Anda di halaman 1dari 55

LAPORAN PRAKTIKUM FITOKIMA

PENAPISAN FITOKIMIA DAUN PETAI (Parkia speciosa)

DISUSUN OLEH :

KELOMPOK 1-D

ANGGI SETIADI 3311111133

INTAN FELA P 3311111126

AQMAR SAJIDAH L 3311111129

HANNI PUSPITA 3311111134

RATNA SRIWAHYUNI 3311111139

UFIZ WIDIYANTOPO 3311111157

AI NURAZMI 3311111173

JURUSAN FARMASI
FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS JENDERAL ACHMAD YANI
(UNAJANI)
CIMAHI
2014
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kami panjatkan ke hadirat Allah SWT karena atas rahmat
dan karunia-Nya penyusunan Laporan Akhir Hasil Praktikum Fitokimia yaitu
PENAPISAN FITOKIMIA DAUN PETAI (Parkia speciosa Hassk) ini dapat
diselesaikan tepat pada waktunya.
Tujuan pembuatan laporan ini adalah untuk melaporkan hasil percobaan
praktikum kami. Penulis mengucapkan puji syukur kepada Allah SWT, serta
ucapan terima kasih kepada Yth :

1. Bapak Ibu Dosen dan Asistan Dosen Praktikum Fitokimia, sebagai


pembimbing dan telah memberi arahan kepada kami.
2. Seluruh rekan-rekan Jurusan Farmasi, khususnya angkatan 2011 yang
telah memberikan dukungan, semangat dan doa dalam proses penyusunan
serta penyelesaian laporan ini.
3. Semua pihak yang turut serta membantu dalam proses pembuatan laporan
ini.
Semoga bantuan dan dukungan yang diberikan mendapat pahala dan
balasan dari Allah SWT. Amin.

Penulis menyadari bahwa laporan ini masih banyak kekurangan dan


kelemahan, oleh karena itu saran dan kritik yang sifatnya membangun sangat
kami harapkan untuk perbaikan selanjutnya.

Akhirnya kami berharap semoga laporan ini dapat dijadikan bahan


pertimbangan dalam melakukan penelitian lebih lanjut dalam rangka
pengembangan ilmu dan wawasan.

Cimahi, 13 Mei 2014

Penulis
DAFTAR ISI

Halaman

KATA PENGANTAR . I
DAFTAR ISI . ii
BAB I PENDAHULUAN .. 1
1.1 Tujuan Percobaan ...... 1
1.2 Prinsip Percobaan ...... 1
1.2.1 Penapisan Fitokimia . 1
1.2.2 Ekstraksi Fitokimia 1
1.2.3 Frkaksinasi Fitokimia 2
1.2.4 Kromatografi Lapis Tipis (KLT) 2
1.2.5 Kromatografi Lapis Tipis Prevaratif (KLTP) 2
BAB II TINJAUAN PUSTAKA .. 3
2.1 Monografi Simplisia .. 4
2.2 Penapisan Fitokimia 5
2.3 Ekstraksi Fitokimia 8
2.4 Fraksinasi Fitokimia 16
Kromatografi Lapis Tipis (KLT) dan Kromatografi Lapis
2.5 18
Tipis Preparatif (KLTP)
2.5.1 Kromatografi Lapis Tipis (KLT) 18
2.5.2 Kromatografi Lapis Tipis (KLTP) 21
BAB III METODE PERCOBAAN 23
3.1 Penapisan Fitokimia 23
3.1.1 Monoterpen dan Seskuiterpen 23
3.2.2 Fenolat 23
3.2.3 Flavonoid 23
3.2 Ekstraksi Fitokimia 23
3.3 Fraksinasi Fitokimia 24
3.4 Kromatografi Lapis Tipis (KLT) 25
3.5 Kromatografi Lapis Tipis Preparatif (KLTP) 26
3.6 Identifikasi 27
BAB IV HASIL PERCOBAAN 30
4.1 Hasil Skrinning Fitokimia Daun Petai (Parkia speciosa). 30
4.2 Hasil Ekstraksi Fitokimia .. 30
4.3 Hasil Fraksinasi Fitokimia ... 31
4.4 Hasil KLT Terhadap Fraksi fraksi yang didapat .. 31
4.5 Hasil KLTP Terhadap Ekstrak Fraksi N Heksan .. 33
4.6 Hasil KLT 2 Dimensi Uji 1 Spot (Kemurnian) 33
4.7 Hasil Uji Spektrofotometri UV 34
4.8 Hasil Uji Spektrofotometri IR . 34
BAB V PEMBAHASAN .. 35
BAB VI KESIMPULAN 39
DAFTAR PUSTAKA 41
LAMPIRAN LAMPIRAN 42
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Tujuan Percobaan


1. Menentukan metode ekstraksi simplisia daun petai (Parkia
speciosa)
2. Menentuan metode pemisahan atau isolasi komponen kimia dari
simplisia daun petai (Parkia speciosa)
3. Menentukan metode identifikasi komponen kimia dari simplisia
daun petai (Parkia speciosa)
4. Menentukan suatu golongan senyawa aktif pada tanaman,
berdasarkan hasil uji identifikasi.
1.2 Prinsip Percobaan
1.2.1 Penapisan Fitokimia
Sejumlah tertentu simplisia direaksikan dengan pereaksi-pereaksi
tertentu, sehingga dapat diketahui kandungan senyawa pada simplisia
daun belimbing wuluh.

1.2.2 Ekstraksi Fitokimia


Maserasi pelarut organik akan menembus dinding sel dan masuk ke
dalam rongga sel yang mengandung zat aktif. Zat aktif akan larut
dalam sel pelarut organit tersebut sehingga terjadi perbedaan
konsentrasi antara larutan zat aktif di dalam sel dan pelarut organik di
luar sel, maka larutan terpekat akan berdifusi keluar sel dan proses ini
berulang terus sampai terjadi keseimbangan antara konsentrasi cairan
zat aktif di dalam sel dan di luar sel.

1.2.3 Fraksinasi Fitokimia


Memisahkan satu atau lebih senyawa dengan menggunkan satu
pelarut dimana senyawa tersebut akan terdistribusi menurut tingkat
kepolarannya yang menggunakan eluen dan yang tidak larut akan
mengendap.

1.2.4 Kromatografi Lapis Tipis (KLT)


Berdasarkan perbedaan kecepatan perambatan komponen dalam
medium tertentu. Pada kromatografi, komponen komponennya akan
dipisahkan antara dua buah fase yaitu fase diam dan fase gerak

1.2.5 Kromatografi Lapis Tipis Preparatif (KLTP)


Adsorpsi dan partisi berdasarkan pada jumlah dan cara penotolan
cuplikan yang berkesinambungan yang memberikan hasil elusi berupa
pita.
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

Berbagai tanaman yang tumbuh dengan adanya air hujan yang mengalir ke
tanah yang gersang tersebut menyebabkan tanaman tersebut menjadi tanaman
yang baik yaitu tanaman yang memiliki nilai manfaat yang sangat besar. Mulai
dari akar, batang, daun dan buahnya bisa dimanfaatkan secara maksimal
(Shihab,2002). Salah satu contoh tanaman yang baik adalah tanaman belimbing
wuluh.Mulai dari akar, batang, daun dan buahnya bisa dimanfaatkan sebagai obat
dan pengawet alami.
Daun merupakan bagian tumbuhan yang paling penting, struktur daun di
bedakan atas morfologi ( struktur luar) daun dan anatomi (struktur dalam) daun.
Morfologi (struktur luar) daun umumnya berbentuk pipih melebar dan berwarna
hijau.Warna hijau tersebut di sebabkan oleh kloroplas di dalam sel-sel daun di
dalam kloroplas terdapat klorofil. Daun memiliki fungsi untuk pengambilan zat
makanan ( resorbsi), sebagai pengolah zat makanan ( asimilasi), sebagai
penguapan air (transpirasi), dan sebagai pernafasan ( respirasi ). Secara morfologi,
pada umumnya daun memiliki bagian-bagian helaian daun(lamina), pelepah daun
(vagina), dan tangkai daun(petiolus).pada tangkai daun terdapat bagian yang
menempel pada batang disebut pangkal tangkai daun.
Ada jenis tumbuhan tertentu yang daunnya tidak bertangkai daun,misalnya
rumput.pangkal daun berbentuk pipih dan lebar serta membungkus batangnya,
pangkal daun tersebut disebut pelepah daun. Misalnya pelepah daun yang terdapat
pada daun pisang dan daun talas. Daun yang memiliki tiga bagian daun yaitu
helaian daun, tangkai daun, dan pelepah daun disebut daun sempurna ( daun
lengkap ), misalnya daun pisang dan daun talas. Daun yang tidak memiliki satu
atau lebih bagian dari daun disebut daun tidak sempurna (daun tidak lengkap),
misalnya daun mangga dan belimbing wuluh.Daun yang hanya memiliki satu
helai daun pada tangkainya disebut daun tunggal contohnya daun
mangga.Sedangkan daun yang memiliki lebih dari satu helai dalam tangkainya
disebut daun majemuk contohnya daun belimbing wuluh.
Daun memiliki bentuk-bentuk antara lain :
1. Bagian yang terlebar kira-kira di tengah-tengah helaian daun ,
misalnya bulat (orbicularis)
2. Bagian yang terlebar terletak di bawah tengah-tengah helaian daun
a. Pangkal daun tidak bertoreh, misalnya bangun delta
(deltoideus)
b. Pangkal daun bertoreh, misalnya bangun anak panah
(sagittatus)
3. Bagian yang terlebar terletak di atas tengah-tengah helaian daun,
misalnya bangun spatel (spathulatus)
Dari pangkal sampai ujung sama lebarnya, misalnya bangun jarum (acerotus)

2.1 Monografi Simplisia


Klasifikasi ilmiah tanaman petai adalah (Dasuki, 1991) :
Kingdom : Plantae (tumbuhan)
Subkingdom : Tracheobionta (berpembuluh)
Superdivisio : Spermatophyta (menghasilkan biji)
Divisio : Magnoliophyta (berbunga)
Kelas : Magnoliopsida (berkeping dua / dikotil)
Sub-kelas : Rosidae
Ordo : Fabales
Familia : Fabaceae
Genus : Parkia
Spesies : Parkia speciosa Hassk
Tanaman petai berupa pohon dengan ketinggian antara 5-25 m dan
membentuk percabangan yang banyak. Daun menyirip ganda. Karangan
bunga berbentuk bongkol yang terkulai dengan tangkai yang panjang ,
bunga yang masih muda dan belum mekar bewarna hijau. Setelah dewasa
dan terlihat benang sari dan putiknya , bunga petai berubah menjadi
warna kuning. Ukurannya pun menjadi lebih besar , buah berbentuk
polong panjang dan pipih. Biji tesusun rapi dalam polong yang
menggantung di pohon dan pada setiap polong terdapat 10-18 biji . Setiap
biji diselaputi kulit tipis bewarna putih pada saat biji masih muda dan
selaput tersebut akan menjadi bewarna kuning pada saat biji sudah tua.
Biji petai yang masih muda agak lunak dan setelah tua menjadi lebih
keras (Endang, 1995).

Manfaat Petai
Tanaman ini mengandung banyak mineral yakni : kalsium, fosfor,
zat besi, vitamin dan mineral lainnya. Kandungan mineral dalam 100
gram buah petai adalah 95 mg kalsium; 115 mg fosfor; 1,2 mg zat besi
(Sediaoetama, 2008)
Menurut Dr. Aminudin AHK dari Department of Physiologi
Medical Faculty of Universitas Kebangsaan Malaysia, Kuala Lumpur
bahwa petai dapat digunakan sebagai obat anemia, gigitan nyamuk,
stress, sindroma pramenstruasi, depresi, sakit perut, liver, diabetes,
cacingan, dan beberapa gangguan kesehatan lainnya. Menurut riset dalam
The New England Journal of Medicine, makan petai sebagai bagian
dari makanan sehari hari akan berpengaruh sangat baik bagi pencernaan
karena teksturnya yang lembut dan halus dan mampu menetralkan asam
lambung dengan melapisi permukaan dalam lambung. Kombinasi
sukrosa, fruktosa, glukosa dan serat mampu memberikan dorongan tenaga
yang instant yang cukup lama dan cukup besar efeknya, sedangkan
kandungan zat besi yang dapat membantu menstimulasi produksi sel
darah merah dan membantu apabila terjadi anemia (Cempaka, Edisi
XVII,2006).
2.2 Penapisan Fitokimia
Uji fitokimia terhadap kandungan senyawa kimia metabolit
sekunder merupakan langkah awal yang penting dalam penelitian
mengenai tumbuhan obat atau dalam hal pencarian senyawa aktif baru
yang berasal dari bahan alam yang dapat menjadi precursor bagi sintesis
obat obat baru atau menjadi prototipe senyawa obat berkeaktifan
tertentu.Oleh karenanya, metode uji fitokimia harus merupakan uji yang
sederhana tetapi terandalkan.Metode uji fitokimia yang banyak digunakan
adalah metode reaksi warna dan pengendapan yang dapat dilakukan di
lapangan ataupun labolatorium.
Skrining fitokimia merupakan suatu analisa kualitatif kandungan
kimia tumbuhan atau bagian tumbuhan. Skring dapat dilakukan dengan
metode KLT (kromatografi Lapis Tipis) karena KLT mempunyai beberapa
kelebihan dibandingkromatografi kertas yaitu dapat mengahasilkan
pemisahan lebihsempurna,kepekaan yang lebih tinggi,dilaksanakan hanya
beberapa menit saja, dapat dipakia preaksi kolosif, dapa dipakai senyawa
hidrofob. Pada penggunakan KLT menggunakan fase gerak dan fase diam
dimana fase diam menggunakan silika gel. Fase diam (lapisan penyerap)
yang khusus digunakanuntuk KLT yang dihasilkan oleh berbagai
perusahaan. Silika gel ini menghasilkan perbedaan dalam efek pemisahan
yang tergantung pada cara pembuatannya. Selain itu fase gerak (pelarut
pengembang) ialah medium angkut yang terdiri atas satu atau beberapa
pelarut. Fase gerak ini menggunakan eluena dan etil asetat.

A. ALKALOID

Kelompok senyawa yang mengandung nitrogen dalam bentuk


gugus fungsi amin.Pada umumnya, alkaloid mencakup senyawa
bersifat basah yang mengandung satu atau lebih atom nitrogen,
biasanya dalam gabungan sebagai bagian dari sistem siklik.Alkaloid
biasanya beracun, jadi banyak digunakan dalam bidang pengobatan.
Alkaloid biasanya tanwarna, sering kali bersifat optis aktif,
kebanyakan berbentuk kristal tapi hanya sedikit yang berupa cairan
pada suhu kamar. Alkaloid yang paling umum adalah asam amino,
alkaloid merupakan suatu golongan heterogen.

Pada umumnya, alkaloid tidak sering terdapat dalam


gymospermae, paku-pakuan, lumut dan tumbuhan rendah.Sebagai
basa, alkaloid biasanya diekstraksi dalam tumbuhindengan pelarut
alkohol yang brsifat asam lemah kemudian dipekatkan dengan amonia
pekat. Suatu sampel yang mengandung alkaloid setelah direaksikan
akan berwarna merah.

B. POLIFENOLAT

Polifenol adalah kelompok zat kimia yang ditemukan pada


tumbuhan.zat ini memiliki tanda khas yakni memiliki banyak gugus
fenol dalam molekulnya.Polifenol berperan dalam memberi warna
pada suatu tumbuhan seperti warna daun saat musim gugur.Pada
beberapa penelitiandisebutkan bahwa kelompok polifenol memiliki
peran sebagai antioksidan yang baik untuk kesehatan.Polifenol dapat
ditemukan pada kacang-kacangan, the hijau, teh putih, anggur merah,
anggur putih, minyak zaitun dan turunannya, coklat hitam dan dilema.

C. TANIN

Tanin terdapat luas dalam tumbuhan pembuluh, dalam


angiospermae terdapat khusus dalam tumbuhan kayu.Dalam industri,
tanin adalah senyawa yang berasal dari tumbuhan, yang mampu
mengubah kulit hewan yang mentah menjadi kulit siap pakai karena
kemampuannya menyambung silang protein.

Di dalam tumbuhan letak tanin terpisah dari protein dan enzim


sitoplasma.Secara kimia terdapat dua jenis utama tanin yang tersebar
tidak merata dalam dunia tumbuhan.Tanin terkondensasi hapir terdapat
semesta di dalam paku-pakuan dan gimnospermae, sertatersebar luas
angiospermae, terutama pada jenis tumbuhanberkayu.Sebaliknya,
tannin yang terhidrolisiskan penyebarannya terbatas pada tumbuhan
berkeping dua.

D. FLAVONOID
Flavonoid adalah senyawa metabolit sekunder yang
memberikan berbagai warna pada tumbuhan.flavonoid mempuyai
struktur yang sangat bervariasi, namun pada umumnya flavonoid
mempunyai struktur dasar. Pengenalan flavonoid didasarkan pada
preaksi reduksi gugusan karbonia pada lingkar -lakton menjadi
gugusan alcohol memebentuk senyawa hidroksi yang berwarna warna
tergantung pada gugusan fungsional yang terikat pada lingkar A atau B
.warna yahng terjadi dapat ditarik oleh amil alcohol.

E. MONO DAN SESKUITERPENOID

Monoterpenoid dan seskunterpenoid adalah senyawa senyawa


C10 C15,yang tersusun dari unit isopren C5H8 sebagai penyusunnya
. Senyawa Monoterpenoid dan Seskuiterpenoid ini merupakan
komponen komponen penyusun minyak atsiri .Reaksi pengenalan
diadasarkan pada kemampuannya membentuk warna warna dengan
pereaksi anisaldehid-asam sulfat atau pereaksi vanillin asam sulfat.

F. STEROID DAN TRITERPENOID

Senyawa kelompok steroid dan triterpenoid adalah senyawa


senyawa kelompok metabolit sekunder yang mempunyai struktur dasar
yang hamper sama.Pengenalan senyawa triterpenoiddan steroid
didasarkan pada kemampuannya membentuk warna dengan pereaksi
Liebermann Burchard. Pereaksi Liebermann Burchard dibuat
dengan cara mencampurkan 20 bagian asam asetat anhidrat dengan 1
bagian asam sulfat pekat pereaksi ini harus digunakan dalam media
bebas air.

G. KUINON
Senyawa kuinon umumnya merupakan turunan p. benzokuinon.
Pengenalan senyawa ini didasarkan pada kemampuannya membentuk
garam berwarna antara hidrokuinon dengan larutan alkali kuat ( NaOH
atau KOH ).

2.3 Ekstraksi Fitokimia

Ekstraksi merupakan cara untuk memperoleh sediaan yang


mengandung senyawa aktif dari suatu bahan alam dengan menggunakan
pelarut yang sesuai.Tujuan dari Ekstraksi adalah agar ekstrak hanya
mengandung senyawa aktif yang terkandung didalam simplisia/ bahan
alam sehingga perlu dipilih cairan penyari yang paling optimal mampu
menarik senyawa aktif. Bahan yang diekstraksi bisa berupa bahan segar
maupun bahan kering. Untuk bahan kering harus dikecilkan dahulu ukuran
partikelnya (diserbuk).

Ekstraksi adalah suatu proses pemisahan dari bahan padat maupun


cair dengan bantuan pelarut. Pelarut yang digunakan harus dapat
mengekstrak substansi yang diinginkan tanpa melarutkan material lainnya.
Ekstraksi padat cair atau leaching adalah transfer difusi komponen terlarut
dari padatan inert ke dalam pelarutnya. Proses ini merupakan proses yang
bersifat fisik karena komponen terlarut kemudian dikembalikan lagi ke
keadaan semula tanpa mengalami perubahan kimiawi. Ekstraksi dari bahan
padat dapat dilakukan jika bahan yang diinginkan dapat larut dalam solven
pengekstraksi.Ekstraksi berkelanjutan diperlukan apabila padatan hanya
sedikit larut dalam pelarut.Namun sering juga digunakan pada padatan
yang larut karena efektivitasnya. [Lucas, Howard J, David Pressman.
Principles and Practice In Organic Chemistry]

Faktor-faktor yang mempengaruhi laju ekstraksi adalah:

Tipe persiapan sampel

Waktu ekstraksi
Kuantitas pelarut

Suhu pelarut

Tipe pelarut

Macam Metoda Ekstraksi :

A. Ekstraksi Cara Dingin

Metoda ini artinya tidak ada proses pemanasan selama proses


ekstraksi berlangsung, tujuannya untuk menghindari rusaknya senyawa
yang dimaksud rusak karena pemanasanan. Jenis ekstraksi dingin adalah :

a. Maserasi
Merupakan proses ekstraksi menggunakan
pelarut diam atau dengan beberapa kali
pengocokan pada suhu ruangan. Pada
dasarnya metoda ini dengan cara merendam
sample dengan sekali-sekali dilakukan
pengocokan. Umumnya perendaman
dilakukan 24 jam dan selanjutnya pelarut
diganti dengan pelarut baru. Ada juga
maserasi kinetik yang merupakan metode
Alat
Maserasi istilah aslinya adalah macerare (bahasa Latin, artinya
merendam) : adalah sediaan cair yang dibuat dengan cara mengekstraksi
bahan nabati yaitu direndam menggunakan pelarut bukan air (pelarut
nonpolar) atau setengah air, misalnya etanol encer, selama periode waktu
tertentu sesuai dengan aturan dalam buku resmi kefarmasian (Farmakope
Indonesia, 1995).

Apa yang disebut bahan nabati, dalam dunia farmasi lebih


dikenal dengan istilah simplisia nabati. Langkah kerjanya adalah
merendam simplisia dalam suatu wadah menggunakan pelarut penyari
tertentuk selama beberapa hari sambil sesekali diaduk, lalu disaring dan
diambil beningannya. Selama ini dikenal ada beberapa cara untuk
mengekstraksi zat aktif dari suatu tanaman ataupun hewan menggunakan
pelarut yang cocok. Pelarut-pelarut tersebut ada yang bersifat bisa
campur air (contohnya air sendiri, disebut pelarut polar) ada juga pelarut
yang bersifat tidak campur air (contohnya aseton, etil asetat, disebut
pelarut non polar atau pelarut organik).

Metode Maserasi umumnya menggunakan pelarut non air atau


pelarut non-polar. Teorinya, ketika simplisia yang akan di maserasi
direndam dalam pelarut yang dipilih, maka ketika direndam, cairan
penyari akan menembus dinding sel dan masuk ke dalam sel yang penuh
dengan zat aktif dan karena ada pertemuan antara zat aktif dan penyari itu
terjadi proses pelarutan (zat aktifnya larut dalam penyari) sehingga penyari
yang masuk ke dalam sel tersebut akhirnya akan mengandung zat aktif,
katakan 100%, sementara penyari yang berada di luar sel belum terisi zat
aktif (nol%) akibat adanya perbedaan konsentrasi zat aktif di dalam dan di
luar sel ini akan muncul gaya difusi, larutan yang terpekat akan didesak
menuju keluar berusaha mencapai keseimbangan konsentrasi antara zat
aktif di dalam dan di luar sel. Proses keseimbangan ini akan berhenti,
setelah terjadi keseimbangan konsentrasi (istilahnya jenuh). Dalam
kondisi ini, proses ekstraksi dinyatakan selesai, maka zat aktif di dalam
dan di luar sel akan memiliki konsentrasi yang sama, yaitu masing-masing
50%.

Keuntungan dari metode ini :

1. Unit alat yang dipakai sederhana, hanya dibutuhkan bejana perendam


2. Biaya operasionalnya relatif rendah
3. Prosesnya relatif hemat penyari
4. Tanpa pemanasan

Kelemahan dari metode ini :

1. Proses penyariannya tidak sempurna, karena zat aktif hanya mampu


terekstraksi sebesar 50% saja
2. Prosesnya lama, butuh waktu beberapa hari.

Cairan penyari yang digunakan dapat berupa air, etanol, air-etanol,


atau pelarut lain. Bila cairan penyari digunakan air maka untuk mencegah
timbulnya kapang, dapat ditambahkan bahan pengawet, yang diberikan
pada awal penyarian.

Keuntungan cara penyarian dengan maserasi adalah cara


pengerjaan dan peralatan sederhana dan mudah diusahakan.

Kerugian cara maserasi adalah pengerjaanya lama,dan


penyariannya kurang sempurna.

Maserasi dapat dilakukan modifikasi misalnya :

a) Digesti
Digesti adalah cara maserasi dengan menggunakan pemanasan
lemah, yaitu pada suhu 400 500C. Cara maserasi ini hanya dapat
dilakukan untuk simplisia yang zat aktifnya tahan terhadap
pemanasan. Dengan pemanasan diperoleh keuntungan antara lain:

1. Kekentalan pelarut berkurang, yang dapat mengakibatkan


berkurangnya lapisan-lapisan batas.
2. Daya melarutkan cairan penyari akan meningkat, sehingga
pemanasan tersebut mempunyai pengaruh yang sama
dengan pengadukan.

3. Koefisien difusi berbanding lurus dengan suhu absolute dan


berbanding terbalik dengan kekentalan, sehingga kenaikan
suhu akan berpengaruhpada kecepatan difusi. Umumnya
kelarutan zat aktif akan meningkat bila suhu dinaikkan.

4. Jika cairan penyari mudah menguap pada suhu yang


digunakan, maka perlu dilengkapi dengan pendingin balik,
sehingga cairan akan menguap kembali ke dalam bejana.

b) Maserasi dengan Mesin Pengaduk

Penggunaan mesin pengaduk yang berputar terus-menerus, waktu


proses maserasi dapat dipersingkat menjadi 6 sampai 24 jam.

c) Remaserasi
Cairan penyari dibagi menjadi, Seluruh serbuk simplisia di
maserasi dengan cairan penyari pertama, sesudah diendapkan,
tuangkan dan diperas, ampas dimaserasi lagi dengan cairan penyari
yang kedua.

d) Maserasi Melingkar

Maserasi dapat diperbaiki dengan mengusahakan agar cairan


penyari selalu bergerak dan menyebar. Dengan cara ini penyari
selalu mengalir kembali secara berkesinambungan melalui sebuk
simplisia dan melarutkan zat aktifnya.

e) Maserasi Melingkar Bertingkat


Pada maserasi melingkar, penyarian tidak dapat dilaksanakan
secara sempurna, karena pemindahan massa akan berhenti bila
keseimbangan telah terjadi masalah ini dapat diatasi dengan
maserasi melingkar bertingkat (M.M.B), yang akan didapatkan :

1. Serbuk simplisia mengalami proses penyarian beberapa kali,


sesuai dengan bejana penampung. Pada contoh di atas
dilakukan 3 kali, jumlah tersebut dapat diperbanyak sesuai
dengan keperluan.

2. Serbuk simplisia sebelum dikeluarkan dari bejana penyari,


dilakukan penyarian.dengan cairan penyari baru. Dengan ini
diharapkan agar memberikan hasil penyarian yang maksimal

Hasil penyarian sebelum diuapkan digunakan dulu untuk menyari


serbuk simplisia yang baru,hingga memberikan sari dengan kepekatan
yang maksimal. dipenyarian yang dilakukan berulang-ulang akan
mendapatkan hasil yang lebih baik daripada yang dilakukan sekali dengan
jumlah pelarut yang sama.

b. Perkolasi

Perkolasi adalah proses ekstraksi dengan pelarut yang


selalu baru sampai sempurna. Secara umum proses perkolasi ini
dilakukan pada temperatur ruang.

Sedangkan parameter berhentinya


penambahan pelarut adalah perkolat sudah
tidak mengandung senyawa aktif
lagi.Pengamatan secara fisik pada ekstraksi
bahan alam terlihat tetesan perkolat sudah
tidak berwarna.

Caranya :Serbuk bahan dibasahi dengan


cairan penyari dan ditempatkan pada bejana
silinder. Bagian bawah bejana diberi sekat
berpori untuk menahan serbuk.Cairan penyari
dialirkan dari atas kebawah melalui serbuk
tersebut. Cairan penyari akan melarutkan zat Alat Perkolasi
B. Ekstraksi Cara Panas

Metoda ini pastinya melibatkan panas dalam prosesnya. Dengan


adanya panas secara otomatis akan mempercepat proses penyarian
dibandingkan cara dingin. Metodanya adalah:

a. Refluks

Merupakan ekstraksi dengan


pelarut yang dilakukan pada titik
didih pelarut tersebut, selama
waktu tertentu dan sejumlah
pelarut tertentu dengan adanya
pendingin balik (kondensor).
Umumnya dilakukan tiga sampai
lima kali pengulangan proses pada
residu pertama, sehingga termasuk
Alat
proses ekstraksi sempurna, ini Refluks

Prosedurnya: masukkan sampel dalam wadah, pasangkan


kondensor, panaskan. Pelarut akan mengekstraksi dengan panas,
terus akan menguap sebagai senyawa murni dan kemudian
terdinginkan dalam kondensor, turun lagi ke wadah, mengekstraksi
lagi dan begitu terus. Proses umumnya dilakukan selama satu jam.

b. Ekstraksi dengan alat Soxhlet

Merupakan ekstraksi dengan pelarut yang


selalu baru, umumnya dilakukan menggunakan
alat khusus sehingga terjadi ekstraksi konstan
dengan adanya pendingin balik
(kondensor).Disini sampel disimpan dalam alat
Soxhlet dan tidak dicampur langsung dengan
pelarut dalam wadah yang di panaskan, yang
dipanaskan hanyalah pelarutnya, pelarut
terdinginkan dalam kondensor dan pelarut
dingin inilah yang selanjutnya mengekstraksi
Alat Soxhlet

c. Digesti

Merupakan maserasi kinetik (dengan pengadukan kontinyu)


yang dilakukan pada suhu lebih tinggi dari suhu ruangan, secara
umum dilakukan pada suhu 40C 50C.

d. Infusa

Merupakan proses
ekstraksi dengan
merebus sample
(khusunya simplisia)
pada suhu 90C

Alat Panci Infusa

e. Dekok
Dekok adalah ekstraksi dengan pelarut air pada

temperatur 90 C selama 30 menit.Peguapan ekstrak larutan

dilakukan dengan penguap berpusing dengan pengurangan


tekanan yaitu rotary evaporator sehingga diperoleh ekstrak
yang kentaln (Harborne 1987).

2.4 Fraksinasi Fitokimia


Fraksinasi adalah proses pemisahan suatu kuantitas tertentu
dari campuran (padat, cair, terlarut, suspensi atau isotop) dibagi dalam
beberapa jumlah kecil (fraksi) komposisi perubahan menurut
kelandaian. Pembagian atau pemisahan ini didasarkan pada bobot dari
tiap fraksi, fraksi yang lebih berat akan berada paling dasar sedang
fraksi yang lebih ringan akan berada diatas. Fraksinasi bertingkat
biasanya menggunakan pelarut organik seperti eter, aseton, benzena,
etanol, diklorometana, atau campuran pelarut tersebut.Asam lemak,
asam resin, lilin, tanin, dan zat warna adalah bahan yang penting dan
dapat diekstraksi dengan pelarut organik (Adijuwana dan Nur 1989).
Fraksinasi bertingkat umumnya diawali dengan pelarut yang
kurang polar dan dilanjutkan dengan pelarut yang lebih polar.Tingkat
polaritas pelarut dapat ditentukan dari nilai konstanta dielektrik
pelarut. Empat tahapan fraksinasi bertingkat dengan menggunakan
empat macam pelarut yaitu :
1. ekstraksi aseton
2. fraksinasi n-heksan
3. fraksinasi etil eter
4. fraksinasi etil asetat

Ekstraksi merupakan suatu proses penyaringan suatu senyawa


kimia dari suatu bahan alam dengsan menggunakan pelarut tertentu.
Ekstraksi bisa dilakukan dengan berbgai macam metode yang sesuai
dengan sifat dan tujuan ekstraksi. Pada proses ekstraksi ini dapat
digunakan sampel dalam keadaan segar atau yang telah dikeringkan.
Tergantung pada sifat tumbuhan dan senyawa yang akan diisolasi. Untuk
mengekstraksi senyawa utama yang terdapat dalam bahan tumbuhan dapat
digunakan pelarut yang cocok.

Banyak metode yang digunakan untuk proses ekstraksi, baik


dengan cara dingin maupun dengan cara panas. Cara dingin meliputi
maserasi dan perkolasi, sedangkan cara panas meliputi refluks, digesti,
infus, dekok, dan sokletasi.Proses terekstraksinya zat aktif dalam sel
tanaman : pelarut organic akan menembus dinding sel dan masuk ke dalam
rongga sel yang mengandung zat aktif, zat aktif akan larut dalam pelarut
organic tersebut sehingga terjadi perbedaan konsentrasi antar larutan zat
aktif di dalam sel dan pelarut organic diluar sel, maka larutan terpekat
akan berdifusi keluar sel dan proses ini berulang terus sampai terjadi
keseimbangan antara konsentrasi cairan zat aktif di dalam dan di luar sel.
Ekstrak cair-cair adalah proses pemisahan zat terlarut didalam dua
macam zat pelarut yang tidak saling bercampuran satu sama lain, yang
disebut raffinate dan extractant. Pada suatu system pemisahan selalu
berhubungan dengan 3 hal, yaitu sample dan dua pelarut yang saling tidak
bercampur satu sama lain. Sample akan terpartisi atau terdistribusi
kedalam kedua pelarut dan pemiisahan akan berakhir setelah terjadi
kesetimbangan.

Ada tiga macam penggolongan metode pemisahan yang didasarkan


pada jenis kedua pelarut, jenis dari pelarut pertama (initial phase), dan
pada golongan kedua (second phase). Pada masing-masing metode
pemisahan kedua pelarut mempunyai nama yang berlainan. Sebagai
contoh nama pelarut pada metode pemisahan. Pada pemisahan yang telah
selesai dikerjakan selalu didiamkan sampai terjadi pemisahan secara
sempurna, perbandingan konsentrasi sample pada kedua pelarut menjadi
konstan dan dapat di ekspresikan sebagai konstanta kesetimbangan yang
dinyatakan dengan koefisien distribusi atau koefisien partisi, kp
2.5 Kromatografi Lapis Tipis (KLT) dan Kromatografi Lapis Tipis
Preparatif (KLTP)
2.5.1 Kromatografi Lapis Tipis (KLT)
Kromatografi adalah teknik pemisahan campuran
berdasarkan perbedaan kecepatan perambatan komponen dalam
medium tertentu. Pada kromatografi, komponen komponennya
akan dipisahkan antara dua buah fase yaitu fase diam dan fase
gerak. Fase diam akan menahan komponen campuran sedangkan
fase gerak akan melarutkan zat komponen campuran. Komponen
yang mudah tertahan pada fase diam akan tertinggal. Sedangkan
komponen yang mudah larut dalam fase gerak akan bergerak lebih
cepat.
Semua kromatografi memiliki fase diam (dapat berupa
padatan, atau kombinasi cairan-padatan) dan fase gerak (berupa
cairan atau gas).Fase gerak mengalir melalui fase diam dan
membawa komponen-komponen yang terdapat dalam
campuran.Komponen-komponen yang berbeda bergerak pada laju
yang berbeda. Proses kromatografi juga digunakan dalam metode
pemisahan komponen gula dari komponen non gula dan abu dalam
tetes menjadi fraksi-fraksi terpisah yang diakibatkan oleh
perbedaan adsorpsi, difusi dan eksklusi komponen gula dan non
gula tersebut terhadap adsorbent dan eluent yang digunakan
(Hongisto dan Heikkila, 1977; Kantasubrata, 1993; Schneider,
1987).

FASE DIAM
Pelaksaanan kromatografi lapis tipis menggunakan sebuah
lapis tipis silika atau alumina yang seragam pada sebuah lempeng
gelas atau logam atau plastik yang keras.Jel silika (atau alumina)
merupakan fase diam. Fase diam untuk kromatografi lapis tipis
seringkali juga mengandung substansi yang mana dapat berpendar
flour dalam sinar ultra violet.Fase gerak merupakan pelarut atau
campuran pelarut yang sesuai.Jel silika adalah bentuk dari silikon
dioksida (silika).Atom silikon dihubungkan oleh atom oksigen
dalam struktur kovalen yang besar.Namun, pada permukaan jel
silika, atom silikon berlekatan pada gugus -OH.Jadi, pada
permukaan jel silika terdapat ikatan Si-O-H selain Si-O-Si.Gambar
ini menunjukkan bagian kecil dari permukaan silika.

Fase diam lainnya yang biasa digunakan adalah alumina-


aluminium oksida.Atom aluminium pada permukaan juga memiliki
gugus -OH.Apa yang kita sebutkan tentang jel silika kemudian
digunakan serupa untuk alumina.

FASE GERAK
Dalam kromatografi, eluent adalah fasa gerak yang
berperan penting pada proses elusi bagi larutan umpan (feed) untuk
melewati fasa diam (adsorbent). Interaksi antara adsorbent dengan
eluent sangat menentukan terjadinya pemisahan komponen.Oleh
sebab itu pemisahan komponen gula dalam tetes secara
kromatografi dipengaruhi oleh laju alir eluent dan jumlah umpan.
Eluent dapat digolongkan menurut ukuran kekuatan
teradsorpsinya pelarut atau campuran pelarut tersebut pada
adsorben dan dalam hal ini yang banyak digunakan adalah jenis
adsorben alumina atau sebuah lapis tipis silika. Penggolongan ini
dikenal sebagai deret eluotropik pelarut. Suatu pelarut yang
bersifat larutan relatif polar, dapat mengusir pelarut yang relatif tak
polar dari ikatannya dengan alumina (jel silika).(Kantasubrata,
1993).
Kecepatan gerak senyawa-senyawa ke atas pada
lempengan itu tergantung pada:
Bagaimana kelarutan senyawa dalam pelarut. Hal ini
bergantung pada bagaimana besar atraksi antara molekul-
molekul senyawa dengan pelarut.
Bagaimana senyawa melekat pada fase diam, misalnya jel
silika. Hal ini tergantung pada bagaimana besar atraksi antara
senyawa dengan jel silika.
Anggaplah bercak awal pada alumina mengandung dua
senyawa, yang satu dapat membentuk ikatan hidrogen, dan yang
lainnya hanya dapat mengambil tiap-tiap bagian interaksi van der
Waals yang lemah.Penjerapan bersifat tidak permanen, terdapat
pergerakan yang tetap dari molekul antara yang terjerap pada
permukaan jel silika dan yang kembali pada larutan dalam pelarut.
Dengan jelas senyawa hanya dapat bergerak ke atas pada
lempengan selama waktu terlarut dalam pelarut. Ketika senyawa
dijerap pada jel silika-untuk sementara waktu proses penjerapan
berhenti-dimana pelarut bergerak tanpa senyawa. Itu berarti bahwa
semakin kuat senyawa dijerap, semakin kurang jarak yang
ditempuh ke atas lempengan.
Dalam contoh yang sudah kita bahas, senyawa yang dapat
membentuk ikatan hidrogen akan menjerap lebih kuat daripada
yang tergantung hanya pada interaksi van der Waals, dan
karenanya bergerak lebih jauh pada lempengan.

2.5.2 Kromatografi Lapis Tipis Preparatif (KLTP)


Salah satu pemisahan yang memerlukan pembiayaan paling
murah danmemakai peralatan paling dasar adalah kromatografi
lapis tipis preparatif. Proses isolasi yang terjadi berdasarkan
perbedaan daya serap dan daya partisi serta kelarutan dari
komponen-komponen kimia yang akan bergerak mengikuti
kepolaran eluen, oleh karena daya serap adsorben terhadap
komponen kimia tidak sama, maka komponen bergerak dengan
kecepatan yang berbeda sehingga hal inilah yang menyebabkan
pemisahan.

Pemisahan komponen kimia dengan metode kromatografi


lapis tipis preparative pada dasarnya sama dengan kromarografi
lapis tipis biasa, namun perbedaan yang nyata ialah pada KLT
preparative menggunakan lempeng yang besar (ukuran 20x20 cm
dan 20x40 cm )dengan ketebalan 0,5 2mm dan sampel ditotolkan
berupa garis lurus pada salah satu sisi lempeng. Penyerap yang
paling umum digunakan ialah silica gel dan dipakai untuk
pemisahan campuran senyawa lipofil maupun senyawa hidrofil.
Pada penotolan cuplikan, cuplikan dilarutkan dalam sedikit
pelarut sebelum ditotolkan pada pelat KLTP. Pelarut yang baik
ialah atsiri (heksana, diklorometan,atilasetat), karena jika bukan
pelarut atsiri akan menyebabkan pelebaran pita, penotolan dapat
dilakukan dengan tangan (pipet), tetapi lebih baik lagi dengan pipa
kapiler. Lempeng yang sudah ditotolkan dikembangkan pada
chamber yang jenuh dangan cairan pengembang yang cocok secara
tegak lurus,sehingga komponen yang tampak dibawah sinar UV.
Pada KLTP pemilihan fase gerak dan mengembangkan
pelat KLTP terdapat banyak peubah tetapi sebagai petunjuk umum
cuplikan 10-1000 mg dapat dipisahkan pada lapisan silica gel atau
aluminium oksida 20x20 cm yang tebalnya 1 mm. jika tebalnya
didua kalikan, maka banyaknya cuplikan yang dipisah bertambah
50%. Fase gerak biner ialah (dalam berbagai perbandingan) sangat
sering dipakai pada pemisahan secara KLTP : n-heksana-
etilasetat,n-heksana-aseton,kloroform-metanol.penambahan sedikit
asam asetat atau dietilamina berguna memisahkan, berturut-
turut,senyawa asam dan senyawa basa.
Pada isolasi senyawa yang sudah banyak terpisah
kebanyakan penyerap KLTP mengandung indicator floursensi yang
membantu mendeteksi kedudukan pita yang terpisah sepanjang
senyawa yang dipisahkan menyerap sinar UV.Akan tetapi,
beberapa indicator menimbulkan masalah yaitu bereaksi dengan
asam kadang-kadang bahkan.dengan asam asetat. Untuk senyawa
yang tidak menyerap sinar UV, ada beberapa pilihan yaitu :
a. Menyemprot dengan air (Misalnya saonin)
b. Menggunakan chamber iodine
c. Menutup pelat dengan sepotong kaca menyemprot salah
satu sisi dengan pereaksi semprot
d. Menambahkan senyawa pembanding

BAB III

METODE PERCOBAAN

3.1 PENAPISAN FITOKIMIA


3.1.1 Monoterpen dan Seskuiterpen
1. Digerus serbuk simplisia dengan eter, kemudian di saring.
2. Filtrat hassil saringan kemudian diuapkan pada cawan penguap
kemudian dikeringkan.
3. Residu hasil pengeringan ditambahkan larutan Vanillin 10%
dalam H2SO4 pekat. Diamati
3.1.2 Fenolat
1. Sejumlah kecil serbuk simplisia dalam tabung reaksi dipanaskan
di atas tangas air, kemudian disaring.
2. Kepada filtrat ditambahkan larutan pereaksi basi (III) klorida.
3. Adanya senyawa fenolat ditandai dengan terjadinya warna
hijau-biru hitam hingga hitam.
3.1.3 Flavonoid
1. Serbuk simplisia ditambahkan air pada tabung reaksi
2. Ditambahkan sebuk Mg dan HCl 2N
3. Dipanaskan di atas tangas air kemudian disaring
4. Filtrat di tambahkan amil Alkohol di kocok kuat, diamati hasil

3.2 EKSTRAKSI FITOKIMIA


1. Sebanyak 250 gram simplisia daun petai ditimbang.
2. Disiapkan alat refluks untuk mengekstraksi simplisia daun petai.
3. Batu didih dimasukkan kedalam labu alas bundar, kemudian
dimasukkan juga simplisia daun petai.
4. Setelah itu ditambahkan pelarut etanol sebanyak 1000mL,
kemudian pasang pada alat refluks.
5. Refluks dilakukan sampai mencapai titik didih pelarutnya,
kemudian didiamkan selama 1 jam dihitung dari awal mendidih.
6. Setelah selesai refluks, ekstrak daun petai kemudian disaring dan
ditampung dalam botol kaca gelap.
7. Refluks dilakukan ulang dengan pelarut yang baru sebanyak 2 3
kali sampai ekstraksi sempurna.

3.3 FRAKSINASI FITOKIMIA


1. Disiapkan ekstrak kental daun petai yang sebelumnya ditimbang
dan dimasukkan kedalam beaker gelas 100mL.
2. Kemudian ekstrak kental tadi dilarutkan dalam pelarut yang
digunakan ketika pertama kali dilakukan ekstraksi yaitu etanol
sebanyak 20mL.
3. Setelah larut, aquadest sebanyak 80mL dicampurkan kedalam
campuran pada ekstrak kental yang sudah dilarutkan sebelumnya
menggunakan etanol. Diaduk hingga homogen.
4. Ekstrak yang telah dilarutkan kemudian dimasukkan kedalam
corong pisah.
5. Kedalam corong pisah, ditambahkan N-heksan sebanyak 100mL
kemudian corong pisah dikocok sekitar 10-15 kali pengocokkan
setelah itu didiamkan sampai terpisah sempurna membentuk 2
lapisan.
6. Lapisan bawah yang merupakan fraksi air dikeluarkan, dan
ditampung ke dalam beaker gelas. Sedangkan untuk fraksi N-
heksan ditampung pada botol yang telah disediakan.
7. Fraksi air yang ditampung pada no 6 kemudian dimasukkan
kembali pada corong pisah, ditambahkan lagi pelarut N-heksan dan
dilakukan kembali pengocokkan serta pemisahan seperti pada
prosedur no 5 dan no 6 sampai fraksi N-heksan warnanya
memudar. Menandakan jika pemisahan atau penarikan senyawa
yang tertarik pada fraksi N-heksan sempurna.
8. Setelah pemisahan fraksi N-heksan sempurna, didalam corong
pisah yang sudah berisi fraksi air kemudian ditambahkan etil asetat
sebanyak 100mL.
9. Dilakukan kembali pemisahan seperti pada pemisahan fraksi N-
heksan sampai semua senyawa yang tertarik pada etil asetat
terpisah sempurna.
10. Setelah semua fraksi berhasil dipisahkan, masing-masing fraksi
kemudian diuapkan menggunakan cawan penguap diatas waterbath
sampai mengental
3.4 Kromatografi Lapis Tipis (KLT)
1. Disiapkan tangki pengembangan kromatografi lapis tipis yang
berisi larutan pengembang, dengan langkah pertama pemilihan
pengembang menggunakan larutan pengembang tunggal.
2. Setelah larutan pengembang tunggal telah sesuai maka digunakan
larutan pengembang campuran dengan perbandingan yang paling
sesuai untuk pemisahan senyawa yang diinginkan.
3. Kemudian, pengembang yang berada dalam tangki pengembangan
dibiarkan hingga jenuh dengan uap larutan pengembang.
4. Disiapkan lempeng kromatografi lapis tipis pralapis dengan
penjerap silica Gel GF 254.
5. Diukur lempeng yang disiapkan dengan ukuran yang sesuai dengan
tangki pengembangan kromatografi lapis tipis.
6. Diberi tanda batas bawah (garis awal) pada lempeng kromatografi
dengan jarak lebih kurang 1 cm dari tepi lempeng.
7. Ditotolkan larutan ekstrak daun petai pada garis awal dibiarkan
kering. Diulangi pentotolan hingga beberapa kali dan konsentrasi
ekstrak dalam totolan diperkirakan cocok.
8. Dimasukkan lempeng kromatografi lapis tipis tersebut secara hati-
hati dsn tegak lurus ke dalam tangki pengembangan yang berisi
larutan pengembang. Dipastikan bahwa garis awal tidak terendam
oleh larutan pengembang. Dibiarkan terjadi pengembangan
beberapa saat hingga larutan pengembang mencapai batas lebih
kurang 1 cm dari tepi atas lempeng kromatiografi.
9. Diangkat lempeng dari tangki pengembang, dibiarkan kering di
udara terbuka. Setelah kering, diamati dibawah sinar ultraviolet
254 nm dan 365 nm, ditandai bercak yang teramati. Setelah itu,
lempeng di semprot dengan penampak bercak, amati dan tandai
bercak yang terjadi.
10. Dihitung nilai Rf dari bercak yang teramati dengan cara mengukur
jarak bercak dan dibandingkan dengan rambat larutan pengembang
3.5 Kromatografi Lapis Tipis Preparatif (KLTP)
Pembuatan Lempeng KLTP
1 Disiapkan plat kaca KLTP dengan ukuran 20x20 cm diberi
bubur selulosa yang telah dibuat sebelumnya, lalu didiamkan
hingga kering lalu diberi garis pada bagian bawah dan atas
setinggi 1 cm.
2 Disiapkan chamber berisi pengembang sebanyak 50 mL dengan
perbandingan n-heksan-etil asetat (5:2) dijenuhkan selama
kurang lebih 30 menit.
3 Plat kltp ditotolkan dengan fraksi sampel (n-heksan).
4 Dimasukan ke dalam chamber yang berisi pengembang yang
sudah jenuh.
5 Di elusi hingga eluen mencapai batas atas, lalu ditunggu hingga
kering.
6 Plat kltp dilihat pada sinar uv 254 dan 365 nm.
7 Diamati pita dan warna yang terbentuk pada plat kltp.
8 Pita yang ingin di identifikasi dikerok.
9 Dimasukan ke dalam vial dan dilarutkan dengan n-heksan.
Isolasi Sample
1 Disiapkan tangki pengembangan kromatografi lapis tipis yang
berisi larutan pengembang. pengembang yang berada dalam
tangki pengembangan dibiarkan hingga jenuh dengan uap
larutan pengembang.
2 Disiapkan lempeng kromatografi lapis tipis pralapis dengan
penjerap silica Gel GF 254.
3 Diukur lempeng yang disiapkan dengan ukuran yang sesuai
dengan tangki pengembangan kromatografi lapis tipis.
4 Diberi tanda batas bawah (garis awal) pada lempeng
kromatografi dengan jarak lebih kurang 1 cm dari tepi lempeng.
5 Ditotolkan larutan isolat hasil kerokan dari KLTP yang telah
disaring dengan larutan pengembang pada garis awal dibiarkan
kering. Diulangi pentotolan hingga beberapa kali dan
konsentrasi larutan isolat hasil kerokan dari KLTP dalam
totolan diperkirakan cukup.
6 Dimasukkan lempeng kromatografi lapis tipis tersebut secara
hati-hati dsn tegak lurus ke dalam tangki pengembangan yang
berisi larutan pengembang. Dipastikan bahwa garis awal tidak
terendam oleh larutan pengembang. Dibiarkan terjadi
pengembangan beberapa saat hingga larutan pengembang
mencapai batas lebih kurang 1 cm dari tepi atas lempeng
kromatiografi.
7 Diangkat lempeng dari tangki pengembang, dibiarkan kering di
udara terbuka. Setelah kering, diamati dibawah sinar ultraviolet
254 nm dan 365 nm, ditandai bercak yang teramati. Setelah itu,
lempeng di semprot dengan penampak bercak, amati dan tandai
bercak yang terjadi.
8 Dihitung nilai Rf dari bercak yang teramati dengan cara
mengukur jarak bercak dan dibandingkan dengan rambat larutan
pengembang

3.6 Identifikasi
i. KLT 2 Dimensi
1 Pembuktian kemurnian steroid ini dilakukan dengan teknik KLT
2 dimensi, pengembangan dilakukan pada plat KLT 6X6 cm.
2 Hasil KLT preparatif yang ditotolkan 1 cm dari tepi bawah
kanan.
3 Pengembang pertama yang digunakan adalah n-heksan:etil
asetat (5:2), dan pengembang yang kedua menggunakan etil
asetat: n-heksan (5:2).
4 Kemudian plat dielusi pada posisi 90 dari kondisi mula-mula.
5 Diangkat lempeng dari tangki pengembang, dibiarkan kering di
udara terbuka. Setelah kering, diamati dibawah sinar ultraviolet
254 nm dan 365 nm, ditandai bercak yang teramati. Setelah itu,
lempeng di semprot dengan penampak bercak, amati dan tandai
bercak yang terjadi.
6 Dihitung nilai Rf dari bercak yang teramati dengan cara
mengukur jarak bercak dan dibandingkan dengan rambat larutan
pengembang.
ii. Spektrofotometri UV
1. Hasil isolat kltp pita berwana biru di tambahkan dengan
pelarut n-heksan dan dimasukan ke dalam vial.
2. Fraksi isolat tersebut di uapkan hingga kering lalu
ditambahkan ethanol pro analisis sebelum dilakukan
spektrofotometri uv.
3. Alat spektrofotometri uv di nyalakan.
4. Dilakukan kalibrasi larutan ethanol p.a pada kedua kuvet
dengan meng-klik tombol auto zero.
5. Dimasukan fraksi isolat ke dalam salah satu kuvet, dimulai
perhitungan panjang gelombang dan absorban.
6. Panjang gelombang yang dihasilkan di sesuaikan dengan
panjang gelombang pada literatur.
7. Di interprestasikan data yang diperoleh dengan literatur dan
dibandingkan dengan senyawa yang di duga sebelumnya.
iii. Spektrofotometri IR
1. KBr dimasukkan ke dalam mortir, digerus hingga halus.
2. Hasil isolat dimasukkan kedalam mortir, kemudian digerus
hingga homogen.
3. Kemudian ditempatkan dalam cetakan dan ditekan, kemudian
sampel diambil dan dianalisis di dalam alat spektrofotometri
infra merah tersebut.
4. Ditunggu hasil analisis berupa spektrum.
5. Setelah hasil didapatkan, kemudian di print dan di
interpretasikan.
BAB IV

HASIL PERCOBAAN

4.1 Hasil Skrinning Fitokimia Daun Petai (Parkia speciosa Hassk)

No
Golongan Senyawa Hasil Percobaan Keterangan
.
1 Alkaloid (-) tidak ada endapan berwarna
2 Senyawa Fenolat (+) warna biru - hitam
3 Tanin (+) endapan warna putih
4 Flavonoid (+)
warna kuning kemerahan
5 Monoterpenoid (+) terjadi warna ungu
6 Seskuiterpenoid (+) terjadi warna ungu
7 Steroid (+) terjadi warna hijau kebiruan
8 Triterpenoid (+) terjadi warna ungu
9 Senyawa Kuinon (+)
terjadi warna kuning
4.2 Hasil Ekstraksi Fitokimia

No Refluks Volume (mL) Ekstrak Pekat


1 Ke 1 900
2 Ke 2 900 10 gram
3 Ke - 3 800

Bobot Ekstrak Kental didapat


% Rendemen Ekstraksi = Bobot Simplisia Awal x 100 %

10 gram
% R.E = 260 gram x 1100 % = 3,84 % b/b

4.3 Hasil Fraksinasi Fitokimia

No Fraksi Volume (mL)* Ekstrak Pekat (gram)


1 n-Heksan 400 2
2 Etil Asetat 70 1
3 Air 50 -
*) Hasil Rotavapor

4.4 Hasil KLT Terhadap Fraksi Fraksi yang didapat


Dengan pelarut pengembang

No UV ( = 254 nm) UV ( = 365 nm)


Keterangan :

A. Fraksi Etilasetat
B. Ekstrak kental
C. Fraksi n - heksan

Dilanjutkan pada KLT Tunggal terhadap Fraksi N Heksan

UV ( = 254 nm) UV ( = 365 nm)


Perhitungan Rf :

Jarak yang ditempuh solut


Rf = Jarak yang ditempuh fase gerak

Diketahui : Jarak yang ditempuh fase gerak adalah 5,5 cm

Jarak spot n heksan = 4 cm


4 cm
Rf = 5,5 cm = 0,7272 cm

hRf = 0,7272 x 100% = 72,72 %

Dan dilanjutkan pemberian penampak bercak, adalah sbb :

+ penambak bercak Lieberman burchad = Reaksi (+) menjadi warna hijau


biru
+ penambak bercak vanillin sulfat = Reaksi (-) tidak ada perubahan warna

4.5 Hasil KLTP terhadap ekstrak fraksi n heksan


Didapat 2 pita yang nyala. Diambil pita kromatogram yang berwarna biru
sangat terang dengan warna ungu agak terang.
1. Pita Biru = terdapat 1 spot (Murni) (dilihat di lampu uv ( = 254
dan 365 nm )
2. Pita ungu = tidak ada spot (dilihat di lampu uv ( = 254 dan 365
nm )

4.6 KLT 2D Uji 1 spot (Kemurnian)

No UV ( = 254 nm) UV ( = 365 nm)


Pelarut Pengembang n heksan : etil asetat (5 : 2)

Pelarut Pengembang n heksan : etil asetat (2 : 5)

Diketahui jarak plat adalah 4,5 cm

Jarak spot / noda KLT = 2,5 Rf = 2,5 / 4,5 = 0,555

4.7 Hasil Uji Spektrofotometri UV


Didapat = 255,2 nm
4.8 Hasil Uji IR (Inframerah)

Didapat hasil interprestasi spectrum IR adalah sebagai berikut :

1. Ada regang CH3, CH2, di 3000 2700 cm-1 dengan intensitas tinggi
yaitu pada peak 2951,09 cm-1 dan 2920,23 cm-1
2. Ada regang C H (Alifatik) di 1475 1300 cm-1 yaitu pada peak
1469,76 cm-1
3. Ada lentur C = C H, Ar H pada 1000 650 cm -1 yaitu di peak
sekitar 675 cm-1 (yaitu aromatic tersubstitusi)

BAB V

PEMBAHASAN
Skrining fitokimia merupakan suatu analisa kualitatif kandungan kimia
tumbuhan atau bagian tumbuhan. Dari hasil penapisan fitokimia daun petai
(Parkia speciosa) diperoleh data skrining yang menunjukan bahwa simplisia
tersebut positif mengandung steroid, triterpenoid, tannin, quinon, saponin,
monoterpenoid, seskuiterpenoid, dan senyawa polifenolat. Dilihat dari senyawa
yang terdapat dalam simplisia Parkia speciosa menunjukan bahwa senyawa-
senyawa tersebut memiliki titik didih yang relative tinggi sehingga pada proses
ekstraksi dipilih metode reflux (menggunakan cara panas) dengan menggunakan
pelarut etanol 96% karena etanol merupakan pelarut yang universal. Adapun
langkah kerja metode reflux yaitu dengan cara memanaskan sample dengan
pelarut sehingga pelarut akan mengekstraksi dengan panas lalu akan menguap
sebagai senyawa murni, kemudian terdinginkan dalam kondensor, turun lagi ke
wadah, mengekstraksi lagi dan begitu seterusnya. Proses ini pada umumnya
dilakukan dalam waktu 1 jam dihitung saat pelarutnya mendidih.

Setelah didapat extrak, ekstrak tersebut selanjutnya dimasukan ke dalam


rotary evaporator yang bertujuan untuk memekatkan ekstrak dan memisahkan
pelarut dari ekstraknya. Setelah ekstrak dipekatkan, ekstrak tersebut diuapkan
dalam waterbath sehingga didapatkan massa ekstrak yang kental (didapat
rendemen ekstrak kami adalah 3,84% dengan bobot ekstrak didapat adalah 10
gram dengan bobot simplisia awal adalah 260 gram).

Setelah mendapatkan ekstrak kental dari proses penguapan dilanjutkan ke


proses fraksinasi dengan menggunakan metode ekstraksi cair-cair untuk
membantu proses pemisahan berdasarkan tingkat kepolaran. Proses ini bertujuan
untuk mendapatkan beberapa fraksi yaitu fraksi polar, fraksi nonpolar dan fraksi
semipolar. Pelarut-pelarut yang digunakan adalah n-heksan (non polar), etilasetat
(semi polar) dan air (polar).

Setelah didapatkan ketiga fraksi tersebut, identifikasi dilanjutkan dengan


Kromatografi Lapis Tipis (KLT). Pengembang yang digunakan adalah pelarut n
heksan : etilasetat (5:2) yang menghasilkan spot yang baik dibandingkan dari
fraksi etil asetat dan fraksi air. Adapun Rf KLT yang baik berkisar antara 0,2 0,8
cm. Jika nilai Rf terlalu tinggi yang harus dilakukan adalah mengurangi kepolaran
eluen dan sebaliknya. Spot yang didapat dari klt fraksi n-heksan memiliki Rf
sebesar 0,7272. Hal ini menunjukan bahwa spot yang dihasilkan sesuai dengan
kisaran Rf pada umumnya. Identifikasi dilanjutkan ke pemberian penampak
bercak dengan Lieberman burchard dan Vanillin sulfat terhadap hasil KLT
tersebut, dan didapat hasil bahwa hasil KLT dengan ditambah Pereaksi Lieberman
burchard adalah Positif (+) berwarna hijau biru sedangkan yang ditambah pereaksi
Vanillin sulfat hasilnya adalah negative (-) karena tidak ada perubahan warna
sama sekali. Dengan hasil awal ini, hipotesa awal bahwa senyawa yang dapat
terisolasi adalah steroid (karena pada uji skrinning awal identifikasi steroid
simplisia daun petai ini menunjukan hasil yang positif), dimana steroid dapat
terisolasi pada pelarut non polar yang digunakan yaitu n heksan. Untuk menguji
kebenaran hipotesa awal, percobaan ini dilanjutkan ke percobaan yang lebih
spesifik lagi yaitu dengan KLTP.

Kromatografi lapis tipis preparatif merupakan salah satu metode pemisahan yang paling
murah dan memakai peralatan yang paling dasar. Proses isolasi yang terjadi berdasarkan
perbedaan daya serap dan daya partisi serta kelarutan dari komponen-komponen kimia yang
bergerak mengikuti kepolaran eluen. Kemudian ekstrak fraksi n heksan diuji dengan metode
KLTP dengan pelarut pengembangnya adalah n heksan : etil asetat (5:2), dan didapat hasil
terdapat 2 pita yaitu biru terang dan ungu terang. Kemudian 2 warna tersebut diambil secara hati
hati dan terpisah satu warna dengan yang lainnya, dan langsung kedua warna tersebut
dilarutkan pada 8 ml n heksan pelarut asal fraksinasi yang diambil, untuk mencegah
penjerapan senyawa aktif tersebut terjerap dalam silica gel KLTP tersebut lalu diaduk aduk
hingga homogen. Setelah itu, disaring dan kemudian filtrat tersebut diuapkan setengah
volumenya atau sampai setengah pekat.

Pengujian selanjutnya adalah penotolan (noda) pada plat KLT dan hasil yang didapat
menunjukan adanya spot pada plat klt filtrat pita yang berwarna biru sedangkan filtrat pita
berwarna ungu tidak ada noda / spot sama sekali. Kemudian dilanjutkan pada uji KLT 2
Dimensi, yang bertujuan untuk mengetahui bahwa senyawa tersebut sudah benar benar murni
atau belum atau untuk meningkatkan resolusi sampel ketika komponen komponen solute
mempunyai karakteristik kimia yang hampir sama karenanya nilai Rf juga hampir sama., karena
pada KLT 2 D ini diuji dengan mengelusi senyawa tersebut dengan 2 sistem fase gerak yang
berbeda yaitu (1) n heksan : etil asetat (5:2) non polar; dan (2) n heksan : etil asetat (2:5) semi
polar, karena sangat memungkinkan untuk melakukan pemisahan analit yang mempunyai
tingkat polaritas yang berbeda. Dan hasilnya pun sangat baik setelah ditotolkan filtrat tersebut,
dan dielusi oleh fase gerak pertama pada plat KLT 2D hanya ada satu spot dengan Rf sebesar
0,555 kemudian dielusi kembali dengan fase gerak kedua dengan hasil spot awal berpindah naik
ke atas dengan Rf yang sama sebesar 0,555. Ini menunjukan senyawa tersebut sudah murni,

Analisis yang penting dilakukan untuk memperkuat hipotesa sebelumnya adalah


spektrofotometri uv vis adalah suatu metode radiasi elektromagnetik yang mana
sinar uv vis merupakan salah satu yang dapat dianggap sebagai energi yang
merambat dalam bentuk gelombang, pengujian ini bertujuan untuk mengetahui
panjang gelombang suatu zat atau senyawa dan juga panjang gelombang
maksimumnya. Dan dari filtrat ini didapat panjang gelombang maksimum ( =
255,2 nm dan A = 0,376). Adapun menurut literatur menunjukan bahwa golongan
triterpenoid dan steroid pada umumnya memiliki panjang gelombang 243 nm
268 nm. Hal ini menunjukan bahwa senyawa yang diidentifikasi adalah termasuk
golongan triterpenoid dan atau steroid.

Kemudian analisis selanjutnya, senyawa tersebut di uji spektrofotometri


IR, dengan tujuan untuk mengetahui suatu gugus fungsi senyawa yang
diidentifikasi (Elusidasi struktur, Unang supratman, 2010), didapat hasil
interprestasi spectrum IR adalah sebagai berikut :

1. Ada regang CH3, CH2, di 3000 2700 cm-1 dengan intensitas tinggi
yaitu pada peak 2951,09 cm-1 dan 2920,23 cm-1
2. Ada regang C H (Alifatik) di 1475 1300 cm-1 yaitu pada peak
1469,76 cm-1
3. Ada lentur C = C H, Ar H pada 1000 650 cm -1 yaitu di peak
sekitar 675 cm-1 (yaitu aromatic tersubstitusi)

Dari hasil keseluruhan percobaan, dimulai dari penafisan fitokimia, hasil uji KLT,
spektrofotometri uv, serta spektrofotometri IR menunjukan senyawa yang dapat
terisolasi dari daun petai (Parkia speciosa) yaitu senyawa golongan triterpenoid
dan atau steroid dengan = 255,2 nm.

BAB VI
KESIMPULAN

1. Skrining fitokimia merupakan suatu analisa kualitatif kandungan kimia


tumbuhan atau bagian tumbuhan
2. Data skrining yang menunjukan hasil yang positif mengandung steroid,
triterpenoid, tannin, quinon, saponin, monoterpenoid, seskuiterpenoid, dan
senyawa polifenolat
3. Ekstraksi merupakan suatu cara pemisahan untuk memperoleh sediaan
yang mengandung senyawa aktif dari suatu bahan alam dengan
menggunakan pelarut yang sesuai dengan tujuan dari ekstraksi adalah agar
ekstrak hanya mengandung senyawa aktif yang terkandung didalam
simplisia/ bahan alam sehingga perlu dipilih cairan penyari yang paling
optimal mampu menarik senyawa aktif.
4. Fraksinasi adalah proses pemisahan suatu kuantitas tertentu dari campuran
(padat, cair, terlarut, suspensi atau isotop) dibagi dalam beberapa jumlah
kecil (fraksi) komposisi perubahan menurut kelandaian.
5. Kromatografi adalah teknik pemisahan campuran berdasarkan perbedaan
kecepatan perambatan komponen dalam medium tertentu.
6. Kromatografi lapis tipis preparative (KLTP) merupakan proses isolasi
yang terjadi berdasarkan perbedaan daya serap dan daya partisi serta
kelarutan dari komponen-komponen kimia yang akan bergerak mengikuti
kepolaran eluen, oleh karena daya serap adsorben terhadap komponen
kimia tidak sama, maka komponen bergerak dengan kecepatan yang
berbeda sehingga hal inilah yang menyebabkan pemisahan.
7. Dari hasil pengukuran secara spektrofotometri uv diketahui bahwa
senyawa simplisia daun petai (Parkia speciosa) yang teridentifikasi
memiliki panjang gelombang maksimum 255,2 nm, yang menurut
literature adalah golongan triterpenoid dan atau steroid.
8. Pengujian spektrofotometri IR bertujuan untuk mengetahui gugus fungsi
suatu senyawa yang diidentifikasi. Pada senyawa simplisia daun petai
yang diidentifikasi ini memiliki komposisi untuk membentuk suatu gugus
fungsi senyawa yang cocok dengan komposisi pembentukan suatu gugus
fungsi golongan triterpenoid dan atau steroid, yaitu :
Ada regang CH3, CH2, di 3000 2700 cm-1 dengan intensitas tinggi
yaitu pada peak 2951,09 cm-1 dan 2920,23 cm-1
Ada regang C H (Alifatik) di 1475 1300 cm-1 yaitu pada peak
1469,76 cm-1
Ada lentur C = C H, Ar H pada 1000 650 cm -1 yaitu di peak
sekitar 675 cm-1 (yaitu aromatic tersubstitusi)
9. Dari hasil keseluruhan percobaan, hasil uji KLT, spektrofotometri uv, serta
spektrofotometri IR menguatkan hasil percobaan yaitu senyawa yang
diidentifikasi adalah senyawa golongan triterpenoid dan atau steroid
dengan didapat = 255,2 nm.

DAFTAR PUSTAKA

1. Anonim. 2009. Ekstraksi . Diakses dari


www.wiropharmacykuliah/ekstraksi.com. Diakses tanggal 10 Mei 201116.
Teyler.V.E.et.al.1988.
2. Pharmacognosy .9 th Edition. Phiadelphia : Lea&Febiger.187 188.17.
Yazid, Estien. 2005. Kimia Fisika untuk Paramedis . Yogyakarta :Penerbit
Andi
3. Rohman, Abdul. 2009. Kromatografi Untuk Analisis Obat . Yogyakarta:
Graha Ilmu.
4. Gandjar, Ibnu Gholib. Abdul Rahman. 2008. Kimia Farmasi Analisis
.Pustaka Pelajar. Yogyakarta.
5. Roth, Hermann J. 1998. Analisis Farmasi . Yogyakarta. Gadjah Mada
University Press
6. Johnson, Edward. 1991. Dasar Kromatografi Cair . Bandung: Penerbit ITB
7. Soediro. I., dkk. 1986. Kromatografi Cepat Sebagai Cara
Fraksinasi Ekstrak Tanaman . Acta Pharmaceutica Indonesia.
8. Conners.A.K. Pharmaceutical Analysis Solvent Extraction
9. Kisman, Sastro ,ddk .1994. Analisis Farmasi. Cet. 2. Yogyakarta : Gadjah
Mada University Press.
10. Meronda, G.Rahmah. 2008. Kromatografi, Makalah. Makassar :FFUH.
Dikutip dari Kromatografi Makalah journal.

Serbuk simplisia

Lapisan
LAMPIRAN

Diagram Alir
1. Skrinning Fitokimia
a) Alkaloid

Dibasakan dengan ammonia


Ditambahkan kloroform
Terbentuk lapisan kloroform,
lapisan dipisahkan.

Ditambahkan HCl dan dikocok


kuat.

HASIL
Dibagi menjadi 3 bagian ke
dalam tabung reaksi.
Tabung reaksi 1 : ditambahkan
pereaksi Mayer.
Tabung reaksi 2 : ditambahkan
pereaksi Dragendorf
Tabung reaksi 3 sebagai blangko

b) Flavonoid

Serbuk simplisia
Dimasukkan ke dalam tabung
reaksi
Ditambahkan serbuk Mg dan HCl
2N
Dipanaskan di penangas air
Disaring

Ditambahkan amil alcohol


Filtrat Dikocok kuat

HASIL
c) Polifenol, Tanin, dan Kuinon

Serbuk simplisia
- Dimasukkan dalm tabung reaksi
- Dipanaskan dalam penangas air
- Disaring

- Untuk pengujian Polifenol :


ditambahkan FeCl3
- Untuk pengujian tanin : ditambahkan
larutan gelatin 1%
Filtrat - Untuk pengujian kuinon :
ditambahkan KOH 5%

HASIL
d) Monoterpen dan Seskuiterpen, Steroid dan Triterpenoid

Serbuk simplisia
- Digerus dengan eter
- Disaring

- Dimasukkan kedalam cawan penguap


250g simplisia
- Dibiarkan menguap hingga kering.

Filtrat
- Untuk pengujian monoterpen dan
seskuiterpen : diktambahkan
vanilin10% dan HCl pekat
- Untuk pengujian Steroid an
triterpenoid : ditambahkan pereaksi
Hasil pengeringan
Liebermann Burchard

HASIL

2. Ekstraksi

HASIL
- Ditimbang
- Alat refluks disiapkan
- Dimasukkan batu didih kedalam labu
alas bundar
- Simplisia dimasukkan ke dalam labu
alas bundar
- Ditambahkan etanol 1000mL
- Dilakukan refuks selama 1 jam dimulai
dari awal mendidih.
- Disaring dan ekstrak ditampung
kedalam botol.
- Dilakukan penguapan menggunakan
alat rotavapor sampai ekstrak agak
mengental.
- %rendemen dihitung.

Ekstrak kental

Fraksi Air Fraksi N heksan Fraksi Etil Asetat


3. Fraksinasi

- Dilarutkan dalam 20 mL etanol dan 80mL air, diaduk


hingga melarut.
- Dimasukkan kedalam corong pisah
- Ditambahkan N heksan 100mL, dikocok beberapa kali dan
didiamkan hingga terbentuk 2 lapisan.
- Fasa bawah yaitu air ditampung kedalam beaker gelas,
sedangkan fasa atas N heksan ditampung kedalam botol.
- Fasa air yang ditampung tadi di masukkan kembali
kedalam corong pisah dan ditambahkan lagi N heksan. Hal
ini dilakukan berulang hingga warna pada fasa N heksan
lebih bening.
- Setelah didapat fraksi N heksan, fraksi air kembali
dimasukkan dan ditambahkan etil asetat 100 mL.
Dilakukan sama seperti pada fraksi N heksan hingga warna
pada fraksi etil asetat lebih bening.

Tangki pengembangan KLT yang telah jenuh

Lempeng KLT

4. KLT Sampel

+ larutan pengembang
- dibiarkan beberapa menit sampai larutan
mengembang
- Diukur sesuai dengan ukuran tangki
pengembang

Tangki pengembangan KLT + lempeng KLT


Plat kltp
- Ditandai dengan batas bawah dengan jarak lebih
Hasil kurang 1 cm
- Ditotolkan larutan ekstrak daun petai
secukupnya pada garis awal dibiarkan kering
- Dimasukkan lempeng kedalam tangki
pengembang KLT yang telah jenuh

- Diangkat lempeng dari tangki pengembang


- Dibiarkan kering di udara terbuka
- Diamati di bawah sinar uv 254 nm dan 365 nm
- Disemprot dengan penampak bercak
- Dihitung nilai Rf

5. KLTP Sampel

- Disiapkan plat kaca KLTP dengan ukuran 20x20 cm diberi


bubur selulosa yang telah dibuat sebelumnya, lalu
HASILlalu
LL
didiamkan hingga kering diberi garis pada bagian
bawah dan atas setinggi 1 cm.
- Disiapkan chamber berisi pengembang sebanyak 50 mL
dengan perbandingan n-heksan-etil asetat (5:2) dijenuhkan
selama kurang lebih 30 menit.
- Plat kltp ditotolkan dengan fraksi sampel (n-heksan).
- Dimasukan ke dalam chamber yang berisi pengembang
yang sudah jenuh.
- Di elusi hingga eluen mencapai batas atas, lalu ditunggu
hingga kering.
- Plat kltp dilihat pada sinar uv 254 dan 365 nm.
- Diamati pita dan warna yang terbentuk pada plat kltp.
- Pita yang ingin di identifikasi dikerok.
- Dimasukan ke dalam vial dan dilarutkan dengan n-heksan
Fraksi IIIISOLAisolat

6. Spektrofotometri UV Vis

- Hasil isolat kltp pita berwana biru di tambahkan dengan


pelarut n-heksan dan dimasukan ke dalam vial.
- Fraksi isolat tersebut di uapkan hingga kering lalu
ditambahkan ethanol pro analisis sebelum dilakukan
spektrofotometri uv.
- Alat spektrofotometri uv di nyalakan.
- Dilakukan kalibrasi larutan ethanol p.a pada kedua
kuvet dengan meng-klik tombol auto zero.
- Dimasukan fraksi isolat ke dalam salah satu kuvet,
HASIL
dimulai perhitungan panjang gelombang dan absorban.
- Panjang gelombang yang dihasilkan di sesuaikan
dengan panjang gelombang pada literatur.
- Di interprestasikan data yang diperoleh dengan literatur
dan dibandingkan dengan senyawa yang di duga
sebelumnya.
7. Spektroskopi IR

KBr
Dimasukkan ke dalam mortir, digerus hingga halus.
Hasil isolat dimasukkan kedalam mortir, kemudian
digerus hingga homogen.
Kemudian ditempatkan dalam cetakan dan ditekan,
kemudian sampel diambil dan dianalisis di dalam
alat spektrofotometri infra merah tersebut.
Ditunggu hasil analisis berupa spektrum.
Setelah hasil didapatkan, kemudian di print dan di
interpretasikan.

HASIL
LAMPIRAN GAMBAR

Proses Rotary Evaporator Hasil Uji Alkaloid (-)

Monoterpen sebelum Monoterpen sesudah (+)


Steroid Sebelum Steroid Sesudah (+)

Keterangan :
1. Uji Flavonoid (+)
2. Uji Saponin (+)
3. Uji Kuinon (+)
4. Uji Polifenol (+)
Uji Tanin (+)
Uji Penampak Bercak Lieberman Burchard (+) berwarna hijau kebiruan