Anda di halaman 1dari 25

KASUS PENYIMPANGAN ETIKA DALAM BIDANG AKUNTANSI MANAJEMEN

PERUSAHAAN TOSHIBA JEPANG


MAKALAH
Diajukan untuk memenuhi tugas matakuliah Kapita Selekta pada Jurusan Akuntansi
Dosen Pengampu: Rima Sundari, SE., M.Ak., CA.

Oleh:
Kelompok 5

Citra Tiasani Putri (3143046)


Muhammad Roni (3143082)
Rahajeng Minta Ningsih (3143012)
Riski Damai Yanti M Hrp (3143017)

PROGRAM STUDI D3 AKUNTANSI


POLITEKNIK POS INDONESIA
BANDUNG
2016
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena dengan
rahmat, karunia, serta taufik dan hidayah-Nya kami dapat menyelesaikan makalah tentang
kasus dan solusi penyimpangan etika dalam bidang Akuntansi Manajemen ini meskipun
banyak kekurangan didalamnya.

Penulisan Makalah ini tidak lepas dari dukungan, bantuan dan bimbingan dari
berbagai pihak. Untuk itu dalam kesempatan ini penulis mengucapkan terimakasih yang
sebesar-besarnya kepada Ibu Rima Sundari, SE., M.Ak., CA. selaku dosen mata kuliah
Kapita Selekta yang telah memberikan bimbingan untuk menyelesaikan makalah ini, kedua
orang tua penulis, teman-teman D3 Akuntansi 3C Politeknik Pos Indonesia, serta semua
pihak yang telah memberikan dukungan dan nasehat-nasehatnya dalam penyelesaian makalah
ini.

Kami sangat berharap makalah ini dapat berguna dalam rangka menambah wawasan
serta pengetahuan kita mengenai kasus dan solusi penyimpangan etika dalam bidang
Akuntansi Manajemen. Kami juga menyadari sepenuhnya bahwa di dalam makalah ini
terdapat kekurangan dan jauh dari kata sempurna. Oleh sebab itu, kami berharap adanya
kritik dan saran demi perbaikan makalah yang telah kami buat di masa yang akan
datang, mengingat tidak ada sesuatu yang sempurna tanpa saran yang membangun.

Bandung, Desember 2016

Tim Penyusun
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR.................................................................................................................i

DAFTAR ISI..............................................................................................................................ii

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang berdirinya perusahaan .....


1

1.2 Latar Belakang Permasalahan


Toshiba .................................................................................1

BAB II PEMBAHASAN

2.1 Sejarah Toshiba ....


3

2.2 Etika dalam Akuntansi Manajemen .....5

2.3 Kasus .......8

2.4 Kronologis kasus .


...12

2.5 Analisa Kasus ........13

2.6 Solusi .....................................................16

2.7 Status Perusahaan ......20

BAB III PENUTUP

Kesimpulan ......22

DAFTAR PUSTAKA ..23


BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Berdirinya Perusahaan

Toshiba adalah perusahaan Jepang yang memproduksi dan memasarkan


berbagai peralatan elektrik dan produk elektronik yang canggih, yang berpusat di Tokyo,
Jepang. Toshiba adalah sebagai perusahaan nomor 7 dunia untuk produsen terintegrasi
untuk peralatan elektrik, elektronik dan sebagai pembuat chip.Toshiba didirikan pada
tahun 1939, merupakan hasil usaha dari perniagaan. Tokyo Denki adalah perniagaan
yang bergerak dibidang consumer goods dan perusahaan mesin Shibaura Seisakusho
diambil dari huruf depan dari perusahaan TO dan SHIBA maka lahirlah nama
Toshiba. Pada tahun 1984 perusahaan itu resmi berubah menjadi Toshiba Corporation.

1.2 Latar Belakang Permasalahan Toshiba

Skandal akuntansi Toshiba dimulai saat regulator keamanan menemukan masalah


saat menyelidiki laporan keuangan awal tahun ini. Dalam laporan 300 halaman yang
diterbitkan panel independen tersebut mengatakan bahwa tiga direksi telah berperan aktif
dalam menggelembungkan laba usaha Toshiba sebesar 151,8 miliar (setara dengan Rp
15,85 triliun) sejak tahun 2008. Panel yang dipimpin oleh mantan jaksa top di Jepang itu,
mengatakan bahwa eksekutif perusahaan telah menekan unit bisnis perusahaan, mulai
dari unit personal computer sampai ke unit semikonduktor dan reaktor nuklir untuk
mencapai target laba yang tidak realistis. Laporan itu juga mengatakan bahwa
penyalahgunaan prosedur akuntansi secara terus-menerus dilakukan sebagai kebijakan
resmi dari manajemen, dan tidak mungkin bagi siapa pun untuk melawannya, sesuai
dengan budaya perusahaan Toshiba.

BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Sejarah Toshiba

Toshiba adalah perusahaan Jepang yang memproduksi dan memasarkan berbagai


peralatan elektrik dan produk elektronik yang canggih, yang berpusat di Tokyo, Jepang.
Toshiba adalah perusahaan no 7 dunia untuk produsen terintegrasi untuk peralatan
elektrik, elektronik dan sebagai pembuat chip. Toshiba Semikonduktor termasuk 20
pembesar pemimpin penjualan semikonduktor di dunia.

Toshiba dibentuk pada tahun 1939, merupakan hasil usaha dari perniagaan. Tokyo
Denki adalah perniagaan yang bergerak dibidang consumer goods dan perusahaan mesin
Shibaura Seisakusho diambil dari huruf depan dari perusahaan TO dan SHIBa maka
lahirlah nama Toshiba. Pada tahun 1984 perusahaan itu resmi berubah menjadi Toshiba
Corporation. Group ini makin kuat melalui pertumbuhan internal dan melalui akuisisi
perusahaan mereka alat berat dan perusahaan industri primer pada 1940-an dan 1950-an.
Kemudian pada 1970-an dan seterusnya, anak perusahaan mulai didirikan, yaitu group
Toshiba Lighting & Teknologi (1989), Toshiba Carrier Corporation (1999), Toshiba
Elevator & Building System Corp (2001), Toshiba Solutions Corp (2003), Toshiba
Medical Systems Corp (2003) dan Toshiba Materials Co Ltd (2003). Tahun 2009, Toshiba
merupakan perusahaan komputer terbesar kelima di dunia, di bawah Hewlett-Packard dari
AS, Dell dari AS, Acer dari Taiwan, dan Lenovo dari China.
Toshiba Corporation adalah salah satu perusahaan diversifikasi produsen dan
pemasar produk digital, perangkat elektronik dan komponen, sistem infrastruktur sosial
dan Home appliances. Sebagai pendiri dan inovator terkemuka dalam komputasi portabel
dan produk-produk jaringan, Perusahaan ini bermarkas di Tokyo, Jepang. Selain itu
perusahaan ini merupakan perusahaan elektronik terbesar di dunia . Toshiba saat ini
kebanyakan buatan RRC. Toshiba mulai mengeluarkan hasil produksinya yaitu notebook,
PC, dan PC server untuk rumah, pejabat dan pengguna telefon. Toshiba Qosmio
Notebook PC adalah komputer yang berkemampuan dan lengkap. Sementara itu,ia juga
tipis dan Ringan untuk memudahkan manusia untuk membawa kemana mana.

Mr. Sasaki, yang menjadi chief executive pada tahun 2009, berusaha untuk
meningkatkan bobot infrastruktur yang dimiliki Toshiba, yang terdiri dari utamanya
operasional pembangkit listrik dan termasuk juga persediaan air dan sistem per-keretaapi-
an. Dengan melakukan itu, Toshiba mengurangi ketergantungannya pada bisnis memory
chip yang kuat, dimana termasuk Apple Inc. sebagai salah satu kliennya. Tantangan
terbesar adalah Toshiba mencoba untuk memperbaiki profil keuangannya sekaligus juga
melakukan investasi untuk pertumbuhan ke depan. Ini adalah tindakan yang
menyeimbangkan (balancing act).

Suatu produk tidak akan dibeli bahkan dikenal apabila konsumen tidak
mengetahui kegunaannya, keunggulannya, dimana produk dapat diperoJeh dan berapa
harganya. Untuk itulah konsumen yang menjadi sasaran produk atau jasa perusahaan
perlu diberikan informasi yang jelas. Maka peranan promosi berguna untuk:

Memperkenalkan produk atau jasa serta mutunya kepada masyarakat.


Memberitahukan kegunaan dari barang atau jasa tersebut kepada masyarakat serta
cara penggunaanya.
Memperkenalkan barang atau jasa baru

Oleh karenanya adalah menjadi keharusan bagi perusahaan untuk melaksanakan


promosi dengan strategi yang tepat agar dapat memenuhi sasaran yang efektif. Promosi
yang dilakukan harus sesuai dengan keadaan perusahaan. Dimana harus diperhitungkan
jumlah dana yang tersedia dengan besarnya manfaat yang diperoleh kegiatan promosi
yang dijalankun perusahaan.
Jadi,bisnis yang dilakukan oleh Toshiba pada intinya adalah melakukan
diversifikasi untuk mengurangi risiko bisnis yang ada akibat segala ketidakpastian
ekonomi. Toshiba yang memiliki 3 bagian bisnis utama, masing-masing memiliki
spectrum yang berbeda dengan tingkat keuntungan yang berbeda-beda dan risiko bisnis
yang bebeda-beda pula. Ketiga bisnis tersebut namun selalu dikelola agar menghasilkan
keuntungan yang konstan. Strategi diversifikasi ini cukup tepat dilakukan, bila kita
bandingkan dengan beberapa perusahaan sejenis Toshiba yang tidak melakukan hal
demikian. Selain itu, Toshiba juga cakap dalam melihat peluang, dimana mereka mampu
membaca tren pasar dan kebutuhan global.

Profil Toshiba

Sebagaimana halnya perusahaan-perusahaan yang ingin sukses dan maju,


perusahaan ini memiliki visi dan misi tersendiri. Segala hal yang menjadi tujuan
didirikannya perusahaan di Indonesia serta bentuk usaha dalam mencapai tujuan
tersebut,dan terangkum dalam tiga visi dan misi berikut:

Memperkuat Keberadaan TV Toshiba di Indonesia

Menawarkan kepada pelanggan,yang dirancang sesuai dengan keinginan dan pilihan


konsumen
Menyediakan pelayanan dan kepuasan pelanggan yang lebih baik.

2.2 Etika dalam Praktik Akuntansi Manajemen

Chartered Institute of Management Accountants (CIMA) mendefinisikan


akuntansi manajemen sebagai proses identifikasi, pengukuran, akumulasi, analisis,
penyusunan, interpretasi, dan komunikasi informasi yang digunakan oleh manajemen
untuk merencanakan, mengevaluasi dan pengendalian dalam suatu entitas dan untuk
memastikan sesuai dan akuntabilitas penggunaan sumber daya tersebut. Akuntansi
manajemen juga meliputi penyusunan laporan keuangan untuk kelompok nonmanajemen
seperti pemegang saham, kreditur, badan pengatur dan otoritas pajak.

Para akuntan manajemen dituntut untuk bertindak jujur, terpercaya dan etis. Hal
ini dikarenakan akuntan manajemen memiliki peran penting dalam menunjang
tercapainya tujuan perusahaan, dimana tujuan tersebut harus dicapai melalui cara yang
legal dan etis. Chartered Institute of Management Accountants (CIMA) menyatakan
bahwa seorang akuntan manajemen harus mampu menerapkan pengetahuan profesional
dan keterampilannya dalam penyusunan dan penyajian informasi keputusan keuangan dan
lainnya, yang berorientasi sedemikian rupa untuk dapat membantu manajemen dalam
merumuskan kebijakan, perencanaan, dan pengendalian pelaksanaan pengoperasian.
Pengetahuan dan pengalaman akuntansi manajemen dapat diperoleh dari berbagai bidang
dan fungsi dalam suatu organisasi seperti manajemen informasi, perbendaharaan, audit
efisiensi, pemasaran, penilaian, penetapan harga, logistik, dan lainnya.

The American Institute of Certified Public Accountans (AICPA) menyatakan


bahwa akuntansi manajemen sebagai praktik meluas ke tiga bidang berikut:

Manajemen Strategi. Memajukan peran akuntan manajemen sebagai mitra strategis


dalam organisasi.

Manajemen Kinerja. Mengembangkan praktik pengambilan keputusan bisnis dan


mengelola kinerja organisasi.

Manajemen Risiko. Berkontribusi untuk membuat kerangka kerja dan praktik untuk
mengidentifikasi, mengukur, mengelola dan melaporkan risiko untuk mencapai tujuan
organisasi.

Etika Profesional Akuntan Manajemen

Kebiasaaan beretika adalah sangat penting dalam menjalankan perekonomian kita


telah memicu berbagai perubahan peraturan dan permintaan perundang-undangan baru.
Dalam perekonomian yang baru, digital, dan berbasis kepercayaan, kepentingan sangat
dijunjung tinggi. Kejujuran perusahaan, yang diwujudkan dalam merek dan reputasi,
meningkatkan kepercayaan pelanggan, karyawan dan investor. Pengalaman menunjukkan
bahwa aset semacam ini harus dibangun lama dan penuh pengorbanan, namun cepat dapat
hilang dalam sekejap, dan jika hilang, maka kehilangan segalanya. Akhirnya, untuk
kebaikan semua orang termasuk perusahaan pencetak laba adalah sangat penting untuk
menjalankan bisnis dalam kerangka etika yang membangun dan menjaga kepercayaan.
Ikatan Akuntan Manajemen (Institute of Management Accountant IMA) di Amerika
Serikat telah mengembangkan kode etik yang disebut Standar Kode Etik untuk Praktisi
Akuntan Manajemen dan Manajemen Keuangan (Standards of Ethical Conduct for
Practitioners of Management Accounting and Financial Management).
Ada empat standar etika untuk akuntan manajemen yaitu:

1. Kompetensi

Artinya, akuntan harus memelihara pengetahuan dan keahlian yang


sepantasnya, mengikuti hukum, peraturan dan standar teknis, dan membuat laporan
yang jelas dan lengkap berdasarkan informasi yang dapat dipercaya dan relevan.
Praktisi manajemen akuntansi dan manajemen keuangan memiliki tanggung jawab
untuk:

Menjaga tingkat kompetensi profesional sesuai dengan pembangunan


berkelanjutan, pengetahuan dan keterampilan yang dimiliki.

Melakukan tugas sesuai dengan hukum, peraturan dan standar teknis yang
berlaku.

Mampu menyiapkan laporan yang lengkap, jelas, dengan informasi yang relevan
serta dapat diandalkan.

2. Kerahasiaan (Confidentiality)

Mengharuskan seorang akuntan manajemen untuk tidak mengungkapkan


informasi rahasia kecuali ada otorisasi dan hukum yang mengharuskan untuk
melakukan hal tersebut. Praktisi manajemen akuntansi dan manajemen keuangan
memiliki tanggung jawab untuk:

Mampu menahan diri dari mengungkapkan informasi rahasia yang diperoleh


dalam pekerjaan, kecuali ada izin dari atasan atau atas dasar kewajiban hukum.

Menginformasikan kepada bawahan mengenai kerahasiaan informasi yang


diperoleh, agar dapat menghindari bocornya rahasia perusahaan. Hal ini dilakukan
juga untuk menjaga pemeliharaan kerahasiaan.

Menghindari diri dari mengungkapkan informasi yang diperoleh untuk


kepentingan pribadi maupun kelompok secara ilegal melalui pihak ketiga.

3. Integritas (Integrity)
Mengharuskan untuk menghindari conflicts of interest, menghindari
kegiatan yang dapat menimbulkan prasangka terhadap kemampuan mereka dalam
menjunjung etika. Praktisi manajemen akuntansi dan manajemen keuangan memiliki
tanggung jawab untuk:

Menghindari adanya konflik akrual dan menyarankan semua pihak agar terhindar
dari potensi konflik.

Menahan diri dari agar tidak terlibat dalam kegiatan apapun yang akan
mengurangi kemampuan mereka dalam menjalankan tigas secara etis.

Menolak berbagai hadiah, bantuan, atau bentuk sogokan lain yang dapat
mempengaruhi tindakan mereka.

Menahan diri dari aktivitas negati yang dapat menghalangi dalam pencapaian
tujuan organisasi.

Mampu mengenali dan mengatasi keterbatasan profesional atau kendala lain yang
dapat menghalagi penilaian tanggung jawab kinerja dari suatu kegiatan.

Mengkomunikasikan informasi yang tidak menguntungkan serta yang


menguntungkan dalam penilaian profesional.

Menahan diri agar tidak terlibat dalam aktivitas apapun yang akan
mendiskreditkan profesi.

4. Objektivitas (Objectifity)

Mengharuskan para akuntan untuk mengkomunikasikan informasi secara


wajar dan objektif, mengungkapan secara penuh (fully disclose) semua informasi
relevan yang diharapkan dapat mempengaruhi pemahaman user terhadap pelaporan,
komentar dan rekomendasi yang ditampilkan. Praktisi manajemen akuntansi dan
manajemen keuangan memiliki tanggung jawab untuk:

Mengkomunikasikan atau menyebarkan informasi yang cukup dan objektif.

Mengungkapkan semua informasi relevan yang diharapkan dapat memberikan


pemahaman akan laporan atau rekomendasi yang disampaikan.
2.3 Kasus

Toshiba telah berkiprah dalam industry teknologi di seluruh dunia sejak tahun
1875, itu artinya selama 140 tahun Toshiba telah mampu mencuri hati masyarakat di
seluruh dunia dengan produk yang berkualitas, brand image yang tangguh, dan layanan
pelanggan yang excellent. Reputasi yang bagus itu kini hancur berantakan hanya
karena pressure yang sangat tinggi untuk memenuhi target performance unit.

Kasus ini bermula atas inisiatif Pemerintahan Perdana Menteri Abe yang
mendorong transparansi yang lebih besar di perusahaan-perusahaan Jepang untuk
menarik lebih banyak investasi asing. Atas saran pemerintah tersebut, Toshiba menyewa
panel independen yang terdiri dari para akuntan dan pengacara untuk menyelidiki
masalah transparansi di Perusahaannya. Betapa mengejutkannya bahwa dalam laporan
300 halaman yang diterbitkan panel independen tersebut mengatakan bahwa tiga direksi
telah berperan aktif dalam menggelembungkan laba usaha Toshiba sebesar 151,8 miliar
(setara dengan Rp 15,85 triliun) sejak tahun 2008.

Panel yang dipimpin oleh mantan jaksa top di Jepang itu, mengatakan bahwa
eksekutif perusahaan telah menekan unit bisnis perusahaan, mulai dari unit personal
computer sampai ke unit semikonduktor dan reaktor nuklir untuk mencapai target laba
yang tidak realistis. Manajemen biasanya mengeluarkan tantangan target yang besar itu
sebelum akhir kuartal/tahun fiskal. Hal ini mendorong kepala unit bisnis untuk
menggoreng catatan akuntansinya. Laporan itu juga mengatakan bahwa penyalahgunaan
prosedur akuntansi secara terus-menerus dilakukan sebagai kebijakan resmi dari
manajemen, dan tidak mungkin bagi siapa pun untuk melawannya, sesuai dengan budaya
perusahaan Toshiba.

Akibat laporan ini CEO Toshiba, Hisao Tanaka, mengundurkan diri, disusul
keesokan harinya pengunduran diri wakil CEO Toshiba, Norio Sasaki. Selain itu
Atsutoshi Nishida, chief executive dari tahun 2005 sampai dengan tahun 2009 yang
sekarang menjadi penasihat Toshiba juga mengundurkan diri. Panel tersebut mengatakan
bahwa Tanaka dan Sasaki tidak mungkin tidak tahu atas praktik penggorengan laporan
keuangan ini. Penggorengan ini pasti dilakukan secara sistematis dan disengaja.
Saham Toshiba turun sekitar 20% sejak awal April ketika isu akuntansi ini
terungkap. Nilai pasar perusahaan ini hilang sekitar 1,67 triliun (setara dengan RP174
triliun). Badan Pengawas Pasar Modal Jepang kemungkinan akan memberikan hukuman
pada Toshiba atas penyimpangan akuntansi tersebut dalam waktu dekat ini.

Kesalahan dari Toshiba

Manajemen Toshiba memberlakukan kebijakan target performance bagi


perusahaannya, dimana perusahaan dituntut untuk memenuhi target yang telah ditetapkan.
Hal ini menimbulkan tekanan didalam lingkungan kerja Toshiba serta menyebabkan rasa
bersalah dalam diri para manajer divisi apabila target yang telah ditetapkan tersebut tidak
dapat dicapai. Bangsa Jepang dikenal sebagai bangsa yang menjunjung tinggi kehormatan
diri, sehingga apabila target yang telah ditetapkan oleh manajemen tidak dapat dicapai,
maka mereka merasa rendah diri dan merasa telah gagal. Selain karena masalah
kebudayaan, para manajer ini juga ingin mendapatkan bonus yang besar dari sistem target
performance yang diberlakukan oleh Manajemen Toshiba ini. Muncullah niat dari para
oknum ini untuk menggelembungkan revenue/profit yang diperoleh Toshiba sehingga
mereka dapat mendapatkan bonus yang besar dan membuat seolah-olah perusahaan
Toshiba mengalami kemajuan yang sangat pesat.

Kesalahan/flaw berikutnya dari manajemen Toshiba adalah kurangnya


pengawasan secara langsung atasan kepada bawahan mereka, sehingga ketika para oknum
di Toshiba ini menggelembungkan pendapatan Toshiba, Manajemen tidak mengetahui hal
ini dan malah memberikan bonus kepada para oknum tersebut. Manajemen juga terlalu
mempercayai para oknum yang menggelembungkan pendapatan Toshiba ini sehingga
tidak pernah melakukan inspeksi atas keabsahan pendapatan yang mereka peroleh.

Dalam kasusnya, Hisao Tanaka adalah seorang yang telah menjabat di toshiba
sebagai Presiden Eksekutif dan Chief Executive Officer (CEO). Perusahaan toshiba
sendiri sudah berdiri selama 140 tahun namun hancur begitu saja dikarnakan perilaku
etika yang tidak baik yang dilakukan tanaka, karena pangkat yang tinggi dan mempunyai
kewenangan atas data yang diberikan untuk di laporkan namun menyalah gunakan data
tersebut untuk mendapatkan keuntungan dalam perusahaan dikarenakan target yang tidak
tercapai. Ia bertanggung jawab atas perbuatannya dengan cara mengundurkan diri dari
jabatannya pada tanggal 21 juni 2015 dengan kasus toshiba yang melebihkan keuntungan
senilai US$ 1,2 Miliar untuk menutupi yang kurang dalam pencapaian target dikarenakan
pressure yang sangat tinggi untuk memenuhi target performance unit tidak dapat sesuai
target yang diharapkan sehingga terlihat adanya angka besar dilaporan tersebut sebagai
keuntungan yang didapat oleh perusahaan demi menghindari dari kebangkrutan.

Tidak hanya Hisao Tanaka selaku Presiden dan CEO yang mengundurkan diri,
pihak lain yang terlibat pada kasus ini seperti wakil CEO toshiba yaitu Norio Sasaki dan
Atsutoshi Nishida selaku Chief Executive yang sekarang menjadi penasihat toshiba juga
mengundurkan diri. Tanaka dan Sasaki ditekan divisi bisnis untuk memenuhi target yang
tinggi sehingga mereka melebihi laba dan menenunda pelaporan kerugian, mereka
merancang laporan ini agar sulit diketahui oleh auditor. Investigasi independen
sebenernya menemukan bahwa pihak manajemen berbohong mengenai jumlah
keuntungan yang mereka dapatkan selama lebih dari 6 tahun karena ingin memenuhi
target internal perusahaan setelah terjadi krisis finansial tujuh tahun lalu. Akibat
tindakannya yang dipandang negatif itu toshiba akan dijatuhkan denda senilai 300-400
miliar yen karena kasus ini dan toshiba pun berencana untuk menjual properti dan aset
lain mereka untuk menstabilkan neraca keuangan mereka.

Manajemen Berbasis Kinerja

Target yang terlalu tinggi, dan tekanan atas pencapaian target tersebutlah yang
menyebabkan skandal ini terjadi. Dalam akuntansi manajemen, hal ini disebut dengan
akuntansi pertanggungjawaban, yaitu bagaimana kepala unit bisnis melaporkan
pencapaian kinerjanya atas tanggung jawab yang diberikan manajemen puncak
perusahaan kepadanya.Tidak ada yang salah sebenarnya dalam praktik akuntansi
pertanggungjawaban ini, malah dianjurkan untuk menciptakan kinerja yang lebih baik,
namun kesalahannya terletak pada tumpuan penilaian kinerja semata-mata hanya pada sisi
kinerja keuangan. Meskipun kita mengenal ada empat perspektif kinerja dalam balance
score card(keuangan, pelanggan, proses bisnis internal dan pertumbuhan dan
pembelajaran), namun dalam kenyataannya tetap perspektif keuangan selalu yang
didewakan.

Tidak hanya di Jepang, Amerika atau negara barat lainnya, di Indonesiapun


praktik manajemen berbasis kinerja ini sering banyak disalahgunakan. Praktik
sederhananya adalah manajemen puncak memberikan target yang luar biasa tinggi kepada
unit bisnis dibawahnya, sebenarnya manajemen puncak mengetahui bahwa target itu
sangat tidak realistis, namun sengaja ia berikan agar memacu unit bisnis menghasilkan
yang lebih banyak lagi melebihi target normal, agar target yang dibebankan kepadanya
bisa dicapai. Atau contoh sederhananya begini: dewan komisaris (BOC) memberikan
target pertumbuhan 10% kepada dewan direksi (BOD) perusahaan, selanjutnya BOD
memberikan target 12% kepada setiap unit bisnis dibawahnya, untuk mengamankan agar
pencapaiannya yang 10% itu dapat dengan mudah dipenuhi, selanjutnya kepala unit bisnis
memberikan target yang lebih tinggi lagi misal sebesar 15% kepada manajer divisi
dibawahnya lagi, demikian seterusnya.

Praktik ini sebenarnya normal terjadi, namun tekanan dan punishment dari atasan
agar target tercapai itulah yang membuat unit bisnis mengakali laporannya. Cara
gampangnya adalah dengan memberikan laporan yang salah alias laporan ABS (Asal
Bapak Senang) seperti pada kasus Toshiba ini.

2.4 Kronologis kasus

February 12, skandal kasus toshiba dimulai dari adanya investigasi mengenai
metodelogi akuntansi oleh SESC (Securities and Exchange Surveillance Commision).

April 3 investigasi internal mengatakan menyelidik kemungkinan akuntansi yang


tidak tepat, kurangnya pelaporan biaya proyek sd Maret 2014.

8 Mei - Perluas penyelidikan, membentuk komite independen, Membatalkan


pembayaran dividen, menarik diri prospek pendapatan.

13 Mei - kemungkinan turunnya laba operasi selama tiga tahun sampai Maret 2014
setidaknya 50 miliar yen.

15 Mei - meluncurkan komite independen yang dipimpin oleh mantan jaksa untuk
memperluas penyelidikan.

22 Mei - Memperpanjang penyelidikan lebih dari tiga unit bisnis.

26 Mei - mengajukan tenggang waktu atas pengajuan surat berharga tahunan.

27 Mei - Mempertimbangkan dividen khusus untuk mengkompensasi investor setelah


melewatkan pembayaran akhir tahun karena untuk penyelidikan.
29 Mei Pengumuman penyelidikan akan berakhir pada pertengahan Juli,
memperoleh persetujuan untuk merilis laporan tahunan pada akhir agustus, dan Q1
pada 14 September 2015.

12 Juni investigasi internal menemukan adanya pencatatan yang tidak tepat sebesar
3,6 miliar yen. Penyelidikan itu, berjalan sejajar dengan penyelidikan pihak ketiga,
ditemukan 12 kasus penyimpangan, termasuk tidak membuat ketentuan untuk kontrak
dibatalkan, menunda pencatatan biaya dan meremehkan biaya bahan.

25 Juni - CEO mengatakan dapat menunjuk lebih anggota dewan luar untuk
meningkatkan pengawasan rekening.

9 Juli - Mempertimbangkan menjual aset termasuk saham di Westinghouse Electric

16 Juli - Komite independen melihat adanya keterlibatan manajemen atas untuk


bermain dalam skandal akuntansi.

20 Juli Batas akhir komite independen untuk menyampaikan laporan kepada


perusahaan

21 Juli - Melepaskan seluruh laporan dan mengadakan konferensi pers.

2.5 Analisis Kasus

Perilaku Etika Dalam Bisnis

Perilaku etika bisnis pada kasus skandal akuntansi thosiba yang dilakukan CEO
dan presiden tanaka tahun 2015 dengan penyimpangan pencatatan keuntungan
perusahaan sebesar 1,2 miliar dollar AS ini mencerminkan perilaku yang kurang baik.
Dilihat dari etika pada kasus ini adanya tindakan kecurangan dalam pembuatan laporan
keuangan dengan begitu mudahnya mereka menaikan laba operasional. Hal ini karena
adanya keinginan tanaka untuk membuat perusahaan seakan-akan sudah memenuhi
performance unit yang sesuai dengan target dan seakan - akan tidak terlihat bahwa ada
target yang tidak tercapai. Seharusnya Tanaka memikirkan kembali apa yang
dilakukannya salah atau benar karena akibatnya membuat banyak pihak yang kecewa
bahkan dirinya sendiri akan mendapatkan kerugian.

Perilaku Etika Dalam Profesi Akuntasi


Pada kasus ini laporan keuangan yang dihasil pihak manajemen tidak sesuai
dengan pernyataan hal ini terbukti saat investigasi independen sebenarnya menemukan
bahwa pihak manajemen berbohong mengenai jumlah keuntungan yang mereka dapatkan
selama lebih dari 6 tahun dikarenakan ingin memenuhi target internal perusahaan setelah
terjadi krisis finansial tujuh tahun lalu. Namun adanya kelihaian pihak manajemen dalam
memanipulasi laporan keuangan membuat pihak auditor sulit menemukan adanya
kecurangan pada laporan keuangan tersebut sehingga butuh waktu cukup lama untuk
mengindentifikasi kasus ini dikarenakan ketidaktelitian auditornya.

Adanya audit pada laporan keuangan sangatlah perlu dilakukan untuk


meningkatkan kredibilitas perusahaan agar mendapatkan laporan keuangan yang dapat
dipercaya. Pelanggaran kode etik yang dilakukan hisao tanaka dan perusahaan tosibha
terlambat untuk menangani laporan keuangan sangatlah tidak baik bagi perusahaan.
Sangatlahlah mudah untuk mempertahankan etika profesi dengan baik, jika saja dalam
dirinya itu bisa terkendali untuk tidak melakukan perbuatan yang tidak bermoral itu, akan
tetapi pada kasus ini tanaka menyalah gunakan kode etik sebagai pimpinan toshiba, hal
ini dapat merusak reputasi perusahaan bahkan dirinya sendiri.

Aturan Etika Profesi Akuntansi


Tujuan profesi akuntansi adalah memenuhi tanggung jawabnya dengan standar
profesionalisme tertinggi, untuk mencapai tujuannya dapat dilihat 4 kebutuhan dasar
yang harus dipenuhi :
Kreabilitas
Pada kasus hisao tanaka ini tidak memenuhi kreadibilitas dengan baik karena telah
membuat laporan keuangan agar terlihat adanya keuntungan di dalam perusahaan.
Profesionalisme
Pada kasus ini presiden sekaligus CEO tidak menjalankan tugasnya dengan baik atau
secara profesionalisme bahkan melakukan perbuatan yang menguntungkan saja
dengan cara menambahkan laba pada laporan keuangan.
Kualitas Jasa
Kuranganya pelayanan dan jasa pada bagian pengawasan auditor pada laporan
keuangan.
Kepercayaan
Hisao Tanaka pada dasarnya di toshiba sudah mendaptkan kepercayaan dari caranya
bekerja dan telah memiliki reputasi diperusahan dengan baik, akan tetapi dikarenakan
pada tahun tertentu ia harus mencapai target dan ternyata kurangnya target yang
diharapkan sangatlah besar maka dari itu ia melakukan penambahan laba pada laporan
keuangan dan tidak lagi dipercayai sehingga ia bertanggung jawab atas kasus ini dan
mengundurkan diri.

Prinsip Etika Profesi

1. Tangggung Jawab Profesi

Dalam kasus ini pihak auditor yang kurang berhati-hati saat mengaudit
laporannya dan pihak direksi seharusnya lebih bisa berhati-hati lagi untuk tidak
melakukan kecurangan menutupi kerugian karena tindakan tersebut merugikan
banyak pihak seperti hilangnya kepercayaan masyarakat terhadap perusahaan maupun
profesinya sendiri.

2. Kepentingan Publik

Pada kasus hisao tanaka kurangnya pelayanan publik dan tidak adanya
komitmen pada profesi yang menunjukkan sikap profesionalisme, untuk menjaga
sikap profesionalisme yang baik seorang CEO dan presiden seharusnya mempunyai
sikap yang bertanggung jawab dan jujur, dan sebagai auditor harus lebih bisa teliti
agar tercipta laporan keuangan yang lebih accountable, good corporate govermance,
dan akan mendapatkan kepercayaan para stake holder.

3. Integritas
Integritas mengharuskan para pihak untuk bersikap jujur dan berterus terang
tanpa harus mengorbankan rahasia penerima jasa. Tidak adanya kejujuran pada kasus
ini walaupun niatnya baik untuk melindungi perusahaan dari kerugiaan namun cara
presiden itu salah.
4. Kompetensi Dan Kehati-Hatian Profesional
Pada kasus ini penyajian laporan keuangan seharusnya mempunyai sikap
kehati-hatian dalam menyajikan laporan keuangan.

5. Perilaku Profesional
Sebagai presiden dan CEO hisao hataka seharusnya berprilaku konsisen sesuai
reputasi profesinya dengan baik dan menjauhi tindakan yang seharusnya tidak boleh
dilakukan, namun pada kasus ini hataka bertanggung jawab dengan mengundurkan
diri dikarenakan kesalahannya.

2.6 Solusi

Dalam kasus skandal akuntansi di dalam Toshiba Corporation ini menunjukan


perilaku bisnis yang kurang baik. Dilihat dari etika pada kasus ini adanya tindakan
kecurangan dalam pembuatan laporan keuangan dengan menaikan laba operasional.
Dalam menciptakan etika bisnis yang baik dikasus ini ada hal-hal yang perlu diperhatikan
antara lain:

1. Pengendalian Diri

Pencapaian target dalam suatu perusahaan sangatlah penting untuk


meningkatkan laba bagi perusahaan. Akan tetapi jika belum mencapai target
seharusnya Hisao Tanaka dan pihak yang terkait dalam kasus ini harusnya menahan
diri untuk melakukan niat tersebut, Agar kasus yang salah ini dapat terhindari.

2. Pengembangan Tanggung Jawab Sosial (Sosial Responsibility)

Dilihat dari pengembangan tanggung jawab sosialnya, para pihak yang terkait
dalam penyimpangan pencatatan ini tidak dapat memegang tanggung jawab sosialnya
yang telah diberikan masyarakat kepada perusahaan toshiba karena hanya
mementingkan dirinya pribadi sehingga berani melakukan penyimpangan pencatatan
keuntungan pada perusahaan.

3. Mempertahankan Jati Diri Tidak Mudah Untuk Terombang-Ambing Oleh Pesatnya


Perkembangan Informasi Dan Teknologi
Dalam kasus ini penyimpangan pencatatan toshiba selaku CEO dan presiden
Hisao Tanaka seharusnya dapat mempertahankan jadi dirinya sebagai CEO dan
Presiden yang seharusnya dijalankan dengan benar dengan tidak memanipulasi data
laporan keuangan.

4. Menerapkan Konsep Pembangunan Berkelanjutan

Pada kasus ini Hasao Tanaka tidak memikirkan karir yang dimiliki toshiba
selama 140 tahun yang dpercaya banyak masyarakat bahkan karir untuk pelakunya
sendiri pun tidak memikirkan nantinya bagaimana dimasa yang akan datang, mereka
hanya melihat masalah sekarang yang terpenting terselesaikan walaupun dengan cara
yang salah.

5. Menghindari Sifat 5K (katabelece, kongkalikong, koneksi, kolusi dan komisi)

Dalam kasus penyimpangan pencatatan 5k ini pasti tidak dapat terhindari


dikarenakan tidak adanya jalan lain untuk pencapaian target yang diharapkan agar
tidak mendapatkan kerugian yang besar maka mereka bekerja sama dengan koneksi
dilingkungan yang berhak memegang laporan keuangan tersebut dengan cara
memperbesar laba operasional dan bekerjasma dengan berbagai pihak dalam
melakukan tindakan 5K tersebut.

6. Mampu Menyatakan Yang Benar Itu Benar

Pada kasus ini CEO dan Presiden Hisao Tanaka memanipulasi data toshiba
dikarenakan persyaratan untuk memenuhi performance unit yang tidak bisa terpenuhi,
Maka dari itu CEO dan Presiden Hisao Tanaka bekerja sama untuk memanipulasi data
laporan keuangan dan memaksakan diri untuk mencapai profit yang tinggi, tanpa
memandang benar atau salah cara yang dilakukannya.

7. Konsekuen dan Konsisten Dengan Aturan Main Yang Telah Disepakati Bersama

Pada kasus ini tidak adanya etika bisnis yang konsekuen dan konsisten dari
para pihak karena CEO dan presiden Hisao Tanaka sudah melakukan kecurangan
demi kepentingan pribadi walaupun tujuannya baik untuk menyelamatkan perusahaan
toshiba dari performance unit yang tidak terpenuhi.

8. Menumbuhkan Kesadaran Dan Rasa Memiliki Terhadap Apa Yang Disepakati

Apabila pada kasus ini para pihak yang terkait mempunyai kesadaran bahwa
dirinya ikut andil dalam perusahaan untuk memajukan dan mematuhi apa yang telah
disepakati, maka akan menghasilkan profit seperti yang ditargetkan dan tetap akan
mendapatkan kepercayaan dari masyarakat.

9. Perlu Adanya Sebagian Etika Bisnis yang dituangkan dalam suatu hukum positif yang
berupa peraturan perundang-undangan

Dalam setiap profesi pasti memiliki aturan atau pedoman yang harus di patuhi.
Pada kasus ini para pihak yang bersalah mungkin belum telalu mengenal etika bisnis
yang baik jadi mereka belum paham dengan aturan dan pedoman yang telah
ditetapkan, sehingga apa yang dilakukan mereka menurutnya hanyalah hal biasa dan
tidaknya ketegasan aturan yang ada maka banyak orang yang melakukan terus
menurus kesalahan pada kasus ini.

Cara Baru Pengawasan

Kasus akuntansi Toshiba ini tidak akan mungkin muncul ke permukaan, jika
komisaris (Chairman) Toshiba tidak melakukan inistiatif membentuk panel independen
ini, artinya jika dengan pengawasan biasa saja (internal audit atau komite audit), hal ini
pasti tidak terdeteksi. Demikian juga peran OJK nya Jepang yang tidak mampu
mendeteksi kasus ini, dengan beranekaragam regulasi yang dikeluarkan OJK ternyata
masih belum mampu mencegah terjadinya praktik kecurangan akuntansi pada perusahaan
terdaftar di bursa, ini juga patut dipertanyakan.

Hal yang sama terjadi juga pada eksternal auditor Toshiba yang juga tidak mampu
menemukan kecurangan akuntansi ini. Audit independen saja tidak mampu
menemukannya bagaimana dengan internal audit atau OJK? Perlu dipikirkan cara baru
pengawasan untuk mencegah hal ini terulang lagi, mungkin semacam inspeksi dari
komisaris perusahaan atau dari regulator (jika perusahaan terbuka). Inpeksi atau
pemeriksaan khusus bisa dilakukan kapan saja dengan waktu yang tidak tentu.
Pemeriksaan khusus (inpeksi) ini harus dituangkan dalam peraturan resmi (peraturan OJK
atau peraturan pemerintah) agar semua perusahaan melakukannya secara bersama,
termasuk didalamnya siapa yang menanggung biaya inspeksi ini. Dengan penerapan
pengawasan berlapis ini tentunya akan tercipta laporan keuangan yang
lebih accountable, good corporate governance, dan tentunya kepercayaan para stake
holder (termasuk didalamnya investor) akan semakin tinggi.

Penyelesaian kasus ini terjadi setelah berjuang selama 4 bulan secara terus
menerus dengan kembali ke meja perundingan, akhirnya tercapai penyelesaian dengan
diterimanya kembali 697 pekerja, kecuali 15 pimpinan local union.Perselisihan industri
Toshiba akhirnya diputuskan pada tanggal 22 Agustus setelah beberapa lama berjuang
dan bernegosiasi.

Manajemen toshiba memecat dan merumahkan 697 pekerja, termasuk 15


pimpinan serikat pekerja. Federasi Serikat Pekerja Metal Indonesia sebagai anggota dari
afiliasi IMF pada tanggal 16 April memberikan dukungan dalam penyelesaian
perselisihan selama proses negosiasi pekerja berlangsung. Pada Kongres IMF di bulan
Mei dikeluarkan RESOLUSI untuk mendukung penuh perjuangan FSPMI dan pekerja
toshiba dan mengutuk tindakan pengusaha toshiba yang mengacuhkan hak-hak pekerja.

Setelah IMF dan afiliasinya berusaha untuk melawan induk manajemen toshiba,
sebuah terobosan berhasil dilakukan ketika delegasi IMF-JC, Denki-Rengo dan Serikat
Pekerja Toshiba Jepang datang di Jakarta pada 23 Juli dan membujuk manajemen untuk
bernegosiasi dengan serikat pekerja atas dasar saling percaya.

Melalui inisiatif ini manejemen akhirnya setuju untuk menyelesaikan perselisihan


dengan Federasi Serikat Pekerja Metal Indonesia melalui negosiasi, yang berawal pada 23
Juli. Memorandum Persetujuan ditanda tangani pada 22 Agustus dengan beberapa poin
sebagai berikut:

Seluruh 697 pekerja, kecuali pimpinan serikat pekerja segera dipekerjakan kembali.

Seluruh pimpinan serikat pekerja diminta resign dengan kompensasi yang setimpal.

Komite serikat pekerja yang baru akan dipilih dan dipercaya untuk mengumpulkan
kembali collective bargaining untuk membuat perjanjian kerja yang baru.
Persetujuannya berisi bahwa Aghni Dhamayanti, Ketua Serikat Pekerja/anggota
Komite Eksekutif IMF, dan Vonny Diananto, Senior Vice Presiden FSPMI akan
kehilangan pekerjaan/jabatannya bersama 13 pimpinan serikat pekerja yang lain.
Keduanya, Vonny dan Aghni akan bekerja sebagai FSPMI officer termasuk bekerja
dengan serikat pekerja yang baru dibentuk di perusahaan toshiba untuk mendorong
kepemimpinan yang baru akan dibentuk.

FSPMI melakukan mogok kerja setelah manajemen Toshiba menolak untuk


mendaftarkan perjanjian kerja bersama yang saling menguntungkan. Pekerja melakukan
aksi damai dan legal pada bulan April dan toshiba tiba-tiba melakukan pemberhentian
kerja sepihak para pekerja, sebagian dari mereka adalah pekerja wanita yang sudah
bekerja sejak perusahaan berdiri 12 tahun yang lalu.

Toshiba merespon mogok kerja tersebut dengan menghentikan jaminan kesehatan


dan pembayaran gaji karyawan, yang menyebabkan penderitaan pekerja. Bahkan salah
satu pekerja meninggal dunia karena ketidakmampuannya mendapatkan pelayanan medis
yang memadai selama aksi mogok berlangsung. Departemen Tenaga Kerja meminta
toshiba segera mempekerjakan kembali karyawan dengan gaji penuh, tapi toshiba tidak
mengindahkannya.

Pada bulan Juli IMF mengumpulkan dana bagi pekerja dimana IMF secara
bermurah hati memberikan kontribusinya. Dengan kontribusi ini FSPMI mampu
memberikan tiga kali makan sehari bagi pekerja dan keluarganya dan membayar biaya
perobatan bagi mereka.

2.7 Status perusahaan setelah kasus terjadi

Perusahaan Toshiba ini sudah dilaporkan ke pengadilan dan dituntut oleh sekitar
15 grup dan individual sejak pertama kali mengakui adanya kesalahan perhitungan
akuntansi, yang dilakukan sejak 2008. Salah satu lembaga yang menuntut Toshiba adalah
lembaga pensiun Jepang, GPIF. Lembaga ini bahkan memiliki saham di Toshiba untuk
mendorong return-nya. Pelaporan oleh sejumlah investor tersebut merupakan jumlah
tuntutan terbesar. Sebelumnya, semua tuntutan kompensasi ke Toshiba jumlahnya hanya
15,3 miliar yen saja.
Pabrikan elektronik asal Jepang, Toshiba, memproyeksikan kerugian mencapai 4,5
miliar dollar AS (sekitar Rp 60 triliun) pada tahun ini, seiring dengan terbongkarnya
kasus skandal akuntansi. Sebagaimana dikutip dari CNN Money, Selasa (22/12/2015),
kerugian tersebut lebih besar dari yang diperkirakan para analis, dan mencapai enam kali
lipat dari kerugian yang dibukukan pada paruh pertama tahun ini sebesar 90,5 miliar yen
atau 734 juta dollar AS.

Kerugian terbesar muncul dari biaya restrukturisasi. Hal lain yang juga
menyumbang kerugian perseroan adalah buruknya kinerja divisi energi dan elektronik,
serta besarnya pajak yang harus dibayar. Perusahaan Toshiba telah memangkas sekitar
6.800 karyawan yang berada pada divisi elektronik konsumer pada akhir Maret serta
memberhentikan 1.000 karyawan yang bekerja di kantor pusat.

Langkah lain yang ditempuh adalah menutup bisnis audio visual di berbagai
negara kecuali di Jepang serta fokus pada lisensi merek yang ada di luar negeri.
Pada perdagangan kemarin saham Toshiba anjlok hingga 10 persen sebagai bentuk
antisipasi investor terhadap rencana reorganisasi perusahaan. Saat ini Perusahaan Toshiba
tengah berjuang untuk memulihkan kepercayaan, pasca-terbongkarnya skandal akuntansi
berupa penggelembungkan keuntungan perusahaan.Saham perusahaan telah turun hingga
50 persen sepanjang tahun ini dan memaksa CEO Toshiba Hisao Tanaka mengundurkan
diri pada Juli silam.
BAB III

PENUTUP

KESIMPULAN

Kasus Toshiba bukanlah yang pertama di Jepang atau dunia. Toshiba melakukan
berbagai cara baik mengakui pendapatan lebih awal atau menunda pengakuan biaya pada
periode tertentu namun dengan metode yang menurut investigator tidak sesuai dengan
prinsip akuntansi. Seperti kesalahan penggunaan percentage of completionuntuk
pengakuan pendapatan proyek, cash based ketika penggunaan provisi yang seharusnya
dengan metode akrual memaksa supplier menunda penerbitan tagihan meski pekerjaan
sudah selesai. Manajemen biasanya mengeluarkan tantangan target yang besar itu
sebelum akhir kuartal/tahun fiskal.

Hal ini mendorong kepala unit bisnis untuk menggoreng catatan akuntansinya.
Laporan itu juga mengatakan bahwa penyalahgunaan prosedur akuntansi secara terus-
menerus dilakukan sebagai kebijakan resmi dari manajemen. Scandal ini juga disebabkan
oleh budaya PT. Toshiba yang kurang baik tidak bisa melawan atasan. Maksudnya
melawan adalah koreksi atas kesalahan manajemen mengambil keputusan. Dari sini lah
karyawan PT. Toshiba meng-akal-akali laporan keuangan agar terlihat profit, padahal
tidak mencerminkan keuangan yang sebenarnya.

DAFTAR PUSTAKA

http://budhanandamunidewi.blogspot.co.id/2014/07/seputar-akuntansi-manajemen-praktik-
dan.html
https://fannyanisha.wordpress.com/2015/12/25/etika-dalam-akuntansi-keuangan-dan-
akuntansi-manajemen/
http://finansial.bisnis.com/read/20150721/9/455185/toshiba-diguncang-skandal-akuntansi-
senilai-us12-miliar
http://profil.merdeka.com/mancanegara/t/toshiba/
https://akuntansiterapan.com/2015/07/22/toshiba-accounting-scandal-runtuhnya-etika-
bangsa-jepang-yang-sangat-diagungkan-itu/
http://ekonomi.kompas.com/read/2015/07/21/161317026/.Bos.Toshiba.Dilaporkan.Terlibat.S
kandal.Penyimpangan.Akuntansi.
http://agnisnovianinoor.blogspot.co.id/2015/11/runtuhnya-profesi-ceo-toshiba_10.html