Anda di halaman 1dari 27

BJ DAN KERAPATAN

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Zat padat tentu mempertahankan bentuknya, sedangkan

fluida tidak mempertahankan bentuknya, serta gas mengembang

menempati semua ruang tanpa memperdulikan bentuknya. Teori fluida

sangat kompleks, sehingga dimulai dari yang paling dasar yaitu

Penentuan Bobot jenis dan Kerapatan zat.

Bobot jenis suatu zat adalah perbandingan bobot zat

terhadap air dengan volume yang ditimbang di udara pada suhu yang

sama. Penetapan bobot jenis digunakan hanya untuk senyawa

berbentuk cairan, kecuali dinyatakan pada perbandingan bobot zat di

udara pada suhu yang telah ditetapkan. Faktor-faktor yang

mempengaruhi bobot jenis yaitu suhu dan konsentrasinya.

Adapun sifat dari zat cair diantaranya, bentuk mengikuti

tempat dan volumenya tetap molekulnya dapat bergerak tetapi tidak

semudah gerak molekul gas, jarak partikelnya lebih dekat daripada

gas sehingga lebih sukar di mampatkan, dapat diuapkan dengan

memerlukan energi.

Kerapatan adalah turunan besaran yang menyangkut

satuan massa dan volume. Kerapatan juga merupakan suatu sifat zat

yang berbeda, misalnya Air dan minyak ketika dicampur akan terjadi

ZUMRATUL INAYAH VINA PURNAMASARI M,


S.Farm, M.Sc,Apt
15020140111 1
BJ DAN KERAPATAN

perbedaan kerapatan. Bila kerapatan benda lebih besar dari kerapatan

air, maka benda tersebut akan tenggelam dalam air. Namun bila

kerapatannya lebih kecil maka benda tersebut akan mengapun. Selain

itu peristiwa mengapung,melayang,dan tenggelam itu dipengaruhi oleh

perbandingan bobot jenis zat-zat tersebut. Untuk mengetahui cara

mengukur bobot jenis dan kerapatan zat pada beberapa sampel

dengan menggunakan piknometer.

B. Tujuan Praktikum
Menentukan bobot jenis dari suatu cairan ( parafin cair,

minyak kelapa, dan Gliserin) serta menentukan kerapatan bulk,

kerapatan mampat, dan kerapatan sejati suatu sampel (Asam Borat)

C. Maksud Pratikum

Mengetahui dan memahami cara penetapan bobot jenis

dari suatu cairan (Parafin Cair, Minyak Kelapa, Gliserin dan Asam

Borat ) kerapatan bulk, kerapatan mampat, dan kerapatan sejati suatu

sampel padatan (Asam Borat).

ZUMRATUL INAYAH VINA PURNAMASARI M,


S.Farm, M.Sc,Apt
15020140111 2
BJ DAN KERAPATAN

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Teori Umum
Di bidang farmasi, selain bobot jenis juga digunakan untuk

mengetahui kemurnian suatu zat cair dengan menghitung berat

jenisnya. Jika berat jenisnya mendekati maka dapat dikatakan zat

tersebut memiliki kemurnian yang tinggi. Oleh karena itu percobaan ini

dilakukan untuk mengetahui bobot jenis dan kerapatan zat ( Ansel,

2006).
Bobot jenis adalah rasio bobot suatu zat terhadap bobot

zat baku yang volumenya sama pada suhu yang sama dan dinyatakan

dalam desimal. Penting untuk membedakan antara kerapatan dan

bobot jenis. Kerapatan adalah massa per satuan volume, yaitu bobot

zat per satuan volume. Misalnya, satu milliliter raksa berbobot 13,6 g,

dengan demikian kerapatannya adalah 13,6 g/mL. jika kerapatan

Dinyatakan sebagai satuan bobot dan volume,maka bobot jenis

merupakan bilangan abstrak. Bobot jenis menggambarkan hubungan

antara bobot suatu zat terhadap sebagian besar perhitungan dalam

farmasi dan dinyatakan memiliki bobot jenis 1,00 sebagai

perbandingan, bobot jenis gliserin adalah 1,25, artinya bobot gliserin

1,25 kali bobot volume air yang setara ,dan bobot jenis alkohol adalah

0,81 kali bobot volume air yang setara. ( Ansel, 2006).


Zat yang memiliki bobot jenis lebih kecil dari 1,00 lebih

ringan daripada air. Sedangkan zat yang memiliki bobot jenis lebih
ZUMRATUL INAYAH VINA PURNAMASARI M,
S.Farm, M.Sc,Apt
15020140111 3
BJ DAN KERAPATAN

besar dari 1,00 lebih berat daripada air. Bobot jenis dinyatakan dalam

desimal dengan beberapa angka di belakang koma sebanyak akurasi

yang diperlukan pada penentuannya. Pada umumnya, dua angka di

belakang koma sudah mencukupi. Bobot jenis dapat dihitung atau

untuk senyawa khusus dapat ditemukan dalam United States

Pharmacopeia (USP) atau buku acuan lain. Bobot jenis suatu zat dapat

dihitung dengan mengetahui bobot dan volumenya ( Ansel, 2006)


Bobot jenis suatu zat dapat di hitung dengan mengetahui

bobot dan volumenya melalui persamaan berikut (Ansel, 2004 )

bobot zat ( g )
Bobot jenis = bobot sejumlah volume air yang setara( mL)

Kerapatan adalah massa per unit volume suatu zat pada

temperatur tertentu. Sifat ini merupakan salah satu sifat fisika yang

paling sederhana dan merupakan salah satu sifat fisika yang paling

definitive,dengan demikian dapat digunakan untuk menentukan

kemurniaan suatu zat (Ansel, 2004 )

Rapatan diperoleh dengan membagi massa suatu obyek

dengan volumenya (Petrucci, 1985)

massa (m)
=
volume (v)

Suatu sifat yang besarnya tergantung pada jumlah bahan

yang sedang diselidiki disebut sifat ekstensif. Baik massa maupun

volume adalah sifat-sifat ekstensif. Suatu sifat tergantung pada jumlah

ZUMRATUL INAYAH VINA PURNAMASARI M,


S.Farm, M.Sc,Apt
15020140111 4
BJ DAN KERAPATAN

bahan adalah sifat intensif. Rapatan yang merupakan perbandingan

antara massa dan volume, adalah sifat intensif. Sifat-sifat intensif

umumnya dipilih oleh para ilmuwan untuk pekerjaan ilmiah karena tidak

tergantung pada jumlah bahan yang sedang diteliti (Petrucci, 1985)

Kerapatan atau densitas adalah massa per satuan.

Satuan umumnya adalah kilogram per meter kubik, atau ungkapan

yang umum, gram per sentimeter kubik, atau gram per milliliter.

Pernyataan awal mengenai kerapatan adalah bobotjenis. Satuannya

sudah kuno dan sebaiknya tidak dipakai lagi. Penjelasan berikut

diberikan sebagai petunjuk (Brescia, 1975)

British standard 2955 (1958) mendefenisikan tiga istilah

yang berlaku untuk partikel itu sendiri. Partikel kepadatan massa

partikel dibagi dengan volumenya. Istilah yang berbeda muncul dari

cara dimana volume didefenisikan (Gibson, 2004)

1. Kerapatan partikel sejati adalah ketika volume diukur tidak

termasuk baik terbuka dan tertutup pori-pori dan merupakan

property fundamental dari suatu material.


2. Kerapatan partikel jelas adalah ketika volume diukur meliputi

intrapartikel pori-pori
3. Kerapatan partikel yang efektif adalah volume dilihat oleh fluida

bergerak melewati partikel. Itu sangat penting dalam proses

seperti sedimentasi atau fluidization tetapi jarang digunakan dalam

bentuk sediaan padat.


Hubungan antara massa dan volume tidak hanya

menunjukan ukuran dan bobot molekul suatu komponen, tetapi juga


ZUMRATUL INAYAH VINA PURNAMASARI M,
S.Farm, M.Sc,Apt
15020140111 5
BJ DAN KERAPATAN

gaya-gaya yang mempengaruhi sifat karakteristik pemadatan

(Packing Characteristic). Dalam sistem matriks kerapatan diukur

dengan gram/milimeter (untuk cairan) atau gram/cm 2 ( Martin, 1990)


Ahli farmasi sering kali mempergunakan besaran

pengukuran ini apabila mengadakan perubahan antara massa dan

volume. Kerapatan adalah turunan besaran karena menyangkut satuan

massa dan volume. Batasannya adalah massa per satuan volume pada

temperatur dan tekanan tertentu, dan dinyatakan dalam sistem cgs

dalam gram per sentimeter kubik (gram/cm 3). Berbeda dengan

kerapatan, berat jenis adalah bilangan murni tanpa dimensi, yang dapat

diubah menjadi kerapatan dengan menggunakan rumus yang cocok.

Berat jenis didefinisikan sebagai perbandingan kerapatan dari suatu zat

terhadap kerapatan air, harga kedua zat itu ditentukan pada temperatur

yang sama, jika tidak dengan cara lain yang khusus. Istilah berat jenis,

dilihat dari definisinya, sangat lemah, akan lebih cocok apabila

dikatakan sebagai kerapatan relatif ( Martin, 1990)


Berat jenis untuk penggunaan praktis lebih sering

didefinisikan sebagai perbandingan massa dari suatu zat terhadap

massa sejumlah volume air yang sama pada suhu 4 oC atau temperatur

lain yang tertentu. Notasi berikut sering ditemukan dalam pembacaan

berat jenis: 25oC/25oC, 25oC/4oC, dan 4oC/4oC. Angka yang pertama

menunjukkan temperatur udara di mana zat ditimbang; angka di bawah

garis miring menunjukkan temperatur air yang dipakai. Buku-buku

farmasi resmi menggunakan patokan 25 oC /25oC untuk menyatakan

ZUMRATUL INAYAH VINA PURNAMASARI M,


S.Farm, M.Sc,Apt
15020140111 6
BJ DAN KERAPATAN

berat jenis. Berat jenis dapat ditentukan dengan menggunakan

berbagai tipe piknometer, neraca Mohr-Westphal, hidrometer dan alat-

alat lain. Pengukuran dan perhitungan di diskusikan di buku kimia

dasar, fisika dan farmasi ( Martin, 1990)


Specific Gravity (SG) merupakan perbandingan densitas

suatu fluida terhadap fluida standar (reference). Di dalam proses

pengolahan migas, istilah ini banyak dijumpai terutama berkaitan

dengan analisis karakteristik atau spesifikasi feed dan produk. SG

suatu fluida dinyatakan dalam angka dengan 4 digit di belakang koma

dan tidak bersatuan (Ahmad, 2013)

Density Absolut atau kerapatan mutlak didefinisikan

sebagai massa persatuan volume. Massa adalah berat dikalikan

gravitasi. Oleh karena itu gravitasi bumi sangat mempengaruhi

kerapatan mutlak. Kerapatan nisbi adalah hubungan antara kerapatan

bahan pada suhu tertentu dibandingkan dengan kerapatan standar

(biasanya air) pada suhu yang sama (Ahmad, 2013)

B. Uraian bahan
1. Alkohol (Ditjen POM, Edisi III, 1979 : 65)
Nama resmi : Aethanolium
Nama lain : Etanol, etil alcohol
Berat molekul : 46,07
Rumus molekul : C2H6O
Bobot jenis : 0,8119-0,8139 g/ml
Pemerian : Jernih,tidak berbau, bergerak,cairan

pelarut,menghasilkan Bau yang khas


dan rasa terbakar pada lidah.
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup rapat, di jauhkan

ZUMRATUL INAYAH VINA PURNAMASARI M,


S.Farm, M.Sc,Apt
15020140111 7
BJ DAN KERAPATAN

dari api.
Kegunaan : Sebagai pembilas piknometer dan
gelas ukur.
2. Asam borat (Ditjen POM, 1979 : 49)
Nama resmi : ACIDUM BORICUM
Nama lain : Asam borat, Asam ortoborat
Berat molekul : 61,83
Rumus molekul : H3BO3
Kerapatan : 1,435 g/ml
Pemerian :Hablur,serbuk hablur putih atau sisik
mengkilap tidak Berwarna, kasar, tidak

berbau,rasa agak asam dan pahit

Kemudian manis.
Kelarutan : Larut dalam 20 bagian air,dalam 3
bagian air mendidih, 16 bagian etanol

(95%)p dan dalam 5 bagian gliserol p.


Penyimpanan : Dalam wadah tertutup rapat
3. Parafin (Ditjen POM, 1979 : 474)
Nama resmi : PARAFFINUM
Nama lain : Parafin
Berat molekul : 92,09
Rumus molekul : C3H8O3
Bobot jenis : 0,84 0,89 g/ml
Pemerian : Hablur tembus cahaya atau agak

buram; tidak berwarna atau

putih; tidak berbau; tidak berasa;

agak berminyak.
Kelarutan : Tidak larut dalam air dan dalam etanol;
mudah larut dalam Kloroform, dalam

eter, dalam minyak menguap, dalam

hamper semua jenis minyak lemak

hangat, sukar larut dalam etanol

mutlak.

4. Gliserin (Glycerolum) (Ditjen POM, edisi III : 271)


ZUMRATUL INAYAH VINA PURNAMASARI M,
S.Farm, M.Sc,Apt
15020140111 8
BJ DAN KERAPATAN

Nama latin : GLYCEROLUM

Sinonim : Gliserol, Gliserin

Rumus struktur : CH2OH-CHOH-CH2OH (C3H8O3)

Pemerian : Cairan seperti sirup, jernih, tidak

berwarna, tidak berbau manis di ikuti

rasa hangat.

Kelarutan : Dapat bercampur dengan air dan

dengan etanol (95%) P, praktis tidak

larut dalam kloroform P dan dalam

minyak lemak.

Khasiat / kegunaan : Zat tambahan (pelarut)

5. Minyak Kelapa (Ditjen POM, Edisi III : 456)

Nama resmi : OLEUM COCOS

Sinonim : Minyak Kelapa

Berat Jenis : 0,940-0,950 g / Ml

Pemerian : Cairan jernih, tidak berwarna, atau

Kuning pucat, bau khas tidak tengik

Kelarutan : Larut dalam 2 bagian etanol (95%) p,

pada suhu 600C, sangat mudah larut

dalam kloroform P dan eter P

Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik,

terlindung dari cahaya, di tempat

sejuk

ZUMRATUL INAYAH VINA PURNAMASARI M,


S.Farm, M.Sc,Apt
15020140111 9
BJ DAN KERAPATAN

Penggunaan : zat tambahan

BAB III

ZUMRATUL INAYAH VINA PURNAMASARI M,


S.Farm, M.Sc,Apt
15020140111 10
BJ DAN KERAPATAN

METODE KERJA

A. Alat
Adapun alat yang digunakan pada pratikum kali ini adalah

Corong, Gelas ukur 50 mL, Piknometer 25 mL, Pipet tetes, Sendok

tanduk, Tap density, dan Tissue


B. Bahan
Alkohol 90%, Asam Borat, Paraffin Cair, Air Suling, Minyak

Kelapa, dan Gliserin


C. Cara Kerja:
1. Menentukan Kerapatan Bulk
a. Ditimbang asam borat sebanyak 10 g, letakkan pada kertas

timbang yang dilapisi aluminium foil.


b. Dimasukkan pada gelas ukur 50 mL.
c. Ukur volume asam borat dalam gelas ukur.
d. Dihitung kerapatan Bulk-nya.
bobot zat padat ( g )
Kerapatan Bulk=
Volume bulk ( mL )

2. Menentukan Kerapatan Mampat

a. Ditimbang asam borat sebanyak 10 g, letakkan pada kertas

timbang yang dilapisi aluminium foil.


b. Dimasukkan kedalam gelas ukur.
c. Lalu diketuk sebanyak 100 kali ketukan, menggunakan tap

density.
d. Diukur volume pada gelas ukur.
e. Dihitung kerapatan Mampatnya.
bobot zat padat ( g )
Kerapatan Mampat = Volume mampat ( mL )

3. Menentukan Kerapatan sejati (Anonim, 2017)


a. Timbang piknometer yang bersih dan kering beserta tutupnya
b. Isi piknometer dengan asam borat beserta tutupnya. Isikan minyak

goreng perlahan-lahan ke dalam piknometer berisi asam borat,

ZUMRATUL INAYAH VINA PURNAMASARI M,


S.Farm, M.Sc,Apt
15020140111 11
BJ DAN KERAPATAN

kocok-kocok, dan isi sampai penuh sehingga tidak ada gelembung

udara didalamnya
c. Timbang piknometer berisi asam borat dan minyak goreng

tersebut beserta tutupnya


d. Bersihkan piknometer dan isi penuh minyak goreng dan tutupnya
e. Hitung kerapatan zat menggunakan persamaan
(M 3M 1)
Kerapatan sejati = ( M 2M 1 )(M 4M 3)

M1 = Massa piknometer kosong beserta tutupnya


M2 = Massa piknometer penuh minyak goreng dengan tutupnya
M3 = Massa piknometer berisi asam borat beserta tutupnya
M4 = Massa piknometer berisi asam borat dan dipenuhi minyak

goreng beserta tutupnya


4. Menentukan Bobot Jenis Cairan
a. Gunakan piknometer yang bersih dan kering.
b. Timbang piknometer kosong lalu isi dengan air suling, bagian

luar piknometer dilap sampai kering dan ditimbang


c. Buang air suling tersebut, keringkan piknometer lalu isi dengan

minyak goreng yang akan diukur bobot jenisnya pada suhu yang

sama pada saat pemipetan dan timbang


d. Hitung bobot jenis minyak goreng menggunakan persamaan
W 3W 1
Dt =
W 2W 1

Dt = bobot jenis pada suhu t


W1= bobot piknometer kosong
W2 = bobot piknometer + air suling
W3 = bobot piknometer + cairan

ZUMRATUL INAYAH VINA PURNAMASARI M,


S.Farm, M.Sc,Apt
15020140111 12
BJ DAN KERAPATAN

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil dan Perhitungan


Tabel Hasil Pengamatan

kelompok 1 2 3 4 Rata-rata
Kerapatan
0,714 gr/ml 0,8 gr/ml 0,714 gr/ml 0,714 gr/ml 0,7355
bulk
Kerapatan
0,740 gr/ml 0,833 gr/ml 0,719 gr/ml 0,719 gr/ml 0,75275
mampat
Kerapatan
1,677 gr/ml 1,003 gr/ml 1,582 gr/ml 1,710 gr/ml 1,493
sejati
Absolut
1,2584 0,8696 0,8252
density 0,919 gr/ml 0,968
gr/ml gr/ml gr/ml
cairan
Absolut 1,0072 0,9768
1,011 gr/ml 0,97 gr/ml 0,99125
density air gr/ml gr/ml
Specyfic 0,9467
0,946 gr/ml 1,249 gr/ml 0,904 gr/ml 1,0114
graviti gr/ml

Perhitungan :
a. Kerapatan Bulk
bobot zat padat ( g )
Kerapatan Bulk=
Volume bulk ( mL )
10 gram
= 14 mL = 0,714 g/mL

b. Kerapatan Mampat
bobot zat padat ( g )
Kerapatan Mampat = Volume mampat ( mL )

10 gram
= 13,5 mL = 0,740 gr/mL

ZUMRATUL INAYAH VINA PURNAMASARI M,


S.Farm, M.Sc,Apt
15020140111 13
BJ DAN KERAPATAN

c. Kerapatan Sejati

(M 3M 1)
Kerapatan sejati = ( M 2M 1 )(M 4M 3)

(38,1018,16)
= ( 38,9518,16 )(47,0038,95)

19,94
= 20,798,9 = 1,677

d. Bobot Jenis
( B . Pikno +Cairan ) (B . Pikno kosong)
Density Absolut (minyak) = Volume Pikno
40,9918,00
= 25 = 0,919

( B . Pikno +air )( B . Pikno kosong)


Density Absolut (Air) = Volume Pikno
43,2918,00
= 25 = 1,011

Bobot cairan yang ditimbang


Specific Gravity = Bobot air yang ditimbang
40,99
= 43,29 = 0,946

W 3W 1
D t=
Bobot Jenis (Minyak goreng) W 2W 1
40,9918,00
= 43,2918,00

22,99
= 25,29 =0,90 g/mL

ZUMRATUL INAYAH VINA PURNAMASARI M,


S.Farm, M.Sc,Apt
15020140111 14
BJ DAN KERAPATAN

B. Pembahasan
Dalam percobaan ini akan dilakukan penentuan bobot

jenis dan rapat jenis dari sampel cairan dengan menggunakan

piknometer. Bobot jenis adalah perbandingan antara bobot sampel

dengan volume sampel, jadi satuannya adalah g/mL.


Metode yang digunakan dalam percobaan ini, yaitu

metode piknometer.Pada metode piknometer, bobot jenis suatu zat cair

ditentukan dengan berdasarkan pada selisih penimbangan piknometer

kosong dengan penimbangan piknometer berisi sampel yang kemudian

hasilnya dibagi dengan volume dari yang tertera pada piknometer yang

digunakan.
Sebelum memulai percobaan, terlebih dahulu piknometer

dibersihkan dengan menggunakan aquadest, kemudian dibilas dengan

alkohol untuk mempercepat pengeringan piknometer kosong tadi.

Setelah itu barulah piknometer ditimbang pada timbangan analitik

dalam keadaan kosong tentunya, tanpa pemasukan sampel.Dari hasil

penimbangan ini dapat dicari bobot jenis sampel nantinya, yakni

dengan menimbang piknometer berisi sampel terlebih dahulu,

ZUMRATUL INAYAH VINA PURNAMASARI M,


S.Farm, M.Sc,Apt
15020140111 15
BJ DAN KERAPATAN

kemudian bobot jenis diperoleh dengan memperkurangkannya dengan

berat piknometer kosong tadi.


Sampel yang digunakan dalam percobaan ini yaitu parafin

cair, asam borat, gliseril dan minyak kelapa (goreng).


Dalam percobaan yang dilakukan kita menentukan

kerapatan bulk, mampat dan sejati. Berdasarkan percobaan yang

dilakukan kami mendapat hasil dari kerapatan bulk yaitu sebesar 0,714

g/mL. Kerapatan mampat sebesar 0,740 g/mL g/ml dan kerapatan

sejati sebesar 1,677 g/ml Dalam percobaan ini kami juga menghitung

bobot jenis dari sampel yang kami gunakan yaitu minyak kelapa

(goreng) yang memiliki bobot jenis sebesar 0,90 g/ml.


Pada saat praktikum penentuan kerapatan dan bobot jenis

zat-zat tersebut sering terjadi penyimpangan sehingga memberikan

hasil yang berbeda dengan yang seharusnya (sesuai ketentuan di

Farmakope Indonesia).
Penyimpangan-penyimpangan ini antara lain disebabkan

oleh karena berbagai kesalahan pada saat melakukan praktikum.

Kesalahan penimbangan, cara penutupan piknometer yang salah,

pengaruh perubahan suhu yang terlalu cepat, piknometer belum benar-

benar kering dan bersih, volume air yang di masukkan ke dalam

piknometer tidak tepat, kebersihan, sampel yang terkontaminasi.

a) Penimbangan

Kesalahan akibat penimbangan ini bisa disebabkan

karena timbangan yang digunakan berganti-ganti. Sehingga hasil

ZUMRATUL INAYAH VINA PURNAMASARI M,


S.Farm, M.Sc,Apt
15020140111 16
BJ DAN KERAPATAN

penimbangan antara timbangan yang satu dengan yang lain belum

tentu sama.

b) Cara penutupan piknometer yang salah

Cara penutupan piknometer yang terlalu cepat dapat

menyebabkan air yang tumpah terlalu banyak sehingga tentu

mempengaruhi berat pada penimbangan.

c) Pengaruh perubahan suhu

Perubahan suhu yang terlalu cepat dapat menyebabkan

cairan di dalam piknometer memuai/menyusut dengan tidak

semestinya, sehingga pada waktu ditimbang zat tersebut

memberikan hasil yang berbeda dengan yang telah ditentukan.

d) Piknometer yang belum kering dan bersih

Piknometer yang demikian belum bisa digunakan untuk

penentuan kerapatan dan bobot jenis, karena masih ada

cairan/kontaminan yang tertinggal di dalamnya sehingga tentu saja

akan mempengaruhi hasil akhir.

e) Volume air yang tidak tepat

Volume air yang dimasukan ke dalam piknometer harus

tepat dengan yang telah ditentukan, karena jika terlalu banyak atau

terlalu sedikit maka akan mempengaruhi hasil akhir.

f) Sampel yang terkontaminasi

ZUMRATUL INAYAH VINA PURNAMASARI M,


S.Farm, M.Sc,Apt
15020140111 17
BJ DAN KERAPATAN

Sampel yang terkontaminasi tentu saja akan memberikan

hasil yang menyimpang, karena kemurnian zat tersebut sudah

berbeda dengan zat yang masih murni.

ZUMRATUL INAYAH VINA PURNAMASARI M,


S.Farm, M.Sc,Apt
15020140111 18
BJ DAN KERAPATAN

BAB V

PENUTUP

A. Kesimpulan
Adapun kesimpulan dari percobaan yang telah dilakukan

yaitu , bobot jenis zat cair yang diamati yaitu bobot jenis minyak kelapa

(goreng) sebesar 0,90 g/ml. Kerapatan zat padat yang diamati dalam

percobaan yaitu kerapatan bulk sebesar 0,714 g/mL, kerapatan

mampat sebesar 0,740 g/ml dan kerapatan sejati yaitu sebesar 1,677

g/ml. Mamfaat penentuan bobot jenis dan kerapatan dalam bidang

farmasi adalah memungkinkan melakukan pengukuran jumlah zat

dalam formula farmasetik dan bobot menjadi volume dan sebaliknya.


B. Saran
Sebaiknya setiap praktikan harus bisa menggunakan alat-

alat yang digunakan dalam praktikum ini dan sebaiknya praktikan

melakukan prosedur kerja dengan baik dengan pengawasan dan

bimbingan dari asisten.

DAFTAR PUSTAKA

Anonim,2017. Penuntun praktikum FARMASI FISIKA I.Universitas

Muslim Indonesia.Makassar

ZUMRATUL INAYAH VINA PURNAMASARI M,


S.Farm, M.Sc,Apt
15020140111 19
BJ DAN KERAPATAN

Ansel, C Howard, 2006. Kalkulasi Farmasetik. EGC : Jakarta.

Ansel ,C Howard, 2004. Kalkulasi Farmasetik. EGC.: Jakarta.

Brescia, Arents dan Meislich, 1975. Fundamental Chemistry. New

York.

Ditjen POM, 1979. FARMAKOPE INDONESIA edisi III.Departemen

kesehatan republik indonesia

Gibson, M., 2004, .Pharmaceutical Preformulation and formulation. HIS

Health Group, Tailor dan Prancis.

Martin,Alfred. 1990. Farmasi Fisik. Universitas Indonesia Press:

Jakarta.

Petrucci, R. H., 1985. General Chemistry, Principles and Application

4th Ed. Collier Mac Inc., New York.

Wahyu, Achmad, dkk., 2013 Rancang Bangun Sensor Specific Gravity

pada Crude Oil Menggunakan Serat Optik Plastik, JURNAL

TEKNIK POMITS Vol. 2, No. 2, (2013) ISSN: 2337-3539,

Fakultas Teknologi Industri, Institut Teknologi Sepuluh

Nopember (ITS), Surabaya.

Lampiran

Alat

ZUMRATUL INAYAH VINA PURNAMASARI M,


S.Farm, M.Sc,Apt
15020140111 20
BJ DAN KERAPATAN

Corong Piknometer Tepedensity

Gelas ukur Sendok tanduk Timbangan Analitik

Pipet Tetes

Bahan

ZUMRATUL INAYAH VINA PURNAMASARI M,


S.Farm, M.Sc,Apt
15020140111 21
BJ DAN KERAPATAN

Paravin Cair Alkohol

Aquadest Minyak Goreng

ZUMRATUL INAYAH VINA PURNAMASARI M,


S.Farm, M.Sc,Apt
15020140111 22
BJ DAN KERAPATAN

SKEMA KERJA

Kerapatan Bulk

10 g asam borat

Ditimbang di timbangan analitik

Masukkan kedalam gelas ukur

Dihitung kerapatan bulknya

ZUMRATUL INAYAH VINA PURNAMASARI M,


S.Farm, M.Sc,Apt
15020140111 23
BJ DAN KERAPATAN

Kerapatan Mampat

10 g asam borat

Ditimbang di timbangan analitik

Masukkan kedalam gelas ukur

Diketuk 100 kali ketukan

Menggunakan TapDensity

Diukur Volumenya pada gelas ukur

Dihitung kerapatan mampatnya

ZUMRATUL INAYAH VINA PURNAMASARI M,


S.Farm, M.Sc,Apt
15020140111 24
BJ DAN KERAPATAN

Kerapatan Sejati

Ditimbang Piknometer (kering & bersih)

Isi Piknometer dengan As.Borat & tutupnya

Ditambahkan minyak Kelapa(goreng) ke dalam piknometer

Kocok-kocok dan isi sampai penuh

Timbang piknometer + As.Borat, Minyak Kelapa(goreng)

Beserta tutupnya

Bersihkan Piknometer & isi penuh minyak kelapa(goreng)

Beserta tutupnya

Dihitung kerapatan Zat

ZUMRATUL INAYAH VINA PURNAMASARI M,


S.Farm, M.Sc,Apt
15020140111 25
BJ DAN KERAPATAN

Bobot Jenis

Ditimbang Piknometer (kering & bersih)

Isi Piknometer dengan Air suling & dilap bagian luarnya

Buang air suling & keringkan piknometer

Isi piknometer dengan Minyak kelapa (goreng)

Pada suhu yang sama pada saat pemipetan

Timbang piknometer + minyak goreng

Dihitung bobot jenisnya

ZUMRATUL INAYAH VINA PURNAMASARI M,


S.Farm, M.Sc,Apt
15020140111 26
BJ DAN KERAPATAN

VINA PURNAMASARI M, S.Farm, M.Sc,Apt

ZUMRATUL INAYAH VINA PURNAMASARI M,


S.Farm, M.Sc,Apt
15020140111 27