Anda di halaman 1dari 5

Laporan Praktikum Ekologi Tumbuhan : Amensalisme.

Kelompok 2A (2016) 1

Pola Interaksi Tumbuhan : Amensalisme


N. Adliana, B. A. Mahendra, R. N. Safitri, F. D. Aprilya
Jurusan Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Institut Teknologi Sepuluh
Nopember (ITS)
Jl. Arief Rahman Hakim, Surabaya 60111 Indonesia
e-mail: rizki.nurul14@mhs.bio.its.ac.id

Abstrak Amensalisme yaitu interaksi antara dua atau lebih pencucian, dan pelapukan residu tanaman. Pengaruh alelokemi
spesies yang berakibat salah satu pihak dirugikan, sedangkan bersifat selektif, yaitu berpengaruh terhadap jenis organisme
pihak lainnya tidak terpengaruh yaitu tidak rugi dan tidak
untung oleh adanya asosiasi. Alelopati ialah interaksi biokimia
tertentu namun tidak terhadap organisme lain [3]. Efek
antara mikroorganisme atau tanaman baik yang bersifat senyawa alelokemis fenolik pada proses pertumbuhan dapat
penghambatan maupun perangsangan. Daun kemangi (Ocimun terjadi melalui berbagai aktivitas metabolisme yang meliputi
citriodorum) mengandung senyawa alelokemi yang dapat pembelahan dan pemanjangan sel, pengaturan pertumbuhan
mempengaruhi perkecambahan biji dan pertumbuhan tanaman
disekitarnya. Alelokemi dilepaskan melalui berbagai proses melalui gangguan pada zat pengatur tumbuh, pengambilan
seperti penguapan, eksudat akar, pencucian, dan pelapukan hara, fotosintesis, respirasi, pembukaan stomata, sintesis
residu tanaman. Pengaruh alelokemi bersifat selektif, yaitu protein, penimbunan karbon, dan sintesis pigmen,
berpengaruh terhadap jenis organisme tertentu namun tidak
terhadap organisme lain Tujuan dari praktikum ini adalah
permeabilitasmembran, dan mengubah fungsi enzim spesifik
mengetahui dan memahami prinsip dasar alelopati dan pengaruh [4].
alelopati suatu jenis tumbuhan terhadap pertumbuha tumbuhan Zat-zat kimia atau bahan organik yang bersifat
lain. Metode yang digunakan pada praktikum ini adalah dengan allelopathy dapat dibagi menjadi dua golongan berdasarkan
membuat ekstrak allelokemis dari daun kemangi dengan
konsentrasi 0 m/L, 25 m/L, 50 m/l, dan 75 m/L, kemudian pengaruhnya terhadap tumbuhan atau tanaman lain sebagai
diujikan dalam pertumbuhan tanaman kacang merah (Vigna berikut:
angularis) dan kacang kedelai (Gycine max). Hasil yang diperoleh 1). Autotoxic, yaitu zat kimia bersifat allelopathy dari suatu
pada praktikum ini adalah semakin tinggi konsentrasi ekstrak
tumbuhan yang dapat mematikan atau menghambat
allelokemis maka pertumbuhan tanaman kacang merah (Vigna
angularis) dan kacang kedelai (Gycine max) semakin menurun. pertumbuhan anaknya sendiri atau individu lain yang sama
jenisnya. Contoh tumbuhan yang autotoxic yaitu mangium,
Kata Kunci Alelokemis, Alelopati, Amensalisme, Ocimum akasia, dan sengon buto; 2). Antitoxic, yaitu zat kimia bersifat
Citriodorum.
allelopathy dari suatu tumbuhan yang dapat mematikan atau
menghambat pertumbuhan tumbuhan lain yang berbeda
I. PENDAHULUAN jenisnya. Contoh tumbuhan yang antitoxic yaitu pinus, ilalang,

A mensalisme yaitu interaksi antara dua atau lebih spesies


yang berakibat salah satu pihak dirugikan, sedangkan
johar, agatis, mangga, mimba, dan jati [1].
Daun kemangi (Ocimun citriodorum) mengandung minyak
pihak lainnya tidak terpengaruh yaitu tidak rugi dan tidak atsiri, eugenol, flavonoid, glikosid, dan asam gallic sebagai
untung oleh adanya asosiasi. Tipe interaksi amensalisme ini komponen utama. Di samping itu juga mengandung flavon
diberi lambang ( -, 0). Pada kebanyakan kasus, organisme yang apigenin, luteolin, flavon O-glikosida apigenin 7-O
dirugikan disebabkan oleh bahan kimia yang dikenal sebagai glukoronida, dan asam ursolat (Sudarsono, et al., 2002).
alelopati [1]. Amensalisme ini terdapat kerugian yang Kandungan senyawa tersebut, diketahui mengandung senyawa
ditimbulkan oleh interaksi antara tumbuhansatu dengan alelokemi seperti yang dapat mempengaruhi perkecambahan
tumbuhan yang lain. Kerugian dengan adanya amensalisme ini biji dan pertumbuhan tanaman disekitarnya, yang dilepaskan
yaitu dapat menghambat penyerapan hara, menghambat ke lingkungan baik dalam bentuk senyawa menguap dari daun
pembelahan sel-sel akar tumbuhan, memengaruhi perbesaran maupun dalam bentuk senyawa hasil dekomposisi dalam tanah
sel tumbuhan, menghambat respirasi akar, menghambat [5]. Tujuan dari praktikum ini adalah mengetahui dan
sintesis protein, me-nurunkan daya permeabilitas membran memahami prinsip dasar alelopati dan pengaruh alelopati suatu
pada sel tumbuhan serta menghambat aktivitas enzim [2]. jenis tumbuhan terhadap pertumbuha tumbuhan lain.
Alelopati ialah interaksi biokimia antara
mikroorganisme atau tanaman baik yang bersifat
penghambatan maupun perangsangan. Alelokemi dilepaskan
melalui berbagai proses seperti penguapan, eksudat akar,
Laporan Praktikum Ekologi Tumbuhan : Amensalisme. Kelompok 2A (2016) 2

II. METODOLOGI bertujuan untuk melihat pengaruh zat alelokimia terhadap


pertumbuhan kacang merah dan kacang kedelai. Pengukuran
A. Waktu dan Tempat dilakukan setiap satu kali sehari pada pukul 15.00. hal ini
Praktikum ini dilaksanakan pada hari Sabtu, 19 Maret 2016 dilakukan karena proses pertumbuhan dan proses metabolisme
- 2 April 2016 di Laboratorium Ekologi, Jurusan Biologi diduga sudah berhenti. Pengukuran dilakukan sebagai bukti
Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Institut bahwa zat alelokimia pada kemangi dapat menhambat
Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya. pertumbuhan.

B. Alat dan Bahan B. Amensalisme


Alat dan bahan yang digunakan dalam praktikum ini adalah Amensalisme adalah interaksi yang mnekan satu organisme,
kapas lemak, botol bekas air mineral 1,5 liter dipotong sedangkan yang lain tetap stabil atau salsh satu organisme
membujur menjadi dua bagian, blender, pipet tetes, gelas ukur, dirugikan tapi organisme lainnya tidak diuntungkan maupun
akuades, alat tulis dan penggaris, form tabel dan data dirugikan [2]. Alelopati adalah fenomena yang melibatkan
pengamatan harian, botol plakon ekstrak allelokemis,benang baik secara langsung maupun tidak langsung dan baik
wol, bagian tanaman diambil ekstrak allelokemis (Ocimum menguntungkan atau merugikan efek dari tanaman (termasuk
Citriodorum), biji tanaman kacang merah (Vigna angularis) mikroorganisme) pada tanaman lain melalui pelepasan bahan
dan kacang kedelai (Gycine max). kimia ke lingkungan. Menurut struktur yang berbeda dan sifat
dari senyawa ini, allelochemicals dapat diklasifikasikan ke
C. Prosedur Kerja dalam kategori berikut:
a. Preparasi Ekstrak Allelokemis (1) asam organik larut dalam air, rantai lurus alkohol, aldehida
Langkah kerja yang dilakukan dalam preparasi ekstrak alifatik, dan keton;
allelokemis ini adalah daun penghasil alelopati Ocimum (2) sederhana lakton tak jenuh;
Citriodorum diambil kemudian dihaluskan menggunakan (3) rantai panjang asam lemak dan polyacetylenes;
blender tanpa ditambahi air. Bubur daun disaring untuk (4) Quinones (benzoquinon, antrakuinon dan kuinon
diambil ekstraknya lalu dibuat ekstrak allelopati dengan kompleks);
konsentrasi 0 m/L, 25 m/L, 50 m/l, dan 75 m/L. (5) fenol;
(6) asam sinamat dan turunannya;
b. Uji Allelopati
(7) kumarin;
Langkah kerja yang dilakukan dalam uji allelopati adalah (8) flavonoid;
menyiapkan botol bekas air mineral yang telah dipotong, (9) tanin;
kemudian diisi dengan kapas lemak secukupnya. Kapas (10)steroid dan terpenoid (lakton seskuiterpen, diterpenes, dan
tersebut dibasahi dengan air secukupnya. Lima biji kacang triterpenoid).
merah (Vigna angularis) dan kacang kedelai (Gycine max) Berbagai metabolit sekunder yang dihasilkan oleh tanaman
(pada botol berbeda) ditanam dengan jarak yang seragam pada dan mikro-organisme telah dianggap sebagai potensi
permukaan kapas. Setiap biji ditetesi dengan ekstrak allelopati allelochemicals dan bermain peran penting dalam
(sesuai yang telah ditentukan) setiap hari (pagi dan sore) pembentukan interaksi dan Communities. Sebagai contoh, di
selama 14 hari berturut-turut. Perkecambahan biji dan agroekosistem, allelochemicals memiliki efek merugikan pada
pertumbuhan tanaman kacang merah (Vigna angularis) dan pertumbuhan terkait dan selanjutnya musim tanaman. Selain
kacang kedelai (Gycine max) diamati setiap hari (sore) dengan itu, gulma dapat memperlihatkan alelopati terhadap tanaman
variabel berupa tinggi tanaman dan jumlah daun. Data tanaman. Sebagai tambahan efek pada tanaman lain,
pengamatan dicatat dalam lembar tabel pengamatan harian. allelochemicals dihasilkan oleh tanaman invasif dapat juga
berkontribusi terhadap hama dan ketahanan terhadap penyakit,
dan selanjutnya memberikan keuntungan kompetitif dengan
III. HASIL DAN PEMBAHASAN host-nya [7]. Pelepasan alelokimia difasilitasi oleh berbagai
A. Fungsi Perlakuan proses seperti pelarutan dari bagian sekitar tanaman, eksudat
akar, batang, aktivitas mikroba, pembajakan residu tanaman
Bagian daun kemangi yang diekstrak karena sebagain besar
kandungan zat alelokimia berada pada daun. Ekstrak daun dalam tanah dan dekomposisi residu bahan kering (1358) [6].
kemangi yang telah di dapat, kemudian di encerkan menjadi 3
konsentrasi yaitu 25%, 50% dan 75%. Konsentrasi 25% C. Mekanisme Amensalisme
artinya sebanyak 12,5 ml ekstrak daun kemangi diencerkan
kedalam 100 ml pelarut aquades [6]. Penetesan larutan ekstrak
kemangi dilakukan setiap 2 kali sehari selama 14 hari
Laporan Praktikum Ekologi Tumbuhan : Amensalisme. Kelompok 2A (2016) 3

mebuktikan 38 adanya flafonoid, likosid, asam gallic dan


esternya, asam kaffeic, dan minyak atsiri yang mengandung
eugenol sebagai komponen utama. Ekstrak daun kemangi
diketahui memiliki efek antioksidan, antitiroid, antimikotik,
antibakteri, dan antistress [8].
E. Grafik Hasil Pengamatan
a. Grafik Tinggi

Grafik 1. Tinggi tanaman kacang merah


Senyawa fenolik merupakan kelas dari allelochemicals
tanaman yang paling penting dan umum di ekosistem.
Senyawa-senyawa tersebut adalah senyawa kimia yang terdiri
dari kelompok hidroksil (-OH) terikat langsung ke kelompok
hidrokarbon aromatik. Dalam konteks alelopati, istilah
"senyawa fenolik" mengandung berbagai jenis senyawa yang
mencakup struktur seperti fenol sederhana aromatik, hidroksi
dan diganti asam benzoat dan aldehida, hidroksi dan diganti
asam sinamat, kumarin, tanin, dan mungkin beberapa dari
flavonoid. Produk penguraian, dan senyawa-senyawa tersebut
merupakan prekursor penting zat humat dalam tanah. Di tanah,
fenolat dapat terjadi dalam tiga bentuk sebagai berikut: bebas,
reversibel terikat, dan bentuk-bentuk terikat. fenolat orto-
tersubstitusi, seperti salisilat dan asam o-coumaric, dan dihidro
diganti dengan fenol, seperti protocatechuic dan caffeic asam,
yang diserap oleh mineral tanah dengan membentuk kompleks Grafik 2 . Tinggi tanaman kacang kedelai
khelat dengan logam. senyawa fenolik bebas dapat menumpuk
di tanah rizosfir, terutama di tanah tergenangdengan air limbah Berdasarkan pengamatan yang dilakukan pada kacang
sayuran, sehingga mempengaruhi akumulasi dan ketersediaan merah dengan menggunakan ekstrak daun kemangi dengan
nutrisi tanah dantingkat siklus nutrisi, yang keduanya akhirnya konsentrasi yang berbeda. Pada semua tanaman yang diujikan
mengalami peningkatan pertumbuhan tinggi tanaman pada
mempengaruhi pertumbuhan tanaman [7].
semua tanaman. Tetapi pada tanaman kelompok 3 mengalami
D. Kandungan Ekstrak Kemangi penurunan tinggi tanaman pada hari 13 dan 14. Hal tersebut
Beberapa bahan kimia yang terkandung dalam Kemangi 3,7- diakrenakan kesalahan pengukuran, pada hari 1-12 diukur dari
dimetil-1,6- oktadien-3-ol (linalool 3,94 mg/g), 1 metoksi-4- akar sampai ujung daun. Dan pada hari 13 dan 14 diukur mulai
batang.
(2-propenil) benzena (estragol 2,03 mg/g), metil sinamat (1,28
mg/g), 4-alil-2-metoksifenol (eugenol 0,896 mg/g), dan 1,8-
sineol (0,288 mg/g) yang diidentifikasi dengan metode
GC/MS. pada daun kemangi sendiri, penelitian fitokimia telah
Laporan Praktikum Ekologi Tumbuhan : Amensalisme. Kelompok 2A (2016) 4

b. Grafik Jumlah Daun

Tabel 1. Uji ANOVA Pengaruh Pemberian Ekstrak Kemangi (


Grafik 3. Jumlah Daun Kacang Merah (Ocimum citriodorum) pada Kacang Merah (Vigna angularis)
Ho : Konsentrasi mempengaruhi tinggi dan jumlah daun pada
tanaman Kacang Merah (Vigna angularis).
Ho akan ditolak jika F hitung < F tabel. Berdasarkan tabel
diatas tinggi tanaman F hitung (0,154) > F tabel (0,05)
sehinngga keputusan yang bisa diambil adalah Ho gagal
ditolak., kesimpulannya konsentrasi ekstrak alelokemis
kemangi (Ocimum citriodorum) mempengaruhi tinggi tanaman
kacang merah (Vigna angularis). Sedangkan pada jumlah daun
F hitung (0,455)>F tabel (0,05) sehingga keputusannya adalah
Ho gagal ditolak maka kesimpulan yang dapat diambil
pemberian ekstrak alelokemis kemangi (Ocimum citriodorum)
mempengaruhi jumlah daun kacang merah (Vigna angularis).

Grafik 4. Jumlah Daun Kacang Kedelai


Berdasarkan grafik jumlah daun diatas, kedua tanaman
kacang merah dan kacang kedelai menunjukkkan peningkatan
jumlah daun namun tidak terlalu signifikan karena tergantung
pada konsentrasi ekstrak alelokemis kemangi yang diberikan.
Pada kelompok 1 pertumbuhan jumlah daun meningkat drastis
karena konsentrasi alelokemis yang digunakan adalah 0%.
Pada kelompok 2,3 dan 4 stagnan.
F. Pengaruh Pemberian Ekstrak Kemangi (Ocimum
citriodorum)
Pada praktikum yang telah dilaksanakan selama 14 hari pada
biji kacang merah (Vigna angularis) dan biji kacang kedelai
Tabel 2. Uji ANOVA Pengaruh Pemberian Ekstrak Kemangi
(Glycine max) dapat diketahui pengaruh dari ekstrak
alelokemis (Ocimum citriodorum) yang diberikan pada biji-biji (Ocimum citriodorum) pada kacang kedelai (Glycine max)
tersebut dengan konsentrasi yang berbeda. Untuk mengetahui Ho : konsentrasi mempengaruhi tinggi dan jumlah daun pada
pengaruhnya digunakan uji varian (ANOVA- Analysis of Kacang Kedelai (Glycine max).
Variance) satu arah (one way) menggunakan program SPSS Ho akan ditolak jika F hitung < F tabel. Berdasarkan
sebagai berikut : tabel diatas tinggi tanaman F hitung (0,060) > F tabel (0,05)
sehingga keputusan yang bisa diambil adalah Ho gagal ditolak
, kesimpulannya konsentrasi ekstrak alelokemis kemangi
(Ocimum citriodorum) mempengaruhi tinggi tanaman Kacang
Kedelai (Glycine max). Sedangkan pada jumlah daun F hitung
Laporan Praktikum Ekologi Tumbuhan : Amensalisme. Kelompok 2A (2016) 5

(0,010) < F tabel (0,05) sehingga keputusannya adalah Ho


ditolak maka kesimpulan yang dapat diambil adalah
konsentrasi ekstrak alelokemis kemangi (Ocimum citriodorum)
tidak mempengaruhi jumlah daun pada tanaman Kacang
Kedelai (Glycine max).
Secara garis besar pada praktikum amensalisme ini ekstrak
alelokemis kemangi (Ocimum citriodorum) mempengaruhi
pertumbuhan tinggi dan jumlah daun pada tanaman Kacang
Merah (Vigna angularis) dan Kacang Kedelai (Glycine max).
Hal ini sesuai literature bahwa daun kemangi yang diekstrak
akan mengandyng senyawa senyawa kimia seperti 1,8 sineol,
anethol, apigenin, dan boron. Sementara pada daunnya
terkandung arginine dan asam asparta. Kandungan tersebut
jika diteteskan pada tanaman yang sedang tumbuh maka
pertumbuhan tanaman tersebut akan terganggu sehingga
berpengaruh pada morfologinya, pertambahan tingginya,
jumlah daunnya, bahkan secara fisiologi maupun antaomi pasti
akan berpengaruh sesuai dengan konsentrasi alelokemis yang
diberikan. Semakin tinggi konsentrasi alelokemis yang
diberikan maka semakin besar pula kemungkinan tumbuhan
tersebut akan terhambat [9].

IV. KESIMPULAN
Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan dapat
disimpulkan bahwa ekstrak alelokemis berupa daun kemangi
(Ocimum citriodorum) dengan konsentrasi tertentu
berpengaruh terhadap pertumbuhan tanaman kacang merah
(Vigna angularis) dan kacang kedelai (Glycine max) semakin
menurun. Berdasarkan hasil praktikum juga diketahui bahwa
semakin tinggi konsentrasi ekstrak alelokemis maka
pertumbuhan tanaman kacang merah (Vigna angularis) dan
kacang kedelai (Glycine max) semakin menurun.

DAFTAR PUSTAKA
[1] Indriyanto. Ekologi Hutan. Jakarta:PT Bumi Aksara. (2006)
[2] Djafaruddin. Dasar-dasar Perlindungan Tanaman. Jakarta: PT Bumi
Aksara. (2004)
[3] Napisah, S. Pengaruh Alelopati Ilalang (Imperata cylindrica), Sengon
Buto (Enterolobium cyclocarfum) dan Akasia (Acacia auriculiformis)
terhadap Perkecambahan Kacang Hijau. Jurnal Penelitian Pertanian.
Vol. 2(1): 11-28.(2002)
[4] Djazuli, M. Alelopati pada Tanaman Nilam (Pogostemon cablin L.).
Jurnal Ilmiah Pertanian. Vol. 8(2) : 163-1.(2002)
[5] Astutik, A. F., Raharjo, Tarzan, P. Pengaruh Ekstrak Daun Beluntas
Pluchea indica L. Terhadap Pertumbuhan Gulma Meniran (Phyllanthus
niruri L.) dan Tanaman Kacang Hijau (Phaseolus radiatus L.). Lentera
Bio Jurnal. Vol. 1 No.1.(2013)
[6] Dewi, Y. A., Purnami, W. M., Nanda, S.T., Puji, A.. Formulasi
Mouthwash Minyak Atsiri Daun Kemangi (Ocimum basilicum) serta Uji
Antibakteri dan Antibiofilm terhadap Bakteri Streptococcus Mutan
secara in Vitro. Trad. Med. Jurnal. Vol. 18(2) : 95-102.(2013)
[7] Li, Z. H., Wang, H., Ruan, X., Pan, C.D., Jiang, D.A. Phelonics and
Plant Allelopathy. Molecules. ISSN: 1420-3049.(2010)
[8] Almahdy, A. dan Marina, Y. Uji Fetotoksisitas Ekstrak Daun Kemangi
(Ocimum sanctum L.) pada Mencit Putih. Jurnal Sains dan Teknologi
Farmasi. Vol.15, No.1.(2010)
[9] Hariana, D.H. Tumbuhan Obat dan Khasiatnya Seri 2. Jakarta: Penebar
Swadaya.(2007)