Anda di halaman 1dari 15

Bagi seorang pasien, tidak dapat dengan mudah mengatakan seorang dokter

melakukan tindakan kelalaian, lalu mengadukannya kepada pihak yang berwajib.

Setidaknya ada 28 bentuk pelanggaran disiplin profesional dokter dan dokter gigi,
yang wajib diketahui tidak hanya oleh dokter itu sendiri, tapi juga masyarakat
luas.

Ini disampaikan Dosen Magister Hukum Kesehatan Universitas Gadja Mada


(UGM), Muhammad Luthfie Hakim SH, MH. dalam acara `Seminar dan
Workshop in Aesthetic Medicine (SWAM) 2013` di Jakarta Convention Centre
(JCC), Jakarta, Jumat (29/11/2013)

Berikut 28 bentuk pelanggaran disiplin profesional dokter dan dokter gigi, yang
dipaparkan oleh Muhammad Luthfie Hakim:

1. Melakukan praktik kedokteran dengan tidak kompeten


2. Tidak merujuk pasien kepada dokter atau dokter gigi lain yang memiliki
komeeptensi yang sesuai
3. Mendelegasikan pekerjaan kepada tenaga kesehatan tertentu yang tidak
memiliki kompetensi untuk melaksanakan pekerjaan tersebut
4. Menyediakan dokter atau dokter gigi pengganti sementara yang tidak
memiliki kompetensi dan kewenangan yang sesuai atau tidak melakukan
pemberitahuan perihal penggantian tersebut
5. Menjalankan praktik kedokteran dalam kondisi tingkat kesehatan fisik atau
mental sedemikian rupa sehingga tidak kompeten dan dapat
membahayakan pasien
6. Tidak melakukan tindakan atau asuhan medis yang memadai pada situasi
tertentu yang dapat membahayakan pasien
7. Melakukan pemeriksaan atau pengobatan berlebihan yang tidak sesuai
dengan kebutuhan pasien
8. Tidak memberikan penjelasan yang jujur, etis, dan memadai (adequate
information) kepada pasien atau keluarganya dalam melakukan praktik
kedokteran.
9. Melakukan tindakan atau asuhan medis tanpa memperoleh persetujuan
dari pasien atau keluarga dekat, wali, atau pengampunya.
10. Tidak membuat atau tidak menyimpan rekam medis dengan sengaja.
11. Melakukan perbuatan yang bertujuan untuk menghentikan kehamilan yang
tidak sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang
berlaku
12. Melakukan perbuatan yang dapat mengakhiri kehidupan pasien atas
permintaan sendiri atau keluarganya.
13. Menjalankan praktik kedokteran dengan menerapkan pengetahuan,
keterampilan, atau teknologi yang belum diterima atau di luar tata cara
praktis kedokteran yang layak.
14. Melakukan penelitian dalam praktik kedokteran dengan menggunakan
manusia sebagai subjek penelitian tanpa memperoleh persetujuan etik
(ethical clerance) dari lembaga yang diakui pemerintah.
15. Tidak melakukan pertolongan darurat atas dasar perikemanusiaan, padahal
tidak membahayakan dirinya, kecuali bila ia yakin ada orang lain yang
bertugas dan mampu melakukannya.
16. Menolak atau menghentikan tindakan atau asuhan medis atau tindakan
pengobatan terhadap pasien tanpa alasan yang layak dan sah sesuai dengan
ketentuan etika profesi atau peraturan perundang-undangan yang berlaku
17. Membuka rahasia kedokteran.
18. Membuat keterangan medis yang tidak didasarkan kepada hasil
pemeriksaan yang diketahuinya secara benar dan patut.
19. Turut serta dalam pembuatan yang termasuk tindakan penyiksaan atau
eksekusi hukuman mati.
20. Meresepkan atau memberikan obat golongan narkotika, psikotropika, dan
zat adiktif lainnya yang tidak sesuai dengan ketentuan etika profesi atau
peraturan perundang-undangan yang berlaku.
21. Melakukan pelecehan seksual, tindakan intimidasi, atau tindakan
kekerasan terhadap pasien dalam penyelenggaraan praktik kedokteran.
22. Menggunakan gelar akademik atau sebutan profesi yang bukan haknya.
23. Menerima imbalan sebagai hasil dari merujuk, meminta, pemeriksaan,
atau memberikan resep obat atau alat kesehatan.
24. Mengiklankan kemampuan atau pelayanan atau kelebihan kemampuan
pelayanan yang dimiliki baik lisan ataupun tulisan yang tidak benar atau
menyesatkan.
25. Adiksi pada narkotika, psikotropika, alkohol, dan zat adiktif lainnya
26. Bepraktik dengan menggunakan surat tanda registrasi, surat izin praktik,
dan/atau sertifikat kompetensi yang tidak sah atay berpraktik tanpa
memiliki surat izin praktik sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-
undangan yang berlaku.
27. Tidak jujur dalam menentukan jasa medis.
28. Tidak memberikan informasi, dokumen, dan alat bukti lainnya yang
diperkulan MKDKI/MKDKI-P, untuk pemeriksaan atas pengaduan
dengan pelanggaran Disiplin profesional Dokter dan Dokter Gigi.

Contoh kasus kode etik profesi Lagi, Tenaga Medis Ber-Selfie Ria di
Ruang Operasi
Etika Profesi
Sebagai suatu subyek, etika akan berkaitan dengan konsep yang dimilki oleh
individu ataupun kelompok untuk menilai apakah tindakan-tindakan yang telah
dikerjakannya itu salah atau benar, buruk atau baik. Etika akan memberikan
semacam batasan maupun standar yang akan mengatur pergaulan manusia di
dalam kelompok sosialnya. Dalam pengertiannya yang secara khusus dikaitkan
dengan seni pergaulan manusia, etika ini kemudian dirupakan dalam bentuk
aturan (code) tertulis yang secara sistematik sengaja dibuat berdasarkan prinsip
prinsip moral yang ada, tapi pada saat yang dibutuhkan akan bisa difungsikan
sebagai alat untuk menghakimi segala macam tindakan yang secara logika-
rasional umum (common sense) dinilai menyimpang dari kode etik. Dengan
demikian etika adalah refleksi dari apa yang disebut dengan self control, karena
segala sesuatunya dibuat dan diterapkan dari dan untuk kepentingan kelompok
sosial (profesi) itu sendiri.
Oleh karena itu dapatlah disimpulkan bahwa sebuah profesi hanya dapat
memperoleh kepercayaan dari masyarakat, bilamana dalam diri para elit
professional tersebut ada kesadaran kuat untuk mengindahkan etika profesi pada
saat mereka ingin memberikan jasa keahlian profesi kepada masyarakat yang
memerlukannya. Dalam pergaulan hidup bermasyarakat, bernegara hingga
pergaulan hidup tingkat internasional di perlukan suatu sistem yang mengatur
bagaimana seharusnya manusia bergaul. Sistem pengaturan pergaulan tersebut
menjadi saling menghormati dan dikenal dengan sebutan sopan santun, tata
krama, protokoler dan lain-lain. Maksud pedoman pergaulan tidak lain untuk
menjaga kepentingan masing-masing yang terlibat, agar mereka senang, tenang,
tentram, terlindung tanpa merugikan kepentingannya serta terjamin agar
perbuatannya yang tengah dijalankan sesuai dengan adat kebiasaan yang berlaku
dan tidak bertentangan dengan hak-hak asasi umumnya.
Ada dua macam etika yang harus dipahami bersama dalam menentukan baik dan
buruknya prilaku manusia:
Etika Deskriptif yaitu etika yang berusaha meneropong secara kritis dan
rasional sikap dan perilaku manusia dan apa yang dikejar oleh manusia dalam
hidup ini sebagai sesuatu yang bernilai. Etika deskriptif memberikan fakta sebagai
dasar untuk mengambil keputusan tentang perilaku atau sikap yang mau diambil;
Etika Normatif yaitu etika yang berusaha menetapkan berbagai sikap dan
pola prilaku ideal yang seharusnya dimiliki oleh manusia dalam hidup ini sebagai
sesuatu yang bernilai. Etika normatif memberi penilaian sekaligus memberi
norma sebagai dasar dan kerangka tindakan yang akan diputuskan.

C.1 Peranan Etika Profesi dalam Bidang Keteknikan


Etika profesi diperlukan dalam bidang keteknikan yaitu untuk perilaku
anggotanya dalam menjalankan praktek profesinya bagi masyarakat dan
lingkungannya. Standar-standar etika merupakan dasar untuk menjaga kelakuan
dan integritas atau kejujuran dari seorang tenaga ahli profesi. Dalam rangka
menjunjung tinggi integritas, kehormatan dan martabat profesi keteknikan sesuai
dengan kode etika profesi keteknikan menurut ABET-Engineering Criteria 2000
terdapat 4 (empat) prinsip dasar (fundamental principles) yang harus dilakukan
oleh insinyur, yaitu:
a. Menggunakan keterampilan dan pengetahuan para orang teknik untuk
peningkatan kesejahteraan manusia.
b. Menjadi tidak berat sebelah dan bersikap jujur, melayani dengan ketepatan
publik, serta pemberi kerja dan klien para orang teknik.
c. Bekerja keras untuk meningkatkan kemampuan wewenang
d. Mendukung profesional dan masyarakat yang teknis dari disiplin.

Dengan mengacu pada ABET-Engineering Criteria 2000 tersebut, maka seorang


profesional teknik tidak saja harus menguasai kepakaran (hard-skill) keteknikan,
tetapi juga harus memiliki wawasan, pemahaman, dan kemampuan/kompetensi
lainnya (soft-skill) seperti :
(a) kemampuan untuk bekerja dalam kelompok (organisasi),
(b) pemahaman tentang tanggung jawab sosial dan etika profesi,
(c) kemampuan berkomunikasi baik lisan maupun tulisan,
(d) kesadaran lingkungan (alam maupun sosial),
(e) kepekaan tinggi terhadap berbagai persoalan yang dihadapi menyangkut
berbagai macam isu kontemporer, aktual maupun situasional,
(f) kemampuan berorganisasi, manajemen dan leadership,
sehingga seorang profesional teknik tidak saja diharapkan akan memiliki
kemampuan akademis dan kompetensi profesi keinsinyuran (engineering) yang
baik saja, tetapi juga memiliki wawasan dan kepekaan terhadap segala
permasalahan yang ada di industri maupun masyarakat.
Bidang keteknikan merupakan suatu bidang yang berorientasi dalam
menyelesaikan masalah. Sehingga pada aplikasinya etika profesi bidang
keteknikan ini merupakan suatu ilmu tentang hak dan kewajiban untuk
menyelesaikan masalah dalam suatu pekerjaan. Dasar ini merupakan hal yang
diperlukan dalam bidang keteknikan. Sehingga tidak terjadi penyimpangan-
penyimpangan yang menyebabkan ketidaksesuain dengan bidang tersebut.
Profesionalisme sangat penting dalam suatu pekerjaan, bukan hanya loyalitas.
Sehingga, etika profesilah yang sangat penting. Bidang keteknikan tergabung atas
berbagai bidang, dimana dalam bidang pekerjaan disini akan ada banyak orang
yang tergabung, tidak menutup kemungkinan terdapat teman, saudara ataupun
orang yang dicinta. Sehingga ketika hendak mengambil keputusan tidak terjadi
penyimpangan, oleh sebab itu etika disini sangat dibutuhkan, sehingga tidak
terjadi ketidakadilan. Salah tetap salah dan benar tetap benar.
Etika sangat penting dalam menyelesaikan suatu masalah dalam bidang
keteknikan, sehingga bila suatu profesi keteknikan tanpa etika akan terjadi
penyimpangan-penyimpangan yang mengakibatkan terjadinya ketidakadilan.
Ketidakadilan yang dirasakan oleh orang lain akan mengakibatkan kehilangan
kepercayaan. Kehilangan kepercayaan berdampak sangat buruk, karena
kepercayaan merupakan suatu dasar atau landasan yang dipakai dalam suatu
pekerjaan. Begitu luasnya ruang lingkup yang bisa dirambah untuk
mengaplikasikan keteknikan jelas akan membawa persoalan tersendiri bagi
profesional teknik pada saat mereka harus menjelaskan secara tepat what should
we do and where should we work ? Pertanyaan ini jelas tidak mudah untuk
dijawab secara memuaskan oleh mereka yang masih awam dengan keteknikan.
Bila profesi keteknikan tanpa adanya etika profesi, kepercayaan masyarakat akan
berkurang dan akan terjadi penyalahgunaan dalam keteknikan itu sendiri.
Sehingga pentingnya etika profesi ini dalam mewujudkan harapan yang dinginkan
dengan hasil baik tanpa melakukan tindakan-tindakan penyimpangan yang tidak
diperlukan.

C.2 Faktor yang Mempengaruhi Pelanggaran Etika Profesi


Hal-hal berikut ini yang mempengaruhi pelanggaran etika profesi :
Kebutuhan individu.
Korupsi alasan ekonomi.
Tidak ada pedoman.
Area abu-abu, sehingga tak ada panduan.
Perilaku dan kebiasaan individu.
Kebiasaan yang terakumulasi tak dikoreksi.
Lingkungan tidak etis.
Pengaruh dari komunitas.
Perilaku orang yang ditiru.
Efek primordialisme yang kebablasan.

C.2 Sangsi Pelanggaran Etika Profesi


Ada dua sanksi yang diberikan kepada pelanggaran etika profesi :
Sanksi Sosial
Merupakan skala relatif kecil, dipahami sebagai kesalahan yang dapat
dimaafkan.
Sanksi Hukum
Merupakan skala besar, merugikan hak pihak lain. Hukum pidana menempati
prioritas utama, diikuti oleh hukum Perdata.

C.3 Contoh Pelanggaran dalam Bidang Keteknikan dan Cara


Menanggulanginya
Salah satu contoh kasus pelanggaran dalam bidang keteknikan adalah
seorang melakukan kecurangan dalam bentuk meminimalisir suatu kapasitas
bahan baku yang seharusnya sudah ditetapkan demi mendapatkan keuntungan dari
segi finansial kedalam dirinya sendiri atau dengan kata lain korupsi dalam proses
konstruksi. Contoh dalam proyek pembuatan jalan, bahan yang seharusnya dibeli
untuk kebutuhan proyek tersebut dikurangi jumlahnya agar biaya menjadi murah
dan keuntungannya akan diterima oleh orang yang melakukan hal tersebut. Hal ini
disebut pelanggaran etika profesi karena didalam diri orang tersebut tidak
ditanamkan norma-norma yang berlaku dalam etika profesi.
Cara menanggulangi hal diatas :
Pangkal dari segala krisis adalah krisis kemanusiaan, krisis etika, kelangkaan
wawasan etika, terutama di kalangan para penguasa politik dan ekonomi, telah
mendorong merajalelanya korupsi. Pada Undang-undang Jasa Konstruksi Nomor
18 Tahun 1999, disebutkan pada pasal 11 ayat 1, ayat 2, dan ayat 3 yaitu sebagai
berikut :
- Ayat 1 : Badan usaha sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 dan orang
perseorangan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 harus bertanggung jawab
terhadap hasil pekerjaannya.
- Ayat 2 : Tanggung jawab sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilandasi
prinsip-prinsip keahlian sesuai kaidah keilmuan, kepatutan, dan kejujuran
intelektual dalam menjalankan profesinya dengan tetap mengutamakan
kepentingan umum.
- Ayat 3 : Untuk mewujudkan terpenuhinya tanggung jawab sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) dapat ditempuh melalui mekanisme
pertanggungan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang
berlaku.
Pada 3 ayat tersebut diatas sangat jelas bahwa dalam pelaksanaan konstruksi harus
dilandasi dengan prinsip-prinsip keahlian sesuai kaidah keilmuan, kepatutan, dan
kejujuran intelektual dalam menjalankan profesinya dengan tetap mengutamakan
kepentingan umum sehingga jika prinsip-prinsip tersebut dilaksanakan, korupsi
dalam proses konstruksi bisa diminimalisir. Sebaiknya orang yang melakukan
tindakan tersebut harus segera ditindaklanjuti agar kasus di atas tidak menjadi
berlarut-larut dan menjadi kebiasaan karena akan berdampak kepada proyek yang
bersangkutan dalam segi kerugian finansial. Selain itu umur ekonomis dari jalan
yang sudah dibuat tidak sesuai dengan perhitungan yang sebenarnya, karena
material yang seharusnya digunakan sudah diminimalisir demi keuntungan
pribadi. Sanksi yang dapat diberikan adalah sanksi hukum karena merugikan hak
pihak lain.
Contoh lainnya adalah sebuah perusahaan pengembang di Kota Semarang
membuat kesepakatan dengan sebuah perusahaan kontraktor untuk membangun
sebuah perumahan. Sesuai dengan kesepakatan pihak pengembang memberikan
spesifikasi bangunan kepada kontraktor. Namun dalam pelaksanaannya,
perusahaan kontraktor melakukan penurunan kualitas spesifikasi bangunan tanpa
sepengetahuan perusahaan pengembang. Selang beberapa bulan kondisi bangunan
sudah mengalami kerusakan serius. Dalam kasus ini pihak perusahaan kontraktor
dapat dikatakan telah melanggar prinsip kejujuran karena tidak memenuhi
spesifikasi bangunan yang telah disepakati bersama dengan perusahaan
pengembang. Dampak yang terjadi adalah adanya rasa tidak percaya dari pihak
perusahaan terhadap pihak pengembang dan akan berakibat juga terhadap nama
baik pihak pengembang.

D. Kesimpulan
Dari pembahasan sebelumnya maka dapat di simpulkan bahwa etika profesi
merupakan pedoman mutu moral profesi didalam masyarakat yang di atur sesuai
dengan profesi masing-masing. Hanya etika yang berisikan nilai-nilai dan cita-cita
di terima oleh profesi itu sendiri serta menjadi tumpuan harapan untuk di
laksanakan dengan tekun dan konsekuen. Kode etik tidak akan efektif kalau
didrop begitu saja dari atas yaitu instansi pemerintah karena tidak akan di jiwai
oleh cita-cita dan nilai hidup dalam kalangan profesi itu sendiri. Tidak terkecuali
dalam pelaksanaan konstruksi juga harus dilandasi dengan prinsip-prinsip
keahlian sesuai kaidah keilmuan, kepatutan, dan kejujuran intelektual dalam
menjalankan profesinya dengan tetap mengutamakan kepentingan umum. Untuk
mencapai cita-cita tersebut maka pengaturan di bidang jasa konstruksi harus
berdasarkan Azas; 1.) Kejujuran dan keadilan 2.) Manfaat 3.) Keserasian 4.)
Keseimbangan 5.) Kemandirian 6.) Keterbukaan 7.) Kemitraan 8.) Keamanan
dan keselamatan. Agar dapat memahami dan memperoleh pengetahuan baru maka
usaha yang dapat di lakukan adalah mengaplikasikan keahlian sebagai tambahan
ilmu dalam praktek pendidikan yang di jalani serta perlu pembahasan dari kode
etik diatas menjadikan individu yang tahu akan pentingnya kode etik profesi.
KASUS PELANGGARAN ETIKA PROFESI DI BIDANG INDUSTRI

Etika dalam perkembangannya sangat mempengaruhi kehidupan manusia.


Etika memberi manusia orientasi bagaimana ia menjalani hidupnya melalui
rangkaian tindakan sehari-hari.Itu berarti etika membantu manusia untuk
mengambil sikap dan bertindak secara tepat dalam menjalani hidup ini. Etika pada
akhirnya membantu kita untuk mengambil keputusan tentangtindakan apa yang
perlu kita lakukan dan yang pelru kita pahami bersama bahwa etika inidapat
diterapkan dalam segala aspek atau sisi kehidupan kita, dengan demikian etika ini
dapat dibagi menjadi beberapa bagian sesuai dengan aspek atau sisi kehidupan
manusianya. Etika profesi diperlukan dalam bidang keteknikan yaitu untuk perilaku
anggotanya dalam menjalankan praktek profesinya bagi masyarakat dan
lingkungannya. Standar-standar etika merupakan dasar untuk menjaga kelakuan
dan integritas atau kejujuran dari seorang tenaga ahli profesi.
Berikut ini merupakan tiga kasus pelanggaran etika profesi yang pernah
terjadi di bidang profesi keteknikan, dan dampak yang ditimbulkan;
A. Pelanggaran keteknikan dibidang industri: Polusi
Produksi motor semakin hari semakin banyak, rata-rata dalam sehari di satu
perusahaan motor memproduksi motor sekitar 12000 unit. Satu buah motor
menghasilkan polusi asap yang tidak sedikit sehingga sangat merugikan tidak hanya
bagi diri sendiri, orang lain maupun lingkungan disekitarnya. Hal tersebut
merupakan pelanggaran etika profesi dalam bidang keteknikan yang harus ada
penyelesaianya.
Dampak yang ditimbulkan akibat pelanggaran tersebut adalah kelainan
janin pada ibu hamil, menyebabkan kanker darah, kanker paru-paru, mempengaruhi
pertumbuhan pada anak-anak dan apabila rutin dihirup akan mengakibatkan
kematian.
B. Pelanggaran keteknikan dibidang industri Pembangunan
Jaman yang semakin berkembang pesat dengan IPTEK yang semakin
berkembang, mengakibatkan semakin banyak pula pembangunan dimana-mana.
Namun makin banyaknya pembangunan orang-orang yang bekerja dibidang
keteknikan tersebut jadi semakin serakah menggunakan lahan. Tanaman dan
pohon-pohon besar yang menjadi jatung kota dibabat habis demi kepentingan
pembangunan.
Dampak yang ditimbukan akibat pelanggaran tersebut adalah lingkungan
jadi gersang dan panas, tidak ada keseimbangan oksigen akibat pohon-pohon
ditebang dan makin banyak polusi, dan mengakibatkan banjir.

C. Pelanggaran keteknikan dibidang industri: Perkembangan teknologi HP


Banyak keluaran handphone terbaru dengan inovasi yang beragam sangat
baik karena memberikan kemudahan bagi pengguna. Namun dengan kemudahan-
kemudahan tersebut juga dapat berdampak buruk apabila disalahgunakan. Saat ini
banyak sekali anak kecil yang sudah menggunakan handphone dengan yang
dilengkapi fasilitas seperti internet dan sebagainya. Sehingga anak tersebut dapat
mendownload apapun yang tidak seharusnya dilihat untuk anak dibawah umur.
Dampak yang ditimbukan akibat pelanggaran tersebut adalah dapat merusak
moral bangsa dan sangat berpengaruh bagi perkembangan anak.

Sedangkan beberapa contoh aktivitas yang tidak beretika professional


dalam bekerja adalah sebagai berikut:
1. Menambah keuntungan bagi dirinya dan melakukan hal-hal yang melanggar
kode etik profesinya misalnya ukuran-ukuran kualitas bangunan dikurangi sehingga
hasil yang dicapai cepat dan murah namun tidak tahan lama, hal ini tentu sangat
fatal akibatnya bagi pengguna bangunan yang dibuat kontraktor tersebut.
2. Kasus pelanggaran kode etik pada produk berbahaya, produk merupakan
salah satu kebutuhan yang ingin diperoleh masyarakat untuk kelangsungan
hidupnya. Tentunya, dalam membuat suatu produk, produsen bertujuan untuk
memuaskan pelanggan dengan cara produk yang dibuatnya dapat bermanfaat bagi
konsumennya. Di sisi lain, justru banyak produk yang dihasilkan itu merugikan
pelanggan karena memiliki dampak negatif atau berbahaya bagi konsumen.
Contohnya adalah kasus baru-baru ini yaitu susu yang mengandung melamin yang
berbahaya bagi konsumen. Contoh kasus tersebut jelas menyalahi etika profesi.
Apabila produsen susu tersebut memiliki etika profesi, maka produk berbahaya
tersebut tidak akan muncul di pasaran.
3. Kasus pelanggaran kode etik pada dunia maya, dampak yang ditimbulkan
dari kasus tersebut, diantaranya: virus, spam, penyadapan, carding, melumpuhkan
target. Implikasi dari INTERNET (Interconection Networking), memungkinkan
pengguna IT semakin meluas, tak terpetakan, tak teridentifikasi dalam dunia.
Otomatisasi bisnis dengan internet dan layanannya, mengubah bisnis proses yang
telah ada dari transaksi konvensional kepada yang berbasis teknologi, melahirkan
implikasi negative, bermacam kejahatan, penipuan, hingga kerugian lainnya akibat
penggunaan internet dalam dunia bisnis. Pelanggaran HAKI, yakni masalah
pengakuan hak atas kekayaan intelektual, pembajakan, cracking, software ilegal.
4. Seorang yang bekerja di bagian QC tersebut melakukan hal yang dianggap
tidak baik, yaitu dengan meloloskan suatu produk yang sebenarnya dianggap cacat
atau tidak layak. Hal ini disebut pelanggaran etika karena di dalam diri orang
tersebut tidak ditanamkan norma-norma yang berlaku dalam etika profesi. Dampak
yang ditimbulkan adalah nama baik perusahaan tersebut akan tercoreng karena
tindakan oknum yang melakukan tindakan tersebut.
5. Seorang insinyur yang merencanakan untuk membuat nuklir dengan tujuan
menghancurkan negara lain. Seharusnya insinyur yang pintar itu, tidak membuat
suatu nuklir yang dapat membunuh banyak orang, tetapi seharusnya dapat membuat
sesuatu yang dapat berguna bagi kehidupan orang banyak.

Pelanggaran Kode Etik Profesi Pada Proyek Hambalang


Jenis badan hukum dari proyek Hambalang adalah BUMN.BUMN
merupakan perusahaan yang mayoritas kepemilikannya milik pemerintah.
Namun, dalam kasus proyek hambalang ini ditemukan prosedur prosedur
yang tidak sesuai dengan prosedur seharusnya. Berikut prosedur yang
dilanggar dalam proyek hambalang , yaitu sebagai berikut :
1. a. Kepala BPN menerbitkan surat keputusan pemberian hak pakai tanggal
januari 2010 bagi Kemenpora atas tanah seluas 312.448 m2 di desa
Hambalang. Padahal, persyaratan berupa surat pelepasan hak dari
pemegang hak sebelumnya patut diduga palsu.
b. Kabag Persuratan dan Kearsipan BPN atas perintah Sestama BPN
menyerahkan SK hak pakai bagi Kemenpora kepada IM tanpa ada surat
kuasa dari Kemenpora selaku pemohon hak, sehingga diduga melanggar
kep ka. BPN tahun 2005 jo kep. Ka. BPN 1 tahun 2010.

2. Bupati Bogor menandatangani site plan meskipun Kemenpora belum/tidak


melakukan studi Amdal terhadap proyek pembangunan P3SON
Hambalang, sehingga diduga melanggar UU 32 Tahun 2009 tentang
Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup dan diduga melanggar
Peraturan Bupati Bogor Nomor 30 tahun 2009 tentang Pedoman
Pengesahan Master Plan, site plan dan peta situasi

3. Kepala Badan Perizinan Terpadu Kabupaten Bogor menerbitkan IMB


meskipun Kemenpora belum melakukan studi Amdal terhadap proyek
pembangunan P3SON sehingga diduga melanggar Perda Kabupaten
Bogor Nomor 12 tahun 2009 tentang Bangunan Gedung.

4. Direktur Penataan dan Lingkungan Kementerian PU memberikan


pendapatan teknis yang dimaksud dalam PMK 56/PMK.02/2010, tanpa
memperoleh pendelegasian dari Menteri Pekerjaan umum sehingga diduga
melanggar Permen PU Nomor 45 tahun 2007.

5. Menteri Keuangan dan Dirjen Anggaran setelah melalui proses penelaahan


secara berjenjang menyetujui memberikan disperisasi perpanjangan batas
waktu revisi RKA-KL tahun 2010 dan didasarkan pada data dan informasi
yang tidak benar, yaitu sebagai berikut :

6. a. Sesmenpora mengajukan permohonan revisi RKA-KL tahun 2010 pada


tanggal 16 November 2010, sehingga diduga melanggar PMK
69/PMK.02/2010 dan 180/PMK.02/ 2010.
7. a. Sesmenpora menandatangani surat permohonan persetujuan kontrak
tahun jamak tanpa memperoleh pendelegasian dari menpora sehingga
diduga melanggar PMK 56/PMK.52/2010.
b. Menpora diduga membiarkan Sesmenpora melaksanakan wewenang
Menpora dan tidak melaksanakan pengendalian serta pengawasan
sebagaimana dimaksud PP 60 tahun 2008.

8. Menteri Keuangan menyetujui kontrak tahun jamak dan dirjen anggaran


menyelesaikan proses persetujuan kontrak tahun jamak setelah melalui
proses penelaahan secara berjenjang secara bersama-sama meskipun
diduga melanggar PMK 56/PMK.52/2010 antara lain sebagai berikut.
a. Tidak seluruh unit bangunan yang hendak dibangun secara teknis harus
dilaksanakan dalam waktu lebih dari satu tahun anggaran.
b. Permohonan persetujuan kontrak tahun jamak tidak diajukan oleh menteri
atau pimpinan lembaga.
c. RKA-KL kemenpora 2010 (revisi) yang menunjukkan kegiatan lebuh dari
satu tahun anggaran belum ditandatangani oleh dirjen anggaran.
9. Dirjen anggaran menetapkan RKA-KL Kemenpora tahun 2011 dengan
skema tahun jamak sebelum penetapan proyek tahun jamak disetujui.
Dirjen anggaran diduga melanggar PMK 104/PMK.02/2010

10. a. Sesmenpora menetapkan pemenang lelang konstruksi dengan nilai kontrak


di atas Rp 50 miliar tanpa memperoleh pendelegasian dari Menpora.
Sehingga diduga melanggar Keppres 80 tahun 2003.
b. Menpora diduga membiarkan Sesmenpora melaksanakan wewenang
Menpora tersebut dan tidak melakukan pengendalian dan pengawasan
melainkan diatur oleh rekanan yang direncanakan akan menang. Diduga
melanggar Keppres Nomor 80 Tahun 2003.
c. Proses evaluasi dan prakualifikasi dan teknis terhadap pekerjaan konstruksi
pembangunan P3SON Hambalang (bukan) dilakukan oleh panitia
pengadaan melainkan diatur oleh rekanan yang direncanakan akan
menang. Sehingga diduga melanggar Keppres 80 tahun 2008.
d. Adanya rekayasa proses pelelangan pekerjaan konstruksi pembangunan
P3SON Hambalang untuk memenangkan kerja sama operasi (KSO) AW
yang dilakukan dengan cara sebai berikut:
1. Mengumumkan lelang dengan informasi yang tidak benar.
2. Untuk mengevaluasi kemampuan dasar (KD) KSO-AW digunakan
dengan cara penggabungan nilai dua pekerjaan sedangkan untuk peserta
lain KD digunakan dengan nilai proyek tertinggi yang pernah digunakan,
sehingga menguntungkan KSO- AW. Hal ini diduga melanggar PP 29 tahun
2000 dan Keppres 80 Tahun 2003.
11. Pelaksanaan pekerjaan konstruksi KSO-AW menyubkontrakkan pekerjaan
utamanya (konstruksi) kepada perusahaan lain sehingga diduga melanggar
keppres 80 tahun 2003.

http://www.merdeka.com/peristiwa/10-pelanggaran-proyek-hambalang-
menurut-audit-bpk/pencairan-anggaran-tahun-2010.html

2.3 Ketidak Jujuran Hasil Survey (Lokasi Bukit Hambalang Tidak Layak di
Bangun Komlpek Sport Centre)

Ketidak jujuran hasil survey/ penipuan data survey adalah salah satu
pelanggaran Dewan Akreditasi Rekayasa dan Teknologi (ABET) kode etik
insinyur atas dasar prinsip point ke II yang berbunyi Bersikap jujur dan tidak
memihak, dan melayani dengan kesetiaan masyarakat, petinggi mereka
dan klien. Dalam hal ini konsultan perencana tidak bertindak jujur tidak
menunjukan hasil survey yang sebenarnya karena pada kawasan
hambalang tidak layak untuk dibangun gedung sarana olah raga Sport
Centre.
Salah satu kegiatan yang pertama kali dilakukan oleh seorang
perencana / insinyur adalah melakukan survey lokasi / study kelayakan
untuk menentukan apakah layak atau tidaknya kawasan tersebut dibangun
sebuah gedung atau bangunan lainnya sehingga bangunan tersebut dapat
kokoh berdiri sesuai dengan umur rencana.
Namun pada kenyataanya sebagian lahan proyek Pusat Pendidikan
dan Pelatihan Sarana Olahraga Nasional Hambalang, Bogor, Jawa Barat,
ternyata memiliki struktur tanah yang sangat labil. Pertengahan Desember
tahun lalu, sebagian area di pusat olahraga tersebut ambles, yang
mengakibatkan dua bangunan, yakni gedung bulu tangkis dan power house
(rumah genset), hampir roboh.
Hal ini diakui konsultan perencana proyek Hambalang, Imanul Aziz,
saat dicecar Panitia Kerja Evaluasi Proyek Hambalang Komisi Pendidikan
dan Olahraga Dewan Perwakilan Rakyat saat mengunjungi proyek
tersebut, Selasa (29/5/2012) kemarin. Kontraktor proyek berbiaya Rp 1,2
triliun itu adalah PT. Adhi Karya.
Menurut Azis, struktur labil itu lantaran tanah di Hambalang berjenis
clay soil atau lempung. "Di sini jenis tanahnya clay soil formasi Jatiluhur,
jadi sama dengan (jenis) tanah di jalan tol cipularang. Menurut Azis, tanah
jenis ini memiliki ciri khusus apabila terkena hujan. Air hujan akan
menerobos masuk hingga 1-2 meter dan, saat air menyentuh lapisan
lempung, tanah akan mengembang dan membahayakan bangunan
material di atasnya. "Sementara itu, saat panas, tanah akan menyusut. Itu
yang terjadi.
Hal itu diketahui setelah pihaknya mengupas tanah di beberapa
tempat, dan menemukan kandungan lempung yang ekspansif. Namun ia
berdalih telah mengantisipasinya dengan memasang turap (beronjong) di
zona paling bawah proyek Hambalang, yakni lokasi gedung power house
yang tanahnya ambles.
Drainase atau saluran air dalam tanah juga telah dibuat di bawah setiap
gedung. Namun, ia beralasan, posisi rumah genset yang ambles berada
paling bawah. "Airnya berkumpul di sini. Inilah yang merusak tanah,
Konsultan manajemen konstruksi proyek Hambalang dari PT
Ciriajasa, E. Ginting, membantah melakukan kesalahan dalam
perencanaan. Tahapan penelitian sudah dilalui. "Melihat sudut tanah sudah
kami lakukan. Atas dasar itulah dilakukan penempatan bangunan genset
dan bulu tangkis. Jadi, dari segi penelitian, sudah layak," katanya. Namun
Ginting mengakui amblesnya tanah pada rumah genset dan gedung bulu
tangkis di luar perkiraan.
http://news.detik.com/read/2012/05/30/145624/1928503/10/

2.4 Adanya Mark Up Anggaran Proyek

Salah satu isu-isu yang melanggar kode etik profesi pada peroses
pembangunan sarana olah raga sport centre adalah adanya Mark Up
Anggaran proyek. Mark Up anggaran proyek biasanya dilakukan kontraktor
untuk menghindari kerugian akibat naiknya harga barang/ material. Namun
pada kasus proyek hambalang Mark Up anggaran sengaja dilakukan oleh
beberapa pihak untuk mendapatkan keuntungan sebesar-besarnya. Mark
Up yang seperti inti bisa dikategorikan dalam tindak pidana korupsi.
Komisi Pemberantasan Korupsi mengaku telah menemukan bukti
kuat proyek gedung olahraga di Bukit Hambalang, Sentul, Bogor, telah di-
markup atau digelembungkan. Menurut Wakil Ketua KPK Busyro
Muqoddas, penggelembungan dana proyek itu cukup besar.
"Ada penggelembungan (dana) secara cepat sekali dalam jumlah yang
spektakuler," kata Busyro di kantornya, Selasa, 10 Juli 2012.

Menurut Busyro, bukti-bukti ihwal penggelembungan dana proyek


tersebut sudah dikantongi satuan tugas yang menangani kasus ini. Meski
menolak memerinci apa saja bukti tersebut, ia menyatakan bahwa bukti itu
akan dikaji secara mendalam hingga dipaparkan dalam gelar perkara atau
ekspose Hambalang pekan ini. "Bukti itu harus ditakar. Menakarnya sesuai
hukum pembuktian materiil.
Proyek Hambalang dikerjakan oleh PT Adhi Karya (Persero) sejak
2010 dengan nilai Rp 1,2 triliun. Dalam proyek ini, Adhi Karya memegang
saham 70 persen, dan sisanya dipegang PT Wijaya Karya. Proyek ini
mengemuka saat M. Nazaruddin, bekas Bendahara Umum Partai
Demokrat, menuduh Ketua Demokrat Anas Urbaningrum mengambil dana
dari proyek itu sebesar Rp 50 miliar pada Januari 2010. Duit itu dipakai
untuk merebut kursi ketua umum dalam Kongres Partai Demokrat di
Bandung pada Mei tahun lalu. Anas membantah tudingan tersebut.
Sumber Tempo di lembaga antikorupsi itu menyatakan terdapat dua
pejabat Kementerian Pemuda dan Olahraga dibidik menjadi calon
tersangka pertama kasus ini. Mereka adalah Kepala Biro Perencanaan
Deddy Kusdinar dan Kepala Bidang Evaluasi dan Diseminasi Wisler
Manalu. Deddy menjadi ketua tim pencari tanah sekaligus pejabat pembuat
komitmen proyek tersebut. Sedangkan Wisler ketua panitia lelang proyek.
Keduanya diduga terlibat penggelembungan dana proyek. Nama mereka
sudah ada dalam berkas penyidikan, kata dia.
Busyro mengatakan memang peran dua orang pejabat Kementerian
itu sedang didalami untuk kasus Hambalang. Namun ia menyatakan bahwa
keduanya belum ditetapkan tersangka karena menunggu ekspose digelar.
Ketua KPK Abraham Samad mengatakan bahwa gelar perkara
kemungkinan dilaksanakan Jumat, 13 Juli. Namun ia menolak menjelaskan
apakah kedua orang tersebut akan ditetapkan tersangka atau tidak dalam
gelar perkara itu. "Tunggu hasil gelar perkara dulu," ucapnya saat dihubungi
melalui telepon selulernya, Selasa, 10 Juli.

http://www.tempo.co/read/news/2012/07/10/063416034/Bukti-Markup-
Proyek-Hambalang-Sangat-Kuat

2.5 Pelanggaran Prinsip Dasar Dan Etika Panitia Lelang


Pada saat melaksanakan pelelangan pekerjaan pada instansi
pemerintah, setiap panitia lelang harus tunduk pada ketentuan yang
berlaku, yaitu Keppres nomor 80 tahun 2003 serta perubahannya ataupun
aturan yang baru, yaitu Perpres nomor 54 tahun 2010. Dalam mengambil
sebuah keputusan, mereka harus berpegang pada prinsip-prinsip dasar
dan juga harus mengikuti etika pengadaan seperti yg sudah ditentukan oleh
aturan-aturan tsb.
Prinsip dasarnya adalah sbb:
1. efisien, berarti pengadaan barang/jasa harus diusahakan dengan
menggunakan dana dan daya yang terbatas untuk mencapai
sasaran yang ditetapkan dalam waktu sesingkat-singkatnya dan
dapat dipertanggungjawabkan;
2. efektif, berarti pengadaan barang/jasa harus sesuai dengan
kebutuhan yang telah ditetapkan dan dapat memberikan manfaat
yang sebesar-besarnya sesuai dengan sasaran yang ditetapkan;
3. terbuka dan bersaing, berarti pengadaan barang/jasa harus terbuka
bagi penyedia barang/jasa yang memenuhi persyaratan dan
dilakukan melalui persaingan yang sehat di antara penyedia
barang/jasa yang setara dan memenuhi syarat/kriteria tertentu
berdasarkan ketentuan dan prosedur yang jelas dan transparan;
4. transparan, berarti semua ketentuan dan informasi mengenai
pengadaan barang/jasa, termasuk syarat teknis administrasi
pengadaan, tata cara evaluasi, hasil evaluasi, penetapan calon
penyedia barang/jasa, sifatnya terbuka bagi peserta penyedia
barang/jasa yang berminat serta bagi masyarakat luas pada
umumnya;
5. adil/tidak diskriminatif, berarti memberikan perlakuan yang sama
bagi semua calon penyedia barang/jasa dan tidak mengarah untuk
memberi keuntungan kepada pihak tertentu, dengan cara dan atau
alasan apapun;
6. akuntabel, berarti harus mencapai sasaran baik fisik, keuangan
maupun manfaat bagi kelancaran pelaksanaan tugas umum
pemerintahan dan pelayanan masyarakat sesuai dengan prinsip-
prinsip serta ketentuan yang berlaku dalam pengadaan barang/jasa.

Pada kasus pembangunan sarana olah raga sport centre ada beberapa kasus
pelanggaran prinsip dasar dan etika panitia lelang, diantaranya adala
sebagai berikut :
1) Dalam proyek pembangunan sarana olah raga sport centre, pihak yang
memenangkan tender, yaitu PT Adhi Karya , mensubkontrakkan kembali
PT yang lain dalam pembangunan nya. Penelusuran Tempodi Hambalang
juga menemukan Dutasari ternyata menggarap rekrutmen personel satuan
keamanan proyek. Pekerjaan Dutasari pun ada yang disubkontrakkan lagi
ke perusahaan lain, antara lain PT Kurnia Mutu yang menyuplai pipa
tembaga untuk penyejuk udara dan PT Bestindo Aquatek Sejahtera yang
menyediakan sistem pengolahan limbah domestik.
2) Proses pemenangan tender yang terkesan asal-asalan .Hal ini terbukti PT
adhi karya yang merupakan pihak yang memenangkan tender,padahal ada
suatu hal yang menyebabkan Adhi tidak menang, namun tetap diloloskan.
3) Proses pembangunan yang tiadk di di pantau lebih lanjut pelaksanaanya,
hal kini terlihat dalam proses proyek , pihak kemenpora membiarkan dalam
artian menyerahkan sepenuhnya pada sesmenpora bertindak sendiri dalam
menjalankan proyek. Disini cukup membuktikan bahwa SDM yang terlibat
dalam proyek hambalang ini mengandung aspek SDM yang tidak
berkualitas sehingga mengakibatkan buruknya pengendalian dalam
pelaksanaan proyek yang ada.
http://www.scribd.com/doc/242003996/Fidya-Ayu-Saomi-1122003013-
Studi-Kelayakan-Hambalang

BAB III
KESIMPULAN
Dari pembahasan di atas, maka dapat disimpulkan bahwa :
1. etika tidak lain adalah aturan prilaku, adat kebiasaan manusia dalam
pergaulan antara sesamanya dan menegaskan mana yang benar dan
mana yang buruk. Kode Etik juga dapat diartikan sebagai pola aturan, tata
cara, tanda, pedoman etis dalam melakukan suatu kegiatan atau pekerjaan.
Kode etik merupakan pola aturan atau tata cara sebagai pedoman
berperilaku.
2. Banyak sekali pelanggaran-pelanggaran dalam kasus proyek hambalang ini
ditemukan prosedur prosedur yang tidak sesuai dengan prosedur
seharusnya.
3. Adanya Mark Up anggaran pada kasus proyek hambalang. Mark Up
anggaran sengaja dilakukan oleh beberapa pihak untuk mendapatkan
keuntungan sebesar-besarnya demi kepentingan pribadi. Mark Up yang
seperti inti bisa dikategorikan dalam tindak pidana korupsi.
4. Ketidak jujuran hasil survey/ penipuan data survey adalah salah satu
pelanggaran Dewan Akreditasi Rekayasa dan Teknologi (ABET) kode etik
insinyur atas dasar prinsip point ke II yang berbunyi Bersikap jujur dan tidak
memihak, dan melayani dengan kesetiaan masyarakat, petinggi mereka
dan klien. Dalam hal ini konsultan perencana tidak bertindak jujur tidak
menunjukan hasil survey yang sebenarnya karena pada kawasan
hambalang tidak layak untuk dibangun gedung sarana olah raga Sport
Centre.