Anda di halaman 1dari 20

LABORATORIUM FARMAKOLOGI TOKSIKOLOGI

JURUSAN FARMASI FAKULTAS MIPA

UNIVERSITAS PANCASAKTI

PERCOBAAN I

SISTEM SARAF OTONOM DAN SISTEM SARAF PUSAT

OLEH

NAMA : SELVI FITRIANI AMIER

NIM : 514 011 152

KELAS/ ANGKATAN : C/ 2014

KELOMPOK : I (SATU)

ASISTEN : YASINTA MARIANI PEBRINA

JURUSAN FARMASI
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS PANCASAKTI
MAKASSAR
2015
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Syarat mempelajari ilmu farmakologi adalah terlebih dahulu faham

mengenai ilmu anatomi dan fisiologi manusia. Dalam mempelajari bat-obata yang

mempengaruhi sistem saraf otonom, terlebih dahulu kita harus membuka

pengetahuan kita terhadap perihal anatomi dan fisiologi sistem saraf. Salah satu

istlah yang sering dijumpai adalah neuron atau sel saraf. Setiap sel konduktor

sistem saraf, terdiri dari badan sel (soma) yang mengandung nukleus dan

sitoplasma disekelilingnya, serta akson dan densrit. Askon sendiri merupakan

tonjolan neuron ke luar dari badan sel yang berfugsi menghantarkan impuls-

impuls ke sel yang lain (sel saraf atau sel organ efektor), sedangkan dendrit

merupakan pemanjangan serupa benang dari sitoplasma saraf. (Nugroho, 2012).

Sistem saraf adalah serangkain organ yang kompleks dan

berkesinambungan serta terutama terdiri dari jaringan saraf. Dalam mekanisme

sistem saraf, lingkungan internal dan stimulus eksternal dipantau dan diatur. Suatu

sel saraf disebut neuron yang terdiri dari baadan sel (cell body), dendrit dan neuri.

Dendrit menrrima dan menyalurkan stilimulus keluar dari badan sel, sedangkan

neurit mengirim stimulus keluar dari badan sel. Kumpulan neuron yang berada

dalam susunan saraf pusat dinamakan pseudonipolar. (Buranda,dkk.2010)


B. Maksud Percobaan

Adapun maksud dari percobaan ini yaitu untuk mengetahui efek obat

sistem saraf otonom.

C. Tujuan Percobaan

Adapun tujuan dari percobaan ini yaitu untuk mengetahui efek-efek

georologik obat-obat sistem saraf otonom yakni atropin sulfat terhadap hewan uji

mencit.

D. Prinsip Percobaan

Penentuan obat-obat sistem otonom seperti antropin sulfat melalui

tindakan atau tingkah laku yang ditunjukkan pada hewan uji mencit berupa

miosis, midriasis, diare, diuresis, termor, bronkodilatsi, bronkokontriksi,

vasodilatasi, vasokontriksi, saliva, keringat, air mata, dan grooming.


BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Teori Ringkas

Sistem saraf adalah serangkatan organ yang kompleks dan bersambungan

serta terdiri terutama dari jaringan saraf. Dalam mekanisme sistem saraf

lingkungan internal dan stimulus eksternal dipantau dan diatur kemampuan

khusus seperti iritabilitas, atau sensitivitas terhadap stimulus. Dan konduktivitas,

atau kemampuan untuk mentransmisi suatu respons terhadap stimulasi, diatur oleh

sistem saraf dengan 3 cara uatam yaitu: Input sensorik; sistem sraf menerima

sensasi atau stimulus melalui reseptor, yang terlatak ditubuh baik eksternal

maupun internal. Aktivitas antegratif : reseptor mengubah stimulus yang menjadi

implus listrik yang menjalar di sepanjang saraf sampai ke otak mendulla sepinalis,

yang kemudian akan menginterpretasi dan mengintergrasi stimulus, sehingga

respon terhadap informasi bisa terjadi. Output motorik impuls dari otak dan

medula spinalis memperoleh respon yang sesuai dari otak dan kelenjar tubuh,

yang disebut efektor. (Ethel Sloane,2008)

Neuron adalah unit fungsional sistem saraf yang terdiri dari badan sel dan

perpanjangan sitoplasma. Badan sel, atau perikarion , suatu neutron yang

mengandalikan metabolisme keseluruhan neutron.Bagian ini tersusun dari

komponen berikut : Satu nukleus tunggal , nukleus yang menonjol dan organel

lain seperti kompleks Golgi dan mitokondria , tetapi nukleus ini tidak memiliki

sentriol dan tidak dapat bereplikasi. Badan Nissl,terdidri dari retikulum


endoplasma kasar dan ribosom ribosom bebas serta berperan dalam sintesis

protein. Neurofibril, yaitu neurofilamen dan neurotublus yang dapat dilihat melaui

mikroskop cahaya jika diberi pewarnaan dengan perak . Dendrit adalah

perpanjangan sitoplasma yang biasanya berganda dan pendek, serta berfungsi

untuk menghantar implus ke seluruh sel tubuh. Permukaan dendrit penuh dengan

spina dendrit yang dikususkan untuk berhubungan dengan neuron lain. Neurofibril

dan badan Nissl memanjang kedalam dendrit. Akson adalah suatu prosesus

tunggal , yang lebih tipis dan lebih panjang dari dendrit. Bagian ini menghantar

implus menjauhi badan sel ke neutron lain, ke sel lain ( sel otot atau kelenjar) ,

atau kebadan sel neutron yang menjadi asal akson. Terbagi dua yaitu : Origo

akson. Akson berasal dari badan sel pada hillock akson, yaitu regia yang tidak

mengandung badan Nissl. Ukuran akson, mungkin berukuran kurang dari 1 mm

sampai dengan 1 m lebih ( 1 mm = 0,04 inci : 1 m = 3, 28 kaki). Dibagian

ujungnya, sebuah akson dapat bercabang banyak.( Ethel Sloane 2008)

Percabangan akhir memliki suatu pembesaran yang disebut konsep

sinaptik,terminal presinaptik , atau terminal bauton. Sisi percabangan ( kolateral)

yang berujung pada akhir yang sama dengan pembesaran, dapat terjadi di sisi

distal.( Ethel Sloane 2008)

Gerak refleks merupakan bagian dari mekanisme peertahanan pada tubuh

dan terjadi jauh lebih cepat dari gerak sadar, misalnya menutup mata pada saat

terkena debu, menarik tangan pada saat terkena barang panas. Gerak refleksi ini

dapat dihambat oleh kemauan sadar,misalnya bukan saja tidak menarik tangdan
dari benda panas bahkan dengan sengaja menyentuh permukaan benda panas itu

(Faiz,2010)

Fungsi organ-organ tubuh dikontrol dan diintregrasikan dan sistem

endokrin. Secara umum, kedua sistem ini mempunya dua sifat yang hampir sama,

yaitu mempunyai kemampuan untuk memengaruhi proses-proses dibagian tubuh

yang letaknya jauh, dan mekanisme umpan balik negatifnya juga mempunyai arti

penting. Pusat inateraksi tertinggi untuk sistem saraf dan sistem endikrim adalah

hipotalamus. Obat otonom adalah obat yang bekerja mempengaruhi SSO atau

mempengaruhi reseptor sel efektor yang dikontrol oleh SSO. Obat otonom dapat

memacu ( agonis) atau menghambat (antagonis) fungsi sistem saraf otonom .

mempelajari anatomi, fisiologi, dan biokimia SSO merupakan hal yang sangat

penting untuk dapat mengerti dan memahami farmakologi obat otonom. Saraf

yang mengontrol dan mengoordinasikan fungsi fisiologis tubuh manusia

dibedakan atas dua divisi utama : Sistem saraf pusat (SSP) terdapat dalam otot

dan medulla spinalis, dan Sistem saraf perifer yang memperantarai antara SSP dan

lingkungan eksternal dan internal. (Staf pengajar, 2009)

Alkaloid plokarpin adalah suatau amin tersier yang stabil terhadap

hidrolisis oleh asetilkolinesterase. Pilokarpin termasuk obat yang lemah

dibandingkan dengan asetilkolin dan turunanya. Aktivitas utamanya adalah

muskarinik dan digunakan untuk oftalmologi. Penggunaan topikal pada kornea

dengan cepat menimbulkan miosis dan kontraksi otot siliari. Pada mata

menimbulkan spasme akomodasi, dan penglihatan akan terfokus pada jarak

tertentu sehingga sulit untuk mengfokuskan suatu objek. (Staf Pengajar,2009)


Pilokarpin termasuk pemacu sekresi kelenjar yang terkuat pada kelenjar

keringat, kelenjar saliva dan kelejra air mata, namun obat ini tidak digunakan

untuk maksud ini. Penggunaan dalam terapi glaukoma.pilokarpin adalah obat

terpilih untuk keadaan gawat darurat, yang dapat menurunkan tekanan bola mata,

baik glaukoma bersudut sempit ( bersudut tertutup) maupun yang bersudut lebar

(bersudut terbuka). Pilokarpin sangat efektif untuk membuka anyaman trabekular

di sekitar kanal sclemm sehingga tekanan dalam bola mata turun dengan cepat

karena cairan humor keluar dengan lancar. Efek ini dapat berlangsung selama

sekitar satu hari dan pemberiannya dapat diulangfi lagi. Obat lain yang efektif

untuk glaukoma adalah menghambat karbonat anhidrase, seperti azetazolamid dan

penyekat namun tidak berguna dalam keadaan gawat darurat mata. ( Staf

Pengajar, 2009)

Efek samping. Perangsangan keringat dan salivasi yang berlebihan.

Pilokarpin juga dapat masuk ke SSP dan menimbulkan gangguan SSP. ( Staf

Pengajar, 2009)

Perangsangan saraf somatik menghasilkan aktuvitas tunggal kontraksi otot

tetapi, perangsangan saraf otonom menghasilkan aktivitas yang lebih kompleks.

Umumnya hal ini dapat dikatakan bahwa saraf simpatik dapat berupa suatu

respons aktivitas, dan saraf parasimpatik sebagai homeostatik vegetatif.

( Staf Pengajar, 2009)

Sistem Saraf Somatik (SSS) merupakan saraf vulenter karena mensarafi

otot rangka yang dapat dikendalikan. Sedangkan SSO bekerja pada otot polos dan

kelejar yang tidak dapat dikendalikan. Fungsi SSO adalah mengendalikan dan
mengatur organ-organ otonom, seperti jantung, saluran gastrointestinal, mata,

kandung kemih, pembuluh darah, kelenjar, paru-paru dan bronkus. SSO

mempunyai dua neuron, yaitu eferen (sensorik) dan eferen (motorik). Neuron

aferen mengirimkan inpils (informasi) ke SSP, untuk diinterpretasikan. Neuron

eferen menerima inpuls dari otak dan diteruskan melelui medulla spinalis ke ses-

sel organ efektor, seperti jantung, paru-paru, dan saluran pencernaan.

(Priyanto, 2008)

Dalam mempelajari obat-obat yang mempengaruhi sistem saraf otonom,

terlebih dahulu kita harus membuka pengetahuan tentang antomi dan fisiologi

sistem saraf. Setiap sel konduktor sistem saraf terdiri dari badan sel (soma), yang

mengandung nukleus dan sitoplasma disekelilingnya, serta akson dan dendrit.

Akson merupakan tonjolan neuron keluar dari badan sel yang berfungsi

menghantar implus-impuls ke sel yang lain yaitu sel efektor. Sistem saraf perifer

merupakan tempat penghantaran impuls dari sistem saraf pusat menuju sel organ

efektor misalnya sel jantung, sel paru-paru, sel ginjal, sel otot. Sistem saraf

somatik merupakan sistem motorik meliputipersarafan menuju kesel otot skeletal.

Dan sistem saraf otonom merupakan gambaran sistem saraf eferen yang

memperantarai persarafan menuju sel organ efektor misalnya jantung, paru-paru,

ginjal, dan pembuluh darah. (Agung, 2012)

Sistem saraf otonom bersama-sama dengan sistem endokrin

mengkoodinasi pengaturan dan integrasi fungsi-fungsi tubuh, sistem endokrin

memberi sinyal pada jaringan targetnya melalui hormon yang kadarnya bervariasi

dalam darah. Obat-obat yang menghasilkan efek terapetik utamanya dengan


menyerupai atau mengubah fungsi sistem saraf otonom atau dengan cara

menghambat kerja sisitem saraf ini. (Mycek, 2001)

Berkurangnya berat otak serta menurunnya ukuran panjang dan lebar

cerebrum, panjang dan lebar cerebellum, serta tebal dinding cerebrum dapat

disebabkan oleh berkurangnya jumlah sel penyusun otak akibat matinya sel

neuroepitel selama neurulasi. Selain disebabkan oleh kematian sel, penurunan

berat otak dan lebih kecilnya ukuran cerebrum, diduga disebabkan oleh

berkurangnya jumlah sel yang berplori-ferasi dan berkurangnya protein karena

karena terhambatnya sintesis DNA dan RNA. Hal ini sesuai dengan penelitian

Marti (2006), yang menyebutkan bahwa struktur OTA yang mirip dengan struktur

asam amino fenilalanin (Phe-) akan menyebabkan OTA menghambat enzim yang

menggunakan Phe seperti Phe-tRNA synthetase sehingga \ menyebabkan

terjadinya penghambatan sintesis protein, disamping merangsang peroksidasi

lipid. Menurut Belmadani et al. (1998), pengurangan berat otak dan jumlah DNA

terjadi karena adanya reduksi monoamin seperti dopamin, noradrenalin dan

serotonin. ( Setiawan,2013)

Secara umum dasar pikran adalah relaksisai sebagai berikut : manusia

memiliki dua sistem saraf pusat dan sistem saraf otonom. Sistem saraf pusat

terutama mengontrol gerakan- gerakan yang disadari, sedangkan sistem saraf

otonom mengontrol gerakan yang tidak disadaari. Sitem saraf otonom mempunyai

dua sub sistem yang bekerja dalam cara yang berlawanan, yaitu : (a) sistem saraf

simpatis, yang bekerja memacu kerja organ-organ tubuh, misalnya mempercepat

denyut jantung, mengakibatkan penyempitan pembulh darah periferr dan


pembesaran pembuluh darah pusat. (b) sistem saraf parasimpatis, yang bekerja

mengurangi aktivitas organ-organ yang dipacu oleh sistem saraf simpatis dan

memacu aktivitas organ-organ yang dihambat oleh sistem saraf simpatis.

(Nida,dkk. 2001)

Pada penyakit diabetes mellitus terdapat beberapa kelainan struktur seluler

dan perubahan mekanisme pengaturan komponen biologis penting dalam produksi

kecemasan. Respon maladaptif terhadap rangsangan kecemasan terjadi di lokus

seruleus-norepinefrin - sistem saraf simpatis, axis hipotalamus-hipofisis, dan

sistem cholecystokinin. Wells dkk dalam sebuah penelitiannya menemukan

bahwa "gangguan mental psikiatrik (kecemasan) berhubungan dengan penyakit

diabetes mellitus komplikasi kronik, hipotesis tersebut, menunjukkan bahwa

hubungan antara gangguan kecemasan dan penyakit diabetes mellitus komplikasi

kronis berkembang sangat cepat dari hubungan antara penyakit fisik dan

gangguan mental psikiatrik lainnya. (Baharuddin,2014)


A. Uraian Bahan

1. Atropin sulfat ( FI Edisi III hal. 98)

Nama resmi : ATROPINI SULFAS

Nama lain : Atropin sulfat

Rumus molekul : C23H46N2O6. H2SO4. H2O

Berat molekul : 694,85

Pemerian : Tidak berwarna, atau serbuk putih, tidak barbau, sangat

pahit, sangat beracun.

Kelarutan : Larut dalam kurang dari satu bagian air dan dalam lebih

kurang 3 bagian etanol ( 90 %) p, sukar larut dalam kloform

p, praktis tidak larut dalam eter p, dan dalam benzen p.

Penyimpanan : Dalam wadah tertutup rapat, terlindung dari cahaya

Kegunaan : Parasimpatolitikum

Farmakologi : Pada umumnya kerja atropin adalah mengadakan

penghambatan ditempat yang dipersarafi oleh serabut

kolinergik pasca gamglion. Pada dosis kecil atropin hanya

mendepresi sekresi kelenjar air liur. Dosis yang lebih besar

diperlukan untuk menghambat peristaltik usus dan sekresi

kelenjar lambung. Antropin memperlihatkan efek sentral

terhadap SSP yang biasanya terlihat pada dosis kecil dan

mendepresi pada dosis besar.

Efek samping : kadang dapat menyebabkan rasa kering pada mulut

dilatasi pupil dan ruam kulit.


2. Pilokarpin ( FI Edisi III hal. 498)

Nama resmi : PILOCARPINI HYDROCHLORIDUM

Nama lain : Pilokarpin, hidroklorida

Rumus molekul : C11H16N2O2. HCl

Berat molekul : 244,72

Pemerian : Hablur tidak berwarna atau serbuk hablur putih, tidak

berbau, rasa agak pahit, higroskopik.

Kelarutan : Sangat mudah larut dalam air, mudah larut dalam etanol

(95%)P, sukar larut dalam kloform P, praktis tidak larut

dalam eter P.

Penyimpanan : Dalam wadah tertutup rapat, terlindung dari cahaya

Kegunaan : Pengobatan glukoma kronik, glukoma sudut tertutup akut

dan kronik.

Kontra indikasi : Hipersensitivitas terhadap pilokarpin atau komponen lain

dalam sediaan. Inflamasi pada inang anterior mata, kondisi

kontriksi pupil seperti iritasi akut, anterior aventit dan

glikoma sekunder terutup.

Efek samping : Sakit kepala, pada pengobatan 2-4 minggu, pada mata rasa

terbakar, pucat penglihatan buram kongestif laskuler,

perubahan lensa, pendarahan dan penghambatan pada pupil.

Dosis : 1-2 tetes sampai 4 kali sehari

Dosis maksimum : Sekali 20 mg, sehari 5 mg


Farmakologi : Onset kerja pada pemberian obat tetes mata 10-30 menit,

penurunan tekanan intarokuler 1 jam.

3.Propanolol

Nama resmi : PROPANOLOLI HYDROCHLORIDUM

Nama lain : Propanolol hidroksida

Rumus molekul : C16H21NO2HCl

Berat molekul : 295,81

Pemerian : Serbuk putih atau hablur putih, tidak berbau rasa pahit

Kelarutan : Larrut dalam 20 bagian air dan 20 bagian etanol (95%)p,

sukar larut dalam kloroform p

Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik

Kegunaan : Antiadrenergik

Dosis maksimum : Sehari 320 mg


C. Uraian Hewan Uji

1. Klasifikasi Mencit (Mus musculus) (Malole,1998)

Kingdom : Animalia

Fhylum : Chordata

Class : Mammalia

Ordo : Rodentia

Family : Muridae

Genus : Mus

Spesies : Mus musculus

2. Morfologi Mencit (Mus musculus) (Malole,1998)

Mencit (Mus musculus) adalah anggota muridae (tikus-tikusan) yang

berukuran kecil. Mencit mudah dijumpai dirumah-rumah dan dikenal sebagai

hewan penganggu karena kebiasaannya mengigit mebel dan barang-barang kecil

lainnya serta bersarang disudut-sudut lemari. Hewan ini diduga sebagai mamalia

terbanyak kedua didunia, setelah manusia. Mencit sangat mudah menyusuaikan

diri dengan perubahan yang dibuat manusia, bahkan jumlahnya yang hidup liar

dihutan barang kali lebih sedikit dari pada yang tinggal diperkotaan.

3. Karakteristik Mencit (Mus musculus) (Malole,1998)

Pubertas : 95 hari

Masa beranak : sepanjang tahun

Lama hamil : 19-20 hari

Masa tumbuh : 60 hari

Jumlah 1x lahir : 4-12 ekor


Lama hidup : 2-3 tahun

Masa lansia : 21 hari

Frekuensi melahirkan : 4 x tiap tahun

Suhu tubuh : 37,9-39 0C

Kecepatan respirasi : 36-216 / menit

Tekanan darah : 147 / 216 mmHg

Volume darah : 7,5 ml

Denyut jantung : 300 / menit

Pernapasan rate : 94-163 kali / menit

Denyut jantung : 325-780 denyut / menit


BAB III

METODE KERJA

A. Alat Dan Bahan

1. Alat-alat yang digunkan

Adapun alat-alat yang digunkan dalam percobaan ini yaitu beker glass,

botol pereaksi, gelas ukur, spoid oral, stopwacth, dan timbangan.

2. Bahan yang digunakan

Adapun bahan-bahan yang digunakan pada percobaan ini yaitu obat

atropin sulfat, aqua pro ijneksi, Na CMC, dan tissue.

B. Cara Kerja

1. Persiapan Hewan Uji

Disiapkan alat dan bahan yang akan digunakan, hewn uji yang digunakan

adalah hewan uji mencit yang berbadan sehat yang akan mendapat perlakuan,

hewan uji diadaptasikan 24 jam. Mencit ditimbang dan dihitung volume

pemberian obatnya.

1. Persiapan Bahan

a. Pembuatan Na CMC 1 %

Disiapkan alat dan bahan yang akan digunakan, timbang 1 g Na CMC

dipanaskan aquadest sebanyak 100 ml, kemudian dicampur 1 gr Na CMC

dalam air hangat hingga homogen, kemudian cukupkan volumenya hingga

100 ml.
b. Pembuatan Sediaan Pilokarpin

Disiapkan alat dan bahan yang akan digunkan, diambil 2 ml pilokarpin

kemudian dicukupkan vulumenya dengan aqua proinjeksi 10 ml. Di pipet 5 ml

larutan tersebut kemudian dicukupkan volumenya hingga 10 ml, dipipet 1 ml

dan cukupkan volumenya dengan aqua pro injeksi hingga 10 ml.

c. Pembuatan Sediaan Propanol

Disiapkaan alat dan bahan yang akan digunakan, ditimbang 97,87 mg

tablet propanol yang telah dihaluskan, dimasukkan dalam beker glass 100 ml

kemudian disuspensikan dengan 1 % CMC sebanyak 50 ml lalu diaduk sampai

homogen, dimasukkan dalam labu ukur 100 ml lalu dicukupkan volumenya

dengan CMC 1% sampai tanda garis lalu dihomogenkan, dimasukkan dalam

botol pereaksi dan diberi label.

d. Pembuatan Sediaan Antropin

Disiapkan alat dan bahan yang akan digunakan, dipipet 5 ml antropin

sulfat dimasukkan dalam labu ukur 100 ml, lalu cukupkan volumenya dengan

aquadest ad 100 ml dipipet 4 ml larutan tersebut dan dicukupkan volumenya

hinnga 100 ml dengamn aquadest. Dimasukkan dalam botol pereaksi lalu

diberi label.

2. Perlakuan Terhadap Hewan Uji

a. Sediaan Pilokarpin

Disiapkan alat dan bahan yang akan digunakan, mencit diberi pilokarpin

sebanyak 1 ml secara oral. Dimasukkan mencit kedalam beker glass 1000 ml

kemudian diamati dan catat hasil pengamatan dan lakukan analisis data.
b. Sediaan Antropin Sulfat

Disiapkan alat dan bahan yang akan digunakan, mencit diberi antropin

sulfat sebanyak 1 ml secara oral. Dimasukkan mencit kedalam beker glass

1000 ml kemudian diamati dan catat hasil pengamatan dan lakukan analisis

data.

c. Sediaan propanolol

Disiapkan alat dan bahan yang akan digunakan, mencit diberi propanol

sebanyak 1 ml secara oral. Dimasukkan mencit kedalam beker glass 1000 ml

kemudian diamati dan catat hasil pengamatan dan lakukan analisis data.
LABORATORIUM FARMAKOLOGI TOKSIKOLOGI

JURUSAN FARMASI FAKULTAS MIPA

UNIVERSITAS PANCASAKTI

PERCOBAAN I

SISTEM SARAF OTONOM DAN SISTEM SARAF PUSAT

OLEH

NAMA : TIEN RESTI KARMILA SARI

NIM : 514 011 205

KELAS/ ANGKATAN : C/ 2014

KELOMPOK : I (SATU)

ASISTEN : YASINTA MARIANI PEBRINA

JURUSAN FARMASI
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS PANCASAKTI
MAKASSAR
2015
LABORATORIUM FARMAKOLOGI TOKSIKOLOGI

JURUSAN FARMASI FAKULTAS MIPA

UNIVERSITAS PANCASAKTI

PERCOBAAN I

SISTEM SARAF OTONOM DAN SISTEM SARAF PUSAT

OLEH

NAMA : HJ. NURLIAH

NIM : 514 011 283

KELAS/ ANGKATAN : C/ 2014

KELOMPOK : I (SATU)

ASISTEN : YASINTA MARIANI PEBRINA

JURUSAN FARMASI
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS PANCASAKTI
MAKASSAR
2015