Anda di halaman 1dari 13

AKUNTANSI SEKTOR PUBLIK

(Pengukuran Kinerja Organisasi Sektor Publik)

SEMESTER VI SAX-1

Disusun oleh :

Kelompok VIII

1. Budi Cahyono (1410108860)


2. Aji Rifqi Rawadani (1410108889)
3. Lutfi Ino Andriani (1410108902)
4. Innama Novianti (1410108922)
5. Astri Melinda Firdiana (1410108923)

Dosen :

Dr. Ikhsan Budi Riharjo, SE., M.Si., Ak., CA.

SEKOLAH TINGGI ILMU EKONOMI INDONESIA (STIESIA)

SURABAYA

TAHUN AKADEMIK 2016 2017


BAB 8
Pengukuran Kinerja Organisasi Sektor Publik

Tahap setelah operasional anggaran adalah pengukuran kinerja untuk menilai prestasi
manajer dan unit organisasi yang dipimpinnya serta menilai akuntabilitas organisasi dan
manager. Pengukuran kinerja yang handal (reliable) merupakan salah satu faktor kunci suksenya
organisasi.

Definisi Kinerja
Kinerja adalah gambaran pencapaian pelaksanaan suatu kegiatan/program/kebijaksanaan
dalam mewujudkan sasaran, tujuan, misi dan visi organisasi yang terutang dalam perumusan
skema strategis (strategic planning) suatu organisasi. Secara umum dapat juga dikatakan bahwa
kinerja merupakan prestasi yang dapat dicapai oleh organisasi dalam periode tertentu.

Definisi menurut para Ahli :


Larry D Stout (1993) dalam performance Measurement Guide menyatakan bahwa :
Pengukuran/penilaian kinerja merupakan proses mencatat dan mengukur pencapaian
pelaksanaan kegiatan dalam arah pencapaian misi (mision accomplishment) melalui hasil-hasil
yang ditampilkan berupa produk, jasa, ataupun suatu proses. (Larry D. Stout).

James B. Whittaker (1993) dalam Goverment Performance and Result Act, A Mandate for
Strategic Planning and Performance Measurment sebagai berikut :
Pengukuran/penilaian kinerja adalah suatu alat manajemen untuk meningkatkan kualitas
pengambilan keputusan dan akuntabilitas. (James B. Whittaker).

8.1 Tujuan dan Manfaat Pengukuran Kinerja SP

a. Memastikan pemahaman para pelaksana dan ukuran yang digunakan untuk pencapaian

prestasi.

b. Memastikan tercapainya skema prestasi yang disepakati.

c. Memonitor dan mengevaluasi kinerja dengan pembandingan skema kerja dan pelasanaan.

d. Memberikan penghargaan dan hukuman (reward & punishment) secara obyektif.


e. Sebagai alat komunikasi antara bawahan dan pimpinan dalam upaya memperbaiki

prestasi organisasi.

f. Mengidentifikasi tingkat kepuasan pelanggan.

g. Membantu memahami proses kegiatan instansi pemerintah.

h. Memastikan bahwa pengambilan keputusan dilakukan secara obyektif.

i. Menunjukkan peningkatan yang perlu dilakukan.

j. Mengungkap permasalah yang terjadi.

INFORMASI YANG DIGUNAKAN UNTUK PENGUKURAN KINERJA


1. Informasi Finansial.

Penilaian kinerja finansial dilakukan dengan menganalisis varians antara kinerja

aktual dengan yang dianggarkan. Analisis Varians secara garis besar :

a) Varians Pendapatan (revenue variance)

b) Varians Pengeluaran/Belanja ( expenditure variance )

c) Varians belanja rutin (recurrent expenditure variance)

d) Varians belanja investasi/modal (capital expenditure variance)

Setelah analisis varians dilanjutkan dengan mengidentifikasi sumber penyebab terjadinya

varians tersebut (apa, siapa/bagian mana, kenapa, dan bagaimana). Keterbatasan analisis

varians diantaranya adalah kesulitan menetapkan batasan besarnya varians.

2. Informasi Non Finansial

Informasi non-finasial dapat menambah keyakinan terhadap kualitas proses

pengendalian manajemen. Teknik pengukuran komprehensif yang banyak dikembangkan

oleh berbagai organisasi dewasa ini adalah Balanced Scorecard.

Pengukuran dengan metode Balanced Scorecard melibatkan empat aspek, yaitu :

a. Perspektif finansial (finansial perspective),

b. Perspektif kepuasan pelanggan (custumer perspective,


c. Perspektif efisiensi proses internal (internal process efficiency), dan

d. Perspektif pembelajaran dan pertumbuhan (learning and growth perspective).

Jenis informasi nonfinasial dapat dinyatakan dalam bentuk variabel kunci (key

variable) atau sering dinamakan sebagai key succes factor, key result factor, atau pulse

point. Variabel kunci adalah variabel yang mengindikasikan faktor-faktor yang menjadi

sebab kesuksesan organisasi. Karakteristik variabel kunci antara lain :

Menjelaskan faktor pemicu keberhasilan dan kegagalan organisasi

Sangat volatile dan dapat berubah dengan cepat

Perubahannya tidak dapat diprediksi

Jika terjadi perubahan perlu diambil tindakan segera

Variabel tersebut dapat diukur, baik secara langsung maupun melalui ukuran antara

(surrogate)

Siklus Pengukuran Kinerja

Penskemaan
Startegi

Integrasi dengan Menciptakan


Proses Manajemen Indikator

Mengembangkan Sistem
Penyempurnaan Pengukuran Data
Ukuran
8.2 Peranan Indikator Kinerja dalam Pengukuran Kinerja

Indikator kinerja adalah ukuran kuantitatif dan kualitatif yang menggambarkan tingkat

pencapaian sasaran dan tujuan yang telah ditetapkan dengan memperhitungkan indikator sebagai

berikut :

1. Indikator masukan (inputs) adalah segala sesuatu yang dibutuhkan agar pelaksanaan

kegiatan dapat berjalan untuk menghasilkan keluaran. Dapat berupa : Dana, SDM,

Infomasi, Kebijakan/peraturan perundang-undangan.

2. Indikator Keluaran (outputs) adalah sesuatu yang diharapkan langsung dicapai dari suatu

kegiatan yang dapat berupa fisik dan atau non fisik.

3. Indikator Hasil (outcomes) adalah segala sesuatu yang mencerminkan berfungsinya

keluaran kegiatan pada jangka menengah.

4. Indikator Manfaat (benefits) adalah sesuatu yang terkait dengan tujuan akhir dari

pelaksanaan kegiatan.

5. Indikator Dampak (impacts) adalah pengaruh yang ditimbulkan baik positif maupun

negatif pada setiap tingkatan indikator berdasarkan asumsi yang telah ditetapkan.

Pengukuran kinerja dilakukan dengan mengembangkan variabel kunci yang sudah

teridentifikasi menjadi indikator kinerja. Indikator kinerja dapat berbentuk faktor keberhasilan

utama organisasi dan indikator kunci. Indikator kinerja penting untuk mengetahui apakah

aktivitas atau program telah dilakukan secara efisien dan efektif.

Penentuan indikator kinerja perlu dipertimbangkan komponen berikut :

1. Biaya pelayanan (cost of service) : Indikator biasanya diukur dalam bentuk biaya unit.
2. Penggunaan (utilization) : Indikator penggunaan membandingkan antara supply of
service (pelayanan yang ditawarkan) dengan public demand (permintaan publik)
3. Kualitas dan Standar pelayanan (quality and standards): Indikator kualitas dan
standar pelayanan merupakan indikator yang paling sulit diukur.

4. Cakupan pelayanan (coverage) : Indikator cakupan pelayanan perlu dipertimbangkan


apabila terdapat kebijakan atau peraturan perundangan yang mensyaratkan untuk

memberikan pelayanan dengan tingkat pelayanan minimal yang telah ditetapkan.

5. Kepuasan (satisfaction) : Indikator kepuasan biasanya diukur melalui metode jajak


pendapat secara langsung.

Manfaat Indikator Kinerja


1. Memberikan kejelasan tujuan organisasi
2. Mengembangkan persetujuan pengukuran aktivitas
3. Keuntungan proses produksi harus dipahami lebih jelas
4. Tersedianya pembandingan kinerja dari organisasi yang berbeda
5. Tersedianya fasilitas setting of target untuk penilaian organisasi dan individual manager
sebagai bagian dari pertanggungjawaban organisasi kepada pemilik saham.

Penyusunan Indikator Kinerja


Ada beberapa langkah yang perlu dilakukan untuk penyusunan dan penetapan indikator kinerja
pemerintahan, yaitu sebagai berikut :
1. Susun dan tetapkan rencana strategis lebih dahulu. (rencana strategis meliputi : visi, misi,
tujuan, sasaran dan cara mencapai tujuan/sasaran.
2. Identifikasi data/informasi yang dapat dikembangkan menjadi indikator kinerja.
3. Pilih dan tetapkan indikator kinerja yang paling relevan dan berpengaruh besar terhadap
keberhasilan pelaksanaan kebijaksanaan/program/kegiatan.
8.3 Indikator Kinerja dan Pengukuran Value for Money

Value for money merupakan inti pengukuran kinerja pada organisasi pemerintah.

Permasalahan yang sering dihadapi adalah sulitnya mengukur output, karena output yang

dihasilkan tidak selalu berupa output yang berwujud, akan tetapi lebih banyak berupa intagible

output.

Istilah ukuran kinerja (mengacu pada penilaian kinerja secara langsung) pada dasarnya

berbeda dengan istilah indikator Kinerja (mengacu pada penilaian kinerja secara tidak

langsung).

Peran indikator kinerja bagi pemerintah antara lain:

a. Untuk membantu memperjelas tujuan organisasi;


b. Untuk mengevaluasi target akhir (final outcome) yang dihasilkan;
c. Sebagai masukan untuk menentukan skema insentif manajerial;
d. Memungkinkan bagi pemakai jasa layanan pemerintah untuk melakukan pilihan;
e. Untuk menunjukkan standar kinerja;
f. Untuk menunjukkan efektivitas;
g. Untuk membantu menentukan aktivitas yang memiliki efektivitas biaya yang paling baik
untuk mencapai target sasaran; dan

h. Untuk menunjukkan wilayah, bagian, atau proses yang masih potensial untuk dilakukan
penghematan biaya.

Permasalahan teknis yang dihadapi saat pengukuran ekonomi, efisiensi dan efektivitas

(value for money) organisasi adalah bagaimana membandingkan input dengan output untuk

menghasilkan ukuran efisiensi yang memuaskan jika output yang dihasilkan tidak dapat dinilai

dengan harga pasar. Solusi praktis atas masalah tersebut adalah dengan cara membandingkan

input finansial (biaya) dengan output nonfinansial, misalnya biaya unit (unit cost statistics).
Value For Money Sebagai Metode Penilaian Kinerja

Sistem pengukuran kinerja sektor publik adalah suatu sistem yang bertujuan untuk
membantu manajer publik menilai pencapaian suatu strategi melalui alat ukur finansial dan
nonfinansial. Pengukuran kinerja sektor publik dilakukan untuk memenuhi tiga maksud.
Membantu memperbaiki kinerja pemerintah.
Pengalokasian sumber daya dan pembuatan keputusan.
Mewujudkan pertanggungjawaban publik dan memperbaiki komunikasi kelembagaan.
Kriteria pokok yang mendasari pelaksanaan manajemen publik dewasa ini adalah:
ekonomi, efisiensi, efektivitas, transparansi, dan akuntabilitas publik. Tujuan yang dikehendaki
oleh masyarakat mencakup pertanggungjawaban mengenai pelaksanaan value for money, yaitu:
ekonomis (hemat cermat) dalam pengadaan dan alokasi sumber daya, efisien (berdaya guna)
dalam penggunaan sumber daya dalam arti penggunaannya diminimalkan dan hasilnya
dimaksimalkan (maximizing benefits and minimizing costs), serta efektif (berhasil guna) dalam
arti mencapai tujuan dan sasaran.

Value for money merupakan konsep pengelolaan organisasi sektor publik yang

mendasarkan pada tiga elemen utama, yaitu: ekonomi, efisiensi, dan efektivitas.

Ekonomi : pemerolehan input dengan kualitas dan kuantitas tertentu pada harga yang terendah.

Ekonomi merupakan perbandingan input dengan input value yang dinyatakan dalam satuan

moneter.

Efisiensi : pencapaian output yang maksimum dengan input tertentu atau penggunaan inputyang

rendah untuk mencapai output tertentu. Efisiensi merupakan perbandingan output/inputyang

dikaitkan dengan standard kinerja atau target yang telah ditetapkan.

Efektivitas : tingkat pencapaian hasil program dengan target yang ditetapkan. Secara sederhana

efektivitas merupakan perbandingan outcome dengan output.


Pengukuran Kinerja Dengan Menggunakan Value For Money
Value for money merupakan inti pengukuran kinerja pada organisasi pemerintah dan
sektor publik. Kinerja pemerintah tidak dapat dinilai dari sisi output yang dihasilkan semata,
akan tetapi secara terintegrasi harus mempertimbangkan input, output, dan outcome secara
bersama-sama. Permasalahan yang sering muncul adalah sulitnya mengukur output karena
output yang dihasilkan pemerintah tidak selalu berupa output yang berwujud (tangible output),
tetapi kebanyakan juga bersifat output tidak berwujud (intangible output). Ukuran kinerja pada
dasarnya berbeda dengan indikator kinerja. Perbedaan antara ukuran kinerja dengan indikator
kinerja adalah:
Ukuran kinerja, Umumnya mengacu pada penilaian kinerja secara langsung, misalnya: laporan
keuangan pemerintah.
Indikator kinerja, Mengacu pada penilaian kinerja secara tidak langsung, yaitu hal-hal yang
sifatnya hanya merupakan indikasi-indikasi kinerja.
Mekanisme penentuan indikator kinerja membutuhkan:
a. Sistem perencanaan dan pengendalian. Meliputi proses, prosedur, dan struktur yang

memberi jaminan bahwa tujuan organisasi telah dijelaskan dan dikomunikasikan


keseluruh bagian organisasi dengan menggunakan rantai komando.
b. Spesifikasi teknis dan standarisasi. Spesifikasi ini digunakan sebagai ukuran kinerja

kegiatan, program dan organisasi.


c. Kompetensi teknis dan profesionalisme. Personil yang memiliki kompetensi dan

professionalmerupakan jaminan dukungan dalam pekerjaan.


d. Mekanisme ekonomi dan mekanisme pasar. Mekanisme ekonomi terkait dengan

pemberian reward dan punishment yang bersifat finansial.


e. Sedangkan mekanisme pasar terkait dengan penggunaan sumber daya. Mekanisme ini

digunakan untuk memperbaiki kinerja personil dan organisasi.


Langkah-langkah Pengukuran Value For Money
1. Pengukuran Ekonomi,

Pengukuran ekonomi hanya mempertimbangkan masukan (input) yang gunakan.


Pertanyaan yang diajukan adalah:
Apakah biaya organisasi lebih besar dari yang dianggarkan?,
Apakah biaya organisasi lebih besar dari pada biaya organisasi lain yang sejenis yang
dapat diperbandingkan?
Apakah organisasi telah menggunakan sumber daya finansialnya secara optimal?.
2. Pengukuran Efisiensi

Efisiensi diukur dengan rasio antara output dengan input. Semakin besar output
dibanding input, maka semakin tinggi tingkat efisiensi suatu organisasi.
Cara perbaikan terhadap efisiensi adalah:
a. Meningkatkan output pada tingkat input yang sama,

b. Meningkatkan output dalam proporsi yang lebih besar daripada proporsi peningkatan

input.
c. Menurunkan input pada tingkatan output yang sama.

d. Menurunkan input dalam proporsi yang lebih besar daripada proporsi penurunan

output.
3. Pengukuran Efektifitas

Efeketivitas adalah ukuran berhasil tidaknya suatu organisasi mencapai tujuannya.


Efektivitas tidak menyatakan tentang berapa besar biaya yang telah dikeluarkan untuk
mencapai tujuan tersebut.
4. Pengukuran Outcome
Outcome adalah dampak suatu program atau kegiatan terhadap masyarakat atau
mengukur kualitas output terhadap dampak yang dihasilkan.
Pengukuran outcome memiliki 2 peran:
a. Peran Retrospektif, terkait dengan penilaian kinerja masa lalu.

b. Peran Prospektif, terkait dengan perencanaan kinerja di masa yang akan datang.

Dalam peran ini, pengukuran outcome digunakan untuk mengarahkan keputusan


alokasi sumber daya publik.
5. Estimasi Indikator Kinerja,

Suatu unit organisasi perlu melakukan estimasi untuk menentukan target kinerja
yang ingin dicapai pada periode mendatang. Penentuan target tersebut didasarkan pada
perkembangan cakupan layanan atau indicator kinerja.

Tujuan Value For Money


Tujuan pelaksanaan value for money adalah, ekonomi: hemat cermat dalam
pengadaan dan alokasi sumber daya. efisiensi: Berdaya guna dalam penggunaan sumber daya
efektivitas: berhasil guna dalam arti mencapai tujuan dan sasaran. equity: Keadilan dalam
mendapatkan pelayanan publik. equality: Kesetaran dalam penggunaan sumber daya.
Tujuan lain yang dikehendaki terkait pelaksanaan value for money adalah :
1. Meningkatan efektivitas pelayanan publik, dalam arti pelayanan yang diberikan tepat

sasaran
2. Meningkatkan mutu pelayanan public

3. Menurunkan biaya pelayanan publik karena hilangnya inefisiensi dan terjadinya

penghematan dalam penggunan input


4. Alokasi belanja yang lebih berorientasi pada kepentingan public
5. Meningkatkan kesadaran akan uang publik (public costs awareness) sebagai akar

pelaksanaan akuntanbilitas public


KESIMPULAN

Sistem pengukuran kinerja sektor publik adalah suatu sistem yang bertujuan untuk

membantu manajer publik menilai pencapaian suatu strategi melalui alat ukur finansial dan non

finansial. Sistem pengukuran kinerja merupakan salah satu alat pengendalian organisasi karena

diperkuat dengan adanya mekanisme reward dan punishment. Pengukuran kinerja sektor publik

dimaksudkan untuk membantu memperbaiki kinerja pemerintah, memperbaiki pengalokasian

sumber daya dan pembuatan keputusan, serta untuk memfasilitasi terwujudnya akuntabilitas

publik.

Inti pengukuran kinerja pemerintah adalah pengukuran value for money. Kinerja

pemerintah harus diukur dari sisi input, output dan outcome. Tujuan pengukuran value for money

yaitu mengukur tingkat keekonomisan dalam alokasi sumber daya, efisiensi dalam penggunaan

sumber daya dan hasil yang maksimal, serta efektifitas dalam penggunaan sumber daya.
DAFTAR PUSTAKA

Bastian, Indra. 2010. Akuntansi Sektor Publik: Suatu Pengantar. Edisi Ketiga, Erlangga. Jakarta.