dengan pak Suryanto

mesin tetas yang digunakan

Telur sedang ditetaskan

Telur di dalam mesin tetas

DOQ Berumur 6 hari

Telur di kandang

Foto bersama bapak Suryanto