Anda di halaman 1dari 7

SolusidanInovasiPermasalahanLingkunganyang

berkaitandenganIlmuKeteknikan

Pengertian Baterai
Mendengar kata 'baterai', hal pertama yang terlintas di benak kita adalah sebuah
benda penyimpan energi dalam bentuk kimiawi yang mengeluarkannya dalam
bentuk aliran listrik. Ya, dewasa ini penggunaan baterai sangat banyak kita jumpai di
kehidupan sehari-hari. Berbagai macam perangkat seperti laptop, tablet, mobil
mainan, dan lainnya mengandalkan baterai sebagai sumber energi. Kehidupan
modern seolah tak bisa dilepaskan dari penggunaan baterai dari segala bentuk dan
ukuran. Mulai dari baterai praktis (bisa dibawa kemana-mana) yang biasa kita
gunakan pada ponsel, sampai dengan baterai yang mampu menyimpan energi
dalam skala besar, yang biasanya digunakan pada industri-industri tertentu.
Hal yang paling banyak diketahui masyarakat awam adalah kutub positif-negatif
baterai yang digunakan untuk mengalirkan energi listrik yang tersimpan dari
dalamnya. Secara umum, sebuah baterai biasanya terdiri dari tiga komponen
penting, di antaranya:
1. Batang karbon yang digunakan sebagai katoda (kutub positif)
2. Seng (Zn), digunakan sebagai anoda (kutub negatif)
3. Pasta sebagai elektrolit (penghantar aliran listrik)

Jenis baterai
Berdasarkan kemampuannya, baterai dapat dikelompokkan menjadi dua jenis, yaitu:
baterai Primer yaitu baterai yang hanya digunakan satu kali, dan setelah habis
tidak dapat diisi ulang. Contoh baterai ini adalah baterai arloji (jam tangan).
baterai Sekunder yaitu baterai yang bisa digunakan berkali kali dengan mengisi
kembali muatannya, apabila telah habis energinya setelah dipakai. Contohnya
seperti yang biasa terdapat pada telepon genggam.
Sejarah pekembangan baterai
Alessandro Volta, seorang fisikawan Italia, adalah orang pertama yang menemukan
baterai pada tahun 1800. Berikut akan disajikan sejarah perkembangan baterai dari
masa ke masa:
1748 Istilah baterai mulai dikenal setelah Benjamin Franklin mendefinisikannya
sebagai susunan pelat kaca yang diberi arus.

1780 s/d 1786 Teori bahwa aliran listrik terdapat di sel-sel hewan dikemukakan
oleh Luigi Galvani, yang menyediakan landasan bagi ilmuwan lain untuk penelitian
lebih lanjut.

1800 Alessandro Volta menemukan tumpukan volta, yang merupakan baterai


pertama yang menghasilkan arus listrik konsisten.

1836 Sel Daniel diciptakan oleh John Daniel, yang terdiri dari seng dan elektrolit
tembaga dan dianggap jauh lebih aman daripada baterai yang ditemukan oleh Volta.

1839 Sel bahan bakar pertama diciptakan oleh William Grove, yang menghasilkan
arus listrik dengan menyatukan oksigen dan hidrogen.

1839 s/d 1842 Berbagai ilmuwan dan penemu banyak melakukan penyempurnaan
terhadap baterai dengan menggunakan elektroda cair untuk menghasilkan listrik.

1859 Baterai timbal-asam (aki) yang bisa diisi ulang diciptakan oleh penemu
Perancis, Gaston Plante. Mobil dan kendaraan bermotor lain masih menggunanakan
aki hingga kini.

1866 Baterai karbon-seng dipatenkan oleh seorang Prancis bernama Georges


Leclanche.

1881 Baterai pertama yang memiliki elektroda negatif dan pot berpori dalam
wadah seng ditemukan dan dipatenkan oleh JA Thiebaut.

1881 Baterai sel kering pertama ditemukan oleh Carl Gassener. Penemuan ini juga
menuai sukses secara komersial.
1899 Baterai nikel-kadmium, yang juga dapat diisi ulang, ditemukan oleh Waldmar
Jungner.

1901 Baterai alkaline ditemukan oleh Thomas Edison.

1949 Baterai alkaline kecil diciptakan oleh Lew Urry.

1954 Baterai surya pertama diciptakan oleh Calvin Fuller, Daryl Chapin, dan
Gerald Pearson.

Permasalahan lingkungan akibat membuang baterai bekas secara


sembarangan

Sesuai hakikatnya, baterai sebagai barang konsumsi energinya pasti akan


berkurang dan pada akhirnya akan habis. Baterai yang telah habis dipakai menjadi
tidak berguna lagi. Menyikapi hal ini, apakah yang sebaiknya yang dilakukan
terhadap baterai bekas tersebut? Lantas apa hubungannya permasalahan
lingkungan dengan baterai bekas pakai? Berikut ulasannya.

Hampir setiap orang akan membuang baterai bekas ke tempat sampah. Baterai
bekas adalah limbah yang sangat berbahaya yang sebenarnya tidak boleh dibuang
sembarangan. Semua jenis baterai bekas seperti baterai remot, mainan, jam tangan,
telepon seluler, kamera digital maupun baterai yang bisa di-charge (rechargeable)
termasuk limbah B3 (Bahan Berbahaya dan Beracun).

Bila dibuang sembarangan atau tidak didaur ulang, maka kandungan logam berat
dan zat-zat berbahaya lain yang ada di baterai dapat mencemari air dan tanah, yang
pada akhirnya membahayakan tubuh manusia. Inilah masalah sepele yang jika tidak
ditanggapi secara cepat dan tepat akan menjadi permasalahan lingkungan yang
serius.

Pakar lingkungan Dr. R. Budi Haryanto mengaku wajar jika masyarakat banyak yang
tidak tahu cara membuang baterai bekas yang aman. Karena memang selama ini
juga tidak pernah ada sosialisasi bagaimana memperlakukan jenis-jenis sampah.

Menurutnya, sangat sulit untuk menyadarkan masyarakat bagaimana membuang


limbah yang berbahaya jika pemerintah juga tidak memberikan contoh.

"Hampir semua orang tidak aware karena mereka tidak tahu bahayanya, jadi baterai
bekas di buang begitu saja," ujar Dr. R. Budi Haryanto selaku Ketua Departemen
Kesehatan Lingkungan FKM UI, Kamis (17/3/2011).

Dr. Budi menuturkan salah satu kuncinya adalah melakukan sosialisasi mengenai
masalah hal ini kepada masyarakat bahwa baterai bekas itu berbahaya sehingga
penanganannya lebih efektif. Kalau tidak disosialisasi maka masyarakat tidak akan
tahu dan tidak mengelola limbah tersebut dengan baik.

Baterai mengandung berbagai macam logam berat seperti merkuri, mangan, timbal,
nikel, lithium dan kadmium. Jika baterai ini dibuang sembarangan maka logam berat
yang terkandung di dalamnya akan mencemari air tanah penduduk dan
membahayakan kesehatan.

Dr. Budi mengungkapkan jika air yang tercemar logam berat ini digunakan oleh
masyarakat bisa menyebabkan penyakit kronis yang nantinya menimbulkan
gangguan di sistem saraf pusat, ginjal, sistem reproduksi dan bahkan kanker."Efek
yang muncul adalah jangka panjang. Dan biasanya masyarakat baru akan lebih
peduli jika efek yang muncul itu dalam jangka waktu dekat," ungkap dosen FKM
yang lahir di Malang 51 tahun lalu.

Limbah baterai tidak hanya menyebabkan polusi tetapi juga membahayakan sumber
daya alam karena mengandung logam berat dan elektrolit korosif yang menjadi
sumber daya baterai, seperti timah, merkuri, nikel, kadmium, lithium, perak, seng
dan mangan.

Dalam aksi mikroorganisme, merkuri anorganik bisa diubah menjadi methyl-mercury,


berkumpul dalam tubuh ikan yang kemudian dikonsumsi manusia. Methyl-mercury
dapat memasuki sel-sel otak dan berdampak serius seperti merusak sistem saraf
yang bisa membuat orang menjadi gila atau bahkan menyebabkan kematian.

Sedangkan kadmium baterai dapat mengkontaminasi tanah dan air, yang akhirnya
masuk ke tubuh manusia menyebabkan kerusakan hati dan ginjal, juga dapat
menyebabkan tulang lunak atau kecacatan tulang berat.

Selain itu, kadmium dapat menyebabkan keracunan kronis dan menjadi faktor
menyebabkan emfisema (penyakit paru-paru obstruktif kronik yang melibatkan
kerusakan pada kantung udara di paru-paru), osteomalasia (pelunakan tulang),
anemia (kurang darah), juga membuat kelumpuhan pada tubuh manusia.

Ekskresi timbal juga paling sulit di dalam tubuh manusia dan dapat mengganggu
fungsi ginjal dan fungsi reproduksi.

Jika limbah baterai dicampur dengan limbah padat lainnya, dari waktu ke waktu
kandungan berbahaya didalamnya dapat mencemari air dan tanah, yang kemudian
mengancam kehidupan ikan, tanaman, perusakan lingkungan dan secara tidak
langsung mengancam kesehatan manusia.
Solusi menanggulangi limbah baterai: mengelola sampah baterai bekas
Teknologi yang ada adalah limbah B3 akan ditimbun di dalam tanah yang sudah
mengandung bahan-bahan kimia lain untuk dinetralisir dan juga dihancurkan agar
tidak mencemari lingkungan. Karena ini masalah yang kompleks, maka dari
itu mengatasi limbah B3 ini, semua orang harus aware terlebih dahulu, baik dari
masyarakat, pengelola sampah dan juga pemerintah. Seharusnya limbah baterai
bekas ini dikelola secara khusus dan terpisah dari sampah-sampah
lainnya. Biasanya hanya orang yang betul-betul sadar yang melakukan hal ini.

Berikut adalah beberapa hal yang bisa dilakukan masyarakat untuk mengurangi
dampak buruk dari pencemaran limbah baterai bekas:

Masyarakat harus disosialisasikan terlebih dahulu mengenai bahaya dari limbah


B3 bagi kesehatan
Mulailah untuk memisahkan limbah berbahaya seperti baterai bekas di rumah
dengan menaruhnya di dalam plastik khusus dan terpisah dengan sampah lainnya
Kumpulkan semua limbah bahan berbahaya di dalam tempat tertentu, misalnya
di setiap satu RW ada satu tempat khusus untuk menampung sementara limbah
berbahaya
Saat pengelola sampah datang untuk mengambil sebaiknya mereka juga sudah
memiliki kesadaran untuk tidak mencampur limbah berbahaya dengan sampah
lainnya
Setelah itu limbah B3 ini akan dikirimkan ke tempat pengelola limbah B3 yang
sudah memenuhi standar.

Inovasi baterai ramah lingkungan dari bubuk kopi: Nespresso Capsules

Kopi seperti yang kita tahu adalah minuman yang cukup banyak diminati. Indonesia
sendiri adalah negara penghasil kopi yang kualitasnya tidak diragukan lagi oleh
negara-negara Eropa; sedemikian hingga mereka mempercayakan negara kita utuk
mengekspor biji kopi yang kemudian akan diolah menjadi berbagai kopi siap minum
dengan berbagai merek. Bahkan beberapa diantaranya dijual dengan harga yang
fantastis. Tapi tahukah anda bahan minuman ini di-multifungsi-kan sebagai bahan
pembuatan baterai? Menyimpang dari hakikatnya, bagaimana mungkin energi listrik
dapat mengalir dari baterai berbahan organik, seperti halnya kopi ini? Berikut
ulasannya.

Bagi kebanyakan orang yang bekerja dan dituntut harus untuk tetap stand by dari
pagi, siang, sore, dan malam, kopi merupakan suatu asupan yang tidak boleh
dilewatkan. Kandungan kafein yang terdapat dalam kopi terkenal dapat menambah
tingkat konsentrasi dan sebagai obat anti ngantuk saat bekerja. Kafein sendiri
merupakan senyawa hasil metabolisme sekunder golongan alkaloid dari tanaman
kopi dan memiliki rasa yang pahit. Berfungsi meningkatan kerja psikomotor sehingga
tubuh tetap terjaga dan memberikan efek fisiologis yang berupa peningkatan energi.
Maka dari itu kopi tidak pernah bisa lepas dalam kehidupan sehari-hari kita.

Selain berguna dalam bentuk minuman, ternyata ampas kopi yang tersisa dari hasil
seduhan berguna dalam menghasilkan energi.. Perkembangan teknologi yang
mengedepankan energi alternatif semakin banyak dikembangkan. Salah satunya
teknologi yang teranyar saat ini ialah Nespresso Capsules, yaitu sebuah baterai
hemat energi yang menggunakan kopi sebagai bahan dasarnya. Ide penemuan
baterai ramah lingkungan ini pertama kali digagas oleh Mischer Traxler.

Pembuatan teknologi alternatif untuk energi ini saat ini sedang dikembangkan dan
diteliti lebih lanjut agar dapat digunakan secara luas. Hal ini menggembirakan
tentunya, lagi-lagi terobosan energi alternatif yang ramah lingkungan kembali
ditemukan. Kopi yang sejatinya sebagai bahan pangan dalam kehidupan sehari-hari
manusia, ternyata dapat digunakan untuk kepentingan penambahan energi alternatif

Struktur sumber energi alternatif ini terdiri dari kapsul alumunium, dengan strip
tembaga, air garam, dan tentunya bubuk kopi. Prinsip kerja baterai ini pun cukup
sederhana, alumunium berfungsi sebagai anoda, kemudian tembaga sebagai
katoda, sedangkan air garam berfungsi sebagai elektrolit. Bisa dikatakan proses
kimia dalam baterai ini mirip dengan cara kerja baterai mobil. Dalam proses kimia
yang cukup sederhana tersebut, setiap baterai mampu menghasilkan energi listrik
sebesar 1,5 1,7 Volt, setara dengan baterai ukuran AA yang sering kita gunakan.
Sehingga kelak baterai hemat energi ini diharapkan mampu menggantikan baterai
standar.
Baterai bertenaga kopi ini sudah diuji penggunaannya dalam Venice Design Week,
di mana 700 baterai kopi ini mampu memberi tenaga bagi jam di festival teknologi
tersebut. Saat ini, kinerja baterai ini tengah dalam pengembangan. Harapannya,
kelak baterai ini juga bisa menggantikan sistem baterai yang lebih rumit seperti yang
digunakan produk-produk teknologi informasi, diantaranya baterai laptop maupun
baterai ponsel.

Sudah barang tentu jika penemuan teknologi ini sangat menggembirakan,


mengingat sumber energi dari baterai konvensional yang biasa kita gunakan dalam
kehidupan sehari-hari sangat berbahaya bagi lingkungan apabila tidak didaur ulang.
Kandungan batu baterai yang terdiri dari berbagai macam logam berat seperti
merkuri, mangan, timbal, nikel, lithium dan kadmium; yang tentu saja dapat
mencemari air tanah pada lingkungan yang berakibat pada gangguan kesehatan
khalayak seperti penyakit kronis yang nantinya menimbulkan gangguan di sistem
saraf pusat, ginjal, sistem reproduksi dan bahkan kanker. Mengingat memang
kurangnya sosialisasi jenis-jenis sampah dari pemerintah ke masyarakat hal ini
wajar apabila tidak diketahui masyarakat kebanyakan.

Nespresso Capsules ialah sumber energi alternatif yang tidak bisa dipandang
sebelah mata. Penggunaan bubuk kopi sebagai bahan pembuatan baterai
merupakan suatu ide yang mungkin tidak terpikirkan oleh kebanyakan orang.
Ternyata dari secangkir kopi yang kita minum bisa menyalakan ponsel kita.

Demikianlah artikel yang dapat saya tulis, semoga dapat bermanfaat untuk
pembaca. Terima kasih.