Anda di halaman 1dari 12

KATA PENGANTAR

Puji syukur sayapanjatkan kehadirat Allah SWT karena dengan rahmat, karunia, serta
taufik dan hidayah-Nya sayadapat menyelesaikan makalah tentang Sejarah Ibu Kartini
dengan baik meskipun banyak kekurangan didalamnya. Dan juga saya berterima kasih Guru
Bidang Studi KKPI yang telah memberikan tugas ini kepada kami.
Saya sangat berharap makalah ini dapat berguna dalam rangka menambah wawasan serta
pengetahuan.
Saya juga menyadari sepenuhnya bahwa di dalam makalah ini terdapat kekurangan dan
jauh dari kata sempurna. Oleh sebab itu, saya berharap adanya kritik, saran dan usulan demi
perbaikan makalah yang telah saya buat di masa yang akan datang, mengingat tidak ada
sesuatu yang sempurna tanpa saran yang membangun.
Semoga makalah sederhana ini dapat dipahami bagi siapapun yang membacanya.
Sekiranya laporan yang telah disusun ini dapat berguna bagi saya sendiri maupun orang yang
membacanya. Sebelumnya saya mohon maaf apabila terdapat kesalahan kata-kata yang kurang
berkenan dan saya memohon kritik dan saran yang membangun dari Anda demi perbaikan
makalah ini di waktu yang akan datang.

Wasssalam,
Penyusun

ii
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR .................................................................................................. i


DAFTAR ISI ................................................................................................................ ii
BAB I PENDAHULUAN ........................................................................................... 1
1.1 Latar Belakang ...................................................................................................... 1
1.2 Rumusan Masalah ................................................................................................. 1
1.3 Tujuan Penulisan ................................................................................................... 1
1.4 Sistematika ........................................................................................................... 1

BAB II PEMBAHASAN ............................................................................................ 2


2.1 Biografi RA Kartini ............................................................................................... 2
2.2 Riwayat RA Kartini ............................................................................................... 3
2.3 Dorongan RA Kartini dalam bidang wirausaha bagi wanita ................................. 7

BAB III PENUTUP .................................................................................................... 8


3.1 Kesimpulan ............................................................................................................. 8
3.2 Saran ....................................................................................................................... 8

DAFTAR PUSTAKA ................................................................................................... 9

ii
3
BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Wanita berdikari atau wanita berwirausaha sudah sejak lama menjadi pemikiran dan isi
hati Ibu Kartini. Dunia bisnis atau dunia wirausaha bukan milik kaum Adam semata sebagai
pemain tunggal, tapi dunia ini sudah menjadi trend masa kini buat wanita. Jumlah wanita yang
terjun di dunia wirausaha tidaklah sedikit. Bahkan tidak jarang di berbagai perusahaan besar,
wanitalah yang memegang peranan penting sebagai pucuk pimpinan. Inilah kenyataannya
bahwa wanita bisa disejajarkan dengan pria dari segi bisnis.
Diungkapkan oleh DR. Suparman Sumahamijaya (1980:96): Sesungguhnya Ibu Kartini
telah merintis pendidikan mandiri bagi wanita sejak beliau berumur 16 tahun, sejak sekitar
tahun 1893. Hal ini dapat dibuktikan dari hampir semua tulisan Ibu Kartini yang termuat di
dalam kumpulan surat-suratnya yang dibukukan dengan judul Door Duisternis Tot Licht,
dimana hampir setiap halaman surat-suratnya penuh dengan kata-kata perlunya pengembangan
watak dan pembentukan watak di atas pendidikan otak. Karena dengan pembentukan watak,
Ibu Kartini yakin manusia akan lebih mampu untuk berdiri sendiri, tidak bergantung dari
kerabat dan dari siapapun. Berkali-kali ditekankan perlunya kepercayaan pada diri sendiri.

1.2. Rumusan Masalah


1. Bagaimanakah Riwayat Singkat RA. Kartini
2. Bagaiamanakah Dorongan RA Kartini dalam bidang Kewirausahaan bagi kaum Wanita?

1.3. Tujuan Penulisan


Makalah ini disusun untuk memenuhi Tugas Mata Kuliah Jasa Kewirausahaan Sekolah
Tinggi Agama Islam (STAI) Sebelas April Sumedang, juga tujuan penulis agar mengetahui,
paham dan dapat mengembangkannya dalam keseharian.
1.4. Sistematika
Makalah ini dibuat dengan sistematika penulisan sebagai berikut:

4
BAB II
PEMBAHASAN

2.1. Biografi RA. Kartini


Raden Adjeng Kartini atau sebenarnya lebih tepat disebut Raden Ayu
Kartini adalah seorang tokoh dari suku Jawa dan Pahlawan Nasional Indonesia. Kartini
dikenal sebagai pelopor kebangkitan perempuan di Indonesia.
Raden Adjeng Kartini adalah seseorang dari kalangan priyayi atau kelas bangsawan
Jawa. Ayahnya bernama Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat, bupati Jepara. Ibunya
bernamaM.A. Ngasirah (Istri Pertama namun bukan istri Utama)*.
Kartini adalah anak ke-5 dari 11 bersaudara kandung dan tiri. Dari semua saudara
sekandung, Kartini adalah anak perempuan tertua. Kakeknya adalah Pangeran Ario
Tjondronegoro IV, yang diangkat sebagai bupati dalam usia 25 tahun. Kakak Kartini
bernama Sosrokartono, adalah seorang yang pintar dalam bidang bahasa.
Berikut ini adalah biodata lengkap Raden Ajeng Kartini atau lebih dikenal dengan sebutan
R.A Kartini atau Ibu Kartini:
Nama Lengkap : Raden Ajeng Kartini
Tanggal Lahir : 21 April 1879
Tempat Lahir : Jepara, Jawa Tengah
Meninggal : 17 September 1904
Kartini bersekolah hingga usia 12 tahun di ELS Europese Lagere School). Setelah 12
tahun, beliau harus tinggal dirumah untuk dipingit**. Dalam masa pingitan, Kartini kemudian
belajar sendiri di rumah. Dengan bekal kemampuannya berbahasa Belanda, Kartini kemudian
menjalin hubungan korespondensi dengan teman-teman dari negeri Belanda. Dari hubungan
surat-menyurat itulah Kartini banyak tertarik dengan pemikira-pemikiran maju perempuan
Eropa. Dari titik inilah semua berawal, dari sebuah pemikiran seorang perempuan muda
Kartini, yang kemudian mengubah sejarah Bangsa Indonesia.
Kartini disuruh menikah oleh orang tuanya, dengan Bupati Rembang K.R.M. Adipati
Ario Singgih Djojo Adhiningrat, yang telah memiliki tiga istri. Kartini kemudian menikah
pada tanggal 12 November 1903.
Sebagai seorang suami, K.R.M. Adipati Ario Singgih Djojo Adhiningrat sangat
mengerti keinginan Kartini. Beliau kemudian mendukung cita-cita Kartini untuk mendirikan
Sekolah wanita. Sekolah Wanita pertama yang didirikan adalah Sekolah Wanita di Rembang,
tepatnya di sebelah timur pintu gerbang kompleks kantor kabupaten Rembang, atau di sebuah
bangunan yang kini digunakan sebagai Gedung Pramuka.
Dari pernikahannya dengan K.R.M. Adipati Ario Singgih Djojo Adhiningrat, Kartini
melahirkah seorang putra bernama R.M. Soesalit yang lahir pada tanggal 13 September 1904.
Beberapa hari setelah melahirkan putra pertama sekaligus terakhirnya, Kartini

5
menghembuskan nafas terakhir yaitu pada tanggal 17 September 1904. pada saat meninggal,
Kartini berusia 25 tahun dan dimakamkan di Desa Bulu, Kecamatan Bulu, Rembang.
Sebuah organisasi bernama Yayasan Kartini kemudia melanjutkan perjuangan Kartini
dengan mendirikan Sekolah Wanita di Semarang pada tahun 1912, dan kemudian di Surabaya,
Yogyakarta, Malang, Madiun, Cirebon dan daerah lainnya. Nama sekolah tersebut
adalah Sekolah Kartini. Yayasan Kartini ini didirikan oleh keluarga Van Deventer, seorang
tokoh Politik Etis.
Habis Gelap Terbitlah Terang adalah buku yang dikarang Kartini. Judul aslinya
adalahDari Gelap Menuju Terang. Kartini mendapatkan inspirasi tersebut dari kalimat
Kitab Suci mina dulumati ila nuur.***
Surat Kartini yang legendaries dan banyak diterbitkan dalam bentuk buku adalahHabis
Gelap Terbitlah Terang (Door Duisternis Tot Licht). Surat-surat itu pertama kali di bukukan
oleh J.H. Abendanon, yang pada saat itu menjabat sebagai Menteri Kebudayaan, Agama, dan
Kerajinan Hindia Belanda. Sekalipun banyak kontroversiyang timbul dari penerbitan buku
tersebut, namun buah pemikiran Kartini tersebut banyak sekali memberikan kontribusi bagi
Bangsa Indonesia, kini dan masa yang akan datang.
Kutipan :
* Hal ini disebabkan karena M.A Ngasirah bukanlah bangsawan dari kelas yang
tinggi. Pada waktu itu untuk menjadi seorang Bupati, harus beristrikan seorang bangsawan.
Maka ayah R.A Kartini kemudian menikah lagi dengan Raden Adjeng Woerjan (Moerjam),
yang merupakan keturunan langsung Raja Madura.
** Pada masa itu, seorang perempuan ketika beranjak dewasa haruslah dipingit untuk
kemudian di nikahkan dengan calon suaminya kelak..

2.2. Riwayat RA Kartini


Raden Ajeng Kartini dilahirkan di jepang pada tanggal 21 April 1879, jadi bertepatan
127 tahun yang lalu. Beliau adalah Putri dari seorang Bupati Jepara pada waktu itu, yaitu
Raden Mas Adipati Sastrodiningrat. Dan merupakan cucu dari Bupati Demak, yaitu
Tjondronegoro. Pada waktu itu kelahiran Raden Ajeng Kartini, nasib kaum wanita penuh
dengan kegelapan, kehampaan, dari segala harapan, ketiadaan dalam segala perjuangan, dan
tidak lebih dari perabot kaum laki-laki belaka, dan bertugas tidak lain dari yang telah
ditentukan secara alamiah, yaitu mengurus dan mengatur rumah tangga saja, kaum wanita
telah dirampas dan diinjak-injak harkat dan martabatnya sebagai manusia.
Daya berpikir kaum wanita tidak dapat berkembang sebagaimana mestinya, kaum
wanita tidak diberi kesempatan untuk mengembangkan dirinya untuk melebihi dari apa yang
diterimanya dari alam. Karena kaum wanita tidak berdiri kesempatan untuk belajar membaca,
menulis dan sebagainya. Dengan kata lain kaum wanita hanya mempunyai kewajiban tetapi
tidak mempunyai hak sama sekali.

6
Raden Ajeng Kartini yang telah meningkat dewasa pada waktu itu, tidak dapat melihat
kenyataan ini meskipun beliau dilahirkan didalam lingkungan ditengah-tengah kebangsawanan
atau keningratan yang pada waktu itu mempunyai taraf kehidupan sosial yang sangat berbeda
dengan masyarakat banyak yang hidup didalam lingkungan kehidupan adat yang sangat
mengekang kebebasan tetapi beliau tidak segan-segan turun kebawah bergaul dengan
masyarakat biasa, untuk mengembangkan ide dan cita-citanya yang hendak merombak status
sosial kaum wanita, dan cara-cara kehidupan dalam masyarakat dengan semboyan : "Kita
harus membuat sejarah, kita mesti menentukan masa depan kita yang sesuai dengan
keperluan serta kebutuhan kita sebagai kaum wanita dan harus mendapat pendidikan
yang cukup seperti halnya kaum laki-laki".
Dengan melanggar segala aturan-aturan adat pada saat itu, Raden Ajeng Kartini
mendapat kesempatan untuk melanjutkan pendidikannya yang setara dengan pendidikan kaum
penjajah belanda pada waktu itu, beliau sempat mempelajari kegiatan-kegiatan kewanitaan
lainnya.
Dengan pengetahuan serta pengalaman yang didapatnya, Raden Ajeng Kartini secara
berangsur-angsur dan setahap demi setahap tapi pasti berusaha menambah kehidupan yang
layak bagi seorang kaum wanita.
Perkawinan Raden Ajeng Kartini pada tahun 1903 dengan Raden Adipati Joyoningrat
Bupati Rembang mengharuskan beliau mengikuti suami, dan di daerah inilah beliau dengan
gigih meningkatkan kegiatannya dalam dunia pendidikan. Peranan Suami, dalam usaha Raden
Ajeng Kartini Meningkatkan perjuangan sangat menentukan pula karena dengan dorongan dan
bantuan suaminyalah beliau dapat mendirikan sekolah kepandaian putri dan disanalah beliau
mengajarkan tentang kegiatan wanita, seperti belajar jahit menjahit serta kepandaian putri
lainnya.
Usaha-usaha Raden Ajeng Kartini dalam meningkatkan kecerdasan untuk bangsa
indonesia dan kaum wanita, khususnya melalui sarana-sarana pendidikan dengan tidak
memandang tingkat dan derajat, apakah itu bangsawan atau rakyat biasa. Semuanya
mempunyai hak yang sama dalam segala hal, bukan itu saja karya-karya beliau, persamaan
hak antara kaum laki-laki dan kaum wanita tidak boleh ada perbedaan. Beliau juga
mempunyai keyakinan bahwa kecerdasan rakyat untuk berpikir, tidak akan maju jika kaum
wanita ketinggalan.
Sewaktu RA Kartini dilahirkan, ayahnya masih berkedudukan sebagai Wedono
Mayong, sedangkan ibunya adalah seorang wanita berasal dari desa Teuk Awur yaitu Mas
Ajeng Ngasirah yang berstatus garwo Ampil. RMAA Sosroningrat dan urutan keempat dari
ibu kandung Mas Ajeng Ngasirah, sedangkan eyang RA Kartini dari pihak ibunya adalah
seorang Ulama Besar pada jaman itu bernama Kyai Haji Modirono dan Hajjah Siti Aminah.
Istri kedua ayahnya yang berstatus garwo padmi adalah putrid bangsawan yang dikawini pada
tahun 1875 keturunan langsung bangsawan tinggi madura yaitu raden ajeng Woeryan anak

7
dari RAA Tjitrowikromo yang memegang jabatan Bupati Jepara sebelum RMAA
Sosroningrat. Perkawinan dari kedua istrinya itu telah membuahkan putera sebanyak 11
(sebelas) orang.
Mula pertama udara segar yang dihirup RA KArtini adalah udara desa yaitu sebuah
desa di Mayong yang terletak 22 km sebelum masuk jantung kota Jepara. Disinilah nia
dilahirkan oleh seorang ibu dari kalangan rakyat biasa yang dijadikan garwo ampil oleh
wedono Mayong RMAA Sosroningrat. Anak yang lahir itu adalah seorang bocah kecil dengan
mata bulat berbinar-binar memancarkan cahaya cemerlang seolah menatap masa depan yang
penuh tantangan.
Hari demi hari beliau tumbuh dalam suasana gembira, dia ingin bergerak bebas, berlari
kian kemari, hal yang menarik baginya ia lakukan meskipun dilarang. Karena kebebasan dan
kegesitannya bergerak ia mendapat julukan TRINIL dari ayahnya. Kemudian setelah
kelahiran RA Kartini yaitu pada tahun 1880 lahirlah adiknya RA Roekmini dari garwo padmi.
Pada tahun 1881 RMAA Sosroningrat diangkat sebagai Bupati Jepara dan beliau bersama
keluarganya pindah ke rumah dinas Kabupaten di Jepara.
Pada tahun yang sama lahir pula adiknya yang diberi nama RA Kardinah sehingga si
trinil senang dan genbira dengan kedua adiknya sebagai teman bermain. Lingkungan Pendopo
Kabupaten yang luas lagi megah itu semakin memberikan kesempatan bagi kebebasan dan
kegesitan setiap langkah RA Kartini.
Sifat serba ingin tahu RA Kartini inilah yang mrnjadikan orang tuanya semakin
memperhatikan perkembangan jiwanya. Memang sejak semula RA Kartini paling cerdas dan
penuh inisiatif dibandingkan dengan saudara perempuan lainnya. Dengan sifat kepemimpinan
RA Kartini yang menyolok, jarang terjadi perselisihan diantara mereka bertiga yang dikenal
dengan nama TIGA SERANGKAI meskipun dia agak diistimewakan dari yang lain.
Agar puterinya lebih mengenal daerah dan rakyatnya RMAA Sosroningrat sering
mengajak ketiga puterinya tourney dengan menaiki kereta.
Ini semua hanya merupakan pendekatan secara terarah agar puterinya kelak akan
mencintai rakyat dan bangsanya, sehingga apa yang dilihatnya dapat tertanam dalam ingatan
RA Kartini danadik-adiknya serta dapat mempengaruhi pandangan hidupnya setelah dewasa.
Saat mulai menginjak bangku sekolah EUROPESE LAGERE SCHOOL terasa bagi
RA Kartini sesuatu yang menggembirakan. Karena sifat yang ia miliki dan kepandaiannya
yang menonjol RA Kartini cepat disenangi teman-temannya. Kecerdasan otaknya dengan
mudah dapat menyaingi anak-anak Belanda baik pria maupun wanitanya, dalam bahasa
Belanda pun RA Kartini dapat diandalkan.
Menjelang kenaikan kelas di saat liburan pertama, NY. OVINK SOER DAN
SUAMINYA MENGAJAK ra Kartini beserta adik-adiknya Roekmini dan Kardinah
menikmati keindahan pantai bandengan yang letaknya 7 km ke Utara Kota Jepara, yaitu
sebuah pantai yang indah dengan hamparan pasir putih yang memukau sebagaimana yang

8
sering digambarkan lewat surat-suratnya kepada temannya Stella di negeri Belanda. RA
Kartini dan kedua adiknya mengikuti Ny. Ovink Soer mencari kerang sambil berkejaran
menghindari ombak, kepada RA Kartini ditanyakan apa nama pantai tersebut dan dijawab
dengan singkat yaitu pantai Bandengan.
Kemudian Ny. Ovink Soer mengatakan bahwa di Holland pun ada sebuah pantai yang
hamper sama dengan bandengan namanya Klein Scheveningen secara spontan mendengar
itu RA Kartini menyela..kalau begitu kita sebut saja pantai bandengan ini dengan nama
Klein Scheveningen.
Selang beberapa tahun kemudian setelah selesai pendidikan di EUROPASE LEGERE
SCHOOL, RA Kartini berkehendak ke sekolah yang lebih tinggi, namun timbul keraguan di
hati RA Kartini karena terbentur pada aturan adapt apalagi bagi kaum ningrat bahwa wanita
seperti dia harus menjalani pingitan.
Memang sudah saatnya RA Kartini memasuki masa pingitan karena usianya telah
mencapai 12 tahun lebih, ini semua demi keprihatinan dan kepatuhan kepada tradisi ia harus
berpisah pada dunia luar dan terkurung oleh tembok Kabupaten. Dengan semangat dan
keinginannya yang tak kenal putus asa RA Kartini berupaya menambah pengetahuannya tanpa
sekolah karena menyadari dengan merenung dan menangis tidaklah akan ada hasilnya, maka
satu-satunya jalan untuk menghabiskan waktu adalah dengan tekun membaca apa saja yang di
dapat dari kakak dan juga dari ayahnya.
Beliau pernah juga mengajukan lamaran untuk sekolah dengan beasiswa ke negeri
Belanda dan ternyata dikabulkan oleh Pemerintah Hindia Belanda, hanya saja dengan berbagai
pertimbangan maka besiswa tersebut diserahkan kepada putera lainnya yang namanya
kemudian cukup terkenal yaitu H. Agus Salim.
Walaupun RA Kartini tidak berkesempatan melanjutkan sekolahnya, namun himpunan
murid-murid pertama Kartini yaitu sekolah pertama gadis-gadis priyayi Bumi Putera telah
dibina diserambi Pendopo belakang kabupaten. Hari itu sekolah Kartini memasuki pelajaran
apa yang kini dikenal dengan istilah Krida dimana RA Kartini sedang menyelesaikan lukisan
dengan cat minyak. Murid-murid sekolahnya mengerjakan pekerjaan tangan masing-masing,
ada yang menjahit dan ada yang membuat pola pakaian.
Adapun Bupati RMAA Sosroningrat dan Raden Ayu tengah menerima kedatangan
tamu utusan yang membawa surat lamaran dari Bupati Rembang Adipati Djojoadiningrat yang
sudah dikenal sebagai Bupati yang berpandangan maju dan modern. Tepat tanggal 12
November 1903 RA Kartini melangsungkan pernikannya dengan Bupati Rembang Adipati
Djojodiningrat dengan cara sederhana.
Pada saat kandungan RA Kartini berusia 7 bulan, dalam dirinya dirasakan kerinduan
yang amat sangat pada ibunya dan Kota Jepara yang sangat berarti dalam kehidupannya.
Suaminya telah berusaha menghiburnya dengan musik gamelan dan tembang-tembang yang
menjadi kesayangannya, namun semua itu membuat dirinya lesu.

9
Pada tanggal 13 September 1904 RA Kartini melahirkan seorang bayi laki-laki yang
diberi nama Singgih/RM. Soesalit. Tetapi keadaan RA Kartini semakin memburuk meskipun
sudah dilakukan perawatan khusus, dan akhirnya pada tanggal 17 September 1904 RA Kartini
menghembuskan nafasnya yang terakhir pada usia 25 tahun.
Kini RA Kartini telah tiada, cita-cita dan perjuangannya telah dapat kita nikmati,
kemajuan yang telah dicapai kaum wanita Indonesia sekarang ini adalah berkat goresan
penanya semasa hidup yang kita kenal dengan buku HABIS GELAP TERBITLAH
TERANG.

2.3. Dorongan RA Kartini dalam Bidang Wirausaha bagi Wanita


Wanita berdikari atau wanita berwirausaha sudah sejak lama menjadi pemikiran dan isi
hati Ibu Kartini. Dunia bisnis atau dunia wirausaha bukan milik kaum Adam semata sebagai
pemain tunggal, tapi dunia ini sudah menjadi trend masa kini buat wanita. Jumlah wanita yang
terjun di dunia wirausaha tidaklah sedikit. Bahkan tidak jarang di berbagai perusahaan besar,
wanitalah yang memegang peranan penting sebagai pucuk pimpinan. Inilah kenyataannya
bahwa wanita bisa disejajarkan dengan pria dari segi bisnis.
Diungkapkan oleh DR. Suparman Sumahamijaya (1980:96): Sesungguhnya Ibu Kartini
telah merintis pendidikan mandiri bagi wanita sejak beliau berumur 16 tahun, sejak sekitar
tahun 1893. Hal ini dapat dibuktikan dari hampir semua tulisan Ibu Kartini yang termuat di
dalam kumpulan surat-suratnya yang dibukukan dengan judul Door Duisternis Tot Licht,
dimana hampir setiap halaman surat-suratnya penuh dengan kata-kata perlunya pengembangan
watak dan pembentukan watak di atas pendidikan otak. Karena dengan pembentukan watak,
Ibu Kartini yakin manusia akan lebih mampu untuk berdiri sendiri, tidak bergantung dari
kerabat dan dari siapapun. Berkali-kali ditekankan perlunya kepercayaan pada diri sendiri.
Surat-surat Ibu Kartini dibukukan pula dengan judul Letters of A Javanese
Princess dan beredar di Amerika semenjak tahun 1921 oleh Charles Scribner Sons, New York.
Penerjemahnya yang bernama Agnes Louise Symmers menyebutkan bahwa Ibu Kartini dalam
perjuangannya menyadari bahwa The freedom of women could only come through economic
independence (kebebasan wanita hanya bisa datang dari kebebasan ekonomi).
Perjuangan Kartini bukan hanya kaum wanita saja, tetapi dia berjuang untuk seluruh
kemanusiaan yang selama ini tidak bisa dilakukan oleh wanita.
Walaupun usia beliau hanya mencapai 25 tahu, tapi beliau berhasil menyajikan karya
tulis sebanyak kurang lebih 450 halaman, yamg mana karya tulis tersebut mengandung
kepadatan kata-kata dengan arti yang sangat dalam, keras, dan mengesankan.
Kemampuan berwirausaha bisa kita ukur dengan skala minat dan keinginan dalam
berwirausaha, meskipun skala tersebut tidak mutlak kebenarannya, akan tetapi setidaknya bias
menjadi toak ukur sejauh mana minat usaha kita, atau minat kita dalam berwirausaha.

10
BAB III
PENUTUP
3.1. Kesimpulan
Raden Ajeng Kartini dilahirkan di jepang pada tanggal 21 April 1879, jadi bertepatan
127 tahun yang lalu. Beliau adalah Putri dari seorang Bupati Jepara pada waktu itu, yaitu
Raden Mas Adipati Sastrodiningrat. Dan merupakan cucu dari Bupati Demak, yaitu
Tjondronegoro. Pada waktu itu kelahiran Raden Ajeng Kartini, nasib kaum wanita penuh
dengan kegelapan, kehampaan, dari segala harapan, ketiadaan dalam segala perjuangan, dan
tidak lebih dari perabot kaum laki-laki belaka, dan bertugas tidak lain dari yang telah
ditentukan secara alamiah, yaitu mengurus dan mengatur rumah tangga saja, kaum wanita
telah dirampas dan diinjak-injak harkat dan martabatnya sebagai manusia.
Usaha-usaha Raden Ajeng Kartini dalam meningkatkan kecerdasan untuk bangsa
indonesia dan kaum wanita, khususnya melalui sarana-sarana pendidikan dengan tidak
memandang tingkat dan derajat, apakah itu bangsawan atau rakyat biasa. Semuanya
mempunyai hak yang sama dalam segala hal, bukan itu saja karya-karya beliau, persamaan
hak antara kaum laki-laki dan kaum wanita tidak boleh ada perbedaan. Beliau juga
mempunyai keyakinan bahwa kecerdasan rakyat untuk berpikir, tidak akan maju jika kaum
wanita ketinggalan.

3.2. Saran
Kini RA Kartini telah tiada, cita-cita dan perjuangannya telah dapat kita nikmati,
kemajuan yang telah dicapai kaum wanita Indonesia sekarang ini adalah berkat goresan
penanya semasa hidup yang kita kenal dengan buku HABIS GELAP TERBITLAH
TERANG.
Mari kita pertahankan hasil perjuangan para pahlawan dengan mengisi kemerdekaan
dengan penuh kedamaian dan perdamaian bangsa.

11
DAFTAR PUSKATAKA

http://rakartini.com/opini-tentang-kebaya
http://indonesiancommunity.multiply.com/
http://www.museumindonesia.com/museum/21/1/Museum_R._A._Kartini_Jepara
http://for-mass.blogspot.com/2011/03/yuk-kunjungi-museum-kartini-jepara.html

12