Anda di halaman 1dari 2

Antilogisme

adalah suatu pengingkaran kesimpulan bentuk silogisme akan terwujud ketidakselarasan antara premis
dan kesimpulan.

Konsep dasar antilogisme untuk pengujian silogisme

yaitu dengan mengingkari kesimpulan dari suatu silogisme akan terwujud ketidakselarasan dengan
premisnya maka yang tepat adalah kesimpulan semula.

contoh pengujuan silogisme kategori :

jika setiap rakyat Indonesia sama kedudukannya dalam hukum dan pemerintahan, dan tidak semua
warga PDI sama kedudukannya dalam hukum dan pemerintahan maka berarti tidak semua warga PDI
adalah rakyat Indonesia.

Dilema

adalah bentuk penyimpulan berpangkal pada dua pernyataan dengan hubungan ketergantungan antara
dua bagian yang mewujudkan kesimpulan bercabang.

contoh : "Saya berkata benar atau salah, jika saya berkata benar mengapa saya kautampar, dan jika
saya berkata salah buktikan. Maka kesimpulannya mengapa saya kautampar atau buktikan kesalahan
saya."

Dilema Konstruktif

bentuk penyimpulan bercabang dengan modus ponendo ponen (dalam silogisme ekuivalen).Yaitu,
menetapkan anteseden masing-masing proposisi implikatif pada premis mayor, maka kesimpulannya
menetapkan konsekuen masing-masing proposisi itu.

Contoh :

Premis 1 : Jika hari hujan, aku akan tinggal di rumah;

tetapi jika pacar datang, aku pergi berbelanja.

Premis 2: Hari ini hujan atau pacar datang.

Konklusi : Aku akan tinggal di rumah atau pergi berbelanja.

Dilema Destruktif

bentuk penyimpulan bercabang dengan modus tolendo tolen (dalam silogisme ekuivalen).Yaitu, ingkari
konsekuen masing-masing proposisi implikatif pada premis mayor, maka kesimpulannya ingkari masing-
maisng anteseden proposisi itu.

Contoh :
Premis 1: Jika aku memberikan pengakuan, aku akan digantung; dan jika aku tutup mulut, aku akan
ditembakmati.

Premis 2 : Aku tidak akan ditembak mati atau digantung.

Konklusi : Aku tidak akan memberikan pengakuan, atau tidak akan tutup mulut.