Anda di halaman 1dari 32

PENGGUNAAN VITAMIN DAN MINERAL

Makalah Disusun Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah


Swamedikasi

Dosen Pengampu: Caecilia Mutiarawati, M.Si., Apt.

Disusun oleh:

Risqa Annisa Villa Sumarsono (1061611106)

Rizta Pradita Darmaputra (1061611107)

Septiana Perwiraputri (1061611108)

Silvy Alifia (1061611109)

Sita Ayu Sintias (1061611110)

PROGRAM STUDI PROFESI APOTEKER


SEKOLAH TINGGI ILMU FARMASI YAYASAN PHARMASI
SEMARANG
2016
BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Vitamin dan Mineral

1.1.1. Vitamin

1.1.1.1. Pengertian Vitamin

Vitamin berasal dari kata vita yang berarti hidup dan amin yang berarti
suatu zat tertentu. Dengan kata lain, vitamin adalah suatu zat yang diperlukan
untuk hidup (Sediaoetama, 1987). Pendapat lain menyatakan bahwa vitamin
merupakan zat-zat organik yang dibutuhkan dalam jumlah kecil dan pada
umumnya tidak dapat dibentuk oleh tubuh dan harus didapat dari makanan.
Vitamin dapat termasuk kelompok zat pengatur dan pemelihara kehidupan
(Almatsier, 2003). Eschleman (1996) menyatakan bahwa vitamin adalah substansi
organik yang dibutuhkan dalam jumlah kecil untuk pertumbuhan dan memelihara
kehidupan. Beberapa vitamin mempunyai aktivitas seperti hormon, sedangkan
yang lain merupakan komponen enzim. Banyak enzim yang hanya dapat berfungsi
ketika berkombinasi dengan vitamin dan mineral tertentu.

1.1.1.2. Klasifikasi Vitamin

Almatsier (2001) menggolongkan vitamin berdasarkan karakter fisiknya,


yaitu vitamin larut lemak (vitamin A, D, E, K) dan vitamin larut air (vitamin C,
thiamin, ribovlavin, niasin, biotin, asam pantotenat, vitamin B6, vitamin B12, dan
asam folat).
Tabel 1. Sifat-sifat Umum Vitamin Larut Lemak dan Vitamin Larut Air

Vitamin Larut Lemak Vitamin Larut Air


- Larut dalam lemak dan pelarut lemak - Larut dalam air
- Kelebihan konsumsi dari yang - Simpanan sebagai kelebihan sangat
dibutuhkan disimpan dalam tubuh sedikit
- Dikeluarkan dalam jumlah kecil melalui - Dikeluarkan melalui urin
- Gejala defisiensi sering terjadi dengan
empedu
- Gejala defisiensi berkembang lambat cepat
- Tidak perlu selalu ada dalam makanan - Harus selalu ada dalam makanan sehari-
sehari-hari hari
- Mempunyai prekursor atau provitamin - Tidak punya prekursor
- Hanya mengandung unsur C, H, dan O - Selain C, H, O, juga mengandung N,
- Diabsorbsi melalui sistem limfe
kadang-kadang S dan Co
- Diabsorbsi melalui vena porta

Sumber : Almatsier (2001)

1.1.1.3. Fungsi Vitamin dalam Tubuh

Di dalam tubuh, berbagai zat makanan (zat pembangun, zat pemberi


tenaga, dan zat pengatur) diolah dalam reaksi-reaksi biokimiawi. Pengolahan ini
hanya terjadi jika zat pengatur khusus yang terdapat dalam sel dan cairan tubuh,
yang disebut enzim. Enzim hanya dapat berfungsi jika terdapat vitamin yang
merupakan penggiatnya, dalam bentuk koenzim. Enzim tidaklah lengkap dan
tidak dapat berfungsi bila tidak terdapat vitamin. Terlihat jelas bahwa vitamin
merupakan syarat untuk enzim agar dapat berfungsi menjalankan pengolahan zat-
zat makanan (Sediaoetomo, 1991). Pernyataan tersebut diperkuat dengan
pernyataan Almatser (2001) bahwa vitamin berperan dalam beberapa tahap reaksi
metabolisme energi, pertumbuhan dan pemeliharaan tubuh, pada umumnya
sebagai koenzim atau bagian dari enzim.

1.1.1.4. Fungsi Vitamin dalam Tubuh

Bahan makanan sumber vitamin umumnya terdiri atas bahan makanan


nabati, yaitu sayur-sayuran dan buah-buahan. Sayur-sayuran yang berdaun hijau
merupakan sumber vitamin yang baik dan banyak kandungannya. Selain itu,
sumber vitamin juga terdapat dalam buah-buahan, terutama buah-buahan yang
berwarna kuning, merah, jingga, merupakan bahan makanan yang kaya akan
vitamin A dalam bentuk provitaminnya (Sediaoetomo, 1987).
1. Vitamin A
Vitamin A atau retinal merupakan senyawa poliisoprenoid yang
mengandung cincin sikloheksenil. Senyawa-senyawa tersebut adalah retinal, asam
retinoat dan retinol. Hanya retinol yang memiliki aktivitas penuh vitamin A, yang
lainnya hanya mempunyai sebagian fungsi vitamin A. Vitamin A mempunyai
provitamin yaitu karoten.Pada sayuran vitamin A terdapat sebagai provitamin
dalam bentuk pigmen berwarna kuning karoten. Tetapi karena karoten tidak
mengalami metabolisme yang efisien ,maka karoten mempunyai efektifitas
sebagai sumber vitamin A hanya sepersepuluh retinal. Retinal dalam fraksi yang
kecil teroksidasi menjadi asam retinoat. Sebagian besar retinal mengalami
esterifikasi dengan asam-asam lemak dan menyatu ke dalam kilomikron limfe
yang masuk ke dalam aliran darah.Bentuk ini kemudian diubah menjadi fragmen
kilomikron yang diambil oleh hati bersama-sama dengan kandungan retinolnya.
Di dalam hati, vitamin A disimpan dalam bentuk ester di dalam liposit, yang
mungkin sebagai suatu kompleks lipoglikoprotein. Untuk pengangkutan ke
jaringan, vitamin A dihidrolisis dan retinal yang terbentuk terikat dengan protein
pengikat aporetinol ( RBP ). Holo- RBP yang dihasilkan diproses dalam apparatus
golgi dan disekresikan ke dalam plasma . Asam retinoat diangkut dalam plasma
dalam keadaan terikat dengan albumin. Begitu di dalam sel-sel ekstrahepatik,
retinal terikat dengan protein pengikat retinol seluler (CRBP). Toksisitas vitamin
A terjadi setelah kapasitas RBP dilampaui dan sel-sel tersebut terpapar pada
retinal yang terikat.
Retinal dan retinol mengalami interkonversi dengan adanya enzim-enzim
dehidrogenase atau reduktase yang memerlukan NAD atau NADP di dalam
banyak jaringan. Namun demikian, begitu terbentuk dari retinal, asam retinoat
tidak dapat diubah kembali menjadi retinal atau menjadi retinol. Asam retinoat
dapat mendukung pertumbuhan dan differensiasi, tetapi tidak dapat menggantikan
retinal dalam peranannya pada penglihatan atau pun retinol dalam dukungannya
pada system reproduksi. Retinal merupakan komponen pigmen visual
rodopsin,yang mana rodopsin terdapat dalam sel-sel batang retina yang
bertanggung jawab atas penglihatan pada saat cahaya kurang terang. .Ketika
terkena cahaya, rodopsin akan terurai serta membentuk all-trans retinal dan opsin.
Reaksi ini disertai dengan perubahan bentuk yang menimbulkan saluran ion
kalsium dalam membran sel batang. Aliran masuk ion-ion kalsium yang cepat
akan memicu impuls syaraf sehingga memungkin cahaya masuk ke otak Asam
retinoat turut serta dalam sintesis glikoprotein. Hal ini dapat dijelaskan bahwa
asam retinoat bekerja dalam menggalakkan pertumbuhan dan differensiasi
jaringan. Retinoid dan karotenoid memiliki aktivitas antikanker.Banyak penyakit
kanker pada manusia timbul dalam jaringan epitel yang tergantung pada retinoid
untuk berdifferensiasi seluler yang normal .karoten merupakan zat antioksidan
dan mungkin mempunyai peranan dalam menangkap radikal bebas peroksi di
dalam jaringan dengan tekanan parsial oksigen yang rendah. Kemampuan
karoten bertindak sebagai antioksidan disebabkan oleh stabilisasi radikal bebas
peroksida di dalam struktur alkilnya yang terkonjugasi. Karena karoten efektif
pada konsentrasi oksigen yang rendah, zat provitamin ini melengkapi sifat-sifat
antioksidan yang dimiliki vitamin E yang efektif dengan konsentrasi oksigen yang
lebih tinggi.

2. Vitamin D
Vitamin D merupakan prohormon steroid.Vitamin ini diwakili oleh
sekelompok senyawa steroid yang terutama terdapat pada hewan, tetapi juga
terdapat dalam tanaman serta ragi. Melalui berbagai proses metabolic,vitamin D
dapat menghasilkan suatu hormon yaitu Kalsitriol, yang mempun yaitu peranan
sentral dalam metabolisme kalsium dan fosfat. Vitamin D dihasilkan dari
provitamin ergosterol dan 7- dehidrokolesterol. Ergosterol terdapat dalam
tanaman dan 7dehidrokolesterol dalam tubuh hewan. Ergokalsiferol (vitamin D 2
) terbentuk dalam tanaman, sedangkan di dalam tubuh hewan akan terbentuk
kolekalsiferol (vitamin D 3 ) pada kulit yang terpapar cahaya.Kedua bentuk
vitamin tersebut mempunyai potensi yang sama ,yaitu masing-masing dapat
menghasilkan kalsitriol D 2 dan D 3 . Vitamin D 3 ataupun D 2 dari makanan
diekstraksi dari dalam darah ( dalam keadaan terikat dengan globulin spesifik),
setelah absorbsi dari misel dalam intestinum. Vitamin tersebut mengalami
hidroksilasi pada posisi 25 oleh enzim vitamin D 3 25 hidroksikolekalsiferol,
yaitu suatu enzim pada retikulum endoplasmic yang dianggap membatasi
kecepatan reaksi. 25- hidroksi D 3 merupakan bentuk utama vitamin D dalam
sirkulasi darah dan bentuk cadangan yang utama dalam hati.
3. Vitamin E ( Tokoferol )
Penyerapan aktif lemak meningkatkan absorbsi vitamin E. Gangguan
penyerapan lemak dapat menimbulkan defisiensi vitamin E. Vitamin E di dalam
darah diangkut oleh lipoprotein, pertama- tama lewat penyatuan ke dalam
kilomikron yang mendistribusikan vitamin ke jaringan yang mengandung
lipoprotein lipase serta ke hati dalam fragmen sisa kilomikron, dan kedua, lewat
pengeluaran dari dalam hati dalam lipoprotein berdensitas sangat rendah ( VLDL ).
Vitamin E disimpan dalam jaringan adiposa Vitamin E (tokoferol) bertindak
sebagai antioksidan dengan memutuskan berbagai reaksi rantai radikal bebas
sebagai akibat kemampuannya untuk memindahkan hydrogen fenolat kepada
radikal bebas perksil dari asam lemak tak jenuh ganda yang telah mengalami
peroksidasi . Radikal bebas fenoksi yang terbentuk kemudian bereaksi dengan
radikal bebas peroksil selanjutnya. Dengan demikian tokoferol tidak mudah
terikat dalam reaksi oksidasi yang reversible, cincin kromana dan rantai samping
akan teroksidasi menjadi produk non radikal bebas.
Vitamin E dirusak oleh pemasakan dan pengolahan makanan yang
bersifat komersial,termasuk pembekuan. Benih gandum, minyak biji bunga
matahari serta biji softlower, dan minyak jagung serta kedelai, semuanya
merupakan sumber vitamin E yang baik.
4. Vitamin K
Vitamin yang tergolong ke dalam kelompok vitamin K adalah
naftokuinon tersubsitusi poliisoprenoid. Penyerapan vitamin K memerlukan
penyerapan lemak yang normal. Malabsorbsi lemak merupakan penyebab paling
sering timbulnya defisiensi vitamin K. Derivat vitamin K dalam bentuk alami
hanya diserap bila ada garam-garam empedu, seperti lipid lainnya, dan
didistribusikan dalam aliran darah lewat system limfatik dalam kilomikron.
Menadion, yang larut dalam air , diserap bahkan dalam keadaan tanpa adanya
garam-garam empedu, dengan melintas langsung ke dalam vena porta hati .
Vitamin K ternyata terlibat dalam pemeliharaan kadar normal factor pembekuan
darah II, VII, IX dan X, yang semuanya disintesis di dalam hati mula-mula
sebagai precursor inaktif.
Vitamin K bekerja sebagai kofaktor enzim karboksilase yang membentu
residu karboksiglutamat dalam protein precursor. Reaksi karboksilase yang
tergantung vitamin K terjadi dalam retikulum endoplasmic. Banyak jaringan dan
memerlukan oksigen molekuler, karbondioksida serta hidrokuinon ( tereduksi )
vitamin K dan di dalam siklus ini, produk 2,3 epoksida dari reaksi karboksilase
diubah oleh enzim 2,3 epoksida reduktase menjadi bentuk kuinon vitamin K
dengan menggunakan zat pereduksi ditiol yang masih belum teridentifikasi.
Reduksi selanjutnya bentuk kuinon menjadi hidrokuinon oleh NADH melengkapi
siklus vitamin K untuk menghasilkan kembali bentuk aktif vitamin tersebut.
Vitamin K tersebar luas dalam jaringan tanaman dan hewan yang digunakan
sebagai bahan makanan dan produksi vitamin K oleh mikroflora intestinal pada
hakekatnya menjamin tidak terjadinya defisiensi vitamin K.
5. Tiamin
Bentuk aktif dari tiamin adalah tiamin difosfat, di mana reaksi konversi
tiamin menjadi tiamin difosfat tergantung oleh enzim tiamin difosfotransferase
dan ATP yang terdapat di dalam otak dan hati.Tiamin difosfat berfungsi sebagai
koenzim dalam sejumlah reaksi enzimatik dengan mengalihkan unit aldehid yang
telah diaktifkan yaitu pada reaksi :
1. Dekarboksilasi oksidatif asam-asam - keto ( misalnya - ketoglutarat,
piruvat, dan analog - keto dari leusin isoleusin serta valin).
2. Reaksi transketolase (misalnya dalam lintasan pentosa fosfat).
Semua reaksi ini dihambat pada defisiensi tiamin.
6. Riboflavin
Riboflavin disintesis dalam tanaman dan mikroorganisme, namun tidak
dibuat dalam tubuh mamalia. Ragi, hati dan ginjal merupakan sumber riboflavin
yang baik dan vitamin ini diabsorbsi dalam intestinum lewat rangkaian
reaksifosforilasi defosforilasi di dalam mukosa. Berbagai hormon ( misalnya
hormon tiroid dan ACTH ), obat-obatan (misalnya klorpromazin,suatu inhihibitor
kompetitif ) dan factor-faktor nutrisi mempengaruhi konversi riboflavin menjadi
bentuk-bentuk kofaktornya. Karena sensitivitasnya terhadap cahaya,defisiensi
riboflavin dapat terjadi pada bayi yang baru lahir dengan hiperbilirubinemia yang
mendapat fototerapi.
7. Niasin
Niasin merupakan nama generik untuk asam nikotinat dan nikotinamida
yang berfungsi sebagai sumber vitamin tersebut dalam makanan. Asam nikotinat
merupakan derivat asam monokarboksilat dari piridin. Bentuk aktif sari niasin
adalah Nikotinamida Adenin Dinukleotida (NAD+) dan Nikotinamida Adenin
Dinukleotida Fosfat ( NADP+). Nukleotida nikotinmida mempunyai peranan yang
luas sebagai koenzim pada banyak enzim dehidrogenase yang terdapat di dalam
sitosol ataupun mitokondria. Dengan demikian vitamin niasin merupakan
komponen kunci pada banyak lintasan metabolic yang mengenai metabolisme
karbohidrat, lipid serta asam amino.

8. Vitamin B6
Vitamin B6 terdiri atas derivat piridin yang berhubungan erat yaitu
piridoksin, piridoksal serta piridoksamin dan derivat fosfatnya yang bersesuaian.
Bentuk aktif dari vitamin B6 adalah piridoksal fosfat, di mana semua bentuk
vitamin B6 diabsorbsi dari dalam intestinum , tetapi hidrolisis tertentu senyawa-
senyawa ester fosfat terjadi selama proses pencernaan. Piridksal fosfat merupakan
bentuk utama yang diangkut dalam plasma . Sebagian besar jaringan mengandung
piridoksal kinase yang dapat mengkatalisis reaksi fosforilasi oleh ATP terhadap
bentuk vitamin yang belum terfosforilasi menjadi masing- masing derivat ester
fosfatnya. Piridoksal fosfat merupakan koenzim pada beberapa enzim dalam
metabolisme asam aimno pada proses transaminasi, dekarboksilasi atau aktivitas
aldolase. Piridoksal fosfat juga terlibat dalam proses glikogenolisis yaitu pada
enzim yang memperantarai proses pemecahan glikogen. Hati, ikan mackel,
alpukat, pisang, daging, sayuran dan telur merupakan sumber vitamin B6 yang
terbaik.
9. Vitamin B12
Vitamin B12 disimpan dalam hati terikat dengan transkobalamin I.
Koenzim vitamin B12 yang aktif adalah metilkobalamin dan
deoksiadenosilkobalamin. Metilkobalamin merupakan koenzim dalam konversi
Homosistein menjadi metionin dan juga konversi Metiltetrahidrofolat menjadi
tetrafidrofolat. Deoksiadenosilkobalamin adalah koenzim untuk konversi
metilmalonil Ko A menjadi suksinil Ko A. Kekurangan atau defisiensi vitamin
B12 menyebabkan anemia megaloblastik. Karena defisiensi vitamin B12 akan
mengganggu reaksi metionin sintase. Anemia terjadi akibat terganggunya sintesis
DNA yang mempengaruhi pembentukan nukleus pada ertrosit yang baru .
Keadaan ini disebabkan oleh gangguan sintesis purin dan pirimidin yang terjadi
akibat defisiensi tetrahidrofolat. Homosistinuria dan metilmalonat asiduria juga
terjadi. Kelainan neurologik yang berhubungan dengan defisiensi vitamin B12
dapat terjadi sekunder akibat defisiensi relatif metionin.
10. Asam Askorbat (Vitamin C)
Asam Askorbat Bentuk aktif vitamin C adalah asam askorbat itu sendiri
dimana fungsinya sebagai donor ekuivalen pereduksi dalam sejumlah reaksi
penting tertentu. Asam askorbat dioksidasi menjadi asam dehidroaskorbat ,yang
dengan sendirinya dapat bertindak sebagai sumber vitamin tersebut. Mekanisme
kerja asam askorbat dalam banyak aktivitasnya masih belum jelas, tetapi proses di
bawah ini membutuhkan asam askorbat :
- Hidroksilasi prolin dalam sintesis kolagen.
- Proses penguraian tirosin, oksodasi P- hidroksi fenilpiruvat menjadi
homogentisat memerlukan vitamin C yang bisa mempertahankan keadaan
tereduksi pada ion tembaga yang diperlukan untuk memberikan aktivitas
maksimal.
- Sintesis epinefrin dari tirosin pada tahap dopamine-hidroksilase.
- Pembentukan asam empedu pada tahap awal 7 alfa hidroksilase.
- Korteks adrenal mengandung sejumlah besar vitamin C yang dengan cepat
akan terpakai habis kalau kelenjer tersebut dirangsang oleh hormon
adrenokortikotropik.
- Penyerapan besi digalakkan secara bermakna oleh adanya vitamin C.
- Asam askorbat dapat bertindak sebagai antioksidan umum yang larut dalam
air dan dapat menghambat pembentukan nitrosamin dalam proses pencernaan
(Triana, 2006).
1.1.1.5. Akibat Kekurangan dan Kelebihan Vitamin

Tabel 2. Akibat Kekurangan dan Kelebihan Vitamin

No. Vitamin Akibat Kekurangan Akibat Kelebihan


Buta senja, perubahan pada Sakit kepala, pusing, rambut
mata, kulit kasar, dan rontok, kulit kering, tidak nafsu
1. Vitamin A
pertumbuhan tulang makan, mual
terhambat
Ricketsia, osteomalacia, Konsumsi 5 kali AKG
osteoporosis menyebabkan keracunan,
2. Vitamin D
klasifikasi pada jaringan tubuh
seperti ginjal dan paru-paru
Hemolisis eritrosit, sindroma Keracunan, gangguan pada saluran
neurologik sehingga cerna, mencegah penggumpalan
3. Vitamin E
kehilangan koordinasi dan darah
refleks otot
Darah tidak menggumpal Hemolisis sel darah merah, sakit
4. Vitamin K
kuning, kerusakan pada otak
Skorbut, lelah, nafas pendek, Hiperkalsiuria, resiko tinggi batu
5. Vitamin C kejang otot, kulit kering, ginjal, diare
perdarahan gusi
6. Vitamin B1 Gangguan sistem syaraf dan Sangat jarang terjadi. Bila sangat
jantung berlebihan mengakibatkan sakit
(Thiamin) kepala, lemah, lumpuh, detak
jantung tidak beraturan
Mata panas dan gatal, tidak Tidak beracun. Asupan tinggi akan
Vitamin B2 tahan cahaya, bibir meradang, cepat dikeluarkan oleh tubuh
7.
(Riboflavin) stomatitis angular (sudut
mulut pecah)
Kelemahan otot, anoreksia, Kulit kemerahan
8. Niasin gangguan pencernaan,
pelagra, kulit memerah
Rasa lelah, kurang nafsu Belum diketahui
9. Biotin makan, otot sakit, kulit kering
dan bersisik, alopesia
Muntah, diare, lelah, susah Akumulasi gas, menstimulasi
10. Asam pantotenat tidur, rasa tidak enak pada motolitas saluran pecernaan yang
saluran cerna dapat menyebabkan diare
Gangguan pertumbuhan, Kerusakan pada syaraf yang tidak
gangguan fungsi motorik, bisa diperbaiki
11 Vitamin B6 kejang-kejang, anemia,
penurunan pembentukan
antibody, peradangan lidah
12. Vitamin B12 Anemia, gangguan syaraf Tidak diketahui
13. Asam Folat Anemia megaloblastik Keracunan kelebihan jarang terjadi
Sumber : Guthrie (1995) dan Almatsier (2001)

1.1.2. Mineral

1.1.2.1. Pengertian Mineral

Mineral adalah bagian dari tubuh yang memegang peranan dalam pemeliharaan
fungsi tubuh, baik tingkat sel, jaringan, organ, maupun fungsi tubuh secara keseluruhan.
Mineral berperan dalam berbagai tahap metabolisme, terutama sebagai kofaktor dalam
aktivitas enzim. Keseimbangan ion-ion mineral di dalam cairan tubuh diperlukan untuk
mengatur kerja enzim-enzim, pemeliharaan keseimbangan asam basa, membantu transfer
ikatan-ikatan penting melalui membran sel dan pemeliharaan kepekaan otot dan syaraf
terhadap rangsangan (Almatsier, 2001).

1.1.2.2. Klasifikasi Mineral

Menurut jenisnya, klasifikasi mineral dibedakan menjadi :


Mineral Organik
Mineral yang dibutuhkan serta berguna bagi tubuh kita, yang dapat kita
peroleh melalui makanan yang kita konsumsi setiap hari seperti nasi,
ayam, ikan, telur, sayur-sayuran serta buah-buahan, atau vitamin
tambahan.
Mineral Anorganik
Mineral yang tidak dibutuhkan serta tidak berguna bagi tubuh kita.
Contohnya: Timbal Hitam (Pb), Iron Oxide (Besi Teroksidasi), Mercuri,
Arsenik, Magnesium, Aluminium atau bahan-bahan kimia hasil dari
resapan tanah dan lain.
Menurut bentuknya, klasifikasi mineral dibedakan menjadi 2, yaitu :
Mineral Makro
Mineral makro dibutuhkan tubuh dalam jumlah lebih dari 100 mg/hari.
Contohnya : Natrium (Na), Kalium (K), Klor (Cl), Kalsium (Ca), Fosfor
(P), dan Magnesium (Mg).
Mineral Mikro
Mineral mikro dibutuhkan tubuh dalam jumlah kurang dari 100 mg/hari.
Contohnya adalah : besi (Fe), seng (Zn), iodium (I), tembaga (Cu), krom
(Cr), selenium (Se), fluor (F) (Almatsier, 2001).

1.1.2.3. Jenis dan Peranan Mineral Makro dan Mikro

1.1.2.3.1. Mineral Makro

1. Natrium (Na)

Natrium merupakan kation utama dalam cairan ekstraseluler.


Sejumlah 35-40 % terdapat dalam kerangka tubuh. Cairan saluran cerna,
samaseperti cairan empedu dan pancreas mengandung banyak natrium.
Sumber utama natrium adalah garam dapur (NaCl). Sumber natrium yang lain
berupa monosodium glutamate (MSG), kecap dan makanan yang diawetkan
dengan garam dapur. Makanan yang belum diolah, sayur dan buah mengandung
sedikit natrium. Sumber lainnya seperti susu, daging, telur, ikan, mentega dan
makanan laut lainnya.Fungsi dari natrium antara lain :
- Menjaga keseimbangan cairan dalam kompartemen ekstraseluer.
- Mengatur tekanan osmosis yang menjaga cairan tidak keluar dari darah dan
masuk ke dalam sel.
- Menjaga keseimbangan asam basa dalam tubuh dengan mengimbangi zat-zat yang
membentuk asam.
- Berperan dalam transmisi saraf dan kontraksi otot.
- Berperan dalam absorbsi glukosa dan sebagai alat angkut zat gizi lain
melalui membran, terutama melalui dinding usus sebagai pompa natrium.
2. Klor (Cl)

Klor merupakan anion utama cairan ekstraselular. Konsentrasi klor


tertinggi adalah dalam cairan serebrospinal (otak dan sumsum tulang
belakang), lambung , dan pankreas. Klor terdapat bersamaan dengan natrium
dalam garam dapur. Beberapa sayuran dan buah juga mengandung klor.
Fungsi dari klorida ini antara lain :
- Berperan dalam memelihara keseimbangan cairan dan elektrolit dalam
cairan ekstraseluler.
- Memelihara suasana asam dalam lambung sebagai bagian dari HCL, yang
diperlukan untuk bekerjanya enzim-enzim pencernaan.
- Membantu pemeliharaan keseimbangan asam dan basa bersama unsur-unsur
pembentuk asam lainnya.
- Ion klor dapat dengan mudah keluar dari sel darah merah danmasuk ke
dalam plasma darah guna membantu mengangkutkarbondioksida ke paru-
paru dan keluar dari tubuh.
- Mengatur sistem rennin-angiotensin-aldosteron yang mengatur
keseimbangan cairan tubuh.

3. Kalium (K)
Kalium merupakan ion yang bermuatan positif dan terdapat didalam
sel dan cairan intraseluler. Kalium berasal dari tumbuh-tumbuhan dan hewan.
Sumber utama adalah makanan segar/ mentah, terutama buah, sayuran dan kacang-
kacangan. Fungsi dari kalium antara lain :
- Berperan dalam pemeliharaan keseimbangan cairan dan elektrolit serta
keseimbangan asam dan basa bersama natrium.
- Bersama kalsium, kalium berperan dalam transmisi saraf dan kontraksi
otot.
- Di dalam sel, kalium berfungsi sebagai katalisator dalam banyak reaksi
biologi, terutama metabolisme energi dansintesis glikogen dan protein.
- Berperan dalam pertumbuhan sel.
4. Kalsium (Ca)

Kalsium merupakan mineral yang paling banyak dalam tubuh


yang berada dalam jaringan keras yaitu tulang dan gigi. Di dalam cairan
ekstraseluler dan intraseluler, kalsium berperan penting dalam mengatur
fungsi sel, seperti untuk transmisi saraf, kontraksi otot, penggumpalan
darah dan menjaga permebialitas membran sel. Kalsium mengatur kerja
hormon dan faktor pertumbuhan.
Sumber kalsium terutama pada susu dan hasilnya, seperti keju.
Ikan dimakan dengan tulang, termasuk ikan kering merupakan sumber
kalsium yang baik, udang, kerang, kepiting, kacang-kacangan dan hasil
olahanannya, daun singkong, daun lamtoro. Sebanyak 30-50 %
kalsium yang dikonsumsi diabsorpsi tubuh yang terjadi di bagian atas usus
halus yaitu duodenum. Kalsium membutuhkan pH 6 agar dapat berada
dalam kondisi terlarut. Absorpsi kalsium terutama dilakukan secara aktif
dengan menggunakan alat angkut protein-pengikat kalsium. Absorpsi
pasif terjadi pada permukaan saluran cerna. Kalsium hanya bisa diabsorpsi
bila terdapat dalam bentuk larut air dan tidak mengendap karena unsur
makanan lain. Kalsium yang tidak diabsorpsi dikeluarkan melalui feses.
Kehilangan kalsium dapat terjadi melalui urin, sekresi cairan yang masuk
saluran cerna serta keringat. Fungsi utama dari kalsium antara lain :
- Pembentukan tulang dan gigi.
- Kalsium dalam tulang berguna sebagai bagian integral dari struktur tulang
dan sebagai tempat menyimpan kalsium.
- Mengatur pembekuan darah.
- Katalisator reaksi biologik, seperti absorpsi vitamin B12, tindakan enzim
pemecah lemak, lipase pancreas, eksresi insulin oleh pancreas,
pembentukan dan pemecahan asetilkolin.
- Relaksasi dan Kontraksi otot, dengan interaksi protein yaituaktin dan
myosin.
- Berperan dalam fungsi saraf, tekanan darah dan fungsi kekebalan.
- Meningkatkan fungsi transport membran sel, stabilisator membrane, dan
transmisi ion melalui membrane organel sel.
5. Fosfor (P)

Fosfor merupakan mineral kedua terbanyak dalam tubuh, sekitar


1% dari berat badan. Fosfor terdapat pada tulang dan gigi serta dalam sel
yaitu otot dan cairan ekstraseluler. Fosfor merupakan bagian dari asam
nukleat DNA dan RNA. Sebagai fosfolipid, fosfor merupakan komponen
struktural dinding sel. Sebagai fosfat organic, fosfor berperan dalam reaksi
yang berkaitan dengan penyimpanan atau pelepasan energi dalam bentuk
Adenin Trifosfat (ATP). Fosfor terdapat pada semua sel mahluk hidup,
terutama makanan kaya protein, seperti daging, ayam, ikan, telur, susu dan
hasilnya, kacang-kacangan serta serealia.
Fosfor dapat diabsorpsi secara efisien sebagai fosfor bebas didalam
usus setelah dihidrolisis dan dilepas dari makanan oleh enzim alkalin
fosfatase dalam mukosa usus halus dan diabsorpsi secara aktif yang
dibantu oleh bentuk aktif vitamin D dan difusi pasif. Kadar fosfor dalam
darah diatur oleh hormone paratiroid (PTH) yang dikeluarkan oleh
kelenjar paratiroid dan hormone kalsitonin serta vitamin D,
untuk mengontrol jumlah fosfor yang diserap, jumlah yang ditahan oleh
ginjal, jumlah yang dibebaskan dan disimpan dalam tulang. PTH
menurunkan reabsorpsi fosfor oleh ginjal. Kalsitonin meningkatkan
eksresi fosfat oleh ginjal. Fungsi dari fosfor antara lain :

- Kalsifikasi tulang dan gigi melalui pengendapan fosfor pada matriks


tulang.
- Mengatur peralihan energi pada metabolisme karbohidrat, protein dan
lemak melalui proses fosforilasi fosfor dengan mengaktifkan berbagai
enzim dan vitamin B.3.
- Absorpsi dan transportasi zat gizi serta system buffer.
- Bagian dari ikatan tubuh esensial yaitu RNA dan DNA serta ATP dan
fosfolipid.
- Mengatur keseimbangan asam basa.
6. Magnesium (Mg)

Magnesium adalah kation terbanyak setelah natrium di dalam


cairan interselular. Magnesium merupakan bagian dari klorofil daun.
Peranan magnesium dalam tumbuh-tumbuhan sama dengan peranan zat
besi dalam ikatan hemoglobin dalam darah manusia yaitu
untuk pernafasan. Magnesium terlibat dalam berbagai proses metabolisme.
Magnesium terdapat dalam tulang dan gigi, otot, jaringan lunak dan cairan
tubuh lainnya. Sumber utama magnesium adalah sayur hijau, serealia
tumbuk, biji-bijian dan kacang-kacangan. Daging, susu dan hasilnya serta
cokelat merupakan sumber magnesium yang baik. Fungsi dari magnesium antara lain
:
- Berperan penting dalam system enzim dalam tubuh.
- Berperan sebagai katalisator dalam reaksi biologic termasuk metabolisme
energi, karbohidrat, lipid, protein dan asam nukleat, serta dalam sintesis,
degradasi, dan stabilitas bahan gen DNA di dalam semua sel jaringan
lunak.
- Di dalam sel ekstraselular, magnesium berperan dalam transmisi saraf,
kontraksi otot dan pembekuan darah. Dalam hal ini magnesium
berlawanan dengan kalsium. Magnesium mencegah kerusakan gigi dengan
cara menahan kalsium dalam email gigi.
7. Sulfur (S)

Sulfur merupakan bagian dari zat-zat gizi esensial, seperti vitamin


tiamin dan biotin serta asam amino metionin dan sistein. Rantai samping
molekul sistein yang mengandung sulfur berkaitan satu sama lain sehingga
membentuk jembatan disulfide yang berperan dalam menstabilkan
molekul protein. Sulfur terdapat dalam tulang rawan, kulit, rambut dan
kuku yang banyak mengandung jaringan ikat yang bersifat kaku. Sumber
sulfur adalah makanan yang mengandung berprotein.Sulfur berasal dari
makanan yang terikat pada asam amino yang mengandung sulfur yang
diperlukan untuk sintesis zat-zat penting. Berperan dalam reaksi oksidasi-
reduksi, bagian dari tiamin, biotin dan hormone insuline serta membantu
detoksifikasi. Sulfur juga berperan melarutkan sisa metabolisme sehingga
bisa dikeluarkan melalui urin, dalam bentuk teroksidasi dan dihubungkan
dengan mukopolisakarida (Azhar, 2012).

1.1.2.3.2. Mineral Mikro

1. Besi (Fe)
Tubuh manusia mengandung lebih kurang 3,5-4,5 gram zat besi,
dimana dua per tiganya ditemukan di dalam darah, sementara sisanya
ditemukan di dalam hati, sumsum tulang, otot. Peranannya dalam produksi
sel darah merah sudah sangat terkenal, terutama untuk kaum wanita.
Sumber-sumber alami zat besi adalah: daging sapi, daging ayam,d an
sayur-sayuran berwarna hijau tua.
2. Seng (Zn)
Fungsi seng terbilang sangat vital bagi kelangsungan hidup sel-sel
tubuh manusia. Salah satunya sebagai zat perantara bagi lebih 70 macam
enzim dan protein yang ada di tubuh manusia. Enzim sendiri berperan
dalam metabolisme seluruh sel-sel ditubuh manusia, maka jika enzim-
enzim tidak terbentuk sempurna, fungsi sel tubuh akan terganggu. Selain
itu, seng berperan pula dalam proses pembentukan genetik, yaitu pada
DNA.
3. Yodium (I)

Jenis mineral ini, selalu dihubung-hubungkan dengan garam.


Bahkan WHO, lembaga kesehatan dunia milik PBB, pernah
mencanangkan gerakan konsumsi garam beryodium di negara
berkembang. Sebenarnya yodium hanyalah mineral yang 'dititipkan' pada
garam. Hal ini disebabkan karena sebagian besar masyarakat di dunia
menggunakan garam untuk memasak. Namun, sumber yodium terbesar
adalah seafood, seperti: kerang, udang, rumput laut dan aneka ikan serta
hasil olahannya.
Peran yodium bagi tubuh sebagai mikro mineral yang sangat
dibutuhkan oleh tubuh. Di dalam tubuh, yodium sangat dibutuhkan oleh
kelenjar tiroid (kelenjar yang agak besar dan berada di leher depan bagian
bawah). Oleh kelenjar tiroid, yodium digunakan untuk memproduksi
tiroksin. Tiroksin adalah hormon yang mengatur aktivitas berbagai organ,
mengontrol pertumbuhan, membantu proses metabolisme, bahkan
menentukan berapa lama seseorang bertahan untuk hidup.
Kebutuhan yodium perhari sekitar 1-2 mikrogram per kg berat
badan. Kecukupan yang dianjurkan sekitar 40-120 mikrogram/ hari untuk
anak sampai umur 10 tahun, 150 mikrogram/ hari untuk orang dewasa.
Untuk wanita hamil dan menyusui dianjurkan tambahan masing-masing 25
mikrogram dan 50 mikrogram/ hari.

4. Selenium
Selenium telah menunjukkan diri sebagai salah satu dari agen-agen
antikanker yang lebih kuat. Apabila digabungkan dengan vitamin E,
efektivitas keduanya terhadap kanker akan sangat meningkat. Mereka
bersama-sama bekerja sebagai antikanker yang kuat, sistem antipenuaan
yang disebut glutation peroksidase (GSH). Kombinasi ini membentuk satu
antioksidan yang paten, dan karenanya, pemakan radikal bebas ini melindungi
membran-membran sel dari serangan radikal bebas. GSH oleh beberapa
orang dilukiskan menyerupai miniatur kekuatan polisi yang mencari dan
menghancurkan sel-sel pemberontak dan radikal-radikal bebas dalam
tubuh. Tidak usah ditanyakan lagi bahwa mereka merupakan senjata
penting bagi tubuh untuk mencegah kanker. Jumlah vitamin E dalam diet
seseorang mempengaruhi kadar GSH di dalam tubuh. Sejumlah
kemampuan murni lainnya yang ditunjukkan oleh selenium:
- Meningkatkan efisiensi sehingga DNA dapat memperbaiki dirinyasendiri.
Pada kadar tinggi selenium bersifat langsung sebagai racun terhadapsel-sel
kanker.
- Menghambat pertumbuhan tumor dalam jaringan payudara manusia.
- Dapat mendeaktivasi toksisitas radiasi di dalam tubuh.
- Bekerja membersihkan darah dari efek kemoterapi dan malfungsi liver.
- Merupakan stimulan yang paten bagi sistem kekebalan.
5. Tembaga
Sumber makanan utama : Daging, tiram, kacang-kacangan,
tanaman polong yang dikeringkan, gandum. Fungsi utama dalam tubuh yaitu
komponen enzim, pembentukan sel darah merah, pembentukan tulang.

6. Mangan

Sumber makanan utama yaitu pada gandum dan buah-buahan yg


dikeringkan. Fungsi utama dalam tubuh adalah sebagai komponen enzim.
Kebutuhan harian dewasa : dibutuhkan 3,5 miligram.

7. Chromium
Chromium adalah sejenis mineral mikro yang esensial bagi tubuh.
Esensial dalam hal ini berarti tidak bisa diproduksi oleh tubuh dan harus
didapatkan dari sumber luar (seperti makanan dan suplementasi).
Fungsinya hampir sama dengan insulin yang diproduksi oleh tubuh yaitu
untuk mendorong glukosa (karbohidrat) ke dalam sel untuk dijadikan
energi. Asupan chromium yang optimal tampaknya menurunkan jumlah
insulin yang diproduksi agar tidak terlalu banyak menjaga kadar gula
darah. Di dalam tubuh manusia dewasa pada umumnya mengandung 0,4
mg hingga 6 mg Chromium, dengan kadar yang lebih rendah umumnya
dimiliki oleh individu yang berusia lanjut. Di tempat yang masyarakatnya
mengkonsumsi cukup Chromium, jumlah penderita diabetes dan
jantung jauh lebih sedikit dari
pada tempat yang masyarakatnya tidak mengkonsumsikan
cukup Chromium. Sumber alami Chromium: Gandum, kuning telur,
bayam, daging sapi, susu dan kacang hijau.
8. Fluor
Fluor terbukti dapat melindungi lubang gigi saat dikonsumsi dalam
jumlah menengah (di bawah 4 mg/l). Fluor bertanggung jawab terhadap
pencegahan kerusakan gigi yang terjadi di Amerika Serikat mulai
pertengahan tahun 1980-an. Tindakan khusus harus dilakukan saat jumlah
fluor yang dikonsumsi oleh anak-anak. Tingkat fluor diatas 2 mg/l dapat
merusak pertumbuhan gigi orang dewasa sebelum menjadi gigi tetap.
Sumber fluor di antaranya adalah air, makanan laut, tanaman, ikan dan
makanan hasil ternak. Sedangkan fungsi fluor di antaranya adalah untuk
pertumbuhan dan pembentukkan struktur gigi, untuk mencegah karies gigi.

1.1.2.4. Akibat Kekurangan dan Kelebihan Mineral

Tabel 3. Akibat Kekurangan dan Kelebihan Mineral

No. Mineral Akinbat Kekurangan Akibat Kelebihan


1. Natrium Kejang, apatis, kehilangan Keracunan yang dalam keadaan akut
nafsu makan menyebabkan edema dan hipertensi
2. Kalium Jarang terjadi Kelebihan kalium akut dapat terjadi
bila melebihi 18 gr untuk orang
dewasa
3. Kalsium Gangguan pertumbuhan, Adaosis lebih dari 2500 mg sehari
tulang kurang kuat, mudah menyebabkan batu ginjal atau
bengkok dan rapuh, gangguan ginjal dan konstipasi
osteoporosis
4. Fe Pucat, lemah, pusing, Muntah, diare, denyut jantung
kurang nafsu makan, meningkat
menurunnya kemampuan
kerja, menurunnya
kekebalan tubuh, gangguan
penyembuhan luka
5. Zn Gangguan pusat sistem Muntah, diare, denyut jantung
syaraf dan fungsi otak, meningkat
gangguan kelenjar tiroid
dan laju metabolisme,
gangguan nafsu makan,
memperlambat
penyembuhan luka
6. Cu Psychomotor retardation, Anemia, kerusakan hati, kerusakan
anemia, osteoporosis, saluran ginjal. Dosis tinggi dapat
hipopigmentasi menyebabkan kematian
7. I Goiter, hipotiroid, absorbsi Pembesaran kelenjar tiroid, goiter
spontan, kretinisme, still
birth
8. Selenium Nyeri otot, Rambut dan kuku rontok, muntah,
cardiomyopathy, kelelahan diare, luka pada kulit dan sistem
syaraf
Sumber : Guthrie (1995) dan Almatsier (2001)

1.2. Suplemen Makanan


1.2.1. Pengertian Suplemen Makanan
Suplemen makanan adalah produk yang digunakan untuk melengkapi
makanan, mengandung satu atau lebih bahan sebagai berikut, yaitu vitamin,
mineral, tumbuhan atau bahan yang berasal dari tumbuhan, asam amino, bahan
yang digunakan untuk meningkatkan Angka Kecukupan Gizi (AKG) atau
konsentrat, metabolit, konstituen, ekstrak atau kombinasi beberapa bahan diatas.
Suplemen makanan dapat berupa produk padat meliputi tablet, tablet hisap, tablet
evervesen, tablet kunyah, serbuk, kapsul, kapsul lunak, granula, pastiles, atau
produk cair berupa tetes, sirup, atau larutan (BPOM, 1996).

Suplemen makanan merupakan segala bentuk makanan yang dapat dibagi


menjadi dua kelompok, yaitu suplemen makanan natural dan suplemen makanan
sintesis. Suplemen makanan natural adalah hasil ekstraksi langsung dari bahan
pangan yang mengandung keunggulan zat gizi atau senyawa tertentu, sedangkan
suplemen makanan sintesis adalah senyawa kimiawi yang dibuat sama dengan
struktur kimiawi bahan alami (Gunawan, 1999). Definisi definisi tersebut
diperkuat dengan pernyataan dari Dietary Supplement Health and Education Act
of 1994 di Amerika Serikat yang menyatakan bahwa suplemen makanan
merupakan produk yang digunakan untuk melengkapi makanan dan mengandung
satu atau lebih bahan yaitu vitamin, mineral, asam amino, tumbuh-tumbuhan atau
bahan yang berasal dari tumbuhan, substansi lain seperti enzim, konsentrat,
metabolit, konstituen, ekstrak atau kombinasi dari beberapa bahan di atas.

1.2.2. Penggolongan Suplemen Makanan

Menurut Mason (1995), suplemen makanan dibagi menjadi enam kategori,


yaitu :

1. Vitamin dan Mineral


a. Multivitamin dan mineral, yang biasanya mengandung hampir 100%
dari asupan yang dianjurkan untuk vitamin dengan variasi jumlah dari
mineral dan trace element.
b. Vitamin tunggal dan mineral, yang biasanya mengandung dosis yang
tinggi.
c. Kombinasi vitamin dan mineral, yang ditujukan untuk kelompok
populasi tertentu seperti anak-anak, atlet, wanita hamil, orang yang
sedang diet, vegetarian, remaja, dan lain-lain.
d. Kombinasi vitamin, mineral, dan substansi/zat gizi lain sperti
gingseng, evening primerose oil.
2. Vitamin dan mineral unofficial, yaitu vitamin dan mineral yang kebutuhan
dan akibat dari kekurangannya sampai saat ini belum ditemukan. Contoh :
kolin, silikon, inositol, dan germanium.
3. Minyak alami yang mengandung asam lemak yang terbukti bahwa zat
tersebut berkhasiat. Contoh : evening primerose oil dan minyak ikan.
4. Bahan bahan alami yang mengandung zat-zat dengan aksi farmakologis
yang diketahui tetapi komposisi dan efeknya belum secara penuh
ditemukan. Contoh : bawang putih, ginko biloba, dan gingseng.
5. Bahan bahan alami yang komposisi dan efeknya belum dengan baik
ditemukan tetapi dipasarkan karena dipercaya berkhasiat untuk kesehatan.
Contoh : chlorella, royal jelly, spirulina.
6. Enzim enzim dengan efek fisiologis yang diketahui tetapi memiliki
manfaat yang diragukan ketika dikonsumsi. Contoh : superoxide
dismutase.
Suplemen makanan tidak boleh diklaim dapat menyembuhkan, mengobati,
atau mencegah penyakit (Mason, 1995).
Suplemen makanan juga dapat digolongkan sebagai bahan
nutraceutical. Suplemen makanan ini khasiatnya tidak perlu dibuktikan
melalui uji klinis (Karyadi, 1997). Menurut Worthington (2000), suplemen
makanan digolongkan menjadi 3, yaitu : suplemen protein atau asam
amino, suplemen vitamin dan mineral, suplemen hormonal atau enzymatic.
Suplemen juga dapat dibedakan berdasarkan kandungannya, yaitu
vitamin, mineral, asam amino, asam nukleat, asam lemak, kelompok yang
tidak termasuk kedalam semua kelompok tersebut (seperti L-carnitine,
serat makanan, garlic, gingseng, bee pollen, bioflavonoid, royal jelly, dll)
(Hendler, 1984). Eldridge dan Sheehan (1994) menggolongkan suplemen
menjadi 3, yaitu : multivitamin (multivitamin dan mineral, vitamin B
kompleks, multivitamin dan besi, dan vitamin prenatal), vitamin tunggal
(vitamin C, kalsium, vitamin E, zat besi, vitamin A, vitamin B6,
potassium, dan zinc), bentuk lain meliputi asam amino, minyak ikan,
lechitin, chlorophyll, bee pollen, yeast, aloe vera, dan garlic.

1.3. Orang Orang yang Membutuhkan Suplemen Makanan

Gershoff dan Whitney (1990) mengemukakan bahwa suplemen


makanan hanya dibutuhkan untuk pencegahan defisiensi pada kelompok
tertentu yang beresiko, yaitu :

Orang yang diet rendah kalori


Perokok berat
Wanita hamil dan menyusui
Manusia lanjut usia yang tidak mendapat cukup gizi
Interaksi obat dan zat gizi
Vegetarian
Setiap individu dapat memperoleh zat gizi dalam jumlah cukup
yang didapatkan dari mengkonsumsi makanan yang seimbang setiap hari.
Tetapi ada beberapa kondisi yang mengharuskan individu untuk
mengonsumsi suplemen, yaitu :
- Konsumsi asam folat untuk wanita hamil dan menyusui
- Konsumsi beberapa vitamin untuk orang-orang dengan asupan kalori
yang sangat rendah
- Konsumsi vitamin B12 untuk vegetarian
- Konsumsi dosis tunggal vitamin K untuk bayi baru lahir agar
mencegah perdarahan yang abnormal
- Konsumsi vitamin-vitamin tertentu pada pasien dengan penyakit atau
dalam pengobatan (Combs, 1992).

Orang orang yang status gizinya dipengaruhi oleh gaya hidup juga
membutuhkan suplemen, seperti :

Perokok Berat
Tembakau dapat menurunkan absorpsi dari banyak vitamin dan
mineral, termasuk vitamin C dan asam folat, sehingga dibutuhkan
suplemen.
Alkoholik
Konsumsi alkohol jangka panjang dapat menyebabkan berkurangnya
indera perasa, berkurangnya nafsu makan, dan malabsorbsi zat gizi
yang dapat menyebabkan defisiensi zat gizi, antara lain tiamin, asam
folat, vitamin D, vitamin B12.
Atlet
Aktivitas olahraga yang tinggi dapat menghasilkan produk reactive
oxygen derivatives yang dapat merusak sel. Oleh karena itu diperlukan
konsumsi suplemen vitamin dan mineral.

BAB II

TATALAKSANA TERAPI DEFISIENSI VITAMIN DAN MINERAL

1. VITAMIN A

Terapi Farmakologi
Dosis Terapi untuk Kekurangan Vitamin A = 100.000-500.000 IU sehari 3
kali; lalu 50.000 IU selama 14 hari (sehari sekali)
Dosis Maintenance =10.000-20.000 IU selama 60 hari (Kamiensky dan
Keogh 2006).
Terapi Non Farmakologi
Mengkonsumsi makanan yang mengandung semua jenis susu, mentega,
telur, sayuran dengan daun berwarna hijau dan kuning, buah-buahan, dan
hati (Triana, 2006).

2. VITAMIN D

Terapi Farmakologi
Pengobatan untuk rakhitis dapat diberikan secara bertahap selama
beberapa bulan atau harian dengan dosis tunggal 15.000 mcg (600.000 U)
vitamin D. jika metode bertahap dipilih, 125-250 mcg (5000-10.000 U)
diberikan harian 2-3 bulan sampai penyembuhan mendekati kisaran
refrensi. Karena metode ini membutuhkan perawatan harian, kesuksesan
tergantung pada kepatuhan. Jika dosis vitamin D diberikan dalam satu
hari, biasanya dibagi menjadi 4 atau 6 dosis oral. Suntikan intramuscular
juga tersedia. Vitamin D baik disimpan dalamm tubuh dan secara bertahap
selama beberapa minggu.
Terapi Non Farmakologi

Mengkonsumsi makanan yang mengandung ikan berlemak, kuning telur,


dan hati (Triana, 2006).

3. VITAMIN E

Terapi Farmakologi

Kebutuhan vitamin E per hari menurut U.S RDA yaitu pada pria
sebanyak 10 mg/hari; 15 IU, wanita sebanyak 8 mg/hari; 12 IU, pada
kehamilan dibutuhkan sebanyak 10-12 mg/hari. Kebutuhan vitamin A pada
orang Indonesia belum diketahui akan tetapi diperkirakan sama dengan
rekomendasi U.S RDA (Kamiensky dan Keogh 2006; Dewoto 2007).

- Dosis Terapi untuk Kekurangan Vitamin

Malabsorpsi: 30-100 mg/hari


Defisit berat: 1-2 mg/KgBB/hari atau 50-200 IU/kgBB/hari

- Maintenance

Laki-laki: 10 mg/hari; 15 IU Wanita: 8 mg/hari; 12 IU Ibu hamil: 10-12


mg/hari (Kamiensky dan Keogh 2006).

Terapi Non Farmakologi

Mengkonsumsi makanan yang mengandung benih gandum, minyak biji


bunga matahari serta biji softflower, minyak jagung, kedelai (Triana,
2006).

4. VITAMIN K

Terapi Farmakologi

Sebagai penatalaksanaan, pencegaham yang disarankan berupa


pemberian vitamin K Profilaksis :

- Vitamin K1 pada bayi baru lahir 1 mg im (dosis tunggal) atau per oral 3
kali atau 2 mg pada waktu bayi baru lahir, umur 3-7 hari dan umur 1-2
tahun.
- Ibu hamil yang mendapat pengobatan antikonvulsan mendapat
profilaksis vitamin K1 5 mg/ hari selama trimester ketiga atau 10 mg im
pada 24 jam sebelum melahirkan. Selanjutnya bayinya diberi vitamin
K1 1 mg im dan diulang 24 jam kemudian.
-
Pengobatan VKDB (Vitamin K Defficiency Bleeding) berupa :
- Vitamin K1 dosis 1-2 mg/ hari selama 1-3 hari
- Fresh frozen plasma (FFP) dosis 10-15 ml/ kg
Terapi Non Farmakologi
Mengkonsumsi makanan yang mengandung susus api, keju, mentega,
ayam, daging sapi, ayam, hati sapi, hati ayam, minyak jagung, gandum,
tepung terigu, kopi, teh hijau, asparagus, buncis, brokoli, kol, daun selada,
bayam, kentang, tomat, pisang, jeruk.

5. VITAMIN B6
Terapi Farmakologi
Kebutuhan vitamin B6 berdasarkan U.S. RDA adalah untuk pria
sebanyak 15-19 mg/hari, wanita 14-15 mg/hari, kehamilan 18 mg/hari, dan
laktasi sekitar 20 mg/hari (Kamiensky dan Keogh, 2006).
- Dosis Terapi untuk Kekurangan Vitamin = 25-100 mg/hari
- Isoniazid therapy prophylaxis: 20-25 mg/hari
- Peripheral neuritis: 50-200 mg/hari
- Maintenance
Laki-laki: 2 mg/hari
Wanita: 1,6 mg/hari
Ibu hamil: 2,1 mg/hari
Ibu menyusui: 2,2 mg/hari
Terapi Non Farmakologi
Mengkonsumsi makanan yang mengandung daging, sayuran dengan daun
berwarna hijau, sereal gandum utuh, ragi, dan pisang.

6. VITAMIN C

Terapi Farmakologi
Kebutuhan vitamin C berdasarkan U.S. RDA antara lain untuk
pria dan wanita sebanyak 60 mg/hari, bayi sebanyak 35 mg/hari, ibu hamil
sebanyak 70 mg/hari, dan ibu menyusui sebanyak 95 mg/hari. Kebutuhan
vitamin C meningkat 300-500% pada penyakit infeksi, TB, tukak peptik,
penyakit neoplasma, pasca bedah atau trauma, hipertiroid, kehamilan, dan
laktasi (Kamiensky dan Keogh, 2006).
- Dosis Terapi untuk Kekurangan Vitamin C
Dewasa: per hari 50-100 mg.
Defisiensi berat, PO:IM:IV: 150-500 mg/hari dalam 1-2 dosis terbagi.
Terapi ISPA, kanker, atau hiperkolesterolemia : 500-6000 mg/hari
- Maintenance = 45-60 mg/hari

Terapi Non Farmakologi


Mengkonsumsi makanan yang mengandung buah citrus, tomat, sayuran
berwarna hijau, dan kentang.

7. ASAM FOLAT

Terapi Farmakologi
Kebutuhan asam folat per hari menurut U.S RDA antara lain pria
dan wanita sebanyak 400 microgram/hari, kehamilan sebanyak 600-800
microgram/hari, dan laktasi sebanyak 600-800 microgram/hari
(Kamiensky dan Keogh, 2006).
- Dosis Terapi untuk Kekurangan Vitamin = 1-2 mg/hari
- Maintenance
Pria dan wanita : 400 microgram/hari
Ibu hamil dan laktasi: 600-800 microgram/hari
Terapi Non Farmakologi
Mengkonsumsi makanan yang mengandung sayuran hijau, buah dan sayur
berwarna kuning, ragi, dan daging (Dewoto dan Wardhini, 2007).

8. ZINC (Zn)

Terapi Farmakologi
- Dosis Terapi untuk Kekurangan Vitamin = 12-19 mg/hari
- Maintenance = 12-19 mg/hari
Terapi Non Farmakologi
Mengkonsumsi makanan yang mengandung protein hewani seperti hati,
daging, dan telur (Almatsier, 2001).

9. ZAT BESI (Fe)

Terapi Farmakologi
1) Terapi kausal
Terapi kausal bergantung pada penyebabnya misalnya pengobatan
cacing tambang, hemoroid dan menoragi
2) Pemberian ppreparat besi untuk menganti kandungann besi dalam
tubuh
Biasanya diberikan secara peroral atau parenteral

- Zat besi peroral

Pengobatan melalui oral lebih aman dan murah dibandingkan


dengan parenteral. Zat besi melalui oral harus memenuhi syarat bahwa
tiap tablet atau kapsul berisi 50-100 mg besi elemental yang mudah
dilepaskan dalam lingkusan asam, mudah diabsorpsi dalam bentuk
fero, dan efek samping yang sedikit. Ada 4 bentuk garam besi yang
dapat diberikan melalui oral yaitu sulfat, glukonat, fumarat dan
suksinat. Efek samping yang terjadi biasanya poirosis dan konstipasi.
Pengobatan diberikan sampai 6 bulan setelah kadar Hb normal untuk
mengisi cadangan zat besi tubuh.
- Zat besi parenteral
Diberikan bila ada indikasi seperti malabsorpsi, kurang
toleransi melalui oral, pasien kurang kooperatif, dan memerlukan
peningkatan HB secara cepat (pre operasi hamil trisemester terakhir).
Preparat yang tersedia adalah iron dextran coplex dan iron sorbitol
citric acid complex yang dapat diberikan secara im atau iv.
Terapi Non Farmakologi

Transfusi darah, mengkonsumsi makanan yang mengandung daging sapi,


daging ayam,dan sayur-sayuran berwarna hijau tua (Almatsier, 2001).

BAB III

KASUS DAN PENYELESAIAN

3.1. KASUS
Ibu Andi datang ke Apotek, dan menceritakan keluhan tentang anaknya
bahwa anaknya andi berusia 7 tahun (BB=17 kg). sangat sulit untuk makan
terutama makan nasi sehingga membuat anaknya sering mengalami buang angin,
serta kehilangan berat badan. Selama ini Ibu Andi belum pernah memberikan
vitamin ataupun suplemen makanan kepada Andi.

3.2. ANALISIS SOAP

Subyektif

Nama : An. Andi

Umur : 7 tahun

BB : 17 kg

Keluhan : Mengalami penurunan nafsu makan selama kurang lebih satu


minggu belakangan.

Obyektif

Tidak ada data laboratorium.

Assesment

Pasien mengalami sulit makan dan belum pernah diberikan asupan


vitamin, sehingga menyebabkan kekurangan berat badan

Plan

Diberikan curcuma plus yang berisi berbagai vitamin untuk


meningkatkan daya tahan tubuh dan memperbaiki sistem pencernaan
makanan dalam tubuh supaya nutrisi makanan dapat terserap dengan baik
oleh tubuh sehingga bisa menambah nafsu makan.

KIE :
- Jangan dibiasakan makan makanan fast food/cepat saji.
- Dipantau selalu waktu makan teratur si anak.
- Jangan membiarkan anak makan sambil menonton TV hingga
membuatnya makan menjadi lebih lama dan malas untuk melanjutkan
makan.
- Membawakan bekal makanan kesukaan anak dengan membuat variasi
makanan agar tertarik untuk mencoba makan.
- Curcuma plus diminum teratur dua kali sehari setelah makan (pagi dan
sore).
- Sebelum digunakan curcuma plus dikocok terlebih dahulu
- Bila berat badan anak tidak bertambah selama lebih dari seminggu, harap
menghubungi dokter.
- Simpan curcuma plus dalam tempat yang kering, suhu kamar, dan
terlindung dari cahaya

DAFTAR PUSTAKA

Almatsier, S. 2001. Prinsip Dasar Ilmu Gizi. Jakarta : PT. Gramedia Pustaka
Utama.

_______________. 1991. Ilmu Gizi Untuk Mahasiswa dan Profesi Gizi di


Indonesia Jilid 1. Jakarta : PT. Dian Rakyat.

Azhar, M. 2012. Makalah Tentang Mineral. Malang : Universitas Brawijaya Malang.

Guthrie. 1995. Human Nutrition. New York : Masby

Karyadi, D. 1997. Kajian Penggunaan Rasionil Suplemen Gizi. Lokakarya Gizi


Olahraga. Jakarta: Depkes KONI.

Sediaoetomo, A.D. 1987. dalam Sudarti, T. 1997. Pola Konsumsi Makanan


Tradisional Rumah Tangga di Pedesaan dan Perkotaan. Tesis. Bogor :
IPB.

Syarif, A. Dan Sunaryo. 2007. Farmakologi dan Terapi Edisi 5. Jakarta :


Departemen Farmakologi dan Terapeutik Fakultas Kedokteran
Universitas Indonesia.
Triana, V. 2006. Macam-Macam Vitamin dan Fungsinya dalam Tubuh Manusia. Jurnal
Kesehatan Masyarakat. 1. (1) : 40-47.

Worthington, B.S. 2000. Nutrition Throughout The Life Cycle. United States : The
McGraw Hill Booj Companies.