Anda di halaman 1dari 119

LAPORAN AKHIR

DAFTAR ISI

PenyusunanRencanaPerlindungandanPengelolaanLingkunganHidup (RPPLH) Tahap II DKI Jakarta


LAPORAN AKHIR

DAFTAR ISI

DAFTAR ISI i
DAFTAR TABEL iii
DAFTAR GAMBAR iv

BAB I
PENDAHULUAN I-1

1.1. LATAR BELAKANG I-1


1.2. MAKSUD DAN TUJUAN I-4
1.3. SASARAN I-4
1.4. MANFAAT I-4
1.5. REFERENSI HUKUM I-4
1.6. HASIL YANG DIHARAPKAN I-6
1.7. INVENTARISASI, PENETAPAN EKOREGION DAN PENYUSUNAN RPPLH
PROVINSI I-6
1.8. EKOREGION SEBAGAI KONSEP PERWILAYAAN I-7

BAB II
GAMBARAN UMUM WILAYAH DKI JAKARTA II - 1

2.1. LETAK GEOGRAFIS DAN ADMINISTRASI PEMERINTAHAN II - 1


2.2. KARAKTERISTIK LINGKUNGAN FISIK (ABIOTIK) II - 6
2.2.1. Karakteristik Topografi II - 6
2.2.2. Karakteristik Tanah dan Geologi II - 6
2.2.3. Karakteristik Klimatologi II - 9
2.2.4. Karakteristik Hidrologi II - 11
2.3. KARAKTERISTIK LINGKUNGAN HAYATI (BIOTIK) II - 11
2.3.1 Karakteristik Hutan II - 11
2.3.2 Karakteristik Flora dan Fauna II - 14
2.4. KARAKTERISTIK LINGKUNGAN KULTURAL II - 15
2.4.1. Karakteristik Kependudukan II - 15
2.4.2. Karakteristik Penggunaan Lahan II - 17
2.5. KONDISI PENGELOLAAN SDA DI WILAYAH DKI JAKARTA II - 18
2.5.1. Potensi dan Ketersediaan Air Permukaan II - 18

PenyusunanRencanaPerlindungandanPengelolaanLingkunganHidup (RPPLH) Tahap II DKI Jakarta i


LAPORAN AKHIR

2.5.2. Potensi Ketersediaan Air Tanah II - 24


2.5.3. Potensi dan Ketersediaan Keanekaragaman Hayati II - 29
2.6. IDENTIFIKASI PERMASALAHAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP II - 32
2.6.1. Umum II - 32
2.6.2. Konflik dan Penyebab Konflik II - 32

BAB III
METODOLOGI III - 1

3.1. UMUM III - 1


3.2. KONSEP DASAR III - 1
3.3. METODE PENENTUAN BATAS EKOREGION III - 2
3.3.1. Parameter Deliniasi Pemetaan Ekoregion III - 3
3.4. METODE PENDEKATAN III - 3
3.4.1. Kegiatan Identifikasi dan Deskripsi III - 5
3.4.2. Kegiatan Sintesis III - 8
3.5. METODE PEMETAAN III - 10
3.5.1. Sumber Data III - 10
3.5.2. Kompilasi dan Interpretasi Data III - 11
3.5.3. Penyajian Peta Ekoregion III - 12
3.6. REKOMENDASI UNTUK RPPLH III - 12

BAB IV
SURVEY DAN PEMETAAN EKOREGION JAKARTA IV - 1

4.1. KONSEP DAN DEFINISI IV - 1


4.2. METODE SURVEY IV - 2
4.3. PENGOLAHAN DATA DAN PEMBUATAN PETA TEMATIK IV - 4
4.4. DOKUMENTASI SURVEY EKOREGION DKI JAKARTA IV - 4

BAB V
WILAYAH EKOREGION DKI JAKARTA V-1

5.1. DELINIATOR EKOREGION DKI JAKARTA V-1


5.2. BENTUK PERMUKAAN TANAH SEBAGAI DELINIATOR EKOREGION DKI
JAKARTA V-2

PenyusunanRencanaPerlindungandanPengelolaanLingkunganHidup (RPPLH) Tahap II DKI Jakarta ii


LAPORAN AKHIR

5.3. EKOREGION DKI JAKARTA DALAM KONTEKS PENGELOLAAN AIR


PERMUKAAN V-3
5.4. URAIAN EKOREGION DKI JAKARTA V-4
5.4.1. Dataran Pasang Surut Berlumpur Jakarta V-4
5.4.2. Dataran Beting Gesik dan Lembah Antar Gisik Jakarta V - 10
5.4.3. Dataran Fluviomarin Jakarta V - 16
5.4.4. Dataran Banjir Jakarta V - 20
5.4.5. Dataran rawa Jakarta V - 25
5.4.6. Dataran Vulkanik Jakarta V - 29
5.4.7. Ekoregion dan Wilayah Administrasi V - 34

LAMPIRAN

DAFTAR TABEL

PenyusunanRencanaPerlindungandanPengelolaanLingkunganHidup (RPPLH) Tahap II DKI Jakarta iii


LAPORAN AKHIR

DAFTAR TABEL

PenyusunanRencanaPerlindungandanPengelolaanLingkunganHidup (RPPLH) Tahap II DKI Jakarta


LAPORAN AKHIR

Tabel 2.1. Pembagian Wilayah Administrasi Provinsi DKI Jakarta II - 1


Tabel 2.2. Jenis Tanah Di Kawasan DKI Jakarta II - 9
Tabel 2.3. Suhu Rata-rata dan Curah Hujan Bulanan Tahun 2011 II - 10
Tabel 2.4. Statistik Data Temperatur Rata-rata Bulanan II - 10
Tabel 2.5. Statistik Data Jumlah Curah Hujan Bulanan II - 11
Tabel 2.6. Luas Hutan Kota Provinsi DKI Jakarta 2011 II - 13
Tabel 2.7. Jumlah, Kepadatan dan Pertumbuhan Penduduk DKI Jakarta II - 16
Tabel 2.8. Luas Wilayah Administrasi dan Penggunaan Lahan II - 17
Tabel 2.9. Panjang dan Luas BAdan Air di DKI Jakarta II - 19
Tabel 2.10. Luas dan Debit Aliran Sungai di DKI Jakarta II - 20
Tabel 2.11. Nama dan Luas Danau/waduk/situ di Wilayah DKI Jakarta II - 21
Tabel 2.12. Jumlah Rumah Tangga dan Sumber Air Minum II - 23
Tabel 2.13. Rata-rata Kualitas Fisik Air Tanah Prov. DKI Jakarta Tahun 2011 II - 26
Tabel 2.14. Data Air Tanah Wilayah Jakarta Selatan II - 26
Tabel 2.15. Data Air Tanah Wilayah Jakarta Timur II - 27
Tabel 2.16. Data Air Tanah Wilayah Jakarta Pusat II - 27
Tabel 2.17. Data Air Tanah Wilayah Jakarta Barat II - 28
Tabel 2.18. Data Air Tanah Wilayah Jakarta Utara II - 28
Tabel 4.1. Koordinat Survey Bentang Lahan Ekoregion DKI Jakarta IV - 3
Tabel 5.1. Jenis dan Luas Wilayah Ekoregion Dataran Pasang Surut Berlumpur
Jakarta V4
Tabel 5.2. Jenis dan Luas Wilayah Ekoregion Dataran Beting Gesik dan Lembah
Antar Gesik Jakarta V- 11
Tabel 5.3. Jenis dan Luas Wilayah Ekoregion Dataran Fluviomarin Jakarta V 16
Tabel 5.4. Jenis dan Luas Wilayah Dataran Banjir Jakarta V 20
Tabel 5.5. Jenis dan Luas Wilayah Ekoregion Dataran Rawa Jakarta V 25
Tabel 5.6. Jenis dan Luas Wilayah Ekoregion Dataran Vulkanik Jakarta V 29
Tabel 5.7. Luas Wilayah Ekoregion DKI Jakarta Berdasarkan Kecamatan

DAFTAR GAMBAR

PenyusunanRencanaPerlindungandanPengelolaanLingkunganHidup (RPPLH) Tahap II DKI Jakarta iv


LAPORAN AKHIR

DAFTAR GAMBAR

PenyusunanRencanaPerlindungandanPengelolaanLingkunganHidup (RPPLH) Tahap II DKI Jakarta


LAPORAN AKHIR

Gambar 2.1. Peta Wilayah Administrasi DKI Jakarta


Gambar 2.2. Peta Kemiringan Lahan DKI Jakarta
Gambar 2.3. Peta Ketinggian Lahan DKI Jakarta
Gambar 2.4. Peta Geologi DKI Jakarta
Gambar 2.5. Peta Satuan Lahan dan Tanah DKI Jakarta
Gambar 2.6. Peta Iklim DKI Jakarta
Gambar 2.7. Peta Curah Hujan DKI Jakarta
Gambar 2.8. Peta Hidrologi DKI Jakarta
Gambar 2.9. Peta Sebaran Kepadatan Penduduk DKI Jakarta
Gambar 2.10. Grafik Jumlah Penduduk DKI Jakarta Berdasarkan Kota/Kabupaten
Administrasi Tahun 2007-2010
Gambar 2.11. Peta Penggunaan Lahan DKI Jakarta
Gambar 2.12. Grafik Wilayah Administrasi dan Penggunaan Lahan di DKI Jakarta
Gambar 3.1. Kerangka Dasar Penyusunan Peta Ekoregion Provinsi
Gambar 4.1. Dataran Banjir Kali Pesanggrahan Daerah Komplek Deplu Jakarta
Selatan
Gambar 4.2. Hutan Mangrove di Kawasan Ekowisata Mangrove Jakarta Barat
Gambar 4.3. Mangrove di Marunda Jakarta Utara
Gambar 4.4. Estuarine di Marunda Jakarta Utara
Gambar 4.5. Ahli Fungsi Lahan Dataran Rawa di Cilincing, Jakarta Utara
Gambar 5.1. Peta Ekoregion DKI Jakarta
Gambar 5.2. Dataran Pasang Surut berlumpur yang ditumbuhi oleh Mangrove di
wilayah Marunda Cilincing Jakarta Utara
Gambar 5.3. Permukiman pada meander K. Pesanggrahan yang merupakan
dataran banjir
Gambar 5.4. Permukiman pada meander K. Pesanggrahan yang merupakan
dataran banjir
Gambar 5.5. Alih fungsi Lahan Dataran Rawa di Cilincing Jakarta Utara

PenyusunanRencanaPerlindungandanPengelolaanLingkunganHidup (RPPLH) Tahap II DKI Jakarta v


LAPORAN AKHIR

BAB I
PENDAHULUAN

PenyusunanRencanaPerlindungandanPengelolaanLingkunganHidup (RPPLH) Tahap II DKI Jakarta


LAPORAN AKHIR

BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Jakarta sebagai Ibukota Negara Republik Indonesia dengan tingkat kepadatan


per-km2 mencapai 13.157 jiwa/km2 dan jumlah penduduk 9,76 juta jiwa memiliki
sumber daya alam yang melimpah, baik di darat, perairan tawar maupun laut
dan juga merupakan tempat keanekargaman hayati yang sangat besar.
Sumberdaya alam pada dasarnya merupakan satu kesatuan utuh ekosistem,
yang dapat menghasilkan barang dan jasa. Apabila eksositem sumberdaya alam
dipandang sebagai sistem produksi suatu komoditas, maka komoditas
sumberdaya alam yang diproduksi atau dimanfaatakan merupakan bagian
integral dari sistem produksi komoditas itu sendiri maupun komoditas lainnya,
sehingga pemanfaatan komoditas tertentu akan mempengarhi sistem produksi
komoditas lainnya.

Memahami ekosistem sumberdaya alam dalam sistem produksi komoditas


tertentu sangat diperlukan untuk memahami pengaruh timbal balik antara
pemanfaatan komoditas tertentu terhadap komoditas lainnya termasuk terhadap
jasa sumberdaya lama tersebut. Pemanfaatan sumberdaya alam secara parsial,
masing-masing sektor atau komoditas, tanpa memperhatikan dampaknya
terhadap sektor, komoditas lainnya, dan lingkungan dapat mengakibatkan
dampak negatif bagi kelestarian produksi dan jasa sumberdaya alam tersebut.

Pembangunan merupakan upaya sadar dalam mengolah dan memanfaatkan


sumber daya alam untuk meningkatkan kemakmuran rakyat yang mengandung
resiko pencemaran dan perusakan lingkungan hidup. Kerusakan atau kepunahan
salah satu sumber daya alam akan mengakibatkan kerugian besar bagi
masyarakat yang tidak dapat dinilai dengan materi, namun pemulihan kembali ke
keadaan semula tidak mungkin dilakukan. Persoalan lingkungan adalah persoalan
semua, baik pemerintah, dunia usaha maupun masyarakat pada umumnya. Oleh
karena itu pengelolaan lingkungan hidup wajib dilakukan secara terpadu dan

Penyusunan Rencana Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup (RPPLH) Tahap II DKI Jakarta I-1
LAPORAN AKHIR

bersinergi dengan penataan ruang, perlindungan sumber daya alam non hayati,
perlindungan sumber daya buatan, konservasi sumber daya alam hayati dan
ekosistemnya, cagar budaya, keanekaragaman hayati dan perubahan iklim.

Pengelolaan sumberdaya alam dan lingkungan hidup yang tidak dilakukan sesuai
dengan daya dukungnya dapat menimbulkan krisis pangan, air, energi dan
lingkungan. Secara umum dapat dikatakan bahwa hampir seluruh jenis
sumberdaya alam dan komponen lingkungan hidup di kota Jakarta cenderung
mengalami penurunan kualitas dan kuantitasnya dari waktu ke waktu. Dalam era
otonomi daerah, pengelolaan lingkungan hidup mengacu pada Undang-undang
Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup
yang diundangkan pada tanggal 3 Oktober 2009 mengamanatkan pengelolaan
sumber daya alam dan lingkungan hidup yang lebih baik.

Dalam kerangka Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup perlu disusun


Rencana Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup (RPPLH) secara
bertahap dengan kegiatan-kegiatan, langkah pertama yang harus ditempuh
adalah kegiatan inventarisasi data lingkungan hidup. Hasil inventarisasi
lingkungan hidup menjadi dasar dalam penetapan wilayah ekoregion. Lalu
dilakukan kajian penyusunan Dokumen Rencana Perlindungan dan Pengelolaan
Lingkungan Hidup (RPPLH).

Di dalam UU No 32 tahun 2009 tentang perlindungan dan pengelolaan


lingkungan hidup, ekoregion merupakan unit atau satuan wilayah dalam
melakukan inventarisasi lingkungan hidup (pasal 6) dan menentukan daya
dukung dan daya tampung serta cadangan sumber daya alam (pasal 8).
Selanjutnya disebutkan bahwa ekoregion adalah sebagai salah satu dasar dalam
penyusunan Rencana Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup (RPPLH)
yang merupakan kewajiban dari semua tingkatan pemerintahan, mulai dari
Pusat, Pemerintahan Provinsi sampai Pemerintahan Kabupaten dan Kota (pasal
9).

Sebagaimana disebutkan UU No 32 tahun 2009 tentang PPLH ekoregion


didefinisikan sebagai wilayah geografis yang memiliki kesamaan ciri iklim, tanah,

Penyusunan Rencana Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup (RPPLH) Tahap II DKI Jakarta I-2
LAPORAN AKHIR

air, flora dan fauna asli, serta pola interaksi manusia dengan alam yang
menggambarkan integritas sistem alam dan lingkungan hidup. Penepatan
wilayah ekoregion sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan dengan
mempertimbangkan kesamaan (pasal 7 ayat 2):
a. Karakteristik bentang alam;
b. Daerah aliran sungai;
c. Iklim
d. Flora dan fauna
e. Sosial budaya
f. Ekonomi
g. Kelembagaan masyarakat; dan
h. Hasil inventarisasi lingkungan hidup.

Selama ini kebijakan, rencana dan program perlindungan dan pengelolaan


lingkungan hidup masih belum sesuai dengan kondisi eksisting lingkungan hidup.
Dengan ditetapkan ekoregion suatu propinsi, diharapkan perencanaan
perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup (RPPLH) yang dilakukan oleh
pemerintahan provinsi, kabupaten dan kota yang terletak pada suatu ekoregion
yang sama mendapat penanganan yang memperhatikan aspek-aspek penetapan
ekoregion.

Rencana Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup (RPPLH) menjadi


dasar penyusunan dan dimuat dalam rencana pembangunan jangka panjang dan
rencana pembangunan jangka menengah. Pemanfaatan sumber daya alam
dilakukan berdasarkan RPPLH. Jika Rencana Perlindungan dan Pengelolaan
Lingkungan Hidup (RPPLH) belum tersusun maka pemanfaatan sumber daya
alam didasarkan pada daya dukung dan daya tampung lingkungan hidup yang
ditetapkan oleh Gubernur. Pada saat ini Provinsi DKI Jakarta belum menetapkan
daya dukung dan daya tampung lingkungan hidupnya oleh karena itu
berdasarkan amanat undang undang nomor 32 tahun 2009 tentang perlindungan
dan pengelolaan lingkungan hidup maka diwajibkan provinsi untuk menyusun
rencana perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup tingkat provinsi.

Penyusunan Rencana Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup (RPPLH) Tahap II DKI Jakarta I-3
LAPORAN AKHIR

1.2. Maksud dan Tujuan

Maksud dari kegiatan penyusunan Rencana Perlindungan dan Pengelolaan


Lingkungan Hidup Provinsi DKI Jakarta Tahap II adalah Penetapan ekoregion
Provinsi DKI Jakarta dengan Skala Dasar 1:50.000.

Tujuan dari kegiatan penyusunan rencana perlindungan dan pengelolaan


lingkungan hidup tahap II Provinsi DKI Jakarta adalah penyusunan Peta
Ekoregion Provinsi DKI Jakarta dengan skala dasar 1:50.000, yag dilengkap
dengan identifikasi karakteristik setiap satuan ekoregion dengan
mempertimbangkan kesamaan bentang alam, DAS, iklim, flora fauna, sosial
budaya, ekonomi dan kelembagaan masyarakat di Provinsi DKI Jakarta, yang
dapat dimanfaatkan sebagai acuan dalam penyusunan perencanaan
perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup.

1.3. Sasaran

Sasaran dari Kegiatan Penyusunan Rencana Perlindungan dan Pengelolaan


Lingkungan Hidup (RPPLH Tahap II) Provinsi DKI Jakarta, adalah Peta
Ekoregion Provinsi DKI Jakarta dengan skala dasar 1:50.000 dan identifikasi
karakteristik setiap satuan ekoregion.

1.4. Manfaat

Manfaat yang diharapkan dari pelaksanaan kegiatan Penyusunan Rencana


Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup Provinsi DKI Jakarta tahap II
(Penetapan Ekoregion) adalah :
1. Sebagai pedoman strategis dalam penyusunan kebijakan, rencana dan
program perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup;
2. Dan sebagai salah satu dasar penyusunan dan dimuat dalam rencana
pembangunan jangka panjang dan rencana jangka menengah.

1.5. Referensi Hukum

1. Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1982 tentang Ketentuan-ketentuan pokok


pengelolaan lingkungan hidup;

Penyusunan Rencana Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup (RPPLH) Tahap II DKI Jakarta I-4
LAPORAN AKHIR

2. Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya


Alam Hayati dan Ekosistemnya;
3. Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1994 tentang Keanekaragaman Hayati
(Biological Diversity) Konvensi PBB;
4. Undang-Undang Nomor 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan;
5. Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2004 tentang Sumber Daya Air;
6. Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang;
7. Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2007 tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir;
8. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan
Pengelolaan Lingkungan Hidup;
9. Keputusan Gubernur No. 582 Tahun 1995 tentang Penetapan Peruntukan
dan Baku Mutu Air Sungai/Badan Air serta Baku Mutu Limbah Cair di Wilayah
DKI Jakarta;
10. Kep Men LH No. 110 Tahun 2003 tentang Pedoman Penetapan Daya
Tampung Beban Pencemar Air Pada Sumber Air;
11. Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup No 115 Tahun 2003 tentang
Pedoman Penentuan Status Mutu Air;
12. Peraturan Gubernur Provinsi DKI Jakarta Nomor 68 Tahun 2005 tentang
Keputusan Gubernur Provinsi DKI Jakarta Nomor 115 Tahun 2001 Tentang
Pembuatan Sumur Resapan;
13. Keputusan Gubernur Provinsi DKI Jakarta Nomor 11 Tahun 2005 tentang
Pelaksanaan Manajemen Lingkungan Kawasan
14. Peraturan Pemerintah RI No. 43 tentang Air Tanah;
15. Per Men LH No. 17 Tahun 2009 tentang Pedoman Penentuan Daya Dukung
Lingkungan Hidup Dalam Penataan Ruang Wilayah, Dokumen RTRW dan
RDTR Provinsi dan Kota di Wilayah Provinsi DKI Jakarta;
16. Per Men LH No. 27 Tahun 2009 tentang Pedoman Pelaksanaan Kajian
Lingkungan Hidup Strategis (KLHS);
17. Keputusan Kepala Daerah BPLHD Prov. DKI Jakarta No. 262 tahun 2011
tentang Petunjuk Teknis Mekanisme Pembinaan dan Pengawasan
Pengendalian Pencemaran Air Limbah Di Prov. DKI Jakarta.

Penyusunan Rencana Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup (RPPLH) Tahap II DKI Jakarta I-5
LAPORAN AKHIR

1.6. Hasil Yang Diharapkan

Hasil diharapkan dari kegiatan Penyusunan Rencana Perlindungan dan


Pengelolaan Lingkungan Hidup provinsi DKI Jakarta tahap II (Penetapan
Ekoregion) adalah :
1. Peta Ekoregion Provinsi DKI Jakarta, skala dasar 1 : 50.000 (format A0) dan
skala 1 : 125.000 (format A3, untuk dilampirkan di dalam buku Laporan)
2. Identifikasi dan deskripsi karakteristik setiap satuan ekoregion.

1.7. Inventarisasi, Penetapan Ekoregion dan Penyusunan RPPLH Provinsi

Kementerian Lingkungan Hidup juga mencoba menentukan ekoregion dan kelas


wilayah, yang dijadikan dasar menetapkan pewilayahan lebih lanjut. Sebagai
suatu negara tropis kepulauan dengan sejarah dan struktur geologi yang rumit,
yang membawa akibat pada biota dan budaya yang begitu beragam
menyebabkan penetapan ekoregion pasti tidak mudah. Belum dapat dipastikan
kapan ekoregion dan RPPLH nasional ditetapkan. Diperkirakan upaya untuk
melaksanakan undang-undang untuk menyusun RPPLH Nasional akan
memanfaatkan momentum penyusunan RPJM Nasional dan peninjauan kembali
RTRW Nasional.

RPPLH provinsi sebagai suatu telaah dan pendekatan baru dalam perumusan
kebijakan publik dan perencanaan formal yang berkaitan dengan kepentingan
masyarakat luas, RPPLH harus mencakup komponen yang mendasar. UU
No.32/2009 menganggap sumberdaya alam sebagai komponen mendasar dan
secara gamblang dinyatakan bahwa RPPLH ditujukan untuk mengendalikan
pemanfaatan sumberdaya alam.

Sumberdaya alam yang tersedia di DKI Jakarta begitu beraneka regam tetapi
tidak semuanya tersedia dan menjadi sandaran kehidupan dan perkembangan
DKI Jakarta. Oleh karena itu inventarisasi lingkungan yang antara meliputi jenis,
potensi, penguasaan dan tingkat kerusakan sumberdaya alam di DKI Jakarta
perlu difokuskan pada sumber daya alam yang paling mempengaruhi hajat hidup
masyarakat DKI Jakarta. Kajian yang telah dilakukan sebelumnya
mempertimbangkan air sebagai sumberdaya alam yang memang paling

Penyusunan Rencana Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup (RPPLH) Tahap II DKI Jakarta I-6
LAPORAN AKHIR

menentukan kehidupan dan perkembangan masyarakat DKI Jakarta. Dengan


demikian penentuan ekoregion DKI Jakarta perlu memperhatikan kaitannya
dengan kondisi dan sistem perairan tersebut. Oleh karena itulah diperlukan
ekoregion atau ekodistrik berdasarkan tata air permukaan yang tercermin dalam
daerah aliran sungai. Pemilihan tata air permukaan sebagai unsur utama dalam
penetapan ekoregion akan dipertahankan.

1.8. Ekoregion sebagai Konsep Pewilayahan

Dalam perencanaan dengan pendekatan spasial atau pewilayahan dikenal aneka


cara menentukan satuan wilayah. Telah dikenal misalnya wilayah pembangunan
yang di DKI Jakarta didasarkan pengadministrasian pembangunan. Wilayah
sungai yang ditujukan untuk mengelola sungai terutama dalam kaitannya
infrastruktur pemanfaatan air. Daerah aliran sungai yang lebih menekankan pada
pengelolaan hutan dalam kaitannya pengelolan air.

Ekoregion adalah suatu konsep pewilayahan yang didasarkan pada eksositem,


karena itu juga disebut sebagai geografi ekosistem. Konsep ini sudah
diperkenalkan dan dibahas dalam berbagai acara khusus dan kesempatan.
Walaupun demikian oleh karena besaran satuan wilayah dan penamaannya
belum baku, dalam kegiatan ini akan dibahas kembali agar penamaan dan
peristilahan yang digunakan dapat dipastikan.

Sejak awal tahun tujuhpuluhan di beberapa negara mulai diterapkan pewilayahan


didasarkan ekosistem. Tujuannya adalah untuk mengelola sumberdaya alam dan
sekaligus untuk konservasi. Dengan adanya sistem pewilayahan ini para
penyelenggara daerah mempunyai pengetahuan untuk menetapkan dimana
suatu kegiatan pemanfaatan sumberdaya alam diperbolehkan, apa syaratnya dan
dimana adanya suatu kegiatan dilarang sama sekali. Amerika Serikat
mengembangkan pewilayahan ini terutama untuk tujuan mengelola pertanian
dan kehutanan. Australia mengembangkan untuk tujuan konservasi tanah.

Konsep pewilayah yang disebut dengan ekoregion, dikembangkan dari bidang


studi biogeografi. Sedangkan biogeografi sendiri merupakan paduan biologi

Penyusunan Rencana Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup (RPPLH) Tahap II DKI Jakarta I-7
LAPORAN AKHIR

geografi (geographical bilogy) yang dikembangkan oleh ahli bilogi dengan


geografi biologi (biological geography) yang dikembangkan ahli geografi. Biologi
geografi mempelajari sifat tanaman dan hewan dalam kaitannya dengan ruang.
Sedang geografi biologi mempelajari pembagian wilayah atau identifikasi satuan
ruang berdasarkan kesamaan atau perbedaan spesies, sistematika taxom dan
ekosistem.

Pewilayahan yang berbasis ekosistem ini kemudian dikembangkan di banyak


negara dan aneka lembaga internasional untuk tujuan yang sama, yaitu
perlindungan dan pengelolaan lingkungan. Meskipun ada berbagai variasi dalam
mendeliniasi wilayah, sesungguhnya tidak ada perbedaan yang mendasar
mengenai unsur/parameter yang digunakan sebagai deliniator. Ada tiga unsur
pokok yang digunakan sebagai deliniator, yaitu iklim (atmosfir), jenis biota
terutama jenis vegetasi dan bentuk serta jenis permukaan lahan (bentang alam).
Apa yang jadi penentu atau deliniator utamanya tergantung pada dua hal yaitu:
skala atau besar wilayah (berdasarkan suatu sistem penjenjangan atau hierarki)
dan tujuan melakukan pewilayahan tersebut. Ini berkaitan juga dengan institusi
dan kewenangan.

Penyusunan Rencana Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup (RPPLH) Tahap II DKI Jakarta I-8
LAPORAN AKHIR

BAB II
GAMBARAN UMUM WILAYAH
DKI JAKARTA

PenyusunanRencanaPerlindungandanPengelolaanLingkunganHidup (RPPLH) Tahap II DKI Jakarta


LAPORAN AKHIR

BAB II
GAMBARAN UMUM WILAYAH
DKI JAKARTA

2.1. Letak Geografis dan Administrasi Pemerintahan

Provinsi DKI Jakarta berada pada posisi geografis antara 106.2242 dan
106.5818 Bujur Timur, serta antara 5.1912 dan 6.2354 Lintang Selatan
dengan keseluruhan luas wilayah 7.659,02 km2, meliputi 662,33 km2 daratan,
termasuk 110 pulau di Kabupaten Administrasi Kepulauan Seribu dan 6.977,5
km2 lautan.

Provinsi DKI Jakarta terbagi dalam lima Kota Administrasi dan satu Kabupaten
Administrasi. Kota Administrasi Jakarta Pusat memiliki luas 48,13 km2; Kota
Administrasi Jakarta Utara dengan luas 146,66 km2; Kota Administrasi Jakarta
Barat dengan luas 129,54 km2; Kota Administrasi Jakarta Selatan dengan luas
141,27 km2; dan Kota Administrasi Jakarta Timur dengan luas 188,03 km2, serta
Kabupaten Administrasi Kepulauan Seribu dengan luas 8,70 km2.

Tabel 2.1.
Pembagian Wilayah Administrasi Provinsii DKI Jakarta
Kabupaten/ Kota Jumlah
No
Administrasi Kecamatan Kelurahan
1 Jakarta Pusat 8 44
2 Jakarta Utara 6 31
3 Jakarta Timur 10 65
4 Jakarta Selatan 10 65
5 Jakarta Barat 8 56
6 Kep. Seribu 2 6
Sumber : Jakarta Dalam Angka, 2012

Secara administrasi kewilayahan, masing-masing Kota dan Kabupaten


Administratif dibagi menjadi beberapa kecamatan. Masing-masing kecamatan
tersebut dibagi menjadi beberapa kelurahan. Kota Administratif Jakarta Pusat
terdiri dari 8 (delapan) Kecamatan dan 44 (empat puluh empat) Kelurahan. Kota
Administasi Jakarta Utara terdiri dari 6 (enam) Kecamatan dan 31 (tiga puluh

Penyusunan Rencana Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup (RPPLH) Tahap II DKI Jakarta II - 1
LAPORAN AKHIR

satu) Kelurahan. Selanjutnya Kota Administrasi Jakarta Barat terdiri dari 8


(delapan) Kecamatan dan 56 (lima puluh enam) kelurahan. Kota Administrasi
Jakarta Selatan terdiri dari 10 (sepuluh) Kecamatan dan 65 (enam puluh lima)
Kelurahan. Kota Administrasi Jakarta Timur terdiri dari 10 (sepuluh) Kecamatan
dan 65 (enam puluh lima) Kelurahan. Sedangkan Kabupaten Kepulauan Seribu
hanya terdiri dari 2 (dua) Kecamatan dan 6 (enam) Kelurahan.

Berdasarkan Undang-Undang No. 29 Tahun 2007 tentang tentang Pemerintahan


Provinsi Daerah Khusus Ibukota Jakarta Sebagai Ibukota Negara Kesatuan
Republik Indonesia, Provinsi DKI Ibukota Jakarta memiliki batas-batas yaitu
sebelah utara dengan Laut Jawa, sebelah timur dengan Kabupaten Bekasi dan
Kota Bekasi Provinsi Jawa Barat, sebelah selatan dengan Kota Depok Provinsi
Jawa Barat; dan sebelah barat dengan Kabupaten Tangerang dan Kota
Tangerang Provinsi Banten. Selengkapnya dapat dilihat pada Gambar 2.1.

A. Wilayah Jakarta Selatan


Letak : 615' 40,8 LS 10645' 0,00 BT
Ketinggian : 26,2 Meter di atas permukaan laut
Luas Wilayah : 145,73 km
- Pemukiman : 113,20 km
- Pertanian : 23,11 km
- Hutan/Hutan Kota : 3,57 km
- Lain - Lain : 1,39 km
Jumlah Kec./ Kel. : 10 Kecamatan dan 65 Kelurahan
Kecamatan : (1) Jagakarsa 24,87 km; (2) Pasar Minggu 21,69 km; (3)
Cilandak 18,16 km; (4) Pesanggrahan 12,76 km; (5) Kebayoran Lama
16,72 km; (6) Kebayoran Baru 12,93 km; (7) Mampang Prapatan 7,73
km; (8) Pancoran 8,63 km; (9) Tebet 9,03 km; (10) Setiabudi 8,85
km.
Batas Wilayah
Selatan : Kec. Tanah Abang (Kota Adm. Jakarta Pusat), Jl.
Kebayoran lama dan Kebon jeruk (Kota Adm. Jakarta
Timur)
Timur : Kali Ciliwung (Kota Adm. Jakarta Timur)

Penyusunan Rencana Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup (RPPLH) Tahap II DKI Jakarta II - 2
LAPORAN AKHIR

Barat : Kec. Ciputat dan Ciledug kota tanggerang dan tanggerang


selatan (Prov. Banten)
Utara : Kotamadya Depok (Prov. DKI Jakarta)

B. Wilayah Jakarta Timur


Letak : 610'37'' LS, 10649'35'' BT
Ketinggian : 16 Meter di atas permukaan laut
Luas Wilayah : 188,03 km
- Pemukiman : 157,35 km
- Pertanian : 23,54 km
- Hutan/Hutan Kota : 1,45 km
- Lain - Lain : 5,69 km
Jumlah Kec./ Kel. : 10 Kecamatan dan 65 Kelurahan
Kecamatan : (1) Pasar Rebo 12,97 km; (2) Ciracas 16,08 km; (3)
Cipayung 28,45 km; (4) Makasar 21,86 km; (5) Kramat Jati 13,29
km; (6) Jatinegara 10,25 km; (7) Duren Sawit 22,65 km; (8) Cakung
42,27 km; (9) Pulo Gadung 15,60 km; (10) Matraman 4,98 km.
Batas Wilayah
Selatan : Kab. Bogor (Prov. DKI Jakarta)
Timur : Kabupaten Bekasi (Prov. DKI Jakarta)
Barat : Sungai Ciliwung (Kota adm. Jakarta Selatan)
Utara : Kota Adm. Jakarta Pusat dan Kota Adm. Jakarta Utara

C. Wilayah Jakarta Pusat


Letak : 519'12'' - 623'54'' LS, 10622'42'' BT,
10658'18'' BB
Ketinggian : 4 Meter di atas permukaan laut
Luas Wilayah : 48,13 km
- Pemukiman : 45,98 km
- Pertanian : 1,32 km
- Hutan/Hutan Kota : 0,14 km
- Lain - Lain : 0,69 km
Jumlah Kec./ Kel. : 8 Kecamatan dan 44 Kelurahan

Penyusunan Rencana Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup (RPPLH) Tahap II DKI Jakarta II - 3
LAPORAN AKHIR

Kecamatan : (1) Tanah Abang 9,3 km; (2) Menteng 6,5 km; (3) Senen
4,2 km; (4) Johar Baru 2,38 km; (5) Cempaka Putih 4,69 km; (6)
Kemayoran 7,25 km; (7) Sawah Besar 6,16 km; (8) Gambir 7,29 km
Batas Wilayah
Selatan : Jl. Pramuka, Kali Ciliwung/Banjir Kanal, Jl. Jend
Sudirman, Jl. Lekir
Timur : Jl. Jend. Ahmad Yani/By Pass
Barat : Kota adm. Jakarta Barat dan Selatan
Utara : Jl. Duri Raya, Jl. KH Zainul Arifin. Jl. Wiryopranoto,
Jl.Mangga Dua, Jl. Rajawali Selatan 12, Jl. Eks Pelud
Kemayoran, Jl. Sunter Kemayoran

D. Wilayah Jakarta Barat


Letak : 519'12'' - 623'54'' LS, 10622'42''
10658'18''BT
Ketinggian : 7 Meter di atas permukaan laut
Luas Wilayah : 129,54 km
- Pemukiman : 107,95 km
- Pertanian : 20,40 km
- Hutan/Hutan Kota : 0,18 km
- Lain - Lain : 1,01 km
Jumlah Kec./ Kel. : 8 Kecamatan dan 56 Kelurahan
Kecamatan : (1) Kembangan 24,16 km; (2) Kebon Jeruk 17,98 km;
(3) Palmerah 7,51 km; (4) Grogol Petamburan 9,99 km; (5) Tambora
5,40 km; (6) Taman Sari 7,73 km; (7) Cengkareng 6,54 km; (8)
Kalideres 30,23 km
Batas Wilayah
Selatan : Kota Adm. Jakarta Selatan dan Prov. Banten
Timur : Kec. Gambir (Kota Adm. Jakarta Pusat)
Barat : Kota Tangerang (Prov. Banten)
Utara : Kec. Penjaringan (kota Adm. Jakarta Utara)

Penyusunan Rencana Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup (RPPLH) Tahap II DKI Jakarta II - 4
LAPORAN AKHIR

E. Wilayah Jakarta Utara


Letak : 0610'00'' LS, 10620'00'' BT
Ketinggian : 0 - 20 Meter di atas permukaan laut
Luas Wilayah : 146,66 km
- Pemukiman : 125,66 km
- Pertanian : 14,63 km
- Hutan/Hutan Kota : 4,33 km
- Lain - Lain : 2,04 km
Jumlah Kel/Kec : 31 Kelurahan dan 6 Kecamatan
Kecamatan : (1) Penjaringan 35,49 km; (2) Pademangan 9,92 km; (3)
Tanjung Priok 25,28 km; (4) Koja 11,32 km; (5) Kelapa Gading 16,12
km; (6) Cilincing 42,54 km.
Batas Wilayah
Selatan : Kota Adm. Jakarta Barat, Jakarta Pusat dan Jakarta Timur
Timur : Kota Adm. Jakarta Timur dan Kab. Bekasi
Barat : Kab. Tangerang dan Kota Adm. Jakarta Barat
Utara : Laut Jawa

F. Wilayah Kepulauan Seribu


Letak : 0510'00''- 0510'00'' LS , 10619'30'' 10644'50'' BT
Ketinggian : 1 Meter di atas permukaan laut
Luas Wilayah : 8,70 km
- Pemukiman : 5,90 km
- Pertanian : 1,79 km
- Hutan/Hutan Kota : 1,01 km
Jumlah Kec./ Kel. : 2 Kecamatan dan 6 Kelurahan
Kecamatan : Kep. Seribu Selatan 167,54 Ha;Kep. Seribu Utara 62,68 Ha.
Batas Wilayah
Selatan : 2 wilayah Kota Administrasi, 3 wilayah Prov. Banten dan 1
wilayah DKI Jakarta
Timur : Laut Jawa
Barat : Wilayah Prov. Lampung
Utara : Laut Jawa

Penyusunan Rencana Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup (RPPLH) Tahap II DKI Jakarta II - 5
LAPORAN AKHIR

2.2. Karakteristik Lingkungan Fisik (Abiotik)

2.2.1. Karateristik Topografi

Provinsi DKI Jakarta termasuk dalam satuan morfologi dengan kemiringan lereng
0-0,5% dan ketinggian kurang dari 10 meter di daerah pantai hingga 70 meter di
bagian selatan Jakarta mendekati Bogor. Jakarta memiliki 13 sungai utama yang
mengalir di dalamnya, dengan sungai-sungai utama yang mengalir di wilayah
DKI Jakarta adalah Sungai Angke, Sungai Krukut, Sungai Ciliwung, Sungai
Grogol, Sungai Sunter, Sungai Cipinang, dan Sungai Cakung. Tata letak DKI
Jakarta pada daerah dataran rendah pantai menimbulkan
beberapa kendala fisik yaitu sekitar 5% dari luas areal luas DKI Jakarta berada
pada ketinggian kurang dari 10 meter diatas permukaan laut dan kemiringan
berkisar 0- 0,5%. Selain itu 13 sungai yang mengalir melalui DKI Jakarta
mengakibatkan terbentuknya dataran banjir. Seperti pada Gambar 2.2. dan
Gambar 2.3.

2.2.2. Karakteristik Tanah dan Geologi

DKI Jakarta yang didominasi oleh jenis batuan berupa batuan sedimen (aluvial)
yang berasal dari endapan gunung berapi di selatan Kabupaten Bogor.
Membentuk Cekungan air tanah yang terdiri atas endapan laut, sungai, rawa,
dan endapan yang berasal dari gunung berapi. Endapan penyusun cekungan air
tanah Jakarta tersebut terdiri atas perselingan lempung, pasir dan kerikil,
endapan jenis ini terdapat hampir di seluruh daerah di Jakarta.

Sementara itu terdapat pula jenis endapan penyusun air tanah dengan jenis yang
sedikit berbeda dengan endapan yang mendominasi daerah di Jakarta, yakni
endapan yang dinamakan endapan pantai dan rawa. Endapan pantai dan rawa
tersusun oleh lempung, lumpur, dan pasir. Jenis endapan pantai dan rawa ini
berada di sepanjang pantai utara DKI Jakarta.

a. Pasir Lempungan dan Lempung Pasiran


Merupakan endapan aluvial sungai dan pantai berangsur-angsur dari atas ke
bawah terdiri dari lanau lempungan, lanau pasiran dan lempung pasiran.

Penyusunan Rencana Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup (RPPLH) Tahap II DKI Jakarta II - 6
LAPORAN AKHIR

Semakin ke arah Utara mendekati pantai berupa lanau pasiran dengan


sisipan lempung organik dan pecahan cangkang kerang, tebal endapan
antara perselang-seling lapisannya berkisar antara 3-12 m dengan ketebalan
secara keseluruhan diperkirankan mencapai 300 m. Lanau lempungan
tersebar secara dominan di permukaan, abu-abu kehitaman sampai abu-abu
kecoklatan, setempat mengandung material organik, lunak-teguh, plastisitas
sedang-tinggi. Lanau pasiran, kuning keabuan, teguh, plastisitas sedang-
tinggi. Lempung pasiran, abu-abu kecoklatan, teguh, plastisitas sedang-
tinggi. Pada beberapa tempat nilai qu untuk lanau lempungan antara lanau
pasiran antara 2 - 3 kg/cm2 dan lempung pasiran antara 1,5 3 kg/cm2,
tebal lapisan lanau lempungan antara 1,5 5 m, lanau pasiran antara 0,5
3 m, dan lempung pasiran antara 1 4 m dengan nilai tekanan konus lanau
lempungan sekitar 2 20 kg/m2, lanau pasiran antara 15 25 kg/m2, dan
lempung pasiran antara 10 40 kg/m2.

b. Satuan Pasir Lempungan


Merupakan endapan pematang pantai berangsur-angsur dari atas ke bawah
terdiri dari perselang-selangan lanau pasiran dan pasir lempungan. Tebal
endapan antara 4,5 13 m. Di permukaan didominasi oleh pasir lempungan,
dengan warna coklat muda dan mudah terurai. Pasir berbutir halus-sedang,
mengandung lempung, setempat kerikilan dan pecahan cangkang kerang.
Lanau pasiran berwarna kelabu kecoklatan, lunak, plastisitas sedang. Pada
beberapa tempat nilai qu untuk pasir lempungan antara 0,75 2 kg/cm2 dan
lanau pasiran antara 1,5 3 kg/cm2, tebal lapisan pasir lempungan antara 3
- 10 m dan lanau pasiran antara 1,5 - 3 meter dengan kisaran nilai tekanan
konus pasir lempungan antara 10 - 25 kg/m2 dan lanau pasiran antara 2 -
10 kg/m2

c. Satuan Lempung Pasiran dan Pasir Lempungan


Merupakan endapan limpah banjir sungai. Satuan ini tersusun berselang-
selang antara
lempung pasiran dan pasir lempungan. Lempung pasiran umumnya
berwarna abu-abu kecoklatan, coklat, dengan plastisitas sedang, konsistensi

Penyusunan Rencana Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup (RPPLH) Tahap II DKI Jakarta II - 7
LAPORAN AKHIR

lunak-teguh. Pasir lempungan berwarna abu-abu, agak lepas, berukuran


pasir halus-kasar, merupakan endapan alur sungai dengan ketebalan 1,5
17 m.

d. Lempung Lanauan dan Lanau Pasiran


Merupakan endapan kipas aluvial vulkanik (tanah tufa dan konglomerat),
berangsur-angsur dari atas ke bawah terdiri dari lempung lanauan dan lanau
pasiran dengan tebal lapisan antara 3 13,5 m. Lempung lanauan tersebar
secara dominan di permukaan, coklat kemerahan hingga coklat kehitaman,
lunak-teguh, plastisitas tinggi. Lanau pasiran, merah-kecoklatan, teguh,
plastisitas sedang-tinggi. Pada beberapa tempat nilai qu untuk lempung
antara 0,8 2,85 kg/cm2 dan lanau lempungan antara 2,3 3,15 kg/cm2,
tebal lapisan lempung antara 1,5 - 6 m dan lanau lempungan antara 1,5
7,5 m. Kisaran nilai tekanan konus lempung antara 2 50 kg/m2 dan lanau
lempungan antara 18 75 kg/m2. Tufa dan konglomerat melapuk
menengah tinggi, putih kecoklatan, berbutir pasir halus-kasar, agak padu
dan rapuh.

Pada Gambar 2.4. berisikan informasi mengenai jenis batuan di Jakarta dapat
dilihat sebarannya. Jenis batuan lempung pasiran dan lempung organik sebagian
besar tersebar di bagian utara Jakarta dan berbatasan langsung dengan laut.
Namun jenis batuan ini juga tersebar di bagian tengah dan barat Jakarta, namun
sebarannya tidak terlalu mendominasi di bagian ini. Untuk jenis batuan berupa
pasir lanauan tidak terlalu luas di Jakarta. Jenis batuan ini terdapat di bagian
barat laut dan timur laut Jakarta. Pasir lempungan dan lempung pasiran
merupakan jenis batuan yang sebarannya tidak terlalu luas di Jakarta. Jenis
batuan ini hanya berada di bagian timur Jakarta.Untuk jenis batuan lempung
lanauan dan lanau lempungan sangat mendominasi di Jakarta, jenis batuan ini
tersebar sebagian besar di Jakarta bagian utara dan sedikit di bagian selatan
Jakarta. Jenis batuan lain yang juga mendominasi di Jakarta adalah Lempung
Pasiran dan lanau Pasiran. Sebaran jenis batuan ini berada di bagian tengah
hingga selatan Jakarta.

Penyusunan Rencana Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup (RPPLH) Tahap II DKI Jakarta II - 8
LAPORAN AKHIR

DAS hulu Ciliwung dari sekuen paling atas mempunyai tanah berbahan pasir
volkan muda, kedalaman tanah dalam, tekstur kasar, kelolosan air atau porositas
tinggi (jenis tanah Regosol atau Udipsamments) berasosiasi dengan tanah
dangkal, halus, dan berbatu
(Litosol atau Udorthents). Jakarta bagian selatan, merupakan wilayah yang
kompleks dengan tanah bersifat sedang-dalam, tekstur halus, teguh, porositas
rendah, berwarna kemerahan (Latosol coklat kemerahan dan Latosol merah atau
Inceptisols/Ultisols) seperti dapat kita lihat Tabel 2.2. dan Gambar 2.5.
Tabel 2.2.
Jenis Tanah Di Kawasan DKI Jakarta
Luas Tanah (Km)
Total
No Jenis Tanah Jakarta Jakarta Jakarta Jakarta Jakarta
(km)
Selatan Timur Pusat Barat Utara
1 Aluvial Hidromorf - - - 0,09 33,32 33,41
2 Aluvial Kelabu Tua - - 12,40 59,53 69,42 141,35
Asosiasi Glei Humus
3 - 26,12 1,96 - 12,69 40,77
Rendah, Aluvial Kelabu
Asosiasi Latosol Merah,
4 145,53 159,44 33,78 53,46 0,82 393,03
Latosol Coklat Kemerahan
5 Regosol Coklat - - - 12,65 11,44 24,09
DKI Jakarta 145,53 185,56 48,14 125,73 127,69 632,65
Sumber: Jakarta Coastal Defence Strategy Project (JCDS), 2011

2.2.3. Karakteristik Klimatologi

Keadaan iklim di wilayah Jakarta menurut stasiun pengamatan Jakarta tahun


2011 memiliki suhu udara rata-rata 28,4C dengan kelembaban udara 74 persen,
tekanan udara 1009,6 mbs, arah angin 270 point, kecepatan angin 2 mill/h,
penyinaran matahari 45 persen dan curah hujan rata-rata 2.395 mm2. Curah
hujan yang terjadi di Jakarta cukup bervariasi dari tahun ke tahun. Berdasarkan
data yang diperoleh dari Badan Meteorologi dan Geofisika secara umum DKI
Jakarta memiliki curah hujan bulanan dengan kisaran kurang dari 50 mm hingga
lebih dari 300 mm.

Secara umum, Provinsi DKI Jakarta tidak terlepas dari dampak fenomena
pemanasan global yang mengakibatkan perubahan iklim dan kenaikan frekuensi
maupun intensitas kejadian cuaca ekstrim. Fenomena pemanasan global yang
mengakibatkan perubahan iklim dapat mengakibatkan terjadinya perubahan

Penyusunan Rencana Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup (RPPLH) Tahap II DKI Jakarta II - 9
LAPORAN AKHIR

sosial dan budaya. Pada akhirnya perubahan iklim juga akan merubah pola
kehidupan dan tingkat kesejahteraan masyarakat.

Dari hasil pemantauan suhu yang dilakukan oleh Badan Meteorologi Klimatologi
dan Geofisika pada titik pemantauan Stasiun Meteorologi Kemayoran
menunjukkan bahwa rata-rata suhu udara di Jakarta setiap bulannya berubah-
ubah. Selama tahun 2011 suhu rata-rata terendah terjadi pada bulan Januari
yaitu sebesar 27,3C dan tertinggi pada bulan Oktober yaitu sebesar 29,2C, dan
apabila dibandingkan dengan tahun 2010, rata-rata suhu terendah terjadi pada
bulan Januari yaitu 27,4C dan tertinggi terjadi pada bulan April yaitu 29,7C,
menunjukan bahwa telah adanya perubahan iklim di Indonesia untuk lebih
jelasnya dapat dilihat pada Tabel 2.3. dan Gambar 2.6. Gambar 2.7.

Tabel 2.3.
Suhu Rata-rata dan Curah Hujan Bulanan Tahun 2011

Kabupaten/ Curah Hujan Hari Hujan Temperatur Kelembaban


No
Kota Adm. (mm) (hari) / Suhu (C) Udara (%)
1 Jakarta Selatan 98,2 14 25,00 77,00
2 Jakarta Timur 138,1 143 28,1 76,06
3 Jakarta Pusat 97,8 13 28,46 74,07
4 Jakarta Barat 230,70 153 28,47 74,06
5 Jakarta Utara 100,6 129 28,04 75,00
6 Kep. Seribu n/a 129 28,43 74,75
Sumber: BPS Kab/Kota Dalam Angka 2012

Tabel 2.4.
Statistik Data Temperatur Rata-rata Bulanan
Tahun Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec Rata-Rata
2006 27,3 27,7 28,1 28,5 28,7 28,7 28,7 28,3 28,7 29,6 29,7 28,7 28,6
2007 28,6 27,1 28,0 28,3 28,8 28,5 28,7 28,6 28,6 28,7 28,5 27,4 28,3
2008 28,1 26,3 27,4 28,1 28,9 28,5 28,4 28,5 28,9 29,0 28,1 27,7 28,2
2009 27,1 27,2 28,3 28,9 28,5 28,9 28,7 29,0 29,4 29,4 28,4 28,5 28,5
2010 27,4 28,1 28,6 29,7 29,3 28,5 28,3 28,7 27,9 27,9 28,4 27,7 28,4
2011 27,3 27,6 27,9 28,6 28,8 28,7 28,3 28,8 29,0 29,2 28,9 28,5 28,5
Sumber: Meteorologi Kemayoran, BMKG 2012

Penyusunan Rencana Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup (RPPLH) Tahap II DKI Jakarta II - 10
LAPORAN AKHIR

Tabel 2.5.
Statistik Data Jumlah Curah Hujan Bulanan
Tahun Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec Rata-Rata
2006 390 289 300 316 85 31 53 0 0 11 27 112 134,5
2007 211 675 178 166 189 101 35 67 60 76 86 513 196,2
2008 227 678 212 218 26 51 10 36 97 86 114 154 159,1
2009 548 232 141 93 223 74 10 7 88 63 304 189 164,4
2010 377 223 243 27 88 134 250 151 256 381 143 124 199,6
2011 146 231 148 107 199 71 18 2 53 80 45 177 106,2
Sumber: Meteorologi Kemayoran, BMKG 2012

2.2.4. Karakteristik Hidrologi

Berdasarkan letaknya Kota Jakarta termasuk dalam kota delta (delta city) yaitu
kota yang berada pada muara sungai. Kota delta umumnya berada di bawah
permukaan laut, dan cukup rentan terhadap perubahan iklim. Kota delta Jakarta
dialiri oleh 13 aliran sungai dan dipengaruhi oleh air pasang surut.

Tiga belas sungai dan dua kanal yang melewati Jakarta sebagian besar berhulu
di daerah Jawa Barat dan bermuara di Teluk Jakarta. Tiga belas sungai tersebut
yaitu Kali Mookervart, Kali Angke, Kali Pesanggrahan, Kali Grogol, Kali Krukut,
Kali Baru Barat, Kali Ciliwung, Kali Cipinang, Kali Sunter, Kali Baru Timur, Kali
Buaran, Kali Jati Kramat, dan Kali Cakung. Sedangkan 2 (dua) kanal besar yang
ada yaitu Kanal Banjir Barat dan Kanal Banjir Timur. Peta sungai dan kanal yang
melewati wilayah DKI Jakarta dapat dilihat pada Gambar 2.8. di bawah ini

2.3. Karakteristik Lingkungan Hayati (Biotik)

2.3.1. Karakteristik Hutan

Hutan merupakan salah satu alternatif untuk mengatasi masalah pengendalian


daur air, erosi dan longsor lahan. Harapan ini perlu didukung bersama untuk
mewujudkan, karena banyak kelebihan ekosistem hutan untuk mewujudkan
harapan tersebut. Nilai peran hutan ditentukan oleh luas, jenis, watak
pertumbuhan, keadaan pertumbuhan dan struktur hutannya. Ekosistem hutan
juga dipengaruhi oleh keadaan iklim, geologi, watak tanah dan geomorfologi,
sehingga di dalam membangun hutan harus memperhatikan faktor-faktor yang
mempengaruhi dan masalah kependudukannya. Prioritas pembangunan yang

Penyusunan Rencana Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup (RPPLH) Tahap II DKI Jakarta II - 11
LAPORAN AKHIR

dilakukan Pemda DKI Jakarta pada bidang kehutanan meliputi pemeliharaan


hutan alam yang sudah ada dan pengembalian fungsi lahan ke rencana tata
ruang yang sudah ada.

DKI Jakarta hanya mempunyai 2 jenis hutan yaitu hutan lindung dan hutan
konservasi. Hutan kota yang tersebar di beberapa lokasi tidak dimasukkan dalam
salah satu kategori diatas, tapi dimasukkan dalam klasifikasi tersendiri.

1. Hutan Lindung
Hutan lindung mempunyai fungsi khusus sebagai pelindung tata air,
pencegah erosi, banjir, abrasi pantai dan pelindung terhadap tiupan angin.
Kawasan hutan lindung yang ada di DKI Jakarta seluruhnya merupakan
hutan payau/bakau, pada tahun 2010 luasnya mencapai 44,76 Ha dan tidak
mengalami perubahan selama kurun waktu 2011.

2. Hutan Konservasi
Hutan konservasi di DKI Jakarta pada tahun 2011 mencapai 225.5 Ha terdiri
dari hutan cagar alam seluas 88,02 Ha dan hutan taman wisata alam seluas
137.48 Ha,dan tidak mengalami perubahan apabila dibandingkan dengan
tahun 2010.

3. Hutan Kota
Hutan kota di Jakarta tersebar di 59 lokasi dan luasnya sekitar 644.38 Ha.
Luas hutan kota ini jauh lebih besar dibandingkan dengan luas hutan alami
(hutan lindung dan hutan konservasi) yang ada di DKI Jakarta atau sekitar
60.05 persen dari total luas hutan di DKI Jakarta (1.072,99 Ha).

Pada tahun 2011 ada penambahan hutan kota seluas 3,45 Ha di Jakarta
Timur dan Jakarta Utara yaitu hutan kota di Munjul Cipayung sebesar 0,72
Ha dan di Semper Timur sebesar 5,73 Ha. Sedangkan hasil inventarisasi
diperoleh hasil bahwa selama tahun 2011 tidak terjadi perubahan luas.
Secara lengkap lokasi dan luas hutan kota adalah sebagai berikut :

Penyusunan Rencana Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup (RPPLH) Tahap II DKI Jakarta II - 12
LAPORAN AKHIR

Tabel 2.6.
Luas Hutan Kota Provinsi DKI Jakarta Tahun 2011

Kotamadya Nama/Lokasi Hutan Luas (Ha)


Jakarta Selatan 357,45
- Kampus UI Depok 55,40
- Kel. Srengseng Sawah Kec Jagakarsa 0,60
- Kebun Binatang Ragunan 140,00
- Situ Mangga Balong 2,02
- Blok P 1,64
- Pondok Indah 3,90
- Kampus ISTN 11,10
- Kali Pesanggrahan 10,00
- Yonzikon 13 2,88
- Kelurahan Ciganjur 22,56

- Arhanud SE-10 9,82


- Sespolwan Kebayoran Lama 30,00
- Seskoal 8,75
- Marinir Cilandak 28,50
- TMP Kalibata 5,00
- Kelurahan Cipedak Kec. Jagakarsa 0,35
- GOR Ragunan 4,00
- Kelurahan Cipedak 19,75
- Hutan Kota Jagakarsa 1,18
Jakarta Timur 146,05
- Mabes TNI Cilangkap 14,43
- Komplek Linud Halim PK 3,50
- Arboretum Cibubur 25,00
- PT. JIEP Pulogadung 8,90
- Situ Rawa Dongkal 3,28
- Komplek Kopasus Cijantung 1,75
- Gedung Pemuda Cibubur 10,00
- Bumi Perkemahan Cibubur 27,32
- Fly over Kampung Rambutan 3,00
- Museum Purnabakti, TMII 3,00
- Viaduct Klender 4,00
- Kelurahan Pondok Kelapa 6,00
- BPLIP Pulogadung 3,00
- Kawasan Pulomas 3,00
- Kelurahan Kelapa Dua Wetan 8,00
- Kelurahan Cawang 5,85
- Kawasan Mabad. Kalisari 1,00
- Waduk Bea Cukai 2,30
- IPAK Cakung 12,00
- Munjul 0,72
Jakarta Pusat 14,38
- Manggala Wana Bhakti 4,30
- Gelora Bung Karno 4,80
- Masjid Istiqlal 1,08
- Yayasan Said Naum 1,20

Penyusunan Rencana Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup (RPPLH) Tahap II DKI Jakarta II - 13
LAPORAN AKHIR

Kotamadya Nama/Lokasi Hutan Luas (Ha)


- Cempaka Mas 1,80
Jakarta Barat 17,89
- LPA. Srengseng 15,00
- Rawa Buaya 1,09
- Kembangan Utara 1,80
Jakarta Utara 108,62
Waduk Pluit
- 6,00
Danau Sunter
- 8,20
PT. Jakarta Propertindo
- 2,49
Kawasan Berikat Nusantara (KBN)
- 1,59
Kuburan Belanda, Ancol
- 3,00
Kali Karang (Seratus Kota)
- 2,00
PT. Astra Honda Motor
- 4,00
Eks Babeks Sungai Bambu
- 3,00
Sekolah Tinggi Ilmu Pelayaran,
-
3,00
marunda
- Gudang Peluru Marinir 65,00
- Kemayoran 4,60
- Semper Timur 5,75
JUMLAH LUAS HUTAN KOTA 644,38
Sumber : Dinas Kelautan dan Pertanian Provinsi DKI Jakarta, 2011
Keterangan : Laporan Sementara

2.3.2. Karakteristik Flora dan Fauna

Jenis tumbuhan yang terdapat di DKI Jakarta cukup bervariasi mulai dari jenis
tumbuhan pantai sampai dengan jenis tumbuhan dataran/pegunungan dan
palawija. Akan tetapi sampai dengan tahun 2010 ini belum dapat diketahui
jumlah seluruh jenis tumbuhan yang ada di DKI Jakarta, hanya jenis tumbuhan
pantai khususnya yang ada di kepulauan Seribu yang sudah terdeteksi yaitu ada
sekitar 86 jenis. Untuk jenis tumbuhan pantai umumnya didominasi oleh jenis
pohon Kelapa, Cemara laut, Ketapang, Rutun, Mengkudu dan Pandan laut.
Disamping itu di beberapa pulau di Kepulauan Seribu banyak ditemukan Sukun.
Dari gambaran tersebut diatas bahwa keanekaragaman hayati baik flora dan
fauna banyak terdapat di wilayah tersebut.

Mangrove juga memiliki fungsi ekologis sebagai habitat berbagai jenis satwa liar.
Keanekaragaman fauna di hutan mangrove cukup tinggi, secara garis besar
dapat dibagi dua kelompok, yaitu fauna akuatik seperti ikan, udang, kerang, dan
lainnya serta kelompok terestrial seperti insekta, reptilia, amphibia, mamalia, dan

Penyusunan Rencana Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup (RPPLH) Tahap II DKI Jakarta II - 14
LAPORAN AKHIR

burung (Nirarita et al., 1996). Di Pulau Jawa tercatat 167 jenis burung dijumpai
di hutan mangrove, baik yang menetap maupun migran (Nirarita et al., 1996).
Kalong (Pteropus vampyrus), Monyet (Macaca fascicularis), Lutung (Presbytis
cristatus), Bekantan (Nasalis larvatus), kucing Bakau (Felis viverrina), Luwak
(Paradoxurus hermaphroditus), dan Garangan (Herpetes javanicus) juga
menyukai hutan mangrove sebagai habitatnya (Nontji, 1987). Beberapa jenis
reptilia yang hidup di hutan bakau antara lain Biawak (Varanus salvator), ular
Belang (Boiga dendrophila), ular Sanca (Phyton reticulatus), dan jenis-jenis ular
air seperti Cerbera rhynchops, Archrochordus granulatus, Homalopsis buccata,
dan Fordonia leucobalia. Dua jenis katak yang dapat ditemukan di hutan
mangrove adalah Rana cancrivora dan R. limnocharis (Nirarita et al., 1996).
Hutan mangrove juga sebagai habitat beberapa jenis burung yang dilindungi
seperti Pecuk ular (Anhinga anhinga melanogaster), Bintayung (Freagata
andrew-si), Kuntul perak kecil (Egretta garzetta), Kowak merah (Nycticorax
caledonicus), Bangau tongtong (Leptoptilos javanicus), Ibis hitam (Plegadis
falcinellus), Bangau hitam (Ciconia episcopus), burung Duit (Vanellus indicus),
Trinil tutul (Tringa guitifer), Blekek Asia (Limnodromus semipalmatus),
Gegajahan Besar (Numenius arquata), dan Trulek lidi (Himantopus himantopus)
(Sutedja dan Indrabrata, 1992). Jenis-jenis burung Egretta eulophotes, Kuntul
perak (E. intermedia), Kuntul putih besar (E. alba), Bluwok (Ibis cinereus), dan
Cangak laut (Ardea sumatrana) juga mencari makan di dekat hutan mangrove
(Whitten et al., 1988). Keanekaragaman hayati baik flora dan fauna di DKI
Jakarta secara umum tidak berbeda jauh dengan keadaan flora dan fauna
lainnya di pulau Jawa. Hal ini karena adanya kesatuan geografis meskipun saat
ini sudah banyak mengalami pengurangan akibat tingginya pembangunan di DKI
Jakarta.

2.4. Karakteristik Lingkungan Kultural

2.4.1. Karakteristi Kependudukan

Pada tahun 2006, penduduk DKI Jakarta berjumlah 8.961.680 jiwa, sedangkan
pada tahun 2011 jumlah penduduk bertambah menjadi 10.187.595 juta jiwa.
Dari keseluruhan jumlah penduduk tersebut, penduduk laki-laki adalah sebanyak
5.252.767 jiwa dan perempuan sebanyak 4.934.828 jiwa, dengan seks Rasio

Penyusunan Rencana Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup (RPPLH) Tahap II DKI Jakarta II - 15
LAPORAN AKHIR

106. Laju pertumbuhan penduduk DKI Jakarta pada periode 2000 - 2010 sebesar
1,42 persen per tahun. Sedangkan laju pertumbuhan penduduk pada periode
tahun 1990 2000 hanya sebesar 0,78 persen per tahun.
Tabel 2.7.
Jumlah, Kepadatan dan Pertumbuhan Penduduk DKI Jakarta
Luas Kepadatan Pertumbuhan
Kab/Kota Penduduk
No Wilayah Penduduk Penduduk
Administrasi (Jiwa)
(Km2) (Jiwa/Km) (%)
1 Jakarta Selatan 141,27 2.135.571 14.598 1,46
2 Jakarta Timur 188,03 2.926.732 14.327 1,38
3 Jakarta Pusat 48,13 1.123.670 18.761 0,32
4 Jakarta Barat 129,54 2.260.341 17.615 1,83
5 Jakarta Utara 146,66 1.716.345 11.220 1,49
6 Kep. Seribu 8,70 24.936 2.423 2,03
DKI Jakarta 662,33 10.187.595 13.158 1,42
Sumber: BPS - Jakarta Dalam Angka 2012

Penduduk di Jakarta tersebar di lima wilayah kota administrasi dan satu


Kabupaten Kepulauan Seribu. Perkembangan jumlah penduduk di lima wilayah
kota administrasi dan satu Kabupaten Kepulauan Seribu terlihat pada Peta
Gambar 2.9. Distribusi penduduk menurut kabupaten/kota bervariasi dari
terendah sebesar 0,22 persen di Kabupaten Kepulauan Seribu hingga yang
tertinggi sebesar 28,02 persen di Kota Jakarta Timur.

Gambar 2.10. Grafik Jumlah Penduduk DKI Jakarta Berdasarkan


Kota/ Kabupaten Administrasi Tahun 2007 - 2010

Penyusunan Rencana Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup (RPPLH) Tahap II DKI Jakarta II - 16
LAPORAN AKHIR

2.4.2. Karakteristik Penggunaan Lahan

Secara garis besar penggunaan lahan dapat dikelompokkan menjadi: pertanian,


hutan, pemukiman dan penggunaan lainnya. Pada umumnya, penetapan
penggunaan lahan didasarkan pada karakteristik lahan dan daya dukung
lingkungannya. Bentuk penggunaan lahan yang ada dapat dikaji melalui proses
evaluasi sumber daya lahan, sehingga dapat diketahui potensi sumber daya
lahan untuk berbagai penggunaannya seperti dapat kita lihat pada Gambar
2.11. di bawah ini

Dapat dilihat luas wilayah administrasi pada penggunaan lahan di Prov. DKI
Jakarta dengan wilayah terbesar atau terluas pada daerah pemukiman yaitu pada
wilyah kota administrasi Jakarta Timur dengan luas 157,35 km dan wilayah
terkecil terdapat pada wilayah Kabupaten Kepulauan Seribu yang memiliki luas
pemukiman 5,90 km yang secara rinci dapat kita lihat pada Tabel 2.8. di
bawah ini. Sedangkan grafik penggunaan lahan di DKI Jakarta dapat dilihat pada
Gambar 2.12.

Tabel 2.8.
Luas Wilayah Administrasi dan Penggunaan Lahan
Kab/Kota Luas Wilayah Pemukiman Pertanian Hutan dan Lain -
No
Administrsi (Km) (Km) (Km) Hutan Kota Lain
1 Jakarta Selatan 141,27 114,33 21,98 3,57 1,39
2 Jakarta Timur 188,02 157,32 23,54 1,47 5,69
3 Jakarta Pusat 48,13 45,98 1,32 0,14 0,69
4 Jakarta Barat 129,55 107,96 20,40 0,18 1,01
5 Jakarta Utara 146,66 130,18 10,13 4,31 2,04
6 Kep. Seribu 8,71 5,89 1,79 1,03 -
DKI Jakarta 662,34 561,66 79,16 10,70 10.82
Sumber: SLHD 2012

Dalam beberapa dekade terakhir perkembangan fisik wilayah DKI Jakarta


ditandai oleh semakin luasnya lahan terbangun. Perkembangan lahan terbangun
berlangsung dengan pesat seiring dengan pertumbuhan penduduk dan
aktifitasnya. Kecenderungan tersebut mengindikasikan bahwasanya ketersediaan
lahan menjadi permasalahan yang penting bagi pembangunan Provinsi DKI
Jakarta.

Penyusunan Rencana Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup (RPPLH) Tahap II DKI Jakarta II - 17
LAPORAN AKHIR

Gambar 2.12. Grafik Wilayah Administrasi dan Penggunaan Lahan


di DKI Jakarta

Pembangunan fisik di Jakarta terus mengalami perkembangan yang cukup


signifikan. Hal ini ditandai oleh pembangunan gedung perkantoran, sarana
ekonomi dan sosial serta infrastruktur kota lainnya. Semua ini merupakan
konsekuensi logis dari semakin majunya pembangunan dan perekonomian
Jakarta. Peruntukan lahan untuk perumahan menduduki proporsi terbesar, yaitu
48,41 persen dari luas daratan utama DKI Jakarta. Sedangkan yang
diperuntukkan bangunan industri , perkantoran dan perdagangan hanya
mencapai 15,68 persen.

2.5. Kondisi Pengelolaan Sumber Daya Alam di Wilayah DKI Jakarta

2.5.1. Potensi dan Ketersediaan Air Permukaan

Air permukaan adalah semua air yang terdapat pada permukaan tanah, termasuk
didalamnya adalah sungai dan situ/waduk. Potensi sumber daya air permukaan
(sungai, waduk dan danau/situ) memerlukan upaya pengelolaan yang baik dan
terencana. Aspek yang ditekankan adalah tinjauan terhadap kualitas dan
sekaligus upaya perlindungan badan air penerima (BAP) dari resiko pencemaran
yang dikaitkan dengan upaya pemanfaatan potensi air permukaan itu sendiri
sebagai sumber air bersih perkotaan dan sumber air bersih untuk keperluan

Penyusunan Rencana Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup (RPPLH) Tahap II DKI Jakarta II - 18
LAPORAN AKHIR

industri atau niaga lainnya, sebagaimana diatur dalam peraturan yang berlaku.
DKI Jakarta dihadapkan pada kondisi yang sangat kritis berkaitan dengan
pengelolaan sumber daya air, khususnya dalam hal ketersediaan air. Setiap
tahunnya, Jakarta senantiasa menghadapi ancaman banjir pada musim hujan,
sementara itu hampir sepanjang waktu selalu mengalami krisis air baku untuk
keperluan air minum. Dilihat dari aspek sanitasi lingkungan perkotaan, rendahnya
tingkat penanganan limbah cair perkotaan telah memberikan dampak
pencemaran yang serius terhadap badan air (air permukaan) sehingga tidak
memungkinkan lagi dapat dimanfaatkan sebagai (alternatif) sumber air baku
untuk memenuhi kebutuhan air bersih yang terus meningkat.

Tabel 2.9.
Panjang dan Luas Badan Air di DKI Jakarta
Panjang dan Luas Badan Air
Badan Badan Air
Panjang (m) Luas (m)
Situ - 1.114.200
Waduk - 2.308.300
Sungai Melalui 2 Provinsi 290.860 5.325.020
Sungai Di DKI Jakarta 96.610 1.566.440
Banjir Kanal 38.550 2.237.000
Sub Makro Drain 578.455 2.036.053
Mikro Drain 6.622.102 3.827.715
Saluran Irigasi 272.112 1.605.394
Jumlah Total 7.898.689 20.020.122
Sumber: BPS Jakarta Dalam Angka, 2012

A. Sungai

Sungai adalah alur atau wadah air alami berupa drainase alam, yang secara
gravitasi alirannya mengalir dari hulu ke hilir, dengan dibatasi kanan dan kiri
di sepanjang pengalirannya oleh garis sempadan sungai (garis maya batas
luar perlindungan sungai). Sungai memiliki potensi yang dapat memberikan
manfaat atau pun kerugian bagi kehidupan dan penghidupan manusia serta
lingkungannya. Bentuk lain sungai yaitu berupa palung dengan bagian
dasarnya mengalirkan air dengan kedalaman atau dengan debit tergantung
pada musim (kemarau dan hujan). Badan air penerima (BAP) dalam bentuk
sungai/kali yang melewati wilayah DKI Jakarta sebanyak 13 sungai besar
pada dasarnya sungai/kali itu sejak awal diperuntukan atau digunakan

Penyusunan Rencana Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup (RPPLH) Tahap II DKI Jakarta II - 19
LAPORAN AKHIR

sebagai sumber air baku untuk air bersih/minum (PAM Jaya maupun
masyarakat), saluran pematusan (drainase) kota, sebagai sumber air untuk
usaha perikanan dan usaha-usaha perkotaan lainnya. Namun karena sangat
minimnya kesadaran masyarakat dalam pengelolaan air limbah serta belum
tersedianya sarana dan prasarana pengelolaan air limbah, telah
menyebabkan kondisi kualitas badan air penerima tersebut dalam kondisi
tercemar dan tidak layak lagi untuk dapat digunakan sebagai sumber air
baku untuk keperluan PAM Jaya dan masyarakat langsung.

Penurunan kualitas badan air permukaan ini semakin mengkuatirkan,


sementara upaya signifikan untuk mengendalikannya dan apalagi untuk
memulihkan kondisinya masih berhadapan dengan banyak kendala, mulai
dari kebijakan, penegakan sanksi, penyediaan prasarana dan sarana,
kelembagaan, pembiayaan, serta partisipasi masyarakat.

Sangat ironi sekali potensi sumber daya air yang begitu besar tidak mampu
dikelola agar dapat dimanfaatkan demi kesejahteraan masyarakat dan untuk
pertumbuhan Kota Metropolitan DKI Jakarta ini. Kecuali Kali Krukut di bagian
hulu yang masih bisa dimanfaatkan sebagai sumber air baku Instalasi
Pengolahan Air Cilandak milik PAM Jaya, 12 sungai/kali lainnya dalam kondisi
tidak layak sebagai sumber air baku. Berikut pada Tabel 2.10. dapat diihat
luas dan debit DAS di DKI Jakarta. Karakteristik ke-13 sungai tersebut
diketahui dalam kondisi tercemar berat. Tidak ada sungai yang memiliki
indeks pencemarannya dengan kondisi yang baik. Keadaan ini tentu saja
menimbulkan keprihatinan dan memerlukan upaya nyata untuk perbaikan
kondisi sunga-sungai tersebut.

Tabel 2.10.
Luas dan Debit Daerah Aliran Sungai di DKI Jakarta
Debit
Sungai/ Panjang Lebar (m) Kedalaman
No. (m/dtk)
Kali (km) (m)
Permukaan Dasar Max Min
1 Ciliwung 46,20 70,00 10,00 2,40 61,81 28,31
2 Cipinang 27,35 24,40 10,00 1,40 3,49 3,25
3 Angke 12,81 17,90 9,00 2,20 27,47 7,41
4 Mookervart 7,30 38,50 9,60 2,34 2,53 1,31
5 Grogol 23,60 20,40 2,00 0,95 3,56 2,78
6 Sunter 37,25 10,00 3,00 1,40 5,84 0,86

Penyusunan Rencana Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup (RPPLH) Tahap II DKI Jakarta II - 20
LAPORAN AKHIR

Debit
Sungai/ Panjang Lebar (m) Kedalaman
No. (m/dtk)
Kali (km) (m)
Permukaan Dasar Max Min
7 Krukut 28,75 20,00 3,40 1,10 13,97 4,56
8 Kalibaru Timur 30,20 31,60 3,60 0,85 3,69 2,25
9 Kalibaru Barat 17,70 7,00 2,80 0,45 2,17 0,02
10 Buaran 7,90 11,00 3,20 1,30 5,87 0,38
11 Cakung 20,70 25,00 10,00 1,80 6,73 0,72
12 Pesanggrahan 27,30 14,00 3,50 2,60 22,00 10,14
13 Jati Kramat 3,80 11,20 4,00 0,68 17,56 0,877
Sumber : BPLHD Prov. DKI Jakarta, 2011
Ket: Lebar dan kedalaman dihitung rata-rata

B. Danau/Waduk/Situ

Sebagai salah satu bentuk air permukaan, selain berfungsi sebagai sumber
air, waduk/situ juga berfungsi sebagai bagian dari suatu sistem pengendali
banjir, penampung air, resapan air, irigasi, dan budi daya perikanan. Situ-
situ di wilayah DKI Jakarta yang tersebar di beberapa wilayah dengan luasan
yang berbeda mempunyai karakteristik yang berbeda, baik dalam hal
struktur dan tekstur tanah, sifat kimia air, plankton/periphyton, tumbuhan air
dan berbagai jenis ikan dan mahkluk hidup lainnya. Kondisi situ-situ tersebut
mempunyai fungsi ekologis yang sangat penting.

Sekarang ini keberadaan situ-situ di Provinsi DKI Jakarta seperti dilihat pada
Table 2.11 nama dan luas danau/waduk/situ yang cenderung berkurang
jumlahnya dan keadaannya sudah banyak yang tercemar maupun beralih
fungsi. Hal ini disebabkan akibat pembangunan yang sangat pesat di
berbagai sektor pembangunan, permukiman, gedung-gedung
perkantoran/perhotelan, industri ditambah lagi pertumbuhan penduduk dan
arus urbanisasi yang sedikit banyak memerlukan lahan.

Tabel 2.11.
Nama dan Luas Danau/Waduk/Situ di Wilayah DKI Jakarta

No NamaDanau/Waduk/Situ Luas (Ha) Volume (m)


1 JAKARTA SELATAN
- Situ Kalibata 6,00 120.500
- Situ Ragunan 10,00 210.000
- Situ Babakan 27,00 540.000
- Situ Sigura-gura 1,00 21.000
- Situ Kantor Walikota Selatan 0,50 78.000

Penyusunan Rencana Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup (RPPLH) Tahap II DKI Jakarta II - 21
LAPORAN AKHIR

No NamaDanau/Waduk/Situ Luas (Ha) Volume (m)


2 JAKARTA TIMUR
- Situ Rawa Pendongkelan 3,50 95.000
- Situ Ria Rio 5,00 110.000
- Situ Tipar/Arman 14,00 280.000
- Situ Kelapa Dua Wetan 8,00 192.000
- Situ Skuadron 1,00 25.000
- Situ Taman Mini 5,00 100.000
- Situ Rawa Dongkel 9,00 270.000
- Situ Rawa Bandung 3,00 60.000
- Situ Sunter Hulu 2,50 62.000
- Situ Bea Cukai 2,00 40.000
- Situ Elok 1,20 32.000
- Situ Rawa Rorotan 1,50 24.000

3 JAKARTA PUSAT
- Situ Taman Ria 6,00 150.000
- Situ Lembang 0,40 8.500
- Waduk Melati 3,50 87.500
- Menara Jakarta 4,00 60.000
- Pademangan 4,50 101.000
- Situ Manggala Wanabakti 0,80 10.500

4 JAKARTA BARAT
- Waduk Cakra Buana Lestari 0,20 4.500
- Waduk Bojong Indah 2,00 47.000
- Waduk Tomang Barat 6,00 148.000
- Waduk Jelambar Wijaya Kusuma 2,50 52.000
- Waduk Slipi Hankam I 1,00 21.000
- Waduk Pondok Badung 0,09 900
- Waduk Rawa Kepa 0,50 10.000
- Waduk Grogol 3,00 75.000
- Empang Bahagia 4,00 92.000
- IPAK Duri Kosambi 2,00 45.000

5 JAKARTA UTARA
- Waduk Pantai Indah Kapuk Utara 3,00 67.000
- Waduk Pantai Indah Kapuk Selatan 3,00 80.000
- Waduk Sunter I 27,40 822.000
- Waduk Sunter II 29,00 725.000
- Situ Teluk Gong 0,75 15.000
- Situ Pademangan 4,50 90.000
- Waduk Pluit 85,00 2.550.000
- Waduk Rawa Kendal 18,00 360.000
Sumber: BPLHD Prov. DKI Jakarta, 2011

Penyusunan Rencana Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup (RPPLH) Tahap II DKI Jakarta II - 22
LAPORAN AKHIR

Tabel 2.12.
Jumlah Rumah Tangga dan Sumber Air Minum
Kab/ Sumber Air Minum
Kota Adm. Ledeng Sumur Sungai Hujan Kemasan Lainnya
Jakarta Selatan 6.663 209.418 - 2.856 329.358 950
Jakarta Timur 57.493 255.198 587 - 395.998 -
Jakarta Pusat 77.759 13.266 - - 151.844 204
Jakarta Barat 193.222 40.624 - 1.562 389.049 521
Jakarta Utara 93.645 752 - 3.385 348.629 -
Kep. Seribu 232 757 - 2.410 1.498 -
TOTAL 429.014 520.015 587 10.213 1.616.376 1.675
Sumber: BPS Prov. DKI Jakarta, 2011

Sungai memiliki aneka fungsi, yaitu fungsi dimanfaatkan untuk menunjang


berbagai kebutuhan serta fungsi sebagai badan air penerima limbah cair, sampah
serta bantarannya dipakai untuk hunian ilegal.

Air Baku Air Minum PDAM


Beberapa sungai dimanfaatkan untuk air baku air minum PDAM, yaitu:
- Kali Ciliwung untuk air baku Instalasi Pengolahan Air Bersih (IPAB)
PDAM Condet.
- Kali Krukut untuk air baku IPAB PDAM Taman Kota, kapasitas 200 L/det,
dioperasikan sejak tahun 1975, namun sejak Nopember tahun 2005
operasi dihentikan karena buruknya kualitas air (Palija,2009).

Fungsi Mandi Cuci Penduduk Sepanjang Sungai


Penduduk sekitar sungai memanfaatkan air sungai untuk keperluan mandi
dan cuci, seperti antara lain dilakukan masyarakat Krukut untuk air baku
IPAB PDAM Cilandak,kapasitas 400 L/det, yang dioperasikan sejak tahun
1977 (Palija, 2009) Kali Pesanggrahan sekitar Kali Ciliwung, di Kelurahan
Kampung Melayu, maupun di Kelurahan Manggarai.

Sarana Transportasi
Diantara sungai tersebut ada juga yang berfungsi sebagai sarana
transportasi, yaitu Kali Ciliwung seperti dilakukan masyarakat sekitar di
Kampung Melayu.

Penyusunan Rencana Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup (RPPLH) Tahap II DKI Jakarta II - 23
LAPORAN AKHIR

Tempat Hunian Liar


Permukiman liar terdapat di sepanjang bantaran Kali Ciliwung sebagai
tempat hunian seperti di Kelurahan Manggarai.
Tempat Buangan Limbah Cair Penduduk dan Industri
Sungai berfungsi sebagai penampung limbah cair penduduk maupun
industri, di daerah studi terdapat bantaran sungai yang digunakan sebagai
bangunan MCK, sehingga limbah penduduk langsung masuk ke sungai,
diantaranya terjadi di Kali Ciliwung Kelurahan Bukit Duri dan Kelurahan
Manggarai.

Tempat Pembuangan Sampah


Badan sungai semakin menyempit, yang diakibatkan oleh timbunan sampah
rumah tangga yang terus menumpuk dan memakan lebar badan sungai,
kondisi demikian antara lain terjadi pada Kali Ciliwung di Kelurahan
Kampung Melayu.

2.5.2. Potensi dan Ketersediaan Air Tanah

Air tanah merupakan komponen dari suatu sistem daur hidrologi (hydrology
cycle) yang terdiri rangkaian proses yang saling berkaitan antara proses
atmosferik, proses hidrologi permukaan dan proses hidrologi bawah permukaan.
Siklus hidrologi adalah sirkulasi air yang tidak pernah berhenti dari atmosfir ke
bumi dan kembali ke atmosfir melalui evaporasi, transpirasi, kondensasi dan
presipitasi. Di luar sistem tersebut persoalan air tanah bahkan seringkali
melibatkan aspek politik dan sosial budaya yang sangat menentukan keberadaan
air tanah di suatu daerah. Siklus hidrologi menggambarkan hubungan antara
curah hujan, aliran permukaan, infiltrasi, evapotranspirasi dan air tanah. Sumber
air tanah berasal dari air yang ada di permukaan tanah (air hujan, air danau dan
sebagainya) kemudian meresap ke dalam tanah/akuifer di daerah imbuhan
(recharge area) dan mengalir menuju ke daerah lepasan (discharge area).
Menurut Direktorat Tata Lingkungan Geologi dan Kawasan Pertambangan aliran
air tanah di dalam akuifer dari daerah imbuhan ke daerah lepasan cukup lambat,
memerlukan waktu lama bisa puluhan sampai ribuan tahun tergantung dari jarak
dan jenis batuan yang dilaluinya. Pada dasarnya air tanah termasuk sumber daya

Penyusunan Rencana Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup (RPPLH) Tahap II DKI Jakarta II - 24
LAPORAN AKHIR

alam yang dapat diperbaharui akan tetapi jika dibandingkan dengan waktu umur
manusia air tanah bisa digolongkan kepada sumber daya alam yang tidak
terbaharukan.

Di dalam tanah keberadaan air mengisi sebagian ruang pori-pori tanah yang bisa
dimanfaatkan langsung oleh tanaman pada kondisi kelembaban tanah antara
kapasitas lapang sampai titik layu permanen pada posisi zona aerasi. Di bawah
zona aerasi terdapat zona penjenuhan yang menempatkan air mengisi seluruh
ruang pori-pori tanah yang ada dengan kisaran tebal yang selalu berfluktuasi.

Debit dan keberadaan muka air tanah pada zone penjenuhan ini sangat
dipengaruhi oleh pasokan air dari daerah imbuhan (recharge zone) yang berada
di atasnya, semakin banyak pasokan yang diimbuhkan semakin banyak debit
yang tersimpan dalam zone ini. Keberadaan air tanah pada zone ini seringkali
disebut sebagai air (tanah) bebas. Ketebalan air bebas yang ada dalam tanah
bisa mencapai puluhan meter tergantung dari letak lapisan batuan padu
(consolidated rock) yang ada di bawahnya. Lapisan batuan padu (batuliat,
batupasir, batugamping, batuan kristalin, dan shale) yang mengandung air tanah
dalam lubang pelarutan, atau di rekahan batuan (lapisan batuan pembawa air
tanah) disebut sebagai akuifer.

Air tanah adalah semua air yang terdapat pada lapisan pengandung air (akuifer)
di bawah permukaan tanah, mengisi ruang pori batuan dan berada di bawah
water table. Akuifer merupakan suatu lapisan, formasi atau kumpulan formasi
geologi yang jenuh air yang mempunyai kemampuan untuk menyimpan dan
meluluskan air dalam jumlah cukup dan ekonomis, serta bentuk dan
kedalamannya terbentuk ketika terbentuknya cekungan air tanah. Cekungan air
tanah adalah suatu wilayah yang dibatasi oleh batas hidrogeologis, tempat
semua kejadian hidrogeologis seperti proses pengimbuhan, pengaliran, dan
pelepasan air tanah berlangsung. Potensi air tanah di suatu cekungan sangat
tergantung kepada porositas dan kemampuan batuan untuk meluluskan
(permeability) dan meneruskan (transmissivity) air. Kelulusan tanah atau batuan
merupakan ukuran mudah atau tidaknya bahan itu dilalui air. Air tanah mengalir
dengan laju yang berbeda pada jenis tanah yang berbeda. Air tanah mengalir

Penyusunan Rencana Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup (RPPLH) Tahap II DKI Jakarta II - 25
LAPORAN AKHIR

lebih cepat melalui tanah berpasir tetapi bergerak lebih lambat pada tanah liat.
Gambaran kualitas fisik air tanah di Propinsi DKI Jakarta yang meliputi TDS dan
kekeruhan dapat dilihat pada Tabel 2.13.

Tabel 2.13.
Rata-rata Kualitas Fisik Air Tanah Prov. DKI Jakarta Tahun 2011
TDS (mg/L) Kekeruhan (skala NTU)
No. Wilayah
September Nopember September Nopember
1 Jakarta Selatan 213.34 213.34 1.00 1.90
2 Jakarta Timur 477.19 361.48 1.88 4.33
3 Jakarta Pusat 538.45 538.45 1.86 15.36
4 Jakarta Barat 1,015.80 645.80 2.75 2.91
5 Jakarta Utara 1,070.87 852.07 17.58 11.89
Sumber: BPLHD Prov. DKI Jakarta, 2011
Ket: BM TDS = 1500 mg/L ; BM Kekruhan = 25 NTU

Dari Tabel diatas Menunjukan bahwa nilai rata-rata untuk parameter zat padat
terlarut (TDS) di lima wilayah di Propinsi DKI Jakarta Masih memenuhi baku
mutu. Sebagai contoh pada bulan September 2011 rentan tertinggi terdapat
pada wilayah Jakarta Barat, Jakarta Timur, Jakarta Utara.

Tabel 2.14.
Data Air Tanah Wilayah Jakarta Selatan

No Parameter Satuan Baku Mutu Hasil Maks.


Parameter Fisik
1 Kekeruhan ( turbidity ) NTU 25 mg/L 1.90
2 Bau Tidak Berbau Tidak berbau
3 Warna (color) TCU Tidak berwarna Tidak berwarna
4 Suhu (temperatur) C 20-26C 22-23
5 Total Dissolved Solid (total padatan mg/L 1500 mg/L 213.34
terlarut)
Parameter Kimia
1 PH 6.5 - 8.5 6.31
2 Kesadahan (hardness) mg/L 500 173.25
3 Alkalinitas (alkalinity) mg/L 1000 mg/L
5 Nitrat (NO3-) mg/L 10 2.85
6 Nitrit (NO2-) mg/L 0.02 0.02
7 Besi (Fe) mg/L 0,3 mg/L 0.10
8 Mangan mg/L 0,1 mg/L 0.22
9 Khlorida mg/L 250 mg/L 50.9
10 Sulfat (SO42-) mg/L 400 mg/L 16.62
Parameter Mikrobiologi
1 Bakteri E.Coli sel/ml 50 jml/100ml 597
Sumber: SLHD Jakarta Tahun 2011

Penyusunan Rencana Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup (RPPLH) Tahap II DKI Jakarta II - 26
LAPORAN AKHIR

Tabel 2.15.
Data Air Tanah Wilayah Jakarta Timur

No Parameter Satuan Baku Mutu Hasil Maks.


Parameter Fisik
1 Kekeruhan ( turbidity ) NTU 25 mg/L 4.33
2 Bau Tidak Berbau Tidak berbau
3 Warna (color) TCU Tidak berwarna Tidak berwarna
4 Suhu (temperatur) C 20-26C 22-23
Total Dissolved Solid (total padatan
5 mg/L 1500 mg/L 361.48
terlarut)
Parameter Kimia
1 PH 6.5 - 8.5 6.62
2 Kesadahan (hardness) mg/L 500 201.71
3 Alkalinitas (alkalinity) mg/L 1000 mg/L
5 Nitrat (NO3-) mg/L 10 1.82
6 Nitrit (NO2-) mg/L 0.02 0.02
7 Besi (Fe) mg/L 0,3 mg/L 0.20
8 Mangan mg/L 0,1 mg/L 0.68
9 Khlorida mg/L 250 mg/L 88.02
10 Sulfat (SO42-) mg/L 400 mg/L 102.67
Parameter Mikrobiologi
1 Bakteri E.Coli sel/ml 50 jml/100ml 2,893
Sumber: SLHD Jakarta Tahun 2011

Tabel 2.16.
Data Air Tanah Wilayah Jakarta Pusat

No Parameter Satuan Baku Mutu Hasil Maks.


Parameter Fisik
1 Kekeruhan ( turbidity ) NTU 25 mg/L 1.86
2 Bau Tidak Berbau Tidak berbau
Warna (color) Tidak
3 TCU Tidak berwarna
berwarna
4 Suhu (temperatur) C 20-26C 22-23
Total Dissolved Solid (total padatan
5 mg/L 1500 mg/L 538.45
terlarut)
Parameter Kimia
1 PH 6.5 - 8.5 7.33
2 Kesadahan (hardness) mg/L 500 246.46
3 Alkalinitas (alkalinity) mg/L 1000 mg/L
5 Nitrat (NO3-) mg/L 10 0.67
6 Nitrit (NO2-) mg/L 0.02 0.01
7 Besi (Fe) mg/L 0,3 mg/L 2.04
8 Mangan mg/L 0,1 mg/L 1.04
9 Khlorida mg/L 250 mg/L 95.19
10 Sulfat (SO42-) mg/L 400 mg/L 67.23
Parameter Mikrobiologi
1 Bakteri E.Coli sel/ml 50 jml/100ml 201,359
Sumber: SLHD Jakarta Tahun 2011

Penyusunan Rencana Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup (RPPLH) Tahap II DKI Jakarta II - 27
LAPORAN AKHIR

Tabel 2.17.
Data Air Tanah Wilayah Jakarta Barat

No Parameter Satuan Baku Mutu Hasil Maks.


Parameter Fisik
1 Kekeruhan ( turbidity ) NTU 25 mg/L 2.91
2 Bau Tidak Berbau Tidak berbau
Warna (color) Tidak
3 TCU Tidak berwarna
berwarna
4 Suhu (temperatur) C 20-26C 22-23
Total Dissolved Solid (total padatan
5 mg/L 1500 mg/L 1,015.80
terlarut)
Parameter Kimia
1 PH 6.5 - 8.5 6.75
2 Kesadahan (hardness) mg/L 500 377.54
3 Alkalinitas (alkalinity) mg/L 1000 mg/L
5 Nitrat (NO3-) mg/L 10 2.45
6 Nitrit (NO2-) mg/L 0.02 0.04
7 Besi (Fe) mg/L 0,3 mg/L 0.27
8 Mangan mg/L 0,1 mg/L 0.96
9 Khlorida mg/L 250 mg/L 319.65
10 Sulfat (SO42-) mg/L 400 mg/L 196.75
Parameter Mikrobiologi
1 Bakteri E.Coli sel/ml 50 jml/100ml 15,388
Sumber: SLHD Jakarta Tahun 2011

Tabel 2.18.
Data Air Tanah Wilayah Jakarta Utara

No Parameter Satuan Baku Mutu Hasil Maks.


Parameter Fisik
1 Kekeruhan ( turbidity ) NTU 25 mg/L 17.58
2 Bau Tidak Berbau Tidak berbau
3 Warna (color) TCU Tidak berwarna Tidak berwarna
4 Suhu (temperatur) C 20-26C 22-23
Total Dissolved Solid (total padatan
5 mg/L 1500 mg/L 1,070.87
terlarut)
Parameter Kimia
1 PH 6.5 - 8.5 7.87
2 Kesadahan (hardness) mg/L 500 313.02
3 Alkalinitas (alkalinity) mg/L 1000 mg/L
5 Nitrat (NO3-) mg/L 10 1.15
6 Nitrit (NO2-) mg/L 0.02 0.03
7 Besi (Fe) mg/L 0,3 mg/L 0.99
8 Mangan mg/L 0,1 mg/L 1.12
9 Khlorida mg/L 250 mg/L 333.92
10 Sulfat (SO42-) mg/L 400 mg/L 90.69
Parameter Mikrobiologi
1 Bakteri E.Coli sel/ml 50 jml/100ml 252,662
Sumber: SLHD Jakarta Tahun 2011

Penyusunan Rencana Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup (RPPLH) Tahap II DKI Jakarta II - 28
LAPORAN AKHIR

Jenis yang Dimanfaatkan


Secara umum pemanfaatan air tanah antara lain (Dandel 2011):
Kebutuhan pokok (air minum dan rumah tangga), lebih dari 70% penduduk
masih memanfaatkan air tanah.
Kebutuhan industri, sekitar 90% masih menggantungkan pada air tanah.
Kebutuhan untuk pertanian, dibeberapa daerah banyak dikembangkan dari
air tanah (P2AT);
Kebutuhan air bersih untuk perkotaan dan pedesaan banyak yang dipenuhi
dari air tanah (PDAM, PPSAB, DGSDM);
Kebutuhan untuk perkebunan, banyak dikembangkan oleh perkebunan tebu,
kelapa sawit, teh, karet;
Kebutuhan dalam pertambangan: pencucian, dewatering, dan untuk fasilitas
umum;
Fasilitas umum (MCK, air minum), dibanyak perkantoran, peribadatan,
rumah sakit, panti asuhan, dll.

2.5.3. Potensi dan Ketersediaan Keaneragaman Hayati

Keanekaragaman hayati menurut UU Nomor 5 Tahun 1994 adalah


keanekaragaman di antara makhluk hidup dari semua sumber termasuk di
dalamnya daratan, lautan dan ekosistem akuatik. Keanakeragaman hayati
merupakan anugerah terbesar bagi umat manusia karena dapat memberikan
sumber kehidupan, penghidupan dan kelangsungan hidup manusia.
Keanekaragaman yang tinggi akan dapat menghasilkan kestabilan lingkungan
yang mantap.

Keanekaragaman Ekosistem

Di lingkungan manapun di muka bumi ini, maka akan ditemukan makhluk hidup.
Semua makhluk hidup berinteraksi atau berhubungan erat dengan lingkungan
tempat hidupnya. Lingkungan hidup meliputi komponen biotik dan komponen
abiotik. Komponen biotik meliputi berbagai jenis makhluk hidup mulai yang
bersel satu (uni seluler) sampai makhluk hidup bersel banyak (multi seluler) yang
dapat dilihat langsung oleh kita. Komponen abiotik meliputi iklim, cahaya,

Penyusunan Rencana Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup (RPPLH) Tahap II DKI Jakarta II - 29
LAPORAN AKHIR

batuan, air, tanah, dan kelembaban, ini semua disebut faktor fisik. Selain faktor
fisik, ada faktor kimia, seperti salinitas (kadar garam), tingkat keasaman, dan
kandungan mineral.

Di dalam ekosistem, seluruh makhluk hidup yang terdapat di dalamnya selalu


melakukan hubungan timbal balik, baik antar makhluk hidup maupun makhluk
hidup dengan lingkungannya atau komponen abiotiknya. Hubungan timbal balik
ini menimbulkan keserasian hidup di dalam suatu ekosistem. Perbedaan letak
geografis antara lain merupakan faktor yang menimbulkan berbagai bentuk
ekosistem. Keanekaragaman jenis flora dan fauna yang menempati suatu daerah
akan membentuk ekosistem yang berbeda. Totalitas variasi gen, jenis dan
ekosistem menunjukkan terdapat perbagai variasi bentuk, penampakan,
frekuensi, ukuran dan sifat lainnya pada tingkat yang berbeda merupakan
keanekaragaman hayati.

Salah satu komunitas ekosistem yang ada di DKI Jakarta dan bermanfaat dalam
menjaga kelangsungan hidup manusia adalah adanya komunitas mangrove yang
merupakan ekosistem hutan yang khas dan unik yang berpotensi sebagai
perlindungan terhadap wilayah pesisir dan pantai dari ancaman sedimentasi,
abrasi dan intrusi air laut. Erosi di pantai Marunda yang tidak bermangrove
selama 2 bulan mencapai 2 meter, sedangkan yang bermangrove hanya 1 meter.
Selain itu hutan mangrove dapat dimanfaatkan pula sebagai wahana rekreasi
alam hutan wisata payau.

Keanekaragaman Spesies

Mangrove juga memiliki fungsi ekologis sebagai habitat berbagai jenis satwa liar.
Keanekaragaman fauna di hutan mangrove cukup tinggi, secara garis besar
dapat dibagi dua kelompok, yaitu fauna akuatik seperti ikan, udang, kerang, dan
lainnya serta kelompok terestrial seperti insekta, reptilia, amphibia, mamalia, dan
burung (Nirarita et al., 1996). Di Pulau Jawa tercatat 167 jenis burung dijumpai
di hutan mangrove, baik yang menetap maupun migran (Nirarita et al., 1996).
Kalong (Pteropus vampyrus), Monyet (Macaca fascicularis), Lutung (Presbytis
cristatus), Bekantan (Nasalis larvatus), kucing Bakau (Felis viverrina), Luwak

Penyusunan Rencana Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup (RPPLH) Tahap II DKI Jakarta II - 30
LAPORAN AKHIR

(Paradoxurus hermaphroditus), dan Garangan (Herpetes javanicus) juga


menyukai hutan mangrove sebagai habitatnya (Nontji, 1987). Beberapa jenis
reptilia yang hidup di hutan bakau antara lain Biawak (Varanus salvator), ular
Belang (Boiga dendrophila), ular Sanca (Phyton reticulatus), dan jenis-jenis ular
air seperti Cerbera rhynchops, Archrochordus granulatus, Homalopsis buccata,
dan Fordonia leucobalia. Dua jenis katak yang dapat ditemukan di hutan
mangrove adalah Rana cancrivora dan R. limnocharis (Nirarita et al., 1996).
Hutan mangrove juga sebagai habitat beberapa jenis burung yang dilindungi
seperti Pecuk ular (Anhinga anhinga melanogaster), Bintayung (Freagata
andrew-si), Kuntul perak kecil (Egretta garzetta), Kowak merah (Nycticorax
caledonicus), Bangau tongtong (Leptoptilos javanicus), Ibis hitam (Plegadis
falcinellus), Bangau hitam (Ciconia episcopus), burung Duit (Vanellus indicus),
Trinil tutul (Tringa guitifer), Blekek Asia (Limnodromus semipalmatus),
Gegajahan Besar (Numenius arquata), dan Trulek lidi (Himantopus himantopus)
(Sutedja dan Indrabrata, 1992). Jenis-jenis burung Egretta eulophotes, Kuntul
perak (E. intermedia), Kuntul putih besar (E. alba), Bluwok (Ibis cinereus), dan
Cangak laut (Ardea sumatrana) juga mencari makan di dekat hutan mangrove
(Whitten et al., 1988). Keanekaragaman hayati baik flora dan fauna di DKI
Jakarta secara umum tidak berbeda jauh dengan keadaan flora dan fauna
lainnya di pulau Jawa. Hal ini karena adanya kesatuan geografis meskipun saat
ini sudah banyak mengalami pengurangan akibat tingginya pembangunan di DKI
Jakarta.

Jenis tumbuhan yang terdapat di DKI Jakarta cukup bervariasi mulai dari jenis
tumbuhan pantai sampai dengan jenis tumbuhan dataran/pegunungan dan
palawija. Akan tetapi sampai dengan tahun 2010 ini belum dapat diketahui
jumlah seluruh jenis tumbuhan yang ada di DKI Jakarta, hanya jenis tumbuhan
pantai khususnya yang ada di kepulauan Seribu yang sudah terdeteksi yaitu ada
sekitar 86 jenis. Untuk jenis tumbuhan pantai umumnya didominasi oleh jenis
pohon Kelapa, Cemara laut, Ketapang, Rutun, Mengkudu dan Pandan laut.
Disamping itu di beberapa pulau di Kepulauan Seribu banyak ditemukan Sukun.
Dari gambaran tersebut diatas bahwa keanekaragaman hayati baik flora dan
fauna banyak terdapat di wilayah tersebut.

Penyusunan Rencana Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup (RPPLH) Tahap II DKI Jakarta II - 31
LAPORAN AKHIR

2.6. Identifikasi Permasalahan Pengelolaan Lingkungan Hidup

2.6.1. Umum

Berdasarkan Inventarisasi dan Analisis masing-masing Aspek Lingkungan Hidup


yang ada di DKI Jakarta, maka dapat diidentifikasi permasalahan masing-masing
aspek tersebut jika dikaitkan dengan Perencanaan Perlindungan dan Pengelolaan
Lingkungan Hidup di DKI Jakarta. Aspek Lingkungan yang dimasukkan sebagai
pembahasan adalah yang paling tinggi tingkat permaslahannya dan sangat erat
dampak serta erat kaitannya secara langsung dengan kehidupan ekosistem lain
di Wilayah DKI Jakarta.

2.6.2. Konflik dan Penyebab Konflik

A. Perubahan Tata Guna Lahan

Perubahan tata guna lahan juga dapat menjadi penyebab pencemaran air
tanah. Air hujan yang seharusnya masuk ke dalam tanah untuk menambah
kuantitas air tanah dapat menyebabkab menurunnya konsentrasi pencemar
tidak dapat diserap oleh tanah karena sudah tertutup oleh pelapisan dan
fungsi lainnya.
Selain kuantitas air yang menurun masuk ke dalam tanah, kualitas air tanah
yang dikonsumsi warga juga semakin buruk. Hasil klasifikasi Indeks
Pencemaran (IP) di 48 sumur yang tersebar di lima wilayah menunjukkan 27
sumur tercatat cemar berat dan cemar sedang dan 21 sumur lainnya
terindikasi cemar ringan dan dalam kondisi baik.

Wilayah yang mempunyai kualitas air tanah paling buruk adalah Jakarta
Utara. Tujuh dari delapan sumur yang dipantau di wilayah ini masuk kategori
cemar berat dan sedang. Pada umumnya wilayah ini digunakan untuk
pemukiman kawasan industri dan permukiman padat. Adapun wilayah yang
kualitas airnya masih cukup baik adalah Jakarta Selatan.

B. Geologi

Beberapa konflik/permasalahan terjadi dalam pembangunan di DKI Jakarta,


di akibatkan masalah keretakan bangunan, amblesan tanah, banjir,

Penyusunan Rencana Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup (RPPLH) Tahap II DKI Jakarta II - 32
LAPORAN AKHIR

runtuhnya jalan dan sebagainya. Permasalahan tersebut erat hubungannya


dengan kondisi geologi teknik di DKI Jakarta. Seperti yang telah disebutkann
sebelumnya, daratan DKI Jakarta secara geologi memiliki tanah alluvium
yang sangat bervariasi sifat keteknikannya baik pada sebaran ke arah
vertikal maupun mendatar.Berdasarkan identifikasi morfologinya, garis
pantai purba DKI Jakarta 5000 tahun yang lalu berada di sepanjang Jl. Daan
Mogot Grogol - Monas Senen - Pulo Gadung, sehingga di beberapa
tempat di sepanjang jalan tersebut dijumpai tanah endapan pematang
pantai dan di belakangnya dijumpai tanah endapan rawa yang bersifat lunak.
Tanah aluvium di DKI Jakarta bagian utara mempunyai umur baru 5.000
tahun belum mengalami pemampatan yang maksimal, sehingga adanya
pembangunan infrastruktur dan dipacu oleh pengambilan air tanah dalam
secara berlebihan telah menyebabkan terjadinya amblesan tanah secara
regional. Amblesan tanah telah mencapai kecepatan > 5 cm/tahun bahkan di
beberapa tempat mencapai >10 cm/tahun (di Rawa Buaya-Kapuk-Kamal).
Dampak amblesan tanah menimbulkan semakin meluasnya banjir dari tahun
ke tahun, terganggunya dan bahkan tidak berfungsinya sistem drainase dan
infrastruktur di DKI Jakarta. Di bagian selatan dari Jakarta yang tersusun
oleh aluvium volkanik pada umumnya mempunyai sifat keteknikan tanah
yang lebih baik di banding tanah aluvium yang ada di Jakarta bagian utara,
sehingga pembangunan infrastruktur maupun konstruksi bangunan berat
tidak mengalami kendala seperti yang ada di Jakarta bagian utara. Saat ini
kebutuhan lahan dipermukaan mulai terasa sudah terbatas, sehingga
pemanfaatan ruang bawah permukaan mulai dilakukan untuk menampung
permasalahan yang tidak dapat terpecahkan di permukaan tanah sehingga
muncul persoalan penataan ruang bawah tanah, dan isu dampak
lingkungannya.

C. Udara

Pencemaran udara merupakan salah satu masalah besar yang dihadapi oleh
DKI Jakarta. Pada penelitian ini dipelajari zat-zat polutan yang terdapat
dikawasan pemukiman, industri dan komcrsil serta kesesuaian tata guna
lahan berdasarkan konsentrasi udara ambien dan unsur-unsur meteorologis

Penyusunan Rencana Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup (RPPLH) Tahap II DKI Jakarta II - 33
LAPORAN AKHIR

yang mempengaruhinya. Konsentrasi udara ambien tertinggi sebagian besar


tejadi di kawasan komersi!. Polutan SO, tertinggi lerdapat di kawasan
Komersil yaitu 12 ppb konsentrasi tersebut masih berada di bawah baku
mulu yaitu 91 ppb. Parameter CO tertinggi juga terjadi di kawasan komersil
yailu 28.1 ppm, nilai [ersebut sudah melebihi baku mutu yaitu 7.2 ppm.
Konsentrasi NO, dan Hidrokarbon tertinggi juga terjadi di kawasan komersil,
konsentrasi NO, tertinggi adalah 140 ppb yang nilainya melcbihi baku mutu
yailu 69 ppb dan konsentrasi Hidrokarbon tertinggi yaitu 3840 ppb juga
melebihi baku mutu yaitu 240 ppb. Scdangkan untuk parameter PM-IO
Konsentrasi tertinggi teljadi di kawasan industri Yaitu 113 ~g/m3, nilai
tersebut masih berada di bawah baku mutu yaitu 150 mg/m3 Kesesuaian
tata guna lahan berdasarkan konsentrasi udara ambien untuk wilayah Pluit
adalah tidak sesuai sebagai peruntukkan Garis isoline menunjukkan bahwa di
wilayah Pluit konsentrasi pencemarnya sama dengan wilayah komersil untuk
parameler SO, dan NO2 sedangkan untuk parameter CO dan HC
konsentrasinya sama dengan wilayah industri.

D. Kependudukan, Sosial, Perekonomian Kota

Permasalahan Interaksi Sosial dan Kemasyarakatan


Sebagaimana umumnya kota megapolitan, kota yang berpenduduk di atas
10 juta, Jakarta memiliki masalah stress, kriminalitas, dan kemiskinan.
Penyimpangan peruntukan lahan dan privatisasi lahan telah menghabiskan
persediaan taman kota sehingga menambah tingkat stress warga Jakarta.
Kemacetan lalu lintas, menurunnya interaksi sosial karena gaya hidup
individualistik juga menjadi penyebab stress. Tata ruang kota yang tidak
partisipatif dan tidak humanis menyisakan ruang-ruang sisa yang
mengundang tindak laku kriminal. Penggusuran kampung miskin dan
penggusuran lahan usaha informal oleh pemerintah DKI adalah penyebab
aktif kemiskinan di DKI Jakarta. Berdasarkan sensus penduduk tahun 2011,
tercatat bahwa penduduk DKI Jakarta berjumlah 9,6 juta jiwa. Jumlah
penduduk dan komposisi etnis di Jakarta, selalu berubah dari tahun ke
tahun. Berdasarkan sensus penduduk tahun 2011, tercatat bahwa setidaknya
terdapat tujuh etnis besar yang mendiami Jakarta. Suku Jawa merupakan

Penyusunan Rencana Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup (RPPLH) Tahap II DKI Jakarta II - 34
LAPORAN AKHIR

etnis terbesar dengan populasi 35,16% penduduk kota. Etnis Betawi


berjumlah 27,65% dari penduduk kota. Pembangunan Jakarta yang cukup
pesat sejak awal tahun 1970-an, telah banyak menggusur perkampungan
etnis Betawi ke pinggiran kota. Pada tahun 1961, orang Betawi masih
membentuk persentase terbesar di wilayah pinggiran seperti Cengkareng,
Kebon Jeruk, Pasar Minggu, dan Pulo Gadung.

Orang Tionghoa telah hadir di Jakarta sejak abad ke-17. Mereka biasa
tinggal mengelompok di daerah-daerah pemukiman yang dikenal dengan
istilah Pecinan. Pecinan atau Kampung Cina dapat dijumpai di Glodok,
Pinangsia, dan Jatinegara, selain perumahan-perumahan baru di wilayah
Kelapa Gading, Pluit, dan Sunter. Orang Tionghoa banyak yang berprofesi
sebagai pengusaha atau pedagang. Disamping etnis Tionghoa, etnis
Minangkabau juga banyak yang berdagang, di antaranya perdagangan grosir
dan eceran di pasar-pasar tradisional kota Jakarta. Masyarakat dari
Indonesia Timur, terutama etnis Bugis, Makassar, dan Ambon, terkonsentrasi
di wilayah Tanjung Priok. Di wilayah ini pula, masih banyak terdapat
masyarakat keturunan Portugis, serta orang-orang yang berasal dari Luzon,
Filipina.

Permasalahan lingkungan sosial lebih dikarenakan karena interaksi antar


penduduk. Jakarta sendiri memiliki jumlah penduduk komuter lebih banyak
di siang hari dan lebih sedikit pada malam hari. Namu hal ini bukan berarti
Jakarta tidak memiliki amsalah. Sebagai kota megapolitan yang menjanjikan
keberhasilan dan hidup yang lebih baik, Jakarta harus bertahan menghadapi
serbuan pendatang yang bersaha mengadu peruntungan dengan mencari
pekerjaan. Beberapa masalah yang dapat diidentifikasi antara lain
kesenjangan sosial, krimiinalitas, kemiskinan dan pemukiman kumuh.

Dampak Pencemaran Lingkungan Hidup Bagi Kehidupan Sosial


Aspek Lingkungan yang paling banyak memberikan dampak social bagi
masyarakat adalah Udara. Dalam hal ini adalah Pencemaran Udara.
Kualitas udara di Jakarta sudah cenderung tercemar dan mulai
terkonsentrasi di beberapa titik. Berdasarkan PP Nomor 41 Tahun 1999,

Penyusunan Rencana Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup (RPPLH) Tahap II DKI Jakarta II - 35
LAPORAN AKHIR

terdapat satu indikator kualitas udara berdasarkan partikel debu maksimum


60 mikrogram per meter kubik. Sementara kondisi udara di Jakarta saat ini,
mencapai 150 mikrogram per meter kubik. Standar WHO bahkan 20
mikrogram per meter kubik. Ini tandanya tujuh kali lipat dari kondisi yang
ada di Jakarta. Sangat jauh dari bersih. Belum lagi indikator lain seperti
sulfur dioksida, nitrogen dioksida, dan hydro karbon. Konsentrasi hydro
karbon di Jakarta sangat tinggi. Hal ini bisa dilihat dari bau bahan bakar
yang sangat pekat tercium apabila kita mengendarai motor. Karena itu,
Pemprov DKI harus kembali melaksanakan apa yang diamanatkan dalam
Perda Nomor 2 Tahun 2005 tentang penanganan pencemaran udara. Selain
itu, juga perlu penanganan terkait sistem transportasi publik.

Reaksi dari Masyarakat Terhadap Pencemaran Udara


Dalam kondisi yang tidak bersahabat tersebut tentu saja mengundang
berbagai reaksi atau respon dari masyrakat. Respon tersebut dapat berupa:
Melihat kondisi udara di ibu kota negara kita ini sudah sangat tercemar,
reaksi masyarakat di Jakarta melihat kondisi tersebut adalah dengan
menggunakan masker yang dapat mengurangi mengurangi rasa tidak
nyaman ketika menghirup nafas karena cuaca yang sudah tercemar
asap kendaraan bermotor dan juga untuk mencegah timbulnya berbagai
penyakit yang ditimbulkan akibat asap kendaraan ini.
Selain menggunakan masker, masyarakat juga beraksi dengan
mengaspirasikan suaranya kepada pemerintah DKI Jakarta untuk
membatasi jumlah kendaraan bermotor di wilayah Jakarta karena salah
satu penyebab utama dari pencemaran udara di Jakarta adalah jumlah
kendaraan bermotor melebihi kapasitas penduduk Jakarta itu sendiri
atau juga masyarakat dapat menyuarakan untuk menggunakan bahan
bakar alternatif untuk kendaraan bermotor baik itu untuk kendaraan
pribadi ataupun umum yang lebih ramah lingkungan sehingga tidak
menimbulkan polusi.

Penyusunan Rencana Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup (RPPLH) Tahap II DKI Jakarta II - 36
LAPORAN AKHIR

Dampak Pencemaran Udara Bagi Kesehatan Masyarakat dan Kesehatan


Lingkungan Sosial
Hasil dari pencemaran udara ini tentunya bersifat negatif karena sangat
merugikan bagi masyarakatnya.Salah satunya yang merugikan adalah dari
segi kesehatan. Penyakit yang dapat ditimbulkan dari pencemaran udara ini
antara lain :
Kanker paru - paru dan kanker liver (hati).
Bronchitis, ashma, dan gangguan nafas.
Iritasi mata, iritasi pada selaput lendir di hidung, dan iritasi kulit
Sakit kepala, tenggorokan kering, dan batuk.
Selain berbahaya bagi kesehatan, pencemaran akibat asap kendaraan
bermotor ini pun dapat berdampak pada lingkungan seperti :
Aspek rumah kaca.
Dapat menyebabkan peningkatan panas di bumi karena gas gas dalam
rumah kaca seperti uap air dan karbondiosida tidak terlepas ke angkasa
luar melainkan terperangkap didalam lapisan bumi.
Penipisan lapisan ozon.
Zat zat dalam asap kendaraan bermotor dapat menyebabkan tipis dan
berlubangnya lapizan ozon sehingga menyebabkan Global Warming dan
juga meningkatkan jumlah penyakit kanker kulit, penyakit katarak,
kanker kulit, menurunkan immunitas tubuh serta produksi pertanian dan
perikanan.
Hujan asam.

Dampak Pencemaran Udara Bagi Kesehatan Masyarakat dan Kesehatan


Lingkungan Sosial
Pencemaran udara akibat asap kendaraan bermotor ini dapat berdampak
secara psikologis bagi masyarakatnya, gangguan yang dapat ditimbulkan
antara lain :
Gangguan emosional.
Gangguan gaya hidup.
Gangguan kecerdasan.
Gangguan kejiwaan.

Penyusunan Rencana Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup (RPPLH) Tahap II DKI Jakarta II - 37
LAPORAN AKHIR

E. Hutan Kota dan Ruang Terbuka Hijau (RTH)

Banyak fenomena masalah lingkungan seperti banjir, dan polusi udara


muncul di Jakarta karena masalah kurangnya ruang terbuka hijau dan
menurunnya Tata Guna Lahan misalnya yang berfungsi sebagai hutan, baik
hutan di darat, maupun hutan di lingkungan perairan. Untuk itu, salah satu
elemen ruang terbuka hijau yang harus dipertahankan di dalam kota adalah
Hutan Kota.

Hutan Kota adalah suatu areal yang ditumbuhi pohon-pohon dalam wilayah
perkotaan pada tanah negara atau tanah hak masyarakat dan dapat
berfungsi sebagai pembentuk iklim mikro baik didalam maupun diluar
lingkungan sekitarnya, mengatur tata air dan udara, sebagai habitat burung-
burung serta memiliki estetika dan ditetapkan oleh pejabat yang berwenang
sebagai hutan kota dengan luas minimal 0,25 Ha.

Menurut PP No. 63 tahun 2002 Hutan Kota adalah suatu hamparan lahan
yang bertumbuhan pohon-pohon yang kompak dan rapat di dalam wilayah
perkotaan baik pada tanah negara maupun tanah hak, yang ditetapkan
sebagai Hutan Kota oleh pejabat yang berwenang dengan tujuan untuk
kelestarian, keserasian dan keseimbangan ekosistem perkotaan yang
meliputi unsur lingkungan, sosial dan budaya. Hutan Kota memiliki fungsi
sebagai berikut :
Dapat dijadikan obyek penelitian, kawasan konservasi, tempat
pariwisata ataupun sebagai salah satu ruang aktivitas publik bagi
masyarakat kota
Pelestarian Plasma Nutfah
Penahan dan Penyaring Partikel Padat dari Udara, Timbal, Debu Semen,
Karbon-monoksida
sebagai penyerap zat yang berbahaya yang mungkin terkandung dalam
sampah seperti logam berat, pestisida serta bahan beracun dan
berbahaya lainnya
Penghasil Oksigen
Peredam Kebisingan

Penyusunan Rencana Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup (RPPLH) Tahap II DKI Jakarta II - 38
LAPORAN AKHIR

Mengurangi Bahaya Hujan Asam


Penyerap dan Penapis Bau
Mengatasi Genangan air
Mengatasi Intrusi Air Laut
Pelestarian Air Tanah
Penapis Cahaya Silau
Meningkatkan Keindahan/estetika
Sebagai Habitat Burung
Mengurangi Stres dan Depresi ( sarana refreshing)
Mengamankan Pantai Terhadap Abrasi

PP No 63 tahun 2002 tentang Hutan Kota pasal 8 menyatakan Persentase


luas hutan kota paling sedikit 10% (sepuluh per seratus) dari wilayah
perkotaan. Jakarta mempunyai persentase luas hutan kota sebesar 0,4
persen dari total luas wilayah. Masih Kurang 9,6% dari luas Jakarta atau
sebesar 63,5 km2.

F. Air Permukaan

Seperti sudah diuraikan dan rekapiltulasi pada Sub Bab E.5.1, tentang
inventarisasi Air Permukaan, bahwa hampir semua badan air (Air
Permukaan: Sungai, Kali, Waduk, Situ, dan lain-lain) di DKI Jakarta sudah
mengalami pencemaran dari yang berat sampai ringan. Selain itu, dari
berbagai macam literatur yang ada, dan juga dari Inventarisasi data yang
didapat dari BPLHD DKI Jakarta ( seperti sudah diuraikan pada Bab IV) ,
beberapa tahun belakangan ini pencemaran air baku, baik air tanah maupun
air permukaan semakin meningkat. Pencemaran tersebut disebabkan
masuknya air limbah domestik maupun industri, dan sampah akibat
penanganan sanitasi yang tidak baik. Disadari, saat ini permukaan yang
dapat dijadikan sebagai air baku sudah semakin langka. Fenomena tersebut
melatarbelakangi ditetapkannya tahun 2008 oleh PBB sebagai Tahun Sanitasi
Internasional dalam rangka Hari Air Dunia 2008.

Penyusunan Rencana Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup (RPPLH) Tahap II DKI Jakarta II - 39
LAPORAN AKHIR

Permasalahan banjir pada umumnya sangat terkait erat dengan


berkembangnya kawasan perkotaan yang selalu diiringi dengan peningkatan
jumlah penduduk, aktifitas dan kebutuhan lahan, baik untuk permukiman
maupun kegiatan ekonomi. Karena keterbatasan lahan di perkotaan, terjadi
intervensi kegiatan perkotaan pada lahan yang seharusnya berfungsi sebagai
daerah konservasi dan ruang terbuka hijau. Akibatnya, daerah resapan air
semakin sempit sehingga terjadi peningkatan aliran permukaan dan erosi.
Hal ini berdampak pada pendangkalan (penyempitan) sungai, sehingga air
meluap dan memicu terjadinya bencana banjir, khususnya pada daerah hilir.

Terkait dengan permasalahan tersebut diatas, bencana banjir yang terjadi di


DKI Jakarta, pada hakekatnya memiliki korelasi dengan pesatnya
perkembangan kawasan perkotaan di Jabodetabek Punjur, yang pada
kenyataannya tidak lagi sesuai dengan fungsi yang
seharusnya. Penyimpangan atau ketidak sesuaian perkembangan kawasan
ini didapati pada daerah hulu maupun hilir Jabodetabek Punjur. Pada
Kawasan Bopunjur (Bogor-Puncak-Cianjur) yang secara geografis merupakan
daerah hulu, penyimpangan tersebut tercermin dari adanya
pertambahan daerah terbangun secara signifikan. Seharusnya, fungsi
kawasan Bopunjur merupakan kawasan konservasi air dan tanah, yang
memberikan perlindungan bagi kawasan dibawahnya untuk menjamin
ketersediaan air tanah, air permukaan dan penanggulangan banjir bagi
kawasan Bopunjur dan daerah hilirnya (KepPres No. 114, tahun 1999).

G. Air Tanah

Memperhatikan uraian tentang Air Tanah yang membahas tentang


inventarisasi dan ketersediaan Air Tanah di DKI Jakarta, maka dapat
diidentifikasi pencemaran air tanah disebabkan oleh :
Limbah Industri dan Interusi
Penurunan Muka Air Tanah
Pencemaran Fisik, Kimia , dan Biologi
Perubahan Tata Guna Lahan

Penyusunan Rencana Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup (RPPLH) Tahap II DKI Jakarta II - 40
LAPORAN AKHIR

H. Keanekaragaman Hayati

Kurang efektifnya pengawasan dan pengendalian dalam pengelolaan sumber


daya alam yang ada, yang menyebabkan kerusakan Keanekaragaman
Hayati. Kondisi ini, sebagai contoh yang sedang marak, adalah ditandai
dengan maraknya pengambilan terumbu karang dan pemboman ikan,
perambahan hutan, kebakaran hutan dan lahan, serta pertambangan tanpa
izin. Permasalahan lain adalah belum jelasnya pengaturan pemanfaatan
sumber daya genetik (transgenik) yang mengancam keanekaragaman hayati
dan kesehatan manusia, serta permasalahan ketergantungan yang tinggi
pada sumber daya fosil.

Tapi pada kenyataannya sebagian besar masyarakat Indonesia masih


menjadikan laut sebagai tempat pembuangan akhir sampah dan limbah.
Minimnya sarana pengolahan limbah dan sampah, serta rendahnya
kesadaran masyarakat dalam menangani sampah dan limbah secara baik
dan benar telah menjadikan laut ini sebagai sasaran buangan limbah dari
berbagai macam aktivitas manusia.
Kesalahan Pengelolaan Limbah saat ini mengakibatkan pencemaran laut oleh
limbah dan sampah telah menjadi masalah serius. Di wilayah DKI Jakarta
saja, misalnya, pencemaran air laut Jakarta telah mencapai radius 60 km
atau seluas kawasan Pulau Pramuka di Kepulauan Seribu. Pencemaran itu
disebabkan dari limbah domestik perkotaan maupun industri, kemudian
mencemari Sembilan sungai di Jakarta yang bermuara di Teluk Jakarta.

Beberapa penelitian mengungkapkan perairan Teluk Jakarta terindikasi


mengandung logam berat Pb (timbal), Cd (cadmium), dan Cu (tembaga).
Dalam hal mutu, kualitas air laut di sekitar Kepulauan Seribu nilai rata-rata
kandungan organiknya antara 20,88-38,46 mg/I. Kandungan amonia yang
tidak terdeteksi mencapai 0,38 mg/I, sedangkan baku mutu air laut untuk
amonia <0,3 mg/l. Kandungan logam berat untuk Cu berkisar 0,03-0,08
mg/I dan Zn (seng) berkisar 0,15-0,40 mg/I. Sedangkan kandungan nikel,
timah hitam, cadmium, chromium, dan fenol tidak terdeteksi.

Penyusunan Rencana Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup (RPPLH) Tahap II DKI Jakarta II - 41
LAPORAN AKHIR

Dengan kondisi air seperti ini maka mutunya menjadi tidak layak untuk di
minum. Akar penyebabnya adalah pengelolaan limbah yang salah. Kesalahan
itu tidak hanya dilakukan oleh masyarakat pesisir pantai yang masih
tradisional, tapi juga oleh fasilitas pariwisata yang sudah dikelola dengan
cara modern. Banyak hotel, tempat penginapan, cottage modern, namun
tetap tradisional dalam pengelolaan limbah.

Penyusunan Rencana Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup (RPPLH) Tahap II DKI Jakarta II - 42
LAPORAN AKHIR

BAB III
METODOLOGI

PenyusunanRencanaPerlindungandanPengelolaanLingkunganHidup (RPPLH) Tahap II DKI Jakarta


LAPORAN AKHIR

BAB III
METODOLOGI

3.1. Umum

Di dalam bab ini akan diuraikan secara rinci mengenai konsep dasar dan
metodologi dalam mempersiapkan, melaksanakan dan menyelesaikan penugasan
pekerjaan Penyusunan Rencana Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan
Hidup Tahap II (RPPLH Tahap II) DKI Jakarta.

3.2. Konsep Dasar

Konsep ekoregion dalam pemetaan ekoregion mengacu pada UndangUndang


No.32/2009 Tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup. Dalam
UU No.32/2009, ekoregion didefinisikan sebagai wilayah geografi yang memiliki
kesamaan ciri iklim, tanah, flora, dan fauna asli serta pola interaksi manusia
dengan alam yang menggambarkan integritas sistem alam lingkungan hidup.

Dengan pendekatan konsep bentang lahan, ekoregion dapat dipetakan


berdasarkan kesamaan ciri morfologi dan morfogenesa bentuklahan yang ada
pada sistem lahan. Aspek morfologi mencirikan bentuk permukaan lahan yang
dicerminkan oleh ketinggian relief lokal dan kelerengan, sedangkan aspek
morfogenesa mencirikan proses asalusul (genetik) terbentuknya bentuklahan.

Sebagaimana yang telah dikemukakan, klasifikasi lahan dengan konsep sistem


lahan adalah berdasarkan pada prinsip ekologi, yang mengasumsikan adanya
hubungan erat yang saling mempengaruhi antara agroklimat, tipe batuan,
bentuklahan, tanah, kondisi hidrologi, dan organisme (tanaman, hewan, dan
manusia). Dengan diintergasikan dengan peta iklim dan tipe vegetasi, peta
ekoregion dengan pendekatan bentanglahan ini dapat mencerminkan sebaran
spasial batas ekosistem yang mendekati dengan definisi ekosistem
Yang diamanatkan dalam UU No.32/2009 tentang Pengelolaan Lingkungan
Hidup.

Penyusunan Rencana Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup (RPPLH) Tahap II DKI Jakarta III - 1
LAPORAN AKHIR

3.3. Metoda Penentuan Batas Ekoregion

Ada beberapa metoda untuk menentukan batas ekoregion, antara lain yang
dikutip dari Robert G Bailey (2009) disini adalah sebagai berikut:

a. Metoda Gestalt

Metoda ini bertolak dari penelisikan secara menyeluruh, tidak per bagian
atau per unsur, terhadap seluruh wilayah. Metoda gestalt menarik batas
secara intuitif berdasarkan tangkapan visual dari lapangan, potret udara
atau citra satelit. Metoda ini tidak mempertimbangkan faktor misalnya
lereng, karakter tanah dan batuan, DAS dan iklim secara sendiri-sendiri,
tetapi apa yang tertangkap secara visual sekaligus. Metoda ini tentu lebih
cepat tetapi memerlukan wawasan dan keahlian yang mencukupi untuk
bisa menentukan ekoregion berbasis intuisi.

b. Metoda Tumpangsusun (overlay)

Metoda ini menggunakan berbagai peta tematik yang kemudian


ditumpangsusunkan dan kemudian dari tumpangsusun tersebut ditentukan
batas ekoregion. Pemilihan peta tematik telah didasarkan pada suatu
konsep mengenai tema apa yang menentukan ekoregion. Metoda ini bukan
memerlukan tematik memang bisa ditumpang tindihkan karena itu skala
dan formatnya mesti sama. Selain itu juga dibutuhkan kerangka dan
konsep yang mendasari penentuan batas ekoregion dan juga keahlian
untuk melakukan tumpang letak tersebut.

c. Metoda Faktor Kendali

Untuk suatu kondisi alam yang rumit tumpang letak tidak bisa
membuahkan klasifikasi yang jelas. Karena batas ekoregion juga tidak bisa
ditentukan dari begitu banyak peta tematik oleh karena itu karena itu
muncul pemikiran untuk memilih faktor kendali (controlling factors). Ini
yang juga disebut deliniator. Deliniator tersebut antara lain: sebaran flora
fauna, karakter tanah (tanah, soil), daerah aliran sungai, fisiografi. Faktor

Penyusunan Rencana Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup (RPPLH) Tahap II DKI Jakarta III - 2
LAPORAN AKHIR

kendali tersebut dipilih dan ditentukan berdasarkan tujuan penentuan


ekoregion.

Dalam kajian ini dilakukan menggunakan kombinasi ketiga metoda tersebut.


Metoda gestalt, tumpang letak maupun analisis faktor kendali digunakan silih
berganti ataupun bersamaan yang membuahkan klasifikasi kawasan ekologi dan
ekodistrik DKI Jakarta.

3.3.1. Parameter Deliniasi Pemetaan Ekoregion

Pasal 7 UU No. 32 tahun 2009 menetapkan bahwa terdapat 8 (delapan)


pertimbangan untuk penetapan ekoregion, yaitu: a. karakteristik bentang alam;
b. daerah aliran sungai; c. iklim; d. flora dan fauna; e. sosial budaya; f. ekonomi;
g. kelembagaan masyarakat; dan h. hasil inventarisasi lingkungan hidup.

Berdasarkan analisis dan kesepakatan para ahli terhadap 8 faktor tersebut di


atas, telahdisepakati bahwa dalam menetapkan ekoregion ditetapkan parameter
sebagai deliniasi dan parameter sebagai atribut. Parameter yang digunakan
dalam deliniasi untuk penetapan ekoregion adalah parameter yang sifatnya
statis, maka telah ditetapkan parameter deliniasi ekoregion adalah bentang alam
yaitu morfologi (bentuk muka bumi) dan morfogenesa (asal usul pembentukan
bumi). Parameter lainnya terutama yang sifatnya dinamis digunakan sebagai
atribut untuk mendeskripsikan karakter ekoregion tersebut.

Penentuan bentang alam sebagai deliniator utama untuk batas ekoregion ini
didasarkan pada pertimbangan bahwa karakteristik bentang alam dan iklim akan
terkait erat dengan tipe tanah, karakter flora fauna, potensi SDA bahkan
terhadap pola kehidupan manusia dalam memanfaatkan suatu wilayah. Namun
parameter yang sifatnya statis dapat digunakan sebagai deminiasi sepangjang
datanya tersedia. Oleh karena itu ketersediaan kelengkapan data menjadi
pertimbangan dalam penentuan parameter yang digunakan dalam delineasi.

Penyusunan Rencana Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup (RPPLH) Tahap II DKI Jakarta III - 3
LAPORAN AKHIR

3.4. Metode Pendekatan

Berdasarkan ketentuan perundang-undangan, maka yang perlu untuk dipahami


bahwa kerangka dasar utama satuan ekoregion adalah kesatuan wilayah secara
geografis yang mempunyai kesamaan sifat secara bentang alam (natural
landscape) atau dalam istilah geografi disebut sebagai bentanglahan (landscape).
Dengan demikian, identifikasi bentanglahan geografis memegang peranan
penting dalam semua kegiatan perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup,
sejak tahap perencanaan, pelaksanaan pengelolaan, hingga pengendaliannya.
Dengan kata lain bahwa satuan ekoregion dalam perlindungan dan pengelolaan
lingkungan dapat dideskripsikan sebagai satuan ekosistem berbasis bentanglahan
(geoekosistem) yang diintegrasikan dengan batas wilayah administrasi (regional),
seperti pada Gambar 3.1.

Istilah bentanglahan berasal dari kata landscape (Inggris) atau landscap


(Belanda) atau landschaft (Jerman), yang secara umum berarti pemandangan.
Arti pemandangan mengandung 2 aspek, yaitu: aspek visual dan aspek estetika
pada suatu lingkungan tertentu (Zonneveld, 1979). Ada beberapa penulis yang
memberikan pengertian tentang bentanglahan berikut ini.

(i) Bentanglahan merupakan gabungan dari bentuklahan (landform).


Bentuklahan merupakan kenampakan tunggal, seperti sebuah bukit atau
sebuah lembah sungai. Kombinasi dari kenampakan tersebut membentuk
suatu bentanglahan, seperti daerah perbukitan yang bervariasi bentuk dan
ukurannya dengan aliran air sungai di sela-selanya (Tuttle, 1975).

(ii) Bentanglahan ialah sebagian ruang permukaan bumi yang terdiri atas
sistem-sistem, yang dibentuk oleh interaksi dan interdepen-densi antara
bentuklahan, batuan, bahan pelapukan batuan, tanah, air, udara,
tetumbuhan, hewan, laut tepi pantai, energi dan manusia dengan segala
aktivitasnya yang secara keseluruhan membentuk satu kesatuan
(Surastopo, 1982).

Penyusunan Rencana Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup (RPPLH) Tahap II DKI Jakarta III - 4
LAPORAN AKHIR

(iii) Bentanglahan merupakan bentangan permukaan bumi dengan seluruh


fenomenanya, yang mencakup: bentuklahan, tanah, vegetasi, dan atribut-
atribut lain yang dipengaruhi oleh aktivitas manusia (Vink, 1983).

Gambar 3.1.
Kerangka Dasar Penyusunan Peta Ekoregion Provinsi

3.4.1. Kegiatan Identifikasi dan Deskripsi

Walaupun kegiatan identifikasi dan deskripsi dilakukan lebih awal daripada


sisntesisnya, tetapi kedua kegiatan tersebut bukan merupakan sekuen yang bisa
dipisahkan secara tajam. Ketika melaksanakan analisis sudah harus dibayangkan
bagaimana sintesisnya.

Penyusunan Rencana Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup (RPPLH) Tahap II DKI Jakarta III - 5
LAPORAN AKHIR

Dengan demikian kegiatan ini secara keseluruhan merupakan kegiatan


multidisiplin dan transdisiplin dan bukan hanya kumpulan disiplin. Selanjutnya
muatan masing-masing kegiatan analisis dan telaah tersebut diuraikan sebagai
berikut:
a. Review Peta Tematik Yang Sudah Ada

Kegiatan ini merupakan me-review terhadap peta-peta tematik yaitu:


1. peta topografi;
2. peta gunung api;
3. peta satuan lahan dan tanah;
4. peta lereng;
5. peta ketinggian;
6. peta curah hujan;
7. peta geologi;
8. peta daerah aliran sungai.

Peta tersebut telah ditumpang letakkan dengan yang dalam kajian tersebut
sebagai kawasan ekologi. Peta tersebut akan diperiksa serta dipelajari
kembali dan apabila diperlukan dilakukan penyempurnaan.

b. Penambahan Peta Tematik, Khususnya Peta Tutupan Lahan dan


Kependudukan

Peta tematik yang akan ditambahkan adalah peta tutupan lahan dan peta
sebaran serta kepadatan penduduk, yang telah disiapkan dalam rangka
penyusunan rencana tata ruang. Dari peta tutupan lahan ditafsirkan
penggunaan lahan dan dengan memperhatikan sebaran serta kepadatan
penduduk akan ditelaah kekuatan yang menekan lingkungan alam DKI
Jakarta.

c. Penyesuaian dengan Pemikiran Tentang Ekoregion Nasional

Pada bulan Juni 2011, telah ditanda tangan peta ekoregion nasional
berskala 1:1.000.000 yang tampaknya akan digunakan sebagai peta dasar
penetapan ekoregion selanjutnya. Pendekatan dan dasar penetepan

Penyusunan Rencana Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup (RPPLH) Tahap II DKI Jakarta III - 6
LAPORAN AKHIR

ekoregion tingkat nasional tersebut tidak berbeda dengan apa yang akan
dikembangkan di DKI Jakarta, tetapi peristilahan yang digunakannya
berbeda. Juga oleh karena skala yang digunakannya berbeda bisa jadi
deliniasi kawasan ekoregion Nasonal tidak persis sama dengan apa yang
telah dibuat untuk DKI Jakarta.

d. Pengumpulan, Klasifikasi, Identifikasi dan Deskripsi Data,


Informasi serta Pengetahuan yang Relevan

Kajian ini merupakan identifikasi dan deskripsi data spasial, karena itu peta
tematik merupakan bahan pokok untuk mengidentifikasi potensi dan
masalah. Walaupun demikian peta saja tentu tidak cukupi karena dinamika
dan besaran (magnitude) tidak mudah tidak mudah dipetakan. Peta sangat
penting untuk menunjuk masalah dan potensi dimana, tetapi tidak cukup
untuk menjelaskan pertanyaan apa dan mengapa. Oleh karena itu data
statistik, identifikasi dan deskripsi data numerik atau informasi yang berupa
uraian tetap diperlukan.

e. Identifikasi dan Deskripsi dan Tumpangsusun Peta Tematik,


Penetapan/Penamaan Ekoregion Provinsi

Tumpangsusun antara unit fisiografi, daerah aliran sungai, dan kehutanan


sudah dilakukan pada kajian tahun 2010. Karena kajian yang sekarang ini
lebih ditujukan penyempurnaan dan untuk pemberian identitas atas hasil
tumpang letak tersebut. Identitas dengan karakter, potensi dan
masalahnya diuraikan lebih lanjut dalam analisis masing-masing ekoregion.

f. Identifikasi dan Deskripsi Ekoregion: Lingkungan Fisik, Hayati,


Kultural dan Jasa Lingkungan Masalah di Masing-masing
Ekoregion

Dalam identifikasi dan deskripsi ini masing-masing wilayah ekoregion


diuraikan karakter fisiknya dan jasa lingkungan yang berada didalam

Penyusunan Rencana Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup (RPPLH) Tahap II DKI Jakarta III - 7
LAPORAN AKHIR

ekoregion tersebut. Jasa yang dimaksud adalah jasa pengaturan, jasa


produksi dan jasa budaya.

Jasa pengaturan yang ditelaah disini adalah jasa yang sifatnya alami dan
diutamakan pada jasa pengaturan daur hidrologi yaitu tata air permukaan
maupun air tanah dalam. Jasa pengaturan daur carbon, daur nitrogen
belum dapat dilakukan karena belum tersedianya informasi dan
pengetahuan yang cukup tentang hal tersebut.
Produksi ekodistrik yang dimaksud adalah produksi oleh sistem alami dan
bukan produksi oleh buatan manusia. Karena produksi buatan manusia
tidak berkaitan dengan ekoregion seperti yang dimaksud dengan kajian ini.
Sumberdaya panas bumi, migas, mineral dan batu bara termasuk dalam
sumberdaya alam yang dimaksud sebagai produk ekoregion.

Jasa budaya adalah fungsi dan kegunaan ekoregion tersebut dalam


perkembangan budaya, seperti rekreasi, pengembangan pengetahuan,
pemenuhan kebutuhan spiritual dan sebagainya.

3.4.2. Kegiatan Sintesis

Kegiatan ini merupakan hasil analisis yang membuahkan 3 dokumen berupa:


Atlas Ekodistrik di Wilayah DKI Jakarta, Uraian Karakter, Potensi dan Masalah
Ekodistrik di Wilayah DKI Jakarta dan Rekomendasi Untuk RPPLH DKI Jakarta.
Gambaran tentang isi hasil sintesis tersebut adalah sebagai berikut:

a. Atlas Ekoregion Provinsi DKI Jakarta

Dokumen ini merupakan hasil kajian tumpangsusun yang menggambarkan


batas ekoregion di DKI Jakarta dan kumpulan peta tematik yang
mendukung penentuan batas dan karaterisasi ekoregion.

b. Uraian/Deskripsi Karakteristik Ekoregion Provinsi DKI Jakarta

Dokumen ini merupakan penjelasan atlas dan uraian mengenai karakter,


potensi dan masalah di masing-masing ekoregion. Dalam dokumen ini

Penyusunan Rencana Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup (RPPLH) Tahap II DKI Jakarta III - 8
LAPORAN AKHIR

masing-masing ekoregion akan dijelaskan dan diuraikan lebih lanjut antara


lain mencakup hal-hal sebagai berikut:

1) Posisi geografis ekoregion yang ditunjukkan dalam peta.


2) Wilayah administrasi yang dicakup oleh ekoregion ini.
3) Perkiraan luas.
4) Karakter fisik dasar : bentang alam (termasuk elevasi dan lereng), sifat
tanah dan batuan.
5) Karakter iklim dan kecenderungan perubahannya.
6) Tutupan dan penggunaan lahan saat ini.
7) Fungsi pengaturan ekoregion ini terhadap tata air.
8) Komponen utama pengendali air (waduk, embung, kanal,saluran).
9) Keanekaragaman hayati yang belum maupun sudah dieksploitasi.
10) Sosial budaya.
11) Masalah sehubungan jasa lingkungan yaitu fungsi-fungsi ekoregion ini
sebagai pengatur, produsen ekodistrik dan sarana pengembangan
budaya.
12) Ancaman terhadap jasa lingkungan oleh perkembangan sosial,
permukiman, perkotaan, aktivitas perekonomian (pertanian, industri),
infrastruktur dan sebagainya di masa yang akan datang.

Dalam menyusun deskripsi dari peta ekoregion yang telah disusun, maka
parameter yang sifatnya dinamis telah ditetapkan sebagai atribut yang akan
memberikan deksripsi dari Peta Ekoregion. Data atribut yang disajikan mencakup
data atau informasi tentang karakteristik ekoregion yang sifatnya untuk
memperjelas atau yang tidak dapat ditampilkan pada peta cetak karena alasan
faktor kartografis.

Ruang lingkup data atribut ekoregion disesuaikan dengan amanat dari UU No.
32/2009 tersebut, maka parameter deliniasi yang sesuai dengan pasal 7 ayat
(2),: (a) daerah aliran sungai, (b) iklim, (c) flora dan fauna, (d) sosial budaya, (e)
ekonomi, (f) kelembagaan masyarakat, dan (g) hasil inventarisasi lingkungan
hidup.

Penyusunan Rencana Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup (RPPLH) Tahap II DKI Jakarta III - 9
LAPORAN AKHIR

Cakupan minimal data atribut (data deskripsi) ekoregion tersebut ditabulasikan


pada table dengan format dibawah ini serta dapat diuraikan dengan informasi
yang lebih detil untuk setiap karakter ekoregionnya.

Tabel 3.3.
Format Tabel Deskripsi Ekoregion Berdasarkan Karaketristiknya
Krakteristik Ekoregion
Paramater
Lokasi dan Luas Area
Klimatologi
Geologi
Geomorfologi
Hidrologi
Tanah dan Penggunaan Lahan
Hayati (Flora-Fauna)
Kultural (Sosial-Budaya)
Kerawanan Lingkungan
Potensi dan ketersediaan SDA
Jenis pemanfaatan SDA
Bentuk penguasaan SDA
Bentuk kerusakan
Konflik dan penyebab konflik yang
timbul akibat pengelolaan SDA
Jasa ekosistem Penyediaan
Pengaturan
Budaya
Pendukung

Penyusunan Rencana Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup (RPPLH) Tahap II DKI Jakarta III - 10
LAPORAN AKHIR

3.5. Metode Pemetaan

3.5.1. Sumber Data

Sumber data yang digunakan dalam pemetaan ekoregion skala 1 : 25.000


adalah:

1. Peta Sistem Lahan (Land System) wilayah DKI Jakarta skala 1:25.000
2. Peta Rupabumi Indonesia (RBI) skala 1:25.000 BAKOSURTANAL.
3. Peta Iklim dari BMKG tahun 2013

3.5.2. Kompilasi dan Interpretasi Data

Kompilasi data menggunakan berbagai data sekunder dalam bentuk digital,


seperti peta RBI skala 1: 25.000, peta sistem lahan, peta topografi, peta tipe
vegetasi dan iklim (curah hujan tahunan). Peta RBI skala 1: 25.000 digunakan
sebagai peta dasar dan untuk menstandarkan peta ekoregion skala 1: 25.000
yang digunakan sebagai baseline untuk pemetaan yang lebih detil. Peta sistem
lahan digunakan sebagai data tematik utama untuk mengklasifikan bentuklahan
berdasarkan pada morfologi dan morfogenesa, dengan menggunakan data
pendukung peta DAS, tanah dan administrasi. Identifikasi sebaran ekosistem
dilakukan dengan menggunakan parameter elevasi, status air pada
masingmasing ekosistem, iklim yang mengacu pada peta iklim menurut
SchmidtFerguson. Dengan menyandingkan parameter elevasi, status air, iklim
dengan data geofisik, dibuat kunci relasi antara data status air pada tipe vegetasi
dengan data morfogenesa. Berdasarkan kunci relasi tersebut maka sebaran dan
klasifikasi tipetipe vegetasi di masingmasing pulau dapat diidentifikasi. Data
hasil kompilasi yang mencerminkan karakter lahan di setiap ekonusa pulaupulau
besar tersebut diintegrasikan dengan batas Daerah Aliran Sungai (DAS), untuk
tujuan pengelolaan jasa ekosistem.

Kompilasi data menggunakan perangkat lunak Sistem Informasi Geografis (SIG).


Pada tahap ini dilakukan rekonstruksi atau perbaikan batas sistem lahan melalui
editing topologi, pengelompokkan dan generalisasi sistem lahan yang sesuai
dengan klasifikasi morfologi dan morfogenesa bentuklahannya yang telah
ditetapkan. Hasil pengelompokkan sistem lahan berdasarkan morfologi dan

Penyusunan Rencana Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup (RPPLH) Tahap II DKI Jakarta III - 11
LAPORAN AKHIR

morfogenesa tersebut ditampakkan pada item/field tabel data atribut yang


menjadi satu kesatuan dengan topologi data spasial sistem lahan.

Untuk pengisian data atribut menggunakan template struktur basisdata yang ada
pada perangkat lunak SIG. Data atribut yang disajikan mencakup data atau
informasi tentang karakteristik ekonusa yang sifatnya untuk memperjelas atau
yang tidak dapat ditampilkan pada peta cetak karena alasan faktor kartografis.
Ruang lingkup data atribut ekonusa tersebut disesuaikan dengan substansi UU
No. 32/2009. Pasal 6 ayat (2) yang menyatakan bahwa inventarisasi lingkungan
hidup dilakukan untuk memperoleh data dan informasi mengenai sumberdaya
alam, yang meliputi aspekaspek: (a) potensi dan ketersediaan; (b) jenis
pemanfaatan; (c) bentuk penguasaan; (d) pengetahuan pengelolaan; (e) bentuk
kerusakan; dan (d) konflik dan penyebab konflik yang timbul akibat pengelolaan.
Selanjutnya pada Pasal 7 ayat (2) menyatakan bahwa penetapan wilayah
ekoregion dilaksanakan dengan mempertimbangkan kesamaan: (a) karakteristik
bentang alam, (b) daerah aliran sungai, (c) iklim, (d) flora dan fauna, (e) sosial
budaya, (f) ekonomi, (g) kelembagaan masyarakat, dan (h) hasil inventarisasi
lingkungan hidup.

3.5.3. Penyajian Peta Ekoregion

Peta skala 1 : 250.000, dengan menggunakan perangkat lunak ArcGis versi 10.1.
Dalam penyajian peta ekonusa tersebut disajikan unsur unsur rupa bumi seperti
perhubungan, perairan, batas administrasi dan toponimi (namanama geografi).
Teknik penyajian peta menggunakan pewarnaan standar morfogenesa dari ITC
yang dipadukan dengan gradasi warna sesuai dengan morfologinya. Penyajian
tersebut menggunakan latar belakang data DTM yang digenerate dari garis
kontur dan titik tinggi pada peta RBI.

3.6. Rekomendasi Untuk RPPLH

Dokumen ini merupakan rekomendasi untuk RPPLH DKI Jakarta. Menurut UU No.
32/2009 penyusunan RPPLH memang harus mengacu pada RPPLH Nasional yang
belum diketahui kapan akan tersedia. Selain itu menurut UU No. 32/2009 itu pula
RPPLH merupakan rencana induk karena harus memuat rencana tentang:

Penyusunan Rencana Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup (RPPLH) Tahap II DKI Jakarta III - 12
LAPORAN AKHIR

a. pemanfaatan dan/atau pencadangan sumber daya alam;


b. pemeliharaan dan perlindungan kualitas dan/atau fungsi lingkungan hidup;
c. pengendalian, pemantauan, serta pendayagunaan dan pelestarian sumber
daya alam;
d. adaptasi dan mitigasi terhadap perubahan iklim;
e. menjadi dasar penyusunan dan dimuat dalam rencana pembangunan
jangka panjang dan rencana pembangunan jangka menengah.

Penyusunan Rencana Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup (RPPLH) Tahap II DKI Jakarta III - 13
LAPORAN AKHIR

BAB IV
SURVEY DAN PEMETAAN EKOREGION
JAKARTA

PenyusunanRencanaPerlindungandanPengelolaanLingkunganHidup (RPPLH) Tahap II DKI Jakarta


LAPORAN AKHIR

BAB IV
SURVEY DAN PEMETAAN
EKOREGION JAKARTA

4.1. Konsep dan Definisi

Bentanglahan adalah suatu bagian ruangan di permukaan bumi yang terdiri atas
suatu sistem yang komplek yang terbentuk oleh pengaruh timbal balik antara
batuan, air, tumbuhan, binatang dan manusia serta dari bentuk fisiognominya
membentuk suatu kesatuan yang mudah dibedakan.

Bentangalam merupakan respon terhadap kombinasi antara proses alam dan


antropogenik. Bentangalam terbentuk melalui pengangkatan tektonik dan
volkanisme, sedangkan denudasi terjadi melalui erosi dan mass wasting. Hasil
dari proses denudasi diketahui sebagai sumber bahan sedimen yang kemudian
diangkut dan diendapkan di daratan, pantai maupun lautan. Bentangalam dapat
juga mengalami penurunan melalui peristiwa amblesan yang disebabkan oleh
proses tektonik atau sebagai hasil perubahan fisik yang terjadi dibawah endapan
sedimen. Proses proses tersebut satu dan lainnya terjadi dan dipengaruhi oleh
perbedaan iklim, ekologi, dan aktivitas manusia.

Berdasarkan pengertian bentanglahan tersebut, maka dapat diketahui bahwa


terdapat 3 komponen utama yang terdiri atas 8 unsur penyusun bentanglahan,
yaitu: komponen fisik (udara, batuan, tanah, air, bentuklahan), komponen biotik
(flora dan fauna), dan komponen kultur (manusia dengan segala aktivitasnya).
Kedelapan unsur bentanglahan tersebut merupakan faktor-faktor penentu
terbentuknya bentanglahan, yang terdiri atas: faktor geomorfik, litologik, edafik,
klimatik, hidrologik, oseanik, biotik, dan faktor antropogenik. Dengan demikian
berdasarkan faktor-faktor pembentuknya, bentanglahan (Ls) dapat dirumuskan
sebagai:
Ls = (G, L, E, K, H, 0, B, A)
Keterangan: Ls (bentanglahan) G (geomorfik) L (litologik)
E (edafik) K (klimatik) H (hidrologik)
O (oseanik) B (biotik) A (antropogenik)

Penyusunan Rencana Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup (RPPLH) Tahap II IV - 1


LAPORAN AKHIR

Jika diperinci lebih lanjut, seperti yang diungkapkan Tuttle (1975), bahwa
bentanglahan merupakan kombinasi atau gabungan dari bentuklahan (landform).
Mengacu pada definisi tersebut, maka dapat dimengerti bahwa bentuklahan
merupakan unit analisis terkecil yang dipakai untuk inventarisasi dan analisis
karakteristik bentanglahan. Oleh karena itu, untuk menganalisis dan
mengklasifikasikan bentanglahan selalu mendasarkan pada kerangka kerja
bentuklahan (landform).

4.2. Metode Survey


Identifikasi bentuklahan di wilayah DKI Jakarta dilakukan berdasarkan
metodologi survei dan pemetaan melalui analisa secara deskriptif terhadap hasil
interpretasi dan uji lapangan daerah kajian. Metode yang dilakukan pertama kali
yaitu interpretasi peta dan citra daerah kajian sehingga diketahui kondisi
geomorfologi daerah kajian dan peta tentatif bentuklahan. Metode selanjutnya
yaitu pembuatan peta rancangan survei yang berisi titik pengamatan untuk
pengecekan lapangan. Kegiatan lapangan dilakukan untuk mengecek hasil
interpretasi terhadap kondisi nyata di lapangan melalui identifikasi bentuklahan
pada titik sampel pengamatan.

Pembuatan peta kerja diawali dengan pembuatan Peta Bentuklahan Sementara


Jakarta skala 1 : 50.000 yang merupakan hasil dari interpretasi peta RBI skala 1 :
25.000 dan peta sistem lahan 1 : 250.000.

Pengamatan lapangan dilakukan dengan menjelajahi daerah kajian berdasarkan


jalur-jalur pengamatan yang telah direncanakan pada peta kerja sehingga batas-
batas satuan lahan dapat terkoreksi.

Penyusunan Rencana Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup (RPPLH) Tahap II IV - 2


LAPORAN AKHIR

Tabel 4.1
Koordinat Survey Bentanglahan Ekoregion Dki Jakarta
Koordinat
No Bentanglahan Keterangan
X Y
1 Dataran Banjir 106O 51 34.30 6O 15 10.13 Meander S. Ciliwung,
Tanjungsanyang,
Kramatjati -Jaktim
O O
106 51 50.71 6 13 50.14 Meander S. Ciliwung,
Sensus, Pancoran
Jaktim

106O 46 15.93 6O 16 23.17 Meander


K.Pesanggarahan,
Deplu,
Pesanggarahan-
Jaksel
O O
106 46 15.99 6 15 48.00 Meander
K.Pesanggarahan,
Muhi,
Pesanggarahan-
Jaksel
O O
2 Dataran Betinggesik dan 106 42 25.49 6 07 31.86 Bulaksimpul,
Lembah antargesik Kalideres - Jakbar
O O
3 Mangrove 106 44 35.63 6 06 07.77 Mangrove,
Kamalmuara,
Penjaringan Jakbar
106O 43 37.65 6O 05 32.73 Mangrove,
Kamalmuara,
Penjaringan Jakbar
4 Dataran Fluviomarin 106O 57 17.40 6O 06 19.16 Marunda, Cilincing
Jakut
5 Dataran Rawa 106O 55 44.88 6O 07 52.00 Semperbarat,
Cilincing - Jakut

Penyusunan Rencana Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup (RPPLH) Tahap II IV - 3


LAPORAN AKHIR

4.3. Pengolahan Data dan Pembuatan Peta Tematik


Pengolahan data meliputi analisis, interpretasi dan evaluasi data lapangan secara
morfogeneses dari setiap satuan peta bentuk lahan sementara (Peta kerja). Data
pengamatan lapang yang sudah terkumpul kemudian dianalisis dan
diinterprretasi ulang ke peta kerja untuk dilakukakn revisi. Selanjutnya data
lapang, data sekunder dan data hasil revisi dikorelasikan dengan peta
bentuklahan sementara maka dihasilkan data ekoregion.

Berdasarkan data hasil pengkelasan ulang (reklasifikasi) ekoregion maka disusun


legenda ekoregion skala 1 : 50.000 sedangkan sebarannya ditunjukkan dalam
peta ekoregion 1 : 50.000.

4.4. Dokumentasi Survey Ekoregion DKI Jakarta

Gambar 4.1. Dataran Banjir Kali Pesanggrahan Daerah Komplek Deplu


Jakarta Selatan

Penyusunan Rencana Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup (RPPLH) Tahap II IV - 4


LAPORAN AKHIR

Gambar 4.2. Hutan Mangrove di Kawasan Ekowisata Mangrove


Jakarta Barat

Gambar 4.3. Mangrove di Marunda Jakarta Utara

Penyusunan Rencana Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup (RPPLH) Tahap II IV - 5


LAPORAN AKHIR

Gambar 4.4. Estuarine di Marunda Jakarta Utara

Gambar 4.5. Alih Fungsi Lahan Dataran Rawa di Cilincing,


Jakarta Utara

Penyusunan Rencana Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup (RPPLH) Tahap II IV - 6


LAPORAN AKHIR

BAB - V
WILAYAH EKOREGION DKI JAKARTA

PenyusunanRencanaPerlindungandanPengelolaanLingkunganHidup (RPPLH) Tahap II DKI Jakarta


LAPORAN AKHIR

BAB V
WILAYAH EKOREGION
DKI JAKARTA

5.1. Deliniator Ekoregion DKI Jakarta

Menurut para ahli dan juga apa yang telah diparaktekkan di Amerika, Australia,
Cina serta berbagai lembaga internasional seperti IUCN, WWF dan juga UNESCO,
deliniator pada tingkat global adalah iklim. Walaupun iklim tersebut
diidentikasikan dari flora dan fauna. Berdasarkan iklim inilah diklasifikasikan
kontinen ekoregion yang disebut dengan istilah: polar domain, temperate
domain, dry domain, humaid tropical domain.1

Sampai sistem makro, seperti misalnya yang meliput seluruh wilayah Amerika
Utara (Amerika Serikat dan Kanada) klasifikasikan masih didasarkan pada iklim.
Tingkat makro ini dipresentasikan dengan peta paling detail berskala 1:3.000.000
dengan satuan wilayah sekurang-kurangnya 100.000 km2 atau sebesar pulau
Jawa.

Pada sistem meso yang dipresentasikan dengan peta paling detail berskala 1:
250.000 deliniatornya adalah bentuk permukaan tanah yang juga disebut dengan
landscape mozaik. Di Amerika Serikat ini dikategorikan sebagai level (paras) 4
yang meliputi negara bagian. Satuan wilayahnya sekitar 1000 km2. Lebih detail
dari sistem meso yang dipresentasikan dengan berskala 1:100.00 atau lebih
detail disebut dengan ekosistem, Luas satuannya sekitar 10 km2.

Pemetaan ekoregion meliputi deliniasi batas ekoregion, mendeskripsikan


karakteristik ekoregion dan penyajian data peta. Deliniasi batas ekoregion
didasarkan pada generalisasi sistem lahan atau kumpulan sistem lahan dengan
mempertimbangkan morfologi dan morfogenesa. Untuk mengetahui sebaran
ekoregion, batas morfologi dan morfogenesa yang difungsikan sebagai satuan

Penyusunan Rencana Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup (RPPLH) Tahap II V-1
LAPORAN AKHIR

pemetaan diintegrasikan dengan peta iklim (isohiyet dan curah hujan tahunan)
dan tipe vegetasi.

1
Robert G Bailey (2009), Ecosystem Geography: From ecoregions to sites, Springer

Penentuan deliniasi ekoregion DKI Jakarta berdasarkan peta kemiringan lereng


dan peta sistem lahan skala 1 : 25.000. Analisa kemiringan lereng pada
pemetaan ekoregion DKI Jakarta menggunakan data kontur yang berasal dari
Peta RBI DKI Jakarta skala 1 : 25.000. Peta kemiringan lereng dan peta sistem
lahan kemudian di tumpangsusunkan yang akhirnya akan didapatkan deliniasi
ekoregion DKI Jakarta.

5.2. Bentuk Permukaan Tanah Sebagai Deliniator Ekoregion DKI Jakarta

Apabila digunakan sistem makro, jelas bahwa seluruh wilayah DKI Jakarta dapat
disebut ekoregion tropika basah, tanpa ada pembagian lain. Karena itu
identifikasi dan penetapan ekoregion DKI Jakarta sekurang-kurangnya harus
ditinjau dari sistem meso.

Dengan demikian deliniatornya adalah bentuk permukaan tanah. Bentuk


permukaan tanah ini mencirikan, dicirikan dan menentukan flora, fauna,
budidaya bahkan juga iklim lokal. Bentuk permukaan tanah DKI Jakarta, yang
juga disebut sebagai bentang alam, fisiografi adalah produk proses tektonik
pertemuan lempeng Samudera Hindia Australia yang menunjam yang
bertumbukan dan menunjam dibawah lempeng Eurasia. Tumbukan yang juga
disebut proses geologi makro inilah yang membuahkan perbukitan patahan,
perbukitan lipatan, gunung api dengan rangkaiannya. Selanjutnya terjadi proses
meso dan mikro seperti penggenangan, pengeringan pengendapan, erosi, yang
membentuk dataran yang cukup luas juga. Bentuk permukan tanah terutama
keberadaan gunung api inilah yang secara alami mengatur aliran air permukaan
dan tata air tanah. Jenis dan karakter flora faunapun ditentukan oleh bentuk
permukaan tanah tersebut.

Penyusunan Rencana Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup (RPPLH) Tahap II V-2
LAPORAN AKHIR

Oleh karena itu dipertimbangkan untuk mendeliniasi ekoregion DKI Jakarta


berdasarkan bentuk permukaan atau bentang alamnya yang secara garis besar
terdiri dari kawasan yang juga disebut sebagai unit fisiografi sebagai berikut :
1. Unit fisiografi 1:pedataran pantai utara,
2. Unit fisiografi 2: perbukitan lipatan dan patahan utara.

Iklim, flora, fauna, sosial budaya yang terejawantahkan dalam satuan


permukiman adat, dapat menjadi deliniator ekoregion tetapi tidak pada sistem
meso. Selain itu tidak bisa memberikan batas yang jelas juga dinamikanya tinggi
untuk bisa memberi batas yang dapat dipertahankan dalam jangka panjang.

5.3. Ekoregion DKI Jakarta Dalam Konteks Pengelolaan Air Permukaan


Seperti apa yang telah dikemukakan sebelumnya, penetapan ekoregion adalah
dalam rangka penyusunan RPPLH. Maksud disusunnya RPPLH adalah untuk
digunakan sebagai acuan pengendalian sumberdaya alam, perlindungan dan
pengelolaan lingkungan, mitigasi dan adaptasi perubahan iklim. Untuk DKI
Jakarta dipertimbangkan agar pengendalian sumber daya alam muatan RPPLH
lainnya terfokus pada pengelolaan air permukaan. Karena sumberdaya alam yang
menentukan kehidupan seluruh masyarakat DKI Jakarta dan yang menghadapi
masalah adalah air permukaan.

Pengendalian kerusakan dan pencemaran lingkungan maupun adaptasi terhadap


perubahan iklim berkaitan dengan air permukaan. Air juga sangat dipengaruhi
oleh penggunaan lahan. Dengan mempertimbangkan air sebagai fokus
perlindungan dan pengelolaan lingkungan, daerah aliran sungai dipilih sebagai
deliniator ekoregion.

Secara garis besar aliran sungai di DKI Jakarta mengalir ke pantai utara. Daerah
aliran sungai tersebut meliputi kawasan fisografi yang memberikan ciri
ketersediaan air, sifat aliran, sedimen yang diangkut dan juga pemanfaatannya.
Nama sungai terus dibawa karena tujuannya adalah untuk menyusun RPPLH
terfokus pada air permukaan.

Penyusunan Rencana Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup (RPPLH) Tahap II V-3
LAPORAN AKHIR

5.4. Uraian Ekoregion DKI Jakarta


5.4.1. Dataran Pasang Surut Berlumpur Jakarta
Kelas ekoregion ini meliputi wilayah pesisir bagian utara DKI Jakarta, dengan
luas mencapai 62,84 Km2. Kondisi klimatologi relatif beriklim sedang dengan
curah hujan sebesar 1750 2000 mm/tahun. Marin Jakarta merupakan wilayah
dengan agak kering hingga sangat kering.

Tabel 5.1
Jenis dan Luas Wilayah Ekoregion Dataran Pasang Surut Berlumpur Jakarta
Luas
No Kode Wilayah Ekoregion
(Ha)
Dataran Pasang Surut Berlumpur, Typic Endoaquepts,

1 Curah Hujan 1.750 - 2.000 mm/tahun, Penggunaan Lahan 2.402,76


Hutan Kota, Penjaringan - Pademangan Koja
Dataran Pasang Surut Berlumpur, Typic Endoaquepts,

2 Curah Hujan 1.750 - 2.000 mm/tahun, Penggunaan Lahan 40.64


Pertanian, Penjaringan - Pademangan Koja
Dataran Pasang Surut Berlumpur, Typic Endoaquepts,

3 Curah Hujan 1.750 - 2.000 mm/tahun, Kawasan 2.100,07


Terbangun, Penjaringan - Pademangan Koja
Dataran Pasang Surut Berlumpur, Typic Endoaquepts,

4 Curah Hujan 1.750 - 2.000 mm/tahun, Penggunaan Lahan 1741,25


Lainnya, Penjaringan - Pademangan - Koja

Secara umum di Dataran Pasang Surut Berlumpur Jakarta tersusun atas material
aluvium lempungan, dengan beberapa lokasi tersusun atas endapan pematang
pantai, seperti di pantai timur Jakarta Utara. Topografi berupa dataran, dengan
morfologi atau relief datar, dan kemiringan lereng secara umum 0-2%, pada
beberapa lokasi agak miring (2-8%).

Pada Dataran Pasang Surut Berlumpur Jakarta, terbentuk oleh proses


pengendapan marin (gelombang) yang berkerja sama dengan aliran sungai
(fluvial) yang bermuara ke laut, sehingga dapat disebut sebagai pesisir yang
terbentuk akibat pengendapan material daratan oleh sungai (sub aerial

Penyusunan Rencana Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup (RPPLH) Tahap II V-4
LAPORAN AKHIR

deposition coast). Ciri dari proses ini adalah pola saluran sungai yang berkelok-
kelok (meandering) dan dibagian muara sungai dapat membentuk cabang-
cabang lagi, yang disebut berpola creak.

Di Dataran Pasang Surut Berlumpur Jakarta, kondisi hidrologi dikontrol oleh


aliran sungai-sungai dengan debit aliran dan beban sedimen yang tinggi,
khususnya pada musim penghujan, dan kondisi air tanah pada umumnya berasa
payau hingga asin, yang hampir merata diseluruh satuan Dataran yang
berlumpur (endapan aluvium). Kondisi hidrologi seperti ini merupakan faktor
penyebab bahaya banjir fluvial (saat musim hujan) dan banjir rob (saat musim
kemarau).

Berdasarkan litologi-nya Dataran Pasang Surut Berlumpur Jakarta memiliki


karakteristik endapan aluvial laut; endapan aluvial estuarin baru; lunak. Karena
letaknya yang berada di pinggiran pantai dengan topografi datar sistem lahan
Kajapah memiliki air permukaan air asin. Kesuburan kimia tanah rendah
sedang, kesuburan fisik tanah baik, kesuburan biologi dan kesuburan klimatik
tanah baik. Vegetasi yang umum tumbuh adalah vegetasi mangrove. Tanah dan
penggunaan lahan di Dataran Pasang Surut Berlumpur Jakarta, dengan material
penyusun berupa bahan aluvium lempungan, pada umumnya membentuk tanah-
tanah berbahan induk endapan liat dan endapan liat dan pasir. Pemanfaatan lahan
secara umum berupa pertanian, perikanan tambak, hutan mangrove,
permukiman (kota), dan industri.

Sementara pada daerah yang tersusun atas endapan pematang pantai,


umumnya tanah-tanah yang berupa dataran pasang surut lumpur dengan tekstur
pasiran halus-kasar dan kurang subur, sehingga umumnya dimanfaatkan sebagai
daerah pertambakan.

Pada Dataran Pasang Surut Berlumpur Jakarta tanah kurang berkembang dengan
potensi topografi dapat dikembangkan sebagai kawasan wisata alam. Secara
umum keanekaragaman hayati di kawasan ini berupa Ekosistem Hutan
Mangrove, ikan, ular, kera ekor panjang, dan burung, sementara di pansela
keanekaragaman hayati umumnya berupa ekosistem Lahan Kering Pesisir,

Penyusunan Rencana Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup (RPPLH) Tahap II V-5
LAPORAN AKHIR

pertanian lahan kering, pandanus, rumput-rumputan, kaktus, cemara udang, dan


ketapang laut.

Kawasan ekoregion ini terdiri dari kawasan mangrove, nipah dan jenis bakau
lainnya. Hutan mangrove adalah hutan yang tumbuh di atas rawa-rawa berair
payau yang terletak pada garis pantai dan dipengaruhi oleh pasang-surut air laut.
Hutan ini tumbuh khususnya di tempat-tempat di mana terjadi pelumpuran dan
akumulasi bahan organik. Baik di teluk-teluk yang terlindung dari gempuran
ombak, maupun di sekitar muara sungai di mana air melambat dan
mengendapkan lumpur yang dibawanya dari hulu.

Gambar 5.2. Dataran Pasang Surut berlumpur yang ditumbuhi


oleh Mangrove di wilayah Marunda Cilincing Jakarta Utara

Ekosistem hutan bakau bersifat khas, baik karena adanya pelumpuran yang
mengakibatkan kurangnya aerasi tanah; salinitas tanahnya yang tinggi; serta
mengalami daur penggenangan oleh pasang-surut air laut. Hanya sedikit jenis
tumbuhan yang bertahan hidup di tempat semacam ini, dan jenis-jenis ini
kebanyakan bersifat khas hutan bakau karena telah melewati proses adaptasi
dan evolusi.

Bagian luar juga mengalami genangan air pasang yang paling lama dibandingkan
bagian yang lainnya; bahkan kadang-kadang terus menerus terendam. Pada

Penyusunan Rencana Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup (RPPLH) Tahap II V-6
LAPORAN AKHIR

pihak lain, bagian-bagian di pedalaman hutan mungkin hanya terendam air laut
manakala terjadi pasang tertinggi sekali dua kali dalam sebulan. Menghadapi
variasi-variasi kondisi lingkungan seperti ini, secara alami terbentuk zonasi
vegetasi mangrove; yang biasanya berlapis-lapis mulai dari bagian terluar yang
terpapar gelombang laut, hingga ke pedalaman yang relatif
kering.

Jenis-jenis bakau (Rhizophora spp.) biasanya tumbuh di bagian terluar yang


kerap digempur ombak. Bakau Rhizophora apiculata dan R. mucronata tumbuh di
atas tanah lumpur. Sedangkan bakau R. stylosa dan perepat (Sonneratia alba)
tumbuh di atas pasir berlumpur. Pada bagian laut yang lebih tenang hidup api-
api hitam (Avicennia alba) di zona terluar atau zona pionir ini.

Di bagian lebih ke dalam, yang masih tergenang pasang tinggi, biasa ditemui
campuran bakau R. mucronata dengan jenis-jenis kendeka (Bruguiera spp.),
kaboa (Aegiceras corniculata) dan lain-lain. Sedangkan di dekat tepi sungai, yang
lebih tawar airnya, biasa ditemui nipah (Nypa fruticans), pidada (Sonneratia
caseolaris) dan bintaro (Cerbera spp.).
Pada bagian yang lebih kering didapatkan nirih (Xylocarpus spp.), teruntum
(Lumnitzera racemosa), dungun (Heritiera littoralis) dan kayu buta-buta
(Excoecaria agallocha).

Kondisi sosial budaya masyarakat yaitu: sebagian besar masyarakat industri,


pedagang, dan nelayan, dengan pertumbuhan penduduk tinggi, dan kebanyakan
usia produktif.

Ekoregion Dataran Pasang Surut Berlumpur Jakarta memiliki kerawanan


lingkungan relatif rentan terhadap pencemaran perairan sungai akibat limbah
domestik (perkotaan) dan industri.

Daerah hilir (low land) berupa dataran dengan material lempung dan sedimentasi
yang intensif, dapat menyebabkan banjir musiman dan genangan.

Penyusunan Rencana Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup (RPPLH) Tahap II V-7
LAPORAN AKHIR

Material lempung mempunyai gaya kohesi dan kemampun menjebak mineral-


mineral elektrolit yang tinggi, sehingga menyebabkan air tanah berasa payau
hingga asin, dengan salinitas yang tinggi pula, yang disebut sebagai air fosil
(connate water) dan bukan intrusi air laut. Material lempung juga bersifat plastis
dengan daya dukung rendah, sehingga apabila terlalu besar mendapatkan beban
di atasnya, dapat menyebabkan amblesan (subsidence), yang dapat memicu
kejadian banjir pasang (banjir rob).

Sifat material lempung yang lain adalah daya kembang-kerut (shear strenght)
yang tinggi, yang menyebabkan lembek saat penghujan, sehingga mudah
mengalami rayapan (soil creep); sedangkan saat kemarau menjadi kering mutlak
dan retak-retak, sehingga bangunan rumah, jalan, jembatan, dan sejenisnya
cepat rusak dan hancur.

Material lempung juga bersifat akuitard (semi-permeable) atau akuiklud


(impermeable), yang keduanya bersifat tidak mudah melewatkan air
(permeabilitas rendah), drainase permukaan buruk, dan mudah menjebak
pencemar, sehingga menyebabkan lingkungan kumuh dan kotor, yang pada
akhirnya menimbulkan wabah penyakit, seperti: malaria, penyakit saluran
pencernaan, penyakit kulit, dan ISPA saat kemarau.

Secara spesifik pada daerah rataan lumpur dan delta, sering terjadi alih fungsi
lahan hutan mangrove menjadi tambak atau bentuk budidaya lainnya, konflik
kepemilikan lahan pada tanah-tanah timbul atau bentukan-bentukan lahan baru.
Wilayah ekoregion ini dulunya merupakan kawasan hutan bakau, sekarang
merupakan daerah yang berkembang pesat sebagai kawasan permukiman dan
industri.

Material pasir marin yang bersifat lepas, mempunyai pori-pori yang besar-besar,
sangat memungkinkan untuk diterobos air laut apabila penurapan air tanah di
wilayah pesisir dan marinnya melebihi kemampuan daya simpan akuifernya,
sehingga dapat menyebabkan intrusi air laut.

Penyusunan Rencana Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup (RPPLH) Tahap II V-8
LAPORAN AKHIR

Ekoregion ini mempunyai jasa ekosistem penyediaan : pengembangan lahan


tambak bandeng, udang, dan garam. Dalam hal pengaturan ekoregion Dataran
Pasang Surut Berlumpur Jakarta memiliki jasa ekosistem: penyerapan karbon,
pemelihara siklus air, dan keanekaragaman hayati dalam ekosistem hutan
mangrove.

Sedangkan jasa ekosistem berupa budaya adalah : pengembangan pendidikan


dan estetika lingkungan, pengembangan wisata. Jasa ekosistem pendukung pada
ekoregion ini berupa perlindungan plasma nutfah dan habitat mangrove.

SATUAN EKOREGION Karakteristik Ekoregion DKI Jakarta


NO
DKI JAKARTA Paramater
Lokasi dan Luas Meliputi wilayah pesisir utara DKI Jakarta
Area dengan luasan 62,84 Km2
Klimatologi Beriklim sedang, suhu udara rata-rata 26-
28OC. Curah hujan tahunan 1750 2000
mm/tahun
Geologi Secara umum di Dataran Pasang Surut
Berlumpur Jakarta tersusun atas material
aluvium lempungan, dengan beberapa
lokasi tersusun atas endapan pematang
pantai dan tuf banten.
Geomorfologi Topografi berupa dataran, dengan
morfologi atau relief datar, dan kemiringan
lereng secara umum 0-3%, pada beberapa
lokasi agak miring (3-8%). Pada Kajapah
DKI Jakarta, terbentuk oleh proses
Dataran Pasang pengendapan marin (gelombang) yang
Surut Berlumpur berkerja sama dengan aliran sungai (fluvial)
Jakarta yang bermuara ke laut.
Hidrologi Dataran Pasang Surut Berlumpur Jakarta,
kondisi hidrologi dikontrol oleh aliran
sungai-sungai dengan debit aliran dan
beban sedimen yang tinggi, khususnya
pada musim penghujan, dan kondisi air
tanah pada umumnya berasa payau hingga
asin, yang hampir merata di seluruh satuan
Dataran yang berlumpur (endapan
aluvium).
Tanah dan Dataran Pasang Surut Berlumpur Jakarta,
Penggunaan umumnya berupa tanah-tanah berbahan
Lahan induk endapan liat dan endapan liat dan
pasir. Pemanfaatan lahan secara umum
berupa pertanian, perikanan tambak, hutan
mangrove, permukiman (kota), dan
industri. Sementara pada daerah yang

Penyusunan Rencana Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup (RPPLH) Tahap II V-9
LAPORAN AKHIR

SATUAN EKOREGION Karakteristik Ekoregion DKI Jakarta


NO
DKI JAKARTA Paramater
tersusun atas endapan pematang pantai,
umumnya tanah-tanah yang berupa datan
pasang surut lumpur dengan tekstur
pasiran halus-kasar dan kurang subur,
sehingga umumnya dimanfaatkan sebagai
daerah pertambakan.
Hayati (Flora- Ekosistem Hutan Mangrove pertanian lahan
Fauna) kering, pandanus, rumput-rumputan,
kaktus, Vegetasi Air Masin, Vegetasi Air
Masin Pamah, Vegetasi Monsun Air Pamah
Kultural (Sosial- Sebagian besar masyarakat industri,
Budaya) pedagang, dan nelayan, dengan
pertumbuhan penduduk tinggi, dan
kebanyakan usia produktif.
Kerawanan Lingkungan relatif rentan terhadap
Lingkungan pencemaran perairan sungai akibat limbah
domestik (perkotaan) dan industri,
sedangkan saat kemarau menjadi kering
mutlak dan retak-retak, drainase
permukaan buruk, dan mudah menjebak
pencemar, sehingga menyebabkan
lingkungan kumuh dan kotor, yang pada
akhirnya menimbulkan wabah penyakit,
seperti: malaria, penyakit saluran
pencernakan, penyakit kulit, dan ISPA saat
kemarau.
Jasa ekosistem Penyediaan Pengembangan lahan
tambak bandeng, udang,
dan garam
Pengaturan Penyerapan karbon,
pemelihara siklus air, dan
keanekaragaman hayati
dalam ekosistem hutan
mangrove
Budaya Pengembangan pendidikan
dan estetika lingkungan
Pendukung Perlindungan plasma nutfah
dan habitat mangrove

5.4.2. Dataran Beting Gisik dan Lembah Antar Gisik Jakarta


Kelas ekoregion ini meliputi wilayah pesisir bagian utara Jakarta Barat, dan timur
laut Jakarta Utara dengan luas mencapai 50,88 Km2. Kondisi Klimatologi relatif
beriklim sedang dengan curah hujan sebesar 1750 2000 mm/tahun. Dataran
Beting Gisik dan Lembah Antar Gisik Jakarta merupakan wilayah dengan iklim
sedang hingga kering.

Penyusunan Rencana Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup (RPPLH) Tahap II V - 10


LAPORAN AKHIR

Tabel 5.2
Jenis dan Luas Wilayah Ekoregion Dataran Beting Gisik dan Lembah Antar Gisik
Jakarta
Luas
No Kode Wilayah Ekoregion
(Ha)
Dataran Beting Gisik, Typic Epiaquepts, Curah Hujan 1.750

1 - 2.000 mm/tahun, Penggunaan Lahan Hutan Kota, 303.46


Kalideres - Tamansari - Cilincing
Dataran Beting Gisik, Typic Epiaquepts, Curah Hujan 1.750

2 - 2.000 mm/tahun, Penggunaan Lahan Pertanian, Kalideres 167.93


- Tamansari - Cilincing
Dataran Beting Gisik, Typic Epiaquepts, Curah Hujan 1.750

3 - 2.000 mm/tahun, Kawasan Terbangun, Kalideres - 1.489,76


Tamansari - Cilincing
Dataran Beting Gisik, Typic Epiaquepts, Curah Hujan 1.750

4 - 2.000 mm/tahun, Penggunaan Lahan Lainnya, Kalideres - 80,14


Tamansari - Cilincing
Dataran Lembah Antar Gisik, Typic Epiaquepts, Curah

5 Hujan 1.750 - 2.000 mm/tahun, Penggunaan Lahan Hutan 1.175,86


Kota, Kalideres - Tamansari - Cilincing
Dataran Lembah Antar Gisik, Typic Epiaquepts, Curah

6 Hujan 1.750 - 2.000 mm/tahun, Penggunaan Lahan 772,33


Pertanian, Kalideres - Tamansari - Cilincing
Dataran Lembah Antar Gisik, Typic Epiaquepts, Curah

7 Hujan 1.750 - 2.000 mm/tahun, Kawasan Terbangun, 968,86


Kalideres - Tamansari - Cilincing
Dataran Lembah Antar Gisik, Typic Epiaquepts, Curah

8 Hujan 1.750 - 2.000 mm/tahun, Penggunaan Lahan 130,39


Lainnya, Kalideres - Tamansari - Cilincing

Kawasan ekoregion Dataran Beting Gisik dan Lembah Antar Gisik Jakarta
tersusun atas material aluvium lempungan, dengan beberapa lokasi tersusun
atas endapan liat dan pasir. Topografi berupa punggung/ beting gisik (beach

Penyusunan Rencana Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup (RPPLH) Tahap II V - 11


LAPORAN AKHIR

ridge) dan cekungan/ lembah Gisik (swale) pesisir subresen, dengan morfologi
relief datar, dan kemiringan lereng secara umum 0-3%, pada beberapa lokasi
agak miring (3-8%).

Pada Dataran Beting Gisik dan lembah Antar Gisik Jakarta, terbentuk oleh proses
pengendapan marin (gelombang) yang berkerja sama dengan aliran sungai
(fluvial) yang bermuara ke laut, sehingga dapat disebut sebagai pesisir yang
terbentuk akibat pengendapan material daratan oleh sungai (sub aerial
deposition coast). Ciri dari proses ini adalah pola saluran sungai yang berkelok-
kelok (meandering) dan dibagian muara sungai dapat membentuk cabang-
cabang lagi, yang disebut berpola creak.

Di Dataran Beting Gisik dan Lembah Antar Gisik Jakarta, kondisi hidrologi
dikontrol oleh aliran sungai-sungai dengan debit aliran dan beban sedimen yang
tinggi, khususnya pada musim penghujan, dan kondisi air tanah pada umumnya
berasa payau hingga asin, yang hampir merata diseluruh satuan Dataran yang
berlumpur (endapan aluvium). Kondisi hidrologi seperti ini merupakan faktor
penyebab bahaya banjir fluvial (saat musim hujan) dan banjir rob (saat musim
kemarau).

Tanah dan penggunaan lahan di Dataran Beting Gisik dan Lembah Antar Gisik
Jakarta, dengan material penyusun berupa bahan aluvium lempungan, pada
umumnya membentuk tanah-tanah berbahan induk endapan liat dan endapan liat
dan pasir. Pemanfaatan lahan secara umum berupa pertanian, perikanan tambak,
hutan mangrove, permukiman (kota), dan industri.

Sementara pada daerah yang tersusun atas endapan pematang pantai,


umumnya tanah-tanah yang berupa datan pasang surut lumpur dengan tekstur
pasiran halus-kasar dan kurang subur, sehingga umumnya dimanfaatkan sebagai
daerah pertambakan.

Pada Dataran Beting Gisik dan lembah Antar Gisik Jakarta tanah kurang
berkembang dengan potensi topografi dapat dikembangkan sebagai kawasan
wisata alam. Secara umum keanekaragaman hayati di kawasan ini berupa ikan,

Penyusunan Rencana Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup (RPPLH) Tahap II V - 12


LAPORAN AKHIR

ular, kera ekor panjang, dan burung, sementara di pansela keanekaragaman


hayati umumnya berupa ekosistem Lahan Kering Pesisir, pertanian lahan kering,
pandanus, rumput-rumputan, kaktus, cemara udang, dan ketapang laut

Kondisi sosial budaya masyarakat yaitu: sebagian besar masyarakat industri,


pedagang, dan nelayan, dengan pertumbuhan penduduk tinggi, dan kebanyakan
usia produktif.

Ekoregion Dataran Beting Gisik dan lembah Antar Gisik Jakarta memiliki
kerawanan lingkungan relatif rentan terhadap pencemaran perairan sungai akibat
limbah domestik (perkotaan) dan industri. Daerah hilir (low land) berupa
dataran dengan material lempung dan sedimentasi yang intensif, dapat
menyebabkan banjir musiman dan genangan.

Material lempung mempunyai gaya kohesi dan kemampaun menjebak mineral-


mineral elektrolit yang tinggi, sehingga menyebabkan air tanah berasa payau
hingga asin, dengan salinitas yang tinggi pula, yang disebut sebagai air fosil
(connate water) dan bukan intrusi air laut. Material lempung juga bersifat plastis
dengan daya dukung rendah, sehingga apabila terlalu besar mendapatkan beban
di atasnya, dapat menyebabkan amblesan (subsidence), yang dapat memicu
kejadian banjir pasang (banjir rob).

Sifat material lempung yang lain adalah daya kembang-kerut (shear strenght)
yang tinggi, yang menyebabkan lembek saat penghujan, sehingga mudah
mengalami rayapan (soil creep); sedangkan saat kemarau menjadi kering mutlak
dan retak-retak, sehingga bangunan rumah, jalan, jembatan, dan sejenisnya
cepat rusak dan hancur.

Material lempung juga bersifat akuitard (semi-permeable) atau akuiklud


(impermeable), yang keduanya bersifat tidak mudah melewatkan air
(permeabilitas rendah), drainase permukaan buruk, dan mudah menjebak
pencemar, sehingga menyebabkan lingkungan kumuh dan kotor, yang pada
akhirnya menimbulkan wabah penyakit, seperti: malaria, penyakit saluran
pencernaan, penyakit kulit, dan ISPA saat kemarau.

Penyusunan Rencana Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup (RPPLH) Tahap II V - 13


LAPORAN AKHIR

Secara spesifik pada daerah rataan lumpur dan delta, sering terjadi alih fungsi
lahan hutan mangrove menjadi tambak atau bentuk budidaya lainnya, konflik
kepemilikan lahan pada tanah-tanah timbul atau bentukan-bentukan lahan baru.

Material pasir marin yang bersifat lepas, mempunyai pori-pori yang besar-besar,
sangat memungkinkan untuk diterobos air laut apabila penurapan air tanah di
wilayah pesisir dan marinnya melebihi kemampuan daya simpan akuifernya,
sehingga dapat menyebabkan intrusi air laut.

Ekoregion ini mempunyai jasa ekosistem penyediaan : pengembangan lahan


tambak bandeng, udang, dan garam. Dalam hal pengaturan ekoregion dataran
ujungpetang memiliki jasa ekosistem: penyerapan karbon, pemelihara siklus air,
dan keanekaragaman hayati dalam ekosistem hutan mangrove.

Sedangkan jasa ekosistem berupa budaya adalah : pengembangan pendidikan


dan estetika lingkungan, pengembangan wisata.

SATUAN EKOREGION Karakteristik Ekoregion DKI Jakarta


NO
DKI JAKARTA Paramater
Lokasi dan Luas meliputi wilayah pesisir bagian utara
Area Jakarta Barat, dan timur laut Jakarta
Utara dengan luas mencapai 50,88
Km2.
Klimatologi Beriklim sedang, suhu udara rata-rata 26-
28OC. Curah hujan tahunan 1750 2000
mm/tahun
Geologi Secara umum tersusun atas material
aluvium lempungan, dengan beberapa
lokasi tersusun atas endapan pematang
pantai dan tuf banten.
Geomorfologi Topografi berupa dataran, dengan
morfologi atau relief datar, dan kemiringan
Dataran Beting Gisik lereng secara umum 0-3%, pada beberapa
dan Lembah Antar lokasi agak miring (3-8%). Terbentuk oleh
Gisik Jakarta proses pengendapan marin (gelombang)
yang berkerja sama dengan aliran sungai
(fluvial) yang bermuara ke laut.
Hidrologi Kondisi hidrologi dikontrol oleh aliran
sungai-sungai dengan debit aliran dan
beban sedimen yang tinggi, khususnya
pada musim penghujan, dan kondisi air

Penyusunan Rencana Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup (RPPLH) Tahap II V - 14


LAPORAN AKHIR

SATUAN EKOREGION Karakteristik Ekoregion DKI Jakarta


NO
DKI JAKARTA Paramater
tanah pada umumnya berasa payau hingga
asin, yang hampir merata di seluruh satuan
dataran yang berlumpur (endapan
aluvium).
Tanah dan Umumnya berupa tanah-tanah berbahan
Penggunaan induk endapan liat dan endapan liat dan
Lahan pasir. Pemanfaatan lahan secara umum
berupa pertanian, perikanan tambak, hutan
mangrove, permukiman (kota), dan
industri. Sementara pada daerah yang
tersusun atas endapan pematang
pantai, umumnya tanah-tanah yang
berupa datan pasang surut lumpur
dengan tekstur pasiran halus-kasar dan
kurang subur, sehingga umumnya
dimanfaatkan sebagai daerah
pertambakan.
Hayati (Flora- Pertanian lahan kering, pandanus, rumput-
Fauna) rumputan, kaktus, Vegetasi Air Masin,
Vegetasi Air Masin Pamah, Vegetasi Monsun
Air Pamah
Kultural (Sosial- Sebagian besar masyarakat industri,
Budaya) pedagang, dan nelayan, dengan
pertumbuhan penduduk tinggi, dan
kebanyakan usia produktif.
Kerawanan Lingkungan relatif rentan terhadap
Lingkungan pencemaran perairan sungai akibat limbah
domestik (perkotaan) dan industri,
sedangkan saat kemarau menjadi kering
mutlak dan retak-retak, drainase
permukaan buruk, dan mudah menjebak
pencemar, sehingga menyebabkan
lingkungan kumuh dan kotor, yang pada
akhirnya menimbulkan wabah penyakit,
seperti: malaria, penyakit saluran
pencernakan, penyakit kulit, dan ISPA saat
kemarau.
Jasa ekosistem Penyediaan Pengembangan lahan
tambak bandeng, udang,
dan garam
Pengaturan Penyerapan karbon,
pemelihara siklus air, dan
keanekaragaman hayati
dalam ekosistem hutan
mangrove
Budaya Pengembangan pendidikan
dan estetika lingkungan
Pendukung Perlindungan plasma nutfah
dan habitat mangrove

Penyusunan Rencana Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup (RPPLH) Tahap II V - 15


LAPORAN AKHIR

5.4.3. Dataran Fluviomarin Jakarta


Tersebar hampir di seluruh bagian utara DKI Jakarta dengan luas mencapai
189,48 Km2. Kondisi iklim ekoregion ini relatif agak basah dengan variasi curah
hujan 1.750 2.000 mm/tahun. Umumnya diseluruh bagian utara Jakarta
mempunyai curah hujan sedang hingga agak basah.

Tabel 5.3.
Jenis dan Luas Wilayah Ekoregion Dataran Fluviomarin Jakarta
Luas
No Kode Wilayah Ekoregion
(Ha)
Dataran Fluviomarin, Typic Epiaquepts, Curah Hujan 1.750

1 - 2.000 mm/tahun, Penggunaan Lahan Hutan Kota, 4.246,81


Cengkareng - Sawahbesar - Kelapagading
Dataran Fluviomarin, Typic Epiaquepts, Curah Hujan 1.750

2 - 2.000 mm/tahun, Penggunaan Lahan Pertanian, 1.924,16


Cengkareng - Sawahbesar - Kelapagading
Dataran Fluviomarin, Typic Epiaquepts, Curah Hujan 1.750

3 - 2.000 mm/tahun, Kawasan Terbangun, Cengkareng - 11.505,01


Sawahbesar - Kelapagading
Dataran Fluviomarin, Typic Epiaquepts, Curah Hujan 1.750

4 - 2.000 mm/tahun, Penggunaan Lahan Lainnya, 1.272,08


Cengkareng - Sawahbesar - Kelapagading

Secara genetik, material penyusun umumnya berupa aluvium lempungan,


dengan komposisi lempung, laman, pasir, kerikil, kerakal dan bongkah yang
seimbang, yang terbentuk akibat aktivitas pengendapan aliran sungai.

Topografi berupa dataran, dengan morfologi atau relief datar, dan kemiringan
lereng secara umum 03%, pada beberapa lokasi berombak hingga
bergelombang (38%).

Ekoregion ini terbentuk oleh proses pengendapan fluvial (aliran sungai). Kondisi
hidrologi satuan ini dibangun oleh material aluvium yang mampu membentuk
akuifer yang potensial, dengan dukungan morfologi yang datar, maka

Penyusunan Rencana Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup (RPPLH) Tahap II V - 16


LAPORAN AKHIR

menyebabkan cadangan atau ketersediaan air tanah dangkal sangat potensial,


sehingga membentuk resevoir air tanah atau cekungan hidrogeologi.

Material aluvium merupakan material yang mudah untuk mengalami pengikisan


oleh aliran sungai, sehingga pada umumnya satuan ini dicirikan oleh pola aliran
seperti cabang pohon (dendritik). Aliran sungai bersifat mengalir sepanjang
tahun (perrenial) dengan debit aliran relatif besar, karena mendapat input dari
air hujan dan aliran air tanah yang masuk ke dalam badan atau lembah sungai
(effluent). Material aluvium akan berkembang menjadi tanah dengan tekstur
geluhan, struktur remah, dan solum sangat tebal, sehingga dengan tersedianya
air yang melimpah menjadikan tanah ini sangat subur, yang disebut tanah
Alluvial.

Tanah ini potensial untuk pengembangan lahanlahan pertanian tanaman


semusim dengan irigasi intensif. Pemanfaatan lahan secara umum berupa lahan
pertanian tanaman semusim yang potensial dan produktif, serta permukiman
dapat berkembang dengan pesat, sehingga membentuk wilayah perkotaan yang
semakin padat. Flora dominan berupa tanaman budidaya semusim (pertanian),
dengan fauna sawah (katak, ikan air tawar, dan burung).

Kondisi sosial budaya/kultural dominan pedagang, dan pegawai perkantoran,


dengan komposisi penduduk membentuk pola piramida (jumlah usia produktif
mampu menopang usia muda dan tua), pertumbuhan penduduk pesat, dan
kepadatan tinggi. Didukung lagi oleh migrasi masuk yang tinggi, karena aspek
urbanisasi. Perkembangan wilayah yang pesat dan pertumbuhan penduduk yang
tinggi, menyebabkan kebutuhan lahan permukiman semakin tinggi, yang
berakibat terhadap alih fungsi lahan pertanian menjadi permukiman.
Aktivitas perkotaan dan kehidupan manusia semakin menghasilkan bahanbahan
pencemar yang menyebabkan pencemaran lingkungan semakin tinggi (udara,
air, tanah), yang dalam jangka panjang menyebabkan degradasi lingkungan
global, seperti efek rumah kaca, hujan asam, penurunan kualitas air, banjir kota,
dan sebagainya.

Penyusunan Rencana Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup (RPPLH) Tahap II V - 17


LAPORAN AKHIR

Ancaman bencana alam dapat berupa potensi luapan aliran sungai


(penggenangan). Satuan ekoregion ini mempunyai jasa ekosistem sebagai
penyedia lahan pertanian, sumberdaya air bersih, dan bahan dasar lainnya;
pengaturan sistem pemanfaatan air, kualitas udara, dan limbah; budaya :
pengembangan budaya, agama, dan pendidikan, dan infrastruktur lainnya; dan
pendukung berupa : perlindungan sumberdaya alam dan plasma nutfah.

SATUAN EKOREGION Karakteristik Ekoregion DKI Jakarta


NO
DKI JAKARTA Paramater
Lokasi dan Luas Area Tersebar di wilayah utara jakarta dengan
luas mencapai 189,48 Km2
Klimatologi Bertipe iklim agak basah hingga sedang,
hutan rimba dan hutan musiman, Suhu
udara rata-rata 22-32OC. Curah hujan
tahunan 1.750 2.000 mm / tahun.
Geologi Material penyusun umumnya berupa
aluvium, dengan komposisi lempung, laman,
pasir, kerikil, kerakal dan bongkah yang
seimbang.
Geomorfologi Topografi berupa dataran, dengan morfologi
atau relief datar, dan kemiringan lereng
secaraumum 03%, pada beberapa lokasi
berombak hingga bergelombang (38%).
Hidrologi Material Aluvium mampu membentuk
akuifer yang potensial, dengan dukungan
morfologi yang datar, maka menyebabkan
Dataran cadangan atau ketersediaan air tanah
Fluviomarin dangkal sangat potensial. Material aluvium
Jakarta merupakan material yang mudah untuk
mengalami pengikisan oleh aliran sungai,
sehingga pada umumnya satuan ini dicirikan
oleh pola aliran seperti cabang pohon
(dendritik). Aliran sungai bersifat mengalir
sepanjang tahun (perrenial) dengan debit
aliran relatif besar, karena mendapat input
dari air hujan dan aliran air tanah yang
masuk ke dalam badan atau lembah sungai
(effluent).
Tanah dan Material aluvium akan berkembang menjadi
Penggunaan Lahan tanah dengan tekstur geluhan, struktur
remah, dan solum sangat tebal, sehingga
dengan tersedianya air yang melimpah
menjadikan tanah ini sangat subur, yang
disebut tanah Alluvial. Tanah ini potensial
untuk pengembangan lahan-lahan pertanian
tanaman semusim dengan irigasi intensif.
Pemanfaatan lahan secara umum berupa

Penyusunan Rencana Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup (RPPLH) Tahap II V - 18


LAPORAN AKHIR

SATUAN EKOREGION Karakteristik Ekoregion DKI Jakarta


NO
DKI JAKARTA Paramater
lahan pertanian tanaman semusim yang
potensial dan produktif, serta permukiman
dapat berkembang dengan pesat, sehingga
membentuk wilayah perkotaan yang
semakin padat.
Hayati (Flora-Fauna) Flora dominan berupa tanaman budidaya
semusim (pertanian), Vegetasi Monsun
Rawa Air Tawar, Vegetasi Rawa Air Tawar
Pamah.
Kultural (Sosial- Dominan pedagang, dan pegawai
Budaya) perkantoran, dengan komposisi penduduk
membentuk pola piramida (jumlah usia
produktif mampu menopang usia muda dan
tua), pertumbuhan penduduk pesat, dan
kepadatan tinggi. Didukung lagi oleh migrasi
masuk yang tinggi, karena aspek urbanisasi
Kerawanan Alih fungsi lahan pertanian menjadi
Lingkungan permukiman. Pencemaran lingkungan
semakin tinggi (udara, air, tanah), yang
dalam jangka panjang menyebabkan
degradasi lingkungan global, seperti efek
rumah kaca, hujan asam, penurunan
kualitas air, banjir kota, dan sebagainya.
Ancaman bencana alam dapat berupa
potensi luapan aliran sungai
(penggenangan).

Jasa ekosistem Penyediaan Penyedia lahan pertanian,


sumberdaya air bersih,
dan bahan dasar lainnya.
Pengaturan Pengaturan sistem
pemanfaatan air, kualitas
udara, dan limbah.
Budaya Pengembangan budaya,
agama, dan pendidikan,
dan infrastruktur lainnya.
Pendukung Perlindungan sumberdaya
alam dan plasma nutfah.

5.4.4. Dataran Banjir Jakarta


Tersebar hampir di seluruh wilayah sungai di DKI Jakarta dengan luas mencapai
38,41 Km2. Kondisi iklim ekoregion ini relatif agak basah dengan variasi curah
hujan 2.000 2.500 mm/tahun. Umumnya dibagian selatan Jakarta mempunyai
curah hujan agak basah hingga basah.

Penyusunan Rencana Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup (RPPLH) Tahap II V - 19


LAPORAN AKHIR

Tabel 5.4.
Jenis dan Luas Wilayah Ekoregion Dataran Banjir Jakarta
Luas
No Kode Wilayah Ekoregion
(Ha)
Dataran Banjir, Typic Dystrudepts, Curah Hujan 2.000 -

1 2.500 mm/tahun, Penggunaan Lahan Hutan Kota, 856,22


Pesanggrahan - Pancoran - Makasar
Dataran Banjir, Typic Dystrudepts, Curah Hujan 2.000 -

2 2.500 mm/tahun, Penggunaan Lahan Pertanian, 757,91


Pesanggrahan - Pancoran - Makasar
Dataran Banjir, Typic Dystrudepts, Curah Hujan 2.000 -

3 2.500 mm/tahun, Kawasan Terbangun, Pesanggrahan - 2.026,82


Pancoran - Makasar
Dataran Banjir, Typic Dystrudepts, Curah Hujan 2.000 -

4 2.500 mm/tahun, Penggunaan Lahan Lainnya, 200,64


Pesanggrahan - Pancoran - Makasar

Secara genetik, material penyusun umumnya berupa kipas aluvium, dengan


komposisi tuf halus berlapis, tuf pasiran berselingan dengan tuf konglomeratan
yang terbentuk akibat aktivitas pengendapan aliran sungai.

Gambar 5.3. Permukiman pada meander


K. Pesanggrahan yang merupakan dataran banjir

Penyusunan Rencana Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup (RPPLH) Tahap II V - 20


LAPORAN AKHIR

Gambar 5.4. Permukiman pada meander


K. Pesanggrahan yang merupakan dataran banjir

Tuf halus, kelabu muda, berlapis tipis, pejal, merupakan bagian bawah dari
satuan ini; tebal yang tersingkap +/- 2 m. Sebagian lapisannya memperlihatkan
perairan sejajar. Tuf konglomeratan, putih kekuningan, kemas terbuka,
pemilahan buruk, membundar tangung-membundar sempurna, berbutir 1-3 cm,
tersusun oleh andesit dan kuarsa, matrik tuf halus, tebal 1,5 m. Tuf pasiran,
kelabu muda, pemilahan buruk, berbutir halus-kasar, membundar tanggung-
membundar, bersusun andesitan, berselang-seling dengan tuf konglomeratan.
Tuf batupaung, kuning kecoklatan, kemerahan, mengandung konkreksi besi (2-3
cm) dan fragmen batuapung, membundar tanggung sampai membundar, garis
tengah 3-5 cm dan kerikil kuarsa yang bundar, menindih langsung tuf
konglomeratan. Tebal +/- 3 m. Satuan ini membentuk morfologi kipas dengan
pola aliran dischotomic. Pengendapannya diduga pada lingkungan darat,
bahkan pembentuknya berasal dari batuan gunung api muda di Dataran Tinggi
Bogor. Umur satuan ini diduga plistosen Akhir atau lebih muda. Tebal satuan ini
diduga +/- 300 m. Satuan ini terlampar sangat luas, dari selatan ke utara; di
selatan, membentuk Aluvium; sedangkan di utara merupakan Satuan
Konglomerat dan batuapasir tufan.

Penyusunan Rencana Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup (RPPLH) Tahap II V - 21


LAPORAN AKHIR

Topografi berupa dataran bergelombang hingga landai, dengan morfologi atau


relief datar, dan kemiringan lereng secara umum 03%, pada beberapa lokasi
berombak hingga bergelombang (38%).
Ekoregion ini terbentuk oleh proses pengendapan fluvial (aliran sungai). Kondisi
hidrologi satuan ini dibangun oleh material aluvium yang mampu membentuk
akuifer yang potensial, dengan dukungan morfologi yang datar, maka
menyebabkan cadangan atau ketersediaan air tanah dangkal sangat potensial,
sehingga membentuk resevoir air tanah atau cekungan hidrogeologi.

Material aluvium merupakan material yang mudah untuk mengalami pengikisan


oleh aliran sungai, sehingga pada umumnya satuan ini dicirikan oleh pola aliran
seperti cabang pohon (dendritik). Aliran sungai bersifat mengalir sepanjang
tahun (perrenial) dengan debit aliran relatif besar, karena mendapat input dari
air hujan dan aliran air tanah yang masuk ke dalam badan atau lembah sungai
(effluent).

Material aluvium akan berkembang menjadi tanah dengan tekstur geluhan,


struktur remah, dan solum sangat tebal, sehingga dengan tersedianya air yang
melimpah menjadikan tanah ini sangat subur, yang disebut tanah Alluvial.

Tanah ini potensial untuk pengembangan lahanlahan pertanian tanaman


semusim dengan irigasi intensif. Pemanfaatan lahan secara umum berupa lahan
pertanian tanaman semusim yang potensial dan produktif, serta permukiman
dapat berkembang dengan pesat, sehingga membentuk wilayah perkotaan yang
semakin padat. Flora dominan berupa tanaman budidaya semusim (pertanian),
dengan fauna sawah (katak, ikan air tawar, dan burung).

Kondisi sosial budaya/kultural dominan pedagang, dan pegawai perkantoran,


dengan komposisi penduduk membentuk pola piramida (jumlah usia produktif
mampu menopang usia muda dan tua), pertumbuhan penduduk pesat, dan
kepadatan tinggi. Didukung lagi oleh migrasi masuk yang tinggi, karena aspek
urbanisasi. Perkembangan wilayah yang pesat dan pertumbuhan penduduk yang

Penyusunan Rencana Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup (RPPLH) Tahap II V - 22


LAPORAN AKHIR

tinggi, menyebabkan kebutuhan lahan permukiman semakin tinggi, yang


berakibat terhadap alih fungsi lahan pertanian menjadi permukiman.

Aktivitas perkotaan dan kehidupan manusia semakin menghasilkan bahanbahan


pencemar yang menyebabkan pencemaran lingkungan semakin tinggi (udara,
air, tanah), yang dalam jangka panjang menyebabkan degradasi lingkungan
global, seperti efek rumah kaca, hujan asam, penurunan kualitas air, banjir kota,
dan sebagainya.

Ancaman bencana alam dapat berupa potensi luapan aliran sungai


(penggenangan). Satuan ekoregion ini mempunyai jasa ekosistem sebagai
penyedia lahan pertanian, sumberdaya air bersih, dan bahan dasar lainnya;
pengaturan sistem pemanfaatan air, kualitas udara, dan limbah; budaya :
pengembangan budaya, agama, dan pendidikan, dan infrastruktur lainnya; dan
pendukung berupa : perlindungan sumberdaya alam dan plasma nutfah.

SATUAN EKOREGION Karakteristik Ekoregion DKI Jakarta


NO
DKI JAKARTA Paramater
Lokasi dan Luas Area Tersebar di wilayah utara jakarta dengan
luas mencapai 38,41 Km2
Klimatologi Bertipe iklim agak basah hingga sedang,
hutan rimba dan hutan musiman, Suhu
udara rata-rata 22-32OC. Curah hujan
tahunan 2.000 2.500 mm / tahun.
Geologi Material penyusun umumnya berupa kipas
aluvium, dengan komposisi tuf halus
berlapis, tuf pasiran berselingan dengan
tuf konglomeratan yang terbentuk
akibat aktivitas pengendapan aliran
Dataran Banjir sungai.
Jakarta Geomorfologi Topografi berupa dataran, dengan morfologi
atau relief bergelombang hingga sangat
landai, dan kemiringan lereng secara umum
03%, pada beberapa lokasi berombak
hingga bergelombang (38%).
Hidrologi Material Aluvium mampu membentuk
akuifer yang potensial, dengan dukungan
morfologi yang datar, maka menyebabkan
cadangan atau ketersediaan air tanah
dangkal sangat potensial. Material aluvium
merupakan material yang mudah untuk
mengalami pengikisan oleh aliran sungai,

Penyusunan Rencana Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup (RPPLH) Tahap II V - 23


LAPORAN AKHIR

SATUAN EKOREGION Karakteristik Ekoregion DKI Jakarta


NO
DKI JAKARTA Paramater
sehingga pada umumnya satuan ini dicirikan
oleh pola aliran seperti cabang pohon
(dendritik). Aliran sungai bersifat mengalir
sepanjang tahun (perrenial) dengan debit
aliran relatif besar, karena mendapat input
dari air hujan dan aliran air tanah yang
masuk ke dalam badan atau lembah sungai
(effluent).
Tanah dan Material aluvium akan berkembang menjadi
Penggunaan Lahan tanah dengan tekstur geluhan, struktur
remah, dan solum sangat tebal, sehingga
dengan tersedianya air yang melimpah
menjadikan tanah ini sangat subur, yang
disebut tanah Alluvial. Tanah ini potensial
untuk pengembangan lahan-lahan pertanian
tanaman semusim dengan irigasi intensif.
Pemanfaatan lahan secara umum berupa
lahan pertanian tanaman semusim yang
potensial dan produktif, serta permukiman
dapat berkembang dengan pesat, sehingga
membentuk wilayah perkotaan yang
semakin padat.
Hayati (Flora-Fauna) Flora dominan berupa tanaman budidaya
semusim (pertanian), Vegetasi Monsun
Rawa Air Tawar, Vegetasi Rawa Air Tawar
Pamah.
Kultural (Sosial- Dominan pedagang, dan pegawai
Budaya) perkantoran, dengan komposisi penduduk
membentuk pola piramida (jumlah usia
produktif mampu menopang usia muda dan
tua), pertumbuhan penduduk pesat, dan
kepadatan tinggi. Didukung lagi oleh migrasi
masuk yang tinggi, karena aspek urbanisasi
Kerawanan Alih fungsi lahan pertanian menjadi
Lingkungan permukiman. Pencemaran lingkungan
semakin tinggi (udara, air, tanah), yang
dalam jangka panjang menyebabkan
degradasi lingkungan global, seperti efek
rumah kaca, hujan asam, penurunan
kualitas air, banjir kota, dan sebagainya.
Ancaman bencana alam dapat berupa
potensi luapan aliran sungai
(penggenangan).

Jasa ekosistem Penyediaan Penyedia lahan pertanian,


sumberdaya air bersih,
dan bahan dasar lainnya.
Pengaturan Pengaturan sistem
pemanfaatan air, kualitas
udara, dan limbah.

Penyusunan Rencana Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup (RPPLH) Tahap II V - 24


LAPORAN AKHIR

SATUAN EKOREGION Karakteristik Ekoregion DKI Jakarta


NO
DKI JAKARTA Paramater
Budaya Pengembangan budaya,
agama, dan pendidikan,
dan infrastruktur lainnya.
Pendukung Perlindungan sumberdaya
alam dan plasma nutfah.

5.4.5. Dataran Rawa Jakarta


Tersebar hampir di seluruh bagian utara DKI Jakarta terutama di Timur Laut DKI
Jakarta dengan luas mencapai 16,76 Km2. Kondisi iklim ekoregion ini relatif
sedang hingga agak kering dengan variasi curah hujan 1.750 2.000 mm/tahun.

Tabel 5.5.
Jenis dan Luas Wilayah Ekoregion Dataran Rawa Jakarta
Luas
No Kode Wilayah Ekoregion
(Ha)
Dataran Rawa, Typic Endoaquepts, Curah Hujan 1.750 -

1 2.000 mm/tahun, Penggunaan Lahan Hutan Kota, 388,90


Cengkareng - Tanjungpriok - Cilincing
Dataran Rawa, Typic Endoaquepts, Curah Hujan 1.750 -

2 2.000 mm/tahun, Penggunaan Lahan Pertanian, 981,63


Cengkareng - Tanjungpriok - Cilincing
Dataran Rawa, Typic Endoaquepts, Curah Hujan 1.750 -

3 2.000 mm/tahun, Kawasan Terbangun, Cengkareng - 92,18


Tanjungpriok - Cilincing
Dataran Rawa, Typic Endoaquepts, Curah Hujan 1.750 -

4 2.000 mm/tahun, Penggunaan Lahan Lainnya, Cengkareng 213,28


- Tanjungpriok - Cilincing

Secara genetik, material penyusun umumnya berupa aluvium lempungan,


dengan komposisi lempung, laman, pasir, kerikil, kerakal dan bongkah yang
seimbang, yang terbentuk akibat aktivitas pengendapan aliran sungai.

Penyusunan Rencana Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup (RPPLH) Tahap II V - 25


LAPORAN AKHIR

Topografi berupa dataran, dengan morfologi atau relief datar, dan kemiringan
lereng secara umum 03%, pada beberapa lokasi berombak hingga
bergelombang (38%).

Gambar 5.5. Alih fungsi Lahan Dataran Rawa di Cilincing Jakarta Utara

Ekoregion ini terbentuk oleh proses pengendapan fluvial (aliran sungai). Kondisi
hidrologi satuan ini dibangun oleh material aluvium yang mampu membentuk
akuifer yang potensial, dengan dukungan morfologi yang datar, maka
menyebabkan cadangan atau ketersediaan air tanah dangkal sangat potensial,
sehingga membentuk resevoir air tanah atau cekungan hidrogeologi.

Material aluvium akan berkembang menjadi tanah dengan tekstur geluhan,


struktur remah, dan solum sangat tebal, sehingga dengan tersedianya air yang
melimpah menjadikan tanah ini sangat subur, yang disebut tanah Alluvial.

Tanah ini potensial untuk pengembangan lahanlahan pertanian tanaman


semusim dengan irigasi intensif. Pemanfaatan lahan secara umum berupa lahan
pertanian tanaman semusim yang potensial dan produktif, serta permukiman
dapat berkembang dengan pesat, sehingga membentuk wilayah perkotaan yang
semakin padat. Flora dominan berupa tanaman budidaya semusim (pertanian),
dengan fauna sawah (katak, ikan air tawar, dan burung).

Penyusunan Rencana Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup (RPPLH) Tahap II V - 26


LAPORAN AKHIR

Kondisi sosial budaya/kultural dominan pedagang, dan pegawai perkantoran,


dengan komposisi penduduk membentuk pola piramida (jumlah usia produktif
mampu menopang usia muda dan tua), pertumbuhan penduduk pesat, dan
kepadatan tinggi. Didukung lagi oleh migrasi masuk yang tinggi, karena aspek
urbanisasi. Perkembangan wilayah yang pesat dan pertumbuhan penduduk yang
tinggi, menyebabkan kebutuhan lahan permukiman semakin tinggi, yang
berakibat terhadap alih fungsi lahan pertanian menjadi permukiman.

Aktivitas perkotaan dan kehidupan manusia semakin menghasilkan bahanbahan


pencemar yang menyebabkan pencemaran lingkungan semakin tinggi (udara,
air, tanah), yang dalam jangka panjang menyebabkan degradasi lingkungan
global, seperti efek rumah kaca, hujan asam, penurunan kualitas air, banjir kota,
dan sebagainya.

Ancaman bencana alam dapat berupa potensi luapan aliran sungai


(penggenangan). Satuan ekoregion ini mempunyai jasa ekosistem sebagai
penyedia lahan pertanian, sumberdaya air bersih, dan bahan dasar lainnya;
pengaturan sistem pemanfaatan air, kualitas udara, dan limbah; budaya :
pengembangan budaya, agama, dan pendidikan, dan infrastruktur lainnya; dan
pendukung berupa : perlindungan sumberdaya alam dan plasma nutfah.

SATUAN EKOREGION Karakteristik Ekoregion DKI Jakarta


NO
DKI JAKARTA Paramater
Lokasi dan Luas Area Tersebar di wilayah utara jakarta dengan
luas mencapai 254.53 Km2
Klimatologi Bertipe iklim sedang hingga agak kering,
hutan musim dan hutan sabana. Suhu udara
rata-rata 22-32OC. Curah hujan tahunan
1.750 2.000 mm / tahun.
Geologi Material penyusun umumnya berupa
Dataran Rawa aluvium, dengan komposisi lempung, laman,
Jakarta pasir, kerikil, kerakal dan bongkah yang
seimbang.
Geomorfologi Topografi berupa dataran, dengan morfologi
atau relief datar, dan kemiringan lereng
secaraumum 03%, pada beberapa lokasi
berombak hingga bergelombang (38%).
Hidrologi Material Aluvium mampu membentuk
akuifer yang potensial, dengan dukungan

Penyusunan Rencana Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup (RPPLH) Tahap II V - 27


LAPORAN AKHIR

SATUAN EKOREGION Karakteristik Ekoregion DKI Jakarta


NO
DKI JAKARTA Paramater
morfologi yang datar, maka menyebabkan
cadangan atau ketersediaan air tanah
dangkal sangat potensial. Aliran sungai
bersifat mengalir sepanjang tahun
(perrenial) dengan debit aliran relatif besar,
karena mendapat input dari air hujan dan
aliran air tanah yang masuk ke dalam badan
atau lembah sungai (effluent).
Tanah dan Material aluvium akan berkembang menjadi
Penggunaan Lahan tanah dengan tekstur geluhan, struktur
remah, dan solum sangat tebal, sehingga
dengan tersedianya air yang melimpah
menjadikan tanah ini sangat subur, yang
disebut tanah Alluvial. Tanah ini potensial
untuk pengembangan lahan-lahan pertanian
tanaman semusim dengan irigasi intensif.
Pemanfaatan lahan secara umum berupa
lahan pertanian tanaman semusim yang
potensial dan produktif, serta permukiman
dapat berkembang dengan pesat, sehingga
membentuk wilayah perkotaan yang
semakin padat.
Hayati (Flora-Fauna) Flora dominan berupa tanaman budidaya
semusim (pertanian), Vegetasi Monsun
Rawa Air Tawar, Vegetasi Rawa Air Tawar
Pamah.
Kultural (Sosial- Dominan pedagang, dan pegawai
Budaya) perkantoran, dengan komposisi penduduk
membentuk pola piramida (jumlah usia
produktif mampu menopang usia muda dan
tua), pertumbuhan penduduk pesat, dan
kepadatan tinggi. Didukung lagi oleh migrasi
masuk yang tinggi, karena aspek urbanisasi
Kerawanan Alih fungsi lahan pertanian menjadi
Lingkungan permukiman. Pencemaran lingkungan
semakin tinggi (udara, air, tanah), yang
dalam jangka panjang menyebabkan
degradasi lingkungan global, seperti efek
rumah kaca, hujan asam, penurunan
kualitas air, banjir kota, dan sebagainya.
Ancaman bencana alam dapat berupa
potensi luapan aliran sungai
(penggenangan).
Jasa ekosistem Penyediaan Penyedia lahan pertanian,
sumberdaya air bersih,
dan bahan dasar lainnya.
Pengaturan Pengaturan sistem
pemanfaatan air, kualitas
udara, dan limbah.
Budaya Pengembangan budaya,

Penyusunan Rencana Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup (RPPLH) Tahap II V - 28


LAPORAN AKHIR

SATUAN EKOREGION Karakteristik Ekoregion DKI Jakarta


NO
DKI JAKARTA Paramater
agama, dan pendidikan,
dan infrastruktur lainnya.
Pendukung Perlindungan sumberdaya
alam dan plasma nutfah.

5.4.6. Dataran Vulkanik Jakarta

Kawasan ini tersebar di selatan DKI Jakarta. Luas total satuan ini mencapai
298,25 Km2. Kondisi iklim relatif basah dengan curah hujan sedang hingga tinggi
yang berkisar antara 2.000 2.500 mm/tahun, yang merata di seluruh satuan
ekoregion ini.

Tabel 5.6.
Jenis dan Luas Wilayah Ekoregion Dataran Vulkanik Jakarta
Luas
No Kode Wilayah Ekoregion
(Ha)
Dataran Bergelombang, Typic Dystrudepts, Curah Hujan

1 2.250 - 2.500 mm/tahun, Penggunaan Lahan Hutan Kota, 780,37


Jagakarsa - Ciracas - Cipayung
Dataran Bergelombang, Typic Dystrudept, Curah Hujan

2 2.250 - 2.500 mm/tahun, Penggunaan Lahan Pertanian, 492,03


Jagakarsa - Ciracas - Cipayung
Dataran Bergelombang, Typic Dystrudept, Curah Hujan

3 2.250 - 2.500 mm/tahun, Kawasan Terbangun, Jagakarsa - 2.494,68


Ciracas - Cipayung
Dataran Bergelombang, Typic Dystrudept, Curah Hujan

4 2.250 - 2.500 mm/tahun, Penggunaan Lahan Lainnya, 48,42


Jagakarsa - Ciracas - Cipayung
Dataran Agak Bergelombang, Typic Dystrudept, Curah

5 Hujan 2.000 - 2.250 mm/tahun, Penggunaan Lahan Hutan 1.228,48


Kota, Cilandak - Pasarrebo - Cipayung

Penyusunan Rencana Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup (RPPLH) Tahap II V - 29


LAPORAN AKHIR

Luas
No Kode Wilayah Ekoregion
(Ha)
Dataran Agak Bergelombang, Typic Dystrudept, Curah

6 Hujan 2.000 - 2.250 mm/tahun, Penggunaan Lahan 621,63


Pertanian, Cilandak - Pasarrebo - Cipayung
Dataran Agak Bergelombang, Typic Dystrudept, Curah

7 Hujan 2.000 - 2.250 mm/tahun, Kawasan Terbangun, 4.575,71


Cilandak - Pasarrebo - Cipayung
Dataran Agak Bergelombang, Typic Dystrudept, Curah

8 Hujan 2.000 - 2.250 mm/tahun, Penggunaan Lahan 61,99


Lainnya, Cilandak - Pasarrebo - Cipayung
Dataran Landai/ Berombak, Typic Dystrudept, Curah Hujan

9 1.750 - 2.250 mm/tahun, Penggunaan Lahan Hutan Kota, 1.194,13


Pesanggarahan - Pancoran - Makasar
Dataran Landai/ Berombak, Typic Dystrudept, Curah Hujan

10 1.750 - 2.250 mm/tahun, Penggunaan Lahan Pertanian, 259,05


Pesanggarahan - Pancoran - Makasar
Dataran Landai/ Berombak, Typic Dystrudept, Curah Hujan

11 1.750 - 2.250 mm/tahun, Kawasan Terbangun, 5.940,20


Pesanggarahan - Pancoran - Makasar
Dataran Landai/ Berombak, Typic Dystrudept, Curah Hujan

12 1.750 - 2.250 mm/tahun, Penggunaan Lahan Lainnya, 167,63


Pesanggarahan - Pancoran - Makasar
Dataran Sangat Landai, Typic Dystrudept, Curah Hujan

13 1.750 - 2.000 mm/tahun, Penggunaan Lahan Hutan Kota, 1.948,43


Kembangan - Setiabudi - Durensawit
Dataran Sangat Landai, Typic Dystrudept, Curah Hujan

14 1.750 - 2.000 mm/tahun, Penggunaan Lahan Pertanian, 515,79


Kembangan - Setiabudi - Durensawit
Dataran Sangat Landai, Typic Dystrudept, Curah Hujan

15 1.750 - 2.000 mm/tahun, Kawasan Terbangun, 9.295,72


Kembangan - Setiabudi - Durensawit

Penyusunan Rencana Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup (RPPLH) Tahap II V - 30


LAPORAN AKHIR

Luas
No Kode Wilayah Ekoregion
(Ha)
Dataran Sangat Landai, Typic Dystrudept, Curah Hujan

16 1.750 - 2.000 mm/tahun, Penggunaan Lahan Lainnya, 202,11


Kembangan - Setiabudi - Durensawit

Secara genetik, material penyusun umumnya berupa kipas aluvium yang


tersusun dari tuf halus berlapis, tuf pasir berseling dengan tuf konglomeratan,
dengan proses pengendapan dibantu oleh aktivitas aliran sungai.

Topografi berupa dataran, dengan morfologi atau relief datar hingga landai, dan
kemiringan lereng secara umum 0-3%, berombak (3-8%), hingga
bergelombang (8-15%). Ekoregion ini terbentuk sebagai hasil proses erupsi
(letusan) gunung berapi yang penyebarannya dibantu oleh proses aliran sungai
(fluvial), yang membentuk struktur berlapis horisontal dan tersortasi baik
(lapisan tebal dengan material kasar di bagian bawah, dan semakin ke atas
semakin halus).

Material piroklastik dengan komposisi pasir, kerikil, dan kerakal, merupakan


komposisi material yang mampu melalukan air dengan baik (permeabilitas
tinggi), sehingga membentuk akuifer yang sangat potensial. Dukungan
morfologi datar hingga cekung, menjadikan satuan ini sebagai daerah
cadangan atau ketersediaan air tanah sangat potensial, sehingga
membentuk resevoir air tanah atau cekungan hidrogeologi.

Sungai-sungai mengalir searah dengan kemiringan lereng dan relatif saling


sejajar, sehingga membentuk pola aliran semi paralel hingga paralel, dengan
debit aliran bervariasi mengikuti kondisi aliran mata air di bagian hulunya
sebagai input. Aliran sungai bersifat mengalir sepanjang tahun (perrenial)
dengan debit aliran relatif besar dan fluktuasi tahunan kecil, karena mendapat
input dari air hujan dan aliran mata air yang masuk ke dalam badan atau
lembah sungai (effluent).

Proses perkembangan tanah sangat intensif, yang dapat membentuk

Penyusunan Rencana Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup (RPPLH) Tahap II V - 31


LAPORAN AKHIR

jenis tanah Kipas Aluvial (Dystrudepts). Tanah ini merupakan tanah yang
subur dengan kandungan hara tinggi, solum tebal, dengan tekstur pasir
bergeluh hingga geluh berpasir, struktur remah hingga pejal, dan mampu
meresapkan air hujan sebagai imbuh air tanah dengan baik. Tanah Aluvial
mempunyai warna hitam yang lebih muda. Tanah ini potensial untuk
pengembangan lahan lahan pertanian tanaman semusim dengan irigasi intensif.
Pemanfaatan lahan secara umum berupa lahan sawah yang biasanya dirotasi
dengan tanaman palawija.
Flora dominan berupa tanaman budidaya perkebunan, tanaman semusim
(pertanian), dan kebun campur (tanaman pekarangan), dengan fauna katak,
ikan air tawar, reptilia, burung, dan hewan hewan domestik.

Dominan masyarakat sebagai pedagang, pengusaha, dan pegawai


perkantoran, dengan komposisi penduduk membentuk pola piramida (jumlah
usia produktif mampu menopang usia muda dan tua), pertumbuhan penduduk
pesat, dan kepadatan tinggi dengan penyebaran merata. Didukung lagi oleh
arus migrasi masuk yang tinggi, karena aspek urbanisasi ulang alik (commuter).

Perkembangan wilayah yang pesat dan pertumbuhan penduduk yang


tinggi, menyebabkan kebutuhan lahan permukiman semakin tinggi, yang
berakibat terhadap alih fungsi lahan pertanian menjadi permukiman. Aktivitas
perkotaan dan kehidupan manusia semakin menghasilkan limbah yang
menyebabkan pencemaran lingkungan semakin tinggi (udara, air, tanah),
yang dalam jangka panjang menyebabkan degradasi lingkungan global,
seperti efek rumah kaca, hujan asam, penurunan kualitas air, banjir kota,
penurunan muka air tanah dan debit aliran mata air, dan sebagainya. Ancaman
bencana alam dapat berupa daerah ancaman aliran lahar dan hujan abu
vulkanik (bahaya sekunder) ketika gunung berapi meletus. Secara alami pada
daerah ini kemungkinan sangat kecil untuk terpengaruh oleh perubahan iklim
global.

Ekoregion ini mempunyai jasa ekosistem berupa : penyedia lahan pertanian,


sumberdaya air bersih, dan bahan dasar lainnya; pengaturan sistem

Penyusunan Rencana Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup (RPPLH) Tahap II V - 32


LAPORAN AKHIR

pemanfaatan air, kualitas udara, dan limbah; pengembangan budaya, agama,


dan pendidikan, dan infrastruktur lainnya; perlindungan sumberdaya alam
dan plasma nutfah.

SATUAN EKOREGION Karakteristik Ekoregion DKI Jakarta


NO
DKI JAKARTA Paramater
Lokasi dan Luas Area Kawasan ini tersebar di selatan DKI Jakarta.
Luas total satuan ini mencapai 298,25 Km2.
Klimatologi Kondisi iklim relatif basah dengan curah
hujan sedang hingga tinggi yang berkisar
antara 2.000 2.500 mm/tahun
Geologi material penyusun umumnya berupa kipas
aluvium yang tersusun dari tuf halus
berlapis, tuf pasirn berseling dengan tuf
konglomeratan, dengan proses
pengendapan dibantu oleh aktivitas aliran
sungai.
Geomorfologi Topografi berupa dataran, dengan morfologi
atau relief datar hingga landai, dan
kemiringan lereng secara umum 0-3%,
berombak (3-8%), hingga bergelombang
(8-15%).
Hidrologi Sungai-sungai mengalir searah dengan
kemiringan lereng dan relatif saling sejajar,
sehingga membentuk pola aliran semi
paralel hingga paralel, dengan debit aliran
bervariasi
Dataran Vulkanik
Tanah dan Jenis tanah Aluvial (Epiaquepts). Tanah
Jakarta
Penggunaan Lahan ini merupakan tanah yang subur dengan
kandungan hara tinggi, solum tebal,
dengan tekstur pasir bergeluh hingga
geluh berpasir, struktur remah hingga
pejal, dan mampu meresapkan air hujan
sebagai imbuh air tanah dengan baik.
Hayati (Flora-Fauna) Flora dominan berupa tanaman budidaya
perkebunan, tanaman semusim
(pertanian), dan kebun campur (tanaman
pekarangan), dengan fauna katak, ikan
air tawar, reptilia, burung, dan hewan
hewan domestik.
Kultural (Sosial- Dominan masyarakat sebagai pedagang,
Budaya) pengusaha, dan pegawai perkantoran,
pertumbuhan penduduk pesat, dan
kepadatan tinggi dengan penyebaran
merata. Didukung lagi oleh arus migrasi
masuk yang tinggi, karena aspek urbanisasi
ulang alik (commuter)
Kerawanan Alih fungsi lahan pertanian menjadi
Lingkungan permukiman, pencemaran lingkungan.

Penyusunan Rencana Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup (RPPLH) Tahap II V - 33


LAPORAN AKHIR

SATUAN EKOREGION Karakteristik Ekoregion DKI Jakarta


NO
DKI JAKARTA Paramater
Jasa ekosistem Penyediaan Penyedia lahan
pertanian, sumberdaya
air bersih, dan bahan
dasar lainnya.
Pengaturan Pengaturan sistem
pemanfaatan air, kualitas
udara, dan limbah
Budaya Pengembangan budaya,
agama, dan pendidikan,
dan infrastruktur lainnya.
Pendukung Perlindungan sumberdaya
alam dan plasma nutfah.

5.4.7. Ekoregion dan Wilayah Administrasi


Perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup yang diselenggarakan dengan
pendekatan ekoregion, memang tidak akan sesuai dengan pendekatan wilayah
administratif. Ekoregion bisa berada dalam lintas wilayah tetapi bisa juga berada
dalam satu wilayah. Pendekatan ekoregion untuk perlindungan dan penegelolaan
lingkungan memang lebih tepat, karena bentang alam, daerah aliran sungai,
iklim, kawasan hutan dan satuan lingkungan lainnya tidak sama dengan wilayah
administrasi.

Pengelolaan dan perlindungan berbasis ekoregion mempunyai keunggulan dua


keunggulan yaitu pertama: suatu aksi pengendalian atau pemulihan lingkungan
menjadi lebih jelas efek berantainya. Misalnya apa efek pencemaran apa yang
disebut kerusakan lingkungan yang menjadi fokus perlindungan dan pengelolaan
menjadi jelas dengan mengacu jasa ekosistem. Secara luas telah dipahami
bahwa ekosistem secara alami berproduksi, mengatur daur (daur air, daur
karbon, daur nitrogen dan matarantai makanan). Selain itu juga memberi jasa
bagi pengembangan budi daya manusia, memberi kenyamanan estetik dan
peluang bagi manusia untuk belajar. Apa yang disebut pencemaran adalah
masuknya berbagai zat asing yang menggangu jasa ekosistem tersebut. Sedang
kerusakan lingkungan adalah perubahan yang menyebabkan lingkungan (secara
alami) tidak mampu memberikan jasa lagi.

Penyusunan Rencana Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup (RPPLH) Tahap II V - 34


LAPORAN AKHIR

Kedua dengan berbasis ekoregion menjadi jelas juga dasar koordinasi dan
kerjasama antar daerah dalam perlindungan dan pengelolaan lingkungan. Karena
ada kabupaten kota yang mempunyai tanggung jawab bersama atas suatu
ekoregion Secara umum hal ini sesungguhnya juga sudah diketahui juga.
Persoalannya adalah bahwa ada nilai dan kepentingan yang berbeda antara
berbagai daerah yang meliputi ekoregion yang sama tersebut.

Penentuan ekoregion merupakan upaya mengikuti logika penyusunan RPPLH


seperti yang diamanatkan undang-undang. Pengelolaan lingkungan dengan
pendekatan ekoregion ini dapat dimengerti dan diterima tetapi persoalannya
adalah bahwa pendataan, perencanaan, pelaksanaan tindak pengawasan tidak
diselenggarakan dalam batas ekoregion. Pelaksana perlindungan dan
pengelolaan lingkungan adalah penyelenggara wilayah administrasi yang
memang tidak mempertimbangan pewilayahan berdasarkan ekoregion. Oleh
karena itu bagaimanapun pewilayahan ekoregion harus dialihkan kedalam
wilayah administrasi. Dengan menumpang letakkan (overlay) peta administrasi
wilayah kabupaten/kota dengan peta ekoregion diperoleh gambaran hubungan
antara wilayah dengan ekoregion.

Dari tumpang letak tersebut tampak bahwa ada ekoregion yang dicakup oleh
satu wilayah administrasi saja dan ada yang dicakup oleh beberapa wilayah
administrasi kabupaten/kota. Tabel 5.7 menunjukkan kedudukan dan luas
ekoregion menurut wilayah kabupaten /kota per kecamatan.

Penyusunan Rencana Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup (RPPLH) Tahap II V - 35


Tabel 5.7
Luas Wilayah Ekoregion DKI Jakarta Berdasarkan Kecamatan
LUAS KAWASAN EKOREGION KAWASAN EKOREGION KAWASAN EKOREGION
NO KOTA KECAMATAN
(Ha) M1.1 M1.2 M1.3 M1.4 M2.1 M2.2 M2.3 M2.4 M3.1 M3.2 M3.3 M3.4 F1.1 F1.2 F1.3 F1.4 F2.1 F2.2 F2.3 F2.4 F3.1 F3.2 F3.3 F3.4 V1.1 V1.2 V1.3 V1.4 V2.1 V2.2 V2.3 V2.4 V3.1 V3.2 V3.3 V3.4 V4.1 V4.2 V4.3 V4.4
I JAKARTA BARAT 1 Tambora 540 1.41 - 23.27 9.85 - - - - - - - - 20.86 - 463.43 21.15 - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -
2 Kebonjeruk 1,798 - - - - - - - - - - - - 124.37 11.32 763.98 17.98 36.45 26.16 101.22 12.81 - - - - - - - - - - - - 0.36 11.66 - 30.52 9.34 644.92 6.90
3 Tamansari 773 20.12 - 10.41 27.44 - - - - - - - - 91.45 - 593.43 24.03 - - - - 0.05 - 6.09 - - - - - - - - - - - - - - - - -
4 Kembangan 2,416 - - - - - - - - - - - - 194.70 182.56 515.57 0.33 91.17 53.56 77.92 7.27 - - - - - - - - - - - - - - - - 368.91 179.48 932.64 3.52
5 Cengkareng 2,654 - - - - 119.54 34.93 465.92 6.27 271.45 127.60 295.51 12.37 255.77 150.76 760.91 21.82 4.96 4.15 1.35 2.14 - - - - - - - - - - - - - - - - 6.98 21.38 90.19 -
6 Grogolpetamburan 999 - - - - - - - - - - - - 124.26 - 802.43 30.04 25.02 - 3.46 4.29 - - 0.41 5.06 - - - - - - - - - - - - 0.09 - 3.95 -
7 Palmerah 751 - - - - - - - - - - - - 26.84 - 215.42 5.81 5.13 - 34.27 5.48 - - - - - - - - - - - - - - - 35.85 - 422.10 0.12
8 Kalideres 3,023 - - - - 43.44 125.26 602.10 1.98 311.84 591.32 493.55 34.52 126.80 151.73 388.43 16.38 - - - - 8.01 1.79 2.52 0.19 - - - - - - - - - - - - 33.45 26.91 62.43 0.35
21.53 33.68 37.29 162.98 160.19 1,068.02 8.26 583.29 718.92 789.06 46.89 965.05 496.37 4,503.60 137.54 162.72 83.87 218.21 31.99 8.07 1.79 9.02 5.25 - - - - - - - - 0.36 - 11.66 - 475.80 237.11 2,156.24 10.88
II JAKARTA PUSAT 1 Tanahabang 931 - - - - - - - - - - - - 40.14 - 276.87 13.97 31.78 - 80.27 7.72 - - - - - - - - - - - - - - - - 375.54 - 219.58 37.79
2 Senen 422 - - - - - - - - - - - - 28.88 - 220.73 2.41 4.46 - 35.68 5.38 - - - - - - - - - - - - - - - - 6.86 - 117.51 0.09
3 Kemayoran 725 - - - - - - - - - - - - 120.91 - 569.62 6.51 - - - - 17.73 - 9.13 1.10 - - - - - - - - - - - - - - - -
4 Gambir 759 - - - - - - - - - - - - 209.81 - 510.63 29.22 1.36 - 5.38 2.59 - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -
5 Menteng 653 - - - - - - - - - - - - 50.57 - 242.54 6.12 1.77 - 79.59 5.57 - - - - - - - - - - - - - - - - 19.21 - 247.48 0.14
6 Sawah besar 616 - - - - - - - - - - - - 132.44 - 403.53 68.31 5.35 - 0.48 2.07 0.10 - 3.74 - - - - - - - - - - - - - - - - -
7 Johar baru 238 - - - - - - - - - - - - 5.66 - 161.00 - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - 2.63 - 68.73 -
8 Cempaka putih 469 - - - - - - - - - - - - 32.80 - 307.39 1.23 - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - 5.22 - 121.34 1.02
- - - - - - - - - - - - 621.21 - 2,692.31 127.76 44.72 - 201.41 23.34 17.83 - 12.87 1.10 - - - - - - - - - - - - 409.44 - 774.64 39.04
III JAKARTA SELATAN 1 Kebayoran lama 1,627 - - - - - - - - - - - - - - - - 48.85 22.02 106.04 13.13 - - - - - - - - 29.11 2.47 153.76 0.89 107.42 9.55 793.66 9.98 44.44 2.96 274.73 8.00
2 Setia budi 885 - - - - - - - - - - - - 31.40 33.46 11.78 12.25 - 17.70 1.28 - - - - - - - - - - - - - - - - 251.29 3.58 515.92 6.35
3 Kebayoran baru 1,293 - - - - - - - - - - - - - - - - 15.20 5.35 127.08 1.52 - - - - - - - - - - - - 57.16 1.67 584.74 9.96 92.54 2.34 386.01 9.45
4 Mampangprapatan 773 - - - - - - - - - - - - - - - - 18.83 10.80 101.27 7.10 - - - - - - - - - - - - 7.83 - 340.21 0.34 10.46 0.46 258.25 17.46
5 Tebet 904 - - - - - - - - - - - - 0.19 0.02 0.30 2.66 - 93.95 9.72 - - - - - - - - - - - - 30.59 - 217.43 1.37 50.94 - 484.04 12.79
6 Pancoran 853 - - - - - - - - - - - - - - - - 10.60 9.10 48.89 4.87 - - - - - - - - - - - - 83.72 8.33 595.70 13.31 10.64 3.13 63.99 0.70
7 Pesanggrahan 1,276 - - - - - - - - - - - - - - - - 48.39 69.43 122.89 11.76 - - - - - - - - 1.30 6.26 81.77 - 61.25 55.26 598.59 3.45 28.66 9.64 175.91 1.45
8 Jagakarsa 2,487 - - - - - - - - - - - - - - - - 58.00 115.30 104.19 24.35 - - - - 283.88 252.99 1,068.03 11.26 100.24 35.07 419.38 1.75 3.57 - 6.31 - 0.42 - 2.26 0.01
9 Cilandak 1,816 - - - - - - - - - - - - - - - - 62.46 48.64 117.79 1.20 - - - - - - 18.03 - 127.92 71.60 964.85 3.40 25.96 5.08 367.48 1.60 - - - -
10 Pasarminggu 2,169 - - - - - - - - - - - - - - - - 56.94 64.91 166.99 8.71 - - - - 5.09 1.63 40.62 - 246.35 47.95 816.70 15.73 38.12 28.94 602.56 1.72 1.73 0.26 24.08 -
- - - - - - - - - - - - 31.58 - 33.49 12.09 334.18 345.55 1,006.79 83.63 - - - - 288.97 254.62 1,126.68 11.26 504.91 163.35 2,436.46 21.77 415.61 108.82 4,106.69 41.73 491.12 22.36 2,185.18 56.21
IV JAKARTA TIMUR 1 Jatinegara 1,025 - - - - - - - - - - - - - - 1.59 17.49 - 83.09 3.71 - - - - - - - - - - - - 16.51 0.64 163.04 0.49 85.07 1.27 648.67 3.45
2 Matraman 488 - - - - - - - - - - - - 0.04 0.02 23.98 0.08 1.68 - 48.31 3.02 - - - - - - - - - - - - - - - - 13.23 1.04 396.44 0.17
3 Pulogadung 1,561 - - - - - - - - - - - - 151.14 2.49 683.90 28.44 5.87 - 35.02 7.54 0.32 0.78 0.13 5.09 - - - - - - - - - - - - 86.52 535.78 17.97
4 Cakung 4,228 - - - - - - - - - - - - 844.89 535.14 907.62 313.51 13.60 7.06 4.67 0.18 230.24 273.77 13.64 12.44 - - - - - - - - - - - - 182.17 110.88 748.45 29.74
5 Duren sawit 2,265 - - - - - - - - - - - - - - 0.15 - 60.16 10.55 57.80 0.18 - - - - - - - - - - - - 24.75 11.55 256.53 0.53 140.54 52.34 1,640.25 9.68
6 Makasar 2,185 - - - - - - - - - - - - - - - - 89.20 51.66 76.96 8.78 - - - - - - - - 110.93 9.03 67.70 0.95 607.28 70.23 686.75 116.78 54.31 88.47 111.16 34.80
7 Kramatjati 1,300 - - - - - - - - - - - - - - - - 30.22 15.50 68.15 11.62 - - - - - - - - 29.46 20.56 272.65 0.07 116.68 19.72 601.14 4.70 9.86 1.02 98.51 0.16
8 Pasarrebo 1,298 - - - - - - - - - - - - - - - - 36.66 54.35 98.24 15.38 - - - - 63.03 62.55 351.29 18.20 65.60 40.40 473.82 0.09 5.29 0.79 10.25 - 0.37 1.30 0.42 0.01
9 Ciracas 1,608 - - - - - - - - - - - - - - - - 20.36 41.35 93.23 1.89 - - - - 134.20 111.69 551.26 17.54 85.80 55.73 487.65 6.26 - - 1.05 - - - - -
10 Cipayung 2,845 - - - - - - - - - - - - - - - - 36.82 148.03 34.10 6.77 - - - - 294.17 63.17 464.85 1.42 431.79 332.56 837.03 32.84 7.65 47.31 103.09 3.40 - - - -
- - - - - - - - - - - - 996.08 537.65 1,617.24 342.03 312.06 328.49 599.57 59.07 230.57 274.55 13.78 17.53 491.40 237.40 1,367.40 37.16 723.57 458.27 2,138.85 40.22 778.16 150.23 1,821.84 125.90 572.07 256.31 4,179.67 95.97
V JAKARTA UTARA 1 Tanjungpriok 2,252 187.42 - 513.83 238.73 - - - - - - - - 328.36 1.92 827.45 147.55 - - - - 4.46 - 1.73 0.54 - - - - - - - - - - - - - - - -
2 Pademangan 1,192 455.10 1.26 185.51 158.34 - - - - - - - - 205.43 2.57 131.85 28.49 - - - - 15.13 - 0.56 7.77 - - - - - - - - - - - - - - - -
3 Penjaringan 4,541 1,369.18 25.27 610.23 1,011.38 60.85 2.60 153.83 44.63 463.58 29.59 116.60 37.47 136.27 - 369.88 92.98 - - - - 8.42 - 0.47 7.77 - - - - - - - - - - - - - - - -
4 Kelapa gading 1,487 - - - - - - - - - - - - 474.84 111.72 707.73 153.28 2.54 0.84 2.62 2.19 29.86 0.14 1.24 - - - - - - - - - - - - - - - -
5 Cilincing 3,970 204.66 14.11 306.66 229.27 76.59 5.14 115.12 25.26 119.61 23.82 34.48 43.21 345.29 754.88 464.05 223.85 - - - - 84.12 675.42 52.37 172.08 - - - - - - - - - - - - - - - -
6 Koja 1,225 164.86 - 450.15 66.23 3.04 - 152.79 2.00 9.38 - 28.72 2.82 142.69 19.05 157.40 6.52 - - - - 18.11 - 1.25 - - - - - - - - - - - - - - - - -
2,381.23 40.64 2,066.39 1,703.96 140.48 7.74 421.74 71.88 592.57 53.41 179.80 83.50 1,632.89 890.13 2,658.37 652.67 2.54 - 0.84 2.62 132.44 705.29 56.51 189.40 - - - - - - - - - - - - - - - -

PROVINSI DKI JAKARTA 2,402.76 40.64 2,100.07 1,741.25 303.46 167.93 1,489.76 80.14 1,175.86 772.33 968.86 130.39 4,246.81 1,924.16 11,505.01 1,272.08 856.22 757.91 2,026.82 200.64 388.90 981.63 92.18 213.28 780.37 492.03 2,494.08 48.42 1,228.48 621.63 4,575.31 61.99 1,194.13 259.05 5,940.20 167.63 1,948.43 515.79 9,295.72 202.11