0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
696 tayangan29 halaman

Compound Miop Astigmat

Perempuan berusia 20 tahun datang dengan keluhan penglihatan kabur pada kedua mata yang dialami selama 6 bulan terakhir dan memburuk 1 bulan terakhir. Pemeriksaan menemukan miopia dan astigmatisme pada kedua mata dengan koreksi -2,50/-0,50 untuk mata kanan dan kiri, yang membetulkan penglihatan menjadi 20/20. Diagnosisnya adalah miopia astigmatisme komposit pada kedua mata.

Diunggah oleh

Sri Megawati
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
696 tayangan29 halaman

Compound Miop Astigmat

Perempuan berusia 20 tahun datang dengan keluhan penglihatan kabur pada kedua mata yang dialami selama 6 bulan terakhir dan memburuk 1 bulan terakhir. Pemeriksaan menemukan miopia dan astigmatisme pada kedua mata dengan koreksi -2,50/-0,50 untuk mata kanan dan kiri, yang membetulkan penglihatan menjadi 20/20. Diagnosisnya adalah miopia astigmatisme komposit pada kedua mata.

Diunggah oleh

Sri Megawati
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

BAB I

LAPORAN KASUS

I. IDENTITAS PASIEN
Nama : Nn. M
Jenis kelamin : Perempuan
Umur : 20 tahun
Agama : Islam
Suku/Bangsa : Bugis/Indonesia
Pekerjaan : Mahasiswa
Alamat : Gowa
No. Register : 103695
Tanggal pemeriksaan : 31 Mei 2017
Tempat pemeriksaan : BKMM

II. ANAMNESIS
Keluhan utama : Penglihatan kabur pada kedua mata
Anamnesis terpimpin :
Dialami sejak 6 bulan yang lalu dan memberat 1 bulan terakhir. Keluhan
ini dialami terutama saat melihat jarak jauh. Pasien sering memicingkan matanya
saat melihat jarak jauh. Mata merah tidak ada, nyeri tidak ada, gatal tidak ada, air
mata berlebih tidak ada, kotoran mata berlebih tidak ada, mata seperti berpasir
tidak ada. Mata dirasakan cepat lelah. Sakit kepala ada, dirasakan saat membaca
lama.
Riwayat menggunakan kacamata ada, sejak 2 tahun yang lalu. Tipe
kacamata yang digunakan, yaitu kacamata minus ukuran mata kanan -0,50 dan
mata kiri -0,50. Pasien belum pernah mengganti kacamatanya.
Riwayat trauma pada mata tidak ada. Riwayat memakai kacamata dalam
keluarga ada yaitu ayah pasien. Riwayat operasi mata sebelumnya tidak ada.

1
III. STATUS GENERALIS
Keadaan Umum : Sakit sedang/gizi baik/Composmentis
Berat badan : 46 kg
Tinggi badan : 155 cm
IMT : 19,15 kg/m2

Tanda vital : Tekanan Darah : 110/80 mmHg


Nadi : 85 x/menit
Pernafasan : 16 x/menit
Suhu : 37,0 C
NRS : 0/10

IV. PEMERIKSAAN OFTALMOLOGI


1. Pemeriksaan Visus
VOD : 4/60 Ph : 20/50
VOS : 4/60 Ph : 20/50

2. Pemeriksaan Tekanan Bola Mata


Non Contact Tonometri : TOD 15 mmHg
TOS 15 mmHg

3. Status Lokalis
Inspeksi dan Penyinaran Oblik

Pemeriksaan OD OS

Palpebra edema (-) edema (-).


hiperemis (-) Hiperemis (-)

Apparatus lakrimalis hiperlakrimasi (-) hiperlakrimasi (-)

Silia sekret (-) sekret (-)

Konjungtiva hiperemis (-) hiperemis (-)

2
Bola Mata Kesan intak Kesan intak

Mekanisme muscular 0 0
0 0 0 0
0 0 0 0

0 0 0 0
0 0
Ke segala arah Ke segala arah

Kornea Jernih Jernih

Bilik Mata Depan Kesan Normal Kesan Normal

Iris Coklat, kripte (+) Coklat, kripte (+)

Pupil Bulat, sentral, RC (+) Bulat, sentral, RC (+)

Lensa Jernih Jernih

Palpasi

Palpasi OD OS

Tensi Okuler Kesan Tn Kesan Tn

Nyeri Tekan (-) (-)

Massa Tumor (-) (-)

Glandula Preaurikuler Pembesaran (-) Pembesaran (-)

4. Pemeriksaan Refraksi
Pemeriksaan OD OS
Koreksi -2,50/-0,50 X 175 -2,50/-0,50 X 0
Visus hasil koreksi 20/20 20/20
DP 63/61 mm

3
5. Pemeriksaan Penunjang
Slit Lamp
SLOD : Konjungtiva hiperemis (-), kornea jernih, BMD kesan
normal, iris coklat, krypte (+), pupil bulat, central, RC (+),
lensa jernih
SLOS : Konjungtiva hiperemis (-), kornea jernih, BMD kesan
normal, iris coklat, krypte (+), pupil bulat, central, RC (+),
lensa jernih

Keratometri

Funduskopi
OD : Refleks fundus (+), papil berbatas tegas, CDR 0,3 , A:V 2:3,
reflex fovea (+), retina perifer kesan normal
OS : Refleks fundus (+), papil berbatas tegas, CDR 0,3 , A:V 2:3,
reflex fovea (+), retina perifer kesan normal

4
V. RESUME
Perempuan berumur 20 tahun, keluhan visus menurun pada kedua mata,
dialami sejak 6 bulan yang lalu dan memberat 1 bulan terakhir, terutama pada
visus jauh. Pasien sering memicingkan matanya saat melihat jarak jauh. Mata
dirasakan cepat lelah. Sakit kepala ada, dirasakan saat membaca lama. Riwayat
menggunakan kacamata ada, sejak 2 tahun yang lalu ukuran OD - 0,50 dan OS -
0,50. Riwayat memakai kacamata dalam keluarga ada yaitu ayah pasien. Riwayat
trauma tidak ada.
Dari pemeriksaan oftalmologi, didapatkan VODS : 4/60 / Ph : 20/50. Pada
pemeriksaan non contact tonometri, didapatkan TODS 15 mmHg. Pada
pemeriksaan refraksi, dikoreksi dengan OD : -2,50/-0,50 X175 20/20; OS : -
2,50/-0,50 X0 20/20. Segmen anterior dan posterior dalam batas normal.

VI. DIAGNOSIS KERJA


ODS Compound Miopia Astigmat

VII. PENATALAKSANAAN
Kacamata monofocal :
OD: -2,50/-0,50 X175
OS: -2,50/-0,50 X 0
DP 63/61 mm
Kontrol tiap 6 bulan

VIII. PROGNOSIS
Quo ad Vitam : Bonam
Quo ad Visam : Bonam
Quo ad Sanationam : Bonam
Quo ad Comesticam : Bonam

5
IX. DISKUSI
Pasien perempuan usia 20 tahun datang dengan keluhan penglihatan kabur
pada kedua mata dialami sejak 6 bulan yang lalu dan memberat 1 bulan terakhir.
Keluhan pandangan kabur berarti terjadi gangguan pada proses refraksi cahaya
atau proses penerimaan cahaya di retina. Tidak ada keluhan seperti mata merah,
nyeri, riwayat kemasukan benda asing, bengkak, berair banyak, kotoran berlebih,
mata seperti berpasir, menyingkirkan kelainan penglihatan yang disebabkan oleh
infeksi, benda asing, atau peradangan pada mata. Tidak ada riwayat trauma juga
menyingkirkan kemungkinan gangguan visus akibat trauma.
Pada anamnesis diketahui bahwa keluhan penglihatan kabur yang dialami
pasien terutama pada visus jauh dimana pasien cenderung memicingkan matanya
saat melihat jauh mengindikasikan adanya kemungkinan gangguan refraksi berupa
miopia. Miopia merupakan manifestasi kabur ketika melihat sesuatu objek yang
berjarak jauh tetapi jelas ketika melihat objek yang berjarak dekat. Metode
memperkecilkan mata ini sama prinsipnya dengan pin hole yang dilakukan
ketika melakukan pemeriksaan visus. Prinsipnya itu adalah untuk
memperkecilkan sinar cahaya yang masuk kedalam bola mata dengan harapan
agar cahaya yang masuk itu dapat jatuh ke retina dengan tepat.
Adanya keluhan mata lelah dan sakit kepala setelah membaca lama
mengindikasikan adanya kemungkinan gangguan refraksi berupa astigmat. Mata
dengan dengan astigmatism dapat diibaratkan dengan melihat melalui gelas yang
terisi air bening. Bayangan yang terlihat dapat terjadi terlalu besar, kurus, terlalu
lebar dan kabur. Seseorang dengan astigmat dapat memberikan keluhan kabur
ketika melihat jauh tetapi jelas melihat dekat, melihat ganda dengan menggunakan
satu atau kedua mata, benda bulat dilihat sebagai benda lonjong. Selain itu pasien
juga sering mengeluh sakit kepala, mata terasa tegang dan cepat lelah.
Dari hasil pemeriksaan visus didapatkan VOD : 4/60, VOS : 4/60. VOD :
4/60 dengan pinhole visus didapatkan 20/50, VOS : 4/60 dengan pinhole
didapatkan visus ODS 20/50. Adanya penglihatan kabur pada pasien sejalan
dengan hasil pemeriksaan visus yang didapatkan. Sementara itu, uji pinhole
dilakukan untuk mengetahui apakah berkurangnya tajam penglihatan diakibatkan

6
oleh kelainan refraksi atau kelainan pada media refraksi atau kelainan retinan
lainnya. Adanya pertambahan ketajaman penglihatan pada pasien ini setelah
dilakukan uji pinhole menandakan bahwa pada pasien ini terdapat kelainan
refraksi yang belum terkoreksi dengan baik. Adanya perbaikan visus dengan
menggunakan pinhole maka dapat dipastikan tidak ada kelainan organik dan visus
dapat dikoreksi. Pada pemeriksaan refraksi, pasien ini dikoreksi dengan OD : -
2,50/-0,50 X175 ; OS : -2,50/-0,50 X0. Visus hasil koreksi VOD 20/20, VOS
20/20. Pemeriksaan oftalmologi lainnya menunjukkan segmen anterior dan
posterior bola mata dalam batas normal. Hal ini menunjukkan pasien mengalami
kelainan refraksi dengan diagnosis ODS compound miopia astigmat.

7
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

1. PENDAHULUAN
Hasil pembiasan sinar pada mata dipengaruhi oleh media penglihatan
yang terdiri atas kornea, aqueous humor (cairan mata), lensa, badan vitreous
(badan kaca), dan panjangnya bola mata. Pada orang normal, susunan pembiasan
oleh media penglihatan dan panjang bola mata sedemikian seimbang sehingga
bayangan benda setelah melalui media penglihatan dibiaskan tepat di daerah
makula lutea. Mata yang normal disebut sebagai mata emetropia dan akan
menempatkan bayangan benda tepat di retinanya pada keadaan mata tidak
melakukan akomodasi atau istirahat melihat jauh. Bila sinar sejajar tidak
difokuskan pada makula lutea disebut ametropia, yang dapat berupa miopia,
hipermetropia, atau astigmat.(1)

2. ANATOMI DAN FISIOLOGI


Terdapat empat struktur bola mata yang berperan dalam proses perjalanan
cahaya dari luar menuju retina, yaitu: 2-6
Kornea
Kornea adalah jaringan biologis yang unik transparan terhadap
cahaya dan tidak terdapat pembuluh darah. Terdapat pada bagian depan
dari mata dengan kira-kira berdiameter 11 mm dan 500m ketebalan pada
bagian tengah dan 700m pada bagian perifernya. Pada bagian paling
ujung dari kornea, transparan dari kornea sedikit demi sedikit menghilang
setebal 1 mm dan dikenal sebagai limbus, dimana disini kornea menyatu
dengan sclera opak. Dengan fungsi utama untuk meneruskan dan
memfokuskan cahaya kedalam mata. Kornea terdiri dari lima lapisan yang
mana stroma merupakan 90% dari ketebalan lensa. Bagian ini tersusun
dari lamella fibril-fibril kolagen dengan lebar sekitar 1m. Keempat
lapisan lainnya yaitu lapisan epitel, lapisan Bowman, lapisan membrane
Descement dan lapisan endothelium menempati 10% dari lapisan kornea

8
yang lainnya. Lapisan epitelium kornea, seperti epitelium kulit,
menyediakan pertahanan dari bakteri atau pathogen lainnya. Lapisan
Bowman adalah membrane yang sangat tipis (12m) dibelakang
epitelium. Pada aspek posterior dari kornea terdapat membrane lain yang
juga sangat tipis, mempunyai ketebalan 10-15m, yang juga memiliki
fungsi sebagai media protektif. Endothelium adalah lapisan tunggal pada
aspek paling posterior dari kornea, berbatasan dengan humor aqueous
yaitu cairan yang mengisi ruangan mata.
Kornea mempunya kekuatan refraksi yang paling tinggi yaitu
sekitar kira-kira 40 Dioptri. Pemeriksaan kelengkungan kornea ditentukan
dengan keratometer. Keratometri diperlukan untuk :
Melihat kecembungan kornea. Apakah kecembungannya itu berbeda pada
garis meridian sehingga menyebabkan mata tersebut mengalami kelainan
refraksi yang berupa astigmat.
Menyesuaikan kelengkungan lensa kontak yang dapat di steep ( cembung
kuat), flat ( permukaan yang rata) ataupun normal
Melihat kemungkinan apakah terdapat permukaan kornea yang tidak
teratur atau astigmat irregular.
Humor Aquous
Cairan yang mengisi anterior chamber dari mata, yaitu area antara
kornea dan permukaan depan dari lensa, dinamakan humor aquous. Humor
aquous ini diproduksi oleh sel epitel non-pigmen korpus siliaris. Setelah
memasuki nilik mata belakang, humor aquous melalui pupil masuk ke
bilik mata depan dan kemudian ke perifer menuju sudut bilik mata depan
dan melalui kanalis Schlemm. Humor aquous ini memiliki fungsi sebagai
menyediakan nutrisi untuk kornea dan bagian dari jalur optic
mata,menjaga tekanan intraokuler dan merupakan cairan transparan yang
memiliki salah satu daripada fungsi media refrakter.3,4
Lensa
Lensa yang berkembang sempurna berbentuk bikonveks dan tidak
berwarna sehingga hampir transparan sempurna. Permukaan posteriornya

9
lebih konveks dari permukaan anterior. Pada orang dewasa, tebalnya
sekitar 4 mm dengan diameter 9 mm. Lensa terletak di bilik mata belakang
yaitu antara bagian posterior iris dan bagian anterior dari korpus vitreous
yang dinamakan sebagai fossa hyaloid. Terdapat serabut-serabut yang
dikenal sebagai zonula zinni (zonula fibers) di sekitar ekuator lensa pada
posisinya dan akan berkontraksi atau mengendur pada saat otot siliaris
berkontraksi atau berdilatasi saat proses akomodasi.1-6
Lensa merupakan salah satu media refraksi yang penting. Kekuatan
dioptri seluruh bola mata adalah sekitar 58 dioptri. Lensa mempunyai
kekuatan dioptri sekitar 15 dioptri. Tetapi kekuatan lensa kornea dapat
berubah dengan meningkatnya umur, yaitu menjadi sekitar 8 dioptri pada
umur 40 tahun dan menjadi 1 atau 2 dioptri pada umur 60 tahun.1-6
Korpus Vitreous
Vitreous adalah suatu badan gelatin yang jernih dan avaskuler yang
membentuk dua per tiga dari volume dan berat mata. Vitreous mengisi
ruangan yang dibatasi oleh kornea, retina dan diskus optikus. Permukaan
luar vitrous (membrane hyaloid) normalnya kontak dengan struktur-
struktur seperti kapsul lensa posterior, serat-serat zonula pars plana lapisan
epitel, retina, dan caput nervi optic. Basis vitreous mempertahankan
penempelan yang kuat ke lapisan epitel pars plana dan retina tepat di
belakang ora serata. Perlekatan ke kapsul lensa dan nervus optikus kuat
pada awal kehidupan tetapi akan segera menghilang. Vitreous berisi air
sekitar 99%. Sisanya 1% meliputi dua komponen, kolagen dan asam
hialuronat, yang memberikan bentuk dan konsistensi mirip gel pada
vitreous karena kemampuannya mengikat banyak air.1-6
Selain keempat struktur bola mata di atas, terdapat satu struktur
lagi yang penting pada proses masuknya cahaya ke retina, yaitu pupil.
Pupil merupakan lubang bundar di tengah iris yang sesuai dengan bukaan
lensa pada sebuah kamera. Pupil mengendalikan banyaknya cahaya yang
masuk ke dalam mata. Ukuran pupil pada prinsip dasarnya diatur oleh
keseimbangan antara kontriksi akibat aktivitas parasimpatik yang

10
dihantarkan melalui nervus kranialis III dan dilatasi yang ditimbulkan oleh
aktivitas simpatik. Kebanyakan respon pupil diatur oleh sinyal kompleks
yang dikirim melalu otak tengah (khususnya nucleus Edinger-Westphal)
sebagai respon dari cahaya yang mengenai retina. Pada proses miosis
(konstriksi), otot sfingter pupil akan mengecilkan pupil. Hal ini terjadi
pada kondisi lingkungan yang terang dan selama proses akomodasi. Miosis
merupakan aktivitas daripada saraf parasimpatis. Proses midriasi (dilatasi),
otot dilator pupil akan melebarkan pupil. Hal ini terjadi pada kondisi
lingkungan yang gelap. Midriasi merupakan aktivitas daripada saraf
simpatis.

Gambar 1. Anatomi bola mata

3. FISIOLOGI REFRAKSI DAN MEKANISME KERJA LENSA


Fisiologi Refraksi
Refraksi cahaya adalah fenomena perubahan/pembelokan berkas
cahaya ketika melalui dua medium dengan kerapatan yang berbeda.
Penyebab dasar dari refraksi adalah perubahan kecepatan cahaya pada
medium yang dilaluinya. Hukum refraksi yaitu :
1. Sinar datang, sinar refrakta berada pada sisi yang berlawanan dan
kedua tersebut bersama garis normal berada dalam satu bidang.(2)
2. Perbandingan sinus sudut sinar datang terhadap sinar refrakta
adalah tetap bergantung pada medium cahaya. Besaran ini
disimbolkan dengan n disebut sebagai indeks bias. Indeks bias

11
udara (vakum) adalah satu. Hukum snellius tentang refraksi yaitu :
sin i/ sin r = n2/n1. Ketika cahaya memasuki medium yang lebih
padat maka arah biasnya mendekati sumbu normal, sedangkan jika
memasuki medum yang lebih renggang maka arahnya menjauhi
garis normal.(2)

Gambar 1. Fenomena refraksi cahaya(2)

Proses refraksi juga terjadi pada mata, yang berfungsi agar


bayangan objek yang dilihat dapat jatuh di retina dengan tepat. Oleh
karena itu, komponen mata yang berfungsi sebagai media refrakta yaitu
kornea, humor aquous, lensa kristalina, dan badan vitreus harus berfungsi
dengan baik dan optimal. Telah dijelaskan di atas bahwa gangguan refraksi
disebut sebagai ametropia. Ametropia dapat terjadi oleh karena adanya
ketidakcocokan/ketidakseimbangan antara panjang axis (sumbu utama)
dengan kekuatan media refrakta, baik itu perbandingan axis terhadap
kekuatan refraksi terlalu besar atau kecil, sehingga secara umum
ametropia dapat dibagi dua berdasarkan etiologi utamanya, yaitu
ametropia aksial (tersering) atau ametropia refraktif.(3)

12
Gambar 2. Perbandingan letak fokus bayangan pada emetrop dan ametrop (3)

Gambar 3. Indeks refraksi masing-masing media refraksi pada mata(3)

Kekuatan suatu media dalam merefraksikan cahaya disebut dalam


satuan dioptri, yang merupakan satuan unit internasional. Kekuatan
refraksi dihitung berdasarkan hokum optika geometri. Berdasarkan hukum
snells, bahwa refraksi pada cahaya yang memasuki suatu medium yang
berbeda dtentukan oleh sudut masuknya dan perbedaan indeks bias dari
masing-masing medium. Aplikasi hukum ini pada mata yaitu sudut
masuknya sinar datang itu ditentukan oleh kelengkungan kurvatura lensa
atau kornea dan indeksi bias masing-masing media refrakta ditentukan
oleh komponen kimiawi (kepadatan jaringan) pada media refraksi seperti
pada gambar 5 di atas.(3)
Kekuatan refraksi total pada mata yang emetrop adalah 63 dioptri
pada panjang sumbu (axis) 23,5 mm. Kekuatan kornea sekitar 43 dioptri,
sedangkan lensa berkisar antara 10-20 doptri, bergantung pada apakah
sedang berakomodasi atau tidak.(3)

13
Kekuatan refraksi mata tidak konstan, melainkan harus berubah-
ubah untuk memungkinkan terjadinya visualisasi yang jelas baik pada
objek yang jauh maupun dekat. Proses fisiologis yang mengatur
mekanisme perubahan kekuatan refraksi inilah yang disebut sebagai
akomodasi. Mekanisme akomodasi melibatkan lensa, zonula ciliaris, dan
otot siliaris.(3)

Gambar 4. Proses refraksi pada mata emetrop(3)

Pada gambar 6, bagian a menunjukkan sinar-sinar sejajar sumbu


utama masuk ke mata dari jarak tak hingga difokuskan ke retina pada mata
yang tidak berakomodasi. Pada bagian b, proses akomodasi memfokuskan
cahaya pada sinar yang berasal dari objek yang dekat tepat di retina untuk
menghasilkan bayangan yang tajam. Pada bagian c, ketika proses
akomodasi tidak adekuat, misalkan pada usia tua, objek yang dekat tampak
kabur, Pada bagian d, lensa dibutuhkan untuk mengoreksi proses
akomodasi yang tidak adekuat tersebut untuk melihat objek dekat pada
usia tua. Proses akomodasi terjadi ketika otot-otot siliaris berkontraksi
menyebabkan zonula merenggang, hal ini membuat lensa menjadi lebih
globular (bulat) sehingga kekuatan refraksinya bertambah, hal ini
dibutuhkan untuk memfokuskan penglihatan melihat objek dekat. Seperti
yang terlihat pada gambar berikut.(3)

14
Gambar 5. Proses akomodasi(3)

Mekanisme Kerja Lensa


Lensa adalah media transparan yang berfungsi dalam
merefraksikan cahaya, terdiri dari dua permukaan yang dapat membentuk
bola (sferis) atau silinder/torus. Lensa sferis terdiri dari dua permukaan
dengan kelengkungan berbentuk seperti bola, yang bentuk permukaanya
terdiri dari dua yaitu lensa konveks (cembung/positif) atau lensa konkaf
(cekung/negatif).(2)

Gambar 6. Jenis-jenis lensa sferis konveks (A)bikonveks (B)Plano-Konveks (C)


Konkavokonveks(2)

Lensa konveks atau lensa positif adalah lensa yang bersifat


konvergen yaitu mengumpulkan cahaya yang masuk dapat berbentuk
bikonveks, planokonveks, atau konkavokonveks. Lensa konveks tebal
pada bagian tengah tipis pada bagian perifer, objek yang berada dekat
dengan lensa cembung akan tampak membesar, dan ketika digerakkan
maka bayangan objek yang tampak bergerak berlawanan arah dari gerakan

15
lensa. Lensa ini digunakan dalam mengoreksi kelainan hipermetropia,
afakia, dan presbyopia, selain itu berfungsi dalam iluminasi oblik, atau
oftalmoskopi indirek.(2)

Gambar 7. Sifat-sifat bayangan pada lensa konveks(2)

Lensa konkaf adalah termasuk lensa sferis namun berisfat divergen


(menghamburkan cahaya), bentuknya terdiri dari bikonkaf, planokonkaf,
konveksokonkaf (meniscus). Ciri-cirinya tipis di bagian tengah dan tebal
di perifer, bayangan objek yang ada di depannya tampak mengecil, ketika
digerakkan, bayangan objek yang terlihat bergerak searah dengan lensa.
Adapun kegunaannya adalah untuk mengoreksi kelainan refraksi seperti
myopia dan sebagai lensa Hruby dalam pemeriksaan fundus dengan slit-
lamp. Gambar yang terbentuk dari lensa cekung ini selalu bersifat maya,
tegak dan diperkecil.(2)

16
Gambar 8. Jenis-jenis lensa cekung (A) bikonkaf (B)Plano-konkaf (C)
Konveksokonkaf(2)

Gambar 9. Sifat bayangan pada lensa cekung(2)

Lensa silinder merupakan lensa yang berbentuk seperti tabung,


bekerja maksimal hanya pada satu axis/sumbu tertentu dan axis yang tegak
lurus dari axis utamanya memiliki kekuatan refraksi 0 dioptri. Terdiri dari
dua, yaitu lensa silinder konveks (positif) atau konkaf (negatif). Lensa
cylindris terutama digunakan untuk mengkoreksi astigmatism, di mana
terdapat perbedaan indeks refraksi pada axis tertentu di kornea sehingga
sesuai dengan mekanisme kerja lensa ini yaitu bekerja pada axis tertentu,
untuk menyatukan titik fokus bayangan akibat perbedaan kekuatan refraksi
tersebut.(2)

17
Gambar 10. Jenis lensa silinder (A) Positif (B)Negatif(4)

Gambar 11. Sifat bayangan pada Lensa cylindris(4)

4. DEFINISI
Astigmatism adalah salah satu kelainan refraksi yang terjadi akibat
ketidakseimbangan/ adanya perbedaan kekuatan refraksi pada setiap meridian/axis
sehingga mengakibatkan cahaya jatuh tidak pada satu titik fokus. Hal ini disebabkan oleh
adanya iregularitas kurvatur baik itu pada kornea atau lensa.(2)

5. EPIDEMIOLOGI
Gangguan refraksi merupakan salah satu penyebab kebutaan di dunia.
WHO menyatakan 45 juta orang menjadi buta di seluruh dunia dan 135 juta
dengan low vision. (7) Data lain menunjukkan sekitar 1,3 juta jiwa pada kelompok
usia 40-49 tahun mengalami kebutaan akibat gangguan refraksi.(8)

18
Berdasarkan hasil survei Indera Penglihatan dan Pendengaran tahun 1993 -
1996 yang dilakukan didelapan provinsi menunjukkan prevalensi kebutaan di
Indonesia sebesar 1,5 persen dengan penyebabnya katarak 0,78%, glaukoma
0,20%, kelainan refraksi 0,14%, kelainan retina 0,13%,kelainan kornea 0,10%,
dan oleh penyebab lain 0,15%. Kebutaan pada anak di Indonesia sebesar 0,6 per
1000 anak.(9)
Miopia merupakan kelainan refraksi yang banyak terjadi pada masyarakat
luas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa miopia berkembang lebih cepat pada
anak-anak yang terkena pada usia muda.(2) Beberapa faktor resiko penyebabnya
adalah faktor genetik dan lingkungan. Pada beberapa literature didapatkan bahwa
progresivitas miopia terjadi pada usia 6-15 tahun. Pada usia ini merupakan
rentang usia pubertas, dimana terjadi laju pertumbuhan fisik secara cepat.(1)

6. ETIOLOGI(2)
Astigmat korneal, diakibatkan oleh abnormalitas kurvatura kornea, faktor
ini menjadi penyebab paling banyak dari astigmatism
Astigmat lenticular, bersifat jarang, diakibatkan oleh kelainan pada lensa,
baik itu kurvaturanya, posisi, dan indeks biasnya
Astigmat retinal, akibat dari perubahan posisi pada retina, sangat jarang
terjadi

7. JENIS-JENIS ASTIGMAT
a. Astigmatisma Reguler
Astigmatisma regular merupakan astigmatisma yang
memperlihatkan kekuatan pembiasan bertambah atau berkurang perlahan-
lahan secara teratur dari satu meridian ke meridian berikutnya. Bayangan
yang terjadi dengan bentuk yang teratur dapat berbentuk garis, lonjong
atau lingkaran.2
Astigmatisma reguler dapat diklasifikasikan sebagai berikut:2
Simple astigmatism, dimana satu dari titk fokus di retina. Fokus
lain dapat jatuh di dapan atau dibelakang dari retina, jadi satu meridian

19
adalah emetropik dan yang lainnya hipermetropi atau miop. Yang
kemudian ini dapat di rumuskan sebagai Simple hypermetropic
astigmatism dan Simple myopic astigmatism.

Gambar 4.Simple miop astigmat(4)

Gambar 5. Simpel hipermetrop astigmat(2)


Compound astigmatism, dimana tidak ada dari dua fokus yang
jatuh tepat di retina tetapi keduanya terletak di depan atau dibelakang
retina. Bentuk refraksi kemudian hipermetropi atau miop. Bentuk ini
dikenal dengan compound hypermetropic astigmatism dan compound
miopic astigmatism.

Gambar 6. Compound Astigmat(2)

20
Mixed Astigmatism, dimana salah satu fokus berada didepan retina
dan yang lainnya berda dibelakang retina, jadi refraksi berbentuk
hipermetrop pada satu arah dan miop pada yang lainnya.

Gambar 7.Astigmat campuran(2)


Apabila meridian-meridian utamanya saling tegak lurus dan
sumbu-sumbunya terletak di dalam 20 derajat horizontal dan vertical,
maka astigmatism ini dibagi menjadi astigmatism with the rule
(astigmatism direk), dengan daya bias yang lebih besar terletak di
meridian vertical, dan astigmatism against the rule (astigmatisma inversi)
dengan daya bias yang lebih besar terletak dimeridian horizontal.
Astigmatism lazim lebih sering ditemukan pada pasien berusia muda dan
astigmatism tidak lazim sering pada orang tua.
b. Astigmatisma Irreguler
Astigmatisma yang terjadi tidak memiliki 2 meridian saling tegak
lurus.Astigmat ireguler dapat terjadi akibat kelengkungan kornea pada
meridian yang sama berbeda sehingga bayangan menjadi ireguler. Pada
keadaan ini daya atau orientasi meridian utamanya berubah sepanjang
bukaan pupil.
Astigmatisma ireguler bisa terjadi akibat infeksi kornea, trauma
dan distrofi atau akibat kelainan pembiasan.

Gambar 8.Astigmat Irregular (2)

21
8. DIAGNOSIS
Untuk menegakkan diagnosis astigmat, dibutuhkan anamnesis,
pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang. Dari anamnesis didapatkan gejala
melihat objek ganda dan objek tersebut tidak jelas baik pada melihat dekat
ataupun jauh, pandangan kabur, serta sering disertai gejala-gejala astenopia (mata
lelah), karena berusaha memicingkan mata dan berakomodasi untuk melihat objek
di depan mata yang terus menerus sehingga kelelahan.
Pada umumnya, seseorang yang menderita astigmat tinggi menyebabkan
gejala-gejala sebagai berikut :
Memiringkan kepala atau disebut dengan tilting his head, pada
umumnya keluhan ini sering terjadi pada penderita astigmat oblik yang
tinggi.
Memutarkan kepala agar dapat melihat benda dengan jelas.
Menyempitkan mata seperti penderita myopia, hal ini dilakukan untuk
mendapatkan efek pinhole atau stenopaic slite. Penderita astigmat juga
menyempitkan mata pada saat bekerja dekat seperti membaca
Pada saat membaca, penderita astigmat ini memegang bacaan mendekati
mata, seperti pada penderita myopia. Hal ini dilakukan untuk
memperbesar bayangan, meskipun bayangan di retina tampak buram.
Sedangkan pada penderita astigmat rendah, biasa ditandai dengan gejala-
gejala berikut :
Sakit kepala bagian frontal
Ada pengaburan sementara pada penglihatan dekat, biasanya penderita
akan mengurangi pengaburan itu dengan menutup atau mengucek-ucek
mata.
Selanjutnya, pada pemeriksaan visus, seperti pada kelainan refraksi
lainnya, dapat dilakukan trial and error sampai didapatkan visus terbaik. Dengan
menggunakan juring atau kipas astigmat, garis berwarna hitam yang disusun
radial dengan bentuk semisirkular dengan dasar yang putih merupakan
pemeriksaan subyektif untuk menilai ada dan besarnya derajat astigmat.

22
Keadaan dari astigmatisma irregular pada kornea dapat dengan mudah di
temukan dengan melakukan observasi adanya distorsi bayangan pada kornea.
Cara ini dapat dilakukan dengan menggunakan Placidos Disc di depan mata.
Bayangan yang terlihat melalui lubang di tengah piringan akan tampak mengalami
perubahan bentuk.
Karena sebagian besar astigmatism disebabkan oleh kornea, maka dengan
mempergunakan keratometer, derajat astigmat dapat diketahui, sehingga pada saat
dikoreksi untuk mendapatkan tajam penglihatan terbaik hanya dibutuhkan lensa
sferis saja.

9. PENATALAKSANAAN
Penatalaksanaan astigmatism tergantung pada jenisnya.Untuk astigmat
regular dapat diterapi dengan kacamata lensa sinlinder, sedangkan untuk yang
ireguler dibutuhkan operasi pada mata yang mengalami gangguan.
a. Tatalaksana pada astigmat reguler(2,3)
Tujuan koreksi pada jenis ini adalah membawa garis fokus pada
tiap meridian/axis menjadi satu titik fokus saja. Hal ini membutuhkan
lensa yang hanya bekerja pada satu meridian saja. Lensa silinder
dibutuhkan pada kasus ini. Ketika salah satu dari dua titik fokus tadi sudah
disatukan dalam satu titik, dibutuhkan lensa sferis untuk membawa titik
fokus ini ke retina jika dibutuhkan (pada kasuscompound dan mixed
astigmat).
Pada astigmatism againts the rule, koreksi dengan silender negatif
dilakukan dengan sumbu tegak lurus (60-120 derajat) atau dengan selinder
positif dengan sumbu horizontal (30 150 derajat). Sedangkan pada
astigmatism with the rule diperlukan koreksi silinder negatif dengan
sumbu horizontal (30-150 derajat) atau bila dikoreksi dengan silinder
positif sumbu vertikal (60-120 derajat).

23
A

Gambar 30.(A) Astigmat tanpa koreksi (B) Astigmat sudah dikoreksi dengan lensa sferis (C)
Astigam sudah dikoreksi dengan lensa sferis dan silinder(10)

b. Tatalaksana pada astigmat irregular(3)


Kasus ini tidak dapat ditatalaksanai dengan kacamata, untuk
astigmat yang eksternal akibat kelainan kurvatur kornea, dapat diberikan
kontak lensa rigid, keratoplasti, atau koreksi bedah. Pada kasus astigmat
ireguler yang kelainannya dari lensa (internal) dapat dilakukan ekstraksi
lensa dan implantasi lensa buatan.

24
c. Tatalaksana Pembedahan
Radial Keratotomy
Untuk membuat insisi radial yang dalam pada pinggir kornea dan
ditinggalkan 4 mm sebagai zona optik.Pada penyembuhan insisi ini terjadi
pendataran dari permukaan kornea sentral sehingga menurunkan kekuatan
refraksi. Prosedur ini sangat bagus untuk miopi derajat ringan dan sedang.
Kelemahannya: Kornea menjadi lemah, bisa terjadi ruptur bola
mata jika terjadi trauma setelah RK, terutama bagi penderita yang berisiko
terjadi trauma tumpul, seperti atlet, tentara. Bisa terjadi astigmat irreguler
karena penyembuhan luka yang tidak sempurna,namun jarang terjadi.
Pasien Post RK juga dapat merasa silau saat malam hari.

LASIK
Pada teknik ini, pertama sebuah flap setebal 130-160 mikron dari kornea anterior
diangkat. Setelah Flap diangkat, jaringan midstroma secara langsung diablasi
dengan tembakan sinar excimer laser , akhirnya kornea menjadi flat. Sekarang
teknik ini digunakan pada kelainan miopi yang lebih dari - 12 dioptri.

25
Gambar 12. Operasi LASIK

Kriteria pasien untuk LASIK


- Umur lebih dari 20 tahun.
- Memiliki refraksi yang stabil,minimal 1 tahun.
- Motivasi pasien
- Tidak ada kelainan kornea dan ketebalan kornea yang tipis merupakan
kontraindikasi absolut LASIK.

Keuntungan LASIK:
- Minimimal atau tidak ada rasa nyeri post operatif
- Kembalinya penglihatan lebih cepat dibanding PRK.
- Tidak ada resiko perforasi saat operassi dan ruptur bola mata karena
trauma setelah operasi,
- Tidak ada gejala sisa kabur karena penyembuhan epitel.
- Baik untuk koreksi miopi yang lebih dari -12 dioptri.

26
Kekurangan LASIK:
- LASIK jauh lebih mahal
- Membutuhkan skill operasi para ahli mata.
- Dapat terjadi komplikasi yang berhubungan dengan flap, seperti flap putus
saat operasi, dislokasi flap postoperatif, astigmat irreguler.

PRK
Pada photorefractive keratectomy (PRK), excimer laser
digunakan untuk photoablate kurvatur anterior jaringan stroma kornea.
Epitelium kornea dilepaskan sebelum photoablation dan memerlukan 3-4
hari untuk regenerasi, dimana dalam jangka waktu ini bandage contact
lense dipakai.
Kelemahan PRK:
- Penyembuhan postoperatif yang lambat
- Keterlambatan penyembuhan epitel menyebabkan keterlambatan pulihnya
penglihatan dan pasien merasa nyeri dan tidak nyaman selama beberapa
minggu.
- Dapat terjadi sisa kornea yang keruh yang mengganggu penglihatan
- PRK lebih mahal dibanding RK

27
BAB III
KESIMPULAN

Kelainan refraksi atau ametropia merupakan kelainan pembiasan sinar


pada mata sehingga sinar tidak difokuskan pada retina, tetapi dapat di depan atau
di belakang retina dan/ atau tidak terletak pada satu titik fokus. Kelainan refraksi
dikenal dalam bentuk miopia, hipermetropia dan astigmat. Kelainan refraksi dapat
diakibatkan terjadinya kelainan kelengkungan kornea dan lensa, perubahan indeks
bias, dan kelainan panjang sumbu bola mata.
Pada kasus astigmatism, sinar-sinar sejajar tidak difokuskan pada satu
titik, bisa dua titik atau lebih dengan letak yang tidak tentu (bisa di depan
retina/retina/belakang retina). Astigmat terbagi atas astigmat regular dan irregular.
Adapun gejala klinis dari astigmatism adalah penglihatan kabur atau terjadi
distorsi. Pasien juga sering mengeluhkan penglihatan berbayang. Sebagian juga
mengeluhkan nyeri kepala dan nyeri pada mata.
Pada astigmat regular, sinar-sinar sejajar aksis visual difokuskan pada titik
dalam bentuk satu garis di belakang kornea, terutama disebabkan oleh kelainan
kurvatura kornea. Astigmat regular diklasifikasikan menjadi simple astigmatism,
compound astigmatism, mixed astigmatism. Compound astigmatism, dimana tidak
ada dari dua fokus yang jatuh tepat di retina tetapi keduanya terletak di depan atau
dibelakang retina. Sedangkan astigmat irregular, sinar-sinar sejajar aksis visual
difokuskan pada titik berbeda-beda, tidak teratur di belakang kornea, dan terutama
oleh kelainan curvature kornea dan lensa, dan penanganannya hanya dapat
dilakukan dengan mengubah bentuk permukaan media refraksi dengan
menggunakan hard contact lens.
Penanganan astigmatism dapat dilakukan dengan koreksi menggunakan lensa
silinder, lensa kontak, dan pembedahan. Koreksi dengan lensa silinder hanya dapat
digunakan untuk memperbaiki visus penderita astigmat reguler.

28
DAFTAR PUSTAKA

1. Ilyas S. Ilmu Penyakit Mata. Jakarta : Balai Penerbit FKUI. 2017


2. Khurana A. Comprehensive Ophthalmology 4th Ed. India: New Age
International; 2007.
3. Lang G K. Ophthalmology. A Pocket textbook Atlas 2nd Ed. New York:
Thieme; 2006.
4. Gregory I. Ostrow LK, CO. Myopia 2014 [cited 2017 Juny, 4th].
Available from: http://eyewiki.aao.org/Myopia#Diagnostic_procedures.
5. Riordan-Eva P, Whitcer J. Vaughan & Asbury. Oftalmologi Umum Ed.
17. Jakarta: EGC; 2010.
6. Carpenter N, Grigorian AP. Hyperopia2015 [cited 2017 Juny, 4th].
Available from: http://eyewiki.aao.org/Hyperopia.
7. Rasmiyati W.P, Suhardjo, Agni A.N. Comparing Myopix Progression in
Urban and Rural Junior High School in Yogyakarta. Ophthalmol Ina
2016;42(1):86-90
8. Resnikoff S, et al. Global magnitude of visual impairment caused by
uncorrected refractive errors in 2004. USA: World Health Organization;
2004.
9. Wu PC, et al. Epidemiology of Myopia. Asia-Pacific Journal of
Ophtalmology. Taiwan. 2016.

29

Anda mungkin juga menyukai