Anda di halaman 1dari 5

PENATALAKSANAAN HIFEMA

Penatalaksanaan hifema sangat bergantung kepada derajat hifema, komplikasi yang


terjadi, serta respons pasien terhadap pengobatan. Demikian pula hal-hal inilah yang
menjadi parameter dalam menentukan apakah pasien perlu dirawat atau hanya berobat
jalan saja. Untuk kasus ringan, penatalaksanaan dapat meliputi terapi konservatif,
seperti:

1. Membatasi aktivitas pasien


2. Melakukan penutupan mata dengan eye patch atau eye cover
3. Melakukan elevasi kepala 30-45o. Adapun maksud dari elevasi kepala adalah
untuk membuat darah mengumpul di bagian inferior dari COA dan tidak
menghalangi tajam penglihatan. Posisi ini juga mempermudah dalam evaluasi
harian COA tentang resorpsi hifema sehingga dapat menunjukkan kemajuan
pengobatan. Selain itu posisi ini merupakan posisi optimal dalam mencegah
kontak sel-sel darah merah dengan korena dan trabekula Fontana.
4. Memberikan sedasi, terutama pada pasien pediatri yang hiperaktif. Hal ini juga
sesuai dengan poin pertama.
5. Pemberian analgesik, apabila dirasakan nyeri yang ringan dapat diberikan
asetaminofen, atau nyeri yang cukup berat dapat diberikan kodein. Hindair
penggunaan aspirin dan obat anti-inflamasi non-steroid (OAINS, NSAID) sebab
dapat menimbulkan perdarahan dan berisiko menyebabkan perdarahan
sekunder.
6. Pemantauan berkala (setiap hari) tentang tajam penglihatan, tekanan
intraokular, serta regresi hifema.

Tujuan terapi sesuai dengan komplikasi yang mungkin terjadi. Untuk mengatasi
peningkatan tekanan intraokular, dapat dilakukan pemberian antiglaukoma topikal,
seperti timolol (antagonis reseptor beta), latanoprost (analog prostaglandin), serta
brimonidin (agonis reseptor 2 tipe perifer). Kesemua agen ini bertujuan untuk
mengurangi produksi akueous humor dan dapat membantu menurunkan tekanan
intraokular. Apabila masih tinggi, dapat dicobakan pemberian inhibitor enzim
karbonat-anhidrase (CAI) topika.. Tekanan yang belum terkontrol mengindikasikan
pemberian agen lain, yakni CAI sistemik (melalui oral), yakni asetazolamid dengan dosis
20 mg/kg/hari terbagi dalam empat dosis. Hal ini terutama digunakan apabila tekanan
masih di atas 22 mmHg. Pilihan terakhir apabila tekanan masih tinggi adalah pemberian
agen osmotik (seperti manitol IV 1,5 g/kg dalam larutan 10% 2 kali sehari atau 3 kali
sehari apabila tekanan sangat tinggi), atau pemberian gliserol per oral. Hal ini penting
apabila tekanan intraokular tetap di atas 35 mmHg meskipun hal-hal di atas telah
dicobakan pada pasien.

Untuk mencegah perdarahan seknder, dapat diberikan asam aminokaproat /


ACA yang merupakan agen anti-plasmin. Plasmin merupakan enzim yang melisiskan
bekauan darah sehingga dapat mengakibatkan perdarahan ulang. Asam aminokaproat
yang pertama kali diteliti menggunakan dosis 100 mg/kg dan diberikan setiap 4 jam
(dengan maksimal 30 g setiap hari) melalui oral. Agen ini diberikan selama 5 hari dan
terbukti secara klinis sangat menurunkan kejadian perdarahan sekunder, dibandingkan
dengan pemberian plasebo. Penelitian lanjutan menunjukkan bahwa asam
aminokaproat 50 mg/kg juga sama efektifnya dengan pemberian 100 mg/kg.
Pemberian asam aminokaproat terutama diindikasi pada hifema dengan kurang dari
75% COA sebab pada kondisi yang lebih dari ini mencegah lisis dari bekuan darah
dianggap tidak efektif dalam mencegah terjadinya perdarahan sekunder.

Penelitian lanjutan juga menunjukkan pemberian asam aminokaproat secara


topikal juga sama efektifnya, sehingga apabila tersedia agen topikal, agen ini lebih
dianjurkan diberikan secara topikal. Steroid juga terbukti dapat menunjukkan risiko
perdarahan sekunder.4

Pasien diindikasikan rawat inap jika:

1. Pasien mengalami hifema derajat Ii atau lebih, sebab berpotensi terjadinya


perdarahan sekunder
2. Merupakan sickle cell trait
3. Terjadi trauma tembus okuli
4. Pasien yang tidak patuh terhadap pengobatan
5. Pasien yang memiliki riwayat glaukoma

Dalam pasien rawat, perlu dilakukan pemantauan secar a intensif seperti tajam
penglihatan, tekanan intraokular, serta resolusi hifema. Selain itu perlu pula diamati
apakah terdapat indikasi bedah pada pasien.
Pasien akan menjalani bedah apabila terdapat:

1. Corneal blood staining


2. Riwayat sickle cell trait, dengan tekanan intraokular di atas 24 mmHg lebih dari
24 jam
3. Hifema dengan derajat lebih dari 50% COA selama 9 hari atau lebih. Hal ini perlu
dilakukan pembedahan agar tidak terjadi sinekia anterior, meskipun sudah
mendapatkan terapi medik secara maksimal
4. Hifema total, dengan tekanan intraokular lebih dari 50 mmHg selama 4 hari atau
lebih meskipun sudah mendapatkan terapi medik secara maksimal
5. Hifema total atau hifema dengan derajat >75% COA, dengan tekanan intraokular
lebih dari 25 mmHg selama lebih dari 6 hari meskipun sudah mendapatkan
terapi medik secara maksimal
PENYEBAB GANGGUAN LAPANGAN PANDANG

Gangguan lapangan pandang akibat glaukoma terutama mengenai 30 derajat lapangan


pandang bagian sentral. Perubahan paling dini adalah semakin nyatanya bintik buta.
Perluasan akan berlanjut ke lapangan pandang Bjerrum (15 derajat dari fiksasi)
membentuk skotoma Bjerrum, kemudian skotoma arkuata.

Daerah-daerah penurunan lapangan pandang yang lebih parah di dalam daerah


Bjerrum dikenal sebagai skotoma Seidel. Skotoma arkuata ganda di atas dan di bawah
meridian horizontal, sering disertai oleh nasal step (Roenne) karena perbedaan ukuran
kedua defek arkuata tersebut. Pengecilan lapangan pandang cenderung berawal di
perifer nasal sebagai konstriksi isopter. Selanjutnya, mungkin terdapat hubungan ke
defek arkuata, menimbulkan breakthrough perifer. Lapangan pandang perifer temporal
dan 5-10 derajat sentral baru terpengaruh pada stadium lanjut penyakit. Pada stadium
akhir, ketajaman penglihatan sentral mungkin normal tetapi hanya 5 derajat lapangan
pandang. Alat-alat yang dapat digunakan untuk melakukan pemeriksaan lapangan
pandang pada glaukoma adalah automated perimeter (misalnya Humphrey, Octopus,
atau Henson), perimeter Goldmann, Friedmann field analyzer, dan layar tangent