Anda di halaman 1dari 5

PENATALAKSANAAN NEVUS PIGMENTOSUS DENGAN SHAVE EXCISION

Ria S.Pane, Imam B.Putra


Departemen Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera
Utara/Rumah Sakit Umum Pusat H.Adam Malik, Medan
Email : ria_cesc@yahoo.com

ABSTRAK
Latar Belakang : Nevus pigmentosus adalah neoplasma jinak atau hamartoma yang terdiri dari sel-sel
nevus yang berpotensi berkembang menjadi melanoma, secara psikologis nevus pigmentosus dapat
mempengaruhi penampilan dan kepercayaan diri namun pada sebagian orang nevus pigmentosus
dianggap dapat mempercantik penampilan. Salah satu modalitas terapi yang dapat dilakukan adalah
shave excision, tergantung pada ukuran, bentuk dan lokasi lesi.

Kasus : Seorang wanita berusia 19 tahun, menikah datang dengan keluhan tahi lalat pada daerah
puncak hidung. Pada status dermatologik pada regio tips nasalis dijumpai papul berwarna hitam,
dengan permukaan licin, ukuran 0,5x0,5 cm. Hasil pemeriksaan histopatologi adalah nevus intradermal.
Pada pasien ini dilakukan tindakan shave excision dengan memberikan hasil yang baik.

Diskusi : Penegakkan diagnosis nevus pigmentosus pada pasien ini berdasarkan anamnesis,
gambaran klinis dan pemeriksaan histopatologik. Penatalaksanaan pada pasien ini dilakukan tindakan
shave excision sesuai dengan lokasi lesi dan juga bertujuan untuk segi kosmetik dan kenyamanan
pasien.
Kata kunci : nevus pigmentosus, psikologis, shave excision

PENDAHULUAN
Nevus pigmentosus disebut juga dengan melanocytic nevus, common mole, dan nevus cell
nevus. Nevus pigmentosus adalah neoplasma jinak atau hamartoma yang terdiri dari sel-sel nevus yang
berpotensi berkembang menjadi melanoma. Dapat terjadi pada masa kanak-kanak atau dewasa muda
dengan perbandingan pria dan wanita adalah sama.1,2,3
Gambaran klinis nevus umumnya berbentuk papilomatosa, berbentuk kubah, bertangkai, dan
bisa juga datar. Biasanya sewarna dengan kulit, coklat atau lebih gelap. Lokasi nevus dapat terjadi
dimana saja terutama wajah yang menimbulkan rasa ketidaknyamanan dan kurang percaya diri.
Berdasarkan pemeriksaan histopatologik terdapat tiga tipe dari nevus pigmentosus yaitu : 1. Pada
junctional nevi, sel-sel nevus terletak pada lapisan sel basal epidermis atau pada taut dermo-epidermal,
sebagai sarang-sarang sel poligonal atau bundar dengan inti yang besar dan pigmen yang nyata. 2.
Pada compound nevi, sel-sel nevus pada lapisan basal epidermis taut dermo-epidermal dan dermis. 3.
Pada intradermal nevi, sarang-sarang sel nevus hanya tampak pada dermis.1,4
Meskipun nevus pigmentosus kebanyakan tidak berbahaya dan dapat dibiarkan tanpa
pengobatan tetapi pada keadaan tertentu memerlukan terapi, yaitu : Kemungkinan keganasan, lokasi
nevus pigmentosus yang menyebabkan mudah teriritasi (karena pakaian atau mencukur), dan alasan
kosmetik.5,6
Banyak pilihan terapi yang dapat dilakukan, pemilihan terapi untuk hasil kosmetik yang baik
dapat dilakukan suatu teknik sederhana dan efektif tanpa meninggalkan skar. Shave excision adalah
metode sederhana, tidak memerlukan jahitan yang dilakukan untuk menghilangkan pertumbuhan lesi
seperti tahi lalat. Untuk memberikan hasil kosmetik yang baik suatu lesi nevus pigmentosus harus cukup
menonjol untuk dapat dilakukan shaving dan lokasi dari nevus pigmentosus tersebut berada di daerah
wajah terutama hidung yang menyembuh dengan baik dibandingkan dengan lokasi seperti dada dan
bahu.6,7,8,9

KASUS
Seorang wanita berusia 19 tahun, menikah, pekerjaan wiraswasta datang ke poliklinik bedah
kulit RSUP H.Adam Malik dengan keluhan tahi lalat yang tidak disertai rasa gatal pada puncak hidung
sejak 12 tahun yang lalu. Tahi lalat semakin lama semakin membesar. Tahi lalat tidak berambut. Rasa
nyeri dan mudah berdarah tidak dijumpai. Tahi lalat yang semakin membesar membuat pasien merasa
terganggu dengan penampilan dan kenyamanannya.

1
Pada pemeriksaan fisik keadaan umum baik, kesadaran kompos mentis, tekanan darah
120/80mmHg, frekuensi nadi 80x/menit, pernafasan 20x/menit dan suhu tubuh 36,8C.
Pada pemeriksaan dermatologis pada regio tips nasalis dijumpai papul hitam, permukaan licin
dengan ukuran 0,5 x 0,5cm. (Gambar 1)
Pada pasien dianjurkan untuk melakukan pemeriksaan laboratorium berupa pemeriksaan darah
rutin, urin rutin, kadar gula darah ad random, fungsi perdarahan yang dilakukan untuk persiapan
tindakan shave excision.
Pasien didiagnosis banding dengan nevus pigmentosus, keratosis seboroik, dan karsinoma sel
basal. Diagnosis sementara pada pasien ini adalah nevus pigmentosus.
Hasil pemeriksaan laboratorium yaitu : darah rutin, urin rutin, kadar gula darah ad random dan
fungsi perdarahan dalam batas normal.
Penatalaksanaan pada pasien ini secara umum diberikan penjelasan mengenai kelainan
kulitnya. Penatalaksanaan secara khusus terhadap kelainan kulit berupa nevus pigmentosus dilakukan
rencana tindakan pengangkatan lesi secara shave excision. Pasien diberikan penjelasan tentang
tindakan yang akan dilakukan dan faktor risikonya. Setelah pasien memahami tentang penjelasan
tersebut maka diminta untuk menandatangani informed consent. Kemudian dilakukan tindakan shave
excision pada regio tips nasalis. Pasien dibaringkan di meja operasi dalam posisi supinasi dan lapangan
operasi didesinfeksi dengan povidon iodine 10% dan setelah itu dengan alkohol 70%. Dilakukan
penyuntikkan pehacain secara sub kutis dan kemudian ditunggu selama 5 menit. Selanjutnya
dilakukan shave excision dengan menggunakan skalpel no.15. Jaringan diangkat dengan pinset,
perdarahan dikontrol dengan menggunakan kain kassa steril, lalu dimasukkan ke wadah yang berisi
cairan formalin 10%, diberi label, untuk dikirim dan diperiksa ke bagian Patologi Anatomi. Kemudian
diolesi krim gentamisin 0,1% dan ditutup dengan kassa steril dan direkatkan dengan plester. (Gambar
2)
Setelah operasi pasien diberikan pengobatan berupa kaplet amoksisilin 500mg yang diberikan
tiga kali sehari, tablet asam mefenamat 500mg yang diberikan tiga kali sehari dan krim gentamisin 0,1%
yang dioleskan dua kali sehari. Pasien kemudian diberi penjelasan untuk menjaga luka tetap bersih,
tidak terkena air/basah dan pasien dianjurkan untuk datang kembali 3 hari kemudian.
Setelah 3 hari, tampak luka operasi luka basah, gambaran berupa eritema, edema, dan pus
pada luka operasi tidak dijumpai. Pengobatan tetap dilanjutkan dengan pemberian kaplet amoksisilin
500mg yang diberikan tiga kali sehari dan tablet asam mefenamat 500mg diberikan tiga kali sehari serta
krim gentamisin 0,1% dioleskan dua kali sehari. Luka operasi tidak ditutup.
Setelah 1 minggu, tampak luka operasi kering dan terdapat krusta (Gambar 3). Pengobatan
dilanjutkan dengan hanya pemberian krim gentamisin 0,1% yang dioleskan dua kali sehari.
Hasil pemeriksaan histopatologis didapat sediaan dari kulit diperoleh sediaan jaringan dari
daerah puncak hidung dengan gambaran stratified squamous dengan inti dalam batas normal. Pada
lapisan dermis tampak proliferasi dan deposit sel-sel nevus/sarang nevus, stroma terdiri dari jaringan
ikat fibrosa, pembuluh darah dan kelenjar sebaseus. Tidak dijumpai adanya tanda-tanda malignansi
pada sediaan ini. Kesimpulan adalah suatu nevus pigmentosus tipe intradermal. Sehingga diagnosis
kerja pada pasien ini berdasarkan anamnesis, pemeriksaan dermatologis dan histopatologis adalah
nevus pigmentosus tipe intradermal.
Setelah 2 minggu, tampak krusta sudah tidak terlihat lagi dan luka operasi sembuh sempurna
(Gambar 4). Pasien kemudian diberikan penjelasan mengenai penyakitnya, dan dianjurkan datang
kembali bila timbul lesi-lesi kulit yang mencurigakan.
Prognosis pada pasien ini quo ad vitam bonam, quo ad functionam bonam, quo ad sanationam
bonam.
Diskusi
Pada anamnesis seorang wanita berusia 19 tahun datang berobat dengan keluhan tahi lalat
berwarna hitam pada daerah puncak hidung yang timbul sejak 12 tahun yang lalu dan semakin
membesar. Menurut pendapat Grichnik, James bahwa lesi nevus pigmentosus dapat timbul pada
berbagai rentang usia, mulai sejak usia lahir, masa anak-anak ataupun pada dekade kedua/ketiga
(paling sering), dimana nevus pigmentosus dapat bertambah dan berkembang seiring dengan
bertambahnya usia, terutama pada usia dibawah 30 tahun. Nevus pigmentosus dapat timbul pada
daerah diseluruh tubuh (bahkan pada daerah membran mukosa), dimana tidak terdapat perbedaan
prevalensi kejadian nevus pigmentosus antara pria dan wanita.1,3

2
Pada pemeriksaan dermatologis pada regio tips nasalis dijumpai papul berwarna hitam, tidak
berambut, permukaan licin, dengan ukuran 0,5 x 0,5 cm. Menurut pendapat Grichnik bahwa pada lesi-
lesi nevus pigmentosus yang meninggi, pada umumnya cenderung mengarah ke nevus pigmentosus
tipe intradermal, dimana gambaran klinis pada lesi nevus pigmentosus tipe intradermal/campuran
umumnya berbentuk papul/kubah dengan permukaan lesi dapat berbentuk licin/verukosa, berwarna
coklat-kehitaman dan batas tepi yang jelas dan reguler, walaupun sangat jarang, lesi pada tipe
intradermal kadang dapat berbentuk makula.1,4
Hasil pemeriksaan histopatologis pada lesi ditemukan sediaan jaringan dari wajah dengan
stratified squamous dengan inti dalam batas normal, pada lapisan dermis tampak proliferasi dan deposit
sel-sel nevus, stroma terdiri dari jaringan ikat fibrosa, pembuluh darah dan kelenjar sebaseus dan tidak
dijumpai adanya tanda-tanda malignansi(keganasan). Menurut pendapat Grichnik, Sardana, dan James
gambaran histopatologik dari nevus pigmentosus umumnya ditemukan gambaran sel-sel epidermis
yang normal serta adanya sel-sel nevus/sarang nevus yang dapat terdistribusi baik pada daerah
epidermis maupun dermis, dimana pada nevus pigmentosus tipe intradermal biasanya sel-sel/sarang
nevus terdistribusi pada daerah dermis, selain itu pada nevus intradermal dapat ditemukan adanya
gambaran grenz zone pada pemeriksaan histopatologi.1,3,4
Pasien didiagnosis banding dengan keratosis seboroik dan karsinoma sel basal. Menurut
pendapat Grichnik keratosis seboroik adalah lesi dengan batas tegas, rata, kecoklatan atau bercak
coklat. Ketika berkembang menjadi papular, lunak, verokous atau tampilan stuck on dan gambaran
histopatologinya didapatkan papilomatous akantotik yang berisikan sel basaloid. Menurut pendapat
Grichnik, Bishop, James, dan Carucci karsinoma sel basal berpigmen merupakan lesi kulit berbentuk
papul atau nodul berwarna kehitaman yang sering timbul pada daerah wajah dan leher akibat paparan
sinar ultraviolet yang kronik, diagnosis banding karsinoma sel basal dapat disingkirkan karena lesi pada
karsinoma sel basal umumnya sering disertai dengan gambaran ulserasi superfisial/central necrosis
pada permukaannya, selain itu dapat juga ditemukan adanya gambaran telangiektasis pada permukaan
lesi karsinoma sel basal, berdasarkan pemeriksaan histopatologik pada karsinoma sel basal biasanya
ditemukan adanya gambaran kelompokan sel-sel basal atipikal/basofilik(nukleus yang membesar dan
sitoplasma yang menyempit) dengan inti cenderung tersusun palisade di pinggir kelompokan, disertai
adanya gambaran peritumoral lacunae (retraksi pada stroma yang membentuk celah pada pulau-
pulau sel tumor).1,2,3,10
Penatalaksanaan pada pasien ini dilakukan shave excision. Menurut pendapat Norman Minars,
Ferrandiz teknik shave excision adalah suatu teknik sederhana tanpa memerlukan suatu jahitan dan
efektif yang memberikan hasil yang baik dari segi kosmetik, dimana teknik ini baik digunakan pada lesi
nevus pigmentosus di daerah wajah terutama hidung dengan penyembuhan yang baik. Pada pasien ini
terjadi penyembuhan yang baik.6,8
Prognosis pada pasien ini quo ad vitam bonam, quo ad functionam bonam, quo ad sanationam
bonam. Menurut pendapat Grichnik, nevus pigmentosus pada umumnya tidak berbahaya, dimana pada
beberapa kasus, nevus yang timbul dapat mengalami regresi seiring dengan bertambahnya waktu
(terutama pada pasien-pasien yang berusia dibawah 30 tahun). Tindakan terapi pada nevus
pigmentosus biasanya dilakukan atas dasar indikasi kosmetik, akan tetapi pada lesi-lesi nevus
pigmentosus yang mencurigakan, kita dapat melakukan pemeriksaan histopatologik untuk menentukan
diagnosis yang pasti dari lesi.1

DAFTAR PUSTAKA

1. Grichnik JM, Rhodes AR, Sober AJ. Benign Neoplasias and Hyperplasias of Melanocytes.
Dalam: Wolff K, Goldsmith LA, Katz SI, Gilchrest BA, Paller AS, Leffel DJ, editor. Fitzpatricks
Dermatology in General Medicine. Edisi ke-8. New York: McGraw-Hill;2012:h 2260-71
2. Bishop JAN. Lentigos, Melanocytic Naevi and Melanoma. Dalam : Burn T, Breathnach S, Cox
N, Griffiths C, editor. Rooks Text Book of Dermatology. Edisi ke-8. Wiley-Blackwell;2010:h
2713-31
3. Melanocytic Nevi and Neoplasms. Dalam: James WD, Berger TG, Elston DM editor. Andrews
Disease of the skin. Edisi ke-10. Philadelpia. WB Saunders Co:2006:685-701
3
4. Sardana K, Chakravarty P, Goel K. Optimal management ofcommon acquired melanocytic nevi
(moles): current perspectives 2014;7:89-103
5. Amanda Oakley, Hamilton NZ. Moles(melanocytic nevi, pigmented nevi). diunduh dari
www.dermnetnz.org/lesions/moles.html
6. Norman Minars MD, Todd Minars MD. Mole Removal. Diunduh dari
www.minarsdermatology.com/medical-dermatology-mole-removal.html
7. Dermal Electrosurgery Shave Excision. Diunduh dari www.Americanfamilyphysician.org
8. Ferrandiz L, Moreno-Ramirez D, Camacho FM. Shave Excision of Common Acquired
Melanocytic Nevi : Cosmetic outcome, recurrences, and complications. Dermatol
Surg.2005;1112-5
9. Thomas J. Zuber MD MPH MBA. Skin Biopsy Techniques : When and How to Perform Shave
and Excisional Biopsy : 2012
10. Carucci JA, Leffell DJ, Pettersen JS. Basal Cell Carcinoma. Dalam: Wolff K, Goldsmith LA, Katz
SI, Gilchrest BA, Paller AS, Leffel DJ, editor. Fitzpatricks Dermatology in General Medicine.
Edisi ke-8. New York: McGraw-Hill;2012:h 2124-40
Lampiran
Gambar 1 : Foto pasien pada saat pertama datang

A B

Pasien saat pertama kali datang dan pada pemeriksaan dermatologis dijumpai papul hitam,
permukaan licin dengan ukuran 0,5 x 0,5cm pada regio tips nasalis (A,B)

Gambar 2 : Foto pasien saat dilakukan shave excision

A B
A
Paien saat dilakukan penyuntikkan pehacain secara subkutis (A)

Pasien saat dilakukan pengangkatan nevus pigmentosus dengan shave excision (B)

4
Gambar 3 : Foto pasien saat kontrol 1 minggu kemudian paska operasi

Pasien pada saat kontrol 1 minggu kemudian, pada pemeriksaan dermatologis tampak krusta pada
regio tips nasalis (A)

Gambar 4

Pasien pada saat kontrol 2 minggu setelah operasi, pada pemeriksaan dermatologis tampak krusta
pada regio tips nasalis sudah tidak ada lagi dan luka sudah sembuh sempurna. (A)