Anda di halaman 1dari 16

TUGAS

Analisis Resiko Lingkungan


Limbah Minyak hasil Explorasi
PT. PERTAMINA EP CEPU
(PEPC)

Oleh :

M. Iqbal Gifari 11513109

Listia Annisa 11513110

Mochamad Noor Chamsyah 11513118

Dosen :

Prof. Dr. Ir. Kris Tri Basuki, M.Sc

TEKNIK LINGKUNGAN
FAKULTAS TEKNIK SIPIL DAN PERENCANAAN
UNIVERSITAS ISLAM INDONESIA
2013
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kita panjatkan atas kehadiran Tuhan yang maha Esa
karena berkat karunia-Nya lah sehingga kami dapat menyelesaikan tugas
analisis resiko lingkungan ini tepat waktu. Makalah analisis resiko
lingkungan yang kami buat ini berkaitan dengan Analisis Resiko
Lingkungan Limbah Minyak hasil Explorasi yang tujuannya adalah untuk
pembelajaran serta tugas yang diberikan oleh dosen kami Bapak Kris Tri
Basuki, Prof. Dr. Ir. M.Sc selain itu kami berharap agar makalah yang kami
buat ini dapat bermanfaat bagi pembaca, sehingga dapat menambah
wawasan berkaitan dengan analisis resiko lingkungan.
Kami menyadari bahwa tugas yang kami buat ini tidaklah sempurna,
oleh karena itu kami sangat mengharapkan kritik dan saran dari para
pembaca yang sifatnya membangun, sehingga dapat menyempurnakan
tugas yang kami buat ini.

Yogyakarta, 30 Oktober 2013


Hormat Kami,

Tim Penyusun
BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Undang Undang tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup ( UUPLH ) dan aturan
pelaksanaannya merupakan instrument yang ada pada pemerintah untuk mewujudkan
kebijaksanaan dibidang lingkungan hidup nasional. Salah satu hal yang penting pada
kebijakan lingkungan adalah berperannya penilaian risiko (risk assement) dan penilaian
manajemen (risk manajemen) dalam mengambil keputusan di bidang lingkungan. Pemerintah
Republik Indonesia juga telah mengeluarkan peraturan tentang analisis mengenai dampak
lingkungan dan pedoman penetapan baku mutu lingkungan. Pada ketetapan baku mutu
lingkungan sudah ditentukan batas yang aman untuk melindungi kesehatan masyarakat dan
lingkungan. Di Indonesia hal tersebut sudah ada dan sudah dimulai sejak 1982, yaitu
dengan dikeluarkannya UU No. 4 Tahun 1982 tentang ketentuan-ketentuan Pokok
Pengelelolaan Lingkungan Hidup, kemudian dikeluarkannya UU No. 23 tahun 1997 tentang
Pengolahan lingkungan Hidup dan yang terbaru sekarang UU No. 32 Tahun 2009 tentang
Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup.
Analisis resiko lingkungan diatur dalam Pasal 47 yang berbunyi :
(1) Setiap usaha dan/atau kegiatan yang berpotensi menimbulkan dampak penting terhadap
lingkungan hidup, ancaman terhadap ekosistem dan kehidupan, dan/atau kesehatan dan
keselamatan manusia wajib melakukan analisis risiko lingkungan hidup.
(2) Analisis risiko lingkungan hidup sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi:
a. pengkajian risiko;
b. pengelolaan risiko; dan/atau
c. komunikasi risiko.
(3) Ketentuan lebih lanjut mengenai analisis risiko lingkungan hidup diatur dalam Peraturan
Pemerintah.
Yang dimaksud dengan "analisis risiko lingkungan" adalah prosedur yang antara lain
digunakan untuk mengkaji pelepasan dan peredaran produk rekayasa genetik dan
pemembersihan (clean up) limbah B3.
Mengenai maksud dari analisis risiko lingkungan ini, dijelaskan dalam Penjelasan UU
No 32 Tahun 2009 Ayat (2) yang berbunyi:
Huruf a
Dalam ketentuan ini "pengkajian risiko" meliputi seluruh proses mulai dari identifikasi bahaya,
penaksiran besarnya konsekuensi atau akibat, dan penaksiran kemungkinan
munculnya dampak yang tidak diinginkan, baik terhadap keamanan dan kesehatan manusia
maupun lingkungan hidup.
Huruf b
Dalam ketentuan ini "pengelolaan risiko" meliputi evaluasi risiko atau seleksi risiko yang
memerlukan pengelolaan, identifikasi pilihan pengelolaan risiko, pemilihan tindakan untuk
pengelolaan, dan pengimplementasian tindakan yang dipilih.
Huruf c
Yang dimaksud dengan "komunikasi risiko" adalah proses interaktif dari pertukaran informasi
dan pendapat di antara individu, kelompok, dan institusi yang berkenaan dengan risiko.

Penerapan pasal 47 UU No. 32 Tahun 2009 ini biasanya diterapkan dalam industry
industry pabrik kimia yang menggunakan bahan beracun, alat angkut bahan berbahaya seperti
LNG, gas yang berpotensi meledak, radioaktif, dll, kemudian Industri Pembangkit Listrik
Tenaga Nuklir bahkan juga wajib dipenuhi oleh kegiatan atau usaha yang bergerak dibidang
rekayasa genetika yang menghasilkan produk rekayasa genetika karena pada prinsipnya
seluruh usaha atau kegiatan itu memiliki risiko, termasuk kegiatan rekayasa genetika. Oleh
karena itu, Produk Rekayasa Genetik yang hendak diedarkan atau dilepas ke lingkungan
harus mendapatkan sertifikat keamanan hayati terlebih dahulu, dari instasi yang
berwewenang.
Risiko merupakan perkiraan kemungkinan terjadinya konsekuensi kepada manusia
atau lingkungan. Risiko yang terjadi kepada manusia disebut sebagai risiko kesehatan,
sedangkan risiko yang terjadi kepada lingkungan disebut sebagai risiko ekologi.
Risiko lingkungan ( ekologi ) merupakan risiko terhadap kesehatan manusia
yang disebabkan oleh karena faktor lingkungan, baik lingkungan fisik, hayati, maupun
social ekonomi- budaya. Secara umum dapat dikatakan bahwa risiko lingkungan merupakan
suatu faktor atau proses dalam lingkungan yang mempunyai kemungkinan (probability)
tertentuuntuk menyebabkan konsekuensi yang merugikan manusia dan
lingkungannya.Berdasarkan penjelasan tersebut risiko lingkungan mengandung unsur yang
tidak pasti, kemungkinan terjadinya dapat tinggi atau rendah dan tidak dapat dikatakan pasti
terjadi.
Resiko lingkungan memperkirakan resiko terhadap organisme, sistem, atau populasi
( sub ) dengan segala ketidakpastian yang menyertainya, setelah terpapar oleh agen tertentu,
dengan memperhatikan karakteristik agen dan sasaran yang spesifik. Menekankan proses
keseimbangan antara biaya yang dikeluarkan untuk mengurangi risiko lingkungan dengan
keuntungan yang diperoleh dari berkurangnya risiko lingkungan tersebut. Jadi intinya
Analisis risiko lingkungan adalah proses prediksi kemungkinan dampak negatif yang terjadi
terhadap lingkungan sebagai akibat dari kegiatan tertentu.
Penggunaan Analisis Resiko Lingkungan ini, akan mempermudah pihak managemen
kegiatan atau usaha dalam pengelolaan audit atau evaluasi yang menjadi patokan dalam
penilaian ketaatan suatu usaha atau kegiatan.

1.2. METODOLOGI

Studi dilakukan dengan terlebih dahulu mencari dan mengumpulkan data, dimana
data diperoleh dari hasil laporan pelaksanaan penelitian untuk kemudian dianalisis
resiko lingkungannya. Data yang diambil meliputi data pengolahan limbah,
kualitas/baku mutu limbah cair dan sungai tempat pembuangan serta data-data lain
yang berkaitan. Analisis dilakukan dengan membandingkan kondisi yang ada dengan
parameter lingkungan sehingga dapat diketahui tingkat resikonya. Suatu metode
hirarki digunakan untuk suatu acuan/matriks kualitatif. Di dalam matriks
dipergunakan Jurnal Purifikasi, Vol.5, No.4, Oktober 2004 : 151-156 152 kan
metode/cara hirarki tingkatan, dengan bentuk matriks ini, kemungkinan dirangking
berdasarkan seberapa sering resiko akanterjadi dan besaran dirangking berdasarkan
kuat dan hebatnya dampak yang terjadi.
BAB II
PROFIL LOKASI STUDI

2.1. PROFIL
Sebagai salah satu anak perusahaan PT Pertamina (Persero), PT. Pertamina EP Cepu
(PEPC) memiliki target kinerja yang ditetapkan oleh induk perusahaan. Disadari
bahwa target kinerja tersebut bukanlah hal yang mudah untuk dicapai, namun seluruh
jajaran staff PEPC yakin bahwa dengan dorongan dan dukungan semua pihak maka
target tersebut bukan tidak mungkin untuk dicapai.
PT. Pertamina EP Cepu (PEPC) saat ini mempunyai 2 (dua) tugas utama yang harus
dilaksanakan dalam rangka pencapaian target-target corporate yaitu :
Sebagai Partner/ Co-Venture Non Operator dalam pengelolaan Blok Cepu dgn PI
45%.
Sebagai pelaksana Pengawasan Penyaluran Minyak Mentah Produksi EPF Banyu
Urip yg dibeli oleh Pertamina Hilir dan dialirkan dari Banyu Urip sampai ke FSO
Cinta Natomas JOB-PPEJ.
Ada 3 (tiga) kegiatan utama di Blok Cepu yang dimulai sejak sejak tahun 2006, yaitu
kegiatan Eksplorasi, Pengembangan Lapangan Minyak Banyu Urip dan kegiatan
Perencanaan Pengembangan Lapangan Gas Jambaran-Cendana. Ke-3 jenis kegiatan
tersebut dilakukan baik dalam bentuk studi, perencanaan teknis, pengurusan perijinan
kegiatan dan anggaran maupun kegiatan operasional (eksekusi) di lapangan.

Kegiatan Eksplorasi Blok Cepu sejak awal tahun 2007 relatif dapat berjalan sesuai
program, namun untuk kegiatan pemboran eksplorasi terjadi beberapa kelambatan
jadwal akibat masalah pengadaan rig pemboran. Mulai tahun 2010 ini pemboran
eksplorasi (wildcat dan delineasi) akan dilakukan secara berkesinambungan dengan
menggunakan Rig yang dikontrak khusus untuk 2 (dua) lokasi pemboran dan dibuka
opsi tambahan sampai total 7 (tujuh) lokasi pemboran.
Kegiatan Pengembangan Lapangan Minyak Banyu Urip yang banyak mengalami
keterlambatan, dilakukan dengan 2 (dua) cara yaitu dengan Proyek Early Production
Facilities (EPF) yang dilaksanakan sejak tahun 2007, berhasil memproduksikan
minyak mulai tanggal 31 Agustus 2009. Pada saat ini produksi EPF Banyu Urip
mencapai angka rata-rata 18.800 BOPD.
Kegiatan Full Field Development Lapangan Minyak Banyu Urip melalui proyek
EPC1-5, sampai pertengahan 2010 berada pada tahapan persetujuan Procurement Plan
oleh BPMigas. Proses pra-kualifikasi tender sudah dimulai sejak kwartal pertama
tahun 2010, paralel dengan proses persetujuan AFE masing-maisng EPC oleh
BPMigas, dengan target Contract Award akan selesai pada kwartal pertama dan kedua
tahun 2011.
Perusahaan mempersiapkan skenario Pengembangan Blok Cepu dengan berlandaskan
kondisi legal saat ini yang masih mengacu pada Joint Operating Agreement (JOA)
yang ada dimana PEPC sebagai partner MCL.
BAB III
HASIL DAN PEMBAHASAN

Sebelum melakukan identifikasi resiko lingkungan akibat aktifitas industri


pengolahan kelapa sawit, perlu terlebih dahulu diketahui rona lingkungan wilayah
studi, yang meliputi rona fisik kimia, biologi, serta sosial, ekonomi dan budaya
masyarakat. Daerah pemukiman padat, tanah-tanah dibutuhkan untuk perumahan,
kebutuhan komersil dan untuk komersil dan untuk rekreasi, sehingga tidak ada lagi
daerah yang kosong yang dapat digunakan untuk Sanitary Landfill. Sebagian besar
wilayah studi merupakan pemukiman yang memiliki beberapa kelompok hutan kota.
Tumbuhan yang umum ada di hutan kota adalah yang dapat hidup baik di dataran
rendah yaitu: akasia, sono, tembesu, bungur, bambu, meranti, medang. Fauna yang
umum ada di wilayah studi adalah fauna yang biasa diternakkan oleh warga seperti
sapi, kambing, kerbau, domba, ayam, dan itik. Selain itu di dalam air juga terdapat
ikan hias maupun ikan untuk konsumsi. Sebagian penduduk hidup dari perdagangan,
industri, pariwisata, dan pegawai negeri. Surabaya sebagai permukiman pantai adalah
pintu keluar dan masuk bagi hinterland yang subur dan kaya hasil bumi. Telah
menjadikannya sebuah kota dagang. Lancarnya perdagangan di Surabaya juga
didukung oleh sistem transportasi yang memadai, baik lewat darat, laut maupun
udara. Guna menjalin dan memperlancar hubungan darat dengan kota-kota lain di
Pulau Jawa telah dibangun terminal bus terbesar di Asia Tenggara yaitu Purabaya
(Bungurasih) yang menghubungkan Surabaya dengan jalur selatan, dan terminal bus
Tambakosowilangun untuk jalur utara. Sedangkan untuk makin mendukung
kelancaran arus lalu lintas darat yang menghubungkan Surabaya dengan kota-kota
sekitarnya, akan dibangun jalan layang di persimpangan jalan kereta api di Sidoarjo
dan Trosobo (Hasan, 2003).

Sumber limbah cair pabrik tahu berasal dari proses merendam kedelai serta proses
akhir pemisahan jonjot-jonjot tahu. Pada Tabel 1 dapat dilihat bagaimana karakteristik
pencemar yang berasal dari limbah pabrik tahu.

Tabel 1. Kandungan Pencemar Tahu.


Nomor COD BOD N-Total P-Total pH
Sampel (mg/L) (mg/L) (mg/L) (mg/L)
1 7250 5643 169,5 82,5 3,94
2 6870 5395 153,4 80,7 4,28
Rata-rata 7050 5389,5 161,5 81,6 4,11
Sumber limbah padat berasal dari penyaringan bubur kedelai berupa ampas tahu yang
sudah melalui pemerasan berkali-kali dengan menyiram air panas sampai tidak
mengandung sari lagi. Walaupun diperkirakan masih ada resiko dalam kegiatan pabrik
tahu di lokasi studi, upaya-upaya pengendalian dan minimalisir oleh pihak pabrik
dilakukan melalui pengendalian dan pemanfaatan kembali limbah.

Pengelolaan limbah cair adalah menggunakan kolam pengolahan limbah dengan


menggunakan kayu apu. Dalam pengolahan limbah ini digunakan air PDAM sebagai
pengencer dengan perbandingan 1:6 yaitu 1 bagian limbah pabrik tahu dengan 6
bagian air PDAM.

Pemanfaatan limbah padat adalah sebagai makanan ternak. Pabrik tahu Purnomo
Kalidami, Surabaya memanfaatkan ampas limbah tahu untuk makanan babi di daerah
Pegirian, Surabaya.

Dari uraian rona lingkungan yang dijelaskan dan penjelasan tentang proses
pengelolaan limbah sebagaimana disebutkan di atas, dapat diidentifikasi dan
diperkirakan resiko limbah pabrik tahu terha dap komponen lingkungan seperti pada
Tabel 2.

Tabel 2. Identifikasi Resiko


Komponen Lingkungan Pengaruh Limbah
Tata Guna Lahan ( Tanah ) Ada
Kualitas Udara Ada
Kebisingan Ada
Kualitas Air Ada
Flora Darat Ada
Flora Air Ada
Fauna Darat Ada
Fauna Air Ada
Struktur Kependudukan Ada
Pendidikan Tidak Ada
Agama Tidak Ada
Tingkat Kesehatan Masyarakat Ada
Tingkat Pendapatan Ada
Estetika Lingkungan Ada
Sikap, Budaya, dan Perilaku Masyarakat Tidak Ada

Prakiraan resiko terhadap tata guna lahan yang mungkin terjadi yaitu resiko berasal
dari buangan limbah terutama limbah cair yang mencemari air tanah dan air
permukaan.

Akibat pencemaran tersebut maka warga merasa tidak nyaman dan pindah dari lokasi
sekitar pabrik, sehingga terjadi perubahan tata guna lahan. Resiko yang muncul
bersifat negatif. Bobotnya kecil karena pencemaran yang terjadi tidak berdampak
langsung terhadap masyarakat.

Prakiraan resiko terhadap udara, yaitu resiko berasal dari bau limbah tahu yang
semakin lama semakin tidak sedap. Akibat pencemaran tersebut warga khususnya
pekerja pabrik merasa kurang nyaman akibat terhisapnya bau ke dalam pernafasan.
Jenis resiko yang muncul bersifat negatif. Bobotnya kecil karena pencemaran gas
yang timbul jumlahnya kecil dan bukan merupakan gas yang berbahaya.

Prakiraan resiko terhadap air tanah yaitu berasal dari pengolahan limbah cair, yang
mungkin meresap dan masuk ke dalam air tanah. Resiko yang mungkin timbul berupa
timbulnya penyakit-penyakit yang diderita oleh masyarakat yang menggunakan air
tanah, seperti penyakit kulit, penyakit perut, dan lain-lain. Resiko yang muncul
bersifat negatif. Bobotnya sedang karena lokasi dekat dengan warga sehingga ada
kemungkinannya mencemari air sumur warga.

Prakiraan resiko terhadap air permukaan yaitu berasal dari pengolahan limbah cair,
yang dibuang ke sungai. Resiko yang timbul pada flora, fauna, dan manusia, yang
memanfaatkan sungai. Resiko terbesar yang mungkin terjadi adalah matinya biota air,
tumbuhan air, dan hewan air. Resiko yang muncul bersifat negatif.

Dari hasil pengujian maka effluen dari pengolahan Pabrik Tahu Purnomo, Kalidami,
Surabaya berada di atas Baku Mutu yang diijinkan Pemda Jawa Timur, seperti pada
Tabel 3.

Prakiraan resiko terhadap flora darat berasal dari limbah cair yang berasal dari proses
akhir pemisahan jonjot-jonjot tahu yang telah diolah kemudian dibuang ke sungai lalu
dihisap oleh tumbuhan yang hidup di sekitar sungai. Resiko yang mungkin timbul
berupa berkurangnya kemampuan tumbuhan dalam berfotosintesis sehingga
menyebabkan tumbuhan tersebut mati serta bersifat negatif. Tetapi bobotnya kecil
karena effluen dari pabrik tahu telah mengalami pengenceran air sungai sehingga
konsentrasi pencemar juga menurun.

Prakiraan resiko terhadap flora air berasal dari limbah cair yang berasal dari proses
akhir pemisahan jonjot-jonjot tahu yang telah diolah kemudian dibuang ke sungai lalu
dihisap oleh tumbuhan yang hidup di sekitar sungai. Resiko yang mungkin timbul
berupa berkurangnya kemampuan tumbuhan dalam berfotosintesis sehingga
menyebabkan tumbuhan tersebut mati serta bersifat negatif. Bobotnya kecil karena
effluen dari pabrik tahu telah mengalami pengenceran air sungai sehingga konsentrasi
pencemar juga menurun. Dengan demikian kecil pengaruhnya terhadap flora air.

Prakiraan resiko terhadap fauna darat berasal dari limbah cair yang berasal dari proses
akhir pemisahan jonjot-jonjot tahu yang telah diolah kemudian dibuang ke sungai lalu
dihisap oleh tumbuhan yang hidup di sekitar sungai. Berkurangnya flora darat
mempengaruhi pula fauna yang ada. Resiko yang mungkin timbul berupa
berkurangnya jumlah fauna daratan, dan akibat berkurangnya flora darat mengurangi
pula makanan bagi fauna darat serta bersifat negatif. Bobotnya kecil karena pengaruh
limbah bagi kehidupan di darat tidak terlalu signifikan.

Prakiraan resiko terhadap fauna air berasal dari limbah cair yang berasal dari kolam
pengolahan ke sungai. Resiko yang mungkin timbul berupa berkurangnya fauna di
dalam air serta bersifat negatif. Bobotnya kecil karena effluen dari pabrik tahu telah
mengalami pengolahan yang baik serta sehingga konsentrasi pencemar juga kecil.
Dengan demikian kecil pengaruhnya terhadap fauna air.
Prakiraan resiko terhadap tingkat kesehatan masyarakat berasal dari limbah cair yang
dari kolam pengolahan yang masuk ke dalam air permukaan/sungai, di mana
masyarakat sekitar tinggal dan memanfaatkan sungai maupun air tanah (sumur).
Resiko yang mungkin timbul berupa munculnya penyakit kulit, perut, dan sebagainya
serta bersifat negatif. Bobotnya adalah sedang karena pemanfaatan sungai dipakai
untuk menyiram tanaman oleh masyarakat di sekitar sungai. Sedangkan pemanfaatan
sumur dipakai untuk keperluan sehari-hari seperti mandi, mencuci, bahkan sumber air
untuk memasak.

Prakiraan resiko terhadap estetika lingkungan berasal dari limbah cair yang dari
kolam pengolahan yang masuk ke dalam air permukaan/sungai, limbah padat yang
ditumpuk. Resiko yang mungkin terjadi berupa penurunan estetika lingkungan dan
bersifat negatif serta bobotnya kecil.

Analisis Resiko Lingkungan merupakan kegiatan memperkirakan kemungkinan


munculnya suatu resiko dari suatu kegiatan dan menentukan dampak dari
kegiatan/peristiwa tersebut. Dalam analisis ini akan digunakan tiga metode analisis
yaitu analisis kualitatif, analisis semi kuantitatif dan analisis lingkungan signifikan
(Idris, 2003)

Dengan metode analisis kualitatif ini akan dibuat matriks kombinasi antara nilai
peluang resiko seperti Tabel 4 dan besarnya resiko pada Tabel 5 se-hingga akan
dihasilkan suatu nilai resiko tinggi, sedang atau rendah seperti Tabel 6.

Tabel 4. Matriks Peluang Resiko


Resiko Level Uraian
Peluang
1. Perubahan tata guna A Masyarakat menjual lahan karena
lahan menurunnya kenyamanan lingku-ngan ,
peluang, terjadinya resiko ini adalah pasti
terjadi.
2. Pencemaran Udara B Pencemaran udara dapat terjadi karena bau
dari proses produksi, peluang terjadinya
resiko besar.
3. Pencemaran Air B Pencemaran Air Tanah dari kolam
Tanah pengolahan limbah, karena muka air cukup
dalam maka terjadi resiko besar.
4. Pencemaran Air D Pencemaran air permukaan berasal dari air
Permukaan limbah yang dibuang ke su-ngai beresiko
kecil karna sudah melalui proses
pengolahan.
5. Penurunan jum-lah C Penurunan jumlah flora darat akibat bau
flora (tumbu han) yang berasal dari pengolahan limbah
darat (Terestrial) minyak kemung-kinan resiko sedang.
6. Penurunan jumlah C Jumlah flora air dapat menurun aki-bat
flora air (aquatik) limbah yang masuk ke air permukaan.
7. Penurunan jumlah C Penurunan jumlah fauna darat di seki tar
fauna (Hewan) darat sungai akibat limbah yang dibuang
mempunyai resiko sedang.
8. Penurunan jumlah C Penurunan jumlah fauna air di sekitar
fauna air sungai akibat limbah yang dibuang,
memiliki resiko sedang.

9. Penurunan tingkat C Tingkat kesehatan masyarakat menurun


kesehatan masyarakat akibat pencemaran air sumur oleh buangan
limbah pabrik, peluang resiko sedang.
10. Berkurangnya D Pencemaran air sungai dan tumpukan
Estetika lingkungan limbah padat mengurangi estetika
lingkungan, dengan peluang resiko kecil.
Keterangan :
A = Pasti terjadi
B = Kemungkinan Besar
C = Kemungkinan sedang
D = Kemungkinan Kecil
E = Kemungkinan Jarang

Tabel 5. Matriks Besaran Resiko

Resiko Level Uraian


Peluang
1. Perubahan tata guna 4 Besar karena harga lahan yang ada di Cepu
lahan masih murah.
2. Pencemaran Udara 3 Gas yang dihasilkan berbahaya dan
jumlahnya banyak akan tetapi sudah
melalui proses filter terlebih dahulu
sehingga memiliki resiko sedang.
3. Pencemaran Air 3 Sedang karena mempengaruhi manusia dan
Tanah bila terjadi pence-maran air tanah
memerlukan prosedur tertentu untuk
penanganannya.
4. Pencemaran Air 4 Besar karena mempengaruhi lingkungan
Permukaan dan manusia disekitar sungai namun dapat
diawasi melalui kerjasama yang baik antara
perusahaan, pemerintah serta LSM.
5. Penurunan jum-lah 3 Sedang karena cukup terpengaruhi oleh
flora (tumbu han) limbah minyak.
darat (Terestrial)

6. Penurunan jumlah 3 Sedang karena mempengaruhi populasi


flora (tumbuhan) air flora dan berdampak pada manusia dapat
(aquatik) diatasi dengan manajemen yang baik antara
pihak pihak terkait.
7. Penurunan jumlah 3 Sedang karena cukup dipenga- ruhi oleh
fauna (Hewan) darat limbah minyak dan pembukaan lahan.
8. Penurunan jumlah 3 Sedang karena jumlah fauna air turun
fauna (Hewan) air karena limbah air.

9. Penrunan tingkat 3 Sedang karena berhubungan dengan


kesehatan masyarakat kesehatan manusia.
10. Berkurangnya 3 Resiko Sedang yang berhubungan dengan
Estetika lingkungan kesehatan manusia.
Keterangan :
1 = Pengaruh tidak berarti
2 = Pengaruh Kecil
3 = Pengaruh Sedang
4 = Pengaruh Besar
5 = Bencana

Tabel 6. Matriks Tingkat Resiko


Resiko Peluang Nilai Nilai
Besaran Resiko
1. Perubahan tata guna lahan A 4 T
2. Pencemaran Udara B 3 S
3. Pencemaran Air Tanah B 3 S
4. Pencemaran Air Permukaan D 4 S
5. Penurunan Jumlah Flora (tumbuhan) darat C 3 S
(Teristrial)
6. Penurunan Jumlah Flora (tumbuhan) Air C 3 S
7. Penurunan jumlah fauna (Hewan) darat. C 3 T
8. Penurunan jumlah fauna (Hewan) Air C 3 T
9. Penurunan tingkat kesehatan masyarakat C 3 S

10. Berkurangnya Estetika Lingkungan D 3 R


Keterangan:
T = Tinggi
S = Sedang
R = Rendah

Analisis semi kuantitatif juga menggunakan matriks penilaian resiko yang


menggabungkan unsur frekuensi, besaran pengaruh, dan sensitifitas untuk
mendapatkan tingkat resiko. Pada Tabel 7 menunjukkan matrik frekuensi dan Tabel 8
menunjukkan matrik nilai besaran.

Tabel 7. Matriks Frekuensi


Resiko Frekuensi Uraian
1. Perubahan tata guna 4 Masyarakat menjual lahannya karena
lahan menurunnya kenyamanan linkungan, hal ini
sering terjadi.
2. Pencemaran Udara 1 Frekuensi terjadinya pencemaran udara
karena bau yang timbul dari tumpukan
limbah padat dan proses pengolahan limbah
adalah kemungkinan tidak terjadi.
3. Pencemaran air 2 Frekuensi pencemaran air tanah kecil sebagai
Tanah akibat dari kolam pengolahan limbah
meresap kedalam air tanah medium.
4. Pencemaran air 2 Kemungkinan terjadinya pencema-ran air
permukaan permukaan kecil, akibat buangan air dari
kolam pengolahan limbah dibuang ke sungai.
5. Penurunan jum lah 4 Penurunan jumlah flora darat disekitar sungai
flora (tumbu han) akibat menyerap buangan air limbah yang
darat (Teristrial) dibuang kesungai frekuensinya sering.
6. Penurunan jumlah 3 Penurunan jumlah flora (tumbuhan) air
flora (tumbuhan) air akibat limbah yang masuk mempunyai
(Aquatik) frekuensi medium.
7. Penurunan jumlah 2 Penurunan fauna (hewan) darat akibat
fauna (hewan) darat tercemarnya lingkungan dan berkurangnya
makanan; mempunyai frekuansi kecil.
8. Penurunan jumlah 3 Jumlah fauna air yang menurun akibat
fauna (Hewan) air pencemaran dari berkurang-nya fauna air
mempunyai frekuensi medium.
9. Penurunan tingkat 3 Penurunan tingkat kesehatan masyarakat
kesehatan akibat penggunaan air sumur untuk mandi,
masyarakat cuci, dan memasak; frekuensinya medium.
10. Berkurangnnya 2 Pencemaran air dan tumpukan limbah
Estitika Lingkungan minyak mengurangi estetika , frekuensiunya
kecil

Keterangan:
1 = ada kemungkinan tidak terjadi
2 = kecil
3 = medium
4 = sering
5 = sangat sering terjadi

Tabel 8. Matriks Nilai Besaran


Resiko Nilai Besaran Uraian
1. Perubahan tata guna 4 Pengaruhnya besar kepada Masyarakat,
lahan karena jaraknya cukup dekat.
2. Pencemaran Udara 2 Pengaruhnya kecil karena limbah
merupakan limbah minyak.
3. Pencemaran air 4 Pengaruhnya besar karena mempengaruhi
Tanah kehidupan manusia dan lingkungan.
4. Pencemaran air 3 Pengaruhnya sedang karena mempengaruhi
permukaan lingkungan.
5. Penurunan jum lah 4 Pengaruhnya besar karena terlalu
flora (tumbu han) dipengaruhi limbah minyak dan pembukaan
darat (Teristrial) lahan.
6. Penurunan jumlah 4 Pengaruhnya besar karena mempengaruhi
flora (tumbuhan) air flora (tumbuhan) air (Aquatik)
(Aquatik)
7. Penurunan jumlah 3 Pengaruhnya sedang karena cukup terlalu
fauna (hewan) darat dipengaruhi oleh proses usaha.
8. Penurunan jumlah 4 Pengaruhnya besar karena mempengaruhi
fauna (Hewan) air Jumlah fauna air yang menurun dan
mempengaruhi manusia.
9. Penurunan tingkat 4 Pengaruhnya besar karena berhubungan
kesehatan dengan kehidupan manusia, dengan
masyarakat penurunan tingkat kesehatan masyarakat
akibat penggunaan air sumur untuk mandi,
cuci, dan memasak.
10. Berkurangnnya 3 Pengaruhnya sedang terhadap estetika
Estitika Lingkungan lingkungan.

Keterangan:
1 = Resiko Tidak Ada
2 = Resiko Pengaruhnya kecil
3 = Resiko Sedang
4 = Resiko Besar
5 = Resiko Besar Besar Sekali

Tabel 9 menunjukkan matrik nilai sensitivitas dan


Tabel 10 menunjukkan nilai resiko yang mungkin dapat terjadi.

Tabel 9. Matriks Nilai Sensitivitas


Resiko Nilai Uraian
Sensitivitas
1. Perubahan tata guna 3 Menjadi perhatian dari masyarakat lokal.
lahan
2. Pencemaran Udara 2 Menjadi perhatian dari kelompok terentu.
3. Pencemaran air 2 Menjadi perhatian dari kelompok tertentu.
Tanah
4. Pencemaran air 4 Menjadi perhatian masyarakat lokal dan
permukaan masyarakat lokal Cepu.
5. Penurunan jum lah 2 Menjadi perhatian dari kelompok tertentu.
flora (tumbu han)
darat (Teristrial)
6. Penurunan jumlah 2 Menjadi perhatian kelompok tertentu.
flora (tumbuhan) air
(Aquatik)
7. Penurunan jumlah 2 Menjadi perhatian dari kelompok tertentu.
fauna (hewan) darat
8. Penurunan jumlah 2 Menjadi perhatian masyarakat lokal.
fauna (Hewan) air
9. Penurunan tingkat 4 Menjadi perhatian masyrakat lokal dan
kesehatan masyarakat local cepu.
masyarakat
10. Berkurangnnya 2 Menjadi perhatian kelompok tertentu.
Estitika Lingkungan

Keterangan:
5 = Tidak menjadi perhatian Internasional/Dunia
4 = Menjadi perhatian Nasional
3 = Menjadi perhatian lokal
2 = Menjadi perhatian kelompok
1 = Tidak Menjadi perhatian masyarakat
Tabel 10. Nilai Resiko
Resiko Frekuensi Pengaruh Sensitifitas Nilai
(F) (S1) (S2) Resiko
R=
Fx(S1+S2)
1. Perubahan tata guna 4 4 3 28
lahan
2. Pencemaran Udara 1 2 2 4
3. Pencemaran air Tanah 2 4 2 12
4. Pencemaran air 2 3 4 14
permukaan
5. Penurunan jum lah flora 4 4 2 24
(tumbu han) darat
(Teristrial)
6. Penurunan jumlah flora 3 4 2 18
(tumbuhan) air
(Aquatik)
7. Penurunan jumlah 2 3 2 10
fauna (hewan) darat
8. Penurunan jumlah 3 4 2 18
fauna (Hewan) air
9. Penurunan tingkat 3 4 4 24
kesehatan masyarakat
10. Berkurangnnya 2 3 2 10
Estitika Lingkungan
Total Resiko 162
Keterangan :
0 150 = Resiko rendah, pengelolaan dengan prosedur
yang rutin.
151 300 = Resiko sedang, memerlukan perhatian
manajemen tingkat tinggi.
301 450 = Resiko tinggi, memerlukan penelitian dan
manajemen terperinci

Dengan demikian dapat disimpulkan limbah dari Pabrik Tahu Purnomo, Kalidami,
Surabaya memiliki resiko kecil. Tabel 11. Menunjukkan analisis dengan aspek
lingkungan signifikan

Tabel 11. Analisis dengan aspek lingkungan signifikan

Resiko Nilai Resiko

A B C D E F G (A*B*C*D*E*F*G)

1. Perubahan tata guna lahan 5 4 2 3 2 3 2 1440

2. Pencemaran Udara 3 3 3 8 3 3 2 3888

3. Pencemaran air Tanah 7 6 3 5 7 5 3 66150


4. Pencemaran air permukaan 7 3 3 3 3 3 3 5103

5. Penurunan jum lah flora 3 4 3 3 2 3 1 648


(tumbu han) darat (Teristrial)
6. Penurunan jumlah flora 4 3 2 3 2 4 1 576
(tumbuhan) air (Aquatik)
7. Penurunan jumlah fauna 2 2 3 3 2 3 1 216
(hewan) darat
8. Penurunan jumlah fauna 4 2 1 5 5 4 2 1600
(Hewan) air
9. Penurunan tingkat kesehatan 3 4 3 5 3 1 3 1620
masyarakat
10. Berkurangnnya Estitika 3 3 3 5 3 3 3 3645
Lingkungan
Total Nilai Analisis Dengan Dampak Lingkungan Signifikan 84886

Keterangan :
A = Luasan Dampak
B = Keseriusan resiko
C = Peluang terjadinya resiko
D = Waktu pemaparan
E = Peraturan perundang undangan
F = Metode pengendalian
G = persepsi pandangan masyarakat

Nilai Aspek lingkungan :


1 196.000 = Aspek lingkungan tidak signifikan
196.001 392.000 = Aspek lingkungan Cukup Signifikan
392.001 588.245 = Aspek lingkungan Signifikan

( Razif, 2002 )

Ternyata dari hasil evaluasi tidak ada aspek lingkungan signifikan, karena angka
semuanya berada dibawah 196.000. Hanya satu komponen yaitu pencemaran air tanah
yang tinggi namun tidak sampai 196.000.

Kesimpulan :
Berdasarkan hasil analisis kualitatif beberapa komponen resiko yang memiliki resiko
tinggi yaitu pencemaran air tanah. Limbah minyak PT. Pertamina ep Cepu, Cepu,
memiliki resiko sedang sehingga memerlukan perhatian menajemen tingkat tinggi,
dengan komponen yang paling berpengaruh adalah limbah cair. Pengaruh limbah secara
keseluruhan terhadap manusia dan keseluruhan terhadap manusia dan lingkungan
sekitar pabrik tidak signifikan. Hal ini dikarenakan karena adanya unit pengolahan
limbah yang telah menurunkan banyak komponen limbah.

Daftar Pustaka :

1. Undang Undang No.32 Tahun 2009 Tentang Perlindungan dan Pengelolaan


Lingkungan Hidup.

2. Hambali. (2003). Analisis Resiko Lingkungan ( Studi Kasus Limbah Pabrik CPO
PT Kresna Duta Agroindo Kabupaten Merangin, Jambi ). Program Pascasarjana.
Program studi magister Teknik Lingkungan ITS, Surabaya.

3. Idris, YZ (2003). Analisa Resiko Limbah Industri Tapioka di Sungai Tulang


Bawang. Program Pascasarjana. Program studi magister Teknik Lingkungan ITS,
Surabaya.

4. Hasan, H. (2003). Analisa Resiko Lingkungan Effluent IPLT Keputih. Program


Pascasarjana. Program studi magister Teknik Lingkungan ITS, Surabaya.

5. Razif, M. (2002) Analisa resiko lingkungan : Kumpulan Materi Kuliah. FTSP


Jurusan Teknik Lingkungan ITS surabaya.

6. http://175.158.32.27:10081/pepc/?page=about&id=profil-perusahaan&lang=id