Anda di halaman 1dari 28

SMF/BAGIAN ILMU PENYAKIT MATA LAPORAN KASUS

FAKULTAS KEDOKTERAN September 2017


UNIVERSITAS NUSA CENDANA

HERPES ZOSTER OFTALMIKUS

Di Susun Oleh

Edward Jenerd Cornelis Munde, S. Ked

1208017043

Pembimbing : dr. Eunike Cahyaningsih, Sp.M

SMF/BAGIAN ILMU KESEHATAN MATA


RSUD Prof. Dr. W. Z. JOHANNES
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS NUSA CENDANA
KUPANG
2017
2

BAB I
PENDAHULUAN

Herpes zoster atau shingles, dampa atau cacar ular telah dikenal sejak
zaman Yunani kuno. Herpes zoster disebabkan oleh infeksi virus yang sama
dengan varisela, yaitu virus varisela zoster (VZV). Infeksi ini merupakan
reaktivasi virus varisela zoster dari infeksi endogen yang telah menetap dalam
bentuk laten setelah infeksi primer oleh virus. Herpes zoster ditandai dengan
adanya nyeri hebat unilateral serta timbulnya lesi vesikuler yang terbatas pada
dermatom yang dipersarafi serabut saraf spinal maupun ganglion serabut saraf
sensorik dan nervus kranialis.16,17

Insiden herpes zoster tersebar merata di seluruh dunia, tidak ada


perbedaan angka kesakitan antara pria dan wanita. Angka kesakitan meningkat
dengan peningkatan usia. Diperkirakan terdapat antara 2-5 per 1000 orang per
tahun. Lebih dari 2/3 kasus berusia di atas 50 tahun dan kurang dari 10% kasus
berusia di bawah 20 tahun.18

Patogenesis herpes zoster belum seluruhnya diketahui. Selama terjadi


varisela, virus varisela zoster berpindah tempat dari lesi kulit dan permukaan
mukosa ke ujung saraf sensorik dan ditransportasikan secara sentripetal melalui
serabut saraf sensoris ke ganglion sensoris. Pada ganglion terjadi infeksi laten,
virus tersebut tidak lagi menular dan tidak bermultiplikasi, tetapi tetap
mempunyai kemampuan untuk berubah menjadi infeksius. Herpes zoster pada
umumnya terjadi pada dermatom sesuai dengan lokasi ruam varisela yang
terpadat. Aktivasi virus varisela zoster laten diduga karena keadaan tertentu yang
berhubungan dengan imunosupresi, dan imunitas selular merupakan faktor
penting untuk pertahanan pejamu terhadap infeksi endogen.18,19

Infeksi pada mata terjadi jika reaktivasi virus berada pada ganglion
sensoris dari nervus trigeminus (N.V), meskipun masuknya virus dari luar juga
mungkin dapat terjadi. Reaktivasi terjadi saat imunitas seluler terhadap virus
3

menurun. Penyakit ini jarang ditemukan pada anak-anak, tetapi terjadi konstan
pada usia 20-50 tahun dan lebih tinggi pada usia >60 tahun. Faktor risiko lainnya
adalah pengobatan dengan kortikosteroid, terapi radiasi, imunosupresi,
transplantasi organ dan penyakit sistemik seperti SLE, AIDS, leukemia, atau
lymphoma. Pada orang dewasa muda lebih sering terjadi reaktivasi dikarenakan
penggunaan obat imunosupresif dan meningkatnya AIDS pada usia ini. Oleh
sebab itu, karena herpes zoster dapat terjadi pada orang dengan AIDS, maka tes
sindroma ini diindikasikan pada pasien dibawah 50 tahun.20

Komplikasi herpes zoster dapat terjadi pada 10-15% kasus, komplikasi


yang terbanyak adalah neuralgia paska herpetik yaitu berupa rasa nyeri yang
persisten setelah krusta terlepas. Komplikasi jarang terjadi pada usia di bawah 40
tahun, tetapi hampir 1/3 kasus terjadi pada usia di atas 60 tahun. Penyebaran dari
ganglion yang terkena secara langsung atau lewat aliran darah sehingga terjadi
herpes zoster generalisata. Hal ini dapat terjadi oleh karena defek imunologi
karena keganasan atau pengobatan imunosupresi.19

Secara umum pengobatan herpes zoster mempunyai 3 tujuan utama yaitu:


mengatasi infeksi virus akut, mengatasi nyeri akut yang ditimbulkan oleh virus
herpes zoster dan mencegah timbulnya neuralgia paska herpetik. Prognosis
umumnya baik tergantung pada factor predisposisi yang mendasari. Pada herpes
zoster oftalmikus prognosis tergantung pada perawatan dan pengobatan secara
dini.20
4

BAB II
LAPORAN KASUS
I. Identitas Pasien
Nama : Tn. CL
Tanggal lahir : 3 April 1953
Umur : 64 tahun
Alamat : Oetete-Kupang
Pekerjaan : Wiraswasta
Agama : Kristen Protestan
Suku : Rote

II. Anamnesis
Dilakukan anamnesis secara autoanamnesis di Poliklinik Mata tanggal 26
Agustus 2017
Keluhan Utama :
Nyeri pada mata kiri
Riwayat Penyakit Sekarang :
Pasien datang dengan keluhan nyeri pada mata kiri sejak 2 minggu SMRS.
nyeri di rasa seperti tertusuk-tusuk, hilang timbul, nyeri menjalar hingga ke
kepala bagian kiri, bertambah nyeri ketika terkena udara maupun ketika
disentuh, nyeri disertai dengan munculnya benjolan-benjolan kecil pada
daerah hidung pada hari ke-4 setelah nyeri, benjolan berwarna putih setelah
itu pecah dan menyebar dan serta bertambah banyak. Keluhan juga disertai
dengan demam yang dialami sebebelum benjolan muncul dan disertai dengan
muka sebelah kiri yang berwarna merah , rasa gatal pada sisi wajah sebelah
kiri di rasa hilang timbul berkurang jika di garuk, mata merah pada sisi mata
kiri dialami pasien pada seluruh bagian mata disertai bengkak, mata berair
yang banyak,mata gatal dan disertai dengan kotoran mata yang lumayan
banyak ketika di pagi hari. Demam (-), mual-muntah (-), tidak ada penurunan
nafsu makan, BAB dan bak dalam batas normal.
Riwayat Penyakit Dahulu
5

- Riwayat cacar air usia 15 tahun


- Stroke sebelah kiri (2008)
- serangan jantung (2013)
- riwayat operasi katarak mata kanan dan kiri ( 2015)
Riwayat Penyakit keluarga:
- tidak ada keluarga yang mengalami keluhan seperti pasien
Riwayat pengobatan :
- simvastatin, micardis,valsartan,ISDN, Nispapin
III. Pemeriksaan Fisik
Dilakukan pemeriksaan di Poli Mata 26 Agustus 2017
Status Present
Keadaan : tampak sakit sedang
Kesadaran : compos mentis
Tanda Vital
Tekanan Darah : 110/70mmHg
Suhu : 36,6oC
Nadi : ireguler 105x/menit
Pernapasan : 21x/menit
Status General
Kulit : pucat (-), ikterik (-), sianosis (-)
Kepala : simetris, rambut hitam, tidak mudah tercabut
Telinga : deformitas (-), otorhea (-)
Hidung : deformitas (-), rhinorea (-), napas cuping (-)
Mulut : sianosis (-), pucat (-), mukosa mulut tampak lembab, lidah
bersih
Mata :
6

OCULI DEXTRA (OD) PEMERIKSAAN OCULI SINISTRA (OS)


5/5 Visus 5/5
- Koreksi -
Gerak bola mata normal ke Gerak bola mata normal ke
segala arah, eksoftalmus (-), Bulbus okuli segala arah, eksoftalmus (-),
strabismus (-) strabismus (-)
Edema (-), hiperemis(-), Edema (+), hiperemis(+),
nyeri tekan (-), Palpebra nyeri tekan (+),

Edema (-), Edema (+),


injeksi silier (-), injeksi cilier (-),
injeksi konjungtiva (+), Konjungtiva injeksi konjungtiva (+),
infiltrat (-), infiltrat (-),
hiperemis (-) hiperemis (+)
Putih Sklera putih
Bulat, jernih, , edema (-), Bulat, jernih,
infiltrat (-), sikatriks (-) edema (-),
Kornea infiltrat (-), sikatriks (-)
Jernih, normal, arkus senilis (-), Camera Oculi Jernih, normal, arkus senilis
hipopion (-), hifema (-) Anterior (-),
(CoA) hipopion (-), hifema (-),
Kripta(-), atrofi (-) coklat, Kripta(-), atrofi (-) coklat,
edema(-), synekia (-) Iris edema(-), synekia (-)
7

Bulat, Diameter 3mm Bulat, Diameter 3mm


refleks pupil L/TL: +/+ Pupil refleks pupil L/TL: +/+
jernih,intak Lensa jernih, intak
intraokuler
Normal (jernih) Vitreus Normal (jernih)
normal Retina Normal

Normal Sistem Lakrimasi Normal


Normal Funduskopi Normal

Thorax
Pulmo
Inspeksi : simetris saat statis dan dinamis, sela iga melebar
(-), otot bantu pernapasan (-), jejas/massa/pelebaran
vena (-)
Palpasi : nyeri tekan (-), vocal fremitus D=S, normal
Perkusi : sonor +/+
Auskultasi : suara napas vesikuler (+/ +), Rhonkhi (-\-),
wheezing (-/-)
Cor
Auskultasi : S1 S2 ireguler, tunggal, murmur (-), gallop (-)
Abdomen : Bising usus (+) kesan normal
Ekstremitas : Akral hangat , CRT < 2detik
Edema - -
- -

IV. Diagnosis Klinis


- Hepes Zoster oftalmikus OS
8

V. Penatalaksanaan
- Acyclovir 5x 800 mg
- Vitamin B-Complex 3x1
- Asam mefenamat 3 x 500 mg
- cendo hervis 5x 1 (OS)
VI. Prognosis
1. Ad Vitam : Dubia ad Bonam
2. Ad Fungtionam : Dubia ad Bonam
3. Ad sanationam : Dubia ad Bonam
9

BAB III
TINJAUAN PUSATAKA

3.1 Definisi

Herpes Zoster Oftalmikus (HZO) merupakan hasil reaktivasi dari Varisela


Zoster Virus (VZV) pada Nervus Trigeminal (N.V). Semua cabang dari nervus
tersebut bisa terpengaruh, dan cabang frontal divisi pertama N.V merupakan yang
paling umum terlibat. Cabang ini menginervasi hampir semua struktur okular dan
periokular.2

Blefarokonjungtivitis pada HZO ditandai dengan hiperemis dan


konjungtivitis infiltratif disertai dengan erupsi vesikuler yang khas sepanjang
penyebaran dermatom N.V cabang oftalmikus. Konjungtivitis biasanya papiler,
tetapi pernah ditemukan folikel, pseudomembran, dan vesikel temporer, yang
kemudian berulserasi. Lesi palpebra mirip lesi kulit di tempat lain, bisa timbul di
tepi palpebra ataupun palpebra secara keseluruhan, dan sering menimbulkan parut.
Lesi kornea pada HZO sering disertai keratouveitis yang bervariasi beratnya,
sesuai dengan status kekebalan pasien. Keratouveitis pada anak umumnya
tergolong jinak, pada orang dewasa tergolong penyakit berat, dan kadang-kadang
berakibat kebutaan.4

3.2 Etiologi

Herpes zoster disebabkan oleh Varisela Zoster Virus (VZV). VZV


mempunyai kapsid yang tersusun dari 162 sub unit protein dan berbentuk simetri
isohedral dengan diameter 100 nm. Virion lengkapnya berdiameter 150-200 nm,
dan hanya virion yang berselubung yang bersifat infeksius. Infeksiositas virus ini
dengan cepat dapat dihancurkan oleh bahan organik, deterjen, enzim proteolitik,
panas, dan lingkungan dengan pH yang tinggi. HZO merupakan reaktivasi dari
VZV di N.V divisi oftalmik (N.V1).3
10

3.3 Patogenesis

Seperti herpes virus lainnya, VZV menyebabkan infeksi primer


(varisela/cacar air) dan sebagian lagi bersifat laten, dan ada kalanya diikuti dengan
penyakit yang rekuren di kemudian hari (zoster/shingles). Infeksi primer VZV
menular ketika kontak langsung dengan lesi kulit VZV atau sekresi pernapasan
melalui droplet udara. Infeksi VZV biasanya merupakan infeksi yang self-limited
pada anak-anak, dan jarang terjadi dalam waktu yang lama, sedangkan pada orang
3,4
dewasa atau imunosupresif bisa berakibat fatal. Pada anak-anak, infeksi VZV
ini ditandai dengan adanya demam, malaise, dermatitis vesikuler selama 7-10
hari, kecuali pada infeksi primer yang mengenai mata (berupa vesikel kelopak
mata dan konjungtivitis vesikuler). VZV laten mengenai ganglion saraf dan rata-
rata 20 % terinfeksi dan bereaktivasi di kemudian hari.
HZO timbul akibat infeksi N.V1. Kondisi ini akibat reaktivasi VZV yang
diperoleh selama masa anak-anak.
11

Gambar 1. Morfologi golongan virus DNA & RNA dan patogenesis virus dalam
sel target penderita. Gambar dikutip daripada Suwarji Haksuhusodo, Bagian
Mikrobiologi, Universitas Gadjah Mada, Jogjakarta.

Varisela zoster adalah virus DNA yang termasuk dalam famili Herpes viridae.
Selama infeksi, virus varisela berreplikasi secara efisien dalam sel ganglion.
Bagaimanapun, jumlah VZV yang laten per sel terlalu sedikit untuk menentukan
tipe sel apa yang terkena. Imunitas spesifik sel mediated VZV bertindak untuk
membatasi penyebaran virus dalam ganglion dan ke kulit.5

Kerusakan jaringan yang terlihat pada wajah disebabkan oleh infeksi yang
menghasilkan inflamasi kronik dan iskemik pembuluh darah pada cabang N. V.
Hal ini terjadi sebagai respon langsung terhadap invasi virus pada berbagai
jaringan. Walaupun sulit dimengerti, penyebaran dermatom pada N. V dan daerah
torak paling banyak terkena.6,7
12

Tanda-tanda dan gejala HZO terjadi ketika N.V1 diserang virus, dan akhirnya
akan mengakibatkan ruam, vesikel pada ujung hidung (dikenal sebagai tanda
Hutchinson), yang merupakan indikasi untuk resiko lebih tinggi terkena gannguan
penglihatan. Dalam suatu studi, 76% pasien dengan tanda Hutchinson mempunyai
gangguan penglihatan.

Gambar 2. Tanda Hutchinson. Gambar dikutip dari C. Stephen Foster, MD,


Massachusetts Eye Research and Surgery Institute, Harvard Medical School.

3.4 Manifestasi Klinis

Penyakit ini dapat dibagi menjadi 3 fase pre-eruptif, fase eruptif akut dan fase
kronis (neuralgia post hepektik).

i. Fase pre-eruptif atau preherpetik neuralgia


Gejala prodromal yang timbul ialah rasa terbakar, gatal dan nyeri yang
terlokalisisr mengikuti dermatom atau belum timbul erupsi setelah 4-5 hari
berikutnya. Tanda-tanda predektif pada herpes zoster ialah adanya
hiperethesia pada daerah kutaneus pre erupsi yang lunak sejajar dengan
dermatom. Disertai juga gejala demam, nyeri kepala dan malaise yang
terjadi beberapa hari sebelum gejala timbul. Nyeri segmental dan gejala
lain secara bertahap mereda apabila erupsi mulai muncul.
13

ii. Fase eruptif


Erupsi pada kulit diawali dengan plak eritematosa terlokalisir atau
difus kemudia makulopapular muncul secara dermatomal. Lesi kulit yang
sering dijumpai adalah vesikel herpetiformis berkelompok dengan
distribusi segmental unilateral. Kemudian, vesikel-vesikel ini terumblikasi
dan rupture dan menjadi krusta dalam seminggu sampai 10 hari, dan
menetap 2 hingga 3 minggu. Dalam 12-24 jam tampak lesi jernih, biasa
timbul di tengah plak eritematosa, dalam masa 2-4 hari vesikel bersatu,
setelah 72 jam akan terbentuk pustule. Vesikel baru akan tumbuh terus
berlangsung selama 1-7 hari. Biasanya pada penderita lansia dan memiliki
daya imunitas lemah, masa perbaikan lebih lama.
Bagian sering terkena adalah dada (55%), kranial (20% dengan
keterlibatan N.trigeminal), lumbal (15%) dan sacral (5%). Erupsi yang
sedikit dapat mencapai keseluruhan dermatom.

iii. Fase kronis atau fase neuralgia post herpetic


Fase ini ditandai dengan adanya nyeri menetap setelah semua lesi
menjadi krusta atau setelah infeksi akut atau sering rekurens yang
berlangsung selama sebulan. Keterlibatan N.trigeminal sering terjadi pada
penderita diatas 40 tahun. Nyeri di rasa terbakar terus menerus dengan
hyperaesthesia.
Pada Herpes zoster oftalmikus ditandai erupsi herpetic unilateral pada kulit,
Gejala prodromal berupa : nyeri lateral samapi mengenai mata,
demam,malaise,sakit kepala, nyeri pada mata, hiperlakrimasi, perubahan visual,
mata merah unilateral.
14

Gambar 2. Herpes zoster oftalmikus. Gambar dikutip daripada C. Stephen Foster,


MD, Massachusetts Eye Research and Surgery Institute, Harvard Medical School.

Gambar 3. Defek epitel dan infeksi sekunder varicella-zoster virus. Gambar


dikutip daripada C. Stephen Foster, MD, Massachusetts Eye Research and
Surgery Institute, Harvard Medical School.

- Kelopak mata :
HZO sering mengenai kelopak mata. Hal ini ditandai dengan adanya
pembengkakan kelopak mata, dan akhirnya timbul radang kelopak, yang disebut
blefaritis, dan bisa timbul ptosis. Kebanyakan pasien akan memiliki lesi vesikuler
pada kelopak mata, ptosis, disertai edema dan inflamasi. Lesi pada palpebra mirip
lesi kulit di tempat lain.
15

- Konjungtiva
Konjungtivitis adalah salah satu komplikasi terbanyak pada HZO. Pada
konjungtiva sering terdapat injeksi konjungtiva dan edema, dan kadang disertai
timbulnya petechie. Ini biasanya terjadi 1 minggu. Infeksi sekunder akibat S.
aureus bisa berkembang di kemudian hari.

- Sklera
Skleritis atau episkleritis mungkin berupa nodul atau difus yang biasa menetap
selama beberapa bulan.

Gambar 4. Ulkus kornea dengan pemberian fluorescein. Gambar dikutip daripada


C. Stephen Foster, MD, Massachusetts Eye Research and Surgery Institute,
Harvard Medical School.

- Kornea3,5
Komplikasi kornea kira-kira 65 % dari kasus HZO. Lesi pada kornea sering
disertai dengan keratouveitis yang bervariasi beratnya sesuai dengan kekebalan
tubuh pasien. Komplikasi pada kornea bisa berakibat kehilangan penglihatan
secara signifikan. Gejalanya adalah nyeri, fotosensitif, dan gangguan visus. Hal
ini terjadi jika terdapat erupsi kulit di daerah yang disarafi cabang-cabang N.
16

Nasosiliaris.7 Berbeda dengan keratitis pada HSV yang bersifat rekuren dan
biasanya hanya mengenai epitel, keratitis HZV mengenai stroma dan uvea anterior
pada awalnya, lesi epitelnya keruh dan amorf, kecuali kadang-kadang ada
pseudodendrit linear yang mirip dendrit pada HSV. Kehilangan sensasi pada
kornea selalu merupakan ciri mencolok dan sering berlangsung berbulan-bulan
setelah lesi kornea tampak sudah sembuh.7 Keratitis epithelial : gejala awal,
berupa puncat epitel. Multipel, lesi vocal dengan fluoresen atau rose Bengal. Lesi
ini mengandung virus keratitis stroma. Ini merupakan reaksi imun selama
serangan akut dan memungkinkan perpindahan virus dari ganglion. Keratitis
stroma kronik bisa menyerang vaskularisasi, keratopati, penipisan kornea dan
astigmatisme.
- Traktus uvea

Sering menyebabkan peningkatan TIO. Tanpa perawatan yang baik penyakit ini
bisa menyebabkan glaukoma dan katarak.

- Retina
Retinitis pada HZO digambarkan sebagai retinitis nekrotik dengan perdarahan dan
eksudat, oklusi pembuluh darah posterior, dan neuritis optik. Lesi ini dimulai dari
bagian retina perifer.

3.5 Diagnosis

Anamnesis

Diagnosis herpes zoster pada anamnesis didapatkan keluhan berupa


neuralgia beberapa hari sebelum atau bersama-sama dengan timbulnya kelainan
kulit. Adakalanya sebelum timbul kelainan kulit didahului gejala prodromal
seperti nyeri lateral samapi mengenai mata, demam,malaise,sakit kepala, nyeri
pada mata, hiperlakrimasi, perubahan visual, mata merah unilateral. Kelainan kulit
tersebut mula-mula berupa eritema kemudian berkembang menjadi papula dan
vesikula yang dengan cepat membesar dan menyatu sehingga terbentuk bula. Isi
vesikel mula-mula jernih, setelah beberapa hari menjadi keruh dan dapat pula
17

bercampur darah. Jika absorbsi terjadi, vesikel dan bula dapat menjadi krusta.
Terdapat karakteristik dari erupsi kulit pada herpes zoster terdiri atas vesikel-
vesikel berkelompok, dengan dasar eritematosa, unilateral, dan mengenai satu
dermatom.7,9,10

Pemeriksaan Fisik

- Periksa struktur eksternal/superfisial dahulu secara sistematik


mengikut urutan daripada bulu mata, kunjungtiva dan pembengkakan
sklera.
- Periksa keadaan integritas motorik ekstraokular dan defisiensi lapang
pandang.6
- Lakukan pemeriksaan funduskopi dan coba untuk mengeradikasi
fotofobia untuk menetapkan kemungkinan terdapatnya iritis.
Pengurangan sensitivitas kornea dapat dilihat dengan apabila dicoba
dengan serat cotton.
- Lesi epitel kornea dapat dilihat setelah diberikan fluorescein. Defek
epitel dan ulkus kornea akan jelas terlihat dengan pemeriksaan ini.
- Pemeriksaan slit lamp seharusnya dilakukan untuk melihat sel dalam
segmen anterior dan kewujudan infiltrat stroma
- Setelah ditetes anestesi mata, ukur tekanan intraokular

Pemeriksaan Laboratorium

Diagnosis laboratorium terdiri dari beberapa pemeriksaan, iaitu:4

a. Pemeriksaaan langsung secara mikroskopik


- Kerokan palpebra diwarnai dengan Giemsa, (Tes Tzanck) untuk
melihat adanya sel-sel raksasa berinti banyak.

b. Pemeriksaaan serologik.

- HZ dapat terjadi pada individu yang terinfeksi dengan HIV yang


kadangkala asimtomatik, pemeriksaan serologik untuk mendeteksi
18

retrovirus sesuai untuk pasien dengan faktor resiko untuk HZ


(individu muda daripada 50 tahun yang nonimunosupres).

c. Polymerase Chain Reaction.

Tes PCR dilakukan dari specimen menunjukan sensitivitas 97% diamana tes
ini lebih baik daripada kultur. PCR memberikan hasil yang cepat dan akurat
untuk dapat mendeteksi virus zoster.

3.6 Komplikasi

Hampir semua pasien akan pulih sempurna dalam beberapa minggu, meskipun
ada beberapa yang mengalami komplikasi. Hal ini tidak berhubungan dengan
umur dan luasnya ruam, tetapi bergantung pada daya tahan tubuh penderita. Ini
akan terjadi beberapa bulan atau beberapa tahun setelah serangan awal. 5

- Komplikasi mata terjadi pada 50 % kasus. Nyeri terjadi pada 93% dari
pasien tersebut, 31% nya masih ada sampai 6 bulan berikutnya. Pengaruh
itu semua, terjadi anterior uveitis pada 92% dan keratitis 52%. Pada 6
bulan, 28% mengenai mata dengan uveitis kronik, keratitis, dan ulkus
neuropatik.
- Komplikasi mata yang jarang, termasuk optik neuritis, retinitis, dan
kelumpuhan nervus kranial okuler. Ancaman ganguan penglihatan oleh
keratitis neuropatik, perforasi, glaukoma sekunder, posterior skleritis,
optik neuritis, dan nekrosis retina akut.
- Komplikasi jangka panjang, bisa berhubungan dengan lemahnya sensasi
dari kornea dan fungsi motor palpebra. Ini beresiko pada ulkus neuropati
dan keratopati. Resiko jangka panjang ini juga terjadi pada pasien yang
memiliki riwayat HZO, 6-14% rekuren.
- Infeksi permanen zoster oftalmik bisa termasuk inflamasi okuler kronik
dan kehilangan penglihatan.5
- Neuralgia paska herpetik
19

Neuralgia paska herpetik (PHN) adalah rasa nyeri yang timbul pada daerah bekas
penyembuhan. Neuralgia ini dapat berlangsung selama berbulan-bulan sampai
beberapa tahun. Keadaan ini cenderung timbul pada umur diatas 40 tahun,
persentasenya 10-15 % dengan gradasi nyeri yang bervariasi.Semakin tua umur
penderita maka semakin tinggi persentasenya. Pada HZO, kejadian PHN lebih
sering daripada manifestasi zoster yang lain.

3.7 Penatalaksanaan
Sebagian besar kasus herpes zoster dapat didiagnosis dari anamnesis dan
pemeriksaan fisik. Cara terbaru dalam mendiagnosis herpes zoster adalah dengan
tes DFA (Direct Immunofluorence with Fluorescein-tagged Antibody) dan PCR
(jika ada), terbukti lebih efektif dan spesifik dalam membedakan infeksi akibat
VZV dengan HSV. Tes bisa dilanjutkan dengan kultur virus.6

Pasien dengan herpes zoster oftalmikus dapat diterapi dengan Acyclovir (5


x 800 mg sehari) selama 7-10 hari. Penelitian menunjukkan pemakaian Acyclovir,
terutama dalam 3 hari setelah gejala muncul, dapat mengurangi nyeri pada herpes
zoster oftalmikus. Onset Acyclovir dalam 72 jam pertama menunjukkan mampu
mempercepat penyembuhan lesi kulit, menekan jumlah virus, dan mengurangi
kemungkinan terjadinya dendritis, stromal keratitis, serta uveitis anterior.6
Terapi lain dengan menggunakan Valacyclovir yang memiliki bioavaibilitas yang
lebih tinggi, menunjukkan efektivitas yang sama terhadap herpes zoster
oftalmikus pada dosis 3 x 1000 mg sehari. Pemakaian Valacyclovir dalam 7 hari
menunjukkan mampu mencegah komplikasi herpes zoster oftalmikus, seperti
konjungtivitis, keratitis, dan nyeri. Pada pasien imunocompromise dapat
digunakan Valacyclovir intravena. Untuk mengurangi nyeri akut pada pasien
herpes zoster oftalmikus dapat digunakan analgetik oral.3,4 Untuk mengobati
berbagai komplikasi yang ditimbulkan oleh herpes zoster oftalmikus disesuaikan
dengan gejala yang ditimbulkan. Pada blefarokonjungtivitis, untuk blefaritis dan
konjungtivitisnya, diterapi secara paliatif, yaitu dengan kompres dingin dan
topikal lubrikasi, serta pada indikasi infeksi sekunder oleh bakteri (biasanya S.
20

aureus). Pada keratitis, jika hanya mengenai epitel bisa didebridemant, jika
mengenai stromal dapat digunakan topikal steroid, pada neurotropik keratitis
diterapi dengan lubrikasi topikal, serta dapat digunakan antibiotik jika terdapat
infeksi sekunder bakteri.7 Untuk neuralgia pasca herpetik obat yang
direkomendasikan di antaranya Gabapentin dosisnya 1.800 mg 2.400 mg sehari.
Hari pertama dosisnya 300 mg sehari diberikan sebelum tidur, setiap 3 hari dosis
dinaikkan 300 mg sehari sehingga mencapai 1,800 mg sehari. 8 Antibiotik
sebaiknya digunakan jika terdapat infeksi bakterial. Antibiotik pada kasus ini
ialah ampicillin dan tetes mata gentamisin, merupakan antibakteri spektrum luas.
Isprinol yang diberikan oleh spesialis kulit pada penderita di atas termasuk obat
imunomodulator yang bekerja memperbaiki sistem imun.

Vitamin neurotropik berupa neurodex digunakan sebagai vitamin untuk


saraf. Pada umumnya direkomendasikan pemberian NSAID topikal 4 kali sehari
dan ibuprofen sebagai analgetik oral. Ahli THT memberikan obat kumur tantum
verde yang berisi benzydamine hydrochloride,8 merupakan anti inflamasi non
steroid lokal pada mulut dan tengggorokan. Penderita di atas juga mendapatkan
antioksidan berupa asthin force dari ahli penyakit dalam untuk perlindungan
kesehatan kulit. Sindrom Ramsay Hunt dapat diberikan Prednison dengan dosis 3
x 20 mg sehari, setelah seminggu dosis diturunkan secara bertahap. Dengan dosis
prednison setinggi itu imunitas akan tertekan sehingga lebih baik digabung
dengan obat antiviral. Dikatakan kegunaannya untuk mencegah fibrosis ganglion. 8

3.11 Pencegahan

Tindakan preventif yang harus dilakukan penderita ialah tidak mengusap-


usap mata, menyentuh lesi kulit, dan menggaruk luka untuk menghindari
penyebaran gejala. Bagi orang sekitar hendaknya menghindari kontak langsung
dengan penderita terutama anak-anak. Obat-obatan antiviral seperti asiklovir,
valasiklovir, dan famsiklovir merupakan terapi utama yang lebih efektif dalam
mencegah keterlibatan okuler terutama jika obat diberikan tiga hari pertama
munculnya gejala. Berdasarkan rekomendasi dari National Guidelines
21

Clearinghouse, dosis asiklovir oral untuk dewasa ialah 800 mg 5 kali sehari
selama 7 sampai 10 hari.8 Sedangkan antiviral topikal tidak dianjurkan karena
tidak efektif. Antiviral digunakan untuk mempercepat resolusi lesi kulit,
mencegah replikasi virus, dan menurunkan insiden keratitis stroma dan uveitis
anterior.
22

BAB IV
DISKUSI

Tabel 4.1 Perbandingan Teori dan Kasus

ANAMNESIS TEORI KASUS

Penyakit ini Usia 64 tahun


jarang ditemukan nyeri pada mata
pada anak-anak, kiri
tetapi terjadi di dahului
konstan pada usia dengan muka
20-50 tahun dan merah sebelah kiri
lebih tinggi pada nyeri kepala
usia >60 tahun badan lemas
Adakalanya mata merah
sebelum timbul air mata banyak
kelainan kulit kotoran mata
didahului gejala sedikit
prodromal seperti riwayat demam
nyeri lateral
sampai mengenai
mata, timbul
ruam,
demam,malaise,sa
kit kepala, nyeri
pada mata,
hiperlakrimasi,
perubahan visual,
mata merah
23

unilateral

PEMERIKSAAN Terdapat kelopak mata bengkak,


FISIK karakteristik dari disertai dengan edema
erupsi kulit pada dan injeksi konjungtiva.
herpes zoster Terdapat krusta pada
terdiri atas sekitar hidung dan diatas
vesikel-vesikel pelipis kiri.
berkelompok,
dengan dasar
eritematosa,
unilateral, dan
mengenai satu
dermatom.
vesikel-vesikel ini
terumblikasi dan
rupture dan
menjadi krusta
dalam seminggu
sampai 10 hari,
dan menetap 2
hingga 3 minggu
Konjungtivitis
dan
pembengkakan
kelopak mata
adalah salah satu
komplikasi
terbanyak pada
HZO. Pada
24

konjungtiva
sering terdapat
injeksi
konjungtiva dan
edema
PENATALAKSANAAN Berdasarkan Acyclovir 5x 800 mg
rekomendasi dari (selama 7 hari)
National Vitamin B-Complex 3x1
Guidelines Asam mefenamat 3 x 500
Clearinghouse, mg
Pasien dengan cendo hervis 5x 1 (OS)
herpes zoster
oftalmikus dapat
diterapi dengan
Acyclovir (5 x
800 mg sehari)
selama 7-10 hari.
Penelitian
menunjukkan
pemakaian
Acyclovir,
terutama dalam 3
hari setelah gejala
muncul, dapat
mengurangi nyeri
pada herpes zoster
oftalmikus.
Sedangkan
antiviral topikal
tidak dianjurkan
25

karena tidak
efektif
Untuk
mengurangi nyeri
akut pada pasien
herpes zoster
oftalmikus dapat
digunakan
analgetik oral.
Seperti ibuprofen
Vitamin
neurotropik
berupa neurodex
digunakan sebagai
vitamin untuk
saraf.

BAB IV
26

KESIMPULAN

Telah dilaporkan pasien seorang laki-laki usia 64 tahun dengan herpes zoster
ophthalmika OS. Diagnosis ditegakan berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan
fisik. Pasien telah diterapi dengan cendo hervis 5x 1 dan acyclovir 5 x 800 mg,
Vitamin B-Complex 3x1, asam mefenamat 3x500 mg. pasien disarankan untuk
kontrol jika keluhan memberat.

DAFTAR PUSTAKA
27

1. Corwin. E J, Patofisiologi, Edisi 1, EGC, Jakarta, 2001: hal 263 265


2. Djokomoeljanto. Tirotoksikosis-Penyakit Graves. Dalam Tiroidologi
klinik Edisi 1. Badan Penerbit Universitas Diponegoro, Semarang, 2007.
Hal 220-281
3. Harrison, Prinsip-Prinsip Ilmu Penyakit Dalam, alih bahasa
Prof.Dr.Ahmad H. Asdie, Sp.PD-KE, Edisi 13, Vol.5, EGC, Jakarta, 2000:
hal 2144 2151
4. Lembar S, Hipertiroidisme Pada Neonatus Dengan Ibu Penderita Graves
Disease, Majalah Kedokteran Atma Jaya, Vol 3, No.1, Jakarta, 2004: hal
57 64
5. Mansjoer A, et all, Kapita Selekta Kedokteran, Jilid 1, Edisi 3, Media
Aesculapius, Fakultas Kedokteran UI, Jakarta, 1999: hal 594 598
6. Noer HMS, Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam, Jilid 1, Edisi 3, Balai
Penerbit Fakultas Kedokteran UI, Jakarta, 1996: hal 725 778
7. Price A.S. & Wilson M.L., Patofisiologi Proses-Proses Penyakit, Alih
Bahasa Anugerah P., Edisi 4, EGC, Jakarta, 1995: hal 1049 1058, 1070
1080
8. Shahab A, 2002, Penyakit Graves (Struma Diffusa Toksik) Diagnosis dan
Penatalaksanaannya, Bulletin PIKKI: Seri Endokrinologi-Metabolisme,
Edisi Juli 2002, PIKKI, Jakarta, 2002: hal 9 18
9. Sjamsuhidajat R, Jong WD. Buku Ajar Ilmu Bedah. EGC, Jakarta, 1996.
10. Stein JH, Panduan Klinik Ilmu Penyakit Dalam, alih bahasa Nugroho E,
Edisi 3, EGC, Jakarta, 2000: hal 606 630
11. Subekti, I, Makalah Simposium Current Diagnostic and Treatment
Pengelolaan Praktis Penyakit Graves, FKUI, Jakarta, 2001: hal 1 5
12. Weetman P. A., Graves Disease. The New England Journal of Medicine.
Massachusetts Medical Society. 2000.
13. Nayak B, Burman K. Thyrotoxicosis and Thyroid Storm. Endocrinol
Metab Clin N Am. 2006;35:663-86.
28

14. Jameson L, Weetman A. Disorders of the thyroid gland. In: Braunwald E,


Fancy AS, Kasper DL, eds. Harrisons Principles of internal medicine.
15th ed . New York: Mc Graw hill ; 2001. p. 2060-84.
15. Migneco A, Ojetti V, et al. Management of thyrotoxic crisis. Available on:
European Review for Medical and Pharmalogical Science 2005;9: 69-74.
16. Melton CD. Herpes Zoster. eMedicine World Medical Library:
http://www.emedicine.com/EMERG/topic823.htm [diakses pada tanggal
24 September 2000].
17. Stawiski MA. Infeksi Kulit. Patofisiologi Konsep Klinis Proses-Proses
Penyakit. Jakarta: EGC, 1995; 1291.
18. Siregar RS. Penyakit Virus. Atlas Berwarna Saripati Penyakit Kulit. Edisi
Ke-2. Jakarta: ECG, 2005 ; 84-7.
19. Hartadi, Sumaryo S. Infeksi Virus. Ilmu Penyakit Kulit. Jakarta:
Hipokrates, 2000; 92-4.
20. Indrarini, Soepardiman L. Penatalaksaan Infeksi Virus Varisela-Zoster
pada Bayi dan Anak. Media Dermato-Venereologica Indonesiana. Volume
27. Jakarta: Perdoski, 2000; 65s-71s