Anda di halaman 1dari 17

Laporan Praktikum Hari/Tgl : Kamis, 19 November 2016

Sanitasi dan Higieni PJ Dosen : Ai Imas STP,MP,MSc


Asisten : Lulu Luminten Amd

UJI DISINFEKTAN DAN ANTISEPTIK

(METODE LANGSUNG, GORES, DIFUSI SUMUR DAN

CAKRAM KERTAS SARING)

Kelompok 5/AP2

Anggita Maharani J3E115025

Dafik Adam Masruri J3E115002

Destia Deanti J3E115075

Febri Rahma Yani J3E115113

SUPERVISOR JAMINAN MUTU PANGAN


PROGRAM DIPLOMA
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2016
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Berbagai jenis bahan kimia yang berfungsi sebagai anti microbial agents,
baik itu disifektanmaupun antiseptik banyak ditemukan di pasaran. Akan tetapi
tidak ada satu bahan kimia pun yang terbaik atau ideal digunakan untuk setiap
penggunaan dan semua tujuan. Hal ini disebabkan oleh beragamnya kondisi
dimana bahan digunakan, cara kerja, banyak dan jenis sel mikroba yang akan
dihancurkan.
Untuk menguji kekuatan disinfektan maupun antiseptik dalam
menghambat pertumbuhan mikroba dapat digunakan metode cakram kertas saring.
Pada kertas cakram ini dibasahi dengan disinfektan, kemudian di letakkan pada
lempengan agar yang telah diinokulasi mikrobba. Cara pengerjaan ini sama
dengan pengujian antibiotika. Lempengan agar kemudian diinkubasikan selama
48 jam. Bila disinfektan menghambat pertumbuhan mikroba, maka akan terlihat
zona jernih di sekeliling kertas cakram, yang dinamakan zona hambat. Luas
daerah terang ini menjadi ukuran kekuatan daya kerja disinfektan. (Puspita, 2004)
Untuk menguji kekuatan disinfektan dalam menghambat pertumbuhan
selain digunakan metode cakram kertas saring, dapat pula digunakan metode
difusi sumur. Pada metode ini secara aseptik dibuat lubang pada media agar cawan
yang telah diinokulasi mikroba uji. Cara pengerjaan ini sama dengan pengujian
antibiotika.ke dalam lubang sumur dimasukkansejumlah larutan disinfektan
dengan konsentrasi tertentu dan diinkubasikan selama 48 jam. Bila disinfektan
menghambat pertmbuhan mikroba, maka akan terlihat zona jernih di sekeliling
lubang, dinamakan juga zona hambat. Luas daerah terang ini menjadi ukuran
kekuatan daya kerja disinfektan.

1.2 Tujuan
Praktikum ini bertujuan mempelajari efektivitas beberapa jenis disinfektan
danantiseptik serta. Selain itu, mempelajaru penerapan metode cakran kertas
saringdan metode difusi sumur untuk mengevaluasi aktivitas dan efektivitas
beberapajenis disinfektan dan antiseptic.
BAB II
METODOLOGI
2.1 Bahan dan Alat
Cawan petri, tabung reaksi, pinset, bunsen, kultur, media NB, disinfektan,
erlenmeyer, air steril, kertas saring, ose, agar NA, alat steril pembuat lubang
sumur, larutan fisiologis, mikrometer sekrup, jagka sorong.
2.2 Prosedur Kerja

1ml suspensi E.coli/SA

9ml larfis

Metode difusi sumur Metode cakram Metode gores Metode langsung

0,1 ml suspensi
0,1 ml suspensi
0,1 ml suspensi 0,5ml disinfektan

+NA +NA +NA +0,5ml disinfektan

+NA
Buat lubang sumur Gores
Letakkan cakram kertas saring

Disinfektan SA EC
Kontrol

Disinfektan
Kontrol Inkubasi, 32oc selama2 hari
Inkubasi, 32oc selama2 hari

UkurBAB
zonaIII
Inkubasi, 32oc selama2
penghambat
BAB III
hari
an Amati kualitatif

Ukur zona
penghambatan
HASIL DAN PEMBAHASAN

3.1 Hasil
3.1.1 Hasil pengamatan metode sumur dan cakram
Metode Sumur Metode Cakram
Desinfekta
(mm) (mm)
n
E.coli S.aureus E.coli S.aureus
Wipol 0,2% - - - -
So Klin 0,4% - - - -
Antis - - - 0,20
Iodium 4% - - - 0,16
Formaldehid - 0,86 - 1,03
2%
Dettol 2,7% - - - -
Toilet seat 1,60 0,18 0,64 0,20
sanitizer
Softaman 1,23 - 1,30 0,488

Keterangan :
(-) tidak ada zona bening

3.1.2 Hasil pengamatan metode langsung dan


metode gores
Metode Langsung Metode Gores
Desinfekta
n
E.coli S.aureus E.coli S.aureus
Wipol 0,2% TBUD TBUD ++++ +++
So Klin 0,4% TBUD TBUD +++ ++++
(>wipol)
Antis 33 TBUD +++ ++++
(>iodium)
Iodium 4% 1 TBUD ++ +++
Formaldehid 162 155 ++++ +++
2%
Dettol 2,7% 1 1 ++++ +++
Toilet seat - - ++
sanitizer
Softaman - - +++ ++++

Keterangan :
(+) sedikit
(++) agak banyak
(+++) banyak
(++++) sangat banyak

3.2 Pembahasan
Desinfektan adalah zat kimia yang mematikan sel vegetatif belum tentu
mematikan bentuk spora mikroorganisme penyebab suatu penyakit. Desinfektan
digunakan untuk menghambat pertumbuhan mikroorganisme pada benda-benda
mati seperti meja, lantai, objek glass dan lain-lain. Antiseptik merupakan zat yang
biasa digunakan untuk menghambat pertumbuhan dan membunuh
mikroorganisme berbahaya yang terdapat pada permukaan tubuh luar makhluk
hidup.
Keefektifan penghambatan merupakan salah satu kriteria pemilihan suatu
senyawa antimikroba untuk diaplikasikan sebagai bahan pengawet bahan pangan.
Semakin kuat penghambatannya semakin efektif digunakan. Mekanisme
penghambatan mikroorganisme oleh senyawa antimikroba dapat disebabkan oleh
beberapa faktor, antara lain gangguan pada senyawa penyusun dinding sel,
peningkatan permeabilitas membran sel yang dapat menyebabkan kehilangan
komponen penyusun sel, menginaktivasi enzim, dan destruksi atau kerusakan
fungsi materialgenetik.

Pada praktikum kali ini digunakan 4 macam metode yaitu metode gores,
langsung, difusi sumur, dan cakram kertas saring. Bakteri yang digunakan untuk
pengujian adalah Escherichia coli dan Staphylococcus Aureus dengan perlakuan
yang sama yaitu masing-masing supensi menggunakan disinfektan/antiseptik
seperti Wipol, So Klin, Antis, Iodium 4%, Formaldehid 2%, Dettol 2,7%, Toilet
seat sanitizer, dan Softaman.

3.2.1 Metode Gores

Pengisolasian merupakan suatu cara untuk memisahkan atau


memindahkan mikroba tertentu dari lingkungannya, sehingga diperoleh kultur
murni. Kultur murni ialah kultur yang sel-sel mikrobanya berasal dari pembelahan
dari satu sel tunggal. Manfaat dilakukannya kultur murni adalah untuk menelaah
atau mengidentifikasi mikroba, termasuk penelaahan ciri-ciri kultural, morfologis,
fisiologis, maupun serologis, yang memerlukan suatu populasi yang terdiri dari
satu macam mikroorganisme saja.

Isolasi bakteri merupakan suatu cara untuk memisahkan atau


memindahkan mikroba tertentu dari lingkungan sehingga diperoleh kultur murni
atau biakan murni. Ada beberapa cara yang dapat dilakukan yaitu dengan cara
goresan (streak plate), cara tuang (pour plate), cara sebar (spread plate), dan
mikromanipulator. Salah satu metode yang digunakan untuk mengisolasi biakan
murnimikroorganisme yaitu, metode gores.

Prinsip metode ini, yaitu mendapatkan koloni yang benar- benar terpisah
dari koloni yanglain, sehingga mempermudah proses isolasi. Penggoresan
yangsempurna akan menghasilkan koloni yang terpisah. Inokulum digoreskan di
permukaanmedia agar nutrien dalam cawaan petri dengan jarum pindah (lup
inokulasi). Di antaragaris-garis goresan akan terdapat sel-sel yang cukup terpisah
sehingga dapat tumbuh menjadi koloni .Cara penggarisan dilakukan pada medium
pembiakan padat bentuk lempeng. Biladilakukan dengan baik teknik inilah yang
paling praktis. Dalam pengerjaannya terkadangberbeda pada masing-masing
laboratorium tapi tujuannya sama yaiitu untuk membuat goresan sebanyak
mungkin pada lempeng medium pembiakan.

Pada praktikum dilakukan metode gores pada setiap cawan yang berisi
suspensi dan media agar, mendapatkan koloni yang benar-benar terpisah dari
koloni yang lain, sehingga mempermudah proses isolasi. Dilakukan disinfektan
dan antiseptic dengan metode cakram kertas saring, metode difusi sumur, metode
gores, dan metode langsung. Pada metode gores di amati setelah 2 hari praktikum,
karna cawan tersebut harus diinkubasi dengan suhu 55c untuk mengetahui
aktivitas dari mikroba atau koloni. Pada kelompok 1 digunakan desinfektan atau
antiseptic wipol 0,2% yang mengandung bahan aktif nya pine oil 2,5 % terdapat
E.Coli yang sangat banyak maupun S.Aureus, maka kemampuan daya bunuh
desinfektan untuk koloni tersebut belum berhasil atau waktu kontannya tidak
maksimal untuk membunuh bakteri koliform tersebut. Pada kelompok 2
digunakan desinfektan So Klin 0,4% yang mengandung bahan aktif
Benzalkonium Chloride 1,5%, daya atau kemampuan mengahmbat mikroba tidak
ampuh, karna pada pengamatan terdapat koloni yang sangat banyak, dan koloni
S.Aureus lebih banyak dari koloni E.Coli. Kelompok 3 digunakan desinfektan
atau antiseptic Antis dengan bahan aktifnya Alkohol 70%, pada pengamatan ini
kemampuan menghambat mikroba masih kurang ampuh, karna pada pengamatan
ini mikroba masih ada yang tumbuh atau ada aktivitas mikroba. Untuk kelompok
4 digunakan desinfektan atau antiseptic iodium konsetrasi 4%, aktivitas atau
pertumbuhan mikroba lebih sedikit dari pada desinfektan atau antiseptic
sebelumnya. Pada kelompok 5 digunakan desinfektan atau antiseptic formaldehida
2% kemampuan untuk menghambat mikroba pada pengamtan ini belum berhasil,
karna masih terdapat mikroba pada pengamtan di cawan petri, dan pada
pengamatan ini E.Coli lebih banyak tumbuh daripada S.Aureus. pada kelompok 6
digunakan desinfektan atau antiseptic Dettol dengan konsentrasi 2,7% dan bahan
aktifnya choloxyfenol 4,8%, pada desinfektan atau antiseptic ini dilakukan
pengenceran terlebuh dahulu sebelum di gunakan untuk uji desinfektan atau
antiseptic pada pengamatan ini, dan daya atau kemampuan untuk menghambat
mikroba masih kurang ampuh untuk membunuh E.Coli dan S.Aureus. pada
kelompok 7 digunakan desinfektan atau antiseptic toilet seat sanitizer dengan
bahan aktifnya nonglphenol ethoxylate 10-50% dan benzaluonium chloride masih
terdapat aktivitas mikroba, dan pada pengamatan ini kemampuan untuk
menghambat E.Coli lebih bagus dari pada S.Aureus. Sedangkan untuk kelompok
8 digunakan desinfektan atau antiseptic Softman dengan bahan aktifnyan N- alkyl
aminopropyl glycine dan ethgl alkohol 90%, kemampuan untuk mengahambat
mikroba kurang ampuh untuk meghambat E.Coli dan S.Aureus, karna daya
tahannya kurang pada mikroba tersebut.

Pada uji disinfektan atau antiseptic ini masing-masing mikrobamempunyai


keefektifan yang berbeda yang berbeda-beda antara metode satu dengan yang
lainnya. Begitu juga dengqn metode gores yang menggunakan desinfektan atau
antiseptic yang berbeda beda dengan konsentrasi yang berbeda juga, dimana
kemampuan untuk mengahmbat mikroba dengan waktu kontan serta penambahan
mikroba secara bertahap juga berbeda, karna dari masing masing desinfektan atau
antiseptic mempunyai bahan aktif yang berbeda untuk menghambat kerja atau
aktivitas dari mikroba. Pada umumnya bakteri yang muda itu kurang daya
tahannya terhadap desinfektan daripada bakteri yang tua. Pekat encernya
konsentrasi, lamanya berada dibawah pengaruh desinfektan, merupakan factor-
faktor yang masuk pertimbangan pula. Kenaikan temperatur menambah daya
desinfektan, selanjutnya medium dapat juga menawar daya desinfektan susu,
plasma darah, dan zat-zat lain yang serupa protein sering melindungi bakteri
terhadap pengaruh desinfektan tertentu. Daya kerja bakterisidal berbeda dengan
bakteri ostatik. Bakteriostatik berjalan searah yaitu bakteri yang telah mati tidak
dapat berkembangbiak lagi meskipun bahan antibakteri telah dihilangkan
bakteriostatik mempunyai karakteristik bila bahan antibakterinya dihilangkan
maka bakteri tersebut dapat tumbuh lagi, karna aktivitas antibakteri diantaranya
dipengaruhi oleh factor potensi dari obatantibakteri dan factor yang menyangkut
sifat dan bakteri itu sendiri khususnya susuna kimia dinsing sel bakteri tersebut.
Hal ini dapat terjadi karna kesalahan dan ketidaksiplinan praktikan dalam
melakukan analisis sehingga mikroba mulai mengkontaminasi media sehingga
desinfektan tertentu yang seharusnya dapat diharapkan menghambat pertumbuhan
mikroba malah justru memacu pertumbuhan mikroba atau tidak ada pengaruhnya
dengan mikroba sama sekali.

3.2.2 Metode Langsung

Pada praktikum ini semua kelompok melakukan metode langsung


berdasarkan desinfektan atau antiseptic yang telah ditentukan dengan konsentrasi
masing masing. Metode langsung dilakukan dengan memasukkan langsung
suspensi dan desinfektan atau antiseptic seblum ditambahkan media NA, tetapi
pada pengamatan setelah 2 hari di inkubasi mikroba atau aktivitas mikroba malah
lebih banyak atau TBUD mulai dari kelompok 1,2,3,4, dan 5 ini dapat disebabkan
biasanya karna kesalahan pada saat analisis atau penggunaan
peralataanlaboratorium yang kurang bersih dan tidak steril, sehingga
menghasilkan analisis yang tidak sesuai, aturannya dari beberapa desinfektan atau
antiseptic dapat menghambat pertumbuhan mikroba, malah memicu terjadinya
pertumbuhan mikroba. Hal ini karna Mikroorganisme yang dihambat mempunyai
proses penghambatan yang sama dan perbedaannya adalah sifat resisten yang
berbeda-beda antara lain mikroorganisme satu dengan yang lainnya. Sifat resisten
ini dapat dipengaruhi oleh kandungan lipid pada membran selnya. Tetapi pada
kelompok 6 hanya sedikit atau 1 koloni, lain hal nya dengan kelompok 7 dan 8
tidak ada aktivitas atau pertumbuhan mikroba, sehingga dapat dikatakan bahwa
kemampuan desinfektan atau antiseptic dalam menghambat mikroba berhasil dan
ampuh, serta daya kontan yang diberikan desinfektan atau antiseptic efektif dan
efisien.

3.2.3 Metode Difusi Sumur

Metode difusi sumur dapat digunakan untuk menguji kekuatan disinfektan


atau antiseptik dalam menghambat pertumbuhan mikroba. Metode difusi sumur
yaitu membuat lubang pada agar padat yang telah diinokulasi dengan bakteri.
Jumlah dan letak lubang disesuaikan dengan tujuan penelitian, kemudian lubang
diinjeksikan dengan ekstrak yang akan diuji. Setelah dilakukan inkubasi,
pertumbuhan bakteri diamati untuk melihat ada tidaknya daerah hambatan di
sekeliling lubang (Kusmayati dan Agustini, 2007). Bakteri yang digunakan untuk
pengujian ini adalah Escherichia coli dan Staphylococcus Aureus.

Pertama, dipipet 1 ml suspensi bakteri E.coli atau S.aureus. Kemudian


dimasukkan ke dalam 9 ml larfis. Lalu dipipet 0,1 ml suspensi yang telah
diencerkan tersebut dan dimasukkan ke dalam cawan petri steril. Setelah itu
ditambahkan media NA (Nutrient Agar) dan diamkan hingga membeku. Setelah
agar membeku, dibuat lubang atau sumur pada agar sebanyak lima lubang sumur
dengan tips yang sudah diotong bagian bawahnya. Empat buah sumur
ditambahkan dengan 10 l disinfektan atau antiseptik, sedangkan satu buah sumur
dibagian tengah ditambahkan dengan air steril atau aquades sebagai kontrol.
Kemudian, cawan Petri diinkubasi pada suhu 370C selama dua hari. Kemudian
diamati penghambatan mikroba yang terjadi dan diukur zona penghambatan yang
terbentuk yang ditandai dengan pembentukan areal bening di sekitar sumur.
Berdasarkan data hasil pengamatan kelompok 1 dan 2, zona hambat tidak
dihasilkan atau tidak terbentuk terhadap pertumbuhan bakteri E. coli maupun
S.aureus dengan menggunakan disinfektan merek Wipol 0,2% dan So Klin 0,4%.
Hasil yang diperoleh oleh kelompok 3 dan 4 juga menunjukkan tidak
terbentuknya zona bening atau zona hambat terhadap pertumbuhan bakteri E. coli
maupun S.aureus. Disinfektan yang digunakan yaitu Antis dan Iodium 4%. Hal
tersebut menunjukkan bahwa penggunan keempat disinfektan atau antiseptic
berupa Wipol 0,2%, So Klin 0,4%, Antis, dan Iodium 4% tidak efektif untuk
menghambat pertumbuhan pertumbuhan bakteri E. coli maupun S.aureus.

Berdasarkan data hasil pengamatan kelompok 5, zona hambat yang


dihasilkan terhadap pertumbuhan bakteri E. coli dengan menggunakan disinfektan
Formaldehid 2% maupun Dettol 2,7% adalah 0 mm. Sedangkan hasil yang
diperoleh pada kelompok 6, zona hambat yang dihasilkan terhadap pertumbuhan
bakteri S.aureus adalah 0,86 mm dengan menggunakan disinfektan
Formaldehid 2%. Sedangkan menggunakan disinfektan Dettol 2,7%, didapat zona
bening yang terbentuk adalah 0 mm. Maka dapat dikatakan bahwa penggunaan
Formaldehid 2% lebih efektif untuk mencegah pertumbuhan bakteri S. aureus
dibandingkan bakteri E. coli. Sedangkan untuk Dettol 2,7% tidak efektif
digunakan untuk menghambat pertumbuhan bakteri S. aureus maupun E. coli.

Berdasarkan data hasil pengamatan kelompok 7, zona hambat yang


dihasilkan terhadap pertumbuhan bakteri E. coli dengan menggunakan disinfektan
merek Toilet Seat Sanitizer adalah 1,60 mm. Sedangkan, zona hambat yang
terbentuk dengan menggunakan disinfektan merek Softaman adalah 1,23 mm.
Hasil yang diperoleh oleh kelompok 8, zona hambat yang dihasilkan terhadap
pertumbuhan bakteri S.aureus adalah 0,18 mm dengan menggunakan
disinfektan Toilet Seat Sanitizer. Sedangkan, zona hambat yang terbentuk dengan
menggunakan disinfektan merek Softaman adalah 1,23 mm. Maka dapat
dikatakan bahwa penggunaan Toilet Seat Sanitizer lebih efektif untuk mencegah
pertumbuhan bakteri E. coli dibandingkan bakteri S. aureus. Begitupun dengan
merek disinfektan Softaman lebih efektif untuk mencegah pertumbuhan bakteri E.
coli dibandingkan bakteri S. aureus.
Dari hasil diatas dapat disimpulkan bahwa pada difusi sumur, disinfektan
atau antiseptik yang paling efektif untuk mencegah pertumbuhan bakteri E.coli
adalah Toilet Seat Sanitizer dengan luas zona hambat sebesar 1,60 mm.
Disinfektan atau antiseptik yang paling efektif untuk mencegah pertumbuhan
bakteri S.aureus adalah Formaldehid 2% dengan luas zona hambat sebesar 0,86
mm.

Adanya cemaran bakteri E.coli pada feses manusia merupakan potensi


terjadinya kontaminasi pada permukaan dudukan toilet. Secara
bersama dapat menimbulkan kontaminasi bakteri yang dapat
menyebabkan infeksi. Pemakaian Toilet Seat Sanitizer ini sangat efektif
untuk mencegah hal tersebut karena mengandung nonylphenol ethoxylase 10-50%
dan benzalkonium chloride. Formaldehid ini sudah dikenal sebagai zat
bakterisida. Mempunyai sifat-sifat reduksi yang kuat sekali dan
sangat reaktif terhadap asam amino dan protein, dan
berdasarkan hal inilah maka formaldehid mempunyai daya
antibakteri. Mekanisme formaldehid sebagai desinfektan adalah
membunuh sel dengan cara mendehidrasi sel jaringan dan sel
bakteri dan menggantikan cairan yang normal dengan komponen
kaku seperti gel sehingga sel bakteri akan kering.

3.2.4 Metode Cakram Kertas Saring

Selain menggunakan meode difusi sumur, untuk menguji kekuatan


disinfektan maupun antiseptik dalam menghambat pertumbuhan mikroba uga
dapat digunakan metode cakram kertas saring (Filter paper disc method). Pada
kertas cakram, dibasahi dengan disinfektan kemudian diletakkan pada lempengan
agar yang telah diinokulasi mikroba. Kemudian diinkubasi selama 48 jam. Bila
disinfektan menghambat pertumbuhan mikroba, maka akan terlihat zona bening
disekeliling kertas cakram. Luas daerah bening ini menjadi ukuran kekuatan daya
kerja disinfektan atau antiseptik (Tim Pengajar SJMP, 2011).

Pada uji disinfektan atau antiseptik ini juga dilakukan dengan metode
cakram kertas saring. Sama halnya dengan metode gores, langsung, dan difusi
sumur yaitu menggunakan beberapa macam disinfektan seperti Wipol, So Klin,
Antis, Iodium 4%, Formaldehid 2%, Dettol 2,7%, Toilet seat sanitizer, dan
Softaman. Menggunakan suspense bakteri Escherichia coli dan Staphylococcus
Aureus. Pertama, diambil 0,5 ml suspensi yang sudah diencerkan dan dimasukkan
ke dalam cawan petri steril dan ditambahkan dengan media NA. Setelah media
memadat, 4 kertas saring dicelupakan kedalam disinfektan selama 4 detik secara
bergantian dan 1 kertas saring dicelupkan kedalam air steril sebagai control. Lalu
diletakkan diatas permukaan agar. Selanjutnya cawan petri diinkubasi selama 2
hari pada suhu 37oC.
Pengamatan dilakukan pada hari ke dua. Kelompok ganjil (1,3,5, dan 7)
menggunakan suspensi E.coli, sedangkan kelompok genap (2,4,6, dan 8)
menggunakan suspense S.aureus. Dari hasil pengamatan, Kelompok 1 dengan
menggunakan disinfektan Wipol 0,2% maupun So Klin 0,4% menunjukkan
hasil 0 mm. Pada hasil kelompok 3, dengan menggunakan disinfektan Antis
maupun Iodium 4% menunjukkan hasil 0 mm. Pada hasil kelompok 5,
dengan menggunakan disinfektan Formaldehid 2% maupun Dettol 2,7%
menunjukkan hasil 0 mm. Sehingga dapat dikatakan bahwa
disinfektan tersebut (Wipol 0,2%

So Klin 0,4%, Antis, Iodium 4%, Formaldehid 2%, dan Dettol 2,7%
tidak dapat menghambat pertumbuhan E.coli. Pada hasil
kelompok 7, dengan menggunakan disinfektan Toilet Seat
Sanitizer dan Softaman secara berurutan menunjukkan hasil 0,64
mm dan 1,30 mm.

Pada hasil pengamatan kelompok genap dengan suspensi


S.aureus, yang didapat oleh kelompok 2 dengan menggunakan
disinfeksi Wipol 0,2% maupun So Klin 0,4% menunjukkan hasil 0
mm. Pada hasil kelompok 4, dengan menggunakan disinfektan Antis dan
Iodium 4% menunjukkan hasil berturut-turut adalah 0,20 mm
dan 0,16 mm. Pada hasil kelompok 6, dengan menggunakan disinfektan
Formaldehid 2% maupun Dettol 2,7% menunjukkan hasil 1,03 mm dan 0
mm. Pada hasil kelompok 8, dengan menggunakan disinfektan Toilet
Seat Sanitizer dan Softaman secara berurutan menunjukkan hasil
0,20 mm dan 0,488 mm.

Dari hasil diatas dapat disimpulkan bahwa padametode cakram kertas


saring, disinfektan atau antiseptik yang paling efektif untuk mencegah
pertumbuhan bakteri E.coli adalah Softaman dengan luas zona hambat sebesar
1,30 mm. Sedangkan, disinfektan atau antiseptik yang paling efektif untuk
mencegah pertumbuhan bakteri S.aureus adalah Formaldehid 2% dengan luas
zona hambat sebesar 1,03 mm.

Pada uji disinfektan atau antiseptik ini masing-masing mikroba


mempunyai keefektifan yang berbeda-beda antara metode satu dengan yang
lainnya. Seperti pada metode difusi sumur dan cakram kertas saring yang pada
prinsip kerjanya hampir sama dalam pengujian, namun hasil yang didapatkan
pada pengujian menggunakan suspense Escherichia coli diameter zona
penghamabatan yang terbesar ada pada disinfektan yang bebeda. Hal tersebut
mungkin dikarenakan mikroba lebih efektif pertumbuhannya dalam beberapa
metode. Pada metode cakram seharusnya pada saat pencelupan kertas saring ke
dalam disinfektan dipastikan kertas saring benar-benar tecelup secara sempurna
dan dengan waktu pencelupan yang juga harus diperhatikan agar hasil yang
didapatkan sempurna. Pada metode difusi sumur, seharusnya diperhatikan saat
memasukkan disinfektan kedalam lubang dan dilakukan dengan hati-hati agar
disinfektan tidak menyebar ke tempat yang lain dan dapat masuk secara sempurna
ke dalam lubang sumur.
BAB IV
SIMPULAN DAN SARAN

4.1 Simpulan

Berdasarkan hasil pengamatan praktikum yang dilakukan dapat


disimpulkan bahwa jenis disinfektan maupun antiseptik yang mempunyai
efektifitas yang baik dalam menghambat pertumbuhan Escherichia coli pada
metode gores adalah Iodium 4% dan Toilet Seat Sanitizer , pada metode langsung
Softmant dan Toilet Seat Sanitizer. Sedangkan pada metode difusi sumur dan
kertas saring adalah Formaldehid 2%.
Pada Staphylococcus Aureus disinfektan maupun antiseptik yang dapat
menghambat pertumbuhannya pada metode gores adalah Formaldehid 2% dan
Iodium 4%, pada metode langsung adalah Toilet Seat Sanitizer Sedangkan, pada
metode difusi sumur dan kertas saring adalah Formaldehid 2%.

4.2 Saran

Seharusnya, sebelum dilakukan praktikum alat dan bahan yang akan


digunakan dipersiapkan terlebih dahulu sehingga praktikan dapat melakukan
pengujian dengan cepat. Selain itu, penyediaan alat-alat yang akan
digunakan jumlahnya ditambah untuk mengurangi terjadinya kesalahan akibat
kontaminasi. Praktikan harus terampil dalam membuat sumur maupun meletakkan
kertas saring pada media agar jarak antara larutan dengan bakteri sama rata.
DAFTAR PUSTAKA

Puspitasari. 2004.Sanitasi dan Higiene dalam Industri Pangan. Jember:


JurusanTHP FTP UNEJ.
Kusmayati dan Agustini, N. W. R. 2007. Uji Aktivitas Senyawa Antibakteri dari
Mikroalga (Porphyridium cruentum). Biodiversitas. 8(1) : 48-53
Tim Pengajar SJMP. 2011. Penuntun Praktikum Sanitasi dan Higieni. Program
Diploma Institut Pertanian Bogor. Bogor
Lampiran

Metode Gores

Metode Langsung

Kontrol E. coli
Kontrol S. aureus