Anda di halaman 1dari 65
TOKSIKOLOGI Ika Puspita Dewi
TOKSIKOLOGI Ika Puspita Dewi
TOKSIKOLOGI Ika Puspita Dewi
TOKSIKOLOGI Ika Puspita Dewi
TOKSIKOLOGI Ika Puspita Dewi

TOKSIKOLOGI

TOKSIKOLOGI Ika Puspita Dewi
TOKSIKOLOGI Ika Puspita Dewi
TOKSIKOLOGI Ika Puspita Dewi

Ika Puspita Dewi

TOKSIKOLOGI

Toksikologi digunakan untuk membedakan

makanan yg aman dan yg beracun

TOKSIKOLOGI  Toksikologi  digunakan untuk membedakan makanan yg aman dan yg beracun
TOKSIKOLOGI  Toksikologi  digunakan untuk membedakan makanan yg aman dan yg beracun
TOKSIKOLOGI  Toksikologi  digunakan untuk membedakan makanan yg aman dan yg beracun
TOKSIKOLOGI  Toksikologi  digunakan untuk membedakan makanan yg aman dan yg beracun
TOKSIKOLOGI  Toksikologi  digunakan untuk membedakan makanan yg aman dan yg beracun
TOKSIKOLOGI  Toksikologi  digunakan untuk membedakan makanan yg aman dan yg beracun
TOKSIKOLOGI  Toksikologi  digunakan untuk membedakan makanan yg aman dan yg beracun
TOKSIKOLOGI  Toksikologi  digunakan untuk membedakan makanan yg aman dan yg beracun
TOKSIKOLOGI  Toksikologi  digunakan untuk membedakan makanan yg aman dan yg beracun
TOKSIKOLOGI  Toksikologi  digunakan untuk membedakan makanan yg aman dan yg beracun

Senyawa toksin diproduksi oleh tanaman, hewan dan bakteria

Senyawa toksin diproduksi oleh tanaman, hewan dan bakteria Phytotoxins Zootoxins Bacteriotoxin Xenobiotik  senyawa
Senyawa toksin diproduksi oleh tanaman, hewan dan bakteria Phytotoxins Zootoxins Bacteriotoxin Xenobiotik  senyawa

Phytotoxins

Zootoxins

Bacteriotoxin

hewan dan bakteria Phytotoxins Zootoxins Bacteriotoxin Xenobiotik  senyawa alami ataupun buatan manusia yang
hewan dan bakteria Phytotoxins Zootoxins Bacteriotoxin Xenobiotik  senyawa alami ataupun buatan manusia yang
hewan dan bakteria Phytotoxins Zootoxins Bacteriotoxin Xenobiotik  senyawa alami ataupun buatan manusia yang

Xenobiotik senyawa alami ataupun buatan manusia yang tidak

secara normal berada dlm tubuh

Zat toksik merupakan senyawa kimia tertentu yang memang bersifat toksik

Sejarah Ilmu Toksikologi PARACELCUS (1493-1541) MJB ORFILLA “semua zat adalah racun, tidak ada satupun yg
Sejarah Ilmu Toksikologi PARACELCUS (1493-1541) MJB ORFILLA “semua zat adalah racun, tidak ada satupun yg

Sejarah Ilmu Toksikologi

PARACELCUS (1493-1541) MJB ORFILLA
PARACELCUS
(1493-1541)
MJB
ORFILLA
Ilmu Toksikologi PARACELCUS (1493-1541) MJB ORFILLA “semua zat adalah racun, tidak ada satupun yg bukan

“semua zat adalah racun, tidak ada satupun yg bukan

racun. Dosis yg tepat membedakan antara

racun dan obat”

Bapak Toksikologi modern toksikologi sebagai disiplin ilmu tersendiri tata cara terapi atas toksisitas zat kimia

metodologi kuantitatif utk mempelajari

aksi toksikologi zat kimia pada hewan prinsip eliminasi obat/zat kimia tertentu dari tubuh

Perkembangan Definisi Toksikologi

Perkembangan Definisi Toksikologi Loomis (1978)  Toksikologi adalah ilmu yg mempelajari aksi berbahaya zat kimia
Perkembangan Definisi Toksikologi Loomis (1978)  Toksikologi adalah ilmu yg mempelajari aksi berbahaya zat kimia
Perkembangan Definisi Toksikologi Loomis (1978)  Toksikologi adalah ilmu yg mempelajari aksi berbahaya zat kimia

Loomis (1978) Toksikologi adalah ilmu yg mempelajari aksi berbahaya zat kimia atas sistem biologi tertentu

Doull & Bruce (1986) Toksikologi adalah ilmu yg mempelajari berbagai pengaruh zat kimia yg merugikan atas sistem biologi

Timbrell (1989) Toksikologi adalah ilmu yg mempelajari antaraksi zat kimia dengan sistem biologi

yg mempelajari antaraksi zat kimia dengan sistem biologi Toksikologi  ilmu yg mempelajari aksi berbahaya zat

Toksikologi ilmu yg mempelajari aksi

berbahaya zat kimia atas sistem biologi

zat kimia dengan sistem biologi Toksikologi  ilmu yg mempelajari aksi berbahaya zat kimia atas sistem

Why Toxicology?

Terapi

keracunan

yg mungkin tjd karena

pemejanan

suatu

senyawa

Antisipasi

pengaruh

toksik

Pencegahan

aksi toksik

Peristiwa timbulnya efek toksik racun atas makhluk hidup

Antaraksi

Racun

efek toksik racun atas makhluk hidup Antaraksi Racun Pemejanan (exposure) Sel atau jaringan sasaran Tempat aksi
Pemejanan (exposure)
Pemejanan
(exposure)

Sel atau jaringan sasaran

Tempat aksi

Kondisi

Pengaruh (efek) berbahaya

Antaraksi Racun Pemejanan (exposure) Sel atau jaringan sasaran Tempat aksi Kondisi Pengaruh (efek) berbahaya Wujud Sifat
Antaraksi Racun Pemejanan (exposure) Sel atau jaringan sasaran Tempat aksi Kondisi Pengaruh (efek) berbahaya Wujud Sifat

Wujud

Sifat

KONDISI PEMEJANAN

(jenis zat toksik, jalur pemberian, frekuensi)

ASAS UMUM

TOKSIKOLOGI

KONDISI MAKHLUK HIDUP

(usia, BB, jenis kelamin,

kondisi fisiologi & patologi)

WUJUD & SIFAT EFEK

TOKSIK

MEKANISME AKSI

Hubungan Kausal Asas Utama

Toksikologi

SEBAB • KONDISI PEMEJANAN
SEBAB
• KONDISI
PEMEJANAN
Kausal Asas Utama Toksikologi SEBAB • KONDISI PEMEJANAN Jenis: akut/ subkronis/ kronis Lama, kekerapan, saat,

Jenis: akut/ subkronis/ kronis Lama, kekerapan, saat, takaran

PERANTARA • MEKANISME AKSI
PERANTARA
• MEKANISME
AKSI
kekerapan, saat, takaran PERANTARA • MEKANISME AKSI AKIBAT • WUJUD EFEK TOKSIK Perubahan: biokimia/
AKIBAT • WUJUD EFEK TOKSIK
AKIBAT
• WUJUD
EFEK TOKSIK

Perubahan: biokimia/ fungsional/ struktural

EFEK TOKSIK Perubahan: biokimia/ fungsional/ struktural UBAHAN BEBAS KONDISI MAKHLUK HIDUP: Keadaan fisiologi

UBAHAN BEBAS

Perubahan: biokimia/ fungsional/ struktural UBAHAN BEBAS KONDISI MAKHLUK HIDUP: Keadaan fisiologi Keadaan patologi

KONDISI MAKHLUK HIDUP:

Keadaan fisiologi Keadaan patologi

UBAHAN MODERATOR/ UBAHAN TERKENDALI

SIFAT EFEK TOKSIK:

- Terbalikkan

- Tak terbalikkan

UBAHAN TERGANTUNG

Yg akan dipelajari Ruang lingkup toksikologi Faktor-faktor yg mempengaruhi ketoksikan racun Tolak ukur ketoksikan
Yg akan dipelajari Ruang lingkup toksikologi Faktor-faktor yg mempengaruhi ketoksikan racun Tolak ukur ketoksikan
Yg akan dipelajari Ruang lingkup toksikologi Faktor-faktor yg mempengaruhi ketoksikan racun Tolak ukur ketoksikan
Yg akan dipelajari Ruang lingkup toksikologi Faktor-faktor yg mempengaruhi ketoksikan racun Tolak ukur ketoksikan

Yg akan dipelajari

Ruang lingkup

toksikologi

Faktor-faktor yg

mempengaruhi

ketoksikan

racun

toksikologi Faktor-faktor yg mempengaruhi ketoksikan racun Tolak ukur ketoksikan Antidot Uji Toksikologi

Tolak ukur ketoksikan

Antidot

Uji Toksikologi

TOLAK UKUR KETOKSIKAN
TOLAK UKUR KETOKSIKAN
TOLAK UKUR KETOKSIKAN
TOLAK UKUR KETOKSIKAN
TOLAK UKUR KETOKSIKAN
TOLAK UKUR KETOKSIKAN
TOLAK UKUR KETOKSIKAN

TOLAK UKUR

KETOKSIKAN

TOLAK UKUR KETOKSIKAN
TOLAK UKUR KETOKSIKAN
TOLAK UKUR KETOKSIKAN

Tolak Ukur Ketoksikan

Mekanisme efek

toksik

Kualitatif

Jenis wujud efek

toksik

Sifat efek toksik

Gejala klinis

Kuantitatif

Kekerabatan

takaran-respon

toksik Kualitatif Jenis wujud efek toksik Sifat efek toksik Gejala klinis Kuantitatif Kekerabatan takaran-respon

TOLAK UKUR KUALITATIF

TOLAK UKUR KUALITATIF
TOLAK UKUR KUALITATIF
TOLAK UKUR KUALITATIF
TOLAK UKUR KUALITATIF
TOLAK UKUR KUALITATIF
TOLAK UKUR KUALITATIF

Mekanisme Aksi Efek Toksik

Dasar : sifat & tempat kejadian

Mekanisme :

Luka intrasel Aksi langsung (primer) Terjadi di dalam sel Ada respon perbaikan
Luka
intrasel
Aksi langsung
(primer)
Terjadi di dalam
sel
Ada respon
perbaikan
Luka ekstrasel Aksi tak langsung (sekunder) Beraksi di lingkungan luar sel Perubahan fungsi / struktur
Luka
ekstrasel
Aksi tak langsung
(sekunder)
Beraksi di
lingkungan luar
sel
Perubahan fungsi
/ struktur

Wujud Efek Toksik

BIO KIMIA
BIO
KIMIA

Hambatan respirasi sel Perubahan keseimbanga n cairan elektrolit Gangguan pasok energi

SIANIDA

PERUBAHAN
PERUBAHAN
FUNGSIO NAL
FUNGSIO
NAL

Anoksia Pernapasan Sistem saraf Hiper/hipoten si Hiper/ hipoglikemi Kontraksi/

relaksasi otot

MALATION

STRUKTU RAL
STRUKTU
RAL

Degenerasi

Nekrosis

Karsinogen

esis

Mutagenesi

s

Teratogene

sis

TETRASIKLI

N

Sifat Efek Toksik

Terbalikkan

Aksi khas pd reseptor, neurotransmiter, tempat aktif enzim dll

Kadar racun habis, reseptor kembali

Efek toksik cepat kembali ke normal

Ketoksikan tergantung takaran, kec abs, distr, elimns

Toksin botulinus, alkaloid ergot, pestisida organofosfat & karbamat

Tak terbalikkan

Kerusakan menetap

Pembentukan ikatan kovalen luka kimia toksik

Aktivitas enzim pemblokan enzim redoks & penghambatan enzim

Penumpukan efek toksik

Pemejanan takaran kecil jangka panjang = takaran besar jangka pendek

Senyawa pengalkil, radiasi nuklear, sinar X, benzo(a) piren, aflatoksin

B1

Gejala klinis

Gejala yang menandai wujud efek toksik yang tampak secara makroskopi setelah

subjek terpejani dengan racun

Misal : denyut jantung, warna kulit, pernapasan, besar pupil dsb

makroskopi setelah subjek terpejani dengan racun  Misal : denyut jantung, warna kulit, pernapasan, besar pupil
makroskopi setelah subjek terpejani dengan racun  Misal : denyut jantung, warna kulit, pernapasan, besar pupil
makroskopi setelah subjek terpejani dengan racun  Misal : denyut jantung, warna kulit, pernapasan, besar pupil
Tolok ukur kualitatif  Ditegaskan dg uji ketoksikan racun  Misal : keracunan Sodium nitrit

Tolok ukur kualitatif

Ditegaskan dg uji ketoksikan racun Misal : keracunan Sodium nitrit

Wujud efek toksik : anoksia

Mekanisme aksi ekstra sel : nitrit menyebabkan berkurangnya pasok oksigen ke dalam sel atau jaringan mengoksidasi hemoglobin menjadi methemoglobin

Gejala klinis : sianosis, takikardi, sesak napas & gelisah

Sifat efek toksik : terbalikkan, jika tak terganggulangi perubahan struktural (nekrosis sel) tak terbalikkan kematian

TOLAK UKUR KUANTITATIF
TOLAK UKUR KUANTITATIF
TOLAK UKUR KUANTITATIF
TOLAK UKUR KUANTITATIF
TOLAK UKUR KUANTITATIF
TOLAK UKUR KUANTITATIF

TOLAK UKUR KUANTITATIF

Tolak ukur kuantitatif What is there that is not poison? All things are poison and

Tolak ukur kuantitatif

What is there that is not poison? All things are poison and nothing (is)without poison. Solely the dose determines that a thing is not a poison.

Paracelsus (14931541)

Kekerabatan antara takaran (dosis) pemejanan dan ketoksikan suatu xenobiotika

Ketoksikan xenobiotika mrpk efek bertingkat, berhubungan langsung dg takaran pemejanannya

suatu xenobiotika  Ketoksikan xenobiotika mrpk efek bertingkat, berhubungan langsung dg takaran pemejanannya
Kekerabatan takaran dan efek (takaran-efek) Mengetahui kondisi pemejanan & INTENSITAS efek toksik yg timbul pada
Kekerabatan
takaran dan efek
(takaran-efek)
Mengetahui kondisi
pemejanan & INTENSITAS
efek toksik yg timbul pada
satu atau sekelompok subjek
Jenis
Kekerabatan
antara kondisi
pemejanan &
wujud efek
toksik
Kegunaan
Mengetahui FREKUENSI
Kekerabatan
atau angka kejadian
waktu dan efek
(waktu-efek)
timbulnya efek toksik pada
sekelompok populasi
subjek uji

Tolak Ukur Kuantitatif

KEKERABATAN TAKARAN/DOSIS-RESPON & WAKTU-

RESPON

KEKERABATAN TAKARAN/DOSIS-RESPON & WAKTU- RESPON Tujuan evaluasi ketoksikan : RISIKO PEMEJANAN (Ukuran

Tujuan evaluasi ketoksikan :

RISIKO PEMEJANAN

(Ukuran kemungkinan timbulnya efek berbahaya racun

pada sekelompok tertentu)

Misal : nilai masukan harian racun yang dapat diterima

manusia

Kekerabatan takaran respon

Asumsi :

Efek toksik mrpk fungsi kadar racun di tempat aksinya

Kadar racun di tempat aksi berhubungan dengan takaran pemejanan

Respon toksik menunjukkan hubungan sebab akibat dengan racun yg dipejankan

menunjukkan hubungan sebab akibat dengan racun yg dipejankan Takaran pemejanan ↑  jumlah subjek yg menunjukkan

Takaran pemejanan jumlah subjek yg menunjukkan efek toksik

sebab akibat dengan racun yg dipejankan Takaran pemejanan ↑  jumlah subjek yg menunjukkan efek toksik

Kekerabatan takaran respon

Tolok ukur potensi ketoksikan racun :

TD 50 (toxic dose) jika efek toksik berupa perubahan biokimia, fungsional & struktural

LD 50 (lethal dose) jika efek toksik berupa kematian

Takaran ambang pemejanan racun : takaran pemejanan di bawah mana individu tidak menunjukkan efek atau respon toksik yang dapat

terukur atau teramati KETT (Kadar Efek Toksik

yang Tak Teramati) batas aman ketoksikan racun

Kekerabatan Waktu-Respons  Evaluasi ketoksikan racun lazimnya  Subkronis (10% masa hidup subjek)  Kronis
Kekerabatan Waktu-Respons  Evaluasi ketoksikan racun lazimnya  Subkronis (10% masa hidup subjek)  Kronis
Kekerabatan Waktu-Respons  Evaluasi ketoksikan racun lazimnya  Subkronis (10% masa hidup subjek)  Kronis

Kekerabatan Waktu-Respons

Evaluasi ketoksikan racun lazimnya

Subkronis (10% masa hidup subjek)

Kronis (85% masa hidup subjek)

Mekanisme antaraksi pada pemejanan

kronis:

Terbalikkan

Tak terbalikkan

Sekuestrasi fisik (penumpukan)

Mekanisme Antaraksit ½ Eliminasi

Terbalikkan

t ½ eliminasi relatif pendek

Eliminasi racun sebanding dengan perubahan kadar

Tak terbalikkan

t ½ eliminasi relatif lama

Penumpukkan efek toksik pada pemejanan berulang

Pada dosis rendah, efek toksik sudah terlihat nyata

Sekuestrasi fisik

t ½ eliminasi paling lama

Penumpukan racun di tempat aksi

sudah terlihat nyata  Sekuestrasi fisik  t ½ eliminasi paling lama  Penumpukan racun di
Kekerabatan Waktu-Respons  Tolok ukur kuantitatif  MHDD (Masukan Harian yang Dapat Diterima)  acceptable
Kekerabatan Waktu-Respons  Tolok ukur kuantitatif  MHDD (Masukan Harian yang Dapat Diterima)  acceptable
Kekerabatan Waktu-Respons  Tolok ukur kuantitatif  MHDD (Masukan Harian yang Dapat Diterima)  acceptable
Kekerabatan Waktu-Respons  Tolok ukur kuantitatif  MHDD (Masukan Harian yang Dapat Diterima)  acceptable

Kekerabatan Waktu-Respons

Tolok ukur kuantitatif

MHDD (Masukan Harian yang Dapat

Diterima) acceptable daily intake

MHMD (Masukan Harian Maksimum yang Diperbolehkan)

(Masukan Harian yang Dapat Diterima)  acceptable daily intake  MHMD (Masukan Harian Maksimum yang Diperbolehkan)
(Masukan Harian yang Dapat Diterima)  acceptable daily intake  MHMD (Masukan Harian Maksimum yang Diperbolehkan)
(Masukan Harian yang Dapat Diterima)  acceptable daily intake  MHMD (Masukan Harian Maksimum yang Diperbolehkan)

KETT

Takaran ambang pemejanan racun

Adalah takaran pemejanan di bawah mana individu

tidak menunjukkan efek atau respon toksik yang

dapat terukur atau teramati

Merupakan batas aman ketoksikan racun

Lazim disebut :

• Merupakan batas aman ketoksikan racun Lazim disebut : Kadar Efek Toksik Tak Teramati (KETT) Atau

Kadar Efek Toksik Tak Teramati (KETT)

Atau

No Observed Effect Level (NOEL)

KETT  KETT menggambarkan takaran pemejanan tertinggi yang tidak menyebabkan timbulnya efek toksik atau kematian
KETT  KETT menggambarkan takaran pemejanan tertinggi yang tidak menyebabkan timbulnya efek toksik atau kematian
KETT  KETT menggambarkan takaran pemejanan tertinggi yang tidak menyebabkan timbulnya efek toksik atau kematian
KETT  KETT menggambarkan takaran pemejanan tertinggi yang tidak menyebabkan timbulnya efek toksik atau kematian

KETT

KETT menggambarkan takaran pemejanan tertinggi yang tidak

menyebabkan timbulnya efek toksik

atau kematian pada diri subjek uji

Diperoleh dari uji ketoksikan sub kronis

tidak menyebabkan timbulnya efek toksik atau kematian pada diri subjek uji  Diperoleh dari uji ketoksikan
tidak menyebabkan timbulnya efek toksik atau kematian pada diri subjek uji  Diperoleh dari uji ketoksikan
tidak menyebabkan timbulnya efek toksik atau kematian pada diri subjek uji  Diperoleh dari uji ketoksikan

MHDD (Masukan Harian yang Dapat

Diterima) ADI (Acceptable Daily

Intake)

Merupakan takaran harian maksimum (mg/kgBB) racun pangan (zat tambahan makanan, senyawa pencemar, residu dsb) yg dapat diterima manusia pada pemejanan jangka pendek

MHMD (Masukan Harian Maksimum yang Diperbolehkan)

Merupakan kadar maksimum bahan pangan yang diperbolehkan

 MHMD (Masukan Harian Maksimum yang Diperbolehkan)  Merupakan kadar maksimum bahan pangan yang diperbolehkan
 MHMD (Masukan Harian Maksimum yang Diperbolehkan)  Merupakan kadar maksimum bahan pangan yang diperbolehkan
 MHMD (Masukan Harian Maksimum yang Diperbolehkan)  Merupakan kadar maksimum bahan pangan yang diperbolehkan
 MHMD (Masukan Harian Maksimum yang Diperbolehkan)  Merupakan kadar maksimum bahan pangan yang diperbolehkan
 MHMD (Masukan Harian Maksimum yang Diperbolehkan)  Merupakan kadar maksimum bahan pangan yang diperbolehkan
 MHMD (Masukan Harian Maksimum yang Diperbolehkan)  Merupakan kadar maksimum bahan pangan yang diperbolehkan
MHDD
MHDD

KETT

MHMD

MHDD KETT MHMD

MHDD

mg ( ) kgBBmanusia
mg
(
)
kgBBmanusia

KETT (

MHDD mg ( ) kgBBmanusia  KETT ( mg kgBBhewan ) faktor aman biasanya ( 100

mg

kgBBhewan

)

faktor aman biasanya

(

100 )

Faktor aman tetapan yg menggantikan berbagai faktor yang tidak diketahui dlam mengekstrapolasikan data hasil uji hewan ke

manusia (misalnya kondisi fisiologi dan patologi,

faktor perbedan jumlah subjek yg terlibat dalam ekstrapolasi)

Contoh nilai MHDD beberapa

senyawa

SENYAWA

KETT (TIKUS)

FAKTOR

MHDD (MANUSIA)

AMAN

Heksaklorobe

1,25 mg/kg tikus/hari

2000

0,6 mcg

nzena

Dieldrin

0,025 mg/kg tikus/hari

200

0,1 mcg

(1970)

DDT

0,05 mg/kg tikus/hari

1

5,0 mcg

mg/kg tikus/hari 200 0,1 mcg (1970) DDT 0,05 mg/kg tikus/hari 1 5,0 mcg MHMD = MHDD

MHMD = MHDD x 60 (mg/kg)

LD50

LD50

LD50
LD50
LD50
LD50
LD50
LD50
LD50
LD50
LD50
Definisi  LD 5 0 merupakan dosis yang menyebabkan kematian pada 50% populasi/subyek coba. 
Definisi  LD 5 0 merupakan dosis yang menyebabkan kematian pada 50% populasi/subyek coba. 
Definisi  LD 5 0 merupakan dosis yang menyebabkan kematian pada 50% populasi/subyek coba. 
Definisi  LD 5 0 merupakan dosis yang menyebabkan kematian pada 50% populasi/subyek coba. 

Definisi

LD 50 merupakan dosis yang menyebabkan kematian pada 50% populasi/subyek coba.

LD 50 menunjukkan besarnya potensi ketoksikan dari suatu racun.

Diperkenalkan pada 1927 oleh J.W. Trevan

 LD 5 0 menunjukkan besarnya potensi ketoksikan dari suatu racun.  Diperkenalkan pada 1927 oleh
 LD 5 0 menunjukkan besarnya potensi ketoksikan dari suatu racun.  Diperkenalkan pada 1927 oleh
 LD 5 0 menunjukkan besarnya potensi ketoksikan dari suatu racun.  Diperkenalkan pada 1927 oleh

LD50

Diperoleh dari uji ketoksikan akut

Pemejanan sekali, diamati selama 24 jam

Kadang kala selama 7-24 jam

Hanya menggambarkan potensi ketoksikan racun

relatif terhadap racun yg lain (potensi relatif)

tidak menggambarkan batas aman takaran pemejanan Berguna untuk mengetahui indeks terapi suatu obat indeks terapi (IT)= LD50/ED50

Kegunaan Data LD 50

Melihat potensi ketoksikan

Klasifikasi zat kimia berdasarkan

potensi ketoksikan

Evaluasi dampak keracunan yang tidak disengaja

Perencanaan penelitian subkronis dan kronis

potensi ketoksikan  Evaluasi dampak keracunan yang tidak disengaja  Perencanaan penelitian subkronis dan kronis
potensi ketoksikan  Evaluasi dampak keracunan yang tidak disengaja  Perencanaan penelitian subkronis dan kronis

Kriteria/ Kategori Ketoksikan Akut

Berdasarkan Loomis (1978)

Luar biasa toksik Sangat toksik Cukup toksik Sedikit toksik Praktis tidak toksik Relatif kurang berbahaya

Luar biasa toksik

Sangat toksik

Cukup toksik

Sedikit toksik

Praktis tidak toksik

Relatif kurang berbahaya

KRITERIA

1

2

3

4

5

6

LD 50 (mg/kg subjek) 1 atau kurang

1 50

50 500 500 5000 5000 15000

Lebih dari 15000

Kriteria/ Kategori Ketoksikan Akut Berdasarkan Lu (1995)

KRITERIA

Super-toksik

Amat sangat toksik

Sangat toksik Toksik sedang

Toksik ringan

Praktis tidak toksik

LD 50 (mg/kg subjek) 5 atau kurang

5 50

50 500 500 5000

5000 15000

Lebih dari 15000

toksik LD 5 0 (mg/kg subjek) 5 atau kurang 5 – 50 50 – 500 500

Metode Perhitungan/ Penetapan LD 50

Paling lazim/ konvensional:

Metode grafik Litchifield dan Wilcoxon (1949)

Metode kertas grafik logaritmik Miller dan Tainter (1944) ANALISIS PROBIT

Tata cara menemukan kisaran Weil (1952)

Kontemporer (untuk senyawa sintetis)LD 50 cut-

off :

Up-and-Down Procedure

Acute Toxic Class Method

Fixed-Dose Procedure

 LD 5 0 c u t - off :  Up-and-Down Procedure  Acute Toxic

ANALISIS PROBIT

ANALISIS PROBIT 1 2
1
1
ANALISIS PROBIT 1 2
2
2
ANALISIS PROBIT 1 2

ANALISIS PROBIT

3
3
4
4
ANALISIS PROBIT 3 4

Langkah-langkah

1.

Hitung log dosis (basis 10)

2.

Hitung persentase kematian (%)

Lakukan perhitungan normalisasi jika terdapat 0% dan atau 100% kematian

3.

Tentukan nilai probit berdasarkan persentase kematian dan lakukan

koreksi atau normalisasi jika perlu LIHAT TABEL PROBIT

4.

Buat persamaan regresi linier y = mx+b (manual atau menggunakan piranti lunak)

Nilai probit sebagai y

Log dosis sebagai x

5.

Tentukan log LD 50 menggunakan:

nilai probit 5,

manual/grafik pada kertas grafik atau memakai persamaan regresi

 

linier

6.

Hitung anti-log-nya Nilai LD 50 ditemukan

7.

Tentukan SE kira-kira berdasarkan nilai probit 84 dan 16

8.

LD 50 ± SE dengan taraf kepercayaan 95%

CONTOH SOAL

Penentuan LD 50 akut parasetamol thd 10 tikus putih jantan adl sbb :

Kelp

Dosis

∑ tikus

∑ tikus

(mg/kg)

yg mati

yg hdp

1

1000

10

0

2

500

6

4

3

250

4

6

4

125

0

10

5

62,5

0

10

1. Hitung log dosis

Kelp

Dosis

Log dosis

tikus

∑ tikus

(mg/kg)

yg mati

yg hdp

1

1000

3

10

0

2

500

2,69

6

4

3

250

2,39

4

6

4

125

2,09

0

10

5

62,5

1,79

0

10

2 500 2,69 6 4 3 250 2,39 4 6 4 125 2,09 0 10 5

2. Hitung presentase

kematian

Kelp

Dosis

Log dosis

tikus

tikus

%

(mg/kg)

yg mati

yg hdp

kematian

1

1000

3

10

0

100

2

500

2,69

6

4

60

3

250

2,39

4

6

40

4

125

2,09

0

10

0

5

62,5

1,79

0

10

0

4 60 3 250 2,39 4 6 40 4 125 2,09 0 10 0 5 62,5

Faktor Koreksi

Faktor koreksi hanya khusus untuk % kematian 0 dan

100

u/0% kematian,

% koreksi = 100 (0,25/n)

u/ 100% kematian,

untuk % kematian 0 dan 100 • u/0% kematian, % koreksi = 100 (0,25/n) • u/
untuk % kematian 0 dan 100 • u/0% kematian, % koreksi = 100 (0,25/n) • u/
untuk % kematian 0 dan 100 • u/0% kematian, % koreksi = 100 (0,25/n) • u/

% koreksi = (100n-25)/n

3. Tentukan nilai probit &

koreksi

Krn semua tikus pd kelp 4 tetap hidup, mk klp 5 diabaikan.

Hitung % koreksi u/ % kematian 0 dan 100%

u/ 0 % kematian :

% koreksi

= 100 (0,25/n)

= 100 (0,25/10) = 2,5

u/ 100% kematian :

% koreksi = (100n-25)/n

= (100x10-25)/10 = 97,5

: % koreksi = 100 (0,25/n) = 100 (0,25/10) = 2,5  u/ 100% kematian :
: % koreksi = 100 (0,25/n) = 100 (0,25/10) = 2,5  u/ 100% kematian :

Penentuan % koreksi

Kelp

Dosis

Log

tikus

tikus

%

%

(mg/kg)

dosis

yg mati

yg hdp

kematian

koreksi

1

1000

3

10

0

100

97,5

2

500

2,69

6

4

60

60

3

250

2,39

4

6

40

40

4

125

2,09

0

10

0

2,5

500 2,69 6 4 60 60 3 250 2,39 4 6 40 40 4 125 2,09

Jika ada selisih probit

Tentukan probit……lihat pd tabel probit

Misal % koreksi 2,5; mk liat tabel probit u/ % koreksi 2

dan 3

2……2,95

3……3,12

tabel probit Misal % koreksi 2,5; mk liat tabel probit u/ % koreksi 2 dan 3
tabel probit Misal % koreksi 2,5; mk liat tabel probit u/ % koreksi 2 dan 3
tabel probit Misal % koreksi 2,5; mk liat tabel probit u/ % koreksi 2 dan 3

2,95 + 0,5(selisih)

Harga probit u/ % koreksi = 97,5

lihat harga probit u/ 97 % dan 98%

97% = 6,88

98% = 7,05

97,5% = 6,88 + 0,5 (7,05-6,88) = ……

Harga probit u/ % koreksi = 2,5

lihat harga probit u/ 2% dan 3%

2% = 2,95

3% = 3,12

2,5% = 2,95 + 0,5 (3,12-2,95) = ……

= 2,5 • lihat harga probit u/ 2% dan 3% • 2% = 2,95 • 3%

Penentuan harga probit

Lihat pada tabel probit

Kelp

Dosis

Log

tikus

tikus

%

%

Nilai

(mg/kg)

dosis

yg mati

yg hdp

kematian

koreksi

probit

1

1000

3

10

0

100

97,5

6,97

2

500

2,69

6

4

60

60

5,25

3

250

2,39

4

6

40

40

4,75

4

125

2,09

0

10

0

2,5

3,04

4. Buat persamaan regresi linier log

dosis vs probit

Kelp

Dosis

Log

Nilai

(mg/kg)

dosis

probit

1

1000

3

6,97

2

500

2,69

5,25

3

250

2,39

4,75

4

125

2,09

3,04

y = 4,05x - 5,31

1000 3 6,97 2 500 2,69 5,25 3 250 2,39 4,75 4 125 2,09 3,04 y
1000 3 6,97 2 500 2,69 5,25 3 250 2,39 4,75 4 125 2,09 3,04 y
1000 3 6,97 2 500 2,69 5,25 3 250 2,39 4,75 4 125 2,09 3,04 y
5 & 6. Penentuan harga LD50 • Masukkan nilai probit 5 pada persamaan y =
5 & 6. Penentuan harga LD50 • Masukkan nilai probit 5 pada persamaan y =
5 & 6. Penentuan harga LD50 • Masukkan nilai probit 5 pada persamaan y =
5 & 6. Penentuan harga LD50 • Masukkan nilai probit 5 pada persamaan y =
5 & 6. Penentuan harga LD50 • Masukkan nilai probit 5 pada persamaan y =

5 & 6. Penentuan harga LD50

Masukkan nilai probit 5 pada persamaan

y = 4,05x - 5,31 5 = 4,05x 5,31 x = 2,55

Dapatkan nilai LD50 dari antilog nya

antilog2,55 = 354, 81 LD50 = 354, 81 mg/kg

5,31 5 = 4,05x – 5,31 x = 2,55 • Dapatkan nilai LD50 dari antilog nya
5,31 5 = 4,05x – 5,31 x = 2,55 • Dapatkan nilai LD50 dari antilog nya

7. Penentuan SE (standard error)

7. Penentuan SE (standard error)  Nilai probit u/ 84% kematian = 5,99, masukkan ke persamaan

Nilai probit u/ 84% kematian = 5,99, masukkan ke persamaan 5,99 = 4,05x 5,31 x = 2,79

antilog 2,79 = 616,59 mg/kg

Nilai probit u/ 16% kematian = 4,01, masukkan ke persamaan

4,01 = 4,05x 5,31 x = 2,30

antilog 2,30 = 199,53 mg/kg

SE LD

5 0

616,59 199,53

SE LD 5 0  616,59 199,53  2 x 10 SE LD50 = 93,25 8.

2

x

10

SE LD50 = 93,25

8. Tentukan nilai LD50 + SE

LD50 + SE = (354,81 + 93,25) mg/kg

SE LD 5 0  616,59 199,53  2 x 10 SE LD50 = 93,25 8.

Soal Latihan

Dilakukan sebuah penelitian toksisitas akut thymoquinone menggunakan tikus dalam 5 kelompok peringkat dosis (masing-masing n = 10). Didapatkan data sbb:

Kelomp

Dosis (mg/kg BB)

Subjek mati/total subjek

ok

1

25

0/10

2

50

4/10

3

75

7/10

4

100

9/10

5

150

10/10

SPSS
SPSS
SPSS
SPSS
SPSS
SPSS

SPSS

SPSS
SPSS
SPSS
SPSS
SPSS