Anda di halaman 1dari 37

1. JUDUL : EFEKTIVITAS FUNGSI PEMASARAN PADA PT.

MARS

LESTARI

2. LATAR BELAKANG

Air merupakan sumber kehidupan sehari-hari yang mutlak diperlukan

oleh semua makhluk hidup seperti tumbuhan, hewan, dan manusia. Bagi

manusia salah satu fungsi air adalah untuk memenuhi kebutuhan minum

guna mempertahankan kelangsungan hidup. Air minum yang dibutuhkan

oleh manusia tentunya adalah air yang bersih dan bebas dari kuman,

sehingga dapat memberikan manfaat bagi kesehatan.

Bagi masyarakat yang berada di wilayah perkotaan untuk

mendapatkan air yang bersih dan bebas kuman sangat sulit, karena

kondisi sumber air seperti air bawah tanah dan sungai sudah banyak

tercemar, sehingga tidak layak untuk dikonsumsi dan digunakan untuk

kebutuhan hidup. Untuk menjawab semua itu pemerintah membentuk

suatu badan usaha yang bergerak dibidang air minum yaitu

Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM), namun itu semua tidak

mencukupi kebutuhan. Hal ini karena kondisi air minum di Indonesia

terutama di wilayah perkotaan semakin tercemar, ditambah semakin

tingginya tingkat kesadaran dan kepedulian masyarakat akan kesehatan.

Hal itu menyebabkan masyarakat mencari alternatif lain untuk

memenuhi kebutuhan sehari-hari terutama kebutuhan untuk minum.

1
Pentingnya air minum membuat masyarakat semakin sadar

akan kebutuhan hal tersebut dimanapun mereka berada, baik pada saat

mereka berada di rumah, di luar lingkungannya, maupun dalam perjalanan.

Hal ini menjadi suatu peluang bagi para pengusaha untuk membuat

perusahaan yang dapat mengolah dan mengemas air minum, mudah

didapatkan dimana saja dan mudah dibawa. Untuk mewujudkan hal

tersebut terciptalah Air Minum Dalam Kemasan (AMDK).

Bisnis AMDK sampai saat ini terus berkembang bukti nyatanya

adalah dengan makin banyaknya merek-merek produk AMDK yang terus

bermunculan baik besar, menengah maupun kecil. Hal ini menimbulkan

persaingan antar perusahaan, terlebih lagi ada beberapa perusahaan

besar AMDK lain dengan merek dagang AQUA, VIT dan Ades yang

telah menguasai pasar. Menurut Asosiasi Produsen Air Minum Dalam

Kemasan Indonesia (Aspadin) pada fujiRO menjelaskan bahwa saat ini ada

480 perusahaan AMDK, tetapi yang berproduksi hanya 350 dengan

165 di antaranya tergabung dalam Aspadin. Kini ada kurang lebih 600

merek AMDK yang aktif.

PT. Mars Lestari merupakan salah satu perusahaan yang memproduksi

Air Minum Dalam Kemasan (AMDK) dengan merek dagang Mega Vin, yang

berdiri pada tahun 2007. Perusahaan tersebut telah bersertifikat SNI sejak 27

Juli 2007. Adapun produk AMDK dari PT. Mars Lestari yaitu, cup(gelas) 120

ml, 220ml, dan 240ml, botol 330ml, 600ml, dan 1500ml, serta galon 19L.

Wilayah pemasaran produk AMDK tersebut Sumatera Selatan khususnya

2
Kota Palembang dan tidak menutup kemungkinan wilayah lain apabila ada

permintaan dalam jumlah yang cukup besar.

Dalam melakukan penjualan, PT. Mars Lestari diharapkan mampu

untuk mengembangkan suatu strategi bersaing yang tepat untuk menghadapi

segala kemungkinan perubahan-perubahan yang terjadi di lingkungan

perusahaan. Hal tersebut tentunya membutuhkan strategi agar penjualannya

semakin meningkat. Strategi ini diimplementasikan pada fungsi pemasaran

yang sangat berpengaruh terhadap tingkat penjualan agar dapat meraih

keuntungan yang maksimal.

Menurut William J. Stanton dalam IBK Bhayangkara (2015:199)

menjelaskan bahwa fungsi pemasaran adalah suatu sistem keseluruhan dari

kegiatan - kegiatan binis yang ditujukan untuk merencanakan, menentukan

harga, mempromosikan, dan mendistribusikan barang dan jasa yang

memuaskan kebutuhan, baik kepada pembeli yang ada maupun pembeli

potensial. Disebuah perusahaan, fungsi pemasaran berfungsi untuk

mengidentifikasi permintaan (meliputi keinginan dan kebutuhan) konsumen,

menentukan pangsa pasar yang tepat, menentukan harga produk, dan

mempromosikan produk. Dalam melakukan fungsi pemasaran sebuah

perusahaan khususnya bagian manajemen harus memiliki strategi yang tepat

agar perusahaan dapat meraih target penjualannya. Strategi yang dimiliki

perusahaan harus mempertimbangkan permintaan konsumen, pengaruh

pesaing, kondisi perubahan lingkungan, kemungkinan adanya produk baru,

penetapan harga, dll.

3
Dalam menilai efektivitas fungsi pemasaran di suatu perusahaan

diperlukan suatu alat ukur, yaitu audit manajemen atau pemeriksaan

manajemen. Audit Manajemen menurut IBK Bayangkhara (2015:2) adalah

evaluasi terhadap efisiensi dan efektivitas operasi perusahaan yang bertujuan

untuk mengidentifikasi kegiatan, program, dan aktivitas yang masih

memerlkukan perbaikan sehingga dengan rekomendasi yang akan diberikan

nanti dapat dicapai perbaikan atas pengelolaan berbagai aktivitas dan program

pada perusahaan tersebut. Dalam tujuan audit ini terdapat tiga elemen pokok

yang sangat penting yaitu kriteria, penyebab dan akibat.

Alat ukur ini dibutuhkan agar manajemen perusahaan mengetahui

sejauh mana efektivitas fungsi pemasaran di perusahaannya berjalan. Selain

itu, alat ukur dapat membantu manajemen perusahaan untuk memperbaiki

kelemahan atau kekurangan dan ancaman yang ada pada fungsi pemasaran.

IBK Bayangkhara (2015:199) menyatakan evaluasi atau audit fungsi

pemasaran adalah suatu pengujian yang komprehensif, sistematis, independen

dan dilakukan secara periodik terhadap lingkup pemasaran, tujuan, strategi,

dan aktivitas perusahaan untuk menentukan peluang dan area permasalahan

yang terjadi, serta merekomendasikan rencana tindakan untuk meningkatkan

kinerja pemasaran perusahaan.

Tujuan dari audit pemasaran ini adalah untuk melakukan perbaikan-

perbaikan terhadap ancaman-ancaman yang teridentifikasi dan melakukan

penyusunan langkah-langkah perusahaan dalam usaha untuk mengatasi

4
ancaman tersebut sehingga dapat meningkatkan tingkat penjualan. Adapun

data penjualan PT. Mars Lestari selama lima tahun yaitu :

Tabel I.I Data Target dan Realisasi Penjualan PT. Mars Lestari tahun 2011-

2015.

(dalam 000)

TAHUN TARGET REALISASI DEVIASI


2011 Rp14.442.400 Rp13.312.795 (Rp1.129.605)
2012 Rp14.920.500 Rp14.603.351 (Rp317.149)
2013 Rp15.200.000 Rp16.155.700 Rp955.700
2014 Rp16.084.800 Rp16.896.088 Rp.811.288
2015 Rp18.622.800 Rp17.343.000 (Rp.1.279.800)
(Sumber : Laporan tahunan PT. Mars Lestari)

Dari table di atas dapat dilihat bahwa pada tahun 2011 PT. Mars

Lestari tidak mencapai target dan terjadi deviasi yang cukup besar. Pada

tahun 2012 perusahaan tidak dapat mencapai target kembali namun deviasi

menurun dibanding tahun sebelumnya. Pada tahun 2013 dan 2014

perusahaan berhasil mencapai targetnya. Sedangkan pada tahun 2015

perusahaan kembali tidak mencapai target dan terjadi deviasi yang lebih

besar dibandingkan tahun 2011.

Dari hasil pengamatan dan wawancara pendahuluan dengan

Penanggung Jawab PT. Mars Lestari didapat beberapa kekurangan dan

kelemahan pada kegiatan pemasaran di perusahaan tersebut, yaitu :

5
1. Tidak adanya anggaran promosi secara khusus sehingga biaya promosi

untuk memasarkan produk-produk terbatas.

2. Terbatasnya media promosi yang digunakan PT. Mars Lestari. Perusahaan

hanya mengandalkan promosi dari para agen-agen pemasar dan melakukan

promosi ketika menjadi donatur pada sebuah acara.

3. PT. Mars Lestari belum bekerjasama dengan hotel-hotel atau tempat

ternama sehingga konsumen lebih banyak mengkonsumsi amdk merek lain

sesuai dengan yang disediakan hotel atau tempat tersebut.

Oleh karena itu berdasarkan fenomena di atas penulis tertarik untuk

melakukan penelitian dengan judul Efektivitas Fungsi Pemasaran Pada PT.

Mars Lestari.

3. RUMUSAN MASALAH

Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah bagaimana efektivitas

pelaksanaan fungsi pemasaran pada PT. Mars Lestari?

4. TUJUAN PENELITIAN

Tujuan penelitian ini adalah untuk menilai efektivitas lingkup fungsi

pemasaran pada PT. Mars Lestari.

5. MANFAAT PENELITIAN

Manfaat penelitian ini adalah :

1. Bagi Peneliti dan Pembaca

6
Hasil penelitian ini diharapkan dapat menambah dan memperluas

wawasan peneliti dan pembaca dalam bidang audit manajemen fungsi

pemasaran di sebuah perusahaan atau organisasi dan dapat menerapkan

teori yang diperolehnya.

2. Bagi PT. Mars Lestari

Hasil penelitian digunakan sebagai masukan, informasi tambahan dan

pertimbangan perusahaan untuk peningkatan kinerja PT. Mars Lestari

agar lebih maju sesuai tujuan serta dapat meningkatkan kinerja fungsi

pemasarannya.

3. Bagi Akademisi

Bagi akademisi yang tertarik untuk melakukan kajian di bidang yang

sama, hasil penelitian ini diharapkan menjadi literatur bagi penelitian

selanjutnya dan dapat memberikan sumbangan dalam pengembangan teori

mengenai audit fungsi pemasaran.

6. RUANG LINGKUP PENELITIAN

Penelitian ini difokuskan pada bagian pemasaran di PT. Mars Lestari yang

meliputi audit pemasaran, audit strategi pemasaran, audit organisasi

pemasaran, audit sistem pemasaran, audit produktivitas pemasaran, dan audit

fungsi pemasaran.

7. TINJAUAN PUSTAKA

7
7.1. Landasan Teori

7.1.1. Teori Agensi (Agency Theory)

Teori agensi merupakan konsep yang menjelaskan hubungan kontraktual

antara principals dan agents. Pihak principals adalah pihak yang memberikan

mandat kepada pihak lain, yaitu agent, untuk melakukan semua kegiatan atas

nama principals dalam kapasitasnya sebagai pengambil keputusan

(Purnawati, 2012).

Teori keagenan merupakan basis teori yang mendasari praktik bisnis

perusahaan yang dipakai selama ini. Teori tersebut berakar dari sinergi teori

ekonomi, teori keputusan, sosiologi, dan teori organisasi. Oleh karena itu,

teori ini biasanya dilakukan oleh berbagai peneliti di bidang akuntansi,

ekonomi, keuangan, pemasaran, ilmu politik, sosiologi, dan perilaku

organisasi. Prinsip utama teori ini menyatakan adanya hubungan kerja antara

pihak yang memberi wewenang yaitu investor dengan pihak yang menerima

wewenang (agensi) yaitu manajer.

Berkaitan dengan auditing, baik prinsipal maupun agen diasumsikan

sebagai orang yang memiliki rasionalitas ekonomi, di mana setiap tindakan

yang dilakukan termotivasi oleh kepentingan pribadi atau akan memenuhi

kepentingannya terlebih dahulu sebelum memenuhi kepentingan orang lain.

Oleh karena itu, dibutuhkan adanya pihak yang melakukan proses

pemantauan dan pemeriksaan terhadap aktivitas yang dilakukan oleh pihak-

8
pihak tersebut diatas. Aktivitas pihak-pihak tersebut, dinilai lewat kinerja

keuangannya yang tercermin dalam laporan keuangan.

7.1.2. Audit Manajemen

7.1.2.1. Pengertian Audit Manajemen

Menurut American Institute of Certified Public Accountant/AICPA:

Management audit is a systematic review of an organizations activities or of

a stipulated segment of them, in relation to specified objectives for the

purpose of:

1. assesing performance

2. identifying opportunities for improvement

3. developing recommendations for improvement or further action

Definisi tersebut dalam terjemahannya adalah pemeriksaan manajemen

adalah suatu penelaahan yang sistematis terhadap aktivitas suatu organisasi,

atau suatu segmen tertentu daripadanya, dalam hubungannya dengan tujuan

tertentu, dengan maksud untuk:

1. Menilai kegiatan

2. Mengidentifikasikan berbagai kesempatan untuk perbaikan

3. Mengembangkan rekomendasi bagi perbaikan atau tindakan lebih lanjut

IBK. Bayangkara (2015:2) mendefinisikan audit manajemen sebagai

pengevaluasian terhadap efisiensi dan efektivitas operasi perusahaan. Dalam

konteks audit manajemen, manajemen meliputi seluruh operasi internal

perusahaan yang harus dipertanggungjawabkan kepada berbagai pihak yang

9
memiliki wewenang yang lebih tinggi. Audit manajemen dirancang secara

sistematis untuk mengaudit aktivitas, program-program yang

diselenggarakan, atau sebagian dari entitas yang bisa diaudit untuk menilai

dan melaporkan apakah sumber daya dan dana telah digunakan secara efisien,

serta apakah tujuan dari program dan aktivitas telah direncanakan dapat

tercapai dan tidak melanggar ketentuan aturan dan kebijakan yang telah

ditetapkan perusahaan.

Dapat disimpulkan bahwa Audit Manajemen adalah pengidentifikasian

mengenai kegiatan, program atau aktivitas dengan tujuan untuk menilai dan

mengidentifikasikan peluang perbaikan-perbaikan.

7.1.2.2.Tujuan Audit Manajemen

Agoes (2012:175) mengemukakan tujuan dari audit manajemen adalah:

1. Untuk menilai kinerja (performance) dari manajemen dan berbagai

fungsi dalam perusahaan.

2. Untuk menilai apakah berbagai sumber daya (manusia, mesin, dana, dan

harta lainnya) yang dimiliki perusahaan telah digunakan secara efisien

dan ekonomis.

3. Untuk menilai efektifitas perusahaan dalam mencapai tujuan (objective)

yang telah ditetapkan oleh top management. Untuk dapat memberikan

rekomendasi kepada top management untuk memperbaiki kelemahan-

kelemahan yang terdapat dalam penerapan pengendalian internal, sistem

10
pengendalian manajemen dan prosedur operasional perusahaan, dalam

rangka meningkatkan efisiensi, keekonomisan, dan efektifitas dari

kegiatan operasi perusahaan.

IBK. Bayangkara (2015:5) menyatakan tujuan dari audit manajemen

adalah untuk mengidentifikasi kegiatan, program dan aktivitas yang masih

memerlukan perbaikan sehingga dengan rekomendasi yang diberikan

nantinya dapat dicapai perbaikan atas pengelolaan berbagai program dan

aktivitas pada perusahaan tersebut. Berkaitan dengan tujuan ini maka audit

diarahkan pada berbagai objek audit yang diperkirakan dapat diperbaiki di

masa yang akan datang, di samping juga mencegah terjadinya kerugian. Ada

3 (tiga) elemen pokok dalam tujuan audit yaitu :

1. Kriteria (criteria)

Kriteria merupakan standar yang harus dipatuhi oleh setiap bagian dalam

perusahaan. Standar bisa berupa kebijakan yang telah ditetapkan

manajemen, kebijakan perusahaan sejenis atau kebijakan industri, dan

peraturan pemerintah.

2. Penyebab (causes)

Penyebab adalah tindakan-tindakan yang dilakukan manajemen atau

pegawai perusahaan termasuk tindakan-tindakan yang seharusnya

dilakukan untuk memenuhi criteria tetapi tidak dilakukan oleh manajemen

atau pegawai perusahaan. Dengan kata lain, causes adalah tindakan-

tindakan yang menyimpang dari standar yang berlaku.

11
3. Akibat adalah akibat dari tindakan-tindakan yang menyimpang dari

standar yang berlaku.

7.1.2.3.Manfaat Audit Manajemen

1. Memberi informasi operasi yang relevan dan tepat waktu untuk

pengambilan keputusan.

2. Membantu manajemen dalam mengevaluasi catatan, laporan-laporan dan

pengendalian.

3. Memastikan ketaatan terhadap kebijakan manajerial yang ditetapkan,

rencana-rencana, prosedur serta persyaratan peraturan pemerintah.

4. Mengidentifikasi area masalah potensial pada tahap dini untuk

menentukan tindakan preventif yang akan diambil.

5. Menilai ekonomisasi dan efisiensi penggunaan sumber daya termasuk

memperkecil pemborosan.

6. Menilai efektivitas dalam mencapai tujuan dan sasaran perusahaan yang

telah ditetapkan.

7. Menyediakan tempat pelatihan untuk personil dalam seluruh fase operasi

perusahaan

7.1.2.4. Ruang Lingkup Audit Manajemen

1. Audit manajemen fungsi pemasaran, meliputi:

a. lingkungan pemasaran

b. stratategi pemasaran

c. organisasi pemasaran

12
d. produktivitas pemasaran

e. fungsi pemasaran

2. Audit manajemen fungsi produksi dan operasi, meliputi:

a. perencanaan produksi

b. pengendalian kualitas

c. produktivitas dan efisien

d. metode dan standar kerja

e. pemeliharaan peralatan

f. organisasi manajemen produksi dan operasi

g. plant dan layout

3. Audit Manajemen fungsi sumber daya manusia, meliputi:

a. perencanaan tenaga kerja

b. penerimaan karyawan

c. seleksi

d. orientasi dan penempatan

e. pelatihan dan pengembangan

f. penilaian kerja

g. pengembangan karir

h. sistem imbalan dan kompensasi

i. perlindungan karyawan

j. hubungan karyawan

k. pemutusan hubungan kerja (PHK)

4. Audit manajemen fungsi sistem informasi, meliputi:

13
a. dukungan satuhan pengolahan data

b. perencanaan pengolahan data

c. organisasi pengolahan data

d. pengendalian pengolahan data

5. Audit manajemen lingkungan

Audit ini bertujuan untuk menilai seberapa jauh perusahaan telah

melaksanakan tanggung jawab lingkungannya. Tujuan audit pada fungsi

ini mencakup tanggung jawab perusahaan terhadap lingkungan internal

yakni kesehatan dan keselamatan kerja maupun tanggung jawab

lingkungan eksternal yakni pencemaran limbah.

6. Audit sistem manajemen kualitas

Kualitas yang baik bisa dijadikan sebagai keunggulan tersendiri bagi

perusahaan diantara pesaingnya. Kualitas yang baik dan ditawarkan

dengan harga yang relatif sama dengan pesaing berpotensi menarik minta

pasar. Produksi perusahaan tentu saja juga berpotensi menghasilkan

produk cacat. Produk cacat dengan kualitas rendah ini tentu membutuhkan

sumber daya yang lebih untuk meningkatkan kualitasnya dan merupakan

pemborosan bagi perusahaan. Audit ini bertujuan untuk menilai apakah

sistem kepastian kualitas yang ditetapkan perusahaan telah mampu

memandu operasional perusahaan untuk mencapai kualitas produk sesuai

dengan standar yang telah ditetapkan

7.1.2.5. Tipe Audit Manajemen

14
Mengutip dari IBK Bhayangkara (2015:4), terdapat tiga kategori audit

manajemen, yaitu:

1. Audit Fungsional (Functional Audit)

Suatu audit fungsional berhubungan dengan satu atau fungsi yang lebih

banyak dalam suatu organisasi. Ia mungkin berhubungan dengan fungsi

upah untuk suatu divisi untuk perusahaan secara keseluruhan. Suatu audit

fungsional mempunyai keuntungan memungkinkan spesialisasi oleh

auditor. Staf auditor tertentu dalam manajemen audit dapat

mengembangkan keahlian dalam area, seperti perekayasaan produki.

Mereka dapat lebih efisien menghabiskan semua waktu mereka dalam

memeriksa area tersebut. Kelemahan dalam audit fungsional ialah

kealpaan dalam menilai fungsi yang saling berhubungan.

2. Audit Organisasional (Organizational Audit)

Suatu unit organisasional berhubungan dengan unit organisasi secara

keseluruhan, seperti departemen, cabang atau anak perusahaan. Tekanan

dalam audit organisasi adalah bagaimana efisien dan efektifnya fungsi-

fungsi berinteraksi. Rencana organisasi dan metode untuk

mengkoordinasikan aktivitas khususnya adalah penting untuk tipe audit

ini.

3. Penugasan Khusus (Special Assignment)

Penugasan khusus audit manajemen timbul karena permintaan

manajemen. Terdapat variasi yang luas untuk audit demikian. Sebagai

contoh, audit ini termasuk menentukan sebab-sebab suatu sistem EDP

15
yang tidak efektif, penyelidikan kemungkinan adanya kecurangan dalam

divisi, dan membuat rekomendasi untuk mengurangi biaya produksi suatu

produk.

7.1.2.6. Konsep Efektivitas

IBK. Bayangkara (2015:17) mendefinisikan efektivitas sebagai tingkat

keberhasilan suatu perusahaan atau organisasi untuk mencapai tujuannya.

Efektivitas dapat diukur dengan membandingkan criteria, causes, dan effect.

Edy Sutrisno (2011:124) memberikan definisi efektivitas sebagai

tingkat pencapaian organisasi dalam jangka pendek dan jangka panjang.

Maksudnya adalah efektivitas merupakan suatu standar pengkuran untuk

menggambarkan tingkat keberhasilan suatu organisasi dalam mencapai

sasaran yang telah ditetapkan sebelumnya.

Sedarmayanti (2011:59) dalam bukunya yang berjudul Sumber Daya

Manusia dan Produktivitas Kerja menyatakan efektivitas sebagai suatu

ukuran yang memberikan gambaran seberapa jauh target dapat dicapai.

Pengertian efektivitas ini lebih berorientasi kepada keluaran sedangkan

masalah penggunaan masukan kurang menjadi perhatian utama. Apabila

efisiensi dikaitkan dengan efektivitas maka walaupun terjadi peningkatan

efektivitas belum tentu efisiensi meningkat.

Dapat disimpulkan bahwa pengertian efektivitas adalah keberhasilan

suatu aktifitas atau kegiatan dalam mencapai tujuan dan target, sesuai dengan

yang telah ditentukan sebelumnya, dan apabila tujuan dan target dapat

tercapai sesuai dengan yang telah ditentukan sebelumnya, dikatakan efektif

16
dan sebaliknya apabila tujuan dan target tidak dapat tercapai sesuai dengan

yang telah ditentukan sebelumnya maka aktifitas itu dikatakan tidak efektif.

Cara pengukuran terhadap efektivitas yang secara umum dan yang

paling menonjol yaitu sebagai berikut:

1. Keberhasilan program

2. Keberhasilan sasaran

3. Kepuasan terhadap program

4. Tingkat input dan output

5. Pencapaian tujuan menyeluru

7.1.2.7. Tahap-tahap Audit Manajemen

Ada beberapa tahapan yang harus dilakukan dalam audit manajemen. Menurut

IBK. Bayangkara secara garis besar dapat dikelompokan manjadi lima tahapan

Audit Manajemen (2015:11), yaitu :

1. Audit Pendahuluan

Audit pendahuluan dilakukan untuk mendapatkan informasi latar belakang

terhadap objek audit yang dilakukan. Di samping itu, pada audit ini juga

dilakukan penelaahan terhadap berbagai peraturan, ketentuan dan

kebijakan berkaitan dengan aktivitas yang diaudit, serta menganalisis

berbagai informasi yang telah diperoleh untuk mengindentifikasi hal-hal

yang potensial mengandung kelemahan pada perusahaan yang diaudit.

Auditor mungkin menggunakan daftar pertanyaan, flow chart, tanya

jawab, laporan manajemen, dan observasi dalam pelaksanaan audit

pendahuluan.

17
Daftar pertanyaan terdiri dari pertanyaan-pertanyaan yang

berhubungan dengan masalah yang mempengaruhi efektivitas, efisiensi

dan performa operasi. Auditor kemudian akan menilai jawaban yang

diperoleh, kemudian auditor mengumpulkan bukti-bukti untuk

memperkuat jawaban yang diterima.

2. Review dan Pengujian Pengendalian Manajemen

Pada tahap ini auditor melakukan review dan pengujian terhadap

pengendalian manajemen objek audit, dengan tujuan untuk menilai

efektivitas pengendalian manajemen dalam mendukung pencapaian tujuan

perusahaan. Dari hasil pengujian ini, auditor dapat lebih memahami

pengendalian yang berlaku pada objek audit sehingga dengan lebih mudah

dapat diketahui potensi-potensi terjadinya kelemahan pada berbagai

aktivitas yang dilakukan. Jika dihubungkan dengan tujuan audit sementara

yang telah dibuat pada audit pendahuluan, hasil pengujian pengendalian

manajemen ini dapat mendukung tujuan audit sementara tersebut menjadi

tujuan audit sesungguhnya, atau mungkin ada beberapa tujuan audit

sementara yang gugur, karena tidak cukup (sulit memperoleh) bukti-bukti

yang mendukung tujuan audit tersebut.

3. Audit Terinci

Pada tahap ini auditor melakukan pengumpulan bukti yang cukup dan

kompeten untuk mendukung tujuan audit yang telah dilakukan. Pada tahap

ini juga dilakukan pengembangan temuan untuk mencari keterkaitan

antara satu temuan dengan temuan yang lain dalam menguji permasalahan

18
yang berkaitan dengan tujuan audit. Temuan yang cukup, relevan, dan

kompeten dalam tahap ini disajikan dalam suatu kertas kerja audit (KKA)

untuk mendukung kesimpulan audit yang dibuat dan rekomendasi yang

diberikan.Kertas kerja dapat diorganisir berdasarkan sub unit dari usaha

yang diaudit (seperti berdasarkan cabang, bagian), urutan prosedur audit

dilaksanakan (seperti audit pendahuluan, bukti) atau setiap sistem logis

yang mempertinggi pemahaman auditor terhadap pekerjaan yang

dilakukan. Tujuan mengumpulkan bukti-bukti adalah untuk mendapatkan

dasar faktual dalam menilai kriteria performa yang sebelumnya

diidentifikasi.

4. Pelaporan

Tahapan ini bertujuan untuk mengomunikasikan hasil audit termasuk

rekomendasi yang diberikan kepada berbagai pihak yang berkepentingan.

Hal ini penting untuk meyakinkan pihak manajemen tentang keabsahan

hasil audit dan mendorong pihak-pihak yang berwenang untuk melakukan

perbaikan terhadap berbagai kelemahan yang ditemukan. Laporan

disajikan dalam bentuk komprehensif (menyajikan temuan-temuan penting

hasil audit untuk mendukung kesimpulan audit dan rekomendasi).

Rekomendasi harus disajikan dalam bahasa operasional dan mudah

dimengerti sertamenarik untuk ditindaklanjuti. Walaupun laporan formal

dapat dianggap sebagai langkah terakhir dalam manajemen audit.Laporan

informal ini harus dibuat selama audit. Sebagai contoh, apabila auditor

menemukan suatu ineffisiensi yang serius selama survei pendahuluan. Ia

19
harus menyelidiki, menilai dan melaporkan segera daripada menunggu

audit selesai

5. Tindak Lanjut

Sebagai tahap akhir dari audit manajemen, tindak lanjut bertujuan untuk

mendorong pihak-pihak yang berwenang untuk melaksanakan tindak

lanjut sesuai dengan rekomendasi yang diberikan. Auditor tidak memiliki

wewenang untuk mengharuskan tindak lanjut sesuai dengan rekomendasi

yang diberikan. Oleh karena itu, rekomendasi yang disajikan dalam

laporan audit seharusnya sudah merupakan hasil diskusi dengan berbagai

pihak yang berkepentingan dengan tindakan perbaikan tersebut. Suatu

rekomendasi yang tidak disepakati oleh objek audit akan sangat

berpengaruh pada pelaksanaan tindak lanjutnya. Hasil audit menjadi

kurang bermakna apabila rekomendasi yang diberikan tidak ditindak

lanjuti oleh pihak yang diaudit.

7.1.3. Audit Manajemen Fungsi Pemasaran

7.1.3.1. Definisi Pemasaran

American Marketing Association dalam Kotler dan Keller (2012:5)

mendefinisikan pemasaran sebagai fungsi organisasi dan serangkaian proses

untuk menciptakan, mengkomunikasikan dan memberikan nilai kepada

pelanggan untuk mengelola hubungan pelanggan dengan cara yang

menguntungkan organisasi dan pihak-pihak yang berkepentingan terhadap

organisasi.

20
Mengutip Kotler dan Keller (2012:5) pemasaran adalah proses

perencanaan dan pelaksanaan konsepsi, penetapan harga, promosi, dan

distribusi ide, barang, dan jasa untuk menciptakan nilai tukar yang

memuaskan tujuan individu dan organisasi.

Menurut William J. Stanton dalam Sofjan Assauri (2015:191)

mengungkapkan pemasaran adalah suatu system total dari kegiatan bisnis

yang dirancang untuk merencanakan, menentukan harga, promosi dan

mendistribusikan barang-barang yang dapat memuaskan keinginan dan

mencapai pasar sasaran serta tujuan perusahaan.

Dapat disimpulkan bahwa pemasaran adalah suatu proses dari kegiatan-

kegiatan yang saling berhubungan untuk memberikan apa yang dibutuhkan

dan diinginkan konsumen sehingga konsumen merasa puas.

7.1.3.2. Konsep Pemasaran

Falsafah konsep pemasaran bertujuan memberikan kepuasan terhadap

keinginan dan kebutuhan pembeli/konsumen. Seluruh kegiatan dalam

perusahaan yang menganut konsep pemasaran harus diarahkan untuk

memenuhi tujuan tersebut. Meskipun orientasi pembeli ini dibatasi oleh

tujuan laba dan pertumbuhan, tetapi konsep tersebut perlu dilaksanakan

karena dapat meningkatkan penjualan dengan:

1. Membuat barang yang mudah penggunaannya

2. Mudah pembeliannya

3. Mudah pemeliharaannya

21
Kotler dan Keller (2012:58) membagi kegiatan pemasaran dalam lima

konsep yaitu:

1. Konsep Produksi

Konsep ini berorientasi pada proses produksi atau operasi. Produsen

meyakini konsumen hanya akan membeli produk-produk yang murah dan

mudah diperoleh. Para manajer mengansumsikan bahwa konsumen

terutama tertarik pada ketersediaan produk dan harga yang rendah.

Orientasi ini berguna ketika perusahaan ingin memperluas pasar.

2. Konsep Produk

Dalam konsep ini pemasar beranggapan bahwa konsumen lebih

menghendaki produk-produk yang memiliki kualitas, kinerja, fitur atau

penampilan superior. Para manajer organisasi memusatkan perhatian untuk

menghasilkan produk yang unggul dan memperbaiki mutunya dari waktu

ke waktu.

3. Konsep Penjualan

Konsep ini berorientasi pada tingkat penjualan, dimana pemasar

beranggapan bahwa konsumen harus dipengaruhi agar penjualan dapat

meningkat. Konsep ini mengansumsikan bahwa konsumen umumnya

menunjukkan keengganan atau penolakan untuk membeli sehingga harus

dibujuk supaya membeli.

4. Konsep Pemasaran

Konsep pemasaran berorientasi pada pelanggan dengan anggapan bahwa

konsumen hanya akan bersedia membeli produk-produk yang mampu

22
memenuhi kebutuhan dan keinginannya serta memberikan kepuasan.

Konsep pemasaran terdiri atas empat pilar yakni: pasar sasaran, kebutuhan

pelanggan, pemasaran terpadu atau terintagrasi dan berkemampuan

menghasilkan laba.

5. Konsep Pemasaran Holistik

Konsep pemasaran holistik merupakan suatu pendekatan terhadap suatu

pemasaran yang mencoba mengakui dan mendamaikan lingkup dan

kompleksitas kegiatan pemasaran. Pemasaran holistik mengakui bahwa

segala sesuatu bisa terjadi pada pemasaran dan pemasaran perspektif yang

luas dan terpadu sering dibutuhkan empat komponen dari pemasaran

holistik yaitu relationship marketing, integrated marketing, internal

marketing dan social responsibility marketing.

7.1.3.3. Manajemen Pemasaran

American Marketing Association dalam Kotler dan Keller (2012:6)

mendefinisikan manajemen pemasaran sebagai perencanaan, pelaksanaan dan

pengendalian operasi pemasaran total, termasuk tujuan perumusan tujuan

pemasaran, kebijakan pemasaran, program pemasaran dan strategi pemasaran,

yang ditujukan untuk menciptakan pertukaran yang dapat memenuhi tujuan

individu maupun organisasi.

Philip Kotler dan Keller (2012:5) mendefinisikan manajemen

pemasaran sebagai seni dan ilmu untuk memilih pasar sasaran dan meraih,

23
mempertahankan, serta menumbuhkan pelanggan dengan menciptakan,

menghantarkan, dan mengkomunikasikan nilai pelanggan yang unggul.

Untuk membuat suatu rencana, fungsi penganalisaan sangat penting

agar rencana yang dibuat dapat lebih matang dan tepat. Sedangkan fungsi

penerapan merupakan kegiatan untuk menjalankan rencana dan fungsi

pengawasan merupakan fungsi yang digunakan untuk mengendalikan segala

macam aktivitas agar tidak menyimpang.

7.1.3.4. Pengertian Audit Manajemen Fungsi Pemasaran

IBK. Bayangkhara (2015:164) mendefinisikan audit pemasaran sebagai suatu

bentuk pengujian yang komprehensif, sistematis, independen dan dilakukan

secara periodik terhadap lingkungan pemasaran baik itu dari segi tujuan,

strategi, dan aktifitas perusahaan atau unit bisnis untuk menentukan peluang

dan permasalahan yang terjadi, serta memberikan rekomendasi rencana

tindakan untuk meningkatkan kinerja pemasaran perusahaan.

Audit pemasaran yang merupakan kegiatan pemeriksaan terhadap

segenap program pemasaran pada suatu perusahaan atau unit bisnis secara

komprehensif, sistematis, independen, dan berkala terbukti ampuh untuk

menepis fenomena tersebut dengan memberikan pendekatan yang terstruktur

terhadap pengumpulan dan analisis data/informasi pada lingkungan bisnis

yang kompleks dan selanjutnya dapat ditindak lanjuti dengan melakukan

langkah-langkah korektif sehingga efektivitas program-program pemasaran

dapat tercapai.

24
Audit pemasaran tidak hanya memberikan manfaat yang besar bagi

perusahaan yang sedang dirundung persoalan. Dalam situasi normal, berbagai

industri dapat melaksananakan audit pemasaran dan menindaklanjutinya

dengan baik. Dampaknya adalah perusahaan mampu memperkecil

kesenjangan negatif antara lingkungan bisnis dengan strategi, taktik, dan

kapasitas internal perusahaan sehingga memiliki tingkat return on investment

(ROI) yang jauh lebih baik dibandingkan dengan perusahaan yang tidak

memperhatikan audit pemasaran sebagaimana mestinya.

Mengutip dari Sofjan Assauri (2015:432) audit pemasaran adalah

pemeriksaan dan penilaian secara kritis , sistematis dan analitis atas

pelaksanaan kegiatan yang merupakan pelaksanaan kebijakan di bidang

pemasaran.

7.1.3.5. Ruang Lingkup Audit Manajemen Fungsi Pemasaran

IBK Bayangkara (2015:166) membagi audit pemasaran menjadi enam

wilayah utama dalam pemasaran yaitu :

1. Audit Lingkungan Pemasaran

Audit terhadap lingkungan pemasaran mencakup penilaian terhadap

pelanggan, pesaing, dan berbagai faktor lain yang memiliki pengaruh

terhadap perusahaan. Audit ini meliputi aspek lingkungan makro (seperti

ekonomi, teknologi, sosial, dan politik) dan lingkungan mikro,

2. Audit Strategi Pemasaran

25
Audit ini bertujuan untuk menentukan bahwa perusahaan telah

menetapkan strategi yang selaras dengan tujuannya, sesuai dengan

lingkungan yang dihadapi. Sering terjadi bahwa tujuan dan strategi

perusahaan tidak secara jelas dinyatakan dan kemudian Auditor harus

menentukan pernyataan tujuan untuk kepentingan pengevaluasiannya.

3. Audit Organisasi Pemasaran

Audit ini menilai kemampuan organisasi pemasaran dalam mencapai

tujuan perusahaan. Audit ini menentukan kemampuan tim pemasaran

untuk secara efektif berinteraksi dengan bagian-bagian lain seperti

litbang, keuangan, pembelian, dan sebagainya.

4. Audit Sistem Pemasaran

Audit ini menganalisis prosedur yang digunakan perusahaan untuk

memperoleh informasi perencanaan dan pengendalian operasi pemasaran.

Hal ini berhubungan dengan penilaian apakah perusahaan telah memiliki

metode yang memadai atau tidak, untuk digunakan mengerjakan tugas-

tugas rutin di bidang pemasaran

5. Audit Produktivitas Pemasaran

Audit ini menganalisis produktivitas dan profitabilitas produk, kelompok

pelanggan, atau unit analisis yang lain di dalam pemasaran. Analisis biaya

pemasaran adalah salah satu metode untuk menganalisis profitabilitas dan

produktivitas pemasaran

6. Audit Fungsi Pemasaran

26
Audit ini merupakan audit vertikal atau analisis secara mendalam

terhadap setiap elemen bauran pemasaran seperti produk, harga, distribusi,

tenaga penjual, periklanan, promosi, dan lain-lain.

7.1.3.6. Tujuan dan Manfaat Audit Manajemen Fungsi Pemasaran

IBK Bayangkara (2015:164) menyatakan tujuan utama dari audit pemasaran

adalah untuk mengidentifikasi ancaman-ancaman pemasaran yang dihadapi

perusahaan dan merencanakan perbaikan yang diperlukan untuk

mengeleminasi ancaman tersebut. Sedangkan manfaat yang diperoleh dari

audit ini, hasil audit dapat memberikan gambaran yang objektif tentang

kinerja pemasaran perusahaan dan berbagai kekurangan yang terjadi dalam

pengelolaan upaya pemasaran yang masih memerlukan perbaikan.

Rekomendasi yang diberikan auditor dapat menjadi alternatif solusi atas

kekurangan yang terjadi sehingga perbaikan-perbaikan yang diperlukan

segera dapat dilakukan. Selain itu manfaat yang bisa diperoleh dari

manajemen audit pemasaran adalah sebagai berikut :

1. memberikan suatu evaluasi yang independen dan tidak bias terhadap

program-program pemasaran, termasuk strategi, penawaran, dan

kreatifitas suatu perusahaan.

2. dapat mengidentifikasi area-area yang dibutuhkan dalam menigkatkan dan

menghasilkan saran-saran dan ide-ide yang spesifik serta bagaimana

memperbaikinya.

27
3. identifikasi tersebut termasuk beberapa cara (several ways) untuk

memperbaiki respons pemasaran.

4. memberikan sebuah perusahaan ide-ide baru yang segar, teknik-teknik

dan new direction pada masa mendatang.

5. membantu perusahaan secara periodik dalam menganalisis upaya

pemasaran, mengcreate serta merevisi pendekatan pemasaran untuk

mendapatkan hasil yang lebih baik.

7.1.3.7. Tipe dan Bentuk Audit Manajemen Fungsi Pemasaran

IBK Bhayangkara (2015:164) mengungkapkan bahwa ada dua tipe audit

pemasaran, pertama audit fungsional (vertikal) merupakan audit yang

dilakukan terhadap beberapa aktivitas dari departemen pemasaran seperti

periklanan atau penjualan dan membuat analisis terhadap bagian-bagian yang

diaudit tersebut. Kedua adalah audit menyeluruh (horizontal) yang melakukan

audit terhadap keseluruhan dari fungsi pemasaran perusahaan. Dalam

pelaksanaannya, audit pemasaran kebanyakan merupakan campuran dari

kedua tipe audit di atas. Pertama-tama manajemen menginginkan analisis

menyeluruh terhadap fungsi pemasarannya untuk mengetahui adanya indikasi

berbagai permasalahan dan kemudian memilih salah satu (beberapa)

permasalahan untuk diuji secara lebih rinci. Biaya dari audit menyeluruh yang

cukup besar sering menjadi kendala pelaksanaan audit ini.

7.2. Penelitian Terdahulu

28
Review penelitian terdahulu sangat berguna bagi peneliti untuk menambah

informasi dan wawasan mengenai permasalahan terkait judul yang diambil

peneliti sebagai rujukan mengenai daftar bacaan, teori, serta pandangan dalam

mengahadapi permasalahan yang sedang di teliti.

Penelitian terdahulu oleh Nadya Ramdhani (2014) dengan judul

penelitian Audit Manajemen Sebagai Dasar Untuk Menilai Efektivitas Fungsi

Pemasaran (Studi Kasus Produk BRIZZI Pada Kantor Cabang Bank BRI

Malang Kawi). Hasil penelitian menunjukkan bahwa fungsi pemasaran pada

Produk BRIZZI Pada Kantor Cabang Bank BRI Malang Kawi secara

keseluruhan sudah efektif. Standar ataupun target yang telah ditetapkan telah

tercapai. Namun, untuk meningkatkan tingkat penjualan Produk BRIZZI Pada

Kantor Cabang Bank BRI Malang Kawi pihak manajemen harus memperluas

sasaran konsumennya tidak hanya para mahasiswa namun keseluruh bagian

masyarakat.

Penelitian yang dilakukan oleh I Wayan Indra Narayana (2014) dengan

judul Audit Manajemen Sebagai Dasar Untuk Menilai Efisiensi dan

Efektivitas Pada Fungsi Pemasaran (Studi Kasus CV. Okka Pratama Motor).

Hasil penelitian menunjukkan bahwa pelaksanaan fungsi pemasaran secara

umum belum seluruhnya berjalan secara efisien dan efektif. Permasalahan

utama yang dihadapi oleh CV. Okka Pratama Motor yaitu belum terbentuknya

organisasi pemasaran yang baku sehingga kurangnya inovasi-inovasi

pemasaran yang dilakukan oleh CV. Okka Pratama Motor, untuk itu CV.

29
Okka Pratama Motor harus membentuk organisasi pemasarannya dan terus

berupaya memperbaiki kinerja pemasaran.

Penelitian selanjutnya yang dilakukan oleh Erni Chandra (2015) yang

berjudul Audit Manajemen Untuk Menilai Efektivitas Fungsi Sumber Daya

Manusia Pada CV. Media Printika. Hasil penelitian menunjukkan bahwa

manajemen CV. Media Printika belum mempunyai prosedur yang mengatur

mengenai perencanaan SDM, program rekrutmen, pelatihan dan

pengembangan karyawan, perencanaan dan pengembangan karir, dan

kepuasan kerja karyawan. Namun beberapa aktivitas fungsi-fungsi SDM di

CV. Media Printika sudah berjalan efektif, diantaranya seleksi dan

penempatan karyawan, penilaian kinerja karyawan, hubungan

ketenagakerjaan, kompensasi dan balas jasa, kesehatan dan keselamatan

kerja, serta pemutusan hubungan karyawan.

Penelitian berikutnya yang dilakukan oleh Resa Hariyanto (2013) yang

berjudul Audit Manajemen Sebagai Sarana Untuk Menilai Efektivitas Fungsi

Sumber Daya Manusia (Studi Kasus pada PT Bank Rakyat Indonesia Cabang

Pasuruan). Ruang lingkup dalam penelitian ini meliputi perencanaan sumber

daya manusia, rekrutmen tenaga kerja, seleksi tenaga kerja, orientasi dan

penempatan tenaga kerja, pelatihan dan pengembangan tenaga kerja,

penilaian kinerja, perencanaan dan pengembangan karir, pemberian

kompensasi dan penghargaan, perlindungan tenaga kerja dan pemutusan

hubungan kerja. Hasil penelitian menunjukkan dari sepuluh fungsi sumber

daya manusia, dua diantaranya yaitu fungsi perencanaan sumber daya

30
manusia dan orientasi dan penempatan tenaga kerja tidak dilaksanakan

dengan efektif. Hal ini dikarenakan terdapat faktor-faktor eksternal yang

mempengaruhi dalam proses penyelenggraan fungsi SDM dan beberapa

kebijakan manajemen tidak sesuai dengan peraturan yang dibuat oleh kantor

pusat. Sedangkan delapan fungsi lainnya telah berjalan dengan efektif.

7.3. Kerangka Pemikiran

Bagan Kerangka Pemikiran

Fungsi Pemasaran

KRITERIA

Evaluasi

KONDISI PENYEBAB

Hasil aktual GAP Pelaksanaan


pelaksanaan program/aktivitas
program/aktivitasnya

AKIBAT

Keuangan
Non Keuangan
31
Rekomendasi

Tindak Lanjut

8. METODOLOGI PENELITIAN

8.1. Objek Penelitian

Perusahaan yang menjadi objek penelitian ini adalah PT. Mars Lestari

pada bagian pemasaran.

8.2. Ruang Lingkup Penelitian

Penelitian ini difokuskan pada bagian pemasaran di PT. Mars Lestari yang

meliputi audit pemasaran, audit strategi pemasaran, audit organisasi

pemasaran, audit sistem pemasaran, audit produktivitas pemasaran, dan

audit fungsi pemasaran.

8.3. Sumber Data

Pada penelitian ini peneliti menggunakan dua jenis sumber data yaitu :

32
1. Data Primer

Data primer merupakan data yang diperoleh secara langsung dari

sumbernya (tidak melalui media perantara), diamati dan dicatat secara

langsung. Data primer yang di butuhkan dalam penelitian ini berupa

hasil wawancara dengan karyawan bagian pemasaran di PT. Mars

Lestari.

2. Data Sekunder

Data sekunder merupakan data yang diperoleh dan dicatat oleh pihak

lain, secara tidak langsung (melalui media perantara). Data ini

diperoleh dengan cara dokumentasi yang mengenai latar belakang

berdirinya perusahaan, job description, jumlah pegawai bidang

pemasaran, struktur organisasi, dll.

8.4.Metode Pengumpulan Data

Metode pengumpulan data yang digunakan oleh penulis dalam penelitian

ini adalah :

1. Penelitian lapangan (Field Research), yaitu peninjauan langsung pada

perusahaan yang diteliti untuk memperoleh data primer. Adapun

kegiatan yang dilakukan adalah wawancara, yaitu melakukan

wawancara langsung pada karyawan bagian pemasaran dan keuangan

PT. Mars Lestari.

33
2. Penelitian Kepustakaan (Library Research), yaitu teknik pengumpulan

data untuk memperoleh data sekunder dengan cara membaca dan

mempelajari buku-buku serta literatur-literatur yang ada hubungannya

dengan masalah yang sedang diteliti yang berguna sebagai pedoman

toeritis pada waktu melakukan penelitian lapangan dan untuk

mendukung serta menganalisis data.

8.5. Teknik Analisis Data

Metode analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode

kualitatif. Bentuk analisis yang dilakukan merupakan penjelasan, bukan

merupakan angka-angka statistik atau bentuk angka lainya. Langkah-

langkah dalam proses analisis data terdiri dari empat tahap yaitu sebagai

berikut:

1. Pemeriksaan Pendahuluan

Dalam tahap ini peneliti melakukan pengumpulan informasi mengenai

latar belakang objek. Selain itu, dilakukan penelaahan terhadap

berbagai literatur, peraturan, ketentuan dan kebijakan yang berkaitan

dengan aktivitas yang diperiksa dan mengidentifikasi hal-hal yang

berpotensi menimbulkan masalah maupun kelemahan yang terdapat

dalam perusahaan.

2. Review dan Pengujian Pengendalian Manajemen

34
Peneliti melakukan review dan pengujian terhadap pengendalian

manajemen pada objek penelitian yang bertujuan untuk menilai

efektivitas pengendalian manajemen dalam mendukung pencapaian

tujuan perusahaan atau organisasi, khususnya pada bagian pemasaran.

3. Pemeriksaan Terinci

Peneliti menganalisis temuan-temuan data dengan menggunakan

kriteria (criteria), penyebab (causes) dan akibat (effect) yang diperoleh

selama melaksanakan audit fungsi pemasaran pada objek penelitian.

Analisis tersebut berupa:

a. Kriteria (criteria), merupakan suatu norma atau standar. Dengan

kriteria, peneliti dapat menetapkan apakah suatu kondisi itu

menyimpang atau tidak. Kriteria yang dijadikan standar dalam

penelitian ini adalah kebijakan manajemen yang telah ditetapkan

oleh manajemen perusahaan.

b. Penyebab (causes), merupakan tindakan yang dilakukan

manajemen atau karyawan perusahaan atau organisasi, termasuk

tindakan-tindakan yang seharusnya dilakukan untuk memenuhi

kriteria tetapi tidak dilaksanakan oleh manajemen atau karyawan

perusahaan. Terdapat dua macam penyebab atau tindakan tersebut

yaitu:

1. Penyebab positif yaitu penyebab yang bersifat positif sehingga

berdampak efektif, efisien dan ekonomis.

35
2. Penyebab negatif yaitu penyebab yang bersifat negatif sehingga

berdampak inefektif, inefisien dan pemborosan.

c. Akibat (effect), merupakan hasil pengukuran dan perbandingan

antara kriteria dan penyebab yang menghasilkan akibat bagi

perusahaan atau organisasi. Apabila kriteria yang dapat ditentukan

dapat dicapai, atau dilaksanakan dalam aktivitas aktual, maka

fungsi tersebut dinyatakan efektif, namun apabila ditemukan suatu

kelemahan yang signifikan dalam aktivitas aktual sehingga

membuat tujuan dan kebijakan di dalam kriteria tidak dapat

dicapai, maka fungsi tersebut belum berjalan efektif.

4. Penyusunan Rekomendasi

Dalam tahap ini peneliti menarik kesimpulan audit dan pembuatan

rekomendasi sebagai hasil dari audit fungsi pemasaran pada PT. Mars

Lestari. Hasil audit ini disusun dalam laporan pemeriksaan beserta

informasi lain yang diperoleh selama proses penelitian. Rekomendasi

berisi saran perbaikan atas kelemahan-kelemahan yang ditemukan

pada saat prosedur audit dilaksanakan. Dengan demikian diharapkan

fungsi pemasaran dapat meningkatkan aktivitasnya secara lebih efektif.

DAFTAR PUSTAKA

Bhayangkara, IBK. 2015. Audit Manajemen Sumber Prosedur dan Implementasi.


Surabaya: Salemba Empat.

36
Assauri, Sofjan. 2015. Manajemen Pemasaran. Jakarta: Rajawali Pers.

Agoes, Sukrisno. 2012. Auditing (Pemeriksaan Akuntan) oleh kantor Akuntan


Publik Jilid II. Jakarta : Penerbit Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia.

Kotler, Philip dan Keller. 2012. Prinsip-prinsip Pemasaran. Edisi Ketigabelas


jilid I. Jakarta: Erlangga.

Sutrisno, Edi. 2011. Budaya Organisasi. Jakarta: Kencana.

Sedarmayanti. 2011. Sumber Daya Manusia dan Produktivitas Kerja. Bandung:


PT. Refika Aditama.

Ramdhani, Nadya. 2014. Audit Manajemen Sebagai Dasar Untuk Menilai


Efektivitas Fungsi Pemasaran (Studi Kasus Produk BRIZZI Pada Kantor
Cabang Bank BRI Malang Kawi). Universitas Brawijaya.

Narayana, I Wayan Indra. 2014. Audit Manajemen Sebagai Dasar Untuk Menilai
Efisiensi dan Efektivitas Pada Fungsi Pemasaran (Studi Kasus CV. Okka
Pratama Motor. Universitas Pembangunan Nasional.

Erni Chandra 2015. Audit Manajemen Untuk Menilai Efektivitas Fungsi Sumber
Daya Manusia Pada CV. Media Printika. Universitas Negeri Yogyakarta.

Hariyanto, Resa. 2013. Audit Manajemen Sebagai Sarana Untuk Menilai


Efektivitas Fungsi Sumber Daya Manusia (Studi Kasus pada PT Bank
Rakyat Indonesia Cabang Pasuruan). Universitas Brawijaya.

Robbins, Stephen P dan Timothy A. Judge. 2008. Perilaku Organisasi. Buku 2.


Jakarta: Salemba Empat. Diambil pada tanggal 23 September 2016 dari
http://marnosudrajat.blogspot.com

Torang, Syamsir. 2009. Metode Penelitian Organisasi. Makassar: Kretakupa


Print. Diambil pada tanggal 23 September 2016 dari
http://marnosudrajat.blogspot.com.

37