Anda di halaman 1dari 28

BAGIAN ILMU KESEHATAN KULIT DAN KELAMIN

FAKULTAS KEDOKTERAN REFERAT


UNIVERSITAS ALKHAIRAAT 23 Agustus 2017
PALU

KELAINAN PADA KUKU DAN PENANGANANNYA

Disusun Oleh :

Nurlaela, S.ked : 12 16 777 14 133


Rahmatia Anwar, S.Ked : 12 16 777 14 147

Pembimbing :
dr. Sukma Anjayani, M.Kes, Sp.KK

DISUSUN UNTUK MEMENUHI TUGAS KEPANITERAAN KLINIK


PADA BAGIAN ILMU KESEHATAN KULIT DAN KELAMIN
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN DOKTER
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS ALKHAIRAAT
PALU
2017
HALAMAN PENGESAHAN

Nama dan stambuk : 1. Nurlaela, S.Ked (121677714133)

2. Rahmatia Anwar, S.Ked (111677714147)

Fakultas : Kedokteran

Program Studi : Pendidikan Dokter

Universitas : Alkhairaat

Judul Referat : Kelainan Pada Kuku Dan Penanganannya

Bagian : Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin

Bagian Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin

RSU ANUTAPURA PALU

Program Studi Pendidikan Dokter

Fakultas Kedokteran Universitas Alkhairaat

Palu, 23 Agustus 2017


Pembimbing Dokter Muda

dr. Sukma Anjayani, M.Kes, Sp.KK Nurlaela, S.Ked Rahmatia A, S.Ked

Mengetahui KPM

dr. Nur Rahmah, M.Kes, Sp.KK

2
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL........................................................................................ 1
HALAMAN PENGESAHAN .......................................................................... 2
DAFTAR ISI .................................................................................................... 3
PENDAHULUAN ........................................................................................... 4
ANATOMI DAN FISIOLOGI KUKU ............................................................ 5
JENIS-JENIS KELAINAN PADA KUKU ..................................................... 7
a. Paronikia .................................................................................................... 7
b. Onikomikosis ............................................................................................. 9
c. Kuku Liken Planus ..................................................................................... 12
d. Kuku Psoriasis............................................................................................ 13
e. Penyakit Darier........................................................................................... 15
f. Alopesia Areata .......................................................................................... 16
g. Kelainan Kuku pada Penyakit Sistemik. 18
h. Kelainan Kuku Herediter dan Kongenital 23
DAFTAR PUSTAKA ...................................................................................... 27

3
KELAINAN PADA KUKU DAN PENANGANANNYA

PENDAHULUAN

Kuku merupakan salah satu dermal appendages yang mengandung lapisan


tanduk yang terdapat pada ujung-ujung jari tangan dan kaki, gunanya selain
membantu jari-jari untuk memegang juga digunakan sebagai cermin kecantikan.
Lempeng kuku terbentuk dari sel-sel keratin yang mempunyai dua sisi, satu sisi
berhubungan dengan udara luar dan sisi lainnya tidak.1
Kuku memiliki banyak fungsi. Kuku jari tidak hanya membuat penampilan
tangan menjadi menarik, tapi sangat penting dalam melindungi bagian distal dari
falang, meningkatkan sensasi taktil dan berguna untuk mengambil benda-benda
kecil. Kuku kaki melindungi bagian distal dari kaki.2
Kelainan pada kuku dapat disebabkan oleh infeksi baik bakteri ataupun
jamur seperti paronikia yang sudah terjadi infeksi sekunder dan onikomikosis atau
disebakan dari penyakit kulit seperti penyakit psoriasis, liken planus, alopesia
areata dan lainnya. Adapun kelainan kuku yang didapatkan dari penyakit sistemik
dan herediter atau kongenital.1,2
Di Amerika Serikat, prevalensi penyakit paronikia sebesar 35% dari
seluruh kelainan kuku, penyakit kuku psoriasis sebesar 10-55% dari semua pasien
dengan penyakit psoriasis yang diperkirakan penderita psoriasis adalah sebanyak
7 juta orang, sedangkan liken planus sebesar 1% dari semua pasien baru yang
datang berobat ke klinik kesehatan.3,4,5
Kejadian Onikomikosis telah dilaporkan sebesar 2-13% di Amerika Utara
dan umumnya terjadi pada orang dewasa. Penyakit darier terjadi di seluruh dunia,
diperkirakan di Skotlandia terjadi pada 1/30.000 populasi sedangkan di Denmark
terjadi pada 1/100.000 penduduk. Prevalensi kejadian alopesia areata pada
populasi umum adalah 0,1-0,2%.6,7,8

4
ANATOMI DAN FISIOLOGI KUKU

Kuku merupakan salah satu dermal appendages yang mengandung lapisan


tanduk yang terdapat pada ujung-ujung jari tangan dan kaki, gunanya selain
membantu jari-jari untuk memegang tetapi juga digunakan sebagai cermin
kecantikan. Lempeng kuku terbentuk dari sel-sel keratin yang mempunyai dua
sisi, satu sisi berhubungan dengan udara luar dan sisi lainnya tidak.1,2
Bagian kuku terdiri dari:1,2
a. Matriks kuku: merupakan pembentuk jaringan kuku yang baru
b. Dinding kuku (nail wall): merupakan lipatan-lipatan kulit yang menutupi
bagian pinggir dan atas
c. Dasar kuku (nail bed): merupakan bagian kulit yang ditutupi kuku
d. Alur kuku (nail grove): merupakan celah antar dinding dan dasar kuku
e. Akar kuku (nail root): merupakan bagian proksimal kuku
f. Lempeng kuku (nail plate): merupakan bagian tengah kuku yang
dikelilingidinding kuku
g. Lunula: merupakan bagian lempeng kuku yang berwarna putih didekat akar
kuku berbentuk bulan sabit, sering tertutup oleh kulit
h. Eponikium (kutikula): merupakan dinding kuku bagian proksima, kulit
arinyamenutupi bagian permukaan lempeng kuku
i. Hiponikium: merupakan dasar kuku, kulit ari dibawah kuku yang bebas
(freeedge) menebal

5
Gambar 1 : Anatomi kuku normal.2

Kuku dibentuk secara terus menerus oleh matriks kuku dan dasar kuku (nail
bed). Bagian ventral lempeng kuku (nail plate) dibentuk oleh dasar kuku (nail
bed), sedang sisanya berasal dari matriks. Lempeng kuku merupakan struktur
yang paling besar dan bewarna translucent dimana ia melekat kuat pada dasar
kuku dan perlekatan ini kurang kuat ke arah proksimal.2
Hiponikium merupakan dasar kuku, kulit ari dibawah kuku yang bebas (free
edge) menebal yang berfungsi sebagai protektif, menghalang kemasukan dari
patogen infeksius. Ketebalan lempeng kuku dianggarkan antara 0,5-1,0 mm dan
dapat dibahagi atas beberapa lapisan yaitu lapisan dorsal, intermediate, dan
ventral. Bagian lapisan dorsal umumnya terdiri dari keratain keras. Lapisan
intermediate juga mengandung keratin keras dan merupakan dari total ketebalan
kuku. Sedangkan lapisan ventral dibentuk oleh keratin hiponikial lembut dan
mempunyai 1-2 lapisan sel.2
Lempeng kuku (nail plate) berasal dari matriks dan bagian yang bewarna
putih berbentuk seperti bulan sabit yang terletak di bagian ujung distal kuku
adalah lunula. Dasar kuku (nail bed) terdiri dari sel epitelial dan berkembang
secara proksimal dari pinggir lunula kemudian secara distal ke arah hiponikium.2
Keratinisasi dari matriks membentuk lempeng kuku. Kuku jari tangan tumbuh
0,1mm/hari atau 3mm/bulan, sedangkan kuku jari kaki 1mm/bulan. Kuku jari
tangan memerlukan kurang lebih 4-6 bulan untuk mengganti lempeng kuku yang

6
baru. Sedangkan, pertumbuhan kuku jari kaki lebih lambat dari kuku jari tangan
dimana memerlukan 12-18 bulan untuk mengganti kuku jari kaki yang baru.2
Kuku memiliki banyak fungsi. Kuku jari tidak hanya membuat penampilan
tangan menjadi menarik, tapi sangat penting dalam melindungi bagian distal dari
falang, meningkatkan sensasi taktil dan berguna untuk mengambil benda-benda
kecil. Kuku kaki melindungi bagian distal dari kaki.2

JENIS-JENIS KELAINAN PADA KUKU

a. Paronikia

Penyakit paronikia adalah infeksi kulit dan jaringan lunak yang mengelilingi
kuku kaki atau kuku jari. Kelainan kuku ini bisa muncul secara tiba-tiba (acute
Paronychia) atau secara bertahap (chronic Paronychia).9,10
Paronikia akut paling sering terjadi karena Staphylococcus aureus dan
biasanya mengenai kuku anak. Faktor predisposisi termasuk mengigit atau
mengisap kuku dan trauma pada kuku karena pekerjaan. Paronikia kronik
biasanya disebabkan oleh adanya trauma mekanik atau bahan kimia yang dapat
merusak kutikula dan menyebabkan penetrasi atau iritan dan zat alergenik
lingkungan di bawah lipatan kuku proksimal, sehingga menyebabkan rekasi
inflamasi pada lipatan dan matriks. Infeksi sekunder dari Candida sp. dan/atau
bakteri terjadi pada banyak kasus.2,10
Paronikia ditandai dengan pembengkakan jaringan yang nyeri dan dapat
mengeluarkan nanah dibawah kulit samping kuku atau dibawah kuku itu sendiri.
Daerah sekitar kuku yang lembut, merah dan agak bengkak pada kutikula yang
menghilang; dan kulit di sekitar kuku terasa lembab atau boggy (berkabut).
Biasanya terkena pada satu kuku.9,10
Paronikia akut dimulai terjadi pembengkakan kulit yang berwarna merah,
hangat dan nyeri di sekitar kuku. Sedangkan pada paronikia kronik, kemerahan
dan kelembutan kurang terlihat dibandingkan infeksi akut. Kuku mungkin
berwarna hijau oleh karena infeksi pseudomonas.9,10

7
Gambar 2 : Paronikia akut disebabkan bakteri Staphylococcus.10

Gambar 3 : Paronikia kronik disebabkan kontak iritan.10

Pilihan pengobatan tergantung pada tingkat infeksi. Jika didiagnosis lebih


awal, paronikia akut tanpa abses dapat diobati tanpa operasi, seringkali dengan
antibiotik topikal saja. Jika abses telah terjadi, sayatan dan drainase harus
dilakukan. Antibiotik oral terhadap bakteri gram positif seperti Staphylococcus
aureus seperti cephalexin, amoxicillin dengan asam klavulanat, dan klindamisin.2
Perlindungan tangan dari bahaya lingkungan adalah hal yang harus dilakukan
untuk mengobati paronikia kronis, yang dapat dianggap sembuh hanya bila
kutikula tumbuh kembali. Anti jamur sistemik tidak efektif untuk penyakit ini.
Paronikia kronik harus diterapi seperti dermatitis kontak, dengan steroid topikal

8
atau tacrolimus yang terkait dengan antiseptik topikal untuk mencegah dari
kolonisasi mikroba sekunder.2

b. Onikomikosis

Onikomikosis adalah kelainan kuku akibat infeksi jamur. Jamur yang


termasuk dalam spesies Trichophyton, Microsporum dan Epidermophyton. Angka
kejadian onikomikosis terus meningkat dimana 50% dari seluruh penyakit
kelainan kuku dan 30% dari seluruh kasus jamur superfisialis.11
Ada empat tipe klinis dari onikomikosis :
1) Distal lateral subungual onychomycosis (DLSO)
Merupakan bentuk onikomikosis yang paling sering dijumpai. Infeksi ini
berkembang terutamanya di matriks kuku bermula dari distal ke proksimal
melalui sisi distal lateral atau melalui alur lateral lempeng kuku. Infeksi ini sering
disebabkan oleh jamur golongan Trichophyton spp. dan kadang oleh Scytalidium
spp, Candida spp dan nondermatofit yang lain. Gambaran klinis ditandai
hiperkeratosis subungual, onikolisis (terlepasnya lempeng kuku dari nail bed ),
dan penebalan kuku. Ruang subungual adalah tapak bagi jamur dan bakteri
infeksius dimana boleh menyebabkan diskolorasi lempeng kuku menjadi warna
kuning.11,12

Gambar 4 : Distal subungual onychomycosis.12

9
2) Superficial white onychomycosis (SWO)
Kelainan ini jarang ditemui. Nama lainnya adalah Leukonikia Mikotika.
Kelainan ini terjadi apabila jamur menginvasi langsung lapisan superfisial
lempeng kuku yang disebabkan sering oleh T.mentagrophytes dan kadang oleh
nondermatofit seperti Acremonium spp, Aspergillus terreus dan Fusarium
oxysporum. Gambaran khas yang dapat dilihat adalah bercak-bercak putih white
island yang berbatas tegas di permukaan lempeng kuku yang dapat
berkonfluensi. Lambat laun, kuku akan menjadi kasar, lunak dan rapuh.11,12

Gambar 5 : Superficial white onychomycosis.12

3) Proximal subungual onychomycosis (PSO)


Merupakan bentuk paling jarang ditemui, tetapi umumnya ditemukan pada
penderita AIDS dimana ia dianggap sebagai tanda awal seseorang itu terkena
infeksi HIV. Penyebab tersering adalah T.rubrum. Selain itu, penyebab lain adalah
C.albicans, Fusarium spp, Aspergillus spp dan Scopulariopsis brevicaulis. Jamur
menginvasi daerah bawah kutikula kuku yang akan menyebabkan infeksi pada
lempeng kuku proksimal. Infeksi ini akan berkembang secara distal pada seluruh
permukaan kuku. Gambaran klinis berupa hiperkeratosis dan onikolisis proksimal
serta destruksi lempeng kuku proksimal.11,12

10
Gambar 6 : Proximal subungual onychomycosis.12

4) Candida onychomycosis
Infeksi kuku yang disebabkan oleh kandida didapatkan pada pasien yang
menderita kandidiasis mukokutan kronis dimana sering disebabkan oleh
C.albicans yaitu sebanyak 70% dari seluruh kasus onikomikosis. Selain itu,
disebabkan oleh C.parapsilosis, C.tropicalis dan C.krusei.11,12

Gambar 7 : Chronic mucocutaneous candidiasis.12

Apapun jenis klinisnya, onikomikosis yang tidak diobati akan terjadi destruksi
total pada lempeng kuku dimana merupakan stadium akhir dari seluruh jenis
onikomikosis. Seluruh permukaan kuku menjadi tebal dan distrofik (total
dystrophic onychomycosis).11,12

11
Pengobatan onychomycosis telah berkembang pesat dalam dekade terakhir.
Ada beberapa obat antijamur oral yang bisa digunakan dengan tingkat
keberhasilan tinggi sejak dulu yaitu, griseofulvin dan ketoconazole (Nizoral)
namun keduanya memiliki keterbatasan. Griseofulvin merupakan fungistatic dan
perlu diminum dalam dosis yang relatif tinggi untuk 1 tahun atau lebih untuk kuku
kaki. Penggunaan ketokonazol dibatasi karena potensi hepatotoksisitas. Tiga obat
baru telah melengkapi obat yang sebelumnya. Terbinafine merupakan Allylamine
yang diresepkan dengan dosis 250 mg setiap hari selama 12 minggu untuk kuku
kaki dan 6 minggu untuk kuku jari. Itrakonazol dapat diberikan terus menerus
dengan dosis 100 mg dua kali setiap hari selama 12 minggu atau 200 mg dua kali
sehari selama 1 minggu setiap bulan selama 3 bulan. Flukonazol merupakan
triazol dengan kegunaan melawan ragi dan dermatofit. Ini diberikan dalam dosis
200 mg sekali seminggu sampai kuku kembali normal, periode waktu bisa sampai
12 bulan untuk kuku kaki dan 9 bulan untuk kuku jari. Terapi onychomycosis
topikal berkembang dengan cepat. Ada satu obat antijamur topical yaitu
cyclopirox disetujui oleh FDA untuk pengobatan onikomikosis, dan ada beberapa
obat antijamur topikal lainnya dalam uji klinis untuk onikomikosis.12

c. Kuku Liken Planus

Liken planus pada kuku dapat timbul tanpa kelainan kulit. Perubahan pada
kuku berupa belah longitudinal, lipatan kuku yang mengembung (pterigium
kuku), kadang-kadang anonikia. Lempeng kuku menipis dan papul liken planus
dapat mengenai lempeng kuku. Lokalisasi kuku dari liken planus harus ditanggapi
dengan serius, karena bisa menghancurkan kuku. Oleh karena itu, penting untuk
mendiagnosis dan mengobati penyakit sesegera mungkin.2,13

12
Gambar 8 : Lichen planus pada matriks kuku.2

Lichen planus pada matriks kuku memerlukan perawatan oral atau


intramuskular dengan steroid sistemik. Suntikan kortikosteroid intralesional (vs
sistemik) harus dipertimbangkan pada pasien dengan keterlibatan kurang dari tiga
jari.2

Gambar 9 : Liken planus pada matriks kuku sebelum dan sesudah


diterapi dengan steroid sistemik.2

d. Kuku Psoriasis

Keterlibatan kuku sangat umum terjadi selama psoriasis, antara 10% sampai
78% pasien yang terkena. Kuku yang lebih banyak terkena adalah kuku jari kaki,
dan biasanya lebih dari 1 kuku yang terlibat. Psoriasis pada kuku dapat dengan
mudah didiagnosis dengan melihat tanda khas, biasanya hanya bisa dideteksi di
kuku jari: psoriatic pitting, onycholysis dengan batas eritematosa dan salmon

13
patches pada kuku. Onycholysis sebenarnya adalah manifestasi psoriasis kuku
yang paling umum dan dapat mempengaruhi kedua kuku dan kuku kaki. Di kuku
jari ada batas eritematosa di sepanjang area onycholytic yang bersifat diagnostik
psoriasis kuku. Pada kuku kaki, onycholysis biasanya disertai dengan
hiperkeratosis subungual dan mungkin mirip dengan onikomikosis. Salmon
patches muncul sebagai area warna merah kuning di bagian kuku atau berbatasan
dengan area onycholytic. Tanda umum lainnya yang umum tapi agak aspiratif
termasuk splinter hemorrhages dan paronikia.2,14

Gambar 10 : Psoriasis kuku: onycholysis dikelilingi oleh sebuah garis eritematosa


dan salmon patches pada dasar kuku.2

Gambar 11 : Psoriasis kuku kaki yang memproduksi hiperkeratosis


subungual dan onikolisis.2

14
Pengobatan pada psoriasis kuku, penting untuk menginstruksikan pasien untuk
menghindari trauma dan rujuk pasien ke rheumatologist jika terasa nyeri.
Perawatan sistemik untuk psoriasis kulit dan sendi umumnya efektif untuk
psoriasis kuku (metotreksat, siklosporin A). Sejak munculnya terapi biologis
psoriasis kulit dan sendi yang parah, efeknya pada gejala kuku telah diselidiki dan
infliximab 5 mg / kg tampaknya yang paling efektif sampai saat ini. Steroid
intralesi (triamcinolone acetonide 2.5-5,0 mg / mL dalam air garam) adalah
perawatan terbaik untuk psoriasis matriks kuku bisa disuntikkan di lipatan kuku
proksimal setiap 4-8 Minggu. Acitretin dengan dosis rendah (0,2-0,3 mg / kg /
hari) Selama 4 sampai 6 bulan merupakan pilihan yang efektif pada psoriasis kuku
yang parah. Pada psoriasis kuku, pengobatan topikal dengan kalsipotriol,
kombinasi kalsipotriol dan betametason, atau tazaroten mungkin efektif setelah
pengangkatan lempeng kuku yang terpisah.2

e. Penyakit Darier

Penyakit darier merupakan kuku yang rapuh dan pecah-pecah dengan


perubahan warna longitudinal dan hyperkeratosis di bawah kuku. Penyakit Darier,
juga dikenal sebagai keratosis follicularis, merupakan autosom dominan kondisi
yang diwariskan dengan keterlibatan kuku pada 90% pasien. Keterlibatan matriks
kuku menyebabkan onychorrhexis, dengan pemecahan dan kerapuhan disertai
garis longitudinal berwarna merah dan putih.13

Gambar 12 : Perubahan kuku pada penyakit Darier.13

15
Pengobatan pada penyakit darier yaitu:15
1) First line :
menghindari pemicu (panas, berkeringat, gesekan) dan meminimalkan
UVB - induced exacerbations.
Emolien yang mengandung urea atau asam laktat.
Pengganti sabun dan antiseptik topikal.
Kortikosteroid topikal atau poten dengan antibiotik topikal.
Retinoid topikal: isotretinoin (0,05%, 0,1%), tretinoin, gel tazaroten, gel
adapalen 0,1%.
2) Second line :
Oral acitretin 0,25-0,5 mg/kg/ hari diberikan selama 3 bulan untuk
memiliki efek maksimal. Acitretin harus dihentikan selama 2 tahun
sebelum wanita mencoba untuk hamil.
Isotretinoin oral 0,5 mg / kg / hari. Kurang efektif dibanding acitretin tapi
mungkin ditunjukkan pada wanita muda. Isotretinoin harus dihentikan
selama 1 bulan sebelum wanita mencoba untuk hamil.
3) Third line :
Topical 5-fluorouracil.
Siklosporin oral untuk eksimidasi dengan dosis 2,5 mg / kg / hari.
Operasi laser, electrosurgery, atau dermabrasi.
Terapi fotodinamik.
Toksin Botulinum .
Mammaplasty.

f. Alopesia Areata

Alopesia areata adalah kondisi yang menyebabkan rambut rontok dan


perubahan kuku, meski tidak harus pada saat bersamaan. Perubahan kuku yang
disebabkan oleh alopsia areata adalah pitting, penipisan lempeng kuku dan
terkadang lunula berwarna merah. Perubahan kuku pada alopesia areata lebih
sering terjadi pada anak-anak, lebih dari 46% dari 272 anak dengan alopesia

16
areata memiliki keterlibatan kuku. Pada orang dewasa, perubahan kuku terjadi
pada orang dewasa sekitar seperlima pasien yang datang dengan alopecia areata
kulit kepala.2,13
Triamsinolon topikal dan intralesional 2,5-3 mg/ml pada interval bulanan
sangat membantu. Pitting, trachyonychia, Beaus line dan onychomadesis dapat
dilihat pada alopecia areata pada kuku. Bintik merah muda di lunula sering
terlihat pada alopesia areata kuku.13

Gambar 13 : Pitting dari alopesia areata pada kuku.13

Gambar 14 : Bintik merah di lanula13

17
g. Kelainan Kuku pada Penyakit Sistemik

Pada penyakit sistemik, manifestasi kuku biasanya melibatkan sebagian besar


atau semua kuku. Diagnosis ditegakkan dengan gejala klinis, morfologi, dan
distribusi kelainan kuku. Beberapa tanda kuku yang berhubungan dengan sistem
organ dan penyakit sistemik.16
Koilonikia biasa disebut kuku sendok, terjadi saat ujung kuku terbalik.
Koilonikia bisa idiopatik atau berhubungan Dengan berbagai kondisi seperti
anemia, luka akibat kerja dan trauma atau kondisi endokrin seperti hipo dan
hipertiroidisme. Koilonikia umum terjadi pada kuku jari kaki anak sehat.16

Gambar 15: Koilonikia atau kuku sendok.16

Clubbing finger ditandai dengan peningkatan massa ujung jari distal dan
bertambah kelengkungan longitudinal dan horizontal dari lempeng kuku.
Clubbing terjadi pada kuku jari dan kuku kaki. clubbing diklasifikasikan ke dalam
tiga kategori yaitu: bawaan / turun temurun, didapatkan dan idiopatik. Tanda
klinis clubbing adalah kelengkungan abnormal dari lempeng kuku di kedua sumbu
longitudinal dan horizontal. Pada clubbing, sudut Lovibond (Sudut antara
lempeng kuku dan Lipatan kuku proksimal bila dilihat dari samping) lebih besar
dari 180, sedangkan pada kuku normal, sudutnya kurang dari 160. Tanda
clubbing berarti ada sesuatu yang tidak berjalan dengan baik dalam tubuh. Infeksi,
neoplastik dan peradangan paru paling sering terjadi. Penyakit paru seperti
neoplasma pada paru-paru, bronkiektasis, emfisema, radang paru-paru dan

18
limfoma semaksimal mungkin. Etiologi kardiovaskular seperti gagal jantung
kongestif, dan jantung bawaan/ penyakit yang berhubungan dengan katup jantung,
seperti halnya gangguan gastrointestinal dan hati seperti sirosis dan kolitis
ulserativa kategori idiopatik dan kongenital kurang umum.16,17

Gambar 16: Clubbing dari kuku jari karena kanker paru-paru.17

Gambar 17: Clubbing dari kuku kaki.16

Beaus line adalah depresi melintang pada satu atau lebih kuku yang
disebabkan dari pertumbuhan yang tertahan dalam matriks kuku mengikuti
penyakit sistemik atau trauma berat. Trauma lokal, seperti dari manikur atau
onychotillomania, atau berhubungan dengan penyakit kulit lokal terutama
dermatitis, eritema periungual, dan paronikia, adalah penyebab Beau's line.
Beaus line menunjukkan penyebab sistemik, yang paling umum di antaranya

19
adalah obat-obatan (terutama kemoterapi), demam tinggi, penyakit virus, operasi
dan iskemia perifer.16

Gambar 18 : Beaus line pada penyakit sistemik.16

Half-and-half nails digambarkan memiliki setengah putih dibagian proksimal


dan bagian distal merah/ coklat, setengah karena perubahan warna pada kuku.
Half-and-half nails terjadi sebagai tanda ketidakmampuan kerja ginjal dan uremia.
Kuku kembali normal saat fungsi ginjal normal atau setelah transplantasi ginjal.16

Gambar 19 : Half-and-half nails.16

Terrys nails digambarkan sebagai kuku putih susu yang meluas dari lipatan
kuku proksimal dan merah-coklat di daerah onychodermal di kuku. Lunula
biasanya ditutupi oleh si putih. Menekan pada lempeng kuku akan mengubah

20
Penampilan dan warna kuku. Terrys nails dikaitkan dengan gagal jantung
kongestif, penyakit hati dan bahkan penuaan.16

Gambar 20 : Terrys nails.16

Hemorrhages splinter adalah perubahan kuku yang ditandai dengan garis liner
kecil berwarna merah/ coklat di dasar kuku. Hemorrhages splinter asimtomatik
dan biasanya terjadi pada bagian distal kuku, dan merupakan hasil dari perdarahan
kecil di alur longitudinal dasar kuku. Yang paling umum penyebab perdarahan
adalah trauma. Beberapa kuku psoriasis menunjukkan perdarahan akibat
mikroorganisme. Beberapa kondisi di mana ditemukan perdarahan splinter
termasuk trichinosis, endocarditis, kejadian embolik, diskrasia darah, dan
pengobatan tertentu.16,17

Gambar 21 : Infective endocarditis: splinter hemorrhage.17

21
Gambaran iskemik dari lupus eritematosus sistemik (SLE) menyebabkan
mayoritas perubahan kuku yang sangat bervariasi dalam presentasi. Infark
vaskular, mikronekrosis lipatan kuku dan lesi kutikular vaskular cukup umum
terjadi. Dalam kasus yang lebih parah, mungkin ada nekrosis dan gangren parah
akibat trombosis vaskular pada pembuluh darah ekstremitas.16

Gambar 22 : Lupus sistemik eritematosus: eritema lipatan kuku dan


telangiektasis.17

Yellow nail syndrome ditandai dengan kuku berwarna kuning, pertumbuhan


kuku lambat, dengan lunula dan kutikula yang tidak ada. Kuku bisa menebal dan
tampak melengkung dan menjadi buram sehingga lunula tertutupi. Kondisi yang
terkait dengan sindrom kuku kuning adalah lymphedema, kondisi pernafasan
termasuk bronkiektasis, sinusitis, dan efusi paru. Ada laporan bahwa yellow nail
syndrome menanggapi terapi vitamin E oral.16,17

Gambar 23 : Yellow nail syndrome.17

22
Penanganan dari kelainan bentuk kuku akibat penyakit sistemk lebih
cenderung pada etiologi penyakit yang mendasarinya.

h. Kelainan Kuku Herediter dan Kongenital

Ectodermal dysplasia merupakan sekumpulan kelainan herediter dimana


terjadi cacat perkembangan yang melibatkan dua dari tiga struktur utama dari
ectoderm embrio yaitu rambut, gigi, kuku, dan kelenjar keringat. Perubahan pada
kuku terkait dengan hypotrichosis, hypodontia, dan hypohidrosis. Gambaran
umum dari kelaianan kuku yaitu kuku pendek, menebal, dan hipoplastik.2

Gambar 24 : kuku pada ectodermal dysplasia.2

Epidermosis bulosa termasuk dalam kelaianan herediter dengan ciri umum


berupa kelainan kuku pada sebagian besar subtipe epidermolisis bulosa. Faktor
trauma diduga berpengaruh besar terhadap terjadinya dystrophy pada kuku dan
kuku jari kaki yang menjadi besar karena terkena dampak parah dari trauma.
Gambaran umum kelaianan pada kuku yaitu hilangnya sebagian atau seluruh
kuku, Pachyonychia, lepuhan yang disertai darah pada subungual atau periungual,
dan erosi periungual diserta granulasi jaringan. Pada tipe junctional epidermolisis
bulosa dan dermolitik epidermolisis bulosa kelainan pada kuku dapat berupa
anonychia.2

23
Gambar 25: Epidermolysis bullosa simplex nail dystrophy.18

Pachyonichia Congenital merupakan genodermatosis autosomal dominan yang


ditandai dengan nyeri keratoderma, penebalan kuku, leukokeratosis oral, dan kista
epidermal. Tingkat keparahan Pachyonichia Congenita dapat sangat bervariasi
pada beberapa pasien. Jenis Pachyonichia yang berat diantaranya yaitu Painfull
Palmoplantar Keratoderma (PPK), merupakan penebalan patologis terutama
karena hyperkeratosis pada kulit yang tidak memiliki rambut seperti telapak
tangan dan telapak kaki. Gambaran kelaianan pada kuku yaitu kuku menebal,
sangat sulit dipotong, dan warnanya gelap. Penebalan kuku merupakan akibat dari
hyperkeratosis dari dasar kuku (nail bed), yang lebih jelas pada bagian distal yang
melengkung ke atas.2

Gambar 26 : kelainan kuku pada Pachyonichia Congenital.18

24
Nail patella syndrome merupakan penyakit genetic yang jarang terjadi, yang
melibatkan organ-organ yang berasal dari ectodermal dan mesodermal. Kelaianan
kuku pada penyakit ini dapat terjadi pada semua kuku atau hanya terbatas pada
kuku ibu jari yang selalu terkena dampak parah. Gambaran kelainannya berupa
hipoplasia atau aplasia, dan lunula. Hipoplasia kuku biasanya pada bagian tengah
kuku dan bentuk dari lunula berbentuk segitiga (triangular lunula).2

Gambar 27 : kelainan kuku pada nail patella syndrome.2

Congenital malalignment of the hallux merupakan penyebab umum dari kuku


yang tumbuh ke dalam dan biasanya didiagnosis saat anak mulai berjalan.
Gambaran kelainan ini dapat berupa jari yang dapat terasa sangat nyeri dan kuku
jari kaki menunjukkan gambaran Beaus line dan onikolisis. Kelainan ini dapat
unilateral atau bilateral. Perbaikan pada kelaianan ini dapat terjasdi secara spontan
dan umumnya pada anak tidak bergejala saat berumur 2 tahun. Peradangan yang
terjadi akibat kuku yang tumbuh ke dalam dapat diatasi dengan pemijatan setiap
hari pada lipatan lateral kuku dengan krim yang mengandung steroid, antibiotic
dan urea. Pembedahan mungkin diperlukan apabila gejala pada kuku memberat
dan tidak mereda dengan adanya pertumbuhan kuku.2

25
Gambar 28 : Congenital malalignment of the hallux.2

26
DAFTAR PUSTAKA

1. Soepardiman L. Kelainan kuku. Djuanda A, Hamzah M, Aisah S. Ilmu


Penyakit Kulit dan Kelamin. Ed. ke-6. FKUI: Indonesia; 2010. p. 312-317.
2. Tosti A, Piraccini BM. Biology of Nails and Nail Disorders. Goldsmith LA,
Katz SI, Gilchrest BA, Paller AS, Leffell DJ, Wolf K. Fitzpatricks:
Dermatology In General Medicine. Ed. ke-8. MCgraw-hill Medical: USA;
2012. p. 1009-1029.
3. Billingsley EM. Paronychia. Emedicine Medscape: USA; 2016. Diakses 18
Agustus 2017: emedicine.medscape.com/article/1106062-overview
4. Cindy L. Nail Psoriasis. Emedicine Medscape: USA; 2017. Diakses 18
Agustus 2017: emedicine.medscape.com/article/1107949-overview
5. Chuang TY. Lichen Planus. Emedicine Medscape: USA; 2017. Diakses 18
Agustus 2017: emedicine.medscape.com/article/1123213-overview
6. Tosti A. Onychomycosis. Emedicine Medscape: USA; 2017. Diakses 18
Agustus 2017: emedicine.medscape.com/article/1105828-overview
7. Kwok PY. Keratosis Follicularis (Darier Disease). Emedicine Medscape:
USA; 2017. Diakses 18 Agustus 2017:
emedicine.medscape.com/article/1107340-overview
8. Bolduc C. Alopecia Areata. Emedicine Medscape: USA; 2017. Diakses 18
Agustus 2017: emedicine.medscape.com/article/1069931-overview
9. Parashar B, Yadav V, Maurya B, Sharma L. Review: Natural Therapy of
Fungal Nail Disease. The Pharma Innovation: India; 2012: 1; 31-47.
10. Rich P, Scher RK. Paronychia. An Atlas of Disease of the Nail. The
Parthenon Publishing Group: USA; 2005. p. 30-36.
11. Tang W. Nail and Nail Disorders. The Hong Kong Medical Diary: Hong
Kong; 2010: 15; 13-17.
12. Rich P, Scher RK. Onychomycosis. An Atlas of Disease of the Nail. The
Parthenon Publishing Group: USA; 2005. p. 61-69.

27
13. Rich P, Scher RK. Lichen Planus, Alopecia Areata dan Dariers Disease. An
Atlas of Disease of the Nail. The Parthenon Publishing Group: USA; 2005. p.
87-93.
14. Regana MS, Umbert P. Practical Dermatology: Diagnosis and Management
of Nail Psoriasis. Actas Dermosifiliogr: Spanyol; 2008: 99; 34-43.
15. Burge S, Hovnanian A. Acantholytic Disorder of the Skin. Goldsmith LA,
Katz SI, Gilchrest BA, Paller AS, Leffell DJ, Wolf K. Fitzpatricks:
Dermatology In General Medicine. Ed. ke-8. MCgraw-hill Medical: USA;
2012. p. 550-557.
16. Rich P, Scher RK. Nail Signs of Multisystem Diseases. An Atlas of Disease of
the Nail. The Parthenon Publishing Group: USA; 2005. p. 95-107.
17. Wolff K, Johnson RA. Disorders of the Nail Apparatus: Nail Signs of
Multisystem Diseases. Fitzpatricks: Color Atlas and Synopsis of Clinical
Dermatology. Ed. ke-6. MCgraw-hill Medical: USA; 2009. p. 1021-1026.
18. Rich P, Scher RK. Inherited Pediatric Nail Problems. An Atlas of Disease of
the Nail. The Parthenon Publishing Group: USA; 2005. p. 110-113.

28